Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS TUBERKULOSIS DEWASA PUSKESMAS PANDANARAN PERIODE 13 AGUSTUS 25 AGUSTUS 2012 Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu

u Syarat Untuk Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang

..

Disusun oleh:

Kallida Nariswari (01.207.5506) Diana Hayati (01.208.5631) Emy Novita Sari (01.208.5645) Nailil Khilmah (01.208.5728) Radya Agri Pratyaksa (01.208.5751)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG 2012

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Puskesmas Pandanaran 13 Agustus 25 Agustus 2012 Telah Disahkan

Semarang,

Agustus 2012

Mengetahui

Kepala Puskesmas Pandanaran

Kepala Departemen IKM

dr. Antonia Sadniningtyas

Prof. dr. Budioro Broto Saputro, MPH

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME, yang telah memberikan rahmat karunia dan hidayah, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Tuberkulosis di Puskesmas Pandanaran. Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat. Laporan ini memuat data tentang kasus Tuberkulosis di Puskesmas Pandanaran, Kota Semarang. Laporan ini dapat terselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk ini kami mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya kepada yang terhormat : 1. Prof. dr. Budioro Broto Saputro, MPH, kepala departemen IKM FK Unissula Semarang 2. dr. Ophi Indria Desanti, Koordinator Pendidikan IKM FK Unissula Semarang 3. dr. Antonia Sadniningtyas, M.Kes, Kepala Puskesmas Pandanaran Semarang 4. dr. Djoko Sulistiono selaku pebimbing di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang. 5. Seluruh Staf Puskesmas Pandanaran Semarang 6. Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan kasus ini. Kami menyadari bahwa hasil penulisan Laporan kasus ini masih jauh dari kata sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan dan perbaikan laporan kasus ini agar lebih baik. Akhir kata kami berharap semoga laporan kasus Tuberkulosis di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang ini bermanfaat bagi semua pihak. Semarang, Agustus 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Sebagian besar infeksi TB menyebar lewat udara, melalui terhirupnya nukleus droplet yang berisikan organisme basil tuberkel dari seseorang yang terinfeksi (Price dan Wilson, 2004). Faktor lingkungan rumah berperan besar terhadap insidensi kejadian tuberkulosis karena lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap status kesehatan penghuninya (Notoatmodjo, 2003). Di kota Semarang penemuan suspek tahun 2009 sebanyak 8.003 orang mengalami penurunan bila dibanding tahun 2008. Penemuan penderita TB Paru BTA + sebanyak 793 orang, mengalami peningkatan 43 kasus bila dibandingkan tahun 2008. Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas (UPTD) kesehatan kabupaten / kota yang bertanggungjawab

menyelenggarakan pembangunankesehatan disuatu wilayah. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu , dan berkesinambungan, yang meliputi pelayanan kesehatan perorang (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods). Puskesmas melakukan kegiatan-kegiatan termasuk upaya kesehatan masyarakat sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan. Upaya kesehatan tersebut

dikelompokkan menjadi dua yaitu upaya kesehatan wajib (meliputi promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak serta keluarga

berencana, perbaikan gizi masyarakat, pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, pengobatan) dan upaya kesehatan pengembangan yaitu : Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Kesehatan Gigi dan Mulut, Laboratorium Sederhana, Kesehatan Usia Lanjut, dan lain-lain. Data yang diperoleh dari tahun 2011, jumlah kasus TB di puskesmas Pandanaran memang bukan 10 besar masalah utama. Masih rendahnya penemuan BTA positif pada penderita TB paru yaitu sekitar 38 %, penderita TB yang konversi sekitar 33% serta penularan TB yang cepat membuat masalah TB pada puskesmas Pandanaran perlu mendapat perhatian. Dari uraian di atas, penulis bermaksud ingin mengetahui faktor faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit Tuberkulosis pada Tn H berdasarkan pendekatan H.L. Blum. 1.2. Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum : Mengetahui dan menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penemuan penyakit Tuberkulosis pada Tn. H berdasarkan pendekatan H.L. Blum. 1.2.2. Tujuan khusus Untuk memperoleh informasi mengenai faktor perilaku yang mempengaruhi terjadinya penyakit Tuberkulosis pada Tn H.

Untuk memperoleh informasi mengenai faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya penyakit Tuberkulosis pada Tn H.

Untuk memperoleh informasi mengenai faktor pelayanan kesehatan yang mempengaruhi terjadinya penyakit Tuberkulosis pada Tn H.

Untuk memperoleh informasi mengenai faktor genetik yang mempengaruhi terjadinya penyakit Tuberkulosis pada Tn H.

