Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Spinal Cord Injury (SCI) merupakan salah satu penyebab utama disabilitas neurologis akibat trauma. Pada prinsipnya spinal cord injury dibedakan menjadi trauma langsung, yaitu arah trauma transversal, misalnya pukulan punggung, luka bacok, dan luka tembak, sedangkan trauma tidak langsung yaitu arah trauma aksial atau oblik, misalnya jatuh terduduk atau berdiri, kombinasi antara fleksi, ekstensi, dan rotasi yang dapat mengakibatkan daya kompresif dan distraktif terhadap medula spinalis. Data badan kesehatan dunia (WHO) menunjukkan bahwa cidera sumsum tulang belakang terjadi pada semua negara didunia dengan angka kejadian sekitar 15-40 per satu juta penduduk setahunnya. Dimana penyebabnya mulai dari kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, cidera olah raga, dan bahkan akibat penganiayaan. SCI biasannya disertai deficit neurologis. Di Amerika Serikat SCI merupakan masalah kesehatan mayor yang mempengaruhi 150.000 orang, deperkiraan 10.000 cidera baru yang terjadi setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda sekitar lebih dari 75% dari seluruh cidera (Suzanne C. Smeltzer,2001). Data dari bagian rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati didapatkan dalam 5 bulan terakhir terhitung dari Januari ysampai Juni 2010 angka kejadian untuk fraktur adalah berjumlah 165 orang yang di dalamnya termasuk angka kejadian cidera medulla spinalis 20 orang (12,5%). Pada usia 45-

an fraktur banyak terjadi pada pria di bandingkan wanita karena olahraga, pekerjaan, dan kecelakaan bermotor. (Charlene J. Reeves,1999). Klien SCI bisa mengalami cidera medulla spinalis. Cidera medulla spinalis khususnya bone loss pada L2-3 membutuhkan perhatian lebih diantaranya dalam pemenuhan kebutuhan ADL dan mobilisasi. Selain itu klien juga beresiko mengalami komplikasi cidera spinal seperti syok spinal, trombosis vena profunda, gagal napas; pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu sebagai perawat merasa perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan cidera medulla spinalis dengan cara promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif sehingga masalahnya dapat teratasi dan klien dapat terhindar dari masalah yang paling buruk. Pada fase akut spinal cord injury dapat dilakukan penilaian terhadap gangguan motorik dan sensorik dengan menggunakan frankle score, dimana frankle A tidak ada fungsi motor dan sensorik di bawah lesi yang dengan kata lain terjadi kelumpuhan total di bawah lesi, untuk frankle B hanya ada sensoris dimana fungsi total paralis di bawah lesi dengan sedikit fungsi sensorik masih ada, frankle C kekuatan motor masih di bawah lesi tetapi tidak berfungsi ( motor useless), frankle D kekuatan motor masih ada di bawah lesi dan berfungsi ( motor usefull), frankle E tidak ada gejala neurologik, tidak ada kelemahan otot, tidak ada gangguan sensorik/ sfingter, mungkin ada refleks abnormal. Presentasi Spinal Cord Injury diklasifisikan menurut American Spinal Injury Asissociation (ASIA) menyebutkan : 1) Incomplete Tetraplegia : 29,5 % 2) Complete Paraplegia : 27,9 %

3) Incomplete Paraplegia : 21,3 % 4) Complete Tetraplegia : 18,5 % 2. Tujuan 1) Tujuan umum : Untuk menjelaskan penatalaksanaan dan asuhan keperawatan pada pasien neurologi dengan kasus gangguan spinal dengan komplikasi infeksi dan imobilisasi. 2) Tujuan khusus : a) Menyebutkan definisi gangguan spinal,komplikasi infeksi&imobilisasi b) Menjelaskan patofisiologi gangguan spinal.komplikasi infeksi&imobilisasi c) Menjelaskan manifestasi klinis gangguan spinal, komplikasi

infeksi&imobilisasi d) Menjelaskan penatalaksanaan dan asuhan keperawatan pada pasien dengan magemen komplikasi gangguan spinal.(infeksi & imobilisasi)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

