Anda di halaman 1dari 9

PENETAPAN INDEKS PEMBUSAAN

Oleh : N. Tuti Titian Daru Asmara Tugon Septian Andryana Nugraha Dede Handika 10060307034 10060307035 10060307037 10060307055

Farmasi A dan B

Asisten: Reza Abdul Kodir

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG BANDUNG 2009

PENETAPAN INDEKS PEMBUSAAN

I.

Tujuan Percobaan Dapat memahami cara penetapan indeks pembusaan simplisia Dapat mengetahui manfaat dari penetapan indeks pembusaan

II.

Teori Dasar Saponin kelas senyawa kimia, salah satu dari banyak metabolit sekunder ditemukan dalam sumber-sumber alam, dengan saponin yang ditemukan dalam kelimpahan tertentu dalam berbagai spesies tanaman. Khususnya mereka amphipathic glikosida dikelompokkan fenomenologis oleh seperti buih sabun yang mereka hasilkan ketika terguncang di berair solusi, dan struktural oleh mereka yang terdiri dari satu atau lebih hidrofilik glycoside moieties dikombinasikan dengan lipofilik triterpene turunan. Selain menimbulkan busa pada tumbuhan pada saat dikocok dalam air saponin membentuk larutan koloid dalam air, memiliki rasa pahit, rasa yang tajam, dan pada umumnya dapat mengiritasi mukosa. Saponin juga dapat merusak sel darah merah dan bersifat toksik (sapotoxin), menyebabkan gangguan perut yang parah. Keji beling (Sericocalyx crispus) memiliki kandungan kimia: mengandung unsur-unsur mineral seperti Kalium, Natrium, Kalsium dan beberapa unsur lainnya terutama mengandung alkaloida, saponin, flavonoida dan polienol serta memiliki khasiat yang berguna untuk obat kulit gatal dan dapat mengurangi rasa gatal (adstringens). Selain itu berguna juga untuk mengobati batu ginjal yang memiliki khasiat meluruhkan air seni, dan untuk obat bawasir yang memiliki khasiat mengurangi pendarahan.

III.

Alat dan Bahan Alat : Timbangan analitis Baker glass 500 ml Pemanas

Labu takar 100 ml Pipet ukur 10 ml Stopwatch Corong Penggaris Tabung reaksi bertutup Kertas saring

Bahan: Simplisia (Sericocalyx crispus) Aquades

IV.

Prosedur Haluskan bahan tumbuhan atau simplisia menjadi serbuk kasar (ukuran ayakan no. 1250) lalu ditimbang dengan tepat sebanyak 1 g. Kemudian masukkan ke dalam beaker glass 500 ml yang berisi 100 ml aquadest mendidih, biarkan mendidih selama 30 menit. Dinginkan dan saring ke dalam labu takar 100 ml, tambahkan aquadest melalui kertas saring untuk menggenapkan volume. Buat satu seri pengenceran dalam tabung reaksi bertutup sebagai berikut :

No. Tabung Rebusan simplisia (ml) Aquadest (ml)

1 1 9

2 2 8

3 3 7

4 4 6

5 5 5

6 6 4

7 7 3

8 8 2

9 9 1

10 10 -

Tutup tabung reaksi dan kocok kearah memanjang selama 15 detik dengan frekuensi 2 kocokan per detik. Biarkan selama 15 menit dan ukur tinggi busa. Setelah itu hasilnya dinilai sebagai berikut : Jika tinggi busa pada setiap tabung kurang dari 1 cm, maka indeks busanya kurang dari 100. Jika tinggi busa 1 cm terdapat pada suatu tabung, maka volume dekokta (rebusan) bahan tumbuhan dalam tabung tersebut digunakan untuk menentukan indeks

(sebagai a), akan tetapi jika tabung ini merupakan tabung pertama atau kedua dari suatu seri, maka harus dilakukan pengenceran yang lebih rinci untuk mendapatkan hasil yang akurat. Jika tinggi busa pada setiap tabung lebih dari 1 cm, maka indeks busanya lebih dari 1000. Dalam hal ini ulangi pengujian dengan menggunakan rangkaian seri baru dari dekokta untuk mendapatkan hasil. Hitung indeks pembusaan dengan rumus : 1000 a Dimana : a = volume (ml) dekokta yang digunakan untuk membuat larutan dalam tabung yang busanya setinggi 1 cm pada saat diamati.

V.

Data Pengamatan dan Perhitungan Nama simplisia Nama Latin Simplisia Nama Latin Tumbuhan : Daun Keji Beling : Sericocalycis Folium : Sericocalyx crispus (L).Bremek.

Pengamatan Pembusaan : No. Tabung Tinggi Busa (mm) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 -

Indeks Busa :

1000 a

Keterangan : a = volume (ml) dekokta yang digunakan untuk membuat larutan dalam tabung yang busanya setinggi 1 cm pada saat diamati. Karena tinggi busa setiap tabung kurang dari 1 cm maka indeks busanya kurang dari 100. Daun saga Ki sabun : 1000 / 7 : 1000 / = 142,85 = 4000

Binahong Lerak

: 1000 / 5 : 1000 / x 0,4

= 200 = 10.000

VI.

