Anda di halaman 1dari 134

SEBERAPA BESAR IBADAH

DAPAT MENCEGAH KITA DARI


PENYAKIT PSIKIS ……?
MENGAPA STRESS DAPAT
MENYEBABKAN PENYAKIT
FISIK DAN PSIKIS

by Dr liza 140 366 660


HUBUNGAN MOTIVASI BERIBADAH DAN
KEKEBALAN STRESS DENGAN
PENCEGAHAN GANGGUAN
PSIKOSOMATIK
(Studi Kasus pada Puskesmas Astapada
Kabupaten Cirebon tahun 2008)

dr liza Mpd.i
140 366 660
DINAS KESEHATAN KABUPATEN
CIREBON
INDONESIA
HUBUNGAN MOTIVASI BERIBADAH
DAN KEKEBALAN STRESS DENGAN
PENCEGAHAN GANGGUAN
PSIKOSOMATIK
(Studi Kasus pada Puskesmas Astapada
Kabupaten Cirebon tahun 2008)

dr liza Mpd.i
140 366 660
DINAS KESEHATAN KABUPATEN CIREBON
INDONESIA
Variabel Penelitian
 X1 : Motivasi Ibadah , X2: KEKEBALAN STRESS,
Y : PENCEGAHAN GANGGUAN PSIKOSOMATIK
 MOTIVASI IBADAH :adalah dorongan seseorang untuk berbakti kepada
Allah untuk mencapai tujuan hidupnya, yang ditunjukan dengan hati dan
prilaku yang baik yaitu untuk mendapat ridho Allah:’Sesungguhnya Shalat,
ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam ” (al-
An’amm:162).
 Kekebalan Stress adalah tingkat kekebalan stress seseorang yang diukur
dengan sebuah skala yaitu skala Smith dan Miller pada penelitian ini penulis
memodifikasi skala ini dalam bentuk yang lebih sederhana , bila kekebalan
terhadap stress baik ,berarti seseorang telah mempunyai pola hidup yang
baik, maka kekebalannya terhadap stressnya pun menjadi meningkat,
sehingga seseorangpun tercegah dari gangguan fisik dan mental akibat
stresor psikososial.
 Gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit dengan gejala-
gejala yang menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang
erat antara suatu peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-
gejala tersebut
TUJUAN PENELITIAN
 Hasil penelitian ini bertujuan menjadi hubungan sejauh mana
motivasi ibadah, dan kekebalan stress dapat mencegah
seseorang dari gangguan psikosomatik.Dengan pendekatan
kuantitatif empirik dengan metode survey, purposive sampling,
terhadap 200 responden yang datang ke Puskesmas Astapada.
Menggunakan kuesioner berskala likert melalui wawancara,
kuesioner. Kemudian Dicari hubungan korelasi antara variabel-
variabel yang ada. Variabel independen satu (X1 ) adalah
motivasi ibadah, variabel independen dua (X2), kekebalan
stress, dan variabel dependen (Y) adalah pencegahan
Psikosomatik.
Hasil Penelitian
 Hasil penelitian menunjukan terdapatnya hubungan yang positif kuat
dan signifikan antara motivasi ibadah dengan pencegahan gangguan
psikosomarik sebesar 0,763 atau 76,3 % .Terdapatnya hubungan
positif sedang antara kekebalan stress dengan pencegahan gangguan
psikosomatik sebesar 0,347 atau 34,7 %. Terdapat hubungan positif
yang kuat 0,778 atau 77,8 % secara bersama-sama antara motivasi
ibadah, kekebalan stress terhadap pencegahan gangguan
psikosomatik. Sehingga motivasi ibadah yang tinggi dan peningkatan
kekebalan stress yang dilakukan secara simultan akan meningkatkan
pencegahan gangguan psikosomatik secara kuat.
 ABSTRACT
 THE CORRELATION BETWEEN RELIGIOUS
MOTIVATION AND IMUNITY OF STRESS TO
PREVENT PSYCOSOMATIC PROBLEMS
(STUDY CASE AT PUSKESMAS ASTAPADA
CIREBON INDONESIA)
 Motivation religious are the motif for devote Allah to reach
the goal of life. Which is prove by good mind and good
attitude to get Allah ridho “ Say Verily , my salat (prayer), my
sacrifice, my living, and my dying are for Allah, the lord of the
alamin (mankind, jinn and all that exists) Al-An’am 162.
 Imunity of stress is the scale to measure the quality of life ,
this scale adapted from The scale of Smith and Miller. The
better imunity of stress will increase the prevention from all
kind diseases.
 Psycosomatic problem is Mentally induced: describes a
physical illness that is caused by mental factors such as
stress, or the effects related to such illnesses.
 This research is empiric quantitative approach in survey
method , with sampling purposive include 200 respondence
as a patients at Puskesmas Astapada during December
2007. Using interview and questioners with likert scale.
 The result of the research show that there are high positive
significant correlation between motivation religious to
prevention psychosomatic problems equal 76,3 % , middle
positive significant correlation between immunity of stress
with prevention of psychosomatic problem equal 34.7% and
strong positive correlation 77,8 % simultaneous between
motivation religious and immunity of stress to prevention the
cause of psychosomatic problems.
Kerangka Berfikir
a

Motivasi ibadah

Pencegahan
gangguan psikosomatik

Kekebalan stress
a : faktor lain yang tidak diteliti
 Aspek /Gangguan Kepribadian

 Tingkat kognitif seseorang

dalam menghadapi stress


 Kebiasaan budaya setempat dan

Kehidupan masa kecil


 Penyesuaian diri dalam tahun

terakhir
Hipotesis Penelitian

Hipotesis Mayor
Ada pengaruh positif antara motivasi beribadah, dan
kekebalan stress terhadap Pencegahan gangguan
psikosomatis
Hipotesis Minor
4. Adanya pengaruh positif motivasi beribadah terhadap
pencegahan gangguan Psikosomatik
2. Adanya pengaruh positif kekebalan stress terhadap
pencegahan gangguan Psikosomatik.
TEORITIS
Kesehatan Jiwa
 Menurut UU No.23 tahun 1992, Ps 24, 25, 26 dan 27,
Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi mental sejahtera
yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif
sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang,
dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia
dengan ciri menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya,
mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar,
mampu kerja produktif dan memenuhi kebutuhan
hidupnya, dapat berperan serta dalam lingkungan hidup,
menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya,
merasa nyaman bersama dengan orang lain.
Motivasi ibadah
 Motivasi adalah kecenderungan yang timbul
pada seseorang sesuatu aksi atau tindakan
dengan tujuan tertentu yang dikehendakinya,
motivasi terdiri dari motivasi intrinsik dan
ekstrinsik.
 Ibadah Menurut Kamus Indonesia adalah
amalan yang diniatkan untuk berbakti kepada
Allah SWT, dengan menjauhi larangan-Nya dan
melaksanakan perintah-Nya, yang
pelaksanaanya diatur, secara syariah.
 Menurut Einstein, ”ilmu pengetahuan hanya dapat
diciptakan oleh mereka yang dipenuhi dengan gairah untuk
mencapai kebenaran dan pemahaman, tetapi sumber
perasaan itu berasal dari tataran agama, termasuk
didalamnya keimanan pada kemungkinan bahwa semua
peraturan yang berlaku pada dunia wujud itu bersifat
rasional, artinya dapat dipahami akal. Saya tidak dapat
membayangkan ada ilmuwan sejati yang tidak mempunyai
keimanan yang mendalam seperti itu, ilmu pengetahuan
tanpa agama lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan buta.
Motivasi ibadah
 Motivasi Ibadah adalah dorongan seseorang
untuk berbakti kepada Allah untuk mencapai
tujuan hidupnya, yang ditunjukan dengan
sikap dan perilaku yang baik yaitu untuk
mendapat ridho Allah:’Sesungguhnya Shalat,
ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan semesta alam ” (al-
An’amm:162)
PENGELOLAAN STRESS

Menurut Dadang Hawari Ada beberapa pengelolaan


terhadap stress, yaitu :
1. Olah raga.
2. Rekreasi
3. Kasih sayang
4. Sosial ekonomi
5. Menghindari Rokok
6. Pergaulan/Silaturahmi
7. Tidur yang cukup
8. Makanan yang seimbang dan teratur
10. Pengelolaan waktu yang baik
11. 10. Agama yang dijalankan dengan ketaatan
GANGGUAN PSIKOSOMATIK
 Gangguan psikosomatik adalah gangguan
atau penyakit dengan gejala-gejala yang
menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya
hubungan yang erat antara suatu peristiwa
psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-
gejala tersebut (IPD Mudjaddid, Shatri: 684).
SEHAT
 seorang yang disebut sehat, tidak hanya
sehat fisik, dan mental saja tapi dia harus
mampu menjalin hubungan vertikal secara
spiritual kepada Tuhan dan hubungan
horizontal terhadap sesamanya. Mempunyai
kecerdasan inteligensia (IQ), kecerdasan
emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual
(SQ).
KECERDASAN EMOSIONAL
 kecerdasan emosional menurut Daniel goleman
(1997), meliputi :
 Mengenali emosi diri
 Mengelola emosi
 Memotivasi diri sendiri
 Mengenali emosi orang lain
 Membina hubungan
 Danah Zohar menyebutkan tanda-tanda
seseorang yang memiliki kapasitas SQ yang
KECERDASAN SPIRITUAL
Danah Zohar
menyebutkan tanda-tanda seseorang yang memiliki kapasitas SQ yang
berkembang sebagai berikut :
 Kemampuan bersikap adaptif secara spontan dan aktif
 Mempunyai tingkat kesadaran diri yang tinggi.
 Mempunyai kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit.
 Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan.
 Mempunyai kualitas hidup yang dilhami oleh visi dan nilai-nilai.
 Mempunyai kecenderungan untuk melihat sesuatu secara holistik.
 Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.
 Kecenderungan nyata untuk bertanya "Mengapa?" dan "Bagaimana?"
 untuk mencari jawaban yang mendasar.
 Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai "bidang mandiri" /
 field independent.
STRESS
 Hans Selye, seorang ahli fisiologi dari
Universitas Montreal merumuskan bahwa
stress adalah tanggapan tubuh yang sifatnya
nonspesifik terhadap aksi tuntutan atasnya.
Sehingga tubuh bereaksi secara emosi dan
fisis untuk mempertahankan kondisi fisis
yang optimal reaksi ini disebut General
adaptation syndrome (GAS) 1936.
Respon tubuh terhadap STRESS tersebut yang disebut GAS
terdiri dari 3 fase yaitu:

