Anda di halaman 1dari 13

Nilai:

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENANGAN HASIL PERTANIAN (Pembersihan, Sortasi, dan Grading Bahan Hasil Pertanian)

Oleh:

Nama NPM Hari, Tgl Praktikum Asisten

: Ramdhani Pratama Hakim : 240110090036 : Selasa, 27 September 2011 : Ade Wulan

LABORATORIUM PASCA PANEN DAN TEKNOLOGI PROSES JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Peningkatan produksi dan perbaikan mutu dari hasil pertanian, tampaknya merupakan masalah penting karena permintaan akan hasil pertanian dan bahan olahannya terus mengalami kenaikan. Oleh karena itu setelah melakukan pemanenan hasil tanaman yang diusahakan, sebelum hasil yang dipanen itu dipasarkan perlu dilakukan tindakan-tindakan tertentu agar hasil yang dipanen mempunyai mutu yang baik. Tindakan tersebut dikatakan sebagai penanganan pasca panen. Di samping penanganan pasca panen, tindakan yang tidak kalah penting adalah penanganan saat panen. Tujuan penanganan saat panen yaitu agar diperoleh hasil yang memuaskan, baik kualitas maupun kuantitas (sesuai dengan yang diharapkan pasar atau konsumen) yang kesemuanya itu akan lebih menguntungkan petani penanamnya. Dengan adanya penanganan dan pengelolaan saat panen diharapkan nantinya : a. Tidak banyak hasil yang terbuang. b. Tidak banyak hasil yang rusak. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam penanganan pasca panen antara lain pengeringan, penyortiran, pengolahan hasil (penghilangan kulit atau bagian-bagian yang dapat merusak mutu, pemisahan hasil yang baik dengan yang tidak baik, dan sebagainya), penyiapan hasil agar mudah digunakan atau diperdagangkan, penyimpanan hasil dalam suatu wadah atau tempat yang memenuhi persyaratan agar tidak rusak mutunya.

1.2 Tujuan Intruksional Khusus Mengukur dan mengamati proses sortasi dan grading bahan hasil pertanian Melakukan perhitungan kualitas dan variable kualitas untuk mengkaji kelas kualitas (grade), kerusakan yang tampak (visible), kerusakan yang tak tampak (invisible damager), bahan asing (foreign materials), keretakan (sound grain and crack).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembersihan Setelah pemilahan, sayur dan buah hendaknya segera dibersihkan dari segala kotoran yang menempel. Jika harus digosok atau dilap, hendaknya menggunakan lap yang bersih dan lembut sehingga tidak menyebabkan gores dan Pada umumnya, sayur yang telah dipilah juga perlu dicuci dengan air bersih yang mengalir. Jika sayur hendak dikonsumsi segar sebagai lalap, setelah dicuci bersih, bahan direndam selama 10 menit di dalam air yang telah diberi kaporit (natrium hipokhlorit) 0,1%. Tujuannya adalah untuk mematikan mikroba dan parasit yang tidak mungkin dihilangkan hanya dengan pencucian dengan air biasa. Buah tertentu juga perlu dicuci seperti pisang, mangga dan pepaya. Pencucian bertujuan permukaan kulit bersih, dan tampak lebih cerah. Setelah bersih dan selesai dicuci, bahan ditiriskan sampai tidak tampak lagi butiran air yang menempel pada bahan. Penirisan sebaiknya dilakukan pada rakrak atau balai-balai berlobang dan dikipasi dengan kipas angin agar penirisan berlangsung lebih cepat. Secara umum, pembersihan dapat dilakukan dengan dua cara: 1. Dry method yang diantaranya meliputi: Penyaringan (screening) Pemungutan dengan tangan (hand picking)

2. Wet method yang diantaranya meliputi Perendaman (soaking) Water Sprays Rotary Drum Brush Washer Shuffle or Shakker Washer

2.2 Sortasi Sortasi adalah pemisahan bahan yang sudah dibersihkan kedalam berbagai fraksi kualitas berdasarkan karakteristik fisik (kadar air, bentuk, ukuran, berat jenis, tekstur, warna, benda asing/kotoran), kimia (komposisi bahan, bau dan rasa ketengikan) dan biologis (jenis dan jumlah kerusakan oleh serangga, jumlah mikroba dan daya tumbuh khusunya pada bahan pertanian berbentuk bijian. Pemilahan ini dapat dilakukan secara langsung pada saat panen, di tempat pengumpulan atau pada tempat khusus.