Untuk membantu penyembuhan penyakit Tuberkulosis pada Tn H. Untuk mencegah penularan penyakit Tuberkulosis ke orang lain.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Tuberkulosis Tuberkulosis ( TB ) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Kuman batang aerobik dan tahan asam ini, merupakan organisme patogen maupun saprofit. Sebagian besar infeksi TB menyebar lewat udara, melalui terhirupnya nukleus droplet yang berisikan organisme basil tuberkel dari seseorang yang terinfeksi (Price dan Wilson, 2004).

2.2

Patogenesis Tuberkulosis MTB dibedakan dari sebagian besar bakteri dan mikobakteria lainnya karena bersifat patogen dan dapat berkembang biak dalam sel fagosit hewan dan manusia. Pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis relatif lambat dibandingkan mikobakteria lainnya. Mikobakteria tidak menghasilkan endotoksin tuberculosis maupun eksotoksin. sifat Bagian selubung khusus Mycobacterium terhadap proses

mempunyai

pertahanan

mikobakterisidal sel hospes, Dinding sel yang kaya lipid akan melindungi mikobakteria dari proses fagolisosom (Handayani, 2002). Organisme dalam droplet sebesar 1-5 m terhirup dan mencapai alveoli . Organisme yang virulen akan menetap dan berkembang biak serta berinteraksi dengan manusia sehingga menimbulkan penyakit. Basil yang

tidak virulen yang disuntikan (misalnya BCG) hanya dapat hidup dalam beberapa bulan atau beberapa tahun pada manusia normal. Resistensi dan hipersensitivitas sangat mempengaruhi perjalanan penyakit.(Brooks, et. al. 2001) Jalan masuk awal bagi basil tuberkel ke dalam paru atau tempat lainnya pada individu yang sebelumnya sehat menimbulkan respon peradangan nonspesifik yang jarang diperhatikan dan biasanya disertai dengan sedikit atau tanpa sama sekali gejala. Basil kemudian ditelan oleh makrofag dan diangkut ke kelanjar limfe regional, lalu basil tuberkel mencapai aliran darah dan terjadi diseminata yang luas. Kebanyakan lesi tuberkulosis diseminata menyembuh sebagaimana lesi paru primer, walaupun tetap ada fokus potensial untuk reaktivasi selanjutnya. Diseminasi dapat menyebabkan tuberkulosis meningeal atau miliaris, yaitu penyakit dengan potensial terjadinya morbiditas dan mortalitas terutama pada bayi dan anak kecil (Handayani, 2002) Selama 2 hingga 8 minggu setelah infeksi primer, saat basilus berkembang biak di lingkungan intraselulernya, timbul hipersensitivitas pada pejamu yang terinfeksi. Limfosit yang aktif secara imunologik memasuki daerah infeksi, disitu limfosit menguraikan faktor kemotaktik, interleukin, dan limfokin. Sebagai responnya, monosit masuk ke daerah tersebut dan mengalami perubahan bentuk menjadi makrofag dan selanjutnya menjadi sel histiosit yang khusus, yang tersususun menjadi granuloma, Mikobakteria dapat bertahan di dalam makrofag selama

bertahun-tahun walaupun terjadi peningkatan pembentukan lisozim dalam sel ini namun multiplikasi dan penyebarannya selanjutnya biasanya terbatas. Kemudian terjadi penyembuhan, seringkali dengan kalsifikasi granuloma yang lambat dan kadang-kadang meninggalkan lesi sisa yang tampak pada foto rontgen. Kombinasi lesi paru perifer terkalsifikasi dan kelenjar limfe hilus yang terkalsifikasi dikenal sebagai kompleks gohn (Brooks, et. al, 2001) 2.3 Diagnosa Tuberkulosis paru Diagnosis pasti penyakit TB ditegakan berdasarkan keluhan klinis, gejala-gejala fisik, sampai pemeriksaan radiologis. Gejala klinis yang penting dari TB yang sering digunakan untuk menegakan diagnosa klinik adalah batuk kronik yang terus menerus selama tiga minggu yang disertai keluarnya sputum dan berkurangnya berat badan. Diagnosa pasti TB Paru adalah ditemukannya BTA pada pemeriksaan hapusan sputum secara mikroskopis. Untuk itu setiap pasien yang dicurigai TB Paru dengan gejala di atas, harus dilakukan pemeriksaan sputum (Idris, 2004). Diagnosis yang berdasarkan pada pemeriksaan radiologis (foto rontgen) tuberkel sebesar kedelai di daerah basal atau apex paru-paru. Bila berlangsung proses penyembuhan, gambaran yang dapat dikenali adalah fibrosis dan pengecilan volume paru, fokus kalsifikasi, tuberkuloma (granuloma terlokasi yang sering mengalami kalsifikasi, dan kalsifikasi pleura (Patel, 2007)

