Anda di halaman 1dari 16

ANESTESI

I. ANESTESI LOKAL
1. TUJUAN
1. Mengenal dan menguasai teknik untuk mencapai anestetik lokal pada hewan. 2. Mengetahui cara pemberian anestetik lokal. 3. Mengetahui cara kerja anestetik lokal. 4. Memahami faktor-faktor yang melandasi perbedaan-perbedaan dalam sifat dan potensi anestetika lokal. 5. Mengenal berbagai faktor yang mempengaruhi kerja anestetika lokal. 6. Dapat mengaitkan daya kerja anestetika lokal dengan manifestasi gejala keracunan serta pendekatan rasional untuk mengatasi keracunan ini.

2. TINJAUAN PUSTAKA
Anestetik lokal adalah obat yang menghasilkan blokade konduksi atau blokade lorong natrium pada dinding saraf secara sementara terhadap rangsang transmisi sepanjang saraf, jika digunakan pada saraf sentral atau perifer. Anestetik lokal setelah keluar dari saraf diikuti oleh pulihnya konduksi saraf secara spontan dan lengkap tanpa diikuti oleh kerusakan struktur saraf.

Anestetik lokal menghilangkan penghantaran saraf ketika digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Bekerja pada sebagian Sistem Saraf Pusat (SSP) dan setiap serabut saraf. Kerja anestetik lokal pada ujung saraf sensorik tidak spesifik. Hanya kepekaan berbagai struktur yang dapat dirangsang berbeda. Serabut saraf motorik mempunyaidiameter yang lebih besar daripada serabut sensorik. Oleh karena itu, efek anestetika lokal menurun dengan kenaikan diameter serabut saraf, maka mula-mula serabut saraf sensorik dihambat dan baru pada dosis lebih besar serabut saraf motorik dihambat.

Sifat anestetik lokal yang ideal, yaitu : 1. Poten dan bersifat sementara (reversibel). 2. Sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen (kebanyakan anestetik lokal memenuhi syarat ini). 3. Batas keamanan harus lebar, sebab anestetik lokal akan diserap dari tempat suntikan. 4. Mula kerja harus sesingkat mungkin. 5. Masa kerja harus cukup lama, sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak sedemikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan. 6. Zat anestetik lokal juga harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dan dapat disterilkan tanpa mengalami perubahan. 7. Harganya murah.

Anestetik lokal dibagi menjadi dua golongan, yaitu : 1. Golongan ester (-COOC-) Kokain, benzokain (amerikain), ametocaine, prokain (nevocaine), tetrakain (pontocaine), kloroprokain (nesacaine). 2. Golongan amida (-NHCO-) Lidokain (xylocaine, lignocaine),mepivakain (carbocaine),prilokain (citanest), bupivakain (marcaine), etidokain

(duranest), dibukain (nupercaine),ropivakain (naropin), levobupivacaine (chirocaine).

Mekanisme Kerja Obat Obat bekerja pada reseptor spesifik pada saluran natrium (sodium channel), mencegah peningkatan permeabilitas sel saraf terhadap ion natrium dan kalium, sehingga terjadi depolarisasi pada selaput saraf dan hasilnya tak terjadi konduksi saraf. Mekanisme utama aksi anestetik lokal adalah memblokade voltage-gated sodium channels. Membran akson saraf, membran otot jantung, dan badan sel saraf memiliki potensial istirahat -90 hingga -60 mV. Selama eksitasi, lorong sodium terbuka, dan secara cepat berdepolarisasi hingga tercapai potensial equilibrium sodium (+40 mV). Akibat dari depolarisasi, lorong sodium menutup (inaktif) dan

lorong potassium terbuka. Aliran sebelah luar dari repolarisasi potassium mencapaipotensial equilibrium potassium (kira-kira -95 mV). Repolarisasi mengembalikan lorong sodium ke fase istirahat. Gradient ionic trans membran dipelihara oleh pompa sodium. Fluks ionic ini sama halnya pada otot jantung, dan anestetik lokal memiliki efek yang sama di dalamjaringan tersebut.

