Anda di halaman 1dari 6

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

FAKULTAS KEDOKTERAN

PENCAPAIAN

MILLENIUM

DEVELOPMENT

GOALS

(MDGs

2015),

KESEHATAN IBU, ANAK DAN LINGKUNGAN MELALUI PENINGKATAN " PENDIDIKAN KEDOKTERAN dr. Abdullah Antaria, MPH, PhD Sejahtera dan sehat bersama seluruh bangsa di tahun 2015 adalah tekad bersama seluruh anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang ditandatangani '191 kepala negara pada September 2000, dikenal sebagai Millennium Development Goals (Tujuan Pembangunan Milenium) biasa disingkat dengan MDGs 2015. Komitmen MDGs ini berisi delapan tujuan yaitu: 1. Mengeradikasi kemiskinan dan kelaparan 2. Mencapai pendidikan primer untuk semua 3. Kesetaraan gender dan pemberd ayaan perempuan 4. Menurunkan angka kematian anak 5. Meningkatkan kesehatan ibu 6. Merrgeliminasi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit rnenular lainnya 7. Menjaga keberlangsungan lingkungan B. Membangun kemitraan global Bagi Indonesia upaya untuk mensejahterakan bangsa melalui MDGs ini sudah diupayakan sejak 3 (tiga) dekade terakhir dimulai era Presiden Soeharto sepedi peningkatan kesejahteraan ibu dan anak melalui salah satu programnya yaitu program pos pelayanan terpadu (POSYANDU). Indonesia adalah salah satu negara yang ikut menandatangani komitmen MDGs. Berdasarkan 8 tujuannya, MDGs secara langsung dipegang oleh kementeriankementerian terkait seperti Kemenkokesra, Bappenas, Kemenkes, Kemendikbud, Kementerian Lingkungan Hidup, Kemeneg Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak, Kementerian Kehutanan. Pada tahun 2010, Presiden menunjuk Utusan Khusus untuk MDGs; suatu posisi khusus yang hanya dimiliki oleh lndonesia dan Jepang. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah terhadap usaha pencapaian MDGs. Oleh karena keseriusan itu, Sekretaris Jendral PBB, Ban

Ki Moon, menunjuk Presiden Indonesia, bersama dengan Presiden Liberia dan Perdana Menteri lnggris untuk duduk bersama sebagai eminent persons dalam menentukan agenda pembangunan MDGs setelah tahun 2015 (post MDGs 2015). Pada saat ini lndonesia berada pada peringkat 124 dari 179 negara sebagai mana dilaporkan oleh UI\DP sebagai UN Monitor for MDGs lmplementation. Sisa untuk mencapai target MDGs hanya tinggal 2 tahun 6 bulan saja, karena itu kita perlu melakukan berbagai upaya bersama dalam sencepatan pencapaian target tersebut. Setiap tujuan memiliki indikatorindikator yang dapat dimonitor. Sebenarnya MDGs dapat dilihat sebagai upaya perbaikan Human Development lndex (HDl) atau Indeks Pembangunan Manusia (lPM) karena di dalamnya terdapat unsur-unsur hak azasi manusia; kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Oleh karena itu Bupati, Walikota dan Gubernur menjadikan MDGs sebagai tujuan lPM. Delapan tujuan tersebut saling terkait dalam kesehatan; MDGs mempengaruhi seorang kesehatan ibu hamil dan yang kesehatan sehat akan mempengaruhi MDGs. Contohnya,

melahirkan anak yang sehat, anak yang sehat akan dapat belajar dengan baik, anak yang sehat dan berpendidikan akan tumbuh menjadi dewasa yang produktif yang dapat menghasilkan pemasukan dan memperbaiki perekonomian keluarganya. Kesehatan adalah pra-kondisi yang harus dipenuhi terlebih dahulu agar seseorang dapat mengejar pendidikan dan bekerja. MDGs dibagi menjadi 3 fokus utama. pengembangan SDM (nutrisi, pelayanan kesehatan, pendidikan), infrastruktur (akses air bersih dan sanitasi, energi, TIK (teknologi, informasi, komunikasi), pertanian, transportasi, lingkungan), hak politik-ekonomi-sosial (pemberdayaan perempuan, perbaikan atmosfer politik, kesamaan akses pada layanan publik. Dalam laporan tahunan PBB terkait pencapaian MDGs, Indonesia berada kategori on track', belum sepenuhnya mencapai target namun sudah ada upaya-upaya mengarah ke sana. Menurut laporan Save The Children State of The World's Mothers Report 2012", pencapaian target MDG untuk tujuan 4 dan 5 tidak buruk, namun juga tidak cepat, bisa dikatakan dalam posisi stagnan. Perlu terobosan untuk mempercepat pencapaian MDGs di lndonesia. MDGs dan Mahasiswa Kedokteran Dimanakah posisi mahasiswa kedokteran dalam akselerasi MDGs? Atau bagaimanakah kondisi pendidikan kedokteran di Indonesia menghadapi MDGs?