2.4

Tujuan Pengobatan paru Tujuan pengobatan adalah untuk menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mencegah relaps, menurunkan penularan ke orang lain dan mencegah terjadinya resistensi terhadap OAT (Alsagaff, et. al, 2004)

2.5 2.6

Klasifikasi Gejala A. Gejala Gejala umum / nonspesifik tuberkulosis anak adalah: 1. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau tidak naik dalam 1 bulan dengan penanganan gizi 2. Anoreksia dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik secara adekuat (failure to thrive) 3. Demam lama dan berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria, atau infeksi saluran napas akut), dapat disertai keringat malam 4. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit dan biasanya multipel 5. Batuk lama lebih dari 30 hari 6. Diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan diare Gejala spesifik sesuai organ yang terkena: TB kulit/ skrofuloderma; TB tulang dan sendi (gibbus, pincang); TB otak dan saraf/ meningitis dengan gejala iritabel, kuduk kaku, muntah, dan kesadaran menurun; TB mata (konjungtivitis fliktenularis, tuberkel koroid), dll (Kapita Selekta, 2000).

2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian TB Paru

10

1. Genetic Factor genetic kurang berpengaruh terhadap kejadian tuberculosis 2. Upaya penanggulangan TB a) Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS b) Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap peningkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya MDR-TB. c) Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi, penggaalangan kerjasama dan kemitraan dengan program terkait, sektor pemerintah, non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gerdunas TB). d) Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma cuma dan dijamin ketersediaannya. e) Ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program. f) Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat dan pekerjaannya. 3. Perilaku yang berpengaruh terhadap kejadian Tuberculosis Kebiasaan membersihkan rumah dan pekarangan Hygiene perseorangan Penderita TB Paru yang kurang tahu tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku sebagai orang sakit dan akhirnya berakibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya. Kebiasaan Merokok Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner,

11

bronchitis kronik dan kanker kandung kemih.Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. 4. Lingkungan Tuberculosis Pada umumnya, lingkungan rumah yang buruk (tidak memenuhi syarat kesehatan) akan berpengaruh pada penyebaran penyakit menular termasuk penyakit TB. Berikut ini akan diuraikan mengenai lingkungan fisik dan sosial rumah yang berpengaruh terhadap kejadian TB. a) Kelembaban Udara Kelembaban udara adalah prosentase jumlah kandungan air dalam udara. Secara umum penilaian kelembaban dalam rumah dengan menggunakan hygrometer. Menurut indicator pengawasan perumahan , kelembaban udara yang memenuhi syarat kesehatan dalam rumah adalah 40-60% dan kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 40% atau > 60%. Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Rumah yang lembab merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme, antara lain bakteri, spiroket, ricketsia, adan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk kedalam tubuh melalui udara. Selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. Bakteri mycobacterium tuberculosa seperti halnya bakteri lain,akan tumbuh dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban tinggi karena air membentuk lebih dari 80% volume sel bakteri dan merupakan hal yang esensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri. Selain itu kelembaban udara yang meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri pathogen termasuk bakteri tuberculosis. b) Ventilasi Rumah rumah yang berpengaruh terhadap kejadian

12

Ventilasi adalah usaha untuk memenuhi kondisi atmosfer yang menyenangkan dan menyehatkan manusia. Berdasarkan kejadiannya, maka ventilasi dapat dibagi kedalam dua jenis, yaitu: i. Ventilasi alam Ventilasi alam ini mengandalkan pergerakan udara bebas (angin), temperatur udara dan kelembabannya. Selain melalui jendela, pintu dan lubang angin, maka ventilasipun dapat diperoleh dari pergerakan udara sebagai hasil sifat porous dinding ruangan, atap dan lantai. ii. Ventilasi buatan Pada suatu waktu, diperlukan juga ventilasi buatan dengan menggunakan alat mekanis maupun elektrik. Alat-alat tersebut diantaranya adalah kipas angin, exhauster, dan AC (air conditioner). Persyaratan ventilasi yang baik adalah sebagai berikut : a. Luas lubang ventilasi tetap minimal 5% dari luas lantai ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi isidentil ( dapat dibuka dan ditutup) minimal 5% dari luas lantai. Jumlah keduanya menjadi 10% dari luas lantai ruangan. b. Udara yang masuk harus bersih, tidak dicemari asap dari sampah atau pabrik, knalpot kendaraan,debu dan lain-lain. c. Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan lubang ventilasi berhadapan antar dua dinding. Aliran udara ini jangan sampai terhalang barang-barang besar misalnya lemari, dinding, sekat dan lainlain. Secara umum penilaian ventilasi rumah dengan cara membandingkan antara luas ventilasi dengan luas lantai rumah dengan menggunakan Role meter. Menurut indikator pengawasan rumah, luas ventilasi yang memenuhi syarat kesehatan adalah 10% luas lantai rumah dan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 10% luas lantai rumah.

