Anda di halaman 1dari 17

1

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Tanaman kangkung berasal dari daerah tropis, terutama di kalangan kawasan tropis, terutama kawasanan africa dan asia. Daerah penyebaran kangkung pada mulanya terpusat dibeberapa tempat, antara lain di Malaysia dan sebagian kecil di Australia. Dan perkembangan selanjutnya tanaman ini meluas cukup pesat di daerah Asia Tenggara.(Rukmana, 1994) Meskipun tanaman kangkung dikelompokkan sebagai kommoditas potensial dalam prioritas penelitian dan pengembangan di Puslitbang hortikultura pada periode tahun 1991- 1994 , namun ternyata pengembangannya di tingkat petani cukup pesat. Pada tahun 1991 tanaman kangkung telah dibudidayakan di 27 provinci di Indonesia. Berdasarkan data hasil survey pertanian (BPS, 1991), luas areal pertanaman kangkung nasional mencapai 22.969 hektar atau menempati urutan ke- 14 dari 18 jenis tanaman say prourankomersial yang dihasilkan diindonesia. Pada tahun tersebut tahun tersebut , produksi kangkung di Indonesia mencapai 81.497 ton atau rata- ratanya 35,47 kuintal/ha. (Siswadi, 200). Kangkung merupakan tanaman yang termaksuk dalam famili

Convolvulaceae, yang memiliki nama latin ipomea sp. Varietas yang banyak di lapangan seperti Bangkok LP1, serimpi dan large leaf. Kangkung berkembang dengan cara menjalar. Batangnya kecil, batangnya berlubang dan berbentuk bulat. (Tafajani, 2011)

Jenis kangkung air pada umumnya ditanam dalam skala kecil kecilan di lahan sawah yang kurang produktif, kolam-kolam, sungai atau rawa yang airnya tenang,dan tempat-tempat lainnya yang berair. Sedangkan jenis kangkung darat banyak ditanam di lahan pekarangan, diatas tumpukan-tumpukan sampah, dan sebagian kecil ditanam secara intensif di lahan-lahan kering. (Rukmana, 1994) Keduanya kangkung darat dan kangkung air memiliki bunga yang berwarna putih, pink, atau merah yang di keluar dari ruas ruas daun,.Struktur bunga yang mirip dengan bunga dari jenis ipoemca batata, dengan daun mahkota yang berdampingan berdiamter 5 cm (Tindall, 1983) Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah.(Lakitan, 1995) Produksi sayuran kangkung telah menjadi mata dagangan sehari- hari di berbagai tempat dengan tingkat harga yang dapat dijangkau oleh berbagai kalangan masyarakat. Meskipun harga sayuran kangkung relatif murah, namun bila dibudidayakan secara intensif dan berorientasi ke arah agribisnis akan memberikan keuntungan yang cukup besar bagi para petani. Kelebihan dari kangkung adalah karena tanaman ini memiliki daya penyesuaian (adaptasi) yang luas terhadap berbagai keadaaan lingkungan tumbuh. Di samping itu pemungutan hasil (panen) dapat dilakukan secara rutin (periodik) setiap hari sekali, sehingga dengan pemasukan uang dari hasil panen yang kontinu ini dapat memperkuat posisi petani dalam memenuhi kewajiban finansialnya sehari hari (likuiditas makin kuat). (Setiawan, 1995)

Bagian tanaman kangkung yang paling penting adalah batang muda dan pucuk- pucuknya sebagai bahan sayur-mayur. Berbagai jenis masakan yang dapat diolah dari bahan baku kangkung adalah pencapuran lotek, sayur tumis, pecel, lalap ri masak, oseng- oseng, setup, pelencing kangkung, sayur bening, cah, dan saur modomoro. Kegunaan sayuran kangkung selain sebagai sumber vitamin A dan mineral serta unsur gizi lainnya yang berguna bagi tubuh, juga dapat berfungsi untuk menenangkan syaraf atau berkhasiat sebagai obat tidur. Disamping tanaman kangkung juga mujarab untuk dijadikan bahan obat tradisional. (Rukmana,1994) Komposisi dari kangkung segar adalah: air 83%, energy 53 cal, protein 6,0 g, lemak 0,8 g, carbohidrat 9,0 g, calcium 249 mg, posfor 93 mg, besi 2,7 mg, natrium 75 mg, kalium 378 mg (Semangun, 2007). Tanaman kangkung merupakan tanaman yang bagus di tanam pada musim dingin, dengan jenis tanaman tahunan, yang dimanfaatkan adalah daunnya, dengan penanaman yang sederhana dengan bentuk merumpun 3- 4,5 m baris, dengan jarak tanam 25 cm, dan jarak diantara barisan 0,6 m ( Williams dan Rice, 1986)

