Anda di halaman 1dari 59

TESIS

PERLINDUNGAN HUKUM HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL ATAS PENGETAHUAN TRADISIONAL DAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL BERUPA KERAJINAN TANGAN DI SULAWESI SELATAN
(Legal Protection of Intelletual Property Rights on Traditional Knowledge and Traditional Cultural Expressions in the from of Handicrafts in South Sulawesi)

Disusun dan diajukan oleh :

MUH. NUR UDPA P0903211004

PASCA SARJANA FAKULTAS HUKUM JURUSAN KEPERDATAAN UNIVERSITAS HASANUDDIN 2013

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hak Kekayaan Intelektual (HKI) 2.1.1 Pokok-Pokok Kandungan HKI Hak Kekayaan Intelektual dideskripsikan sebagai hak kekayaan intelektual yang timbul karena kemampuan intelektual manusia. IPR pada prinsipnya merupakan perlindungan hukum atas HKI yang kemudian dikembangkan menjadi suatu lembaga hukum yang disebut Intellectual Property Right. Secara substantif, pengertian HKI dapat dideskripsikan sebagai hak atas kekayaan yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia. Sementara pendapat lain

mengemukakan bahwa, HKI merupakan pengakuan dan penghargaan pada seseorang atau badan hukum atas penemuan atau penciptaan karya intelektual mereka dengan memberikan hak-hak khusus bagi mereka baik yang bersifat sosial maupun ekonomis. HKI merupakan hak yang berasal dari hasil kegiatan intelektual manusia yang mempunyai manfaat ekonomi.1 Hak kekayaan intelektual (HKI) merupakan hak kebendaan, hak atas sesuatu benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio manusia yang menalar. Hasil kerja tersebut berupa benda immateril (benda tidak berwujud). Hak kekayaan intelektual merupakan hasil kegiatan manusia yang diungkapkan ke dunia luar dalam suatu bentuk, baik material maupun immaterial. Bukan bentuk penjelmaannya yang dilindungi akan tetapi daya cipta itu sendiri. Daya cipta itu dapat berwujud

Afrillyanna Purba, dkk, 2005,Trips-WTO dan Hukum HKI Indonesia, Jakarta, Asdi Mahasatya, Hlm.12-

13

dalam bidang seni, industri, dan atau ilmu pengetahuan.2 Menurut sejarah kelahirannya, Hak Kekayaan Intelektual merupakan bentuk baru dari pengembangan hak milik konvensional atas suatu benda bergerak yang tidak berwujud ( intangible property).3 Konsepsi mengenai HKI didasarkan pada pemikiran bahwa karya intelektual yang telah dihasilkan manusia memerlukan pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya. Adanya pengorbanan tersebut menjadikan karya yang telah dihasilkan memiliki nilai ekonomi karena manfaat yang dapat dinikmati. Berdasarkan konsep tersebut maka mendorong adanya penghargaan atas hasil karya yang telah dihasilkan berupa perlindungan hukum bagi HKI. Tujuan pemberian perlindungan hukum ini untuk mendorong dan menumbuhkembangkan semangat berkarya dan mencipta.4 Pemikiran tentang perlunya perlindungan terhadap sesuatu hal yang berasal dari kreativitas manusia, yang diperoleh melalui ide-ide manusia sebenarnya mulai ada sejak lahirnya Revolusi Industri Perancis. Perlindungan mengenai hak atas kebendaan yang diatur dalam hukum sipil saat itu dianggap tidak memadai terlebih dengan mulai maraknya kegiatan perdagangan internasional. Hal itulah yang kemudian melahirkan konsep tentang perlunya suatu ketentuan yang bersifat memberikan perlindungan hak kekayaan the World intelektual Intellectual bertaraf Property

internasional.5Convention

Establishing

Organizationyang disetujui di Stockholm tanggal 14 Juli 1967, merupakan konvensi pertama yang membahas perihal hak kekayaan intelektual meliputi : a. Literary, artistic, and scientific works;
2 3

OK. Saidin, 2004,Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta, RajaGrafindo Persada, Hlm.9 Elyta Ras Ginting, 2012, Hukum Hak Cipta Indonesia-Analisis Teori dan Praktik, Citra Aditya Bakti, Afrillyanna Purba, dkk. Op.Cit. Gunawan Widjaja. 2001. Rahasia Dagang. Jakarta. Rajawali Pers. Hlm. 17

Hlm. 4.

4 5

b. Performances of performing artists, phonograms, and broadcast; c. Inventions in all fields of human endeavor; d. Scientific discoveries; e. Industrial designs; f. Trademarks, service marks, and commercial names and designations; g. Protection against unfair competition. Hak kekayaan intelektual pada point (a) dan (b) dinamakan dengan Copyrights (hak cipta). Point (c), (e), (f) mewakili Industrial Proprty Rights (hak milik industrial). Meskipun diakui sebagai hak kekayaan intelektual Scientific Discovering tidak diberikan perlindungan hukum. Sedangkan hak kekayaan intelektual pada point (g), karena pada pokoknya perlindungan hukum akan diberikan pada pelaku usaha maka dalam ketentuan mengenai hak kekayaan intelektual tersebut juga diatur perlindungan dari persaingan usaha tidak sehat.6 Indonesia bergabung menjadi salah satu anggota dari WIPO sejak tahun 1979 dengan disahkan dan diundangkannya Keputusan Presiden Nomor 24 tahun 1979 tentang Pengesahan Paris Convention for the Protection of Industrial Property and Convention Establishing te World Intelectual Property Organization.

Sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 15 tahun 1997 tentang Perubahan Keputusan Presiden Nomor 24 tahun 1979. Oleh karena pelaksanan (enforcement) perlindungan Hak Kekayaan

Intelektual oleh WIPO dianggap kurang optimal dan dianggap perlu juga menambahkan berbagai macam konsep Hak Kekayaan Intelektual yang sebelumnya belum diakui atau dikenal, seperti misalnya hak kekayaan intelektual terhadap :

Gunawawan Widjaja. 2003. Lisensi. Jakarta. Rajawali Pers. Hlm.11-12

a. Computer program; b. Integrated circuits; c. Reprography; d. Broadcasting innovations; e. Biotechnology. Maka dalam perundingan GATT Uruguay Round dimasukanlah agenda tentang Hak Kekayaan Intelektual. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual yang diatur dalam WTO-GATT-TRIPs meliputi : a. Copyrights and related rights; b. Trademarks, service marks, trade names; c. Geographical indications; d. Industrial designs; e. Patents; f. Layout designs (topographies) of integrated circuits; g. Protection of undisclosed information; h. Control of anti-competitive rights. Pada hakikatnya, TRIPs mengandung empat kelompok pengaturan. Pertama, yang mengaitkan hak kekayaan intelektual dengan konsep perdagangan

internasional.Kedua, menetapkan aturan atau ketentuan sendiri. Ketiga, yang merupakan ketentuan atas hal-hal yang secara umum termasuk upaya penegakan hukum yang terdapat dalam legislasi negara-negara anggota. Keempat, yang mewajibkan negara-negara anggota untuk mematui Paris Convention dan Berne Convention.7TRIPs tetap mengakui dan masih tetap mengacu pada ketentuan-

Achmad Zen Purbar. 2005. Hak Kekayaan Intelektual Pasca TRIPs. Jakarta. Alumni. Hlm. 22

ketentuan mengenai Hak Kekayaan Intelektual yang telah ada sebelumnya yaitu dalam bentuk pengakuan dan pemberlakuan : a. Bern Convention untuk pengaturan mengenai perlindungan terhadap copyrights and related rights; Dalam ketentuan ini diatur mengenai perlindungan atas karya-karya yang dilindungi dengan tidak memandang bentuk dari ekspresi karya-karya tersebut. Ketentuan ini menegaskan bahwa ide saja tidak dapat dilindungi sampai ide tersebut menjadi kenyataan. Ketentuan ini mengatur pula tentang pembentukan Union, dengan tujuan untuk melindungi hak para pencipta atas karya-karya seni dan sastra mereka. Konvensi ini memberikan perlindungan bagi karya-karya sinematografi, arsitektur, karya artistik tertentu, karya bersama. Pembatasan perlindungan atas karya tertentu warga negara bukan anggota Union b. Paris Convention, bagi perlindungan terhadap industrial property rights (Hak Milik Industrial) yang meliputi : Paten (Patents); Paten sederhana (utility models); Desain industri (industrial designs); Merek dagang (trademarks); Merek jasa (service marks); Nama dagang (trade names); Rahasia dagang (trade secrets); Indication of source; Appellation of origin; dan Repression unfair competition.

c. Treaty on Intellectual Property in Respect of Integrated Circuits (IPIC Treaty) untuk perlindungan atas layout designs (topographies); dan d. Rome Convention 1961 for the protection of performers, producers of phonograms and broadcasting organization. 2.1.2 Prinsip Dasar HKI Secara teoretis hak kekayaan intelektual menganut lima prinsip dasar yaitu : 8 a. Hak Otoritas Hak kekayaan intelektual ada secara hukum jika telah ada pengayoman, penaungan, atau perlindungan hukum dari negara atau otoritas publik terhadap suatu karya intelektual. Hal tersebut melalui mekanisme pengurusan dokumentasi dengan hasil akhir diberikannya hak kepada pemohon hak kekayaan intelektual, termasuk inventor, pendesain, serta pemilik merek. Hak yang diperoleh tersebut menimbulkan eksklusivitas atau kepemilikan sehingga pemilik dapat melarang pihak lain menggunakan hak tersebut

tanpa izinnya.

b. Hak Privat dan Pasar Hak kekayaan intelektual merupakan hak bagi pemilik karya intelektual yang bersifat individual, perorangan, privat. Namun, masyarakatlah yang mendapat kemaslahatannya melalui mekanisme pasar. Karya intelektual yang telah mendapat atau telah dikemas dengan hak eksklusif menciptakan pasar

Ibid. Hlm.12

(permintaan dan penawaran), sehingga dapat dikatakan bahwa hak kekayaan intelektual merupakan pendorong bagi pertumbuhan ekonomi. c. Prinsip Berkesinambungan Sistem pasar yang telah tercipta mempertemukan pemegang hak kekayaan intelektual dan masyarakat. Pertemuan tersebut akan menimbulkan

hubungan yang berkesinambungan atas tingkat kebutuhan masyarakat atas barang-barang. Hak kekayaan intelektual melekat pula unsur

berkesinambungan atau estafet, misalnya saja dalam hal paten, inventor harus membuka dan mengungkapkan invensinya. Hal tersebut bertujuan untuk merangsang orang lain mengembangkan invensi sebelumnya demi menciptakan invensi yang baru. d. Satu Kesatuan Hak kekayaan intelektual merupakan satu kesatuan sistem, hal tersebut berarti hak kekayaan intelektual mencakup berbagai bidang yang luas sehingga diperlukan pengikatan antara semua unsur agar saling terkait menjadi satu. e. TRIPs Mengikat TRIPs sebagai lampiran WTO Agreement merupakan dokumen yang mengikat Indonesia yang telah meratifikasi persetujuan tersebut dengan Undang-Undang Nomor 7 tahun 1994. Berdasarkan hukum internasional, persetujuan internasional yang telah diratifikasi merupakan hukum nasional bagi negara itu sendiri.

