Anda di halaman 1dari 24

AGRITEK Vol. 18 No.

2 April 2010

ISSN. 0852-5426

ANALISIS KUALITAS DAN KENYAMANAN LINGKUNGAN KAWASAN HUTAN KOTA, DI KOTA MALANG
Analysis of Environmental Quality and Comformity in the Urban Forest of Malang City Rizald Hussein Mahasiswa Program Magister PSLP PPSUB Bagyo Yanuwiyadi Dosen Jurusan Biologi FMIPA UB Soemarno Dosen Jurusan Tanah FPUB ABSTRAK Pembangunan fisik yang dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi suatu perkotaan menyebabkan berkurangnya areal terbuka hijau. Kenyataan ini menyebabkan kestabilan ekosistim suatu daerah / kota terganggu bahkan menurun. Kestabilan ekosistim yang terganggu ini menyebabkan lingkungan tidak sehat yang ditunjukan dengan meningkatnya suhu udara, banjir/genangan, kebisingan, intruisi air laut, penurunan permukaan air tanah, abrasi pantai, pencemaran air minum, pencemaran udara (meningkatnya kadar CO, CO2, NOx, SOx, Partikulat/debu, dll), suasana lingkungan yang gersang, monoton, dan tidak menghadirkan nilai estetika bagi lingkungan. Permasalahan lingkungan yang tidak terselesaikan ini akan menghancurkan potensi pemenuhan generasi mendatang. Termasuk adanya kemerosotan kualitas lingkungan bisa berdampak buruk bagi kenyamanan lingkungan, khususnya bagi kehidupan manusia. Untuk mengurangi berbagai dampak negatif kota akibat pembangunan yang tidak ramah lingkungan tersebut di atas, maka alternative penyediaan RTH di areal perkotaan mutlak harus ada. Salah satu bentuk RTH di perkotaan yang juga mengandung nilai estetika tinggi dan dapat dijadikan ajang sarana rekreasi ialah hutan kota. Hutan kota merupakan pendekatan dan penerapan salah satu atau beberapa fungsi hutan dalam kelompok vegetasi di perkotaan untuk mencapai tujuan proteksi, rekreasi, estetika, dan kegunaan fungsi lainnya bagi kepentingan masyarakat perkotaan. Untuk itu, hutan kota tidak hanya berarti hutan yang berada di kota, tetapi dapat pula berarti bahwa hutan kota dapat tersusun dari komponen hutan, dan kelompok vegetasi lainnya yang berada di kota, seperti taman kota, jalur hijau, serta kebun dan pekarangan. Tingkat kenyamanan di Kota Malang saat ini berada pada kisaran tidak nyaman (nilai IK = > 71). Pengelolaan Hutan Kota yang masih mengedepankan fungsi estetika dibandingkan fungsi hidrologis memiliki andil dalam penentuan rasa nyaman di sekitar hutan kota tersebut. Untuk itu keterpaduan setiap stakeholder dalam merencanakan dan mengelola hutan kota di Malang sangat diperlukan guna terjaga fungsi hutan kota dalam memberikan rasa nyaman bagi maasyarakat Kota Malang. Kata kunci : hutan kota, indeks kenyamanan, lingkungan, kota malang

245

AGRITEK Vol. 18 No. 2 April 2010

ISSN. 0852-5426

ABSTRACT Physical development is being done to support economic growth causing a decrease in urban green open area. This fact led to the stability of the ecosystem of an area / town disrupted even decreased. The stability of this ecosystem is disrupted causing an unhealthy environment which is shown by the increase in air temperature, flood, noise, intruisi sea water, ground water level decline, coastal erosion, water pollution, air pollution (rising levels of CO, CO2, NOx, SOx , Particulate / dust, etc.), the arid atmosphere, monotonous, and does not represent value for environmental aesthetics. Environmental problems are not resolved it will destroy the potential for future generations because of the deterioration of environmental quality which impact on environmental comfort, especially for human life. In reducing any negative impacts caused by any physical construction activities in the city that are not environmental friendly, then any alternative provision of green openspace in urban areas there is an absolute must. One form of green open-space in urban areas that also contain a high aesthetical value and can be used as recreational facilities arena is the urban forest. Urban forestry is an approach and an application of one or several functions in a group of forest vegetation in urban areas in achieving objectives of protection, recreation, aesthetics, and usefulness of other functions for the benefit of urban communities. Urban forest does not just mean that forests are in town, but it can also mean that urban forest may be composed of components of forest and other vegetation groups residing in the city, such as parks, greenways, urban gardens and homeyards. Comformity level in Malang City is currently in the range of uncomfortable (HI value => 71). Urban forest is still promoting in any aesthetical functions than hydrological function, has a share in determining the sense of comfort in the forest around the city. For the integrity of every stakeholder in planning and managing urban forest in Malang is very necessary in order to awake the functions of forests in providing a sense of comfort for the people of Malang City. Keyword : urban forest, comfort level, environmental, malang city

PENDAHULUAN Kehidupan organisme di bumi sangat tergantung pada keberadaan tumbuhan hijau. Keberadaan satwa membutuhkan adanya aliran energi yang disuplai dari tumbuhan dalam menjalankan proses hidup dan kehidupan. Demikian juga manusia yang dalam kehidupan sehari-harinya membutuhkan tumbuhan sebagai sumber energi. Keberadaan tumbuhan mengundang kehadiran burung sehingga kebutuhan emosional manusia dapat terpenuhi dari kicauan dan potensial lain yang ada pada mereka. Tidak dapat dipungkiri saat ini bahwa tumbuhan dalam

kehidupan kita memang sangat dibutuhkan oleh manusia. Keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) sebagai wilayah tumbuhnya tetumbuhan yang dapat menyokong lingkungan perkotaan saat ini mutlak dibutuhkan, terutama karena nilai positif yang diberikan terhadap kehidupan warga dan kualitas lingkungan perkotaan. Akan tetapi kenyataan yang sungguh ironis terlihat saat ini bahwa habitat tumbuhnya tumbuhan mulai berganti dengan habitat bangunan-bangunan beton sebagai pusat ekonomi, industri dan property. Perubahan ini sangat jelas terlihat di daerah perkotaan. Penurunan habitat tumbuhan ini menunjukan bahwa masalah pokok yag

