Anda di halaman 1dari 172

W

WORK
KING
G PAP
PER BIND
B DER
OS
SEAN
NOG
GRA
APHY
Y

Lecturrer
Bagus SetyoBudi Wiwoho M.SSi

C
COLLECTE
ED BY:
Waahyu Wardan
W ni
10
0635140
00649

SSTATE UN
NIVERSIT
TY OF MAL
ALANG
F
FACULTY
Y OF MATE
TEMATICS AND NATTURAL SC
CINCES
GEOGGRAPHY PROGRA
P AM
D
DESEMBER R 2008
M CUR
MY RRICUL
LUM VITAE

Nama : Wa ahyu Wardan ni


Tempat Ta anggal Lahir : Bakkau, 28 Okto ober 1989
Agama : Islaam
Jenis Kelamin : Lakki-laki
Status : Maahasiswa
Anak ke : 1 (P
Pertama)
Saudara Kaandung : 3 orang
o
E-mail/Blog : w41_4ks@yaho oo.co.id/httpp:\\kaselabo oy.blogspot.com\
Alamat Asal : Bakkau Rt. 1/1 Kecamatan n Pamukan Utara, Kottabaru
Kalimantan Selatan
Alamat di Malang : Jl Sumbersarri Gg. V No. 485 C Ma alang Jawa Timur
T
Koddepos 65145 5
No. Telp/H
HP : 0855259387847
Riwaya Pen
ndidikan : - SDDN Bakau 1 lulus tahun 20012
- SMP P Negeri 1 Pamukan
P Utaara lulus tahun 2004
- SMA A Negeri 1 Kotabaru
K lulus tahun 20006
- Mahhasiswa UM sampai seka arang
Motto : - Zikkir, Pikir, Ikh
htiar (ZiPiIk
kh)
- Sessulit apapun pekerjaan itui pasti ada a jalan kelua
ar
serrta hikmah dilbalik
d semuua pekerjaan n tersebut.
- Don
on’t Think To o Be The Besst But Think k To Do The e Best
ISI BINDER

BENUA DAN PAPARAN BENUA


SEDIMEN LAUT
KARAKTERISTIK AIR LAUT
GELOMBANG
SIRKULASI UDARA DI ATMOSFER
KEHIDUPAN LAUT
WILAYAH PESISIR DAN PROSES
EKOLOGI ESTUARINE
ESTUARINE AND INTERTIDAL ECOLOGY
KOMUNITAS PELAGIK
ORGANISME BENTHIC
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Oseanografi (berasal dari bahasa Yunani oceanos yang berarti laut dan
γράφειν atau graphos yang berarti gambaran atau deskripsi juga disebut
oseanologi atau ilmu kelautan) adalah cabang dari ilmu bumi yang
mempelajari segala aspek dari samudera dan lautan. Secara sederhana
oseanografi dapat diartikan sebagai gambaran atau deskripsi tentang laut.
Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi dapat diartikan sebagai
studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai laut dan segala
fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti diketahui
bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang
disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu bagian
yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni planet
Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer.

Para ahli oseanografi mempelajari berbagai topik, termasuk organisme laut


dan dinamika ekosistem; arus samudera, ombak, dan dinamika fluida
geofisika; tektonik lempeng dan geologi dasar laut; dan aliran berbagai zat
kimia dan sifat fisik didalam samudera dan pada batas-batasnya. Topik
beragam ini menunjukkan berbagai disiplin yang digabungkan oleh ahli
oceanografi untuk memperluas pengetahuan mengenai samudera dan
memahami proses di dalamnya: biologi, kimia, geologi, meteorologi, dan
fisika.

Beberapa sumber lain berpendapat bahwa ada perbedaan mendasar yang


membedakan antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua
kata (dalam bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara
sederhana dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam
arti yang lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 1


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

cara menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia,


matematika, dan lain-lain ke dalam segala aspek mengenai laut.

Oseanografi adalah bagian dari ilmu kebumian atau earth sciences yang
mempelajari laut,samudra beserta isi dan apa yang berada di dalamnya hingga
ke kerak samuderanya. Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan ke
dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi yang
mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut; fisika oseanografi
yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang
surut dan temperatur air laut; kimia oseanografi yang mempelajari masalah-
masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir biologi oseanografi yang
mempelajari masalah-masalah yang berkaitan dengan flora dan fauna atau
biota di laut.

Laut merupakan gambaran nyata mengenai permukaan bumi dan


sekiitarnya 70% dari permukaan bumi merupakan air, dimana permukaan air
terdapat endapan pasir laut, dasar lembah yang masing-masing memiliki cirri-
ciri topografi yang berbeda. Laut merupakan suatu bagian yang saling
memiliki proses yang lebih variatif, tergantung pada lokasi yang ada di
sekelilingnya disamping proses pergerakan aliran secara global. Oleh karena
itu dalam mempelajari laut diperlukan berbagai disiplin ilmu yaitu fisika
oseanografi, geologi oseanografi, kimia oseanigrafi dan biologi oseanografi.
Untuk lebih jelas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Ilmu oceanografi dapat dibagi menjadi beberapa cabang:
1. Biologi laut atau oceanografi biologi, ilmu mengenai tumbuhan, binatang
dan mikrobe (biota) samudera dan interaksi ekologi mereka;
2. Oceanografi kimia atau kimia laut, ilmu mengenai kimia samudera dan
interaksi kimianya dengan atmosfer;
3. Geologi laut atau oceanografi geologi, ilmu mengenai geologi dasar laut
termasuk tektonik lempeng;
4. Oceanografi fisika ilmu mengenai ciri fisik samudera termasuk struktur
suhu-salinitas, pencampuran, ombak, pasang, dan arus;

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 2


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

5. Rekayasa laut mencakup disain dan membangun anjungan minyak, kapal,


pelabuhan, dan struktur lainnya sehingga memungkinkan kita untuk
menggunakan samudera dengan bijaksana.

Cabang-cabang tersebut menunjukkan bahwa banyak ahli oceanografi


pada awalnya mendapat pendidikan ilmu pasti atau matematika dan kemudian
menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan interdisipliner
mereka untuk oceanografi.

Beberapa konsep penting dalam oseanografi adalah masa jenis,


temperature dan kadar garam.percampuran antara masa daratan
mengakibatkan terjadinya kolisi yaitu pergerakan relative masa daratan
terhadap masa lautan yang cukup lambat sehingga dapat dikatakan lempeng
tektonik mengalami pergerakan, sehingga seolah-olah dasar laut dan daratan
bergerak.

Benua adalah daratan yang sangat luas; (kontinen). Pada awalnya bumi
terbentuk seluruh benua merupakan satu daratan yang amat luas, belum
terbagi-bagi oleh pergeseran kerak bumi; daratan tersebut disebut Pangæan
supercontinent, pada masa mesozoic terbagi atas dua bagian besar yaitu
gondwana dibelahan bumi selatan dan laurasia dibelahan bumi utara.

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Bagaimana formasi dan struktur bumi?
1.2.2 Bagaimana topografi lepas pantai?
1.2.3 Bagaimana keadaan lempeng tektonik?

1.3 Tujuan
1.3.1 untuk mengetahui formasi dan struktur bumi
1.3.2 untuk mengetahui topografi lepas pantai
1.3.3 untuk mengetahui keadaan lempeng tektonik

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 3


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

BAB II
PEMBAHASAN

FORMASI DAN STRUKTUR BUMI


Bumi atau sering disebut dunia yang kita diami merupakan salah satu
planet dalam gugus tatasurya. Para ahli memperkirakan usia bumi telah
mencapai 4.6 milyar tahun. Bias dikatakan betapa bumi telah demikian tua.
Bila dibandingkan dengan usia manusia rata-rata 60 tahun, maka usia bumi
setara dengan 76.666.666 generasi.
Bumi yang memiliki diameter 12.756 ini mempunyai masa seberat 59.760
milyar ton itu tersusun atas lapisan-lapisan pembentuk. Secara umum susunan
bagian dalam bumi dibagi menjadi tiga bagian, dari permukaan hingga lapisan
terdalam bumi, yaitu; lapisan kerak, mantel dan inti bumi. Dalam
perkembangan selanjutnya atas bantuan penelitian seismic yang makin maju,
para akhli mengemukakan keterangan-keterangan bagian dalam bumi yang
lebih memuaskan dan menyusun gambaran struktur bumi sebagai berikut;

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 4


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

1. Kerak bumi
Lapisan ini menempati bagian paling luar dengan tebal berkisar 6-50
km. tebal lapisan ini tidak sama setempat, disekitar benua sekitar 20-50
km sedang di dasar laut 0-5 km atau bersama air laut yang berada di
atasnya sekitar 10-12 km, yang tersusun atas materi-materi padat terutama
yang kaya silisium dan aluminium. Lapisan kerak dibedaka atas dua
lapisan materi, yaitu;
a. Lapisan GranitisÆ tersusun atas batuan granites. Kecepatan gelombang
longitudinal di lapisan ini sekitar 6,5 km/detik.
b. Lapisan BasaltisÆ lapisan yang terletak di bawah lapisan granites dan
kebanyakan materi basalt. Kecepatan gelombang 6,5-8 km/detik
2. Selimut Bumi (Mantel)
Lapisan ini terletak dibawah kerak bumi dan pada umumnya dibedakan
menjadi 3 lapisan, antara lain;
a. LithosferÆ lapisan yang berwujud padat dan kaya akan silisium dan
aluminium
b. AsthenosferÆ lapisan yang letaknya dibawah Lithosfer. Yang
wujudnya agak kental, kaya akan silisium, aluminium dan magnesium
c. MesosferÆ lapisan yang lebih tebal dan lebih berat, kaya dengan
silisium dan magnesium
2. Inti bumi (Core)
Lapisan ini menempati bagian paling dalam dan dapat dibedakan menjadi
2 bagian yaitu;
a. Inti bagian LuarÆ diduga bagian ini berwujud cair sebab lapisan ini
tidak dilalui oleh gelombang transversal.
b. Inti Bagian dalamÆ terjadi perubahan kecepatan gelombang
longitudinal dari rendah ke tinggi, diduga inti ini berwujud padat.

TOPOGRAFI LEPAS PANTAI


Daerah pantai merupakan daerah yang dinamis dengan segala kerumitan
fisik yang terjadi sehingga menampakkan ciri khas pantai tersebut. Ditinjau
dari aspek geografis perairan di selat Lirung sangat potensial untuk

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 5


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

pengembangan di bidang ilmu dan teknologi kelautan. Oleh karena itu salah
satu kajian dalam bidang ilmu dan teknologi kelautan yaitu survei dan
pemetaan dasar taut (batimetri) merupakan faktor yang sangat penting untuk
menunjang pengembangan wilayah pantai dan pesisir. Keadaan topografi
pantai lirung menampakkan keunikan tersendiri. Hasil penelitian menunjukan
bahwa umumnya pada setiap lajur pengukuran kedalaman terdapat penurunan
topografi yang cukup tajam dengan perubahan kedalaman sekitar 7 - 15 meter
pada jarak yang tidak terlalu jauh dengan garis pantai ke arah taut sehingga
pada lokasi-lokasi tersebut topografinya curam.
Bentuk lahan pantai yang berada dilorong laut atau selat cenderung
mengalami preubahan sebagai akibat bekerjanya proses geomorfik. Sebagai
salah satu lahan pantai, gisik yang secara umum dipaharni sebagai akumulasi
sedimen pantai berupa pasir dan kerikil, merupakan suatu ruang yang
digunakan manusia sebagai tempat rekreasi karena hamparan pasirnya yang
indah dan dapat memberikan potensi yang besar dalam aspek keparwisataan.
Sehubungan dengan aspek kepariwisataan tersebut, keberadaan lahan gisik di
Selat Lembeh bagiab Barat dipandang penting untuk diungkapkan mengingat
kurangnya informasi mengenai daerah tersebut. Berdasarkan hal tersebut,
serangkaian proses belajar dalam bentuk penelitian telah dilakukan untuk
menyediakan jawaban terhadap masalah bagaimana peranan faktor
hidrooseanografi, morfometri lahan, dan distribusi granulometri sediment
terhadap pembentukan lahan gisik.
Topografi lepas pantai dapat dibedakan menjadi;
a. Paparan benua (Continental shelf)
Paparan benua memiliki kemiringan lereng yang mengarah keperairan
dalam dan lebar dari paparan benua bervariasi berdasarkan kenampakan
bentuk pantai. Apabila suatu pantai yang landai maka topografi paparan
dan lereng benua akan landai juga, tetapi apabila bentuk pantai cliff maka
topografi paparan dan lereng benua akan sangat terjal.
b. Lereng benua (Continental slope)

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 6


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

Lereng benua terbentuk akibat proses erosi dalam paparan benua,


akumulasi ombak dan gelombang yang active bekerja menyebabkan garis
paparan benua mengalami degradasi sehingga terbentuk lereng benua
c. Kaki benua (Continental Rise)
Kaki benua dapat dibedakan menjadi dua yaitu;
1. Passive Continental marginsÆ dapat terjadi apabila suatu proses
geologi tidak terjadi di dasar lautan sehingga kanampakan pada
paparan benua, lereng benua, kaki benua hanya berupa suatu
tutupan endapan yang berasal dari erosi.
2. Active Continental marginsÆ dapat terjadi jika suatu proses
geologi di dasar lautan, yaitu akibat dari pergerakan lempeng
tektonik sehingga lempeng laut seolah-olah menunjam menuju
pada lempeng benua sehingga disebut terjadi suatu subduksi yang
pada akhirnya akan menghasilkan suatu lembah yang panjang dan
dalam yang dihasilkan oleh aktivitas gunung api. Contoh:
penunjaman antara lempeng Indian Australia dengan lempeng
Eurasian yang terjadi di pegunungan selatan
d. Perairan dalam (Deep Osean Basin)
Pada perairan dalam, yang membedakan diantara yang lain adalah
stratifikasi dasar laut dan pola sirkulasi oksegen didalam perairan dalam.
Perairan dalam cenderung banyak memngandung sulfur, dengan kadar
Oksigen sangat rendah. Pola arus di perairan dalam tidak stabil seperti
pola arus yang ada di permukaan, hal ini dikarenakan sedikitnya
organisme yang berada di perairan dalam dan pola gelombang yang tidak
teratur.

LEMPENG TEKTONIK
Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika
bumi tentang pembentukan jalur pegunungan, jalur gunung api, jalur gempa
bumi, dan cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan
lempeng.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 7


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

Teori Tektonik Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah sebuah


teori dalam bidang geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan
terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh
litosfer bumi. Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori
Continental Drift yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama abad
ke-20 dan konsep seafloor spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an.

Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas
terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel bumi yang
kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang berbentuk
padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala
waktu geologis yang sangat lama karena viskositas dan kekuatan geser (shear
strength) yang rendah. Lebih dalam lagi, bagian mantel di bawah astenosfer
sifatnya menjadi lebih kaku lagi. Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih
dingin, melainkan tekanan yang tinggi.

Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic


plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng
yang lebih kecil. Lempeng-lempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 8


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

Mereka bergerak relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas lempeng, baik
divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan), ataupun transform
(menyamping). Gempa bumi, aktivitas vulkanik, pembentukan gunung, dan
pembentukan palung samudera semuanya umumnya terjadi di daerah
sepanjang batas lempeng. Pergerakan lateral lempeng lazimnya berkecepatan
50-100 mm/a.

Gambar A = Antara Lempeng Samudera dengan Lempeng Samudera

Gambar B = Antara Lempeng Samudera dengan Lempeng Benua

Gambar C = Antara Lempeng Benua dengan Lempeng Benua. Tidak terbentuk


gunung api.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 9


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

Bagian luar interior bumi dibagi menjadi litosfer dan astenosfer


berdasarkan perbedaan mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas.
Litosfer lebih dingin dan kaku, sedangkan astenosfer lebih panas dan secara
mekanik lemah. Selain itu, litosfer kehilangan panasnya melalui proses
konduksi, sedangkan astenosfer juga memindahkan panas melalui konveksi
dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik. Pembagian ini sangat
berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi inti, mantel, dan kerak.
Litosfer sendiri mencakup kerak dan juga sebagian dari mantel. Suatu bagian
mantel bisa saja menjadi bagian dari litosfer atau astenosfer pada waktu yang
berbeda, tergantung dari suhu, tekanan, dan kekuatan gesernya. Prinsip kunci
tektonik lempeng adalah bahwa litosfer terpisah menjadi lempeng-lempeng
tektonik yang berbeda-beda. Lempeng ini bergerak menumpang di atas
astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida.
Pergerakan lempeng biasanya bisa mencapai 10-40 mm/a (secepat
pertumbuhan kuku jari) seperti di Mid-Atlantic Ridge, ataupun mencapai 160
mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti di Lempeng Nazca. Lempeng-
lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel litosferik yang di
atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material kerak.
Yang pertama adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan "sima",
gabungan dari silikon dan magnesium. Jenis yang kedua yaitu kerak benua
yang sering disebut "sial", gabungan dari silikon danaluminium. Kedua jenis
kerak ini berbeda dari segi ketebalan di mana kerak benua memiliki ketebalan
yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerak samudera. Ketebalan kerak
benua mencapai 30-50 km sedangkan kerak samudera hanya 5-10 km.

Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary),


yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya terjadi seperti gempa bumi
dan pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan
palung samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif di dunia berada di
atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di
Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 10


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi


biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika
mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia.
Perbedaan antara kerak benua dan samudera ialah berdasarkan kepadatan
material pembentuknya. Kerak samudera lebih padat daripada kerak benua
dikarenakan perbedaan perbandingan jumlah berbagai elemen, khususnya
silikon. Kerak samudera lebih padat karena komposisinya yang mengandung
lebih sedikit silikon dan lebih banyak materi yang berat. Dalam hal ini, kerak
samudera dikatakan lebih bersifat mafik ketimbang felsik. Maka, kerak
samudera umumnya berada di bawah permukaan laut seperti sebagian besar
Lempeng Pasifik, sedangkan kerak benua timbul ke atas permukaan laut,
mengikuti sebuah prinsip yang dikenal dengan isostasi.

Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut
bergerak relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing
berhubungan dengan fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga jenis batas
lempeng tersebut adalah:

1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak


dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang
sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa
sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) ataupun

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 11


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh


sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas di California.

2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi


ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge
dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen.

3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi


jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga
membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah
yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng
mengandung kerak benua. Palung laut yang dalam biasanya berada di zona
subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam mengandung banyak
bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan
saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 12


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini


dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau
Jepang (Japanese island arc).

Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer


samudera dan karakter astenosfer yang relatif lemah. Pelesapan panas dari
mantel telah didapati sebagai sumber asli dari energi yang menggerakkan
tektonik lempeng. Pandangan yang disetujui sekarang, meskipun masih cukup
diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer samudera yang
membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat
pergerakan lempeng. Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer
samudera pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer
di sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena
terjadinya pendinginan dan penebalan.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 13


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif terhadap astenosfer di


bawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel yang dalam di
zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak
pergerakan lempeng. Kelemahan astenosfer memungkinkan lempeng untuk
bergerak secara mudah menuju ke arah zona subduksi. Meskipun subduksi
dipercaya sebagai kekuatan terkuat penggerak pergerakan lempeng, masih ada
gaya penggerak lain yang dibuktikan dengan adanya lempeng seperti lempeng
Amerika Utara, juga lempeng Eurasia yang bergerak tetapi tidak mengalami
subduksi di manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi topik penelitian
intensif dan diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi.

Pencitraan dua dan tiga dimensi interior bumi (tomografi seismik)


menunjukkan adanya distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral di
seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini bisa bersifat material (dari kimia
batuan), mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi
dan kontraksi termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan
kepadatan secara lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy
forces) Bagaimana konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak
dengan pergerakan planet masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan
dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu atau lain cara, energi ini harus
dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak. Ada dua jenis
gaya yang utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu friksi dan
gravitasi.Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu:

1. Lempeng Afrika, meliputi Afrika - Lempeng benua


2. Lempeng Antarktika, meliputi Antarktika - Lempeng benua
3. Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India
antara 50 sampai 55 juta tahun yang lalu)- Lempeng benua
4. Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa - Lempeng benua
5. Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut –
Lempeng benua
6. Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan - Lempeng benua
7. Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik - Lempeng samudera

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 14


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

Lempeng-lempeng penting lain yang lebih kecil mencakup Lempeng


India, Lempeng Arabia, Lempeng Karibia, Lempeng Juan de Fuca, Lempeng
Cocos, Lempeng Nazca, Lempeng Filipina, dan Lempeng Scotia.

Pergerakan lempeng telah menyebabkan pembentukan dan pemecahan


benua seiring berjalannya waktu, termasuk juga pembentukan superkontinen
yang mencakup hampir semua atau semua benua. Superkontinen Rodinia
diperkirakan terbentuk 1 miliar tahun yang lalu dan mencakup hampir semua
atau semua benua di Bumi dan terpecah menjadi delapan benua sekitar 600
juta tahun yang lalu. Delapan benua ini selanjutnya tersusun kembali menjadi
superkontinen lain yang disebut Pangaea yang pada akhirnya juga terpecah
menjadi Laurasia (yang menjadi Amerika Utara dan Eurasia), dan Gondwana
(yang menjadi benua sisanya)

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 15


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
OSEANOGRAFI
BENUA DAN PAPARAN BENUA

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Paparan benua memiliki kemiringan lereng yang mengarah keperairan


dalam dan lebar dari paparan benua bervariasi berdasarkan kenampakan bentuk
pantai. Apabila suatu pantai yang landai maka topografi paparan dan lereng benua
akan landai juga, tetapi apabila bentuk pantai cliff maka topografi paparan dan
lereng benua akan sangat terjal.

By Candranofani Adityawan and Nila Eny Yustanti 16


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jurusan Geografi
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
SEDIMEN LAUT

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Matakuliah Oceanografi
yang Dibina Oleh Bpk. Bagus Setiabudi Wiwoho,S.Si

oleh:
Taufikurohman Tahir (106351400…)
Linda Ranita (106351400695)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
September,2008
Sedimen Laut.

Sedimentasi adalah masuknya muatan sedimen ke dalam suatu lingkungan


perairan tertentu melalui media air dan diendapkan di dalam lingkungan tersebut.
Sedimentasi membawa material hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh Air, angin atau
gletser ke suatu wilayah yang kemudian diendapkan. Sedimentasi yang terjadi di
lingkungan pantai menjadi persoalan bila terjadi di lokasi-lokasi yang terdapat aktifitas
manusia yang membutuhkan kondisi perairan yang dalam seperti pelabuhan, dan alur-
alur pelayaran, atau yang membutuhkan kondisi perairan yang jernih seperti tempat
wisata, ekosistem terumbu karang atau padang lamun. Untuk daerah-daerah yang tidak
terdapat kepentingan seperti itu, sedimentasi memberikan keuntungan, karena
sedimentasi menghasilkan pertambahan lahan pesisir ke arah laut.
Seluruh permukaan lautan ditutupi oleh partikel-partikel sedimen yang telah
diendapkan secara perlahan-lahan dalam jangka waktu berjuta-juta tahun. Secara relatif
ketebalan lapisan sedimen yang terdapat dibanyak bagian lautan, mempunyai variasi
kedalaman yang berbeda-beda . partikel-partikel sedimen berasal yang berasal dari hasil
pembongkaran batu-batuan dan potongan-potongan kulit (shell) serta sisa rangka–rangka
dari organisme laut.
Besarnya endapan laut yang dapat didistribusikan merupakan suatu fungsi dari
kecepatan dan ukuran butir. Beberapa endapan laut dapat dijumpai suatu struktur yang
tersortasi baik dan ada pula struktur dengan sortasi buruk. Sortasi baik apabila susunan
dari atas kebawah breturut-turut disusun oleh material halus sampai material kasar. Hal
ini disebabkan proses pengendapan berlangsung secara alami tanpa ada pengaruh dari
luar. Sortasi buruk apabila material tercampur secara merata sehingga tidak ada sortasi
yang baik. Proses pengendapan berlangsung secara tiba-tiba sehingga material tidak
smpat melakukan pemilihan berdasarkan ukuran butir dan beratnya.
Ada 4 jenis struktur endapan yang dominan yaitu:
a. Cross bedding
Perlapisan endapan ini disebabkan karena adanya dua atau lebih proses yang
berpengaruh secara bergantian sehingga memberikan kanampakan adanya lingkaran
pengaruh pada masing-masing proses. Setiap perlapisan tidak memiliki suatu sortasi
yang baik.
b. Laminer bedding
Perlapisan endapan ini terjadi disebabkan oleh adanya suatu proses yang dicirikan
dengan endapan yang memiliki ukuran ataupun jenis material yang berbeda-beda
pada setiap perlapisan.setiap perlapisan tidak memiliki suatu sortasi yang baik.
c. Graded bedding
Perlapisan endapan ini memiliki siatu sortasi yangb angat baik karena pada saat
pengendapan terjadi suatu pemilihan ukuran butir dan berat secar alami sehingga
material yang kasar berada dibawah dan material yang halus berada diatas.
d. Massive bedding
Perlapisan ini tidak memiliki sortasi yang baik, pendinginan berlangsung secara cepat
sehingga material yang kasar dan halus tercampur secara merata.
Endapan laut dapat diklasifikasikan berdasarkan asal usulnya, ukuran dan lokasi
pengendapan.
1. Klasifikasi berdasarkan asal-asulnya.
(a) Lithogenous
Endapan ini memiliki material yang berasal dari batuan yang ada di daratan
maupun lautan. Endapan ini dihasilkan karena adanya suatu proses pelapukan
kimia maupun mekanik. Aliran sungai akan membawa ssedimen dari daratan ke
dalam lautan dan distribusinya ditentukan oleh besar kecilnya ukuran partikel.
Sumber material sedimen banyak ditemukan di wilayah arid dan semi arid,
dimana curah hujan sangat kecil untuk dapat menumbuhkan vegetasi sebagi
pencegah terjadinya erosi. Erosi angin juga memgang peranan peranan penting
dalam transportasi material terutama material yang memiliki diameter butiran
sangat kecil. Persebaran sedimen di lautan ditentukan terutama oleh sifat-sifat
fisik dari pertikel-partikelm itunsendiri khususnya oleh lamnya mereka tinggal
melyang-layng di lepisan airn. Partikel dengan ukuran besar cenderung untuk
lebih cepat tenggelam dan menetap dari yang berukuran lebih kecil. Contoh
penyebaransedimen lautan hindia, jenis sediemn lithogenous cenderung untuk
diendapkan pada daerah yang letaknya dekat dengan massa daratan.
(b) Biogenous
Material yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Sisa-sisa rangka dari organisme
hidup juga akan membentuk endapan partikel halus yang dinamakan ooze.
Sedimen ini dapat dijumpai pada daerah perairan lereng benua bersama-sama
dengan material lithogenous yang diendapkan oleh aliran bawah air. Sedimen ini
digolongkan dalam dua tipe utama yaitu:
▪ Tipe calcerous
- Globeregina Ooze merupakan salah satu grup dari organisme yang bersel
tunggal yang mempunyai kulit yang mengandung calcium carbonat atau
zat kapur. Mereka membentuk Ooze yang menutup 35% bagian
permukaan dasar laut yang relatif kebanyakan di jumpai di daerah panas
dunia.
- Peteropod Ooze merupakan golongan molusca yang bersifat sebagai
planktondimana tubuh mereka mempunyai kulit yang mengandung zat
kapur. Sedimen ini menutupi permukaan dasar laut hanya berjumlah 1%
saja, walaupun kadang bercampur dengan Ooze dari jenis lain.
▪ Tipe siliceous
- Diatum Ooze merupakan golongan tumbuh-tumbuhan yang bersel tunggal
yang mempuynayi kulit mengandung silica. Ooze ini menutupi 9%
permukaan dasar laut dan banyak dijumpai di daerah-daerah yang lebih
dingin yang bersalinitas rendah.
- Radiolaria Ooze merupakan golongan protozoa bersel satu dimana bentuk
endapannya menutupi 1-2% permukaan dasar laut.
- Red clay Ooze memunayi kandungan silica yang tinggi, endapan ini
banyak dijumpai di bagian timur laut india.
(c) Hydrogenous
Sedimen yang berasal dari reaksi kimia yang tercampur dalam air laut. Reaksi
kimia ini menyebabkan material akan terlarut, baik material yang terbawa oleh
aliran sungai maupun air hujan.
(d) Cosmogenous
Material berasal dari luar angkasa dan tercampur bersama paertikel meteorit
maupun asteoit. Material ini banyak mengandung unsur besi.
2. Klasifikasi berdasarkan ukuran butir.
Dapat dibagi menjadi 7 tipe sedimen:
▪ Boulders, memiliki ukuran butir > 256 mm
▪ Cobbles, memiliki ukuran butir 64-256 mm
▪ Pebbles, memiliki ukuran butir 4-64 mm
▪ Granules, memiliki ukuran butir 2-4 mm
▪ Sand, memiliki ukuran butir 0.062-2 mm
▪ Silt, memilki ukuran butir 0.004-0.62 mm
▪ Clay, memiliki ukuran butir < 0.004 mm
3. Klasifikasi berdasarkan lokasi.
Dapat dibagi menjadi 2 tipe sedimen yaitu:
a. Neritik sedimen, yang tersebar pada paparan benua, lereng benua kaki benua yang
memiliki sumber material dari lithogenous, biogenous, hidrogeous dan
kosmogenous. Komposisi utamanya berasal dari material terrigenous yang dibawa
kelaut dengan aliran sungai maupun aliran permukaan. Ukuran butirnya yang
besar sehingga dapat dijumpai endapan dari yang berbutir kasar sampai yang
terhalus.
b. Pelagik sdimen yang tersebar pada perairan laut dalam dengan memiliki sumber
material dai lithogeous, biogenous, hidrogeous dan kosmogenous. Variasi ukuran
butirnya sangat kecil sehingga hanya dapat dijumpai material yang berbuitir halus
dan tersebar secara merata pada perairan laut dalam.
c. Bathyal, sedimen yang tersebar pada perairan dengan kedalaman 200-3700 m
dengan sumber material sumber matarial berasal dari terrigenous, biogenous
hydrogenous dan cosmogenous.
d. Abyssal, sedimen yang berada pada kedalaman 3700-6000 m dengan sumber
matarial yang berasal dari terrigenous, biogenous, hydrogenous dan
cosmogenous.
e. Hadal, sedimen yang berada pada kedalaman 6000 m dengan sumber material
yang berupa lempung dan debu.
Berbagai sifat fisik sedimen ditelaah sesuai dengan tujuan dan kegunaannya.
Diantaranya adalah tekstur sedimen yang meliputi ukuran butir (grain size), bentuk butir (
partikel shape), dan hubungan antar butir (fabrik), struktur sedimen, komposisi mineral,
serta kandungan biota. Dari berbagai sifat fisik tersebut ukuran butur menjadi sangat
penting karena umumnya menjadi dasar dalam penamaan sedimen yang bersangkutan
serta membantu analisa proses pengendapan karena ukuran butir berhubungan erat
dengan dinamika transfortasi dan deposisi (Krumbein dan Sloss (1983)). Berkaitan denga
sedimentasi mekanik ukuran butir akan mencerminkan resistensi butiran sedimen
terhadap proses pelapukan erosi/abrasi serta mencerminkan kemampuan dalam
menentukan transfortasi dan deposisi. Dengan melihat cara transfor sedimen dapat dilihat
melalui :
1. Transfor Sedimen pada Pantai
Pettijohn (1975), Selley (1988) dan Richard (1992) menyatakan bahwa cara
transfortasi sedimen dalam aliran air dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :
- Sedimen merayap (bed load) yaitu material yang terangkut secara menggeser atau
menggelinding di dasar aliran.
- Sedimen loncat (saltation load) yaitu material yang meloncat-loncat bertumpu pada
dasar aliran.
- Sedimen layang (suspended load) yaitu material yang terbawa arus dengan cara
melayang-layang dalam air.
2. Transfor Sedimen Sepanjang Pantai
Transfor sedimen sepanjang pantai merupakan gerakan sedimen di daerah pantai yang
disebabkan oleh gelombang dan arus yang dibangkitkannya (Komar : 1983). Transfor
sedimen ini terjadi di daerah antara gelombang pecah dan garis pantai akibat sedimen
yang dibawanya (Carter, 1993). Menurut Triatmojo (1999) transfor sedimen sepanjang
pantai terdiri dari dua komponen utama yaitu transfor sedimen dalam bentuk mata gergaji
di garis pantai dan transfor sedimen sepanjang pantai di surf zone.
Transfor sedimen pantai banyak menimbulkan fenomena perubahan dasar perairan
seperti pendangkalan muara sungai erosi pantai perubahan garis pantai dan sebagainya
(Yuwono, 1994). Fenomena ini biasanya merupakan permasalahan terutama pada daerah
pelabuhan sehingga prediksinya sangat diperlukan dalam perencanaan ataupun penentuan
metode penanggulangan. Menurut Triatmojo (1999) beberapa cara yang biasanya
digunakan antara lain adalah :
a. Melakukan pengukuran debit sedimen pada setiap titik yang ditinjau, sehingga secra
berantai akan dapat diketahui transfor sedimen yang terjadi.
b. Menggunakan peta/ foto udara atau pengukuran yang menunjukan perubahan elevasi
dasar perairan dalam suatu periode tertentu. Cara ini akan memberikan hasil yang
baik jika di daerah pengukuran terdapat bangunan yang mampu menangkap sedimen
seperti training jetty, groin, dan sebagainya.
c. Rumus empiris yang didasarkan pada kondisi gelombang dan sedimen pada daerah
yang di tinjau.
3. Sedimentasi Pada Muara Sungai
Muara sungai dapat dibedakan dalam tiga kelompok yang tergantung pada faktor
domonan yang mempengaruhi. Yaitu didominasi faktor gelombang, debit sungai atau
pasang surut. Pada kenyataannya ketiga sungai tersebut akan bekerja secra simultan,
walaupun salah satunya akan terlihat lebih dominan pada daerah muara dimana
gelombang lebih dominan biasanya akan mengakibatkan tertutupnya muara sungai
akibat transfor sedimen sepanjang pantai yang dibawanya masuk ke alur sungai.
KARAKTERISTIK AIR LAUT

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Oceanografi


yang dibina oleh Bapak Bagus Setia Budi

Disusun oleh:
Chandra Ningrat (1063514006)
Tuti Mutia (106351400692)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATERMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
Oktober, 2008
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Oceanografi, ilmu tentang kelautan, adalah sebuah disiplin ilmu
yang di dalamnya menyangkut berbagai bidang ilmu yang lain. (yang
berhubungan dengan kelautan). Kemajuan dalam ilmu kelautan
oseanografi cukup laut, sampai pada abad 19 hingga kemudian
perkembangan yang penting adalah penggabungan untuk hal-hal yang
berhubungan dengan perdagangan dari pada untuk ilmu tentang kelautan
itu sendiri. Oseanografi sekarang adalah sebuah penetapan yang bagus dan
pertumbuhan ilmu yang cukup cepat.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan Negara
kepulauanterbesar di dunia, yang memiliki ± 18.110 pulau dengan garis
pantai sepanjang 108.000 km. Berdasarkan Konvensi Hukum Laut
(UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki kedaulatan atas wilayah perairan
seluas 3,2 juta km2 yang terdiri dari perairan kepulauan seluas 2,9 juta
km2 dan laut teritorial seluas 0,3 juta km2. Selain itu Indonesia juga
mempunyai hak eksklusif untuk memanfaatkan sumber daya kelautan dan
berbagai kepentingan terkait seluas 2,7 km2 pada perairan ZEE (sampai
dengan 200 mil dari garis pangkal). Sebagai negara kepulauan, laut dan
wilayah pesisir memiliki nilai strategis dengan berbagai keunggulan
komparatif dan kompetitif yang dimilikinya sehingga berpotensi menjadi
prime mover pengembangan wilayah nasional. Bahkan secara historis
menunjukan bahwa wilayah pesisir ini telah berfungsi sebagai pusat
kegiatan masyarakat karena berbagai keunggulan fisik dan geografis yang
dimilikinya. Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumberdaya laut dan
pesisir bagi pengembangan wilayah secara berkelanjutan dan menjamin
kepentingan umum secara luas (public interest), diperlukan intervensi
kebijakan dan penanganan khusus oleh Pemerintah untuk pengelolaan
wilayah laut dan pesisir.
Hal ini seiring dengan agenda Kabinet Gotong Royong untuk
menormalisasi kehidupan ekonomi dan memperkuat dasar bagi kehidupan
perekonomian rakyat melalui upaya pembangunan yang didasarkan atas
sumber daya setempat (resourcebased development), dimana sumberdaya
pesisir dan lautan saat ini didorong pemanfaatannya, sebagai salah satu
andalan bagi pemulihan perekonomian nasional, disamping sumberdaya
alam darat. Agar pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir dapat
terselenggara secara optimal, diperlukan upaya penataan ruang sebagai
salah satu bentuk intervensi kebijakan dan penanganan khusus dari
pemerintah dengan memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya.
Selain itu, implementasi penataan ruang perlu didukung oleh program-
program sektoral baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Pusat,
Pemerintah Daerah, dan masyarakat, termasuk dunia usaha. Makalah ini
bertujuan untuk memberikan diskriptif tentang karakteristik laut seperti
zona pesisir dan laut serta morfologi laut dan kualitas air laut.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakng di atas dapat diatrik rumusan masalah yaitu bagaimana
karakteristik air laut, yang terdiri dari:
1. Bagaimana genesa dan tipologi pantai?
2. Bagaimana jenis-jenis laut?
3. Bagaimana permukaan dasar (morfologi) laut dan pantai?
4. Apa saja yang merupakan kualitas air laut?
1.3 Tujuan
“Mengetahui karakteristik air laut” yang terdiri dari:
1. Mengetahui batas antara pantai, pesisir, dan laut
2. Mengetahui permukaan dasar (morfologi) laut
3. Mengetahui apa saja yang termasuk kualitas air laut
BAB II
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

