Anda di halaman 1dari 19

Makalah Farmakologi I

EFEK SEDATIF
Untuk Memenuhi Tugas Dosen Ebta Narasukma A ,S.Farm.,Apt dan Fx Sulistyanto,S.Si.,Apt

Disusun oleh:
1. Anisa Septiyani 2. Diandra Rositadevi 3. Eka Budiarti 4. Elssa Fibi Rizky A. 5. Febrina Putri ( 1031111007 ) ( 1031111018 ) ( 1031111021 ) ( 1031111022 ) ( 1031111026 )

PRODI D3 FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAPHAR SEMARANG JL LETJEN SARWO EDHI WIBOWO KM 1 SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Hipnotik sedatif adalah istilah untuk obat-obatan yang mampu mendepresi sistem saraf pusat. Sedatif adalah substansi yang memiliki aktifitas moderat yang memberikan efek menenangkan, sementara hipnotik adalah substansi yang dapat memberikan efek mengantuk dan yang dapat memberikan onset serta mempertahankan tidur. Pemakaian sedativa-hipnotika dalam dosis kecil dapat menenangkan , dan dalam dosis besar dapat membuat orang yang memakainya tertidur. Obat-obatan hipnotik sedatif adalah istilah untuk obat-obatan yang mampu mendepresi sistem saraf pusat. Obat-obat penekan susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang sangat luas. Obat tersebut mungkin merangsang atau menghambat aktivitas SSP secara spesifik atau secara umum. Beberapa kelompok memperlihatkan sele ktivitas yang jelas seperti analgetik-antipiretik yang khusus mempengaruhi dan mengatur pusat pengatur suhu tubuh dan pusat nyeri tanpa pengaruh yang jelas terhadap pusat lain. Sebaliknya anestesi dan hipnotik sedatif merupakan penghambat SSP yang bersifat umum sehingga dosis yang melampaui selalu disertai koma. Obat yang efek utamanya terhadap SSP yaitu anestesi umum, hipnotik sedatif, psikofarmaka, antikonvulsi, pelemas otot yang bekerja sentral, analgetik antipiretik, analgesik narkotika dan perangsangan SSP. Obat yang mempengaruhi SSP lainnya antara lain amfetamin dan antihistamin. Obat-obat seperti hipnotik, sedatif dan anestesi memberikan perbedaan efek yang nyata. Anestesi merupakan obat yang dapat menyebabkan hilangnya rasa/pemati rasa. Anestesi dibedakan menjadi dua yaitu anestesi sistemik dan anestesi lokal. Sedatif adalah obat tidur yang dalam dosis lebih rendah dari terapi yang diberikan pada siang hari untuk tujuan menenangkan. Sedatif termasuk ke dalam kelompok psikoleptika yang mencakup obat-obat yang menekan atau menghambat sisem saraf pusat. Efek terbesar dari obat-obat sedasi adalah hipnotik yaitu kehilangan kesadaran. Untuk obat-obat tertentu kenaikan dosis dapat menyebabkan kenaikan efek menjadi hipnotik. Hipnotika merupakan obat penekan SSP yang menyebabkan hilangnya kesadaran. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur fisiologis.

Hipnotik sedatif relatif tidak selektif mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan kantuk atau tenang, menidurkan hinga yang berat (kecuali benzodiazepin) menyebabkan hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati bergantung pada dosis. Penggolongan obat yang bekerja dengan mekanisme penekanan sistem saraf pusat dilihat berdaasrkan efek terapeutiknya adalah: 1. Depresan sistem saraf pusat umum 2. Rangsang sistem saraf pusat umum 3. Obat sistem saraf pusat selektif Gejala akibat pemakaiannya adalah mula-mula gelisah, mengamuk lalu mengantuk, malas, daya pikir menurun, bicara dan tindakan lambat . Jika sudah kecanduan, kemudian diputus pemakainya maka akan menimbulkan gejala gelisah, sukar tidur, gemtar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah naik , dan kejang-kejang. Jika pemakainya overdosis maka akan timbul gejala gelisah kendali diri turun, banyak bicara, tetapi tidak jelas, sempoyangan, suka bertengkar, napas lambat, kesadaran turun, pingsan, dan jika pemakainya melebihi dosis tertentu dapat menimbulkan kematian. Penggunaan klinis kedua golongan obat-obatan ini telah digunakan secara luas seperti untuk tatalaksana nyeri akut dan kronik, tindakan anestesia, penatalaksanaan dalam kejang, serta insomnia. Pentingnya penggunaan obat-obatan ini

tindakan anestesi memerlukan pemahaman mengenai farmakologi obat-obatan kedua obat.