a. Waspada, (alarm reaction/reaksi peringatan


Respons Fight or flight (respons tahap awal) Tubuh kita bila
bereaksi terhadap stress, stress akan mengaktifkan sistem
syaraf simpatis dan sistem hormon tubuh kita seperti
kotekolamin, epinefrin, norepinefrine, glukokortikoid,
kortisol dan kortison.
b.The Stage of resistance (Reaksi pertahanan) Reaksi
terhadap stressor sudah melampaui batas kemampuan
tubuh, timbul gejala psikis dan somatik.
c. Tahap kelelahan
 Pada fase ini gejala akan terlihat jelas. Karena
terjadi perpanjangan tahap awal stress yang
telah terbiasa, energi penyesuaian sudah
terkuras, individu tidak dapat lagi mengambil
dari berbagai sumber untuk penyesuaian,
timbullah gejala penyesuaian seperti sakit
kepala, gangguan mental, penyakit arteri
koroner, hipertensi, dispepsia (keluhan pada
gastrointestinal), depresi, ansietas, frigiditas,
impotensia.
Respon flight and fight
Hipotalamus merangsang hipofisis, kemudian hipofisis akan
merangsang saraf simpatis yang mempersarafi:
 Medula adrenal -norepinefrin dan epinefrin;
 Mata - dilatasi pupil;
 Kelenjar air mata - peningkatan sekresi;
 Sistem pernafasan - dilatasi bronkiolus, - pernafasan meningkat
 Sistem Kardiovaskular (jantung), peningkatan kekuatan
kontraksi jantung, peningkatan frekwensi denyut jantung,
tekanan darah yang meningkat;
 Sistem Gastrointestinal (lambung dan usus), motilitas lambung
dan usus yang berkurang, kotraksi sfingter yang menurun;
 Hati, peningkatan pemecahan cadangan karbohidrat dalam
bentuk glikogen (glikogenolisis) dan peningkatan kerja
glukoneogenesis, penurunan sintesa glikogen. Sehingga gula
darah akan meningkat di dalam darah;
 Sistem Kemih terjadi peningkatan motilitas ureter, kontraksi otot
kandung kemih, relaksasi sfingter;
 Kelenjar keringat, peningkatan sekresi;
 Sel lemak, terjadi pemecahan cadangan lemak (lipolisis);
AMBANG FRUSTASI
 Menurut Maramis bila kita tidak dapat mengatasinya
stress dengan baik, maka akan muncul gangguan
badan atau gangguan jiwa. Sumber stress psikologik
adalah masalah penyesuaian atau keadaan stress
yang dapat bersumber pada frustasi, konflik, tekanan
atau krisis. Dalam stress ada yang disebut daya
tahan stress atau disebut juga nilai ambang frustasi
(stress/frustation tolerance, ”frustratic drempel), yang
pada setiap orang berbeda-beda tergantung somato-
psiko-sosial orang tersebut. (Maramis, 1980:65)
Reaksi-reaksi Frustasi yang Sifatnya Positif
 Mobilitas dan peningkatan aktifitas, STRESS : memperbesar
keuletannya, kerja kerasnya, keberaniannya, tekatnya untuk
menyelesaikan masalahnya.
 Berfikir mendalam dengan kejernihaN : membuka wawasan realitas,
dengan berfikir lebih obyektif, mencari alternatif jalan keluar yang lebih
baik.
 Regignation ( kapasrahan kepada Allah) : Menerima situasi yang ada
dengan nalar dan rasional. Dengan tawakal kepada Allah, dan iktiar, tapi
tetap berpegang pada kekuasaan Allah dalam menyikapi rintangan
 Dapat fleksibel sesuai kebutuhan : dapat mengikuti perkembangan yang
ada yang lebih sesuai dengan tata kehidupan yang baru dan lebih
dinamis.
 Kompensasi dari tujuan : Kompensasi adalah usaha untuk mengimbangi
kegagalan dan kekalahan dalam satu bidang tapi sukses dalam bidang
yang lain, sebagai jalan menghidupkan stimulus dalam diri dan pantang
menyerah
 Sublimasi : Yaitu usaha untuk mengganti kecenderungan egoistic, nafsu
seks tidak sehat dalam bentuk tingkah laku terpuji yang bisa diterima
masyarakat, misalnya disalurkan hasrat sexual ke bidang olah raga, seni
dan lain-lain.
Reaksi-reaksi Frustasi yang sifatnya
Negatif
 Agresi: yaitu kemarahan yang luar biasa, sehingga sampai penyerangan
terhadap orang lain, baik dgn senjata tajam, pembunuhan.
 Regresi: yaitu kembalinya seseorang pada pola tingkah laku kekanak-
kanakan, seperti mengompol, mengisap tangan, membanting barang,
menangis sambil meraung-raung, histeris. Tingkah laku diatas ekspresi
dari putus asa, mental yang lemah, ekspersi rasa menyerah kalah.
 Fixatie: adalah reaksi frustasi dengan melakukan suatu tingkah laku
stereotipi memakai pola yang sama, misalnya menyelesaikan kesulitan
dengan membentur-bentukan kepala, berlari-lari histeris, menggedor-
gedor pintu. Dilakukan sebagai alat pencapaian tujuan, menyalurkan balas
dendam.
 Pendesakan dan komplek terdesak
Usaha menekan kebutuhan, pikiran yang jahat, nafsu,
perasaan negatif, karena ditekan sehingga secara tidak sadar
muncul mimpi-mimpi yang menakutkan, halusinasi, delusi, ilusi,
salah baca, dan lain-lain
 Rasionalisme yaitu usaha pembenaran diri secara tidak wajar.
 Proyeksi adalah usaha memproyeksikan sikap dirinya yang
negatif pada orang lain.
 Identifikasi adalah usaha menyamakan diri dengan orang lain,
tujuannya untuk memberikan keputusan yang semu pada
dirinya sendiri.
 Narsisme adalah perasaan cinta diri sendiri yang patologis dan
berlebihan, cenderung egoistis dan tidak perduli dengan dunia
luar, merasa paling superior, paling penting.
 Autisme adalah gejala menutup diri secara total dari dunia
diluar dirinya yang nyata, tidak mau berkomunikasi dengan
dunia lain, merasa dunia luar itu kotor, penuh kepalsuan,
sehingga lama-lama konflik batin yang menumpul
mengdesintegrasi kepribadian individu tersebut.
 Tehnik jeruk manis yaitu memberi alasan yang baik terhadap
kegagalan, kelemahan dirinya. Misalnya seorang panglima
perang mengatakan mundur dari medan perang bukan
sebagai kekalahan tapi sebagai taktik international.
 Tehnik Anggur Asam, Usaha memberikan alasan yang
negatif pada kegagalannya, seperti gagal ujian karena tidak
sesuai dengan bahan yang diberikan.
Gangguan psikosomatik
 Gangguan psikosomatik adalah gangguan atau penyakit
dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisis dan
diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu peristiwa
psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut
(IPD Mudjaddid, Shatri, 684).
 Gangguan psikosomatik tidak terlepas dari berbagai
stresor psikososial dimana setiap keadaan atau peristiwa yang
menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang,
sehingga ia harus menyesuaikan diri menanggulangi segala
perubahan yang timbul, dan jenis-jenis stresor yang timbul
misalnya: (1) stresor sosial seperti masalah pekerjaan,
masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah keluarga,
hubungan interpersonal, perkembangan, penyakit fisik,
masalah kekerasan rumah tangga; (2) stresor psikis seperti
perasaan rendah diri, frustasi., malu, merasa berdosa; (3)
stresor fisis (panas, dingin, bising, bau yang menyengat,
banjir) dan lain-lain.
 Keluhan Psikosomatik yaitu keluhan fisik atau jasmani yang
diduga berkaitan erat dengan masalah kejiwaan (mental
emosional). Contoh: berdebar-debar, tekuk pegal, tekanan
darah tinggi (gejala kardiovaskular); ulu hati perih, kembung,
gangguan pencernaan (gejala gastrointertinal); sesak nafas,
mengik (gejala respiratorius), gatal, eksim (gejala dematologi);
encok, pegal, kejang, sakit kepala (gejala muskuloskeletal);
gangguan haid, keringat dingin disertai berdebar-debar (gejala
hormonal-endokrin).(Yulizar dkk, 2004:21)
Gangguan-gangguan Psikosomatik
 1. Dispepsia Fungsional
menurut lagarde dan spiro (1984) adalah keluhan tidak enak
diperut bagian atas yang bersifat intermitten, sedang pada
pemeriksaan tidak ada kelainan organik. Patofisiologi
rangsangan psikis terhadap asam lambung dipengaruhi oleh
syaraf otonom cara dengan jalur syaraf, konflik emosi
mempengaruhi kerja hipotalamus anterior nukleus vagus
nervus vagus lambung. Jalur kedua, dari hipotalamus
anterior, kemudian keluar kortikotropin  merangsang korteks
adrenalasam lambung.
2. Hipertensi esensial, diagnosa ini ditegakkan karena
hingga kini belum ditemukan penyebab, morfologis,
kimiawi atau diagnosa klinis yang membuktikannya,
sehingga untuk menetapkan diagnosa nya harus
disisihkan penyebab adanya gangguan ginjal,
hormonal, jantung, dan syaraf.

Hipotesa Groen bahwa pasien hipertensi sebagian besar


memiliki kepribadian obsesi kompulsif dengan
predisposisi emosi yang tinggi. Kebutuhan cinta yang
besar, kebutuhan kekuasaan . membuat mereka tidak
mudah melupakan dan memecahkan konflik dan
penyesuaian diri terhadap tekanan dan perubahan
keadaan
3. Depresi
merupakan gangguan afektif yang ditandai dengan adanya mood
depresi (sedih). Hilang minat dan mudah lelah. Pada umumnya
pasien datang ke klinik penyakit dalam dengan keluhan somatik,
(PABDI,2006: 269)
Gejala A : - Perasaan sedih , tidak bisa menikmati hidup
- Kurang atau tidak ada perhatian pada lingkungan
- Mudah lelah
Gejala B :- Konsentrasi dan perhatian yang kurang
- Harga diri dan kepercayaan diri yang kurang
- Perasaan bersalah tidak berguna
- Pandangan masa depan suram/pesimis
- Tidur terganggu
- Nafsu makan kurang/bertambah