1.2 Tujuan penulisan Tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai berikut: Agar mahasiswa mengetahui botani tanaman kangkung Agar mahasiswa mengetahui bagaimana cara dan teknik budidaya tanaman kangkung Agar mahasiswa mengetahui pemeliharaan terhadap tanaman kangkung

1.3 Kegunaan penulisan Kegunaan dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk mengikuti praktikal test di Laboratorium Dasar Agronomi Fakultas pertanian Universitas Sumatera Utara.

II.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Botani tanaman Menurut Rukmana (1994) kedudukan tanaman kangkung dalam tatanama tumbuhan diklasifikasikan kedalam: Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Solanales : Convolvulaceae (suku kangkung-kangkungan) : Ipomoea : Ipomoea reptans poir (kangkung darat)

2.2 Morfologi tanaman kangkung Menurut Lakitan (1995) kangkung merupakan tanaman menetap yang dapat tumbuh lebih dari satu tahun. Batang tanaman kangkung berbentuk bulat panjang, berbuku-buku, banyak mengandung air, dan berlubang-lubang. Batang tanaman kangkung merambat atau menjalar dan percabangannya banyak.

Menurut Tindall (1983), daun kangkung dengan bentuknya yang sempit, oval membujur keseluruhannya dengan ujung daun yang runcing. Tanaman kangkung memiliki sistem perakaran tunggang dan cabang cabang akarnya menyebar keseluruh arah, dapat menembus tanah sampai kedalaman 60-100 cm, dan melebar secara mendatar pada radius, 100-150 cm atau lebih, terutama pada jenis kangkung air.(Lakitan,1995) Tangkai daun melekat pada buku-buku batang dan diketiak daunnya ada mata tunas yang dapat tumbuh menjadi percabangan baru. Bentuk daun umumnya berbentuk jatung hati, ujung daun runcing ataupun tumpul, permukaan daun sebelah atas hiaju-tua dan yang sebelah bawah hijau-muda.(Rukmana,1994) Selama fase pertumbuhannya, tanaman kangkung dapat berbunga, berbuah dan berbiji, terutama jenis kangkung darat. Bentuk bunga seperti terompet, dan daun mahkota bunga berwarna putih atau merah lembayung. Buah kangkung berbentuk bulat-telur yang didalamnya berisi tiga butir biji. Bentuk biji kangkung bersegi-segi dan agak bula, berwarna coklat atau kehitam-hitaman. Pada jenis kangkung darat, biji kangkung berfungsi sebagai alat perbanyakan tanaman secara generatif.(Lakitan,1995) 2.3 Varietas tanaman kangkung Menurut Rukmana (1994:18) jenis kangkung yang sudah umum dibudidayakan terdiri dari dua macam, yaitu 1. Kangkung air (Ipomea aquatica Forsk)

Memiliki ciri-ciri bentuk daun panjang dengan ujung agak tumpul, berwarna hijau-kelam, dan bunganya berwarna putih ekuning-kuningan atau kemerah-merahan. 2. Kangkung darat (Ipomea reptans Poir) memiliki ciri-ciri bentuk daun panjang denganujung runcing, berwarna keputih-putihan dan bunganya berwarna putih. 2.4 Syarat tunbuh Sumber daya alam dan ekosistem di wilayah indonesia sangat bervariasi, terutama jumlah kondisi jumlah curah hujan dan temperatur udara. Kangkung mempunyai daya adaptasi yang cukup luas terhadap kondisi iklim dan tanah di daerah tropis, sehingga dapat ditanam di berbagai daerah atau wilayah indonesia. (Setiawan, 1995) Menurut Rukmana (1994) persyaratan tumbuh yang harus diperhatikan dalam perencanaan budidaya kangkung adalah sebagai berikut: Syarat iklim Kangkung dapat tumbuh dan bereproduksi dengan baik didataran tinggi 2000 m dpl, dan diutamakan lokasi lahannya terbuka /mendapat sinar matahari yang cukup. Ditempat yang terlindung, tanaman kangkung akan tumbuh panjang panjang namun kurus-kurus.

