Anda di halaman 1dari 11

UJI EFEK AFRODISIAKA INFUSA BIJI PRONOJIWO (Kopsia fruticosa (Ker.) D.

C) BESERTA KOMBINASINYA DENGAN BUAH CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl.) DAN RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale Roxb.var.rubrum) TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR

JURNAL SKRIPSI

Oleh: Ariska Primandani 14082447 A

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SETIA BUDI SURAKARTA 2012

INTISARI PRIMANDANI, A., 2012, UJI EFEK AFRODISIAKA INFUSA BIJI PRONOJIWO (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C) BESERTA KOMBINASINYA DENGAN BUAH CABE JAWA (Piper retrofactum Vahl.) DAN RIMPANG JAHE MERAH (Zingiber officinale Roxb.var. rubrum), SKRIPSI, FAKULTAS FARMASI, UNIVERSITAS SETIA BUDI, SURAKARTA. PRIMANDANI, A., 2012, THE EFFECT OF APHRODISIAC INFUSE ON PRONOJIWO (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C) WITH COMBINATION OF CHILI FRUIT JAVANESE (Piper retrofactum Vahl.) AND RED GINGER RHIZOME (Zingiber officinale Roxb.var. rubrum), SKRIPSI, FAKULTAS FARMASI, UNIVERSITAS SETIA BUDI, SURAKARTA.
Ariska Primandani1), Suhartinah2), Fransiska Leviana3) Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Jl. Letjend Sutoyo Mojosongo Jebres Surakarta 57127

Pronojiwo (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C) adalah simplisia yang terkenal di kalangan masyarakat sebagai afrodisiaka namun belum pernah dilakukan penelitian, buah cabe jawa (Piper retrofactum Vahl.) dan rimpang jahe merah (Zingiber officinale Roxb.var.rubrum) terbukti sebagai simplisia yang bermanfaat untuk pengobatan tradisional, salah satunya adalah afrodisiaka. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek afrodisiaka infusa biji pronojiwo beserta kombinasinya dengan buah cabe jawa dan rimpang jahe merah. Pada penelitian ini hewan uji dikelompokkan menjadi 5 kelompok uji. Tiap kelompok terdiri dari 5 ekor tikus putih jantan yaitu: Kelompok I infusa biji pronojiwo 43,2 mg/200 g BB tikus, Kelompok II infusa biji pronojiwo 21,6 mg, rimpang jahe merah 10,8 mg, dan buah cabe jawa 10,8 mg untuk 200 g BB tikus, Kelompok III infusa biji pronojiwo 14,4 mg, rimpang jahe merah 14,4 mg, dan buah cabe jawa 14,4 mg tiap 200 g BB tikus, Kelompok IV kontrol positif (PASAKBUWONO CENG), Kelompok V kontrol negatif (air). Penelitian dilakukan selama 12 hari, diamati dan dicatat frekuensi climbing pada hari ke-0, 2, 4, 6, 8, 10,12. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa infusa kombinasi biji pronojiwo, buah cabe jawa dan rimpang jahe merah dapat meningkatkan efek afrodisiaka. Formula memiliki efek afrodisiaka paling tinggi yaitu infusa 21,6 mg biji pronojiwo, 10,8 mg rimpang jahe merah, buah cabe jawa 10,8 mg untuk 200 g BB tikus. Kata kunci : afrodisiaka, biji pronojiwo, buah cabe jawa, rimpang jahe merah, infuse.
1) 2) 3) Mahasiswa Dosen Pembing Utama Dosen Pembimbing Pendamping

