P. 1
ABSES LEHER DALAM

ABSES LEHER DALAM

|Views: 29|Likes:
Dipublikasikan oleh Arfiana Talita Asri

More info:

Published by: Arfiana Talita Asri on Jun 19, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/29/2013

pdf

text

original

ABSES LEHER DALAM

ARFIANA TALITA ASRI

PENDAHULUAN
Abses leher dalam terbentuk di dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat penjalaran infeksi dari berbagai sumber seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher

• Rumah Sakit dr. M. Djamil Padang didapatkan abses leher dalam sebanyak 33 orang.
– Abses submandibula (26%) – abses peritonsil (32%) – abses parafaring (18%) – abses retrofaring (12%) – abses mastikator (9%) – abses pretrakeal (3%)

Anatomi Leher
• Pada leher terdapat beberapa ruang potesial yang dibatasi oleh fasia servikalis. • Fasia servikalis terdiri dari jaringan ikat fibrous yang membungkus organ, otot, saraf dan PD serta membagi leher menjadi beberapa ruang potensial.

Ruang Potensial 1. ruang parotis 4. ruang submandibula 2. ruang parafaring 3. ruang prevertebra. ruang bahaya (danger space) 3. ruang retrofaring 2. ruang mastikor 5. 1. ruang peritonsil 6. ruang temporalis ruang pretrakeal .

.

.

ABSES PERITONSIL (QUINSY) suatu rongga yang berisi nanah didalam jaringan peritonsil yang terbentuk sebagai hasil dari suppuratif tonsilitis Komplikasi tonsilitis akut Aerob Streptococcus pyogenes Staphylococcus aureus Haemophilus influenzae Anaerob Fusobacterium Prevotella Porphyromonas Fusobacterium Peptostreptococcus spp .

Gambaran Klinis • • • • Odinofagia Otalgia Muntah (regurgitasi) Mulut berbau (foetor ex ore) Suara gumam (hot potato voice) Hipersalivasi Suara sengau (rinolalia) Sukar membuka mulut (trismus) • • • • Sakit kepala Rasa lemah Demam Pembengkakan kelenjar submandibula dengan nyeri tekan • Nyeri pada saat menggerakkan lehernya • Sesak • • • • .

menonjol kedepan dan berfluktuasi Tonsil mebengkak dan hiperemis .Bengkak.

.Pemeriksaan Penunjang • • • • Darah lengkap Elektrolit Kultur darah Gold standar mengumpulkan pus dari abses menggunakan aspirasi jarum  kultur • Pemeriksaan radiologi posisi anteroposterior hanya menunjukkan “distorsi” dari jaringan tapi tidak bisa menentukan pasti lokasi abses.

CT scan pada tonsil dapat terlihat daerah yang hipodens yang menandakan cairan  rencana operasi USG  dapat membantu dalam membedakan antara selulitis dan awal dari abses .

Kemudian dapat terjadi penjalaran ke mediastinum menimbulkan mediastinitis. dan abses otak. • Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring abses parafaring.Komplikasi • Abses pecah spontan  perdarahan aspirasi paru. meningitis. atau piema. • Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial thrombus sinus kavernosus. .

Diagnosa Banding • • • • Abses retrofaring Abses parafaring Abses submandibula Angina ludovici .

5mg/kg selama 1 jam diberikan selama 6-8 jam dan tidak boleh lebih dari 4 gr/hari. • Simtomatik (analgetik dan steroid) • Kumur air hangat dan kompres dingin pada leher .Terapi • STADIUM INFILTRASI • AB = Penisilin + Dewasa = 600mg IV tiap 6 jam selama 12-24 jam Anak = 12.000 U/Kg tiap 6 jam Metronidazol dewasa 15mg/kg 6 jam dosis rumatan setelah dosis awal dengan infus 7.500-25.

Terapi • TERBENTUK ABSES : pungsi pada daerah abses Insisi untuk mengeluarkan nanah. Daerah yang paling menonjol dan lunak X Insisi dan drainase pada mukosa overlying abses. biasanya diletakkan di lipatan supratonsillar .

.Terapi • Jika infeksi sudah tenang  Tonsilektomi yaitu pada minggu ke 6-8 • Tonsilektomi merupakan indikasi absolut pada abses peritonsilaris yg berulang atau abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya kecenderungan besar untuk kambuh.

.ABSES RETROFARING Abses retrofaring adalah suatu peradangan yang disertai pembentukan pus pada daerah retrofaring.

Etiologi • Aerob Streptococcus beta hemolyticus group A (paling sering) Streptococcus pneumoniae Streptococcus nonhemolyticus Staphylococcus aureus Haemophilus sp. • • • • Anaerob Bacteroides sp Veillonella Peptostreptococcus Fusobacteria • • • • .

berfluktuasi dan nyeri tekan • Pembesaran kelenjar limfe leher (biasanya unilateral). stridor. • Kekakuan otot leher (neck stiffness) disertai nyeri pada pergerakan • Air liur menetes (drooling) • Obstruksi saluran nafas seperti mengorok. dispnea .Gejala Klinis • • • • Demam Sukar dan nyeri menelan Suara sengau Dinding posterior faring membengkak (bulging) dan hiperemis pada satu sisi. • Pada palpasi teraba massa yang lunak.

Penatalaksanaan 1. Mempertahankan jalan nafas yang adekuat : – Posisi pasien supine dengan leher ekstensi – Pemberian O2 – Intubasi endotrakea dengan visualisasi langsung / intubasi fiber optik – Trakeostomi / krikotirotomi .

ampicillin/ sulbactam. . piperacillin/ tazobactam. Medikamentosa – Antibiotik ( parenteral ) • kombinasi Penisilin G dan Metronidazole • clindamycin dapat diberikan sendiri atau dikombinasikan dengan sefalosporin generasi kedua (seperti cefuroxime) atau β lactamase resistant penicillin seperti ticarcillin/ clavulanate.2. selama lebih kurang 10 hari.

– Simtomatis – Dehidrasi berikan cairan untuk memperbaiki keseimbangan cairan elektrolit. – Pada infeksi Tuberkulosis diberikan obat tuberkulostatika  R. Batuk lama .

Operatif – Aspirasi pus (needle aspiration) – Insisi dan drainase : Pendekatan intraoral (transoral) Insisi vertikal pd daerah yg berfluktuasi Anterior Pendekatan eksterna Posterior Insisi vertikal setinggi krikoid insisi pada batas posterior m.3. sternokleidomastoideus .

mediastinitis. empiema. abses paru • Penyebaran infeksi ke daerah sekitarnya : – inferior : edema laring . pleuritis. sepsis dan kematian. ruptur arteri karotis. abses parafaring – posterior : osteomielitis dan erosi kollumna spinalis • Infeksi itu sendiri : necrotizing fasciitis. .Komplikasi • Massa itu sendiri : obstruksi jalan nafas • Ruptur abses : asfiksia. aspirasi pneumoni. abses mediastinum – lateral : trombosis vena jugularis.

ABSES PARAFARING • Abses parafaring adalah kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang parafaring. Kuman penyebab biasanya campuran aerob dan anaerob. pada anak dan dewasa .

trismus. dan pembengkakan dinding lateral faring hingga menonjol ke arah medial. leukositosis. . nyeri tenggorok.Gejala klinis • Demam. nyeri menelan. indurasi atau pembengkakan di daerah sekitar angulus mandibula.

Pemeriksaan Penunjang • Foto jaringan lunak AP menunjukkan penebalan jaringan lunak parafaring dan pendorongan trakea ke samping depan. Dengan tomografi komputer terlihat jelas abses dan penjalarannya. .

200.Penatalaksanaan • Pasien dirawat inap • Berikan antibiotik dosis tinggi terhadap kuman aerob dan anaerob secara parenteral.000-1. .000 unit atau Ampisilin 3-4 x 1-2 gram atau Gentamisin 2 x 40-80 mg • Kloramfenikol 3 x 250-500 mg • Metronidazol 3 x 250-500 mg. • Penisilin 600.

endoflebitis. tromboflebitis • Septikemia . periflebitis. kerusakan dinding pembuluh darah sehingga terjadi perdarahan hebat akibat ruptur pembuluh karotis • Komplikasi pada nervus vagus • Edema laring • Pendorongan trakea.Komplikasi • Peradangan intrakranial • Mediastinum.

kelenjar limfe submandibula Aerob dan Anaerob . dasar mulut.ABSES SUBMANDIBULA Abses submandibula adalah suatu peradangan yang disertai pembentukan pus pada daerah submandibula. Infeksi dari gigi. faring.

. trismus akibat keterlibatan musculus pterygoid. disfagia dan sesak nafas akibat lidah yang terangkat ke atas dan terdorong ke belakang. hipersalivasi. • Pemeriksaan fisik  pembengkakan di daerah submandibula. dan nyeri tekan.Gejala Dan Tanda Klinis • demam. fluktuatif. angulus mandibula dapat diraba.

Pada insisi didapatkan material yang bernanah atau purulent (merupakan tanda khas) .

. Aspirasi pus uji resistensi antibiotik • Radiologis – Rontgen jaringan lunak kepala AP – Rontgen panoramik  Dilakukan apabila penyebab abses submandibuka berasal dari gigi.Pemeriksaan Penunjang • Laboratorium DR  leukositosis.

Gambaran abses tampak lesi hipodens.• Rontgen thoraks  evaluasi mediastinum. empisema subkutis. batas jelas. dan pneumonia akibat aspirasi abses. kadang ada air fluid level . pendorongan saluran nafas. • Tomografi komputer (CT-scan) • CT-scan dengan kontras  pemeriksaan baku emas pada abses leher dalam.

. CT-scan axial menunjukkan pembesaran musculus pterygoid medial (tanda panah).Pasien dengan keluhan trismus. peningkatan intensitas ruang submandibular dan batas yang jelas dari musculus platysmal (ujung panah). pembengkakan submandibula yang nyeri .

Axial CT-scan menunjukan infeksi pada ruang submandibula. Tampak abses multifokal .

tergantung letak dan luas abses. • Belum terbentuk abses  konservatif dengan antibiotik IV • Terbentuk abses  Insisi dibuat pada tempat yang paling berfluktuasi atau setinggi os hioid. .Terapi • kombinasi ceftriaxone dengan metronidazole masih cukup baik.

• Pasien dirawat inap 1-2 hari hingga gejala dan tanda infeksi reda . maka tindakan trakeostomi perlu dipertimbangkan.• Mengingat adanya kemungkinan sumbatan jalan nafas.

Komplikasi • • • • • Medistinitis Ruptur arteri karotis  perdarahan hebat Periflebitis atau endoflebitis Tromboflebitis Septikemia. .

ANGINA LUDOVICI Infeksi ruang submandibular berupa selulitis atau flegmon yang progresif dengan tanda khas berupa pembengkakan seluruh ruang submandibula. tidak membentuk abses dan tidak ada limfadenopati .

malnutrisi • Stridor atau kesulitan bernapas. lesu. lemah. pembengkakan. • Ekstraoral  eritema. perabaan yang keras seperti papan (boardlike) serta peninggian suhu pada leher dan jaringan ruang submandibula-sublingual yang terinfeksi.Gejala KLinis • malaise. disfonia (hot potato voice) .

. hipersalivasi (drooling).• Intraoral  pembengkakkan. kesulitan dalam artikulasi bicara (disarthria). sulit menelan (disfagia). nyeri dan peninggian lidah.

Pembengkakkan berat dari submandibula bilateral dan regio cervikal anterior .

Edema dan indurasi dari dasar mulut mengakibatkan peninggian lidah .

.Tampak depan dan samping menunjukkan pembengkakkan submandibular dan sublingual.

memperlihatkan drainase submandibula bilateral dan occluded tracheostomy tube .

dibutuhkan untuk mengobati dan membatasi penyebaran infeksi. .Terapi • Menjaga patensi jalan napas. • Terapi antibiotik secara progesif. • Dekompresi ruang submandibular. dan submental. sublingual.

Terima Kasih .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->