1. Defenisi Trauma spina atau spinal Cord Injury (SCI) adalah cidera pada kolumna vertebralis, otot, ligament, diskus, dan gangguan pada medulla spinalis oleh berbagai keadaan akibat trauma pada tulang belakang (cervikalis, thoraks dan lumbal). (Helmi Zairin Noor, 2012). Fraktur servikalis adalah terputusnya hubungan dari badan tulang vertebra servikalis (Helmi Zairin Noor, 2012). Fraktur servikal (C3-C7) sangat sering terjadi dan bisa bersifat stabil maupun tidak stabil yang memberikan deficit neurologis. Fraktur C-3 sampai C-7 merupakan fraktur dislokasi (ATLS, 2007) 2. Anatomi Fisiologi Spinal Cord

Gambar 1: spinal cord and nerve structures

Ada 31 pasang saraf tulang belakang yang menghubungkan dengan sumsum tulang belakang melalui akar saraf dan perjalanan ke bagian tertentu dari tubuh. Sebagai contoh, sepasang saraf tulang belakang berhubungan dengan saraf tulang belakang di daerah perjalanan vertebra C2 ke kepala dan leher, sedangkan saraf tulang belakang melekat pada kabel di daerah vertebra L4 lari ke otot tertentu di kaki dan spesifik daerah kulit di betis. Sedangkan gambar dibawah ini menunjukkan susunan saraf autonom (simpatis dan parasimpatis) terhadap organorgan tubuh yang dipengaruhinnya.

Gambar 2: Susunan saraf otonom simpatis dan parasimpatis

3. Etiologi Penyebab trauma tulang belakang: 1) Kecelakaan lalu lintas

Gambar 3: mekanisme trauma ekstensi (atas) dan fleksi (bawah) 2) Kecelakaan olah raga 3) Kecelakaan industri 4) Kecelakaan lain seperti jatuh dari bangunan 5) Luka tusuk, luka tembak 6) Trauma karena tali pengaman (Fraktur Chance) 7) Kejatuhan benda keras (Chairudin rasjad, 2007) Perawat perlu juga mengenal mekanisme trauma yang terjadi pada tulang belakang yang memungkinkan gangguan pada medula spinalis: 1) Fleksi Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada vertebra. Vertebra mengalami tekanan berbentuk remuk yang dapat menyebabkan kerusakan atau tanpa kerusakan ligament posterior. Apabila

terdapat kerusakan ligament posterior, maka fraktur bersifat tidak stabil dan dapat terjadi sublukasi. 2) Fleksi dan rotasi Trauma jenis ini merupakan suatu trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi. Terdapat strain dari ligament dan kapsul, juga ditemukan fraktur faset. Pada keadaan ini terjadi pergerakan ke depan/dislokasi vertebra diatasnya. Semua fraktur dislokasi bersifat tidak stabil. 3) Kompresi vertikal (aksial) Suatu trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra yang akan menyebabkan kompresi aksial. Nukleus pulposus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra secara vertical. Material diskus akan masuk dalam badan vertebra menjadi rekah (pecah). Pada truma ini elemen posterior masih intak sehingga fraktur yang terjadi bersifat stabil. 4) Hiperekstensi atau retrofleksi Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan ekstensi. Keadaan ini sering ditemukan pada vertebra servikal dan jarang pada vertebra torako-lumbal. Ligamen anterior dan diskus dapat mengalami kerusakan atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Fraktur ini biasanya bersifat stabil. 5) Fleksi lateral

Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan menyebabkan fraktur pada komponen lateral, yaitu pedikel, foramen vertebra, dan sendi faset. 6) Fraktur-dislokasi Suatu trauma menyebabkan terjadinya fraktur tulang belakang dan terjadi dislokasi pada ruas tulang belakang. 4. Klasifikasi Frankel membagi trauma tulang belakang berdasarkan status neurologis yang didapatkan menjadi: Frankel A: kehilangan fungsi motorik dan sensorik Frankel B: ada fungsi sensorik, motorik tidak ada Frankel C: fungsi motorik ada tapi tidak berfungsi Frankel D: fungsi motorik ada tapi tidak sempurna Frankel E: fungsi motorik dan sensorik baik, hanya ada refleks abnormal Sedangkan berdasarkan pola lesi cidera tulang belakang dibagi menjadi 5: 1) Central cord syndrome: cidera di sentral dan sebagian lateral, sering pada servikal. 2) Brown squard syndrome: cidera menyebabkan medulla spinal lateral 3) Anterior cord syndrome: cidera dibagian anterior dan medulla spinalis

