Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Tujuan utama pembangunan nasional adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) secara berkelanjutan melalui pembangunan SDM sebagai investasi bagi pertumbuhan ekonomi dan menurunkan tingkat kemiskinan (Atmawikarta, 2006). Manusia yang berkualitas sehat, kuat dan cerdas dapat mempercepat, memperluas, memperdalam pembangunan di segala bidang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pembinaan kesehatan anak sejak dini melalui kegiatan kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi balita, dan pembinaan balita agar setiap balita yang dilahirkan akan tumbuh sehat dan berkembang menjadi manusia Indonesia yang tangguh dan berkualitas (Siregar, 2004). Agar dapat mempersiapkan manusia yang berkualitas tersebut, maka kita perlu memelihara gizi anak sejak berada dalam kandungan. Bayi dan anak yang mendapat makanan yang bergizi akan tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan terhindar dari berbagai penyakit infeksi. Selain memperhatikan gizi bayi maka perlu memelihara gizi ibu terutama masa hamil dan menyusui (Siregar, 2004). Masalah gizi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat (Departemen Kesehatan (Depkes), 2011). Pada tahun pertama kehidupan bayi, nutrisi sangat penting (Meadow dan Newell, 2005). ASI merupakan makanan bergizi yang paling lengkap, aman, higienis dan murah (Siregar, 2004). Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung dalam ASI tersebut (Depkes RI, 1992 dalam Siregar, 2004). Bagi bayi, ASI merupakan makanan yang utama dan paling sempurna karena ASI mengandung hampir semua zat gizi dengan komposisi sesuai kebutuhan bayi untuk tumbuh kembang secara optimal. ASI tidak hanya mengandung cukup zat gizi, tapi juga mengandung zat imunologik yang

melindungi bayi dari infeksi (Kian et al, 2008). Selain itu, ASI juga meningkatkan keakraban ibu dan anak yang bersifat menambah kepribadian anak dikemudian hari (Siregar, 2004). Tidak perlu diragukan lagi bahwa Air Susu Ibu (ASI) sebagai makanan bayi yang paling baik (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997 dan 2002, lebih dari 95% ibu pernah menyusui bayinya, namun yang menyusui dalam satu jam pertama cenderung menurun dari 8% pada tahun 1997 menjadi 3,7% pada tahun 2002 (Kian et al, 2002). Cakupan ASI eksklusif 6 bulan menurun dari 42,4% pada tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002 (Kian et al, 2002). Hal ini sangat disayangkan, mengingat betapa pentingnya ASI dan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Keberhasilan menyusui bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, tetapi merupakan keterampilan yang perlu diajarkan. Agar ibu berhasil menyusui, perlu manajemen yang baik saat antenatal, intranatal, dan postnatal (Kosim dkk, 2008). Sejalan dengan bertambahnya usia bayi, setelah usia 6 bulan, kebutuhan nutrisi baik makronutrien maupun mikronutrien tidak dapat terpenuhi oleh hanya ASI. Mulai pemberian MP-ASI pada saat yang tepat sangat bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang bayi serta merupakan periode peralihan dari ASI eksklusif ke makanan keluarga ( Departemen IKA FK UNDIP, 2011). Atas dasar pentingnya ASI dan asupan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak yang berkualitas, penulis tertarik untuk menulis tentang ASI, manajemen laktasi, dan makanan pendamping ASI.

B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang diajukan adalah: Bagaimana manajemen laktasi dan MPASI pada bayi?

C. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah: 1. Untuk mempelajari asupan makanan pada bayi. 2. Untuk mempelajari manajemen laktasi dan MPASI pada bayi.

D. Manfaat Penulisan Manfaat dari penulisan ini adalah: 1. Untuk menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan kesehatan anak. 2. Mengetahui asupan makanan pada bayi. 3. Mengetahui manajemen laktasi dan MPASI pada bayi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. ASI 1. Fisiologi Sebelum abad ke-18, ASI (Air Susu Ibu) adalah satu-satunya sumber nutrisi yang tersedia bagi bayi baru lahir (Leleiko dan Chao, dalam Alpers et al, 2006). Secara sejarah, saat ASI tidak memungkinkan untuk diberikan pada bayi baru lahir, maka susu dari hewan mamalia menjadi penggantinya. Akan tetapi, penggunaannya kemudian menjadi kontroversi, dimana tingkat morbiditas dan mortalitas yang dihasilkan tinggi. Pada saat inilah, mulai diciptakan susu formula yang memiliki tingkat keamanan yang lebih baik (Ziegler et al, 2008 dalam Duggan et al, 2008). Air susu terbentuk melalui dua fase, yaitu fase sekresi dan pengaliran. Pada fase sekresi, susu disekresikan oleh sel kelenjar ke dalam lumen alveoli (Arisman, 2004). Pada fase ini hormon prolaktin yang memegang peranan untuk meningkatkan sekresi air susu. Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis ibu dan konsentrasinya dalam darah ibu meningkat sampai konsentrasi yang sangat tinggi, yaitu sekitar sepuluh kali konsentrasi normal dalam keadaan tidak hamil. Plasenta juga mensekresi sejumlah besar somatomamotropin korion manusia yang mempunyai sifat laktogenik ringan, sehingga menyokong prolaktin dari hipofisis ibu. Walaupun begitu, karena efek supresi dari estrogen dan progesteron hanya beberapa milliliter, cairan disekresikan setiap hari sampai bayi dilahirkan. Cairan ini disebut kolostrum, dimana kolostrum mengandung protein dan laktosa dalam konsentrasi yang sama seperti air susu tapi hampir tidak mengandung lemak, dan kecepatan maksimal pembentukannya adalah sekitar 1/100 kecepatan pembentukan air susu selanjutnya (Guyton dan Hall, 2008). Pada fase pengaliran, air susu yang dihasilkan oleh kelenjar dialirkan ke puting susu, setelah sebelumnya terkumpul dalam sinus. Ada dua macam refleks saat laktasi, yaitu the milk production reflex dan the let down reflex

(Arisman, 2004). Saat bayi mengisap puting susu, impuls sensorik di transmisikan melalui saraf somatik dari puting ke medulla spinalis lalu ke hipotalamus, sehingga memicu sekresi oksitosin pada saat bersamaan mensekresi prolaktin. Dalam darah, oksitosin dibawa ke kelenjar payudara dan oksitosin menyebabkan sel-sel mioepitel yang mengelilingi dinding luar alveoli berkontraksi, sehingga mengalirkan air susu dari alveoli ke dalam duktus. Jadi, dalam waktu 30 detik sampai satu menit setelah bayi menghisap payudara, air susu mulai mengalir. Proses ini disebut ejeksi air susu atau pengeluaran (let-down) air susu (Guyton dan Hall, 2008).

