Anda di halaman 1dari 13

TAFSIR SURAT AL-HAJJ AYAT 27-29 DAN AL-BAQARAH 158 DAN 196-197

BAB I PENDAHULUAN Haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan atas setiap muslim yang merdeka, baligh ,dan mempunyai kemampuan, dalam seumur hidup sekali1 . namun dari kalangan umum atau masyarakat banyak mulai dari golongan petani , pedanganng , pengawai dan lain sebagainya masih banyak yang masih belum mengerti tentang apa yang harus saya lakukan dalam melakukan umrah atau haji , sehingga dengan demikian maka dengan semestinya bila kita menjelaskan dengan sedikit pendapat yang di ambil dari beberapa pendapatnya para imam- imam madhab yang telah menjadi suri tauladan dan pengangan untuk di jadikan rujukan bagi kita kalangan awam , sehingga kita dalam melaksanakan ibadah haji tidak haya sekedar pergi begitu saja ketanah Mekkah dengan menelan biaya jutaan rupiah atau hanya sekedar nikmatnya mengendarai pesawat terbang atau jalan jalan di tanah suci Mekkah - Madinah .

Syaih al- Allamah Muhammad Bin Abdurrahman ad damasqy , Fiqih empat madhab , ( Bandung Hasimi pres, ), h, 168

BAB II PEMBAHASAN A. Surat Al-Hajj ayat 27-29 . . Artinya : Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rizki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (Al-Hajj: 27-29) Penjelasan Mufradat Ayat Be Berasal dari kata Al-Adzan yang berarti mengumumkan. Maknanya adalah: Umumkan dan sampaikanlah kepada manusia bahwa: Hendaklah kalian menunaikan ibadah haji ke Baitullah Al-Haram, wahai sekalian manusia. Al-Hasan bin Abil Hasan dan Ibnu Muhaishin membacanya dengan lafadz Be ( wa aadzin).2 Merupakan bentuk jamak dari raajil , , yang berarti orang-orang yang berjalan dan bukan jamak dari rajul , ( seorang laki-laki). Ibnu Abi Ishaq membacanya: rujaalan dengan men-dhammah-kan huruf ra. Sedangkan Mujahid membacanya: rujaalaa . Didahulukannya penyebutan orang berjalan daripada orang yang berkendaraan disebabkan rasa
2

Fathul Qadir karya Al-Imam Asy-Syaukani dan Tafsir Al-Qurthubi dalam penjelasan ayat ini.

letih yang dirasakan orang yang berjalan lebih besar dibanding yang berkendaraan. Demikian yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah dan Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah. Maknanya unta kurus yang letih disebabkan safar. Be Al-Faj bermakna jalan yang luas, jamaknya fijaaj. Amiq bermakna jauh. Be Manfaat bagi mereka. Ada yang mengatakan bahwa manfaat di sini mencakup manfaat dunia dan akhirat. Ada pula yang mengatakan maknanya adalah manasik. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah ampunan dari Allah Subhanahu wa Taala, dan ada pula yang mengatakan bahwa maknanya perdagangan. Be Be Be Yang dimaksud adalah hewan ternak berupa unta, sapi, dan kambing. Be Be Be Yang sangat miskin. Disebutkan kata faqir setelahnya dengan tujuan memperjelas. Be Asal makna tafats adalah setiap kotoran yang menyertai manusia. Maknanya adalah hendaklah mereka menghilangkan kotoran berupa panjangnya rambut dan kuku. Be Be Yakni, mereka menunaikan nadzar mereka yang tidak mengandung unsur kemaksiatan. Ada pula yang mengatakan bahwa yang dimaksud nudzur dalam ayat ini adalah amalan-amalan haji. Be Hendaklah mereka thawaf. Yang dimaksud thawaf di sini adalah Thawaf Ifadhah. Sebab thawaf dalam amalan haji ada tiga macam: Thawaf Qudum, Thawaf Ifadhah, dan Thawaf Wada. Be Be Atiq artinya tua, dikuatkan dengan firman Allah Subhanahu wa Taala: Be Sesungguhnya rumah yang pertama (Ali Imran: 96). Adapula yang mengatakan atiq artinya yang dibebaskan, sebab Allah Subhanahu wa Taala membebaskan rumah ini dari kekuasaan orang-orang yang sombong. Adapula yang mengatakan karena Allah Subhanahu wa Taala membebaskan orang-orang yang berdosa dari siksaan. Adapula yang mengatakan atiq, artinya yang mulia. Penjelasan Ayat Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi rahimahullah menjelaskan: Sampaikan kepada manusia untuk mengerjakan ibadah haji. Umumkanlah, ajaklah manusia kepadanya. Sampaikan kepada yang jauh dan yang dekat tentang kewajiban dan keutamaannya. Sebab jika engkau mengajak mereka, maka mereka mendatangimu dalam keadaan menunaikan