Fungsi sodium channel bisa diganggu oleh beberapa cara. Toksin biologi seperti batrachotoxin, aconitine, veratridine, dan beberapa venom kalajengking berikatan pada reseptor diantara lorong dan mencegah inaktivasi. Akibatnya terjadi pemanjangan influx sodium melalui lorong dan depolarisasi dari potensial istirahat. Tetrodotoxin (TTX) dan saxitoxin memblok lorong sodium dengan berikatan kepada chanel reseptor di dekat permukan extracellular. Serabut saraf secara signifikan berpengaruh terhadap blockade obat anestesi lokal sesuai ukuran dan derajat mielinisasi saraf. Aplikasi langsung anestetik lokal pada akar saraf, serat B dan C yang kecil diblok pertama, diikuti oleh sensasi lainnya, dan fungsi motorik yang terakhir diblok.

Rute pemberian anestetika lokal berhubungan erat dengan efek anestesi lokal yang dihasilkan. Sebagai contoh suatu anestesi lokal yang diberikan pada permukaan tubuh (topikal) dapat mencapai ujung saraf sensoris dan bekerja

menghambat penghantaran impuls nyeri pada serabut saraf tersebut, sehingga terjadilah anestesi permukaan. Anestesi lokal juga dapat diberikan secara injeksi ke dalam jaringan sehingga menyebabkan hilangnya sensasi pada struktur di sekitarnya. Efek yang dihasilkan disebut anestesi filtrasi.

II. ANESTESI UMUM


1. TUJUAN
1. Mengenal tahap-tahap manifestasi anestetika umum dan tahap-tahap dari pemulihan dari efek anestetika umum. 2. Sanggup mengaitkan tahap-tahap manifetasi anesthesia yang diamati dengan struktur fungsi tertentu di system saraf yang dipengaruhi pada tahap tersebut 3. Mampu menganalisa landasan perbedaan anestesi oleh berbagai bahan. 4. Dapat mengutarakan implikasi-implikasi praktis dari berbagai tahap/tingkat manifestasi anesthesia. 5. Dapat mengutarakan berbagai implikasi praktis dari pramedikasi.

2. TINJAUAN PUSTAKA
Obat anestesi umum adalah obat atau agen yang dapat menyebabkan terjadinya efek anestesia umum yang ditandai dengan penurunan kesadaran secara bertahap karena adanya depresi susunan saraf pusat. Menurut rute pemberiannya, anestesi umum dibedakan menjadi anestesi inhalasi dan intravena. Keduanya berbeda dalam hal farmakodinamik maupun farmakokinetik.

Tahap-tahap penurunan kesadaran dapat ditentukan dengan pengamatan yang cermat terhadap tanda-tanda yang terjadi, terutama yang berhubungan dengan koordinasi pusat saraf sirkulasi, respirasi, musculoskeletal dan fungsi-fungsi otonom yang lain pada waktu-waktu tertentu. Beberapa anestetik umum berbeda potensinya berdasarkan sifat farmakokinenik dan farmako dinamik yang berbeda pula. Selain itu sifat farmasetika obat

juga mempengaruhi potensi anestesinya. Potensi anestetik yang kuat dapat disertai dengan potensi depresi sususan saraf pusat yang kuat, sehingga perlu dilakukan pemantauan yang ketat, untuk menghindari turunnya derajat kesadaran sampai derajat kematian.