ABSTRACT Pronojiwo is a simplisia which is popular in society. People use this plant as aphrodisiac but there is no research about the ability of pronojiwo as aphrodisiac. Now, chili fruit javanese and red ginger rhizome have a function in traditional herb especially in aphrodisiac. All researchs have the purpose to know the effect of aphrodisiac infusa in pronojiwo with their variations between red ginger rhizome and chili fruit javanese. In this research, the rats are divided into five groups. Every group has five rats. Group I use pronojiwo in 43,2 mg/200 g weight of rat. Group II use pronojiwo in 21, 6 mg, chili fruit javanese in 10,8 mg, and red ginger rhizome in 10, 8 mg/200 mg weight of rat. Group III use pronojiwo in 14,4 mg, chili fruit javanese in 14,4 mg, and red ginger rhizome in 14,4 mg/200 gr weight of rat. Group IV is as positive control. Group V Group I is as negative control. This research applies in 12 days. The formulation of herb are given in rats by the researcher everyday, observes and writes the climbing of rats from first day until twelve days. The result of this research in infusa combination of pronojiwo, red ginger rhizome, and chili red javanese have the function to increse the effect of aphrodisiac. This formulation gives higer afrodisiak effect as 21, 6 mg in pronojiwo, 10, 8 mg in chili red fruit, and 10,8 mg in red ginger rhizome for 200 g / weight of rat. Key words: aphrodisiac, pronojiwo, chili red javanese, red ginger rhizome, infuse

PENDAHULUAN Aktivitas seksual merupakan kebutuhan biologis manusia untuk mendapatkan keturunan. Menurut para ahli melakukan hubungan seksual secara rutin dapat menghambat proses penuaan, meningkatkan sistem kekebalan, dan membuat hidup lebih lama (Arisandi dan Andriani 2008). Gairah seksual setiap orang berbeda-beda dan sewaktu-waktu dapat berubah. Seseorang dapat saja mengalami penurunan gairah seksual, bahkan hilang sama sekali jika pola hidup atau pola makan sembarangan. Keberhasilan hubungan seksual ditandai dengan kenikmatan (orgasme) yang berhasil dicapai oleh kedua pasangan suami isteri. Pencapaian kenikmatan tersebut telah dirintis bersama sejak sebelum hubungan seksual itu dilakukan hingga masing-

masing pihak merasa siap untuk melakukan hubungan (Krisnatuti dan Mardiana 2005). Pengendalian hormonal terhadap fungsi seksual melibatkan interaksi kompleks di antara hipotalamus, kelenjar pituitari serta organ-organ seksual dan reproduksi. Pada laki-laki dua gonadotropin penting adalah luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). Aksi dominan LH ialah mengendalikan sintesis testosterone di dalam testis dan FSH memacu spermatogenesis (Wibowo dan Gofir 2007). Testosteron lebih terlibat dalam timbulnya dan pemeliharaan libido (gairah seksual). Penurunan libido dapat disebabkan faktor organik atau psikologik (Wibowo dan Gofir 2007). Afrodisiaka didefinisikan sebagai agen makanan atau obat yang

membangkitkan hasrat seksual (Singh et al 2010). Dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan di daerah Boston, 52% laki-laki antara usia 4070 tahun melaporkan beberapa tingkat disfungsi ereksi dapat ditingkatkan melalui perilaku seksual yang dapat memberikan hubungan yang dapat meningkatkan kepuasan dan harga diri manusia (Singh et al 2010). Penggunaan obat-obat seksual baik herbal maupun sintesis hanya bersifat memperbaiki secara hormonal saja dan itu sifatnya hanya spontanitas atau rangsangan (Fajri 2005). Biji pronojiwo (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C) adalah tumbuhan yang cukup popular digunakan di masyarakat sebagai stimulan dan obat kuat penambah gairah (afrodisiaka). Biasanya masyarakat menggunakan 3 butir biji pronojiwo dengan cara sangrai kemudian ditumbuk sehingga sama dengan 1 sendok sendok teh bila ditimbang setara dengan 2,4 gram namun penelitian belum pernah dilakukan sehingga peneliti berinisiatif untuk membuktikan khasiat dari Biji Pronojiwo (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C) sebagai afrodisiaka baik secara tunggal maupun kombinasi (Sutrisno 1998). Jahe merah (Zingiber officinale Roxb.var.rubrum) mempunyai sifat pedas menyegarkan atau analeptik yang dapat merangsang tubuh mempertahankan vitalitas sekaligus dijadikan acuan bahwa tumbuhan ini digunakan untuk menolong penderita gangguan seksual. Jahe merah mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan jenis lainnya terutama jika ditinjau dari segi kandungan senyawa kimia dalam rimpangnya. Rimpang jahe merah mengandung zat gingirol, oleoresin,