haji dan umrah, dengan berjalan di atas kaki mereka karena perasaan rindu, dan di atas unta yang melintasi padang pasir dan sahara serta meneruskan perjalanan hingga menuju tempat yang paling mulia, dari setiap tempat yang jauh. Hal ini telah dilakukan oleh Al-Khalil (Nabi Ibrahim) alaihissalam, kemudian oleh anak keturunannya yaitu Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Keduanya mengajak manusia untuk menunaikan haji di rumah ini. Keduanya menampakkan dan mengulanginya. Dan telah tercapai apa yang Allah Subhanahu wa Taala janjikan kepadanya. Manusia mendatanginya dengan berjalan kaki dan berkendaraan dari belahan timur dan barat bumi. Allah Subhanahu wa Taala lalu menyebutkan beberapa faedah menziarahi Baitullah Al-Haram, dalam rangka mendorong pengamalannya. Yaitu agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka, dengan mendapatkan berbagai manfaat dari sisi agama di Baitullah berupa ibadah yang mulia. Ibadah yang tidak didapatkan kecuali di tempat tersebut. Demikian pula berbagai manfaat duniawi berupa mencari penghasilan dan didapatnya berbagai keuntungan duniawi. Ini semua merupakan perkara yang dapat disaksikan. Semua mengetahui hal ini. Dan agar mereka menyebut nama Allah Subhanahu wa Taala pada hari-hari yang tertentu atas apa yang (Allah Subhanahu wa Taala) telah rizkikan kepada mereka berupa hewan ternak. Ini merupakan manfaat agama dan duniawi. Maknanya, agar mereka menyebut nama Allah Subhanahu wa Taala ketika menyembelih sembelihan kurban sebagai tanda syukur kepada Allah Subhanahu wa Taala atas rizki yang Dia limpahkan dan mudahkan untuk mereka. Jika kalian telah menyembelihnya, maka makanlah darinya dan berilah makan kepada orang yang sangat miskin. Kemudian hendaknya mereka menyelesaikan manasik haji dan menghilangkan kotoran serta gangguan yang melekat pada diri mereka selama ihram. Hendaklah mereka juga menunaikan nadzar yang mereka wajibkan atas diri mereka berupa haji, umrah, dan sembelihan.

Hendaklah mereka thawaf di rumah tua (Kabah), masjid yang paling mulia secara mutlak, yang diselamatkan dari kekuasaan orang-orang yang angkuh. Ini adalah perintah untuk thawaf secara khusus setelah disebutkan perintah untuk bermanasik haji secara umum, karena keutamaan (thawaf) tersebut, kemuliaannya, dan karena thawaf adalah tujuan. Sedangkan yang sebelumnya adalah sarana menuju (thawaf) tersebut. Mungkin juga wallahu alam karena faedah lain, yaitu bahwa thawaf disyariatkan pada setiap waktu, baik mengikuti amalan haji ataupun dilakukan secara tersendiri.3 B. Surat Al Baqarah 158 )) Artinya : Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-`umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. Tafsir ayat Al-Baqarah 158 Mengenai asbabun-nuzul ayat ini terdapat beberapa versi riwayat-riwayat dekat yang dapat diterima adalah yang berkaitan dengan keadaan orang-orang islam yang merasa takut berdosa kalau melakukan sai antara safa dan marwa,hal tersebut disebabkan perbuatan ini pernah mereka kerjakan pada masa jahiliyah, dikarenakan rasa dosa ini menunjukan bahwa islam sudah sangat meresap kedalam jiwa dan persaan mereka, sehingga memunculkan suatu perubahan kompherensif dalam jiwa dan perasaan mereka yang mereka yang akhirnya menimbulkan sikap khawatir berdosa terhadap apa yang mereka lakukan pada masa jahiliyah Kemudian turunlah hadis: Muhammad bin yusuf berkata, telah diceritakan kepada kami oleh suftan, dari ashim bin sulaiman, ia berkata.saya melihat aktivitas berlari antara safa dan marwa termasuk aktifitas orang-orang jahiliyah. Maka ketika islam datang kami tinggalkan
3

Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 537

aktifitas itu, kemudian allah menurunkan ayat ,sesungguhnya safa dan marwa termasuk bagian dari syiar agama allah(HR.Imam bukhari) Tidak terdapat sejarah yang membatasi turunnya ayat ini ,yang dikatakan lebih kuat adalah ayat ini turun lebih akhir dari ayat yang khusus dan berkaitan dengan pemindahan kiblat. Ketika itu banyak kaum muslim yang ingin melaksanakan haji dan umroh secara individu sekaligus mereka keluar atau tidak melakukan thawaf antara safa dan marwa,hal ini dilakukan karena suldah membekasnya pengajaran yang diberikan kepada mereka dan jelasnya gambaran keimanan yang menancap pada jiwa mereka, kejelasan nabi ini tertancap pada hati mereka sampai pada akarnya sehingga dalam beraktivitas mereka terjerumus dalam kejahiliyaan. Dakwah yang diberikan nabi ini terasa benar dalam diri mereka, seolah-olah nabi muhammad telah menggoncang setiap jiwa mereka hingga tecabutlah akar-akr kejahiliyaan dan muncul dalam diri mereka kejelasa islam, maka ketika telah sempurna ajaran ini dalam diri kaum muslimin, islam melanggerkan syiar terdahulu (shafa dan marwa). Dan sesungguhnya islam telah menetapkan keagungan manasik haji ini sebagai mana pernah dilakukan oleh orang arab, islam juga menghilangkan segala unsur yang bisa membawa kepada penyembahan berhala atau unsur kejahiliyaan yang lain, dan islam mengkaitkan syiar ini dengan suatu kaitan yang islami, yaitu syiar ini dengan suatu kaitan yang islami, yaitu syiar nabi Ibrahim yang memang diajarkan allah, adapun umroh sama dengan ibadah haji dalam hal adanya ibadah dari shafa dan marwa. Ayat diatas memberi bukti bahwa ibadah thawaf (sai) adalah ibadah baik sehingga tidak ada lagi kesulitan dan ganjalan dalam hati kaum muslim untuk thawaf atau sai ini,dan akan

tentramlah hati mereka karena allah menegaskan bahwa ibadah thawaf atau sai adalah termasuk kebaikan dan akan dibalas dengan kebaikan. C. Al-Baqarah 196-197 (196) Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena alloh , jika kamu terkepung ( terhalang oleh musuh atau karena sakit ), maka sembelilah korban4. Yang mudah di dapat dan jangan kamu mencukur kepalamu5 sebelum korban sampai ketempat penyembelihannya . jika ada diantara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya ( lalu ia bercukur ), maka wajiblah atasnya berfid-yah , yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkorban . Apabila kaumu telah merasa aman , maka bagi siapa yang ingin mengerjakan Umrah sebelum haji ( di dalam bulan haji ) ( wajiblah ia menyembelih ) korban yang mudah di dapat. Tetapi jika ia tidak menemukan ( binatang korban atau tidak mampu ), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari ( lagi ) apabila kamu telah pulang kembali . itulah sepuluh hari yang sempurna . Dermikian itu ( kewajiban membayar fid-yah ) bagi orang orang yang keluarganya tidak berada ( di sekitar ) masjidil haram ( orang orang yang bukan penduduk kota mekkah) dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaanNya. 6 ( Q. S. Albaqorah 196 ) . (197)

Yang di maksud dengan di sini ialah menyembelih binatang korban sebagai pengganti pekerjaaan wajib haji yang ditinggalkan : atau sebagai denda karena melklanggar hal hal yang terlarang mengerjakannya di dalam ibadah haji. Mencukur kepala adalah merupakan salah satu pekerjaan wajib dalam haji , sebagai tanda selesai ihram. Al- Quran Terjemahannya, (Kerajaan Saudi Arabiyah , Mujamma Al- Malik Fahd li Tibaat Al Mush- haf Asyarif Medinah Munawwaraoh P. O. BOX 6262 ) h. 48