13

Rumah dengan luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Salah satu fungsi ventilasi adalah menjaga aliran udara dirumah tersebut tetap segar. Luas ventilasi rumah yang <10% dari luas lantai akan mengakibatkan berkurangnya konsenterasi oksigen dan bertambahnya konsenterasi karbondioksida yang bersifat racun bagi penghuninya. Disamping itu, tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan peningkatan kelembaban ruangan karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ruangan yang tinggi akan menjadi media yang baik untuk tumbuh dan berkembangnya bakteri-bakteri pathogen termasuk kuman tuberculosis. Selain itu, fungsi kedua ventilasi adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri pathogen seperti tubekulosis, karena disitu selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Luas ventilasi yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan mengakibatkan terhalangnya proses pertukaran aliran udara dan sinar matahari yang masuk kedalam rumah, akibatnya kuman tuberculosis yang ada didalam rumah tidak dapat keluar dan ikut terhisap bersama udara pernafasan. c) Suhu Rumah Suhu adalah panas atau dinginnya udara yang dinyatakan denggan satuan derajat tertentu. Suhu udara dibedakan menjadi : 1). Suhu kering (umumnya 24-340C); 2). Suhu basah (umumnya 20-250C). Secara umum, penilaian suhu rumah dengan menggunakan

thermometer ruangan. Berdasarkan indikator pengawasan perumahan, suhu rumah yang memenuhi syarat kesehatan adalah antara 20-25 0C, dan suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah < 20 0C atau > 250C.

14

Suhu dalam rumah akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Suhu berperan penting dalam metabolisme tubuh, konsumsi oksigen dan tekanan darah. Suhu rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan akan meningkatlan kehilangan panas tubuh dan tubuh akan berusaha menyeimbangkan dengan suhu lingkungan melalui proses evaporasi. Kehilangan panas tubuh ini akan menurunkan vitalitas tubuh dan merupakan predisposisi untuk terkena infeksi terutama infeksi saluran nafas oleh agen yang menular. Bakteri mycobacterium tuberculosa memiliki rentang suhu yang disukai, tetapi di dalam rentang ini terdapat suatu suhu optimum saat mereka tumbuh pesat. Mycobacterium tuberculosa merupakan bakteri mesolifik yang tumbuh subur dalam rentang 25-40 0C,akan tetapi akan tumbuh secara optimal pada suhu 31-370C. d) Pencahayaan Rumah Pencahayaan alami ruangan rumah adalah penerangan yang bersumber dari sinar matahari, yaitu semua jalan yang memungkinkan untuk masuknya cahaya matahari alamiah, misalnya melalui jendela atau genting kaca. Cahaya alamiah yakni matahari. Cahaya ini sangat penting, karena dapat membunuh bakteri-bakteri pathogen didalam rumah, misalnya kuman TBC. Oleh karena itu, rumah yang cukup sehat seyogyanya harus mempunyai jalan masuk yang cukup (jendela), luasnya sekurangkurangnya 15-20%.perlu diperhatikan agar sinar matahari dapat langsung kedalam ruangan, tidak terhalang oleh bangunan lain. Fungsi jendela disini selain sebagai ventilasi, juga sebagai jalan masuk cahaya. Cahaya matahari mempunyai sifat membunuh bakteri, teruatama kuman mycobacterium tuberculosa. Kuman tuberkulosa hanya dapat mati oleh sinar matahari langsung. Oleh sebab itu, rumah dengan standar pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap kejadian tuberculosis. Kuman tuberculosis dapat bertahan hidup pada tempat yang

