P. 1
Penyebaran Kesehatan Gratis

Penyebaran Kesehatan Gratis

|Views: 1,580|Likes:
Dipublikasikan oleh anitafauzia6810

More info:

Published by: anitafauzia6810 on May 02, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

Mahasiswa Berprestasi Judul Karya Tulis Penyebaran Pelayanan Kesehatan Gratis sebagai Solusi untuk Menekan Angka Kematian

Ibu Setelah Melahirkan pada Daerah Terpencil di Indonesia

Disusun oleh Nama : Anita Fauzia Rahman NPM : 220110060038

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2009

Abstrak
Indonesia dewasa ini menghadapi era globalisasi yang sangat dahsyat. Masyarakat menjadi makin urban dan modern. Kalau tigapuluh tahun yang lalu masyarakat urban baru mencapai sekitar 20 persen dari seluruh penduduk Indonesia, dewasa ini sudah mendekati 50 persen. Namun, Indonesia masih sangat terkenal dengan sebutan negara dengan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan paling tinggi di dunia. Salah satu sebabnya adalah karena masyarakat masih miskin dan tingkat pendidikannya rendah. Tingkah laku masyarakat umumnya dicerminkan oleh keadaan sumber daya manusia yang rendah mutunya itu. Oleh karena itu karya ilmiah ini dibuat dengan tujuan mengetahui penyebab kematian ibu, faktor penyebab meningkatnya angka kematian ibu di Indonesia, dan mencari solusi masalah peningkatan angka kematian ibu. Dari data yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa kematian ibu setelah melahirkan disebabkan oleh beberapa hal seperti perdarahan, infeksi, dan preeklampsi serta eklampsi. Faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan angka kematian ibu adalah pendidikan kesehatan yang kurang, pendapatan ekonomi yang rendah, budaya yang bertentangan dengan ilmu kesehatan, menikah di usia muda, dan tingginya tingkat aborsi. Untuk menekan angka kematian ibu, solusi yang disarankan oleh penulis adalah pengadaan balai kesehatan disetiap daerah, penyuluhan yang kontinyu, serta adanya pendidikan, pemeriksaan, dan pengobatan secara gratis. Kata Kunci : AKI, postpartum, preeklampsi, eklampsi.

Kata Pengantar
Pertama-tama saya mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan saya kekuatan sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu saya dalam pembuatan karya tulis ini dan berbagai sumber yang telah saya gunakan untuk menyelesaikan karya tulis ini. Saya mengakui bahwa saya adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan karya tulis ini yang telah saya selesaikan. Tidak semua hal dapat saya deskripsikan dengan sempurna dalam karya tulis ini. Saya melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang saya miliki. Maka dari itu, saya bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca. Saya akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat digunakan untuk memperbaiki karya tulis saya di masa datang. Sehingga karya tulis berikutnya dan karya tulis lain dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik. Dengan karya tulis ini saya mengharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik dan diambil dari karya ini. Semoga dengan adanya karya tulis ini dapat mengurangi angka kematian ibu pasca melahirkan.