2. Komposisi ASI memiliki komposisi yang sangat lengkap, dimana memiliki kandungan air, energi dan nutrisi dalam jumlah yang sangat tepat bila dihadapkan pada kebutuhan seorang bayi (Ziegler et al, 2008 dalam Duggan et al, 2008). Komposisinya berubah sesuai dengan kebutuhan bayi pada setiap saat, yaitu kolostrum pada hari pertama sampai 4-7 hari, dilanjutkan dengan ASI peralihan 3-4 minggu, selanjutnya ASI matur. ASI yang keluar pada permulaan menyusu (foremilk = susu awal) berbeda dengan ASI yang keluar pada akhir penyusuan (hindmilk = susu akhir) (Suradi, 2009 dalam Prawirohardjo, 2009). Komposisi ASI dapat berubah sedemikian rupa sehingga tetap dapat memenuhi semua kebutuhan bayi hingga usia 6 bulan (Ziegler et al, 2008 dalam Duggan et al, 2008). Selain itu, berbagai penelitian mengatakan bahwa anak-anak yang tidak mendapat ASI mempunyai risiko terkena diabetes tipe 1 (IDDM= Insulin Dependent Diabetes Melitus), penyakit atopi, obesitas, kardiovaskular, dan lain-lain (Soetjiningsih, 2008 dalam Narendra dkk, 2008). Karbohidrat dalam ASI berupa laktosa yang bermanfaat untuk saluran pencernaan bayi. Manfaat ini berupa pembentukan flora yang bersifat asam dalam usus besar sehingga penyerapan kalsium meningkat dan penyerapan fenol dapat dikurangi (Arisman, 2004). ASI berisi laktosa 7 g (Meadow dan Newell, 2005) atau berisi sekitar 6,5-7% (Berhman et al, 2000).

Lemak pada ASI banyak mengandung

polyunsaturated fatty acid

(asam lemak tak jenuh ganda), yang biasanya dalam bentuk asam linoleat. Dari ASI , bayi menyerap sekitar 85-90% lemak. Enzim lipase di dalam mulut (lingual lipase) mencerna zat lemak sebesar 50-70% (Arisman, 2004). Kandungan lemak dalam ASI adalah 3,7 g (Meadow dan Newell, 2005). Pada ASI bervariasi sesuai dengan diet ibu; selama satu kali menyusui, kadarnya lebih tinggi pada bagian akhir pemberian minum, yang dapat membantu mengenyangkan bayi pada akhir menyusui (Berhman et al, 2000). Protein dalam ASI mencapai kadar yang lebih dari cukup untuk pertumbuhan optimal, sementara ASI juga mengandung muatan yang mudah larut sehingga sesuai untuk ginjal bayi yang belum matang (Akre, 1989 dalam Henderson dan Jones, 2006). Protein utamanya lactalbumin yang mudah dicerna. Besar pasokan protein dihitung berdasarkan kebutuhan untuk tumbuh kembang dan jumlah nitrogen yang hilang lewat air seni, tinja, dan kulit. Mutu protein bergantung pada kemudahannya untuk dicerna dan diserap serta komposisi asam amino didalamnya. Jika asupan asam amino kurang, pertumbuhan jaringan dan organ, berat dan tinggi badan, serta lingkar kepala akan terpengaruh (Arisman, 2004). Protein ASI terdiri dari 70% whey (manusia) dan 30% kasein manusia (Leleiko dan Chao, 2006 dalam Alpers et al, 2006). ASI merupkan sumber laktoferin, protein whey yang mengikat besi, yang mempunyai pengaruh menghambat pertumbuhan Escherichia coli dalam usus (Berhman et al, 2000). ASI memberikan vitamin yang cukup bagi bayi dengan kadar yang bervariasi sesuai dengan diet maternal. Pemaparan sinar matahari selama 30 menit setiap minggu ke kepala dan tangan menghasilkan vitamin D yang cukup (Specker, 1988 dalam Henderson dan Jones, 2006). Zat besi di dalam ASI berikatan dengan protein yang tidak terkait jika terdapat kadar seng dan tembaga yang sesuai dan pH di dalam usus tepat. Zat besi diabsorbsi dengan sangat efisien dan tidak tersedia zat besi bebas untuk memberi makan pathogen seperti E.coli. Zink dihubungkan dengan imunitas sel yang muncul

dalam bentuk yang bersahabat dengan usus bayi dalam ASI sehingga dapat diabsorbsi dengan sempurna (Henderson dan Jones, 2006). Tabel 1. Kandungan nutrisi pada tiga jenis susu yang berbeda per 100 ml
KANDUNGAN NUTRISI PADA SUSU ASI Energi (kCal) Protein (g) Kasein Dadih Laktosa (g) Lemak (g) Jenuh Natrium (mmol) Kalsium (mmol) Fosfor (mmol) Besi (mg) 68 1,3 32% 68% 7,3 3,7 48% 0,7 0,9 0,4 0,08 Susu sapi 64 3,1 77% 23% 4,8 3,7 58% 2,5 2,8 2,5 0,06 Susu formula 66 1,4 40% 60% 7,0 3,6 41% 0,8 1,3 0,7 0,50

Sumber: Meadow dan Newell, 2005; Siregar, 2004.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI Produksi ASI dapat meningkat atau menurun tergantung stimulasi pada kelenjar payudara terutama pada minggu pertama laktasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI antara lain (Siregar, 2004): a. Frekuensi Menyusui Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa frekuensi menyusui berhubungan dengan produksi ASI. Berdasarkan hal ini

direkomendasikan menyusui paling sedikit 8 kali perhari pada periode awal setelah melahirkan. b. Berat Lahir Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan

mengisap ASI yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr).

c.