15

sejuk, lembab dan gelap tanpa sinar matahari sampai bertahun;tahun lamanya, dan mati bila terkena sinar matahari, sabun, lisol, karbol,dan panas api. Kuman mycobacterium tuberculosa akan mati dalam waktu 2 jam oleh sinar matahari, oleh tincture iodii selama 5 menit dan juga oleh ethanol 80% dalam waktu 2-10 menit serta mati oleh fenol 5% dalam waktu 24 jam. Rumah yang tidak masuk sinar matahari mempunyai resiko menderita tuberculosis 3-7 kali lebih besar dibandingkan denagn rumah yang dimasuki sinar matahari. e) Kepadatan Penghuni Rumah Kepadatan penghuni adalah perbandingan antara luas lantai rumah dengan jumlah anggota keluarga dalam satu rumah tinggal. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh perumahan dinyatakan dalam m 2 per orang. Luas minimum per orang sangat relative, tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk perumahan sederhana, minimum 10 m2/ orang. Untuk kamar tidur diperlukan minimum 3 m2/ orang. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni > 2 oarang, kecuali untuk suami istri dan anak dibawah dua tahun. Apabila ada anggota keluarga yang menjadi penderita penyakit tuberculosis sebaiknya tidak tidur dengan anggota keluarga lainnya. Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi syarat kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni 10 m2/ orang. Kepadatan penghuni dalam satu rumah tinggal akan memeberikan pengaruh bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan perjubelan (overcrowded). Hal ini tidak sehat karena disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, terutama tuberculosis akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain.

16

Menurut penelitian, didapatkan data bahwa : 1) rumah tangga yang penderita mempunyai kebiasaan tidur dengan balita mempunyai resiko terkena TB 2,8 kali lebih besar disbanding dengan yang tidur terpisah; 2) tingkat penularan TB di lingkungan keluarga penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita rata-rata dapat menularkan kepada 2-3 orang didalam rumahnya; 3) besar resiko terjadinya penularan untuk rumah tangga dengan penderita lebih dari 1 orang adalah 4 kali lebih besar disbanding rumah tangga dengan hanya 1 orang penderita (Nurhidayah dkk, 2007).

2.8 Diagnosis 2.7.1 Pemeriksaan BTA dan Foto Rontgen

Diagnosis TBC pada orang dewasa ditegakkan jika ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dikatakan positif apabila sedikitnya 2 dari 3 spesimen SPS BTA hasilnya positif. Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Bila hasil rontgen mendukung TBC maka penderita didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif.

17

Bila hasil rontgen tidak mendukung TBC, maka pemeriksaan dahak SPS diulang. Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan

pemeriksaan lain misalnya biakan. Bila ketiga spesimen hasilnya negatif, diberikan antibiotik spektrum luas ( misalnya: Kotrimoksasaol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu. Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TBC ulangi pemeriksaan dahak SPS. Bila hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita TBC BTA positif. Bila hasil SPS tetap negatif, lakukan pemeriksaan foto rontgen dada untuk menegakkan diagnosis TBC. Bila hasil rontgen mendukung TBC didiagnosis sebagai penderita TBC BTA negatif Rontgen Positif. Bila hasil rontgen tidak mendukung TBC, maka penderita tersebut bukan penderita TBC. 2.9 Penularan Terhadap Penyakit Menurut Amin, dkk ( 2006) Proses terjadinya infeksi oleh M. Tuberculosis biasanya secara inhalasi sehingga TB Paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering disbanding organ lainnya. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei, khususnya yang didapat dari pasien TB Paru dengan batuk berdarah atau berdahak yang mengandung basil tahan asam (BTA).

18

Penyebab Tuberculosis adalah Mycobacterium Tuberculosis sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1 4 /um dan tebal 0,3 0,6 /um sebagian dinding kuman terdiri atas asam lemak atau lipid kemudian peptidoglikan dan arabinomanan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam ( asam alcohol ) sehingga disebut bakteri tahan asam dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keaadaan dingin ( dapat tahan bertahun tahun dalam lemari es ). Hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberculosis dan menjadi aktif lagi. Di dalam jaringan kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag yang semula memfagositasi kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid. Sifat kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apikal paruparu lebih tinggi dari bagian lain sehingga bagian apikal ini merupakan predileksi tempat penyakit TB.

2.8 Penatalaksanaan Regimen dasar pengobatan TB adalah kombinasi INH dan RIF selama 6 bulan dengan PZA pada 2 bulan pertama. Pada TB berat dan ekstrapulmonal biasanya pengobatan dimulai dengan kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan (ditambah EMB dan streptomisin), dilanjutkan dengan INH dan RIF selama 4-10 bulan sesuai perkembangan klinis. Pada meningitis TB, perikarditis, TB milier, dan efusi pleura diberikan kortikosteroid, yaitu prednison 1-2 mg/ kgBB/ hari selama 2 minggu, diturunkan perlahan (tapering off) sampai 2-6 minggu (Kapita Selekta, 2000).