Bandung, 25 April 2009

Anita Fauzia Rahman

Ucapan Terima Kasih
Banyak pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini baik langsung ataupun tidak. Untuk itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada : 1. Allah SWT yang telah memberikan penulis kekuatan sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan. 2. Ibu dan Papah, entah apa yang harus diucapkan untuk mengungkapkan terima kasih atas jerih payah mereka dalam mendidik dan membesarkan penulis. 3. Ibu Sheizi Prista Sari, S. Kep. Ners selaku dosen pembimbing. 4. Teman – teman penulis yang telah mmeberikan semangat serta dorongan kepada penulis . 5. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Daftar Isi
Abstrak Kata Pengantar Ucapan Terima Kasih Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan 1.4 Manfaat BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB III METODE PENULISAN 3.1 Jenis Penelitian 3.2 Sumber Data 3.3 Teknik Analisis Data 3.4 Sistematika Penulisan BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Penyebab Kematian Ibu Setelah Melahirkan 4.1.1 Perdarahan setelah melahirkan (postpartum) 4.1.1.1 Definisi 4.1.1.2 Komplikasi 4.1.1.3 Penyebab 4.1.2 Infeksi purpural (nifas) 4.1.2.1 Definisi 4.1.2.2 Faktor predisposisi 4.1.2.3 Faktor antepartum 4.1.2.4 Faktor intrapartum 4.1.2.5 Pencegahan 4.1.3 Preeklampsi dan eklampsi 4.1.3.1 Definisi preeklampsi 4.1.3.2 Definisi eklampsi 4.1.3.3 Pencegahan 4.2 Faktor Penyebab Peningkatan AKI Setelah Melahirkan 4.2.1 Pendidikan 4.2.2 Budaya 4.2.3 Ekonomi 4.2.4 Menikah usia muda 4.2.5 Gaya hidup 4.3 Penyebaran Pelayanan Kesehatan Gratis sebagai Solusi 4.3.1 Program pemerintah 4.3.2 Sumber dana program pelayanan kesehatan gratis 4.3.3 Keefektifan penyebaran pelayanan kesehatan gratis BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan i ii iii iv 1 1 2 2 2 3 6 6 6 6 6 7 7 7 7 7 7 8 8 9 9 9 10 10 10 10 11 11 11 11 11 12 12 12 12 14 14 15 15

5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT HIDUP

15

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Indonesia dewasa ini menghadapi era globalisasi yang sangat dahsyat. Masyarakat menjadi makin urban dan modern. Jika tiga puluh tahun yang lalu masyarakat urban baru mencapai sekitar 20 persen dari seluruh penduduk Indonesia, dewasa ini sudah mendekati 50 persen. Namun, Indonesia masih sangat terkenal dengan sebutan negara dengan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan paling tinggi di dunia. Salah satu sebabnya adalah karena masyarakat masih miskin dan tingkat pendidikannya rendah. Tingkah laku masyarakat umumnya dicerminkan oleh keadaan sumber daya manusia yang rendah mutunya itu. Saat ini, angka kematian ibu (mother mortality rate/MMR) di Indonesia masih tertinggi di Asia Tenggara. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih yang paling tinggi

di Asia Tenggara yakni 307 per seratus ribu kelahiran hidup yang berarti 50 ibu meninggal setiap hari karena komplikasi persalinan dan saat melahirkan. Hal itu antara lain terjadi karena masih rendahnya akses para ibu terhadap sarana pelayanan kesehatan yang berkualitas karena jumlah fasilitas tersebut relatif masih terbatas dan belum merata sebarannya. Selain itu, masih rendahnya tingkat pengetahuan ibu tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kehamilan juga menjadi faktor yang cukup berpengaruh dalam hal ini[1]. Menurut data yang didapat dari dinas kesehatan Bandar Lampung, angka kematian ibu hamil hanya mencapai 8 orang pada tahun 2000, sedangkan tahun 2001 meningkat menjadi 17 orang. Sementara pada tahun 2002 angka kematian ibu hamil kembali meningkat menjadi 18 orang atau bertambah satu dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2003 angka kematian ibu hamil sempat menurun menjadi 12 orang, tetapi meningkat lagi pada 2004 menjadi 14 orang dan tahun 2005 menjadi 16 orang grafik dibawah ini
[2]

. Dapat dilihat juga di daerah

Tangerang angka kematian ibu masih tinggi. Data tersebut dapat dilihat dari

Gambar 1 Angka kematian ibu di daerah Tangerang[6]

Oleh karena itu, penulis mengambil topik ini sebagai bahan penelitian yang diharapkan dapat menekan angka kematian ibu setelah melahirkan. 1.2 Perumusan Masalah a. Apa penyebab kematian ibu setelah melahirkan? b. Apa faktor yang menyebabkan angka kematian ibu meningkat?