dan minyak atsiri yang tinggi (Anonim 2002). Penelitian ini berkaitan dengan efek dan kombinasi sediaan infusa campuran biji pronojiwo, rimpang jahe merah, dan buah cabe jawa terhadap frekuensi climbing tikus putih jantan galur wistar. Penggunaan simplisia biji pronojiwo terbukti secara empiris berkhasiat sebagai efek afrodisiaka. Buah cabe jawa dan rimpang jahe merah secara tunggal sudah terbukti mempunyai efek afrodisiaka. Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa penggunaan infusa buah cabe jawa dan rimpang jahe merah secara kombinasi dengan purwoceng terbukti mampu meningkatkan efek afrodisiaka (Utomo 2012). Tujuan penelitian ini adalah pertama, untuk mengetahui efek afrodisiaka biji pronojiwo terhadap tikus putih jantan galur wistar. Kedua, untuk mengetahui efek afrodisiaka kombinasi biji pronojiwo dengan buah cabe jawa dan rimpang jahe merah terhadap tikus putih jantan galur wistar. Ketiga, mengetahui formula yang memberikan efek afrodisiaka maksimal. METODE PENELITIAN A. Jalannya Penelitian 1. Identifikasi simplisia Tahap pertama dalam penelitian ini adalah melakukan identifikasi biji pronojiwo (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C), buah cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) dan rimpang jahe merah (Zingiber officinale Roxb.var.rubrum) bertujuan untuk menetapkan kebenaran pronojiwo (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C), cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) dan jahe merah (Zingiber

officinale Roxb.var. rubrum) terhadap kepustakaan. 2. Pengambilan bahan Bahan simplisia yang digunakan dalam penelitian ini adalah simplisia kering pronojiwo, rimpang jahe merah, dan buah cabe jawa yang didapatkan di Pasar Gede Surakarta. 3. Pengeringan bahan Biji pronojiwo dan buah cabe jawa kering yang diperoleh dicuci dengan air untuk menghilangkan kotoran dan cemaran dikeringkan dengan oven pada suhu 54-60 C sampai kering. Rimpang jahe merah yang telah diiris-iris dikeringkan dengan oven pada suhu 54-60 C sampai kering. 4. Pembuatan serbuk Biji pronojiwo kering digiling sampai halus dan diayak dengan pengayak no. 40. Rimpang jahe merah yang telah diiris-iris dikeringkan dengan dijemur selanjutnya dihaluskan dengan digiling menggunakan blender dan diayak dengan ayakan no. 40. 5. Penetapan Susut Pengeringan Masing-masing serbuk biji pronojiwo, cabe jawa dan rimpang jahe merah ditimbang sebanyak 2 gram kemudian diukur kelembaban dengan menggunakan alat moisture balance EB-340 MOC kemudian ditunggu sampai suhu yang telah ditetapkan (105 C) dan di lihat hasilnya dalam satuan %. 6. Pembuatan Sediaan Infusa Infusa formula 1 dengan konsentrasi 1,440% sebanyak 500 ml dibuat dengan menimbang serbuk pronojiwo sebanyak 7,2 g/500 ml kemudian dipanaskan dalam panci infus selama 15 menit terhitung setelah suhu mencapai 90C, sesekali diaduk kemudian disaring selagi panas, ditambahkan air panas

secukupnya melalui ampas sehingga diperoleh volume infus yang dikehendaki yaitu 500 ml. Infusa formula 2 dosis 7,2 g/500 ml dibuat kombinasi perbandingan 2:1:1 dengan menimbang campuran serbuk pronojiwo sebanyak 3,6 g: serbuk buah cabe jawa 1,8 g: serbuk rimpang jahe merah 1,8 g ditambahkan air sebanyak 500 ml kemudian dipanaskan dalam panci infus selama 15 menit terhitung setelah suhu mencapai 90C, sesekali diaduk kemudian disaring selagi panas, ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas sehingga diperoleh volume infus yang dikehendaki yaitu 500 ml. Infusa formula 3 dosis 7,2 g/500 ml dibuat kombinasi perbandingan 1:1:1 dengan menimbang campuran serbuk pronojiwo sebanyak 2,4 g: serbuk buah cabe jawa 2,4 g: serbuk rimpang jahe merah 2,4 g ditambahkan air sebanyak 500 ml kemudian dipanaskan dalam panci infus selama 15 menit terhitung setelah suhu mencapai 90C, sesekali diaduk kemudian disaring selagi panas, ditambahkan air panas secukupnya melalui ampas sehingga diperoleh volume infus yang dikehendaki yaitu 500 ml. 7. Identifikasi kandungan senyawa serbuk dan infusa. Serbuk diekstraksi terlebih dahulu, sedangkan infusa menggunakan 5 ml sediaan infusa untuk tiap pengujian. 7.1 Identifikasi alkaloid. Menimbang 500 mg masing-masing serbuk dan sediaan infusa, kemudian ditambah 1 ml HCl 2N dan 9 ml air panas selama 2 menit, didinginkan kemudian disaring. Alkaloid positif