Hak Kekayaan Intelektual merupakan benda immateril, jika dilihat dari sudut pandang tersebut maka HKI dapat dikategorikan dalam kelompok sebagai berikut : 9 1. Hak Cipta (copy rights). Hak cipta diklasifikasikan kedalam dua bagian yaitu hak cipta dan hak yang berkaitan (bersempadan) dengan hak cipta (neighbouring rights). 2. Hak kekayaan perindustrian (Industrial Property Rights). Berdasarkan Convention Establishing the World Intellectual Property Organization, Hak kekayaan penindustrian dapat diklasifikasikan menjadi patent (paten), utility models (model dan rancang bangun) atau dalam hukum Indonesia dikenal dengan istilah paten sederhana (simple patent), Industrial Design (desain industri), trade merk (merek dagang), trade names (nama niaga atau nama dagang), indication of source or appelation of origin(sumber tanda atau sebutan asal). Beberapa pakar dari negara yang menganut sistem hukum Anglo Saxon, bidang hak kekayaan perindustrian mencakup pula beberapa bidang lainnya yaitu trade secrets, service mark, and unfair competition protection. Sedangkan berdasarkan kerangka WTO/TRIPs terdapat dua bidang yang tercakup dalam hak kekayaan perindustrian yaitu perlindungan varietas baru tanaman dan Integrated Circuits (rangkaian elektronika terpadu). Pembentukan peraturan perundang-undangan di bidang HKI di Indonesia, sesungguhnya tidak didasarkan pada kepentingan atau kebutuhan dari mayoritas penduduknya sendiri. Pembentukan perundang-undangan HKI lebih banyak didasarkan pada kebutuhan untuk menyesuaikan diri terhadap kecenderungan perdagangan global. Pada era global, negara-negara berkembang seperti Indonesia
9

OK. Saidin. Op. Cit. Hlm.13-15

tidak memiliki pilihan selain mengakomodasikan kepentingan negara-negara industri yang telah memberikan banyak bantuan kepada negara-negara berkembang. Misalnya dalam konteks pembangunan ekonomi, negara-negara berkembang sangat bergantung kepada arus modal asing. Investasi asing tidak hanya membawa sejumlah modal ke suatu negara, tetapi juga teknologi yang memang sangat dibutuhkan oleh negara-negara berkembang. Negara berkembang yang menolak untuk mengakomodasi permintaan negara-negara maju akan terisolasi dari pasar global.10 2.1.3 Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia Era reformasi yang dimulai tahun 1998 di Indonesia secara kebetulan terjadi pasca ratifikasi WTO Agreement 1994.Pada era reformasi tersebut, pembentukan hukum di bidang HKI boleh dikatakan sangat produktif. Berikut merupakan daftar perundang-undangan di bidang HKI yang dibentuk pada era reformasi, pasca ratifikasi WTO agreement : a. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman; b. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang; c. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri; d. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu; e. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten; f. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek; dan g. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

10

Agus Sardjono, Op.Cit., Hlm.15-16

Substansi perundang-undangan tersebut di atas sepenuhnya mengakomodasi konsep-konsep dan ketentuan-ketentuan HKI konvensional. HKI konvensional yang dimaksudkan yaitu penerapan peraturan HKI yang merujuk pada lembaga hukum HKI yang disepakati melalui konvensi-konvensi internasional, seperti paten, merek, hak cipta, rahasia dagang, desain industri, desain tata letak sirkuit terpadu. Beberapa contoh perihal pengakomodasian konsep dan ketentuan HKI konvensional yaitu :11 a. Persyaratan bagi invensi yang dapat dilindungi hak paten (novelty, inventive step, and industrial applicability); b. Jangka waktu perlindungan paten (20 tahun sejak tanggal penerimaan pendaftaran); c. Hak prioritas untuk mendapatkan perlindungan; d. Perlindungan merek terkenal; e. Permohonan dan prosedur administratif untuk memperoleh perlindungan hukum; f. Hal-hal yang dapat dilindungi HKI; g. Hak-hak terkait (related or neighbouring rights); dan lain lain Semua aturan yang terdapat di dalam perundang-undangan HKI Indonesia sepenuhnya sesuai dengan kesepakatan-kesepakatan internasional di bidang tersebut. Hal ini dikuatkan dengan tujuan ideal dari pembentukan perundangundangan HKI tersebut yang pada umumnya diambil dari teori-teori yang berkaitan dengan gagasan perlindungan HKI itu sendiri. Beberapa hal diantaranya yaitu :12 a. Promote technological development, innovation, and creativity
11 12

Agus Sardjono, Op.Cit., Hlm. 31-32 Ibid., Hlm. 32-35

Tujuan ini didasarkan pada reward theory yang secara singkat dapat dikemukakan bahwa apabila seseorang yang kreatif diberikan imbalan ekonomi maka diharapkan akan terjadi peningkatan kreatifitas, inovasi, dan pada giliriannya peningkatan perkembangan teknologi secara keseluruhan akan berjalan ke arah yang lebih baik. Tujuan tersebut ditegaskan di dalam article 7 TRIPs agreement sebagai berikut : The protection and enforcement of intellectual property rights should contribute to the promotion of technological innovation and the transfer and dissemination of technology, to the mutual advantage of producers and users of technological knowledge and in a manner conducive to social and economic welfare, and to a balance of rights and obligations. b. The need for the transfer of technology Tujuan ini hendak dicapai dengan asumsi bahwa apabila teknologi diterapkan melalui lisensi, maka akan terjadi proses alih teknologi kepada lisensi. c. Protection of individual property rights Tujuan ini biasanya didasarkan pada teori hukum alam mengenai perlindungan hak-hak seseorang. HKI baru ada secara hukum jika telah ada pengayoman, penaungan, atau perlindungan hukum dari negara sebagai otoritas publik. d. Law changing life style, agrarian to industrialized society Tujuan ini didasarkan pada teori bahwa hukum dapat dijadikan alat untuk mengubah perilaku masyarakat. HKI dibentuk untuk mengubah masyarakat Indonesia yang agraris menjadi masyarakat industri melalui pemberian penghargaan ekonomi. e. To be a responsible member of international community Tujuan ini didasarkan pada doktrin bahwa janji harus ditepati (pacta sunt servanda). Pemerintah Indonesia telah berjanji untuk mematuhi kesepakatan

internasional di bidang HKI melalui langkah ratifikasi berbagai konvensi. Serta dengan meyesuaikan hukum nasional Indonesia terhadap kesepakatankesepakatan internasional tersebut. f. Out of fear not to become isolated Tujuan ini hendak dicapai melalui langkah antisioatif berdasarkan contract theory bahwa dalam pihak-pihak di dalam kontrak tidak akan dapat dikenakan sanksi hukum bilamana ia melaksanakan sepenuhnya kesepakatan tersebut. Salah satu sanksi hukum dari pelanggaran international agreement seperti WTO dan lain-lainnya merupakan sanksi isolasi di bidang perdagangan bagi mereka yang tidak mematuhi kesepakatan tersebut. 2.2Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Traditional knowledge merupakan istilah umum yang mencakup ekspresi kreatif, informasi, dan know how yang secara khusus mempunyai ciri-ciri sendiri dan dapat mengidentifikasi unit sosial. Dalam banyak cara, bentuk knowledge tidak seperti yang ada dalam istilah bahasa inggris sehari-hari. Bentuk khusus dari knowledge merujuk kepada lingkungan pengetahuan tradisional (traditional

environment knowledge).Traditional knowldege mulai berkembang dari tahun ke tahun seiring dengan pembaruan hukum dan kebijakan, seperti kebijakan pengembangan pertanian, keanekaragaman hayati (biological diversity), dan kekayaan intelektual (intellectual property). Masalah ini banyak menjadidiskursus di lingkungan organisasi internasional seperti UNDP, UNESCO, dan World Bank.13

Budi Agus R, Syamsudin, 2004, Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, Jakarta, RajaGrafindo Persada. Hlm.26-27

13

Pengertian traditional knowledge dapat dilihat secara lengkap dalam Article 8 J Traditional Knowledge, Innovations, and Practice Introduction yang menyatakan :14 traditional knowledge refers to the knowledge, innovations, and practices of indigenous and local communities around the world. Developed from experience gained over the centuries and adapted to the local culture and environment, traditional knowdledge is transmitted orally from generation to generation. It tends to be collectively owned and takes the form of stories, songs, folklore, proverbs, cultural values, beliefs, ritual, community laws, local languange, and agricultural practices, including the development of plant species and animal breeds. Traditional knowledge is mainly of a practical mature, particularly in such fields as agriculture, fisheries, health, horticulture, and forestry. The Director General of United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization mendeskripsikan traditional knowledge sebagai berikut:15 The indigenous people of the world possess an immense knowledge of their environments, based on centuries of living close to nature. Living in and form the richness and variety of complex ecosystems, they have an understanding of the properties of plants and animals, the functioning of ecosystems and the techniques for using and managing them that is particular and often detailed. In rural communities in developing countries, locally occurring species are relied on for many sometimes all foods, medicines, fuel, building materials and other products. Equally, people is knowledge and perceptions of the environment, and their relationships with it, are often important elements of cultural identity. Istilah pengetahuan tradisional pertama kali diintordusir di dalam instrumen hukum internasional. Istilah ini diberi pengertian dan ruang lingkup yang berbeda oleh masing-masing organisasi yang melahirkan perjanjian internasional tersebut. Hal ini dapat dimaklumi karena masing-masing lembaga internasional tersebut mempunyai tujuan dan paradigma yang berbeda pula. Dalam literatur yang membahas tentang pengetahuan tradisional dan masyarakat asli ditemukan beberapa istilah yang mengacu pada pengetahuan

Afrillyana Purba, dkk, 2005, TRIPs-WTO dan Hukum di Indonesia (Kajian Perlindungan Hak Cipta Seni Batik Tradisional Indonesia), Rineka Cipta, hlm.27 15 Ibid.

14

tradisional. Istilah-istilah yang digunakan oleh sebagian penulis antara lain pengetahuan masyarakat asli (indigenous knowledge), pengetahuan lokal (local knowledge), pengetahuan etnobotani (ethnoboyanical knowledge), pengetahuan masyarakat kesukuan (tribal people knowledge), pengetahuan rakyat (folk knowledge).16 Berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, pengetahuan tradisional dapat dilihat dari dua sisi pandang yang berlainan, yakni pengetahuan tradisional dipandang sebagai warisan budaya (traditional knowledge as cultural heritage) dan pengetahuan tradisional sebagai sumber daya (traditional knowledge as resources). UNESCO mengatur pengetahuan tradisional di dalam konvensi mengenai usaha perlindungan warisan budaya tak benda (the convention for the safeguarding intangible cultural heritage), 2003. Pada Pasal 2, konvensi tersebut menjelaskan bahwa warisan budaya tak benda dijelaskan sebagai praktik-praktik, penggambaran ekspresi, pengetahuan, keahliaan..., dimana suatu komunitas, kelompok, dan dalam beberapa kasus individu, mengakuinya sebagai warisan budaya mereka. Konvensi mengenai usaha perlindungan warisan budaya tak benda, tidak secara langsung menyatakan pengetahuan tradisional sebagai salah satu kategori yang tercakup dalam warisan budaya tak benda. Namun, berdasarkan berbagai pemaparan definisi pengetahuan dan karakteristik yang dapat dikategorikan sebagai warisan budaya tak benda dalam konvensi tersebut mengindikasikan bahwa pengetahuan tradisional merupakan bagian dari warisan budaya tak benda. Pengetahuan diartikan secara luas dengan tidak memberikan definisi yang konkret. Pengetahuan hanya dipadankan dengan keahlian atau praktik-praktik yang

16

Zainul Daulay, Op.Cit., Hlm.17

berkenaan dengan alam maupun jagat raya dalam satu domain tersendiri di samping domain lain. Adapun domain-domain yang menjadi manifestasi warisan budaya tak benda tersebut yaitu :17 a. Tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai suatu sarana warisan budaya yang bersifat tak benda (intangible); b. Seni pertunjukan; c. Kebiasaan-kebiasaan sosial, ritual, dan upacara; d. Pengetahuan dan keahlian berkenaan dengan alam maupun jagat raya; e. Kerajinan tangan tradisional. Penjelasan lebih rinci tentang domain pengetahuan dan keahlian dapat dirujuk pada dokumen UNESCO lain. Dokumen tersebut menguraikan bahwa yang dimaksud dengan pengetahuan dan keahlian berkenaan dengan alam dan jagat raya adalah pengetahuan, keterampilan (know-how), keahlian (skills), penggambaran