(musim) haji adalah beberapa bulan yang di maklumi 7 barang sipa yang menetapkan niatnya pada bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh8 berbuat fasik dan berbantah bantahan di dalam masa mengerjakan haji . Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan , niscaya Allah akan mengetahuinya . Berbekkalllah , dan sesungguhnya sebaik baik bekal adalah taqwa9 ) dan bertaqwalah kepadaku hai orang orang yang berakal.10 Asbababun Nuzul Surat Al- Baqarah Ayat 196- 197 Mengenai turunnya Q.S. Al- Baqarah ayat 196 ini terdapat bebrapa peristiwa diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh ibnu abi hatim yang bersumber dari Shafwan bin umaiyah, yaitu: ada seorang laki- laki berjubah yang semerbak dengan wangi- wangian zafaran menghadap kepada nabi Muhammad SAW. Dan berkata ,Ya rasulullah, apayang harus saya lakukan dalam menunaikan umrah ? maka turun lah Wa atimmul hajja wal umrata lillah . Lalu rasul bertanya mana orang yang bertanya tentang umrah itu ?lalu orang itu menjawab : saya ya rasulullah. Selanjudnya rasul bersabda : Tanggalkan bajumu ,dan bersihkan hidung dan mandilah dengan sempurna, kemudian kerjakan apa yang biasa kamu kerjakan pada waktu Haji .11 Dalm riwayat lain yang yang diriwayatkan oleh Bukhari danbersumber dari Kaib bin Ujrah. Dia ditannya tentang tentang tentang firman allah Fafidyatun min shiyamin aw shadaqatin aw nusuk ia bercerita sebagai berikut: ketika sedang melakukan umrah , saya merasa kepayahan ,karena dirambut dan muka saya bertebaran kutu .ketika itu Rasulullah SAW. Melihat saya kepayahan Karena penyakit pada rambutku itu maka turunlah ayat ini ,khusus tentang saya dan berlaku untuk semua . kemudian Rasul betanya ,apakah kamu biribira untuk Fidyah ? saya menjawab tidak , kemudian dia bersabda : bershaumlah kamu tiga hari ,atau beri makanlah enam orang miskin , tiap ornga setengah sok (1 liter) makanan dan
7

Ialah bulan syawal ,zulqaidah , dan zulhijjah Rafast artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh. 9 Maksud bekal taqwa disini adalah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta minta selama dalam perjalanan haji . 10 Ibid . Al qura, h 48 11 KH. Nurholis MA.,Asbabun nuzul sejarah turunnya ayat-ayat al-quran ,( pustaka anda cet. I . Surabaya 1997.) hal.58
8

bercukurlah kamu .12 Tentang hal ini diriwayatkan juga oleh ahmad yang bersumberdari kab, dan juga diriwayatkan oleh alwahidi dari atha yangbersumber dari ibnuabbas dalam redaksi yang berbeda tapi dengan maksud yang sama, Adapun asbabun nuzul dari QS.ALBaqrah ayat 197, menurut suatu riwayat orang-orang yaman apabila pergi Haji tidak membawa bekal apa-apa, dengan alasan tawakkal kepada allah . maka turunlah Watazawwadu faina khaira zadit Taqwa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang bersumber dari ibnu abbas.13 MAKNA AYAT SECARA GELOBAL Allah telah memerintahkan kaum muslimin agar menyempurnakan Haji dan umrah serta menjalankan ibadah secara sempurna semata mata karena Allah swt. Apabila orang muknim yang lagi ihram terhalang untuk menyempurnakan ibadah yang di sebabkan oleh musuh atau sakit atau memang dia ingin bertahallul ( melepaskan ihramnya , maka wajib bagi dia untuk menyembelih binatang yang sekiranya ringan baginya berupa unta , sapi, atau kambing. Allah swt melarang mencukur dan tahallul sebelum hadiah sampai pada tempat di mana halal menyembelihnya. . Adapun bagi orang yang sakit atau ada penyakit di kepalanya , maka dia di perbolehkan bercukur dan wajib bagi dia untuk membayar fidyah ( denda ) . Adakalanya puasa tiga hari , atau menyembelih kambing , atau pula bersedekah kepada enem orang miskin . Tiaptiap orang miskin satu fidyah atau satu Sha berupa makanan.14 Tafsir Mufradat ( Kata- Kata Kunci ) kata alhajju yang juga lazim disebut juga dengan alhijju (Qs. Al-imran :97), seca harfiyah berarti sengaja (alqasdu )atau niyat Al-Raghib AL-AShfihani dalam mujam mufradat ayat alquran ,mengemukakan bahwa asal mana haji adalh sengaja berziyarah. Adapun yangdimaksud hHaji menurut terminology para ahli syariat ,sepertiyang dikemukakan Mahmud syalthut iyalah :berkunjung atau berziyarah ketempat-tempat tertentu (dikota makkah
12 13