jika endapan putih kekuningan terbentuk (Anonim 1989). 7.2 Identifikasi saponin. Menimbang 500 mg masing-masing serbuk dan sediaan infusa, dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan lalu dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Terbentuk buih yang tidak hilang setinggi 1-10 cm, saponin positif bila pada penambahan larutan asam klorida 2N buih tidak hilang (Anonim 1989). 7.3 Identifikasi flavonoid. Menimbang 500 mg masing-masing serbuk dan sediaan infusa, ditambah air panas secukupnya, dididihkan selama 15 menit kemudian disaring. Filtrat yang dihasilkan ditambah 0,1 gram serbuk Mg dan 2 ml campuran alkohol:HCl (1:1) serta pelarut amil alkohol. Campuran dikocok kuat-kuat dan dibiarkan sampai memisah. Jika terdapat warna merah, kuning jingga pada lapisan amil alkohol maka reaksi positif (Anonim 1989). 7.4 Identifikasi minyak atsiri. Menimbang 0,5 g masingmasing serbuk dan sediaan infusa, kemudian dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambahkan 5 tetes pereaksi sudan III. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya larutan berwarna merah (Sembiring 2006). 8. Rancangan dosis 8.1 Dosis campuran serbuk. Dosis yang digunakan untuk manusia adalah 1 sendok teh kombinasi serbuk biji pronojiwo, buah cabe jawa dan rimpang jahe merah (dengan perbandingan 2 : 1 : 1) setara dengan 2,4 gram dikonversi ke tikus. Dosis sediaan pada hewan uji diperoleh dari hasil konversi dosis sediaan manusia (70 kg), dimana faktor konversi sebesar 0,018 untuk tikus dengan berat

badan 200 gram (Harminta dan Radji 2004). Hasil konversi adalah 0,0432 gram atau 43,2 mg untuk tikus dengan berat badan 200 gram. Variasi formula pemberian yaitu diberikan Formula 1 (biji pronojiwo dosis 43,2 mg/200 g BB untuk tikus), Formula II (biji pronojiwo dosis 21,6 mg, rimpang jahe merah dosis 10,8 mg, buah cabe jawa dosis 10,8 mg)/200g BB untuk tikus dan Formula III (biji pronojiwo dosis 14,4 mg, rimpang jahe merah dosis 14,4 mg, buah cabe jawa dosis 14,4 mg)/200g BB untuk tikus. 8.2 Perhitungan kontrol positif. Tiap kaplet PASAKBUWONO CENG! mengandung 750 mg ekstrak. Cara pemakaian kaplet PASAKBUWONO CENG! sekali minum 2 kaplet adalah 1500 mg 1-2 jam sebelum melakukan hubungan seksual. Jika dikonversikan ke tikus hasilnya adalah 27 mg. Jadi, Jika ditimbang 900 mg ekstrak PASAKBUWONO CENG! dilarutkan dengan air panas 100 ml. 9. Prosedur kerja Tikus putih jantan diadaptasikan dengan keadaan lingkungannya (kandang) terlebih dahulu selama kurang lebih 3-4 hari. Hewan uji kemudian dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 hewan uji, yaitu 4 tikus betina dan 1 tikus jantan.
Kelompok I F1 Dosis biji pronojiwo 43,2 mg/200 g BB tikus. Kelompok II F2 Dosis 21,6 mg biji pronojiwo, rimpang jahe merah 10,8 mg, buah cabe jawa 10,8 mg untuk 200 g BB tikus. Kelompok III F3 Dosis 14,4 mg biji pronojiwo, rimpang jahe merah 14,4 mg, buah cabe jawa 14,4 mg tiap 200 g BB tikus. Kelompok IV F4 Kontrol Positif (PASAKBUWONO CENG!) Kelompok V F5 Kontrol Negatif (air)