10

4) Posterior cord syndrome: cidera di bagian posterior dari medulla spinalis 5) Cauda equine syndrome: cidera yang menyebabkan kerusakan di lumbal atau sacral ujung medulla spinalis 5. Manifestasi Klinis 1) Hipoventilasi atau gagal pernafasan terutama pada cidera setinggi servikal 2) Edema pulmoner akibat penatalaksanaan cairan intravena yang tidak tepat 3) Paralisis flaksid di bawah tingkat cidera 4) Hipotensi dan bradikardi 5) Retensi urin dan alvi 6) Paralisis usus dan ileus 7) Kehilangan kontrol suhu 6. Patogenesis Efek trauma terhadap tulang belakang bisa berupa fraktur dislokasi, fraktur, dan dislokasi. Frekuensi relatife ketiga jenis tersebut adalah 3:1:1. Fraktur tidak mempunyai tempat predileksi, tetapi dislokasi cenderung terjadi pada tempat-tempat antara bagian yang sangat mobile dan bagian yang terfiksasi, seperti Vertebrae C1-2, C5-6, dan T11-12. Dislokasi bisa bersifat ringan dan bersifat sementara atau berat dan menetap. Efek traumatiknya bisa bisa mengakibatkan lesi yang nyata pada medula spinalis.

11

Trauma pada servikal bisa menyebabkan cidera spinal stabil dan tidak stabil. pada trauma medulla spinalis biasanya diakibatkan cidera yang tidak stabil yaitu cidera yang dapat mengalami pergeseran lebih jauh dimana terjadi perubahan struktur dari oseoligamentosa posterior (pedikulus, sendi-sendi permukaan, arkus tulang posterior, ligament interspinosa dan supraspinosa), komponen pertengahan (sepertiga bagian posterior badan vertebral, bagian posterior dari diskus invertebralis dan ligamen longitudinal posterior), dan kolumna anterior (dua pertiga bagian anteriorkorpus vertebra, bagian anterior diskus invertebralis, dan ligament longitudinal anterior). 7. Komplikasi 1) Autonomic dysflexia, terjadi adanya lesi diatas T6 dan cervical. Bradikadia, hipertensi paroksimal, berkeringat banyak, sakit kepala bera. 2) Fungsi seksual Impotensi, menurunya sensasi dan kesulitan ejakulasi, pada wanita kenikmatan seksual berubah.

8. Pemeriksaan Fisik Spinal Cord Injury (SCI) merupakan salah satu penyebab utama disabilitas neurologis akibat trauma. Untuk menunjang diagnose SCI dibutuhkan pemeriksaan: a. Dermatom

12

Adalah daerah pada kulit yang dipersarafi oleh akson sensoris di dalam radiks saraf segmental. Pengertian terhadap beberapa level dermatom utama tidak terlalu bermakna untuk menentukan level cidera dan menentukan perbaikan atau penurunan neurologis. Level sensoris adalah dermatom terendah dengan fungsi sensoris yang normal dan dapat dibedakan pada kedua sisi tubuh. Untuk praktisnya, dermatom servikal atas (C1 C4) adalah bervariasi dalam distribusi persarafan kulitnya dan tidak selalu perlu untuk dilokalisasi sedangkan saraf supraklavikular (C2 C4) mempersarafi sensasi pada daerah yang menutup otot pektoralis. Adanya sensasi di daerah ini dapat menyebabkan pemeriksa kebingungan bila mencoba menentukan level sensoris pada penderita dengan cidera leher bawah (ATLS, 2007). Kunci untuk menentukan titik sensasi adalah (lihat gambar 4, titik - titik sensorik): C-5: area diatas deltoid C-6: Jempol C-7: Jari tangan tengah C-8: Kelingking T-4: Papila mamae T-8: Ksifisternum T-10: Umbilikus T-12: Simfisis

13

L-4: Bagian Medial Betis L-5: Ruang diantara jari kaki pertama dan kedua S-1: Batas lateral pedis S-3: Daerah tuberositas iskhii S-4 dan S-5: daerah perianal Penilaian sensorik dengan sentuhan ringan dan tusukan jarum pentul, sebagai berikut: 0 : Absen; diberikan jika pasien tidak dapat membedakan antara tusukan tajam dan tumpul. 1 : Gangguan atau hyperesthesia, 2 : normal, NT : tidak dapat diperiksa.