19

DIAGRAM

BAB III STATUS PRESENT 3.1 DAFTAR PENDERITA a. Identitas Pasien Nama Pekerjaan Agama Status pernikahan Pendidikan terakhir Alamat b. c. : Hadi Priyatno : Pembersih makam : Islam : Belum menikah :Tidak Sekolah : Bergota Krajan 126 RT 08 Rw V Keluhan Utama - Onset - Kualitas harinya. : 3 bulan batuk tidak berdahak Riwayat Penyakit Sekarang : 3 bulan sebelum periksa ke puskesmas pandanaran : Batuk dirasakan pasien terus menerus setiap Tempat Tanggal Lahir: Semarang, 6 Juni 1968

20

- Kuantitas aktivitas pekerjaan

: Batuk tidak berdahak sampai mengganggu

- Faktor yang memperingan : Istirahat - Faktor yang memperberat : Bekerja - Gejala yang menyertai - Kronologis panas, namun tidak pilek. d. Riwayat penyakit dahulu - Riwayat darah tinggi : Disangkal - Riwayat kencing manis : Disangkal - Riwayat penyakit jantung : Disangkal - Riwayat alkohol : Disangkal - Riwayat merokok : (+) - Riwayat penyakit ginjal : Disangkal e. Riwayat Penyakit Keluarga - Riwayat TB : Disangkal - Darah Tinggi : Disangkal - Riwayat kencing manis: Disangkal f. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien adalah seorang pembersih makam. Biaya pengobatan dengan JAMKESMAS. Tetangga yang tinggal tidak jauh dari rumah pasien juga mengalami sakit yang sama dengan pasien. g. - Tanda vital Tekanan darah : 130/90 mmHg Nadi RR Suhu : 88/menit,reguler,amplitudo kuat, irama ritmik. : 24 x/menit : 36,2o C Pemeriksaan Fisik - Kesan Umum : Baik : Badan Panas : 3 bulan sebelum periksa ke puskesmas,

pasien merasa sesak napas, kemudian setelah itu diikuti batuk kering,

21

BB/TB Kepala Rambut Mata

: 56/159 cm : mesocephal : Beruban,tidak mudah dicabut : conjungtiva anemis (-/-), pupil isokor 3cm, reflek

cahaya +N/+N, oedema palpebra (-) dengan rangsangan suara pasien spontan membuka mata Telinga: Discgarge (-/-), gangguan pendengaran (-) Hidung: simetris,discharge (-), nafas cuping hidung (-), epitaksis (-) Mulut arti. Leher : simetris (-), deviasi trakea (-), tidak ada pembesaran kelenjar limfe, pembesaran kelenjar tiroid (-), kaku kuduk(-). Thorak : Pulmo Inspeksi retraksi. Palpasi Perkusi Auskultasi Cor Inspeksi Palpasi : Ictus cordis tampak IV linea mid : stem fremitus kanan = kiri : sonor diseluruh lapangan paru : suara dasar vesicular, suara tambahan : simetris saat statis dan dinamis, tidak ada : sianosis (-), bibir kering (-), stomatitis (-), bau mulut (-), papil lidah atrofi (-),mampu mengucap kalimat yang mempunyai

ronchi (-), wheezing (-)

claviculare kiri. : Ictus cordis teraba di sela igaIV, linea mid

claviculare kiri, tidak kuat angkat, tidak melebar.pulsus epigastrium (-),pulsus parasternal(-) Perkusi :

22

Batas atas parasternalis kiri Batas pinggang parasternalis kiri Batas kiri bawah kiri Batas kanan bawah kanan. Abdomen : Inspeksi Auskultasi

: :

Setinggi Setinggi

ICS ICS

II-IV II-V

linea linea

: Setinggi ICS VI linea midclavicula : Setinggi ICS IV-VI linea sternalis : Suara jantung I dan II

reguler, bising (-).

: Permukaan datar, venektasi tidak

ada, umbilical tidak menonjol Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar/ lien ascites (-), tumor (-), ginjal Timpani, nyeri ketok sudut

tidak teraba, balotement (-). Ekstremitas Perkusi : costovertebra (-)

Auskultasi : Peristaltik (+) normal, tidak ada bising bruit : superior -/<2 -/5/5 N/N -/-/5/5 N inferior -/<2 -/5/5 N/N -/-/5/5 N Akral dingin Capillary refill Edema Kekuatan otot Ref. Fisiologis Ref. Patolois Eritema palmaris Kekuatan Sensibilitas

23

h. i. j. FDC B1 B6 3.2

Pemeriksaan Sputum Dilakukan pada tanggal : SPS pertama tanggal 11 Juni 2012 didapatkan hasil BTA (+) SPS kedua tanggal 11 Agustus 2012 didapatkan hasil BTA (-) Diagnosa Tuberculosis Paru Terapi yang diberikan Fase Intensif ( 14 Juli- 8 Agustus 2012), diminum setiap hari sebelum makan 3 tab/ hari. Fase Lanjut (13 Agustus sekarang), diminum 3 x/minggu (3 tab/hari).

DATA PERKESMAS a. Identitas Keluarga Jumlah Kepala Keluarga yang tinggal dirumah sebanyak 1 kepala keluarga

No 1

Nama Hadi Priyatno

Tempat Tanggal Lahir Tidak didapatkan data

Pendidikan Tidak bersekolah

Status Belum Menikah

b.

Data Lingkungan 1. Individu / Keluarga - Pasien adalah seorang yg merokok sebelum terkena peyakit tuberculosis. 2. Rumah

24

Tidak terawatt kebersihannya, berdebu, pintu dan jendela rumah jarang dibuka, ventilasi dan pencahayaan kurang serta lembab. 3. Ekonomi - Pasien adalah seorang pembersih makam yang mempunyai penghasilan sendiri. - Pasien belum pernah menikah hingga sekarang - Sumber penghasilan keluarga tergantung dari diri sendiri dan penghasilan per hari tidak menentu Rp.5.000-10.000/hari c. Data Perilaku 1. Individu / Keluarga Pasien terbiasa tidak menjaga kebersihan rumah. Pasien memiliki kebiasaan membuang dahak sembarangan. Pasien jarang menutup mulut ketika bersin dan batuk.

2. Masyarakat Belum ada kegiatan olahraga bersama, belum ada penyuluhan tentang tuberculosis. d. Data Pelayanan Kesehatan yang Terdekat Promotif - Posyandu lansia - Poskesdes - Puskesmas Preventif - Posyandu lansia - Puskesmas Pandanaran Kuratif Rehabilitatif e. Data Genetika
25

: (-) : (-) : (+) : (-) : (+) Puskesmas Pandanaran Puskesmas Pandanaran : Puskesmas : Puskesmas

Tidak didapatkan data tentang genetic yang berhubungan dengan TB paru f. Pemeriksaan Kontak Karena pasien hanya tinggal seorang diri di rumah, maka pemeriksan kontak tidak dilakukan. DIAGRAM KELUARGA TN. HADI PRIYATNO

Keterangan : : Perempuan sudah meninggal : Laki laki hidup

: Laki laki sudah meninggal

:Perempuan hidup

: Tinggal 1 rumah

: Pasien

BAB IV PEMBAHASAN

26

4.1

Perilaku a. Data : Pasien jarang membersihkan lingkungan dalam dan luar rumah. Teori : Rumah yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan akan membawa pengaruh bagi penghuninya Pembahasan : Rumah yang lembab merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme, antara lain bakteri, spiroket, ricketsia, dan virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk kedalam tubuh melalui udara. Selain itu kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan membran mukosa hidung menjadi kering sehingga kurang efektif dalam menghadang mikroorganisme. b. Data : Pasien membuang dahak sembarangan Teori : Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei, khususnya yang didapat dari pasien TB Paru dengan batuk berdarah atau berdahak yang mengandung basil tahan asam (BTA). Pembahasan : Dahak penderita TBC mengandung BTA positif yang dapat menjadi media penyebaran kuman M. Tuberculosis c. Data : Pasien jarang menutup mulut ketika bersin dan batuk Teori : Proses terjadinya infeksi oleh M. Tuberculosis biasanya secara inhalasi sehingga TB Paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering disbanding organ lainnya. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei, khususnya yang didapat dari pasien TB Paru dengan batuk berdarah atau berdahak yang mengandung basil tahan asam (BTA). Pembahasan : Dahak penderita TBC mengandung droplet nuclei (BTA positif) yang dapat menjadi media penyebaran kuman M. Tuberculosis

4.2

Lingkungan

27

a. Data : Lingkungan dalam dan luar rumah pasien tidak terawat kebersihannya,serta kodisi rumah berdebu dan pintu serta jendela rumah yang jarang dibuka,tidak adanya ventilasi dan pencahayaan yang cukup,serta lembab. Teori : Pada umumnya, lingkungan rumah yang buruk (tidak memenuhi syarat kesehatan) akan berpengaruh pada penyebaran penyakit menular termasuk penyakit TB. Berikut ini akan diuraikan mengenai lingkungan fisik dan sosial rumah yang berpengaruh terhadap kejadian TB. - Pembahasan : pada pasien ini mempunyai factor resiko terjadinya TB karena pasien jarang membersihkan rumah, membuka jendela dan pintu serta tidak pernah membersihkan lingkungan luar rumah. MASALAH Menurut pendekatan HL. Blum dan data-data yang diperoleh, didapatkan :
LINGKUNGAN Ventilasi, kelembaban diperhatikan. Pencahayaan udara yang dan tidak PERILAKU Pasien memiliki kebiasaan tidak menjaga lingkungan rumah Pasien membuang dahak sembarangan Pasien jarang menutup mulut ketika bersin dan batuk

