Anda di halaman 1dari 5

Urbanization without Growth: A not so uncommon Phenomenon

Marianne Fay* and Charlotte Opal**
* World Bank (MFAY@Worldbank.org); ** Oxford University. This paper was written while Charlotte Opal was a summer intern at the World Bank

URBANISASI TAMPA PERTUMBUHAN; Sebuah Fenomena yang Tidak Biasa

Reviewer;
Wahyudi Arimbawa

Mahasiswa Program Magister Arsitektur Konsentrasi Perencanaan dan Manajemen Pembangunan Desa dan Kota Universitas Udayana Tahun 2013

Implikasi lainnya adalah tingginya biaya sosial yang tidak diiringi dengan meningkatnya produktivitas dan kesejahteraan masyarakatnya. Sebagai sebuah studi kasus. sehingga jika lokasi terganggu entah karena masalah keamanan. Paper ini kemudian distrukturkan menjadi empat pokok bahasan yaitu bagian pertama melihat perbedaan pola urbanisasi secara makro dengan focus utamanya di Negara Afrika. Bagian keempat yang merupakan inti pembahasan paper ini meneliti perbedaan tingkat pertumbuhan urbanisasi di seluruh negara. sehingga para migran tidak harus kembali ke daerah perdesaaanya? Sebagai sebuah perbandingan dalam artikel ini juga dibahas mengenai urbanisasi secara makro di negara lainnya sebagai referensi untuk menjawab persoalan mengapa urbanisasi di Afrika menjadi berbeda dengan negara-negara lainnya. Beberapa kegagalan sistemik dalam manajemen urbanisasi di negara-negara seperti China.2 % pertahun selama periode tahun 1970-1995. ternyata tidak selalu sama disetiap negara. tren pertumbuhan ekonomi selalu mengalami fluktuasi. Uni Soviet dan Vietnam menunjukkan bahwa negara gagal dalam hal mengarahkan laju urbanisasi sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi negaranya.Apakah karena implikasi dari terganggunya proses urbanisasi atau justru karena faktor penurunan kondisi ekonomi disuatu daerah. Populasi masyarakat urban di beberapa negara bagian Afrika. dan bagian akhirnya merupakan kesimpulan. GDP per kapita justru jatuh rata-rata 0. demikian juga sebaliknya. bahasan kedua melakukan review literatur faktor-faktor penentu urbanisasi . Sementara itu. Tentu saja bahwa memahami urbanisasi sebagai sebuah fenomena dianggap dapat membantu dalam hal pengambilan kebijakan yang tepat dan strategik untuk mengurangi dampak yang diakibatkan oleh urbanisasi itu sendiri. . Alasan kondisi urbanisasi makro dikaji adalah untuk menjawab hipotesa awal bahwa jika manusia berpindah dengan berbagai tingkat kemudahan aksesibilitas dan kepentingan sebagai respon dari insentif ekonomi dan mengikuti kecenderungan peluang ekonomi untuk menghidupinya. Dalam artikel ini juga ditunjukkan bahwa urbanisasi merupakan bagian integral dari perubahan struktural yang menyertai pertumbuhan dan perkembangan ekonomi disebuah negara. Asumsi awal yang diajukan adalah bahwa urbanisasi mempunyai kaitan erat dengan faktor lokasi.66%. hal ini mengimplikasikan bahwa urbanisasi justru tidak menyebabkan terjadinya peningkatan sumber daya baik disektor privat maupun publik. Pertanyaan kunci yang akan di kupas dalam artikel ini adalah apa yang menyebabkan proses urbanisasi yang terjadi di Afrika tidak di ikuti oleh tingkat pertumbuhan ekonomi yang memadai di negaranya?. bagian ketiga lebih menjabarkan hipotesis bagaimana perkembangan urbanisasi secara makro antar negara. resesi yang berkepanjangan serta faktor kriminalitas geder yang sangat massif terjadi maka pertumbuhan ekonomi pun terganggu. Negara Afrika justru menunjukkan terjadinya anomali. percepatan pertumbuhan ekonomi mungkin saja diakibakan karena tidak berfungsinya kota (dysfunctional cities) untuk melayani kebutuhan ekonomi disektor privat atau bahkan untuk melayani kebutuhan pasar produk-produk pertanian.Pendahuluan Pertumbuhan ekonomi sebagai sebuah indikator yang selalu mengikuti terjadinya proses urbanisasi. tumbuh rata-rata sebesar 5. yaitu pertumbuhan ekonomi yang terjadi justru tidak mempunyai korelasi dengan pesatnya laju urbanisasi. Jika dilihat dari data statistik yang ada.

