Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS

Pembimbing : Dr. Enni Cahyani P., Sp.M.,M.Kes

Disusun oleh : Regina Susanti

11.2011.226

KEPANITERAAN KLINIK FK UKRIDA RS MATA YAP PERIODE 8 April 11 Mei 2013

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA RUMAH SAKIT MATA DR.YAP YOGYAKARTA 2013

KEPANITERAAN KLINIK STATUS ILMU PENYAKIT MATA RS MATA DR YAP Nama NIM Dr. Pembimbing Fak. Kedokteran : Regina Susanti : 11-2011-226 : dr. Enni Cahyani P, SpM, M.Kes : UKRIDA

I. Nama Umur Agama

IDENTITAS : Tn.S : 48 tahun : Islam : Petani : Dusun Nglebeng, Pacitan : Regina Susanti

Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan Alamat Pemeriksa II.

ANAMNESIS

Dilakukan autoanamnesis pada tanggal 01 Mei 2013 pk. 09.30 WIB Keluhan Utama : Mata kiri merah sejak 15 hari SMRS. Keluhan Tambahan : Mata kiri terasa nyeri, cekot-cekot, perih, mata berair, terdapat putih putih di mata, mata terasa mengganjal, penglihatan kabur. Riwayat Penyakit Sekarang : 15 hari MSRS, pasien merasa mata kiri nyeri, cekot-cekot, mata berair, istri pasien melihat bahwa mata pasien merah dan terdapat warna putih-putih pada mata pasien.

13 hari SMRS ( 9 April 2013 ) mata pasien semakin merah, tetap ada putih-putih di mata kiri pasien, mata masih nyeri, perih, berair, terasa mengganjal, penglihatan menjadi kabur dan silau. Pasien berobat ke RS Pacitan, disana pasien diberitahukan bahwa terdapat luka koreng pada mata kiri dan diberi obat tobro, tropin, cataflam, dan berry vision. 7 hari SMRS ( 15 April 2013) pasien berobat ke RS Mata Dr. YAP karena merasa tidak ada perubahan malah semakin merah, nyeri, putih-putih di mata kiri dirasakan semakin meluas, terasa mengganjal, penglihatan semakin kabur. Pasien mendapat obat berupa tetes mata yang dipakai per 2 jam dan vitamin A. 22 April 2013, pasien datang unruk control, keluhan yang dirasakan masih sama seperti sebelumnya dan dikatakan bahwa pasien membutuhkan perawatan di rumah sakit. Pasien mengatakan sempat mencuci mata menggunakan air rebusan daun sirih selama 1 minggu. Pasien mengaku tidak ada keluhan pada mata kanan, hanya pandangan agak kabur bila melihat benda yang jaraknya jauh. Pasien mengaku belum pernah memakai kaca mata sebelumnya. Pasien menyangkal adanya riwayat hipertensi, DM ,alergi, trauma. Riwayat hipertensi pada keluarga diakui oleh pasien. Riwayat Penyakit Dahulu: Umum : Hipertensi Diabetes Mellitus Asma Dispepsia Alergi Obat Mata : Riwayat penggunaan kacamata (-) Riwayat operasi mata disangkal Riwayat trauma mata: (-) Riwayat Penyakit Keluarga: Hipertensi : Tidak ada : Tidak ada : Tidak Ada : Ada : Tidak Ada

III.

PEMERIKSAAN FISIK : tampak sakit sedang : compos mentis : Tekanan Darah: 150/100 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit : normocephali : dalam batas normal : dalam batas normal : suara nafas vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-/-) : BJ I dan BJ II reguler, murmur (-), gallop (-) : cembung, supel, bising usus (+) normal, nyeri tekan (-) : Atas : edema -/-, akral hangat Bawah : edema -/-,akral hangat

STATUS GENERALIS Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital Nadi Respirasi Kepala Mulut THT Thoraks Paru-paru Jantung Abdomen Ekstremitas KGB

: Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening

VI. STATUS OFTALMOLOGIKUS KETERANGAN 1. VISUS Visus Koreksi Addisi Distansia Pupil Kacamata Lama 6/12 Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak ada 1/~ Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak ada OD OS

2. KEDUDUKAN BOLA MATA Eksoftalmos Enoftalmos Deviasi Gerakan Bola Mata Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke segala arah Tidak ada Tidak ada Tidak ada Baik ke segala arah

3. SUPERSILIA Warna Simetris Hitam Simetris Hitam Simetris

4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR Edema Nyeri tekan Ektropion Entropion Blefarospasme Trikiasis Sikatriks Fissura palpebra Ptosis Hordeolum Kalazion Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada

5. KONJUNGTIVA TARSALIS SUPERIOR DAN INFERIOR Hiperemis Folikel Papil Sikatriks Anemis Kemosis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hiperemis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

6. KONJUNGTIVA BULBI Sekret Injeksi Konjungtiva Injeksi Siliar Injeksi Subkonjungtiva Pterigium Pinguekula Nevus Pigmentosus Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Kista Dermoid 7. SISTEM LAKRIMALIS Punctum Lakrimalis Tes Anel 8. SKLERA Warna Ikterik Nyeri Tekan 9. KORNEA Kejernihan Permukaan Ukuran Sensibilitas Infiltrat Keratik Presipitat Sikatriks Ulkus Perforasi Arkus Senilis Edema Tes Placido

Tidak ada

Tidak ada

Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Putih Tidak Ada Tidak dilakukan

Merah Tidak ada Tidak dilakukan

Jernih Licin 11 mm Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak dilakukan

Keruh Tidak rata 11 mm Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada , diameter 8-9 mm, batas tidak tegas Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak dilakukan

10. BILIK MATA DEPAN Kedalaman Kejernihan Hifema Hipopion Efek Tyndall 11. IRIS Warna Kripte Coklat Dalam batas normal Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Dalam Jernih Tidak ada Tidak ada Tidak dilakukan Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak ada Ada Tidak dilakukan

Sinekia Koloboma 12. PUPIL Letak Bentuk Ukuran Refleks Cahaya Langsung Refleks Cahaya Tak Langsung 13. LENSA Kejernihan Letak Shadow Test 14. BADAN KACA Kejernihan

Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada

Sentral Bulat 3 mm Positif Positif

Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai

Jernih Sentral Negatif

Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Negatif

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

15. FUNDUS OKULI Batas Warna Ekskavasio Rasio Arteri :Vena C/D Ratio Makula Lutea Retina Eksudat Perdarahan Sikatriks Ablasio 16. PALPASI Nyeri Tekan Massa Tumor Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tensi Okuli Tonometri Schiotz 17. KAMPUS VISI Tes Konfrontasi IV.

Normal Tidak dilakukan

Normal Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Sulit dinilai

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan mikrobiologi Pada pewarnaan langsung tidak ditemukan bakteri maupun jamur ( 15 April 2013). Pada kultur, pengamatan hari kedua tampak tumbuh jamur ( 16 April 2013) Pada pemeriksaan laboratorium (darah rutin) Pemeriksaan kimia darah ( 22 April 2013) Gula darah sewaktu : 122 mg/dL HBsAg negatif

V.

RESUME Pasien laki-laki berusia 48 tahun berobat ke RS Mata Dr. YAP dengan keluhan mata kiri merah sejak 2 minggu SMRS. , terasa nyeri, cekot-cekot , perih, mata berair, terasa mengganjal, terdapat putih-putih pada mata, penglihatan kabur, disertai silau. Tanggal 9 April 2013( 13 hari SMRS) pasien sempat berobat ke RS Pacitan dengan keluhan mata kiri merah, terasa nyeri, dan istri pasien melihat putih-putih pada mata kiri pasien. Di RS tersebut pasien diberi obat tobro, tropin, cataflam, dan berry vision. Karena pasien merasa tidak ada perbaikan tgl 15 April 2013 pasien berobat ke RS Mata Dr. YAP diberi tetes mata yang dipakai per 2 jam dan vitamin A. Selain itu pasien juga mencuci mata menggunakan air rebusan daun sirih selama 1 minggu. Pasien mengatakan pada mata kanan, pandangan agak kabur bila melihat benda yang jaraknya jauh. Riwayat hipertensi pada keluarga diakui oleh pasien. Status Generalis Tensi : 150/100 mmHg, Nadi : 80X/menit, RR : 20X/menit

