Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM HISTOLOGI DAN EMBRIOLOGI HEWAN PREPARAT SAYATAN ORGAN HEWAN

Disusun Oleh :

Yulia F05109031

Prodi Pendidikan Biologi Jurusan P. MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendiidkan Universitas Tanjungpura Pontianak 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Untuk mengetahui pembuatan preparat dengan metode paraffin hewan. 2. Untuk mengetahui struktur jaringan hewan.

B. Dasar Teori
Menurut Kurniawan, 2010, Mikroteknik adalah ilmu yang

mempelajari tentang pembuatan preparat. Menurut Gunarso (1989;1), Mikroteknik atau teknik histologi merupakan ilmu atau seni mempersiapkan organ, jaringan atau bagian jaringan untuk dapat diamati dan ditelaah. Penelaahan umumnya dilakukan dengan bantuan mikroskop, karena struktur jaringan secara terperinci pada galibnya terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Ruang lingkup yang mencakup materi mikroteknik dapat diperoleh dari sejumlah definisi dan peristilahan yang bisa dipakai, hanya saja sebaiknya kita mencamkan dalam pikiran kita bahwa suatu spesimen mikroteknik dapat merupakan sebagian atau seluruhan dari struktur yang ditetapkan. Selain dilekapkan dengan kaca preparat, spesimen tadi umumnya dilindungi dengan kaca penutup, yaitu sepotong kaca yang sangat tipis ataupun plastik yang tembus pandang yang direkatkan diatas spesimen tersebut (Gunarso, 1989; 1). Organ adalah susunan dari bagian organisme, yang tujuannya melakukan fungsi tertentu ataupun kesatuan yang erat kaitannya. Dengan demikian pembuluh darah adalah organ yang fungsinya membawa atau mengalirkan darah. Hati adalah organ yang mempunyai banyak fungsi, akan tetapi sebagai kesatuan fungsi maka hati ini erat kaitannya dengan pencernaan dan asimilasi makanan (Gunarso, 1989; 2). Jaringan adalah kumpulan sel yang mempunyai fungsi tertentu yang khas bagi perkembangannya. Sebagai conth jaringan epitelia dapat terdiri dari satu atau beberap lapisan sel yang telah berkembang dan membantuk lapisan penutup, jenis jaringan

lainnya, jaringan otot terdiri dari sel-sel yang reka membentuk otot (Gunarso, 1989; 2). Sel adalah bagian yang merupakan penyusun dasar suatu jaringan, dan pada kenyataannnya merupakan bagian dari semua makhluk hidup. Suatu sel dapat merupakan organisme yang lengkap, ataupun sejumlah sel dapat bergabung membentuk suatu jaringan, kombinasi penyusunnya membentuk orga-organ. Bentubentuk kehidupan berderajat tinggi sekalipun dimulai dari satu sel. Bila suatu organisme hanya teridiri dari satu sel, maka dinamakan Organisme Uniseluler. Sedangkan yang terbentuk oleh kumpulan sel-sel yang berbeda fungsinya dinamakan Organisme Multiseluler (Gunarso, 1989; 2). Setiap organisme hidup ataupun hasil pertumbuhannya merupakan suatu sumber yang penting sebagai bahan mikoteknik. Bakteri serta berbagai jenis organisme uniseluler lainnya dapat termasuk di dalamnya, karena mereka sangat sering dijumpai erat hubungannya baik dengan jenis jaringan yang masih hidup maupun yang telah mati. Untuk klasifikasi praktis, bahan yang berasal dari hewan atau tumbuhtumbuhan dapat dibedakan sebagai bahan yang lunak dan keras, normal atau yang bersifat patologis. Suau spesimen mungkin saja berisi campuran jaringan lunak dan keras, sedang bagian darinpadanya dapat normal dan bagian lain justru patologis sifatnya seperti halnya tumor pada tulang. Pada umumnya suatu jaringan lunak dapat diproses untuk pembuatan sayatan tanpa perlakuan khusus guna mengeluarkan atau melunakkan bagian-bagian yang keras. Dari sekian banyak jaringan hewan, maka kelanjar, tulang rawan yang tidak berkalsium, kulit, otot, saraf dan saluran darah adalah contoh-contoh jaringan lunak. Sedangkan tulang gigi, tulang rawan berkalsium, kitin dan berbagai struktur pada kulit seperti sisik, tangkai bulu dan lempengan kapur termasuk jaringan keras (Gunarso, 1989; 3). Spesimen berasal dari hewan maupun tumbuhan besar biasanya dipotong dalam ukuran yag sesuai untuk dipakai pada penyayatan selanjutnya. Untuk keperluan tertentu seringkali diperlukan spesimen berukuran dalam centimeter, namun spesimen dalam ukuran kecil akan memberikan hasil yang lebih baik. Pada waktu membedah dan memisahkan spesimen dari jaringan. Organ dan organisme,hendaknya dilakukan dengan hati-hati untuk menghindarkan terjadinya luka,kerusakan maupun sobekan.pemotongan sebaiknya menggunakan pisau silet bermata satu.jika skalpel yang dipakai,gunakanlah skalpel yang tajam.bila