14

Gambar 4: Titik sensorik (ATLS, 2007) b. Miotom Setiap saraf segmental (radiks) mempersarafi lebih dari satu otot dan kebanyakan otot dipersarafi oleh lebih dari satu saraf (biasanya 2) (ATLS, 2007) Sebagai tambahan dari tes bilateral, sfikter ani eksterna harus diperiksa dengan pemeriksaan colok dubur. Setiap otot dilakukan gradasi menjadi 6 tingkat (Lihat Tabel 1. Derajat kekuatan otot). Skor 0 1 2 Hasil Pemeriksaan Kelumpuhan Total Teraba atau terasanya korteks Gerakan tanpa menahan gaya berat

15

3 4 5 NT

Gerakan melawan gaya berat Gerakan kesegala arah, tetapi kekuatan kurang Kekuatan Tak dapat diperiksa Tabel 1: Derajat kekuatan otot (ATLS, 2007)

Melakukan pemeriksaan dubur untuk memeriksa fungsi motorik atau sensasi di persimpangan mukokutan dubur. Penillaian pemeriksaan dubur dapat dievaluasi dengan mendokumentasikan hal berikut: Perineum sensasi untuk sentuhan ringan dan cocokan peniti Bulbocavernous refleks, S3 atau S4 Anal mengedipkan mata, S5 Urine retensi atau inkontinensia Priapisme

9. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan radiologis meliputi: 1) Rontgen Pada periksaan rontgen, manipulasi panderita harus dilakukan secara hati-hati. Pada fraktur G2 pemeriksaan posisi AP dilakukan secara khusus dengan membuka mulut. 2) Pemeriksaan CT-scan terutama untuk melihat fragmentasi, pergeseran fraktur dalam kanal spinal

16

3) Pemeriksaan CT-scan dengan mielografi 4) Pemeriksaan MRI terutama untuk melihat jaringan lunak yaitu

diskusintervertebralis dan ligament flavum serta lesi dalam sum-sum tulang belakang.

10. WOC Kasus Trauma Vertebra Cervikalis 4-5 Fr. A


Klien jatuh dari ketinggian 3 meter

17

Trauma tipe fleksi

Trauma tipe ekstensi

Diskontinuitas tulang

FRAKTUR SCI VC 4-5

Pergeseran Frakmen Tulang

MK : NYERI

Penyempitan neural kanan & kiri

Gangguan saraf otonom

Lesi komplit

Gangguan N. aksesorius

Gangguan N. Vagus

Paralisis usus

Frakel A: Gangguan sensorik & motorik

Penurunan otot sternokloidom astoid, trapezius.

Penyempitan bronkus

Pembatasan Intake

Dispnoe

Defisit neurologi

MK: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhaan tubuh

MK: Ketidak efektifan pola nafas

MK: Gangguan Mobilitas Fisik

Reaksi stress klien

MK: Resiko kerusakan Integritas Kulit

Defisit informasi penyakit

MK: Ansietas

18

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN Data Subyektif: Penting bagi perawat untuk mengetahui bahwa jika pasien dicurigai mengalami trauma medula spinalis maka tanyakan posisi saat terjatuh untuk mengetahui mekanisme jatuh seperti jatuh dari tempat tinggi, cidera akibat terjun, benturan pada kepala, tertimpa reruntuhan atau ambruknya langit-langit, atau sentakan mendadak pada leher pada tubrukan dari belakang (whiplash injury). Adanya keluhan seperti nyeri atau kekakuan pada leher atau punggung harus ditanggapi serius, sekalipun klien dapat berjalan atau bergerak tanpa menggalami gangguan. Tanyakan mengenai rasa baal, paratesia, atau kelemahan pada ekstremitas atas. Tingkat kehati-hatian dari perawat yang tinggi dalam memberikan intervensi dapat mencegah terjadinya prognosis yang lebih buruk dari trauma medula spinalis. Apabila pada kondisi ditempat kejadian dimana klien mengalami cidera spinal servikal tetapi masih memakai helm, maka diperlukan tekhnik melepas helm dengan tetap menjaga posisi leher dalam posisi netral. Monitoring jalan nafas dan