(respresentation), yang dikembangkan oleh masyarakat melalui interaksi dengan lingkungan alam. Termasuk di dalamnya cara pikir tentang jagat raya yang diekspresikan melalui bahasa, tradisi, lisan, perasaan, yang terkait dengan suatu tempat, kenangan, spritualitas, dan pandangan tentang dunia. Beberapa bidang lain juga termasuk domain ini, seperti kearifan ekologi tradisional, pengetahuan masyarakat perdukunan, asli (indogenous flora knowledge), dan sistem pengobatan konvensi tradisional, ini juga

pengetahuan

fauna.Selanjutnya,

menetapkan sejumlah karakteristik untuk mengkategorikan suatu budaya termasuk dalam warisan budaya tak benda. Ciri-ciri budaya yang termasuk dalam kategori

17

Ibid.

tersebut yaitu budaya yang ditularkan antargenerasi, berkembang secara dinamis, menyatu dengan identitas komunitas, dan merupakan sumber kreativitas. 18 Pengetahuan tradisional dilihat dari sudut pandang sumber daya, pengertian pengetahuan tradisional dapat dirujuk pada Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (the convention on biological diversity CBD), 1992 dan pada WIPO. CBD telah mengatur pengetahuan tradisional terkait sumber daya dalam lingkungan sedangkan WIPO berupaya untuk mengaturnya dalam kaitannya sebagai sumber daya kekayaan intelektual. Pada dasarnya CBD bertujuan untuk mencapai tiga tujuan utama, yakni konservasi keanekaragaman hayati, memajukan penggunaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, dan meyakinkan peningkatan

keuntungan komersial penggunaan sumber-sumber genetik yang dibagi dengan cara-cara yang patut dan adil.19 Namun, karena disadari bahwa ada hubungan yang esensial antara pengetahuan masyarakat asli, dengan kepentingan dengan konservasi

keanekaragaman hayati, maka isu perlindungan pengetahuan tradisional diatur dalam konvensi ini. CBD merupakan konvensi internasional pertama yang mengatur tentang pengetahuan tradisional. Pengertian pengetahuan tradisional tidak

dirumuskan secara jelas. Kovensi tersebut hanya merumuskannya dalam suatu ungkapan bahwa pengetahuan tradisional adalah pengetahuan... masyarakat asli dan lokal yang membadankan gaya hidup tradisional yang relevan untuk konservasi dan penggunaan hayati berkelanjutan. Hal ini dinyatakan dalam Pasal 8 (j) sebagai berikut :

18 19

Zainul Daulay, Ibid., Hlm.18-20 Zainul Daulay, Ibid., Hlm.20-21

Respect, preserve, and maintain knowledge, innovations, and practices of indigenous and local communities embodying traditional lifestyles relevant for the conservation and sustainanble use of biological diversity and promote their wider application with the approval and involvement of the holders of such knowledge, innovations, and practices ... Pasal 8 (j) di atas, tidak menjelaskan secara rinci mengenai ruang lingkup pengetahuan tradisional. Pasal tersebut hanya mengaitkan pengetahuan dengan gaya hidup masyarakat asli yang berhubungan dengan lingkungan. Untuk itu, dapat dirujuk dokumen yang diajukan oleh Sekretaris Eksekutif pada Konfrensi Negara Anggota CBD tahun 1997. Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa ada lima ciriciri umum pengetahuan tradisional terkait CBD. Berdasarkan dokumen tersebut ciriciri pengetahuan tradisional adalah:20 a. Didasarkan pada informasi mengenai berbagai komponen fisik, biologis, dan sosial dari suatu lanskap tertentu (a particular landscape); b. Dalam penggunaannya dilandasi dengan kaidah tidak merusak lingkungan dengan cara yang tak tergantikan (rules for using them without damaging them irreparably); c. Terletak pada persimpangan atau titik singgung antara hubungan para penggunanya; d. Terkait dengan teknologi untuk mendapat zat-zat tertentu, kesehatan, perdagangan, dan kebutuhan ritual penduduk lokal; e. Didasarkan pada suatu pandangan mengenai dunia bahwa dalam mengambil keputusan maka pandangan jangka panjang dan menyeluruh harus diletakkan di atas segalanya. Ruang lingkup pegetahuan tradisional dalam kerangka CBD bersifat lebih sempit. CBD secara jelas mengacu pada pengetahuan tradisional dalam konteks
20

Zainul Daulay.Ibid., Hlm.21-22

konservasi dan penggunaan sumber daya keragaman hayati yang berkelanjutan. Ruang lingkup pengetahuan tradisional dalam kerangka CBD hanya sepanjang terkait dengan keputusan pada tingkat lokal mengenai wilayah kehidupan kontemporer. Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan tentang pengelolaan sumber daya alam (natural resource management), gizi, cadangan makanan, kesehatan, pendidikan, organisasi sosial, dan masyarakat. Pengetahuan tradisional dalam kerangka CBD disebut juga sebagai pengetahuan ekologi tradisional (traditional ecological knowledge).21 Pada awalnya Traditional Knowledge merupakan karya masyarakat

tradisional (adat) yang bisa berupa adat budaya, karya seni, dan teknologi yang telah turun temurun digunakan sejak nenek moyang. Dewasa ini pengetahuan tradisional dipilah menjadi dua bagian, sudut pandang HKI, yaitu berbasis paten dinamakan traditional knowledge dan yang berbasis hak cipta disebut folklore. Pengetahuan tradisional menjadi milik bersama masayarakat adat yang dijaga dan dilestarikan. Usaha untuk menampilkan pengetahuan tradisional agar semakin dilindungi dengan melalui forum internasional, diantaranya pada PBB Internasional untuk penduduk pribumi sedunia (United Nations Intenasional Year for the Worlds Indigenous) yang bertujuan untuk melestarikan, melindungi, dan mengembangkan perwujudan dari masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang dari budaya mereka seperti pusaka, desain, upacara, teknologi, seni visual, pertunjukan maupun sastra. Selain itu bertujuan pula untuk memberikan hak menggugat perihal pemberian ganti rugi atas harta budaya, intelektual, agama, dan spritual yang

21

Ibid.

dipergunakan tanpa izin yang bebas dan wajar atau yang bertentangan dengan hukum dan adat istiadat.22 Konfrensi internasional pertama mengenai Hak Budaya dan Intelektual dari penduduk asli diadakan di Selandia Baru pada tahun 1993, berhasil mengeluarkan Deklarasi Mataatun, yang pada dasarnya menyatakan bahwa :23 a. Hak untuk melindungi pengetahuan tradisional merupakan sebagian dari hak menentukan nasib; b. Masyarakat asli seharusnya menentukan untuk dirinya sendiri apa yang merupakan kekayaan intelektual dan budaya mereka; c. Alat perlindungan yang ada bersifat kurang memadai; d. Kode etik yang harus dikembangkan untuk ditaati pengguna luar apabila mencatat pengetahuan tradisional dan adat; e. Sebuah lembaga harus dibentuk untuk melestarikan dan memantau komersialisasi karya-karya dan pengetahuan ini, untuk memberi usulan kepada peduduk asli mengenai bagaimana mereka dapat melindungi sejarah budayanya dan untuk berunding dengan pemerintah mengenai undang-undang yang berdampak atas hak tradisional; f. Sebuah sistem tambahan mengenai hak budaya dan kekayaan intelektual harus dibentuk yang mengakui collective ownership dan berlaku surut, protection against debasement of culturally significant items (perlindungan terhadap pelecehan dari benda budaya yang penting), co-operatif rather than competitive frame work (kerangka yang mementingkan kerjasama dibandingkan yang bersifat bersaing), first beneficiaries to be direct
22

Endang Purwaningsih, 2012, Hak Kekayaan Intelektual dan Lisensi, Jakarta, Mandar Maju, hlm. 25Ibid., hlm. 26-27

26

23

descendants of the traditional guardians of the knowledge (yang paling berhak adalah keturunan dari pemelihara tradisionil pengetahuan). Selanjutnya juga telah diadakan konfrensi penduduk asli di Bolovia tahun 1994 dan di Fiji tahun 1995, sementara di WIPO makin menggiatkan upaya menyusun laporan pencarian fakta dari pengetahuan tradisional. Pada tahun 1997 WIPO membentuk the Global Intellectual Property Issues Division (Global Issues Division). Program yang disiapkan oleh divisi ini bertujuan untuk mengidentifikasi persoalan-persoalan yang berdampak penting terhadap sistem HKI. Salah satu global issue yang berdampak sangat penting terhadap sistem HKI yaitu isu mengenai perlindungan pengetahuan tradisional sebagai salah satu bentuk dari intellectual activity in the industrial, scientific, literary, or a artistic field. Kegiatan yang dilakukan oleh Global Issues Division antara lain mengirim Factfinding Missions (FFMs) ke berbagai negara yang bertujuan untuk mengumpulkan fakta dan juga harapan atau aspirasi dari masyarakat yang dikunjungi oleh FFMs. Hasil FFMs sangat penting bagi WIPO untuk mengidentifikasi intellectual property needs and expectations of traditional knowledge holders and for future possibilities for the protection of the IP rights of holders of traditional knowledge . Rangkaian kegiatan FFMs menunjukkan bahwa :24 a. Pengetahuan tradisional, sudah banyak dikenal dan banyak di antaranya terkait dengan sistem kepercayaan; b. Pengetahuan tradisional, biasanya dimiliki secara kolektif sebagai suatu cerminan dari nilai-nilai budaya dan biasanya digunakan sebagai bagian dari tradisi suatu komunitas;

24

Agus Sardjono. Op.Cit., Hlm. 18-19

c. Pengetahuan tradisonal tidak selalu berarti sesuatu yang kuno atau statis, melainkan sesuatu yang dinamis dan berkembang; d. Perlindungan bagi pengetahuan tradisional juga penting untuk melindungi kehormatan individu dan komunitas (individual and community dignity and respect); e. Sistem HKI dapat memberikan perlindungan bagi pengetahuan tradisional yang memang memungkinkan untuk dilindungi dengan rezim HKI (seperti paten, merek, hak cipta, dan desain industri). Berdasarkan laporan FFM, WIPO merumuskan definisi pengetahun

tradisional sebagai berikut :25 Traditional-based literary, artistic or scientific works;performances inventions, scientific discoveries; designs; marks, names and symbols; undisclosed resulting from intellectual activity in the industrial, scientific, literary or artistic field. Tradition-based refers to knowledge systems, creation, innovations and cultural experiences wich: have generally transmitted from generation to generation; are generally regarded as pertaining to a particular people or its territory; and constantly evolving in response to a changing environment. Categoriesof traditional knowledge could include: agricultural knowledge, scientific knowledge, technical knowledge, ecological knowledge, medical knowledge including related medicines and remedies; biodiversity-related knowledge; espression offolklore in the form of music, dance, songs, handicrafts, designs, stories and artwork; elements of languanges, such names, geographical indications, and symbols; and movable culturaal properties. Excluded from this description of traditional knowledge would be items not resulting from intellectual activity in the industrial, scientific, literary or artistic fields such as human remains, languanges in general, and another similar elements of heritage ini broad sense Berdasarkan definisi tersebut, mengambarkan bahwa pengetahuan tradisional sangat kompleks. Berikut empat pokok pikiran yang terkandung didalamnya : 26 a. Konsep pengetahuan tradisional berlandaskan tradisi