menggunakan gunting untuk memotong, maka tempat pemotongan biasanya terjadi kerusakan yang memerlukan trimming (perautan) sedikit demi sedikit dengan silet Gunarso, 1989; 4). Jaringan hewan dapat diambil dari mahluk tersebut selagi masih dalam keadaan hidup,setelah mengalami pembiusan maupun yang baru saja mati dan segera mungkin dimasukkan larutan fiksatif. Organ-organ yang halus sifatnya seperti hatu,jantung,buah pinggang maupun testis tikus atau kelinci dapat secara utuh langsung dimasukkan kedalam larutan fiksatif sebelum dipotong atau disayat dalam ukuran yang sesuai. Untuk usus,bila dikehendaki pemotongan dengan ukuran lebih dari satu sentimeter panjangnya,maka sebaiknya dilakukan penginjeksian larutan fiksatif ke dalam lumen usus tersebut agar lapisan mukosa di dalamnya dapat terfiksasi dengan baik. Jenis otot maupun saraf sebaiknya direntang pada waktu fiksasi.Untuk itu,dapat dipakai misalnya batang gelas berbentuk U. Tulang vertebrata yang berukuran kecil dapat difiksasi secara utuh,sedang untuk yang berukuran besar, agar dapat mengawetkan sumsum di dalamnya dengan baik, sebaiknya dilakukan pemotongan baik melintang maupun membujur berukuran 5-10 mm terlebih dahulu.cairan fiksatif mengandung formalin atau yang mengandung 10-15% larutann formalin sudah cukup sesuai untuk memfiksasikan tulang maupun jenis jaringan yang memerlukan proses dekalsifikasi.formalin mempunyai daya penetrasi yang baik dan melindungi bagian-bagian yang lembut terhadap daya kerja cairan pendekalsifikasi yang digunakan (Gunarso, 1989; 4). Penyakit akan menyebabkan terjadinya kelainan pada jaringan.kelainan yang terjado tersebut merupakan hal yang penting pada penelaahan patologis. Baik spesimen hewan maupun tumbuhan umumnya memerlukan penelaahan secara mikroskopis untuk dapat mengidentifikasikan jenis penyakit yang menyebabkan kelainan patologis tadi. tumor dan infeksi merupakan penyebab utama terjadinya kelainan pada jaringan. Tumor pada manusia,hewan maupun tumbuhan umumnya tidak menular pada manusia. Sehingga tidak berbahaya dalam menanganinya. Bagian utama atau tertua sesuatu tumor biasanya merupakan jaringan yang sudah mati atau dalam proses kematian,sehingga bagian tersebut bukan merupakan bagian yang baik untuk menelaah perbedaan pertumbuhan normal dan tidak normal. Dari embrio hewan dimungkinkan untuk mandapat hasil mikroteknik yang baik. Melalui sayatan melintang embrio tersebut dapat dilakukan penelaahan berbagai jenis jaringan (otot,saraf,epitelia,penghubung) sebagaimana cara yang terdapat pada