19

tatap memprioritaskan kesejajaran dari kurvatura tulang belakang dengan cara log rolling dan log backboard.

Data Obyektif: 1) Adanya deformitas pada leher 2) Kaji adanya memar (pada fase awal cidera) baik pada leher, muka, atau dagu merupakan salah satu tanda adanya cidera hiperekstensi pada leher. 3) Memar pada muka atau abrasi dangkal pada dahi menunjukkan adanya kekuatan yang menyebabkan hiperekstensi 4) Leher mungkin berposisi miring 5) Adanya memar pada punggung 6) Adanya paralisis lengkap terutama pada fase syok spinal 7) Hilangnya refleks kulit anal dan perianal 2. ROS ( REVIEW OF SYSTEM ) 1) B1 (Breath) : Nafas pendek, sulit bernafas. pernafasan dangkal, periode apnea, penurunan bunyi napas, ronki, pucat, sianosis. 2) B2 (Blood) : Berdebar debar, pusing saat melakukan perubahan posisi atau bergerak. Hipotensi postural, bradikardi, ekstremitas dingin dan pucat. Hilangnya keringat pada daerah yang terkena.

20

3) B3 (Brain) : Kebas, kesemutan, rasa terbakar pada lengan/kaki. Paralisis flaksid/spastisitas dapat terjadi saat syok spinal. Kehilangan sensasi (Derajat bervariasi dapat kembali normal setelah syok spinal sembuh), kehilangan tonus otot/vasomotor, kehilangan refleks/refleks asimetris termasuk tendon dalam. Perubahan reaksi pupil, ptosis, hilangnya keringat dari bagian tubuh yang terkena karena pengaruh truma spinal. Nyeri/nyeri tekan otot, hiperestesia tepat diatas daerah trauma. 4) B4 (Bladder) : Retensia urin dan inkontinensia urin. 5) B5 (Bowel) : Inkotinensia defekasi, distensi abdomen, peristaltic usus hilang. Melena emesis berwarna seperti kopi tanah/hemetemesis. 6) B6 (Bone) : Mengalami deformitas, postur, nyeri tekan vertebral, peresis, kelemahan otot. 3. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL Menyangkal, tidak percaya, sedih, marah, takut, cemas, gelisah, menarik diri, dan keinginan untuk kembali seperti normal. 4. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1) Sinar X spinal: Menentukan lokasi dan jenis cidera tulang (fraktur, dislokasi), untuk kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi. 2) Skan CT: Menetukan tempat luka/jejas, mengevaluasi gangguan struktural. 3) MRI: Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema, dan kompresi.

21

4) Mielografi: Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor patologisnya tidak jelas atau dicurigai adanya oklusi pada ruang subarakhnoid medula spinalis. 5) Foto rotgen thorak: Memperlihatkan keadaan paru. 6) Pemeriksaan fungsi paru: Mengukur inspirasi dan ekspirasi maksimal. 7) GDA : menunjukkan keefektifan pertukaran gas atau upaya ventilasi. B. DIAGNOSIS KEPERAWATAN 1. Aktual / Resiko tinggi pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan kelemahan otot-otot pernafasan, kelumpuhan otot diafragma. 2. Aktual / Resiko tinggi injuri (cidera) spinalis tambahan yang berhubungan dengan kelemahan temporer/ktidakstabilan kolumna spinalis. 3. Aktual / risiko tinggi penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan denyut jantung, dilatasi pembuluh darah, penurunan kontraksi otot jantung sekunder dari hilangnya kontrol pengiriman dari reflex baroreseptor akibat kompresi korda. 4. Perubahan sensori-perseptual yang berhubungan dengan kerusakan traktus sensori dengan perubahan resepsi sensori, transmisi dan integrasi. 5. Kerusakan mobilisasi fisik yang berhubungan dengan kerusakan

neuromuscular. 6. Kecemasan yang berhubungan dengan prognosis penyakit sekunder dari respons psikologis atas kondisi penyakit.