c. Apakah penyebaran pelayanan kesehatan gratis cukup efektif untuk menekan angka kematian ibu? 1.3 Tujuan Penulisan a. Mengetahui penyebab kematian ibu setelah melahirkan. b. Mengetahui faktor yang menyebabkan angka kematian ibu meningkat. c. Mengetahui keefektifan penyebaran pelayanan kesehatan gratis untuk menekan angka kematian ibu. 1.4 Manfaat Karya tulis ini bermanfaat sebagai alternatif solusi untuk menangani masalah tingginya angka kematian ibu setelah melahirkan di Indonesia. Diharapkan solusi ini dapat secara efektif menekan angka kematian ibu di Indonesia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tingginya angka kematian ibu bukan hanya masalah medis dan kesehatan tetapi sangat kental dengan masalah kesetaraan gender, nilai budaya, perekonomian perempuan, serta rendahnya perhatian laki-laki terhadap ibu hamil dan melahirkan. Oleh karena itu, pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah perlu diubah secara sosiokultural, yaitu agar perempuan dapat perhatian dari masyarakat sekitar. Masih tingginya AKI di Indonesia hingga saat ini, merupakan cerminan keterpurukan hak-hak kesehatan reproduksi perempuan. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Kartini kembali menghadap Sang Khalik dalam usia relatif muda yaitu 25 tahun setelah melahirkan putra pertama karena komplikasi pascapersalinan. Kematian Kartini mungkin dapat kita maklumi karena hal itu terjadi lebih dari satu abad yang lalu dan teknologi kedokteran pun pada masa itu belum mampu mengatasi komplikasi yang mungkin saja terjadi. Namun, bagaimana jika hal itu berlaku pada saat sekarang ini? Di zaman yang konon

katanya era teknologi informasi, dimana teknologi kedokteran telah berkembang sedemikian pesat. Sungguh sangat disayangkan memang, tapi itulah relita yang ada. Besarnya masalah kematian ibu memang menjadi perhatian dunia internasional, sehingga ada ahli yang menyatakan bahwa setiap 4-5 jam jatuh sebuah jumbo jet yang seluruh penumpangnya adalah ibu hamil (Potts, 1986), satu jumlah yang sangat fantastis untuk menunjuukan tingginya angka kematian ibu diseluruh dunia. Di negara miskin, sekitar 25-50 persen kematian perempuan usia subur disebabkan oleh masalah terkait kehamilan, persalinan dan nifas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, diseluruh dunia lebih dari 585.000 ibu meninggal tiap tahun saat hamil atau bersalin. Artinya, setia menit ada satu perempuan yang meninggal. Sebuah kematian yang seharusnya tidak perlu terjadi dan sesungguhnya dapat dihindari. Bercermin dari realita di atas, sudah seyogyanya kita semua memperhatikan pentingnya kesehatan perempuan itu sendiri. Masih tingginya angka kematian ibu di Indonesia memperlihatkan rendahnya pelayanan kesehatan yang diterima oleh perempuan serta rendahnya akses informasi yang dimiliki. Karenanya, seorang perempuan haruslah memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi serta mampu memberdayakan dirinya, di samping pemerintah juga harus meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan hingga ke seluruh penjuru tanah air. Selain itu juga, adanya sebuah peraturan yang mengatur tentang hak kesehatan perempuan sangat dibutuhkan karena sampai saat ini belum kita temui aturan secara eksplisit yang mengakui akan hak-hak reproduksi perempuan. Tak seharusnya di zaman serba modern ini, seorang perempuan masih memiliki resiko kesakitan dan kematian untuk melahirkan calon anak-anak yang sehat dan kelak akan menjadi modal bangsa. Pemberdayaan perempuan harus terus digerakkan agar tak ada lagi kamatian ibu yang sia-sia di negeri ini [3]. Saat ini, angka kematian ibu (mother mortality rate/MMR) di Indonesia masih tertinggi di Asia Tenggara. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih yang paling tinggi di Asia Tenggara yakni 307 per seratus ribu kelahiran hidup yang berarti 50 ibu

meninggal setiap hari karena komplikasi persalinan dan saat melahirkan. Pernyataan tersebut dapat dilihat dari data grafik dibawah ini