25 26

Ibid. Zainul Daulay, Op.Cit., Hlm. 27-32

Konsep dasar tentang pengetahuan tradisional diletakkan pada realitas atau fakta bahwa pengetahuan tradisional tersebut berlandaskan tradisi. Hal tersebut tidak berarti bahwa pengetahuan tradisional telah usang atau tidak memenuhi aspek-aspek teknik. Pengetahuan tradisional dikatakan tradisional karena pengetahuan ini diciptakan dalam suatu cara yang mencerminkan tradisi masyarakatnya. Oleh karena itu, pengertian tradisional di sini tidak mengenai hakikat (nature) dari pengetahuan tersebut, tetapi terkait pada cara, yaitu bagaimana pengetahuan itu diciptakan, dilestarikan, dan

disebarluaskan. Pengetahuan tradisional berbasis tradisi yaitu : Karya sastra, karya seni, dan karya ilmiah (literary, artistic or scientific works); Pagelaran, inovasi, penemuan ilmiah (performances, inventions, scientific works); Desain (designs); Merek, nama, dan simbol (marks, names, and symbols); Informasi rahasia (undisclosed information); dan Semua yang berlandaskan tradisi, inovasi, dan kreasi hasil dari kegiatan intelektual dalam lapangan industri, ilmiah, sastra atau kesenian (all other tradition-based innovations and creations resulting fro intellectual activity in the industrial, scientific, literary or artisctic field). b. Memenuhi syarat-syarat tertentu Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dikategorikan sebagai pengetahuan tradisional yaitu sistem pengetahuan, kreasi, inovasi, dan pegalaman budaya berbasis tradisi yang secara umum sudah ditularkan dari generasi ke generasi, secara umum dianggap mengenai

orang tertentu atau teritorialnya, dan terus menerus berkembang untuk menjawab perubahan lingkungan. c. Kategorisasi pengetahuan tradisional Pada dasarnya dalam kategori yang termuat dalam definisi pengetahuan tradisional, menurut WIPO, dapat dibedakan antara ekspresi budaya tradisional/ekspresi kesenian rakyat (folklore) dan pengetahuan. Kategori pengetahuan tradisional termasuk hal-hal berikut : Pengetahuan pertanian (agricultural knowledge); Pengetahuan ilmiah (scientific knowledge); Pengetahuan teknik (technical knowledge); Pengetahuan lingkungan (ecological knowledge); Pengetahuan pengobatan termasuk yang berkaitan dengan obat dan penyembuhan (medicinal knowledge including related medicine and remedies); Pengetahuan yang terkait keanekaragaman hayati (biodeversity-related knowledge); Ekspresi dari kesenian rakyat dalam bentuk (expression of folklore in the form of) musik, tari, lagu, kerajinan tangan, desain, hikayat dan karya seni, unsur-unsur bahasa seperti nama-nama; indikasi geografis; dan simbol-simbol, benda-benda budaya yang bergerak. d. Pengecualian dari pengetahuan tradisional Terdapat beberapa hal yang dikecualikan dari pengetahuan tradisional yaitu jasad manusia (human remains), bahasa pada umumnya, dan unsur-unsur lain yang sama terhadap warisan dalam pengertian yang lebih luas.

Berdasarkan perumusan pengertian pengetahuan tradisional oleh WIPO, dapat disimpulkan bahwa :27 a. Pengertian tersebut menggunakan istilah pengetahuan tradisional untuk membedakannya dengan indigenous knowdlege. Istilah tradisional lebih luas dari istilah indigenous. Sebab istilah indigenous knowdlegemengacu kepada pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat asli semata ( indigenous peoples), sebaliknya pengetahuan tradisional tidak hanya mencakup pengetahuan masyarakat asli, tetapi juga bukan masyarakat asli (nonindigenous peoples) termasuk komunitas lokal yang tinggal dalam batasbatas wilayah dan geografis tertentu; b. Pengertian tersebut menunjukkan kecenderungan umum yang menempatkan pengetahuan tradisional sebagai hasil karya intelektual. Pengetahuan tersebut ada yang telah dikembangkan dalam waktu yang cukup lama dari generasi ke generasi dan ada pula yang dihasilkan dalam rangka menjawab tantangan yang dihadapi komunitas tradisional yang terkait dengan lingkungannya; c. Pengetahuan tradisional bersifat dinamis, berkembang, dan beradaptasi sesuai dengan masa dan tantangan yang dihadapi masyarakatnya; d. Pengetahuan tersebut juga merupakan sumber daya bagi masyarakatnya dan mempunyai nilai komersial sesuai dengan potensi dan penggunaannya secara nyata. Pembahasan mengenai perlindungan Pengetahuan Tradisional di Indonesia menjadi sangat penting disebabkan oleh beberapa alasan yaitu:28

28

Ibid., Hlm. 32-33 Agus Sardjono, Op.Cit., hlm. 2-10

27

1. Adanya

keuntungan

ekonomis

yang

dihasilkan

dari

pemanfaatan

Pengetahuan Tradisional. Indonesia yang memiliki potensi sumber daya hayati dan Pengetahuan Tradisional terkait, ternyata belum menikmati secara ekonomi atas hasil dari pemanfaatan sumber daya tersebut. Misalnya, adanya pemberian hak paten atas obat-obatan yang bahannya bersumber dari biodiversity dan Pengetahuan Tradisional Indonesia yang dilakukan oleh Negara Jepang, dimana keuntungan dari hasil

pemanfaatan itu tidak dinikmati oleh Negara Indonesia sebagai lumbung dari keanekaragaman hayati yang dapt dijadikan bahan baku pembuatan obat; 2. Keadilan dalam sistem perdagangan dunia. Pada perdagangan

internasional, khususnya yang berkenaan dengan aspek Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Indonesia berada di bawah tekanan negara-negara maju karena harus melaksanakan TRIPs Agreementsebagai salah satu kesepakatan di dalam rezim World Trade Organisation(WTO). Namun di sisi lain, negara-negara maju enggan untuk mempertimbangkan kekayaan intelektual masyarakat lokal dalam bentuk Pengetahuan Tradisional. Hal ini bermula dari adanya prinsip TRIPs yang melarang adanya diskriminasi menyangkut place of invention atau field of technology ketika negara tersebut akan memberikan Paten kepada penemu. Dari kenyataan tersebut tampak bahwa sistem perdagangan dunia yang dibangun berlandaskan kesepakatan-kesepakatan dalam WTO dapat membawa dampak yang merugikan bagi masyarakat lokal di Indonesia; dan 3. Perlunya perlindungan hak masyarakat lokal. Pemerintah Indonesia perlu memberikan perlindungan bagi hak masyarakat lokal berkenaan dengan

Pengetahuan Tradisional mereka mengingat masyarakat sendiri tidak menyadari bahwa Pengetahuan Tradisional memiliki nilai ekonomis. Masyarakat sebagai pemilik dari pengetahuan tersebut sama sekali tidak memperhitungkan keuntungan ekonomi dan tidak memiliki keinginan untuk melindungi pengetahuan mereka itu dari pengambilan yang dilakukan oleh orang luar. Kondisi semacam ini jelas sangat rentan terhadap tindakan misappropriation29 yang dilakukan oleh peneliti asing untuk

pengembangan risetif mereka di bidang bioteknologi ataupun farmasi yang lebih banyak dilatarbelakangi oleh motif ekonomi. Salah satu bentuk kekayaan intelektual baru (New Emerging Intelektual Property) dikemukakan oleh Eddy Damian adalah ekspresi budaya tradisional (traditional cultural expressions). Istilah ekspresi budaya tradisional merupakan istilah baku yang dipergunakan oleh PBB dalam United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples dan WIPO. Pengertian ekspresi budaya tradisional, diberikan oleh WIPO, yaitu segala bentuk, nyata atau tidak nyata, atau gabungan diantara keduanya, dimana budaya dan pengetahuan tradisional terdapat

didalamnya dan telah diturunkan dari satu generasi kegenerasi berikutnya, bentuk nyata atau tidak nyata kreativitas ahli waris, sebagaimana didefinisikan pada Pasal 2 termasuk tetapi tidak terbatas pada : a. Ekspresi fonetik atau verbal, seperti cerita-cerita, epik, legenda, puisi, teka-teki, dan narasi lainnya : kata-kata, tanda-tanda, nama, dan simbol; b. Ekspresi musik dan bunyi, seperti lagu-lagu, irama dan musik

isntrumental, bunyi-bunyi yang merupakan ekspresi ritual;

Misappropriation diartikan sebagai penggunaan oleh pihak asing dengan mengabaikan hak-hak masyarakat lokal atas pengetahuan tradisional dan sumber daya hayati yang terkait, yang menjadi milik masyarakat yang bersangkutan.

29

c. Ekspresi dengan aksi, seperti tari-tarian, drama, upacara, acara ritual di tempat-tempat suci dan dalam perjalanan jauh, olahraga dan permainan tradisional, pertunjukan wayang, dan pertunjukan lainnya, baik yang tetap maupun yang tidak tetap; d. Ekspresi nyata, seperti ekspresi materi seni, kerajinan, karya massa, arsitektur, dan bentuk spritual yang nyata, dan tempat-tempat suci. Istilah ekspresi budaya tradisional atau sebelumnya lebih dikenal sebagai Folklore pertama kali diperkenalkan oleh William Thoms pada tahun 1846. Istilah folklore digunakan dalam suratnya kepada the athenaeum untuk menggantikan popular antiquities dan popular literature yang dimaksud oleh Thoms adalag

kebiasaan, observasi, takhayul, cerita rakyat, dan seterusnya yang dianggap sebagai tradisi masyarakat (folklore of the people). Namun, sejak kata folklore diperkenalkan, belum ditemukan definisi yang tepat dan disepakati oleh para ahli. Perbedaan pendapat mengenai definisi folklore muncul misalnya dalam Standart Dictionary of Folklore yang memiliki dua puluh satu definisi yang saling berbeda dari folklore.30 Menurut para ahli budaya, baik pengetahuan tradisional maupun ekspresi budaya tradisional merupakan dua istilah yang memiliki pengertian yang sama. Walaupun istilah pengetahuan tradisional lebih menekankan pada technical know how yang bersifat tradisional dan ekspresi budaya sebagai bentuk dan bagian dari kebudayaan itu. Namun pemisahan antara keduanya lebih banyak disebabkan oleh perbedaan persepsi antara para praktisi (ilmu budaya) dan kalangan penentu kebijakan (ahli hukum).31 berdasarkan Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pemanfaatan Kekayaan Intelektual Pengetahuan Tradisional dan
30 31

Eva Damayanti, Op.Cit., Hlm. 68 Ibid.

Ekspresi Budaya Tradisional, definisi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional dibedakan. Pengetahuan tradisional diartikan sebagai suatu karya intelektual di bidang pengetahuan dan teknologi yang mengandung unsur karakteristik warisan tradisional yang dihasilkan, dikembangkan, dan dipelihara oleh komunitas atau masyarakat tertentu. Sedangkan, ekspresi budaya tradisional diartikan sebagai suatu karya intelektual dalam bidang seni, termasuk ekspresi sastra yang mengandung unsur karakteristik warisan tradisional yang dihasilkan, dikembagkan, dan dipelihara oleh komunitas atau masyarakat tertentu. Sementara itu menurut Edi Sedyawati, folklore dalam pengertian

pengetahuan tradisional maupun ekspresi budaya tradisional merupakan semua jenis hasil aktivitas manusia yang berlanjut menjadi milik bersama dalam suatu komuniti, komunitas, maupun masyarakat penciptanya anonim dan ditransmisikan pada prinsip-prinsipnya secara lisan. Pengertian ini tidak memisahkan antara pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. Namun apabila keduanya dipisahkan maka ekspresi budaya tradisional dapat dibatasi pada bentuk folklore yang bersifat ekspresif saja, khususnya dalam hal ini yaitu ungkapan seni. Menurut James Danandjaya, foklore adalah sebagian dari kebudayaan Indonesia yang tersebar dan diwariskan turun temurun diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional, dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat, atau alat bantu pengingat (mnemonic device).32 Folklore sendiri menurut Djames Danandjaya dapat dibagi dalam tiga kelompok besar, yang didasarkan pada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi ciri khasnya, kelompok tersebut terdiri :33 a. Folklore lisan, yang diperinci lagi dalam genre :
32 33

Ibid., Hlm.69 Ibid.