2.1 Genesa Dan Tipologi Pantai


Kepulauan Indonesia terbentuk oleh proses (endogen) rumit geologi dari
gejala konvergensi lempeng (litosfer) menghasilkan bentang alam (fisiografi)
yang sangat kompleks. Demikian halnya dengan pantai pulau-pulaunya, terbentuk
seiring evolusi geologi dengan ciri masing-masing berdasar proses dan mandala
geologinya, yang kemudian terlihat pada keragaman jenis batuan, struktur dan
kelurusan, lereng pantai dan perairan bentuk muara sungai dan lain-lain bagian
bentang pantai. Kondisi iklim/cuava (atmosfer) dan laut (biosfer) mengiringi
evolusi tersebut memberi pengaruh (eksogen) pada proses pembentukan bentang
alam. Kegiatan manusia (biosfer) mulai ikut berpengaruh pada proses evolusi
mengubah bentang alam melalui upaya (anthropogenic) mengubah lingkungan
untuk kepentingannya sejak zaman Anthroposen.
Berdasar kenyataan demikian, klasifikasi wilayah pesisir dan pantai di
Indonesia akan lebih sempurna bila didasarkan atas beberapa hal yang
menyangkut proses pembentukan (genesa) dan perubahannya yang melibatkan
unsur-unsur di atas. Berdasar klasifikasi ini, dapat lebih mudah mengenali sifat
dan potensi hingga kerawanan yang dimilikinya, yang bermanfaat sebagai dasar
dalam upaya pengelolaannya berdasar keseimbangan dan kelestarian, di masa
yang akan datang.
Suatu pengkelasan pantai berdasar genesa, morfologi serta kondisi perairannya
diusulkan sebagai berikut, mengikuti kriteria-kriteria:
2. 1.1 Tektonik:
Proses tektonik akibat konvergensi gerak lempeng dan kerak adalah
sebagai kendali utama proses yang menghasilkan geologi dan bentang alam
pesisir dan pantai saat ini.
a. Penunjaman (Subduction):
Gerak relatif kerak Samudra Hindia dan benua Australia ke utara
menghasilkan penunjaman di bawah Sumatra, Jawa dan sebagian Sunda Kecil
(NTB). Penunjamann dicirikan oleh palung dalam samudra, lereng depan curam,
jalur busur luar dan jalur volkanik. Pesisir dan pantai jalur ini umumnya dibentuk
oleh perbukitan terjal dengan tebing lereng depan curam tanpa tutupan tumbuhan.
Pantai umumnya menerima langsung hempasan gelombang dan erosi, sementara
teluk terbentuk dikontrol oleh struktur geologi yang rumit dan batas antar litologi.
Pasir pantai terbentuk di dataran sempit hasil akumulasi sedimen sungai. Terumbu
karang tumbuh di perairan yang terlindung di pantai pulau utama dan pulau-pulau
kecil.
Ciri morfologi pantai dan pesisir lainnya adalah:
- Tebing curam perbukitan pantai
- Erosi dan abrasi kuat pada tebing curam
- Pantai datar berpasir relatif lurus dengan asupan sedimen dari sungai
kadang membentuk bukit pasir (sand dune) dengan selingan rawa.
- Pola aliran sungai hampir tegak lurus pantai dengan gradient tebing curam
lambah sungai
- Kegempaan kuat dan sering kejadiannya, adakalanya diikuti tsunami
- Penenggelaman bergantian dengan pengangkatan pantai atau terumbu
karang mengiringi proses penunjaman
Curah hujan tinggi dan gejala geologi di kawasan ini memberikan
bentang alam dengan tebing dan lereng curam. Contoh kota pantai di jalur ini
adalah: Sibolga, Padang, Bnegkulu, Cilacap, dll.
b. Tumbukan (collision):
Gerak lempeng yang saling bertumbukan menghasilkan batuan yang
tercampur aduk (chaotic) yang terkerat kuat oleh struktur geologi patahan dan
rekahan. Proses tumbukan dapat diamati hasilnya di kawasan antara Flores
hingga Wetar sebagai sisa jalur volkanik dengan ciri pantai kaki volkanik
dengan tutupan batu gamping terangkat, Sumba sebagai busur luarnya dengan
morfologi pantai teras terumbu terangkat, dan jalur Sabu-Rote dan Timor
sebagai jalur tumbukan dengan ciri pantai curam serta singkapan batu
gamping terangkat dengan terobosan lumpur endapan tua. Contoh kota di
jalur ini adalah: Kupang, Waingapu, Baa, dll
c. Gerakan Lateral :
Jenis konvergensi yang menghasilkan batas pertemuan dari lempeng
yang saling geser ini di Indonesia tidak begitu mudah dilihat gejalanya di
daratan, kecuali di kepala burung Irian Jaya yang menghasilkan sesar geser
Sorong dengan pegunungan terjal menghadap langsung ke laut membentuk
pantai curam berbukit. Patahan dan rekahan menandai jalur ini menyebabkan
batuan pantai bertebing curam bertambah rentan longsor dan terabrasi. Pantai
di jalur ini umumnya sangat labil dan rawan bencana, mengingat kegempaan
juga relatif tinggi (gempa dan tsunami di. P Biak). Contoh kota di mandala
ini: Biak, Manokwari, Sorong
d. Kraton Stabil :
Inti atau kraton di Indonesia ditandai oleh hampir absennya
kegempaan, sebagaimana dicatat di Kalimantan (barat dan selatan) yang
dianggap sebagai kraton dari busur kepulauan Indonesia saat ini. Stabilnya
kawasan ini dari kerjaan gejala geologi menyebabkan gaya eksogen (cuaca,
dll) mengontrol lebih jauh dengan gejala denudasi atau pendataran
(peneplain) dari bentang alam pegunungan tua menghasilkan wilayah pesisir
sangat luas yang ditempati rawa dataran (lahan) basah (wet land) dari bentang
alam hilir yang telah lanjut. Dataran basah ditutupi rawa atau hutan tropis
basah. Estuari terbentuk lebar di bagian yang memiliki beda pasang tinggi,
yang pasang naiknya dapat dirasakan di pedalaman jauh dari muara. Rataan
tebal bakau menutup pantai, menahan gempuran gelombang dan menangkap
sedimen dari muara yang menyebar, menghasilkan akresi pantai. Contoh kota
di jalur ini adalah: Pontianak, Banjarmasin
e. Pantai terangkat dan tenggelam :
Jenis pantai yang mengalami pengangkatan dan penuruan dapat
ditemukan di berbagai pulau di kawasan yang saat ini berada pada jalur aktif
tektonik yang menghasilkan gerak tegak, di jalur tumbukan atau penunjaman.
Di darat, gejala ini terlihat di pantai yang bertutupan tumbuhan adalah
tenggelamnya sebagian tumbuhan (Cassuarina sp, mangrove, dll) atau bentuk
khusus terumbu karang yang menandai gejala ini (out side stepping) dan
gejala erosi pantai. Adanya pengangkatan dapat terlihat dari bentuk undak
teras pantai dan adanya akresi pantai sementara munculnya terumbu karang
membentuk daratan merupakan tanda di bagian perairan. Penurunan daratan
dapat diakibatkan oleh adamya kompaksi endapan di pesisir, atau memang
ada gejala kenaikan permukaan air laut. Contoh kota di pulau ini adalah:
Waingapu (Sumba), Tuah Pejat (Mentawai)
f. Volkanik:
Jalur gunung api menempati suatu kelurusan, yang di pulau besar
seperti Sumatra dan Jawa, hasil kegiatannya membentuk kerucut yang
kakinya tidak mencapai pesisir (kecuali beberapa: Muria, Rajabasa, dll),
namun di Sunda Kecil, pulau volkanik relatif kecil dan memiliki gugusan
gunung api yang muntahan kegiatannya mencapai pesisir dan masuk ke laut
(Bali-Flores, Alor).
Batuan padat dan keras hasil kegiatan volkanik membentuk tebing
curam pantai pulau gunung api, diseling lereng landai kaki gunung berbatuan
lepas dan pasir membentuk pantai sempit datar. Aliran lava atau lahar
seringkali langsung masuk ke laut, membentuk lereng dasar laut dengan
kemiringan dan jenis batuannya tergantung dari komposisi magmanya. Pantai
sempit landai dengan sungai kecil disekitarnya memungkinkan bakau
tumbuh, adakalanya bersisian atau menumpang di atas substrat pasiran dan
terumbu karang. Kota-kota pantai di mintakat ini antara lain: Jepara,
Denpasar, Larantuka, dll.
2. 1.2 Pantai dan pesisir berdasar fisiografi kepulauan:
a. Pulau/daratan menghadap ke arah samudera lepas :
Pantai dan pesisir yang menghadap ke arah laut/samudera lepas
ditandai oleh tebing perbukitan curam, pantai berbentang alam kasar, berbukit
terjal menerima hempasan kuat gelombang. Pantai datar berpasir adakalanya
menyelingi pesisir ini, terbentuk oleh endapan sedimen sungai. Jalur ini
umumnya erat kaitannya dengan jalur tumbukan atau penunjaman.
Gelombang besar merupakan bagian dari sistim gelombang samudra, namun
tsunami adakalanya terjadi menyusul gempa kuat yang sering terjadi di jalur
ini. Contoh kota di pesisir ini antara lain: Sibolga, Padang, Bengkulu,
Cilacap, dst.
b. Pantai – pesisir yang menghadap cekungan belakang (tepian paparan)
Cekungan belakang dari jalur konvergensi tektonik ditandai oleh
paparan landai luas dengan alur sungai (dendritic) panjang dan dataran
tangkapan hujan luas, mengalir berkelok-kelok melalui rawa dan dataran
limpahan banjir, ke pantai berawa dan ber tutupan tebal bakau membentuk
muara delta luas dengan pulau pulau delta di depannya. Jenis pesisir ini
dijumpai di perairan timur Sumatra utara Jawa dan selatan Irian. Contoh kota
yang mewakili dan berada di mintakat ini adalah: Lhokseumawe, Palembang,
Jakarta, Semarang, dll.
c. Pesisir menghadap tepian kontinen.
Indonesia memiliki dua tepian kontinen, Sunda dan Sahul yang ke arah
mana beberapa pulau menghadapnya dengan ciri pantai landai dan sangat
stabil dari gejala geologi. Dua paparan tersebut menyisakan bentang alam
dataran saat sempat kering ketika susut laut hingga –145 m dari muka laut
sekarang. Bentang alam saat susut laut memiliki kemiripan dengan bentang
pesisir sekarang, ditandai oleh daerah limpahan banjir, rataan terumbu karang
dan bakau serta endapan pasir pantai. Beberapa sisa bentang alam tinggian
masih terlihat berupa pulau pulau di perairan ini (Senayang-Lingga-Bangka-
Natuna-Karimata dll). Landai dan dangkalnya perairan seringkali
menyebabkan kekeruhan akibat agitasi laut saat musim barat sulit hilang.
Rataan tipis bakau menutup pesisir perairan. Sisa pematang pantai purba
membentuk rataan tipis oleh endapan pasir kuarsa. Terumbu karang kurang
pertumbuhannya di perairan ini yang umumnya ditandai oleh air keruh siltasi
sedimen agitasi gelombang. Kota-kota yang mewakili antara lain: Tanjung
Pinang, Pangkal Pinang, dll
d. Jalur pulau busur luar:
Jalur pulau non volkanik busur luar terbentuk hampir menerus di barat
dari pulau Sumatra menghadap ke lepas Samudra Hindia. Di bagian timur
busur Sunda, busur luar terbentuk kembali sebagai pulau Sumba dan Sabu.
Pulau-pulau tersebut terbentuk dari terangkatnya sedimen laut oleh proses
penunjaman dan tumbukan lepeng, dicirikan oleh lapisan batuan yang terlipat
membentuk perbukitan dan terpotong patahan. Adakalanya batu gamping
terumbu karang ikut terangkat keluar membentuk perbukitan di pantai
bertebing curam. Teluk terbentuk oleh struktur geologi, umumnya padanya
bermuara sungai membentuk endapan pasir disekelilingnya atau tutupan
bakau. Dangkalan akibat terangkatnya batuan, ditumbuhi terumbu karang
yang di atasnya seringkali kemudian tumbuh bakau. Sedimen lepas atau keras
terkomkakan dari endapan karbonat di pantai terbentuk dari hasil rombakan
terumbu karang. Pulau-pulau di barat Sumatra mengalami gerak
pengangkatan mengiringi kegempaan yang adakalanya diikuti tsunami,
namun ditengarai pula adanya penurunan. Di Sumba dan Sabu, pengangkatan
lebih dominan dan menerus menghasilkan undak teras. Kota-kota yang
mewakili, antara lain: Muara Siberut, Waingapu, Seba, Baa, dll
e. Pulau gunung api:
Pantai pulau ini dicirikan oleh endapan bahan volkanik yang
dimuntahkan hingga ke perairan membentuk pesisir pantai landai di bagian
mana sering ditumbuhi bakau dan terumbu karang di perairannya. Endapan
lahar atau lava sering mencapai rataan bakau dan terumbu, namun dapat
segera tumbuh pulih kembali setelah 5-6 tahun kemudian. Pulau-pulau ini
membentuk jajaran dari Bali hingga Flores. Pantai curam terbentuk oleh
terobosan batuan volkanik atau batuan tufa lelehan dan lahar konglomeratan
yang tersemenkan. Lembah sungai dalam di hulu berakhir pada muara yang
berpantai landai pada pesisir datar, namun sering berupa muara sempit.
Contoh kota yang mewakili mintakat ini antara lain: Denpasar, Mataram,
Bima, Banda, Maumere, dll
f. Pulau kecil di laut dalam:
Guyot dan kerucut gunung api aktif banyak ditemukan di perairan Laut
Banda, membubung naik dari kedalaman membentuk pulau yang terisolasi.
Pulau-pulau ini dicirikan oleh lereng perairan curam, namun lereng atas dekat
permukaannya sering dikelilingi oleh terumbu karang yang menempel pada
batuan volkanik. Terumbu karang adakalanya terangkat membentuk undak
sempit batu gamping karang dengan takik ombak, sebagai bukti adanya
pengangkatan. Pantai sempit landai adakalanya ditumbuhi bakau. Contoh
kota yang mewakili pemukiman di pulau ini antara lain adalah Banda
g. Pulau-pulau kecil di paparan tepian kontinen.
Pulau terbentuk oleh tinggian batuan yang resistan dari kerjaan cuaca
di kawasan geologi yang stabil bagian dari paparan kontinen. Perubahan paras
muka laut lebih mengontrol evolusi morfologi perairan ini membentuk alur
perairan dangkal yang ditutupi endapan pantai dan sungai purba. Dangkalnya
perairan menyebabkan kekeruhan tidak mudah hilang, menyebabkan kualitas
terumbu karang kurang baik namun endapan pantai di perairan tenang
mengalasi rataan tebal bakau. Pantai purba sempit terbentuk di pesisir yang
menghadap ke periaran bebas yang bergelombang kuat yang membantu
pembentukan endapan pasir kuarsa putih. Contoh kota yang menempati
gugusan pulau ini adalah: Pangkal Pinang, Tanjung Pinang, dll.
h. Pulau Delta:
Pulau-pulau delta terbentuk di bagian perairan landai di muara sungai
yang mengalir jauh dari pedalaman mengangkut sedimen yang diendapkan
dan membentuk pulau-pulau ini. Hampir seluruh pulau umumnya ditutupi
bakau atau hutan tropis dataran basah pada kisaran supra tidal atau intertidal.
Kota-kota di pesisir timur Sumatra dari Riau hingga Jambi menempati
kawasan ini (Rumbai, dst).
Daerah peralihan antara daratn dan lautan sering ditandai dengan adnya
suatu perubahan kedalaman. Ada tiga daerah untuk membedakan kedalaman,
yaitu sebagai berikut.
a. Continental Shelf
Continental Shelf adalah suatu daerah yang mempunyai lereng yang landai
(kemiringan kira-kira sebesar 0,4 %) dan berbatasan langsung dengan
daerah daratan. Daerah ini biasanya mempunyai lebar antara 50-70 km dan
kedalam maksimum dari lautan yang ada di atasnya tidak lebih besar di
antara 100-200 m.
b. Continental Slope
Continental Slope mempunyai lereng yang lebih terjal dari Continental
Shel di mana kemiringannya bervariasi antara 3 % dan 6 %.
c. Continental Rise
Daerah ini merupakan daerah yang mempunyai lereng yang kemudian
perlahan-lahan menjadi datar pada dasar lautan.
Masih ada lagi istilah di kawasan pantai, yaitu lepas pantai (offshore), tepi laut
depan (foreshore), dan tepi laut belakng (backshore). Adapun rincian penjelannya
yaitu:
a. kawasan lepas pantai (offshore) adalah daerah yang ada di luar lintasan
gelombang laut
b. kawasan tepi laut depan (foreshore) dibatasi dari zona pasang rendah hingga
pasang tinggi.
c. Kawasan tepi laut belakang (backshore) adalah kawasan yang tidak
tergenang laut pada waktu pasang tinggi, tetapi hanya terbenam bila ada
gelombang ataupasang yang sangat besar.
Adapun kenampakan yang terkait dengan pantai yaitu:
a. Laguna (haff) atau danau pantai atau pantai berdanau, yaitu bagian laut yang
ada di tepi pantai yang terpisah sebagian atau seluruhnya akibat adanya lidah
tanah atau kubus pesisir (nehrung)
b. Estuarium adalah sebagian lembah yang sudah tenggelam di sebuah pantai
rendah. Estuarium terjadi karena di tempat itu terdapat perbedaan
besarantara tingginya air laut pada waktu pasang naik dan pasang surut.
Estuarium berbentuk corong agak jauh kea rah darat.
c. Delta adalah daratan yang rendah sekali di muara sebuah sungai, yang
terjadi karena pengendapan hasil erosi
d. Fyord adalah lembah-lembah gletser pada zaman es yang digenangi kembali
oleh air laut setelah berakhirnya zaman es
e. Ria adalah genangan air laut yang terdapat pada lembah sungai yang
mengalami penurunan.
f. Teluk adalah laut yang menjorok ke darat.
2.1.3 Pantai dengan pengaruh kegiatan manusia:
a. Pemukiman Tradisional:
Pantai dan pesisir telah terubah dari bentang dan bentuk semula oleh
kebutuhan manusia yang dibangun sepanjang pantai atau pesisir. Pemukiman
dan pelabuhan merupakan perubahan yang paling awal dilakukan di pantai.
- Diatas perairan:
Manusia yang kehidupannya tergantung pada laut merasa nyaman
tinggal dan membangun pemukimannya di atas air (Suku Bajo, Orang Laut,
dll). Pemukiman dibangun dan disangga oleh tiang kayu di atas batas pasut
tertinggi.
- Diatas pematang pantai :
Pemukiman dapat juga dibangun diatas rataan pasir pantai yang
terbebas dari pasang tertinggi, di tempat mana manusia dapat memperoleh air
tawar dari sumber atau dengan membuat sumur. Kegiatan meramu hutan dan
bercocok ringan mulai dilakukan.
b.Pemukiman baru
Pembangunan pemukiman baru dilakukan di pesisir dengan memperkuat
pantai, membuat perlindungan dari erosi dan limpasan gelombang.
Pembuatan turap pelindung mengubah sama sekali bentang pantai. Bakau
dihilangkan untuk memperoleh pandangan ke laut lepas.
c.Pelabuhan
Tempat berlabuh memerlukan perairan tenang terbebas setiap saat dari
kesulitan sandar dan memrlukan perairan dalam. Perluasan pelabuhan untuk
ukuran kapal lebih besar mengubah bentang alam, yang semula hanya terbuat
dari dermaga kayu sederhana menjadi demikian masif terbuat dari bangunan
beton dengan turap. Pembangunan pelabuhan mengubah bentang pantai.
d.Kota Besar Pesisir
Pembangunan pemukiman berskala besar dari perluasan kota cenderung
berdampak pada terubahnya bentang alam wilayah pesisir menjadi blok-blok
perumahan yang penataannya lebih didasarkan pada efisiensi ruang
semaksimal mungkin. Kondisi demikian tidak lagi mengindahkan keperluan
keseimbangan estetika mupun daya dukung lingkungan. Adakalanya
pengelolaan limbah pemukiman juga terabaikan dengan dampak semakin
buruknya kualitas pantai dan perairan.
e.Pantai Reklamasi:
Reklamasi pantai demi memperoleh lahan lebih luas merupakan kegiatan
palingburuk yang mengubah bentang alam asli pantai dan wilayah
pesisir.Penataan ruang bentang alam yang diperoleh harus dilakukan dengan
perhitungan dan perencanaan yang matang sehingga ruang baru dapat
menyatu dengan bentang alam asli disekelilingnya.
f.Tambak (ponds):
Tambak dibangun diperairan intertidal dengan membuka tutupan lahan asli
berupa bakau dan lahan rawa. Kegiatan ini mengubah bentang alam dalam
skala luas di pesisir datar dengan kisaran pasut tidak terlalu kuat. Seringkali
tambak dibuat langsung di perairan pinggir laut, namun seringkali
menyisakan rataan tipis bakau sebagai pelindung dan penangkap sedimen.
Pertambakan luas dikembangkan di perairan tepian kontinen.
g. Hunian wisata:
Beberapa tempat terpilih sebagai kegiatan hunian wisata, dalam format besar
dan modern maupun kecil bernuansa ekowisata. Bentang alam umumnya
terubah pada hunian wisata masif dan modern berupa hotel atau bungalow,
sementara nuansa asli seringkali justru dipertahankan pada hunian ekowisata.

2. 2 Laut
Laut adalah bagian dari permukaan bumi yang digenangi oleh air dan
mempunyai kadar garam yang cukup tinggi. Ilmu yang mempelajari laut adalah
oseanografi. Indonesia adalah Negara maritime, luas laut territorial sebesar 3,1
juta km2 atau kira-kira 63 % dari seluruh wilayah Indonesia.
• Jenis-jenis laut
Laut dapat dikelompokkan menurut letak, kedalaman, dan terjadinya.
1. menurut letaknya, laut dapat di bedakan menjadi tiga, yaitu sebagai
berikut.
a. laut tepi adalah laut yang terletak di tepi benua, seakan-akan terpisah oleh
sederetan pulau-pulau atau jajazirah, seperti laut cina selatan.
b. Laut pertengahan adalah laut yang terletak di antara benua, seperti laut
tengah yang berada di antara benua eropa, benua afrika dan benua asia.
c. Laut pedalaman adalah laut yang berada di tengah-tengah benua atau laut
yang dikelilingi oleh daratan, seperti laut mati, laut hitam, dan laut kaspia.
2. menurut kedalamanya, laut dapat dibedakan menjadi empat, yaitu sebagi
berikut.
a. zona litoral (zona pesisir), yaitu laut yang terletak di antara garis pasang
dan garis surut.
b. Zona neritios, yaitu laut yang mempunyai kedalaman dari 0 m - 200 m.
wilayah ini memiliki cirri-ciri:
1. sinar matahari masih tembus sampai dasar laut
2. kedalaman 200 m
3. tempat ikan dan tumbuhan laut, seperti yang terdapat di laut jawa,
selat malaka, dan laut arafuru
c. zona bathyal, yaitu laut dengan kedalaman 200 m – 1000 m. wilayah ini
memiliki cirri-ciri:
1. sinar matahari tidak bisa mencapai dasar laut
2. ikan dan tumbuhan yang dihidup di wilayah ini mulai berkurang
d. zona abyssal, yaitu laut yang mempunyai kedalaman 1000 m – sampai
6000 m. wilayah ini memiliki cirri-ciri:
1. sinar matahari tidak ada lagi
2. suhu sangat rendah hingga mencapai titik beku
3. tumbuhan dan binatang yang ada sangat terbatas.

3. menurut terjadinya, laut dapat dibedakan menjadi dua, yaitu


a. laut trangresi (laut genangan), yaitu laut yang terjadi setelah zaman es
berakhir, dengan kedalaman kurang dari 200 m. contoh, laut transgresi
adalah laut yang memisahkan pulau-pulau di Indonesia.
b. laut ingresi (laut tanah turun), yaitu laut yang terjadi akibat tanah longsor,
patahan atau pelipatan kulit bumi dan biasanya sangat dalam. Contohnya,
laut banda

2.3 Morfologi Laut Dan Pantai


Pada mulanya dipercaya bahwa permukaan dasar lautan itu adalah datar dan
tidak mempunyai bentuk. Namun, ilmu-ilmu modern sekarang telah membuktikan
bahwa topografi laut kompleks seperti daratan.
Dasar laut hamper sama dengan permukaan bumi, ada yang datar, rata, lereng,
ngarai, lembah, dan ada juga dataran rendah, dataran tinggi, dan gunung berapi.
• Relief dasar laut
a. daerah jeluk (abisal)
daerah atau kawasan ini relative datar terletak di bagian laut dalam.
Kawasan abisal luasnya mencakup hingga dua pertiga luas dasar lautan.
b. Trench
Palung memanjang adalah ngarai dasar laut sempit yang dalam dan
panjang. Bagian laut yang terdalam adalah berbentuk seperti saluran yang
seolah-olah terpisah sangat dalam yang terdapat di perbatasan antara benua
dengan kepulauan. Contohnya palung jawa. Palung ini ada yang mencapai
kedalaman 7700 m.
c. Seamount
Gunung laut adalah gunung yang ada di dasar laut. Gunung tersebut
merupakan gunung-gunung berapi yang muncul dari dasar lautan, tetapi
tidak dapat mencapai permukaan laut. Seamount mempunyai lereng yang
curam, berpuncak runcing dan kemungkinan mempunyai tinggi 1 km.
d. pulau gunung api
pulau gunung api adalah gunung api laut yang tersembul hingga
permukaan laut.
e. punggung laut atau pematang tengah samudera
pematang tengah samudera adalah pegunungan besar dan sangat panjang
yang ada di tengah samudera. Panjangnya hingga puluhan ribu kilometer.
Contohnya. Pematang tengah samudera pasifik dan pematang tengah
samudera atlantik.
f. atol-atol
daerah ini terdiri dari kumpulan pulau-pulau yang sebagaian tenggelam di
bawah permukaan air. Batu-batuan yang terdapat di sini ditandai oleh
adanya terumbu karang yang terbentuk seperti cincin.
Adapun Pantai yaitu terdiri dari beberapa kelompok yaitu:
a.Pantai curam singkapan batuan :
Jenis pantai ini umumnya ditemukan di pesisir yang menghadap laut lepas
dan merupakan bagian jalur tunjaman/tumbukan, berupa pantai curam
singkapan batuan volkanik, terobosan, malihan atau sedimen. Jenis pantai
ditemukan pantai barat Sumatra, Pulau Simeuleule hingga Enggano, Pantai
Selatan Jawa, Nusa Dua-Bali, Pantai selatan Lombok - Flores, Sumba,
Sabu, Rote, Timor, Solor - Wetar, Pantai timur Tanimbar, Pantai utara
Ceram Irian Jaya.
b.Pantai landai atau datar:
Pesisir datar hingga landai menempati bagian mintakat kraton stabil atau
cekungan belakang. Absennya gejala geologi berupa pengangkatan dan
perlipatan atau volkanisme, pembentukan pantai dikendalikan oleh proses
eksogen cuaca dan hidrologi. Estuari lebar menandai muara dengan tutupan
tebal bakau. Bagian pesisir dalam ditandai dataran rawa atau lahan basah.
Sedimentasi kuat terjadi di perairan bila di hulu mengalami erosi. Progradasi
pantai atau pembentukan delta sangat lazim. Kompaksi sedimen diiringi
penurunan permukaan tanah, sementara air tanah tawar sulit ditemukan.
c.Pantai dengan bukit atau paparan pasir:
Pantai menghadap perairan bergelombang dan angin kuat dengan asupan
sedimen sungai cukup, umumnya membentuk rataan dan perbukitan pasir.
Kondisi kering dan berangin kuat dapat membentuk perbukitan pasir. Air
tanah seringkali terkumpul dari air meteorik yang terjebak. Sementasi
sedimen terbentuk bila terdapat cukup kelembaban dari air laut (spray) dan
terik matahari. Jenis pantai ini berkembang baik di perairan yang menghadap
samudra Hindia (Sumatra pantai barat, Jawa, dst.). Paparan pasir juga
terbentuk di perairan yang menghadap cekungan dalam di pulau kecil atau
gunung api sejauh cukup landai lereng pantai dan sedimen sungai serta agitasi
gelombangnya.
d. Pantai lurus dan panjang dari pesisir datar:
Pantai tepian samudra dengan agitasi kuat gelombang serta memiliki
sejumlah muara sungai kecil berjajar padanya dengan asupan sedimen, dapat
membentuk garis lurus dan panjang pantai berpasir. Erosi terjadi bila terjadi
ketidak seimbangan lereng dasar perairan dan asupan sedimen.
e. Pantai berbukit dan tebing terjal:
Bentang pantai ini ditemukan di berbagai mintakat berbeda, yaitu di jalur
tumbukan/tunjaman, jalur volkanik, pulau-pulau sisa tinggian di paparan tepi
kontinen, jalur busur luar atau jalur tektonik geser. Batuan keras yang terkerat
patahan dan rekahan umun dijumpai di kawasan yang gejala tektoniknya kuat.
Batuan terobosan atau bekuan tufa dapat membentuk tebing terjal di pantai
pulau volkanik. Di kawasan dengan proses pengangkatan dan pelipatan,
kecuraman lereng pantai atau bukit adakalanya tergantung arah lipatan dan
kemiringan perlapisan dan kekerasan maupun kestabilan batuannya.
Terjalnya tebing pantai dan kuatnya agitasi gelombang meniadakan peluang
terumbu karang tumbuh, demikian halnya dengan bakau. Tutupan tumbuhan
masih mampu tumbuh di lapukan batuan, terutama di kawasan dengan curah
hujan memadai.
f. Pantai erosi
Terjadinya erosi terhadap pantai disebabkan oleh adanya: batuan atau
endapan yang mudah tererosi, agen erosi berupa air oleh berbagai bentuk
gerak air. Gerak air dalam hal ini bisa berupa arus yang mengikis endapan
atau agitasi gelombang yang menyebabkan abrasi pada batuan. Erosi tidak
hanya berlangsung di permukaan, namun juga yang terjadi di permukaan
sedimen dasar perairan. Erosi maksimum terjadi bila enersi dari agen erosi
mencapai titik paling lemah materi tererosi. Pada sedimen lepas di pantai,
arus sejajar pantai oleh adanya gelombang atau arus pasang surut sudah
mampu menjadi penyebab erosi. Erosi yang terjadi pada dasar perairan akan
mengubah lereng yang berdampak pada perubahan posisi jatuhnya enersi
gelombang pada pantai. Berikutnya, agitasi gelombang dapat merusak titik
terlemah dari apapun yang ditemukan dengan enersi maksimal. Pencapaian
titik terlemah dapat terjadi bila saat badai dengan gelombang kuat terjadi
bersamaan dengan posisi paras muka laut jatuh pada sisi paling lemah, yaitu
permukaan rataan pasir pantai. Erosi diperparah bila sedimen sungai yang
menjadi penyeimbang tidak cukup mengganti sedimen yang tererosi. Jenis
pantai dengan ancaman seperti ini terdapat di pesisir barat Sumatra, selatan
Jawa dan beberapa tempat yang menghadap perairan dengan agitasi
gelombang kuat. Pada tebing pantai batuan keras, abrasi terjadi pula namun
memerlukan waktu lama untuk menghasilkan dampak yang terlihat. Takik
pada batuan di ketinggian tertentu diakibatkan kerjaan abrasi ini, bila takik
terlalu dalam dan beban tidak dapat tertahan lagi, bagian atas tebing runtuh.
Pada beberapa kejadian, takik juga dipercepat dalamnya oleh kegiatan
pelubangan biota.
g. Pantai akresi:
Proses akresi terjadi di pesisir yang menerima asupan sedimen lebih dari
jumlah yang kemudian dierosi oleh laut. Dengan demikian, akresi merupakan
kebalikan dari proses erosi. Keseimbangan yang menyebabkan dua proses
tersebut berlangsung bergantian adalah kondisi: berubahnya paras muka laut,
perubahan enersi agen erosi, perubahan jumlah sedimen yang tersedia, dan
lereng dari dasar perairan. Akresi pantai oleh sedimen halus sering diikuti
tumbuhnya bakau yang berfungsi kemudian sebagai penguat endapan baru
dari erosi atau longsor. Kecepatan akresi di beberapa pantai dikendalikan oleh
intensifnya sedimentasi hasil erosi di hulu.
2.4 kualitas Air
• Salinitas
Salinitas adalah material yang terlarut dalam air dalam I kg air. air laut
mengandung garam. Kandungan unsure kimia paling besar dalam air laut
selain air adalah Natrium Chlorida (NaCl) atau garam. Setiap satu kilometer
kubik air laut mengandung sekitar 969 juta ton oksigen, 122 juta ton
hydrogen, 21,5 juta ton khlor, dan 12 juta ton natrium. Banyak sedikitnya
garam berpengaruh terhadap kegaraman atau salinitas air laut.
Di dekat khatulistiwa, salinitas mempunyai nilai rendah. Salinitas tertinggi
terdapt di daerah lintang 20˚ LU dan 20˚ LS, kemudian menurun kembali pada
daerah lintang yang lebih tinggi. Keadaan salinitas yang rendah pada daerah
sekitar ekuator disebabkan oleh tingginya curah hujan. Di daerah
subtropics,terutama yang beriklim kering ,penguapan lebih tinggi daripada
curah hujan sehingga salinitas dapat mencapai 45 ‰.Contohnya,di Laut
Merah dan Lagoon yang ada di texas,Amerika Serikat.
Besar kecilnya salinitas sangat di pengaruhi oleh bentang laut dan iklim.
a. Pengaruh Bentang Laut terhadap Salinitas
Bentang lautadalah posisi laut terhadap daratan.Bentang laut
ada yang tertutup dan ada yang terbuka.Pada laut yang tertutup
dan ada yang terbuka.Pada laut yang tertutup airnya tidak mudah
tercampur dengan air laut atau air tawar lainnya.Oleh karena
itu,bentang laut yang tertutup biasanya memiliki salinitas yang
tinggi.Contohnya,Laut Hitam,Laut Tengah,Laut Kaspia,dan Laut
Mati.Laut tersebut dalam sehingga hanya sedikit pertambahan air
tawarnya.
b. Pengaruh Iklim terhadap Salinitas
Laut yang terletak di wilayah subtropis cenderung
memiliki salinitas lebih tinggi.Mengapa? Karena di wilayah
subtropis kondisi atmosfer cenderung terdapat sedikit awan
sehingga mata hari bersinar terus sepanjang hari.Akibatnya,terjadi
penguapan yang sangat besar.Penguapan tinggi berakibat kadar
garam air yang tertinggal semakin besar.Hal itu berbeda dengan
wilayah tropis seperti Indonesia,terutama Indonesia bagian barat.Di
wilayah ini setidaknya enam bulan setiap tahun.Matahari bersinar
tidak satu hari penuh karena sering ada awa.Hal itu menyebabkan
penguapan air laut tidak setinggi penguapan di wilayah
subtropis.Akibatnya salinitas di wilayah ini cenderung
rendah.Salinitasnya kurang dari 30‰.Berbeda dengan wilayah
Laut Tengah dan Laut Mati yang salinitasnya bisa mencapai lebih
dari 40‰ (per mil)
• Suhu Air Laut
Suhu air laut.terutama permukaan air laut,di tentukan oleh pemanasan
matahari Intensitas pemanasan matahari senantiasa beruba sehingga suhu
air laut akan berubah sesuai dengan perubahan intensitas penyinaran
matahari.Perubahan suhu ini dapat terjadi secara harian,musiman,tahunan
dan jangka panjang.
Panas air laut berasal dari sinar matahari.Semakin dalam laut semakin
sedikit menerima sinar matahari.Oleh karena itu,semakin ke bawah
semakin dingin.Demikian pula semakin mendekati kutub.suhunya semakin
dingin.Suhu air laut bervariasi antara-2˚C HINGGA 32˚ c.Separuh air laut
memiliki suhu di bawa 10˚ C.Suhu air laut -2˚ Cterjadi di wilayah iklim
dingin.sedangkan suhu air laut 32˚ C terjadi diwilayah subtropics ketika
musim panas.
Suhu air laut berkisar antara -2˚ C sampai 40˚ C.Hal ini tergantung musim
dan letak pada garis lintang.Fluktuasi suhu permukaan air laut pada umumnya
tidak lebih dari 1˚ C setiap harinya,sedangkan suhu maksimum di lautan
terbuka tidak akan lebih dari 30˚ C.
• .Kecerahan Air Laut
Cahaya matahari yang sampai di permukaan air laut akan di serap dan
diseleksi oleh air laut sehingga cahaya dengan gelombang yang panjang seperti
cahaya merah,ungu dan kuning akan hilang lebih dahulu.Cahaya dengan panjang
gelombang yang pendek mampu menembus permukaan yang lebih
dalam.Banyaknya sinar matahari yang masuk ke dalam laut berubah-ubah
tergantung pada intensitas cahaya,banyaknya pemantulan di permukaan,sudut
datang,dan transparansi air laut.
Perubahan intensitas cahaya di permukaan laut bervariasi berdasarkan
musim.Penurunan intensitas cahaya dan absorbsi akan berkurang karena di
pengaruhi oleh kedalaman.Cahaya dapat menembus lapisan perairan hinga
mencapai kedalaman 200 m.
Dengan adanya cahaya tersebut menyebabkan air laut berwarna.Warna air
laut bermacam-macam.Hal ini disebabkan karena beberapa factor,seperti:
a.warna biru karena pengaruh warna langit;
b.Warna kuning disebabkan karena warna lumpur yang berwarna kuning;
c.warna hitam karena adanya Lumpur yang berada di dasar laut;
d.wana hijau karena endapan dekat pantai yang memantulkan warna hijau;
e.warna merah karena pengaruh warna plankton merah yang terdapat di laut;
f.warna putih bila laut tersebut ditutupi oleh lapisan es.
BAB III
PENUTUP