Diagnosa ditegakkan
apabila ada gejala-gejala tersebut dengan atau tanpa gejala somatik,
Derajat :
1. Ringan : 2 gejala A dan 2 gejala B
2. Sedang : 2 gejala A dan 3 gejala B
3. Berat : 3 gejala A dan 4 gejala B
4. Ansietas merupakan kecemasan yang berlebihan dan lebih bersifat
subyektif. Pada umumnya pasien datang ke poliklinik dengan keluhan
somatik, dengan gejala cemas berlebihan(PABDI , 2006: 275) diagnosa:
a. Perasaan cemas berlebihan, subyektif , tidak realistis
b. Terdapat Keluhan dan gejala sebagai berikut:
Ketegangan motorik : kedutan otot, kaku, pegal, sakit dada, sakit ,
persendian.
Hiperaktif otonom : sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah,
mulut kering, rasa mual, mules , diare
Bila ditemukan adanya kelainan organis pada umumnya keluhan tidak
sebanding dengan kelainan organ yang ditemukan
Kewaspadaan berlebihan dan daya tangkap berkurang : mudah terkejut,
cepat tersinggung, sulit konsentrasi, sukar hidup, dan lain-lain
c. Aktifitas sehari-hari terganggu: kemampuan kerja menurun ,hubungan
sosial yang terganggu, dan kurang merawat diri.
5.Nyeri Psikogenik adalah keluhan nyeri yang penyebabnya
bukan penyebab penyakit organik ditemukan gejala nyeri
tampa kelainan organ yang jelas misalnya nyeri kepala,
migren, mialgia, atralgia, kolik abdomen, ada stresor
psikososial. Disertai dengan gejala depresi dan ansietas.
6. Chronic Fatique Syndrome
 Sindrom lelah kronik adalah rasa lelah yang berlangsung
lama dan tidak hilang dengan istirahat tanpa penyebab
organik yang jelas.
 Mempunyai gejala utama adanya rasa lelah
berkepanjangan yang terus menerus berkepanjangan,
dan bertambah bila melakukan aktivitas atau saat stress
emosional dan tidak pulih sepenuhnya dengan istirahat.
Mempunyai gejala tambahan yang dapat disertai seperti
mialgia, sefalgia, nyeri sendi, nyeri tenggorokan, demam,
limfadenopati terutama bagai leher atau aksila, juga
terdapat gejala-gejala neuropsikologis seperti depresi,
kecemasan, insomnia. Gejala terutama dalam 6 bulan
atau disertai minimal empat gejala tambahan, dan tidak
didapatkan penyakit kronis lainnya.(E.Mudjaddin, 196)
7. Penyakit Jantung Fungsional (neurosis kardiak)
 Penyakit dengan keluhan seperti penyakit jantung, tanpa
disertai kelainan organik, Dengan keluhan adanya sakit dada
yang tidak khas, sesak nafas, dapat menyerupai angina
pektoris, berdebar, rasa jantung seakan berhenti, rasa ingin
mati, mudah terkejut, adanya cemas yang berlebihan,
biasanya timbul sudah serin sebelum pasien datang kerumah
sakit. Stresor pencetusmya jelas kecuali ansietas panik, pada
pemeriksaan tidak didapat kelainan yang spesifik, dapat
dijumpai adanya takikardia, aritmia, kadang-kadang prolaps
katup mitral, pada EKG didapat elevasi/depresi segmet
ST.(Hamzah Shatri, IPD. 2000:194)
8.Sindrom Hiperventilasi
 Dengan keluhan sesak nafas yang tidak khas,
merasa kekurangan udara sehingga harus
menarik nafas panjang, sering disertai adanya
takipnea, dan rasa sempit didada, kadang
disertai adanya keluhan pada jantung ,
parestesi. Badan terasa enteng, gejala fisik
yang lain tidak khas, adanya gangguan
emosional terutama rasa takut, stresor
psikososial.(Hamzah Shatri,IPD. 2000:195)
9. Sindrom Kolon Iritabel
 Adalah sakit perut disertai gangguan buang air besar
tanpa dijumpai kelainan organik. Ditandai dengan rasa
nyeri/tidak enak, diperut disertai diare atau konstipasi ,
perut kembung, yang tampak dengan jelas, rasa nyeri
diperut hilang setelah buang air besar, keluhan psikis
menonjol seperti gejala ansietas atau depresi, feses
yang lembek pada saat timbulnya rasa sakit, feses
campur lendir dan tidak berdara., penurunan berat
badan tidak lebih dari 5 % dalam satu tahun terakhir,
pemeriksaan feses tidak ditemui pararsis dan
penemuan barium enema maupun kolonoskopi
normal.(E. Mudjaddid, 2000:197)
10.Asma bronkiale dikenal sebagai gangguan
pernafasan dengan terhalangnya aliran
ekspirasi , sehingga ketika itu akan
terdengar wheezing atau mengi. Penyakit
yang sebabnya multifaktorial ini selalu
dihubungkan dengan konflik psikis
Pengobatan Gangguan
Psikosomatik
 1. Farmakoterapi sesuai dengan keluhan dan
diagnosis sebagai contoh depresi
obat anti depresan memerlukan waktu antara 2
– 3 minggu, dan perubahan akan dirasakan
bertahap. Dilatasi pupil menandai dosis yang
cukup, dan pengobatan diteruskan selama 3
bulan dan berangsur dikurangi. Dan tidak perlu
takut menjadi ketagihan (addicted) karena
memerlukan waktu yang lama.
 Obat yang digunakan antara lain: seperti :(a) Golongan
tricyclic dan tetracyclic anti depresan (TCAs) contohnya
imipramine (Tofranil), amitriptyline (laroxyl), Doxepin,
Maprotiline (Ludiomil), clomipramine, mianserin (Tolvon). (b)
Golongan monoamine oxidase inhibitor (MAOIs) seperti
moclobemide (Aurorix). (c) golongan anti depresan atipikal
seperti Opipramol di HCl (insidon), Amineptine (Survector),
Trazodone, (d) Golongan SSRI seperti Setraline Hcl (Zoloft).
Paroksetin, fluoksetin, fluvoksamin.
 Secara farmakologi kerja obat anti depresi misalnya
penghambat Mono Amin Oksidase yang digunakan sejak
lama. MAO dalam tubuh berfungsi dalam proses deaminasi
oksidatif katekolamin di mitokondria. Proses ini dihambat oleh
Penghambat MAO akibatnya kadar epinefrin, norepinefrin, dan
5-HT naik dalam otak
 (2) Psikoterapi dengan bersikap empati kita
terhadap pasien, diberi kesempatan pasien
untuk mengutarakan isi hatinya (ventilasi)
dengan demikian mereka dapat merasa tenang,
puas dan lega, beban yang terasa bisa menjadi
lebih ringan, ketegangan jiwanya bisa lebih
rileks, memberikan edukasi, pendidikan dan
meluruskan pendapat akan apa yang
dideritanya.
 (3) Memberi Motivasi beribadah, bahwa ibadah adalah
mendekatkan diri kita kepada yang Maha yaitu Allah ,
sebagai tempat kita bergantung dan mengadu,
mengingatnya, akan memberi ketenangan jiwa, yang
kemudian akan meningkatkan daya tahan mental dan
imunitas tubuh pasien tersebut.
 (4) Sosioterapi, dimana anggota keluarga dan
lingkungan sekitarnya diajak ikut serta membantu pasien
agar memberi dukungan penyembuhan terhadap hal-hal
yang memberikan stresor pada pasien tersebut.
5. Meningkatkan kekebalan stress, Menurut Dadang
Hawari ada beberapa pengelolaan terhadap stress,
yaitu:
a. Olah raga
Dengan olah raga yang teratur minimal 2 kali seminggu
, tubuh ini dapat lebih bugar, dan lebih sehat sehingga
mental dan kekebalan tubuh dapat lebih meningkat.
b. Rekreasi
Rekreasi dapat membebaskan diri dari kejenuhan
pekerjaan atau kehidupan yang monoton amat baik
memulihkan ketahanan fisik dan mental, rekreasi dapat
dilakukan bersama pasangan kita, agar hubungan bisa
selalu mesra, dan juga rekreasi bersama anak sehingga
sarana komunikasi diantara anggota keluarga bisa
berjalan efekif, mempererat hubungan psikososial
diantara anggota keluarga.
c Kasih sayang
 Perhatian kita terhadap anak , istri atau suami, hubungan
harmonis yang terus terjaga akan memberi ketentraman batin
dan kedamaian, menurut Hawari, penelitian menunjukan
bahwa 80 % stress disebabkan oleh adanya masalah dalam
hubungan antara suami-istri, dan merupakan faktor dominan
bagi menurunnya daya tahan atau kekebalan seseorang
terhadap stress.
d. Sosial ekonomi
 Pengelolaan keuangan yang baik tidak akan memberi
dampak stress, apalagi bila tidak dapat mengatur
pengeluaran yang lebih besar pasak dari pada tiang, atau
mengejar status tampa melihat kemampuan dan penghasilan.
e. Rokok
 Menurut Hawari , penelitian membuktikan bahwa jangan
merokok lebih dari 10 batang sehari, lebih dari itu tubuh tidak
akan mampu menetralisir efek negatif rokok, tapi yang lebih
baik tidak merokok. Tiap satu batang rokok usia diperpendek
12 menit.
f. Pergaulan/Silaturahmi
 Manusia tidak dapat hidup tampa manusia lain karena
manusia adalah mahluk sosial yang memerlukan teman,
sahabat, tempat bertukar pikiran, tetangga adalah
saudara terdekat, hubungan yang terjalin baik dan
harmonis dengan orang lain membuat hidup kita jadi
lebih berarti.
g. Tidur
 Tidur yang teratur 7-8 jam sehari amat baik untuk
memulihkan segala keletihan fisik dan mental. Bila kita
kurang tidur, maka daya tahan tubuh akan turun, badan
tidak bugar, pekerjaan jadi tidak lancar. Maka kekebalan
tubuh kita terhadap stress akan berkurang
h. Makanan
 Makan yang seimbang dan teratur, tidak berlebihan maupun
kekurangan, memberi dampak bagi kesehatan fisik dan
kekebalan tubuh .
i. Waktu
 Pengelolaan waktu yang baik, apakah lebih banyak
menghabiskan waktu menonton TV, kurang membaca buku
untuk menambah ilmu pengetahuan, sehingga waktu
terbuang percuma.
j. Agama
 Seperti yang telah dijelaskan diatas, penghayatan agama
yang baik akan memberikan dampak terhadap bagaimana
kita memaknai hidup ini. Kemantapan beragama membawa
kita kepada ketenangan hidup kita.
MANUSIA DALAM AL’QURAN
 MANUSIA khalifah dibumi (QS.2:30), dan di ciptakan Allah
bukan untuk main-main (QS.23:115), melainkan untuk
mengembangkan amanah (QS.33:72) dan untuk beribadah
kepadaNya (QS.51:56) serta selalu menegakkan kebajikan
sekaligus menghilangkan keburukan (QS.3:110) dengan segala
tanggung jawab (QS.75:36),
 Keistimewaan lain manusia adalah memiliki kebebasan luas
untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya atau serendah-
rendahnya (QS.91:7-10), bahkan agama pun tidak dipaksakan
kepadanya (QS.2:256). (Bastaman,1995:56).
KELEMAHAN MANUSIA
 Namun manusia pun dilengkapi dengan
banyak kelemahan seperti ketergesah-
gesahan (QS.17:11), pembantah (QS.18:54),
melampaui batas (QS.10:12), Kikir
(QS.70:19), mudah putus asa (QS.41:49),
selalu berkeluh kesah (QS.70:20), ingkar
(QS.80:17), tidak mau bersyukur (QS.100:6),
mudah lalai setelah mendapat nikmat
(QS.17:83) Walaupun demikian fitrah
manusia adalah suci dan beriman (QS.7:72).
(Bastaman,1995:56)
KEIMANAN
 Kecenderungan terhadap agama adalah sikap
dasarnya (QS.30:30), Dalam keadaan sadar
ataupun tak sadar manusia selalu merindukan
Allah (QS.39:8; S.39:49), taat, khusuk, tawakal
dan tidak ingkar (QS. 17:66-69), terutama bila
sedang mengalami malapetaka dan kesulitan
hebat (QS.31:32, S.17:66). (Bastaman,1995:56).
 Menurut Harun Nasution, manusia tersusun dari unsur
materi dan imateri, jasmani dan Rohani, Tubuh
manusia yang berasal dari tanah dan ruh atau jiwa
berasal dari substansi imateri di alam gaib. Tubuh
pada akhirnya akan kembali menjadi tanah atau jiwa
akan pulang ke alam Gaib. Dalam Ruh atau jiwa ada
yang disebut al-Nafs mempunyai dua daya, daya pikir
yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya
rasa yang berpusat dikalbu yang berpusat di dada.
Daya rasa yang berpusat didada dipertajam dengan
ibadah (shalat, puasa, haji, zakat), karena intisari dari
semua ibadah dalam islam adalah mendekatkan diri
kepada Tuhan yang maha Suci. Yang maha Suci
hanya dapat didekatkan oleh ruh yang suci..(Nasution,
1996:37-38)
 Ibadah adalah latihan menyucikan ruh atau jiwa. Makin banyak
seseorang beribadah secara iklash, makin suci pula jiwa dan
ruhnya. Daya pikir atau akal berpusat dikepala dalam sejarah
islam diperkuat oleh dorongan ayat-ayat kauniah. Nasution
menambahkan jadi manusia menurut ajaran Islam, tersusun
dari unsur materi, yaitu tubuh yang mempunyai hayat dan
unsur imateri yaitu roh yang mempunyai dua daya, daya rasa di
dada dan daya pikir dikepala. Daya rasa, jika diasah dengan
baik, mempertajam hari nurani dan daya pikir, jika dilatih,
mempertajam penalaran.(Nasution, 1996:37-38)
 Dalam konteks keislaman ada empat istilah yang digunakan untuk
menyebutkan jiwa , yaitu (1) Hati, (2) Ruh, (3) Nafs, dan (4) Akal, Al-Ghazali
memberikan batasan mengenai empat tersebut diatas (Sholeh,2006:124):
 a. Hati mempunyai dua pengertian, yaitu : (a)Segumpal daging sanubari
yang terletak disebelah kiri dada bersifat material; (b)Bersifat im-material
merupakan rasa rohaniah yang halus yang berkaitan dengan hati jasmani
 b. Ruh juga mempunyai dua makna, yaitu : (a) Jism atau jasad halus yang
bersumber dari rongga hati jasmani, ia beredar keseluruh bagian tubuh; (b)
Sesuatu yang halus yang tahu dan mengerti
 c. Nafsu mempunyai dua makna , yaitu : (a) Cakupan makna dari kekuatan
amarah dan syahwat yang bersifat material; (b) Sesuatu yang halus, yang
merupakan hakikat manusia yang bersifat im-material
 d. Akal mempunyai dua makna juga, yaitu: (a) Ilmu tentang hakikat segala
sesuatu, yang merupakan sifat dari ilmu yang bertempat dalam hati; (b)
Sesuatu yang halus, yang merupakan hakikat manusia yang bersifat im-
material.
Tinjauan Pengamalan Ibadah Dalam Kajian Islam
dan Kedokteran