Umur Kehamilan saat Melahirkan Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi asupan ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur sangat lemah dan tidak mampu mengisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir tidak prematur.

d. Umur dan Paritas Umur dan paritas tidak berhubungan atau kecil hubungannya dengan produksi ASI yang diukur sebagai asupan bayi terhadap ASI. e. Stres dan Penyakit Akut Ibu yang cemas dan stres dapat mengganggu laktasi sehingga

mempengaruhi produksi ASI karena menghambat pengeluaran ASI. f. Konsumsi Rokok Merokok dapat mengurangi volume ASI karena akan mengganggu hormon prolaktin dan oksitosin untuk produksi ASI. Merokok akan menstimulasi pelepasan adrenalin dimana adrenalin akan menghambat pelepasan oksitosin. g. Konsumsi Alkohol Kontraksi rahim saat menyusui merupakan indikator produksi oksitosin. Pada dosis etanol 0,5-0,8 gr/kg berat badan ibu mengakibatkan kontraksi rahim hanya 62% dari normal, dan dosis 0,9-1,1 gr/kg mengakibatkan kontraksi rahim 32% dari normal. h. Pil Kontrasepsi Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi estrogen dan progestin berkaitan dengan penurunan volume dan durasi ASI.

4. Manfaat ASI ASI sangat bermanfaat karena mempunyai sifat sebagai berikut (Alatas et al, 2007): a. Makanan alami (natural), ideal, dan fisiologis

b. Mengandung nutrien yang lengkap dengan komposisi yang sesuai untuk keperluan pertumbuhan bayi yang sangat cepat, yaitu pada bulan-bulan pertama berat badan dapat meningkat dengan kira-kira 30%. c. Nutrien yang diberikan selalu dalam keadaan segar dengan suhu yang optimal dan bebas dari basil patogen. d. Mengandung zat anti dan zat kekebalan lain yang dapat mencegah berbagai penyakit infeksi terutama pada usus. Para ahli menemukan bahwa manfaat ASI akan meningkat apabila bayi hanya diberi ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupannya. Peningkatan ini sesuai dengan lamanya pemberian ASI eksklusif serta lamanya pemberian ASI bersama-sama dengan MP-ASI setelah berusia 6 bulan. Menurut Siregar (2004), manfaat pemberian ASI bagi bayi adalah: a. ASI sebagai nutrisi b. ASI meningkatkan daya tahan tubuh c. ASI meningkatkan kecerdasan d. Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang Selain itu, keuntungan menyusui bagi si ibu menurut Siregar (2004) adalah: a. Mengurangi perdarahan setelah melahirkan b. Mengurangi terjadinya anemia c. Menjarangkan kelahiran d. Mengecilkan rahim e. Lebih cepat langsing f. Mengurangi kemungkinan menderita kanker g. Lebih ekonomis / murah h. Tidak merepotkan dan hemat waktu i. Portabel dan praktis j. Memberi kepuasan bagi ibu ASI juga bermanfaat bagi negara (Siregar, 2004), yaitu: a. Penghemat devisa untuk membeli susu formula dan

10

perlengkapan menyusui b. Penghematan untuk biaya sakit terutama sakit muntahmuntah, mencret dan sakit saluran nafas c. Penghematan obat-obatan,tenaga dan sarana kesehatan. d. Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas untuk membangun Negara.

B. Manajemen Laktasi 1. Definisi Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya. Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap, yaitu pada masa kehamilan (antenatal), sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal), dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun (postnatal) (Kosim dkk, 2008).

2. Periode Manajemen Laktasi a. Masa Antenatal Selama masa antenatal, ibu dipersiapkan secara fisik dan psikologis. Untuk persiapan fisik, ibu perlu diberi penyuluhan tentang kesehatan dan gizi ibu selama hamil. Untuk persiapan psikologis, ibu diberi penyuluhan agar termotivasi untuk memberikan ASI. Adapun penyuluhan yang dianjurkan menurut (Kosim dkk, 2004) adalah: 1) Penyuluhan mengenai fisiologi laktasi 2) Penyuluhan mengenai pemberian ASI secara eksklusif 3) Penyuluhan tentang perlunya inisiasi menyusui dini 4) Penyuluhan ibu mengenai manfaat ASI dan kerugian susu formula 5) Penyuluhan ibu mengenai manfaat rawat gabung 6) Penyuluhan ibu mengenai gizi ibu hamil dan menyusui 7) Bimbingan ibu mengenai cara memposisikan dan melekatkan bayi pada payudara dengan cara demonstrasi menggunakan boneka

11

8) Menjelaskan mitos seputar menyusui

b. Masa persalinan Pada masa persalinan, yang pertama perlu dilakukan adalah berusaha menolong persalinan tanpa trauma lahir. Setelah itu, segera setelah bayi stabil (dalam waktu < 30 menit) lakukan inisiasi menyusui dini, yaitu bayi diletakkan dalam keadaan telanjang di atas perut ibu (apabila lahir per vaginam) atau di atas dada ibunya (apabila lahir secara seksio sesarea) untuk mencari puting susu dan menghisapnya (diperlukan waktu 45-75 menit) (Kosim et al, 2004). Inisiasi menyusui dini dapat mencegah kematian neonatal melalui 4 cara berikut (Kosim et al, 2004): 1) Penghisapan oleh bayi segera setelah lahir dapat membantu mempercapat pengeluaran ASI dan memastikan kelangsungan pengeluaran ASI. 2) Menyusu sedini mungkin dapat mencegah paparan terhadap

substansi/zat dari makanan/minuman yang dapat mengganggu fungsi normal saluran pencernaan 3) Komponen dari ASI awal (kolostrum) dapat memicu pematangan dari saluran cerna dan memberi perlindungan terhadap infeksi karena kaya akan zat kekebalan 4) Kehangatan tubuh ibu saat proses menyusui dapat mencegah kematian bayi akibat kedinginan.