1. Bentang alam wilayah pesisir dan pantai dibentuk oleh gejala endogen
geologi. Tiga gejala utama tektonik yang mengontrol awal bentang alam
adalah tunjaman dan tumbukan lempeng, gerak geser antar lempeng,
gunung api dengan komponen gerak tegaknya. Cekungan belakang busur
ditandai oleh penurunan yang membentuk sedimen tebal. Jenis batuan
menentukan kestabilan pantai dan kemampuan bertahan dari kerjaan laut
dan cuaca.
2. Di perairan stabil tanpa gejala geologi (endogen), di bagian yang
mengalami pengaruh kuat perubahan paras muka laut, di pesisir dan di
pantai, selanjutnya pembentukan bentang alam lebih dipengaruhi oleh
gejala cuaca (erosi) dan laut (erosi, sedimentasi).
3. Pantai yang menghadap perairan terbuka dengan agitasi kuat memiliki
kota pantai yang berkembang di rataan pasir pantai, berawal dari
pemukiman dan pelabuhan sebagai bandar niaga di muara sungai.
Pemilihan muara di bentang manapun sebagai awal pemukiman sangat
umum dijumpai di Indonesia, di dataran alluvial, di kaki gunung pulau
volkanik, di pesisir perairan paparan tepian kontinen atau di pantai dataran
limpah banjir.
4. Kota pantai tumbuh dan berkembang sesuai status dan fungsinya dari saat
ke saat melalui beberapa perioda masa penjajahan dan kemudian masa
setelah kemerdekaan. Perkembangan dan perluasan kota yang berstatus
kota pusat pemerintahan terlihat lebih pesat.
5. Perluasan kota untuk pemukiman mulai terasa sejak 30 tahun terakhir.
Demikian halnya dengan pembangunan sarana pelabuhan dan
transportasi lain.
6. Sejumlah besar kota pantai berkembang pesat oleh peningkatan usaha
ekonomi perniagaan, pertanian/perkebunan dan industri, sementara
marikultur dan industri hilirnya hanya berkembang di beberapa kota pantai
saja atau hanya sebagai suplemen kecil usaha ekonomi. Perlu peningkatan
usaha ekonomi kelautan di segala lini (industri rekayasa, budidaya dan
tangkap, pengolahan, wisata, dll)
7. Pertumbuhan kota-kota pantai di akhir abad 20 an cenderung mangabaikan
daya dukung lingkungan di sekelilingnya serta ancaman bencana yang
berpotensi merusak. Keterbatasan ruang yang layak dikembangkan
menyebabkan perluasan merambah lingkungan yang seharusnya
dipertahankan sebagai penyangga, antara lain yang berada di hulu, hilir,
pantai dan perairan dengan pulau-pulau di depannya.
8. Cuaca, kondisi laut dan tektonik merupakan gejala-gejala yang mengontrol
bentang alam dari awal pembentukan hingga bentuk saat ini. Mengingat
demikian kuat pengaruhnya hingga saat ini seiring perkembangan kota,
maka gejala tersbut harus diperhitungkan sebagai potensi alam dalam
upaya mempertahankan kelestarian lingkungan kota pantai.
9. Jenis ancaman bencana pada kota-kota pantai beragam tergantung pada
gejala alam apa saja yang mengontrolnya. Namun secara regional,
ancaman kenaikan muka air laut estatik - walaupun akan dirasakan hampir
semua kota pantai dengan besaran dampak berbeda tergantung bentang
alam dan gelogi di atas mana kota dibangun. Kota pantai berbukit hampir
tidak terpengaruh oleh gejala ini sementara kota di pesisir delta atau pulau
kecil, akan merasakan akibat gejala ini dengan ancaman sangat serius pada
kerusakan langsung pada pantai oleh erosi dan penenggelaman.
DAFTAR RUJUKAN

-Hantoro W.S. 2001. Low stand sea level and landform changes: climatic
changes consequence to epicontinental shelf and fauna migration through
Indonesian.Archipelago. In Preceeding of: “The environmental and Cultural
History and Dynamics of the Australian-Southeast Asian Region” seminar,
Melbourne, December 10-12, 1996.
-www.goole.com
GELOMBANG

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah


Oseanografi
Yang dibina Oleh Bpk Bagus SetyoBudi Wiwoho M.Si

Oleh:
1. Siti Nurhasanah (106351400626)
2. Evy Agustina R (106351400629)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
Oktober, 2008
GELOMBANG

- Pengertian Gelombang
Gelombang adalah pergerakan naik dan turunnya air dengan arah tegak
lurus permukaan air laut yang membentuk kurva/ grafik sinusoidal. Gelombang
laut disebabkan oleh angin. Angin di atas lautan mentransfer energinya ke
perairan, menyebabkan riak-riak, alun/ bukit, dan berubah menjadi apa yang kita
sebut sebagai gelombang. Gelombang adalah suatu variabel dan corak di
permukaan laut. Gelombang dapat mencakup dari ukuran riak yang paling kecil
pada dinding air yang sangat besar yang diproduksi oleh gangguan kulit keras/
karang yang berhubungan dengan laut. Gelombang dipermukaan laut selalu
berubah-ubah dan bersifat dinamis. Gelombang tersebut berukuran dari riakan air
kecil sampai yang tersebar yang membentuk dinding air. Proses pembentukan
gelombang dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: angin, gravitasi, dan gempa.
Ketika gelombang bergerak naik dan turun dengan suatu gerakan kecil dari
sisi satu kembali ke sisi semula. Seperti contohnya pada pelampung yang
sebenarnya bergerak dalam suatu lingkaran (orbital). Gerakan pelampung
memberi gambaran suatu bentuk gelombang. Pelampung yang mengapung di air
pindah ke pola yang sama, naik turun di suatu lingkaran yang lambat, yang
dibawa oleh pergerakan air. Di bawah permukaan, gerakan berputar gelombang
itu semakin mengecil. Ada gerak orbital yang mengecil seiring dengan kedalaman
air, sehingga kemudian di dasar hanya akan meninggalkan suatu gerakan kecil
mendatar dari sisi ke sisi yang disebut surge.
Bentuk ideal dari suatu gelombang akan mengikuti gerak sinosoide. Selain
radiasi elektromagnetik, dan mungkin radiasi gravitasional, yang bisa berjalan
lewat vakum, gelombang juga terdapat pada medium yang karena perubahan
bentuk dapat menghasilkan gaya yang lentur dimana dapat juga berjalan dan
dapat memindahkan energi dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengakibatkan
partikel medium yang berpindah secara permanent, yaitu tidak ada perpindahan
secara masal. Dan setiap titik khusus berosilasi di sekitar satu posisi tertentu.
Suatu medium disebut linier jika gelombang yang berbeda disemua titik
tertentu di medium bisa di jumlahkan, terbatas jika terbatas, selain itu disebut tak
terbatas, seragam jika cirri fisiknya tidak berubah pada titik yang berbeda,
isotoprik jika ciri fisiknya sama pada arah yang berbeda.
- Pengaruh Gelombang
Gelombang dapat mempengaruhi kondisi sesungguhnya di alam,
pergerakan orbital di perairan dangkal (shallow water) dekat dengan kawasan
pantai. Dan ketinggian serta periode gelombang tergantung kepada panjang fetch
pembangkitnya. Fetch adalah jarak perjalanan tempuh gelombang dari awal
pembangkitannya. Fetch ini dibatasi oleh bentuk daratan yang mengelilingi laut.
Semakin panjang jarak fetchnya, ketinggian gelombangnya akan semakin besar.
Angin juga mempunyai pengaruh yang penting pada ketinggian
gelombang. Angin yang lebih kuat akan menghasilkan gelombang yang lebih
besar. Gelombang yang menjalar dari laut dalam (deep water) menuju kepantai
akan mengalami perubahan bentuk karena adanya perubahan kedalaman laut.
Apabila gelombang bergerak mendekati pantai, pergerakan gelombang di bagian
bawah yang berbatasan dengan dasar laut akan melambat. Ini adalah akibat dari
friksi atau gesekan antara air dan dasar pantai.
Sementara itu, bagian atas gelombang di permukaan air akan terus melaju.
Semakin menuju kepantai, puncak gelombang akan semakin tajam dan lembahnya
akan semakin datar. Fenomena ini yang menyebabkan gelombang tersebut
kemudian pecah. Pengaruh gelombang terhadap dasar laut sangat sedikit. Bila
gelombang bergerak ke continental shelf dan memasuki wilayah pantai dangkal
gelombang mulai terpengaruh oleh dasar laut. Dasar laut dangkal akan
mengakibatkan kecepatan, bentuk dan gerakan gelombang menjadi berubah.
Efek gelombang jelas nyata dan utama diamati di sepanjang potongan
pantai didalam zona antar tinggi - dan rendah- level pasang gelombang berada di
area ini membentuk lepas pantai yang jauh, dengan cepat mengeluarkan energi
yang disimpan sebagai gelombang pecah, atas garis pantai itu. Energi ini
digunakan untuk membawa sediment dari pantai zone gelombang yang memecah
gelombang. Sebagian besar sediment dimulai sebagai hasil erosi benua yang
bersebelahan oleh adanya tindakan atau dipindahkan kelaut dengan arus sungai
atau permukaan run off selama hujan badai dan kejadian lainya.
Di musim panas angin badai dan gelombang lebih lembut dan permukaan
pantai yang jarang menjadi penuh. Ketika gelombang musim panas lebih kecil
banyak orang bepergian ke arah pantai, mereka memindahkan pasir yang sangat
lembut dari bar dan masuk surfing. Ketika retakan gelombang ini menghalau air
karam masuk ke dalam permukaan pantai yang tak terbungkus dan kembali ke
lepas pantai seperti arus di bawah permukaan tanah. Pasir terbawa dari bar
kemudian terendap dan tinggal pada permukaan pantai.
Ketika gelombang membentur pantai, bentuk gelombang akan memecah
pada suatu penjuru/sudut. Jika gelombang sedang mendekati pantai dari arah kiri,
gelombang akan pecah pada suatu penjuru, mengambil pasir dan
memindahkannya dengan gerakan yang secara langsung di lepas pantai ke dalam
zone gelombang yang memecah. Pasir akan diterbangkan dari pantai oleh
gelombang sebelumnya. Sediment segera disimpan dan dipindahkan oleh
gelombang lainnya,, dan disimpan kembali sedikit lebih jauh, di sepanjang pantai
yang menggantikan butir pasir yang telah dipindahkan sebelumnya. Selanjutnya
gerakan sediment akan pindah pada sepanjang pantai dan suatu gerakan yang
berliku-liku. Ukuran sediment yang dibawa oleh arus longsor tergantung atas
energi gelombang yang membentur pantai pada waktu tertentu.

- Karakteristik Gelombang
Gelombang yang terjadi di lautan diklasifikasikan menjadi beberapa
macam tergantung kepada gaya pembangkitnya. Pembangkit gelombang laut
dapat disebabkan oleh angin (gelombang angin), gaya tarik menarik bumi- bulan-
matahari (gelombang tsunami), ataupun gelombang yang disebabkan oleh gerakan
kapal. Gelombang yang sehari-hari terjadi dan diperhitungkan dalam bidang
teknik pantai adalah gelombang angin dan pasang-surut (pasut).
Gelombang dapat membentuk dan merusak pantai dan berpengaruh pada
bangunan-bangunan pantai. Energi gelombang akan membangkitkan arus dan
mempengaruhi pergerakan sediment dalam arah tegak lurus pantai (cross-shore)
dan sejajar pantai (longshore). Pada perencanan teknis bidang teknik pantai,
gelombang merupakan faktor utama yang diperhitungkan karena menyebabkan
gaya-gaya yang bekerja pada bangunan pantai.
Ada dua tipe gelombang, bila dipandang dari sifat-sifatnya yaitu::
- Gelombang pembangunan/ pembentuk pantai (Constructive wave) dan
- Gelombang perusak pantai (Destructive wave).
Yang termasuk gelombang pembentuk pantai, bercirikan mempunyai ketinggian
kecil dan kecepatan rambatnya rendah. Sehingga saat gelombang tersebut pecah di
pantai akan mengangkut sediment (material pantai). Material pantai akan
tertinggal di pantai (deposit) ketika aliran balik dari gelombang pecah meresap
kedalam pasir atau pelan-pelan mengalir kembali ke laut.
Sedangkan gelombang perusak pantai biasanya mempunyai ketinggian dan
kecepatan rambat yang besar (sangat tinggi). Air yang kembali berputar
mempunyai lebih sedikit waktu untuk meresap ke dalam pasir. Ketika gelombang
dating kembali menghantam pantai akan ada banyak volume air yang terkumpul
dan mengangkut material pantai menuju ke tengah laut atau ke tempat lain.
Setiap gelombang akan mempunyai puncak dan lembah, sehingga ciri-ciri
yang dipunyai gelombang adalah tinggi gelombang, jarak gelombang dan periode
gelombang. Puncak gelombang adalah ujung yang paling tinggi dari gelombang.
Puncak gelombang adalah jarak ke atas dari lembah sampai puncak gelombang,
sedangkan jarak gelombang adalah jarak horizontal antar kedua puncak lembah
gelombang adalah titik dasar gelombang. Serangkaian jalannya gelombang dari
arah yang sama disebut deretan gelombang.
Gelombang memiliki tipe berdasarkan periodenya, yaitu:
1. Ripples (riak gelombang), memiliki periode 1 detik
2. Fully developed seas, memiliki periode 5-12 detik
3. Swell (gelombang besar), memilki periode 6-16 detik
4. Surf, memiliki periode 1-3 menit
5. Tsunami, memiliki periode 10-20 menit
6. Tides (pasang-surut), memilki periode 12-24 jam.
Pada umumnya sebagian besar daerah pantai dihantam gelombang pasang
setiap hari selama pasang. Gelombang pasang ini terbentuk akibat pangaruh gaya
gravitasi bumi yaitu adanya gaya tarik-menarik antara bulan dan matahari
terhadap air laut, waktu terjadinya kira-kira 12 atau 21 jam tergantung pada letak
lintang suatu daerah. Gelombang Tsunami merupakan gelombang yang salah
satunya dihasilkan oleh gempa bumi.
Gelombang mempunyai ketidaksamaan pada kedalaman dan kedangkalan
airnya, sehingga sering dipisahkan sebagai gelombang air dalam dan gelombang
air dangkal. Suatu gelombang yang dapat dianggap sebagai:
a. gelombang air dalam jika rasio dari kedalaman dengan panjang
gelombang lebih dari 1: 2,
b. gelombang air dangkal jika rasio dari kedalaman dengan panjang
gelombang kurang dari 1: 25,
c. gelombang intermediet jika rasio dari kedalaman dan panjang
gelombang antara 1: 2 dan 1: 25.
Pengklasifikasian ini tergantung kedalaman air juga panjang gelombang.
Dalam kedalaman air yang sam maka panjang satu gelombang mungkin dapat
digolongkan sebagai gelombang dalam walaupun dengan panjang yang lain.
Gelombang yang sangat panjang mungkin diklasifikasikan sebagai gelombang air
dangkal. Sebagai contoh gelombang dengan tinggi 3 meter dari permukaan air
rata-rata dan panjangnya kurang dari 1 meter dianggap sebagai gelombang air
dalam, pada kedalam yang sama tsunami dengan panjang gelombang 75 km akan
termasuk dalam gelombang air dangkal.
Bentuk yang nyata dari suatu coastline akan mempengaruhi karakteristik
gelombang. Suatu contoh klasik adalah peningkatan pasang di (dalam) Teluk
Fundy. Di dalam area ini coastline Maine, Brunswick Baru, dan Nova Scotia
mengubah bentuk [dari;ttg] perairan ini untuk menciptakan suatu perbedaan besar
antara pasang tinggi dan rendah. Permukaan laut memberikan suatu pola teladan
bagi gelombang dari ukuran, bentuk, kecepatan bergerak dan arah yang berbeda.
Untuk mencoba didalam mengikuti kemajuan gelombang atau rangkaian
gelombang tertentu bahkan untuk suatu jangka waktu yang pendek hampir
mustahil. Oceanographer biasanya mulai mempelajari gelombang di bawah
kondisi-kondisi yang dikendalikan. Mereka melakukan ini di dalam suatu
laboratorium, dan jika mereka membuat dan mengamati gelombang di dalam
suatu tangki/tank gelombang atau saluran gelombang. Suatu saluran gelombang
selalu menggunakan tangki/tank dengan sisi gelas/kaca. Gelombang dihasilkan
oleh suatu pedal yang digerakkan oleh mesin. Suatu alat penahan goncangan atau
pantai tiruan dapat mencegah dari air di sekeliling saluran mem-backup dan
memproduksi gelombang yang kacau. Pantai dapat menjadi bagian dari
eksperimen yang nyata jika berbagai keinginan untuk mengamati gelombang
dapat dipecahkan.
Jika suatu gelombang yang spesifik di pilih dan diikuti, akan ditemukan
bahwa gelombang akan membantu melewati rentet gelombang dengan cepat.
Seperti melanjut untuk maju melalui rentet gelombang, dan secara berangsur-
angsur akan hilang energi dan tingginya akan menurun. Ketika menjangkau
medan, gelombang akan menghilang lenyap dan digantikan oleh gelombang
lainnya, gelombang dibentuk naik pada tingkat dari kerak. Penghilangan
gelombang yang terkenuka dalam kaitan dengan tenaga/energi akan pindah dan
bergerak ke air yang tenang dan lenyap, dan penyebabnya adalah energi yang
sedikit / kecil. Faktanya bahwa tanpa alternative dapat terjadi dari masing-masing
gelombang tertentu di dalam suatu tran yang benar-benar bergerak lebih cepat dari
kelompok gelombang. Pengamatan yang diulangi menunjukkkan bahwa dalam
kesukaran tenaga getaran kelompok adalh separuh energi dari suatu gelombang
individu.
- Gerakan air dalam gelombang: Gerakan partikel muka air sedikit
hubungannya dengan jumlah gelombang channel. Muka air sedikit berpindah
dengan tiap-tiap gelombang yang berlalu. Sebagai akibatnya air menunjukkan
orbit gerakan gelombang yang lewat. Gerakan ke atas dan masing-masing ujun,
bawah dan punggung dalam tiap lembah sangat sedikit permukaan yang bergerak,
karena orbitnya tidak nenyeluruh. Pergerakan yang sedikit dari air dinamakan
dengan Mass Transport
The Surf Zone merupakan suatu area dimana gelombang mulai masuk
dalam perairan laut dangkal untuk pertama kali sehingga terdapat suatu
kenampakan gelombang yang bergulung-gulung menuju ke arah daratan dan
selanjutnya menuju pada daerah pecah gelombang.
The Swash Zone merupakan zone dimana air bergerak secara laminar kea
rah daratan, karena gelombang sudah pecah sehingga hanya merupakan suatu
aliran yang mirip dengan limpasan permukaan.
- Gelombang Angin: Ketika angin mulai berhembus melintasi hamparan
pantai, energi dari angina ditransfer ke air dalam bentuk gelombang. Ini memeng
sifat dari angin, yang menimbulkan pergeseran seperti gerakan lintasan air.
Pergeseran ini menekan melawan air dan jika energinya sangat akan membentuk
riakan, jika anginnya sangat keras akan membentuk gelombang besar dari riakan
tersebut.
- Gelombang permukaan laut : gelombang dihasilkan oleh angina yang
berubah dalam jumlah besar. Gelombang ini berjalan dari tempat yang berbeda,
akan bertemu dengan sudut yang tidak sama. Angin jarang berhembus dalam arah
yang tetap pada kecepatan yang tetap. Oleh karena itu setiap perubahan
gelombang dihasilkan pada daerah terbuka dan gelombang yang terdiri dari
beberapa ketidaksamaan ukuran, kecepatan dan bentuk: rip currents, longshore
currents.
- Rip currents adalah gelombang yang bergerak di dalam permukaan laut dan
menyusur pada dasar laut di perairan dangkal terutama pada paparan benua.
- Longshore currents adalah gelombang yang gerakannya menyusur garis
pantai. Gelombang ini disebabkan karena adanya sudut dating gelombang
datang dan waktu datangnya gelombang yang tidak sama. Gelombang yang
datang dengan membentuk sudut terhadap pantai akan dipantulkan kembali
tegak lurus terhadap pantai yang kemudian pada zone surf, gelombang pantul
ini akan dibawah kea rah pantai kembali oleh gelombang yang datang pada
waktu berikutnya yang membentuk sudut terhadap pantai. Hal ini berlangsung
sepanjang pantai sehingga gerakan gelombang seolah-olah menyusur garis
pantai.
Pantulan, Pembiasan, Pembelokan Gelombang
Jika gelombang bertemu dengan benda-benda yang tak bergerak aliran air
yang curam, jurang vertical, atau pemecah gelombang, gelombang mungkin akan
dipantulkan, dibiaskan atau dibelokkan. Jika deretan gelombang dipantulkan,
bentuk energi yang pindah didorong juga olehnya sampai tambahan puncak
dengan lembah bertemu. Sebagai contoh jika gelombang bertabrakan dengan
pembelah ombak akan dipantulkan kembali.
- Refleksi
Reflaksi yaitu gelombang akan dipantulkan apabila menemui bentuk
pantai yang memiliki topografi Cliff atau biasa disebut pantai Cliff ataupun suatu
barier/ penghalang, karena memiliki bidang pantul yang relatif tegak lurus
terhadap arah gelombang dating.
Gelomabng yang dating akan dipantulkan kembali menuju kea rah di mana
gelombang itu tadi berasal, hanya pada saat puncak gelombang menyentuh
dinding pantai cliff, maka pantulan yang terjadi dimulai dalam bentuk lembah
gelombang.
- Refraksi
Refraksi yaitu gelombang akan dibelokkan menuju suatu pusat sehingga
tampak gelombang yang dating akan menuju pada suatu titik. Terjadi pada pantai
yang memiliki suatu tanjung atau headland, sehingga gelombang akan mengarah
pada tanjung ataupun headlandstersebut, karena arah gelombang akan mengikuti
garis kontur yang bentuknya mirip dengan kenampakan topografi pantai tersebut.
- Difraksi
Difraksi yaitu gelombang akan dibelokkan menuju ke segala arah sehingga
tamp[ak gelombang akan menyebar pada seluruh garis pantai. Hal ini biasanya
terjadi apabila gelombang air memasuki pantai yang memiliki teluk (masa lautan
masuk kea rah daratan) sehingga gelombang akan di distribusikan secara merata
dan menyebar ke segala garis pantai.
- Tenaga Pembentuk Gelombang
Semua gelombang dipengaruhi atau dihasilkan oleh salah satu dari 3 faktor
atau mekanisme dasar yaitu angin, gravitasi, dan gempa. Ketika gelombang
terbentuk, gelombang mampu bergerak sepanjang laut interlokal dengan tenaga
yang kecil. Ketika gelombang bergerak ke atas kerak samudera, kebanyakan
gelombang hanya mempunyai sedikit interaksi dengan kerak. Ketika bergerak
naik ke landas kontinen, terutama ketika masuk ke kawasan pantai dangkal,
gelombang mulai berhubungan dengan kerak. Hasilnya adalah suatu perubahan
dalam bentuk kecepatan gelombang. Di dalam air dangkal gelombang akan
secepatnya dimodifikasi menjadi gelombang yang memecah pada suatu garis
pantai dan melepaskan suatu jumlah energi yang dapat diperhitungkan.
Gelombang dapat juga dibelokkan, dibiaskan dan dipantulkan oleh dermaga,
pulau dan berbagai hal lainnya. Kondisi topografi dasar laut dan keadaan angin.
Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa keadaan gelombang tertinggi terjadi
pada periode bulan desember sampai februari (musim barat), ketinggian
gelombang mencapai 1,5 m – 2 m. Sedangkan pada bulan lainnya tinggi
gelombang yang tercatat kurang dari 1,5 meter (Nurjaya,1993).
Penyebab utama terjadinya gelombang adalah angin. Gelombang
dipengaruhi oleh kecepatan angin, lamanya angin bertiup, dan jarak tanpa
rintangan saat angin bertiup (fetch). Gelombang terdiri dari panjang gelombang,
tinggi gelombang, periode gelombang, kemiringan gelombang dan frekuensi
gelombang. Panjang gelombang adalah jarak berturut-turut antara dua puncak atau
dua buah lembah. Tinggi gelombang adalah jarak vertikal antara puncak dan
lembah gelombang. Periode gelombang adalah waktu yang dibutuhkan gelombang
untuk kembali pada titik semula. Kemiringan gelombang adalah perbandingan
antara tinggi dan panjang gelombang. Frekuensi gelombang adalah jumlah
gelombang yang terjadi dalam satu satuan waktu. Pada hakikatnya, gelombang
yang terbentuk oleh hembusan angin akan merambat lebih jauh dari daerah yang
menimbulkan angin tersebut. Hal ini yang menyebabkan daerah di pantai selatan
Pulau Jawa memiliki gelombang yang besar meskipun angin setempat tidak begitu
besar. Gelombang besar yang datang itu bisa merupakan gelombang kiriman yang
berasal dari badai yang terjadi jauh dibagian selatan Samudera Hindia
DAFTAR RUJUKAN

Setiabudi, Bagus W. 1999. Pengantar Oseanografi. Malang: Universitas


Negeri Malang.
Triatmadja, R. 1999. Teknik Pantai. (Online) {http://elisa.ugm.ac.id/} diakses
tanggal 18 September 2008.
Triatmodjo, B. 1999. Pantai. (Online) {http://www.reefnews.com/} diakses
tanggal 18 September 2008.
(Online) http://www.geography.learnonthe internet.co.uk/ diakses tanggal 18
September 2008.
Nontji, Anugerah. 1986. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.
SIRKULASI UDARA DI ATMOSFER

Makalah
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Oseanografi
Yang Dibimbing Oleh Bpk. Bagus Setiabudi Wiwoho

Oleh :

Dita Kusumaningtyas (106351400638)

Wahyu Setiyawan (106351400662)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN GEOGRAFI

Ok tober, 2008
SIRKULASI UDARA DI ATMOSFER

A. Atmosfer

Atmosfer adalah lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari
permukaan planet tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari
ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan
bumi. Atmosfer tersusun atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi
di lapisan tersebut. Transisi antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap.
Studi tentang atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena
pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang. Dengan
peralatan yang sensitif yang dipasang di wahana luar angkasa, kita dapat memperoleh
pemahaman yang lebih baik tentang atmosfer berikut fenomena-fenomena yang terjadi di
dalamnya.

Atmosfer Bumi terdiri atas nitrogen (78.17%) dan oksigen (20.97%), dengan sedikit
argon (0.9%), karbondioksida (variabel, tetapi sekitar 0.0357%), uap air, dan gas lainnya.
Atmosfer melindungi kehidupan di bumi dengan menyerap radiasi sinar ultraviolet dari
matahari dan mengurangi suhu ekstrem di antara siang dan malam. 75% dari atmosfer ada
dalam 11 km dari permukaan planet. Atmosfer tidak mempunyai batas mendadak, tetapi agak
menipis lambat laun dengan menambah ketinggian, tidak ada batas pasti antara atmosfer dan
angkasa luar.

Atmosfer juga berfungsi sebagai payung atau pelindung kehidupan di bumi dari
radiasi matahari yang kuat pada siang hari dan mencegah hilangnya panas keruang angkasa
pada malam hari. Atmosfer juga merupakan penghambat bagi benda-benda angkasa yang
bergerak melaluinya sehingga sebagian meteor yang melalui atmosfer akan menjadi panas
dan hancur sebelum mencapai permukaan bumi. Lapisan atmosfer merupakan campuran dari
gas yang tidak tampak dan tidak berwarna. Empat gas utama dalam udara kering meliputi
(lihat tabel 1.1).
Tabel 1.1. Gas Utama dalam Udara Kering.
Macam gas Volume % Massa%
Nitrogen 78,088 75,527
Oksigen 20,049 23,143
Argon 0,930 1,282
Karbondioksida 0,030 0,045
Total keseluruhan 99,097 99,097
Kondisi dan manfaat gas dalam atmosfer antara lain:
1. Nitrogen (N2) jumlahnya paling banyak, meliputi 78 bagian. Nitrogen tidak langsung
bergabung dengan unsur lain, tapi merupakan bagian dari senyawa organik.
2. Oksigen (O2) sangat penting bagi kehidupan, yaitu untuk mengubah zat makanan
menjadi energi hidup.
3. Karbon dioksida (CO2) menyebabkan efek rumah kaca (greenhouse) transparan terhadap
radiasi gelombang pendek dan menyerap radiasi gelombang panjang. Dengan demikian
kenaikan kosentrasi CO2 di dalam atmosfer akan menyebabkan kenaikan suhu di bumi.
4. Ozon (O3) adalah gas yang sangat aktif dan merupakan bentuk lain dari oksigen. Gas ini
terdapat pada ketinggian antara 20 hingga 30 km. Ozon dapat menyerap radiasi ultra
violet yang mempunyai energi besar dan berbahaya bagi tubuh manusia.

Salah satu unsur yang penting dalam atmosfer adalah uap air. Uap air (H2O) sangat
penting dalam proses cuaca atau iklim, karena dapatmerubah fase (wujud) menjadi fase cair,
atau fase padat melalui kondensasidan deposisi. Perubahan fase air, dapat dilukiskan pada
gambar 1.

Gambar 1. Perubahan Fase Air.


Uap air merupakan senyawa kimia udara dalam jumlah besar yang tersusun dari dua
bagian hidrogen dan satu bagian oksigen. Uap air yang terdapat di atmosfer merupakan hasil
penguapan dari laut, danau, kolam, sungai dan transpirasi tanaman.
Atmosfer selalu dikotori oleh debu. Debu adalah istilah yang dipakai untuk benda
yang sangat kecil sehingga tidak tampak kecuali dengan mikroskop. Jumlah debu berubah-
ubah tergantung pada tempat. Sumber debu beraneka ragam, yaitu asap, abu vulkanik,
pembakaran bahan bakar, kebakaran hutan, smog dan lainnya. Smog singkatan dari smoke
and fog adalah kabut tebal yang sering dijumpai di daerah industri yang lembab. Debu dapat
menyerap, memantulkan, dan menghamburkan radiasi matahari. Debu atmosferik dapat
disapu turun ke permukaan bumi oleh curah hujan, tetapi kemudian atmosfer dapat terisi
partikel debu kembali. Debu atmosfer adalah kotoran yang terdapat di atmosfer.

B. Struktur Vertikal Atmosfer


Dengan memakai suhu sebagai dasar pembagian atmosfer, maka atmosfer terdiri dari lapisan
troposfer, stratosfer, mesosfer dan thermosfer. Lihat gambar 2.

Gambar 2. Pembagian lapisan atmosfer berdasarkan suhu.

a. Lapisan Troposfer
Gejala cuaca (awan, petir, topan, badai dan hujan) terjadi di lapisan troposfer.Pada
lapisan ini terdapat penurunan suhu yang terjadi karena sangatsedikitnya troposfer
menyerap radiasi gelombang pendek dari matahari,sebaliknya permukaan tanah
memberikan panas pada lapisan troposfer yangterletak di atasnya; melalui konduksi,
konveksi, kondensasi dan sublimasiyang dilepaskan oleh uap air atmosfer.Konduksi
adalah proses pemanasan secara merambat.Konveksi adalah proses pemanasan secara
mengalir.Kondensasi adalah proses pendinginan yang mengubah wujud uap air
menjadiair.Sublimasi adalah proses perubahan wujud es menjadi uap air.Pertukaran
panas banyak terjadi pada troposfer bawah, karena itu suhu turundengan bertambahnya
ketinggian pada situasi meteorologi (ilmu tentangcuaca). Nilainya berkisar antara 0,5 dan
1oC tiap 100 meter dengan nilai rata-rata 0,65o C tiap 100 meter.
Udara troposfer atas sangat dingin dengan demikian lebih berat dibandingkan dengan
udara diatas tropopause sehingga udara troposfer tidak dapat menembus tropopause.
Ketinggian tropopause lebih besar di ekuator daripada di daerah kutub. Di ekuator,
tropopause terletak pada ketinggian 18 km dengan suhu - 80o C, sedangkan di kutub
tropopause hanya mencapai ketinggian 6 km dengan suhu - 40o C. Tropopause adalah
lapisan udara yang terdapat diantara troposfer dengan stratosfer.
b. Lapisan Stratosfer
Lapisan atmosfer diatas tropopause merupakan lapisan inversi, artinya suhu udara
bertambah tinggi (panas) seiring dengan naiknya ketinggian. Disebut juga lapisan
Isothermis. Kenaikan suhu ini disebabkan oleh lapisan ozonosfer yang menyerap radiasi
ultra violet dari matahari. Bagian atas stratosfer dibatasi oleh permukaan diskontinuitas
suhu yang disebut stratopause. Stratopause terletak pada ketinggian 60 km dengan suhu
0o C.
c. Lapisan Mesosfer
Lapisan mesosfer ditandai dengan penurunan orde suhu 0,4o C setiap 100 meter, karena
lapisan ini mempunyai keseimbangan radiasi yang negatif. Bagian atas mesosfer dibatasi
oleh mesopause yaitu lapisan di dalam atmosfer yang mempunyai suhu paling rendah,
kira-kira -100o C. Ketinggian sekitar 85 km.
d. Lapisan Thermosfer
Lapisan ini terletak pada ketinggian 85 dan 300 km yang ditandai dengan kenaikan suhu
dari -100o C sampai ratusan bahkan ribuan derajat. Lihat gambar 3.
Gambar 3. Lapisan Thermosfer.

Bagian atas lapisan atmosfer dibatasi oleh termopause yang meluas dari ketinggian 300 km
sampai pada ketinggian 1000 km.
Suhu termopause adalah konstant terhadap ketinggian, tetapi berubah dengan waktu, yaitu
dengan insolasi (incoming solar radiation). Suhu pada malam hari berkisar antara 300 dan
1200o C dan pada siang hari antara 700 dan 1700o C. Densitas termopause sangat kecil, kira-
kira 10 kali densitas atmosfer permukaan tanah.