hewan dewasa. Embrio berukuran kecil dapat difiksasi secara utuh. Embrio mamalia umumnya dikeluarkan dari rahim dan selaput pembungkusnya untuk kemudahan dimasukkan ke dalam cairan fiksatif. Embrio jenis hewan piaraan (babi,kambing dan lain-lain) pada tahap akhir (tahap fetal),akan selalu besar untuk difiksasi secara utuh sehingga memerlukan pemilihan dan penyayatan bagian jaringan yang dikehendaki. embrio tikus dan mencit memungkinkan untuk difiksasi secara utuh baik pada tahap fetal maupun yang baru lahir (Gunarso, 1989; 5-6). Metode parafin termasuk metode irisan yang merupakan metode rutin atau standar. Pengamatan secara mikroskopis dari suatu jaringan normal sifatnya maupun yang mengidap suatu penyakit (patologis) akan lebih baik hasilnya dilakukan dari preparat jaringan yang telah dipersiapkan dengan baik, telah dillakukan penyayatan cukup tipis serta diberi pewarnaan yang sesuai, sehingga berbagai elemen yang diteliti lebih mudah untuk diamati (Gunarso, 1989; 17). Metode parafin merupakan cara pembuatan preparat permanen yang menggunakan parafin sebagai media embedding dengan tebal irisan kurang lebih mencapai 6 mikron-8 mikron. Metode ini memiliki irisan yang lebih tipis daripada menggunakan metode beku atau metode seloidin yang tebal irisannya kurang lebih mencapai 10 mikron. Langkah-langkah penting dalam metode ini antara lain fiksasi, pencucian, dehidrasi, penjernihan, embedding, penyayatan (section), penempelan, pewarnaan, dan penutupan (Wararindi, 2011).

Fiksasi Fiksasi adalah suatu usaha manusia untuk mempertahankan elemen - elemen sel atau jaringan agar tetap pada tempatnya dan tidak mengalami perubahan bentuk maupun ukuran. Dinamakan larutan fiksatif karena kemampuan membuat jaringan mudah menyerap warna. Mulanya dengan menyiapkan ikan, lalu mengambil potongan kecil sebanyak dua potong pada masing-masing organ insang, dan ginjal dan hati. Organ tersebut dimasukkan ke dalam botol yang berisi larutan Bouins dan diamkan selama 24jam.

Washing Washing adalah proses pencucian untuk menghilangkan larutan fiksasi dari jaringan. Dalam proses washing diusahakan tidak terdapat molekul-molekul fiksatif yang tertinggal di dalam jaringan. Molekul ini akan menjadi penghalang untuk proses

selanjutnya. Fiksatif menggunakan BOINS, maka setelah kurang lebih 24 jam difiksasi kemudian dilakukan pencucian menggunakan alkohol 70% yang diganti berkali-kali hingga warna kuning hilang.

Dehidrasi Dehidrasi adalah proses penarikan molekul air dari dalam jaringan. Tujuan dari dehidrasi adalah agar seluruh ruang-ruang antar sel dalam jaringan dapat diisi dengan molekul parafin. Dehidrasi menggunakan alkohol bertingkat dari persentase rendah ke persentasi tinggi (70%, 80%, 96%) masing-masing 2 x 15 menit. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi perubahan tiba-tiba pada terhadap sel dan jaringan.

Clearing Clearing adalah proses penjernihan atau mentransparankan jaringan. Clearing berfungsi untuk menarik alkohol atau dehidran yang lain dari dalam jaringan agar dapat digantikan oleh molekul parafin. Clearing menggunakan xylene dengan membenamkan jaringan pada larutan tersebut selama 2 x 15 menit.