c. Masa pasca persalinan 1) Merawat ibu bersama bayinya (rawat gabung) Rawat gabung adalah cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam sebuah ruang selama 24 jam penuh. Bahkan bila mungkin, bayi bisa tidur bersama setempat tidur dengan ibunya. Sebuah penelitian membuktikan bahwa bila bayi tidur bersama

12

ibunya maka ibu akan memberikan ASInya 3 kali lebih lama pada waktu malam, 2 kali lebih sering dan 39% menyusui lebih lama dibanding apabila bayi dipisahkan (McKenna et al, 1997). 2) Mengajarkan ibu cara menyusui Langkah menyusui yang benar adalah sebagai berikut: a) Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir b) Perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan areola sekitarnya. Manfaatnya adalah sebagai desinfektan dan menjaga menurut (Perinasia, 2007)

kelembaban puting susu. c) Ibu duduk dengan santai, kaki tidak boleh menggantung. d) Posisikan bayi dengan benar: Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu Perut bayi menempel ke tubuh ibu Mulut bayi berada di depan puting ibu Lengan yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan berada di antara tubuh ibu dan bayi. Tangan yang di atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada ibu. Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis lurus. e) Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan puting serta areola dimasukkan ke dalam mulut bayi. f) Cek apakah perlekatan sudah benar: Dagu menempel ke payudara ibu Mulut terbuka lebar Sebagian besar areola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi

13

Bibir bayi terlipat keluar Pipi bayi tidak boleh kempot (karena tidak menghisap, tetapi memerah ASI) Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengat bunyi menelan Ibu tidak kesakitan Bayi tenang 3) Pemberian ASI ad libitum Pemberian ASI jangan dijadwal. Pada hari pertama, ASI belum banyak sehingga bayi akan sering minta menyusui. Apabila ASI sudah banyak, bayi akan mengatur sendiri kapan ia ingin menyusu (WHO, 1998). 4) Mengosongkan payudara Pada hari pertama menyusu dari satu payudara antara 5-10 menit dan boleh dari kedua payudara karena ASI belum banyak. Setealah ASI banyak, bayi perlu mengosongkan salah satu payudara baru menyusu pada payudara lainnya. Untuk penyusuan berikut mulai dari payudara yang belum kosong. Pengosongan payudata setiap kali menyusui mempunyai tiga keuntungan (WHO, 1998) yaitu: Merupakan umpan balik untuk merangsang pembentukan ASI kembali Mencegah terjadinya bendungan ASI dan komplikasinya Bayi mendapatkan komposisi ASI yang lengkap (foremilk dan hindmilk) 5) Tidak memberikan minuman lain sebelum ASI keluar Bayi sehat cukup bulan mempunyai cadangan cairan dan energi yang dapat mempertahankan metabolismenya selama 72 jam., dengan hisapan bayi yang terus menerus maka kolostrum akan cepat keluar. Pemberian minuman lain sebelum ASI keluar

14

akan mengurangi keinginan bayi untuk menghisap, dengan akibat pengeluaran ASI akan tertunda (WHO, 1998). 6) Mengajarkan ibu cara memerah ASI Untuk bayi-bayi yang belum bisa menghisap (BKB/bayi sakit), ibu perlu diajarkan cara memerah ASI. Memerah ASI sudah dimulai 6 jam setelah melahirkan dan dilakukan paling kurang 5 kali dalam 24 jam (WHO, 1998). Cara memerah ASI adalah sebagai berikut: Cuci tangan yang bersih Siapkan wadah bermulut lebar yang mempunyai tutup dan telah direbus Bentuk jari telunjuk dan ibu jari seperti membentuk huruf C dan letakkan di batas areola mamae. Tekan jari telunjuk dan ibu jari ke arah dada ibu kemudian perah dan lepas. Gerakan perah dan lepas dilakukan berulang. 7) Mengajarkan ibu cara menyimpan ASI perah (Lawrence RA and Lawrence RM, 2005): ASI perah dapat disimpan pada suhu ruangan selama 6-8 jam Di dalam lemari es pendingin (40C) tahan 2x24 jam Di dalam lemari es pembeku (-40C) tahan sampai beberapa bulan 8) Mengajarkan ibu cara memberikan ASI perah (Perinasia, 2007) ASI yang sudah disimpan di dalam lemari pendingin, sebelum diberikan kepada bayi perlu dihangatkan dengan merendamnya dalam air panas ASI yang sudah dihangatkan bila bersisa tidak boleh dikembalikan ke dalam lemari es, oleh karena itu hangatkanlah ASI secukupnya sebanyak yang kira-kira bisa dihabiskan oleh bayi dalam sekali minum ASI yang disimpan di lemari pembeku perlu dipindahkan ke lemari pendingin untuk mencairkannya sebelum dihangatkan

15

ASI perah sebaiknya tidak diberikan dengan botol karena akan mengganggu penyusuan langsung dari payudara, berikanlah dengan menggunakan sendok atau cangkir. Menghisap dari botol berbeda dengan menyusu dari ibu.

9) Memberikan susu formula hanya bila ada indikasi medis Perlu ditentukan apakah bayi memang memerlukan susu formula, antara lain ibu dengan HIV atau tambahan untuk bayi yang lahir sangat prematur setelah bayi berusia 3-4 minggu (bayi memerluka ASI prematur padahal ASI telah berubah menjadi ASI matur) (Perinasia, 2007).

3. Kebutuhan ASI pada Bayi Pada setiap pemberian ASI, kedua payudara sebaiknya diberikan masing-masing selama minimal 7-10 menit untuk setiap payudara (Schwartz, 2005). Jika Tugas mengalirkan susu dibebankan pada satu payudara saja, akan terjadi perlakuan berat sebelah, sehingga, akan menurunkan fungsi payudara sebagai produsen ASI (Arisman, 2004). Bayi yang diberikan ASI biasanya tergantung pada jam (biasanya setiap 4 jam) (Meadow dan Newell, 2005). Interval antara keinginan menyusu bervariasi, tetapi rata-rata setiap 1,5 sampai 3 jam (8-12 kali penyusuan per hari) selama masa bayi awal (Alpers et al, 2006). Perkiraan kebutuhan cairan pemeliharaan harian untuk bayi dengan berat badan 1-10 kg yaitu 100 ml/kg (Leleiko dan Chao, 2006 dalam Alpers et al, 2006). Jumlah ASI yang dibutuhkan oleh bayi tergantung pada usia bayi. Usia bayi dan kebutuhan ASI per hari adalah sebagai berikut: a. Minggu ke 1 100 ml - 450 ml. b. Minggu ke 2-3 450 ml - 500 ml. c. Minggu ke 4-7 600 ml - 650 ml. d. Minggu ke 8-12 650 ml - 750 ml. e. Minggu ke 12-24 750 ml - 850 ml (Moehji, 1988 dalam Suyatno, 2009).