2.3 Grading Pemeringkatan bertujuan untuk memisahkan bahan berdasarkan kelas mutunya, tapi untuk menyisihkan antara bahan yang layak dikonsumsi dengan bahan yang tidak layak dikonsumsi atau tidak layak diedarkan.

Kelas mutu didasarkan pada berbagai kriteria, seperti ukuran, warna, tingkat kematangan, dan bentuk. Setiap jenis sayur dan buah dapat diperingkat berdasarkan satu atau beberapa kriteria di atas. Pemeringkatan ini berkaitan dengan perdagangan dan selera konsumen. Bahan dengan mutu lebih tinggi akan dihargai lebih tinggi pula oleh pasar. Pemeringkatan dapat dilakukan tanpa alat bantu, yaitu hanya mengandalkan kemampuan subjektif orang yang melakukannya. Peralatan atau mesin tertentu juga dapat digunakan untuk pemeringkatan, seperti timbangan, penggaris, dan ayakan.Pemeringkatan harus dilakukan dengan cepat pada kondisi yang tidak memacu kerusakan pada bahan, misalnya dilakukan pada tempat yang bersih serta terlindung dari panas dan cahaya matahari langsung. Pekerjaan dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan gores, luka dan memar.

2.4 Standarisasi Mutu Beras Penanganan pascapanen yang dimulai dari tingkat petani merupakan titik awal penting untuk menjamin peningkatan pendapatan dan kesejahteraan mereka. Kegagalan penanganan pascapanen pada tingkat petani ini dapat mengakibatkan rendahnya mutu hasil dan tingginya tingkat susut atau kehilangan hasil dan kerusakan gabah dan beras.

Secara umum petani telah mampu meningkatkan produksi pangannya khususnya padi. Hal ini karena berbagai kegiatan teknik produksi sudah mendapat perhatian dan diterapkan petani secara baik, sedangkan masalah setelah panen belum diperhatikan oleh petani. Keadaan ini erat sekali hubungannya dengan tingginya kehilangan hasil dan penurunan mutu. Tabel 1. Standar Mutu Beras Giling SNI No. 01 6128 -1999 Mutu No 1 2 3 Komponen Mutu Satuan I Derajat Sosoh (Min) Kadar Air (Maks) Beras Kepala (Min) Butir Utuh (Min) 4 5 6 7 8 9 10 11 Butir Patah (Maks) Butir Menir (Maks) Butir Merah (Maks) Butir Kuning/Rusak (Maks) Mutir Mengapur (Maks) Benda Asing (Maks) Butir Gabah (Maks) Campuran Varietas Lain (Maks) % % % % % % % % % % (butir/100 g) % 100 14 100 60 0 0 0 0 0 0 0 5 II 100 14 95 50 5 0 0 0 0 0 0 5 III 100 14 84 40 15 1 1 1 1 0.02 1 5 IV 95 14 73 35 25 2 3 3 3 0.05 2 10 V 85 15 60 35 35 5 3 5 5 0.2 3 10

Sumber : Badan Standardisasi Nasional (BSN)

BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan Alat Bahan Beras Timbangan Analitik Wadah aluminium Moisture tester Rice standard chart

3.2 Prosedur Percobaan 1. Kami menyiapkan 50 gram beras kedalam wadah aluminium. 2. Kemudian kami memisahkan beras yang mana termasuk biji utuh, biji menir, biji patah , hijau/kapur, kuning dan benda asing. 3. Setelah kami memisahkan beras berdasarkan prosedur nomer 2, kami membandingkan persentase masing-masing jenis beras. 4. Kemudian kami menghitung kadar air beras yang terkandung pada biji utuh menggunakan alat yang dinamakan moisture tester. 5. Terakhir kami menghitung nilai derajat sosoh beras.

BAB IV HASIL Berat awal beras = 50 gram

Tabel 2. Pengamatan Beras Standar (%) Minimal 95 Minimal 35 Minimal 25 Maximal 2 Maximal 3 Maximal 3 Maximal 0,05 Maximal 2 8 Butir Gabah TOTAL 43.65 87.3 % butir -

No 1 2 3 4 5 6 7

Pengamatan Derajat Sosoh Butir Utuh Butir Patah Butir Menir Butir Hijau/Menguning Butir Kuning/Rusak Benda Asing

Bobot (gram)

25,48 13,16 0,71 3,63 0,67 -

58,373 30,14 1,626 8,316 1,535 -

Beras kehilangan = Ma-Mt = 50 gram 43.65 gram = 6.35 gram [ [ ( ( )] )]