Hewan uji awalnya tidak diberi perlakuan apapun serta diamati dan dikatakan sebagai hari ke-0. Pada hari ke-1 tidak diberi perlakuan apapun dan tidak diamati, kemudian pada hari ke-2 diberi perlakuan setiap hari sesuai kelompok uji secara oral selama 11 hari. Pengamatan dilakukan dua hari sekali pada sore hari dengan
Hari 0 Tidak diberi larutan uji Pengamatan climbing Hari 7 Pemberian larutan uji Tidak diamati Hari 1 Tidak diberi larutan uji Tidak diamati

mengamati frekuensi climbing yang dilakukan oleh hewan uji dan diamati pada malam hari pada jam 19.00. Pengamatan dilakukan terhadap frekuensi dari climbing yang dilakukan oleh tikus jantan terhadap tikus betina selama 1 jam. Pengujian dilakukan selama 12 hari.
Hari 5 Pemberian larutan uji Tidak diamati Hari 6 Pemberian larutan uji Pengamatan climbing

Tabel 1 Perlakuan hewan uji Hari 2 Hari 3 Hari 4 Pemberian Pemberian Pemberian larutan uji larutan uji larutan uji Pengamatan Tidak Pengamatan climbing diamati climbing Hari 9 Pemberian larutan uji Tidak Diamati Hari 10 Pemberian larutan uji Pengamatan Climbing

Hari 8 Pemberian larutan uji Pengamatan climbing

Hari 11 Pemberian larutan uji Tidak Diamati

Hari 12 Pemberian larutan uji Pengamatan climbing

Analisis Hasil Hasil penelitian terhadap efek afrodisiaka dengan parameter frekuensi climbing dianalisis secara statistik menggunakan Kolmogorov Smirnov test kemudian dilanjutkan Uji-t menggunakan Kruskal Wallis Test kemudian dilanjutkan uji ANOVA satu arah dengan taraf kepercayaan 95% menggunakan output program SPSS 17.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengambilan Bahan dan Identifikasi Tanaman Dimaksudkan untuk memastikan kebenaran simplisia dan menghindari kesalahan pemilihan bahan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa bahan yang digunakan dalam penelitian adalah biji pronojiwo (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C).

B. Pengeringan Bahan
Tabel 2. Hasil rendemen biji pronojiwo dan buah cabe jawa Bobot kering Bobot serbuk Simplisia Rendemen (%) utuh (gram) kering (gram) Biji pronojiwo 800 680 85,0 Cabe jawa 720 540 75,0 Tabel 3. Hasil rendemen rimpang jahe merah Simplisia Bobot basah utuh Bobot serbuk kering Rendemen (gram) (gram) Jahe Merah 1000 gram 300 gram 30 %

Bahan-bahan yang akan dibuat dicuci dengan menggunakan air supaya tidak ditumbuhi mikroba lalu dikeringkan dalam oven pada suhu

54C-60C dan sebagai proses mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim

yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti. C. Penetapan Susut Pengeringan Serbuk
Tabel 4. Hasil penetapan kelembaban serbuk Kadar RataSimplisia Penimbangan Air rata % (%) SD Biji 2,00 g 9,2 9,1 Pronojiwo 2,00 g 9,0 0,12 2,00 g 9,0 Jahe 2,00 g 9,8 9,6 merah 2,00 g 9,3 0,25 2,00 g 9,6 2,00 g 9,0 Cabe Jawa 8,5 2,00 g 8,5 0,5 2,00 g 8,0

Hasil penelitian susut pengeringan serbuk biji pronojiwo sebesar 9,1 % sedangkan hasil penelitian serbuk rimpang jahe merah sebesar 9,6 % dan serbuk buah cabe jawa sebesar 8,5 %. D. Pembuatan Sediaan Infusa Pembuatan infusa dengan konsentrasi 1,440% sebanyak 500 ml dibuat dengan menimbang dan mencampur serbuk biji pronojiwo beserta kombinasinya dengan buah cabe jawa dan rimpang cabe merah masing-masing formula sebanyak