16

4. Tanda Bayi Mendapat Cukup ASI Menurut Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP (2011), tanda bahwa bayi mendapat cukup ASI adalah: a. Produksi ASI akan berlimpah pada hari ke-2 sampai ke-4 setelah melahirkan, Nampak dengan payudara bertambah besar, berat, lebih hangat dan seringkali ASI menetes dengan spontan. b. Bayi menyusu 8-12 kali/hari, dengan perlekatan yang benar pada setiap payudara dan mengisap secara teratur selama minimal 10 menit pada setiap payudara. c. Bayi akan tampak puas setelah menyusu dan sering kali tertidur pada saat menyusu, terutama pada payudara yang kedua. d. Frekuensi buang air kecil (BAK) bayi > 6 kali/hari. Kencing jernih, tidak kekuningan. Butiran halus kemerahan (yang mungkin berupa berupa Kristal urat pada urin) merupakan salah satu tanda ASI kurang. e. Frekuensi buang air besar (BAB) > 4kali/hari dengan volume paling tidak 1 sendok makan. Tidak hanya berupa noda membekas pada popok bayi, pada usia 4 hari sampai 1 minggu. Sering ditemukan bayi yang BAB setiap ibu menyusu, dan hal ini merupakan hal yang normal. f. Feses berwarna kekuningan dengan butiran-butiran berwarna putih susu diantaranya (seedy milk), setelah bayi berusia 4-5 hari. Bila setelah bayi berumur 5 hari, fesesnya masih mekoneum (hitam) atau transisi antara hijau kecoklatan, mungkin salah satu tanda bayi kurang ASI. g. Puting payudara akan terasa sedikit sakit pada hari-hari pertama menyusui. Bila sakit bertambah dan menetap setelah 5-7 hari, dan bila disertai lecet ini merupakan tanda bahwa bayi tidak melekat dengan baik saat menysuu. Bila tidak hal ini tidak dibenarkan posisinya maka akan menurunkan produksi ASI. h. Berat badan (BB) bayi tidak turun lebih dari 10 % dibanding berat lahir.

17

i. Berat badan bayi kembali seperti berat lahir pada usia 10-14 hari setelah lahir.

5. Kontraindikasi Pemberian ASI Beberapa kontraindikasi pemberian ASI yaitu: a. Bayi yang menderita galaktosemia. Pada keadaan ini, bayi tidak memiliki enzim galaktase, sehingga galaktosa tidak dapat dipecah. Bayi juga tidak boleh minum susu formula. b. Ibu dengan HIV/AIDS yang dapat memberikan PASI (Pengganti ASI) yang memenuhi syarat AFASS (Acceptable, Feasable, Affordable, Sustainable, and Save). c. Ibu dengan penyakit jantung yang apabila menyusui dapat terjadi gagal jantung. d. Ibu yang memerlukan terapi dengan obat-obat tertentu (antikanker). e. Ibu yang memerlukan pemeriksaan dengan obat-obat radioaktif perlu menghentikan pemberian ASI kepada bayinya selama 5x waktu paruh obat. Setelah itu, bayi boleh menyusu lagi. Sementara itu, ASI teteap diperah dan dibuang agar tidak mengurangi produksi (Suradi, 2009 dalam Prawirohardjo, 2009).

6. Pemberian ASI pada Keadaan Khusus a. Pemberian ASI pada Bayi Kurang Bulan (BKB) Bagi BKB, ASI adalah makanan terbaik. Komposisi ASI yang dihasilkan oleh ibu yang melahirkan prematur (ASI prematur) berbeda dengan komposisi ASI ibu yang melahirkan cukup bulan (ASI matur). Sayangnya, komposisi ASI prematur ini hanya berlangsung beberapa minggu dan akan berubah menjadi seperti ASI matur. Untuk bayi dengan masa gestasi > 34 minggu dapat disusukan langsung kepada ibunya karena refleks menghisap dan menelannya sudah cukup baik. Komposisi ASI yang prematur akan berubah menjadi ASI matur dalam waktu 3-4 minggu.

18

Namun, pada saat itu masa gestasi bayi juga sudah cukup bulan sehingga komposis ASI sesuai dengan kebutuhannya. Untuk bayi yang pada usia kronologis 4 minggu dengan masa gestasi belum 37 minggu, selain ASI perlu ditambahkan Human Milk Fortifier atau susu formula untuk BKB. Untuk bayi dengan masa gestasi > 32-34 minggu, refleks menelan sudah cukup baik tetapi refleks hisapnya belum. ASI perlu diperah dan diberikan dengan sendok/cangkir/pipet. Untuk bayi dengan masa gestasi < 32 minggu, ASI perah diberikan dengan sonde lambung karena refleks hisap dan menelan belum baik (Kosim dkk, 2008).

b. Ibu dengan TBC Paru Kuman TBC tidak melalui ASI sehingga bayi boleh menyusu ke ibu. Ibu perlu diobati secara adekuat dan diajarkan pencegahan penularan ke bayi dengan menggunakan masker. Bayi tidak langsung diberi BCG karena efek proteksinya tidak langsung terbentuk. Walaupun sebagian obat anti TBC melalui ASI, kadarnya tidak cukup sehingga bayi tetap diberikan profilaksis dengan INH dosis penuh. Pengobatan TBC pada ibu memerlukan waktu paling krang 6 bulan. Setelah 3 bulan pengobatan secara adekuat, biasanya ibu sudah tidak menularkan lagi, dan pada bayi dilakukan Uj Mantoux. Bila hasilnya negatif, terapi INH dihentikan. Dua hari kemudian, bayi diberi vaksinasi BCG agar kadar INH di dalam darah sudah sangat rendah sehingga BCG dapat efektif (Kosim dkk, 2008).