Pemeriksaan ophthalmologis OD Visus Konjungtriva tarsalis superior dan inferior hiperemis Sekret Injeksi Konjungtiva Injeksi Siliar Warna sklera Kejernihan kornea Permukaan kornea Ulkus Kedalaman bilik mata depan Kejernihan Hipopion Warna iris Letak pupil Bentuk pupil Ukuran pupil Refleks Cahaya Langsung Refleks Cahaya Tak Langsung Kejernihan lensa Letak Pemeriksaan Penunjang VI. Pada kultur, pengamatan hari kedua tampak tumbuh jamur ( 16 April 2013) DIAGNOSIS KERJA Ulkus kornea sentral jamur VII. DIAGNOSIS BANDING Dalam Jernih Tidak ada Coklat Sentral Bulat 3 mm Positif Positif Jernih Sentral Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Ada Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Putih Jernih Licin Tidak ada Hiperemis Ada Ada Ada Merah Keruh Tidak rata Ada , diameter 8-9 mm, batas tidak tegas 6/12 OS 1/~

Ulkus kornea sentral bakterialis VIII. PENATALAKSANAAN Perawatan di RS Medika mentosa : Inj subconjungtiva amikasin + ceftriaxon Inj subconjungtiva amikasin + diflucan Natamisin Analgetik : asam mefenamat Siklopegia : SA 0,5 1 %

Edukasi tentang penyakit ulkus kornea jamur yang memerlukan pengobatan yang relatif lebih lama dan kemungkinan terjadi jaringan parut yang akan mengganggu penglihatan terutama pada kasus ini telah mengenai sebagian besar kornea terutama sentral.

Keratoplasti bila dengan pengobatan tetp tidak sembuh atau terjadinya jaringan parut yang mengganggu penglihatan.

IX.

PROGNOSIS Ad Vitam Ad Functionam Ad Sanationam : Ad Bonam : Dubia : Dubia

TINJAUAN PUSTAKA ULKUS KORNEA Anatomi Kornea Mata merupakan organ perifer sistem penglihatan yang berfungsi sebagai organ visual dengan berat 7,5 gram dan panjang 24 mm. bola mata terdiri daripada 2 segmen, yaitu segmen anterior dan segmen posterior. Segmen anterior dibatasi oleh kornea di bagian depan, lensa dan penggantung lensa di belakang. Segmen posterior terletak di belakang lensa.1 Kornea merupakan dinding depan bola mata, berupa jaringan transparan dan avaskular. Sepertiga radius tengah merupakan zona optik dan bersifat lebih cembung daripada tepiannya. Tebal kornea di bagian pusat 0,6 mm dan tebal bagian tepi 1 mm. kornea melanjutkan diri sebagai sclera ke arah belakang.1 Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar +43 dioptri.1 Diameter kornea normal adalah 11,5 mm (10-13 mm). Kornea mempunyai mekanisme tersendiri untuk melindungi daripada terdedah kepada mikroba dan polusi. Mekanisme tersebut termasuk:2 Reflek menutup mata Air mata (mengandung lisozim) Epitel yang bersifat hidrofobik yang membentuk sawar difus Epitel dapat mengalami regenerasi cepat dan sepenuhnya.

Tabel 1: Lapisan kornea.1,2 LAPISAN Epitel (Lapisan terluar) DESKRIPSI - Terdiri daripada 6 lapis - Sangat halus, tidak mengandung lapisan tanduk, sangat peka trauma, cepat regenerasi sekiranya cedera.