I.2 Tujuan
Tujuan setelah dilakukan praktikum ini antara lain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Farmakologi di Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Semarang . Selain itu, juga untuk mempelajari pengaruh susunan syaraf pusat ( obat-obatan hipnotik sedatif).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Hipnotika Sedativa


2.1.1 Hipnotika
Hipnotika atau obat-obat tidur (bahasa Yunani: hypnos = tidur) adalah zat-zat yang diberikan

pada malam hari dalam dosis terapi, dapat mempertinggi keinginan faal dan normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur (Tjay dan Rahardja, 2002). Hipnotika bekerja dengan cara mendepresi susunan saraf pusat (SSP) sehingga menyebabkan tidur, menambah keinginan tidur atau mempermudah tidur (Anonim, 1994) yang realtif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat (kecuali benzodiazepin) yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma dan mati, bergantung pada dosis. Hipnotik efektif dalam mempercepat waktu menidurkan, memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekuensi bangun, serta memperbaiki kualitas (dalamnya) tidur. Akan tetapi mempersingkat periode tidur REM (Rapid Eye Movement) (Tjay dan Rahardja, 2002).Kebutuhan tidur dapat dianggap sebagai suatu perlindungan dari organisme untuk menghindari pengaruh yang merugikan tubuh karena kurang tidur. Tidur yang baik, cukup dalam dan lama. Efek terpenting yang mempengaruhi kualitas tidur adalah penyingkatan waktu peniduran, perpanjangan masa tidur dan pengurangan jumlah periode bangun. Insomnia atau kesulitan tidur dapat diakibatkan oleh banyak gangguan fisik, misalnya batuk, rasa nyeri, atau sesak nafas. Yang sangat penting pula adalah gangguan jiwa, seperti emosi, ketegangan, kecemasan atau depresi. Di samping faktor-faktor itu perlu juga diperbaiki cara hidup yang salah, misalnya melakukan kegiatan psikis yang melelahkan sebelum tidur. Dianjurkan untuk melakukan gerak badan secara teratur, jangan merokok dan minum kopi atau alkohol sebelum tidur. Gerak-jalan, melakukan kegiatan yang rileks, mandi air panas, minum susu hangat sebelum tidur, ternyata dapat mempermudah dan memperdalam tidur yang normal.

2.1.2 Sedativa
Obat-obat sedatif/sedativa pada dasarnya segolongan dengan hipnotik, yaitu obat-obat yang bekerja menekan reaksi terhadap perangsangan terutama rangsangan emosi tanpa menimbulkan kantuk yang berat.Jadi, bila obat-obat hipnotik menyebabkan kantuk dan tidur yang sulit dibangunkan disertai penurunan refleks hingga kadang-kadang kehilangan tonus otot (Djamhuri, 1995), obat-obat sedatif hanya menekan reaksi terhadap perangsangan emosi tanpa menimbulkan kantuk yang berat. Golongan obat hipnotik-sedatif dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu benzodiazepin, contohnya: flurazepam, lorazepam, temazepam, triazolam; barbiturat, contohnya: fenobarbital, tiopental, butobarbital; hipnotik sedatif lain, contohnya: kloralhidrat, etklorvinol, glutetimid, metiprilon, meprobamat; dan alkohol (Ganiswarna dkk, 1995). Secara klinis obat-obatan sedatif-hipnotik digunakan sebagai obat-obatan yang berhubungan dengan sistem saraf pusat seperti tatalaksana nyeri akut dan kronik, tindakan anestesia, penatalaksanaan kejang, serta insomnia. Obat-obatan sedatif hipnotik diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yakni:
1. Benzodiazepin 2. Barbiturat 3. Golongan obat nonbarbiturat nonbenzodiazepin