Ujaran rakyat (seperti logat, rujukan, pangkay tradisional, dan gelar bangsawan);

Ungkapan tradisional (seperti pepatah, peribahasa, dan pameo); Pertanyaan tradisional (seperti teka-teki) Nyanyian rakyat (seperti balada, epos, wira carita).

b. Folklore sebagian lisan yaitu permainan rakyat, teater rakyat, makanan dan minuman, kepercayaan dan keyakinan rakyat. c. Folklore bukan lisan, yang diperinci lagi dalam sub kelompok : Material (seperti arsitektur rakyat, seni kriya rakyat, pakaian dan perhiasan tubuh rakyat, dan obat-obatan rakyat); Non-material (seperti gerak isyarat tradisional rakyat dan bunyi-bunyian rakyat). Agar suatu ekspresi budaya memenuhi syarat ekspresi budaya tradisional, eskpresi tersebut haruslah menunjukkan adanya kegiatan intelektual individu maupun kolektif yang merupakan ciri dari identitas dan warisan suatu komunitas serta telah dipelihara, digunakan, atau dikembangkan oleh komunitas tersebut, atau oleh orang perorangan yang memiliki hak atau tanggung jawab untuk melakukannya sesuai dengan hukum dan praktik adat/kebiasaan dalam komunitas tersebut.34 2.3 Kerajinan Tangan di Sulawesi Selatan Pulau Sulawesi terletak di tengah-tengah wilayah kepulauan Indonesia, terletak di sebelah timur Kalimantan dan sebelah selatan Filipina, dihuni oleh penduduk yang aneka ragam asal persuku-bangsaan. Bahasa yang digunakan oleh penghuni pulau ini tidak kurang dari 30 bahasa lokal. Kelompok etnis yang paling

34

Ibid., Hlm. 98

besar jumlahnya yaitu Bugis dan Makassar, kelompok tersebut mendiami semenanjung barat daya pulau Sulawesi. Orang Bugis Makassar telah memainkan peranan penting baik dalam sejarah politik maupun dalam perdagangan maritim, mereka melakukan pelayaran perniagaan kesegenap penjuru kepulauan, sejak pertengahan abad ke enam belas. Ketika itu mereka telah menjalani hubungan niaga dengan bandar niaga di pulau Jawa, Sumatra, dan Malaka di kawasan barat dan kepulauan Maluku di kawasan timur.35 Provinsi Sulawesi Selatan terletak di antara O0 12 LS dan 80 LS (Lintang Selatan) 1160 48 BT dan 1220 36 BT (Bujur Timur). Provinsi Sulawesi Selatan sebelah utara berbatasan dengan Sulawesi Barat, sebelah timur berbatasan dengan Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores, dan sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar. Provinsi Sulawesi Selatan yang beribu kotakan Makassar memiliki luas 46.717,48 km persegi. Terbagi atas 21 Kabupaten, 3 Kota, 263 Kecamatan, 2.402 Desa, dan 668 Kelurahan (BPS Sulsel 2006).36 Lima tahun setelah kemerdekaan, pemerintah mengesahkan Undang Undang Nomor 21 tahun 1950, yang menjadi dasar hukum berdirinya Provinsi Administratif Sulawesi. Sepuluh tahun kemudian, pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 47 tahun 1960 yang mengesahkan terbentuknya Sulawesi Selatan dan Tenggara. Empat tahun setelah pengesahan tersebut, melalui Undang-Undang Nomor 13 tahun 1964 pemerintah memisahkan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 tahun 2004, Sulawesi Selatan dipecah menjadi dua, Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Utara, dan
A. Mattuladaa. 1998. Sejarah, Masyarakat, dan Kebudayaan Sulawesi Selatan . Makassar. Hasanuddin University Press. Hlm.1 36 Nonci. 2010. Wilayah dan Potensi Sulawesi Selatan. Makassar. Aksara. Hlm.8-9
35

Polewali Mandar yang tadinya merupakan kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan resmi menjadi kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat seiring dengan berdirinya provinsi tersebut pada tanggal 5 Oktober 2004.37

Gambar 1. Peta Provinsi Sulawesi Selatan38 Penduduk Sulawesi Selatan berjumlah kurang lebih 8.032.551 jiwa dengan pembagian 3.921.543 orang berjenis kelamin laki-laki dan 4.111.008 orang berjenis kelamin perempuan.39 Penduduk Sulawesi Selatan terdiri atas empat suku bangsa yaitu Bugis, Makassar, dan Toraja. Suku bangsa Bugis merupakan suku yang memiliki populasi terbesar di Sulawesi Selatan, mengingat suku bugis berdomisili di Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Parepare, Palopo, Pinrang, Enrekang, Luwu, Barru, Pangkajene Kepulauan, dan Maros.40 Kedua kabupaten Pangkajene Kepulauan dan Maros merupakan daerah peralihan yang pada umumnya penduduk di daerah tersebut mempergunakan Bahasa Bugis
37 38

http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan http://www.sulsel.go.id/peta-sulsel 39 http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan 40 Tim Aksara. 2010. Upacara Adat Istiadata Masyarakat Sulawesi Selatan . Makassar. Aksara. Hlm. 1

maupun Bahasa Makassar. Kabupaten Enrekang merupakan daerah peralihan Bugis-Toraja dan penduduknya sering dinamakan orang Duri (Massenrempulu) serta memiliki dialek khusus yaitu dialek Duri. Orang Makassar mendiami Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Pangkajene dan Kepulauan, dan Maros. Penduduk Kabupaten Selayar walaupun mengucapkan suatu dialek yang khusus biasanya masih dianggap orang Makassar. Orang Toraja mendiami Kabupaten Tana Toraja, Luwu, Mamasa, dan Sebagian daerah Sulawesi Tengah. Penduduk Sulawesi Selatan yang berjumlah 7.960.991 jiwa, penganut Agama Islam sekitar 88 persen dan 12 persen penganut agama nonIslam (Kristen, Hindu, dan Budha).41 Sebelum datangnya Agama Islam di Sulawesi Selatan pada sekitar awal abad ke-17, penduduk Sulawesi Selatan telah menganut kepercayaan animisme dan dinamisme nenek moyangnya yang mereka warisi secara turun temurun. Oleh sebab itulah, tradisi keagamaan yang berkembang dalam masyarakat Sulawesi Selatan dapat dibagi kedalam dua jenis yaitu tradisi asli yang diwariskan sejak zaman nenek moyang dan tradisi keagamaan yang bersumber dari Agama Islam. Tradisi keagamaan dari jenis pertama dilandasi oleh kepercayaan tentang adanya roh nenek moyang dan dewata yang berpengaruh dalam kehidupan manusia.42 Pelapisan sosial yang dikenal dalam masyarakat Sulawesi Selatan yaitu pelapisan berdasarkan keturunan. Pelapisan lumrah sebagai konsekuensi

masyarakat bekas kerajaan yang mengagungkan sistem keturunan. Pelapisan lain muncul dengan berkembangnya nilai-nilai yang dianggap berharga oleh masyarakat

Tim Penulis Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Tradisi Masyarakat (LPPTM) Sulawesi Selatan. 2006. Tradisi Masyarakat Sulawesi Selatan. Makassar. Lamacca Press. Hlm. 3 42 Ibid., Hlm. 19

41

Sulawesi Selatan. Pelapisan berdasarkan keturunan di masyarakat Sulawesi Selatan hanya mengena tiga strata saja yaitu strata arung (bangsawan), strata to deceng (golongan menengah), dan strata to sama (orang biasa). Secara sederhana pembedaan pelapisan sosial terlihat dari pemakaian gelar oleh seseorang. Strata arung memakai gelar andi, sedangkan strata to deceng memakai gelar daeng yang diberikan setelah kawin. Gelaran daeng merupakan gelar pemberian raja kepada orang cerdik pandai, orang kaya, dan orang berani. Masyarakat Sulawesi Selatan yang sebagian memiliki pekerjaan sebagai nelayan mengenal pula strata punggawa dan sawi. Pelapisan ini timbul disebabkan oleh karena di satu sisi ada sawi sebagai pekerja yang memerlukan pekerjaan dan modal serta perlindungan, dilain pihak ada punggawa sebagai pemilik modal dan perahu yang menjadi tempat bergantung para sawi.43 Aktivitas hidup manusia di muka bumi, disamping banyak berperan untuk mempengaruhi lingkungan geografisnya juga sebaliknya kondisi alam suatu daerah merupakan faktor penentu dan potensial dalam menunjang kelangsungan hidup manusia. Hal ini pulalah menyebabkan mata pencarian disetiap daerah berbeda dan beragam jenisnya. Bangsa Indonesia yang menempati daerah tropis yang subur memiliki dasar kebudayaan agraris yang tersebar diseluruh daerah. Salah satu ciri dari kebudayaan Indonesia pada kalangan petani yaitu untuk memanfaatkan bahan yang ada disekitar tempat bermukim mereka sebagai bahan baku kerajinan. Kerajinan tangan yang dikerjakan oleh para petani untuk mengisi waktu luang mereka saat menunggu waktu panen tiba. Kesuburan dan keakraban para petani

43

Ibid., Hlm. 16-17

dan lingkungannya membuahkan kepandaian mengolah bahan alami untuk dijadikan sebagai bahan kerajinan tangan.44 Masyarakat Sulawesi Selatan terdiri atas empat kelompok etnis, masingmasing Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Masing-masing kelompok etnis tersebut mempunyai dan menggunakan bahasa lokal/daerah sendiri yang saling berbeda satu sama lain baik pengucapan maupun dialek. Perbedaan kelompok etnis tersebut menimbulkan perwujudan budaya yang berbeda pula sesuai dengan letak geografis dan lingkungan masing-masing kelompok. Namun, diantara perbedaanperbedaan tersebut terselip pula persamaan-persamaan. Ini menandakan bahwa diantara kelompok etnis telah terjalin komunikasi yang harmonis. Demikian pula perwujudan budaya dalam bentuk ragam hias/kerajinan tangan, tidak terlepas dari perbedaan dan persamaan dan mempunyai ciri tersendiri. Potensi industri Sulawesi Selatan saat ini masih didominasi sektor industrikecil dan kerajinan jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Jawa. Berikut beberapa jenis kerajinan tangan hasil produksi pengrajin Sulawesi Selatan : 45 a. Kain Sutera Alam Pertenunan kain sutera alam di Sulawesi Selatan telah dikenl sejak abad ke XVII, berupa kain sarung dan baju bodo. Kedua jenis kain ini merupakan kain tradisional daerah Sulawesi Selatan yang hingga saat ini tetap dilestarikan. Bahan baku yang digunakan yaitu benang sutera alam yang pada awalnya berasal dari luar Sulawesi-Selatan yakni dibawa oleh pelaut-

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan. 2005. Industri Kecil dan Kerajinan Sulawesi Selatan. Majalah