c. Ibu dengan Hepatitis B Transmisi virus Hepatitis B sekitar 50% apabila ibu tertular secara akut sebelum, selama, atau segera setelah kehamilan. Transmisi, kalau terjadi biasanya adalah selama masa persalinan. HbsAg ditemukan di dalam ASI, tetapi dokumentasi mengenai transmisi melalui ASI tidak banyak. Ibu dengan HbsAg (+) boleh menyusui asalkan bayinya telah

19

diberikan vaksin Hepatitis B bersama dengan imunoglobulin spesifik HbIg (Kosim dkk, 2008).

d. Ibu dengan HIV Transmisi HIV dari ibu ke bayi adalah 35%. Dua puluh persen saat antenatal dan intanatal dan 15% melalui ASI. Saat ini, setelah ditemukan obat antiretroviral dan persalinan melalui seksio sesarea, penularan saat antenatal dan intranatal dapat ditekan menjadi 4% tetapi transmisi melalui ASI tidak dapat diteka. Dengan demikian, pemberian ASI dari ibu dengan HIV dilarang dan bayi diberi susu formula. Pemberian susu formula ini harus memenuhi syarat AFASS (Acceptable, Feasable, Affordable, Sustainable, dan Save) (WHO, 2003; Lawrence and Lawrence,2005). Sayangnya, di daerah yang miskin, susu formula yang memenuhi syarat AFASS tadi belum tentu dapat disediakan. Untuk itu, ada kebijaksanaan bahwa ibu dapat memberikan ASI tetapi dengan syarat: ASI harus diperah, tidak boleh menyusu langsung, karean bial menyusu langsung ada saja luka pada puting yang menyebabkan penularan lebih besar ASI diberikan secara eksklusif, tidak boleh ditambah dengan susu formula, karena susu formula menyebabkan perdarahan kecil kecil pada usus bayi dan virus di dalam ASI akan lebih mudah diserap ASI perah kalau bisa dipasteurisasi, tetapi hal ini tentu sukar dilakukan, karena tidak tersedia alat untuk ini ASI eksklusif dianjurkan selama 3-6 bulan saja, kemudian pemberian ASI dihentikan (Kosim dkk, 2008).

e. Ibu dengan CMV Ibu dengan seropositif CMV boleh memberikan ASI pada bayi cukup bulan (BCB). Pada BKB kurang dari 1500 gram, perlu dipertimbangkan manfaat ASI dengan risiko terjadi transmisi CMV.

20

Dengan cara membekukan dan atau pasteurisasi dapat menurunkan kandungan virus CMV dalam ASI (Kosim dkk, 2008).

f. Ibu dengan Varisela/Herpes zoster Kalau ibu terlihat lesi antara 5 hari sebelum dan 5 hari setelah lahir, pisahkan bayi dan ibunya sampai ibu tidak infeksius lagi. Bayi boleh diberi ASI perah apabila tidak ada lesi pada payudara. Setelah tidak ada infeksius, bayi dapat menetek langsung (Lawrence RA and Lawrence RM, 2005).

g. Ibu dengan toksoplasmosis Transmisi dilaporkan. toksoplasmosis ASI mungkin selama menyusui belum pernah terhadap

mengandung

antibiotik

Toxoplasma gondii. Mengingat ringannya infeksi pascanatal dan adanya antibodi dalam ASI, tidak ada alasan untuk tidak memberikan ASI dari ibu yang terinfeksi toksoplasma (Lawrence RA and Lawrence RM, 2005).

h. Ibu dengan infeksi lain Bila tidak ada kontraindikasi menyusui, ibu yang demam boleh memberikan ASI. Tidak ada alasan untuk ibu yang sakit infeksi untuk menghentikan pemberian ASI karena bayi sudah terpapar penyakit tersebut sejak masa inkubasi. Disamping itu, ibu membentuk antibodi terhadap penyakit yang dideritanya yang akan disalurkan melalui ASI kepada bayinya. Tentu ibu dianjurkan melaksanakan hal-hal untuk mencegah penularan, misalnya menggunakan masker atau memberikan ASI perah. Mungkin ibu memerlukan bantuan orang lain untuk merawat bayinya (Kosim dkk, 2008).

21

C. Makanan Pendamping ASI (MPASI) 1. Definisi MP-ASI adalah makanan atau minuman selain ASI yang mendandung nutrient yang diberikan kepada bayi selama periode pemberian makanan peralihan (Complementary feeding) yaitu pada saat makanan / minuman lain diberikan bersama dengan pemberian ASI (WHO) (Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP, 2011).

2. Syarat MPASI Menurut Alatas dkk (2007), MPASI harus memenuhi syarat berikut : a) Tepat waktu (timely): MPASI mulai diberikat saat kebutuhan energy dan nutrient melebihi yang didapat dari ASI b) Adekwat (adequate) : MPASI harus mengandung cukup energy, protein dan mikronutrien c) Aman (Safe) : penyimpanan, penyiapan dan waktu diberikan, MPASI harus higienis d) Tepat cara pemberian (properly) : MPASI diberikan sejalan dengan tanda lapar dan nafsu makan yang ditunjukan bayi serta frekuensi dan cara pemberiannya dengan usia bayi.

3. Kebutuhan nutrient pada bayi dan anak a) Air Pada masa bayi terutama bayi muda jumlah air yang dianjurkan untuk diberikan sangat penting dibandingkan dengan bayi yang lebih tua, karena air merupakan nutrient yang menjadi medium untuk

nutrient lain (Alatas dkk, 2007). Untuk bayi yang menyusu pada ibunya, masukan air rata-rata 175200 mg/kgbb/hari pada triwulan pertama. 150-175 mg/kgbb/hari pada triwulan kedua. 130-140 mg/kgbb/hari pada triwulan ketiga. 120-130 mg/kgbb/hari pada triwulan terakhir (Alatas dkk, 2007).