Mahasiswa kedokteran adalah investasi berharga; suara mereka harus didengar dan aksi mereka harus didukung. Di Indonesia, tidak sampai 20% masyarakatnya yang berhasil mencapai pendidikan tinggi. Peran mahasiswa kedokteran diyakini sebagai agent of health, agent of change, dan agent for development dalam mempercepat pencapaian MDGs. Contoh, dari sejarah lndonesia, mahasiswa kedokteran lah yang berperan dalam reformasi politik di lndonesia. Dapat dilihat bagaimana kuatnya status mahasiswa kedokteran, tidak hanya dalam bidang kesehatan namun juga bidang yang lain. Sudah dibuktikan bahwa untuk menjamin keberlangsungan suatu upaya menuju perbaikan, maka generasi muda harus dilibatkan. Mahasiswa dengan semangat dan segala kreatifitasnya dapat menghimpun kekuatan dari lingkungannya untuk bergerak, termasuk menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama mencapai MDGs. Terlebih saat ini generasi muda didukung oleh TIK dan media sosial untuk mempercepat pesan dan aksi yang ingin ditularkan ke masyarakat. Permasalahannya saat ini adalah seberapa banyak mahasiswa kedokteran yang peduli akan kondisi di lingkungan mereka, seberapa banyak yang paham mengenai sistem kesehatan di Indonesia, seberapa banyak yang mau berpikir "beyond medicine". Sistem pendidikan yang ada saat ini cenderung berat sebelah pada prinsip kuratif daripada promotif dan preventif. Hal ini pula lah yang menyebabkan sebagian besar lulusan mahasiswa kedokteran memilih melanjutkan studi sebagai spesialis. Padahal gelar dokter adalah batu loncatan yang dapat dipakai tidak hanya untuk menjadi spesialis, tetapi sebagai ekspert dalam kesehatan global, ekonomi, dan sebagainya. Kurikulum mahasiswa kesehatan, bukan hanya kedokteran kedokteran harus menekankan semata. Pada pada konsep konsep kesehatan,

determinan-determinan sosial diperhitungkan dan kerja sama lintas sektoral dibutuhkan. Mereka juga harus bangga terhadap profesi mereka sebagai dokter umum nantinya yang merupakan garda terdepan perbaikan kesehatan masyarakat. Seharusnya kurikulum kesehatan masyarakat diberikan di awal, saat mahasiswa kedokteran memulai pendidikannya, agar mereka mendapatkan gambaran yang luas mengenai profesinya dan kurikulum ini harus selalu diintegrasikan dengan kurikulum lain. Selanjutnya mereka dapat diberikan pendidikan vokasional, hal ini bertujuan agar mereka memiliki opsi karir yang luas. Saat ini, terdapat ketidaksetaraan kualitas yang cukup signifikan antara 72 fakullas kedokteran di Indonesia, sudah saatnya kita bersamasama melakukan reformasi terhadap pendidikan kedokteran di Indonesia.

Bagi mahasiswa kedokteran perlu penataan lebih komprehensif From the Concepts to the Policies and From the Policies fo lmplementation yang secara nyata harus membawa MDGs ini ke daerah-daerah; karena konsep MDGs adalah "think globally, act locally". Rekomendasi boleh saja bersifat global, namun implementasi harus grass root. Mahasiswa kedokteran tidak hanya fokus mempelajari sel, jaringan, dan organ tubuh manusia, tetapi juga harus lebih mencurahkan waktu mempelajari Kesehatan Masyarakat (Public Health & Community Health). Mahasiswa kedokteran harus lebih banyak terpapar informasi misalnya melalui penyediaan referensi terkini contohnya melalui jurnal. Dengan dibekali update global terkini dan kepekaan kesehatan masyarakat, maka mahasiswa kedokteran akan mampu berpikir secara global dan beraksi sesuai dengan kearifan lokal. Kepada para dosen hendaknya diperbanyak training of trainer, dan lebih jauh lagi dimasukkannya MDGs dalam kurikulum pendidikan kedokteran. Dari pemantauan lkatan Dokter Indonesia (Santika,2012) bahwa < 3% dokter umum yang menyelenggarakan pelayanan Kesehatan lbu dan Anak (KIA). Artinya lebih banyak Bidan dan Perawat yang melakukan pelayanan KIA ini. Padahal tujuan pendidikan dan pemerintah dimaksud adalah dokter sebagai orang yang perlama yang harus bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan ini. Pada tahun 2014, lndonesia akan mulai menerapkan secara efektif Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan yang selanjutnya disingkat BPJS Kesehatan adalah badan hukum publik yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yafg diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Beberapa ketentuan baru menyertai penyelenggaraan BPJS. Di antaranya, wacana dibatasinya praktik dokter dan bidan secara perorangan. Rencana pembatasan praktik tenaga medis tersebut muncul karena saat pemberlakuan BPJS nanti sekaligus didirikan klinik BPJS. Klinik BPJS akan dikepalai dokter umum atau dokter gigi. Mereka dibantu perawat dan bidan, dengan adanya klinik BPJS itu, masyarakat bisa berobat secara cuma cuma. Sebab, mereka sudah ditalangi asuransi yang preminya dibayar pemerintah. Setiap klinik BPJS akan memperoleh uang pertanggungan dengan nilai sesuai jumlah masyarakat yang mereka jangkau. Inti dari praktik BPJS, setiap dokter yang memimpin klinik wajib mengupayakan tindakan preventif atau pencegahan dan promotif.