Syarat tanah Persyaratan tanah yang paling ideal untuk tanaman kangkung sanagat tergantung dari varietasnya, yakni Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik dan tidak mudah menggenang/becek. Pada tanah yang becek akar dan batang tanaman kangkung darat akan mudah membusuk dan mati. 2..5 Pengolahan tanah Persiapan lahan di lapangan dilakukan sebelum tanaman dipindahkan dari persemaian, Mula mula Tanah tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam kurang lebih 30 cm dan digemburkan segembur mungkin.Kemudian tanah ini diistirahatkan selama 3 atau 4 hari untuk memperbaiki keadaan tata udara atau aerasi (Setiawan, 1995). Tanah yang sudah diistirahatkan selama 3 atau 4 hari diberikan kapur.Tujuan pengapuran adalah menekan pH tanah yang bereaksi masam menjadi netral (sekitar 6,5).Juga memperbaiki struktur tanah menjadi lebih baik dan mikroorganisme dalam tanah menjadi lebih giat sehingga pelapukan bahan organic menjadi lebih cepat.Dan kadar zat- zat yang bersifat meracuni tanah menurun dengan tidak membuang unsure penting lain (Tindall, 1983) 2.6 Pemeliharaan Pengairan Pada kangkung darat pengairan harus diperhatikan. Bila lahan kekurangan air hujan maka kita harus melakukan penyiraman apabila

sumber air memungkinkan, sebaiknya lahan di genangi air selama beberapa waktu. Hal ini baik untuk peningkatan produksi. Selain itu juga harus dilakukan penyiangan rumput yang mengganggu

pertanaman(Nazaruddin, 2000). Penyulaman Penyulaman segera dilakukan bila ternyata ada tanaman yang mati. Untuk keperluan penyulaman, sebaiknya disediakan bibit khusus yang di tanam di pinggiran sebanyak sekita 10% dari jumlah benih yang di tanam. Dengan demikian penyulaman tidak menurunkan hasil panen. (Semangun, 2007) Penyiangan Rumput- rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman kangkung menjadi pesaing terhadap air, cahaya matahari, dan unsur hara.Disamping itu, gulma seringkali menjadi sarang hama yang dapat mengancam tanaman kangkung.Oleh karena itu, rumput- rumput liar harus disiangi (Nazzaruddin, 2000) Pemupukan Pemupukan susulan berikutnya dapat dilakukan setiap selesai panen. Terutama pupuk Nitrogen. Hasil penelitian Zainal Abidin, dkk (1990) bahwa pemberian pupk Nitrogen secara sekaligus pada umur satu minggu setelah tanam dapat meningkatkan hasil untuk panen pertama.

10

( Rukmana, 1994) Menurut Setiawan (1995) pemberian pupuk dilakukan setelah tanaman berumur sekitar 10 hari setelah tanam. Jenis pupuk yang diberikan terutama pupuk nitrogen untuk pertumbuhan tanaman kangkung 2.7 OPT Jenis hama yang menyerang tanaman kangkung salah satunya walang sangit dari ordo Hemiptera dengan gejala daun kangkung muda bintik- bintik hitam atau kecoklatan. (Rukmana dan Sugandi, 1997) 2.8 Panen dan Pasca panen Panen Ciri tanaman kangkung yang siap panen jika yang diambil adalah benihnya, kulit buah berwarna putih kotor dan ujungnya kuning. Panen kangkung bias dilakukan bersama dengan buahnya( Sumpena, 2005). Panen pertama kangkung dapat dilakukan 2- 3 bulan setelah tanam. Panen perdana ini selain bertujuan untuk mendapakan hasil bahan sayur daun, juga berfungsi untuk merangsang pertumbuhan vegetative pucuk- pucuk berikutnya yang lebih banyak. Ciri tanaman kangkung yang siap panen adalah pertumbuhan tunas- tunasnya telah memanjang sekitar 20- 25 cm dan ukuran daun- daunnya cukup besar (normal) (Rukmana,1994) Pasca panen