 Shalat menurut bahasa 'Arab: doa. Menurut istilah syara'


ialah ibadat yang dikerjakan untuk membuktikan
pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah
 Mendirikan Shalat ialah menunaikannya dengan
teratur, dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun
dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin,
seperti khusu' ,memperhatikan apa yang dibaca dan
sebagainya.
 Ali ra, diceritakan jika waktu shalat tiba,
wajah Ali karramullahu wajhah ra, sahabat
nabi dan menantu nabi ini akan berubah,
tubuhnya gemetar, bila orang bertanya
mengenai penyebabnya, Ali ra akan
menjawab, ”Sekarang waktunya untuk
menunaikan amanat yang tidak mampu di
tunaikan oleh langit dan bumi, gunung-
gunung pun tak sanggup menunaikan
amanat ini. Saya tidak tahu apalah saya
mampu menunaikan amanat ini.
Shalat Menurut Kedokteran
 Gerakan shalat menurut para ilmuwan dan dokter salah satu terbaik
untuk menyembuhkan rematik (terutama untuk tulang punggung), yang
disebabkan oleh ketidak seimbangan otot. Berdasarkan saran dokter tidak
ada solusi yang berbaik untuk menghindari rematik sejak dini dengan
melaksanakan sholat 5 waktu secara konsisten dan juga banyak melakukan
gerak untuk meminimalisir kemungkinan penyakit tulang punggung,
memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin mengembalikan keseimbangan
pada persendian dan otot tubuh, dan otot tubuh, dan hendaknya hal ini tetap
dilaksanakan walaupun ada kerusakan tulang atau setelah penggunaan
gips.
 Dapat disimpulkan bahwa gerakan sholat adalah jenis gerakan terbaik yang
selaras dengan saran dokter dan mampu mengembalikan fungsi otot
dengan baik, gerakan yang dimaksud diantaranya gerakan rukuk, berdiri
tegak, sujud dalam waktu yang lama dan dilakukan berulang (Abdullah,
2006: 37-38)
 Gerakan shalat pun merupakan gerakan olah
raga ringan yang baik untuk melancarkan
peredaran darah tubuh, lancarnya peredaran
darah, akan melancarkan suply oksigen dan
nutrisi keseluruh organ tubuh dan otak.
 Selain baik untuk jantung dan peredaran
darah, gerakan shalat ini juga dapat
memperkuat tulang karena tulang yang banyak
digerakan secara terus menerus akan menjadi
lebh baik ,lebih tebal tidak gampang kropos atau
dapat terhindar dari osteoporosis, karena
mengandung lebih banyak kalsium dibanding
tulang yang tidak sering digerakkan.
 Berwudhu yang kita lakukan sebelum shalat dapat
menetralisir jumlah kuman yang patogen atau berbahaya
akibat kulit yang terpapar dengan debu. Sehingga
kebersihan kulit lebih terjaga dari infeksi kulit, membilas
kulit dengan air yang berulang-ulang dapat
meningkatkan kekebalan tubuh terhadap bakteri,
sehingga meningkatkan imunitas.
 Berwudhu juga dapat menghindari kanker kulit, kulit
yang terpapar dengan berbagai zat kimia , dengan
membilas kulit sebanyak 5 kali sehari dapat mengurangi
efek kimiawi yang terpapar ke kulit kita, sehingga
dampat zat kimia dapat diminimalisir.
 Hembing memaparkan membasuh wajah waktu wudhu
dengan air bersih akan merangsang titik-titik akupuntur
dibagian wajah yang efeknya sangat bermanfaat untuk
kesehatan. Rangsangan yang ditimbulkan fungsinya
sesuai dengan therapi akupuntur. Pada wajah terdapat
pusat akupuntur organ seperti titik, dada, usus kecil,
usus besar, ginjal, kaki, tangan, tempurung lutut, faring,
hati/ limfa, jantung, kandung kemih, lambung, paru-paru,
kandung empedu. Ketika membasuh kedua tangan
sampai siku pun terdapat titik akupuntur yang
terangsang antara lain. Meridien yien untuk
menyembuhkan penyakit pada dada, paru-paru,
tenggorokan, lambung, jantung, dan organ gerakan
bagian atas. Rangsangan pada meridien yang ditangan
dapat menyembuhkan penyakit pada kepala, wajahm
mata, kuping, hidung, mulut, gigi, tenggorokan dan
organ gerak bagian atas leher (Hembing,1994:47-49)
PEREDARAN YANG LEBIH BANYAK
PADA ORANG YANG SHOLAT
 Dr Noha abo-krysha dalam tulisannya tentang The Effect of
Prayer on the Human Body menjelaskan tentang hasil Single
photon CT scan yang menunjukan adanya peningkatan aliran
darah pada otak besar (cerebrum) ketika seseorang
melakukan berdoa/meditasi, gambar yang sebelah kiri
menunjukan sebelum berdoa dan kanan menunjukan
peningkatan aktivitas otak yang bertambah setelah meditasi
Atau berdoa Warna merah menunjukkan aktivitas yang tinggi,
sedang kuning dan hijau menunjukan aktifitas yang rendah,
Selama meditasi atau berdoa asupan darah ke otak terutama
bagian lobus frontal akan bertambah, seperti yang kita ketahui
bagian frontal cerebrum bertanggung jawab dalam mengontrol
emosi dan agitasi pada manusia.
Puasa Menurut Kedokteran
 Puasa dapat meningkatkan kekebalan tubuh atau imun system terhadap
berbagai penyakit. Ditunjukkan dengan peningkatan fungsi sel limfa yang
memproduksi sel limfosit T yang secara significan bertambah, setelah
puasa. (Riyad Albiby and Ahmed Elkadi :84 )
 Untuk penyakit seperti diabetes sekalipun puasa ramadhan tidak akan
berbahaya , malah memberikan banyak manfaat (Sulimami, dll, 1988: 549-
552)
 Menurut Jalal Saour bahwa berkurangnya cairan pada puasa akan
menurunkan heart rate atau kerja jantung, pencegahan terhadap
penggumpalan darah yang termasuk penyebab serius panyakit
jantung.(Jalal, Riyad,1990)
 Malah puasa juga aman untuk pasien yang mempunyai gangguan ulcer
pada lambung. Penelitian dilakukan oleh Muzam MG, Ali M.N dan Husain
dalam observasi terhadap efek puasa ramadhan terhadap asam lambung
(Muzam :1963:228)
 Menurut Elson M. Haas M.D. Direktur Medical Centre of Marin (sejak 1984) .
Dalam puasa (cleasing dan detoksifikasi) merupakan bagian dari trilogy
nutrisi, balancing, building( toning). Elson percaya bahwa puasa adalah
bagian yang hilang “missing link” dalam diet di dunia barat. Kebanyakan orang
di barat over eating atau terlalu banyak makan, makan dengan protein yang
berlebihan, lemak yang berlebihan pula.
 Sehingga ia menyarankan agar orang lain mulai mengatur makanannya agar
lebih seimbang dan mulai berpuasa, karena puasa bermanfaat sebagai:
purifikasi, peremajaan, istirahat pada organ pencernaan, anti aging,
mengurangi alergi, mengurangi berat badan, detoksikasi, relaxasi mental dan
emosi, perubahan kebiasaan dari kebiasaan makan yang buruk menjadi lebih
seimbang dan lebih terkontrol, meningkatkan imunitas tubuh. dan lebih baik
lagi bila dalam pengawasan dokter.
 Puasa dapat mengobati penyakit seperti Influeza, bronkitis, diare, konstipasi,
alergi makanan, astma, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, hipertensi,
diabetes, obesitas, kanker, epilepsi, sakit pada punggung, sakit mental,
angina pectoris (nyeri dada karena jantung), panas dan insomnia.
(www.healthynet.com)
PUASA DI NEGARA BARAT
 Puasa sudah diakui menjadi penyembuh terhebat
dalam menanggulagi penyakit, bahkan di amerika
ada pusat puasa yang diberi nama ”Fasting Center
International, Inc” ,Director Dennis Paulson yang
berdiri sudah sejak 35 tahun yang lalu, dengan
pasien dari 220 negara. Yang merekomendasikan:
(1) program penurunan berat badan, (2)
mengeluarkan toxin tubuh, (3) puasa dapat
memperbaiki energy, kesehatan mental, kesehatan
fisik dan yang paling terpenting meningkatkan
kualitas hidup.
Beberapa Ilmuwan telah melakukan beberapa penelitian tentang puasa
diantaranya secara ringkas dibawah ini: (Seperti yang dikutip oleh Ash-Shawi)

 1. Puasa dapat mengurangi jumlah hormon pemicu stress, Dr Sabah al-Baqir dan
kawan-kawan dari Falkutas kedokteran Universitas King Saud.yang melakukan studi
terhadap hormon prolaktin, insulin dan kortisol, pada tujuh orang laki-laki yang
berpuasa sebagai sampel. Hasilnya bahwa tidak ada perubahan signifikan pada
level kortisol. Prolaktin, dan insulin. Ini menunjukkan bahwa puasa bulan ramadhan
bukanlah pekerjaan yang memberatkan, dan tidak mengakibatkan tekanan mental
maupun saraf. Percobaan ini menunjukan peningkatannya terjadi pada perbedaan
waktu saja, bila pada hari tidak puasa prolaktin mengalami kenaikan tertinggi pada
jam 16.00. sementara pada bulan Ramadhan mengalami puncaknya pada pukul
21.00 dan menurun lagi sampai batas terendahnya pukul 04.00. Sementara insulin
meningkat pada pukul 16.00, sedang pada bulan ramadhan pukul 21.00, menurun
sampai batas terendah pukul 16.00. Sedang Kortisol pada hari biasa mencapai
puncaknya pukul 09.00, menurun pada pukul 21.00, sementara pada bulan
Ramadhan tidak ada perubahan berarti

