Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

Teori Konsumsi John Maynard Keynes


Dalam teorinya Keynes mengandalkan analisis statistik, dan juga membuat dugaan dugaan tentang konsumsi berdasarkan introspeksi dan observasi kasual. Pertama dan terpenting Keynes menduga bahwa, kecenderungan mengkonsumsi marginal atau MPC (marginal propensity to consume) jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antara nol dan satu. Kecenderungan mengkonsumsi marginal merupakan rekomendasi kebijakan Keynes untuk menurunkan pengangguran yang kian meluas. Kekuatan kebijakan fiskal, untuk mempengaruhi perekonomian seperti ditunjukkan oleh pengganda kebijakan fiskal muncul dari umpan balik antara pendapatan dan konsumsi. Kedua, Keynes menyatakan bahwa rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang disebut kecenderungan mengkonsumsi rata-rata atau APC (average propensity to consume), turun ketika pendapatan naik. Ia percaya bahwa tabungan adalah kemewahan, sehingga ia berharap orang kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka ketimbang si miskin. Ketiga, Keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Keynes menyatakan bahwa pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori. Dalam jangka pendek orang dapat berkonsumsi dengan menggunakan tabungan yang lalu, sehingga jika ini terjadi maka orang tersebut telah melakukan tabungan negatif (dissaving). Berdasarkan tiga dugaan ini, persamaan konsumsi Keynes secara matematis ditulis sebagai berikut :

C = a + bY,
Keterangan: C = Pengeluaran untuk konsumsi a = Besarnya konsumsi pada tingkat pendapatan nol

a > 0, 0 < b < 1

b = Besarnya tambahan konsumsi karena tambahan pendapatan atau MPC Y = Pendapatan untuk rumah tangga individu

Secara grafis, fungsi konsumsi Keynes digambarkan sebagai berikut:

Pada Gambar diatas fungsi konsumsi Keynes tidak melalui titik 0 tetapi melalui titik C0. Konsekuensinya adalah apabila pendapatan nasional meningkat akan memberikan dampak penurunan terhadap APC. Jika hal ini terjadi maka dalam fungsi konsumsi Keynes akan terlihat pertama, peningkatan pendapatan masih diikuti oleh peningkatan konsumsi, kedua, pada saat garis konsumsi C memotong garis 0Y maka peningkatan pendapatan akan diiringi penurunan APC.

Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Permanen


Teori dengan hipotesis pendapatan permanen dikemukakan oleh Milton Friedman. Menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Pengertian dari pendapatan permanen adalah:

1. Pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya pendapatan dari gaji, upah. 2. Pendapatan yang diperoleh dari semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang (yang menciptakan kekayaan).

Formulasi kekayaan seseorang menurut Friedman :

W = Yp/i W
Keterangan : W Yp i : kekayaan seseorang : pendapatan permanen orang tersebut : tingkat bunga

Pengertian pendapatan sementara adalah pendapatan yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Friedman menganggap tidak ada hubungan antara pendapatan sementara dengan pendapatan permanen, juga antara konsumsi sementara dengan konsumsi permanen, maupun konsumsi sementara dengan pendapatan sementara. Sehingga MPC dari pendapatan sementara sama dengan nol yang berarti bila konsumen menerima pendapatan sementara yang positif maka tidak akan mempengaruhi konsumsi. Demikian pula bila konsumen menerima pendapatan sementara yang negatif maka tidak akan mengurangi konsumsi. Dalam bentuk matematis fungsi konsumsi dengan hipotesis pendapatan permanen dapat dituliskan sebagai berikut

Cp = kYp
Di mana: Cp = Konsumsi permanen Yp = Pendapatan permanen k = Angka konstanta yang menunjukkan bagian pendapatan permanen yang dikonsumsi, ini berarti 0<k<1

Secara grafis fungsi konsumsi dengan hipotesis pendapatan permanen ditunjukkan seperti pada gambar :

Teori Konsumsi dengan Hipotesis Siklus Hidup ( Life Cycle Hypothesis )


Teori dengan hipotesis siklus hidup dikemukaan oleh Albert Ando, Richard Brumberg dan Franco Modigliani dimana ketiga tokoh ini menerangkan bahwa pola

pengeluaran konsumsi masyarakat didasarkan kepada kenyataan bahwa pola penerimaan dan pola pengeluaran konsumsi seseorang pada umumnya dipengaruhi oleh masa dalam siklus hidupnya. Karena orang cenderung menerima penghasilan/pendapatan yang rendah pada usia muda, tinggi pada usia menengah dan rendah pada usia tua, maka rasio tabungan akan berfluktuasi sejalan dengan perkembangan umur mereka yaitu orang muda akan mempunyai tabungan negative (dissaving), orang berumur menengah menabung dan membayar kembali pinjaman pada masa muda mereka, dan orang usia tua akan mengambil tabungan yang dibuatnya di masa usia menengah. Modigliani menganggap penting peranan kekayaan (assets) sebagai penentu tingkah laku konsumsi. Konsumsi akan meningkat apabila terjadi kenaikan nilai kekayaan seperti karena adanya inflasi maka nilai rumah dan tanah meningkat, karena adanya kenaikan harga surat-surat berharga, atau karena peningkatan dalam jumlah uang beredar. Sesungguhnya dalam kenyataan orang menumpuk kekayaan sepanjang hidup mereka, dan tidak hanya orang yang sudah pensiun saja. Apabila terjadi kenaikan dalam nilai kekayaan, maka

konsumsi akan meningkat atau dapat dipertahankan lebih lama. Secara grafik teori konsumsi dengan hipotesis siklus hidup dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Teori Konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Relatif


James Duesenberry dalam bukunya Income, Saving and The Theory of Consumer Behavior mengemukakan bahwa pengeluaran konsumsi suatu masyarakat ditentukan oleh tingginya pendapatan tertinggi yang pernah dicapainya. Pendapatan berkurang, konsumen tidak akan banyak mengurangi pengeluaran untuk konsumsi. Untuk mempertahankan tingkat konsumsi yang tinggi, terpaksa mengurangi besarnya saving. Apabila pendapatan bertambah maka konsumsi mereka juga akan bertambah, tetapi bertambahnya tidak terlalu besar. Sedangkan saving akan bertambah besar dengan pesatnya. Dalam teorinya, Duesenberry menggunakan dua asumsi yaitu: 1. Selera sebuah rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen. Artinya pengeluaran konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan oleh orang sekitarnya. 2. Pengeluaran konsumsi adalah irreversible. Artinya pola pengeluaran seseorang pada saat penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat penghasilan mengalami penurunan.

Bentuk fungsi konsumsi masyarakat menurut Duesenberry adalah sebagai berikut:

=f( )

Di mana: Yt = pendapatan pada tahun t Y* = pendapatan tertinggi yang pernah dicapai pada masa lalu

Bentuk fungsi tersebut dapat dijelaskan dengan kurva seperti pada gambar di bawah ini :

Dari pengamatan yang dilakukan Duesenberry mengenai pendapatan relative secara memungkinkan terjadi suatu kondisi yang demikian, apabila seseorang pendapatannya mengalami kenaikan maka dalam jangka pendek tidak akan langsung menaikkan pengeluaran konsumsi secara proporsional dengan kenaikan pendapatan, akan tetapi kenaikan pengeluaran

konsumsinya lambat karena seseorang lebih memilih untuk menambah jumlah tabungan (saving), dan sebaliknya bila pendapatan turun seseorang tidak mudah terjebak dengan kondisi konsumsi dengan biaya tinggi (high consumption).