Membran Bowman (Lamina elastika anterior) Stroma Membran Descemet (lamina posterior) Endotel elastika

- Selaput tipis terbentuk dari jaringan ikat fibrosa. - Lapisan ini sangat resisten tetapi tidak bisa mengalami regenerasi, sehingga kerusakan pada lapisan ini menyebabkan sikatrik. - Lapisan paling tebal - Terdiri dari serabut kolagen dengan susunan teratur dan padat - Membrane aselular yang bersifat sangat elastis dan berkembang seumur hidup.

- Satu lapis endotel yang sel-selnya tidak bisa membelah. Endotel yang rusak digantikan oleh sel endotel bersebelahan yang mengalami hipertrofi. - Fungsi: mengatur kadar air kornea.

Definisi Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea.

Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Dikenal dua bentuk ulkus pada kornea yaitu ulkus kornea sentral dan ulkus kornea marginal atau perifer.1,5 Epidemiologi Insidensi ulkus kornea tahun 1993 adalah 5,3 per 100.000 penduduk di Indonesia, sedangkan predisposisi terjadinya ulkus kornea antara lain terjadi karena trauma, pemakaian lensa kontak, dan kadang-kadang tidak di ketahui penyebabnya. Walaupun infeksi jamur pada kornea sudah dilaporkan pada tahun 1879 tetapi baru mulai periode 1950 keratomikosis diperhatikan. Banyak laporan menyebutkan peningkatan angka kejadian ini sejalan dengan peningkatan penggunaan kortikosteroid topikal, penggunaan obat imunosupresif dan lensa kontak. Singapura melaporkan selama 2.5 tahun dari 112 kasus ulkus kornea 22 beretiologi jamur. Mortalitas atau morbiditas tergantung dari komplikasi dari ulkus kornea seperti parut kornea, kelainan refraksi, neovaskularisasi dan kebutaan. Berdasarkan kepustakaan di USA, laki-laki lebih banyak menderita ulkus kornea, yaitu sebanyak 71%, begitu juga dengan penelitian yang dilakukan di India Utara ditemukan 61% laki-laki. Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki sehari-hari sehingga meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea.6 Patofisiologi Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil. Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak licin, kemudian

dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea. Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut. Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil dan superficial maka akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya sikatrik.6,7 Etiologi 1. Infeksi Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies Moraxella merupakan penyebab paling sering. Hampir semua ulkus berbentuk sentral. Gejala klinis yang khas tidak dijumpai, hanya sekret yang keluar bersifat mukopurulen yang bersifat khas menunjukkan infeksi P aeruginosa. Infeksi Jamur : disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus, Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides. Infeksi virus Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia (jarang). 2. Noninfeksi a. Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH. Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik, organik dan organik anhidrat. Bila bahan asam mengenai mata maka akan terjadi pengendapan protein

permukaan sehingga bila konsentrasinya tidak tinggi maka tidak bersifat destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat superfisial saja. Pada bahan alkali antara lain amonia, cairan pembersih yang mengandung kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan terjadi penghancuran kolagen kornea. kornea. Sindrom Sjorgen Pada sindrom Sjorgen salah satunya ditandai keratokonjungtivitis sicca yang merupakan suatu keadan mata kering yang dapat disebabkan defisiensi unsur film air mata (akeus, musin atau lipid), kelainan permukan palpebra atau kelainan epitel yang menyebabkan timbulnya bintik-bintik kering pada kornea. Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul ulkus pada kornea dan defek pada epitel kornea terpulas dengan flurosein. Defisiensi vitamin A Ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A terjadi karena kekurangan vitamin A dari makanan atau gangguan absorbsi di saluran cerna dan ganggun pemanfaatan oleh tubuh. Faktor resiko terbentuknya ulkus Cedera mata, Ada benda asing, Iritasi akibat lensa kontak 5,6 a. Klasifikasi Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu: 1. Ulkus kornea sentral a. b. c. Ulkus kornea bakterialis Ulkus kornea fungi Ulkus kornea virus Radiasi atau suhu Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari yang akan merusak epitel

2. Ulkus kornea marginal Ulkus mooren ULKUS KORNEA SENTRAL a. Ulkus Kornea Bakterialis Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan perforasi kornea, karena

eksotoksin yang dihasilkan oleh streptokok pneumonia. Ulkus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putih kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi radangnya minimal. Ulkus Pseudomonas : Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea. ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat terlihat hipopion yang banyak.