22

7. Nyeri yang berhubungan dengan cidera psikis atau alat traksi. 8. Inkontinensia usus / konstipasi yang berhubungan dengan gangguan persarafan pada usus dan rektum. 9. Perubahan pola eliminasi urinarius yang berhubungan dengan gangguan dalam persarafan kandung kemih. 10. Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilisasi. Aktual/risiko injuri (cidera) korda spinalis yang berhubungan dengan kompresi korda sekunder dari cidera spinal servikal tidak stabil, manipulasi berlebihan pada leher Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam resiko injuri tidak terjadi Kriteria hasil : TTV dalam batas normal, klien sadar (GCS 4, 5, 6), tidak ada tanda-tanda syok spinal Intervensi Monitor TTV rasionalisasi Penurunan denyut jantung dan tekanan darah menrupakan tanda awal dari hilangnya refleks sensor pengiriman dampak dari dari baroreseptor

kompresi korda Monitor tiap jam akan adanya syok Cidera pada vertebra servikal dapat spinal pada fase awal cidera selama 24 terjadinya syok spinal. Syok spinal jam adalah tidak berfungsinya system saraf otonom Gambaran bradikardi, dalam klasik mengatur berupa tes colok pada tonus pembuluh darah dan cardiac output. hipotensi, refleks dubur paraslisis,

bulbokavernosus

didapatkan penjipatan anus (+) Pada awalnya, selama fase syok spinal, mungkin terdapat paralisis lengkap dan

23

hilangnya perasaan dibawah tingkat cidera. Keadaan ini dapat bersambung selama 48 jam dan selama periode ini sulit diketahui apakah lesi neurologis lengkap atau tidak lengkap Lakukan teknik pengangkatan cara log Teknik ini mempunyai rolling dan / atau menggunakan long memindahkan klien kolumna prinsip vertebralis

backbroad pada setiap transportasi sebagai satu unit dengan kepala dan pelvis dengan tetap menjaga kesejajaran tulang belakang untuk menghindari kompresi korda Istirahatkan klien dan atur posisi Posisi fisiologis akan menurunkan

fisiologis kompresi saraf leher Imobilisasi leher terutama pada klien Pemasangan fiksasi kolar servikal dapat yang mengalami cidera spinal tidak menjaga kestabilan dalam melakukan stabil mobilitas leher. Pada saat pemasangan collar cervical (ban leher) perawat penting menjaga kesejajaran dari posisi leher dalam posisi netral agar jangan Beri penjelasan tentang kondisi klien terjadi kompresi korda Usaha untuk meningkatkan kooperatif klien terhadap intervensi yang diberikan dan membantu menurunkan kecemasan Kolaborasi dengan dokter klien : Pemeriksaan utama dalam menilai

pemeriksaan radiologi

sejauh mana kerusakan yang terjadi pada cidera spinal servikal

Aktual/risiko tinggi pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan kelemahan otot-otot pernapasan, kelumpuhan otot diafragma Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam tidak terjadi ketidakefektifan pola napas Kriteria hasil : RR dalam batas normal (12-20 x/menit), tidak ada tanda-tanda sianosis, analisa gas darah dalam batas normal, pemeriksaan kapasitas paru normal

24

Intervensi Observasi catat fungsi

Rasionalisasi

pernapasan, Distress pernapasan dan perubahan pada pernapasan, tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres syok. Trauma pada C1-C2 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara parsial, karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan tenang, Membantu klien mengalami efek fisiologi yang dapat dimanifestasikan

frekuensi

dispneu, atau perubahan tanda- fisiologi dapat menunjukkan terjadinya spinal tanda vital

