Anda di halaman 1dari 29

II-1

BAB II DASAR TEORI


Berikut, penyusun akan memaparkan dasar teori yang mendukung dan digunakan secara teoritis didalam penyusunan tugas akhir ini. Dasar teori disusun dengan penguasaan bahan dan metode kerja yang digunakan secara luas oleh masyarakat konstruksi. 2.1. Pelaksanaan Proyek Dalam suatu pelaksanaan proyek diperlukan adanya sebuah rencana kegiatan dimana rencana kegiatan tersebut sangat mempengaruhi terhadap hasil pekerjaan yang telah direncanakan. Pihak yang mendapat tugas untuk membuat rencana kegiatan pembangunan tersebut adalah seorang Kepala Proyek. Rencana kegiatan tersebut seperti pelaksanaan pekerjaan pembesian, pengecoran, pemasangan kabel strain dan atau sebagainya yang tentunya diperlukan sebuah pengawasan khusus. Perencanaan pelaksanaan proyek juga meliputi kegiatan penjadwalan, biaya dan pengorganisasian pada suatu proyek [1]. Proyek sendiri merupakan suatu rangkaian kegiatan khusus yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam satu bentuk kesatuan dengan menggunakan sumber-sumber tertentu untuk mencapai hasil yang bersifat khusus pula. Jadi, proyek bukanlah sebuah kegiatan rutinitas yang dilakukan secara terus menerus, melainkan hanya menyangkut jangka waktu tertentu saja pada proses pelaksanaannya [2]. 2.2. Manajemen Proyek Manajemen merupakan suatu ilmu dan seni yang berhubungan dengan kegiatan Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, Pergkoordanisasian serta Pengendalian terhadap orang-orang, alat dan bahan untuk mencapai tujuan tertentu. Dikatakan sebagai ilmu karena membahas atau menyajikan sebab akibat dari suatu cabang pengetahuan secara sistematis dan teratur. Dikatakan sebagai seni karena pada prakteknya banyak berkaitan dan dipengaruhi oleh faktor bakat dari masingmasing orang.

II-2 Manajemen Proyek adalah suatu usaha merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, mngkoordinasi dan mengawasi kegiatan dalam proyek dengan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan jadwal, waktu serta anggaran yang telah ditetapkan. Sehingga, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa : a. Proyek merupakan kegiatan yang sifatnya sementara dengan tujuan tertentu dengan memanfaatkan sumber-sumber daya. b. Manajemen Proyek adalah proses mencapai tujuan proyek dalam suatu wadah tertentu, mengikuti langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan penyelesaian proyek. c. Kendala proyek pada umumnya tertuju pada spesifikasi kerja, jadwal dan dana [1]. Pelaksanaan proyek konstruksi dimulai dari pengumpulan data, sampai dengan pemakaian atau penggunaan bangunan. Dalam suatu proyek konstruksi terdapat pihakpihak yang mengerjakan dan mengelola konstruksi tersebut. Adapun pihak-pihak yang terkait dalam suatu proyek adalah: a. Pemberi Tugas (Owner, Employer, Prinsipal, Bouwheer) Pihak yang memerintahkan dan memberikan pekerjaan konstruksi serta berkewajiban menyediakan dana pada konstruksi tersebut. b. Konsultan Perencana (Arsitek, Designer, Insinyur) Badan hukum atau perorangan yang ditugaskan untuk mengimplementasikan ade atau gagasan pemberi tugas menjadi gambar kerja lengkap dengan syarat-syarat kerjanya yang menjadi dasar dalam pelaksanaan proyek nantinya. c. Konsultan Pengawas (Pengawas, Direksi Supervisor) Badan hukum atau perorangan yang ditugaskan oleh pemberi tugas untuk mengawasi pelaksanaan konstruksi yang sedang dilaksanakan kontraktor ataupun sub kontraktor. d. Kontraktor (Pemborong, Anemeer, Pelaksana) Badan hukum yang ditugaskan untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai dengan keinginan pemberi tugas berdasarkan gambar, syarat-syarat dan kontrak. e. Sub Kontraktor Kelompok atau badan hukum yang melaksanakan sebagian pekerjaan kontraktor atas dasar kemampuan khusus yang dimilikinya. f. Pihak yang Berwenang

II-3 Lembaga pemerintahan yang berwenang memberi izin terhadap perencanaan, pembangunan dan penggunaan bangunan. g. Supplier Badan usaha atau perorangan yang bertugas menyediakan bahan atau alat yang diperlukan untuk pembangunan suatu proyek baik bahan baku, setengah jadi ataupun barang jadi. Dari masing-masing pihak memiliki tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang berbeda. Koordinasi dan kerjasama sangat diperlukan agar diperoleh hasil yang sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Pelaksanaan pekerjaan didasarkan atas persyaratan teknis maupun administratif yang telah disepakati. 2.3. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) disini adalah segala hal yang terhubung dengan peralatan, tempat kerja dan lingkungan serta cara-cara melakukan pekerjaan. Tempat kerja meliputi darat, laut, dalam tanah dan air, serta di udara mengingat sekarang ini teknologi lebih maju. Keselamatan kerja menjadi aspek yang sangat penting, mengingat, mengingat resiko bahaya dalam penerapan suatu pekerjaan. Keselamatan kerja merupakan tugas semua orang yang bekerja dan juga masyarakat pada umumnya. Adapun tujuan dari K3 suatu proyek adalah: a. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dan kesehatan kerjanya dalam melaksanakan pekerjaan. b. Menjamin keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja. c. Sumber produksi dipelihara dan digunakan secara aman dan efisien [3]. Usaha yang dilakukan untuk menunjang keselamatan meliputi usaha preventif dan represif. Usaha preventif yaitu pencegahan sumber-sumber bahaya yang terdapat di lokasi kerja sehingga tidak membahayakan pekerja. Tindakan preventif tersebut adalah: a. Subtitusi, yaitu dengan menggantikan proses yang relatif berbahaya. b. Isolasi, yaitu dengan cara memusnahkan sumber-sumber bahaya. c. Pengendalian secara teknis. d. Pemakaian alat pelindung.