 2. Dr Ahmad al-Qadhi, Dr. Riyadh al-Bibabi, bersama rekannya di Amerika melakukan


uji laboratorium terhadap sejumlah sukarelawan yang berpuasa selama bulan
Ramadhan. Hasil penelitian ini menunjukan pengaruh positif puasa yang cukup
signifikan terhadap sistem kekebalan tubuh. Indikator fungsional sel-sel getah
(lymfocytes) membaik hingga sepuluh kali lipat, walaupun jumlah keseluruhan sel-
sel getah bening tidak berubah, namun prosentase jenis getah bening yang
bertanggung jawab melindungi tubuh dan melawan berbagai penyakit yaitu sel T
mengalami kenaikan yang pesat.
 3. Dr Riyadh Sulaiman dan kawan-kawan tahun 1990 dari RS
Universitas King Khalid, Riyadh Saudi melakukan penelitian terhadap
pengaruh puasa Ramadhan terhadap 47 penderita diabetes jenis kedua
(pasien yang tidak tergantung insulin). Dan sejumlah orang sehat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa puasa bulan ramadhan tidak
menimbulkan penurunan berat badan yang signifikan. Tidak ada
pengaruh apapun yang berarti pada kontrol penyakit diabetes diabetes
dikalangan penderita ini. Sejauh ini puasa Ramadhan aman saja bagi
penderita diabetes sejauh dilakukan dengan kesadaran dan kontrol
makanan serta obat-obatan.
 4. Dr. Muhammad Munib dan kawan-kawan dari Turki juga melakukan
sebuah penelitian terhadap seratus responden muslim, Sampel darah
mereka diambil sebelum dan diakhir bulan ramadhan, untuk dilakukan
analisis dan pengukuran terhadap kandungan protein , total lemak
(total lipid), lemak fosfat, asam lemak bebas, kolesterol, albumin,
globulin, gula darah, tryglycerol, dan unsur-unsur pembentuk darah
lainnya, dan didapat, antara lain bahwa terjadi penurunan umum pada
kadar gula (glukosa) dan tryacyglicerol orang yang berpuasa,
terjadinya penurunan parsial dan ringan pada berat badan, tidak
terlihat adanya aseton dalam urin, baik dalam awal maupun akhir
puasa, sebab sebelum puasa ramadhan, kenyataan ini menegaskan
tidak adanya pembentukan zat-zat keton yang berbahaya bagi tubuh
selama bulan puasa islam, Dengan keutamaan puasa, glikogen dalam
tubuh mengalami peremajaan, memompa gerakan lemak yang
tersimpan, sehingga menghasilkan energi yang lebih meningkat (Ash-
Shawi 2006:85-86)
Zikir dan membaca Al-Quran
 Zikir dan membaca Al-Quran adalah bagian dalam
mengingat Allah, bersyukur kepada-Nya disetiap
waktu, dengan sebanyak-banyaknya. Dengan
mengingat Allah, kita akan merasakan penjagaan
dan pengawasan Allah terhadap kita, hingga makin
besarlah tertanam dalam hatinya keridhaan,
keiklasan kelapangan hati dan ketenangan.
Ketenangan menjaga kita dari penyakit hati dan fisik.
 Dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab 41, Allah berfirman:
 “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan
menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-
banyaknya.”
Beberapa hadist Tentang Zikir adalah sebagai
Berikut:
 1. Barang siapa yang ditimpa kedukaan (kesusahan) dan keresahan, maka
perbanyak mengucapkan ”La Haula Wala Quwwata Illa Billah ( tiada daya
dan upaya kecuali Allah)” (HR Bukhari dari Ibnu Abbas)
 2. Barang siapa yang terbiasa beristigfar, maka Allah akan memberikannya
jalan keluar dari setiap kesulitan yang dihadapinya dan jalan keluar dari
segala keresahannya serta memberikannya rezeki dari jalan yang tiada
terduga (HR Abu Dawud)
 3. Allah berfirman dalam hadist Qutsi, aku ada dalam prasangka hamba-Ku
kepada-Ku dan aku akan selalu bersamanya selama ia mengingat-Ku.
Apabila ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka aku akan mengingatnya
dalam diri-Ku. Apabila ia mengingat-Ku dalam kelompok, maka akupun
akan mengingatnya pada satu kelompok yang lebih baik darinya. Apabila ia
mendekati-Ku satu jengkal, maka aku akan mendekatinya sehasta, jika ia
mendekatiku dengan berjalan, maka aku akan mendekatinya dengan berlari
(HR Bukhari dan Muslim).
 4. Barang siapa yang mengucapkan ,”Laa Ilaha Illallah Laa
Syariikalah, lahul Mulku Wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli
syai’in qadiir (Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-
Nya, Kepunyaan-Nya segala kerajaan dan semua syukur dan
Dia Maha Berkuasa)” sebanyak seratus kali dalam seharinya,
maka baginya pahala membebaskan sepuluh budak dan
akan dituliskan baginya seratus kebaikan serta dihapuskan
darinya seratus kesalahan. Ia pun akam memiliki perisai dari
segala godaan setan pada hari itu hingga sore menjelang,
Tiada seorangpun yang lebih baik darinya kecuali apabila
ada seseorang mengerjakan hal tersebut lebih banyak
darinya, Barang siapa yang mengucapkan ”Subhanallah wa
bi hamdihi (Mahasuci Allah dan dengan pujian untuk-Nya)
seratus kali dalam seharinya, maka semua dosa dan
kesalahannya akan diampuni walaupun dosa dan
kesalahannya tersebut bagai buih di lautan. (HR Bukhari,
Muslim, dan Tirmi ZI)
Penelitian tentang doa dan zikir telah banyak dilakukan
antara lain menurut Hawari
 Penelitian yang dilakukan oleh Comstock, GW dan kawan-kawan (1972)
seperti yang termuat dalam Journa of Chronic Diseases, menyatakan
bahwa bagi mereka yang melakukan kegiatan keagamaan secara teratur
disertai doa dan zikir, ternyata risiko kematiannya akibat jantung koroner
lebih rendah 50 %, sementara kematian akibat emphisema (paru-paru )
lebih rendah 56 %, kematian akibat penyakit hati (cirrhosis hepatis) lebih
rendah 74 % dan kematian akibat bunuh diri lebih rendah 53 %.
 Penelitian yang dilakukan ilmuwan Larson dan kawan-kawan (1989)
terhadap pasien dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi dibandingkan
dengan kelompok (bukan pasien hipertensi), diperoleh kenyataan bahwa
komitmen agama kelompok kotrol lebih baik dan dikemukakan bahwa
kegiatan agama seperti doa, zikir mencegah seseorang dari hipertensi.
 Penelitian Levin dan Vanderpool (1989) demikian pula terhadap penyakit
jantung dan pembuluh darah , bahwa kegiatan agama akan memperkecil
risiko menderita penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler)
 Alfred Tomatis seorang dokter dari Perancis yang lima puluh tahun
mengadakan eksperimen tentang hubungan antara rangsang pendengaran
terhadap tubuh, dimana pendengaran dapat mengotrol regulasi kerja tubuh
dalam mengontrol dan mengendalikan sistem syaraf.
Perubahan sel Kanker yang hancur
Karena Suara Al-Quran
 Gambar diatas menunjukan suara lantunan Al-Quran
mempunyai efek terbaik menghancurkan sel kanker
yang tidak terobati. Suara Al-Quran yang dilantunkan
memberikan frekuensi yang merangsang sel secara
keseluruhan. Suara dari telinga menuju sel otak dan
mempengaruhi kerja otak, dan sel tubuh. Yang hanya
dapat dirasakan dengan pengalaman dan pengulangan.
. (www.kaheel7.com)
AIR ZAMZAM
 Air zamzam kaya akan mineral dan berkhasiat untuk berbagai
macam penyakit, tidak mengandung bakteri, tidak berbau, tidak
berwarna, dengan kadar keasaman 7,5, mengandung 30 jenis
mineral, yang terbanyak adalah natrium, magnesium, fluor.
Menurut penelitian dari lebih 50 penelitian di 9 negara terdapat
hubungan antara air yang kekurangan zat magnesium dan
kalsium. Penambahan kalsium dan magnesium pada air minum
akan mengurangi angka kematian akibat penyakit jantung, hal
ini berhubungan dengan fungsi magnesiup dalam berbagai
biokimia dan fisiologi tubuh (Bahar Azwar,2007:37)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
 A. Metode Dan Desain Penelitian
 Metoda penelitian yang peneliti gunakan adalah
metoda survei yaitu penelitian dilakukan dengan
terjun langsung ke lapangan, dalam hal ini peneliti
melakukan penelitian di puskesmas dan kunjungan
kerumah pasien, mengambil data yang terjadi pada
saat penelitian dilakukan, dan mengadakan
pengolahan data secara kuantitatif dengan
bantuan SPSS 13.
 B. Variabel Penelitian
 Dalam penelitian ini variabel yang diungkap
adalah
 Variabel X1 : Motivasi ibadah
 Variabel X2 : Kekebalan stress
 Variabel Y : Pencegahan Gangguan
Psikosomatik
C. Definisi Operasional
 a. Motivasi Ibadah
 Motivasi adalah kecenderungan yang timbul pada seseorang untuk
melakukan sesuatu aksi atau tindakan dengan tujuan tertentu yang
dikehendakinya. Motivasi mempunyai beberapa 4 indikator yang meliputi
,attenton, relevance. Confidence, satisfaction. Skala motivasi Ibadah yang
diukur meliputi Ibadah Shalat, puasa, shadaqah, zikir, membaca Al-Quran,
ibadah Haji. Indikator motivasinya meliputi mencakup hal-hal sebagai
berikut:
 1. Attention, perhatian terhadap ibadah, bagaimana frekwensinya,
persistensinya, apa kandungan maknaannya, bagaimana
adakahperhatiaannya terhadap ibadah .
 2. Relevansinya, motivasi ibadahnya dengan kebutuhannya, apakah ibadah
dapat memenuhi kebutuhan rohani, jasmani, spiritual, bagaimana
manfaatnya secara pribadi atau terhadap orang lain.
Kriteria penilaian Motivasi Ibadah
 3. Confidence. Kepercayaan bahwa ibadah yang
dilakukannya dapat meningkatkan percaya diri, bahwa ia
mampu menjalani kehidupan ini, mengatasi masalah dan
tekanan.
 4. Satisfaction (kepuasan), Motivasi ibadah dapat
memberikan kepuasan kepada seseorang karena ia dapat
memjadi sehat, jasmani, rohani dan akal.
 Indikator-indikator variabel dapat dirumuskan sebagai
berikut:
Kriteria ibadah Nilai
 Baik 19 – 38
 Sedang 39 – 57
 Buruk58 - 95
 Kekebalan Stress adalah tingkat stress seseorang
yang diukur dengan sebuah skala yaitu skala
Smith dan Miller , bila kekebalan terhadap stress
baik , maka seseorang menjalankan pengelolaan
stress yang baik, maka kekebalan stressnya pun
menjadi baik. Kuesioner di buat hasil adaptasi
dari skala ini.
Kriteria kekebalan stress
 Nilai Baik 17 – 34
 Sedang 35 - 51
 Buruk52 - 85
 Skala Holmes
 Dengan skala ini kita dapat mengetahui
sejumlah faktor yang mempengaruhi
penyebab stress. Masing-masing faktor diberi
nilai, kalau seseorang dalam setahunnya
mendapatkan jumlah score melampaui 300,
hal ini menunjukan bahwa ia sudah dalam
keadaan bahaya. Faktor-faktor tersebut
adalah sebagai berikut:
HOLMES
 11 Menggadaikan rumah 31
 1 Kematian Suami/istri 100  12 Perubahan dalam tanggung
 2 Kematian keluarga dekat 63 jawab pekerjaan 29
 3 Perkawinan 50  13 Konflik dengan ipar , mertua,
 4 Kehilangan jabatan 47 menantu 29
 5 Pensiunan/Pengasingan diri 45  14 Perasaan tersinggung atau
 6 Kehamilan istri 40 penyakit 53
 7 Kesulitan sex 39
 15 Rujuk dalam perkawinan 45
 8 Tambah anggota keluarga baru 39
 16 Perubahan kesehatan
seseorang anggota keluarga 44
 9 Kematian kawan dekat 37  17 Perubahan dalam status
 10 Konflik suami/istri 35 keuangan 38
 18 perceraian 65
 19 Peralihan jenis pekerjaan 36
 28 Perubahan dalam jumlah
 19 Peralihan jenis pekerjaan 36 pertemuan keluarga 15
 20 Mencegah terjadinya  29 Pelanggaran ringan 11
penggadaian/pinjaman 30  30 Menukar kebiasaan pribadi 24
 21 Anak laki-laki/perempuan
meninggalkan rumah 29
 31 Perubahan jam kerja/syarat kerja
 22 Prestasi pribadi yang luar biasa
20
28  32Tukar sekolah 20
 23 Istri mulai atau berhenti bekerja2  33 Tukar kegiatan sosial 18
9  34 Tukar kebiasaan tidur 16
 24 Kesulitan dengan atasan 23  35 Perubahan dalam kebiasaan
 25 Tukar tempat tinggal 20 makan 15
 26 Perubahan dalam hiburan19  36 Berlibur 13
 27 Pinjaman dengan rumah sebagai
jaminannya 17
 total
Skala Holmes
 0 - <150 Tidak ada kemungkinan untuk stress
akibat penyakit
 150 –199 Tingkat krisis hidup ringan ---->
kemungkinan terkena penyakit 35 %
 200 – 299 Tingkat krisis hidup sedang ---->
Kemungkinan terkena Penyakit 50 %
 300 atau Lebih Tingkat krisis hidup berat ----
> Kemungkinan terkena penyakit 80 %
Gejala Psikosomatik terdiri dari
 a. Gejala depresi
 b. Gejala Ansietas
 c. Dispepsia fungsional
 d. Nyeri psikogenik
 e. Penyakit Jantung fungsional
 f. Chronic Fatique Syndrome
 g. Penyakit Kolon iritabel
Kriteria Pencegahan Gangguan Psikosomatik
Nilai Psikosomatik 57 - 95
Bukan Psikosomatik (baik)19 - 56
Populasi
 Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian.
Apabila seseorang meneliti semua elemen yang ada
dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya
merupakan penelitian populasi.(Arikunto, 2002: 108)
 Populasi penelitian yang dipakai penulis meliputi
beberapa pasien dewasa yang datang dalam kurun
waktu 1 bulan ke Puskesmas Astapada. Pada bulan
desember 2007.
 Sampel
Adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian
sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil
penelitian sampel. Disini yang dimaksud adalah untuk mengangkat
kesimpulan penelitian sabagai sesuatu yang berlaku bagi populasi
(Arikunto, 2002: 109)

 Diharapkan sampel yang diambil dari sampel pasien yang disurvei


selama 1 bulan bisa dipakai sebagai kesimpulan penelitian penulis.
Tentang pengaruh antara motivasi beribadah dan kekebalan stress
terhadap pencegahan gangguan psikosomatik.

Karakteristik pasien yang digunakan pada penelitian ini adalah pasien


dewasa yang berkunjungan ke Puskesmas Astapada. Diambil sampel
dengan kriteria umur antara 20 – 50 tahun, dengan berbagai keluhan,
antara lain, Hipertensi, mialgia, asma, depresi, anxietas. Gangguan
pencernaan.