Hipnotika /sedatif, seperti juga antipsikotik termasuk dalam kelompok psikodepresiva yang mencakup obat obat yang menekan atau menghambat fungsi SSP tertentu.Sedatif berfungsi menurunkan aktivitas, mengurangi ketegangan dan menekan penggunanya. Keadaan sedasi juga merupakan efek samping dari banyak obat yang khasiat utamanya tidak menekan SSP, misalnya antikolinergik. Hipnotik sedatif dalam dosis besar, efeknya akan sama dengan anestesi lokal. Efek samping dari obat tidur adalah: a. Depresi pernafasan. b. Tekanan darah menurun. c. Hang over.

d. Berakumulasi di jaringan lemak.

2.2

Obat Obat Yang Termasuk Dalam Obat Hipnotika - Sedativa


2.2.1 FENOBARBITAL ( fenobarbiton ; luminal ) Fenobarbital (luminal) merupakan hablur atau serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa agak

pahit (Depkes R.I,1979). Sebagai antikonvulsi, fenobarbital digunakan dalam penanganan seizure tonik-klonik (grand mal) dan seizure parsial. Fenobarbital juga berkhasiat sebagai hipnotik sedasi tergantung dosis yang diberikan. Fenobarbital digunakan untuk pengobatan epilepsi tonik-klonik, epilepsi kompleks atau parsial simpel pada orang dewasa dan anak-anak. Fenobarbital juga digunakan untuk epilepsi miklonik (myclonic). Obat ini pernah menjadi obat first line, namun sekarang menjadi obat second-line karena efek samping yang ditimbulkannya yaitu efek penenang, depresi dan agitasi. Fenobarbital merupakan obat antiepilepsi atau antikonvulsi yang efektif. Toksisitasnya relatif rendah, murah, efektif, dan banyak dipakai. Dosis antikonvulsinya berada di bawah dosis untuk hipnotis. Ia merupakan antikonvulsan yang non-selektive. Manfaat terapeutik pada serangan tonik-klonik generalisata (grand mall) dan serangan fokal kortikal. Resorpsinya di usus baik (70-90%) dan lebih kurang 50% terikat pada protein; plasma t nya panjang, lebih kurang 3-4 hari, maka dosisnya dapat diberikan sehari sekaligus. K.1. 50% dipecah menjadi p-hidroksi fenobarbital yang diekskresikan lewat urin dan hanya 10-30% dalam keadaan utuh. Efek sampingnya berkaitan dengan efek sedasinya, yakni pusing, mengantuk, ataksia dan pada anak-anak mudah terangsang. Efek samping ini dapat dikurangi dengan penambahan obat-obat lain.Interaksi bersifat menginduksi enzim dan antara lain mempercepat penguraian kalsiferol dan kemungkinan timbulnya rachitis pada anak kecil (Tan Hoan TJay,2007,hal: 396) Farmakokinetik Barbiturat secara oral diabsorpsi cepat dan sempurna dari lambung dan usus halus kedalam darah. Secara IV barbiturat digunakan untuk mengatasi status epilepsi dan menginduksi serta mempertahankan anastesi umum. Barbiturat didistribusi secara luas dan dapat melewati plasenta, ikatan dengan protein plasma sesuai dengan kelarutan dalam lemak; tiopental yang terbesar. Barbiturat yang mudah larut dalam lemak, misalnya tiopental dan metoheksital, setelah pemberian secara IV, akan ditimbun di jaringan lemak dan otot. Hal ini akan menyebabkan kadarnya dalam plasma dan otak turun dengan cepat. Barbiturat yang kurang lipofilik, misalnya aprobarbital dan