Pertahankan

perilaku

bantu klien untuk control diri hipoksia, lebih lambat dan dalam Pertahankan jalan napas, posisi Klien kepala tanpa gerak Observasi warna kulit

dengan menggunakan pernapasan sebagai ketakutan/anisietas dengan cidera bantuan servikallis untuk akan

membutuhkan

mencegah

aspirasi/mempertahankan jalan napas Menggambarkan adanya kegagalan

pernapasan yang memerlukan tindakan segera Kaji distensi perut dan spasme Kelainan penuh pada perut disebabkan karena otot kelumpuhan diafragma Lakukan pengukuran kapasitas Menentukan fungsi otot-otot pernapasan. vital, volume tidal, dan kekuatan Pengkajian terus-menerus untuk mendeteksi pernapasan Pantau analisa gas darah (AGD) adanya kegagalan pernapasan Untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai contoh hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat Berikan oksigen dengan cara Metode dipilih sesuai dengan keadaan yang tepat isufisiensi pernapasan Letakkan kantung resusitasi di Kantung resusitasi/manual ventilasi sangat samping tempat tidur dan manual berguna ventilasi untuk dapat digunakan untuk mempertahankan fungsi sewaktu-waktu pernapasan jika terjadi gangguan pada alat ventilator secara mendadak

25

Aktual/risiko tinggi penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan denyut jantung, dilatasi pembuluh darah, penurunan kontraksi otot jantung sekunder dari hilangnya control pengiriman dari reflex baroreseptor akibat kompresi korda Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam tidak terjadi penurunan curah jantung Kriteria hasil : Frekuensi nadi dalam batas normal (12-20 x/menit), kualitas dan irama nadi dalam batas normal, TD dalam batas normal 120/890 mmHg, CRT > 3 detik, akral hangat Intervensi Kaji dan lapor tanda penurunan curah Kejadian jantung Rasionalisasi mortality dan morbidity

sehubungan dengan cidera spinal C1C6 yang tidak stabil meningkat samapi 48 jam pertama pascacidera Penurunan curah jantung

Palpasi nadi perifer

dapat

menunjukkan menurunnya nadi, radial, popliteal, dorsalis pedis, dan postibial, nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur untuk di palpasi Pantau adanya haluaran urine, catat Ginjal berespons untuk menurunkan haluaran urine dan kepekatan/konsentrasi curah jantung dengan menahan cairan dan natrium, haluaran urine biasanya menurun selama dua hari karena perpindahan cairan ke jaringan tetapi dapat meningkat pada malam hari sehingga cairan berpindah kembali ke sirkulasi bila klien tidur Kaji perubahan pada sensorik contoh Dapat menunjukkan tidak adekuatnya letargi, cemas, dan depresi Berikan istirahat psikologi perfusi serebral sekunder terhadap penurunan curah jantung dengan Stress emosi menghasilkan vasokonstriksi, yang terkait dan meningkatkan TD serta frekuensi/kerja Berikan oksigen tambahan jantung dengan Meningkatkan sediaan oksigen untuk

lingkungan dengan tenang

26

kanula/masker sesuai dengan indikasi Pantau pemeriksaan EKG

kebutuhan miokard untuk melawan efek hipoksia/iskemia Untuk menilai adanya kelainan irama jantung akibat kehilangan control otonom dari kerusakan pengiriman pesan oleh baroreseptor efek dari kompresi korda

Nyeri yang berhubungan dengan kompresi akar saraf servikalis, spasme otot servikal sekunder dari cidera spinal stabil dan tidak stabil Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam nyeri berkurang/hilang atau teradaptasi Kriteria hasil : Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi, skala nyeri 0-1 (0-4) dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkat atau menurunkan nyeri, klien tidak gelisah Intervensi Jelaskan dan bantu klien dengan Pendekatan Rasionalisasi dengan menggunakan

tindakan pereda nyeri nonfarmakologi relaksasi dan nonfarmakologi lainnya dan non-invasif Lakukan manajemen nyeri keperawatan : 1. Istirahatkan leher, atur fisiologis, dan pasang ban leher Posisi fisiologis saraf akan leher. menurunkan Pemasangan posisi kompresi telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri

fiksasi kolar sevikal dapat menjaga kestabilan dalam melakukan mobilitas leher. Pada saat pemasangan collar cervical (ban leher) perawat penting menjaga kesejajaran dari posisi tulang belakang agar jangan terjadi kompresi akar saraf Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri leher akibat spasme otot