 Tehnik Sampling yang digunakan adalah porposive dan, dilakukannya


purposive sample dengan tujuan tertentu, sesuai dengan pertimbangan
penulis, karena penulis sehari-hari bekerja di tempat penelitian
dilaksanakan sehingga sumber data sesuai dengan variabel yang diteliti.
Jenis dan Sumber Data

 Dalam penelitian ini penulis mengambil


sumber data secara primer yaitu data yang
diambil peneliti langsung dari kunjungan
pasien di puskesmas, dan kunjungan
langsung kerumah pasien atau responden
dengan menggunakan daftar pertanyaan ,
wawancara , ataupun observasi.
 Untuk mengukur validitas instrumen .Tehnik korelasi
yang dipakai adalah tehnik Korelasi” Product Momen”
yang dirumuskan sebagai berikut :

N (∑XY ) −(∑
)(∑
X Y)
 Keterangan : {N ∑X −(∑X ) }{N ∑Y −(∑Y )
r =
2 2 2 2
}
 rxy = Koefisien validitas
 N = Jumlah responden
 X = Skor item
 Y = Skor total
 Hasil yang signifikans didapat dengan menilai hasil
korelasi (rxy) dibandingkan dengan nilai kritik r. Validitas
yang cukup tinggi didapat bila r hitung (rxy) lebih besar
dari nilai r tabel .
 Keputusan Uji, Bila r hitung lebih besar dari pada r
tabel maka Ho ditolak artinya variabel valid, sedangkan
bila r hitung lebih kecil dari pada r tabel maka Ho gagal
ditolak, artinya variable tidak valid.
Uji Reliabilitas
 Reliabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukan
sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila
dilakukan pengukuran dua kali atau lebih gejala yang
sama dan dengan alat pengukur yang sama (Hastono,
2001:48)
 Pada penelitian ini digunakan tehnik belah dua (split
halve method). Yang telah disusun dibelah atau dibagi
dua, pertanyaan yang valid dihitung sedang yang tidak
valid dibuang, kemudian melakukan uji korelasi dengan
rumus korelasi produc moment.
 Tehnik Analisa Data
 Data kuantitatif yang dapat setelah dikumpulkan kemudian dikelola
secara statistik.Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan korelasi Product Moment dari Karl
person. Analisis korelasi digunakan untuk mengukur derajat
hubungan antar variable X1 (motivasi ibadah) dan X2 (kekebalan
stress) dengan variabel Y (gangguan psikosomatik), dengan rumus
sebagai berikut :
 Menentukan nilai korelasi

n ∑x1y – (∑x1) (∑y)


 rx1y =
√ {n∑x12– (∑x1)2 } { n∑y2 – (∑y)2 }
 Menentukan Interprestasi Nilai korelasi
 Menurut Colton kekuatan hubungan dua variable
secara kualitatif dapat di bagi dalam 4 area, yaitu
 > 0,76 - <1,00 = Sangat kuat/sempurna
 > 0,51 - < 0,75 = Kuat
 > 0,26 - < 0,50 = Sedang
 > 0,00 - < 0,25 = Lemah/tidak ada hubungan
Hasil uji Validitas
 Uji coba dari 55 butir soal yang dibagikan kepada 200 orang responden
dimaksudkan untuk mendapatkan keabsahan (valid) yang akan digunakan
untuk penelitian selanjutnya. Dengan menggunakan korelasi skor butir dengan
skor pengujian instrumen, Dari 55 soal dikelompokan dalam tiga variabel
pengujian yang dibuat berdasarkan indikator dari masing-masing bidang
tersebut, Yaitu Variabel-variabel motivasi ibadah (X1), kekebalan stress (X2)
dan pencegahan gangguan Psikosomatik (Y). Kemudian analisa dilakukan
terhadap instrumen melalui program SPSS 13 dimana batas angka tabel (r
kritis) adalah 0,05. Kriteria pengujian adalah dengan membandingkan antara r
hitung dengan r tabel. Jika r hitung lebih besar atau same dengan r tabel maka
instrumen penelitian dianggap valid sebaliknya bila r hitung lebih kecil dari
pada r tabel maka dianggap tidak valid sehingga instrumen tersebut bila tidak
valid tidak dapat lagi digunakan dalam penelitian.
 Instrumen penelitian diberikan kepada 200 orang ini dapat dijadikan
syarat minimal dalam memberikan tanggapan dan penilaian secara obyektif,
jujur dan transparan sesuai dengan keadaan yang di teliti.
 Setelah dilakukan pengujian terhadap instrumen penelitian kepada 200
dengan taraf significan 0,05 (5%) dipakai uji satu arah dari r tabel didapat hasil
adalah r = 0,194. Hasil uji validitas selanjutnya untuk masing-masing variabel
dapat di lihat dengan tabel sebagai berikut:
 Variabel Kekebalan Stress (X2)
Berdasarkan kajian teori yang dianalisa dari hasil
modifikasi skala Miller dan Smith maka
dikembangkan 17 butir soal yag diberikan kepada
200 orang responden
Setelah dilakukan pengujian terhadap instrumen
penelitian kepada 200 orang responden dengan taraf
signifikansi 0,05 (5%) dipakai uji satu arah dan
didapat r tabel sebesar 0,194 maka hasil uji validitas
dala dilihat pada tabel berikut ini:
.Hasil Uji Reabilitas
 Pengujian terhadap koefisien reliabilitas instrumen dimaksud untuk melihat
konsistensi jawaban butir-butir soal yang diberikan kepada responden. Untuk
menguji reliabilitas ini digunakan alat dengan metode belah dua (split half)
yaitu metoda yang mengkirelasikan stor totalk ganjil lawan genap selanjutnya
dihitung reabilitasnya dengan menggunakan rumus ”Alpha Cronbach”’
Perhitungan dengan menggunakan Program SPSS 13 di komputer.

 Dengan jumlah responden sebanyak 200 orang didapat r tabel (r kritis)
adalah 0,194 dengan jumlah responden sebanyak dan hasil perhitungan
dengan SPSS 13 didapat cronbach’s Alpha sebesar 0,850 dari 19 soal
motivasi ibadah, sedangkan cronbach’s Alpha sebesar 0,494 dari 17 soal
kekebalan stress, cronbach’s Alpha sebesar 0,864 dari 19 soal pencegahan
gangguan Psikosomatik karena hasil Cronbach’s Alpha ( α ) yang didapat
lebih besar dari pada r tabel sehingga menunjukan bahwa instrumen
penelitian ini adalah bersifat reliabel. Dan dapat digunakan untuk penelitian
selanjutnya.

 Hasil pengolahan data uji coba instrumen penelitian baik validitas maupun
realibitas dengan menggunakan program SPSS selengkapnya dapat dilihat
pada lampiran (realibity).
Deskripsi Data

Jumlah responden yang diberi kuesioner sebanyak 200 orang, responden


didapat antara lain yang berobat ke Puskesmas sejak tanggal 6 februari
sampai dengan 30 desember 2007 , beberapa kuesioner ada yang dibawa
pulang ada yang di isi dan di wawancara di Puskesmas,
3. Berdasarkan jenis kelamin. Jumlah wanita sebanyak 87 orang (43.5 %)
orang dan laki-laki sebanyak 113 orang (56,5 %) .

2. Berdasarkan Pendidikan adalah sebagai berikut:


 a. SD : 97 orang (48,5 %)
 b. SMP : 34 orang (17,0 %)
 c. SMA : 56 orang (28,0 %)
 d. Perguruan Tinggi : 13 orang ( 6,5 %)
 Terbanyak yang menjadi responden adalah yang mempunyai pendidikan
rendah yang sebanyak 48 % yang SD dan 34 orang yang SMP
ekonomi
Berdasarkan Ekonomi didapat, sebagian besar mempunyai taraf ekonomi
yang Rendah sebanyak kurang lebih 81 persen , dan hanya 19 % yang
penghasilannya diatas 1 juta
 a. Penghasilan < 500 ribu sebanyak 44 orang (22 %)
 b. Penghasilan 500 ribu – 1 juta sebanyak 118 orang (59 %)
 c.Penghasilan diatas 1 juta sebanyak 38 orang (19 %)

Dari hari 200 orang yang diperiksa didapatkan data hampir


 63 % dengan kriteria motivasi Ibadah baik,
 37 % dengan motivasi ibadah yang sedang .
 menunjukan bahwa dengan menurunnya motivasi ibadah makin meningkat
angka kejadian gangguan psikosomtik, dari 200 orang responden, 51
orang mengalami psikosomatik ringan, dan semuanya mempunyai
motivasi ibadah sedang
Kekebalan stress
 Dari 200 responden yang diperiksa,
responden yang mempunyai
 kekebalan stress yang baik adalah sebanyak
52 orang atau 26 %,
 yang mempunyai kekebalan stress yang
sedang sebanyak 148 orang 74 %
Variabel gangguan psikosomatik
 Pada variabel gangguan psikosomatik,
responden yang menderita tidak menderita
gangguan psikosomatik adalah sebanyak 149
orang 74,5 % dan yang mengalami
gangguan psikosomatik 51 orang atau 25,5
%, dari 200 responden yang diteliti.
 menunjukan bahwa dengan menurunnya motivasi
ibadah makin meningkat angka kejadian gangguan
psikosomatik, dari 200 orang responden, 51 orang
mengalami psikosomatik ringan, dan semuanya
mempunyai motivasi ibadah sedang
 Makin rendahnya kekebalan stress, makin tingginya
angka kejadian gangguan psikosomatik. Dari 148
responden yang mempunyai kekebalan stress sedang ,
yang mengalami gangguan psikosomatik sebanyak 51
orang. Atau 34,5 %, sedangkan yang mempunyai
kekebalan stress yang baik tidak ada yang mengalami
gangguan psikosomatik.
Frekwensi motivasi ibadah
 tabel frekwensi Motivasi ibadah, dari 19 item pertanyaan, 16
item pertanyaan mempunyai jawaban yang baik. Hampir diatas
80 % setuju dengan jawaban yang pernyataannya positif,
seperti setuju bahwa shalat dapat menghilangkan kecemasan,
puasa dapat menyembuhkan sakit, dan memberikan kesabaran,
hanya 3 pertanyaan yang jawabannya agak timpang yaitu
terutama dalam hal pengamalan, yaitu pertanyaan tentang
Shalat tahajud yang di kerjakan dengan teratur , membaca Al-
Quran setiap hari beserta artinya, dan melakukan zikir setiap
waktu dari 200 responden yang ada, rata-rata yang
melaksanakannya 52 % yang melaksanakan shalat tahajud
teratur, 48 % yang membaca Al-Quran beserta artinya, dan
yang melakukan zikir setiap waktu adalah 65,5 %.
Frekweksi jawaban kekebalan stress
 Dari 17 item soal, jawaban responden rata-rata di atas 70 % yang
menjawab positif, hanya 5 item soal yang dijawab kurang
memuaskan sehingga hal ini menyebabkan kekebalan stressnya
menjadi berkurang yaitu, Bahwa rata-rata yang menjawab berolah
raga secara teratur hanya 60 % selebihnya 40 % tidak mempunyai
waktu untuk olah raga teratur.
 Untuk penghasilan yang cukup untuk pengeluaran, 116 orang (58
%), menjawab setuju dan 13 orang (6,5 %) menjawab sangat
setuju , dari 200 responden, yang penghasilannya kurang
dibanding pengeluaran ada 27 % menjawab kurang setuju, 7,5 %
tidak setuju dan hanya 2 orang saja yang sangat tidak setuju.
Berarti secara rata-rata 66 % responden dapat mengelola
keuangan nya dengan baik.
 Pada item soal bagaimana ibadah dapat memberikan kekuatan batin
dijawab oleh responden 78 orang setuju (39 %) dan 11 orang sangat
setuju (5,5 %) selebihnya kurang setuju sebanyak 66 orang (33%) dan 39
orang (19,5 %) menjawab tidak setuju, dan sangat tidak setuju bahwa
ibadah dapat memberikan kekuatan batin adalah 6 orang (3 %). Jadi dari
200 responden yang menberikan jawaban positif bahwa ibadah
memberikan kekuatan batin adalah 45,5 %.
 Untuk item soal rekreasi bersama keluarga dan teman seminggu sekali
dijawab setuju oleh 84 orang (42%) sedangkan yang sangat setuju
sebanyak 17 orang (8,5%). Selebihnya tidak teratur dan malah sangat
jarang, jadi hanya 50,5 % yang berekreasi bersama keluarga.
 Kesibukan membuat responden yang punya waktu untuk menenangkan
diri , hanya 97 orang yang menjawab setuju (48,5 %) sedangkan 9 orang
menjawab sangat setuju ( 4,5 %). dan selebihnya 47 % tidak mempunyai
waktu yang cukup untuk dapat menenangkan diri.
Variabel pencegahan psikosomatik
 Pada Item kuesioner variabel Pencegahan Psikosomatik. Pada soal dengan
pertanyaan perasaan sedih sehingga membuat responden tidak dapat
menikmati hidup ada sebanyak 25 orang yang menjawab setuju dan 3 orang
yang menjawab sangat setuju, perasaan sedih seperti ini merupakan salah
satu gejala tambahan depresi.
 Pada Item pertanyaan saya kurang memperhatikan lingkungan ada sebanyak
23 orang yang menjawab setuju dan 1 orang yang sangat setuju, orang yang
sedang depresi biasanya sudah tidak punya keinginan untuk memperhatikan
lingkungannya .
 Jawaban item bahwa responden sering merasa mudah lelah sekarang ada
sebanyak 90 orang dengan jawaban setuju dan 10 orang dengan jawaban
sangat setuju, perasaan mudah lelah bisa disebabkan oleh kelelahan fisik
dan psikis. Gangguan psikosomatik seperti depresi, Chronic Fatique
Syndrome atau Sindrom lelah kronik dengan gejala rasa lelah yang
berlangsung lama dan tidak hilang dengan istirahat tanpa penyebab organik
yang jelas.
 Chronic fatique syndrome juga dialami oleh 44 orang responden atau
22 % dengan jawaban yang setuju dan 7 orang (3,5 %) menjawab
sangat setuju. Saya merasa lelah berkepanjangan yang tidak hilang
dengan istirahat, sering disertai pegal, nyeri sendi, kurang tidur,
cemas
 Item soal seperti merasa konsentrasi dan perhatian berkurang
dijawab sangat setuju oleh 4 orang dan 45 orang menjawab setuju.
Sedang pertanyaan merasa harga diri dan percaya diri yang
berkurang dijawab setuju oleh 18 orang responden dan 7 orang yang
sangat setuju, merasa hidup pesimis dijawab oleh 36 orang dengan
jawaban setuju dan 3 orang dengan jawaban sangat setuju,
 Nafsu makan yang berkurang dijawab oleh 34 orang responden
dengan jawaban setuju dan 5 orang menjawab sangat setuju,
jawaban seperti harga diri yang sudah mulai berkurang, pesimis,
konsentrasi yang sudah mulai berkurang, nafsu makan yang
berkurang biasanya dialami oleh orang yang depresi, jadi dari 200
responden yang diperiksa ini kurang lebih ada 23 % mengalami
depresi.
 Dari item soal pertanyaan Saya merasa sakit di ulu hati, kembung, cepat
kenyang, sering disertai cemas, atau rasa sedih. Atau yang menurut penulis
mengalami gangguan psikosomatik dispepsia fungsional adalah sebanyak
32 orang responden (16 %) dengan jawaban setuju dan 2 orang menjawab
sangat setuju (1%).
 Responden yang menjawab Saya sering merasa pegal, kaku otot, sakit
persendianAda sebanyak 56,5 % dengan jawaban setuju dan 5 % dengan
jawaban sangat setuju, Gejala seperti ini bisa karena kelelahan fisik, atau
gangguan psikosomatik yang disebut Nyeri Psikogenik
 Responden dengan yang menjawab Saya sering merasa sakit kepala, atau
migren, atau nyeri sendi, nyeri otot, yang disertai perasaan cemas dan
banyak pikiran, kurang tidur. Ada sebanyak 14 orang (7 %) yang sangat
setuju dan 81 orang (40,5 %) menjawab setuju. Keluhan nyeri psikogenik
sendiri adalah adalah keluhan nyeri yang penyebabnya bukan penyebab
penyakit organik ditemukan gejala nyeri tampa kelainan organ yang jelas
misalnya nyeri kepala, migren, mialgia, atralgia, kolik abdomen, ada stresor
psikososial. Disertai dengan gejala depresi dan ansietas.
 Sedangkan responden yang menjawab Saya mengeluh
sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah,
mual, diare, mulut terasa kering. Dijawab oleh 6 orang
responden dengan jawaban sangat setuju dan 17 orang
setuju, jadi ada 11,5 % yang mengalami gangguan
psikosomatik kemungkinan Penyakit Jantung Fungsional
(neurosis kardiak). Penyakit dengan keluhan seperti
penyakit jantung, tanpa disertai kelainan organik,
Dengan keluhan adanya sakit dada yang tidak khas,
sesak nafas, dapat menyerupai angina pektoris,
berdebar, rasa jantung seakan berhenti, rasa ingin mati,
mudah terkejut, adanya cemas yang berlebihan.
 Dari 200 responden yang di wawancara ada 21
orang (10,5 %) dengan jawaban setuju dan 4 orang
(2%) dengan jawaban sangat setuju menpunyai
gangguan Sindrom Kolon Iritabel adalah sakit perut
disertai gangguan buang air besar tanpa dijumpai
kelainan organik. Ditandai dengan rasa nyeri/tidak
enak, diperut disertai diare atau konstipasi, perut
kembung, yang tampak dengan jelas, rasa nyeri
diperut hilang setelah buang air besar, keluhan
psikis menonjol.
Kesimpulan
 Berdasarkan hasil penelitian antara motivasi ibadah, dan kekebalan
stress terhadap pencegahan gangguan Psikosomatik di Puskesmas
Astapada dapat disimpulkan sebagai berikut
 1. Terdapatnya hubungan yang positif kuat dan signifikan antara
motivasi ibadah dengan pencegahan gangguan psikosomarik sebesar
0,763 atau 76,3 % atas dasar itu berpengaruh signifikan terhadap
pencegahan gangguan psikosomatik, makin tingginya motivasi ibadah
makin meningkatlah pencegahan kita dari gangguan psikosomatik,
 2. Terdapatnya hubungan positif sedang antara kekebalan stress
dengan pencegahan gangguan psikosomatik sebesar 0,347 atau 34,7 %.
atas dasar itu maka dengan meningkatnya kekebalan stress, makin
tinggilah angka pencegahan tubuh kita tercegah dari gangguan
psikosomatik.
 3. Terdapat hubungan positif yang kuat 0,778 atau 77,8 %, dan namun
tidak signifikan secara bersama-sama antara motivasi ibadah, kekebalan
stress dan pencegahan gangguan psikosomatik.
 Menurut pendapat penulis ada variabel diluar penelitian yang harus
diteliti lebih lanjut, keterbatasan waktu, biaya dan tenaga, disini sehingga
penulis hanya menggunakan 2 variabel penelitian. Begitu banyak
determinan variabel yang mempengaruhi penyakit psikosomatik. Karena
gangguan ini bersifat lebih banyak karena stresor psikososial yang masing-
masing individu berbeda, antara lain perbedaan tiap individu itu :
 faktor lain yang tidak diteliti
 Gangguan Kepribadian