fenobarbital, dimetabolisme hampir sempurna didalam hati sebelum diekskresi di ginjal. Pada kebanyakan kasus, perubahan pada fungsi ginjal tidak mempengaruhi eliminasi obat. Fenobarbital diekskresi ke dalam urine dalam bentuk tidak berubah sampai jumlah tertentu (20-30 %) pada manusia. Faktor yang mempengaruhi biodisposisi hipnotik dan sedatif dapat dipengaruhi oleh berbagai hal terutama perubahan pada fungsi hati sebagai akibat dari penyakit, usia tua yang mengakibatkan penurunan kecepatan pembersihan obat yang dimetabolisme yang terjadi hampir pada semua obat golongan barbiturat. Farmakodinamik Efek antianseitas berbiturat yang berhubungan dengan tingkat sedasi yang dihasilkan.efek hipnoti barbiturat dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik, tidurnya menyerupai tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang menggangu. Fase tidur REM dipersingkat,barbiturat sedikit menyebabkan sikpa masa bodoh terhadap ransangan luar. Efek anestesia umum diperlihatkan oleh golongan tiobarbiral dan beberapa oksibarbital satelah pemberian iv. Efek antikonvulsi yang selektif terutama diberikan oleh barbiturat yang mengandung subtitusi 5fenil misalnya fenobarbital dan mefobarbital. Golongan barbiturat lain, derajat selektivitas dan indeks terapi antikonvulsinya sangat rendah, jadi tidak mungkin dicapai efek yang diinginkan tanpa menimbulkan depresi umum pada SSP. Barbiturat tidak dapat mengurangi nyeri tanpa disrtai kehilangan kesadaran. Pemberian dosis barbiturat yang hampir menyebabkan tidur dapat meningkatkan 20% ambang rasa nyeri sedangkan ambang rangsang lain tidak dipengaruhi (FK UI,2005). DOSIS Dosisnya 1-2 dd 30-125 mg, maksimal 400 mg (dalam 2 kali); pada anak-anak 2-12 bulan 4mg/kgBB sehari; pada status epilepticus dewasa 200-300 mg (Tan Hoan TJay,2007,hal:397)

Gambar Struktur Kimia Fenobarbital

2.2.2

DIAZEPAM ( Valium ; Stesolid ; Mentalium )

Diazepam adalah turunan dari benzodiazepine dengan rumus molekul 7-kloro-1,3-dihidro-1metil-5-fenil-2H-1,4-benzodiazepin-2-on. Merupakan senyawa Kristal tidak berwarna atau agak kekuningan yang tidak larut dalam air (Depkes R.I.,1979). Diazepam merupakan benzodiazepine yang sangat larut lemak dan memiliki durasi kerja yang lebih panjang d banding midazolam.diazepam dilarutkan dengan pelarut organic (propilen glikol,sodium benzoate ) karena tidak larut dalam air. Larutannya pekat dengan pH 6,6 6,9. Injeksi secara IV atau IM akan menyebabkan nyeri. Diazepam memiliki plasma t dari 20-54 jam, sedangkan t derivate desmetilnya sampai 120jam, sehingga efeknya sangat diperpanjang. Oleh karenanya zat ini lebih layak digunakan sebagai obat anksiolitis daripada sebagai obat tidur (Tan Hoan TJay,2007,hal: 398). Farmakokinetik Diazepam cepat diserap melalui saluran cerna dan mencapai puncaknya dalam 1 jam (15-30 menit pada anak-anak). Kelarutan lemaknya yang tinggi menyebabkan Vd diazepam besar dan cepat mencapai otak dan jaringan terutama lemak. Diazepam juga dapat melewati plasenta dan terdapat dalam sirkulasi fetus. Ikatan protein benzodiazepine berhubungan dengan tingginya kelarutan lemak. Diazepam dengan kelarutan lemak yang tinggi memiliki ikatan dengan protein plasma yang kuat. Sehingga pada pasien dengan konsentrasi protein plasma yang rendah, seperti pada cirrhosis hepatis, akan meningkatkan efek samping dari diazepam. Waktu Paruh Waktu paruh diazepam orang sehat antara 21-37 jam dan akan semakin panjang pada pasien tua, obese dan gangguan fungsi hepar serta digunakan bersama obat penghambat enzim sitokrom P450.Waktu paruh desmethyldiazepam adalah 48-96 jam. Pada penggunaan lama diazepam dapat terjadi akumulasi metabolit di dalam jaringan dan dibutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk mengeliminasi metabolit dari plasma. DOSIS