Eter (dietil eter, zaman dahulu dikenal sebagai sulfuric eter karena diproduksi melalui reaksi kimia sederhana antara etil alkohol dengan asam sulfat) digunakan pertama kali tahun 1540 oleh Valerius Cordus, botani Prusia berusia 25 tahun. Eter sudah dipakai dalam dunia kedokteran, namun baru digunakan sebagai agen anestetik pada manusia di tahun 1842, ketika Crawford W. Long dan William E. Clark menggunakannya pada pasien. Namun penggunaan ini tidak dipublikasikan. Empat tahun kemudian, di Boston, 16 Oktober 1846, William T. G. Morton memperkenalkan demostrasi publik penggunaan eter sebagai anestetik umum (Morgan dan Mikhail, 2002). Eter dapat dimasukkan kedalam derivat alkohol dimana H dari R-O-[H] digantikan oleh gugus R lainnya. Eter adalah oksida organik yang berstrukur:

[R]-C-O-C-[R]

Eter tidak berwarna, berbau menyengat, cairan yang mudah menguap. Titik didihnya adalah 36,2C. Cara pembuatan yang paling umum adalah dengan dehidrasi alkohol bersama asam sulfat. Alkohol (etanol; C2H5OH) ialah suatu molekul kecil, larut dalam air, dan diserap dengan sempurna dari saluran pencernaan. Uap etanol dapat juga diserap melalui paru-paru. Adanya makanan dalam usus memperlambat serapan. Distribusinya cepat, konsentrasi dalam jaringan lebih kurang sama dengan konsentrasi plasma. Kadar puncak dalam darah dapat dicapai dalam 30 menit. Lebih 90% alkohol yang dikonsumsi dioksidasi dalam hati, sisanya dieksresikan dalam paru-paru dan urin. Seorang dewasa dapat memetabolisme 7-10 gram (0,15-0,22 mmol) alkohol setiap jam.

Alkohol-alkohol lain yang berhubungan dengan etanol digunakan secara luas dalam pelarut industri dan kadang-kadang menyebabkan keracunan hebat. Metanol (CH3OH); metal alkohol, alkohol kayu) diperoleh dari distilasi desktruktif kayu. Metanol digunakan sebagai bahan penambah bensin, bahan pemanas ruangan, pelarut industri, pada larutan fotokopi, serta sebagai bahan makanan untuk bakteri yang memproduksi protein. Metanol paling banyak dijumpai dalam rumah tangga dalam bentuk cairan pembersih kaca mobil. Dapat diabsorpsi melalui kulit, saluran pernapasan atau pencernaan dandidistribusikan ke dalam cairan tubuh. Mekanisme eliminasi utama methanol di dalam tubuh manusia ialah dengan oksidasi menjadi formaldehida, asam format dan CO2. Metanol juga dapat disingkirkan dengan membuat muntah, dan dalam jumlah kecil diekskresikan melalui pernapasan, keringat dan urin.

Alkohol polihidrat seperti etilen glikol digunakan sebagai pengubah panas, zat anti beku, dan sebagai pelarut industri. Karena glikol mempunyai penguapan yang rendah, maka zat ini menghasilkan sedikit uap yang berbahaya pada temperatur biasa. Namun, karena digunakan dalam campuran anti beku dan sebagai pengubah panas, dapat dijumpai dalam bentuk uap atau kabut, pada temperatur tinggi. Etilen glikol tampaknya lebih toksik untuk manusia dibandingkan dengan spesies hewan lain. Etilen alkohol dimetabolisir oleh alkohol dehidrogenase menjadi aldehid, asam dan oksalat.

Kloroform pada suhu dan tekanan normal mudah menguap, jernih, tidak mudah terbakar. Nama lain untuk cloroform adalah trichloromethane dan triklorid metil, tidak seperti eter, bau chloroform manis tidak menyengat, walaupun uap chloroform pekat terinhalasi dapat menyababkan iritasi permukaan mukosa yang terkena. Kloroform adalah anestesi yang lebih efektif daripada nitro. Kloroform dosis tergantung di dalam tubuh akan dimetabolisme didalam hati. Metabolit kloroform termasuk phosgene, carbene dan chlorine, yang semuanya dapat berkontribusi terhadap aktivitas sitotoksik. Penggunaan jangka panjang kloroform sebagai anestetik dapat menyebabkan toxaemia. Keracuanan akut dapat menyebabkan sakit kepala, kejang, perubahan kesadaran, kelumpuhan, gangguan pernapasan. Dari sistem otonom dapat mengakibatkan pusing, mual dan

muntah. Kloroform juga dapat menyebabkan delayed-onset kerusakan pada hati, jantung dan ginjal.