 Tingkat kognitif seseorang dalam menghadapi stress

 Kebiasaan budaya setempat dan Kehidupan masa kecil

 Penyesuaian diri
SARAN
 1. Untuk meningkatkan Pencegahan kita terhadap gangguan Psikosomatik
maka kita harus meningkatkan motivasi ibadah kita, motivasi ibadah yang
tinggi akan meningkatkan pencegahan gangguan psikosomatik secara
signifikan, Ibadah yang dilakukan dengan motivasi yang baik akan
menyeimbangkan hormonal tubuh, yang biasanya keluar pada saat tubuh
mengalami stress. Pengamalan ibadah yang dibarengi dengan motivasi
ibadah yang tinggi, dapat dijadikan salah satu alternatif sebagai psikoterapi
suportif yang dapat mestabilkan hormon stress yang biasanya terpicu dalam
jumlah banyak ketika stresor yang datang bertubi-tubi dan menyebabkan
gejala-gejala psikosomatik. Sebelum gejala tersebut berkepanjangan, pasien
di motivasi untuk mempertinggi ibadahnya sehingga selain diberikan
pengobatan somatoterapi, juga kita memberi beberapa tuntunan Ibadah
seperti menjalankan solat 5 waktu tepat waktu, solat tahajud pada sepertiga
malam terakhir, puasa sunah , zikir dan sodaqah. Nasehat secara verbal
dapat memberi support kepada pasien agar dapat menjalankan hidup ini
lebih rileks dan memperbanyak Ibadah secara Iklash.
 2. Tidak hanya ibadah saja yang kita tingkatkan tapi juga kekebalan stress
kita, antara lain dengan melaksanakan olah raga yang teratur, tidur 7-8 jam
sehari yang teratur, kita pupuk kasih sayang dalam keluarga, cukup
memperoleh makanan yang berimbang, mengurangi kebiasaan rokok.
Mengatur pengeluaran yang pemasukan kita, menjalankan ibadah sebaik
mungkin. Mempunyai teman atau sahabat yang baik , meluangkan waktu
untuk berekreasi bersama keluarga, meluangkan waktu untuk menenangkan
diri. Menjaga silaturahmi dengan keluarga dan tetangga. Mengatur waktu
dengan efektif dan efisien. Dengan demikian kekebalan stress kita akan
baik, dengan meningkatnya kekebalan kita terhadap stress, maka akan
meningkatkan pencegahan kita terhadap gangguan psikosomatik.
 3. Seseorang juga harus mampu mengelola stressnya dengan baik. Strategi
pengelolaan stress memang tergantung pada kebiasaan standar budaya
dimana ia dibesarkan, kepribadian yang terbentuk sejak kecil, tingkat
kognitif seseorang untuk mengatasi stressnya.
TEST DIRI
BAGAIMANA MOTIVASI IBADAH
SAYA?
SEBERAPA BESAR KEKEBALAN
STRESS SAYA?
APAKAH SAYA MENDERITA
PSIKOSOMATIK?

Dr HJ. LIZA MPd.i


Motivasi ibadah
 1.Dengan shalat hatiku yang cemas jadi hilang
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 2.Kalau kesedihan melanda aku jadi banyak shalat
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 3.Shalat tahajud bagiku dapat menyembuhan kegelisahanku
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 4.Shalat tahajud aku kerjakan dengan teratur
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 5.Bagiku puasa menyehat badanku dan menyembuhkan sakitku
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 6.Dengan puasa aku jadi lebih sabar
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 7.Puasa menjadi kebiasaanku untuk mendekatkan diri pada Allah SWT
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS}
 8.Bagiku sodakhah tidak harus dengan uang
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 9.Dengan sodakhah hatiku jadi makin bahagia
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 10.Dengan sodakhah pasti Allah akan membalasnya berlipat ganda
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 11.Al-Quran adalah obat jiwaku yang sedang gelisah
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 12.Aku membaca Al-Quran setiap hari beserta artinya
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 13.Aku merasa Al-Quran adalah penyejuk hati nasehat yang menyejukan jiwa
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 14.Aku berniat haji , mudah-mudahan Allah memberi rizki
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 15.Mulai saat ini aku menabung sedikit demi sedikit untuk naik haji
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 16.Aku merasa zikir dapat menyenangkan jiwa dan mengurangi kegelisahanku
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 17.aku melakukan zikir setiap waktu
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 18. Aku merasa hidupku penuh rasa syukur dan barokah
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 19. Aku percaya apa yang aku usahakan (harta, uang, mobil, rumah) didunia ini adalah titipan Allah.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
JAWABAN
A: [SS] : 1 b. [S] :2 c. [KS] :3
d.[TS] :4 e. [STS] : 5

Kriteria ibadah Nilai


 Baik 19 – 38
Sedang 39 – 57
Buruk 58 - 95
Penanggulangan stress
 1.Saya cukup makan sayur , lauk pauk, nasi, berimbang setiap hari
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 2.Pasangan saya atau orang tua saya cukup memberikan kasih saying dan perhatian
kepada saya.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 3.Sayang mempunyai saudara yang tinggalnya tidak begitu jauh (< 75 Km) yang bisa
saya andalkan
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 4.Minimal 2 kali seminggu saya gerak badan sampai berkeringat
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 5.Saya merokok kurang dari setengah pak sehari.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 6.Tinggi badan dan berat badan saya cukup baik, tidak kurus , tidak gemuk
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 7.Keluarga berpenghasilan yang cukup untuk pengeluaran
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 8.Saya merasa bahwa ibadah memberikan kekuatan lahir dan batin saya
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 9.Saya teratur mengikuti kegiatan yang dilakukan desa
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 10.Tetangga dan teman saya baik kepada saya
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 11.Saya mempunyai keluarga atau teman tempat berbagi cerita (curhat)
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 12.Saya akan bicara terus terang mengutarakan perasaan hati ketika marah atau
gelisah.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 13.Saya secara teratur bercakap-cakap dengan orang rumah masalah urusan ruman
, sehidupan sehari-hari
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 14.Setidaknya seminggu sekali saya jalan-jalan dengan keluarga atau teman
mencari hiburan
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 15.Saya dapat mengatur waktu dengan baik
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 16.Dalam sehari saya minum kopi, teh, kurang dari 3 cangkir sehari
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 17.Saya setiap mencari waktu untuk menenangkan diri
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
JAWABAN