Dosisnya 2-4 dd 2-10 mg dan i.v. 5-10 mg dengan perlahan-lahan (1-2) menit, bila perlu diulang setelah 30 menit; pada anak-anak 2-5 mg. Pada status epilepticus dewasa dan anak diatas usia 5 tahun 10 mg; pada anak-anak dibawah 5 tahun 5 mg sekali (Tan Hoan TJay,2007,hal: 398) Efek pada Sistem Organ Diazepam hampir tidak menimbulkan efek depresi napas. Namun pada penggunaan bersama dengan obat penekan CNS lain atau pada pasien dengan penyakit paru obstruktif akan meningkatkan resiko terjadinya depresi napas. Diazepam pada dosis 0,5-1 mg/kg IV yang diberikan sebagai induksi anestesi tidak menyebabkan masalah pada tekanan darah, cardiac output dan resistensi perifer. Pada otot skeletal, diazepam menurunkan tonus otot. Efek ini didapat dengan menurunkan impuls dari saraf gamma di spinal. Keracunan diazepam didapatkan bila konsentrasi plasmanya > 1000ng/ml.

Gambar Struktur Kimia Diazepam

2.2.3

KLORPROMAZIN ( Largactil )

Klorpromazin adalah antipsikotikum tertua (1951) yang diturunkan dari prometazin dan memiliki rantai sisi alifatis. khasiat antipsikotisnya lemah, sedangkan daya antihistamin dan alfa adrenergiknya lebih kuat. Obat ini memperkuat efek analgetika, sehingga membuat pasien lebih tak acuh pada rasa nyeri. Selain pada keadaan psikosis dan sebagai obat tambahan pada analgetika, klorpromazin juga digunakan untuk mengobati sedu yang tak henti-henti.

Resorpsinya di usus baik, tetapi BA nya hanya k.1. 30% akibat FPE besar. PPnya tinggi, sekitar 95%, t nya 16-37jam. Zat ini mudah melintasi barrier darah-CCS. Kadarnya dalam cairan otak lebih tinggi daripada dalam darah. Ekskresinya lewat kemih sebagai metabolitnya. Efek samping yang terpenting adalah terhadap hati dan darah, mungkin akibat suatu reaksi alergi. Zat ini dapat menyumbat saluran empedu sesudah 2-4minggu dan kerusakan ini tidak selalu reversible. Kelainan darah agak sering dilaporkan. Efek samping umum lainnya adalah efek sedatifnya yang kuat dan GEP yang sering kali terjadi. Dosis pada psikose oral, i.m., atau i.v. 3 dd 25mg garam HCl selama 3-4 hari, bila perlu dinaikkan sampai 1g sehari. Pada sedu: 3-4 dd 25-50 mg, sebagai adjuvans pada nyeri sedang/hebat 2-4 dd 25 mg (Tan Hoan TJay,2007,hal: 428)

Gambar Struktur Kimia Klorpromazin

BAB 3 HASIL dan PEMBAHASAN

Perlakuan

Waktu Pemberian

Onset

Jumlah Jatuh Mencit 15 30 60 120

Daya Cengkram 15 30 60 120

Reflek Balik Badan

07.58 Klorpromazin 80 mg/kg BB 08.00 08.01 07.57 Phenobarbital 80 mg/kg BB 08.02 08.07 Kontrol 0,9 % garam fisiologis 08.03 08.06 08.11 08.13 Klorpromazin 08.18 100mg/kg BB 08.08 08.05 Diazepam 20 mg/kg BB 08.00 08.12 11 5 10 5 91 65 71 22 7 84

19 17 24 8 3 4 1 0 3 40 35 38 35 34 33

19 25 24 10 5 6 3 0 3 22 27 36 34 35

19 26 22 10 12 16 2 1 4 23 26 40 36 36

14 27 20 10 5 14 1 0 1 15 16 40 36 35

71 95 90 38 25 40 7 1 11 95 107 151 140 139

+ + + + + + + -

+ + + + + + + + + -

+ + + + + + + + + + -

+ + + + + + + + + + 08.22 08.08 09.21 09.36 09.02 08.27 08.19 08.10 08.10 08.17

A. PERHITUNGAN

1. Volume Pemberian pada mencit secara IntraPeritoneal (IP)

= x Volume Pemberian (Vp) = x 1 = 0,5 ml

2. Perhitungan Efek Sedatif

X kumulatif Phenobarbital 80 mg/kg BB = 34,33 X kumulatif Kontrol = 6,33

X kumulatif Klorpromazin 100 mg/kg BB = 101 X kumulatif Diazepam 20 mg/kg BB = 143,33