Pembahasan

Gambar 1. Saponin Saponin adalah suatu glikosida yang terdapat pada banyak macam tanaman. Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi tinggi pada bagianbagian tertentu, dan dipengaruhi oleh varietas tanaman dan tahap pertumbuhan. Fungsi dalam tumbuh-tumbuhan tidak diketahui, mungkin sebagai bentuk penyimpanan karbohidrat, atau merupakan waste product dari metabolisme tumbuhtumbuhan. Kemungkinan lain adalah sebagai pelindung terhadap serangan serangga. Sifat-sifat Saponin adalah: 1) Mempunyai rasa pahit 2) Dalam larutan air membentuk busa yang stabil 3) Menghemolisa eritrosit 4) Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi 5) Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan hidroksisteroid lainnya 6) Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi 7) Berat molekul relatif tinggi, dan analisis hanya menghasilkan formula empiris yang mendekati. Toksisitasnya mungkin karena dapat merendahkan tegangan

permukaan (surface tension). Dengan hidrolisa lengkap akan dihasilkan sapogenin (aglikon) dan karbohidrat (hexose, pentose dan saccharic acid). Saponin dapat menghancurkan sel darah merah karena saat senyawa saponin masuk dalam tubuh akan berikatan dengan lemak yang terdapat dalam

membran sel, dalam membran sel terdiri dari 2 lapisan yaitu; senyawa lemak (fosfolipid) dan molekul-molekul protein sehingga sering disebut lapisan lipoprotein. Lapisan lemaknya lah yang akan berikatan dengan saponin sehingga menimbulkan lubang pada membrane dan akhirnya sel darah merah keluar (lisis). Nama saponin berasal dari tanaman soapwort (Saponaria) akar historis yang digunakan sebagai sabun (Latin Sapo ---> sabun). Mereka terdiri dari

polycyclic aglycone yang baik kolin steroid atau triterpenoid terlampir melalui C3 dan sebuah ikatan eter gula rantai samping. Yang aglycone disebut sebagai

sapogenin dan steroid saponin disebut saraponins. Kemampuan suatu saponin untuk busa disebabkan oleh kombinasi dari sapogenin nonpolar larut dalam air dan rantai samping. Salah satu tanaman yang mengandung saponin adalah : Keji beling (Sericocalyx crispus).

Gambar 2. Daun Keji beling Sinonim : Strobilanthes crispus Bl

Nama umum : Indonesia Melayu Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Asteridae : Keji beling : Pecah batu, batu jin

Ordo: Scrophulariales Famili: Acanthaceae Genus: Strobilanthes Spesies: Sericocalyx crispus (L). Bremek. Kerabat Dekat : Samber Lilen, Ngokilo Kegunaan: Dalam pengobatan Alternatif Herbal Kencing kurang lancar, Batu kandung kencing, Batu kandung empedu, Batu ginjal, Sembelit, Wasir, Kencing manis. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan didapat hasil indeks pembusaan yaitu kemampuan pembusaan rebusan air dari bahan tumbuhan dan ekstraknya. Pada tanaman keji beling ini di dapat indeks pembusaan kurang dari 100 karena tinggi busa yang dihasilkan pada setiap tabung kurang dari 1 cm. Berbeda dengan tumbuhantumbuhan yang lainnya, seperti daun saga yang memiliki indeks pembusaan sebesar 142,85, ki sabun : 4000, binahong : 200, dan lerak sebesar 10.000. Itu semua terjadi mungkin memang karena daun keji beling tidak terlalu banyak terkandung senyawa saponin di dalamnya sehingga busa yang ditimbulkan pun sedikit dan kemungkinan mempunyai efek sapotoxin kecil. Dari beberapa tumbuhan yang telah diamati tumbuhan lerak yang memiliki indeks pembusaan yang lebih tinggi yaitu 10.000, sehingga kemungkinan terbentuknya sapotoxin besar. Karena senyawa ini akan bereaksi dengan lesitin yang merupakan komponen utama dari sebagian besar lemak pada sel hewan dan dapat memacu timbulnya gangguan saraf pusat dan jantung.

AHA

PEMBAHASAN LAGI.

&

KESIMPULAN GANBATE

TAMBAHIN

OK.

KUDASAI!!!!! Q UDH MUAL NEY.

VII.

Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa : Penetapan indeks pembusaan dilakukan agar dapat mengetahui seberapa besar saponin yang terkandung dalam simplisia sehingga dapat mengetahui

kemungkinan adanya sapotoxin yang bersifat racun dan membahayakan bagi tubuh karena dapat merusak sel darah merah, gangguan perut parah, gangguan saraf pusat dan jantung. Cara melakukan penetapan indeks pembusaan suatu simplisia dengan cara melihat hasil nilai busa (ketinggian busa) pada tiap tabung yang dihasilkan dari rebusan ekstrak simplisia, yang hasil ketinggiannya dihitung dengan menggunakan rumus : 1000 a Dari hasil pengamatan daun keji beling menghasilkan indeks pembusaan kurang dari 100 karena tinggi busa tidak mencapai 1cm, lerak memiliki indeks pembusaan yang lebih besar dibandingkan dengan binahong, daun saga, ki sabun bahkan keji beling senilai 10.000, kemungkinan terdapat sapotoxin pada keji beling rendah dibandingkan dengan tumbuhan lain terutama lerak.

VIII. Daftar Pustaka http://en.wikipedia.org/wiki/Saponin http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/58_10_Zat-ZatToksikAlamiah.pdf/58_10_ZatZatToksikAlamiah.html http://www.depkes.go.id/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=65&Ite mid=3 Liener IE. (ed). Toxic constituents of plant foodstuffs. Academic Press, New York, 1969. Ferrando R. Traditional and non-traditional foods. FAO, Rome,1981. De Groot AP. Toxische stoffen die van nature in voedingsmiddelen voorkomen Literatuuroverzlcht. Report No. V 85.074/350445.CIVO Instituten TNO, The Netherlands.

Anda mungkin juga menyukai