Impregnasi Impregnasi bisa juga disebut infiltrasi parafin yaitu proses pengeluaran xilen dari dalam jaringan yang akan digantikan oleh parafin cair. Setelah jaringan di Clearing maka sampel dimasukkan kedalam cessed and deckel kemudian di masukkan kadalam moldtray yang berfungsi sebagai tempat infiltrasi parafin, yang terdiri dari tiga wadah yaitu: pertama berisi parafin cair dan xylene, wadah ke dua berisi parafin cair tanpa xilene, dan wadah ke tiga berisi parafin cair murni. Masing-masing 1 x 15 menit.

Embeding Proses penanaman jaringan ke dalam media parafin. Tujuannya adalah untuk mempermudah dalam melakukan proses pemotongan atau pengirisan sampel. Dilakukan dengan mengeluarkan jaringan yang sudah di Impregnasi dari moldtray, kemudian menanamnya ke dalam lempengan blok yang berisi parafin cair. Setelah itu tutup dengan menggunakan casette and deckel lalu didinginkan pada cold plate.

Cutting Proses pemotongan atau pengirisan jaringan dengan menggunakan mikrotom. Sampel yang dipotong tebalnya sekitar 5 7 mikron. Pemotongan akan berhasil jika pisau tidak tumpul, tidak berkarat, dan tidak terdapat sisa-sisa parafin dari hasil pemotongan sebelumnya dan posisi sampel lurus dan baik. Suhu pisau dan suhu sampel serta ruangan harus sama agar sampel tidak patah atau terpotong-potong saat pengirisan.

Staining Staining adalah proses pewarnaan, dimana sampel diwarnai dengan menggunakan zat warna. Tujuannya yaitu untuk mewarnai jaringan sehingga mudah diamati di mikroskop. Tahapan staining terdiri dari proses deparafinasi atau penarikan parafin dari dalam jaringan. Proses rehidrasi atau pemasukan molekul air ke dalam jaringan yang dilakukan secara bertahap dengan menggunakan alkohol bertingkat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Proses ini sebagai media penghantar zat warna ke jaringan. Selanjutnya proses infiltrasi zat warna. Menggunakan haematoxilin untuk mewarnai sitoplasma dan eosin untuk mewrnai inti sel. Lalu dehidrasi kembali yang bertujuan untuk mencegah kerusakan pada jaringan karena mengakibatkan terjadinya pembusukan. Setelah parafin dikeluarkan dengan menggunakan xilen selama 20 menit preparat dikeringkan dan ditetesi dengan entelan dan ditutup dengan deg glass. Kemudian diamati di bawah mikroskop. (Malik, 2010).

BAB II METODOLOGI

A. Alat dan Bahan


Alat : Alat untuk pemotongan/pengambilan organ (seperangkat alat bedah). Alat untuk infiltrasi paraffin (oven, beaker glass dan pinset). Alat untuk embedding (pinset, kotak kotak kecil 1,5 x 1,5 cm). Alat untuk sectioning (mikrotom dan kuas). Alat untuk affixing (objek glass, pipet tetes dan hot plate). Alat untuk staining/pewarnaan (staining jar, kertas label dan tissue). Alat untuk mounting (cover glass). Alat untuk pengamatan (mikroskop).

Bahan : Organ hewan seperti usus, jantung, paru-paru, ginjal, lambung, ovarium, tertis, hati, dan uterus. Kloroform atau eter. NaCl 0,9% / fisiologis atau larutan ringer. FAA (Formalin Alkohol Acetid Acid) atau formalin 10%. Alkohol 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 96% dan 100%. Meyer albumin (Albumin dan Glyserin). Larutan Xylol. Parafin. Pewarna Eosin. Pewarna Hematoxilin.

- Canada Balsam.