urbanisasi terus meningkat di Afrika. permukiman perdesaan yang berkembang menjadi kawasan perkotaan dan migrasi desa kota. pertumbuhan penduduk alami. Dari faktor non ekonomi semisal kendala budaya dan keluarga serta aksesibilitas wilayah terbelakang dan rendahnya tingkat kebebasan wanita. apakah karena urban bias dan kebijakan mengenai faktor lokasi yang terganggu? perang sipil yang berketerusan atau karena guncangan pertanian akibat gagal panen? Dalam grafik ditunjukkan tren bahwa meskipun dalam situasi pertumbuhan ekonomi negatif. Meski di awal tahun 1960 memiliki tingkat urbanisasi yang sama dengan negara negara semisal Asia Timur dan Asia Selatan. Hasilnya tentu dapat dilihat sekarang. Tingkatan Urbanisasi Antar Negara Para Ekonom dan Ahli kependudukan menggunakan model migrasi desa kota untuk menjelaskan faktorfaktor penentu individu untuk melakukan migrasi des-kota. Populasi penduduk kota meningkat cepat justru pada saat tingkat pendapatan rata-rata yang sangat rendah. beberapa kebijakan mengenai pajak misalnya cenderung lebih menguntungkan daerah perkotaan karena pajak dari hasil usaha pertanian yang ada di perdesaan justru lebih banyak mengalir ke perkotaan. dilihat dari pendapatan negara. namun juga faktor lingkungan dari individu yang bersangkutan.pertumbuhan ekonomi di Afrika mengalami stagnansi. Pada artikel ini lebih dibahas mengenai penyebab migrasi desa kota yang disebabkan oleh pertama. Model ini tidak hanya memperhatikan aspekbudaya. Afrika tumbuh menjadi negara yang mengalami overurbanisasi yang mempengaruhi pendapatan dan struktur perekonomian negaranya. harga komoditas pertanian yang rendah merupakan faktor pendorong untuk keluar dari desa. Asumsi awal yang kemudian dapat di tarik dalam artikel ini adalah bahwa proses Afrika menjadi berbeda karena rendahnya performa pertumbuhan ekonomi yang ada bila dibandingkan justru dengan proses urbanisasi itu sendiri. Rezim kolonial mempunyai relevansi dengan terjadinya arus migarasi desa ke kota yang sangat massif. Penyebab Migrasi Desa-Kota Seperti diketahui bahwa peningkatan populasi masyarakat urban di beberapa negara dapat disebabkan oleh tiga hal. Perkembangan urbanisasi terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil sampai pada momentum pertengahan tahun 1970. Terakhir adalah terganggunya faktor lokasi ekonomi.kesejahteraan dsb dari individu itu sendiri saja. Penyebab tingginya laju migrasi ke kota ini (dalam kondisi ekonomi yang bangkrut) menyisakan sebuah pertanyaan. kecenderungan urbanisasi Afrika menjadi berbeda dengan negara lainnya yaitu laju urbanisasi yang semakin tinggi namun tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang justru pada saat itu sedang bangkrut. dan yang terakhir adalah adanya kerentanan konflik antar keluarga. Dari aspek ini kemudian dijabarkan tingginya arus migrasi desa-kota disebabkan oleh tingkat upah yang berbeda antara desa dan kota (upah di kota cenderung lebih besar). Sementara populasi penduduk masih terus saja membanjiri kota.diawal kebangkitannya dari jaman kolonial dikategorikan sebagai negara terbelakang. pendidikan.Urbanisasi di Afrika dalam perspektif perbandingan Afrika. Sejak tahun 1974. dilihat dari sisi keuntungan ekonomi. Afrika mengalami resesi berkepanjangan. Dalam konteks ini yang lebih disorti adalah mengenai kebijakan dan langkah strategic yang digunakan oleh negara dalam meminalisir dampak dari proses migrasi yang massif di afrika ini. Perubahan structural yang menyertai pembangunan GDP pertanian jatuh 32 %di negara-negara . Beberapa pokok yang dikaji antara lain Hukum Pendapatan yang menyebutkan bahwa tingkat urbanisasi berkorelasi dengan tingkat pendapatan per kapita.