22

Tabel 2. Kebutuhan air rata-rata dari bayi


Umur 3 hari 10 hari 3 bulan 6 bulan 9 bulan 1 tahun Air/kbbb/hari (ml) 80 -100 125-150 140-160 130-155 125-145 120-135

Sumber: Alatas dkk, 2007.

b) Energi WHO 1971 mengemukakan bahwa rekuiremen dari kalori harus disesuaikan dengan berat badan selama masa pertumbuhan. Tabel 3. Rekuiremen kalori sesuai berat badan.
umur 3 bulan 3 5 bulan 6 8 bulan 9 11 bulan Rata-rata selama masa bayi Kebutuhan energi (kal/kgbb/hari) 120 115 110 105 112

Sumber: Alatas dkk, 2007.

c) Protein Nilai gizi protein di tentukan oleh kadar asam amino esensial. Akan tetapi dalam praktek sehari-hari umumnya dapat ditentukan dari asalnya. Protein hewani biasanya mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi dibandingkan dengan protein nabati. Komisi FAO/WHO menggunakan istilah the safe level of protein intake yaitu jumlah protein yang dianggapa diperlukan untuk memenuhi kebutuhan faal dan memelihara kesehatan untuk hamper semua orang dalam golongan umur tertentu.

23

Tabel 4. Estimated requirement and advisable intake of high nutritional quality protein.
Age (months) 1 2 4 6 8 10 12 Estimated (g/day) 10 11 12 12 12 12 12 Rewuirement (g/kgbb/day) 2.2 2.0 1.7 1.6 1.2 1.2 1.2 Advisable (g/kgbb/day) 14 15 16 16 16 16 16 Intake (g/kgbb/day) 3.0 2.7 2.3 2.2 1.6 1.6 1.6

Sumber: Alatas dkk, 2007.

d) Lemak Menurut Alatas dkk (2007), lemak dalam makanan mempunyai arti sebagai berikut : 1) Bila lemak kurang dari 20 kalori, maka jumlah protein atau karbohidrat perlu dinaikan. 2) Lemak merupakan bahan makanan berkalori yang banyak yang diperlukan untuk memenuhi rekuirement kalori bayi dan anak. 3) Lemak mengandung asam lemak esensial. Bila kurang dari 0,1 % alan mengakibatkan kulit bersisik, rambut mudah rontok, hambatan pertumbuhan. 4) Lemak merupakan sumber gliserida dan kolesterol yang tidak dapat dibuat dari karbohidrat oleh bayi sampai usia 3 bulan 5) Lemak merupakan zat yang memberikan rasa sedap pada ,makanan, bahkan juga bagi bayi. 6) Lemak mempermudah absobrsi vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K)

24

e) Karbohidrat Rekuiremen karbohidrat belum diketahui secar pasti. Bayi yang menyusu pada ibunya mendapat 40% kalori dari laktosa. Pada usia yang lebih tua, kalori dan hidrat arang bertambah jika bayi telah diberi makanan lain terutama yang mengandung banyak tepung seperti misalnya bubur susu, nasi dan tim (Alatas dkk, 2007).

f) Rekuiremen vitamin dan mineral Tabel 5. Kecukupan gizi menurut departemen kesehatan RI.
Umur Bayi 6-12 bulan Ca (g) 0.6 Fe (g) 8 Vit A (mcg) 1200 Tiamin (mg) 0.4 Riboflavin (mg) 0.5 Niasin (mg) 6 Vit C (mg) 25 Vit D U.I 400

Sumber: Alatas dkk, 2007. g) Faktor faktor pengaturan pola makan Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk pengaturan makan yang tepat adalah (Alatas dkk, 2007): 1) Umur 2) Berat badan 3) Diagnosis dan penyakit, tahap serta keadaan penyakit 4) Keadaan mulut sebagai alat penerima makanan 5) Kebiasaan makan, kesukaan dan tidak sukaan.

4. Pengaturan MPASI Mengenai tahap-tahap peningkatan dalam pengaturan, jadwal waktu makan untuk makanan pelengkap dan vitamin tidak ada perbedaan dengan pengaturan dengan pemberian ASI. Perbedaan pokok adalah bayi diberi pengganti ASI dengan botol susu atau dengan sendok (Alatas dkk, 2007).

25

Jumlah pengganti ASI yang dihindangkan adalah sbb (Alatas dkk, 2007): a. Umur 2 minggu 2 bulan : 100-120 ml/kali minum b. Umur 2-3 bulan c. Umur 3-4 bulan d. Umur 4-5 bulan e. Umur 5-6 bulan f. Umur 6 bulan keatas : 120-140 ml/kali minum : 140-160 ml/kali minum : 160-200 ml/kali minum : 200-220 ml/kali minum : 220-250 ml/kali minum

Merencanakan pengaturan makan untuk seorang bayi atau anak, jika kita hendak menentukan makanan yang tepat untuk seorang bayi atau anak maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a) Menentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrient dengan

menggunakan data tentang kebutuhan nutrient b) Menentukan jenis bahan makanan yang dipilih untuk menterjemahkan nutrient yang diperlukan untuk menggunakan daftar komposisi nutrient dari berbagai macam bahan makanan c) Menentukan jenis makanan yang akan diolah sesuai dengan hidangan menu yang dikehendaki d) Menentukan jadwal waktu makan dan menentukan hidangan. Perlu pula ditentukan cara pemberian makan, misalnya dengan sonde. e) Memperhatikan masukan yang terjadi terhadap hidangan tersebut perlu dipertimbangkan kemungkinan faktor kesukaan dan ketidaksukaan terhadap suatu makanan (Alatas dkk, 2007).

5. Menilai kecukupan pengganti ASI Bila bayi tidak menghabiskan hidangan yang disediakan, mungkin berarti bahwa bayi telah cukup mendapat pengganti ASI dan sebaiknya bila dapat menghabiskan maka mungkin sudah cukup tetapi mungkin juga kurang sehingga makanan selanjutnya perlu ditingkatkan terutama jika bayi masih menangis (Alatas dkk, 2007).