Gambar 7: Ulkus Kornea Bakterialis

Gambar 8: Ulkus KorneaPseudomonas

Ulkus Pneumokokus : Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam. Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi sel yang penuh dan berwarna kekuningkuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang terlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis. b.. Ulkus Kornea Fungi Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini. Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat satelit-satelit disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai hipopion.

Gambar 9. Ulkus Kornea Fungi c. Ulkus Kornea Virus Ulkus Kornea Herpes Zoster : Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster berwarna abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan rasa sakit keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder. Ulkus Kornea Herpes simplex : Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan benjolan diujungnya

Gambar 10: Ulkus Kornea Dendritik VII.Ulkus Kornea Marginal

Gambar 11: Ulkus Kornea Herpetik

Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada infeksi stafilococcus, toksit atau alergi dan gangguan sistemik pada influenza disentri basilar gonokok arteritis nodosa, dan lain-lain. Yang berbentuk cincin atau multiple dan biasanya lateral. Ditemukan pada penderita leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.

Gambar 12. Ulkus Marginal Ulkus Mooren

Merupakan ulkus yang berjalan progresif dari perifer kornea kearah sentral. ulkus mooren terutama terdapat pada usia lanjut. Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan salah satu adalah teori hipersensitivitas tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Biasanya menyerang satu mata. Perasaan sakit sekali. Sering menyerang seluruh permukaan kornea dan kadang meninggalkan satu pulau yang sehat pada bagian yang sentral.1,5,6

Gambar 13. Mooren's Ulcer b. Manifestasi Klinis Gejala subjektif pada semua penderita ulkus adalah visus menurun,fotofobia,nyeri,mata merah,mata berair,sekret.Pada gejala objektif,pada kelopak dan konjungtiva tampak hiperemis,edema,blepharospasme dan sekret. Pada epitel tampak ulkus,pada stroma terdapat infiltrat warna putih keabuan . pada bilik mata depan tampak reaksi radang mulai dari tingkat ringan sampai terbentuknya hipopion.Ringan serta beratnya gejala bergantung pada virulensi kuman penyebabnya,kondisi penderita serta lamanya gejala sebelum penderita datang untuk berobat. c. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan klinis dengan menggunakan slit lamp dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis pasien penting pada penyakit kornea, sering dapat diungkapkan adanya riwayat trauma, benda asing, abrasi, adanya riwayat penyakit kornea yang bermanfaat, misalnya keratitis akibat infeksi virus herpes simplek yang sering kambuh. Hendaknya pula ditanyakan riwayat pemakaian obat topikal oleh pasien seperti kortikosteroid yang merupakan predisposisi bagi penyakit bakteri, fungi, virus terutama keratitis herpes simplek. Juga mungkin terjadi imunosupresi akibat penyakit sistemik seperti diabetes, AIDS, keganasan, selain oleh terapi imunosupresi khusus. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala obyektif berupa adanya injeksi siliar, kornea edema, terdapat infiltrat, hilangnya jaringan kornea. Pada kasus berat dapat terjadi iritis yang disertai dengan hipopion. Disamping itu perlu juga dilakukan pemeriksaan diagnostik seperti :