opcit , KH.Nurkhalis. Hal. 58 Ibid .KHNurkholis .Hal. 60 14 H. Moh Zuhri dan M Qodirun ,Rawaiulbayan Tafsir ayat ayat hukum Jilid I ( Semarang , CV Andi Gravika ) h. 374

al-mukarramah ) dalam rangka mendekatkan dira pada allah . dapat juga dikatalkan bahwa haji adalah sengaja bberkunjung ketempat- tempat tertentu dimakkah al-mukarramh guna melakukan ibadah ibadah tertentu dan menurut tutunan syariat . terambil dari kata al-Itimar yang secara etimologi berarti ziyarah . demikian kata zaid sabiq .adapun yang dimaksud dengan umrah disni iyalah mengunjungi kabah untuk melakukan tawaf disekelilingnya ,saI diantara safa dan marwah dan kemudian mencukur rambut . artinya tertahan ,kesulitan atau kesempitan .demikian kata almaraghi . lafal alhadyu biasanya digunakan pada kata tunggal atau jama , alhadyu adalh sesuatu yang dihadiahkan oleh orang yang berhaji (pelaku haji ) atau pelaku umrah di abiitil haram (mekkah ) berupa hewan ternak untuk kemudian disembelih dan (dagingnya) dibagibagikan pada orang fakir . adalh penduduk mekkah dan sekitarnya hingga dibeberpapa daerah yang dijadikan miqat (tempat star niat Haji atau umrah ). secara harfiyah kata rafast berarti ungkapan yang keji .adapun yang dimaksut rafast dalam ayat inin terdapat beberapa perbedaan dikalangan mufassirin .ada yang mengartikannya dengan bersetubuh (al-jima) seperti pendapat ibnabbas, ibn jabir Al-sudi, qatadah, iqrimah, dan beberapa sahabat lainnya .tetapi adapula yang menafsirkannya dengan perkataan myang kotor, kecji dan cabul ,seperti pendirian ibn umar thawus, dan atha. Sementara abu ubaidah dan lain-lain yang sependapat denganya menafsirkan kata rafast dengan perkataan yang tidak berguna atau tidak bernilai .dari penafsiran myang ada ,dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksut rafast adalah setiap ucapan, sikap dan perbuatan yang menjurus kearah seksual yang berpuncak pada senggama . secara harfiyah berarti gelar yang buruk .dan ada pula yang menafsirkan sebelihan yang dipersembahkan kepada berhala , dan adapula yang mengartikan ornag yang banyak mmencavi . sementara al-syaukaini dan al- maraghi serta beberapa mufassir lain dalam redaksi

yang sama dengan maksut yang berbeda mengartikan fusuk dengan tindakan tindakan yang keluar dari batas batas yang ditentukan syara. artinya berbantah- bantahan dalam kebiasaan umum berlaku , aljidal sering terjadi antara pihak yang dilayani dengan pihak melayani diperjalanan atau dalam pelaksanaan (Haji) yang menimbukan ketidak sukaan dalam amsing- masing pihak . Kandungan Hukum Menurut Ali As-shabuni ada beberapa asspek hukum syari yang terdapat dalam ayat 196-197 surat al baqarah tersebut : 1) Menurut ulama Syafiiyah dan Hanabillah ,umrah itu hukumnya wajib seperti halnya Haji yang dipeloporo oleh Ali ibn umar dan ibn Abbas 15 alasannya karena perintah melaksanakan Haji dan umrah secara itmam pada ayat tersebut . Selain ayat tersebut juda di landasi dengan sejumlah hadis Nabi diantaranya yang menyatakan bahwa memasukkan umrah ke dalam haji adalah ( kewajiban yang terus berlanjut) hingga hari qiamat, sesungguhnya haji dan umrah adalah dua kewajiban yang tidak memudaratkan kamu dengan lebih mendahulukan yang mana pun untuk melakukannya , H.R. al- Dar Qutni.16
2) Menurut ulama Malikiyah dan Hanafiyah , umrah itu hukumnya sunnah dan ini