3. ALAT DAN BAHAN


a. Alat : Stopwatch Alat suntik Jarum oral Gunting Bulu sikat

b. Bahan : - Larutan Procain HCl - NaCl Fisiologis

Hewan yang digunakan : Kelinci

4. CARA KERJA
1. Siapkan masing-masing 1 Ekor kelinci untuk setiap kelompok. 2. Potong/cukurlah bulu mata kelinci sebelah kiri dan kanan. 3. Setelah bulu mata kelinci dipotong, selanjutnya teteskan kedalam kantong konjungtiva mata kelinci tersebut 0,5 ml NaCl fisiologis sebagai kontrol pada mata sebelah kiri kelinci dan 0,5 ml lar. prokain HCl pada mata sebelah kanan kelinci. 4. Pada menit ke 10, 20, 30 dan 40 lakukan pengujian efek anastesi pada mata kelinci dengan mencolokkan bulu ijuk sebagai aplikator pada permukaan kornea mata kelinci yang telah ditetesi NaCl fisiologis dan Prokain HCl tadi. 5. Catat berapa kali mata kelinci tersebut merespon (mengedipkan mata) selama 10 kali perlakuan. 6. Tabelkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, bahas serta tarik

kesimpulannya.

5. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil


Klp 1 2 3 4 5 6 10 NaCl 10 10 10 10 7 10 Procain 8 8 10 9 10 NaCl 10 10 9 10 5 8 20 Procain 7 8 10 8 8 NaCl 9 9 10 8 6 8 30 Procain 10 8 10 6 4 7 NaCl 10 9 10 8 6 7 40 Procain 6 9 10 2 3 6

B. PEMBAHASAN
Pada praktikum tanggal 10 Juni 2013 telah dilakukan pengamatan dengan tema tentang anestetik lokal. Secara keseluruhan, kelas ini dibagi menjadi enam kelompok besar di mana masing-masing kelompok diberikan satu hewan uji untuk melakukan pengamatan. Pada praktikum ini dilakukan percobaan efek anestesi permukaan dari suatu obat dengan metode yang sederhana. Percobaan kali ini dilakukan terhadap hewan uji berupa kelinci, yaitu dengan cara meneteskan larutan obat anestesi dan larutan kontrol ke dalam kantung konjungtiva pada masing-masing mata kelinci yang berbeda. Larutan yang digunakan yaitu larutan obat anestesi untuk mata sebelah kanan dan untuk larutan kontrol diteteskan pada mata sebelah kiri. Obat anestesi yang dipergunakan dalam praktikum kali ini adalah prokain. Prokain adalah anestetik lokal yang kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural. Merupakan obat standard untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap jenis obat-obat anestetik lokal yang lain. Diberikan secara intravena pada manusia untuk pengobatan aritmia selama anestesi umum, bedah

jantung atau induced hypothermia. Absorbsi berlangsung cepat pada tempat suntikan, hidrolisis juga cepat oleh enzim plasma (prokain esterase). Pemberian intravena merupakan kontra indikasi untuk penderita miastenia gravis karena prokain menghasilkan derajat blok neuromuskuler. Prokain tidak boleh diberikan bersamasama sulfonamide. Larutannya 1-2% kadang-kadang kekuning-kuningan (amines), namun tidak berbahaya.

Hal pertama yang dilakukan pada percobaan ini adalah memotong bulu mata kelinci, baik pada mata sebelah kiri maupun mata sebelah kanannya. Hal ini dilakukan agar mempermudah proses penetesan larutan obat ke dalam kantung konjungtiva mata kelinci. Selanjutnya dilakukan pengamatan pengujian efek anestesi pada mata kelinci dengan mencolokkan bulu ijuk sebagai aplikator pada permukaan kornea mata kelinci yang telah ditetesi NaCl fisiologis dan Prokain HCl tadi.

