Anda di halaman 1dari 3

Nama NIM

: Etika Rahmi : 04081001012

PLEURITIS TB
DEFINISI Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi

Mycobacterium tuberculosis. TB diklasifikasikan menjadi TB paru dan TB ekstraparu. TB paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, sedangkan TB ekstraparu adalah tuberkulosis yang menyerang organ selain paru seperti pleura, kelenjar getah bening, tulang, kulit, usus, ginjal, dan lain-lain. Pleuritis TB merupakan infeksi pada pleura akibat tuberkulosis. Penyakit ini kebanyakan terjadi sebagai komplikasi TB paru melalui fokus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening. Sebab lain dapat juga dari robeknya perkijuan ke arah saluran getah bening yang menuju rongga pleura, iga, atau kolumna vertebralis. Dapat juga secara hematogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. Rupturnya focus subpleural dari jaringan nekrosis perkijuan dapat menimbulkan cairan efusi karena tuberkuloprotein yang ada didalamnya masuk ke rongga pleura, menimbukan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. PATOGENESIS Reaksi hipersensitivitas terhadap M. tuberculosis memegang peranan penting dalam terjadinya dan banyaknya cairan pelura. Protein tuberkulin atau antigen M. tuberculosis menimbulkan reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang merangsang sel limfosit T melepaskan sejumlah limfokin yang menyebabkan perubahan

permeabilitas pembuluh darah pleura. Perkembangan pleuritis TB mencapai puncak pada akhir minggu ketiga. Dalam waktu 3 minggu cairan pleura dapat mencapai setinggi sela iga 5 atau 4, tetapi dapat pula mencapai sela iga 2 atau lebih tinggi.

Efusi yang terjadi pada peluritis TB berupa efusi pleura eksudatif. Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membran kapiler yang permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi. Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari kelenjar getah bening. Kegagalan aliran protein getah bening pada pleuritis TB akan menyebabkan peningkatan konsentrasi protein cairan pleura, sehingga menimbulkan eksudat. Efusi pleura eksudatif memenuhi paling tidak salah satu dari tiga kriteria berikut ini: 1. Protein cairan pleura / protein serum > 0,5 2. LDH cairan pleura / cairan serum > 0,6 3. LDH cairan pleura melebihi dua per tiga dari batas atas nilai LDH yang normal di dalam serum. DIAGNOSIS Pada pasien pleuritis TB ditemukan gejala sesak napas (dyspneu), febris, penurunan berat badan, dan nyeri dada pleuritik. Kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyaknya cairan di rongga pleura. Pada perkusi ditemukan pekak, pada auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan. Diagnosis utama berdasarkan adanya kuman tuberkulosis dalam cairan efusi (biakan) atau dengan biopsi jaringan pleura. Pemeriksaan foto toraks juga dapat membantu dalam mendiagnosis adanya efusi pleura. PENATALAKSANAAN Pengobatan dengan obat-obat antituberkulosis (Rifampisisn, INH,

Pirazinamid/Etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6-12 bulan. Dosis dan cara pemberian obat sama dengan pengobatan TB paru. Pengobatan ini dapat menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembali, tetapi untuk menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosintesis. Umumnya cairan diresousi dengan sempurna, tetapi kadang-kadang dapat diberikan kortikosteroid secara sistematik (prednison 1 mg/kgBB selama 2 minggu kemudian dosis diturunkan secara perlahan).

KEPUSTAKAAN 1. Halim, H. Penyakit-penyakit Pleura. Dalam: Sudoyo AW, dkk (Editor). Buku Ajar Penyakit Dalam Edisi Keempat Jilid II. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2006.h. 1056-61. 2. PDPI. Tuberkulosis, Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2002.