Ketajaman penglihatan Tes refraksi Tes air mata Pemeriksaan slit-lamp Keratometri (pengukuran kornea) Respon reflek pupil Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi. Gambar 14. Kornea ulcer dengan fluoresensi Goresan ulkus untuk analisa atau kultur (pulasan gram, giemsa atau KOH) Pada jamur dilakukan pemeriksaan kerokan kornea dengan spatula kimura dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop dilakukan pewarnaan KOH, gram atau Giemsa. Lebih baik lagi dengan biopsi jaringan kornea dan diwarnai dengan periodic acid Schiff. Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar sabouraud atau agar ekstrak maltosa.1,5,6 d. Penatalaksanaan Ulkus kornea adalah keadan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea. Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat reaksi obat dan perlunya obat sistemik. a. Penatalaksanaan ulkus kornea di rumah 1. Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya 2. Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang 3. Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin dan mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih 4. Berikan analgetik jika nyeri b. Penatalaksanaan medis 1. Pengobatan konstitusi Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan umum yang kurang dari normal,

maka keadaan umumnya harus diperbaiki dengan makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian roboransia yang mengandung vitamin A, vitamin B kompleks dan vitamin C. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman yang virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya cukup baik. Dengan penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan sampai melebihi 39,5C. Akibat kenaikan suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi lekas sembuh. 2. Pengobatan lokal Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi kornea sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain harus segera dihilangkan. Infeksi pada mata harus diberikan : Sulfas atropine sebagai salap atau larutan, Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja sulfas atropine : Sedatif, menghilangkan rasa sakit. Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang. Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru Skopolamin sebagai midriatika. Analgetik. Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain, atau tetrakain tetapi jangan sering-sering. Antibiotik Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas diberikan sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat memperlambat penyembuhan dan

juga dapat menimbulkan erosi kornea kembali. Anti jamur Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi : 1. Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole 2. 3. 4. Anti Viral Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi sekunder analgetik bila terdapat indikasi. Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer. Perban tidak seharusnya dilakukan pada lesi infeksi supuratif karena dapat menghalangi pengaliran sekret infeksi tersebut dan memberikan media yang baik terhadap perkembangbiakan kuman penyebabnya. Perban memang diperlukan pada ulkus yang bersih tanpa sekret guna mengurangi rangsangan. Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan : 1. Kauterisasi a) b) Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan murni trikloralasetat Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau termophore. Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang mengandung panas disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna keputih-putihan. 2. Pengerokan epitel yang sakit Parasentesa dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obat tidak menunjukkan perbaikan Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal, Natamicin, Imidazol Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai jenis anti biotik

dengan maksud mengganti cairan coa yang lama dengan yang baru yang banyak mengandung antibodi dengan harapan luka cepat sembuh. Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva, dengan melepaskan konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian ditarik menutupi ulkus dengan tujuan memberi perlindungan dan nutrisi pada ulkus untuk mempercepat penyembuhan. Kalau sudah sembuh flap konjungtiva ini dapat dilepaskan kembali. Bila seseorang dengan ulkus kornea mengalami perforasi spontan berikan sulfas atropine, antibiotik dan balut yang kuat. Segera berbaring dan jangan melakukan gerakan-gerakan. Bila perforasinya disertai prolaps iris dan terjadinya baru saja, maka dapat dilakukan : Iridektomi dari iris yang prolaps Iris reposisi Kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva Beri sulfas atripin, antibiotic dan balut yang kuat Bila terjadi perforasi dengan prolaps iris yang telah berlangsung lama, kita obati seperti ulkus biasa tetapi prolas irisnya dibiarkan saja, sampai akhirnya sembuh menjadi leukoma adherens. Antibiotik diberikan juga secara sistemik.

Gambar 7.Ulkus kornea perforasi, jaringan iris keluar dan menonjol, infiltrat pada kornea ditepi perforasi.

3. Keratoplasti Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan diatas tidak berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu : 1. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita 2. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita. 3. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia. e. Pencegahan Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi kepada ahli mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak kecil pada kornea dapat mengawali

timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata. Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat lensa tersebut. f. Komplikasi Komplikasi yang paling sering timbul berupa: Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis Prolaps iris Sikatrik kornea Katarak Glaukoma sekunder 7 g. Prognosis Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika maka dapat menimbulkan resistensi.8