Pengamatan ini dilakukan pada menit ke 10, 20, 30 dan 40 terhitung setelah pemberian obat. Hasil pengamatan ini lalu dicatat/ditabelkan untuk selanjutnya dibahas efek-efek saja yang dihasilkan atau dapat dilihat dari percobaan ini secara keseluruhan jika dibandingkan dengan hasil kontrol.

Berdasarkan jumlah sensasi dari setiap stimulus pada data pengamatan diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata pada semua mata kelinci yang diberi dengan larutan NaCl fisiologis dapat merasakan setiap stimulus dengan baik. Artinya kornea mata kelinci masih mampu berkedip atau memberikan respons yang positif terhadap aplikator. Hal ini mungkin dikarenakan NaCl fisiologis yang hanya bersifat sebagai larutan kontrol, sehingga tidak memberikan efek yang spesifik terhadap pengujian ini. Sedangkan pada mata kelinci yang diteteskan larutan anestesi prokain HCl cenderung tidak bisa merasakan stimulus yang diberikan dengan baik. Misalnya pada kelinci kelompok 1, di menit ke 20 mata sebelah kanan kelinci yang diberi prokain HCl hanya memberikan sensasi yaitu dengan 7 kali kedipan mata dari 10 kali percobaaan aplikator ke kornea mata kelinci tersebut. Hal ini terjadi karena prokain merupakan obat anestetika lokal yang bekerja menghambat penghantaran impuls

saraf, sehingga menyebabkan hilangnya sensasi panas, dingin, sentuh dan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran umum.

Sama halnya dengan kelompok-kelompok yang lain yang diberi prokain jumlah sensasi dari setiap stimulus kurang lebih sama jumlahnya. Namun ada juga beberapa kelompok yang bahkan mata kelincinya tidak memberikan sensasi kedipan sama sekali. Yaitu pada kelompok 5, di mana pada menit ke-10 dan menit ke-20 mata kelinci yang telah diberi prokain tadi tidak memberikan respon kedipan sama sekali dengan aplikator yang diberikan. Hal ini terjadi kemungkinan karena struktur kornea mata kelinci pada kelompok 5 yang lebih tebal dikarenakan juga ukuran kelinci pada kelompok mereka yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang lain, sehingga reseptor-reseptor penerima stimulus yang terdapat pada bagian selaput korneumnya tidak dapat terlalu peka/aktif dalam menerima rangsangan atau stimulus-stimulus dari luar.

Prokain yang merupakan obat anestetika lokal memberikan efek terhadap kulit dengan membuat terhambatnya penghantaran impuls saraf dengan kontak langsung yang dilakukan dengan memberikan stimulus berupa sensasi nyeri, sensasi sentuh, sensasi dingin dan sensasi panas. Dengan cara kerja prokain yang mampu menutup permukaan/lapisan kulit atau membrane sehingga stimulus yang diterima sedikit dibandingkan stimulus yang diterima oleh kornea mata yang hanya diberi oleh larutan NaCl fisiologis sebagai kontrol, karena NaCl tidak berfungsi sebagai anestetika lokal sehingga tidak akan menghambat penghantaran impuls saraf.

Menurut literatur, prokain memiliki efek anestesi lokal yang bekerja menghambat penghantaran impuls saraf menyebabkan hilangnya sensasi sentuh, panas, dingin dan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran umum. Berdasarkan data pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa kepekaan pada mata kelinci sebelah kiri lebih besar dibandingkan mata kelinci yang sebelah kanan. Karena pada mata kelinci yang sebelah akankanan diolesi dengan lidokain suatu obat anestetika lokal yang bisa menghambat penghantaran impuls saraf dari setiap stimulus yang diberikan. Selain

itu, menurut literatur memiliki onset dan durasi yang pendek. Onset yaitu waktu dari saat pemberian obat sampai dengan muncul efek. Sedangkan durasi yaitu waktu dari saat munculnya efek sampai dengan efek hilang.