Gambar 2 Kematian Ibu di Asia Tenggara[4]

Ukuran tingkat kematian ibu (the maternal mortality rate) selain dimanfaatkan sebagai indikator kesehatan juga digunakan sebagai indikator kesejahteraan rakyat atau kualitas pembangunan manusia (IPM/HDI), hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa perubahan ukuran-ukuran tersebut sangat erat kaitannya dengan perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kematian maternal dimaksud tidak disebabkan oleh kurang efektifnya pencegahan kematian, akan tetapi lebih kepada 1) pelanggaran terhadap hak perempuan, 2) kondisi sosial-ekonomi yang kurang menguntungkan, dan 3) ketidaksetaraan gender. Selain itu faktor sikap dan perilaku ibu, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, keterlambatan pemeriksaan kehamilan, merokok, dan tindak kekerasan selama kehamilan, juga turut meningkatkan resiko kematian maternal,. Kematian maternal di negara berkembang yang terjadi dirumah sakit sebagian besar (40-60 %) disebabkan oleh komplikasi kehamilan, sementara di negara maju untuk penyebab yang sama hanya mencapai 1, 2-8 %. Faktor utama yang perlu diperhatikan dalam penurunan Angka Kematian Ibu adalah peningkatan keterjangkauan (akses) dan kualitas pelayanan kesehatan maternal dan peningkatan kualitas pelayanan pada saat dan pasca persalinan (13%

kematian martenal disebabkan oleh aborsi dan di dunia terjadi 55000 kali aborsi setiap harinya, 95% diantaranya terjadi di negara berkembang). Selain itu penurunan angka kematian ibu dapat dilaksanakan melalui beberapa fase atau tahapan yaitu 1) Pada masa sebelum masa kehamilan, yaitu perilaku sehat termasuk nutrisi, aktivitas fisik, perawatan sebelum konsepsi, menghindari substansi yang membahayakan alat reproduksi, 2) Perencanaan masa kehamilan, yaitu dengan perawatan kehamilan awal yang berkualitas, pengetahuan gejala dan timbulnya tanda munculnya masalah, 3) Pada masa persalinan yaitu melakukan persalinan yang sehat, persalinan disaat yang tepat dengan intervensi minimal, serta bantuan pada pasca persalinan yang disertai penyuluhan serta pemeliharaan kualitas kesehatan lingkungan [5].

BAB III METODE PENULISAN
3.1 Jenis Penulisan Jenis penulisan yang dilakukan penulis adalah mengumpulkan data-data yang didapatkan dari berbagai sumber. Data-data tersebut dianalisis dan dikaitkan satu sama lain sehingga didapatkan solusi yang tepat untuk menekan angka kematian ibu. 3.2 Sumber Data Data-data yang digunakan dalam karya ilmiah ini bersumber dari internet dan beberapa literatur. 3.3 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan penulis adalah dengan mempelajari apa yang menjadi penyebab kematian ibu setelah melahirkan dan faktor penyebab meningkatnya angka kematian ibu setelah melahirkan sehingga didapatkan solusi yang tepat untuk mengurangi angka kematian ibu setelah melahirkan. 3.4 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut : Bab I memaparkan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan manfaat. Bab II memaparkan tinjauan pustaka yang mendasari penulisan karya ilimiah ini. Bab III memaparkan jenis penulisan, sumber data, teknik analisis data, dan sistematika penulisan. Bab IV memaparkan penyebab kematian ibu setelah melahirkan, faktor-faktor penyebab peningkatan angka kematian ibu setelah melahirkan, dan penyebaran pelayanan kesehatan gratis sebagai solusi dari masalah yang diangkat pada penulisan karya ilmiah ini.