% Beras hilang = 100% - Mt% = 100% - 87.3% = 12.7 %

Tabel 3. Kadar Air Basis Basah Beras Sampel Beras 1 2 3 Rata Rata Kadar Air Basis Basah (%) 12,5 12.4 12.3 12.4

BAB V PEMBAHASAN

Pada praktikum teknik penanganan hasil pertanian mengenai pembersihan, sortasi dan grading bahan hasil pertanian, pertama-tama kami harus memahami konsep dasar mengenai pembersihan, sortasi dan grading. Kemudian kami menyiapkan alat dan bahan yang akan dibutuhkan untuk praktikum kali ini. Kami menimbang 50 gram beras,dan selanjutnya kami melakukan proses

sortasi,diantaranya biji utuh, biji menir, biji patah dll. Setelah itu kami memperoleh hasil, kemudian kami konversikan ke dalam persesntase. Data-data yang kami dapatkan selanjutnya kami gunakan untuk menghitung nilai massa beras yang hilang, diperoleh hasil sebesar 6.35 gram hal ini mungkin disebabkan karena pada saat sortasi dan pengradingan beras secara tidak sengaja terjatuh ataupun pada saat sortir kami melakukan kesalahan. Kemudian kami menghitung nilai derajat sosoh pada beras dengan menggunakan persamaan rumus : [ ( )]

Diperolehlah nilai derajat sosoh sebesar 91.4 % ,hal ini menunjukan beras ini berada pada standar beras yang menengah,hal ini karena nilai derajat sosoh yang baik adalah tidak kurang dari 95%. Ada 3 jenis preferensi konsumen terhadap beras sosoh, yaitu beras bening, beras putih dan beras mengkilap. Pembuatan beras dengan penampakan bening menggunakan alat penyosoh tipe friksi, untuk beras putih menggunakan alat penyosoh tipe abrasive dan untuk beras megkilap menggunakan alat penyosoh sistem pengkabutan

(www.agribisnis.deptan.go.id). Setelah itu kami menghitung nilai kelembaban dan kadar air pada beras menggunakan alat yang bernama moisture tester. Kami melakukan 3 kali pengukuran pada jenis beras yang sama setelah digrading. Pengukuran pertama menghasilkan nilai sebesar 12.5 , pengukuran kedua sebesar 12.4 dan pengukuran yang terakhir sebesar 12.3 . sehingga kami mendapatkan nilai rata-rata kadar air beras sebesar 12.4 %.

Berdasarkan hasil praktikum kali ini, bisa kami simpulkan bahwa beras yang kami gunakan untuk praktikum kali ini berasa pada grade 2 atau menengah, hal ini dapat dilihat dari parameter baha nilai derajat sosoh kurang dari 95 % dan pada saat pengradingan biji patah lebih dari 25 %.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : 1. Berdasarkan data yang kami peroleh maka beras yang kami gunakan untuk praktikum merupakan beras yang termasuk kelas menengah. 2. Nilai derajat sosoh untuk beras yang masuk dalam kategori yang baik adalah tidak kurang dari 95%. 3. Kadar air pada beras dapat dihitung dengan menggunakan alat yang bernama moisture tester. 4. Kualitas dan kuantitas suatu bahan hasil pertanian dapat dilakukan dengan proses pembersihan, sortasi dan grading. 6.2 Saran 1. Sebelum melakukan praktikum, praktikan diharapkan untuk

memahami konsep tentang pembersihan, sortasi dan grading bahan hasul pertanian. 2. Ketersedian alat praktikum perlu diperhatikan,karena akan

mempengaruhi laju praktikum. 3. Penjelasan materi praktikum dari asdos haruslah jelas dan dapat dimengerti praktikan. 4. Ketelitian praktikan pada saat pengradingan beras haruslah teliti agar hasil yang diperoleh baik dan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Moh senin, N . N . 1980. Pysical Properties of Plant and Animal Materilas. New Yorl : Gordon and Breach Science Publishers Zein, sudaryanto dkk. 2005. Teknik Penangan Hasil Pertanian . Bandung: Pustaka Giratuna AgriChem, Inc. 1994. Grain Measurement with Capacytance Type Device. (Online). (http.//www.grainprep.com, diakses 03 Oktober 2011).

LAMPIRAN

Gambar 1.

Gambar 2.

Gambar 3.

Gambar 4.

Keterangan gambar: Gambar 1 adalah pengukuran jumlah beras sebesar 50 gram. Gambar 2 adalah pengkelasan (grading) beras. Gambar 3 adalah beras utuh hasil penggradingan. Gambar 4 adalah pengukuran nilai kadar air beras menggunakan moisture tester.