B. Efek Koriolis

Gaya koriolis, gaya ini timbul ini timbul karena rotasi bumi yang kadang-kadang disebut
gaya semu. Gaya koriolis adalah gaya fiktif yang dimunculkan pada sistem koordinat yang
tidak inersial. Pada system koordinat tidak inersial berlaku berlaku hokum newton I. salah
satu contoh system koordinat ti tidak inersial adalah system koordinat yang ikut berotasi
dengan bumi, seperti garis lintang dan garis bujur.

Efek coriolis adalah "gaya semu" yang dirasakan oleh benda yang berada pada sebuah
piringan yang bergerak. Nah, tapi harus diingat, kerangka inersia (diam) harus ikut bergerak
bersama piringan sehingga piringan dianggap diam (tak bergerak). Benda tersebut akan
merasa terlempar keluar karena adanya gaya sentrifugal yang arah gayanya tak linier.
Penerapannya yang paling berpengaruh digunakan adalah untuk "melempar" roket ke luar
angkasa. Itulah alasannya kenapa daerah sekitar equator sangat diperebutkan negara-negara
maju sebagai basis peluncuran roketnya. Karena efek coriolis yuang besar di sekita
khatulistiwa akibat rotasi bumi, penghematan bahan bakar dapat digunakan untuk
meluncurkan benda yang laebih berat ke antariksa.

• Efek koriolis
Jika benda melakukan gerakan di sistem K' (permukaan bumi), percepatan
Coriolis akan ikut berbicara karena adanya vektor kecepatan v'. Arah percepatan ini sudah
kita ketahui selalu tegak lurus terhadap arah kecepatan benda di sistem K', sehingga
arahnya tergantung pada arah kecepatan v'. Kita tinjau misalnya gerak benda jatuh bebas.
Pada awal geraknya arah kecepatan v' adalah vertikal ke bawah. Jika kejadiannya itu di
Surabaya yang terletak pada lintang 7° LS, gambar 6 akan menunjukkan pada kita arah
percepatan Coriolis yang terjadi. Percepatan ini akan menyebabkan lintasan benda
menyimpang dari arah vertikal. Dapat diduga bahwa simpangan yang terjadi cukup kecil,
kecuali kalau laju gerak bendanya besar sekali, sehingga arah kecepatannya setiap saat
dapat didekati dengan arah vertikal. Untuknya mudahnya gesekan udara kita abaikan dan
arah vertikal kita impitkan dengan arah radial, efek sentrifugalnya juga kita abaikan.
Efek Coriolis tampak paling jelas jika kita mengamati pola aliran arus laut dan
arah angin pasat sepanjang tahun. Pada semester Maret-September matahari berada di
belahan utara mengakibatkan atmosfir di belahan selatan mempunyaikelebihan tekanan.
Udara dari belahan selatan akan bergerak menyeberangi khatulistiwa ke belahan utara.
Gerakan massa udara ke utara ini akan dibelokkan arahnya oleh percepatan Coriolis. Kita
lihat dulu di belahan selatan percepatan Coriolis yang diderita udara arahnya ke barat
sehingga angin akan berbelok ke barat laut. Angin ini adalah angin tenggara pada musim
kemarau di pulau Jawa. setelah menyeberangi khatulistiwa percepatan Coriolis berbalik ke
arah timur, sehingga angin berbelok ke arah timur laut .
Pada semester September-Maret yang terjadi adalah sebaliknya. Angin ke selatan
terkena percepatan Coriolis ke barat di belahan utara dan ke timur di belahan selatan.
Anda periksa sendiri arah-arahnya. Angin ini adalah angin barat laut pada musim
penghujan di pulau Jawa. Secara ringkas efek Coriolis menyebabkan gerakan angin akan
menyimpang ke kiri di belahan selatan dan menyimpang ke kanan di belahan utara. Hal
ini dapat mengakibatkan berputarnya gerakan udara searah jarum jam di belahan utara dan
berlawanan dengan arah jarum jam di belahan selatan, angin yang berputar ini bisa disebut
angin siklon.
C. Pola Pergerakan Udara

Pergerakan udara pada umumnya disebabkan oleh pemanasan terhadap udara dalam bentuk
persebaran panas. Pemanasan atau persebaran panas dibagi atas pemanasan langsung dan
tidak langsung. Pemanasan langsung merupakan absorpsi atau penyerapan panas oleh udara
sedangkan pemanasan tidak langsung terjadi pada lapisan udara paling bawah, panas yang
berasal dari bumi (setelah diterima bumi dari matahari) lalu disebarkan secara vertikal dan
horizontal. Berdasarkan pemanasan atau persebaran panas tersebut, maka pola gerakan udara
dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu konduksi, konveksi, adveksi, dan turbulensi.

a. Konduksi, yaitu pemanasan secara kontak atau bersinggungan. Pemanasan ini terjadi
karena molekul-molekul yang dekat dengan permukaan bumi akan menjadi panas karena
bersinggungan dengan bumi yang menerima panas langsung dari matahari. Molekul-
molekul udara yang sudah panas bersinggungan dengan molekul-molekul udara yang
belum panas; lalu saling memberikan panas sehingga menjadi sama- sama panas.
b. Koveksi, yaitu pemanasan atau penyebaran panas yang terjadi akibat adanya gerakan
udara secara vertikal, sehingga udara di atas yang belum panas menjadi panas karena
pengaruh udara di bawahnya yang sudah panas.
c. Adveksi, yaitu pemanasan atau persebaran panas yang terjadi sebagai akibat gerakan
udara panas secara horizontal atau mendatar dan menyebabkan udara di sekitarnya juga
menjadi panas. Perhatikan gambar bagan terjadinya peristiwa adveksi di bawah ini.
d. Turbulensi, yaitu persebaran udara panas secara tak teratur, berputar-putar. Hal ini akan
menyebabkan udara yang sudah panas bercampur dengan udara yang belum panas,
sehingga udara yang belum panas akan ikut menjadi panas. Untuk lebih jelasnya, silakan
Anda perhatikan gambar berikut.
D. Angin

Angin adalah udara yang bergerak. Ada tiga hal penting yang menyangkut sifat angin yaitu:
kekuatan angin, arah angin, kecepatan angin.

a. Kekuatan Angin
Menurut hukum Stevenson, kekuatan angin berbanding lurus dengan gradient
barometriknya. Gradient baromatrik ialah angka yang menunjukkan perbedaan tekanan
udara dari dua isobar pada tiap jarak 15 meridian (111 km).

b. Arah Angin
Satuan yang digunakan untuk besaran arah angin biasanya adalah derajat.
1 derajat untuk angin arah dari Utara.
90 derajat untuk angin arah dari Timur.
180 derajat untuk angin arah dari Selatan.
270 derajat untuk angin arah dari Barat.
Angin menunjukkan dari mana datangnya angin dan bukan ke mana angin itu bergerak.
Menurut hukum Buys Ballot, udara bergerak dari daerah yang bertekanan tinggi
(maksimum) ke daerah bertekanan rendah (minimum), di belahan bumi utara berbelok ke
kanan sedangkan di belahan bumi selatan berbelok ke kiri.

Arah angin dipengaruhi oleh tiga faktor:

1. Gradient barometrik
2. Rotasi bumi
3. Kekuatan yang menahan (rintangan)

Makin besar gradient barometrik, makin besar pula kekuatannya. Angin yang besar
kekuatannya makin sulit berbelok arah. Rotasi bumi, dengan bentuk bumi yang bulat,
menyebabkan pembelokan arah angin. Pembelokan angin di ekuator sama dengan 0 (nol).
Makin ke arah kutub pembelokannya makin besar. Pembelokan angin yang mencapai 90o
sehingga sejajar dengan garis isobar disebut angin geotropik. Hal ini banyak terjadi di
daerah beriklim sedang di atas samudra. Kekuatan yang menahan dapat membelokan arah
angin. Sebagai contoh, pada saat melalui gunung, angin akan berbelok ke arah kiri, ke
kanan atau ke atas.

c. Kecepatan angin
Atmosfer ikut berotasi dengan bumi. Molekul-molekul udara mempunyai kecepatan
gerak ke arah timur, sesuai dengan arah rotasi bumi. Kecepatan gerak tersebut disebut
kecepatan linier. Bentuk bumi yng bulat ini menyebabkan kecepatan linier makin kecil
jika makin dekat ke arah kutub. Lihat tabel 3. Alat yang digunakan untuk mengukur
kecepatan angin disebut anemometer.

Tabel 3. Hubungan antara lintang tempat dan kecepatan linier

Lintang Tempat Kecepatan Linier

0o(ekuator) 461 meter/detik


30o 402 meter/detik

60o 232 meter/detik

90o(kutub) 0 meter/detik

E. Jenis-jenis Angin
1. Angin Siklon dan Anti Siklon
a. Angin siklon
Angin siklon adalah angin yang gerakannya berputar ke dalam, mengelilingi daerah
tekanan minimum. Tentu Anda masih ingat dengan Hukum Buys Ballot bahwa antara
lain di belahan bumi selatan angin berbias ke kiri. Gerakan angin siklun mengikuti
hukum ini, yaitu:
• Di belahan bumi utara perputarannya berlawanan dengan arah perputaran jarum
jam.
• Di belahan bumi selatan sesuai dengan arah putaran jarum jam. Perhatikan
Berdasarkan bergeraknya, siklon dibedakan atas siklon tropik, siklon ekstra tropik,
dan tornado. Siklon-siklon tersebut dapat terjadi:
a) Siklon tropik
Siklon tropik terjadi di daerah tropis, yaitu antara 10( - 20( LU dan 10( - 20( LS.
Sering terjadi di wilayah lautan daripada di daratan, misalnya di Indonesia pernah
terjadi di sekitar Pulau Timor 11(LS).
Di beberapa negara badai siklon diberi nama-nama khusus sesuai dengan bahasa
negara masing-masing, dan umumnya menggunakan nama wanita, antara lain:
o Di Samudera Atlantik dan Pasifik Timur dinamai Hurricanes artinya Dewa
Kehancuran.
o Di Samudera Atlantik Barat , masyarakat Jepang menyebutnya Typhoon.
o Di Filipina disebut Begieros (nama satu kota).
o Di Australia disebut Willy-Willies.
o Di Samudera Hindia disebut Siklon Tropik Lena (nama wanita).
o Di beberapa tempat lain diberi nama Siklon Anna, Dora, Corrie, Diana,
Elly dan sebagainya.
b) Siklon Ekstra Tropik
Siklon ekstra tropik terjadi di daerah sedang pada lintang 35o- 65oLU dan 35o-
65oLS, yaitu di sekitar wilayah front. Tempat bertemunya massa angin barat yang
panas dan angin timur yang dingin. Misalnya, Amerika Serikat dan Eropa.
Tekanan udara 15 mb dan kecepatannya 30 km/jam.
c) Tornado
Angin siklon tornado merupakan jenis angin yang paling cepat dan paling
merusak. Tornado sering terjadi di Amerika Serikat. Diameter angin siklon tor
nado antara 100-500 km, panjang lintasannya mencapai 100 km. Kecepatannya
mencapai 700 km/jam.

b. Angin Anti Siklon


Angin anti siklon adalah angin yang gerakannya berputar ke luar, dengan tekanan
maksimum di pusatnya. Arah pergerakannya adalah sebagai berikut:
Di belahan bumi utara, putarannya searah dengan jarum jam.
Di belahan bumi selatan, putarannya berlawanan dengan arah jarum jam.

2. Angin Monsun Asia-Australia


Angin monsun di Asia dan Australia adalah sistem yang unik yang bergerak dari Kutub
Utara sampai Kutub Selatan dalam satu musim dan kemudian membalik arah pada musim
berikutnya. Sistem angin monsun tersebut tidak bersamaan dengan pola atmosfer global
yang umum dan itulah sebabnya sifatnya unik. Penelitian ilmiah dewasa ini menunjukkan
bahwa gelombang angin kutub yang dingin mengawali siklus angin monsun dalam dua
jalur yang sudah tertentu, sebagaimana dibahas di bawah ini.

Angin monsun di bulan Juni sampai dengan bulan September. Selama periode ini, di
belahan bumi selatan adalah musim dingin dan gelombang angin dingin bergerak di atas
Australia dan di samudera sekitarnya. Terjadi sel tekanan tinggi di atas Australia dan
angin berhembus ke arah khatulistiwa. Angin ini mengumpulkan kelembaban dan panas
pada saat berhembus melewati samudera. Di Asia musimnya adalah musim panas dan
kawasan (zona) antartropis bergerak ke sebelah utara India, melalui Cina Selatan, ke
Filipina Utara. Kawasan panas maksimum (kira-kira 40°C) merentang dari bagian
baratlaut sub-benua India ke Timur Tengah. Suatu sel tekanan rendah berkembang di
sebelah utara India.

Pada Garis Khatulistiwa, angin yang berada di bawah pengaruh Efek Koriolis, berhembus
ke kanan dan tertarik ke arah sel tekanan rendah dan menjadi angin monsun barat-daya
yang kuat dan yang membawa hujan deras ke selatan, ke Asia Tenggara dan Timur pada
saat angin itu bergerak ke arah utara. Di dekat Jepang, angin tersebut berayun ke arah
timur laut dan bergerak ke arah kawasan kutub.

Angin monsun bulan November sampai Februari. Saat itu musim dingin di Asia Utara
dan kawasan yang sangat dingin sekali (di bawah -40°C) berkisar di Siberia. Massa udara
kutub yang dingin dan sel tekanan tinggi merentang di atas sebagian besar Asia (sampai
ke Pegunungan Himalaya dan sebagian besar Cina). Angin barat laut bertiup dalam
gelombang udara dingin dari Siberia ke arah Jepang, di mana angin tersebut berputar dan
menjadi angin monsun timur laut, yang berhembus ke arah khatulistiwa. Di sana, Efek
Koriolis menangkis angin yang bergerak dari barat laut ke arah Australia. Angin monsun
ini diterima di Asia bagian timur dan selatan serta di Australia Utara. Di Australia terjadi
musim panas, yang dalam suatu kawasan panas maksimum (di atas 40°C) berkembang
bersama-sama dengan sel tekanan rendah yang berkisar di Gurun Australia. Angin
monsun berhembus ke arah sel tersebut dan membawa hujan, kadang-kadang termasuk
angin topan tropis, ke arah Australia bagian utara.

Angin monsun yang kuat juga mempengaruhi arus samudera. Jadi, angin baratdaya
menyebabkan arus yang kuat di Lautan Arab dan Teluk Benggali, yang mengakibatkan
arus samudera bergerak searah jarum jam selama bulan Juni sampai dengan bulan
September sedangkan angin timur laut menyebabkan gerak berlawanan dengan arah
jarum jam di samudera ini selama bulan November sampai Pebruari. Arus yang mengalir
antara Korea dan Jepang mengalir ke arah utara selama angin monsun panas dan berbalik
arah pada musim dingin.
3. Angin Pasat dan Angin Anti Pasat
 
Angin pasat
Angin passat adalah angin bertiup tetap sepanjang tahun dari daerah subtropik menuju ke
daerah ekuator (khatulistiwa). Lihat gambar 6: a) Angin Passat Timur Laut bertiup di
belahan bumi Utara. b) Angin Passat Tenggara bertiup di belahan bumi Selatan.
Di sekitar khatulistiwa, kedua angin passat ini bertemu. Karena temperatur di daerah
tropis selalu tinggi, maka massa udara tersebut dipaksa naik secara vertikal (konveksi).
Daerah pertemuan kedua angin passat tersebut dinamakan Daerah Konvergensi Antar
Tropik (DKAT). DKAT ditandai dengan temperatur yang selalu tinggi. Akibat kenaikan
massa udara ini, wilayah DKAT terbebas dari adanya angin topan. Akibatnya daerah ini
dinamakan daerah doldrum (wilayah tenang).

Angin anti pasat


Udara di atas daerah ekuator yang mengalir ke daerah kutub dan turun di daerah
maksimum subtropik merupakan angin Anti Passat. Di belahan bumi Utara disebut Angin
Anti Passat Barat Daya dan di belahan bumi Selatan disebut Angin Anti Passat Barat
Laut. Pada daerah sekitar lintang 20o - 30o LU dan LS, angin anti passat kembali turun
secara vertikal sebagai angin yang kering. Angin kering ini menyerap uap air di udara
dan permukaan daratan. Akibatnya, terbentuk gurun di muka bumi, misalnya gurun di
Saudi Arabia, Gurun Sahara (Afrika), dan gurun di Australia. Di daerah Subtropik (30o –
40o LU/LS) terdapat daerah “teduh subtropik” yang udaranya tenang, turun dari atas, dan
tidak ada angin. Sedangkan di daerah ekuator antara 10o LU – 10o LS terdapat juga
daerah tenang yang disebut daerah “teduh ekuator” atau “daerah doldrum”

4. Angin Lokal
Selain angin muson barat dan timur juga terdapat angin lokal. Angin ini bertiup setiap
hari, seperti angin darat, angin laut, angin lembah dan angin gunung.
1) Angin Darat dan Angin Laut
Angin ini terjadi di daerah pantai yang diakibatkan adanya perbedaan sifat daratan
dan lautan. Pada malam hari daratan lebih dingin daripada lautan sehingga di daratan
merupakan daerah maksimum yang menyebabkan terjadinya angin darat. Sebaliknya,
pada siang hari terjadi angin laut. Perhatikan gambar 20. Kedua angin ini banyak
dimanfaatkan oleh para nelayan tradisional untuk menangkap ikan di laut. Pada
malam hari saat bertiupnya angin darat, para nelayan pergi menangkap ikan di laut.
Sebaliknya pada siang hari saat bertiupnya angin laut, para nelayan pulang dari
penangkapannya.

2) Angin Lembah dan Angin Gunung


Pada siang hari puncak gunung lebih cepat menerima panas daripada lembah yang
dalam keadaan tertutup. Puncak gunung tekanan udaranya minimum dan lembah
tekanan udaranya maksimum. Karena keadaan ini maka udara bergerak dari lembah
menyusur lereng menuju ke puncak gunung. Angin dari lembah ini disebut angin
lembah.
Pada malam hari puncak gunung lebih cepat mengeluarkan panas daripada lembah.
Akibatnya di puncak gunung bertekanan lebih tinggi (maksimum) dibandingkan
dengan di lembah (minimum) sehingga angin bertiup dari puncak gunung menuruni
lereng menuju ke lembah. Angin dari puncak gunung ini disebut angin gunung

3) Angin Jatuh yang sifatnya kering dan panas

Angin jatuh atau Fohn ialah angin jatuh bersifatnya kering dan panas terdapat di
lereng pegunungan Alpine. Sejenis angin ini banyak terdapat di Indonesia dengan
nama angin Bahorok (Deli), angin Kumbang (Cirebon), angin Gending di Pasuruan
(Jawa Timur), dan Angin Brubu di Sulawesi Selatan).

.
Daftar Pustaka

http://elcom.umy.ac.id/elschool/muallimin_muhammadiyah/file.php/1/materi/Geografi/AT
MOSFER%20(Cuaca%20dan%20Iklim).pdf

http://ft.unsada.ac.id/wp-content/uploads/2008/04/bab6a-tm1.pdf

http://id.wikipedia.org/wiki/Oseanografi

http://portal.bppt.go.id/berita/index.php?id=605]

http://www.geocities.com/dmipa/article/sp/Rotasi.PDF

http://www.puslittan.bogor.net/berkas_PDF/IPTEK/2006/Nomor-2/01-GatotIrianto.pdf
LINGKUNGAN DAN KEHIDUPAN DI LAUT

Disusun untuk memenuhi tugas


Matakuliah Oceanografi
Yang dibimbing oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho

Oleh:
Nailul Maram (206351403553)
Miftakul Janah (106351403454)
Muhammad Syaifudin (106351403446)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
S1 PENDIDIKAN GEOGRAFI
AGUSTUS 2008
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah berkat ridho dan karunia-Nyalah makalah yang berjudul


“Kehidupan di Laut” dapat kami selesaikan dengan baik.
Terima kasih kepada Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho sebagai dosen
pembimbing Matakuliah Oceanografi, teman-teman yang mengikuti matakuliah
tersebut yang telah ikut mendukung, memotivasi, dan memberikan masukan
dalam selesainya makalah ini, serta kepada semua pihak yang telah membantu
dalam terselesainya makalah ini.
Kami menyadari makalah ini mengandung banyak kekurangan, baik dari
segi isi maupun sistematika. Oleh karena itu, kami sangat berterima kasih apabila
ada kritik dan saran untuk perbaikan dan kemaslahatan makalah ini.

Malang, 15 Nopember 2008,

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Laut adalah bagian dari bumi kita yang tertutup oleh air asin. Kata laut
sudah dikenal sejak dulu kala oleh bangsa kita dan bahkan oleh bangsa-bangsa
dibeberapa Negara di Asia Tenggara seperti Filipina, malaisia, Thailand,
singapura dan mungkin beberapa suku bangsa di kawasan ini. Laut lepas yang
luas yang dibatasi oleh benua-benua kita kenal sebagai samudera.
Bangsa Eropa mempunyai cerita tersendiri tentang asal-usul kata samudera ini.
Mereka menamakan The ocean yang berasal dari kata Yunani kuno Oceanus.
Dipermukaan bumi kita terdapat tiga samudera yakni atlantik, pasifik, dan hindia
(India).
Kehidupan biota laut baik tumbuh-tumbuhan, hewan maupun mikroba,
dimanapun ia terdapat selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Factor-
faktor tersebut dapat berpengaruh bersama-sama dan sederajat, atau satu faktor
yang lebih menonjol pengaruhnya daripada faktor yang lain. Seperti pada muara
sungai, faktor salinitas lebih menonjol pengaruhnya daripada faktor-faktor lain
dalam kaitannya dengan sebaran biota dari sungai ke laut dan selanjutnya.
Lingkungan laut selalu berubah atau dinamik. Kadang-kadnag perubahan
ini lambat seperti datangnya jaman es yang memakan waktu ribuan tahun.
Kadang-kadang cepat seperti datangnya hujan badai yang menumpahkan air tawar
dan mengalirkan endapan Lumpur dari darat ke laut. Cepat atau lambatnya
perubahan itu sama-sama mempunyai pengaruh, yaitu kedua sifat perubahan
tersebut akan mengubah intensitas faktor-faktor lingkungan tersebut. Perubahan
apapun yang terjadi akan baik bagi suatu kehidupan dan buruk bagi kehidupan
yang lain. Karena dinamika atau terus berubahnya lingkungan ini, makhluk hidup
akan juga berubah.
Oleh karena itu, pada makalah ini, kami akan membahas tentang biota
yang terdapat di laut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari makalah
ini antara lain:
1. Apa sajakah lingkungan yang ada di laut berdasarkan zonasinya?
2. Bagaimana keberadaan makhluk hidup yang ada di lingkungan laut?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa sajakah lingkungan yang ada di laut berdasarkan
zonasinya
2. Mengetahui bagaimana keberadaan makhluk hidup yang ada di
lingkungan laut
BAB II
PEMBAHASAN

ZONASI ATAU PEMINTAKAN LINGKUNGAN LAUT


Lingkungan laut sangat luas cakupannnya dan sangat majemuk sifatnya.
Karena luasnya dan majemuknya lingkungan tersebut, tiada satu kelompok biota
laut pun yang mampu hidup di semua bagian lingkungan laut tersebut dan di
segala kondisi lingkungan yang majemuk. Mereka dikelompok-kelompokan oleh
pengaruh sifat-sifat lingkungan yang berbeda-beda ke dalam lingkungan yang
berbeda-beda pula. Para ahli oceanologi membagi-bagi lingkungan laut menjadi
zona-zona atau mintakat-mintakat menurut kriteria yang berbeda.
Karena lingkungan laut terdiri dari dasar laut dan kolam air diatasnya maka
lingkungan ini dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yakni bagian pelagic
meliputi seluruh kolom air dimana tumbuh-tumbuhan dan hewan mengapung atau
berenang dan bagian dasar laut atau bentik yang meliputi semua lingkungan dasar
laut dimana biota laut hidup melata, memendamkan diri atau meliang, mulai dari
pantai sampai ke dasar laut terdalam.

A. Lingkungan Pelagik
Semua biota yang hidup di lingkungan laut tetapi tidak hidup di dasar laut
dinamakan biota pelagic. Lingkungan ini mencakup kolom air mulai dari
permukaan dasar laut sampai paras laut. Lingkungan pelagic mempunyai batas
wilayah atau mintakat yang meluas dari garis pantai sampai wilayah laut terdalam.
Dalam pemintakatan lingkungan pelagik, dasar yang dipakai untuk membagi-bagi
lingkungan yang lebih kecil lagi adalah berdasar pada tingkat kedalaman. Tetapi
ada juga pembagian mintakat yang sifatnya fisiografik, seperti mintakat neritik
dan oceanografik.
1. Mintakat neritik
Perbedaan mintakat neritik yang berada di paparan benua dihuni oleh
masyarakat biota laut dengan mintakat oseanik:
a. Kandungan zat hara di mintakat neritik melimpah.
b. Sifat kimia perairan neritik berbeda dengan perairan oseanik karena
berbeda-bedanya zat-zat terlarut yang dibawa ke laut dari daratan.
c. Perairan neritik sangat berubah-ubah, baik dalam waktu maupun dalam
ruang, jika dibandingkan dengan perairan oseanik. Hal ini dapat terjadi
karena dekatnya mintakat ini dengan daratan dan adanya tumpahan
berbagai zat terlarut dari darat ke laut.
d. Penembusan cahaya, kandungan sediment dan energi fisik dalam kolom
air berbeda antara mintakat neritik dan oseanik.
2. Mintakat oseanik
Kolom air di mintakat oseanik biasanya dibagi menjadi empat lapisan
perairan. Masing-masing lapisan dapat dianggap sebagai satu lingkungan perairan
dan luasnya sebagai satu mintakat. Keempat lingkungan perairan atau mintakat itu
adalah:
a. Mintakat Pelagik
Yaitu perairan oseanik atas yang meluas dari permukaan laut
sampai kedalaman 200 m.
b. Mintakat Pesopelagik
Yaitu terdapat dibawah mintakat epipelagik. Mintakat mesopelagik
meluas sampai ke kedalaman 1000 m, jadi lingkungan ini terletak
antara kedalaman 200 m dan 1000 m. Lapisan perairan ini bertepatan
dengan mintakat terjadinya perubahan-perubahan suhu yang besar dan
tempat terjadinya termoklin. Karena letaknya dibawah mintakat fotik
(Cahaya) maka tidak terdapat kegiatan yang menghasilkan produksi
primer. Mintakat ini terutama dihuni oleh konsumen primer yang
memanfaatkan detritus yang turun dari lapisan yang lebih dangkal.
1) Mintakat batipelagik meluas dari kedalaman 100 m sampai
kedalaman 4000 m itu sama dengan kedalaman dasar laut dalam.
Sifat-sifat fisiknya seragam.
2) Mintakat abisopelagik meluas ke bagian-bagian terdalam dari
samudera atau mudahnya disebut mintakat palung. Biota laut yang
hidup di mintakat ini mengalami kegelapan, karena tiada cahaya,
suhu dingin dan tekanan air yang tinggi. Mintakat ini merupakan
lingkungan hidup atau habitat yang paling sederhana, artinya
berubah-berubahnya factor-faktor lingkungan terkecil di mintakat
ini. Di perairan abisal ini tidak ada cahaya kecuali cahaya yang
berasal dari hewan-hewan laut yang hidup di mintakat ini atau
bioluminesensi atau biopendar cahaya. Di mintakat ini tidak terjadi
fotosintesis dan tumbuhan yang hidup sangat sedikit atau tidak ada
sama sekali. Perubahan suhu, salinitas dan kondisi srupa tidak
terjadi atau kalu ada sangat kecil sehingga dapat diabaikan dilihat
dari segi ekologik.

B. Lingkungan Bentik
Lebih sederhana dari lingkungan pelagic, lingkungan bentik dibagi
menjadi mintakat litoral yang meluas mulai dari garis pasang tertinggi sampai ke
pinggiran paparan benua, dan mintakat dasar laut dalam yang meluas mulai dari
pinggir paparan benua sampai ke dasaar laut terdalam dari samudera. Garis
pembatas antara litoral dan laut jeluk biasanya terletak pada kedalaman 200 m dan
secara kasar merupakan kedalaman dengan sinar matahari masih dapat menembus
dasar laut.
1. Mintakat Litoral
Pantai yang secara berkala mengalami perendaman dan pengeringan akibat
terjadinya proses pasang surut seperti yang diterangkan di bab sebelumnya oleh
para ilmuwan dibagi-bagi menurut berbagai sudut pandang. Mintakat litoral atau
mintakat pasut adalah bentangan pantai yang terletak antara paras air tertinggi dari
pasut purnama ke arh daratan dan paras air terendah dari pasut purnama.
2. Mintakat Abisal
Lingkungan dasar laut abisal dalam banyak hal menyerupai dasar lumpur
yang terdapat pada dasar perairan yang lebih dangkal dan dapat dianggap
menimbulkan masalah bagi penghuninya. Benda-benda keras seperti batu yang
dapat digunakan untuk menempel bagi hewan-hewan tertentu jarang sekali
terdapat. Hewan-hewan bercangkang seperti keong dan kerang biasanya tipis
cangkangnya dan jika mati cangkangnya cepat terlarut. Plankton yang mati yang
jutaan jumlahnya, sebelum mencapai dasar abisal sudah dimakan oleh hewan atau
sudah terurai saat melewati lapisan air yang lebih dangkal.

KEHIDUPAN DI LAUT
Jumlah dan keanekaragaman jenis biota yang hidup di laut sangat
menakjubkan. Walaupun sudah banyak sekali diketahui jenis-jenis tersebut,
ilmuwan masih saja menemukan penghuni-penghuni baru, terutama di daerah-
daerah terpencil dan di lingkungan laut yang dulunya tak pernah dijangkau orang.
Perbedaan keadaan berbagai lingkungan di laut sangat besar dan penghuninya pun
beraneka ragam. Namun demikian ada keteraturan dalam penyebaran makhluk-
makhluk laut tersebut.
Di laut terdapat makhluk-makhluk mulai dari yang berupa jasad-jasad
hidup bersel satu yang sangat kecil sampai yang berupa jasad-jasad hidup yang
berukuran yang sangat besar seperti ikan paus yang panjangnya lebih dari 10 m.
Ratusan ribu jenis biota laut yang saling berinteraksi, tetapi di beberapa wilayah
perairan yang lain hanya terdapat beberapa jenis biota laut yang hidup dan
berinteraksi karena kendala makanan khususnya dan Kendal lingkungan
umumnya.

Berbagai Bentuk Kehidupan Laut


Meskipun di laut terdapat kehidupan yang sangat beraneka ragam, tetapi
lazimnya biota laut hanya dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yakni
plankton, nekton dan bentos. Pengelompokan ini tidak ada kaitannya dengan jenis
menurut klasifikasi ilmiah, ukuran atau apakah mereka tumbuh-tumbuhan atau
hewan, tetapi hanya didasarkan pada kebiasaan hidup mereka secara umum,
seperti gerakan berjalan, pola hidup dan sebaran menurut ekologi.
Plankton adalah biota yang hidup di mintakat pelagic dan mengapung,
menghanyut atau berenang sangat lemah, artinya mereka tak dapat melawan arus.
Plankton terdiri dari fitoplankton atau plankton tumbuh-tumbuhan dan
zooplankton atau plankton hewan. Sedangkan Nekton adalah biota yang
berenang-renag yang hanya terdiri dari hewan. Bentos (Benthos) adalah biota
yang hidup di atas atau di dalam dasar laut, baik itu tumbuh-tumbuhan maupun
hewan.
Plankton merupakan biota laut yang teramat beraneka ragam dan terdapat di laut,
menyusul kemudian bentos. Banyak biota laut yang dalam daur hidupnya
menempuh lebih dari satu cara hidup. Pada saat mereka menjadi larva atau
juwana, mereka hidup sebagai plankton dan kemudian menjadi nekton atau bentos
pada saat dewasa.

A. Plankton
Biota yang mengapung ini mencakup sejumlah besar biota laut baik
ditinjau dari jumlah jenisnya maupun kepadatannya. Produsen primer
(fitoplankton), herbivore, konsumen tingkat pertama, larva dan juwana planktonik
dari hewan lain, digabung menjadi satu membentuk volume biota laut yang luar
biasa besarnya. Mereka hidup terbatas di lapisan perairan laut beberapa ratus
meter dari permukaan laut.
Ukuran plankton sangat beraneka ragam, dar yang terkecil yang disebut
ultraplankton berukuran <0.005 mm, termasuk di sini bakteri dan diatom kecil
sampai nanoplankton berukuran 60-70 mikron, yang terlalu kecil untuk
diumpulkan dengan jarring plankton biasa dan hanya dapat dikumpulkan dengan
cara mengambil sejumlah besar air laut.
1. Fitoplankton
Meskipun fitoplanton membentuk sejumlah besar biomassa di laut,
kelompok ini hanya diwakili oleh beberapa filum saja. Sebagian bersel satu dan
mikroskopik, dan mereka termasuk filum Chrysophyta, yaitu alga kuning hijau
yang meliputi diatom dan kokolitofor. Selain terdapat beberapa jenis alga biru-
hijau, alga coklat, dan satu kelompok besar dari Dinoflagellata.

2. Zooplankton
Zooplankton membentuk kelompok yang lebih beraneka ragam, meskipun
jumlah jenis dan kepadatannya lebih rendah daripada fitoplankton. Setidaknya ada
Sembilan filum yang mewakili kelompok zooplankton ini, dan ukurannya sangat
beragam, dari yang sangat kecil samapi dengan garis besarnya lebih dari 1 m.
sebagian hidup sebagai meroplankton, dan sebagian pula sebagai holoplankton.
Hampir semua hewan laut menghabiskan sebagian hidupnya dalam bentuk
plankton.

B. Nekton
Hewan-hewan perenang di laut sudah lama menjadi perhatian manusia,
karena nilai ekonomiknya yang besar sebagai sumber makanan. Kelompok ini
kurang beraneka ragam dibandingkan dengan dua kelompok yang lain, yaitu
planton dan bentos. Kelompok yang termasuk dalam nekton ini adalah ikan
bertulang belakang rawan, ikan bertulang keras, penyu, ular, dan hewan menyusui
laut yang termasuk vertebrata. Sotong, dan cumi-cumi yang termasuk mollusca
juga termasuk nekton. Tidak ada tumbuh-tumbuhan yang mampu berenang,
sehingga tidak ada tumbuhan yang termasuk nekton ini.