X kumulatif Klorpromazin 80 mg/kg BB = 85,33 Nilai Absolute Sedatif =1

SYARAT : Bila nilai absolut < 1 = memiliki efek sedatif Bila nilai absolut > 1 = memiliki efek hipnotik

1. Phenobarbital

= X kumulatif obat

x Nilai Absolut Sedatif

X kumulatif Klorpromazin = 34,3 x 1 = 0,339 < 1 ( menimbulkan efek sedatif ) 101 2. Diazepam = X kumulatif obat X kumulatif Klorpromazin = 143,33x 1= 1,419 > 1 ( menimbulkan efek hipnotika ) 101 x Nilai Absolut Sedatif

3. NaCl 0,9%= X kumulatif obat

x Nilai Absolut Sedatif

X kumulatif Klorpromazin = 6,33x 1 = 0,059 < 1 ( tidak menimbulkan efek ) 101 4. 4. Klorpromazin = X kumulatif obat X kumulatif Klorpromazin = 85,33 x 1 = 0,845 < 1 ( menimbulkan efek sedatif) 101 karena nilai terlampau kecil x Nilai Absolut Sedatif

KURVA VS

JUMLAH JATUH

B. PEMBAHASAN
Tujuan percobaan kali ini yaitu agar mahasiswa mampu mempelajari pengaruh obat penekan susunan saraf pusat. Efek terhadap susunan saraf pusat yang dipelajari antara lain hipnotik dan sedatif. Kedua obat tersebut sama-sama menekan SSP namun terdapat perbedaan akibat yang ditimbulkan. Obat sedatif hanya menurunkan kewaspadaan sedangkan hinotik hingga kehilangan kesadaran. Ada obat-obat lain yang tidak bekerja pada SSP namun mempunyai efek sedasihipnotik. Namun jika dosis obat hipnotik dinaikkan maka akan menyebabkan efek anestesi. Urutan efek dari yang paling ringan hingga paing berat : Sedatif hipnotik anestesi koma kematian. Sedatif menyebabkan turunnya kewaspadaan hingga efek maksimalnya adalah hipnotik ( hilangnya kesadaran ), sedangkan hipnotik dengan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan efek anestesi ( mati rasa ), koma bahkan hingga kematian.