Seperti diketahui bahwa untuk konduksi impuls saraf diperlukan ion natrium untuk menghasilkan potensial aksi saraf. Efek samping prokain biasanya berkaitan dengan efeknya terhadap SSP, misalnya mengantuk, pusing, parestesia, kedutan otot, gangguan mental, koma dan bangkitan. Mungkin sekali metabolit prokain berperan dalam timbulnya efek samping ini. Prokain dalam dosis berlebihan dapat menyebabkan kematian akibat fibrilasi ventrikel, atau oleh henti jantung.

6. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah : Obat anestetika lokal menghambat penghantaran impuls saraf ketika digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan konsentrasi tepat. Lidokain yang merupakan salah satu obat anestesi lokal golongan amida mempunyai onset dan durasi yang pendek. Kepekaan lengan kanan yang diolesi lidokain lebih besar dibandingkan dengan lengan kiri yang diolesi air. Anestesi umum memiliki empat stadium, yaitu stadium analgesia, delirium (eksitasi), pembedahan, dan paralisis medula oblongata. Pada eter dari stadium eksitasi ke stadium anestesi membutuhkan waktu yang lama karena jenis anestesi umum ini akan efektif apabila digunakan melalui intravena. Alkohol dapat efektif apabila penggunaannya melalui jalur oral.

7. JAWABAN PERTANYAAN-PERTANYAAAN
1. Bahas secara singkat penggolongan kimia dari anastetika lokal Jawaban: Struktur dasar anstetika local pada umumnya terdiri dari tiga bagian, yakni suatu gugus-amino hidrofil (sekunder atau tersier) yang dihubungkan oleh suatu ikatan ester (alcohol) atau amida dengan suatu gugus-aromatis lipofil. Semakin panjang gugus alkoholnya, semakin besar daya kerja anastetiknya, tetapi toksisitasnya juga meningkat. Anastetika local dapat digolongkan secara kimiawi dalam beberapa kelompok sbb: a. Senyawa-ester : kokain dan ester-PABA (benzokain, prokain, oksibuprokain, tetrakain) b. Senyawa-amida : lidokain dan prilokain, mepivakain, bupivakain, dan cinchokain c. Lainnya : fenol, benzialkohol dan etilklorida Semua obat tersebut di atas adalah sintetris kecuali kokain yang alamiah.

2. Bahas cara pemberiannya dan jenis anastetika yang bisa dicapai dengannya Jawaban: a. Secara Parenatal Anastetika local seering kali digunakan pada pembedahan untuk mana anastesia umum tidak perlu atau tidak diinginkan. Jenis anatesia local yang paling banyak digunakan sebagai suntikan adalah sbb : Anastesia Infiltrasi Anastesia Konduksi Anastesia Spinal (intrathecal) Anastesia epidural Anatesia Permukaan b. Cara penggunaan lain secara oral

Anastetika local digunakan sebagai larutan untuk nyeri di mulut atau tablet isap (sakit tenggorok) juga dalam bentuk tetes-mata untuk mengukur tekanan intraokuler atau mengeluarkan benda asing, begitu pula sebagai salep untuk gatal-gatal atau nyeri luka bakar dan dalam pil-taruh anti-wasir. Senyawa ester sering menimbulkan reaksi alergi kulit, maka sebaiknya dugunakan suatu senyawa-amida yang lebih jarang mengakibatkan hipersensitasi. c. Topikal Anestesi lokal diabsorpsi dengan kecepatan yang berbeda pada membran mukosa yang berbeda. Pada mukosa trakea, absorpsi yang terjadi hampir sama dengan pada pemberian secara intravena. Pada mukosa faring, absorpsi lebih lambat dan pada mukosa esofagus dan kandung kemih, absorpsi lebih lambat dari aplikasi topikal di faring.