. A: [SS] : 1 b. [S] :2 c. [KS] :3


d.[TS] :4 e. [STS] : 5
Kriteria kekebalan stress
 Nilai Baik 17 – 34
 Sedang 35 - 51
 Buruk 52 - 85
Kuesioner III
1Pencegahan Gejala Psikosomatik
 1.Saya merasa sedih, sehingga tidak dapat menikmati hidup
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 2. Saya kurang memperhatikan lingkungan
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 3. Saya sering merasa mudah lelah sekarang
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 4. Saya merasa konsentrasi dan perhatian saya berkurang
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 5. Saya merasa harga diri dan percaya diri saya berkurang
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 6. Saya sering merasa tidak berguna
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 7. Tidur saya sering terganggu sekarang-sekarang ini
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 8. Nafsu makan saya sekarang berkurang
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 9. Saya merasa pesimis sekarang
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 10. Saya merasakan kecemasan yang berlebihan
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 11. Saya sering merasa pegal, kaku otot, sakit presendian
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 12. Saya mengeluh sesak nafas, jantung berdebar, telapak tangan basah, mual,
 diare, mulut terasa kering.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 13. Kewaspadaan saya bertambah , mudah terkejut, cepat tersinggung, sulit
 konsentrasi.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 14. Kemampuan kerja saya menurun.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 15. Saya kurang merawat diri
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 16. Saya merasa sakit di ulu hati, kembung, cepat kenyang, sering disertai
 cemas, atau rasa sedih.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 17. Saya merasa lelah berkepanjangan yang tidak hilang dengan istirahat, sering
 disertai pegal, nyeri sendi, kurang tidur, cemas
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 18. Saya sering merasa sakit kepala, atau migren, atau nyeri sendi, nyeri otot,
 yang disertai perasaan cemas dan banyak pikiran, kurang tidur.
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS]
 19. Saya sering merasa gangguan buang air besar seperti sembelit, disertai
 perasaan yang sering cemas atau stress
 a. [SS] b. [S] c. [KS] d.[TS] e. [STS}
JAWABAN
A: [SS] : 5 b. [S] :4 c. [KS] :3
d.[TS] :2 e. [STS] : 1

Nilai Psikosomatik : 56 - 95

Bukan Psikosomatik (baik): 19 - 57


SKALA HOLMES
 UNTUK MENGETAHUI BERAPA BESAR STRESOR
PADA 1TAHUN KEBELAKANG HIDUP KITA
 JUMLAHKAN NILAI YANG ANDA DAPAT
 DAN LIHATLAH PADA TABEL BERAPA BESAR
KEMUNGKINAN ANDA TERKENA PENYAKIT
 MISALNYA DALAM 1 TAHUN TERAKHIR ANDA
MENDAPAT MUSIBAH: 1. KEMATIAN ISTRI 100 +
KEHILANGAN PEKERJAAN 47 + MENGGADAIKAN
RUMAH 31 =174 ANDA BERADA PADA POSISI:
 150 –199 Tingkat krisis hidup ringan ----> kemungkinan
terkena penyakit 35 %
HOLMES : NILAI
 11 Menggadaikan rumah 31
 1. Kematian Suami/istri 100  12 Perubahan dalam tanggung
 2 Kematian keluarga dekat 63 jawab pekerjaan 29
 3 Perkawinan 50  13 Konflik dengan ipar , mertua,
 4 Kehilangan jabatan 47 menantu 29
 5 Pensiunan/Pengasingan diri 45  14 Perasaan tersinggung atau
 6 Kehamilan istri 40 penyakit 53
 7 Kesulitan sex 39
 15 Rujuk dalam perkawinan 45
 8 Tambah anggota keluarga baru 39
 16 Perubahan kesehatan
seseorang anggota keluarga 44
 9 Kematian kawan dekat 37  17 Perubahan dalam status
 10 Konflik suami/istri 35 keuangan 38
 18 perceraian 65
 19 Peralihan jenis pekerjaan 36
 28 Perubahan dalam jumlah
 19 Peralihan jenis pekerjaan 36 pertemuan keluarga 15
 20 Mencegah terjadinya  29 Pelanggaran ringan 11
penggadaian/pinjaman 30  30 Menukar kebiasaan pribadi 24
 21 Anak laki-laki/perempuan
meninggalkan rumah 29
 31 Perubahan jam kerja/syarat kerja
 22 Prestasi pribadi yang luar biasa
20
28  32Tukar sekolah 20
 23 Istri mulai atau berhenti bekerja2  33 Tukar kegiatan sosial 18
9  34 Tukar kebiasaan tidur 16
 24 Kesulitan dengan atasan 23  35 Perubahan dalam kebiasaan
 25 Tukar tempat tinggal 20 makan 15
 26 Perubahan dalam hiburan19  36 Berlibur 13
 27 Pinjaman dengan rumah sebagai
jaminannya 17
 total
Skala Holmes
 0 - <150 Tidak ada kemungkinan untuk stress
akibat penyakit
 150 –199 Tingkat krisis hidup ringan ---->
kemungkinan terkena penyakit 35 %
 200 – 299 Tingkat krisis hidup sedang ---->
Kemungkinan terkena Penyakit 50 %
 300 atau Lebih Tingkat krisis hidup berat ----
> Kemungkinan terkena penyakit 80 %
Gejala Psikosomatik terdiri dari
 a. Gejala depresi
 b. Gejala Ansietas
 c. Dispepsia fungsional
 d. Nyeri psikogenik
 e. Penyakit Jantung fungsional
 f. Chronic Fatique Syndrome
 g. Penyakit Kolon iritabel
Kriteria Pencegahan Gangguan Psikosomatik
Nilai Psikosomatik 57 - 95
Bukan Psikosomatik (baik)19 - 56
Daftar Pustaka
 Al-Quran dan terjemahan, Penerbit Sari Agung, Jakarta 2005
 Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, Nasehat Bagi yang lalai,
 Penerjeman Abu Juhaidah, Pustaka Amani , Jakarta, 1999
 Az-Zahrani, Musfir, Konseling Terapi, Penerbit Gema Insani, Jakarta 2005
 Al-Magraghi, Tafsir Al-Quran jilid 16
 Ar-Rifai M. N ,Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Penerbit Gema Insani Press, Jakarta 1999
 Arikunto, S, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek , Rineka Cipta 2002
 Ash-Shawi, A.J, Terapi Puasa, Manfaat Puasa Ditinjau dari Perspektif Sains Modern, Penerjemah Aan Wahyudin, Penerbit
Republika, Jakarta 2006
 Ahmad, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Reality Publisher, Jakarta , 2006
 Ardani, Rahayu, Sholichatun, Psikologi Klinis, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2007
 Azis Rani. E Mudjaddid, Hamzah Shatri dkk,. Pedoman Diagnosa dan Terapi di Bidang Ilmu Penyakit Dalam, Pusat Informasi
dan Penerbit Bagian Ilmu Penyakit Dalam Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia.2000.
 Bastaman, H.D.Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju psikologi islam Yogyakarta, Pustaka Pelajar. 1995
 Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II , (Mudjaddid, Shatri) Edisi III, Balai Penerbit FK UI , Jakarta, 2001
 Bahar Azwar, Manfaat Haji dan Umrah bagi Kesehatan, Qultum Media, Jakarta 2007.
 Endang Saifuddun Anshari M. A. Ilmu, Filsafat dan Agama, Penerbit Bina Ilmu 1979
 Frager R (Syekh Ragib al-Jerahi Hati Diri dan Jiwa , Psikologi Sufi untuk Transformasi, (Heart, sefl, & Soul) Penerjemah
Hasmiyah Rauf, Penerbit Serambi, Jakarta, 2003
 Ginanjar Ary, ESQ, Penerbit Arga, Jakarta, 2003
 Guyton, Hall, Text Book of Medical Physiology ed 9, Buku Ajar Fisiologi
 Kedokteran, Alih Bahasa dr. Irawati Setiawan dkk, Penerbit EGC,Jakarta,1997
 Goleman, Daniel, Emotional Intelligence, Alih Bahasa T. Hermaya, Penerbit Gramedia Jakarta, 1997
 Hawari, Dadang, Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis, Dana Bhakti
 Primayasa , Jakarta , 1997
 ------------Al-Quran, Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, Dana Bhakti
 Primayasa, 1998
 Harun Nasution , Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran Prof. DR. Harun Nasution Penerbit Mizan, Bandung, 1995
 Jalal Saour: Does Ramadan Fasting Complicate Antcoagulant Therapy? Fasting: Its Efects on health and Diseases Basic Priniciples
and Clinical Practive (Abstracts). College of Medicine King Saud University , Riyadh, December 1990 .
 Jalaluddin Rakhmat , Psikologi Agama sebuah pengatar, Mizan, Bandung, 2004
 Khadem Yamani, Ja’far, Kedokteran Islam, Sejarah Dan Perkembangannya, Alih Bahasa Tim Dokter IDAVI editor A.D El
Marzdedeq, DIM, Av. Dzikra .2005
 Lazarus RS (1993). "From psychological stress to the emotions: a history of changing outlooks". Annual Review of Psychology 44:
1-22.
 Langgunung , H, Teori-Teori Kesehatan Mental, Penerbit Balai Pustaka Al Husna ,
 Jakarta, 1992
 Martin,David W,(et al) Biokimia , Harper’s Reviem of Biochemistry, alih bahasa
 Iyan Darmawan, EGC, Jakarta 1987
 Microsoft ® Encarta ® 2006
 Maramis, W. F. Ilmu Kedokteran Jiwa , Penerbit Air langga Press ,1980
 Muhammad Nasir Ar-rifai, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Kemudahan Dari Allah), Jilid 1 , Gema Insani , Jakarta 2000
 Muzam MG,. Ali M. N. and Husain A. (1963): Observations on the Effects Of Ramadan Fasting On Gastric Acidity , the Medicus 25:
228 .
 Maumana Amjad, et al, editor Zafar Afaq Ansari, Qur’anic Consepts of Human Psyche, Adam Publisher New delhi-110002, edition
2006
 Muhammad Jawad Mughniyah, Figh Lima Mazhab, (Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali). Penerjemah Drs.Syihabuddin, Penerbit
Lentera, Jakarta 2005
 Muhammad Izzuddun Taufiq , Dalil Anfus Al-Quran dan Embriologi (Ayat-Ayat Tentang Penciptaan manusia) , Darussalam Kairo,
Penerjemah Muhammad Arifin Dkk, editor,Ch Al-Qois, Fiedha L Hasim, Penerbit Tiga Serangkai, Solo, 2006
 M.Mahmud Abdullah, Mukjizat Gerak dan Bacaan Shalat, serta Aplikasi Khusu, penerjemah, Sari Narulita, Penerbit Pustaka Iman,
Jakarta, 2006
 Maulana Muhammad Al-Kandahlawi Rah.a., Fadhilah Amal, Penerjemah Ust A.Abdurrahman Ahmad, Penerbit Ash-Shaff, Yogyakarta
,2003
 Notoatmojo, Soekidjo, Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta,
 Jakarta ,2005.
 Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Panduan Pelayanan
 Medik, Penerbit Departemen IPD FK UI, 2006
 Price, Wilson ,Patofisiologi Edisi 6 vol.2, Alih Bahasa dr. Brahm dkk, Penerbit
 EGC, Jakarta 2002
 Quraish Shihab, Membumikan AL-Quran, Penerbit Mizan, Bandung, 1992
 Sulimami R. A. Famuyiwa F. O. Laaga M. A. (1988): Diabetes Mellitus and Ramadan Fasting: the Need for Critical
Appraisal. Diabetes Medicine 8: 549-552 .
 Suliswati, Tjie Anita, Jeremia, Yenny, Sumijatun, Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta, 2005
 Riyad Albiby and Ahmed Elkadi: A preliminary Report on Effects of Islamic Fasting on Lipoprotens and Immunity. JMA,
vol , 17 188 page 84 .
 Rippetoe-Kilgore, Mark and Lon.. Practical Programming for Strength Training. 2006
 Ron de Kloet, E; Joels M. & Holsboer F. (2005). "Stress and the brain: from adaptation to disease". Nature Reviews
Neuroscience 6 (6): 463-475.
 Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa,Rujukan Ringkas Dari PPDGJ III, editor Rusdi maslim, 2000
 Shahih Muslim, penerjemah Ma’mur Daud, Penerbit Widjaya, Jakarta, 1983.
 Sholeh , M, Terapi Salat Tahajud, Menyembuhkan berbagai Penyakit, Penerbit
 Hikmah Populer Mizan, Bandung , 2006
 Sayyid Qutbh, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an jilid 1, Penerbit Gema Insani Press , Jakarta
 2000
 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Penerbit Rosda, 2005
 Sutanto Priyo Hastono, Modul Analisis Data, Falkutas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia .Jakarta 2001
 Sulistia Gan dkk, Farmakologi dan Terapi, Bagian Farmakologi Falkutas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta,
1997
 Yulizar Darwis, Dkk. Pedoman Pelayanan Kesehatan Jiwa Dasar Di purkesmas, Departemen Kesehatan RI, Ditjen Bina
Kesehatan Masyarakat Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat Jakarta 2004
TERIMA KASIH
 TIDAK ADA GADING YANG TAK RETAK
 SAYA MEMOHON MAAF BILA MASIH ADA
KEKURANGAN DI SINI
 KRITIK DAN SARAN SAYA TUNGGU

 Dr. Hj. Liza Mpd.i