B. Cara Kerja
Metode : Parafin 1. Narkosis : Hawan dibius dengan kloroform atau eter, bedah dan ambil organ yang diperlukan. 2. Washing (Pencucian) : Masing-masing organ tersebut dicuci dengan larutan NaCl 0,9% fisiologis selama 30 menit. 3. Fiksasi : Masing-masing organ dimasukkan ke dalam botol-botol film, kemudian difiksasi dengan larutan FAA atau formalin 10% selama 3 jam. 4. Dehidrasi : Masing-masing organ tersebut dimasukkan ke dalam alcohol bertingkat yakni 30%, 50%, 70%, 80%, 90% dan 96% masing-masing selama 30 menit. 5. Clearing (Penjernihan) : Organ dimasukkan ke dalam xylol selama 45 menit hingga kelihatan transparan. 6. Infiltrasi : Menyusupkan media penanaman ke dalam jaringan. Media penanaman disimpan di dalam oven bersuhu 58C. Langkah pada infiltrasi adalah : a. Xylol : Parafin (3:1) selama 15 menit. b. Xylol : Parafin (1:1) selama 15 menit. c. Xylol : Parafin (1:3) selama 15 menit. 7. Embedding (Penanaman) : Disiapkan kotak-kotak kecil (1,5x1,5cm),

dimasukkan masing-masing organ ke dalam kotak-kotak kecil paraffin yang telah disediakan, kemudian dimasukkan paraffin cair setelah itu disimpan ke dalam kulkas hingga padat dan siap disayat selama 15 menit. 8. Sectioning (Penyayatan) : Blok dipasang pada holder, rapikan sisi atas sejajar dengan sisi bawah. Holder dipasang pada mikrotom. Sayat dengan ketebalan 4-8 m.

9. Affixing (Penempelan) : Bersihkan gelas benda dengan alcohol 70% agar bebas lemak. Teteskan albumin pada gelas benda, gosok rata. Beri aquades secukupnya. Letakkan pita sayatan (coupes) di atas aquades. Pindahkan gelas benda ke atas hot plate dengan suhu 50C, atur posisi pita organ, biarkan sampai aquades kering.

10. Staining : Deparafinasi : Jaringan dimasukkan ke dalam xylol selama 3x2 menit. Rehidrasi : Dengan alcohol dari tinggi ke rendah (96%, 80%, 70%, 50%, dan 30% masing-masing beberapa celupan. Cuci dengan air mengalir, setelah itu celupkan ke dalam aquades salama 5-10 menit. Warnai dengan hematoxilin (15 detik), kemudian cuci dengan air mengalir. Cek di bawah mikroskop. Warnai lagi dengan eosin selama 15 menit, cuci lagi dengan air mengalir. Kemudian cek di bawah mikroskop. Dehidrasi : Dengan alcohol bertingkat 70%, 80%, 90%, dan 96% (3x beberapa menit). Clearing : Dengan xylol selama 3x beberapa menit.

11. Mounting : Tutup dengan Canada Balsam dan gelas penutup, hindari terbentuk gelembung udara. 12. Labelling 13. Pemeriksaan : Di bawah mikroskop.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Hasil Pembuatan Preparat Sayatan Organ Hati Burung Puyuh.


No. 1. Nama Preparat Foto Perbesaran 10x10

Preparat Organ Hati Puyuh 1

Preparat organ hati tersebut memperlihatkan adanya vena sentralis, Keterangan sel-sel hati dan sinusoid. Tetapi, pewarnaan preparat tersebut kurang baik. Jaringan organ hati tersebut ada yang terlipat, sehingga ada bagian yang warnanya lebih gelap. 2.

Preparat Organ Hati Puyuh 2

Preparat organ hati ini hanya terlihat sel-sel hati dan sinusoid. Keterangan Tetapi, pewarnaan sudah cukup baik. Jaringan organ hati tersebut ada yang terlipat, sehingga ada bagian yang warnanya lebih gelap.