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Penyebab Kematian Ibu Setelah Melahirkan 4.1.1 Perdarahan setelah melahirkan (postpartum) 4.1.1.1 Definisi Perdarahan setelah melahirkan (postpartum) adalah kehilangan darah sebanyak 500 ml atau lebih setelah kelahiran secara normal atau istilahnya kelahiran pervaginam. Definisi perdarahan postpartum yang lebih bermakna adalah kehilangan berat badan 1% atau lebih, karena 1 ml darah beratnya 1 gram. Perdarahan postpartum ini adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal. 4.1.1.2 Komplikasi Komplikasi perdarahan postpartum ada dua, yaitu komplikasi segera dan tertunda. Syok hemoragi (hipovolemik) dan kematian dapat terjadi pada komplikasi yang segera atau tiba-tiba. Komplikasi yang tertunda, yang timbul akibat

hemoragi postpartum mencakup anemia, infeksi purpural (nifas), dan tromboembolisme. 4.1.1.3 Penyebab Perdarahan postpartum yang utama diakibatkan oleh: a. Atonia uteri Atonia uteri adalah suatu kondisi dimana uterus meregang berlebihan dan kontrasinya pun buruk. Atonia uteri dialami sekurang-kurangnya 5% wanita melahirkan, khususnya bagi wanita yang pengalaman melahirkannya lebih dari satu kali. Atonia uterus juga terjadi jika hidramnion, bila janin besar, atau setelah kelahiran gestasi multijanin. Sebab-sebab lain atonia uteri mencakup kelahiran atraumatik, penggunaan anestesi halogen, magnesium sulfat, persalinan yang lama atau cepat, korioamnionitis, dan penggunaan oksitosinuntuk menginduksi persalinan atau augmentasi. Atonia uteri ini merupakan penyebab utam perdarahan postpartum. b. Laserasi jalan lahir Laserasi jalan lahir adalah suatu robekan yang terjadi pada jalan lahir yaitu pada perineum, vagina, serviks, ataupun uterus. Macam insisi sebelumnya merupakan penyebab utama terjadinya robekan jaringan parut. Laserasi jalan lahir merupakan penyebab kedua perdarahan postpartum. Penyebab atau etiologi lainnya dari laserasi jalan lahir adalah • • Kelahiran operatif Kelahiran spontan yang tidak terkontrol

• • • • • • •

Kelainan congenital Kontraksi pelvis Ukuran pelvis Presentasi abnormal Posisi janin dan ukuran Varises vagina, perineum, dan vulva Kelainan kerja uterus, misalnya kelahiran presipitatus

4.1.2 Infeksi purpural (nifas) 4.1.2.1 Definisi Infeksi puerperalis merupakan infeksi bakteri pada traktus genitalia yang terjadi sesudah melahirkan, baik normal maupun melewati operasi caesar. Sebagian besar kenaikan suhu dalam masa puerperalis disebabkan oleh infeksi panggul, luka bekas jahitan, tetapi kenaikan suhu bisa juga terjadi karena sebab lain salah satunya adalah pembengkakan payudara. Beberapa definisi dibuat berdasarkan derajat pireksia yang terjadi. The Joint Committe on Maternal Welfare membuat kesepakatan pada tahun 1919 (Mussey dkk., 1935), dan beberapa tahun kenudian memodifikasi standar Eropa serta mendefinisikan morbiditas puerperalis “Suhu 380C (100,40 F)atau lebih, yaitu suhu yang terjadi pada dua hari manapun dari waktu 10 hari pertama postpartum yang tidak mencakup waktu 24 jam pertama, dengan pengukuran lewat mulut sekurang-kurangnya empat kali sehari memakai teknik standar”. 4.1.2.2 Faktor predisposisi Berhubungan dengan lamanya ketuban pecah sebelum melahirkan, frekuensi pemeriksaan serviks, manipulasi intrauteri