2. Lakukan masase pada otot leher

27

3. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri muncul 4. Manajemen lingkungan: lingkungan tenang dan batasi pengunjung

Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus dan nyeri eksternal pengunjung dan akan menganjurkan klien untuk beristirahat pembatasan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di

ruangan 5. Ajarkan teknik distraksi pada saat Distraksi (penglihatan perhatian) dapat nyeri menurunkan stimulasi internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorfin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimkan ke korteks serebri sehingga 6. Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab nyeri dengan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung menurunkan persepsi nyeri Pengetahuan yang akan dapat membantu klien dirasakan

membantu mengurangi nyerinya. Dan mengembangkan terhadap rencana kepatuhan teraupetik

28

BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN Spinal cord injury (SCI) merupakan cidera yang mengenai servikalis vertebralis, dan lumbalis akibat dari suatu trauma. Trauma yang terjadi mengenai jaringan lunak pada tulang belakang, antara lain ligamen dan diskus, tulang belakang dan sumsum tulang belakang. Trauma yang terjadi diakibatkan karena trauma langsung maupun tak tangsung dapat dicontohkan karena kerusakan fungsi neurologis. Trauma yang terjadi pada tulang belakang dapat dilakukan perawatan dengan mempertahankan kestabilan posisi tulang belakang, mencegah timbulnya komplikasi, membantu pemenuhan kebutuhan dasar pasien dan pemberian support mental baik pada pasien maupun keluarga. 2. SARAN 1. Dalam suatu penerapan Asuhan Keperawatan pada Klien dengan trauma tulang belakang diperlukan managemen keperawatan yang tepat. 2. Informasi atau pendidikan dan support kepada pasien dan keluarga perlu diperhatikan

29

DAFTAR PUSTAKA American College of Surgeons Committee On Trauma, 2007. Advanced Trauma life support. Edisi keenam. Diterjemahkan dan dicetak oleh Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) Aminoff, Michael J, Greenberg, David A. 2005. Clinical Neurology Sixth Edition. USA Carlson. Anatomi Sistem Sarat Periter. http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/psikologi_faal/bab5_anatomi_si stem_saraf_perifer.pdf Gisenberg, Lionel. 2005. Buku Neurologi Edisi 8. Jakarta : Erlangga Helmi Zairin Noor. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal, Salemba Medika. Jakarta Hoppenfeld, Standly dan Vasantha L, Murphy. 2011. Buku Terapi dan Rehabilitasi Fraktur. Jakarta : EGC Jackson, Amie B. Sekilas Spinal Cord Injury Anatomi & Fisiologi. 2003. http://www.spinalcord.uab.edu/show.asp?durki=32105 di akses tgl 29 april 2012 jam 10.00 Kowalak (dkk). 2011. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC Mardjono, Mahar dan Priguna Sidharta. 2010. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : dian Rakyat Prijambodo, Bambang, dkk. 2000. Spine Update. Surabaya: Panitia Medik Pengembangan Tulang Belakang RSUD dr. Soetomo-FK UNAIR Schreiber, Donald, Rick Kulkarni. Medscape.2011 http://emedicine.medscape.com/article/793582-overview#aw2aab6b2b6 di akses tgl 29 april 2012 jam 13.00 Seto, Sagung dan J Garrison, Susan. 2001. Dasar-dasar terapi dan Rehabilitasi Fisik. Jakarta : Hipokrates

30

Snell. S Richard. 2007. Neuroanatomi Klinik Edisi 5. Jakarta: Buku Penerbit Kedokteran. EGC Spinal cord Injury. http://www.sci-recovery.org/sci.htm di akses tgl 29 april 2012 jam 14.00 Spinasanta,Susan di ulas oleh Edward C. Benzel. Laser spine institute http://www.spineuniverse.com/conditions/spinal-cord-injury/causes-spinalcord-injury diakses tgl 29 april 2012 jam 13.00 Tarwono. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta