Anda di halaman 1dari 17

BULETIN LABORATORIUM VETERINER Vol : 12 No : 3 Tahun 2012 Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta Edisi Bulan : JULI -SEPTEMBER

International Standard Serial Number (ISSN) : 0863-7968 TRICHINOSIS TINJAUAN UMUM PENYAKIT, BAHAYA DAN PENANGGULANGANNYA Ari Puspita Dewi 1 dan Edy Sumarwanta 2 1 Medik Veteriner di Lab. Parasitologi 2 Medik Veteriner pada Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Kebumen ABSTRAK Trichinosis, atau biasa disebut trichinellosis, atau trichiniasis, merupakan pen yakit parasiter yang disebabkan oleh infeksi parasit Trichinella. Trichinosis pada manusia dapat terjadi karena memakan daging mentah atau yang dimasak kurang matang (uncooked) yang tel ah terinfeksi oleh larva cacing Trichinella. Hampir diseluruh dunia pernah dilapork an adanya penyakit yang disebabkan Trichinella spiralis. Parasit ini pertama kali ditemuka n dalam jaringan manusia sewaktu otopsi pada permulaan tahun 1800-an, baru pada tahun 18 60 Freidrich von Zenker menyimpulkan bahwa infeksi disebabkan karena memakan sosis mentah. Beberapa tahun kemudian, dibuktikan secara pasti bahwa penyakit ini meru pakan penyakit zoonosis (food born disease). Sekitar 11 juta orang terinfeksi Trichine lla. Kejadian trichinosis di AS telah menurun secara dramatis dalam satu abad terakhir. Sejak 1997 sampai 2001, dilaporkan rata-rata terjadi 12 kasus per tahun di Amerika Serikat. Saat ini jumlah kasus telah menurun karena adanya undang-undang yang melarang pemberian makanan sampah daging mentah untuk babi, meningkatnya pembekuan komersial, dan kesadaran masyarakat akan bahaya mengkonsumsi produk daging babi mentah atau setengah matang. Oleh karena itu, perlu diupayakan peningkatan kewaspadaan dan kesadaran masyarakat terhadap kemungkinan serangan trichinellosis baik pada tern ak maupun kemungkinan penularannya pada manusia. Di daerah endemik, pengendalian ti kus menjadi penting untuk mencegah trichinosis, dengan meminimalkan kontak langsung dan menjaga kebersihan pakan ternak. Pemantauan ternak dapat dilakukan dengan melalu i penyidikan epidemiologi dengan teknik diagnosa dini yang akurat, sehingga teknik pengendalian trichinosis secara strategis dan berkelanjutan di kawasan endemik d apat diterapkan. Balai Besar Veteriner Wates

Kata Kunci: Trichinosis, Zoonosis, Manusia PENDAHULUAN Terdapat delapan jenis Trichinella, lima diantaranya memiliki selubung (encapTrichinosis, atau biasa disebut trichinello sulated) dan tiga lainya tidak. Hanya tiga sis, atau trichiniasis, merupakan penyakit jenis Trichinella yang diketahui bisa me parasiter yang disebabkan oleh infeksi nyebabkan trichinosis yaitu T. spiralis, T. parasit Trichinella. Trichinosis pada manu nativa, dan T. britovi. Sebagian besar ka sia dapat terjadi karena memakan daging sus yang terjadi di dunia merupakan aki mentah atau yang dimasak kurang matang bat dari mengonsumsi daging kurang ma (undercooked) yang telah terinfeksi oleh tang. Hal ini umum di negara-negara ber larva cacing Trichinella. Tingkat keparah kembang di mana daging untuk makanan an penyakit ini terkait dengan tingkat in babi mentah atau kurang matang, namun feksi dan karakteristik hospes, seperti pri banyak kasus juga datang dari negara ming imunologi sebagai akibat dari infeksi negara maju di Eropa dan Amerika Utara,

sebelumnya. Beberapa laporan menunjuk di mana daging babi mentah atau kurang kan hubungan antara keparahan penyakit matang dan binatang liar dapat dikon dengan jenis Trichinella yang menginfeksi, sumsi sebagai hidangan. bahwa jenis tertentu mungkin menyebabHampir diseluruh dunia pernah dilaporkan kan penyakit yang lebih parah dari pada adanya penyakit yang disebabkan Trichi yang lain. Namun, patogenisitas dari ber nella spiralis. Parasit ini pertama kali dite bagai jenis sulit untuk didefinisikan secara mukan dalam jaringan manusia sewaktu klinis tanpa mengukur tingkat infeksinya. otopsi pada permulaan tahun 1800-an, TRICHINOSIS TINJAUAN UMUM PENYAKIT, BAHAYA DAN PENANGGULANGANNYA oleh : Ari Puspita Dewi dan Edy Sumarwanta ..................................... ................................................................................ ................................

BULETIN LABORATORIUM VETERINER IN LABORATORIUM VETERINER Vol : 12 No : 3 Tahun 2 012 Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta Edisi Bulan : JULI -SEPTEMBER International Standard Serial Number (ISSN) : 0863-7968 baru pada tahun 1860 Freidrich von Zenker menyimpulkan bahwa infeksi disebabkan karena memakan sosis mentah. Beberapa tahun kemudian, dibuktikan secara pasti bahwa penyakit ini merupakan penyakit zoonosis (food born disease) (Makimian, 1996). Selain menginfeksi manusia, cacing ini juga menginfeksi mamalia lain seperti tikus, kucing, babi, anjing, beruang dan lainnya. Produk daging babi merupakan sumber potensial penularan trichinosis ke manusia. Namun, herbivora dapat juga menjadi sumber penularan penyakit ke manusia. Cina melaporkan adanya penyakit ini pada manusia, bukan hanya karena memakan daging babi, tetapi juga karena mengkonsumsi daging sapi dan domba (Astuti dan Widiastuti, 2009). Rodensia terbukti sebagai sumber penularan trichinosis dari babi. Infeksi Trichinellosis spiralis biasanya ditemukan pada timbunan tikus yang mati di rumput makanan ternak. Babi maupun herbivora lain dapat terinfeksi karena memakan rumput yang terkontaminasi Trichinella spiralis. Manusia mempunyai resiko tertular pada saat penanganan rumput di peternakan. Hasil penelitian laboratorium oleh (Oivanen et.al.,2002) Trichinella spiralis mampu bertahan dalam bangkai tikus selama 4 minggu, 2 minggu kemudian hanya ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil atau berkurang. Setelah 6 minggu, pada daging tikus yang telah membusuk tidak ditemukan adanya Trichinella spiralis (Oivanen, et.al., 2002). Sumber lain menyebutkan bahwa pada keadaan alami, siklus hidup cacing ini dapat berlangsung diantara kelompok tikus kanibal. Babi juga dapat terinfeksi akibat makan sampah yang mengandung daging babi (Soedarto, 2003). Pada hewan, cacing ini umumnya terdapat pada usus dan jaringan otot babi, tikus, anjing, kucing, hewan liar dan mamalia. Sapi, domba, kuda dan burung mempunyai kekebalan alami tertentu terhadap infeksi. SIKLUS HIDUP

T. spiralis adalah nematoda yang relatif kecil dengan cacing betina dewasa berukuran 1,4-4 mm, jantan dewasa 1,4-1,8 mm dan larva di otot sekitar 1mm (gambar 1) (Mitreva dan Jasmer, 2006). Gambar 1. Siklus hidup T. spiralis. A. Cacing dewasa yang berkembang di usus hal us setelah infeksi oral dengan larva otot; cacing kecil merupakan larva baru lahir (L1 belum matang), yaitu inf eksi pada otot. B. Larva infektif dalam sel otot dikelilingi oleh kapsul kolagen (biru). C. Larva infektif otot, pewarna an Azan dari penampang memanjang larva. M: midgut, G: primordial genital, S: stichocyte. Siklus hidup parasit ini dimulai dengan infeksi fase enteral, yaitu ketika manusia atau binatang memakan daging yang terkontaminasi dan mengandung larva otot stadium I. Cairan pencernakan lambung (pepsin dan asam klorida) menghancurkan kapsul selubung larva (capsule like cyst) dan melepaskan larva lewat dan menuju usus halus dimana mereka menginvansi sel epitel columnar, tidak lama kemudian, larva berganti kulit empat kali (10-28 jam setelah tertelan), berubah menjadi cacing dewasa. Kemudian terjadi perkawinan (3034 jam setelah tertelan), dan 5 hari kemudian bayi larva lahir. Jumlah bayi larva baru lahir yang dihasilkan tergantung pada status imun host yang terinfeksi dan jenis spesies parasit tersebut. Diperkirakan 500 -1.500 bayi larva lahir selama rentang kehidupan cacing betina dewasa sebelum reaksi respon imun host memaksa mereka TRICHINOSIS TINJAUAN UMUM PENYAKIT, BAHAYA DAN PENANGGULANGANNYA oleh : Ari Puspita Dewi dan Edy Sumarwanta ..................................... ................................................................................ ...............................

BULETIN LABORATORIUM VETERINER Vol : 12 No : 3 Tahun 2012 Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta Edisi Bulan : JULI -SEPTEMBER International Standard Serial Number (ISSN) : 0863-7968 keluar dari usus kecil (Mitreva dan Jasmer, 2006). Fase migrasi dimulai saat infeksi larva yang baru, baru lahir lewat dan masuk ke dalam jaringan, masuk ke jaringan limfatik dan kemudian memasuki sirkulasi darah pada duktus toraksikus. Larva ini tersebar luas di jaringan melalui sirkulasi dan akhir nya membuat jalan mereka sendiri melalui kapiler darah (pembuluh darah kecil) ke dalam otot, yang merupakan awal fase infeksi otot. Setelah berada di otot, mereka berkembang, menjadi infektif dalam waktu 15 hari dan tetap infektif selama berbulanbulan sampai bertahun-tahun (Mitreva dan Jasmer, 2006). Gambar 2. Siklus hidup Trichinella spiralis Di daerah endemik, tikus dapat menyebabkan risiko trichinosis untuk hewan dalam lingkungan sekitarnya karena mencemari pakan mereka dan hewan-hewan (seperti babi) mengais atau berburu hama (tikus) yang telah terinfeksi. Pada suhu musim panas, setelah 4 minggu, larva infektif masih ditemukan dalam pakan fermentasi. Di daerah endemik, pengendalian tikus menjadi penting untuk mencegah trichinosis, dengan meminimalkan kontak langsung dan menjaga kebersihan pakan (Oivanen, et.al., 2002). EPIDEMIOLOGI Pada awal 1835, trichinosis sudah dikenal disebabkan oleh parasit, tetapi mekanisme infeksi belum diketahui pada saat itu. Satu dekade kemudian, ilmuwan Amerika Joseph Leidy, mengemukakan bahwa daging yang dimasak kurang matang seba gai vektor utama untuk parasit, dan tidak sampai dua dekade setelah itu hipotesis ini diterima secara penuh oleh masyarakat ilmiah. Sekitar 11 juta orang terinfeksi Trichinella, Trichinella spiralis merupakan spesies yang bertanggung jawab untuk sebagian besar infeksi. Infeksi yang sangat luas terjadi di seluruh dunia, tapi

sekarang sudah jarang terjadi di negara maju. Kejadian trichinosis di AS telah menurun secara dramatis dalam satu abad terakhir. Sejak 1997 sampai 2001, dilaporkan rata-rata terjadi 12 kasus per tahun di Amerika Serikat. Saat ini jumlah kasus telah menurun karena adanya undangundang yang melarang pemberian makanan sampah daging mentah untuk babi, meningkatnya pembekuan komersial, dan kesadaran masyarakat akan bahaya mengkonsumsi produk daging babi menTRICHINOSIS TINJAUAN UMUM PENYAKIT, BAHAYA DAN PENANGGULANGANNYA oleh : Ari Puspita Dewi dan Edy Sumarwanta ..................................... ................................................................................ ..............................

BULETIN LABORATORIUM VETERINER Vol : 12 No : 3 Tahun 2012 Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta Edisi Bulan : JULI -SEPTEMBER International Standard Serial Number (ISSN) : 0863-7968 tah atau setengah matang (Anonim, 2012a). Epidemiologi infeksi Trichinella dapat ditemukan dalam beberapa ulasan. Meskipun demikian, pola akuisisi parasit ini terus bervariasi di seluruh dunia. Satu-satunya cara parasit bisa masuk kedalam hospes adalah dengan tertelannya larva infektif dalam daging mentah atau setengah matang, dan masuk ke dalam jaringan otot. Oleh karena itu karnivora adalah kunci untuk memahami epidemiologi parasit ini. Bahkan mamalia laut dan herbivora telah ditemukan terinfeksi Trichinella, sehingga harus mendefinisikan ulang kebiasaan makan dari kedua kelompok tersebut. Terkadang beberapa infeksi herbivora peliharaan juga terjadi, tapi jarang. Dalam suatu wabah lima orang meninggal dan beberapa ribu lainnya terinfeksi ketika kuda yang terinfeksi dari Texas dikirim ke Paris, Perancis, dan dikonsumsi sebagai ''Steak tartare'' (Capo dan Despommier, 1996). MANIFESTASI KLINIS Kasus T. spiralis paling sering terjadi dalam komunitas atau di antara anggota keluarga. Karena ada begitu banyak variabel yang memodifikasi gambar klinis trichinellosis, satu individu memperoleh infeksi dengan tidak menyadari siklus hidup dan epidemiologi T. spiralis. Gejalanya hampir sama dengan penyakit lain. Periode durasi inkubasi parasit ini berkaitan dengan jumlah larva yang ditelan, dan biasanya menentukan keparahan penyakit (Capo dan Despommier, 1996). Gejala pasien juga bervariasi setelah mengkonsumsi daging yang terinfeksi dari jenis spesies Trichinella. Selain itu, imunitas hospes, usia, jenis kelamin, dan kesehatan umum individu yang terinfeksi adalah faktor penting dalam menentukan tingkat keparahan penyakit. Fase Enteral Kebanyakan individu yang terinfeksi dalam suatu kasus setelah makan daging yang terkontaminasi bersifat asimtomatik, misalnya : mayoritas pasien dalam satu kasus yang sporadik hanya mengalami diare ringan

yang bersifat sementara dan mual berkaitan dengan penetrasi mukosa usus. Minggu pertama dari fase enteral dengan infeksi moderat sampai berat ditandai dengan sakit perut, diare atau sembelit, mun tah, malaise dan demam rendah, yang semuanya dapat bervariasi dalam tingkat keparahan dan mungkin hanya terjadi dalam beberapa hari. Gejala klinis ini merupakan karakteristik dari gangguan enteral (misalnya, keracunan makanan atau pencernaan yang tidak sempurna), dan dengan demikian tidak terdiagnosis. Pasien biasanya tidak melakukan pengobatan medis pada saat ini (infeksi yang menimbulkan gejala awal/gejala umum) dan berobat hanya ketika terjadi gejala perubahan pada saat fase parenteral (sistemik) (Capo dan Despommier, 1996). Fase Parenteral Selama minggu 2 sampai 6 setelah infeksi, fase enteral masih ada, tetapi gejala yang berhubungan dengan gangguan di usus mereda. Saat ini, tanda-tanda dan gejala berkembang karena pada tahap ini larva bayi yang baru lahir bermigrasi. Dalam infeksi ringan akibat konsumsi makanan dengan jumlah larva di otot yang rendah, gejala yang berhubungan dengan fase migrasi dan parenteral biasanya mudah terdeteksi secara klinis sejak pasien tersebut tidak mengalami gejala selama fase enteral. Infeksi ringan sampai moderat dapat menunjukkan tanda dan gejala berikut: myalgia 30-100% dari pasien; keadaan seperti kelumpuhan (10-35%) periorbital dan/atau wajah edema (15-90%); konjungtivitis (55%); demam (30-90%); sakit kepala (75%); ruam kulit (15 sampai 65%); kesulitan menelan (35%) atau membuka mulut; insomnia; berat badan menurun; sensasi perifer saraf; bronkitis (5-40%); pendarahan splinter pada kuku dan/atau retina; gangguan visual; dan kelumpuhan otot okular. Semua tanda-tanda dan gejala baik secara langsung atau tidak langsung diakibatkan karena penetrasi sembarangan pada jaringan oleh bayi larva yang bermigrasi. Setelah minggu kedua dari infeksi fase parenteral, kebanyakan pasien telah mempunyai serum khusus antibodi terhadap pengeluaran antigen larva di otot. Pasien dengan infeksi berat sering terjadi pada kasus indeks epidemik. Mereka mudah didiagnosis karena mereka menunjukkan

tanda-tanda dan gejala penyakit klasik. Gejala mereka lebih menonjol daripada pasien yang menderita infeksi lebih ringan atau moderat. Demam tinggi dan tingkat kenaikan eosinofil yang beredar (30 sampai 60% atau lebih), nyeri otot TRICHINOSIS TINJAUAN UMUM PENYAKIT, BAHAYA DAN PENANGGULANGANNYA oleh : Ari Puspita Dewi dan Edy Sumarwanta ..................................... ................................................................................ ................................ 10

BULETIN LABORATORIUM VETERINER IN LABORATORIUM VETERINER Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta International Standard Serial Number (ISSN) : 0863-7968 parah, kulit ruam, dan sakit kepala, serta pembengkakan kelopak mata dan wajah. Pasien mungkin menunjukkan manifestasi neurologis yang jarang muncul sebelum akhir minggu kedua infeksi dan membuatnya tertekan. Sakit kepala, vertigo dan tinnitus, tuli, aphasia, kejang-kejang, dan kelainan yang terkait dengan refleks perifer, merupakan tanda-tanda ditemukan pada individu yang terinfeksi parah. Secara umum, pasien yang waspada tapi apatis, dan mempunyai insomnia berkepanjangan mempengaruhi perilaku mereka, menyebabkan mereka menjadi mudah marah. Gejala neurologis lain seperti meningitis, ensefalitis, dan hemiplegia, dapat berkembang berhubungan dengan kerusakan difusi jaringan otak dan oklusi arteri atau peradangan pada granulomatosa. Gejala ini perlu segera ditangani dengan steroid, karena peradangan yang diakibatkan kerusakan jaringan disebabkan oleh migrasi sejumlah besar bayi larva yang baru lahir. Infeksi moderat sampai berat, gejalanya karena invasi sel-sel otot (misalnya, lemah, rasa sakit, kelumpuhan dan fotopobia) meningkat selama minggu ketiga, dan edema wajah, kelopak mata, tangan dan kaki menjadi tanda yang khas. Napas pasien putus-putus dan dangkal. TromboGambar 3. Fase infeksi Trichinella spiralis DIAGNOSA T. spiralis merupakan spesies yang paling penting pada babi dalam transmisi zoonotik. Dua metode primer digunakan untuk menguji infeksi ini pada babi. Metode yang sering digunakan untuk mendiagnosis babi yang terinfeksi adalah dengan mencampur Vol :12 No :3 Tahun 2012 Edisi Bulan : JULI -SEPTEMBER sis arteriola mungkin terjadi, sebagai akibat dari hiperkoagulabilitas yang terkait dengan eosinophilia. Selama waktu ini, tanda dan gejala klinis yang muncul adalah tanda dan gejala secara umum sehingga tidak dapat terdiagnosis karena trichinellosis hampir sama dengan busung angioneurotic, penyakit serum, septikemia,

periarteritis nodosa, reaksi alergi makanan atau obat-obatan, trombosis koroner, demam tipus, infeksi oleh Toxocara sp., penyakit autoimun, sindrom eosinophilic, dan baru-baru ini, sindrom kelelahan kronis. Endokarditis, myocarditis, dan bahkan gagal jantung dalam kasus fatal dikaitkan dengan efek-efek merugikan dari infeksi fase migrasi. Semua gejala yang berkaitan dengan penyakit akut semakin berkurang pada awal masa penyembuhan (yaitu, antara minggu 5-6 setelah konsumsi daging terinfeksi), tetapi dyspnea, ekstremitas busung, dan bronkitis bertahan untuk minggu keenam sampai kedelapan. Infeksi tahap pertama oleh larva tetap dalam sel dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pemulihan, tetapi setelah beberapa waktu sebagian dari mereka mati (Capo dan Despommier, 1996). daging sampel (misalnya, diafragma, masseters, lidah atau otot-otot lain) dengan pepsin-HCL dan kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk larva. Walaupun agak rumit, sensitivitas dari metode ini relatif seragam untuk seluruh infeksi. Enzim-linked immunosorbent test (ELISA) TRICHINOSIS TINJAUAN UMUM PENYAKIT, BAHAYA DAN PENANGGULANGANNYA oleh : Ari Puspita Dewi dan Edy Sumarwanta ..................................... ................................................................................ ................................ 11

BULETIN LABORATORIUM VETERINER Vol : 12 No : 3 Tahun 2012 Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta Edisi Bulan : JULI -SEPTEMBER International Standard Serial Number (ISSN) : 0863-7968 merupakan metode alternatif untuk deteksi cepat infeksi T. spiralis secara serologi. Satu keuntungan lainnya adalah ELISA dapat mendeteksi infeksi sebelum hewan disembelih. Sebagai salah satu pendekatan sampel serum yang digunakan untuk mendeteksi antibodi T. spiralis adalah produk sekretori yang diproduksi T. spiralis. Namun, sensitivitas ELISA assay dapat lebih rendah pada awal infeksi (Mitreva dan Jasmer, 2006). Variabilitas dalam respon imun hospes harus menjadi perhatian, mengingat tujuannya adalah untuk mencegah babi yang terinfeksi atau daging kuda dari memasuki pasar. Namun demikian, ELISA adalah metode yang spesifik dan kuat yang direkomendasikan untuk program pengawasan transmisi T. spiralis pada kawanan babi. Preparat histopatologi dalam beberapa kasus dapat digunakan untuk menentukan apakah infeksi baru atau lama dengan mengamati beberapa karakteristik dari kompleks sel-parasit. Tidak adanya kapsul dan adanya cacing (parasit lurus) dalam kompleks menunjukkan bahwa infeksi sedang berlangsung. Sebuah kapsul matang dan parasit melingkar mengindikasikan infeksi yang lebih lama yang mungkin telah diperoleh, kadang-kadang masuk sebelum timbul gejala klinis (Capo dan Despommier, 1996). Deteksi antigen dengan teknik immuno-assay, meskipun tidak tersedia di sebagian besar laboratorium, dapat berguna untuk diagnosa selama awal parenteral fase, ketika tes serologi standar untuk mendeteksi antibodi spesifik belum menunjukkan hasil positif. Meskipun deteksi antigen berguna untuk uji konfirmasi, akan tetapi antigen tidak terdeteksi pada setiap pasien dan deteksi karena jumlahnya yang terbatas. Tes berbasis DNA dilaporkan pernah dilakukan. Urutan DNA diperkuat dengan PCR untuk identifikasi T. spiralis dan spesies Trichinella lainnya juga (Capo dan Despommier, 1996). PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN Pengobatan : Tidak ada terapi anthelmentik yang spesifik,

bahkan setelah diagnosa definitif. Pengobatan khusus untuk menghilangkan parasit dapat menggunakan berbagai jenis benzimidazoles (mebendazole atau albendazole). Pemberian mebendazole pada awal infeksi mungkin dapat mengurangi jumlah larva (Dispommer et.al., 2006). Sebagaimana telah disebutkan, pasien mungkin menyembunyikan cacing dewasa yang akan menghasilkan bayi larva selama beberapa minggu selama infeksi fase akut tanpa terdeteksi. Mebendazole (200 mg/hari selama 5 hari) atau albendazole (400 mg/hari selama 3 hari) harus diberikan untuk orang dewasa (kecuali ibu hamil), dan juga untuk anak-anak (5 mg per kg [berat badan] per hari selama 4 hari) (Capo dan Despommier, 1996). Prednisolon dengan dosis 40-60 mg/hari untuk mengurangi demam dan peradangan yang disebabkan adanya kerusakan sel yang dihasilkan oleh penetrasi larva ke dalam jaringan. Gejala tersebut biasanya menghilang dalam hitungan hari setelah dosis awal diberikan. Pengobatan dengan steroid berkepanjangan tidak dianjurkan, meskipun gejala mungkin terjadi kembali ketika perawatan telah mereda. Gejala sisa efek jangka panjang harus diobati secara simptomatik ketika muncul kembali (Dispommer et.al., 2006). Pencegahan Dilihat dari daur hidupnya, babi dan tikus dapat terinfeksi di alam. Infeksi pada babi terjadi karena babi tersebut makan tikus yang mengandung larva infektif dalam ototnya, atau babi makan sampah dapur atau sisa daging babi yang mengandung larva infektif. Sebaliknya, tikus mendapat infeksi karena makan sisa daging babi di rumah pemotongan hewan atau di rumah dan juga karena makan bangkai tikus. Oleh karena itu, pencegahan penularan parasit ini sangat tergantung pada pengendalian populasi tikus dan konsumsi daging mentah. TRICHINOSIS TINJAUAN UMUM PENYAKIT, BAHAYA DAN PENANGGULANGANNYA oleh : Ari Puspita Dewi dan Edy Sumarwanta ..................................... ................................................................................ ............................ 12

BULETIN LABORATORIUM VETERINER Vol : 12 No : 3 Tahun 2012 Balai Besar Veteriner Wates Jogjakarta Edisi Bulan : JULI -SEPTEMBER International Standard Serial Number (ISSN) : 0863-7968 Penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan penyakit, dan penjelasan tentang perlunya memasak daging babi atau produk daging babi dan daging hewan liar sebelum dikonsumsi, pada suhu yang tepat dan dengan cara yang tepat. Pada waktu dimasak hendaknya seluruh bagian daging bisa mencapai suhu 71oC, daging akan terlihat dari berwarna merah jambu menjadi abu-abu. Pada suhu ini larva cacing akan mati. Tindakan ini harus dilakukan kecuali telah diketahui dengan pasti bahwa daging atau produk daging yang akan dikonsumsi telah diolah dengan benar baik dengan pemanasan yang tepat, dibekukan atau di iradiasi untuk membunuh larva Trichinella (Anonim, 2012b). Gilinglah daging babi dengan menggunakan penggilingan terpisah. Jika gilingan yang dipakai untuk menggiling daging babi akan digunakan untuk menggiling daging lain, bersihkan penggilingan tersebut dengan seksama. Pembekuan yang dilakukan terhadap tumpukan daging pada suhu tertentu cukup efektif untuk membunuh larva Trichinella. Misalnya daging dengan ketebalan 15 cm disimpan pada suhu 15oC sebelum 30 hari atau pada suhu 25oC atau pada suhu lebih rendah lagi selama 10 hari akan membunuh seluruh bentuk kista Trichinella. Daging yang lebih tebal hendaknya disimpan pada suhu yang lebih rendah paling sedikit selama 20 hari. Suhu serendah ini tidak mempan terhadap strain kutub utara yang tahan terhadap suhu dingin yaitu T. nativa yang ditemukan didalam daging singa laut dan beruang, jarang ditemukan pada daging babi. Radiasi sinar gamma pada dosis rendah yang dilakukkan terhadap daging babi dan bangkai binatang cukup efektif untuk mensterilkan dan dosis yanglebihtinggidapat membunuh kista larva Trichinella (Anonim, 2012b). DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2012a. Trichinosis. http://en.wikipedia.org/wiki/Trichinosis. diakses pa da 28 Agustus 2012. Anonim. 2012b. Trichinellosis. http://penyakitdalam.wordpress.com/category/manua

l pemberantasanpenyakit-menular/trichinellosis/. diakses pada 28 Agustus 2012. Astuti, N.T., dan D. Widiatuti. 2009. Trichinella spiralis : Cacing yang Menginf eksi Otot. BALABA Vol. 5 No. 01 Juni 2009 : 24-25. Cap. V., and D.D. Despommier. Clinical aspects of infection with Trichinella spp. 1996. Clinical Microbiology Reviews, Jan. 1996, p. 47 54 Vol. 9, No. 1. Despommier, Gwadz, Hotez, Knirsch. Parasitic Disease 5th Edition : Trichinella s piralis. 2006. (Available from URL : http://www.trichinella.org/pdf/pdbook_trichinella.pd f, diakses pada 28 Agustus 2012). Makimian, R. 2006. Diagnostik Parasitologi Kedokteran. Jakarta. EGC : Penerbit B uku Kedokteran. Mitreva, M. and D.P. Jasmer. 2006. Biology and genome of Trichinella spiralis (N ovember 23, 2006), WormBook, ed. The C. elegans Research Community, WormBook, doi/10.1895/wormbook.1.124.1, http://www.wormbook.org. Oivanen, L., T. Mikkonen, L. Haltia, H. Karhula, H. Saloniemi and A. Sukura. 200 2. Persistence of Trichinella spiralis in Rat Carcasses Experimentally Mixed in Dif ferent Feed. Acta Veterinaria Scandinavica 2002, 43:203-210 doi:10.1186/1751-0147-43 203. http://www.actavetscand.com/content/43/4/203. Soedarto. 2003. Zoonosis Kedokteran. Surabaya. Airlangga University Press. TRICHINOSIS TINJAUAN UMUM PENYAKIT, BAHAYA DAN PENANGGULANGANNYA oleh : Ari Puspita Dewi dan Edy Sumarwanta ..................................... ................................................................................ ............................ 13