Tuberculosis

PENYEBAB MASALAH

28

Penyebab 1. Pasien jarang menutup mulut ketika bersin dan batuk 2. Pasien membuang dahak sembarangan 3. Ventilasi, Pencahayaan dan kelembaban udara yang tidak diperhatikan 4. Pasien dengan perilaku kurang memperhatikan kebersihan METODE HANLON KUALITATIF URGENSI

1 1 2 3 4 Total Vertikal Total Horizontal TOTAL 0 1 1

3 +

4 + + +

Horizontal 1 2 1 0

1 2 3

1 1 2

0 0 0

29

SERIOUS

1 1 2 3 4 Total Vertikal Total Horizontal TOTAL GROWTH 0 3 3

2 +

3 + +

4 + -

Horizontal 3 1 1 0

0 1 1

0 1 1

2 0 2

1 1 2 3 4 Total Vertikal Total Horizontal TOTAL Total USG 0 1 1

3 +

4 + + -

Horizontal 1 2 0 0

1 2 3

1 0 1

1 0 0

30

1 Urgency Serious Growth Total 1 3 1 5

2 3 1 3 7

3 2 1 1 4

4 0 2 0 2

Prioritas penyebab masalah 1. Pasien membuang dahak sembarangan 2. Pasien jarang menutup mulut ketika bersin dan batuk 3. Ventilasi, Pencahayaan dan kelembaban udara yang tidak diperhatikan 4. Pasien dengan perilaku kurang memperhatikan kebersihan

31

BAB V SARAN-SARAN PEMECAHAN MASALAH

NO.

MASALAH PERILAKU - Pasien membuang


sembarangan

PEMECAHAN MASALAH Edukasi untuk membuang dahak di kamar dahak mandi/tidak membuang dahak di sembarang tempat. Edukasi untuk menutup mulut dengan sapu tangan atau tisu ketika bersin dan batuk

Pasien jarang menutup mulut ketika bersin dan batuk

Pemecahan Masalah 1. Edukasi untuk membuang dahak di kamar mandi/tidak membuang dahak di sembarang tempat. 2. Edukasi untuk menutup mulut dengan sapu tangan atau tisu ketika bersin dan batuk

32

BAB VI IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Masalah


Pasien membuang dahak sembarangan

Pasien jarang menutup mulut ketika Edukasi bersin dan untuk menutup batuk

Kegiatan Edukasi untuk membuang dahak di kamar mandi/tidak membuang dahak di sembarang tempat.

Waktu 18 Agustus 2012 Jam 10.00 11.30 WIB

Implementasi Memberikan gambaran tentang pengaruh kebersihan lingkungan dan penyebaran/ penularan penyakit TB.

Indikator Pasien memiliki keinginan untuk merubah perilaku membuang dahak, menutup mulut dengan sapu tangan atau tisu ketika bersin dan batuk

Hasil Pasien belum merubah perilaku membuang dahak, menutup mulut dengan sapu tangan atau tisu ketika bersin dan batuk

mulut dengan sapu tangan atau tisu ketika bersin dan batuk

33

BAB VII SIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan laporan, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya tuberkulosis pada kasus ini berdasarkan pendekatan HL Blum adalah : Perilaku Pasien membuang dahak sembarangan Pasien jarang menutup mulut ketika bersin dan batuk Pasien dengan perilaku kurang memperhatikan kebersihan

Lingkungan - Ventilasi, Pencahayaan dan kelembaban udara yang tidak diperhatikan

34

BAB VIII PENUTUP Demikianlah hasil laporan kasus TB Paru di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang. Dalam penulisan laporan tentu masih terdapat banya kekurangan sehingga diharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan laporan ini. Penulis berharap semoga laporan kasus TB Paru di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

35

BAB IX DAFTAR PUSTAKA

1. Aditama TY, Kamso S, Basri C, Surya A. Pedoman nasional penanggulangan tuberculosis. Edisi ke-2. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia: 2008. 2. Amin Z, Asril B. Tuberculosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4. Jakarta : Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia: 2006. 3. Amin Zulkifli. Pengobatan Tuberkulosis Mutakhir dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4.Jakarta : Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia: 2006.
4. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi Kedelapan. Jakarta.2002.

5. Nurhidayah I, Lukman M, Rakhmawati W. Hubungan antara karakteristik lingkungan rumah dengan kejadian tuberculosis. Bandung: Universitas Padjajaran: 2007. 6. Mansjoer A., dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Kedua. Jakarta. FKUI: 2000.

36

Lampiran 1

37

38