B. Pembahasan
Mikroteknik dengan metode paraffin baik digunakan untuk pengamatan mikroskopis pada jaringan normal maupun jaringan yang mengidap penyakit (patologis). Bila penyayatan yang tipis dan pewarnaan yang baik, maka berbagai elemen jaringan yang diteliti lebih mudah diamati. Sehingga, member kemudahan dalam membedakan berbagai perubahan yang terjadi pada sel-sel jaringan yang diteliti. Untuk membuat preparat jaringan organ ini digunakan organ hati burung puyuh. Pembuatan preparat organ hati ini menggunakan metode paraffin. Setiap tahap yang dilakukan harus dengan teliti agar preparat yang dihasilkan baik. Organ yang telah diambil, dibersihkan dengan larutan NaCl Fisiologis karena hamper sama dengan cairan tubuh. Larutan fiksatif yang digunakan adalah FAA. Fiksasi dilakukan kurang lebih 3 hari, sampai organ matang dan siap untuk tahap berikutnya. Dehidrasi yang dilakukan tidak boleh terputus, dehidran tersebut harus dapat mengeluarkan cairan yang pada organ. Kemudian dilakukan clearing agar nantinya jaringan terlihat lebih transparan. Infiltrasi dilakukan untuk menggantikan posisi cairan intrasel organ. Infiltrasi harus dilakukan secara cepat dan di dalam oven yang bersuhu 58 -60C agar paraffin tetap cair dan dapat menyusup ke dalam jaringan. Penyayatan dilakuakn dengan ketebalan 5-10 m agar sayatan yang didapat tipis dan mudah terlihat bagianbagian organ tersebut. Penempelan dilakuakan dengan bantuan albumin dan pemanasan dengan hot plate atau bunsen. Pewarnaan yang dipakai dalam pembuatan preparat ini adalah pewarnaan hematoxillin dan eosin. Bila terjadi kesalahan pada pewarnaan, maka warna pada jaringan akan tidak baik sehingga tidak dapat terlihat bagian-bagian pada jaringan tersebut. Preparat yang sudah jadi harus ditutup dengan baik, tanpa udara dengan menggunakan Canada balsam. Preparat organ hati pertama yang jadi sudah cukup baik. Preparat organ hati tersebut memperlihatkan adanya vena sentralis, sel-sel hati dan sinusoid. Tetapi, pewarnaan preparat tersebut kurang baik. Jaringan organ hati tersebut ada yang terlipat saat proses penempelan, sehingga ada bagian yang warnanya lebih gelap. Preparat organ hati yang kedua juga sudah cukup baik. Preparat organ hati ini hanya terlihat sel-sel hati dan sinusoid. Tetapi, pewarnaan sudah cukup baik. Jaringan organ hati tersebut ada yang terlipat, sehingga ada bagian yang warnanya lebih gelap.

BAB IV KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah : 1. Proses pembuatan preparat dengan metode parafin harus memalui beberapa tahapan dan harus dilakukan dengan baik. Tahapan tersebut adalah narcosis, washing, fiksasi, dehidrasi, clearing, infiltrasi, embedding, sectioning, affixing, staining, mounting, labeling dan pengecekan. 2. Preparat organ hati yang baik akan menunjukkan bagian sel-sel hati, vena sentralis dan sinusoid.

DAFTAR PUSTAKA
Gunarso, Wisnu. 1989. Bahan Pengajaran Mikroteknik. Bogor : DEPDIKBUD Institiut Pertanian Bogor. Kurniawan, Wahyu. 2010. LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK

LABORATORIUMPEMBUATAN SEDIAAN IRISAN JARINGAN HEWAN DENGAN METODE PARAFIN. http://www.scribd.com/doc/32533831/4-Metode-Parafin-

Hewan. diakses; Selasa, 24 April 2012. Malik, Idham. 2010. Prinsip Kerja Pembuatan Preparat Histologi. http://bontocinakaizen.blogspot.com/2010/12/prinsip-kerja-pembuatan-preparat.html. Diakses; Senin, 21 Mei 2012. Wararindi. 2011. Membuat Preparat Organ. Diakses;

http://wararindi.wordpress.com/2011/06/07/membuat-preparat-organ/. Selasa 24 April 2012.