45

pelaut Bugis-Makassar. Sulawesi Selatan telah mengenal pemintalan sutera alam sejak tahun 1960-an, yang dimulai dari budi daya murbei dan pemeliharaan ulat sutera. Pada awalnya kegiatan tersebut mempergunakan alat yang sangat tradisional kemudian berkembang mempergunakan mesin pintal (reeling) semi mekanis. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pertenunan sutera yang ada di Sulawesi Selatan. Lokasi produksi benang sutera di Sulawesi Selatan terdapat pada daerah-daerah Enrekang, Sidrap, Soppeng, Wajo, Gowa, Tana Toraja, dan Luwu. b. Kerajinan Perak/Emas Kerajinan perak/emas yang dibuat melalui penganyaman benang-benang perak/emas dikenal dengan istilah kandari wear. Kata kandari berarti menganyam yang telah terpatri pada kerajinan tersebut sejak lama. Pekerjaan ini memerlukan ketekunan yang cukup tinggi karena seluruh proses masih dilakukan dengan tangan, disamping itu kreativitas dalam menciptakan desain-desain baru senantiasa dituntut dari para perajinnya. Produk yang dihasilkan pada awalnya hanya untuk perhiasan wanita, akan tetapi sekarang ini telah mengalami penganekaragaman produksi sehingga tercipta produk-produk selain perhiasan seperti flora dan fauna daerah Sulawesi Selatan. Daerah kerajinan ini yaitu makassar, parepare, dan Kabupaten Gowa. c. Gerabah Kerajinan gerabah dikenal sejak zaman Prasejarah ketika manusia mulai bercocok tanam, pada awalnya kerajinan ini didasarkan oleh adanya kebutuhan pokok dari kehidupan masyarakat petani baik untuk memenuhi sarana kebutuhan fisik seperti perbotan rumah tangga maupun untuk

dijadikan sebagai sarana upacara adat sesuai dengan kepercayaan yang ada. Gerabah yang bahan dasarnya mempergunakan tanah liat dapat dibuat berbagai benda seperti kendi, bejana, pedupaan, periuk, ceret, mangkuk dan sebagainya.46Gerabah pada awalnya diproduksi oleh masyarakat yang berada di Kabupaten Takalar dan Gowa. Gerabah diperuntukkan guna memenuhi peralatan rumah tangga seperti periuk, gentong, wajan, tungku, dan sebagainya. Perkembangan selanjutnya, terjadi pergeseran fungsi produk tersebut menjadi produk-produk yang bernilai seni sehingga menjadi barang hiasan dalam rumah tangga dengan lokasi produksi antara lain Kabuaten Takalar, Gowa, Luwu, Soppeng, dan Wajo. d. Kapal Rakyat Masyarakat Sulawesi Selatan sebagai masyarakat bahar telah mengenal pembuatan perahu sejak zaman lampau. Produksi kapal yang dihasilkan yaitu kapal kayu yang dipergunakan sebagai sarana transportasi laut dengan berbagai jenis antara lain pinisi, lambo, padewakkang, lepa-lepa, soppe, biseang pajala, perahu lete, dan sebagainya. Jenis perahu lepa-lepa biasanya dipergunakan pada daerah-daerah teluk yang tenang, muaramuara sungai yang tidak terlalu bergelombang, disekitar pantai atau di air payau yang dipergunakan untuk menyebrangkan penumpang atau menangkap ikan. Perahu soppe merupakan jenis perahu nelayan yang berukuran kecil, perahu tersebut dijalankan dengan dayung oleh dua orang nelayan yang dilengkapi berupa jala maupun pancing bila akan menangkap ikan. Biseang pajala merupakan salah satu jenis perahu nelayan yang
46

Sainarwana, dkk. 1998. Kendi di Sulawesi Selatan. Jurnal. Pembinaan permuseuman. Sulawesi

Selatan.

digunakan untuk mencari ikan diperairan lepa pantai. Perahu lete merupakan perahu yang digunakan sebagai perahu angkutan niaga jarak jauh atau antar pulau. Perahu lambo merupakan salah satu hasil produksi orang-orang Bugis dan Makassar, yang dibuat dan dipergunakan sebagai alat angkutan perahu niaga jarak jauh. Berbagai pendapat menyatakan bahwa perahu lambo yang ada sekarang merupakan perpaduan antara perahu pinisi dan perahu lambo terdahulu.47Sentra produksi kapal rakyat ini hampir tersebar disepanjang pesisir daerah Sulawesi Selatan utamanya di daerah Kabupaten Bulukumba, Selayar, Jeneponto, Majene, Barru. e. Ukiran kayu tana toraja Ukiran Tana Toraja diproduksi hanya terdapat di daerah Tana Toraja dan merupakan kerajinan yang mempunyai nilai seni serta budaya yang tinggi. Kerajinan ukir ini dibuat untuk dinding rumah adat Tana Toraja, dinding lumbung maupun hiasan dekoratif lainnya. Motif yang muncul pada setiap ukiran ini merupakan simbol-simbol yang mengandung makna tersendiri, begitupula dengan warna yang terdiri atas hitam, putih, kuning, dan merah pada ukiran tersebut. Pewarnaan tersebut dilakukan dengan menggunakan warna-warna yang berasal dari alam sekitar Tana Toraja. f. Kerajinan Kayu Hitam Kayu hitam merupakan barang yang mempunyai nilai ekonomi tinggi yang secara alami dapat tumbug dijazirah Sulawesi Selatan bagian utara, utamanya di Kabupaten Luwu dan Mamuju. Limbah-limbah hasil

penebangan maupun penggergajian kayu hitam demi memberikan nilai

M. Yunus Hafid, dkk. 1995. Perahu Tradisional Sulawesi Selatan. Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderl Kebudayaan. Ujung pandang.

47

tambah bagi kayu hitam dimanfaatkan untuk industri kecil sebagai bahan baku kerajinan. Jenis produksi yang dihasilkan antara lain tasbih, kalung, tongkat, patung-patung kecil, serta aneka kerajinan lainnya. Sentra produksi kerajinan tersebut berada di daerah yang potensial bahan baku seperti Kabupaten Luwu dan Mamuju. g. Anyaman Serat Lontar Anyaman serat lontar terdapat pada daerah Kabupaten Takalar, Gowa, dan Bone pada awalnya hanya memproduksi Songkok Guru (topi) dengan warna alami yakni coklat dan hitam. Saat ini telah mengalami diversifikasi produksi antara lain kipas, topi koboi, dompet, tempat tissu, kombinasi anyaman dengan gerabah dan sebagainya disertai dengan warna-warna yang lebih bervariasi. Kerajinan ini mempergunakan pelepah pohon lontar ini termasuk tanaman spesifik yang dapat tumbuh dan berkembang pada daerah-daerah tertentu di Indonesia. h. Kerajinan Kuningan Perlengkapan adat di Sulawesi Selatan pada awalnya terbuat dari emas murni seperti asesories pengantin, pelaminan, tempat makan raja (bangsawan) maupun tempat undangan. Tanpa merubah makna dari peralatan tersebut diatas. Saat ini telah mengalami terjadi pergeseran penggunaan material yakni dengan menggunakan kuningan (tembaga) sebagai bahan baku. Kerajinan kuningan ini diproduksi oleh perajin yang berlokasi antara lain daerah Makassar, Parepare, dan Kabupaten Bone. Keterampilan para perajin ini diperoleh secara turun temurun dari para orangtua mereka. 2.4 Landasan Teori

2.4.1 Perlindungan Hukum Negara Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusi negara. Negara menjunjung tinggi hak asasi manusia serta menjamin kesamaan hak dan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan, serta berhak mendapat perlindungan hukum. Pernyataan tentang adanya jaminan atas hak perlindungan hukum bagi setiap warga negara tertuang dalam UUD 1945 Pasal 27 (1), segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tidak ada kecualinya, dan Pasal 28 D (1), Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum. Secara umum dapat dijelaskan bahwa pengertian perlindungan hukum adalah tindakan melindungi atau memberikan pertolongan dalam bidang hukum. 48 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dimaksud perlindungan adalah cara, proses, perbuatan melindungi. Perlindungan hukum dapat diartikan perlindungan oleh hukum atau perlindungan dengan menggunakan pranata dan sarana hukum. Terdapat beberapa cara perlindungan secara hukum menurut Wahyu Sasongko antara lain sebagai berikut :49 1. Membuat peraturan (by giving regulation) yang bertujuan untuk : a. Memberikan hak dan kewajiban; b. Menjamin hak-hak para subyek hukum. 2. Menegakkan peraturan (by the law enforcement) melalui :
48

Diakses pada tanggal 9 Agustus 2012 http://www.scribd.com/doc/70113109/11/Pengertian-Perlindungan-Hukum 49 www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-376-95861053-final%20tesis.pdf

a. Hukum administrasi negara yang berfungsi untuk mencegah (preventif) terjadinya pelanggaran hak-hak, dengan perizinan dan pengawasan; Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban. b. Hukum pidana yang berfungsi untuk menanggulangi (repressive) setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan, dengan cara mengenakan sanksi hukum berupa sanksi pidana dan hukuman; c. Hukum perdata yang berfungsi untuk memulihkan hak (curative, recovery) dengan membayar kompensasi atau ganti kerugian. Perlindungan hukum merupakan segala daya upaya yang dilakukan secara sadar oleh setiap orang, lembaga pemerintah, maupun swasta yang bertujuan mengusahakan pengamanan, penguasaan, dan pemenuhan kesejahteraan hidup sesuai dengan hak-hak asasi yang ada. Pemberian perlindungan hukum harus disertai dengan hukum yang berlaku. Ada beberapa pendapat yang dapat dikutip sebagai suatu patokan mengenai perlindungan hukum, yaitu : a. Menurut Fitzgerald, teori pelindungan hukum bahwa hukum bertujuan mengintegrasikan dan mengkoordinasikan berbagai kepentingan dalam masyarakat karena dalam suatu lalu lintas kepentingan, perlindungan terhadap kepentingan tertentu hanya dapat dilakukan dengan cara

membatasi berbagai kepentingan di lain pihak. Kepentingan hukum yaitu mengurusi hak dan kepentingan manusia, sehingga hukum memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan kepentingan manusia yang perlu diatur dan dilindungi. Perlindungan hukum harus melihat tahapan yakni perlindungan hukum lahir dari suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang

diberikan oleh masyarakat yang pada dasarnya merupakan kesepakatan masyarakat tersebut untuk mengatur hubungan perilaku antara anggotaanggota masyarakat dan antara perseorangan dengan pemerintah yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat. 50 b. Menurut Satijipto Raharjo, perlindungan hukum adalah memberikan

pengayoman terhadap hak asasi manusia (HAM) yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu di berikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum.51 c. Menurut Setiono, perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia; 52 Kehadiran hukum dalam masyarakat adalah untuk mengintegrasikandan mengkoordinasikan kepentingan-kepentingan yang bisa bertentangan satu sama lain. Berkaitan dengan itu, hukum harus mampu mengintegrasikannya sehingga benturan-benturan kepentingan itu dapat ditekan sekecil-kecilnya. Dimana

perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan tertentu, dalam suatu lalu lintas kepentingan, hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi kepentingan pihak lain. Menurut pendapat Lili Rasjidi dan B. Arief Sidharta tentang fungsi hukum untuk memberi perlindungan, bahwa hukum itu ditumbuhkan dan dibutuhkan manusia justru berdasarkan produk penilaian manusia untuk menciptakan kondisi yang

Satjipto Rahardjo, 2006, Ilmu Hukum, Citra Aditya, Bandung, Hlm. 53 Ibid., Hlm. 54 52 Agnes Vira Ardian, 2008, Prospek Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual dalam Kesenian Tradisional di Indonesia, Tesis, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Hlm.44-45
51

50

melindungi dan memajukan martabat manusia serta untuk memungkinkan manusia menjalani kehidupan yang wajar sesuai dengan martabatnya.53 Upaya untuk mendapatkan perlindungan hukum yang dicita-citakan oleh manusia yaitu berupa ketertiban dan keteraturan antara nilai dasar dari hukum, kepastian hukum, kemanfaatan hukum, serta keadilan hukum. Fungsi primer hukum, yakni melindungi rakyat dari bahaya dan tindakan yang dapat merugikan dan menderitakan hidupnya dari orang lain, masyarakat maupun penguasa. Di samping itu berfungsi pula untuk memberikan keadilan serta menjadi sarana untuk

mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Perlindungan, keadilan, dan kesejahteraan tersebut ditujukan pada subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban, tidak terkecuali kaum wanita.54 Penciptaan Hak Kekayaan Intelektual membutuhkan banyak waktu disamping bakat, pekerjaan, dan juga uang untuk membiayainya. Bidang kesusastraan, paten, merek dagang, juga dalam teknologi baru seperti perangkat lunak untuk komputer, bioteknologi, dan chips sudah jelas bahwa perlindungan tertentu sangat dibutuhkan. Jika perlindungan tidak diberikan kepada kreativitas intelektual yang berlaku di bidang seni, industri, dan pengetahuan maka tiap orang dapat meniru dan melakukan tindakan pengjiplakan secara bebas serta mereproduksi tanpa batas. Jika hal tersebut dilaksanakan terus menerus maka akan berdampak pada perkembangan dan pembangunan karya intelektual. Oleh sebab itulah, perlindungan atas Hak Kekayaan Intelektual sangatlah dibutuhkan. Hal tersebut bertujuan untuk