diriwayatkan dari Ibnu masud dan Jabir ibn Abdullah 17 Dengan alasan karena ayat- ayat al- Quran tidak selamanya menyertakan perintah umrah ketika memerintahkan haji . alasan lain adalah salah satu hadis yang di riwayatkan oleh Abi saibah Haji itu jihad ( perjuangan ) sedangkan umrah ( hayalah ) tathawwu ( anjuran ) . Hadis lain yang di riwayatkan oleh Al- Thurmudi juga memperkuat alasan beliau yaitu Ada seseorang bertaya kepada rosulullah SAW, tentang Umroh apakah ia wajib atau tidak ? Rasulullah menjawab : Tidak! Tetapi jika kamu berumrah , itu lebih baik bagimu. ( HR. al Thurmudi dari Jabir ibn Abdillah )

15 16

Dr. H. Muhammad Amin Suma , M.A.,S.H tafsir ahkam I (pt logos wacana ilmu cet I Maret 1997 ) hal. 119 Ibib , moh Amin , 120 17 Syaih Muhammad Ali Ash Shabuni , Rawaa Iul bayaan Tafsir aayatil ahkaam minal quran , juz I ( Semarang Asy Syifa ) h. 384

BAB III PENUTUP Ibadah haji yang di wajibkan pada setiap muslim yang memiliki kemampuan atau kesanggupan melaksanakan perjalannya ke baitullah di mekkah adalah merupakan ibadah yang sangat berat karena memerlukan biaya yang sangat mahal bagi mereka yang bertempat tinggal jauh

dari mekkah. Menurut Muhammad Abduh ibadah haji merupakan ibadah formal kepada tuhan , maka harus di lakukan dengan benar sesuai dengan manasiknya dan di jalankan dengan ihklas semata mata karena Allah. Adapun haji menurut dasar hukumnya menurut dari beberapa ulama Terdapat perbedaan pendapat dikalangan ahli tafsir ahkam , dalam masalah umrah dan haji . Menurut ulama ulama Syafiiyah dan hanabilah , yang di pelopori ali ibnu umar dan ibn Abbas hukum umrah adalah wajib dengan alasan , perintah melakukan haji dan umrah secara itmam . Menurut ulama Malikiyah dan Hanafiyah , umrah itu hukumnya sunnah hal ini di perkuat dengan dasar hadis at thurmudi Ada seseorang bertaya kepada rosulullah SAW, tentang Umroh apakah ia wajib atau tidak ? Rasulullah menjawab : Tidak ! Tetapi jika kamu berumrah , itu lebih baik bagimu. Berdasarkan hadis tersebut sehingga ula malikiyah dan hanafiyah mengatakan hukum umroh adalah sunnah.

DAFTAR PUSTAKA 1) Syaih al- Allamah Muhammad Bin Abdurrahman ad damasqy , Fiqih empat madhab , ( Bandung Hasimi pres, ), 2) Al- Quran Terjemahannya, (Kerajaan Saudi Arabiyah , Mujamma Al- Malik Fahd li Tibaat Al Mush- haf Asyarif Medinah Munawwaraoh P. O. BOX 6262 ) 3) KH. Nurholis MA.,Asbabun nuzul sejarah turunnya ayat-ayat al-quran ,( pustaka anda cet. I . Surabaya 1997.) 4) H. Moh Zuhri dan M Qodirun ,Rawaiulbayan Tafsir ayat ayat hukum Jilid I ( Semarang , CV Andi Gravika ) 5) Dr. H. Muhammad Amin Suma , M.A.,S.H tafsir ahkam I (pt logos wacana ilmu cet I Maret 1997 ) 6) Syaih Muhammad Ali Ash Shabuni , Rawaa Iul bayaan Tafsir aayatil ahkaam minal quran , juz I ( Semarang Asy Syifa )