Pemberlakuan BPJS juga akan menggeser fungsi puskesmas. Ke depan fungsi puskesmas fokus pada layanan kesehatan masyarakat, seperti urusan sanitasi lingkungan, KB, peningkatan gizi, dan sejenisnya. Puskesmas tidak lagi utama melayani pengobatan pasien. Sistem itu dilakukan supaya fungsi puskesmas dan klinik BPJS tidak tumpang tindih. Pemerintah menganjurkan dokter dan bidan merujuk ke institusi, yakni klinik BPJS. Dokter dianjurkan agar berpraktik di institusi BPJS akan lebih baik. Misalnya, ada dokter atau bidan yang tidak bisa menangani pasiennya sendiri, terpaksa harus dirujuk ke BPJS. lmbauan ini perlu diantisipasi walaupun pemerintah belum sepenuhnya memutuskan kebijakan tersebut. Masih ada pembahasan-pembahasan lanjutan sebelum BPJS diberlakukan pada 2014. Termasuk soal praktik dokter dan bidan, itu belum final, belum diputuskan. Dengan demikian Pendidikan Kedokteran di Indonesia harus melahirkan para dokter yang mempu menguasai ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan masyarakat secara holistik. Termasuk mempelajari MDGs 2015 sebagai target bersama mencapai kesejahteraan dan kesehatan masyarakat. Artinya, bahwa dokter ke depannya tidak hanya semata menangani pengobatan pasien, tapi mereka akan juga dilibatkan pada membantu mencapai B tujuan MDGs tersebut di tahun 2a1s dan sesudahnya. Beberapa rekomendasi di bawah ini kami sampaikan agar MDGs tercapai di bidang pendidikan kedokteran sebagai kontribusi nyata bagi insan kedokteran dan kesehatan di lndonesia. 1. Jadikan 8 target MDGs sebagai bahan kuliah dalam ilmu kesehatan masyarakat, ilmu kesehatan anak, ilmu kebidanan termasuk di dalamnya obstetri sosial. 2. Paradigma pendidikan kedokteran tidak hanya pada kesehatan manusia secara indivdual saja dan orientasi kedokteran klinis, tetapi harus seimbang dengan orientasi kedokteran komunitas dan kesehatan masyarakat. Shifting paradigm of medicine and health to community health sehingga mengubah paradigma masyarakat dari yang sakit menjadi sehat. Dokter harus mampu menumbuhkan kebutuhan masyarakat,akan keseh atan. 3. Fakultas Kedokteran sebagai center of excellent harus melahirkan konsep dan gagasan cerdik bagi peningkatan kinerja pencapaian MDGs.

4. Proaktif

mengembangkan bersama

pengabdian dengan

masysrakat sektor

dalam

bentuk

kegiatan-kegiatan

swasta,

pemerintah,

akademisi atau biasa disebut sebagai Triple Helix atau ABG-Academics, Businessmen dan Governments. 5. Melakukan KKN atau internship pendidikan kedokteran dengan memanfaatkan pelayanan kesehatan primer dan sekunder di daerah sebagai tempat meningkatkan kemampuan praktek dari mahasiswa tingkat akhir atau sarjana kedokteran dengan mengintegrasikannya dalam target MDGs sebagai studi kasus, seperli pertolongan Bayi Baru Lahir, Revitalisasi Posyandu, Peningkatan akses layanan kesehatan dasar dan rujukan, termasuk pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK). Demikianlah orasi ilmiah ini disampaikan dengan ucapan selamat atas lustrum Fakultas Kedokteran Unsri, dan mari kita abdikan keilmuan kita bagi kemanusiaan. Saiam