53 54

Ibid. http://hnikawawz.blogspot.com/2011/11/kajian-teori-perlindungan-hukum.html

menjamin kelanjutan perkembangan Hak Kekayaan Intelektual dan juga untuk menghindari kompetisi yang tidak layak (unfair competition).55 Secara garis besar beberapa keuntungan dan manfaat yang dapat diharapkan dengan adanya perlindungan kekayaan intelektual tersebut, baik secara ekonomi mikro maupun ekonomi makro yaitu diantaranya :56 a. perlindungan kekayaan intelektual yang kuat dapat memberikan dorongan untuk meningkatkan landasan teknologi (technological base) nasional guna memungkinkan pengembangan teknologi yang lebih cepat lagi; b. pemberian perlindungan hukum terhadap kekayaan intelektual pada dasarnya dimaksudkan agar upaya untuk mewujudkan iklim yang lebih baik tumbuh dan berkembangnya gairah mencipta atau menemukan sesuatu di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra. c. Pemberian perlindungan hukum terhadap kekayaan intelektual bukan saja merupakan pengakuan negara terhadap hasil karya, karsa manusia, tetapi secara ekonomi makro merupakan peciptaan suasana sehat untuk menarik penanaman modal asing, serta memperlancar perdagangan internasional. 2.4.2 Sistem Hukum Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman berperilaku atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ditinjau dari sudut subjeknya, penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subjek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek
55 56

Sudargo Gautama, 1995, Segi-Segi Hukum Hak Milik Intelektual, Jakarta, Eresco, Hlm. 7-8 Eva Damayanti, 2012, Hukum Merek Tanda Produk Industri Budaya dikembangkan dari Ekspresi Budaya Tradisional, Bandung, Alumni, hlm. 54

dalam arti yang terbatas atau sempit. Dalam arti luas, proses penegakan hukum itu melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku, berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. Dalam arti sempit, dari segi subjeknya itu, penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya. Dalam memastikan tegaknya hukum itu, apabila diperlukan, aparatur penegak hukum itu diperkenankan untuk menggunakan daya paksa.57 Upaya penegakan hukum melalui kewenangan peraturan perundang-

undangan Hak Kekayaan Intelektual mensyaratkan berfungsinya beberapa faktor dari komponen sistem hukum. Soerjono Soekanto menyatakan bahwa untuk dapat terlaksananya suatu peraturan perundang-undangan secara efektif, itu dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut :58 a. Faktor hukumnya sendiri. b. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun

menerapkan hukum. c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegak hukum. d. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan. e. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.

57 58

www.jimly.com/makalah/namafile/56/Penegakan_Hukum.pdf www.pps.unud.ac.id/thesis/.../unud-432-1030486153-tesis%20fix.pd...

Faktor-faktor tersebut diatas saling berkaitan erat satu sama lain, merupakan esensi dari penegakan hukum,

sebab

juga merupakan tolak ukur dari

efektivitas berlakunya undang-undangatau peraturan. Kelima faktor tersebut dapat dikaji berdasarkanTeori Sistem Hukum dari Lawrence M. Friedman. Teori sistem hukum dari Lawrence M. Friedman menyatakan: bahwa sebagai suatu sistem hukum dari sistem kemasyarakatan, maka hukum mencakup tiga komponen yaitu : a. Struktur, yaitu keseluruhan institusi-institusi hukum yang ada beserta aparatnya, mencakupi antara lain kepolisian dengan para polisinya, kejaksaan dengan para jaksanya, pengadilan dengan para hakimnya, dan lain-lain; b. Substansi, yaitu keseluruhan aturan hukum, norma hukum, dan asas hukum, baik yang tidak tertulis, termasuk putusan pengadilan; c. Kultur hukum, yaitu opini-opini, kepercayaan-kepercayaan (keyakinankeyakinan) kebiasaan-kebiasaan, cara berpikir, dan cara bertindak, baik dari para penegak hukum maupun dari warga masyarakat, tentang hukum dan berbagai fenomena yang berkaitan dengan hukum Achmad Ali menambahkan dua unsur sistem hukum tersebut yaitu :59 a. Profesionalisme, yang merupakan unsur kemampuan dan keterampilan secara person dari sosok-sosok penegak hukum; dan b. Kepemimpinan, juga merupakan unsur kemampuan dan keterampilan secara person dari sosok-sosok penegak hukum, utamanya kelangan petinggi hukum. 2.4.3 Teori Keadilan
59

Achmad Ali, 2009, Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan, Jakarta, Kencana, Hlm. 204

Masyarakat merupakan bentuk kerja sama saling menguntungkan di antaraindividu. Namun, yang terjadi dalam masyarakat tidak hanya

bersifatcooperate melainkan juga kompetitif, bahkan tidak jarang saling menjatuhkan di antara yanglain. Kenyataan ini memberikan ruang pada konsep keadilan, bagaimana mengatur kehidupan individu-individu yang berbeda dan sama-sama mempunyai kepentingan sendiri, sehingga bisa berjalan bersama saling

menguntungkan dan tidak merugikan pihak lain. Menurut Rawls, masyarakat adalah kumpulan individu yang di satu sisi ingin bersatu karena adanya ikatanuntuk memenuhi kepentingan bersama, tetapi di sisi lain, masing-masing individuini mempunyai pembawaan (modal dasar) serta hak yang berbeda, dan semua itutidak bisa dilebur dalam kehidupan sosial. Persoalannya, bagaimana mempertemukan hak-hak dan pembawaan yang berbeda di satu pihak dengan keinginan untuk bersama demi terpenuhinya kebutuhan bersama dipihak lain, bagaimana

mempertemukan hak individu dan kewajiban sosial secara seimbang dan selaras sehingga tidak ada yang terugikan dan terabaikan. Sebuah hubungan sosial yang berkeadilan.60 Menurut Rawls, keadilan adalah kejujuran (fairness). Agar hubungan sosial seperti di atas bisa berjalan secara berkeadilan, ia harus diatur atau berjalan sesuai dengan dua prinsip yang dirumuskan.Pertama, kebebasan yang sama (principle of equal liberty), bahwa setiap orang mempunyai kebebasan dasar yang sama.Kebebasan dasar ini, antara lain, (1) kebebasan politik, (2) kebebasan berfikir, (3)kebebasan dari tindakan sewenang-wenang, (4) kebebasan personal, dan (5)kebebasan untuk memiliki kekayaan. Kedua, prinsip ketidaksamaan (the principle of difference), bahwa ketidaksamaan yang ada di antara manusia, dalam bidang

60

http://id.scribd.com/doc/21206290/Teori-Keadilan-John-Rawls

ekonomi dan sosial, harus diatur sedemikian rupa, sehingga ketidaksamaan tersebut, (1) dapat menguntungkan setiap orang, khususnya orang-orang yang secara kodrati tidak beruntung dan (2) melekat pada kedudukan dan fungsi-fungsi yang terbuka bagisemua orang. Artinya, Rawls tidak mengharuskan bagian semua orang sama, seperti kekayaan, status, pekerjaan dan lainnya, karena hal itu tidak mungkin, melainkan bagaimana ketidaksaaman tersebut diatur sedemikian rupa sehingga terjadi ikatan, kerja sama dan kaitan saling menguntungkan juga membutuhkan di antara mereka.61 Dalam hubungan di antara dua prinsip keadilan tersebut, menurut Rawl, prinsip pertama berlaku lebih dibanding prinsip kedua. Artinya, prinsip kebebasan pertama tidak dapat diganti oleh tujuan-tujuan untuk kepentingan sosial ekonomi dari prinsip kedua. Penegasan ini penting guna menghindari kesalahan dari konsep keadilan utilitarinisme. Menurut utilitarinisme, kegiatan yang adil adalah

kegiatan yang paling besar menghasilkan keuntungan sosial ekonomi bagi sebanyak mungkin orang (the greatest happiness for the greatest number). Artinya, keadilan dipahami sebagai identik dengan tujuan memperbesar keuntungan sosial-

ekonomi,sehingga ruang bagi perjuangan untuk kepentingan diri setiap orang menjadi sempit. Akibatnya, prinsip kebebasan dapat diabaikan dan kepincangan partisipasi dapat dihalalkan. Orang yang ikut ambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat, menurut Rawl, umumnya mempunyai dua sifat dasar yaitu cinta pada kepentingan sendiri (self-interested) dan rasional. Cinta pada kepentingan sendiri artinya bahwa mereka senantiasa mengarahkan tindakannya untuk

kepentingan-kepentinganya sendiri, baik kepentingan keluarga, agama maupun negara.Ada pun yang dimaksud rasional adalah (1) mereka sadar akan

61

Ibid.

kepentingannya sendiri secara pasti dan tahu konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya maupun tindakan yang dilakukan orang lain. (2) Tidak iri hati. Artinya, mereka sadar dan terbuka terhadap adanya perbedaan, seperti perbedaan kedudukan atau keuntungan yang diperoleh. (3) Tidak menerima suatu pendapat tanpa dasar atau fakta, sehingga tidak putus asa untuk mencari kebenaran. Masalahnya, bagaimana orang-orang yang mempunyai kecintaan atas

kepentingannya sendiri sekaligus rasional ini dapat menerima prinsip keadilan sebagai Fairnessdan mau menerima pembatasan hak serta kewajiban, untuk itu diperlukan persyaratan-persyaratan, yaitu bahwa mereka harus ditempatkan dalam posisi asli (the original position). Dalam pikiran Rawls, agar dapat menerima prinsip keadilan, masing-masing orang harus diposisikan dalam situasi yang sama (similarlysituated), baik dalam kekuatan maupun kemampuan. Setiap individu, menurut Rawls, harus diasumsikan sebagai orang yang sama-sama tidak tahu (tepatnya tidak mempunyai) kedudukannya, status sosial dalam masyarakat, bagian dari distribusi kekayaan, dan bahkan tidak tahu akan kecerdasan alamiah yang ada dalam dirinya, bakat-bakat alami, kecenderungan psikologis dan seterusnya yang oleh Rawls diistilahkan dengan tabir ketidaktahuan (veil of ignorance), yang mereka ketahui hanyalah cita-cita untuk ambil bagian dalam kehidupan masyarakat yang diatur oleh prinsip-prinsip keadilan sebagai fairness. Pada akhirnya mereka menjadi sadar bahwa tidak ada kemungkinan lagi untuk mendapatkan keuntungan secara khusus bagi dirinya sendiri yang melebihi orang lain.62 Dengan permulaan yang sama ini, manusia berjalan ke depan menyongsong hidupnya. Akan tetapi, karena mareka mempunyai tujuan, pikiran dan kepentingan sendiri (sifat egoisme), seperti digambarkan Rawls, akhirnya memunculkan

62

Ibid.

perbedaan-perbedaan keberuntungan, perbedaan nasib dan lainnya. Di sini berlaku prinsip kedua, bahwa perbedaan-perbedaan yang ada harusdi atur kembali sehingga pihak yang beruntung bisa memberikan manfaat kepada yang kurang beruntung (yang kalah dari kompetisi hidup), tidak justru menindas. Mengenai kepekaan soal keadilan, secara khusus, Rawls menyatakan bahwa rasa keadilan atau kepedulian terhadap orang lain yang berada di bawah statusnya bisa ditumbuhkan atau dilatih sejak dari kehidupan keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama untuk mendidik mentalitas manusia agar ia mempunyai rasa kepedulian dan keadilansosial.63 2.5 Kerangka Konsep Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, dan tinjauan pustaka yang telah diuraikan sebelumnya. Maka kerangka pikir disusun dengan bertitik tolak pada TRIPs-WTO, Konvensi mengenai Usaha Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda (The Convention for the Safeguarding Intangible Cultural Heritage ), Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (The Convention on Biological Diversity-CBD), dan peraturan perundang-undangan tentang HKI. Adapun peraturan perundangundangan tersebut yaitu UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, UU No.15 Tahun 2001 tentang Merek, UU No. 14 Tahun 2001 tentang Paten, UU No.30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, UU No.31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, dan UU No.32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. Secara keseluruhan dari peraturan tersebut akan dilandasi oleh teori perlindungan hukum, teori sistem hukum (Lawrence M. Friedman dan Ahmad Ali), dan teori keadilan (John Rawls). Penggunaan teori tersebut bertujuan untuk memudahkan penulis

menggambarkan perihal perlindungan yang telah diberikan sistem hukum dalam


63

Ibid.