untuk melahirkan bayi serta plasenta, dan dengan luas serta banyaknya luka insisi (contohnya luka jahitan post operasi caesar) dan laserasi. 4.1.2.3 Faktor antepartum a. Nutrisi Pemenuhan nutrisi terutama protein sangat membantu untuk proses penyembuhan luka dan pembentukan jaringan baru. Apabila nutrisi kurang terpenuhi akan menyebabkan penyembuhan luka lebih lama dan pertahanan tubuh berkurang. b. Genital hygiene Kebersihan genitalia yang kurang dapat menyebabkan invasi mikroorganisme ke dalam organ reproduksi sehingga dapat menyebabkan infeksi. 4.1.2.4 Faktor intrapartum a. Kontaminasi Bakteri b. Trauma Laserasi akan menjadi tempat masuk kuman patogen dan jaringan yang mati berfungsi sebagai media perbenihan yang sangat baik. Contoh yang paling nyata adalah proses persalinan dengan seksio sersaria yang sangat meningkatkan frekuensi infeksi puerperalis. c. Kehilangan darah Trauma yang menimbulkan perdarahan dan tindakan manipulasi yang berkaitan dengan pengendalian perdarahan bersama-sama perbaikan jaringan yang luka, tentu saja merupakan predisposisi untuk terjadinya infeksi. Hematom yang sering terbentuk dalam keadaan ini segera dan sering

terinfeksi, serta kemungkinan terjadinya sepsis yang berbahaya. 4.1.2.5 Pencegahan Tindakan pencegahan adalah dengan mengajarkan pasien nutrisi prenatal yang baik untuk mengendalikan anemia dan perdarahan intranatal. Higiene perineal ibu yang benar juga perlu ditekankan. Semua tenaga kesehatan harus menaati teknikteknik aseptik saat bersalin dan pada masa pasca partum. Pengendalian infeksi dilakukan untuk mencapai penyembuhan dan rasa nyaman. 4.1.3 Preeklampsi dan Eklampsi 4.1.3.1 Definisi preeklampsi Preeklampsi merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. 4.1.3.2 Definisi eklampsi Eklampsi adalah terjadinya konvulsi atau koma pada pasien disertai hipertensi seperti pada preeklampsi. Konvulsi atau koma dapat muncul tanpa didahului gangguna neurologis.

4.1.3.3 Pencegahan Pencegahan untuk preeklampsi adalah perawatan prenatal dini, identifikasi ibu beresiko selama kehamilan, dan pengenalan serta pelaporan tanda-tanda bahaya fisik [7]. 4.2 Faktor Penyebab Peningkatan AKI Setelah Melahirkan 4.2.1 Pendidikan Pendidikan merupakan hal yang sangat berpengaruh pada kesehatan ibu. Pengetahuan yang rendah akan mengurangi kesigapan ibu hamil dalam menghadapi keadaan yang tidak wajar. Ketidaktahuan tersebut

akan membuat ibu hamil merasa tidak ada yang salah dengan dirinya sehingga terlambat dalam beberapa hal antara lain 1. Terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan bagi kasus kegawatdaruratan obstetric. 2. Terlambat mencari tempat rujukan yang disebabkan oleh keadaan geografis dan masalah transportasi. 3. Terlambat memperoleh penanganan yang adekuat ditempat rujukan karena kurangnya sumber daya dan fasilitas kesehatan pada pusat rujukan. 4.2.2 Budaya Budaya masih dianggap sebagai suatu hal yang mutlak di Indonesia terutama di daerah terpencil. Jadi hampir semua penduduk yang tinggal di daerah pedesaan masih takut dengan mitos-mitos yang ada didaerahnya. Salah satu contohnya adalah mitos yang melarang mengonsumsi makanan yang berprotein seperti daging ayam, ikan, telur, dll karena dapat menyebabkan gatal-gatal pada daerah luka sehabis melahirkan. Faktanya, protein sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan jaringan baru didaerah luka sehabis melahirkan. 4.2.3 Ekonomi Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat didaerah terpencil memiliki pendapatan ekonomi yang rendah. Hal tersebut yang menyebabkan ibu hamil yang tinggal didaerah tersebut lebih memilih untuk memeriksakan kandungannya ke dukun dibanding ke tenaga ahli kesehatan karena biaya yang dikeluarkan cenderung lebih sedikit. Masalah ekonomi juga berpengaruh pada status nutrisi sang ibu maupun sang bayi. Keluarga yang pendapatan ekonominya rendah biasanya tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi. 4.2.4 Menikah usia muda Seorang wanita yang berusia kurang dari 16 tahun, memiliki sistem reproduksi yang belum matang. Apabila dia hamil dan melahirkan pada