(43,2 mg biji pronojiwo untuk formula 1), (biji pronojiwo 21,6 mg , rimpang jahe merah 10,8 mg, buah cabe jawa 10,8 mg untuk formula 2) dan (biji pronojiwo 14,4 mg, rimpang jahe merah 14,4 mg, buah cabe jawa 14,4 mg untuk formula 3) kemudian direbus selama 15 menit. Waktu perebusan selama 15 menit dihitung setelah suhu mencapai 90C. Perebusan dilakukan untuk menyari zat-zat dalam simplisia. E. Identifikasi Kandungan Zat Aktif Serbuk dan Infusa Biji pronojiwo, Buah Cabe Jawa dan Rimpang Jahe Merah Uji kandungan kimia pada serbuk dan infusa dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Universitas Setia Budi di Surakarta. Foto hasil identifikasi kimia masing-masing serbuk biji pronojiwo, buah cabe jawa, rimpang jahe merah dan infusa secara kualitatif. Hasil identifikasi kandungan kimia serbuk biji pronojiwo, buah cabe jawa dan rimpang jahe merah yang dibandingkan dengan pustaka (Anonim 1989).

Tabel 5. Hasil identifikasi kandungan kimia biji pronojiwo, buah cabe jawa dan rimpang jahe merah Serbuk Senyawa Infusa Biji pronojiwo Buah cabe jawa Rimpang jahe merah Alkaloid + + + Saponin + + Flavonoid + + Minyak Atsiri + + + +

F. Perlakuan Hewan Uji Hewan uji yang digunakan dalam uji afrodisiaka ini adalah tikus putih jantan galur wistar. Tikus putih galur wistar dipilih sebagai hewan uji dalam penelitian ini karena lebih resisten terhadap infeksi, sangat cerdas tenang dan mudah diatasi sehingga

memudahkan dalam pengamatan (Smith dan Mangkoewidjojo 1988). Dalam penelitian ini dipilih tikus putih jantan dengan berat badan antara 170 sampai 200 gram. Data penimbangan berat badan tikus digunakan untuk menentukan volume sediaan obat yang diberikan secara oral pada masing-masing tikus.

Pemberian sediaan (kontrol negatif, kontrol positif, biji pronojiwo tunggal dan kombinasi biji pronojiwo, rimpang jahe merah dan buah cabe jawa) diberikan secara oral, hal ini dikarenakan pemberian secara oral tidak perlu dalam kondisi steril. Parameter yang di amati adalah jumlah climbing tikus putih jantan galur wistar setiap sediaan dan jumlah

climbing pada hari ke nol, ke-2, ke-4, ke-6, ke-8, ke-10,dan ke-12, dimana dosis diberikan setiap hari tetapi pengawinan dilakukan pada hari ke-2, ke-4, ke-6, ke-8, ke-10,dan ke-12. Perlakuan tersebut bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian masingmasing sediaan uji terhadap minat (aktivitas seksual) tikus putih jantan.

Tabel 6. Hasil rata-rata frekuensi climbing tikus putih jantan Kelompok Hari kePerlakuan 0 SD 2 SD 4 SD 6 SD 8 SD 10 SD 12 SD F1 2,4 2,3 23 6,2 36 10,1 82,6 33,17 37 20,07 26,4 13,3 17 11,3 F2 2,2 1,3 29,2 7,7 57 21,3 85,2 7,5 34,6 28,1 31,2 19,7 28,8 14,1 F3 2,6 2,3 23 6,4 30 9,7 60,2 25,07 30,8 10,05 24,2 16,1 16,2 12,7 K+ 1,8 1,1 17,6 5,1 28 8,5 60,4 42,08 39 7,3 39 8,3 17 11,4 K1,6 0,9 2,6 2,4 8,2 4,9 13,6 10,3 11 5,8 13,6 8,1 2,2 16,4 Keterangan: F1 = Infusa biji pronojiwo 43,2 mg/200 g BB tikus. F2 = Infusa biji pronojiwo 21,6 mg + rimpang jahe merah 10,8 mg + buah cabe jawa 10,8 mg untuk 200 g BB tikus. F3 = Infusa biji pronojiwo 14,4 mg + rimpang jahe merah 14,4 mg + buah cabe jawa 14,4 mg untuk 200 g BB tikus. F4 = Kontrol positif (PASAKBUWONO CENG!) dosis 27 mg untuk 200 g BB tikus F5 = Kontrol negatif air.

Kurva pada gambar 1 menunjukkan rata-rata frekuensi climbing tikus jantan ke tikus betina pada hari ke-0, hari ke-2, hari ke-4, hari ke-6, hari ke-8, hari ke-10 dan hari ke-12 pada setiap perlakuan. Peningkatan tertinggi rata-rata frekuensi climbing terjadi pada hari ke-6 sedangkan pada hari ke-8 mengalami penurunan.

Gambar 3. Kurva rata-rata frekuensi climbing tikus putih jantan

Keterangan: F1 = Infusa biji pronojiwo 43,2 mg/200 g BB tikus. F2 = Infusa biji pronojiwo 21,6 mg + rimpang jahe merah 10,8 mg + buah cabe jawa 10,8 mg untuk 200 g BB tikus. F3 = Infusa biji pronojiwo 14,4 mg + rimpang jahe merah 14,4 mg + buah cabe jawa 14,4 mg untuk 200 g BB tikus. F4 = Kontrol positif (PASAKBUWONO CENG!) dosis 27 mg untuk 200 g BB tikus F5 = Kontrol negatif air

Kurva di atas menunjukan frekuensi rata-rata climbing tikus jantan terhadap tikus betina selama 12 hari diberikan secara peroral 1 kali sehari tiap sore jam 17.00, pengamatan frekuensi climbing dilakukan setiap 2 hari sekali setelah 1 jam perlakuan diamati selama 1 jam pada malam hari pada jam 19.0020.00. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui efek afrodisiaka dari infusa biji pronojiwo tunggal, campuran infusa biji pronojiwo, buah cabe jawa dan rimpang jahe merah (2:1:1) dan campuran infusa biji pronojiwo, buah cabe jawa, dan rimpang jahe merah (1:1:1). Uji hipotesis digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan frekuensi climbing yang nyata secara nyata (signifikan), namun sebelum melakukan uji hipotesis perlu menganalisis data frekuensi climbing dari kelima kelompok perlakuan secara Kolmogorov-Smirnov untuk memastikan distribusi data penelitian sehingga diharapkan analisis yang dipilih telah sesuai dengan obyektifitas penelitian bukan hanya mengejar kebermaknaan semata. Kriteria analisisnya adalah nilai signifikasinya (Asymp.sig.) lebih besar dari 0,05 maka data terdistribusi secara normal bila nilai signifikasinya (Asymp.Sig.) lebih kecil dari 0,05 maka data tidak terdistribusi secara normal.

Kesimpulan Pertama, Infusa biji pronojiwo (Kopsia fruticosa (Ker.) D.C) memiliki efek afrodisiaka. Kedua, kombinasi infusa biji pronojiwo dengan buah cabe jawa dan rimpang jahe merah memiliki efek afrodisiaka terhadap tikus putih jantan galur wistar. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2002. Khasiat dan Manfaat Jahe Merah si Rimpang Ajaib. Cetakan ke-1. Jakarta: Agromedia Pustaka. Arisandi Y, Andriani Disfungsi Seksual. Garda Media. Y. 2008. Semarang:

Fajri FA. 2005. Ketika Kamasutra Mengajarkan Seks, Mencapai Vitalitas Seksual melalui Obat Herbal. Volume ke-3. Jakarta: Natural. Mardiana dan Paimin, 2005, Ramuan Tradisional untuk Kesuburan Suami Istri. Jakarta; Penebar Swadaya. Singh B et al. 2010. Pharmacological Potential of Plant Used as Aphrodisiac. International Journal of Pharmaceutical Sciences

Review and Research. www.globalresearchonline.net. [25 Maret 2011]. Sutrisno B. 1998. Taksonomi Spermatophyta untuk Farmasi. Jakarta: Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila. Smith BJ, Mangkoewidjojo S. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Utomo AB. 2012. Efek afrodisiaka perbandingan dosis infusa campuran serbuk akar purwoceng (Pimpinella pruatjan Molkenb), buah cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) dan rimpang jahe merah (Zingiberis officinale Rosc.) terhadap frekuensi climbing tikus putih jantan galur wistar. [Skripsi]. Surakarta: Fakultas Farmasi,Universitas Setia Budi.