II-4 e. Petunjuk dan peringatan di tempat kerja. Usaha represif adalah usaha dalam mengatasi kejadian-kejadian berbahaya yang disebabkan oleh sumber bahaya terhadap pekerja atau orang lain. Tindakan represif tersebut adalah : a. Penyediaan unit pemadam kebakaran. b. Penyediaan alarm tanda bahaya. c. Penyediaan tangga darurat. d. Penyediaan perlengkapan P3K. 2.4. Pondasi Raft 2.5.1. Pengertian Pondasi Raft (rakit) adalah suatu telapak gabungan yang mencakup seluruh luasan yang ada dibawah bangunan dan mendukung seluruh dinding dan kolom. Pondasi raft dirancang dalam bentuk pelat beton bertulang yang rata. Beban kebawah pada pondasi raft ialah berasal dari dari masing masing kolom dan dinding. Apabila garis kerja resultan beban-beban berimpit dengan titik berat pondasi raft, beban keatasnya dianggap sebagai tekanan merata yang sama dengan jumlah beban ke bawah dibagi dengan luas pondasi. Pondasi raft juga digunakan untuk mengurangi penurunan struktur diatas lapisan tanah yang memepunyai kemampatan tinggi. Dalam kondisi yang demikian, maka kedalaman rakit kadang- kadang ditentukan sedemikian sehingga jumlah berat struktur ditambah berat sendiri rakit menjadi disamakan dengan berat yang digali. (Teknik Pondasi edisi kedua: Ralph B peck, Walter E. Hanson, Thomas H. Thornburn: Gadjah Mada University Press 1996). 2.5.2. Macam Pelaksanaan Pondasi Raft a. Metode Cor Papan Catur Pengecoran pondasi Raft menggunakan metode papan catur yaitu dicor satu demi satu kotak dengan volume yang dapat diselesaikan dalam sekali cor saja. Untuk tiap papan catur yang dicor terlebih dahulu, pengecoran

II-5 dibatasi oleh anyaman baja yang halus dan sementara ditahan oleh batangbatang kayu /besi (kotak hitam dalam sistem papan catur). Setelah kotakkotak yang dicor tahap pertama selesai, maka dilanjutkan dengan pengecoran pada kotak-kotak tahap kedua (kotak putih dalam sistem papan catur) yang berbatasan dengan beton kotak pertama, sehingga pengecoran kotak-kotak tahap kedua ini tanpa formwork. b. Metode Cor sekaligus Pengecoran dengan metode cor sekaligus yaitu pengecoran dilakukan sekaligus tanpa adanya sekat pembatas dan tanpa pengecoran perlapis. Metode ini membutuhkan ketelitian dalam pelaksanaannya. Karena tebal dan luasnya pengecoran maka bisa disebut juga mass concrete. Kerumitan dari pelaksanaan metode ini ialah pelepasan panas hidarasi dari beton tersebut akibat tebal dan luasnya pondasi, oleh karena itu pelepasan panas hidrasi harus dikendalikan agar tidak menimbulkan keretakan. Untuk pelakanaan metode ini akan kami bahas pada bab selanjutnya. 2.5. Pekerjaan Pengukuran (Marking) Dalam usaha untuk dapat menghasilkan ketepatan kerja, maka surveying merupakan hal yang utama dalam merintis jalan untuk dimulainya pekerjaan proyek. Penempatan Bench Mark (BM) 0 m harus bebas dari pada kemungkinan terganggunya BM tersebut. Pekerjaan pengukuran dapat menggunakan alat ukur teodolit dan untuk menentukan elevasi dapat menggunakan alat sifat datar (waterpass). Teodolit berguna untuk mengukur sudut pada pekerjaan survey, sehingga dapat ditentukan titik-titik as bangunan, titik-titik pengeboran, titik-titik pemancangan. Selain itu dengan teodolit dapat diketahui tegak lurusnya suatu bangunan. Sedangkan waterpass digunakan untuk menentukan elevasi lantai atau balok pada bangunan. Waterpass merupakan alat sifat datar dari balok, kolom/dinding, dan plat lantai. Pengukuran dalam pelaksanaan pekerjaan bekisting terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :

II-6 a. Menggunakan papan duga tertutup, yaitu metode yang dipakai jika jumlah as bangunan yang diukur banyak. b. Menggunakan papan duga terbuka, yaitu metode yang dipakai jika jumlah as bangunan yang diukur sedikit. Langkah kerja untuk membuat papan duga adalah sebagai berikut : a. Menentukan batas-batas daerah yang hendak didirikan bangunan, ditambah 1,5 meter agar konsruksi tersebut tidak terganggu atau mengganggu pekerjaan lain. b. Memberi tanda dengan mematok kaso 5/7 di batas-batas daerah interval 1 meter. c. Memasang papan horisontal dengan ketinggian 75 cm dari permukaan tanah. d. Menentukan letak as bangunan pada satu sisi kemudian memberikan tanda menggunakan palu atau cat warna menyolok dan menghubungkan tanda-tanda tersebut dengan menarik benang. e. Mengontrol kesikuan as bangunan dengan menggunakan garis horisontal dengan dalil phytagoras. f. Dengan mengggunakan benang dalil phytagoras, melanjutkan menentukan letak as bangunan sisi lain. 2.6. Waterproofing 2.6.1. Pengertian dan fungsi Waterproofing secara etimologi (bahasa) berarti tahan air. Dan secara terminologi berarti sebuah bahan yang berfungsi sebagai material penahan air dalam konstruksi beton. Dalam beberapa proyek, fungsi waterproofing sering digantikan oleh beton itu sendiri tanpa bahan tambah. Waterproofing sendiri berfungsi sebagai : Bahan material penahan rembesan air dari atas maupun bawah. Melapisi permukaan beton atau material lain agar tidak mengalami rembesan akibat tekanan bawah air dari bawah. Memberikan tambahan kuat lentur dari konstruksi beton yang di intaegral dengan waterproofing.

II-7 Waterproofing yang hanya menggunakan beton kuat tekan rendah sebagai pelapisnya, berfungsi pula sebagai lantai kerja pada mass concrete. 2.6.2. Syarat-Syarat Pemasangan Waterproofing yang akan dipasang atau dicampurkan haruslah : a. b. c. Ia mengandung bahan yang tidak merusak struktur bahan, khusus untuk waterproofing yang integral dengan beton. Waterproofing tidak merusak tulangan di dalam konstruksi beton. Untuk waterproofing yang menjadi bahan pelapis, permukaan harus rata, bebas dari lubang dan tonjolan yang akan menyebabkan kebocoran pada lubang kasat mata [7]. 2.6.3. Metode Pelaksanaan 2.6.3.1. Bahan yang digunakan Waterproofing Concrete Integral atau Beton Kuat Tekan Rendah. 2.6.3.2. Pelaksanaan Pelaksanaan waterproofing sama dengan proses pengecoran karena bahan waterproof terintegral dengan adukan beton pada saat pencampuran di batching plan, hanya saja ada letak perbedaan dalam perawatan pasca pengecoran. Untuk waterproofing yang menggunakan beton kuat tekan rendah, pelaksanaannya sama dengan pengecoran beton pada umumnya. 2.7. Acuan dan Perancah 2.7.1. Pengertian

II-8 Bekisting (Form Work) adalah suatu konstruksi yang bersifat sementara pada pelaksanaan pekerjaan beton yang berfungsi untuk membentuk beton sesuai dengan ukuran dan tempat kedudukannya atau dapat juga disebut suatu konstruksi yang merupakan cetakan atau mal. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah: a. Faktor-faktor yang diperhatikan 1. Kualitas a). Ukuran dan dimensi harus sesuai dengan yang diinginkan. b). Posisi letak acuan dan perancah harus sesuai rencana. c). Hasil akhir permukaan beton harus baik tidak ada beton yang keropos. 2. Keamanan a). Acuan dan perancah harus stabil pada posisinya. b). Kokoh yang berarti acuan dan perancah harus kuat menahan beban yang bekerja. c). Acuan dan perancah harus kuat tidak bergerak dan bergeser dari posisinya. 3. Ekonomis a). Mudah dikerjakan dengan tidak banyak membutuhkan tenaga kerja. b). Mudah dipasang atau dirangkai untuk menghemat waktu. c). Acuan dan perancah harus mudah dibongkar dengan tidak merusak beton agar dapat disimpan dan dipindahkan untuk dipergunakan kembali. b. Syarat-syarat penggunaan bekisting Pada dasarnya sebuah konstruksi bekisting harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut : 1. Bekisting menentukan bentuk dari konstruksi beton yang akan dibuat. 2. Bekisting harus dapat memikul beban-beban yang bekerja sampai beton tersebut mampu memikul beban atau berat sendiri. Bekisting harus mampu menahan dengan aman beban yang ditimbulkan oleh spesi beton dan berbagai beban luar serta getaran. 3. Bekisting harus dapat dengan mudah dipasang, dilepas dan dipindahkan. c. Fungsi bekisting

II-9 Berdasarkan fungsi, sebuah konstruksi bekisting dapat dibagi dalam dua bagian yaitu: acuan/cetakan dan perancah/konstruksi penopang. 1. Acuan tidak hanya membentuk ukuran, melainkan juga sifat, kualitas dan permukaan dari beton sendiri nantinya. 2. Perancah memberikan kekuatan dan kekakuan dan kesetabilan kepada bekisting, yang terdiri dari sekumpulan batang melintang, tiang-tiang, perangkai serta sekur-sekur. 2.7.2. Metode Pelaksanaan Perkembangan dunia konstruksi berpengaruh besar pada metode pelaksanaan suatu pekerjaan konstruksi khususnya pada pekerjaan pembekistingan. Dunia konstruksi mengenal 3 (tiga) jenis metode, yaitu: a. Metode Bekisting Konvensional Metode konvensional merupakan metode yang sangat sederhana karena segala bahan/komponen yang dipakai berasal dari kayu. Ditinjau dari segi biaya bekisting metode konvensional tinggi karena pemakaiannya terbatas pada sekali pemakaian.

Gambar 2.1 Bekisting Konvensional

b. Metode Bekisting Semi Sistem Metode semi-sistem merupakan metode penggabungan antara komponen material kayu dengan metal. Dibandingkan dengan metode

II-10 konvensional bekisting semi-sistem lebih efektif dan dapat menekan biaya proyek.

Gambar 2.2 Bekisting Semi Sistem

c. Metode Bekisting Sistem Penuh Metode bekisting system merupakan bekisting dengan menggunakan teknologi yang lebih tinggi daibandingkan dengan metode lain. Komponen yang dipakai seluruhnya terbuat dari metal. Ditinjau dari segi biaya pada awalnya memang mahal (Pembelian/Penyewaan), akan tetapi jika bekisting merupakan milik sendiri akan sangat menghemat biaya. Pemakaiannya dapat diulang sehingga biaya yang dikeluarkan relatif lebih murah.