usia muda, resikonya lebih tinggi karena wanita yang sistem reproduksinya belum matang akan lebih mudah mengalami perdarahan dan infeksi jika melahirkan. 4.2.5 Gaya hidup Gaya hidup saat ini sudah tercemar oleh budaya barat sehingga free sex sudah menjamur di kalangan remaja. Free sex berbanding lurus dengan angka kejadian aborsi yang merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh pada kematian ibu. Meskipun secara mandiri tidak pernah tercatat sebagai penyebab kematian ibu, sebenarnya turut menjadi penyumbang kematian ibu hamil. 4.3 Penyebaran Pelayanan Kesehatan Gratis sebagai Solusi 4.3.1 Program pemerintah Orang miskin dilarang sakit. Anekdot itu sering terdengar. Tidak hanya sekarang, tetapi sudah dari dulu. Mengapa, karena biaya obat dan perawatan di rumah sakit sangat tinggi, sehingga tidak mampu dijangkau oleh rakyat miskin. Ironisnya lagi, tidak jarang para pasien termasuk yang tergolong miskin sering jadi objek permainan. Mereka tidak jarang dihambat bahkan sering digiring ke rumah sakit swasta. Manakala pemerintah mengeluarkan kebijakan penerapan Askeskin pada Januari 2005, warga pun menyambut dengan suka cita. Ibarat hujan di musim kemarau. Harapannya, kebijakan ini akan mampu mengangkat derajat kesehatan warga miskin. Apalagi pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk menunjang program pro-rakyat ini. Untuk tahun 2006 saja, pemerintah menganggarkan Rp 3,6 trilyun. Namun anggaran itu baru terserap 72 persen. Artinya masih ada dana Rp 1 trilyun yang belum cair atau dikembalikan lagi ke APBN karena tak terpakai. Ini tampak ironis. Di tengah masih banyaknya warga miskin di Indonesia, bahkan cenderung meningkat, Depkes selaku penanggung jawab Askeskin masih menyisakan anggaran. Masih tersisanya anggaran tersebut menunjukkan bahwa kerja Depkes dalam membantu rakyat

miskin belum maksimal. Dari sini juga dapat disimpulkan bahwa Depkes sebagai institusi operasional kebijakan Askeskin tidak secara serius mengamankan garis strategi pemerintah. Anggaran tidak efektif terserap di lapangan, padahal rakyat miskin tidak berkurang bahkan cenderung bertambah. Program Askeskin yang diselenggarakan oleh PT. ASKES (Persero) merupakan penugasan dari Pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1241/MENKES/SK/XI/2004 tentang Penugasan PT. Askes (Persero) dalam Pengelolaan Program Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin. Bagi PT. Askes (Persero) sebagai BUMN, penugasan tersebut dilaksanakan mengacu pada pasal 66 UU nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN yang menyatakan, Pemerintah dapat memberikan penugasan khusus kepada BUMN untuk menyelenggarakan fungsi kemanfaatan umum dengan tetap memperhatikan maksud dan tujuan kegiatan BUMN. Hal ini ditegaskan pula dalam Peraturan Pemerintah nomor 45 tahun 2005 pasal 65. Program Askeskin dapat dianggap sebagai implementasi awal dari Undang-undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Berdasarkan penjelasan pasal 14 ayat (1) dalam UU tersebut, jaminan kesehatan merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan menuju terwujudnya universal coverage. 4.3.2 Sumber dana program pelayanan kesehatan gratis Sumber dana yang dibahas pada sub bab ini tidak mengacu pada program pemerintah. Sumber dana yang dimaksud adalah sumber dana yang dibutuhkan jika penulis bertindak sebagai penggagas diterapkannya pelayanan kesehatan gratis. Sumber dana yang digunakan untuk melaksanakan program ini berasal dari pengajuan proposal ke pemerintah daerah dan perusahaan-perusahaan serta sumbangan dari masyarakat yang peduli terhadap kesehatan penduduk Indonesia..

Jika

program

ini

dinilai

cukup

efektif,

maka

seluruh

manajemennya akan diserahkan kepada dinas kesehatan daerah.. 4.3.3 Keefektifan penyebaran pelayanan kesehatan gratis Dengan diadakannya program pemerintah berupa askeskin atau jamkesmas, diharapkan ibu hamil dengan tingkat ekonomi yang rendah lebih berani untuk datang ke pelayanan kesehatan baik untuk memeriksakan kehamilan maupun melahirkan karena tidak membebankan masyarakat miskin dengan biaya. Namun, program pemerintah ini dinilai masih belum cukup efektif karena penyebaran pelayanan kesehatan belum merata. Masyarakat yang tinggal di daerah terpencil masih kesulitan untuk menjangkau tempat pelayanan kesehatan karena jarak antara tempat tinggal mereka dengan tempat pelayanan kesehatan masih relatif jauh. Diharapkan solusi yang diberikan penulis dalam karya ilmiah ini dapat mendukung program pemerintah dengan menyediakan pelayanan kesehatan gratis secara merata di daerah terpencil. Program yang diusulkan penulis diharapkan cukup efektif untuk menekan angka kematian ibu karena masyarakat yang sedang dalam keadaan darurat lebih mudah menjangkau tempat pelayanan kesehatan sehingga dapat ditangani segera. Dengan program ini juga diharapkan dapat mengubah pandangan masyarakat untuk mendatangi pelayanan kesehatan dibandingkan paranormal jika terjadi sesuatu pada diri mereka.

BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan Kematian ibu setelah melahirkan disebabkan oleh beberapa hal seperti perdarahan, infeksi, dan preeklampsi serta eklampsi. Angka kematian ibu setelah melahirkan meningkat dari tahun ke tahun. Faktorfaktor yang menyebabkan peningkatan angka kematian ibu adalah pendidikan kesehatan yang kurang, pendapatan ekonomi yang rendah, budaya yang bertentangan dengan ilmu kesehatan, menikah di usia muda,

dan tingginya tingkat aborsi. Untuk menekan angka kematian ibu, solusi yang disarankan oleh penulis adalah penyebaran pelayanan kesehatan gratis. Program ini dirasa cukup efektif untuk menekan angka kematian ibu karena masyarakat dapat dengan mudah menjangkau tempat pelayanan kesehatan dan tidak dibebankan dengan masalah biaya. 5.2 Saran Berdasarkan solusi diatas, penulis menyarankan untuk meningkatkan anggaran untuk kesehatan terutama pada daerah terpencil.

Daftar Pustaka
[1] http://www.gatra.com/2006-01-23/versi_cetak.php?id=91706 [2] http://www.kapanlagi.com/h/0000260971.html [3] http://prov.bkkbn.go.id/jateng/article_detail.php?aid=25 [4] http://1.bp.blogspot.com/_cgMINVUx5w/SYbyc2f5qsI/AAAAAAAAARY/etiZ-_Ykytc/s320/090202++19.56.45.jpg

[5] http://murwantorezky.blog.friendster.com/2007/06/faktor-faktor-yangmempengaruhi-tingginya-angka-kematian-ibu-di-provinsi-nusa-tenggara-barat/ [6] http://www.dinkes-kabtangerang.go.id/index.php?option=com_content& view=article&id=14&Itemid=27&showall=1 [7] Bobak, Lawdermilk, Jensen. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Alih bahasa: Maria A . Wijayarini, Peter I. Anugerah. Edisi 4. Jakarta ; EGC. Terjemahan dari:Maternity Nursing. [8] Staf Pengajar Sosiokomunikasi. 2006. Metode Penulisan Ipteks. Bandung; ITB.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->