3. Apakah setiap anastetika lokal dapat dipakai sebagai anastetika permukaan? Jelaskan. Jawaban: Anestetik permukaan, digunakan secara local untu melawan rasa nyeri dan gatal, misalnya larutan atau tablet hisap untuk menghilangkan rasa nyeri di mulut atau leher, tetes mata untuk mengukur tekana okuler mata atau mengeluarkan benda asing di mata, salep untuk menghilangkan rasa nyeri akibat luka bakar dan suppositoria untuk penderita ambient/ wasir. Obat yang merintangi secara reversible penerusan impuls-impuls syaraf ke SSP (susunan syaraf pusat) pada kegunaan lokal dengan demikian dapat menghilangkan rasa nyeri, gatalgatal, panas atau dingin.

4. Bahas mekanisme kerja dan penerapannya dalam bidang anastesi Jawaban: Anatetika local mengakibatkan kehilangan rasa dengan jalan beberapa cara. Misalnya dengan jalan menghindarkan untuk sementara pembentukan dan transmisi impuls melalui sel saraf ujungnya. Pusat

mekanisme kerjanya terletak di membrane sel. Seperti juga alcohol dan barbital, anastetika local menghambat penerusan impuls dengan jalan menurunkan permeabilitas membrane sel saraf untuk ion-natrium, yang perlu bagi fungsi saraf yang layak. Hal ini disebabkan adanya persaingan dengan ion-kalsium yang berada berdekatan dengan saluran-saluran natrium di membrane neuron. Pada waktu bersamaan, akibat turunnya laju depolarisasi, ambang kepekaan terhadap rangsangan listrik lambat laun meningkat, sehingga akhirnya terjadi kehilangan rasa setempat secara reversible.

5. Diantara anastetika lokal yang digunakan pada percobaan ini, mana yang lebih potensial? Terangkan. Jawaban: Prokain adalah ester aminobenzoat untuk infiltrasi, blok, spinal, epidural, merupakan obat standart untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap jenis obat-obat anestetik local lain. Sediaan suntik prokain terdapat dalam kadar 1-2% dengan atau tanpa epinefrin untuk anesthesia infiltrasi dan blockade saraf dan 5-20% untuk anestesi spinal.sedangkan larutan 0,1-0,2 % dalam garam faali disediakan untuk infuse IV. Untuk anestesi kaudal yang terus menerus, dosis awal ialah 30 mlnlarutan prokain 1,5%.

6. Keburukan apa yang timbul bila permukaan kornea dianastesi untuk periode waktu yang lama dan apa alasannya. Jawaban: Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Di Amerika insiden ulkus kornea bergantung pada penyebabnya. Insidensi ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000 penduduk di Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan kadang-kadang tidak di ketahui

penyebabnya. Walaupun infeksi jamur pada kornea sudah dilaporkan pada tahun 1879 tetapi baru mulai periode 1950 keratomikosis diperhatikan. Banyak laporan menyebutkan peningkatan angka kejadian ini sejalan dengan peningkatan penggunaan kortikosteroid topikal, penggunaan obat imunosupresif dan lensa kontak. Mortalitas atau morbiditas tergantung dari komplikasi dari ulkus kornea seperti parut kornea, kelainan refraksi, neovaskularisasi dan kebutaan. Berdasarkan kepustakaan di USA, laki-laki lebih banyak menderita ulkus kornea, yaitu sebanyak 71%, begitu juga dengan penelitian yang dilakukan di India Utara ditemukan 61% laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki sehari-hari sehingga meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea.

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Mohammad. 1993. Penggolongan Obat Berdasarkan Khasiat dan Penggunaan. Yogyakarta : UGM Press.

Ganiswarna, Sulistia G. 1995. Anestesi Umum. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI. Hal : 116.

Goodman dan Gilman. 2008. Anastetik Umum. Dasar Farmakologi Terapi. Jakarta:EGC.

Katzung, Bertram. 1997. Alkohol. Dalam: Farmakologi Dasar dan Terapi. Edisi VI. Jakarta: EGC. Hal : 69, 76-7.

Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat edisiV. Bandung: ITB

Pearce, Evelyn. 2009. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Robert. 1981. Pedoman Pengobatan. Yayasan Essentia Medica.

Woodley, Michele. 1995. Pedoman Pengobatan. Yogyakarta.