serta evoluasi juga memberikan sumbangsih yang cukup signifikan terhadap pola urbanisasi di Afrika dan tentunya mempunyai implikasi dan tingkat relevansi yang sangat berbeda dengan negara lainnya. Faktor lainnya yang dapat digunakan untuk memprediksikan perbedaan tingkat urbanisasi antra negara antaralain. Hasil uji hipotesi secara regresi kemudian menunjukkan fakta bahwa rata-rata laju perkembangan urbanisasi cenderung lebih stabil dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonominya yang justru cenderung mengalami penurunan. tingkat urbanisasi di Afrika tidak berbeda dengan negara lainnya pada periode 1965-1995 dalam hal pendapatan dan struktur ekonomi negaranya. Untuk melihat relasi antara tingkat urbanisasi dengan tingkat pendapatan kemudian digunakan indikator oleh Easterly (1999) yaitu pertama. adalah kemungkian bahwa kemajuan kondisi sosial ekonomi global lebih penting dibandingkan dengan pertumbuhan perindividu negara bersangkutan. Kedua. Kebalikan dari itu. Indikator ketertinggalan dalam pertumbuhan dan perubahan kualitas hidup. Afrika menjadi negara dengan laju pertumbuhan ekonomi yang stagnan namun laju urbanisasi tetap berjalan dengan stabil atau bahkan meningkat. urbanisasi tetap berlangsung bahkan pada momentum pertumbuhan ekonomi negatif. . Faktor kedua tingginya tingkat urbanisasi ke kota adalah akibat dari Perbedaan Penghasilan antara Desa dan Kota. Sementara itu pendapatan rata-rata adalah -11%. Negara dengan RUW rendah kemudian menjadi overurbanisasi dalam kaitannya dengan struktur dan tingkat pendapatan. demokrasi. pendidikan. Di Afrika. perang dan kekerasan. struktur pendapatan. Juga dilakukan tes mendalam terhadap hipotesis bahwa Afrika relatif berada dibawah laju urbanisasi antara decade 1980. Kesimpulan. namun perubahan dalam hal pendapatan tidak mempunyai relevansi apapun terhadap terjadinya urbanisasi. Dalam artikel ini untuk mengukur tingkat penghasilan atau tingkat upah rata-rata di perdesaan digunakan model GDP Pertanian (YA) dibagi dengan tenaga kerja di pertanian (LA). Tingkat urbanisasi mempunyai korelasi linear dengan tingkat pendapatan. Selain itu diungkapkan juga dalam artikel ini bahwa tingkat pendidikan. semakin tinggi keinginan untuk bermigrasi ke perkotaan. Dari cntoh perhitungan yang dilakukan. Jika dikalibrasi dengan analisis data di negara lainnya. perbedaan upah antara desa dan kota. kemuduran di bidang pertanian. Urban bias.dan kemudian menjadi overurbanisasi di dekade berikutnya.6% per tahun.berpenghasilan rendah menjadi kurang dari 3 % diantara orang yang berpenghasilan tinggi dan tenaga kerja pengagguran disektor pertanian turun dari 66 % menjadi hanya 6 % saja. etnisitas dan gangguan sipil. Selain Beberapa fakta dilapangan menunjukkan bahwa tingkat urbanisasi di sebuah negara ternyata mempunyai relasi dengan perubahan peluang secara ekonomi. Benarkah Afrika berbeda? Seperti diketahui sebelumnya. Rendahnya upah diperdesaan bergantung dari tingkat upah di perkotaan. menunjukkan bahwa pertumbuhan laju urbanisasi mencapai 1. Model RUW adalah rasio dari kedua produk ini. upah daerah urban diestimasikan menjadi GDP non pertanian dibagi dengan jumlah pekerja dan tingkat pelayanan (YI+YS)/(LI+LS). etnis.

.Kritik menarik yang dapat disampaikan bahwa pendefinisian desa-kota diletakkan dalam kerangka yang tidak tepat di beberapa negara berkembang. Bahkan tidak jarang aktivitas perekonomian pun dibatasi dan dibedakan antara desa-kota. Perkembangan konsep agropolitan misalnya sebagai respon terhadap kenaikan harga produk pertanian di kawasan perdesaan merupakan dikotomi yang tidak aplikatif bagi negara berkembang dewasa ini. sementara lakon bekerja di sektornon formal di jalankan di malam hari pada kawasan perdesaan. Fakta lainnya menunjukkan bahwa lemahnya hubungan antara urbanisasi dan faktor penerimaan perpindahan (migrasi) mengindikasikan bahwa di Afrika sektor informal justru menghasilkan dan menyediakan sumber-sumber penghidupan yang lebih besar bagi para migran. Seperti misalnya orientasi bekerja di siang hari disektor formal berada di kawasan perkotaan. khususnya di Afrika.