Gambar 2.3 Bekisting Sistem Penuh

II-11 2.7.3. Beban-Beban yang Bekerja Pada Acuan dan Perancah Jenis-jenis beban yang bekerja pada bekisting sangat diperlukan untuk dapat mempertimbangkan pemilihan jenis acuan dan perancah yang digunakan pada akhirnya akan dapat diperhitungkan biaya yang dikeluarkan secara optimal. a. Beban Vertikal Beban ini ditimbulkan oleh berat beton, bahan-bahan acuan dan perancah, beban pekerja dan peralatan. b. Beban Horizontal Beban ini timbul selama proses pengerjaan yang diakibatkan oleh pengaruh tinggi jatuh campuran beton, kemiringan perancah, beban angin dan tarikan kabel. Pada prinsipnya beban horisontal tidak perlu diperhitungkan, karena gaya ini dapat dipikul oleh kesatuan struktur. Gaya dari formwork yang disebabkan oleh ikatan antara perancah, kolom-kolom yang sudah dicor, hubungan pembesian balok, dan lantai serta lain-lain. c. Beban Getaran Beban ini timbul selama proses pelaksanaan pekerjaan beton diantaranya disebabkan oleh penggunaan alat penggetar (vibrator), pergerakan manusia dan peralatan kerja. d. Beban Kejut Beban ini timbul akibat tindakan menghidupkan dan mematikan peralatan mesin-mesin yang digunakan, proses pengangkutan campuran beton. 2.7.4. Material Perancah Material dari perancah biasanya dari besi logam, kayu dan bambu. Material yang digunakan di proyek Apartement Margonda Residence umumnya berasal dari unsur logam dan kayu saja. Material dari perancah ini harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Kayu

II-12 Kayu yang digunakan sebagai material perancah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Kayu harus lurus, pada dan tidak ada mata kayu yang besar. 2. Kering dan Tidak membusuk. 3. Mempunyai urat kayu yang lurus. 4. Usia kayu cukup tua.
Tabel 2.1 Mutu Kayu di Indonesia Satuan Besaran lt (kg/cm2) tk// = tr// (kg/cm ) tk (kg/cm ) // (kg/cm2)
2 2

I 150 130 40 20

II 100 35 25 12

Kelas Kuat III 75 60 15 8

IV 50 45 10 5

V ---------

Kayu Jati 130 110 30 15

Untuk jenis kayu mutu B = 75% mutu A

Tabel 2.2 Modulus Kenyal (E) Kayu Sejajar Serat [6] Kelas Kuat I II III IV E // (kg/cm2) 125.000 100.000 80.000 60.000

2.7.4.1. Pemasangan Perancah yang Aman Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan perancah dengan aman : a. Scaffolder menjaga agar peralatan perancah harus disimpan dalam kondisi yang baik setiap saat. Peralatan yang rusak tidak boleh dipakai lagi dan harus diperbaiki atau diganti. Untuk mencegah kerusakan selama penyimpanan semua material perancah disimpan dalam kondisi kering dan terlindung dari cuaca. b. Saat pemasangan perancah pada area yang ramai, scaffolder harus memasang pagar pengumuman/pita barikade yang digunakan untuk menjaga agar para pekerja jauh dari area berbahaya. Tanda

II-13 BAHAYA juga dipasang di sekitar area kerja oleh pemasang atau inspektor perancah. c. Scaffolder harus menjamin tidak boleh ada material perancah yang longgar atau lepas setelah pekerjaan pemasangan pendirian perancah selesai. d. Scaffolder harus memeriksa dan memastikan, selama terjadi badai, angin kencang atau hujan lebat tidak boleh ada tenaga kerja yang bekerja pada perancah. e. Dilarang untuk melempar material perancah (ke atas atau ke bawah) saat pemasangan perancah. f. Pada saat pemasangan perancah oleh scaffolder harus menggunakan metode atau prosedur yang telah ditetapkan atau disetujui oleh ahli/pengawas konstruksi bangunan atau inspektor perancah. g. Lantai perancah hanya boleh digunakan untuk lantai kerja dan meletakkan alat kerja. h. Perancah yang tingginya lebih dari 2 meter hanya boleh dipasang oleh scaffolder dan atau kontraktor perancah yang telah memiliki surat keterangan terdaftar pada departemen tenaga kerja sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per. 04/Men/1995 yang berlaku. i. Semua material perancah harus diperiksa secara visual atau dites dua kali setahun dan diberi kode warna oleh kontraktor. Laporan hasil pemeriksaan harus dibuat oleh inspektor/ahli K3 bidang konstruksi bangunan kepada kontraktor atau pemilik. Selanjutnya diteruskan kepada Depnaker. Semua material perancah yang baru yang akan digunakan harus mempunyai spesifikasi yang sesuai dengan peraturan keselamatan kerja yang berlaku. Berikut adalah tahapan-tahapan pemasangan perancah yang aman dan benar : 1. Menyiapkan lokasi/tempat perancah akan dipasang. 2. Membersihkan lokasi pemasangan. 3. Menyiapkan perlengkapan/bahan-bahan perancah.

II-14 4. Memastikan tinggi dari perancah. 5. Memasang landasan (base plate) sesuai dengan panjang rencana dari perancah yang akan didirikan. 6. Memasang frame atau pipa tahap pertama secara memanjang. 7. Memasang batang memanjang bawah (Floor Ledge). 8. Memasang palang penguat (Brace). 9. Memasang frame atau pipa tahap kedua secara memanjang dengan menggunakan pengaut/alat sambung arm lock atau sambungan pipa. 10. Memasang lantai kerja. 11. Memasang batang memanjang (Ledge). 12. Memasang batang melintang (Putlog). 13. Memasang tangga perancah sesuai dengan syarat aman dan prosedur. 14. Pada tahap akhir dipasang pagar pengaman pada bagian teratas dari perancah (Handrail). 2.8. Pembesian 2.8.1. Pengertian Besi Tulangan adalah bahan material baja yang terbuat dari besi baja yang berbentuk batang yang digunakan didalam pekerjaan pembesian atau penulangan. Suatu besi tulangan memiliki kemampuan untuk memikul beban tarik dengan baik. Sedangkan maksud pembesian disini adalah pekerjaan merangkai struktur tulangan besi sesuai dengan gambar rencana yang ada untuk pondasi raft, baik itu panjang tulangan, diameter tulangan maupun bentuk rangkaian tulangan yang akan dirangkai. Berdasarkan bentuknya, besi tulangan dibedakan menjadi dua macam : a. b. Tulangan Polos Tulangan Ulir (deform) Berdasarkan jenisnya, besi tulangan juga dibedakan menjadi dua macam :

II-15 a. b. Besi Tulangan Biasa Besi Tulangan yang dibentuk secara dingin Berikut ini adalah tabel hubungan antara jenis dan kelas baja tulangan menurut SII dan standar mutu besi beton dari PBI 71.
Tabel 2.3 Jenis dan Kelas Besi Tulangan Sesuai dengan SII 0136-80 Jenis Polos Kelas 1 2 1 2 3 4 5 Simbol BJTP 24 BJTP 30 BJTD 24 BJTD 30 BJTD 35 BJTD 40 BJTD 50 Batas Ulur min. N/mm (kgf/mm ) 235 (25) 294 (30) 235 (24) 294 (30) 343 (35) 392 (40) 490 (50)
2 2

Kuat Tarik min. N/mm2 (kgf/mm2) 382 (39) 480 (49) 382 (39) 480 (39) 490 (50) 559 (57) 601 (63)

Deformasi

Untuk mengidentifikasikan ukuran besi tulangan dilakukan dilakukan dengan cara pemberian nomor bilangan, nomor 2 sampai dengan nomor 11 merupakan besi tulangan yang umum digunakan, sedangkan nomor 14 dan 18 dipakai untuk ukuran besi tulangan yang besar. Berikut ini adalah tabel penomoran pada besi tulangan menurut ASTM.
Tabel 2.4 Hubungan antara Nomor Besi dengan Diameter dan Berat Nominal Sesuai dengan Standar ASTM No. Besi #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 # 10 # 11 # 14 # 18 Diameter Nominal (inchi2) (mm2) 0.375 0.500 0.625 0.750 0.875 1.000 1.128 1.270 1.410 1.693 2.257 9.50 12.7 15.9 19.1 22.2 25.4 28.7 32.3 35.8 43.0 57.3 Luas Nominal (inchi2) (mm2) 0.110 0.200 0.310 0.440 0.600 0.790 1.000 1.270 1.560 2.250 4.000 71 129 200 284 387 510 645 819 1006 1452 2581 Berat Nominal (kg/m) 0.559 0.994 1.552 2.235 3.041 3.973 5.059 6.403 7.906 11.380 20.240

II-16

Gambar 2.5 Penomoran pada Besi Tulangan

2.8.2. Pemotongan dan Pembengkokan Pembengkokan adalah perubahan arah yang diperlukan batang.

Pelaksanaan pembengkokan baja tulangan dikerjakan dalam keadaan dingin kecuali apabila ditemukan dalam kondisi lain. Menurut PBI 71, toleransitoleransi yang diberikan pada pekerjaan pembesian adalah : a. Terhadap panjang total tulangan lurus yang dipotong menurut ukuran dan terhadap panjang total serta ukuran bagian dalam dari tulangan yang dibengkokkan ditetapkan sebesar + 25 mm. Terhadap panjang total tulangan yang diserahkan menurut sesuatu ukuran ditetapkan toleransi sebesar + 50 mm dan 25 mm. b. Terhadap jarak turun total dari batang yang dibengkok ditetapkan toleransi sebesar + 6 mm untuk jarak 60 cm atau kurang dan sebesar + 12 mm untuk jarak lebih dari 60 cm. c. Terhadap ukuran luas dari sengkang, lilitan dan ikatan-ikatan yang ditetapkan toleransi sebesar + 6 mm [4]. Hal-hal yang penting yang diperlukan dalam membengkokkan besi tulangan menurut PBI 71 antara lain : a. Tulangan tidak boleh dibengkokkan atau diluruskan dengan cara-cara yang merusak besi tulangan.

II-17 b. Tulangan yang diprofilkan, setelah dibengkok dan diluruskan kembali tidak boleh dibengkokkan lagi dalam jarak 60 cm bengkokkan sebelumnya. c. Membengkokkan dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin, kecuali apabila pemanasan diijinkan oleh perencana (4). Pekerjaan pembengkokkan batang tulangan digolongkan menjadi dua, yakni: a. Pembengkokkan ringan, untuk besi tulangan sampai D12. b. Pembengkokkan berat, untuk besi tulangan D13 sampai D50.

Gambar 2.6Alat Mekanik Pemotong Besi Tulangan

Gambar 2.7 Alat Mekanik Pembengkok Besi Tulangan

II-18

Gambar 2.8 Alat Manual Pembengkok Besi Tulangan

2.8.3. Pengaitan Pengaitan yang digunakan pada pelaksanaan ini adalah kait siku, kait iring dan kait penuh. Adapun syarat-syarat yang harus dilakukan menurut PBI 71 adalah : a. Kait harus berupa kait penuh atau kait miring seperti ditunjukkan pada gambar dengan memperhatikan ayat (b), dimana d adalah diameter batang polos dan dp adalah diameter pengenal batang. b. Kait-kait sengkang harus berupa kait miring, yang melingkari batangbatang sudut dan mempunyai bagian yang lurus paling sedikit 6d batang dan minimun 5 cm. c. Bengkokkan harus mempunyai diameter intern paling sedikit 5d atau 5dp seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah (4).

2.8.4. Penyambungan Pada prinsipnya semua sambungan diletakkan pada penampang yang memikul momen terkecil akibat pembebanan tetap. Adapun cara penyambungan besi beton adalah: a. Sambungan lewatan (splice atau overlap) Pada pengelasan sambungan lewatan, batang-batang baja beton yang sesuai dengan panjang peraturan diletakkan berdampingan. Gaya-gaya yang bekerja pada batang dipindahkan melalui beton yang menyelubunginya.

II-19 Penyambungan hanya diizinkan di tempat-tempat yang dinyatakan dalam gambar dengan syarat panjang lewatan antara 30d - 40d. Dari segi biaya, sambungan lewatan ini lebih ekonomis jika dibandingkan dengan cara lainnya. Sambungan lewatan ini tidak boleh dipakai pada batang tulangan dengan diameter (diameter pengenal) lebih dari 30 mm. b. Sambungan las electrode Pengelesan busur nyala electrode perisai, umumnya dinamakan pengelasan electrode. Prinsip kerjanya yaitu diantara electrode dan bendakerja akan timbul busur nyala api akibat dari tegangan listrik. Karena temperatur yang tinggi dari busur nyala, benda-kerja akan mencapai titik lelehnya kemudian melebur bersama electrode. Disebabkan peleburan tersebut akan terbentuk sambungan lekat antara kedua benda. Dalam pemasangan besi tulangan, diperlukan perencanaan selain untuk memenuhi syarat-syarat teknik, juga untuk pengendalian pemakaian besi tulangan untuk menghindari pemborosan didalam penggunaan material. Berikut blok diagram pengendalian mutu pemakaian besi tulangan.

Gambar 2.9 Blok Diagram Pengendalian Mutu Besi Tulangan

II-20

2.9. Pengecoran 2.9.1. Pengertian Beton adalah bahan material yang tersusun atas campuran semen, agregat (halus dan kasar) dan air yang dicampur secara homogen sampai batas plastis dan apabila sampai menemui titik panas dan masa hidrasi maka ia akan mengeras dan kaku. Beton ini pula memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh semua material yang lain, yakni getas. Getas adalah sifat yang apabila beton sangat baik untuk memikul beban tekan namun tidak baik untuk memikul beban tarik. Sedangkan yang dimaksud dengan beton segar adalah beton pada kondisi plastis sebelum terjadi waktu ikat awal pada campuran materialnya. Kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh beton antara lain : a. b. c. d. Kuat memikul beban tekan dan geser Memiliki tingkat keawetan yang cukup tinggi. Memiliki daya tahan terhadap api dan cuaca. Perawatannya mudah dan sederhana. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan beton antara lain : a. Bahan-bahan penyusun campuran : 1. Jenis dan Kelas Semen. 2. Tingkat kebersihan air pencampur bahan material. 3. Penggunaan bahan Tambahan (Additive atau Admixture) 4. Spesifikasi Agregat i. Ukuran maksimum agregat ii. Bentuk dan kondisi permukaan agregat iii. Gradasi ukuran agregat

II-21 iv. Kebersihan v. Kadar air dan daya serap b. Kondisi Lingkungan 1. Suhu Udara 2. Kelembaban 3. Kecepatan angin dinyatakan sebagai kecepatan penguapan air. c. Cara dan Waktu proses pemadatan 2.9.2. Mass Concrete Beton adalah bahan material yang tersusun atas campuran semen, agregat (halus dan kasar) dan air yang dicampur secara homogen sampai batas plastis dan apabila sampai menemui titik panas dan masa hidrasi maka ia akan mengeras dan kaku. Beton ini pula memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh semua material yang lain, yakni getas. Getas adalah sifat yang apabila beton sangat baik untuk memikul beban tekan namun tidak baik untuk memikul beban tarik. Sedangkan yang dimaksud dengan beton segar adalah beton pada kondisi plastis sebelum terjadi waktu ikat awal pada campuran materialnya. Berdasarkan ACI 207 : mass concrete adalah segala volume beton dengan dimensi yang cukup besar sehingga perlu pengendalian thermal terhadap panas yang ditimbulkan oleh proses hydrasi semen. Proses hidrasi tersebut dapat mengakibatkan retak thermal. Terjadinya retak thermal diakibatkan oleh bagian beton di permukaan yang mendingin lebih cepat oleh pelepasan panas di udara sehingga mengalami kontraksi dan menjadi kekangan terhadap pengembangan volume beton bagian dalam yang panas. Pengendalian retak thermal dapat berupa: a. Precooling of concrete : meliputi penyiraman agregat, penggunaan air es, penambahan es pada campuran beton, atau nitrogen cair. b. Postcooling of concrete : menggunakan aliran air dalam pipa untuk mengurangi panas dibagian dalam beton c. Surface Insulation : pemasangan isolasi pada permukaan sehingga dapat menahan & melepas panas secara perlahan-lahan agar pendinginan permukaan dapat terkendali.

II-22 2.9.3. Kelas dan Mutu Beton Untuk konstruksi beton bertulang, beton dibagi menjadi tiga kelas seperti yang tercantum pada tabel 2.6 dibawah ini.
Tabel 2.5 Kelas dan Mutu Beton Sesuai dengan Standar PBI 71 Kelas I II Mutu Bo B1 K 125 III K 175 K 225

bk
(kg/cm2) ----125 175 225

bm*)
(kg/cm2) ----200 250 300 > 300

Tujuan Non Struktural Struktural Struktural Struktural Struktural Struktural

Pengawasan Terhadap Mutu Agregat Kuat Tekan Ringan Sedang Ketat Ketat Ketat Ketat Tanpa Tanpa Kontinyu Kontinyu Kontinyu Kontinyu

> K 225 > 225 *) adalah keterangan S=46

2.9.4. Beton Siap Pakai Adalah adukan beton yang siap dituangkan di lapangan dan didatangkan langsung dari Batching Plan dengan menggunakan alat angkut berupa Mobil Molen (Mix Truck). Beton ini digunakan oleh sebagian besar proyek karena : a. Efektif dan Efisien. Beton ini dapat langsung digunakan tanpa harus melakukan pengadukan di lapangan yang tentunya akan banyak menyerap waktu dan tenaga kerja. Dan juga akan menghemat penggunaan lapangan untuk melakukan pengadukan. b. Jaminan dalam Kualitas. Beton siap tuang ini dapat menjamin kualitas beton yang ingin digunakan sehingga sesuai dengan perencanaan. Sebelum beton didatangkan ke proyek, terlebih dahulu kontraktor melakukan uji dan pegambilan data yang dibutuhkan dalam pengendalian mutu. c. Ketepatan Waktu. Jika kita menggunakan tipe konvensional yakni melakukan pengadukan di lapangan, maka kontraktor tidak mendapatkan jaminan atas kesiapan beton untuk siap dicor.

II-23 d. Kehematan Utilitas. Jika menggunakan metode ini, maka dapat dipastikan bahwa utilitas yang terpakai selama di proyek adalah lahan untuk berdirinya mobil molen di lapangan. Ini lebih efektif dibandingkan dengan melakukan pencampuran di lapangan yang membutuhkan lahan yang tidak sedikit tentunya. 2.9.5. Pengawasan dan Pengendalian Mutu Ukuran utama dari mutu struktur beton adalah kuat tekannya. Percobaanpercobaan untuk menemukan sifat ini dilakukan pada benda uji. Untuk itu pengendalian dan pengawasan harus dilakukan dengan baik dan benar agar kekuatan beton bisa terpenuhi sesuai dengan perencanaan. Pengendalian mutu dalam beton meliputi: 2.9.5.1. Pengukuran Suhu Beton Segar Sebelum melakukan pengecoran pada mass concrete, pengukuran suhu merupakan sesuatu hal yang mutlak dilakukan unutk menghindari retak thermal. Suhu yang tinggi pada saat beton segar akan mengakibatkan beton yang telah dicor akan semakin panas. Untuk menurunkan suhu beton segar dapat dilakukan dengan mengganti air biasa dengan air es. 2.9.5.2. Pengujian Nilai Slump Slump merupakan ukuran kekentalan beton segar. Test slump perlu dikerjakan untuk menjamin bahwa adukan cukup workability untuk dikerjakan. Hal-hal yang mempengaruhi dalam test slump yaitu: a. Bahan 1. Air 2. Agregat Halus 3. Admixture 4. Butiran Halus

II-24 5. Jenis Semen b. c. d. Cetakan Waktu Pengadukan Suhu. Karena apabila adukan beton dalam suhu yang tinggi maka harus segara dikerjakan. Menurut pengujian di Amerika didapat kesimpulan bahwa apabila beton mengalami kenaikan suhu sebesar 100C, maka akan terjadi penurunan nilai slump sebesar 20 mm. Terdapat tiga jenis hasil pengujian slump, yakni: a. b. c. Slump Murni. Ini banyak dijumpai pada beton kohesi dan gemuk. Slump Geser. Ini terjadi pada campuran kasar dengan kadar mortar rendah. Slump Runtuh. Ini dapat terjadi karena beton sangat encer dengan mutu rendah. Berikut tabel nilai slump berdasarkan jenis pekerjaannya [5].
Tabel 2.6 Nilai Slump Berdasarkan Jenis Pekerjaannya Jenis Pekerjaan Pek. Dinding, Plat Pondasi, Telapak Bertulang Pek. Pondasi Telapak Tak Bertulang, Kaison, Konstruksi Bawah Tanah Pek. Plat Lantai, Balok, Kolom, Dinding Pek. Perkerasan Jalan Pek. Pembetonan Jalan Nilai Slump (cm) Max. Min. 12.5 5.0 9.0 2.5 15.0 7.5 7.5 5.0 7.5 2.5

Gambar 2.10 Langkah Kerja Pengujian Slump

II-25

2.9.5.3. Pengujian Nilai Kuat Tekan Kekuatan tekan beton adalah muatan tekan maksimum yang dapat dipikul per satuan luas. Pada umumnya mutu beton dinilai dari kuat tekannya, karena beton merupakan bahan yang getas sehingga kemampuan untuk memikul beban tekan jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuannya untuk memikul beban tarik ataupun geser. Pada PBI71, kuat tekan beton dinyatakan dengan kuat tekan karakteristik. Yakni, kuat tekan beton berdasarkan data dari sejumlah benda uji yang menyebar dengan penyimpangan atau deviasi tertentu. Sehingga kuat tekan karakteristik dapat dinyatakan dengan : bk = bm - ks Pada PBI 89 yang diatur dalam SKSNI, kuat tekan dinyatakan sebagai fc. Hasil perhitungan dinyatakan sebagai kuat tekan rata-rata yang ditargetkan dapat dinyatakan sebagai : f'c = fc + ks Kuat tekan dipengaruhi oleh : a. Karakteristik Bahan b. Susunan Campuran c. Suhu Pengerasan d. Metode Pekerjaan e. Perawatan Pengujian di Laboratorium dilakukan dengan benda uji dengan deskripsi : a. Kubus : 10 x 10 x 10 cm 15 x 15 x 15 cm

II-26 20 x 20 x 20 cm b. Silinder : 10 cm dengan tinggi 20 cm 15 cm dengan tinggi 30 cm Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur-umur tertentu sesuai dengan pengujian PC. Jika tidak dapat diuji pada umur-umur tersebut, PBI 71 membuatkan nilai tersebut dalam bentuk tabel konversi perkiraan perbandingan kekuatan beton. Berdasarkan PBI 71 pengambilan sample beton untuk menjadi benda uji kuat tekan setiap pengecoran 100 m3 sebanyak 4 buah. 2.9.6. Metode Pelaksanaan Pengecoran dan Pemadatan Penempatan atau pengecoran beton adalah poses menuangkan beton segar dari alat pengangkut kedalam cetakan. Cetakan yang akan diisi dengan beton harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang dapat mengurangi kualitas beton yang akan dihasilkan. Pengecoran yang baik harus terhindar dari perubahan bentuk cetakan serta pergeseran susunan besi tulangan. Untuk menghindari kerusakan-kerusakan pada beton, maka sangat diperlukan pengerjaan pengecoran dengan cara yang benar. Salah satu kerusakan yang terjadi adalah terjadinya pemisahan butiran, yaitu butiran tidak tersebar secara merata tetapi terjadi penumpukan butiran pada beberapa tempat saja. Peristiwa semacam ini dapat menyebabkan beton menjadi keropos atau rapuh. Karena itu dalam pengecoran beton harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. b. Sebelum melakukan pengecoran bekisting haruslah dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran-kotoran yang masih ada akibat perakitan bekisting. Beton harus dicor sedekat-dekatnya ke tujuan akhir supaya dapat dicegah terjadinya pergerakan bahan adukan didalam cetakan untuk menghindari segregasi. c. d. Adukan jangan dibiarkan terus menerus jatuh dan terkumpul pada satu tempat saja. Pengecoran harus dilakukan terus menerus hingga seluruh wilayah yang hendak dicor tercapai secara merata.

II-27 Setelah adukan ditumpahkan dari bucket, maka adukan harus segera dipadatkan dengan menggunakan penggetar mekanis yaitu vibrator. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya rongga-rongga kosong dalam adukan beton. Ketika dilakukan adukan pemakaian penggetar maka terdapat beberapa ketentuan yang harus diperhatikan yaitu : a. Agar tulangan jangan terlalu sering tersentuh oleh vibrator karena dapat menyebabkan berpindahnya kedudukan tulangan dan berkurangnya lekatan antara beton dan tulangan. b. Vibrator juga jangan mengenai papan cetakan karena papan cetakan dapat rusak dan berpindah kedudukannya. Dan untuk menghindari kedudukan dari papan cetakan akibat tersentuh oleh vibrator, maka papan cetakan harus memiliki penyokong yang kuat. c. d. Penggetaran jangan dipertahankan pada waktu yang lama disatu tempat saja. Jarum vibrator tidak boleh digetarkan dalam arah horisontal supaya tidak terjadi pemisahan terhadap bahan-bahan adukan, tetapi digetarkan dalam arah vertikal atau sedikit dimiringkan jika dibutuhkan di tempat-tempat yang sulit. e. Vibrator yang digunakan adalah alat pemadat dengan kemampuan minimal 3000 rpm (putaran per menit) untuk penggunaan maksimal selama 24 detik dalam satu titik pemadatan. Setelah dipadatkan dengan vibrator, maka dilakukan leveling pada permukaan beton dengan menggunakan theodolit pada beberapa titik saja. Kemudian permukaan beton dihaluskan dengan menggunakan trowel finish setelah kurang lebih 45 menit dari batas pengecoran terakhir.

Gambar 2.11 Cara Penempatan Vibrator Pada Gundukan Beton

II-28

Penggunaan vibrator pun memiliki cara-cara khusus tersendiri. Dari setiap vibrator yang ditusukkan kedalam adukan beton sedalam antara 10-20 cm akan beredar getarannya dengan radius 10 kali diameter vibratornya sendiri. Namun, ketika dalam empat titik vibrator ditusukkan dengan jarak antar vibrator sama dengan radiusnya yakni 10d, maka akan terbentuk Blank Unvibrationing Area. Sehingga, untuk menghindari beton yang tak terpadatkan, jarak antar titik vibrator diperkecil sebesar 5 ~ 7d.

Gambar 2.12 Jarak Penempatan Antar Titik Vibrator

2.10.

Perhitungan Tenaga Kerja dan Alat [7] 2.10.1. Produktifitas Tenaga Kerja

II-29
No 1. 2. 3. Item Pekerjaan Pembesian a. Pemotongan & Pembengkokan b. Pemasangan Bekisting a. Pemasangan b. Pembuatan Pengecoran Beton Tenaga Kerja Tukang Kenek (org) (org) 1 1 1 1 1 2 2 3 2 1 6 6 12 Prduktifitas Tenaga Kerja m2/org/hr m3/org/hr kg/org/hr 80 125

2.10.2. Pengadaan Tenaga Kerja Perhitungan kebutuhan tenaga kerja untuk masing-masing item pekerjaan kemudian dituangkan dalam satu jadwal yang mencakup seluruh pekerjaan dengan jadwal yang sesuai dengan jadwal induk proyek.

2.10.3. Pembuatan Jadwal Pengadaan Alat. Informasi yang diperlukan untuk pembuatan jadwal pengadaan alat ini antara lain adalah : Jadwal dan Kapasitas alat yang akan dipakai. Volume pekerjaan yang menggunakan alat tersebut. Durasi waktu pelaksanaan.