26

Bila pertumbuhan memuaskan, maka hidangan telah cukup (adekuat) yaitu berat badan waktu lahir minimal telah tercapai kembali dalam waktu minggu kedua. Penurunan berat badan selama 2 minggu tersebut tidak lebih dari 10 %. Secara klinis perkembangan dan pertumbuhan normal, secara lab hemoglobin, protein serum dan ureum menunjukan nilai normal (Alatas dkk, 2007). Menurut Alatas dkk (2007), Kurva pertumbuhan berat badan memuaskan yaitu: a) Selama triwulan ke 1 kenaikan 150-250 g/minggu b) Selama triwulan ke 2 kenaikan 500-600 g/bulan c) Selama triwulan ke 3 kenaikan 350-450 g/bulan d) Selama triwulan ke 4 kenaikan 250-350 g/bulan e) Atau pada umur 4-5 bulan berat badan menjadi 2x lipat berat badan lahir dan menjadi 3 x lipat pada umur 1 tahun.

6. Kegagalan pemberian makanan buatan Pada masa awal prakek pemberian makanan sering ditemukan kegagalan (Alatas dkk, 2007): a) karena kontaminasi, sering terjadi karena tidak mengindahkan asyaratsyarat aseptis dalam persiapan dan pemberian makanan b) komposisi nutrient yang tidak sesuai dengan kebutuhan, kekeliruan dalam mempersiapkan makanan terjadi karena kurang pengetahuan gizi, tapi dapat pula disengaja dengan maksud menghemat karena daya beli yang kurang. Oleh karena itu menganjurkan pemberian makanan buatan kepada para ibu yang kurang mampu mungkin merupakan anjuran yang baik disertai dengan nasehat dan bimbingan.

27

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan Adapun kesimpulan pada penulisan diatas adalah: 1. Air susu terbentuk melalui dua fase, yaitu fase sekresi dan pengaliran. 2. ASI memiliki komposisi yang sangat lengkap dan berubah sesuai dengan kebutuhan bayi pada setiap saat. 3. ASI memiliki banyak manfaat bagi bayi. 4. Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui bayinya. 5. Periode laktasi ada 3 tahap yaitu periode antenatal, perinatal, dan postnatal. 6. Terdapat kontraindikasi pemberian ASI pada keadaan tertentu dan terdapat pemberian ASI pada kondisi tertentu. 7. MPASI adalah makanan atau minuman selain ASI yang mendandung nutrient yang diberikan kepada bayi selama periode pemberian makanan peralihan (Complementary feeding) yaitu pada saat makanan / minuman lain diberikan bersama dengan pemberian ASI. 8. MPASI memiliki 4 syarat yang harus dipenuhi. 9. Terdapat langkah untuk merencanakan pengaturan makan untuk seorang bayi atau anak yang tepat. 10. Pada masa awal prakek pemberian makanan sering ditemukan kegagalan.

28

B. Saran 1. Perlu dilakukan penyuluhan tentang pentingnya manajemen laktasi pada ibu agar kualitas dan kuantitas pemberian ASI pada anak dapat lebih baik. 2. Sebaiknya ibu diberi pengarahan tentang pemberian makanan pendamping ASI karena seiring bertambahnya usia bayi, kebutuhan kalori dan nutriennya juga bertambah. 3. Pemberian makanan pendamping ASI penting untuk mencegah defisiensi nutrient sehingga anak tidak mudah terserang penyakit.

29

DAFTAR PUSTAKA

Alatas, Husein., Hasan, Rusepno., Latief, Abdul., Napitupulu, Partogi M dkk. 2007. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Atmawikarta, Arum. 2006. Prospek Pembangunan Nasional Bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Disampaikan pada Pertemuan Lintas Sektor Badan PPSDM Kesehatan. Surabaya. 17 Mei 2006. http://www.kgm.bappenas.go.id (2 April 2011) Alpers, Ann et al., 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph. Edisi 20 Volume 1. Jakarta: EGC. Arisman., 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC. Behrman R, Kliegman R.M, dan Arvin A.N., 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15 Jilid I. Jakarta: EGC. Depkes., 2011. Gizi Lebih Merupakan Ancaman Masa Depan Anak. (http://www.bppsdmk.depkes.go.id/, 5 Maret 2011). Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro., 2011. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Duggan C, Watkins J.B, dan Walker W.A., 2008. Nutrition in Pediatrics. Hamilton: BC Decker Inc. Guyton A.C dan Hall J.E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. Henderson C dan Jones K., 2006. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC. pp. 443-5 Kian, Marty Oktofin., Jutomo, Lewi dan Anna Henny T. 2008. Kajian Lama Pemberian ASI Eksklusif pada Kelompok Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja di Kecamatan Kota Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2008. Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDANA. Kosim, M Sholeh., Yunanto, Ari., Dewi, Rizalya., Sarosa, Gatot Irawan dan Ali Usman. 2008. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. Lawrence RA., Larence RM. 2005. Breastfeeding, A Guide for the Medical Profession. Edisi ke-6. Philadelphia: Elsevier Mosby.

30

McKenna JJ. Mosko SS.,Richard CA.1997. Bedsharing Promotes Breastfeeding. Pediatrics 1997; 100; 214-9. Meadow S.R dan Newell S.J., 2005. Lecture Notes: Pediatrika. Edisi 7. Jakarta: Erlangga. Narendra M.B, Sularyo T.S, Soetjiningsih dkk., 2008. Buku Ajar I Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Edisi 1. Jakarta: Sagung Seto. Notoatmodjo, S., 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta. Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia). 2007. Modul Pelatihan Manajemen Laktasi. Jakarta Prawirohardjo, S., 2009. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Edisi 4. Jakarta: Bina Pustaka. Schwartz, M.W., 2005. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: EGC. Siregar, A.M., 2004. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. (http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-arifin4.pdf, 26 Juli 2011). Suyatno., 2009. Gizi Daur Hidup: ASI (Air Susu Ibu). (http://suyatno.blog.undip.ac.id/files/2009/12/gizi-dan-asi.pdf, 9 Juni 2011). World Health Organization. 1998. Evidence for the Ten Steps to Succesful Breastfeeding.(http://www.who.int/child-adolescenthealth/New_Publications/NUTRITION/WHO_CHD_98.9.pdf) World Health Organization. 2003. HIV and Infant Feeding: Infant Feeding Options and Guidelines for Decision Makers. Geneva: WHO, 2003.