Pada praktikum ini, menggunakan mencit sebagai hewan ujinya. Mencit dipilih sebagai hewan uji karena proses metabolisme dalam tubuhnya berlangsung cepat sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai objek pengamatan. Sebelum dilakukan untuk uji terlebih dahulu hewan uji mencit dipuasakan satu hari sebelumnya, dengan tujuan agar tidak ada pengaruh makanan dalam saluran cerna yang dapat mengganggu absorbsi obatnya. Sedangkan obat yang digunakan adalah Phenobarbital, Klorpromazin, Diazepam serta Garam fisiologis sebagai kontrolnya. Alasan dipilih bahan-bahan tersebut karena salah satu indikasi bahan obat tersebut adalah sebagai sedative. Sebelum hewan uji diberikan perlakuan, mencit terlebih dahulu diadaptasikan pada rotarod selama 5 menit agar setelah diberi perlakuan tidak terjadi kekeliruan apakah jatuhnya mencit dari rotarod dikarenakan efek sedative dari obat atau mencit yang belum berdaptasi terhadap rotarod. Setelah itu diberikan obat pada hewan uji secara intra muscular. Metode pengujian efek sedative yaitu dengan menghitung berapa kali mencit terjatuh dari rotarod, reflek balik badan serta mengamati kekuatan daya cengkeram mencit pada kawat kasa. Cara pengamatan menggunakan rotarod yaitu dengan menaruh mencit diatas rotarod pada mencit ke 15, 30, 60, 90 dan 120 setelah diberi perlakuan kemudian dihitung berapa kali mencit terjatuh dari rotarod. Banyaknya mencit terjatuh dari rotarod disebabkan karena timbulnya efek menidurkan dari perlakuan yang diberikan. Mencit diletakkan pada rotarod selama 5 menit. Hal ini bertujuan agar mencit terbiasa dengan rotarod. Sebelum diberikan banyaknya dosis, dihitung terlebih dulu dosis individu untuk masing-masing mencit. Dosis pemberian ini beragam tergantung dengan kondisi fisiologis mencit. Pemberian dilakukan secara per-oral pada hewan uji.Dosis pemberian juga dapat berpengaruh pada efek farmakologis yang ditimbulkan. Semakin tinggi dosisnya maka semakin tinggi pula efek sedatif dan lamanya berefek. Dalam percobaan ini, obat hipnotik-sedatif yang digunakan adalah fenobarbital, diazepam dan klorpromazin. Golongan Barbiturat ( Phenobarbital ) untuk menimbulkan sedasi. Keuntungan menggunakan phenobarbital ialah tidak memperpanjang masa pemulihan dan kurang menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. Efek utama barbiturate ialah depresi SSP. Semua tingkat depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi, hypnosis, koma sampai dengan kematian. Efek antisietas barbiturate berhubungan dengan tingkat sedasi yang dihasilkan. Efek hipnotik barbiturate dapat dicapai dalam waktu 20-60 menit dengan dosis hipnotik. Tidurnya menyerupai tidur fisiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu. Fenobarbital merupakan obat golongan hipnotik sehingga dengan kenaikan dosis dapat menyebabkan anestesi. Pemberian Fenobarbital selalu disertai dengan hilangnya kesadaran. Diazepam adalah benzodiazepine yang sangat larut dalam lemak dan memiliki durasi kerja yang lebih panjang dibandingkan midazolam. Diazepam dilarutkan dengan pelarut organic

(propilen glikol, sodium benzoat) karena tidak larut dalam air. Larutannya pekat dengan pH 6,66,9. Injeksi secra IV atau IM akan menyebabkan nyeri. Diazepam cepat diserap melalui saluran cerna dan mencapai puncaknya dalam 1 jam (15-30 menit pada anak-anak). Kelarutan lemaknya yang tinggi menyebabkan diazepam lebih besar dan cepat mencapai otak dan jaringan terutama lemak. Diazepam juga dapat melewati plasenta dan terdapat dalam sirkulasi fetus. Ikatan protein benzodiazepine berhubungan dengan tingginya kelarutan lemak. Diazepam dengan kelarutan lemak yang tinggi memiliki ikatan dengan protein plasma yang kuat. Sehingga pada pasien dengan konsentrasi protein plasma yang rendah, seperti pada cirrhosis hepatis, akan meningkatkan efek samping dari diazepam. Jika dosis obat hipnotik dinaikkan maka akan menyebabkan efek anestesi. Urutan efek dari yang paling ringan hingga paing berat :Sedatif hipnotik anestesi koma kematian. Klorpromazin berefek antipsikosis terlepas dari efek sedatifnya. Reflek kondisi yang diajarkan pada hewan uji akan hilang oleh klorpromazin . Klorpromazin merupakan neuroleptika , senyawa ini mempunyai spektrum kerja yang amat luas, bekerja menekan SSP dan anti psikotik, disamping itu juga sebagai analgetik dengan memblok ganglion , klorpromazin tidak dapat mencegah timbulnya konfulsi akibat rangsang oleh obat . selain itu klorpromazin juga dapat menimbulkan relaksasi oto skelep yang berbeda dalam keadaan spesifik. Klorpromazin dapat meningkatkan kerja ADH, artinya obat-obat ini mensensitisasi ginjal terhadap ADH yang sebenarnya terlalu rendah untuk merangsang resopsi air. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya sintesis penghambatan prostaglandin di ginjal. Secara teoritis, fenobarbital mampu memberikan efek hipnotik yang lama dan yang paling tinggi dibanding kedua obat lainnya. Waktu paruh fenobarbital juga tergolong sangat lama sehingga pemakaian fenobarbital dapat menyebabkan akumulasi dalam plasma. Dalam percobaan, sebagai kontrol diberi perlakuan dengan pemberian NaCl 0,9%. Kontrol berfungsi sebagai pembanding dimana tanpa pemberian obat sedatif-hipnotik. Selain itu kondisi fisiologis hewan uji juga dapat mempenngaruhi efek sedasi-hipnotik yang diberikan. Untuk mencit yang tua, efek ini membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding dengan mencit yang masih muda. Keadaan teknik dalam praktikum juga mempengaruhi jumlah jatuh, seperti apakah volume yang diberikan benar-benar teapt sesuai dosis masing-masing mencit dan fisiologis dari hewan uji. Sedatif menyebabkan turunnya kewaspadaan hingga efek maksimalnyaadalah hipnotik ( hilangnya kesadaran ), sedangkan hipnotik dengan dosis yanglebih tinggi dapat menyebabkan efek anestesi ( mati rasa ), koma bahkan hinggakematian.Mencit diletakkan pada rotarod selama 5 menit. Hal ini bertujuan agar mencitterbiasa dengan rotarod. Sebelum diberikan banyaknya dosis,