melestarikan kerajinan tangan hasil pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional di Sulawesi Selatan. Bertujuan untuk menggabarkan sejauhmanah efektivitas peraturan perundaang-undangan Hak Kekayaan Intelektual. Serta mengukur tingkat keadilan peraturan perundang-undangan rezim HKI terhadap pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional serta pihak-pihak yang terkait didalamnya. Keseluruhan peraturan internasional dan nasional tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan hukum Hak Kekayaan Intelektual secara maksimal. Perihal pelaksanaan perlindungan hukum HKI terhadap pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional berupa kerajinan tangan di Sulawesi Selatan terdapat tiga variabel yang hendak diteliti yaitu perlindungan hukum HKI, potensi produk kerajinan tangan, dan upaya perlindungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Indikator dari variabel perlindungan HKI yaitu meliputi proses pendaftaran, jangka waktu perlindungan, konsep kepemilikan, penyelesaian sengketa, pemeliharaan praktik tradisi, pemanfaatan. Pemilihan indikator tersebut dengan dasar bahwa suatu perlindungan hukum HKI akan diberikan secara maksimal setelah terdaftar dalam berita resmi HKI. Melekatnya suatu perlindungan HKI terhadap suatu produk akan diberikan jangka waktu tergantung dari jenis rezim HKI yang dimohonkan pendaftarannya.Terdaftarnya suatu produk mengindikasikan bahwa terdapat suatu pencipta/inventor/pemulia yang memiliki hak atas pendaftaran tersebut. Hak tersebut salah satunya berupa hak untuk mendapatkan perlindungan dalam hal menyelesaikan sengketa ketika terdapat pihak-pihak yang beritikad buruk atas produk terdaftar. Serta penggunaan indikator pemeliharaan praktik tradisi dan pemanfaatan untuk memaparkan dalam pembahasan perihal metode yang

digunakan rezim HKI dalam melestarikan sebuah hasil pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. Indikator dari variabel potensi produk kerajinan tangan yaitu meliputi karakteristik, kualitas, reputasi, faktor alam dan faktor manusia, sejarah dan tradisi. Pemilihan indikator tersebut dengan alasan bahwa ketika pemohon atau pemerhati mencoba mendaftarkan atau membangun sebuah pondasi kelestarian bagi sebuah produk hasil pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional dibutuhkan keseluruhan indikator tersebut. Sedangkan indikator dari variabel upaya

perlindungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yaitu meliputi kebijakan, pendokumentasian, sosialisai aturan, dan penyediaan anggaran. Pemilihan indikator tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa selain ranah perlindungan rezim HKI pemerintah dapat pula memberikan perlindungan dengan menggunakan

keseluruhan indikator tersebut. Lebih jelasnya alur kerangka konsep tersebut disusun dalam bentuk bagan kerangka pikir sebagai berikut : BAGAN KERANGKA PIKIR
PERLINDUNGAN PENGETAHUAN TRADISIONAL DAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL Teori Perlindungan Hukum, Teori Sistem Hukum, Teori Keadilan TRIPS-WTO Konvensi mengenai Usaha Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati Peraturan Perundang-Undangan tentang HKI di Indonesia

PERLINDUNGAN HUKUM HKI Proses pendaftaran Jangka waktu perlindungan Kepemilikan Penyelesaian sengketa Pemeliharaan pemanfaatan
PERLINDUNGAN PEMERINTAH DAERAH

POTENSI KERAJINAN TANGAN Karakteristik Kualitas Reputasi Faktor alam dan faktor manusia Sejarah dan tradisi

Kebijakan pendokumentasian sosialisasi aturan penyediaan anggaran

Definisi Operasional Variabel Agar tidak terjadi perbedaan pengertian tentang konsep-konsep yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka perlu diuraikan pengertian-pengertian konsep yang dipakai yaitu sebagai berikut : a. Pengetahuan tradisional adalah segala sesuatu yang diketahui, menjadi sebuah keterampilan, keahlian, penggambaran, yang dikembangkan oleh masyarakat melalui interaksi dengan lingkungan alam, hingga menjadi sebuah gaya hidup masyarakat, dalam berbagai bidang keilmuan. b. Ekspresi budaya tradisional adalah suatu bentuk pengungkapan maksud, gagasan, perasaan, dan sebagainya yang ada dalam pemikiran masyarakat lokal. c. Proses Pendaftaran yaitu segala proses, baik proses administratif maupun proses substantif, yang dipaparkan dalam peraturan perundang-undangan Hak Kekayaan Intelektual. d. Jangka Waktu Perlindungan yaitu ukuran waktu perihal pemberian

perlindungan oleh peraturan perundang-undangan HKI e. Konsep Kepemilikan adalah gambaran pihak-pihak yang berhak atas sebuah hak dan kewajiban yang timbul ketika pendaftaran HKI telah disetujui.

f. Penyelesaian sengketa adalah suatu proses untuk menyudahi sebuah perbedaan pendapat, pertengkaran, perbantahan baik dengan sistem peradilan maupun diluar peradilan. g. Pemeliharaan adalah proses atau cara untuk membuat tetap terjaga dan terawat sebuah kerajinan tangan di Sulawesi Selatan. h. Pemanfaatan adalah proses untuk menggunakan kerajinan tangan di Sulawesi Selatan i. Kerajinan tangan merupakan hasil kerajinan tangan yang berasal dari Sulawesi Selatan yaitu Pinisi, Ukiran Toraja, dan Tenun Sutera Sengkang. j. Karakteristik adalah ciri-ciri khusus atau mempunyai sifat khas yang berasal dari pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. k. Kualitas adalah tingkat baik atau taraf derajat kerajinan tangan di Sulawesi Selatan. l. Reputasi adalah nama baik kerajinan tangan di Sulawesi Selatan.

m. Faktor alam dan faktor manusia adalah faktor pendukung yang memberikan ciri dan kualitas tertentu pada kerajinan tangan. n. Sejarah adalah silsilah, asal-usul, kejadian dimasa lampau, kronologis atas pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional. o. Tradisi adalah gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang p. Perlindungan hukum yaitu perlindungan hukum preventif dan represif. Perlindungan hukum preventif berarti perlindungan bagi pengetahuan tradisional berupa kerajinan tangan di Sulawesi Selatan. Perlindungan hukum represif berarti upaya ketika terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh pihak

yang tidak memiliki itikad baik terhadap pengetahuan tradisional berupa kerajinan tangan di Sulawei Selatan.

BAB 3 METODE PENULISAN 3.1 Lokasi Penelitian Pada penulisan tesis yang berjudul Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual Atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional Berupa Kerajinan Tangan di Sulawesi Selatan Penulis mengambil lokasi penelitian di Sulawesi Selatan. Lokasi dalam tahap pengumpulan data tersebut berlokasi di Provinsi Sulawesi Selatan, yang terdiri dari tiga kabupaten yaitu Kabupaten Wajo, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Bulukumba. Ketiga kabupaten tersebut

akan dititikfokuskan pada desa dan atau kecamatan berdomisilinya pengrajin kerajinan tangan khas ketiga kabupaten tersebut. Adapun desa dan atau kecamatan yang dimaksudkan sebagai berikut : a. Kabupaten Wajo Sulsel, Kecamatan Sabbangparu, Kecamatan Pammana, dan Kecamatan Tempe. b. Kabupaten Toraja Utara Sulsel, Desa dan Objek wisata Kete Kesu c. Kabupaten Bulukumba, Desa Tanah Beru Kecamatan Bontobahari dan Pelabuhan Tanjung Bira Selain itu, untuk memperoleh data primer dan sekunder, penulis mengambil lokasi penelitian pada kedua dinas yang bertanggung jawab langsung terhadap kerajinan tangan hasil dari pengetahuan tradisional di Prov. Sulawesi Selatan. Adapun kedua dinas tersebut yaitu: a. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov.Sulawesi Selatan, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Wajo, Kabupaten Bulukumba; b. Kementerian Kebudayaan dan Kepariwisataan Prov.Sulawesi Selatan, Kabupaten Toraja Utara, Kabupaten Wajo, Kabupaten Bulukumba

3.2 Populasi dan Sampel Adapun populasi dari penelitian ini yaitu keseluruhan hasil dari pengetahuan tradisional berupa kerajinan tangan di Sulawesi Selatan. Pengambilan sampel kerajinan tangan dalam penulisan ini yaitu Pinisi, Ukiran Toraja, dan Tenun Sutera Sengkang. Alasan pengambilan ketiga sampel tersebut yaitu berdasarkan indikatorindikator awal pendukung tentang pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional yang telah mencakupi ketiga sampel tersebut. Adapun indikator awal yang dimaksudkan penulis terlihat dari segi karakteristik (ciri-ciri khusus akibat

pengaruh pengetahuan tradisional), kualitas (mutu yang dimiliki oleh ketiga sampel akibat pengaruh pengetahuan tradisional), dan reputasi (nama baik yang diperoleh akibat karakteristik dan kualitas yang dimiliki ketiga sampel) yang keseluruhan indikator tersebut berasal dari daerah masing-masing wilayah disertai dengan kebudayaan yang melekat pada daerah tersebut. 3.3 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang akan digunakan oleh penulis dalam proses pelaksanaan penelitian ini yaitu: a. Data primer berupa data yang penulis peroleh di lapangan melalui wawancara. Wawancara dilakukan kepada narasumber terkait dengan kegiatan penelitian ini. Pengambilan data, melalui teknik wawancara, dilakukan kepada Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian Kab.Wajo, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kab. Wajo, Sekertaris Dinas Budaya dan Pariwisata Kab. Toraja Utara, Sekertraris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kab. Toraja Utara, Kepala Bagian Umum Dinas Koperasi, Perdagangan, Perindustrian, dan Pertambangan Kab. Bulukumba, Kepala Bagian Umum Dinasi Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bulukumba, Kepala Seksi Industri Aneka dan Kepala Penyuluh Perindag Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov. Sulsel, dan Kepala Seksi Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Prov. Sulsel. b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui penelitian

kepustakaan berupa bahan-bahan tertulis berkaitan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian. Sumber data sekunder mencakup

dokumen-dokumen resmi, hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan, media elektronik, dan lain sebagainya. Selain itu pula penulis mengambil bahan hukum primer yaitu peraturan perundang-undangan, bahan hukum sekunder yaitu hasil-hasil penelitian dan pendapat para pakar, dan bahan hukum tersier yang digunakan penulis untuk mendapatkan petunjuk maupun penjelasan. Bahan hukum tersier tersebut yaitu kamus bahasa dan kamus hukum. Keseluruhan data tersebut Penulis baca dan telaah secara seksama untuk mendapatkan informasi/pengetahuan yang Penulis perlukan dalam penelitian. 3.4Alat Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan data primer dan sekunder yang penulis gunakan antara lain: a) Studi Kepustakaan/ Dokumentasi: Yaitu menelaah bahan-bahan tertulis berupa buku-buku, dokumen resmi peraturan perundang-undangan, serta sumber tertulis lain yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Keseluruhan data yang diperoleh kemudian diolah dengan teknik content analysis untuk menghasilkan suatu kesimpulan. b) Teknik Wawancara Wawancara yaitu usaha pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan tanya jawab berkaitan dengan kegiatan penelitian. Wawancara dalam pengumpulan data primer dilakukan terhadap narasumber dari masingmasing lokasi penelitian. 3.5 Analisis Data

Seluruh data yang diperoleh dalam penelitian, baik data primer dan data sekunder, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif. Setelah itu dideskripsikan, dengan menelaah permasalahan yang ada, menggambarkan, menguraikan, hingga menjelaskan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan penelitian ini. Penggunaan metode deskriptif ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang baik, jelas, dan dapat memberikan data sedetail mungkin tentang objek yang diteliti, dalam hal ini untuk menggambarkan bagaimana perlindungan hukum yang diberikan peraturan perundang-undangan Hak Kekayaan Intelektual terhadap pengetahuan tradisional berupa kerajinan tangan di Sulawesi Selatan.