C. Bentos
Bentos mencakup biota menempel, merayap, dan meliang di dasar laut. Kelompok
biota ini hidup di dasar perairan mulai dari garis pasang-surut sampai dasar
abasial. Contoh biota menempel, yaitu sepon, teritip, dan tiram. Kemudian yang
merayap, yaitu kepiting, dan udang karang, dan biota meliang yaitu jenis karang
tertentu, dan cacing.
Selain pembagian seperti yang tersebut di atas, biota laut juga dapat
dibagi menurut cara makannya. Mereka yang dapat menghasilkan makanannya
sendiri dinamakan autotrof. Termasuk di dalam golongan ini adalah tumbuh-
tumbuhan. Mereka dapat menghasilkan makanannya sendiri tanpa tergantung
pada biota lain dengan berfotosintesis. Mereka yang tidak dapat menghasilkan
makanan sendiri dinamakan biota heterotrof.
BAB III
PENUTUP

A. Ringkasan
• lingkungan laut ini dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yakni
bagian pelagic meliputi seluruh kolom air dimana tumbuh-tumbuhan
dan hewan mengapung atau berenang dan bagian dasar laut atau bentik
yang meliputi semua lingkungan dasar laut dimana biota laut hidup
melata, memendamkan diri atau meliang, mulai dari pantai sampai ke
dasar laut terdalam
• Plankton adalah biota yang hidup di mintakat pelagic dan mengapung,
menghanyut atau berenang sangat lemah, artinya mereka tak dapat
melawan arus
• Nekton adalah biota yang berenang-renag yang hanya terdiri dari
hewan
• Bentos (Benthos) adalah biota yang hidup di atas atau di dalam dasar
laut, baik itu tumbuh-tumbuhan maupun hewan
Daftar Pustaka

Romimohtarto Kasijan, dan Juwana, Sri. 2001. Biota Laut: Ilmu Pengetahuan
Tentang Biota Laut. Djakarta: Djambatan
WILAYAH PESISIR DAN PROSES

PAPER

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Oseanografi


yang dibimbing oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho

oleh :

Wahyu Wardani 106351400649


Antis RR Diniy 106351400659

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
November 2008
A. Wilayah Pesisir
Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, dengan
batas ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air
yang masih mendapat pengaruh sifat-sifat laut seperti angin laut, pasang surut,
perembesan air laut (intrusi) yang dicirikan oleh vegetasinya yang khas,
sedangkan batas wilayah pesisir ke arah laut mencakup bagian atau batas terluar
daripada daerah paparan benua (continental shelf), dimana ciri-ciri perairan ini
masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan
aliran air tawar, maupun proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat
seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Bengen, 2002).
Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke
arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih
dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air
asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh
proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar,
maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan
hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor:
KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir
Terpadu, Wilayah Pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara
ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari
garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan
propinsi) untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi
kabupaten/kota.
Berdasarkan batasan tersebut di atas, beberapa ekosistem wilayah pesisir
yang khas seperti estuaria, delta, laguna, terumbu karang (coral reef), padang
lamun (seagrass), hutan mangrove, hutan rawa, dan bukit pasir (sand dune)
tercakup dalam wilayah ini. Luas suatu wilayah pesisir sangat tergantung pada
struktur geologi yang dicirikan oleh topografi dari wilayah yang membentuk tipe-
tipe wilayah pesisir tersebut. Wilayah pesisir yang berhubungan dengan tepi
benua yang meluas (trailing edge) mempunyai konfigurasi yang landai dan luas.
Ke arah darat dari garis pantai terbentang ekosistem payau yang landai dan ke
arah laut terdapat paparan benua yang luas. Bagi wilayah pesisir yang
berhubungan dengan tepi benua patahan atau tubrukan (collision edge), dataran
pesisirnya sempit, curam dan berbukit-bukit, sementara jangkauan paparan
benuanya ke arah laut juga sempit.
Mendasarkan pada batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa wilayah
pesisir merupakan wilayah peralihan (interface) antara daratan dan laut. Oleh
karena itu, wilayah pesisir merupakan ekosistem khas yang kaya akan sumberdaya
alam baik sumberdaya alam dapat pulih (renewable resources) seperti ikan,
terumbu karang, hutan mangrove, dan sumberdaya tak dapat pulih (non-renewable
resources) seperti minyak dan gas bumi, bahan tambang dan mineral lainnya.
Selain itu diwilayah pesisir juga terdapat berbagai macam proses yang sangat khas
pula, seperti gelombang, erosi dan pengedapan, dan proses lainnya yang dapat
membentuk wilayah pesisir menjadi lebih komplit.
Ekosistem alami di wilayah pesisir antara lain adalah terumbu karang
(coral reefs), hutan mangrove, padang lamun (sea grass), pantai berpasir (sandy
beach), pantai berbatu (rocky beach), formasi pescaprea, formasi baringtonia,
estuaria, laguna, delta dan ekosistem pulau kecil. Sedangkan ekosistem buatan
dapat berupa tambak, pemukiman, pelabuhan, kawasan industri, pariwisata dan
sebagainya.

B. Pembagian Zone Wilayah Pesisir


Setiap zone perairan dipesisir mengalami proses mengahasilkan struktur
sedimen yang khas dan berbeda satu sama lainnya.Berdasarkan hal ini zone
pesisir dibagi menjadi backshore, foreshore, shoreface, dan offshore.
1. Backshore terletak diantara batas bawah gumuk pasir (sand dune) hingga
ke garis air pasang paling tinggi (mean high water line). Jadi Backshore
terdapat di amabang pantai (beach bar).
2. Foreshore yaitu zone pasang surut, kawasan yang terletak di antara batas
atas dan bawah pasang air laut disebut. Backshore dan foreshore
merupkan bagian atas dari pesisir pantai. Dikawasan ini terdapat zone
pemecah, zone swash dan arus sepanjang pantai (longshore current).
Sehingga kawasan ini menerima tenaga aliran yang kuat. Sedimen-
sedimen yang ada diwilayah ini kebanyakan terdiri dari material pasir.
3. Shoreface yaitu zone yang berbatasan dengan zone peralihan. Batas
bawah shoreface bergantung pada rata-rata dasar gelombang maksimal
(average maximum wave base). Di kawasan shoreface sedimennya terdiri
dari pasir bersih, dibagian atas shoreface terdapat arus pesisir pantai. Pada
saat cuaca buruk arus ini akan bertambah kuat dan akan mengkikis bagian
atas shoreface dan mengendapkannya semula di bagian bawah shoreface
atau membawanya kearah daratan seperti laguna. Jadi dibagian shoreface
sedimennya makin kasar kearah daratan dan riak simetri berubak menjadi
tak simetri dan gumuk (Clifton, 1967). Bagian bawah shoreface terdiri dari
lapisan dan percampuran antara lumpur dan pasir, tetapi pada saat cuaca
buruk bagian bawahnya mengalami tindakan gelombang dan akibatnya
endapan pasir akan percampuran lumpur dan pasir akan terbentuk di
kawasan ini.
4. Offshore merupakan zone lepas pantaiyang mengarah kelaut.
Gambar B.1 Pembagian Zone Pesisir Berdasarkan Strukturnya
Selain pembagian diatas wilayah pesisir juga dapat dibagi berdasarkan
kedalamannya, yaitu:
1. Zona Lithoral, adalah wilayah pantai atau pesisir atau “shore”. Di
wilayahini pada saat air pasang tergenang air dan pada saat air laut surut
berubahmenjadi daratan. Oleh karena itu wilayah ini sering disebut juga
wilayah pasang surut.
2. Zona Meritic (wilayah laut dangkal), yaitu dari batas wilayah pasang
surut hingga kedalaman 150 m. Pada zona ini masih dapat ditembus oleh
sinar matahari sehingga wilayah ini paling banyak terdapat berbagai jenis
kehidupan baik hewan maupun tumbuhan-tumbuhan, contoh Jaut Jawa,
Laut Natuna, Selat Malaka dan laut-laut disekitar kepulauan Riau.
3. Zona Bathyal (wilayah laut dalam), adalah wilayah laut yang memiliki
kedalaman antara 150 hingga 1800 meter. Wilayah ini tidak dapat
ditembus sinar matahari, oleh karena itu kehidupan organismenya tidak
sebanyak yang terdapat di zona meritic.
4. Zona Abysal (wilayah laut sangat dalam), yaitu wilayah laut yang
memiliki kedalaman lebih dari 1800 m. Di wilayah ini suhunya sangat
dingin dan tidak ada tumbuh-tumbuhan, jenis hewan yang hidup di
wilayah ini sangat terbatas.

Gambar B.2 Pembagian Zone Pesisir Berdasarkan Kedalamannya

C. Proses yang Terjadi di Wilayah Pesisir


Daerah pesisir merupakan daerah yang selalu mengalami perubahan,
karena daerah tersebut menjadi tempat bertemunya dua kekuatan, yaitu berasal
dari daratan dan lautan. Perubahan lingkungan pesisir dapat terjadi secara lambat
hingga sangat cepat, tergantung pada imbang daya antara topografi, batuan dan
sifat-sifatnya dengan gelombang, pasang surut dan angin. Perubahan pesisir
terjadi apabila proses geomorfologi yang terjadi pada suatu segmen pesisir
melebihi proses yang biasa terjadi. Perubahan proses geomorfologi tersebut
sebagai akibat dari sejumlah faktor lingkungan seperti faktor geologi,
geomorfologi, iklim, biotik, pasang surut, gelombang, arus laut, dan salinitas
(Sutikno, 1993 dalam Johanson D. Putinella, 2002). Iklim mempengaruhi
gelombang dan juga aktivitas biologi serta proses-proses kimia di permukaan atau
dekat dengan permukaan seperti evaporation, penyemian dan lain-lain.
Menurut Dahuri (1996) dalam Johanson. D. Putinella (2002), ombak
merupakan salah satu penyebab yang berperan besar dalam pembentukan pesisir.
Ombak yang terjadi di laut dalam pada umumnya tidak berpengaruh terhadap
dasar laut dan sedimen yang terdapat di dalamnya. Sebaliknya ombak yang
terdapat di dekat pesisir, terutama di daerah pecahan ombak mempunyai energi
besar dan sangat berperan dalam pembentukan morfologi pesisir, seperti menyeret
sedimen (umumnya pasir dan kerikil) yang ada di dasar laut untuk ditumpuk
dalam bentuk gosong pasir. Di samping mengangkut sedimen dasar, ombak
berperan sangat dominan dalam menghancurkan daratan (erosi laut). Daya
penghancur ombak terhadap daratan atau batuan dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain keterjalan garis pesisir,, kekerasan batuan, rekahan pada batuan,
kedalaman laut di depan pesisir,, bentuk pesisir,, terdapat atau tidaknya
penghalang di muka pesisir dan sebagainya.
Berbeda dengan ombak yang bergerak maju ke arah pesisir, arus laut,
terutama yang mengalir sepanjang pesisir merupakan penyebab utama yang lain
dalam membentuk morfologi pesisir. Arus laut terbentuk oleh angin yang bertiup
dalam selang waktu yang lama, dapat pula terjadi karena ombak yang membentur
pesisir secara miring. Berbeda dengan peran ombak yang mengangkut sedimen
tegaklurus terhadap arah ombak, arus laut mampu membawa sedimen yang
mengapung maupun yang terdapat di dasar laut. Pergerakan sedimen searah
dengan arah pergerakan arus, umumnya menyebar sepanjang garis pesisir. Bentuk
morfologi spit, tombolo, beach ridge atau akumulasi sedimen di sekitar jetty
(dermaga atau tembok laut) dan tanggul pantai menunjukkan hasil kerja arus laut.
Dalam hal tertentu arus laut dapat pula berfungsi sebagai penyebab terjadinya
abrasi pesisir.
Keseimbangan antara sedimen yang dibawa sungai dengan kecepatan
pengangkutan sedimen di muara sungai akan menentukan berkembangnya dataran
pesisir. Apabila jumlah sedimen yang dibawa ke laut dapat segera diangkut oleh
ombak dan arus laut, maka pantai akan dalam keadaan stabil. Sebaliknya apabila
jumlah sedimen melebihi kemampuan ombak dan arus laut dalam
pengangkutannya, maka dataran pesisir akan bertambah. Selain itu aktivitas
manusia yang memanfaatkan wilayah pesisir untuk berbagai kepentingan juga
dapat merubah morfologi pesisir menjadi rusak apabila pengelolaannya tidak
memperhatikan kelestarian lingkungan.
Proses-proses lainnya yang terjadi di wilayah pesisir antara lain:
• Proses Fisika yaitu proses-proses fisik yang mempengaruhi pembentukan
pesisir seperti gelombang, rombakan arus (rip current), arus pasang surut,
pasang surut dan sebagainya. Gelombang merupakan parameter utama
dalam proses erosi atau sedimentasi .
• Erosi dan atau abrasi merupakan proses pengikisan batuan yang
diakibatkan oleh tenaga eksogen seperti air, angin, ombak, dan lain-
lainnya.
• Sedimentasi yang dibawa melalui sungai, arus sepanjang tepi pantai
(longshore drift), dan arus pasang surut. Sedimen ini terbentuk dari
lumpur, pasir, hingga kerikil. Sedimen bertekstur kasar terdapat di
kawasan bertenaga tinggi.
• Arus laut pasang surut yang disebabkan oleh pasang surut air laut
(subsidence) adalah proses naik turunnya muka laut secara hampir
periodik karena gaya tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan
matahari. Naik turunnya muka laut dapat terjadi sehari sekali (pasang surut
tunggal), atau dua kali sehari (pasang surut ganda). Ketika pasang surut
terbentuk dilautan luas merambat sebagai gelombang menuju lereng benua
(continental slope) dan paparan benua (continental shelf), gelombang
tersebut akan mengalami proses perubahan karena nakin dangkalnya
perairan.

D. Geomorfologi Wilayah Pesisir


Bentuk/morfologi wilayah pesisir, seperti pantai terjal atau landai,
ditentukan oleh kekerasan (resestivity) batuan, pola morfologi dan tahapan proses
tektoniknya. Relief/topografi dasar laut perairan nusantara terdiri dari berbagai
tipe mulai dari paparan (shelf) yang dangkal, palung llaut, gunung bawah laut,
terumbu karang dan sebagainya.
Kondisi oseanografi fisik di kawasan pesisir dan lautan ditentukan oleh
fenomena pasang surut, arus, gelombang, kondisi suhu, salinitas serta angin.
Fenomena-fenomena tersebut memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan
pesisir dan lautan. Proses-proses utama yang sering terjadi di wilayah pesisir
meliputi: sirkulasi massa air, percampuran (terutama antara dua massa air yang
berbeda), sedimentasi dan abrasi serta upwelling.
Bentukan-bentukan yang umum terdapat diwilayah pesisir adalah sebagai
berikut:
1. Pesisir Pantai (Beach) adalah yaitu pesisir diantara garis pasang naik dan
pasang surut.
2. Laguna adalah air laut dangkal yang memiliki luas beberapa mil, sering
merupakan teluk atau danau yang terletak diantara pulau penghalang
dengan pantai.
3. Pulau Penghalang (Barrier Island) adalah gosong pasir yang tersembul
dipantai yang dipisahkan dari pantai oleh laguna. Pulau penghalang ini
bias tebentuk sebagai spit atau gumuk pasir yang dibentuk oleh angin atau
air.
4. Delta adalah deposit lumpur, pasir, atau kerikil (endapan alluvium) yang
mengendap di muara suatu sungai. Delta dibagi menjadi tiga berdasarkan
bentuknya, yaitu Delta Arcuate (Berbentuk kipas), Delta Cuspate
(Berbentuk gigi tajam), Delta Estuarine (Berbentuk estuarine).
5. Goa Laut (Sea Cave) merupakan goa yang terbentuk pada terbing terjal
(cliff) atau tanjung (headland) sebagai akibat erosi dari hantaman
gelombang dan arus.
6. Sea Arch merupakn sea cave yang telah tereosi sangat berat akibat dari
hantaman ombak.
7. Sea Stack merupakan tiang-tiang batu yang terpisah dari daratan yang
tersusun dari batuan yang resisten sehingga masih bertahan dari hantaman
gelombang.
8. Rawa Air Asin (Salt Marsh) merupakan rawa yang terbentuk akibat
genangan air laut di dinggir pantai.
9. Head Land yaitu batuan daratan resisten yang menjorok kelaut sebagai
akibat erosi gelombang.
10. Bar yaitu gosong pasir dan kerikil yang terletak pada dasar laut dipinggir
pantai yang terjadi oleh pengerjaan arus laut dan gelombang. Kadanng-
kadang terbenam seluruhnya oleh air laut. Beberapa jenis bar antara lain:
• Spit yaitu yang salah satu ujunganya terikat pada daratan, sedangkan
yang lainnya tidak. Bentuknya kebanyakan lurus sejajar dengan pantai,
tetepai oleh pengaruh arus yang membelok ke arah darat atau oleh
pengaruh pasang naik yang besar, spit itupun membelok pula ke arah
darat yang disebut Hook atau Recurved Spit (Spit Bengkok).
• Baymouth Bar adalah spit yang kedua ujungnya terikat pada daratan
yang menyeberang dibagian muka teluk.
• Tombolo adalah spit yang menghubungkan pulau dengan daratan induk
atau dengan pulau lain, contohnya daratan antara Pulau Pananjung
dengan daratan induknya Pulau Jawa.

Gambar D.1. Bentukan Wilayah Pesisir


Gambar D.2. Jenis Bar

Gambar D.3. Barrier Island

Gambar D.4. Padre Island dan Pesisir Laguna Belize


DAFTAR RUJUKAN

Herlambang, Sudarno. 2004. Dasar-dasar Geomorfologi. Malang: Universitas


Negeri Malang (UM).
McNeill, Leon.___. Geologic Explorations GeoDe II. United States:
Tasa Graphics Art, Inc.
Mustofa, Bisri, dkk. 2008. Kamus Lengkap Geogafi. Yogyakarta. Panji Pustaka.
Pariwono, John I. 1992. Proses-proses Fisik di Wilayah Perairan Pantai. Bogor:
Institut Pertanian Bogor (IPB).
Puttinella, Johanson D. 2002. Permasalahan dan Dinamika Pantai Pada Daerah
Wisata Pantai Baron dan Krakal Yogyakarta.
Jogjakarta: Universitas Gajah Mada (UGM) (Laporan Penelitian)
Microsoft Corporation. 1993-2004. Microsoft Encarta Reference Library 2005.
All rights reserved.
http://www.pdf-search-engine.com/pesisir-pdf.html
http://www.ebook-search-engine.com/pantai-ebook-all.html
ESTUARIN
TUGAS
Yang disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Oceanografi
Yang dibina Oleh Bapak Bagus Setyabudi Wiwoho

Disusun Oleh:

Ari Setya Sukarsih 103351465201


Eva Selvia Handayani 103351465197

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PENDIDIKAN GEOGRAFI
Desember, 2004
ESTUARIN

Semua Organisme berpengaruh langsung terhadap lingkungan, baik


lingkungan biotik, maupun abiotik,organime ini akan bersaing dalam
memperebutkan kebutuhan hidupnya, seperti makanan, tempat tinggal, organisme
akan hidup dan berkembangbiak dalam suatu wilayah jika kondisinya cocok, jika
tidak maka akan punah. Suatu populasi itu akan dikatakan baik jika interaksi
antara hewan dan tumbuhan seimbang juga didukung oleh lingkungan biotik.

Prinsip Ekologi
Ekologi adalah ilmu biologi yang berhubungan dengan faktor lingkungan
biotik dan lingkungan abiotik. Komponen botik mempelajari ekologi tentang
organisme, populasi, komunitas, dan ekosistem.
Kumpulan organisme yang hidup bersama-sama dalam suatu wilayah
perlu memperhatikan populasinya, semua populasi yang hidup dalam suatu
wilayah saling berinteraksi dengan kondisi biotik. Komunitas adalah kumpulan
populasi tumbuhan dan hewan yang hidup dalam suatu wilayah.
Ekosistem laut antara yang di utara dengan Atlantik subtropis memiliki
sedikit perbedaan seperti, salinitas, suhu. Ekosistem dapat diartikan sebagai
wilayah geografi yang luas yang terdiri dari beberapa komunitas. Spesies dapat
diartikan sebagai dasar penggambaran suatu populasi. Spesies memiliki peranan
penting dam perkembangbiakan untuk memperoleh keturunan yang baru dalam
suatu kumpulan organisme.

Habitat (Tempat Hidup) dan Niche (Cara Hidup)


Habitat adalah tempat suatu organisme yang ada di suatu wilayah tertentu,
sedangkan Niche adalah Suatu cara bagaimana suatu organisme itu biasa hidup di
wilayah tersebut.
Hubungan Antara Interspesifik dan Intraspesifik
Organisme merupakan bagian dari populasi yang saling bersaing untuk
memperoleh kebutuhan seperti, makanan, tempat tinggal, dan pasangan.
Persaingan ini disebut kompetisi intraspesifik karena dilakukan oleh organisme
yang spesiesnya sama. Organisme yang menang dalam persaingan tentu akan
mendapatkan makanan dan tempat hidup yang baik. Organisme unggul diperoleh
dari pasangan organisme yang unggul juga. Organisme dari keturunan yang
unggul prosentasenya akan lebih banyak jika dibandingkan dengan organisme
yang kurang unggul karena kalah bersaing. Keturunan yang unggul akan
memperoleh keturunan yang unggul juga. Hal ini terjadi secara berulang-ulang.
Di dalam komunitas tentunya terdapat spesies yang berbeda yang bersaing
untuk memperoleh makanan, tempat hidup, tempat berkembangbiak. Kompetisi
ini dilakukan oleh spesies yang berbeda yang disebut kompetisi Interspesifik.
Dengan adanya kompetisi interspesifik akan menyebabkan spesies yang dapat
menyesuaikan diri sehingga dominan dalam suatu komunitas, sebaliknya spesies
yang kurang unggul akan tersaingi dan jumlah keturunannya akan berkurang.
Akibat dari kompetisi ini organisme yang unggul akan terus hidup karena
mendapatkan kebutuhan yang diperlukan. Didalam kehidupan sepanjang waktu
suatu organisme pasti mengalami kelahiran dan kematian, persaingan spesifik
menyebabkan suatu populasi akan melakukan migrasi
Perluasan tempat menyebabkan jumlah populasi semakin banyak di daerah
itu karena dapat menyesuaikan diri. Tetapi didalam suatu habitat yang spesiesnya
berbeda dan cara hidup yang sama, kompetisi interspesifik akan semakin
meningkat menyebabkan tempat dan cara hidup akan semakin berkurang karena
spesiesnya yang lemah. Spesies akan mudah punah karena di daerah yang sama
terdapat spesies dengan cara hidup yang berbeda.
Faktor Abiotik
1. Temperatur
Efek geografi yang sangat luas dari temperatur pada distribusi mahluk
hidup sangat nyata sepanjang pantai timur Amerika. Oleh karenanya disetiap
wilayah pasti memiliki perbedaan mahluk hidup. Suhu dapat dikatakan stabil jika
temperatur dalam masa air perbedaannya rendah dan jika perbedaan
temperaturnya tinggi maka dikatakan tidak stabil.
Pada skala lokal yang lebih luas efek temperaturnya adalah faktor abiotik
di muara Estuarin, sedangkan dalam skala yang lebih kecil adalah daerah zone
intertidal. Estuarin mengandung volume air yang lebih kecil dari pada daerah
perbatasan pantai.
Sistem temperatur pada air tawar membawa air dingin ke muara pada saat
musim dingin dan membawa air panas pada musim panas. Ketika masa jenis air
tawar lebih kecil dari pada air laut maka air muara akan naik kepermukaan.

2. Salinitas / kadar garam


Perbedaan kadar garam mempunyai pengaruh bagi distribusi hewan dan
tumbuhan terutama di sekitar esruarin dan zone intertidal. Klasifikasi estuarin
pada dasarnya terdiri dari pola susunan salinitas dan efek variasi salinitas yang
terdapat penyebaran organisme estuarin.. Efek Coriolis dan temperatur dapat
mempengaruhi pola susunan salinitas estuarin.
Pada muara yang memiliki pasang surut tinggi akan membawa air laut
jauh kedalam muara. saat pasang tinggi, dan air bawah tanah akan menuju ke laut
pada saat surut.
Pada daerah maksimum salinitas befluktuasi, yang tersusun diatas 6-12
jam periode pasang surut yang melampaui susunan salinitas terhadap muara. Efek
Corilos yaitu pembelokan air yang bergerak berotasi ke bawah. Yang
menyebabkan air bergerak ke kanan menuju belahan bumi utara dan bergerak ke
kiri menuju belahan bumi selatan. Pada pengamatan estuarin, air laut akan
bergerak ke kanan dan air tawar akan bergerak ke kiri. Kadar garam air dibelahan
bumi utara bergerak menuju estuarin yaitu ke kanan.yang berlawanan dengan
garis pantai.
Pasang Surut Air Laut
Terdapat tiga jenis pasang surut air laut berdasarkan waktu yaitu: lama
pasang surut, waktu utama pasang surut dan aliran balik pasang surut. Lama
pengaturan pasang surut tergantung pada cuaca pada langit
Waktu terjadinya pasang surut adalah pada siang hari dan pada malam
hari. Pada siang hari pasang surut lebih rendah dari pada pasang surut yang terjadi
pada mala hari.

Lapisan Bawah Hubungan Komunitas


Di dalam lingkungan terdapat adanya faktor biotik dan abiotik yang akan
membentuk adanya suatu komunitas yang saling berhubungan, sebagai contoh
pada rumput dalam rumput terdapat adanya komunitas hewan dan tumbuhan
hewan yang hidup pada zone ini adalah berupa kerang yang lunak dan cacing pita
sedangkan tumbuhan yang dapat hidup adalah tanaman bakau. hewan juga dapat
hidup dengan sempurna pada lapisan ini, organisme seperti kulit kerang juga
dapat membantu dalam proses sedimentasi.

Pantai Berkarang
Pada zone pantai berkarang terdapat wilayah pasang surut yang hebat.
Daerah ini terbentuk akibat adanya hempasan energi gelombang yang tinggi.Pada
daerah ini juga terdapat banyak tanaman alga. Jenis alga yang terbanyak yaitu alga
hijau dan alga biru. Organisme pada daerah ini membentuk suatu simbiosis
Pada musim panas, air pada daerah payau pasang surut bisa mencapai suhu
udara yang tinggi yang dapat merusak, sedangkan pada musim dingin suhunya
turun sangat rendah atau juga membeku. Saat air pasang, daerah ini dibanjiri
dengan air laut dengan suhu udara yang berbeda. Untuk mempertahankan
hidupnya biota air payau pasang surut harus bisa melawan variasi suhu udara yang
meluas dan perubahan suhu udara yang cepat.
Daerah payau pasang surut mencapai suhu udara yang tinggi pada musim
panas sehingga evaporasi dipercepat. Pada musim dingin es terbentuk pada daerah
payau pasang surut sehingga hal ini menyebabkan percepatan evaporasi, sehingga
salinitas juga berubah-ubah. Oleh karena itu biota daerah pasang surut harus bisa
melawan perubahan salinitas yang cepat dan meluas. Spesies yang terdapat pada
daerah pasang surut adalah alga hijau, anemon, kerang-kerangan, dan siput.

Pantai Berpasir
Pada daerah ini lapisan tanah tidak tetap tetapi mudah berubah akibat arus
dan ombak. Perubahan tersebut menyebabkan populasi tumbuhan dan hewan yang
hidup di garis pantai berbatu. Persebaran tumbuhan dan hewan pada garis pantai
dipengaruhi oleh faktor abiotik. Lapisan tanah ini sering berubah-ubah sehingga
adaptasi hewan pada kondisi ini sangat besar. Contohnya organisme Psimodan
siput “Olive” di pantai pasifik membuat lubang sangat dalam untuk dijadikan
tempat tinggal, sehingga tidak terpengaruh oleh ombak dan arus air. Pada
komunitas pantai berpasir tidak terdapat populasi predator, hal ini disebabkan
biota yang hidup berada di dalam tanah

Hamparan Lumpur
Hamparan lumpur tersusun oleh endapan lumpur dan partikel yang
berukuran tanah liat. Hamparan lumpur hanya berkembang pada daerah yang
terlindungi dari gelombang dan arus laut. Hamparan lumpur memiliki topografi
datar dan terdiri dari sedimen yang sangat halus. Karakteristik daerah hamparan
lumpur adalah ketersediaan oksigennya sedikit atau daerah anaerob. Spesies yang
hidup pada daerah hamparan lumpur adalah siput dan cacing.

Vegetasi Pantai Unkonsolidasi


Vegetasi yang terdapat pada zone pasang yaitu rumput rawa pada daerah
sub tropis dan hutan bakau pada daerah tropis. Kedua jenis vegetasi ini tumbuh
pada daerah yang terlindungi dari ombak dan arus pantai terutama daerah
hamparan lumpur.
Rawa garam terdiri dari dua tanaman utama yaitu rumput tali atau Spartina
alterniflora dan rumput jerami rawa asin atau Spartina patens. Rumput tali
berkembak biak secara cepat pada daerah ini, Rumput tali menghalangi air
sehingga pada waktu pasang sedimen tersuspensi di dasar rumput tali sehingga
rawa garam semakin tinggi.
Hutan bakau atau hutan mangrove berada di daerah tropis dan subtropis.
Hutan mangrove merupakan pohon darat yang berada pada zone pasang. Tiga
spesies pohon bakau sering ditemukan di mangrove dimana keberadaannya
ditentukan oleh tingkat genangan air pasang. Pohon bakau merah terdapat di tepi
air pasang rendah, pohon bakau hitam terdapat di daerah pasang sedang, dan
pohon bakau putih terdapat pada daerah air pasang tinggi. Organisme yang
ditemukan pada hutan bakau biasanya adalah kepiting fidller dan kepiting hantu.

Pantai Penghalang
Pantai penghalang bukan bagian dari daerah pesisir tetapi merupakan
komponen penting dari daerah pantai. Vegetasi yang hidup pada pantai
penghalang harus dapat mengatasi hembusan angin yang menghembuskan biji-
bijian sebelum biji-biji tersebut bertunas. Ketinggian pantai penghalang
dipengaruhi oleh vegetasi yang hidup pada tempat tersebut.
Vegetasi ini dapat berkembang biak secara seksual dengan biji dan
berkembang biak secara aseksual dengan rizoma. Tetapi karena
perkembangbiakan dengan biji sering terhambat, maka perkembangbiakan yang
paling utama terjadi secara aseksual dengan rizoma. Sebagaimana rumput yang
tumbuh pada gumuk pasir atau gandum pantai, vegetasi pada pantai pengahalang
menjadi perangkap sedimen yang terbawa oleh angin sehingga mempengaruhi
ketinggian pantai. Vegetasi penghalang tumbuh menjadi semak belukar. Semak
belukar sepertu prem laut berkembang biak dengan biji dan menghasilkan buah,
sehingga menarik perhatian burung-burung. Kotoran burung dan daun-daunan
yang jatuh ke air terdekomposisi dan menutupi substrat pasir. Substrat pasir
berkembang menjadi tanah. Tanah ini berkembang terus menerus menjadi lebih
subur dan akhirnya tumbuhlah beberapa vegetasi separti pinus dan cedar merah.
Tumbuhan ini menjadi pohon perintis yang membangun kesuburan tanah
sehingga tumbuhan lain seperti oak dapat tumbuh di daerah ini. Setelah waktu
yang lama dan adanya interaksi abiotik dan biotik menyebakan pantai pasir
penghalang berubah menjadi hutan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laut merupakan gambaran nyata mengenai permukaan bumi dan sekitarnya,
70% dari permukaan bumi merupakan air, dimana permukaan air terdapat endapan pasir
laut, dasar lembah yang masing-masing memiliki cirri-ciri topografi yang berbeda. Laut
merupakan suatu bagian yang saling memiliki proses yang lebih variatif, tergantung
pada lokasi yang ada di sekelilingnya disamping proses pergerakan aliran secara global.
Oleh karena itu dalam mempelajari laut diperlukan berbagai disiplin ilmu yaitu fisika
oseanografi, geologi oseanografi, kimia oseanografi dan biologi oseanografi.
Estuaria sebagai bagian dari laut merupakan suatu wilayah yang memiliki
keunikan tersendiri dari lingkungan perairan laut. Kombinasi pengaruh air laut dan air
tawar akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan lingkungan yang
bervariasi.
Ekologi sebagai salah satu ilmu yang mengkaji hubungan antara lingkungan
hidup dengan manusia akan mengkaji peranan ekosistem estuaria terhadap kehidupan
manusia. Banyak sekali manfaat yang diberikan ekosistem estuaria bagi kehidupan
umat manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kawasan estuaria berdasarkan karakteristik geomorfologinya memiliki banyak
variasi. Setiap jenis memiliki ekosistem yang berbeda dengan komponen penyusun
yang berbeda pula.
Keunikan dan peranan kawasan estuaria yang beraneka ragam tersebut, akan
dikemukakan dalam makalah yang singkat ini. Selain itu dalam makalah ini akan
dikemukakan juga tinjauan ekologis kawasan estuaria.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang
akan dibahas dalam makalah, yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan Ekologi?
2. Apa yang dimaksud dengan Estuaria?
3. Apa saja komponen abiotik daerah Estuaria?
4. Bagaimakah ekosistem Estuaria?
5. Apa saja tipe-tipe Estuaria berdasarkan karakteristik geomorfologi?

1
6. Bagaimanakah produktifitas dan peran ekologi Estuaria?
7. Apa saja jenis-jenis pantai?
8. Bagaimanakah vegetasi kawasan pasang surut ?
C. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, penulisan makalah ini bertujuan untuk
mengetahui:
1. Pengetian ekologi
2. Pengertian Estuaria
3. Komponen abiotik estuaria
4. Ekosistem Estuaria
5. Tipe-tipe Estuaria berdasarkan karakteristik geomorfologinya
6. Produktifitas dan peran ekologi Estuaria
7. Jenis-jenis pantai
8. Vegetasi pasang surut

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ekologi
Inti permasalahan ekologi adalah hubungan makhluk hidup, khususnya
manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik
antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi.
Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang
ahli biologi bangsa Jerman. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos
yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu/telaah. Oleh karena itu ekologi
berarti ilmu tentang rumah (tempat tinggal) makhluk hidup. Dengan demikian ekologi
biasanya diartinya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal
balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Berdasarkan arti harfiah dari asal katanya ekologi dan ekonomi sama. Ekologi
(oikos dan logos) sedang ekonomi (oikos dan nomos) sehingga kedua ilmu itu
banyak persamaannya. Namun dalam ekologi, mata uang yang dipakai dalam
transaksi bukan rupiah atau dolar, melainkan materi, energi, dan informasi.
Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu komunitas atau beberapa
komunitas mendapat perhatian utama dalam ekologi, seperti uang dalam
ekonomi. Oleh karena itu transaksi dalam ekologi berbentuk materi, energi,
dan informasi.
1. Habitat dan Relung
Habitat dan relung, dua istilah tentang kehidupan organisme. Habitat adalah
tempat hidup suatu organisme. Habitat suatu organisme dapat juga disebut
“alamat”. Relung (niche atau nicia) adalah profesi atau status suatu organisme
dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu, sebagai akibat adaptasi
struktural, tanggal fisiologis serta perilaku spesifik organisme itu.
Penyesuaian diri secara umum disebut adaptasi. Kemampuan adaptasi
mempunyai nilai untuk kelangsungan hidup. Makin besar kemampuan adaptasi
makin besar kementakan kelangsungan hidup organisme.
2. Hubungan Intra dan Interspesifik
Organisme merupakan bagian dari populasi yang saling bersaing untuk
memperoleh kebutuhan seperti, makanan, tempat tinggal, dan pasangan. Persaingan ini

3
disebut kompetisi intraspesifik karena dilakukan oleh organisme yang spesiesnya sama.
Organisme yang menang dalam persaingan tentu akan mendapatkan makanan dan
tempat hidup yang baik. Organisme unggul diperoleh dari pasangan organisme yang
unggul juga. Organisme dari keturunan yang unggul prosentasenya akan lebih banyak
jika dibandingkan dengan organisme yang kurang unggul karena kalah bersaing.
Keturunan yang unggul akan memperoleh keturunan yang unggul juga. Hal ini terjadi
secara berulang-ulang.
Di dalam komunitas tentunya terdapat spesies yang berbeda yang bersaing untuk
memperoleh makanan, tempat hidup, tempat berkembangbiak. Kompetisi ini dilakukan
oleh spesies yang berbeda yang disebut kompetisi Interspesifik.
Dengan adanya kompetisi interspesifik akan menyebabkan spesies yang dapat
menyesuaikan diri sehingga dominan dalam suatu komunitas, sebaliknya spesies yang
kurang unggul akan tersaingi dan jumlah keturunannya akan berkurang. Akibat dari
kompetisi ini organisme yang unggul akan terus hidup karena mendapatkan kebutuhan
yang diperlukan. Didalam kehidupan sepanjang waktu suatu organisme pasti mengalami
kelahiran dan kematian, persaingan spesifik menyebabkan suatu populasi akan
melakukan migrasi
Perluasan tempat menyebabkan jumlah populasi semakin banyak di daerah itu
karena dapat menyesuaikan diri. Tetapi didalam suatu habitat yang spesiesnya berbeda
dan cara hidup yang sama, kompetisi interspesifik akan semakin meningkat
menyebabkan tempat dan cara hidup akan semakin berkurang karena spesiesnya yang
lemah. Spesies akan mudah punah karena di daerah yang sama terdapat spesies dengan
cara hidup yang berbeda.
3. Ekosistem
Suatu konsep sentral dalam ekologi adalah ekosistem sistem ekologi yang
terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Oleh karena itu ekosistem adalah tatanan kesatuan secara
utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan yang saling mempengaruhi.
Berdasarkan pengertian di atas, suatu sistem terdiri dari komponen-
komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Ekosistem
terbentuk oleh komponen hidup (biotik) dan tak hidup (abiotik) yang berinteraksi
membentuk suatu kesatuan yang teratur.

4
Keteraturan itu terjadi karena adanya arus materi dan energi, yang terkendali
oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem. Masing-masing
komponen mempunyai fungsi (relung). Selama masing-masing komponen tetap
melakukan fungsinya dan bekerjasama dengan baik, keteraturan ekosistem
tetap terjaga.
B. Pengertian Estuaria
Estuaria adalah suatu perairan semi tertutup yang terdapat di hilir sungai dan
masih berhubungan dengan laut, sehingga memungkinkan terjadinya percampuran air
laut dan air tawar dari sungai atau drainase yang berasal dari muara sungai, teluk, rawa
pasang surut.
Estuaria merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuaria sering
dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Salinitas air
berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga
dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai
memperkaya estuari.
Bentuk estuaria bervariasi dan sangat bergantung pada besar kecilnya air sungai,
kisaran pasang surut, dan bentuk garis pantai. Kebanyakan estuaria didominasi subtrat
Lumpur yang berasal dari endapan yang dibawa oleh air tawar maupun air laut. Karena
partikel yang mengendap kebanyakan bersifat organik, subtrat dasar estuaria biasanya
kaya akan bahan organik. Bahan organic ini menjadi cadangan makanan utama bagi
organisme estuaria.
C. Komponen Abiotik Daerah Estuaria
1. Temperatur
Efek geografi yang sangat luas dari temperatur pada distribusi mahluk
hidup sangat nyata sepanjang pantai timur Amerika. Oleh karenanya disetiap
wilayah pasti memiliki perbedaan mahluk hidup. Suhu dapat dikatakan stabil
jika temperatur dalam masa air perbedaannya rendah dan jika perbedaan
temperaturnya tinggi maka dikatakan tidak stabil.
Pada skala lokal yang lebih luas efek temperaturnya adalah faktor abiotik
di muara Estuaria, sedangkan dalam skala yang lebih kecil adalah daerah zone
intertidal. Estuaria mengandung volume air yang lebih kecil dari pada daerah
perbatasan pantai.

5
Sistem temperatur pada air tawar membawa air dingin ke muara pada
saat musim dingin dan membawa air panas pada musim panas. Ketika masa
jenis air tawar lebih kecil dari pada air laut maka air muara akan naik
kepermukaan.
2. Salinitas
Perbedaan kadar garam mempunyai pengaruh bagi distribusi hewan dan
tumbuhan terutama di sekitar esruarin dan zone intertidal. Klasifikasi estuaria
pada dasarnya terdiri dari pola susunan salinitas dan efek variasi salinitas yang
terdapat penyebaran organisme estuaria.. Efek Coriolis dan temperatur dapat
mempengaruhi pola susunan salinitas estuaria.
Pada muara yang memiliki pasang surut tinggi akan membawa air laut
jauh kedalam muara. saat pasang tinggi, dan air bawah tanah akan menuju ke
laut pada saat surut.
Pada daerah maksimum salinitas befluktuasi, yang tersusun diatas 6-12
jam periode pasang surut yang melampaui susunan salinitas terhadap muara.
Efek Corilos yaitu pembelokan air yang bergerak berotasi ke bawah. Yang
menyebabkan air bergerak ke kanan menuju belahan bumi utara dan bergerak
ke kiri menuju belahan bumi selatan. Pada pengamatan estuaria, air laut akan
bergerak ke kanan dan air tawar akan bergerak ke kiri. Kadar garam air
dibelahan bumi utara bergerak menuju estuaria yaitu ke kanan.yang berlawanan
dengan garis pantai.
3. Pasang Surut Air Laut
Terdapat tiga jenis pasang surut air laut berdasarkan waktu yaitu: lama
pasang surut, waktu utama pasang surut dan aliran balik pasang surut. Lama
pengaturan pasang surut tergantung pada cuaca pada langit
Waktu terjadinya pasang surut adalah pada siang hari dan pada malam
hari. Pada siang hari pasang surut lebih rendah dari pada pasang surut yang
terjadi pada mala hari.
4. Substrat
Hamparan lumpur tersusun oleh endapan lumpur dan partikel yang
berukuran tanah liat. Hamparan lumpur hanya berkembang pada daerah yang
terlindungi dari gelombang dan arus laut. Hamparan lumpur memiliki topografi

6
datar dan terdiri dari sedimen yang sangat halus. Karakteristik daerah hamparan
lumpur adalah ketersediaan oksigennya sedikit atau daerah anaerob. Spesies
yang hidup pada daerah hamparan lumpur adalah siput dan cacing
D. Ekosistem Estuaria
Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilkan suatu komunitas
yang khas dan lingkungan yang bervariasi, antara lain:

1. Tempat bertemunya arus air dengan arus pasang-surut, yang berlawanan


menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air,
dan cirri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya.
2. Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika
lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air
laut.
3. Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas
mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya;
dan
4. Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut,
banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta topografi daerah
estuaria tersebut.
Perbedaan salinitas di wilayah estuaria menciptakan suatu stratifikasi salinitas
yang unik, perbedaan salinitas itu setidaknya menciptakan 3 stratifikasi air pada
wilayah estuaria, yaitu:
1. Estuari berstartifikasi nyata atau estuaria baji garam, yang dicirikan oleh adanya

batas yang jelas antara air tawar dan air asin. Estuaria ini banyak ditemukan di

daerah dimana alir air tawar dari daratan (biasanya melalui sungai besar) lebih

dominan ketimbang penyusupan (intrusi) air asin dari laut yang dipengaruhi oleh

pasang surut.

2. Estuaria campuran sempurna atau estuaria homogen vertikal, banyak

dipengaruhi oleh pasang surut sehingga tercampur sempurna dan tidak terdapat

stratifikasi.

7
3. Estuaria berstratifikasi sebagian/parsial atau estuaria berstratifikasi moderat.
Paling umum dijumpai, biasanya aliran air tawar seimbang dengan masuknya air
laut lewat arus pasang. Percampuran air teruatama oleh karena adanya aksi
pasang surut secara terus-menerus, dan akan tercipta pola lapisan air dan massa
air yang kompleks.
Variasi salinitas di daerah estuaria menentukan kehidupan organisme laut/payau.
Hewan-hewan yang hidup di perairan payau (salinitas 0,5 - 30¡ë), hipersaline (salinitas
40 - 80¡ë), atau air garam (salinitas > 80¡ë), biasanya mempunyai toleransi terhadap
kisaran salinitas yang lebih besar dibandingkan dengan organisme yang hidup di air laut
atau air tawar. Organisme yang dapat tahan terhadap konsentrasi garam mulai dari air
berkristal dalam kondisi kehidupan latent (benih, spora, cysta), dan mulai dari air
destilata sampai salinitas hampir mencapai 300¡ë dalam kondisi kehidupan yang aktif.
Terdapat beberapa spesies yang dapat bertahan hidup pada salinitas di atas
200¡ë seperti brine shrimp, Artemia salina dan larva dipteran, Ephydra. Pada estuaria
Laguna Madre, terdapat paling sedikit 25 spesies hewan yang tahan pada salinitas
sekitar 75 - 80¡ë. Beberapa diantara spesies tersebut seperti Nemopsis bacheri, Acartia
tonsa, Balanus eburneus, dan beberapa jenis ikan juga dijumpai pada salinitas serendah
15 ¡ë.
Hewan-hewan yang toleran pada kisaran salinitas yang luas disebut euryhaline,
sedangkan yang toleran pada kisaran salinitas yang sempit disebut stenohaline.
Pengaruh salinitas terhadap organisme dapat terjadi melalui perubahan-perubahan total
osmocon-sentration, relatif proporsi kandungan garam, koefisien absorpsi dan
saturation gas-gas terlarut, densitas dan viskositas, dan kemungkinan juga melalui
absorpsi radiasi, transmisi suara, dan konduktivitas listrik.
Jumlah spesies organisme yang mendiami estuaria jauh lebih sedikit jika
dibandingkan dengan organisme yang hidup di perairan tawar dan laut. Sedikitnya
jumlah spesies ini terutama disebabkan oleh fluktuasi kondisi lingkungan, sehingga
hanya spesies yang memiliki kekhususan fisiologis yang mampu bertahan hidup di
estuaria. Selain miskin dalam jumlah spesies fauna, estuaria juga miskin akan flora.
Keruhnya perairan estuaria menyebabkan hanya tumbuhan mencuat yang dapat tumbuh
mendominasi. Rendahnya produktivitas primer di kolom air, sedikitnya herbivora dan
terdapatnya sejumlah besar detritus menunjukkan bahwa rantai makanan pada

8
ekosistem estuaria merupakan rantai makanan detritus. Detritus membentuk substrat
untuk pertumbuhan bakteri dan algae yang kemudian menjadi sumber makanan penting
bagi organisme pemakan suspensi dan detritus. Suatu penumpukan bahan makanan
yang dimanfaatkan oleh organisme estuaria merupakan produksi bersih dari detritus
ini. Fauna di estuaria, seperti ikan, kepiting, kerang, dan berbagai jenis cacing
berproduksi dan saling terkait melalui suatu rantai makanan yang kompleks.
E. Tipe-tipe Estuaria
Estuaria dapat dikelompokkan atas empat tipe, berdasarkan karakteristik
geomorfologinya, sebagai berikut:
1. Estuaria daratan pesisir, paling umum dijumpai, dimana pembentukannya
terjadi akibat penaikan permukaan air laut yang menggenangi sungai di bagian
pantai yang landai;
2. Laguna (Gobah) atau teluk semi tertutup, terbentuk oleh adanya beting pasir
yang terletak sejajar dengan garis pantai sehingga menghalangi interaksi
langsung dan terbuka dengan perairan laut;
3. Fjords, merupakan estuaria yang dalam, terbentuk oleh aktivitas glesier yang
mengakibatkan tergenangnya lembah es oleh air laut;
4. Estuaria tektonik, terbentuk akibat aktivitas tektonik (gempa bumi atau letusan
gunung berapi) yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah yang kemudian
digenangi oleh air laut pada saat pasang.

F. Produktifitas dan Peran Ekologi Estuaria


Ada bebrapa penyebab sehingga produktivitas hayati daerah estuaria sangat baik
yaitu:
1. estuaria berperan sebagai penjebak zat hara. Dimana ada tiga cara ekosistim
estuaria menyuburkan diri yaitu:
• dipertahankan dan cepat di daur-ulang zat-zat hara oleh hewan-hewan
yang hidup di dasar estuaria seperti bermacam kerang dan cacing.
• Produksi detritus, yaitu partikel-partikel sersah daun tumbuhan akuatik
makro seperti lamun, yang kemudian di makan olh bermacam ikan dan
udang pemakan detritus.

9
• Pemanfaatan zat hara yang terpendam jauh dalam dasar lewat aktivitas
mikroba (organisme renik seperti bakteri) lewat akar tumbuhan yang
masuk jauh kedalam dasar estuaria, atau lewat hewan penggali liang di
dasar estuaria seperti bermacam cacing.
2. Di daerah tropik estuaria memperoleh manfaat besar dari kenyataan bahwa
tetumbuhan terdiri dari bermacam tipe yang komposisinya demikian rupa
sehingga proses fotosintesis terjadi sepanjang tahun.
3. arti penting pasang surut dalam menciptakan suatu ekosistim akuatik yang
permukaan airnya berfluktuasi.
Peran Ekologis Estuaria.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa peran ekologis estuaria yang penting ialah:
1. merupakan sumber zat hara dan bahan organik bagi bagian estuaria yang jauh
dari garis pantai maupun yang berdekatan dengannya, lewat diangkutnya zat
hara dan bahan organik tersebut oleh sirkulasi pasang surut (tidal circulation);
2. menyediakan habitat bagi sejumlah spesies ikan yang ekonomis penting yang
bergantung pada dasar estuaria sebagai tempat berlindung dan tempat mencari
makanan (feeding ground); dan
3. memenuhi kebutuhan bermacam spesies ikan dan udang yang hidup di lepas
pantai, tetapi yang bermigrasi ke perairan yang dangkal dan terlindung untuk
bereproduksi dan /atau sebagai tempat tumbuh besar (nursery ground) anak
mereka.
G. Jenis-jenis Pantai

1. Pantai Berkarang

Pada zone pantai berkarang terdapat wilayah pasang surut yang hebat.
Daerah ini terbentuk akibat adanya hempasan energi gelombang yang
tinggi.Pada daerah ini juga terdapat banyak tanaman alga. Jenis alga yang
terbanyak yaitu alga hijau dan alga biru. Organisme pada daerah ini membentuk
suatu simbiosis
Pada musim panas, air pada daerah payau pasang surut bisa mencapai
suhu udara yang tinggi yang dapat merusak, sedangkan pada musim dingin
suhunya turun sangat rendah atau juga membeku. Saat air pasang, daerah ini
dibanjiri dengan air laut dengan suhu udara yang berbeda. Untuk

10
mempertahankan hidupnya biota air payau pasang surut harus bisa melawan
variasi suhu udara yang meluas dan perubahan suhu udara yang cepat.
Daerah payau pasang surut mencapai suhu udara yang tinggi pada musim
panas sehingga evaporasi dipercepat. Pada musim dingin es terbentuk pada
daerah payau pasang surut sehingga hal ini menyebabkan percepatan evaporasi,
sehingga salinitas juga berubah-ubah. Oleh karena itu biota daerah pasang surut
harus bisa melawan perubahan salinitas yang cepat dan meluas. Spesies yang
terdapat pada daerah pasang surut adalah alga hijau, anemon, kerang-kerangan,
dan siput.
2. Pantai Berpasir

Pada daerah ini lapisan tanah tidak tetap tetapi mudah berubah akibat
arus dan ombak. Perubahan tersebut menyebabkan populasi tumbuhan dan
hewan yang hidup di garis pantai berbatu. Persebaran tumbuhan dan hewan pada
garis pantai dipengaruhi oleh faktor abiotik. Lapisan tanah ini sering berubah-
ubah sehingga adaptasi hewan pada kondisi ini sangat besar. Contohnya
organisme Psimodan siput “Olive” di pantai pasifik membuat lubang sangat
dalam untuk dijadikan tempat tinggal, sehingga tidak terpengaruh oleh ombak
dan arus air. Pada komunitas pantai berpasir tidak terdapat populasi predator, hal
ini disebabkan biota yang hidup berada di dalam tanah

H. Vegetasi Zona Pasang Surut

1. Hutan Mangrove

Mangrove merupakan sekumpulan tumbuhan berkayu maupun berupa semak


belukar yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah peralihan antara
darat dan laut yang secara periodic masih terkena bahkan tergenangi air pasang.
Tumbuhan-tumbuhan mangrove sering dikenal dengan istilah ‘vegetasi mangrove’,
sedangkan habitat mangrove lebih dikenal dengan istilah ‘mangal’. Vegatasi mangrove
tidak akan kita jumpai di habitat lain, mereka hanya dapat ditemukan di habitatnya,
yaitu daerah intertidal atau daerah antara darat dan laut. Hal inilah yang menjadikan
mangrove sebagai komunitas yang menarik sebagai objek penelitian. Seorang scientist
mangrove bernama Tomlinson membagi komponen penyusun vegetasi mangrove

11
menjadi tida komponen besar, yaitu komponen mayor (major component), komponen
minor (minor component), dan komponen asosiasi (Associate component).
Komponen mayor merupakan komponen penyusun ekosistem mangrove yang
keberadaannya melimpah dan mampu membentuk tegakan murni, namun tidak pernah
meluas sampai ke dalam komunitas daratan. Ada sekitar tiga puluh spesies dalam
sembilan genera dari lima famili yang tercatat sebagai komponen mayor. Sedangkan
komponen minor keberadaannya tidak begitu mencolok dan jarang membentuk tegakan
murni. Tidak kurang dari dua puluh sepesies dari sebelas genera yang tercatat sebagai
komponen minor. Sedangkan komponen asosiasi merupakan komponen yang mampu
tumbuh dengan baik di ekosistem mangrove atau keberadaannya selalu mengikuti
ekosistem mangrove namun jarang ditemukan.
Ekosistem mangrove mempunyai fungsi ekologis antara lain sebagai tempat
untuk mencari makan (feeding ground), bukan hanya untuk biota namun juga untuk
manusia. Berbagai invertebrata menggantungkan hidupnya pada produktivitas
mangrove baik langsung maupun tidak langsung. Beberapa spesies memakan langsung
daun maupun propagul mangrove, sedangkan lainnya mencerna partikel organik halus,
baik yang tersuspensi dalam kolom air sebagai “filter feeder” maupun yang telah
terendapkan di dasar lumpur. Ada pula spesies predator ataupun pemakan sisa-sisa
tumbuhan dan pemangsa hewan lain. Selain itu ekosistem mangrove juga berperan
sebagai tempat pemijahan (spawning ground), tempat pembesaran (nursery ground)
bagi berbagai jenis hewan seperti ikan, udang dan kepiting dan sebagai tempat
bersarang (nesting ground) oleh banyak satwa.
2. Rawa Rumput (marsh grass)

Vegetasi yang terdapat pada zone pasang yaitu rawa rumput pada daerah sub
tropis. Jenis vegetasi ini tumbuh pada daerah yang terlindungi dari ombak dan arus
pantai terutama daerah hamparan lumpur.
Rawa garam terdiri dari dua tanaman utama yaitu rumput tali atau Spartina
alterniflora dan rumput jerami rawa asin atau Spartina patens. Rumput tali berkembak
biak secara cepat pada daerah ini, Rumput tali menghalangi air sehingga pada waktu
pasang sedimen tersuspensi di dasar rumput tali sehingga rawa garam semakin tinggi.

12
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian panjang lebar tentang ekosistem estuaria dan perananannya dalam
kehidupan, jelaslah bahwa ekosistem estuaria tidak bisa dikesampingkan peranannya
bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia.
Ekosistem estuaria, salah satunya hutan mangrove memegang peranan penting
dalam kelestarian kehidupan laut. Sebagai feeding ground, spawning ground, dan
nursery ground, kelestarian hutan mangrove adalah harga mati bagi kelestarian
kehidupan laut dimana laut merupakan salah satu sumber pemenuhan kebutuhan protein
umat manusia.
Selain itu, secara umum ekosistem estuaria memiliki peran ekologis estuaria
yang penting. Estauria merupakan penyedia sumber zat hara dan bahan organik bagi
bagian estuaria yang jauh dari garis pantai maupun yang berdekatan dengannya, lewat
diangkutnya zat hara dan bahan organik tersebut oleh sirkulasi pasang surut (tidal
circulation).
Kawasan estuaria juga berperan sebagai penyedia habitat bagi sejumlah spesies
ikan yang ekonomis penting yang bergantung pada dasar estuaria sebagai tempat
berlindung dan tempat mencari makanan. Selain itu bagi beberapa spesies kawaan
estuaria juga dijadikan sebagai tempat pengasuhan bagi anak-anak mereka.
Mengingat besarnya peranan kawasan estuaria terhadap kehidupan kita, sudah
semestinya ekosistem ini terus kita jaga kelestariannya. Kesadaran untuk melestarikan
alam bukan hanya tumbuh karena alam yang kita lestarikan memberikan manfaat bagi
kehidupan kita, tetapi alam dilestarikan karena mereka memiliki nilai pada dirinya
sendiri.

13
DAFTAR PUSTAKA
Sunarto, 2002. Hand out kuliah Ekosistem Pantai. Laboratorium Geomorfologi
Terapan, Jurusan Geofisik, Fakultas Geografi UGM.
Zuidam, van, 1986. Aerial photo. Interpretation in Terrain Analysis in Geomorphologic
Mapping, Smith Publisher, The Hague Netherland.
Black, John A. 1986. Ocean and Coast An Introduction to Oceanography. New York:
United State of America.
Setiabudi Wiwoho, Bagus. 1999. Pengantar Oseanografi. Malang: Jurusan Geografi UM

14
13. EKOLOGI MUARA DAN INTERTIDAL

Kata kunci
Penghalang biotik Kompetisi intraspesifik
Penghalang abiotik Batasan kematian
Komunitas Mortalitas
Prinsip eksklusif kompetitif Natalitas
Rata – rata reproduksi diferensial Ceruk
Ekosistem Organisme
Prinsip Gause Populasi
Habitat Stabil secara termal
Kompetisi interspesifik Tak stabil secara termal
Perairan interstitial

Semua organisme dipengaruhi dan, sebaliknya, mempengaruhi lingkungan terdekatnya,


yang terdiri dari komponen hidup, atau biotik dan tak hidup atau abiotik. Ketika
organisme dengan kebutuhan yang sama berhadapan satu sama lain, mereka akan secara
umum berkompetisi demi beragam sumber daya alam, seperti makanan dan tempat
tinggal. Satu kelompok organisme akan sukses dan akan berkembang biak dan menjadi
mudah ditemukan pada area tersebut; yang lain akan menjadi langka dan mungkin
musnah dari area tersebut.
Kemampuan hewan dan tanaman untuk secara sukses berinteraksi di antara mereka
sendiri, dengan hewan dan tanaman lainnya, dan dengan lingkungan biotiknya
dicerminkan oleh besarnya populasi mereka, rata – rata kematian dan kelahiran, dan
faktor – faktor lainnya. Organisme dan distribusi organisme ini sepanjang garis pantai
adalah hasil akhir interaksi ini.
Prinsip ekologis
Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari hubungan faktor biotik dan abiotik
yang keduanya mencakup lingkungan. Komponen biotik yang dipelajari oleh ahli ekologi
adalah organisme, populasi, komunitas dan ekosistem.
Dengan pengecualian plankton bersel satu dan bakteri, sebuah organisme adalah sesuatu
yang dianggap sebagai individu tunggal dari spesies tertentu yang terdiri dari sel, organ
dan sistem organ yang berfungsi bersama – sama sebagai entitas biologis. Kelompok
organisme dari spesies yang sama yang hidup bersama di area tertentu dianggap sebagai
sebuah populasi. Sebagai contoh, sekelompok bintang laut yang menghuni teluk tertentu
sepanjang pesisir maine adalah sebuah populasi spesies bintang laut tersebut. Kelompok
laun dari organisme ini yang menghuni zona intertidal di belakang barisan bay-mouth di
cape god, massachusetts, akan membentuk populasi spesies yang sama lainnya.
Sepertinya akan terdapat spesies lain yang menghuni area ini. sebagai contoh, Secara
umum siput periwinkle biasanya juga ditemukan di daerah seperti ini. Semua populasi
yang hidup di area yang sama berinteraksi satu dengan lainnya dan dengan lingkungan
biotik untuk membentuk sebuah komunitas. Komunitas dapat didefinisikan sebagai
beragam populasi tanaman dan hewan yang menghuni area tertentu.
Beberapa komunitas yang berlokasi di sepanjang garis pantai tertentu dianggap sebagai
sebuah ekosistem. Sebagai contoh, pesisir utara long island, new York, dan garis pantai
sebelah selatan connecticut penuh dengan teluk – teluk, masing – masing teluk dapat
dianggap sebagai sebuah komunitas, karena dihuni oleh beragam populasi. Semua
populasi ini berinteraksi di dalam dirinya sendiri dan dengan yang lainnya, dan semua
dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan abiotiknya. Masing – masing teluk ini
berinterkoneksi dengan perairan laut lepas long island sound, dan perairan yang lebih
dalam ini juga mengandung beragam populasi dan komunitas. Semua komponen biotik
dan biotik ini berinteraksi untuk membentuk ekosistem long island sound.
ekosistem long island sound, sebaliknya, berinterkoneksi dengan, mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh ekosistem zona sedang mid-atlantik. Ekosistem kelautan ini cukup
berbeda dalam hal salinitas (kadar garam), temperatur, substrat (landasan) pesisir, dan
sebagainya, untuk membedakannya dari atlantik utara maupun subtropis. Ekosistem dapat
didefinisikan sebagai area geografis yang lebih luas yang mencakup beberapa komunitas
gbr 13.1.
Spesies adalah unit dasar yang digunakan untuk menguraikan populasi. Sebuah spesies
dapat dianggap sebagai sebuah kelompok organisme yang secara nyata dan potensial
mampu berkembang biak dan memproduksi keturunan yang viabel, subur. Keturunan –
keturunan ini juga harus mampu bereproduksi dalam rangka melestarikan spesies
tersebut. Kuda dan keledai, dua spesies yang berbeda, mampu kawin dan mereproduksi
keturunan yang viabel, tetapi para biologis menganggap mereka sebagi dua spesies yang
berbeda. Hal ini dikarenakan hasil dari perkawinan mereka – seekor bagal – tidaklah
subur dan tidak mampu bereproduksi.
Sebuah populasi periwinkle dari spesies L littores, yang menghuni garis pantai tertentu
sepanjang pesisir maine, dianggap sebagai spesies yang sama dengan periwinkle yang
menghuni pantai sepanjang long island sound. Meskipun populasi maine sebenarnya
tidak dapat berkembang biak dengan populasi long islang sound, tetapi potensi
reproduksi tetap ada; jika populasi maine dibawa ke perairan long island, reproduksi
dapat terjadi. Oleh karena itu, kedua populasi ini dianggap sebagai spesies yang sama.

Habitat dan ceruk


Akan lebih mudah jika kita membahas populasi dalam hal habitat dan ceruknya. Habitat
didefinisikan sebagi sebuah area di mana organisme tertentu sering ditemukan. Sebagai
contoh, habitat periwinkle adalah zona intertidal dari garis pantai berbatu. Habitat
memberitahukan di mana organisme tersebut tinggal dan sedikit hal lainnya.
Ceruk adalah konsep yang jauh lebih bernilai dan dapat didefinisikan sebagi peran
fungsional dari sebuah populasi di dalam komunitasnya. Dalam rangka menjelaskan
ceruk secara lengkap, segala aspek dari gaya hidup sebuah organisme harus
dipertimbangkan. Sebagai contoh, penting untuk memperjelas apa yang dimakan dan
memakan organisme tersebut, model reproduksinya, jumlah organisme muda yang
diproduksi, tipe substrat yang lebih dipilihnya, tipe substrat yang dapat di toleransi dan
sebagainya.

Hubungan intra dan interspesifik


Organisme yang terdiri dari populasi yang ada saling berkompetisi dalam dirinya sendiri
demi beragam faktor, seperti makanan, tempat tinggal fisik, dan dalam beberapa kasus,
pasangan. Hal ini dinamakan kompetisi intraspesifik, karena hal ini terjadi di antara
spesies yang sama. Organisme yang berada di dalam populasi yang merupakan pesaing
yang lebih baik akan mendapatkan makanan paling banyak, tempat tinggal yang
diinginkan, dst. Organisme superior ini disebut sebagai yang paling layak, dan oleh
karena itu mereka ia, dalam kebanyakan, akan mulai berkembang biak lebih cepat dengan
individu superior lain, memproduksi lebih banyak keturunan daripada anggota populasi
yang kurang layak. Sebagai tambahan, terdapat probabilitas tinggi bahwa sejumlah besar
keturunan ini akan menjadi superior dan sehingga memiliki rata – rata daya tahan lebih
tinggi daripada keturunan dari perkawinan individu yang kurang layak.
Keturunan superior ini juga akan mulai berkembang naik lebih cepat dan akan kawin
dengan individu superior yang lain untuk memproduksi keturunan yang superior; dan
siklus ini akan berulang – ulang. Oleh karena itu, dalam jangka waktu yang lama, garis
keturunan organisme superior akan memiliki keuntungan numerik dan juga fisik dan/ atau
psikologis dan akan menyingkirkan individu yang kurang layak dalam populasi. Secara
esensial, ini adalah contoh dari seleksi alam Charles Darwin, yang terjadi sebagai hasil
dari rata – rata reproduksi diferensial di mana organisme yang paling layak memproduksi
sebagian besar garis keturunan, yang paling banyak dari mereka akan bertahan untuk
secara penuh mendominasi populasi tersebut.
Individu yang lebih lemah akan mati atau jika mampu bergerak, mungkin berpindah ke
lokasi lain di mana kompetisi intraspesifiknya kurang kejam. Seluruh proses ini berujung
pada perkembangan kontinu populasi. Proses ini cenderung pasif, jarang, jika ada,
membuat organisme terlibat dalam pertarungan fisik aktif.
Di dalam komunitas, individu dari spesies yang berbeda dapat berkompetisi satu sama
lainnya demi makanan, tempat tinggal, dan pada kasus tertentu, area berkembang biak.
jika terjadi, kompetisi antara spesies yang berbeda dinamakan kompetisi interspesifik.
Ketika spesies berkompetisi secara interspesifik, populasi yang kurang layak akan
tersingkir, rata –rata reproduksinya akan jatuh dan spesies yang lebih layak akan
berkembang biak dan mendominasi komunitas tersebut. Individual yang termasuk
populasi yang kurang layak akan menurun jumlahnya ataupun mati. Jika dapat bergerak,
populasi tersebut mungkin pindah ke tempat dengan sedikit kompetisi.
Kompetisi intra maupun interspesifik berujung pada organisme yang paling layak
menjadi lebih efisien dalam mendapatkan sumber daya alam yang mereka butuhkan
dalam menjalankan siklus hidupnya. Jika organisme yang kurang layak mampu
menemukan dan berpindah ke area lain, mereka akan dipaksa melakukan strategi
pemangsaan yang berbeda mengadopsi suplai makanan alternatif, dll. Sehingga,
organisme superior dapat menjadi lebih terspesialisasi dalam hal makanan, sementara
organisme yang kurang layak dapat menjadi lebih serba bisa.
Spesialisasi eksesif sebenarnya dapat menjadi kerugian bagi spesies tersebut. Sebagai
contoh, spesies burung, alap – alap everglades, telah mengembangkan paruh yang sangat
spesial yang membuatnya mampu secara eksklusif memangsa siput yang menghuni
everglades di florida. Saat everglades menjadi berkembang , populasi siput turun drastis,
berujung pada penurunan dramatis dalam populasi alap – alap sehingga banyak orang
khawatir akan punah. Seperti yang diilustrasikan contoh ini, ketika sebuah spesies
termodifikasi sebagai respons terhadap faktor alam, adaptasi menguntungkan yang
menakjubkan mungkin terjadi. Akan tetapi, manusia sering mengubah kondisi dengan
sangat cepat sehingga sebuah spesies tidak mampu mengikutinya.
Pada 1932, biologis Argentina tak jelas, angel cabrera, menghubungkan ceruk dengan
kompetisi yang sekarang dikenal sebagai prinsip ekslusi kompetitif. Prinsip ini percaya
bahwa tidak ada dua spesies yang dapat menempati ceruk yang sama pada waktu yang
sama dalam komunitas yang sama tanpa memicu kompetisi. Ketika spesies mulai
berkompetisi, salah satu dari tiga hal harus terjadi; kompetitor yang lebih lemah dipaksa
keluar komunitas, menjadi mati atau salah satu dari dua spesies yang berkompetisi
mampu memodifikasi gaya hidupnya sampai pada derajat yang cukup untuk menghindari
kompetisi. Jika yang terakhir terjadi, masing – masing spesies atau yang lebih lemah,
akan memakai ceruk yang lebih terbatas. Sebagai contoh, kompetisi dapat memaksa
spesies yang lebih lemah untuk hanya mengonsumsi satu spesies mangsa. Sementara
dalam ketiadaan kompetisi beragam spesies mangsa yang berbeda mungkin telah
dikonsumsi. Dalam sebagian besar komunitas penyusutan ceruk secara umum adalah
hasil akhir kompetisi interspesifik. Sepertinya, hanya kompetitor yang paling lemah yang
mati atau tersingkir dari area tersebut. Akan tetapi, kompetitor superior akan memiliki
rata – rata reproduksi yang lebih tinggi dan mendominasi komunitas tersebut.
Prinsip ekslusi interpsesifik sering disebut sebagai prinsip Gause, diambil dari nama GF
Gause, yang membuta korelasi secara independen tetapi setelah carbera. Karya Gause
lebih tersebar luas dan menjadi lebih dikenal. Akan tetapi cabrera tidak hanya
mendahului Gause tetapi juga menyatakan prinsip tersebut dengan lebih jelas dan
ringkas.
Ketika kompetisi interspesifik seringnya mengarah pada penyusustan ceruk dalam
populasi yang kurang layak, sebaliknya kompetisi intraspesifik, dengan menaikkan rata –
rata reproduksi di antara individu yang lebih layak dalam sebuah populasi, sering
menyebabkan populasi tesebut memperluas lingkupnya.
Awal dari ekspansi lingkup dapat diamati dengan baik ketika sedikit individu pindah ke
area yang belum pernah ditempati sebelumnya yang mengandung semua sumber daya
alam yang dibutuhkan spesies tersebut. Jika terjadi populasi secara awal akan mulai
meningkat dari angka rendah saat individu membiasakan diri mereka dengan sekitarnya.
Setelah periode ini, rata – rata pertumbuhan populasi akan meningkat secara dramatis dan
kemudian akhirnya berlevel stabil gbr 13.2.
Jika rata – rata kelahiran dan kematian, masing – masing disebut sebagai natalitas dan
mortalitas, tetap sama sepanjang masa, hal ini mengikuti bahwa beberapa individu harus
meninggalkan area tersebut. Migrasi pada populasi yang bergerak umumnya terjadi
sebagai hasil dari kompetisi intrasepesifik. Hewan muda dan tua umumnya merupakan
kompetitor yang lebih lemah dan dipaksa bergerak menuju area lain dalam mencari
makanan dan kebutuhan yang lain. Ketika hal ini terjadi, populasi tersebut telah
memperluas jangkauannya gbr 13.3
Ekspansi jangkauan akan berlanjut sampai terhenti oleh penghalang biotik dan biotik.
Sebagai contoh, siput periwinkle membutuhkan substrat berbatuan; suplai makanannya,
beragam spesies alga, ditemukan menempel pada batuan. Sehingga, periwinkle hanya
bisa memperluas jangkauannya sepanjang garis pantai berbatu, karena suplai
makanannya terbatas pada daerah ini saja. Jika periwnkle berniat berkoloni di garis pantai
berlumpur dan mengonsumsi suplai makanan lain, periwinkle akan berkompetisi
interspesifik dengan siput lumpur. Spesies ini, sebagai hasil dari kompetisi intraspesifik
kontinu-nya sendiri, telah beradaptasi dengan baik terhadap area berlumpur ini dan akan,
sepertinya, dengan mudah menyingkirkan periwinkle.
Dalam banyak kasus, sebuah populasi yang menjalani ekspansi jangkauan akan
memasuki area yang cocok tetapi telah dihuni oleh spesies lain dengan kebutuhan ceruk
yang sama. Jika hal ini terjadi, maka kompetisi interspesifik akan muncul dan spesies
yang lebih lemah akan dipaksa menyusutkan jangkauan ataupun ceruknya.
Adalah penting untuk memperhatikan bahwa penyusutan ceruk membuat spesies yang
lebih lemah mampu bertahan dalam area yang sama. Penyusutan jangkauan, sebaliknya,
terjadi ketika sebuah organisme dipaksa dari sebuah area oleh kompetisi interspesifik.
Secara umum, ekspansi jangkauan adalah hasil dari kompetisi intraspesifik, sementara
kompetisi interspesifik mengarah pada penyusutan jangkauan ataupun ceruknya.
Penghalang biotik terhadap ekspansi jangkauan, ketiadaan suplai makanan yang
mencukupi atau kehadiran spesies lain yang memperluas populasi yang mungkin
berkompetisi dengannya. Penghalang biotik yang paling umum bagai ekspansi jangkauan
adalah tipe substrat, jangkauan pasang surut, temperatur dan salinitas. Dari beberapa ini,
substrat, jangkauan pasang surut dan salinitas adalah penting secara lokal, sementara
temperatur membatasi jangkauan organisme dalam area geografis yang luas. Efek
temperatur juga penting secara lokal di area muara, dan juga dalam zona intertidal.
Faktor abiotik
Temperatur
Efek geografi skala luas temperatur pada distribusi biologis sangatlah tegas sepanjang
pesisir timur Amerika serikat. Ini adalah bukti dalam keaneka ragaman biologis yang
banyak area tersebut. Samudra atlantik sedang antara nova scotia dan cape hatteras,
carolina utara gbr 13.4, meliputi hanya 9’ latitude, tetapi memiliki komponen biotik dari
atlantik kutub maupun tropis. Keragaman yang luas dalam bentuk kehidupan dikarenakan
jalur Gulf Stream bab 10, yang bergerak sebagai aliran pesisir sepanjang pantai florida,
Georgia, carolina utara dan bagian selatan carolina utara. Di cape hatteras Gulf stream
bergerak ke laut dan terus menuju utara sebagai aliran lepas pantai. Sebagai hasilnya
perairan pantai selatan cape hatteras menjadi hangat dan menunjukkan lingkup
temperatur hanya 10’ C18; F antara panasnya musim panas dan dinginnya musim dingin.
Perairan pantai dari cape hatteras sampai cape god, massachusetts, sebaliknya,
mengalami fluktuasi temperatur yang lebar dan beragam sebesar 20 C 36 F pertahunnya.
Perairan pantai utara cape god bergerak menuju selatan dari laut utara yang lebih dingin.
Perairan dari nova scotia sampai cape god biasanya dingin, tetapi seperti imbangannya di
cape hatteras, menunjukkan jangkauan temperatur yang sempit 10 C.
Masa air menunjukkan jangkauan temperatur yang kecil disebut sebagai stabil secara
termal; sedangkan yang memiliki variasi temperatur lebar disebut tak stabil secara termal.
Sehingga, dapat dikatakan bahwa perairan dari cape hattteras sampai cape god tak stabil
secara termal dan berlokasi antar dua masa air stabil secara termal, satu dingin dan tang
lainnya hangat.
Daerah temperatur yang berbeda ini memiliki implikasi biotik penting dan menyebabkan
perairan cape god dan cape hatteras berlaku sebagai penghalang termal yang mencegah
ekspansi jangkauan permanen spesies selatan menuju utara dan spesies selatan menuju
utara. Sebagai contoh, di musim dingin perairan dari cape god sampai cape hatteras
menjadi dingin sapai pada derajat diaman spesies utara, seperti ikan cod, mampu
bermigrasi ke selatan. Plankton utara juga terbawa ke selatan oleh aliran air dingin, tetapi
migrasi mereka pasif. Ketik air menjadi hangat pada akhir musim semi, ikan cod bergeak
lagi ke utara; planktonnya, karena tidak mampu bertahan di air yang lebih hangat, akan
mati.
Hal yang sebaliknya terjadi di musim dingin ketika air hangat menembus ke utara cape
hatteras. Spesies air hangat mampu bermigrasi ke utara sejauh cape god. Penngahalang
termal air dingin secara umum mencegah migrasi lebih jauh ke utara, meskipun kadang –
kadang beberapa spesies selatan ditemukan di teluk maine. Ketika perairannya mendingin
di musim gugur, ikan tersebut akan bergerak ke selatan, sementara planktonnya,
beradaptasi dengan air hangat akan mati.
Karena perubahan temperatur musiman di cape hatteras dan cape god mencegah ekspansi
jangkaun permanen dari spesies utara dan selatan, cape ini dianggap sebagai titik
perubahan biogeografis. akan tetapi, Perbatasan biogeografis ini tidaklah absolut; tetapi
lebih berlaku sebagai filter selektif. Sebagi contoh propinsi Virginia bab 10 memiliki
beberapa spesies asli tetapi paling utama terdiri dari komponen yang lebih berasa dari
utara dan selatan. Propinsi ini dikatakan menjadi miskin, yang berarti bahwa hanya
terdapat sedikit penghuni dari selatan dan utara di dalamnya. Pada kenyataannya propinsi
Virginia adalah area transisional antara propinsi carolina yang lebih stabil secara termal
dengan daerah selatan dan yang lebih utara atau boreal.
Pada skala yang lebih lokal, efek temperatur adalah faktor biotik penting di area muara
dan, masih pada skala yang lebih kecil, di zona intertidal. Muara terdiri dari volume air
yang lebih sedikit daripada laut lepas pantaui terdekat. Karena volume yang lebih kecil
air menghangat dan mendingin lebih cepat sebagai respons terhadap temperatur
atmosferik, temperatur air muara beragam menurut musimnya. Jangkauan temperatur ini
diubah oleh input air tawar dari sungai, arus dan pengikisan permukaan. Karena
temperatur sistem air tawar ini mendekati temperatur atmosferik, mereka membawa air
dingin ke muara di musim dingin dan air hangat di musim panas. Hal ini memperkuat
perbedaan temperatur antar perairan muara dan laut pesisir. Lebih – lebih sungai, arus
dst. Masuk sepanjang sisi menuju daratan muara, sementara air yang lebih asin masuk
melewati jalan masuk dan mengadilkan jangkauan temperatur rendah di porsi menuju laut
muara dan jangkauan temperatur luas menuju porsi daratan. Dikarenakan air tawar
kurang padat daripada aiar laut maupun air muara, maka ia cenderung melapisi di
permukaan. Stratifikasi tipe ini bertanggung jawab terhadap distribusi vertikal temperatur
di beberapa muara. Semua faktor ini menyebabkan muara menjadi lebih hangat di musim
panas dan lebih dingin di musim dingin daripada perairan pesisir terdekat.
Temperatur juga memainkan peranan penting dalam zona intertdal. Area ini secara
periodik tertutupi oleh air pada saat pasang dan terekspos ke atmosfer selama air surut.
Karena udara memiliki jangkauan temperatur harian dan tahunan yang lebih luas daripada
air dengan pana latennya bab 6 organisme intertidal terekspos terhadap variasi temperatur
yang luas. Bahwasanya jangkauan temperatur udara sering melewati batasan lethal bagi
organisme kelautan. Jika organisme intertidal terekspos pas saat air surut, ketika
temperatur udara pada batas maksimum atau minimumnya, batasan lethal mungkin
terlampaui dan organisme tersebut akan mati. Bahkan jika batasan lethal tidak tercapai,
temperatur udara mungkin menjadi rendah atau tinggi sehingga melemahkan organisme
tersebut dan mereka akan mati karena penyebab lainnya, seperti kurangnya suplai
makanan dst.
Salinitas kadar garam
Variasi salinitas juga memiliki efek mendalam pada distribusi tanaman dan hewan,
khususnya di muara dan zona intertidal. Klasifikasi muara berdasarkan pada pola salinitas
dan efek variasi salinitas pada distribusi organisme muara dibahas pada bab 11. sebagai
tambahan terhadap efek yang relatif berskala besar, jangkauan tidal, efek coriolis dan
hujan musiman dan daerah temperatur juga mempengaruhi pola salinitas muara.
Di muatra yang memiliki jangkau tidal yang luas, air laut akan terbawa jauh ke dalam
muara pada saat air pasang, sementara pada air surut, air tawar subpermukaan dapat
menembus jarak yang lumayan menuju laut. Dalam kasus ini, daerah tertentu muara akan
memiliki daerah salinitas yang temperatur dengan peruangan pasang – surut dari salinitas
tinggi sampai hampir air tawar. Dalam area seperti fluktuasi salinitas maksimum ini,
salinitas berkisar lebih dari enam sampai duabelas periode tidal dapat melampaui kisaran
salinitas tahunan bagi seluruh muara. Populasi hewan bergerak mungkin terdiri dari
spesies air tawar selama air surut dan spesies laut selam air pasang. Organisme sessiel,
jika ada, pastinya adalah euryhaline bab 11.
Efek coriolis adalah pembiasan perairan yang bergerak karena rotasi bumi. Hal ini akan
diingat bahwa perairan ini terbiaskan ke sebelah kanannya di hemisphere selatan dan ke
kirinya di hemisphere utara. Di hemispheree utara ketika air asin menuju ke dalam muara,
ia dibiaskan ke kanan; air tawar yang bergerak menuju laut juga dibiaskan ke kanan –
sepanjang garis pantai yang berlawanan gbr 13.5. bagi para pengamat yang menghadap
muara air laut akan dibiaskan ke kanan mereka dan air tawar dibiaskan ke kiri mereka.
Sebagai hasil dari efek coriolis, terdapat dua titik pada garis pantai berlawanan dari
muara yang akan memilik salinitas yang berbeda gbr 13.6. area ini mungkin ditandai
dengan populasi hewan dan tanaman yang berbeda juga. Di hemisphere selatan
pembiasan air asin dan tawar akan terbalik gbr 13.7, seperti titik – itik salinitas tinggi dan
rendah sepanjang garis pantai berlawanan – air laut yang datang akan dibiaskan ke
sebelah kiri pengamat.
Perubahan musiman dalam salinitas muara secara umum dikorelasikan dengan perubahan
musiman dalam temperatur dan/ atau aliran sungai. Dalam zona sedang temperatur
musim panas yang lebih hangat mengarahkan pada rata – rata penguapan yang lebih
tinggi dan oleh karena itu salinitas muara yang lebih tinggi di musim panas. Yang sama
di area di mana aliran sungai dan pengikisan permukaan berubah musiman karena pola
precipiasi, salinitas muara akan meningkat selama periode kering dan menurun selama
periode hujan deras.
Variasi salinitas juga mempengaruhi distribusi organisme penggali. Sedimen zona
subtidal dan intertidal dari garis pantai tak berkonsolidasi paling sering terdiri dari
lumpur dan/ atau pasir. Air yang diketahui sebagai air interstitial menjenuhkan ruang,
atau celah di antara sedimen – sedimen ini. Yang sama, organisme penggali yang
menghuni ruang interstitial ini dianggap sebagai organisme interstitial.
Air interstitial berasal dari pelapisan air laut yang secara permanen menutupi sedimen
subtidal atau bahwa banjir periodik zona intertidal pada saat air pasang. Karena air yang
lebih asin secara umum lebih padat daripada air dengan salinitas rendah, air yangpaling
asin akan ditemukan secara cepat di bawah dasar. Adalah air asin ini yang merembes
menjadi sedimen dan membentuk air interstitial. Sebagai hasilnya organisme penggali
dasar dari zona subtidal dan intertidal akan tetap terekspos pada air asin gbr 13.8.
Akan tetapi terdapat dua pengecualian; muara yang didominasi tidal dan yang merupakan
area sub dan intertidal yang menerima masukan air tanah signifikan. Seperti yang dibahas
sebelumnya muara yang didominasi tidal menunjukkan fluktuasi salinitas maksimum,
menyebabkan variasi luas dalam salinitas air interstitial. Sepanjang banyak air tanah garis
pantai, terbentuk oleh air hujan yang merembes ke dalam sedimen terestrial, bergerak
horizontal dan menyilang permukaan bumi pada zona intertidal dan subtidal. Jika hal ini
terjadi air tanah yang kurang padat akan naik ke atas air interstitial asin yang lebih padat.
Organisme penggali mungkin akan terekspos pada aliran kontinu air tanah yang naik.
Reduksi salinitas ini pada air interstitial mungkin pas untuk menghilangkan organisme
penggali dasar di area sepeti itu gbr 13.9.
Di dalam porsi yang lebih atas, sedimen intertidal dibanjiri hanya pada saat air pasang,
ketika air pantai yang lebih asin terbawa naik menuju porsi daratan pada saat air pasang.
Sebaliknya lebih banyak porsi menuju laut dari zona intertidal yang tertutup oleh air
dengan salinitas yang lebih rendah, dikarenakan naiknya jumlah air sungai yang mengalir
ke muara pada saat air surut. Sebagai hasilnya salinitas interstitialnya lebih tinggi pada
horizon air surut, yang sering membuat organisme laut intersttial menembus jauh lebih ke
atas pada saat horizon air pasang daripada yang terjadi saat horizon air surut.
Salinitas air interstitial juga memainkan peranan penting dalam distribusi organisme
penggali intertidal pada pantai penghalang. Pantai – pantai ini berkembang pada sisi
menuju laut dari muara, secara umum jauh dari input air tawar sungai. Karena jarang
terekspos atmosfer dan tertutup oleh air laut, dapat diduga bahwa organisme yang hidup
di pantai – pantai ini adalah stenohaline bab 11 dan mampu bertahan hanya pada air yang
lumayan asin saja. Agaknya organisme ini, khususnya yang tinggal di atau menjorok ke
permukaan sedimen, adalah euryhaline dan dapat dengan sukses tahan akan variasi
salinitas air 15 0/00. meskipun organisme ini terekspos pada air yang lumayan asin pada
saat air pasang, ia juga terkena air tawar pada periode hujan kedua air surut. Karena air
tawar kurang padat dibanding dengan air laut interstitial, air tawar tidak akan tenggelam
di bawah air laut interstitial. Sebagai hasilnya hanya sedimen dekat dengan permukaan
yang mengandung air interstitial yang benar – benar tawar atau berkurang besar
salinitasnya. Di bawah pertemuan air laut – air tawar, salinitas air interstitial tetap sama
seperti air yang melapisi sedimen selama air pasang. Karena perbedaan dalam salinitas air
interstitial ini, organisme euryhalin ditemukan pada permukaan dan dalam sedimen
terdekat dengan permukaan pantai penghalang intertidal, sementara organisme
stenohaline ditemukan dalam sedimen yang lebih dalam.
Tidal pasang surut
Terdapat tiga efek tidal utama yang dialami oleh hewan dan tanaman yang hidup di zona
intertidal; durasi tidal, hari di mana tidal tertentu terjadi, dan periodisitas ritmis tidal.
Durasi tidal menurut; jumlah waktu dimana organisme intertidal akan terekspos pada
atmosfer. Sebagai contoh hewan dari horizon air surut mengalami waktu ekspos yang
sangat berbeda daripada yag dialami hewan horizon air pasang. periode waktu di mana
organisme ini terekspos yang mereka mudah terpengaruh terhadap kekeringan dan
atmospherik lethal. Semakin lama periode ekspos, semakin besar probabilitas organisme
tersebut menjadi kekeringan atau mengalami temperatur tinggi atau rendah yang
mematikan. Naiknya ekspos waktu mungkin juga melemahkan organisme ini sampai
pada derajat dimana ia akan mati karena penyebab lain. Sebagai tambahan sebagian besar
organisme laut sessile hanya dapat makan ketika mereka tergenang air. Sebagai hasilnya
hewan sessile dari horizon air surut memiliki kesempatan makan lebih besar, jika
dibandingkan dengan yang berada di horizon air pasang. Hal ini umum tercermin dari
ukuran distribusi populasi yang hidup seluruh zona intertidal. Organisme yang menghuni
horizon air surut secara umum lebih besar daripada reknnya yang berada di horizon air
pasang. Fenomena ini umum diamati pada populasi berangas; yang berada di horizon air
surut lebih besar daripada yang berada di horizon air pasang.
Hari dimana terjadinya tidal tertentu juga penting, ketika dianggap berhubungan dengan
kemungkinan bahwa organisme mengalami temperatur yang mematikan. Terdapat
probabilitas yang lebih tinggi bahwa organisme intertida tropis mengalami temperatur
atmosfer yang secara mematikan tinggi jika air surut terjadi pada siang hari daripada jika
terjadi pada tengah malam. Hal yang sebaliknya akan terjadi pada daerah kutub, dimana
akan terdapat kemungkinan yang lebih besar jika sebuah organisme akan mengalami
temperatur rendah yang memetikan jika terekspos pada tegah malam daripada siang hari.
Dalam daerah dingin sedang, temperatur mematikan kebanyakan terjadi ketika organisme
tersebut terekspos selama siang di musim panas dan malam hari di musim dingin. Selama
musim tersebut, temperatur tinggi dan rendah yang mematikan sepertinya sering terjadi.
Pada akhirnya, kemampuan prediksi siklus tidal nampak memiliki ritme biologis
terinduksi pada banyak organisme laut. Seperti yang telah dicatat banyak hewan intertidal
sessile mampu makan hanya pada saat mereka tergenang di air. Lebih – lebih banyak dari
organisme ini, kalau tidak semua, hidup di zona intertidal menjadi diam ketika terekspos
ke udara dan kembali ke aktivitas normal hanya ketika habitatnya tergenangi. Lebih jauh
beberapa hewan seperti grunion, ikan yang hidup di perairan pesisir samudra pasifik,
mengukur waktu bertelurnya berbarengan dengan tidal musim panas dan semi bab 4.
Substrat landasan
Mungkin tidak ada faktor abiotik lainnya yang memainkan peranan jelas dalam
mengontrol distribusi organisme laut seperti yang dilakukan sedimen. Dalam
menggambarkan habitat, semua sedimen dapat dibagi menjadi tipe sendimen
berkonsolidasi dan tak terkonsolodasi. Habitat yang terdiri dari substrat terkonslidasi
termasuk garis pantai bergletser seperti nova scotia di mana lapisan batuan dasar telah
terekspos dan karena laut pada zona intertidal, sama seperti garis pantai berbatu di maine.
Pada area seperti itu sedimen yang baik , berkisar dari pasir kasar sampai endapan
umumnya terbawa ke perairan yang lebih dalam dan menutupi lapisan batuan lepas
pantai. Dermaga batu, pelindung pantai dan pemecah ombak bab 12 adalah contoh habitat
berkonsolidasi buatan, karya manusia. Karena strukturnya dibangun untuk menstabilkan
garis pantai tak terjkonsoliasi, mereka mampu mempuat organisme mendapatkan subtrat
berkonsolidasi untuk berpopulasi di garis pantai dimana biasanya tidak akan terjadi
secara normal.
Substrat tak berkonsolidasi biasanya ditemukan sepanjang garis pesisir nongletser.
Substrat ini terdiri dari material yang dipindahkan oleh ombak dan aliran normal yang
terjadi di area yang ada. Sehingga, sedimen yang berkisar dari batu kali sampai lempung
dan endapan mencakup substrat tak berkonsolidasi. Sedimen memainkan peranan penting
dalam distribusi biotik sehingga komunitas sering terdisain oleh tipe sedimen dominan
yang ada.
Interaksi substrat – komunitas
Ahli ekologi sering menggambarkan dan mendeskripsikan komunitas dengan
menamainya dari faktor biotik dan biotiknya yang paling jelas. Dengan menggunakan
metode ini, juga memungkinkan untuk menduga tipe organisme yang mungkin hadir
dalam komunitas yang ada. Sebagai contoh, dataran berlumpur dibelakang tepi bay-
mouth sering menjadi fitur yang sangat jelas. Area ini dapat disebut sebagai komunitas
dalarn lumpur, menamakannya karena fitur abiotik yang paling terbukti. Nama komunitas
daratan lumpur mengindikasikan bahwa sedimennya sangat baik dan bahwa organsime
seperti berangas, yang menempekan diri pada substrat, tidak mungkin ada. Agaknya
hewan penggali yang memungkinkan menjadi penghuninya, bersama dengan siput
lumpur.
Hal yang sama, garis pantai berbatu adalah fitur yang umum dan jelas sepanjang pesisir
yang tersapu ombak dengan aliran yang kuat. Di area seperti ini ombak dan aliran
pemecah menghilangkan pasir yang baik, lempung dan endapan. Garis pantai berbatu
mengindikasikan sebuah area dimana sejumlah besar energi ombak dilepaskan; area ini
sering disebut sebagai komunitas pantai-berbatu. Komunitas pantai berbatu terdiri dari
organisme yang beradaptasi dengan menempel pada batuan dengan maksud mencegah
agar tidak tersapu ombak. Berangas, bintang laut, periwinkle dan ganggang laut yang
menempel kuat adalah populasi yang umum pada komunitas pantai berbatu. Komunitas
ini juga dinamakan dari fitur yang paling mencolok, substrat abiotik.
Ujung tepi bay-mouth adalah area dimana aliran pantai panjang mengendapkan sejumlah
banyak pasir kasar ketika menuju teluk. Area seperti ini memiliki rata – rata sedimen
tinggi dan organisme yang hidup pada dasarnya terancam terkubur. Organisme yang
hidup di komunitas pantai pasir ini harus mampu dengan cepat menggali menembus
substrat agar bertahan dengan sedimentasi yang cepat. Populasi khas yang ditemukan
pada komunitas pantai pasir adalah kerang cangkang halus dan cacing pita.
Seperti yang ditulis di bab 10, komunitas daratan lumpur mungkin dengan cepat diinvasi
oleh vegetasi yang mampu bertahan pada zona intertidal. Ketik daratan lumpur mencapai
ketinggian tertentu, vegetasi ini berpindah dan mengaburkan daratan lumpur. Ketika hal
ini terjadi fitur yang paling jelas adalah vegetasi tersebut, dalam zona sedang, hal ini
adalah rumput payau, dan kalau di daerah tropis adalah bakau. Oleh karena itu, dalam
zona sedang adalah umum untuk mendapatkan komunitas payau , sedangkan di zona
tropis adalah komunitas bakau yang berkembang. Komunitas ini dinamakan berdasarkan
himpunan biotik yang paling jelas, vegetasi.
Pada banyak kasus garis pantai berbatu memberikan titik penempelan bagi remis biru
ataupun barangas. Seringnya hewan ini tumbuh dengan sangat padat pada batuan
sehingga mereka menjadi fitur yang paling jelas. Komunitas seperti ini akan dinamakan
komunitas remis biru atau barangas, karena hewan inilah yang menjadi fitur yang paling
jelas.
Seringnya kesuksesan sebuah populasi dalam area yang ada menyebabkan perubahan
tajam pada tipe substrat. Sebagai contoh, ketika remis biru pindah ke substrat berbatu
agak curam, ia seringnya berkembang dengan baik dan menutupi batuan tersebut.
Cangkang remis yang telah ada sebelumnya kemudian berfungsi sebagai substrat bagi
remis lain, dan kemudian remis diatas remis di atas remis akan menyebabkan air yang
membawa sedimen baik untuk melambat pada derajat tertentu sehingga sedimen ini
terendap dan menutupi populasi remis. Garis pesisir berbatu, dalam kasus ini, telah
berubah menjadi daratan lumpur, dan komunitasnya seringnya akan diinvasi oleh vegetasi
dan menjadi komunitas payau. Ini adalah contoh yang sempurna dari lingkungan abiotik
yang membimbing komponen biotik tertentu, yang kemudian mengubah area tersebut
menjadi tipe substrat yang berbeda yang, pada waktunya membawa komunitas yang
benar – benar berbeda.
Karena substrat menentukan tipe organisme yang akan muncul di sepanjang garis pesisir
yang ada, sering nyaman untuk membagi area ini berdasarkan tipe substrat. Pada
dasarnya, terdapat hanya dua tipe substrat; berkonsolidasi dan tak berkonsolidasi. Seperti
yang telah dicatat, garis pesisir berkonsolidasi dapat terdiri dari batuan dasar, batubesar
atau batuan – materi yang tidak berpindah karena ombak dan aliran normal. Garis pesisir
tak berkonsolidasi terdiri dari beragam pasir, juga lempung dan endapan. Pantai yang
terdiri dai batuan kali adalah kasus uni, karena ia memberikan titik penempelan bagi
organisme khas pesisir berbatu tetapi sering berpindah karena ombak dan aliran normal
seperti substrat berpasir dan berlumpur.
Pantai berbatu
Fitur yang paling jelas dari garis pantai berbatu adalah zonasi beragam populasi hewan
dan tanaman. Hal ini dikarenakan distribusi populasi tertentu dalam horizon air pasang,
tengah dan surut.
Horizon air pasang adalah sebuah area dengan kondisi yang sangat penuh stres. Ia
terekspos atmosfer dalang periode waktu yang lama, menyebabkan temperatur pada zona
ini fluktuatif secara luas. Sebagai tambahan nutrisi tanaman larut jarang ada dan hanya
tersedia ketika area ini tergenangi selama air pasang. Dikarenakan kondisi yang payah
ini, horizon air pasang jarang dihuni.
Memproduksi utama dalam area ini adalah beragam spesies alga hijau dan biru-hijau dan
sejenis lumut berwarna kehitam – hitaman. Lumut berasosiasi dengan jamur dan alga
bersel satu. Jamur memberikan titik pelekatan bagi alga, sementara alga, lewat
fotosintesis memproduksi nutrisi bagi jamur. Dengan cara seperti ini kedua organisme
memberikan keuntungan dari hubungannya, yang disebut berbagai simbiosis. Populasi
plankton bersifat sementara dan ada hanya ketika zona tersebut tertutup air. Pemakan
tanaman yang dominan, hanya memakan alga dan lumut adalah periwnkle dan limper.
Tepat di bawah alga adalah menonjol dihuni oleh berangas. Karena area ini adalah
pemakan berfilter, mereka mampu makan hanya ketika air pasang terjadi dan plankton
muncul. Ketika sebuah area terekspos ke atmospher, berangar akan mengunci dirinya di
dalam tempurungku dalam cangkang mereka dan melindungi mereka dari kekeringan.
Horizon tengah lebih sering tertutup air, temperaturnya karang bervariasi dan nutrisinya
lebih banyak. Sebagai hasilnya area ini berpopulasi lebih padat daripada horizon air
pasang. Pertumbuhan padat alga makroskopis hijau, merah dan cokelat terdapat di sini
dan memberikan makanan bagi pemakan tanaman, yang terdiri populasi remis. Limpet
dan chiton.
Hewan dominan dari horizon air tengah adalah remis, pemakan berfilter. Hewan ini
menempel pada substrat dengan benang byssal elastis karena benang ini elastis, membuat
mereka mampu menyimpan airnya ke dalam derajat yang terbatas di dalam kolom,
membuat kita mampu pada level yang berbeda Membuatnya harus yang memberi remis
keuntungan kompetitif selama tiga generasi. Seperti berangas yang menempel pada
substrat dan tidak dapat mengubah posisinya remis dapat mengubah posisinya dan
serinya terlalu banyak tumbuh dan menyingkirkan berangas yang tidak bergerak, karena
remis secara ekstensif di mangsa oleh bintang laut, yang juga hadir di substrat beratu.
Sebagai tambahan remis dalam zona sedang sering menderita mortalitas tinggi selama
musim dingin ketika mereka terlepas dari substrat karena es laut. Semakin kencang
berangas tertempel, sepertinya ia tidak menderita mortalitas yang tinggi seperti itu.
Secara jelas faktor biotik maupun abiotik berfungsi membatasi populasi remis dalam
horizon air tengah.
Horizon air surut sering tertutup oleh tidal, dengan akibat bahwa nutrisi tanaman, nitrat
dan phosphat seecara konsisten selalu tersedia. Akibatnya terdapat populasi alga
mikroskopik hijau merah dan cokelat yang tinggi dalam area ini. Lebih – lebih karena
horizon air surut sering tergenang air laut, plankton umumnya tersedia disini. Sehingga
makanan bagi pemakan tanaman melimpah dan jumlah hewan ini juga predator
populasinya, sering tinggi. Karena melimpahnya makanan dan stabilitas temperatur dan
daerah salinitas, bukan faktor biotik maupun abiotik yang sepertinya membatasi populasi
dari organisme horizon air surut. Lebih jauh, kompetisi interspesifik, aman sebagai
tempat tinggal, secara umum tidak signifikan; sehingga tak satu spesiespun yang
mendominasi horizon air surut. Akan tetapi, seperti pada horizon air tengah, pemangsaan
akan menjadi faktor utama dalam membatasi jumlah beberapa spesies.
Secara umum, faktor biotik berfungsi membatasi kesuksesan populasi dalam horizon air
surut, sementara faktor abiotik, utamanya salinitas dan variasi temperatur, bersifat
penting dalam Horison air surut. Kombinasi dari kedua faktor biotik daun abiotik
mempengaruhi populasi dalam horizon air tengah.
Kolam tidal adalah tipe khusus dari habitat yang sering ditemukan pada substrat berbatu.
Meskipun dapat ditemukan dalam zona intertidal manapun, yang ditemukan di horizon
air surut adalah yang paling sering digenangi. Sebagai hasilnya biotanya mirip, jika tidak
identik, dengan tanaman daun hewan sekitar horizon air surut. Kolam tidak dari horizon
air pasang dan tengah, sebaliknya tidak sering digenangi, sehingga terekspos terhadap
udara dalam periode yang lebih lama. Eksposur ini mengarah pada daerah dan hasil
abiotik yang sangat berbeda dalam biota yang mengalami level temperatur, salinitas dan
oksigen yang berfluktuasi secara luas.
Sedikit volume air dalam kolam tidal dan ketika tidal hilang, air ini menghangat dan
mendingin jauh lebih cepat daripada laut sekitar. Pada musimpanas, air dalam kolam tidal
mungkin mencapai temperatur tinggi mematikan, sementara pada musin dingin bisa jatuh
ke temperatur rendah yang mematikan – atau bahkan benar – benar membeku. Ketika
tidal datang, kolam tidal dibanjiri dengan air laut dari temperatur yang sangat berbeda –
pada musim panas dengan air yang lebih dingin dan pada musim dingin dengan air yang
lebih hangat. Dalam rangka untuk bertahan kolam tidal harus mampu tahan variasi
temperatur luas maupun perubahan temperatur yang cepat.
Situasi yang mirip terjadi dalam hal salinitas. Karena terekspos, kolam tidal mencapai
temperatur tinggi di musim panas, penguapan terjadi. Seperti yang dibahas di bab 7,
hanya air yang menguap, meninggalkan garam larut ke dalam solusi, keadaan yang dapat
menaikkan salinitas dengan drastis. Di musim dingin es mungkin terbentuk di kolam
penampungan. Hal ini juga menaikkan salinitas, karena zat padat larut tidak termasuk
dalam kristal es. Ketika air naik, air laut dari salinitas dibawa menuju kolam. Tidal yang
terekspos mungkin juga mengalami penurunan besar salinitas selama periode hujan,
sehingga dapat meningkatkan salinitas secara cepat ketika kolam tidal tergenangi air
pasang. Sehingga biota alam tidal haru mampu bertahan fluktuasi dan salinitas besar dan
cepat.
Level oksigen juga beragam pada kolam tidal. Level oksigen larut bergantung pada
temperatur, bab 7, dan ketika temperatur air naik peningkatan serempak dalam gerakan
molekul akan mengganggu kekuatan intermolekular yang menjaga oksigen tetap dalam
larutan. Karena alasan ini ketika temperatur alam tidal meningkat, level oksigen
menurun. Hal ini berujung pada pengurasan oksigen parah selama musim panas. Kolam
tidal mengandung populasi besar tanaman yang secara menakjubkan lemah terhadap
kekurangan oksigen berani menghadapi malam – malam musim dingin yang hangat.
Meskipun tanaman melakukan fotosintesis dan meproduksi oksigen, fotosintesis terjadi
hanya selama siang hari. Pada malam hari tanaman tidak mampu melaksanakan
fotosintesis, tetapi mereka menghirup oksigen bersama – sama alam ketiadaan
fotosintesis., seringnya benar – benar mengurangi kolam air pasang kolam tidal oksigen
larut. Ketika air pasang,kolam air tersebut sekali lagi digenangi air laut kaya oksigen.
Meskipun kolam tidal di horizon tengah dan pasang menyimpan air dan melindungi biota
dari kekeringan, mereka mengalami kondisi parah yang lain. Sebagai hasilnya, hanya
organisme yang mampu bertahan dalam kondisi ini ditemukan dalam kolam tidal; alga
hijau, anemon, landak laut, barangas, kerang laut besar, dst.
Pantai berpasir
Garis pantai berpasir menawarkam kontras yang jelas dengan pantai berbatuan. Alam
area ini substrat tidaklah tetap, tetapi mudah pindah oleh ombak dan aliran. Hal ini
menciptakan lingkungan yang terus berganti yang menawarkan beberapa titik
penempelan bagi populasi hewan dan tanaman yang merupakan karakteristik garis pantai
berbatuan. Sebagai akibat dari substrat yang konstan berganti, organisme penggali adalah
penghuni pantai berpasir; permukaan sedimen sering nampak sebagai dan seringnya
memang, kosong akan kehidupan.
Faktor abiotiks utama yang mengontrol distribusi tanaman dan hewan pada garis pantai
berpasir adalah ukuran sedimennya. Ukuran sedimen secara langsung mempengaruhi
jumlah air interstitial yang tersimpan oleh sedimen. Pasir yang baik, dengan jalan yang
banyak dan berliku – liku, mampu menyimpan sejumlah besar air interstitial. Sebagai
akibatnya sub permukaan sedimen jarang kekeringan, bahkan jika terletak di horizon air
pasang. Sedimen kasar, sebaliknya, benar – benar kering dan sedimen sub permukaannya
cenderung cepat kering sebentar setelah air surut. Akibatnya organisme penggalinya yang
menghuni substrat yang terdiri dari pasir baik jarang lemak terhadap kekeringan. Lebih
jauh sedimen lapisan memberikan banyak sekat; oleh karena itu; perairan interstitial yang
mengelilingi organisme ini jarang mencapai temperatur rendah dan tinggi yang
mematikan. Meskipun substratnya secara konstan berganti pada pantai berpasir,
organisme yang menghuni area ini terekspos pada kondisi yang kurang keras daripada
yang berada di garis pantai berbatuan.
Karena substratnya terus menerus berganti, organisme penggalinya telah
mengembangkan satu dari dua adaptasi utama yang membuat mereka bisa bertahan di
bawah kondisi seperti ini. Organisme seperti kerang pismo dab siput “zaitun” pesisir
pasifik menggali dengan sangat dalam di substrat sehingga mereka jarang terpengaruh
oleh substrat yang berganti sebagai respons terhadap kegiatan ombak dan aliran normal.
Organisme ini juga mengembangkan cangkang yang sangat berat yang membantu
menanamkan mereka dalam substrat. Organisme lain yang hidup dekat dengan
permukaan dan mampir secara kontinu terekspos ketika ombak dan aliran mengikis
lapisan substrat. Sebagai akibatnya organisme ini mampu dengan cepat menguburkan diri
mereka kembali.kerang razor dari pesisir timur dan kerang donax dari pesisir Gulf adalah
contoh penggali cepat pantai berpasir.
Karena alga makroskopis dari garis pantai berbatu tidak ada di substrat berpasir, maka
populasi pemakan tanaman yang signifikan juga tidak ada. Organisme yang menghuni
pantai berpasir adalah detritus ataupun pemangsa sementara bab 8. sedikit hewan
penghuni permukaan melakukan gaya hidup pemulung, memangsa detritus – partikel baik
ringan tanaman dan hewan yang terbawa ke pantai oleh ombak.. kerang razor, kerang surf
dan donax adalah semua pemangsa sementara dan plankton filter dari air selama air
pasang.
Komunitas pantai pasir, tidak seperti pantai berbatu, tidak memiliki populasi predator.
Hal ini dikarenakan keberadaan subteranean dari banyak biota, yang mengurangi
pemangsaan dan hadirnya predator.
Daratan lumpur
Meskipun daratan lumpur hanyalah jenis garis pantai takterkosolidasi, terdiri dari partikel
endapan dan / atau lempung, terdapat cukup perbedaan biotik dan abiotik dalam
membahas area ini secara terpisah.karena lempung dan endapan terendap hanya di area
dengan pergesaran air minimal, daratan lumpur berkembang hanya di area yang secara
signifikan terlindung dari kegiatan ombak dan aliran. Karena kegiatan ombaknya yang
minimal, kecuraman area ini lebih rendah daripada kecuraman di pantai berpasir dan
secara tempat disebut daratan lumpur.
Karena topografi yang datar dan ukuran sendimen yang bagus, daratan lumpur jarang
kering dan air interstitialnya tersimpan dalam periode waktu yang lama. Sebagai
tambahan area ini memiliki populasi bakteri interstitial yang tinggi. Kehadiran bakteria
ini, dalam hubungan dengan waktu huni yang lama dari air interstitial, sering berujung
pada hilangnya oksigen dalam air interstitial. Sehingga, kondisi non-oksigen atau anaerob
adalah karakteristik daratan lumpur.
Populasi besar dari siput lumpur penghuni permukaan, sama seperti hewan penggali,
hadir dalam komunitas daratan lumpur. Siput lumpur tidak perlu menghadapi kondisi
anaeorob, karena mereka tinggal di permukaan sendimen. Hewan ini mengonsumsi
detritus yang melimpah yang berada dan di antara partikel lempung dan endapan dan
mungkin juga memakan bakteri penghuni permukaan.
Akan tetapi Organisme penggali harus melawan kondisi anaerob permukaan sendimen.
Sebagian besar mampu bertahan di bawah kondisi seperti ini dengan membuat lubang
yang memiliki pintu permanen pada permukaan daratan lumpur, membuat udara bergerak
ke dalam lubang. Mayoritas lubang yang diamati di daratan lumpur, berbentuk seperti itu.
Organisme penggali adalah pengonsumsi endapan ataupun sementara. Sebagian besar
cacing dan beberapa spesies kerang ditemukan di daratan lumpur adalah pengonsumsi
endapan dan mendapatkan makananya dengan memakan substrat, menggunakan makanan
yang terkandung di dalamnya dan mengeluarkan sendimen yang tak berguna. Pemakan
sementara, spesies kerang dan kepiting lain, menyaring dan memakan plankton di air.
Sama dengan di pantai berpasir, gaya hidup penggali dari mayoritas penghuni darat
lumpur mencegah perkembangan populasi predator.
Vegetasi garis pantai tak berkonsolidasi
Dengan pengecualian ganggang laut yang menempel di pantai berbatu, kebanyakan
vegetasi zona intertidal adalah rumput rawa pada zona sedang dan bakau pada zona
tropis. Kedua tipe vegetasi ini berkembang di garis pantai tak terlindungi, tak
terkosolidasi, biasanya di daratan lumpur.
Area payau terdiri dari dua tanaman dominan; rumput cord payau atau spartina
alterniflora dan rumput kuning payau atau spartina patens. Ketika area terakumulasi
cukup sendimen untuk diekspos terhadap atmosfer setidaknya selama satu hari tidal dan
ketinggian air pasang sebesar ukuran dari 2 meter, rumput cord akan dengan cepat
berkoloni di area tersebut. Meskipun spesies dikatakan lebih memilih lingkungan air
tawar, ia tersingkir dari area ini keran spesies l;ain dan terbatas pada zona intertidal yang
terbatas, dimana tanaman lain tidak dapat tahan luapan tidal.
Rumput cord mampu tahan banyak perendapan di air muara oleh karena itu ia berkoloni
do horizon air surut, dimana kompetisi interspesifik benar – benar tidak ada. Ketika
rumput cord berpindah ke area ini, ia membentuk penghalang efektif dan memperlambat
air pada tidal selanjutnya. Pengurangan kecepatan air ini menyebabkan sendimen turun
suspensi dan berdeposit di dasar rumput cord. Sebagai hasilnya rawa tersebut menjadi
lebih tinggi, periode pengenangan tidal berkurang dan rawa menerima air yang kurang
pada air pasang. Hal ini membentuk penghalang yang bahkan lebih efektif terhadap
luapan air dan sendimenya berdeposit pada angkat yang semakin naik, menjorok keluar
menuju tepi laut tumpuan rumput cord.
Secara bertahap, porsi menuju laut ini menjadi cukup tinggi untuk digenangi hanya pada
saat air pasang saja. Ketika ini terjadi rumput cord berpindah dan berkoloni ke daerah
intertidal baru ini. Dengan cara seperti ini, air payau bergerak menuju lautan melewati
batas pada perairan terbuka oleh kombinasi deposit fisik sendimen dan pertumbuhan
rumput cord. Secara bertahap, porsi menuju daratan rawa yang awalnya diamati rumput
cord akan naik ke ketinggian tertentu sehingga tidak akan lagi digenangi dua kali sehari.
Meskipun rawa tinggi ini memberikan habitat yang cocok bagi rumput, mereka secara
cepat diinvasi oleh spesies spatina yang lebih kecil – rumput kuning asin. Spesies ini
hanya dapat bertahan dari sejumlah kecil genangan tidal yang terjadi dua bulan sekali,
ketika porsi yang lebih tinggi payau digenangi oleh tidal musim semi bab 4. rumput
kuning, yang menjadi kompetitor superior, cenderung menyingkirkan rumput cord dari
rawa tinggi. Sehingga rumput cord secara efektif terbatas pada posi rawa yang digenangi
setiap hari dan oleh karena itu bukanlah habitat yang cocok bagi rumput kuning asin.
Telah diperkirakan bahwa hanya 20 persen spatina yang langsung dikonsumsi oleh
pemakan tanaman. Agaknya, dalam daerah yang lebih dingin, tanaman ini terdiri dari
tumbuhan yang tinggi besar yang cukup kuat pada musim gugur. Di musim dingin
tanaman ini turun bawah di mana es terdorong naik ke rawa. Vegetasi yang terpangkas es
ini kemudian terbawa ke muara, khususnya pada tidal musim semi yang mengenangi
sebagian besar rawa. Beragam rumput rawa yang tenggelam dalam teluk atau terbawa
arus ke laut lepas. Pada dua kasus tersebut mereka dibawa ombak dan aliran normal dan
akhirnya berkurang menuju detritus dan memasuki rantai makanan pemulung.
Rawa payau lumayan umum sepanjang pesisir timur dan Gulf di Amerika serikat. Area
ini memiliki dataran pesisir melereng rendah yang luas, beragam pantaui penghalang dan
muara yang bersinambungan, batas benua dan jumlah terbatas lembah bawah laut. Semua
faktor ini, yang sendiri – sendiri maupun yang berhubungan dengan yang lainnya, adalah
kondusif untuk formasi rawa payau.
Pesisir barat, sebaliknya, memiliki pegunungan pesisir yang curam yang berujung pada
garis pantai. Akibatnya sedikit air yang memiliki muara sempit yang dengan keras
membatasi derajat lingkungan kemuaraan. Lebih – lebih batas benua yang sempit
menyilang dengan bermacam – macam, lembah bawah laut yang berfungsi mengeringkan
sedimen pesisir dan membawanya jauh ke lepas pantai bab 2,3. hasilnya adalah bahwa
terdapat sedikit pantai penghalang sepanjang garis pesisir barat dan sehingga juga sedikit
rawa payau.
Hutan bakau atau mangal adalah imbangan rawa payau di daerah tropris dan subtropis
pada zona sedang. Istilah bakau merujuk pada satu individu tanaman, sementara mangal
merujuk pada semua komunitas. Bakau sebenarnya tanaman yang terestrial yang telah
menginvasi ulang zona intertidal. Mereka menginvasi garis pantai terlindungi ketika
sedimentasi normal telah menaikannya pada ketinggian yang cukup untuk mengekspos
seluruhnya pada air surut. Proses yang mirip seperti yang digambarkan bagi rawa payau;
bakau berfungsi untuk menjebak sendimen tambahan dan oleh karena itu menjalankan
proses pendepositoan dan perkembagnan mangal.
Tiga spesies bakau yang sering ditemukan di mangal, posisi mereka dijelaskan oleh
tingkat genangan tidal. Bakau merah ditemukan di horizon air surut dan oleh karena itu
dapat tahan jumlah besar genangan tidal. Bakau hitam menempati horizon air tengah dan
dapat bertahan dari sedikit genangan. Dan bakau putih ditemukan di atas horizon air
pasang dan tidak dapat menoleransi genangan minimum.
Mangal menjebak sejumlah besar sedimen dan detritus. Oleh karena itu organisme yang
hidup di permukaan biasa ditemukan di area ini, seperti kepiting fiddler dan kepiting
ghost, adalah pemakan detritus. Kedua spesies ini hidup dalam lubang, yang berfungsi
membawa oksigen ke dalam sedimen yang lebih dalam, mengurangi kondisi anaerob
yang cenderung muncul.
Pantai penghalang
Meskipun pantai penghalang bukanlah, menurut definisi, bagian dari garis pantai bab 12,
mereka adalah komponen penting zona pesisir. Vegetasi pantai penghalang adalah
penting karena ia menstabilkan membangun pantai. Pantai penghalang dan khususnya
pulau penghalang, dengan tumpuan vegetasi signifikan sepertinya tidak terlanggar dan/
atau tersapu habis.
Tanaman pantai penghalang harus menghadapi dua faktor utama. Pantai penghalang
sering tersapu angin, dan angin umumnya membawa pasir yang cenderung menggesek
tanaman dan kalau tidak mengubur maka menerbangkan bibit sebelum mereka sempat
bertunas. Sebagai tambahan substrat pasir pantai penghalang benar – benar kering dan
mempunyai sedikit air sehingga terdapat sangat sedikit air yang tersedia bagi tanaman.
Ketika pantai penghalang secara permanen muncul dari bawah laut, air hujan mengguyur
garam dari sedimen, membuatnya cocok untuk invasi oleh rumput bukit pasir di zona
sedang dan gandum laut di zona tropis dan subtropis. Kedua tanaman ini secara
menakjubkan beradaptasi dengan baik pada pantai penghalang yang gersang tertiup
angin. Tanaman ini memproses daun yang fleksibel berlilin yang membengkok dan
memberi sedikit perlawanan terhadap angin. Akan tetapi daunnya memperlambat angin
normal secara cukup agar menyebabkan pasir yang tertiup angin berdeposit pada dasar
tanaman, sehingga menambah ketinggian pantai.
Tanaman ini mampu mereproduksi secara seksual, dengan memproduksi biji, mampu
secara aseksual, dengan menyebarkan sulur yang seperti akar yang dinamakan rhizoma.
Karena biji pasti terkubur atau tertiup angin, maka bentuk dominan reproduksi adalah
yang terakhir. Rhizoma juga berfungsi lain; karena mereka menjangkau cukup ke dalam
tanah , ia mapu mencapai sedikit air dari besarnya posi lautan. Akan tetapi, sulur tersebut
harus tertutup beberapa inchi di dalam pasir sebelum mereka mampu mengembangkan
tunas baru. Ini adalah kerugian yang jelas pada banyak pantai, karena lalu lalang manusia
memindahkan sedimen dan mencegah tanaman bereproduksi.
Ketika rumput bukit pasi atau gandum laut menjebak sedimen yang tertiup angin dan
menaikkan ketinggian pantai, porsi daratan pantai penghalang mendapatkan perlindungan
dari angin. Perlindungan ini secara umum cukup untuk membuat semak mulai
menginvasi area ini. Semak cenderung mengalahkan rumput bukit pasir atau gandum laut
dan menyingkirkan demi cahaya. Juga semak seperti plum pantai bereproduksi dengan
membentuk biji dan buah , yang cenderung menarik burung. Kombinasi kotoran burung
dan dekomposisi daun yang jatuh pada dasar semak mengubah substrat pasir menjadi
pasir bertanah. Tipe substrat ini mampu menyimpan sejumlah besar air hujan.
Substrat tersebut mulai mengembangkan lebih banyak tanah, membuatnya mampu
menyimpan jumlah air interstitial yang meningkat. Secara bertahap mengembangkan
pohon seperti cedar merah dan pinus untuk mulai menguasai dan pada akhirnya
menyingkirkan tahap semak. Dengan cara ini lebih banyak posi terlindung dari pulau
penghalang yang menjadi hutan. Pohon awal yang menginvasi area seperti ini sering
disebut sebagai pohon pioner. Spesies pioner juga memodifikasi dan membangun tanah,
sehingga membuat substrat tersebut cocok untuk menyokong spesies pohon lain, secara
umum beragam spesies oak. Pohon ini berpindah he area tersebut, menyingkirkan pohon
pioner dan mengubah area terebut menjadi hutan oak. Dalam jangka waktu yang lama
kombinasi interaksi biotik dan abiotik berfungsi mengubah pantai penghalang berpasir
yang gersang menjadi hutan.
KOMUNITAS PELAGIK

Oleh:
Nurria Susanti (106351400665)
Titien Mayasari (106351400683)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRFI
Desember, 2008
KOMUNITAS PELAGIK

Sistem pelagik terdiridari hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidupnya


berenang dan melayang-layang di lauatan terbuka. Sistem pelagik dibagi menjadi
dua kelompok utama, yaitu plankton dan nekton.

Gambar Bio Oseanogarfi

PLANKTON
Plankton yaitu, organisme-organisme yang berukuran kecil (mikroskopik)
yang jumlahnya sangat banyak dan mereka ini tidak cukup kuat untuk menahan
gerakan gelombang air yang begitu besar. Banyak di antara kelompok hewan ini
yang merupakan golongan perenang aktif walalupun demikian mereka tetap
terombang-ambing oleh arus lautan. Plankton merupakan salah satu komponen
utama dalam sistem mata rantai makanan ( food chain ) dan jaring makanan ( food
web ). Mereka menjadi pakan bagi sejumlah konsumen dalam sistem mata rantai
makanan dan jaring makanan ini. Plankton terdiri dari golongan binatang
(zooplankton) dan golongna tumbauhan (fitoplankton).
Plankton, baik itu Plankton Hewani ( ZooPlankton ) maupun Plankton
Nabati ( PhytoPlankton ) merupakan pakan alami bagi ikan dan koral yang hidup
didalamnya. Mereka tergolong pakan yang memiliki nilai gizi yang tinggi,
memiliki bentuk dan ukuran yang sesuai dengan mulut ikan dan koral, isi sel-nya
padat, dinding sel-nya tipis, serta tidak beracun.Plankton juga mempunyai
kemampuan berkembangbiak dengan cepat, dan dapat dengan mudah
dibudidayakan secara massal, sehingga tidak perlu dikwatirkan mereka akan
punah.
Fitoplankton adalah tumbuh-tumbuhan air yang berukuran sangat kecil
yang terdiri dari sejumlah besar klas (phylum) yang berbeda.
Phylum Nama Umum Contoh

Cyanophyceae Blue-green algae Trichodesmium

Chryosophyceae Yellow-brown algae termasuk Dictyocha


silicoflagellates

Haptophyceae Yellow-brown algae termasuk Coccolithus


coocolithophores

Bacillariophyceae Diatoms, biasanya berwarna yellow- Biddulphia


brown

Chlorophyceae Green algae, green flagellates Dunaliella

Prasinophyceae Green flagellates Halosphaera

Euglenophyceae Green flagellates Euglena

Cryptophyceae Alga berbagai warna Cryptomonas

Dinophyceae Dinoflagellates, biasanya yellow- Ceratium


brown

Fitoplankton mempunyai peranan penting seperti halnya tumbuhan tingkat tinggi


di dataratan. Mereka adalah produsen utama (primary producer) zat-zat organik.
Plankton membuat ikatan iakatan organik yang kompleks dari bahan anorganik
sederhana (melakukan fotosintesa). Proses ini dilakukan dengan bantuan sinar
matahari sebagai sumber energinya, sehingga fitoplankton hanya dapat hidup
dengan baik di tempat-tempat yang mendapatkan cukup sinar matahari. Akibatnya
fitoplankton hanya dapat dijumpai di lapisan permukaanlaut saja. Mereka juga
akan lebih banyak dijumpai pada tempat-tempat yang terletak di daerah
continental shelf dan sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling. Fungsi
ekologisnya sebagai produser primer dan awal mata rantai dalam jaringan
makanan menyebabkan fitoplankton sering dijadikan skala ukuran kesuburan
suatu ekosistim. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan
kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebihan. Contoh kelas dinoflgellata
tubuhnya memiliki kromatopora yang menghasilkan toksin (racun), dalam
keadaan blooming dapat mematikan ikan.
Dewasa ini fitoplankton laut telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan
manusia antara lain:
1) Bidang perikanan
Sebagai makanan larva ikan, dilakukan melalui isolasi untuk mendapatkan
satu spesis tertentu, misalnya Skeletonema. Kemudian dibudidayakan pada
bak-bak terkontrol pada usaha pembibitan ikan untuk keperluan makanan
larva ikan.
2) Industri farmasi dan makanan suplemen
Fitoplankton yang mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi digunakan
sebagai makanan suplemen bagi penderita gangguan pencernaan dan yang
membutuhkan energi tinggi. Contoh produk yang beredar dari jenis
Chlorella.
3) Pengolahan limbha logam berat
Dalam pengolahan limbah logam berat fitoplankton dapat digunakan untuk
mengikat logam dari badan air dan mengendapkannya pada dasar kolam.
Sehingga logam dalam air menjadi berkurang.
4) Memperlambat pemanasan bumi
Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri
dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang
berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka. Zat ini jika terurai ke air
akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan
sendirinya dari permukaan laut ke udara. Di atmosfer, DMS bereaksi dengan
oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur
DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti
debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut
untuk berkondensasi dan membentuk awan.Awan yang disebabkan oleh
plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta
memiliki efek besar tehadap iklim bumi.
Berdasarkan struktur tropik level , pada kebanyakan ekosistim fitoplankton
terutama dikomsumsi oleh zooplankton disamping larva hewan tingkat tinggi
lainnya. Fitoplankton dan zooplankton memiliki kedekatan hubungan ekologis
yaitu pemangsaan (grazing), selanjutnya zooplankton dikomsumsi oleh
konsumner yang lebih tinggi seperti larva dan hewan muda dari berbagai
organisme.
Contoh Zooplankton
Beberapa organisme zooplankton ada yang bersifat plankton untuk seluruh
masa hidupnya, contohnya: copepoda. Selainitu, juga ada hewan yang bersifat
plankton hanya pada sebagian hidupnya saja, contoh kepiting adalah anggota dari
hewan yang bentik pada waktu dewasa, tetapi larva mereka bersifat sebagai
plankton. Mereka kemunginan akan berada pada fase pelagik (sebagai plankton)
selama beberapa minggu atau bulan sebelum mengalamiproses metamorfosis
untuk berubah dewasa dan berubah menjadi bentos.
Zooplankton tidak dapat memproduksi zat-zat organik dari zat-zat organik,
oleh karena itu mereka harus mendapat tambahan bahan-bahan organik dari
makanannya. Hal ini dapat mereka peroleh baik secara langsung maupun tidak
langsung. Zooplankton yang besirfat herbivora akan memakan fitoplankton secara
langsung, sedangkan golongan carnivora memanfaatkan mereka secara tidak
langsung dengan memakan golongan herbivora atau carnivora yang lain.

NEKTON
Nekton terdiri dari hewan-hewan yang berukuran lebih besar yang
mempunyai kemampuan untuk bergerak sendiri yang membuat gerakan
merekatidak tergantung pada kekuatan arus. Ikan adalah golonganyang paling
banyak dijumpai dalam kelompok ini, termasuk cumi-cumi, ular laut, dugong, dan
ikan paus. Semua ikan adalah predator. Golongan pelagik kebanyakan memakan
plankton atau anggota nekton yang berukuran kecil. Beberapa jenis ikan tertentu
hidup di lautan yang sangat dalam. Pada kedalaman ini sudah tentu tidak dijumpai
cahaya dan oleh karen ituhewan-hewan yang hidup di daerah ini kebanyakan
mempunyai organ dalam tubuhnya yang dapat mengeluarkan cahaya.
Ikan paus merupakan anggota nekton yang mempunyai ukuran yang paling
besar, walaupun demikian mereka kebanyakan pemakan plankton. Jenis ikan paus
biru, yiatu yang mempunyai ukuran paling besar, paling banyak memangsa krill
yaitu salah satu jenis crustaceayang berukuran kecil yang dikenal sebagai
euphausiid. Ikan pus mempunyai sebuah sistem alat penyaring yang dapat
dikontrol yang letaknya di bagian dalam mulut. Alat ini cukup kuat untuk
menangkap krill yang dibutuhkan dari air laut. Jenis ikan paus pemakan plankton
umumnya bersifat lebih tenang bila dibandingkan ikan lain yang sebagi predator
aktif sepert lumba-lumba.
Contoh beberapa jenis dari Nekton
SISTEM RANTAI MAKANAN
Nutrisi dari Air Laut Energi dari Cahaya Matahari

PRODUSEN UTAMA
Fitoplankton

KONSUMEN PRIMER
Zooplankton Herbivora

KONSUMEN SEKUNDER
Zooplankton Karnivora Ikan
Pemangsa

KONSUMEN TINGKAT
LANJUT

Hewan-hewan herbivora yangmendapat bahan organik dengan memakanan


fitoplankton merupakan konsumen pertama atau juga ada yang menyebut sebagai
produsen kedua di dalam rantai makanan. Begitu seterusnya sampai pada tingkat
konsumen tingkat lanjut, yaitu bisa berupa ikan yang lebih besar lagi atau
makhluk hidup lain seperti burung, manusia atau komunitas bentos.
Perpindahan ikatan organik dari satu tingkatan ke tingkat berikutnya
merupakan suatu proses yang relatif tidak efisien. Sebagai contoh, di lautan bebas
dan banyak temapt di daratan efisiensi perpindahannya dari satu tingkat ke tingkat
berikutnya dipercaya hanya sebesar kira-kira 10%. itu berarti bahwa dari 100 unit
bahan organik yang diproduksi oleh produsen pertama hanya 10 unit yang dapat
dimanfaatkann oleh produsen kedua, i unit oleh produsen ketigaatau konsumen
kedua, dan begitu seterusnya. Makin pendek rantai makanan akan menghasilkan
produksi ikan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena mereka dapt
menghindari kehilangan bahan-bahan organik yang seharusnya dipergunakan
untuk menambah setiap kenaikan tingkatan pada sistem rantai makanan yang lebih
besar. Akibatnya semakin besar jumlah bahan-bahan produksi yang dihasilkan
oleh produsen utama yang menjadi terikat ke dalam jaringan tubuh ikan.
DAFTAR RUJUKAN

Anonim. 2008. Makhluk Mungil Si Penentu Kehidupan. (Oneline),


(http://www.koran-jakarta.com/details.php?cid=1&id=3926, diakses 01
HU UH

Desember 2008). UH

Farid Samawi Muhammad. ______. Peranan Plankton Bagi Kehidupan.


(Oneline), (http://tumoutou.net/702_05123/m_farid.htm, diakses 17
HU UH

Nopember 2008). UH

Haris Julian. 2006. Plankton dan Pemanasan Global. (Oneline),


(http://sekrehijau.blogwae.com/archives/60 , diakses 17 Nopember 2008).
HU UH

Hutabarat Sahala. 1985. Pengantar Oseanografi. Jakarta: UI-Press.

Ika. 2008. Plankton Dapat Memperlambat Proses Pemanasan Bumi. (Oneline),


(http://ikanmania.wordpress.com/2008/03/02/plankton-dapat-
HU

memperlambat-proses-pemanasan-bumi/, diakses 17 Nopember 2008).


UH UH

Norma. 2008. Ringkasan: Kehidupan di dalam air. (Oneline),


(http://norma1087.wordpress.com/2008/01/13/kehidupan-di-dalam-air/,
HU UH

diakses 01 Desember 2008). UH

Wikipedia. 2008. Fitoplankton. (Oneline),


(http://id.wikipedia.org/wiki/Fitoplankton , diakses 17 Nopember 2008).
HU UH

Wikipedia. 2008. Plankton. (Oneline), (http://id.wikipedia.org/wiki/Plankton,


HU UH

diakses 17 Nopember 2008). UH

Wikipedia. 2008. Zooplankton. (Oneline),


(http://id.wikipedia.org/wiki/Zooplankton , diakses 17 Nopember 2008).
HU UH
ORGANISME BENTHIC

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Oceanografi


yang dibina oleh Bapak Bagus Setia Budi

Disusun oleh:
Nevy Farista Aristin (106351400678)
Lusiana Rusiati (1063514006 )

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATERMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
Desember 2008
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Oceanografi adalah suatu ilmu yang mempelajari lautan. Laut
merupakan gambaran nyata yang mengenai permukaan bumi, dan sekitar
70% dari permukaan bumi berupa air, dimana permukaan air terdapat
endapan pasir laut, dasar lembah yang masing-masing memiliki topografi
yang berbeda.
Laut merupakan suatu bagian yang saling berhubungan sehingga
memiliki proses yang lebih variatif, tergantung pada lokasi yang ada di
sekelilingnya di samping proses pergerakan aliran air secara global.
Dalam mempelajari oseanografi ada 3 hal penting yang sangat
berpengaruh terhadap lautan, yaitu
a. Massa jenis, ini berupa massa jenis air yang menyebabkan
pergerakan yang berupa faktor pengontrol aliran yang bergerak
di bawah permukaan air laut. Selain itu, mengenai massa jenis
material yang menyusun dasar laut dan benua
b. Kadar garam, didefinisikan sebagai jumlah total sari persentase
material. Ini akan mempengaruhi pergerakan dan posisi massa
air, kadar garam juga mempengaruhi dalam menentukan
distribusi organisme laut.
c. Suhu laut, merupakan faktor penting dalam distribusi
organisme laut. Pada skala besar suhu laut sangat dipengaruhi
oleh aliran permukaan yang melewati bagian utara dan selatan
equator dan aliran permukaan air lebih cepat daripada air di
laut dalam.
Dari ketiga faktor di atas sangatlah mempengaruhi organisme yang
hidup di lautan,mulai dari bagian atas hingga dasar permukaan. Sehingga
setiap organisme mempunyai cara tersendiri untuk beradaptasi terhadap
lingkungan sekitarnya untuk mempertahankan diri. Dan setiap bagian
lautan,akan dihuni organisme yang berbeda-beda. Dan di makalah ini,
kelompok kami akan membahas organisme yang berada di wilayah benthic
yaitu benthos, organisme yang hidup di dasar lautan. Sehingga kami
mengangkat judul “ORGANISME BENTHIC”.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang tersebut maka dapat ditarik permasalahan yaitu
Jenis-jenis organisme apa saja yang ada di wilayah benthic?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui jenis-jenis organisme yang ada di Benthic
BAB II
PEMBAHASAN

Bentos adalah organisme yang hidup di bagian dasar lautan. Dalam hal ini,
maka akan dibahas persebaran baik hewan maupun tumbuhan yang ada di daerah
Bentik.
1. Batas penyebaran Tumbuh-tumbuhan Dasar (Benthic Plants)
Penyebaran tumbuh-tumbuhan hijau dibatasi oleh daerah litoral dan daerah
sublitoral dimana masih terdapat sinar yang cukup untuk dapat
berlangsungnya proses fotosintesis. Tiga macam tumbuh-tumbuhan yang
terdapat di daerah ini ialah:
a. Tanaman air yang bersel tunggal yang umumnya hidup di bagian
permukaan pasir dan lumpur
b. Tanaman air yang berukuran besar, seaweed, yang cenderung dijumpai
di segala tempat yang cocok untuk tempat yang menempel. Sebagai
contoh, daerah pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore)
adalah tempat yang cocok bagi kehidupan mereka, sehingga kita sering
menjumpai banyaknya tanaman seaweed yang hidup di daerah ini.
Semua tumbuhan yang mengandung klorofil sehingga dapat
melangsungkan proses fotosintesis. Contoh: Chlcrophyceae yang
berklorofil hijau, Rhodophyceae berklorofil merah, dan Phaeophyceae
berwarna coklat.
c. Beberapa tanaman berbunga (angiosperm) seperti rumput laut Zostera
dan beberapa pohon da semak yang hidup di mangrove swamp
terdapat di daerah litoral.

2. Batas Penyebaran Hewan-Hewan Dasar (Benthic Animals)


Bermacam-macam jenis hewan invertebrata, banyak dijumpai di dalam
benthos, seperti di bawah ini:
phylum Subgrup dan nama umum
Cnidaria Hydrozoa (hydroid coelenterata)
Anthozoa (anemones, corals)
Plathyhelminthes Turbellaria (flatworms)
Aschelminthes Nematoda (roundworms)
Annelida Polychaeta (bristle worms,
lugworms)
Mollusca Gastropoda (snails dan sea-glugs)
Lamellibranchiata (biyalves)
Cephalophoda (cuttlefish and squids)
Anthropoda Crustacea (especially ostracods,
copepods, cirripedes,
malacostracans)
Echinodermata Crinoidea (sea-lilies)
Holothuroidea (sea-cucumber)
Echinoidea (sea-urchins)
Asteroidea (starfish)
Ophiuroidea (brittle stars)
Hemichordata Enteropneusta(2 corn-worms)
chordata Urochordata(sea-squirts)
Cephalochordata(amphioxus)

Mereka mempunyai kisaran ukuran yang sangat luas yaitu dari yang
berukuran sebesar protozoa hingga sebesar crustacea dan mollusca. Ukuran ini
kadang-kadang dipakai sebagai dasar klasifikasi.
1. Microfauna
Istilah ini dipakai untuk menerangkan hewan-hewan yang mempunyai
ukuran <0.1 mm. Contoh: seluruh protozoa
2. Meiofauna
Adalah golongan hewan-hewan yang mempunyai ukuran antara 0.1 mm
sampai 1.0 mm. Ini termasuk golongan protozoa yang berukuran besar.
Contoh: Cnidaria, cacing-cacing yang berukuran, dan beberapa crustacea
yang berukuran sangat kecil.
3. Macrofauna
Meliputi hewan-hewan yang mempunyai ukuran >1.0 mm. Contoh:
Echinodermata, crustacea, annelida, mollusca, dan anggota beberapa
phylum lainnya.
Cara lain untuk mengklasifikasikan hewan dasar adalah dengan melihat hubungan
mereka dengan tempat hidupnya. Semua hewan yang hidup di atas permukaan
dasr laut dikenal sebagai epifauna, contoh: kepiting berduri, siput laut, bintang
laut, dan siput; dan yang hidupnya dengan cara menggali lubang pada dasr lauttan
dikenal sebagai infauna. Contoh: cacing (lugworm),tiram, macoma, remis.

3. Masyarakat Hewan Yang Hidup di Dasar (Benthic Communities)

Keadaan lingkungan seperti tipe sedimen, salinitas, dan kedalaman di


bawah permukaan memberi variasi yang amat besar dari satu daerah dasar lautan
ke daerah lautan yang lain. Sehingga hal ini menyebabkan berbedanya jenis-jenis
hewan pada daerah yang berbeda. Pada kenyataannya, hewan-hewan benthic
dikenal sebagai communities (masyarakat). Hal ini berhubungan dengan kondisi
lingkungan hidup yang spesifik. Communities biasanya didominasi oleh satu atau
dua jenis hewan (species) darimana mereka dikenal, yang disertai dengan
organisme yang bersifat subdominan.
Contoh: 1). masyarakat Venus, banyak dijumpai di lingkungan pasir di
lepas pantai didominasi oleh bivalve mollusca Venus striatula. Juga banyak
dijumpai bersama-sama dengan sea-urchin Echinorcardium cordatum, cacing
polychaete dan amphipod crustacean. 2).masyarakat Brissopsis/Amphiura yang
dijumpai lingkungan lumpur di lepas pantai, mempunyai dua spesies yaitu bristle
star Brissopsis lyrifera dan Amphiura chiajei.
Hewan subdominan yang hidup bersama-sama mereka adalah beberapa
golongan bivalve mollusca dan polychaete.
Masyarakat hewan tertentu sering dijumpai tersebar luas asalkan kondisi
lingkungan hidupnya cocok, walaupun letak geografi mereka berbeda. Sebagai
contoh: bivalve Macoma, yang terdapat di perairan dangkal dan bersalinitas
rendah pada kedalaman 10-60 meter di beberapa bagian dunia. Yang hidup
bersamanya adalah kerang-kerangan Mya, Cardium, dan cacing polychaete
Arenicola.
Kenyataan spesies Macoma dan hewan-hewan yang lainnya yang hidup
bersama-sama, dibedakan dalam daerah geografi yang berbeda:
1. Macoma naguta adalah anggota dari masyarakat Macoma yang
dominan terdapat di daerah lepas pantai Pasifik di amerika Utara.
Disertai dengan hewan-hewan Mya arenaria, Cardium Corbis, dan
Arenicola claparedei.
2. Macoma calcarea mendominasi daerah lauta Arktik yang disertai
dengan jenis hewan Mya truncatum dan Cardium citiatum
3. Macoma balthica memegang peranan dalam mendominasi masyarakat
hewan yang ada di bagian utara Lautan Atlantik Timur. Hewan
subdominan yang menyertai mereka adalah Mya arenoria, Cardium
adule, dan Arenicola marina.
4. Produksi Benthos
Primary production hanya terjadi pada daerah dangkal di perairan pantai di
mana terdapat cukup sinar matahari bagi tumbuh-tumbuhan untuk melangsungkan
proses fotosintesis. Contoh: fitoplankton yang akan produksi tinggi apabila di
daerah yang kaya akan bahan-bahan organik seperti di daerah estuarin.
Primari production akan turun secara cepat sesuai semakin dalamnya perairan
dimana tidak ada tumbuh-tumbuhannya. Primary production kemudian sama
sekali tidak terjadi pada peraiaran yang mempunyai kedalaman berkisar antara 30-
100 meter.
Di daerah benthic yang dalam juga terdapat hewan-hewan herbivora seperti
surgeon fish Acanthurus lineolatus dan parrot fish leptoscatrus coeruleopuncatus,
tetapi sumber makanan didapat dari bahan tumbuh-tumbuhan mati atau yang
mengalami pembusukan dari sumber lainnya. Sumber-sumber terbentuknya
dendritus antara lain:
a. Sisa-sisa tumbuhan atau hewan benthic yang hancur pada amasa hidupnya
yang tinggal di daerah perairan yang dangkal.
b. Sisa-sisa tubuh organisme pelagik
c. Kotoran-kotoran (faeces) binatang yang hidup di daerah pelagik. Contoh:
beberapa golongan copepoda.
Hewan-hewan benthic dapat memanfaatkan sisa kotoran mengalami suatu
masalah khusus, tetapi dapat diatasi dengan dua cara, antara lain:
a. Suspension feeders, yaitu dengan cara menyaring partikel-partikel
dendritus yang masih melayang-melayang di air yang ada disekitarnya.
Contoh:
1.cacing polychaete Chaetopterus, mendorong arus air untuk masuk ke
dalam saluran pipanya dengan cara memompa dari kipas-kipasnya.
Dendritus yang ada di dalam arus akan terperangkap pada jaringan mucus
yang dikeluarkan oleh cacing. Secara periodik cacing akan memakan
jaringan ini bersama-sama dengan makanan yang terperangkap di
dalamnya dan kemudian akan memproduksi jaringan mucus lagi.
2.Cacing kipas (fan worm) Sabella, mempunyai alat yang dapat menyaring
partikel-partikel dari air yang ada disekitarnya dengan mempergunakan
tentakel yang berbentuk seperti cincin.
b. Deposit feeders, yang mengumpulkan dendritus yang telah menetap di
dasar.
Contoh: jenis polychaete Arenicola dan Amphitrite.
Arenicola hidup pada sebuah lubang galian yang berbentuk seperti huruf L
dan semata-mata hanya memakan tanah pasir pada bagian ujung galian
yang berbatasan dengan mulutnya. Disana terdapat sejumlah besar bahan
makanan yang tidak dapat dicernakan dan pada waktu yang bersamaan
cacing memproduksi kotoran. Hewan ini akan merangkak ke arah
belakang di sepanjang lubang galiannya pada waktu-waktu tertentu dan
menumpuk sisa kotorannya pada permukaan pasir.
Amphitrite mengumpulkan dendritus dari permukaan media dengan
mempergunakan tentakel mereka yang berbentuk seperti mahkota (crown
of tentakles)

Dedritus yang dapat sampai dasar lautan pada laut-laut yang sangat dalam hanya
berjumlah kecil. Karena bahan-bahan organik yang tersedia didaerah ini menjadi
kurang. Data di bawah ini menunjukkan bagaiaman biomass menurun secara
menyolok dengan makin dalamnya kedalaman laut.
Kedalaman (m) Jumlah rata-rata biomass (berat hewan
(gram)/m2 permukaan sedimen)
0 – 200 200
200 – 3000 20
¾ 3000 0.2

Beberapa contoh bentos antara lain kerang, bulu babi, bintang laut,cambuk laut,
terumbu karang dan lain-lain.Tubuh bentos banyak mengandung mineral kapur.
Batu-batu karang yang biasa kita lihat di pantai merupakan sisa-sisa rumah atau
kerangka bentos. Jika timbunannya sangat banyak rumah-rumah binatang karang
ini akan membentuk Gosong Karang,yaitu dataran di pantai yangterdiri dari batu
karang. Selain Gosong Karang ada juga Atol, yaitu pulau karang yang berbentuk
cincin atau bulan sabit.Batu-batu karang yang dihasilkan oleh bentos dapat
dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, rekreasi, sebagai bahan bangunan dan
lain-lain. Sedangkan zat kimia yang terkandung dalam tubuh bentos bisa
dimanfaatkan sebagai bahan untuk permbuatan obat dan kosmetika.
BAB III
PENUTUP

Bentos adalah organisme yang hidup di dasar laut baik yang menempel pada pasir
maupun lumpur.
1. Batas penyebaran Tumbuh-tumbuhan Dasar (Benthic Plants)
Tiga macam tumbuh-tumbuhan yang terdapat di daerah ini ialah:
a. Tanaman air yang bersel tunggal yang umumnya hidup di bagian
permukaan pasir dan lumpur
b. Tanaman air yang berukuran besar, seaweed, yang cenderung dijumpai
di segala tempat yang cocok untuk tempat yang menempel
c. Beberapa tanaman berbunga (angiosperm)
2. Batas Penyebaran Hewan-Hewan Dasar (Benthic Animals)
phylum Subgrup dan nama umum
Cnidaria Hydrozoa (hydroid coelenterata)
Anthozoa (anemones, corals)
Plathyhelminthes Turbellaria (flatworms)
Aschelminthes Nematoda (roundworms)
Annelida Polychaeta (bristle worms,
lugworms)
Mollusca Gastropoda (snails dan sea-glugs)
Lamellibranchiata (biyalves)
Cephalophoda (cuttlefish and squids)
Anthropoda Crustacea (especially ostracods,
copepods, cirripedes,
malacostracans)
Echinodermata Crinoidea (sea-lilies)
Holothuroidea (sea-cucumber)
Echinoidea (sea-urchins)
Asteroidea (starfish)
Ophiuroidea (brittle stars)
Hemichordata Enteropneusta(2 corn-worms)
chordata Urochordata(sea-squirts)
Cephalochordata(amphioxus)

3. Masyarakat Hewan Yang Hidup di Dasar (Benthic Communities)


Keadaan lingkungan seperti tipe sedimen, salinitas, dan kedalaman di
bawah permukaan memberi variasi yang amat besar dari satu daerah dasar
lautan ke daerah lautan yang lain. Sehingga hal ini menyebabkan
berbedanya jenis-jenis hewan pada daerah yang berbeda.
4. Produksi Benthos
Sumber-sumber terbentuknya dendritus antara lain:
a. Sisa-sisa tumbuhan atau hewan benthic yang hancur pada amasa hidupnya
yang tinggal di daerah perairan yang dangkal.
b. Sisa-sisa tubuh organisme pelagik
c. Kotoran-kotoran (faeces) binatang yang hidup di daerah pelagik. Contoh:
beberapa golongan copepoda.
DAFTAR RUJUKAN

Hantoro W.S. 2001. Low stand sea level and landform changes: climatic changes
consequence to epicontinental shelf and fauna migration through
Indonesian.Archipelago. In Preceeding of: “The environmental and Cultural
History and Dynamics of the Australian-Southeast Asian Region” seminar,
Melbourne, December 10-12, 1996.

Hutabarat, Sanala dan Stewart M.Evans. 1986. Pengantar Oseanografi. Jakarta: UI


Press.

Setiabudi, Bagus Wiwoho. 1999. Pengantar Oseanografi. Malang: UM Press