dihitung terlebihdulu dosis individu untuk masing-masing mencit. Dosis pemberian ini beragamtergantung dengan kondisi fisiologis mencit. Pemberian dilakukan secara per-oralpada hewan uji. Dosis pemberian juga dapat berpengaruh pada efek farmakologisyang ditimbulkan. Semakin tinggi dosisnya maka semakin tinggi pula efek sedatif dan lamanya berefek.

BAB IV PENUTUP

KESIMPULAN 1. Sedatif adalah obat tidur yang dalam dosis rendah dari terapi yang diberikan pada siang hari untuk tujuan menenangkan. Sedatif termasuk kedalam kelompok psikolaptika yang mencakup obat-obat yang menekan atau menghambat enzim sistem saraf pusat. 2. Hipnotika atau obat tidur adalah zat-zat yang dalam dosis terapeutik diperuntukkan untuk mempermudah atau meyebebkan tidur. Hipnotika menimbulkan rasa kantuk, mempercepat tidur dan sepanjang malam mempertahankan keadaan tidur. 3. Phenobarbital 80 mg/kg BB perhitungannya 0,339 < 1 (menimbulkan efek sedatif) 4. Diazepam 20 mg/kg BB perhitungannya 1,419 > 1 ( menimbulkan efek hipnotika )

5. Klorpromazin 80 mg/kg BB perhitungannya 0,845 < 1 ( menimbulkan efek sedatif) 6. Fenobarbital termasuk golongan barbiturat. Barbiturat ini mempunyai efek hipnotik sedative dan golongan barbiturat efektif sebagai obat antikonvulsi.

SARAN Untuk peneliti berikutnya di sarankan agar dalam pembuatan makalah dengan judul yang sama semacam ini di haruskan lebih jelas dan lebih terperinci di bandingkan dengan makalah ini, karena penulis sadar jika makalah yang di buat jauh dari kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting . Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Staf pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Katzung, Bertram G. 1986. Farmakologi dasar dan klinik. Jakarta : Salemba Medika Anonim.1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta : Depkes RI. Goodman and Gilman. 2007. Dasar Farmakologi Terapi vol. 1 edisi 10. Jakarta: PT. Gramedia

Anonim. 1980. Farmakologi Dasar Dan Terapi Edisi II. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Anonim. 2005. Farmakologi Dasar Dan Terapi Edisi IV . Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Mary J Maycek, Richard A. Harvey. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta : Widya Medika

en.wikipedia.org\diazepam ( Juni 2013 ) en.wikipedia.org\phenobarbital (Juni 2013 ) en.wikipedia.org\klorpromazin (Juni 2013 ) http://www.Wikipedia.com http://www.PustakaOke.web.id http://nursidiqkr3nyahoocom.blogspot.com/2010/05/sedativa-dan-hipnotika-penenang.html