11

Pasca panen kangkung meliputi pengumpulan, pencucian, sortasi dan seleksi ,pengikatan dan pengemasan serta penyimpanan( AAK, 1993)

III. ALAT, BAHAN DAN METODE


3.1 Alat Adapun alat yang digunakan selama praktikum bertanam kangkung laboratorium Dasar Agronomi Fakultas Pertanian USU yaitu: 1. Cangkul 2. Gembor 3. Pisau 4. Gunting 5. Alat tulis 6. Topi caping 7. kamera 3.2 Bahan Adapun bahan yang dipakai selama praktikum yaitu: 1. Benih kangkung 2. Tanah seluas 4 m2 3. Pupuk Urea, TSP dan KCL masing- masing 20 g

12

4. Air 5. Tali plastik 6. Kompos 7. Pacak 8. Kertas 9. Buku data

3.3 Metode Pelaksanaan 1. Ukurlah lahan yang ingin di olah , dalam hal ini seluas 2 m 2 untuk sawi 1 x 1m 2. Diawali dengan pengolahan tanah dan pembersihan lahan dari gulma. 3. Olah tanah dengan kedalaman lebih kurang 30 cm, dengan parit irigasi dalamnya 30 cm. 4. Diamkan selama 3- 4 hari, kemudian diberikan kapur dengan jenis dolomite sebanya 500 g. 5. Setelah di beri kapur tanah didiamkan selama 1- 2 minggu. 6. Menanam benih kangkung 7. Buat lubang tanam 2- 3 cm dengan jarak 10 cm x 10 cm 8. Masukkan 2 benih kangkung perlubang tanam

13

9. Tutup kembali dengan tanah dan pupuk kompos 10. Siran dengan air secukupnya 11. Letakkan pupuk Urea, dan campuran TSP KCl di setiap larikan dengan system bergantian antara Urea dan pupuk campuran 12. Kemdian lakukan pemeliharaan seperti tersebut di atas.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.2 Pembahasan

14

V. KESIMPULAN

15

VI. DAFTAR PUSTAKA


1. Lakitan, Benyamin, 1995, HOLTIKULTURA Teori budidaya dan pasca panen, PT Raja Grafindo Persada: Jakarta 2. Rukmana, Rahmat, 1994, Bertanam kangkung, Kanisius: Jogjakarta 3. Sumpena, Uum, 2005, Benih Sayuran, Penebar Swadaya: Jakarta 4. Nazaruddin,2000, Budi Daya Dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah, Penebar Swadaya: Jakarta

16

5. Rukmana, R, dan U,Sugandi, 1997, Hama tanaman dan teknik pengendalian, Kanisius:Jogjakarta 6. Tafajani, D.S, 2011, Panduan komplit bertanam sayur dan buah-buahan, Cahaya Atma, Yogjakarta 7. Williams, L and R.Rice, 1986, PRACTICAL HOLTIKULTURE, Englewood Cliffs: New Jersey 8. Tindall, H, D, 1983, VEGETABLES IN THE TROPICS, The Macmillan Press: London 9. Setiawan, A. I, 1995, SAYURAN DATARAN TINGGI, Penebar swadaya: Jakarta 10. Siswadi, 2006, Budidaya Tanaman Sayur, PT CITRA AJI PRATAMA: Yogjakarta 11. Semangun, H, 2007, Penyakit penyakit tanaman holtikultura di Indonesia, UGM PRESS: Yogjakarta 12. AAK, 1993, PETUNJUK PRAKTIS BERTANAM SAYURAN, KANISIUS: Jogjakarta

17

VII. LAMPIRAN