246

namun ruang terbuka hijau yang diperuntukan untuk penanaman vegetasi tetap berkurang. SOx. Sebaliknya luas lahan yang terbangun pada tahun 2007 meningkat menjadi 60% dari luas wilayah 247 . abrasi pantai. Pendekatan yang digunakan di Indonesia ialah pendekatan pertama dengan menggunakan persentase luasan tertentu. tanah pekarangan dan kebun 150 ha. Luas areal ruang terbuka hijau Kota Malang juga tercatat tahun 2007 tersisa 2. CO2. 2) perhitungan perkapita. Pembangunan hutan kota meyangkut masalah ketersediaan lahan yang erat kaitannya dengan masalah tata ruang kota. banjir / genangan. Jerman.940 Ha. Untuk mengurangi berbagai dampak negative kota akibat pembangunan yang tidak ramah lingkunga tersebut di atas. yaitu luasan RTH kota ditentukan berdasarkan jumlah penduduknya. Korea. Berdasarkan keputusan Depdagri (1988) luasan RTH kota sebesar 30% dari luas kota seluruhnya. dll). Sekedar contoh bahwa telah terjadi penurunan kualitas iklim mikro sehingga membuat masyarakat tidak merasa nyaman karena panas. dan areal private lainnya yang menyebabkan berkurangnya vegetasi di area tersebut. maupun sarana-saran fisik lainnya untuk menunjang pertumbuhan ekonomi. Agar perencanaan sampai tahapa pembangunan hutan kota dapat terlaksana secara optimal maka perlu dilakukan suatu penelitian.65% dari keseluruhan total luas Kota Malang yang mencapai 110. 3) luasan RTH ditentukan berdasarkan isu utama yang muncul. pencemaran air minum. Akan tetapi kenyataan di lapangan menunjukan bahwa luasan RTH maupun hutan kota yang telah ditentukan baik luasan maupun areal telah berkurang akibat pembangunan fisik. Kebijakan untuk pembangunan RTH kota ada dua pendekatan yaitu . Pembangunan fisik yang dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi suatu perkotaan menyebabkan berkurangnya areal terbuka hijau. sempadan sungai 80 ha. monoton. pabrik. kebisingan. NOx. perkantoran dan industri dipandang sebagai suatu bagian dari RTH kota. Alih fungsi lahan bervegetasi kini telah banyak berubah menjadi bangunan beton. Kenyataan ini menyebabkan kestabilan ekosistim suatu daerah / kota terganggu bahkan menurun. real estate.AGRITEK Vol.hongkong. Pendekatan kedua. Kestabilan ekosistim yang terganggu ini menyebabkan lingkungan tidak sehat yang ditunjukan dengan meningkatnya suhu udara. dan sawah 2. Dirjen reboisasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) menegaskan 10% luas wilayah harus menjadi kawasan hutan kota. Singapura mengikuti pendekatan kedua. Wilayah Kota Malang tahun 2007 tercatat memiliki hutan kota sebesar 0. intruisi air laut. Jepang. jalan raya. Ruang terbuka itu terinci 12 Ha. Wilayah yang sedianya dijadikan RTH berubah fungsi menjadi bangunan mall. perumahaan. Partikulat/debu. maka alternative penyediaan RTH di areal perkotaan mutlak harus ada. Pendekatan Pertama. Pada pendekatan ini semua komponen yang ada di kota seperti pemukiman. Mereka juga membuat kebijakan untuk membuat “hutan beton” yait membangun RTH kota di atas gedung. kompleks industri.06 km2.89% dari keseluruhan luas Kota Malang. Penentuan luasnya berdasarkan : (1) persentase. Salah satu bentuk RTH di perkotaan yang juga mengandung nilai estetik tinggi dan dapat dijadikan ajang sarana rekreasi ialah hutan kota. 0852-5426 dihadapi di daerah perkotaan saat ini bukan lagi semata-mata krisis perencanaan melainkan krisis yang direncanakan. penurunan permukaan air tanah. 2 April 2010 ISSN. yaitu luasan RTH ditentukan dengan memperhitungkan luasan kota. pencemaran udara (meningkatnya kadar CO. suasana lingkungan yang gersang. semua areal yang ada di suatu kota pada dasarnya adalah areal untuk RTH kota. dan tidak menghadirkan nilai estetika bagi lingkungan. 18 No. RTH kota dibangun pada lokasi-lokasi tertentu saja.

63 tahun 2002 yang menggariskan bahwa luas ruang terbuka hijau daerah perkotaan minimal 10% dari luas wilayah kota. Dampak negatif dari aktifitas kota antara lain meningkatnya suhu udara. Menurut Grey dan Deneke (1976) dalam Zoer’aini. kelembaban menurun. Sebuah pohon yang terisolir akan menguapkan air sekitar 400 liter/hari jika air tanah cukup tersedia (Kramer dan Kozlowski. Penelitian Sani (1986) menunjukan adanya perbedaan suhu di dalam dan di luar taman kota sebesar 4. 2005. (2005) pepohonan dan vegetasi lainnya dapat memperbaiki suhu kota melalui evapotranspirasi. 2 April 2010 ISSN. polutan. tempo interaktif. 63 Tahun 2002. debu.50C. dengan struktur menyerupai/meniru hutan alam. 0852-5426 kota. 1993. (Budiharjo dan Hardjohubojo. Hutan kota diharapkan dapat menyerap hasil negatif akibat aktifitas di perkotaan yang tinggi. Berdasarkan latar belakang di atas. Kajian yang mengarah pada penilaian kualitas lingkungan Kota Malang saat ini perlu dilakukan untuk mendukung kegiatan di atas. Pembangunan yang terjadi menyebabkan berkurangnya luas areal bervegatasi yang secara langsung menyebabkan berkurangnya vegetasi. hutan kota merupakan suatu ekosistim dengan sistim terbuka. berbentuk jalur. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan yang berdampak pada peningkatan kualitas masyarakatnya. Setiap terjadi pembangunan di daerah perkotaan. menyebar. 18 No. Sebagai unsur RTH. Sumarni. Vegetasi dalam ekosistim berperan sebagai produsen pertama yang mengubah energi surya menjadi energi potensial untuk mahluk lainnya. Kota Malang yang saat ini mulai mengalami penurunan kualitas lingkungan akibat pembangunan perlu melakukan upaya guna meningkatkan presentasi luas areal terbuka hijau sebagaimana disyaratkan dalam PP No. lahan bervegetasi selalu berkurang. Keadaan sejuknya suhu karena peran tanaman ini perlu di kembangkan di daerah yang suhunya semakin hari semakin panas dengan cara menanam lebih banyak tanaman hingga membentuk hutan kota. Tingginya aktifitas kota disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan industri yang sangat pesat di wilayah perkotaan.AGRITEK Vol. Kenyataan ini telah menyalahi aturan pemerintah PP No. nyaman dan estetis. Hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota. Penempatan areal hutan kota dapat dilakukan di tanah negara atau tanah private yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat berwenang. Zoer’aini. (2) bagaiman 248 . 1970 dalam Zoer’aini. dirumuskan permasalahan penelitian (1) Bagaimana hubungan bentuk-bentuk hutan kota terhadap kualitas udara di sekitar wilayah hutan kota. membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat. 2004. atau bergerombol. Penghijauan perkotaan merupakan salah satu usaha pengisian ruang terbuka hijau (RTH). 2005).comb). perubah terbesar lingkungan dan sebagai sumber hara mineral. kebisingan. Pengertian ini sejalan dengan PP No 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota yang menggariskan hutan kota sebagai pusat ekosistim yang dibentuk menyerupai habitat asli dan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi oleh pepohonan dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu penelitian mengenai kualitas lingkungan udara dan kenyamanan yang ada saat ini di wilayah hutan kota di Kota Malang dirasa perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk memprediksi kebutuhan hutan kota dan bentuk hutan kota yang tepat di Kota Malang. 1970 dan Federer. 2006). Kegiatan penghijauan di daerah perkotaan perlu dilakukan untuk mengurangi tingkat pencemaran udara dan menurunkan suhu agar terasa sejuk. dan hilangnya habitat berbagai jenis burung dan satwa lainnya karena hilangnya vegetasi dan RTH (Zoer’aini.

dan di luar jauh hutan kota (T3). intensitas cahaya matahari. Metode survey di lakukan untuk mengukur suhu udara.00. Pengukuran suhu udara dan kelembaban mengunakan thermometer dan hygrometer.AGRITEK Vol. Bentuk hutan kota bergerombol adalah hutan kota dengan komunitas vegetasinya tumbuh terkosentrasi pada sutu areal. Pengukuran suhu udara dan kelembaban. dan bentuk jalur (HJ). Tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk (1) Mengetahui hubungan bentuk hutan kota terhadap kualitas lingkungan di sekitar hutan kota. dilakukan melalui data primer (asli). di tengah-tengah hutan kota (T2). Pengukuran dilakukan setiap jam selama 24 jam. Posisi pengukuran dilakukan pada tiga titik pengambilan sampel.00. dan kecepatan angin Lingkungan biologi : jumlah dan kerapatan vegetasi di hutan kota. yaitu hutan kota Malabar. Pengukuran suhu. Data Primer Untuk melihat peranan bentuk hutan kota terhadap kualitas udara dan tingkat kenyamanan. kelembaban. menyebar (HS). (2) mengetahui pengaruh bentuk hutan kota terhadap tingkat kenyamanan masyarakat di sekitar wilayah hutan kota. Pengukuran intensitas cahaya dilakukan dengan menggunakan handhels digital 249 . Penelitian dilaksanakan di tiga wilayah hutan kota Malang. bentuk dan struktur serta fungsi dominan dari hutan kota. Pengukuran intensitas cahaya. Pengukuran dilakukan di tiap hutan kota pada tiga titik lokasi pengukuran yaitu di tepi hutan di pinggir jalan (T1). kecepatan angin. dan kerapatan pohon yang dianalisis secara statistic dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. b.00 – 17. Waktu pengambilan sampel dilakukan selama 24 jam dengan studi kasus hutan kota Malang. 18 No. kelembaban.00 – 24. dan hutan kota Velodrome. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan ialah metode survey dan observasi. yaitu dengan melakukan pengukuran di lapangan. Setiap hutan kota mewakili berbagai bentuk hutan kota yang ada yaitu bergerombol (HG). a. Hutan kota jalur ialah hutan kota dengan vegetasi yang ditanaman membentuk jalur. dan kecepatan angin dilakukan setiap jam selama 24 jam yaitu mulai pukul 01. Variabel Penelitian Variabel Lingkungan fisik kimia berupa : Iklim mikro yaitu suhu. kelembapan. Bentuk hutan kota menyebar yaitu hutan kota yang komunitas vegetasinya tumbuh menyebar terpencar dalam kelompok-kelompok kecil. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Maret hingga April 2009. Metode observasi dilakukan untuk melihat aktifitas masyarakat yang memanfaatkan hutan kota dalam berbagai kepentingan serta persepsi mereka terhadap ekosistim hutan kota. Pengukuran intensitas cahaya dilakukan setiap jam selama 11 jam yaitu dari pukul 06. 0852-5426 hubungan bentuk-bentuk hutan kota terhadap tingkat kenyamanan di wilayah hutan kota. 2 April 2010 ISSN. hutan kota Jalan Jakarta. Sedangkan data sekunder digunakan untuk mengetahui dan mendiskripsikan keadaan hutan kota dan keadaan lingkungan Kota Malang. dengan jarak tanam rapat. jumlah jenis vegetasi Lingkungan sosial : Aspek sosial meliputi persepsi masyarakat dan instansi pemerintah terhadap keberadaan dan pengelolaan hutan kota berdasarkan kebijakan Pemerintah mengenai pengelolaan hutan kota Teknik Pengumpulan Data Untuk mengetahui peranan hutan kota terhadap kualitas udara dan kenyamanan diperoleh melalui data primer. Penelitian dilaksankan selama kurang lebih dari satu bulan.

00-24. wawancara dengan pejabat terkait. kelembapan. selisih suhu. Analisis juga dilakukan untuk melihat hubungan antara setiap variable pengamatan (suhu. di dalam. prasarana dan sarana fisik wilayah. IK =T −0. RH = kelembapan relatif. Samsat Kota Malang.AGRITEK Vol. dan instansi terkait yang relevan dengan penelitian. kelembapan. dll. intensitas matahari). Hasil pengukuran suhu. dan waktu ditabulasi dan dibuat grafik garis atau histogram. 2 April 2010 ISSN. dan diluar hutan kota. grafik dan gambar. dan waktu pengukuran dengan suhu.01RH ) (T −50) IK = Indeks Ketidaknyamanan (Discomfort index). Hasil analisis akan disajikan dalam bentuk disajikan dalam bentuk tabel. 18 No. Pengukuran kenyamanan Lingkungan nyaman yang dapat dirasakan manusia untuk memenuhi kebutuhan fisik ditentukan oleh suhu dan kelembapan kota sekitarnya. Tabulasi dan grafik Hubugan bentuk hutan kota. Jumlah vegetasi di peroleh dengan menghitung semua vegetasi yang tumbuh di dalam areal hutan kota. Data Sekunder Data sekunder yang tekait dengan penelitian meliputi kondisi fisik wilayah. 250 . Analisis data dilakukan secara statistika. T = suhu dalam derajat Faranheit. Jumlah jenis vegetasi dihitung berdasarkan jenis-jenis vegetasi yang menyusun hutan kota tersebut. Sebagian data disajikan dalam bentuk tabel dan sebagian dalam bentuk grafik sehingga secara visual dapat segera diketahui. Untuk menyatakan rasa nyaman secara kuantitatif.55(1 −0. The US Weather National Service telah menetapkan rumusan indeks ketidaknyamanan sebagai berikut : Waktu Pengukuran Waktu pengukuran data variable selama 24 jam (01. rataan. jenis dan kerapatan vegetasi. keadaan hutan kota malang. dan kecepatan angin dari letak titik pengukuran di tepi hutan. kelembapan. kelembapan dan intensitas matahari pada setiap bentuk hutan kota. Dinas Tata Kota Kota Malang. Dari tabulasi diketahui rataan pengukuran setiap jam. Indeks kenyamanan berkisar <70. d. setiap bentuk. letak titik pengukuran. Data sekunder diperoleh melalui kepustakaan. intensitas matahari. c. letak titik pengukuran.00) dengan pengukuran dilakukan setiap jam. Dari tabulasi akan diperoleh angka rata-rata secara umum dari semua hutan kota maupun pada setiap hutan kota. selama 3 hari. Pengukuran jumlah. dokumen-dokumen dari dinas terkait seperti dinas Pertamanan Kota Malang. Antara 70 – 80 cukup nyaman dan > 80 orang sudah merasa tidak nyaman. BMG. dan persentase. tabulasi. Bapeda Kota Malang. Cara menghitung kerapatan vegetasi adalah dengan menghitung jumlah pohon per satuan luas tanam. setiap titik pengukuran. Hubungan kualitas lingkungan dengan bentuk hutan kota 1. 0852-5426 ambient light meter. intensitas matahari dilihat dengan menggunakan statistik deskriptif yaitu dengan grafik. untuk setiap variable. Jumlah hari pengukuran di anggap sebagai ulangan. program pemerintah terhadap lingkungan kota. Analisis data Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan akan dianalisis dengan statistic untuk melihat perbedaan antara setiap posisi pengukuran. Teknik perhitungan dilakukan dengan cara spot metering sehingga di dapatkan detail tertentu secara maksimal. Untuk melihat apakah bentuk hutan kota memberikan pengaruh berbeda di setiap posisi pengukuran.

maupun jauh hutan kota.1(TDB) dimana : TWB = suhu jika basah. 0852-5426 (suhu. 2 April 2010 ISSN. sani menggunakan rumus sebagai berikut : IK = 0. Analisis korelasi Analisis korelasi dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel iklim yang diamati pada tiap posisi pengukuran di setiap hutan kota. 18 No.24 24. Analisis Kenyamanan Untuk menyatakan rasa nyaman secara kuantitatif.4 -3.64 -5. Berdasarkan asumsi awal bahwa akan terjadi perbedaan suhu pada bagian tengah hutan kota.3 24. pinggir hutan kota maupun jauh hutan kota terbukti menunjukan perbedaan tersebut pada saat pengukuran di lapangan. baik secara parsial maupun multidimensi akan diketahui sejauh mana bentuk dan struktur hutan kota dapat meningkatkan kualitas lingkungan.3 25. Pengukuran suhu rata-rata di tiga bentuk hutan kota pada tiga titik pengukuran.7 25.84 Ada perbedaan suhu yang cukup besar di antara setiap posisi pengukuran di masing-masing lokasi pengukuran. TDB = suhu jika kering. maka orang sudah mulai merasa tidak nyaman.24 -3. Tabel 1. dimana beda suhu antara titik pengukuran tengah hutan kota (T2) dengan pinggir hutan kota (T1) di hutan kota jalan jakarta adalah sebesar 251 .3 24. Peranan bentuk hutan kota terhadap kualitas lingkungan.9 -3. TG = suhu termometer globe.5 24. intensitas matahari).8 -1. Indeks kenyamanan berkisar antara 61 – 71.83 1 2 3 Pinggir (T1) 25. Pemahaman dan interpretasi dari koefisien model persamaan hasil analisis uji t dan korelasi. Interpretasi tersebut juga dapat digunakan untuk melihat peranan bentuk hutan kota terhadap kenyamanan yang dilihat dari faktor suhu dan kelembapan. No Bentuk Hutan Kota Jalan Jakarta Malabar Velodrome Rata – rata Suhu dan beda pada posisi pengukuran Tengah Jauh RataT2-T1 (T2) (T3) rata (%) 24.6 24. Suhu di tengah lebih rendah dibanding suhu pinggir dan jauh hutan kota.8 T2-T3 (%) -5. kelembapan. Jika nilai IK melebihi batas tadi.0 24.64 24.7 24.AGRITEK Vol.1 25.7 -2. Analisis ini akan menunjukan seberapa besar pengaruh hutan kota terhadap perubahan iklim mikro pada setiap posisi pengukuran iklim di sekitar hutan kota.26 -4. pinggir.4 25.7(TWB) + 0.21 23. maka dilakukan uji T dengan ANOVA (analisis of variance).2 (TG) + 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Hubungan Kualitas Lingkungan dengan Bentuk Hutan Kota Suhu Udara Pengukuran suhu selama 24 (dua puluh empat) jam di tiga lokasi hutan kota menunjukan penyebaran pola yang relatif sama baik pengukuran yang dilakukan pada titik tengah.0 24.

Perbedaan suhu yang tidak nyata juga ditunjukan antara posisi pinggir dan jauh hutan kota (p=0.24%. penurunan suhu udara di hutan kota jalan jakarta menujukan perbedaan yang nyata berdasarkan uji t (0. 2 April 2010 ISSN. sangat Hutan Kota Jalan Jakarta Suhu udara di tiga titik pengukuran pada Hutan Kota Jalan Jakarta menunjukkan pola yang sama. Perbedaan nyata ditujukan pada hutan kota JB (p = 0.520C.50C.00C dan lokasi jauh hutan kota mencapai 34.00C). Hasil analisis uji t menunjukan hutan kota memberikan efek menurunkan suhu dibanding daerah yang tidak bervegetasi (jauh dari hutan kota). Hutan Kota di Jalan Malabar suhu di hutan kota malabar menunjukan grafik peningkatan pada siang hari dan semakin menurun pada sore hari (Gambar 2).05%).00 (29.01*). Sebaran suhu pada tiga lokasi pengukuran di Hutan kota Jalan Jakarta Secara statistik. Perbedaan suhu antara posisi T2 dengan T3 berbeda nyata (p=0. suhu tertinggi dicapai pada pukul 14. hutan kota malabar sebesar 3. hutan kota GB (p = 0. dengan mean diference sebesar 0. hutan kota SB (p = 0. 18 No.01*) dimana posisi T1 mampu menurunkan suhu sebesar 1.04*).280C.64% dan hutan kota velodrome sebesar 5.02*). Hutan kota ternyata berpengaruh terhadap suhu udara. 0852-5426 3.AGRITEK Vol.00 kecuali di lokasi pengukuran pinggir hutan.64% Perubahan suhu antara titik tengah dengan titik jauh hutan kota di hutan kota jalan jakarta adalah 5.08 ns) namun tercatat mampu menurunkan suhu sebesar 0. sebaran suhu jl jakarta 40 30 suhu 20 10 0 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 waktu tengah hutan pinggir hutan jauh hutan Gambar 1.24%. 252 .21% dan hutan kota velodrome adalah sebesar 3. peningkatan suhu mulai terjadi terjadi pada pukul 09.00 dengan tingkat suhu tertinggi pada pukul 13.00 – 14.26%. hutan kota malabar adalah 1. Suhu tertinggi untuk tengah hutan kota mencapai 29.750C. Perbedaan suhu antara posisi tengah (T1) dan pinggir (T2) tidak menunjukan perbedaan nyata (p = 0.329ns).

Hutan Kota Velodrome Suhu di tiga titik pengukuran pada hutan kota velodrome menunjukan pola yang sama. serta posisi T1 dan T3 (p=0.04*).60C. Hasil uji t memperlihatkan bahwa. 0852-5426 Gambar 2. 2 April 2010 ISSN.40C dibanding suhu pada pingir sebesar 24. 18 No. Tingkat suhu tertinggi pada pukul 13. dimana suhu pada posisi tengah menunjukan nilai paling rendah yaitu 24. Penurunan suhu pada posisi tengah hutan kota adalah sebesar 0. untuk tengah hutan kota mencapai 30. suhu tertinggi dicapai pada pukul 16.05%) antara posisi T1 dan T2 (p=0. Hal ini menunjukan bahwa hutan kota mampu menurunkan suhu sebesar 1.00.21% di daerah pinggir hutan dan 3.00C dan lokasi jauh hutan kota mencapai 33.63% di daerah jauh dari hutan kota.00C.00 dan mulai menurun hingga pukul 17.960C dari suhu pada posisi jauh dari hutan kota. Sedangkan posisi T2 dibandingkan dengan posisi T3 menunjukan perbedaan yang signifikan (p=0.21ns). Perbedaan suhu di tiap titik pengukuran suhu hutan kota. dimana peningkatan suhu mulai terjadi terjadi pada pukul 06. penurunan suhu udara di hutan kota malabar menujukan tidak adanya perbedaan yang nyata berdasarkan uji t (0.AGRITEK Vol.00 – 13.34 0C dibanding suhu posisi pingir dan 0. Grafik perubahan suhu menurut perubahan waktu di tiap posisi pengukuran di hutan kota malabar.30C.70C dan suhu jauh sebesar 25.43ns).00 kecuali di lokasi pengukuran pinggir hutan. 253 .00. Suhu tertinggi di pinggir hutan kota mencapai 30.

64%) dibanding suhu posisi pingir dan 1.00 dan berangsur-angsur pada yang pukul naik. 0852-5426 sebaran suhu hutan kota velodrom e 35.26%) dari suhu pada posisi jauh dari hutan kota.02*) dan perbedaan yang sangat nyata pada hutan kota GB.0 1 5. Perubahan kelembapan mengikuti trend perubahan suhu. Kemampuan hutan kota dalam meningkatkan kelembapan pada posisi T1 rata-rata sebesar 4. yaitu tekanan uap aktual dibandingkan dengan tekanan uap jenuh pada temperatur yang sama (Monteith dan Usworth.90C (3. Hasil analisis uji t menunjukan hutan kota memberikan efek meningkatkan kelembapan dibanding daerah yang tidak bervegetasi (jauh dari hutan kota).02*). dimana jika suhu menurun maka kelembapan akan meningkat dan sebaliknya. Hasil uji t memperlihatkan bahwa. 254 .0 1 3 5 7 9 1 1 w1 3 1 5 aktu 1 7 1 9 tengah hutan pinggir hutan jauh hutan 21 23 Gambar 3. 18 No. 2 April 2010 ISSN.7%. penurunan suhu udara di hutan kota velodrome menujukan tidak adanya perbedaan yang nyata berdasarkan uji t (0. serta posisi T1 dan T3 (p=0.30C (5. 1990).0 0.7% dan posisi T3 sebesar 9.0 5.0 30.00 hingga 13. Dalam penelitian ini. Perbedaan nyata ditujukan pada hutan kota JB (p = 0. yang diukur adalah kelembapan relatif.08ns).0 suhu 20.0 25.0 1 0. Kelembapan Udara Hasil pengkuran kelembapan umumnya menunjukan penurunan terjadi mulai pukul 06. dan hutan kota SB (p=0. Grafik perubahan suhu menurut perubahan waktu di tiap posisi pengukuran di hutan kota velodrome. Perubahan penurunan suhu pada posisi tengah hutan kota adalah sebesar 0. Namun menunjukan perbedaan yang signifikan antara posisi T2 dibandingkan dengan posisi T3 (p=0.01*).AGRITEK Vol.57ns).05%) antara posisi T1 dan T2 (p=0.

19ns). Hasil Pengukuran rata-rata kelembapan dan beda di masing-masing hutan kota pada tiga titik pengukuran.7 79. Rata-rata Kelembapan dan Beda pada titik pengukuran (%) No 1 2 3 Hutan Kota Jalan Jakarta (JB) Malabar (GB) Velodrome (SB) Rata-rata Tepi (T1) 79.93 13.5 T2-T1 (%) 5.05%) antara posisi T1 dan T2 (p=0.7 Hutan Kota Jalan Jakarta Kelembapan di hutan kota jalan jakarta menunjukan penurunan rata-rata mulai pukul 06. 18 No. 0852-5426 Tabel 2.6 Dalam (T2) 83.6 Ratarata 79. Hasil uji-t menunjukan bahwa. 2 April 2010 ISSN.B) menunjukan adanya perbedaan yang nyata dan sangat nyata pada setiap posisi penguruan kelembapan.93% posisi T3.5 71. Hutan kota jelas dapat meningkatkan kelembapan sebesar 7.9 79.66 9.AGRITEK Vol. Hutan kota dapat menaikan kelembapan hingga 5. Namun demikian. serta posisi T1 dan T3 (p=0.7 83.42 1.58% di titik pengukuran jauh (T3).00 hingga pukul 13.009**). Uji t pada skala kepercayaan 5% (lampiran 10.03% dari posisi T1 dan 9. Perubahan kelembapan pada posisi pengukuran T1 dan T3 dibanding T2 sangat besar. Hal tersebut dimungkinkan karena tingkat kerapatan vegetasi di titik T2 sangat mempengaruhi baik kelembapan maupun suhu.33 Luar (T3) 75.03 7.9 8. Pada tabel 6 terlihat bahwa. Hasil pengukuran beda kelembapan di hutan kota Malabar seperti ditunjukan pada tabel 5 terlihat jelas perubahan kelembapan pada titik pengukuran T1 dan T3 dibanding T2 sangat besar.4 75.7 T2-T3 (%) 9.0 79.00 dimana pada saat tersebut terjadi peningkatan suhu pada wilayah yang sama dan semakin meningkat menjelang sore dan relatif stabil hingga pagi hari.00 hingga pukul 13. Hal ini jelas menunjukan bahwa tingkat kelembapan pada bagian tengah hutan kota lebih tinggi dibandingkan kelembapan pada pinggir hutan kota dan jauh hutan kota. Hutan Kota Malabar Kelembapan di hutan kota Malabar menunjukan penurunan rata-rata mulai pukul 06.8 82.00 (gambar 12 dan lampiran 7).00 dan selanjutnya relatif stabil hingga pukul 06.12ns). Hal ini jelas menunjukan adanya faktor vegetasi yang memegang peranan penting dalam perubahan iklim mikro. peningkatan kelembapan di hutan kota jalan jakarta menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dibandingkan dengan posisi T3 (p=0.4 82. peningkatan 255 .1 82.51 4.58 5.42% dari titik pengukuran pinggir (T1) dan 13. tidak adanya perbedaan yang nyata berdasarkan uji t (0.00 dimana pada saat tersebut terjadi peningkatan suhu pada wilayah yang sama dan kemudian menaik hingga pukul 19.5 77.4 76.

00. Perubahan kelembapan pada titik pengukuran pinggir (T1) dan titik pengukuran jauh (T3) di banding titik pengukuran tengah (T2) adalah sebesar 1.01*). serta posisi T1 banding T3 (p=0.007** Pinggir x Jauh 0.11 -101.002** Velodrome (SB) Tengah x Jauh 0.00** Pinggir x Jauh 0.02 -90. Hasil pengukuran kelembapan di hutan kota Malabar seperti terlihat pada tabel 8 jelas menunjukan perubahan kelembapan pada titik pengukuran T1 dan T3 dibanding T2 sangat besar.00**). Selanjutnya kelembapan berangsur-angsur menaik hingga pukul 19.00**) dan posisi T2 dibandingkan dengan T3 (p=0.51% (T1) dan 5. Hasil analisis uji t (tabel 7) terlihat bahwa.82 -51.004** Pinggir x Jauh 0. peningkatan kelembapan di hutan kota velodrome menunjukan perbedaan yang nyata antara posisi T2 dibanding posisi T3 (p=0.28 Tengah x Pinggir 0.AGRITEK Vol. Uji t variabel intensitas matahari masing-masing posisi pengukuran di hutan kota Malang.02*).20 Tengah x Pinggir 0.00 dimana pada saat tersebut terjadi peningkatan suhu pada wilayah yang sama. 18 No. Hasil pengukuran rata-rata intensitas menunjukan posisi tengah hutan kota (T2) lebih rendah dibandingkan posisi pinggir (T1) dan jauh (T3). penurunan intensitas cahaya matahari di hutan kota menunjukan perbedaan yang nyata dan sangat nyata antara hutan kota dan daerah disekitar hutan kota.05%) Mean Diference -111. Berdasarkan asumsi awal bahwa akan terjadi perbedaan intensitas cahaya matahari pada bagian tengah hutan kota. Hutan Kota Velodrome Penurunan kelembapan di hutan kota velodrome terjadi mulai pukul 06.90 -209.003** Malabar (GB) Tengah x Jauh 0.06 * * terdapat perbedaan yang sangat nyata pada skala kepercayaan 95% * terdapat perbedaan yang nyata pada skala kepercaya 95% 256 .66% (T3).23ns). Hutan Kota Jalan Jakarta (JB) Interaksi p (0. Hasil analisis uji t menunjukan terdapat perbedaan yang nyata dan sangat nyata seperti ditunjukan pada tabel 7 di bawah ini. maupun jauh hutan kota. pinggir hutan kota maupun jauh hutan kota terbukti menunjukan perbedaan tersebut. pinggir.19ns). Intensitas Radiasi Matahari Pengukuran intensitas matahari dilakukan selama 12 (dua belas) jam di tiga lokasi hutan kota menunjukan penyebaran pola yang relatif sama baik pengukuran yang dilakukan pada titik tengah.28 Tengah x Pinggir 0.04* Tengah x Jauh 0. 2 April 2010 ISSN.73 -81. serta perbedaan nyata ditunjukan pada posisi T1 banding T3 (p=0.00 hingga pukul 12.20 -300. Tabel 3.21 -213. Akan tetapi tidak terjadi perbedaan yang nyata antara posisi T2 dibanding T1 (p=0.00 dan relatif stabil hingga pukul 06. Hasil analisis uji t (tabel 6) terlihat bahwa. 0852-5426 kelembapan di hutan kota malabar menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dibanding posisi T1 (p=0.46 -132.

18 No. dan T2 dibanding T3 adalah 0.04*. Sedangkan pengukuran intensitas cahaya matahari terendah pada pukul 07. Hutan Kota Jalan Jakarta Malabar Velodrome Rerata Intensitas cahaya matahari T1 265. Akan tetapi tidak terjadi perbedaan yang nyata antara posisi T1 dibanding T3 (p=0.3 Hutan Kota Malabar Hasil pengukuran intensitas cahaya matahari pada umumnya dari pukul 07.00 sampai dengan 17. Sedangkan intensitas cahaya matahari terendah terjadi pada pukul 17.003**.0).000**.00 pada T2 (43.6 31.3).00 di titik T2 (1.9) dan T1 (265.00 pada titik T3 (599.7 190.00) dan pukul 14. pukul 11.8 82. Nilai p antara posisi T2 dibanding posisi T1 adalah 0. pukul 10. pukul 17. Intensitas cahaya matahari tertinggi dicapai pada pukul 14.0). Pada tabel menunjukan bahwa intensitas cahaya matahari pada tengah hutan (T2) lebih rendah dibanding T1 dan T3. Intensitas cahaya matahari tertinggi dicapai pada pukul 12.9 398.00 di titik T1 (26.00 pada titik T3 (507.3).0). Hutan Kota Jalan Jakarta Hasil pengukuran intensitas cahaya matahari pada umumnya dari pukul 07.00 sampai dengan 17.00 menaik karena puncak penyinaran matahari berada pada waktuwaktu tersebut.AGRITEK Vol. dan T2 dibanding T3 adalah 0. Hasil analisis uji t untuk melihat perbedaan intensitas cahaya matahari terhadap posisi pengukuran menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dengan posisi T1 dan posisi T3 (tabel 7).0 164.5 14.00 sampai 15.0) dan pukul 14.007**.0 259. Hasil analisis uji t untuk melihat perbedaan intensitas cahaya matahari terhadap posisi pengukuran menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dengan posisi T3 dan berbeda nyata dengan posisi T1 (tabel 7).3). 0852-5426 Tabel 4.6 T2 78.00 dititik pengukuran T1 (671.00 menaik karena puncak penyinaran matahari berada pada waktuwaktu tersebut.43 T3 215.00 di titik T2 (1. pukul 06.4).3).0). Rata-rata pengukuran intensitas matahari di hutan kota malang. dan pada pukul 15. Hal tersebut dikarenakan terhalangnya cahaya matahari akibat keberadaan vegetasi yang lebih banyak di titik tengah hutan kota dibanding pinggir dan jauh hutan kota.2 41.5) dibanding T3 (215.00 menurun karena rotasi bumi yang mengelilingi matahari menyebabkan penyinaran cahaya matahari yang mulai berkurang. Akan tetapi tidak terjadi 257 .00 di titik T1 (12.00 dititik pengukuran T1 (487. dan pada pukul 15.0) dan 07.4 223.00 di titik T3 (28.283ns).0) dan 07.00 sampai 14. Pada tabel menunjukan bahwa intensitas cahaya matahari pada tengah hutan (T2) lebih rendah(78. Nilai p antara posisi T2 dibanding posisi T1 adalah 0.00 di titik T3 (33.00 pada T2 (182. 2 April 2010 ISSN.00 menurun karena rotasi bumi yang mengelilingi matahari menyebabkan penyinaran cahaya matahari yang mulai berkurang.

dan menurun pada pukul 14. 18 No. namun tidak ada hubungan korelasi antar semua variabel terhadap intensitas matahari di posisi pinggir hutan (T1).00 pada titik T3 (385. Korelasi antar variabel suhu dan intensitas matahari tidak memiliki hubungan yang nyata dengan r=12.2%. Hubungan yang sama juga ditunjukan pada posisi tengah hutan kota (T2). Hutan Kota Malabar (GB) Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan bernilai linier negatif antara variabel suhu dan kelembapan. 0852-5426 perbedaan yang nyata antara posisi T1 dibanding T3 (p=0.00 pada T2 (53.2) dibanding pinggir hutan (T1) sebesar 82.00. Nilai p antara posisi T2 dibanding posisi T1 adalah 0.00 karena puncak penyinaran matahari berada pada waktu-waktu tersebut.5%). Uji korelasi di posisi pengukuran T1 hutan kota jalan jakarta antar variabel suhu dan kelembapan memiliki korelasi sempurna dengan bentuk hubungan linier negatif (r=95.5%). 2 April 2010 ISSN.6%). Sedangkan pengukuran intensitas cahaya matahari terendah terjadi pada pukul 06. pukul 12.00 sampai 13.06ns).00 di titik T3 (10.0.00 sampai dengan 17.2%).4%).004**. Hal tersebut dikarenakan terhalangnya cahaya matahari akibat keberadaan vegetasi yang lebih banyak di titik tengah hutan kota dibanding pinggir dan jauh hutan kota. sedangkan hubungan antara kelembapan dan intensitas matahari pun pun tidak memiliki hubungan nyata (r=17. hal ini lebih disebabkan karena rotasi bumi yang mengelilingi matahari menyebabkan penyinaran cahaya matahari yang mulai berkurang. Sedangkan untuk variabel intensitas matahari tidak menunjukan 258 . Sedangkan untuk variabel intensitas matahari tidak menunjukan adanya hubungan korelasi dengan variabel suhu udara (r=13. Hutan Kota Velodrome Hasil pengukuran intensitas cahaya matahari di hutan kota velodrome pada umumnya menaik dari pukul 06. Sedangkan untuk variabel intensitas tidak memiliki hubungan korelasi dengan variabel suhu namun memiliki hubungan korelasi nyata (linier positif) dengan kelembapan (r=70. Hubungan korelasi di posisi jauh dari hutan kota (T3) menunjukan hubungan suhu dan kelembapan bernilai linier negatif dengan tingkat signifikansi yang sangat nyata (r=97.0%). dan T2 dibanding T3 adalah 0.6%) dan variabel kelembapan (r=6. Pada tabel menunjukan bahwa ratarata intensitas cahaya matahari pada tengah hutan (T2) lebih rendah (31. Intensitas cahaya matahari tertinggi dicapai pada pukul 10. Hasil analisis uji t untuk melihat perbedaan intensitas cahaya matahari terhadap posisi pengukuran menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dengan posisi T1 dan posisi T3 (tabel 7). Hubungan korelasi antar variabel Hutan kota jalan jakarta (JB) Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan bernilai linier negatif antara variabel suhu dan kelembapan.3).00 dititik pengukuran T1 (133. pukul 17. Uji korelasi di posisi pengukuran T1 hutan kota malabar antar variabel suhu dan kelembapan memiliki korelasi sempurna dengan bentuk hubungan linier negatif (r=99.3).0) dan pukul 12.3).204ns).0). Hal ini mengindikasikan setiap adanya kenaikan suhu maka di ikuti dengan kelembapan yang menurun.002**.0) dan 06. namun tidak ada hubungan korelasi antar semua variabel terhadap intensitas matahari di posisi pinggir hutan (T1).7 dan jauh hutan (T3) sebesar 164.1%).AGRITEK Vol. Akan tetapi tidak terjadi perbedaan yang nyata antara posisi T1 dibanding T3 (p=0. Hal ini mengindikasikan stiap adanya kenaikan suhu maka di ikuti dengan kelembapan yang menurun.00 di titik T1 (9. dimana terlihat variabel suhu udara dan kelembapan memiliki hubungan korelasi bernilai linier negatif (r=94.00 di titik T2 (7.

1%). dimana terlihat variabel suhu udara dan kelembapan memiliki hubungan korelasi bernilai linier negatif (r=77.5%). Sedangkan untuk variabel intensitas matahari tidak menunjukan adanya hubungan korelasi dengan variabel suhu udara (r=23.1%. Tabel 5. 2 April 2010 ISSN.2%).AGRITEK Vol.2%) dan variabel kelembapan (r=17. hubungan antara suhu dengan intensitas matahari tidak memiliki hubungan nyata dengan r = 41. Sedangkan untuk variabel kelembapan dengan intensitas matahari memiliki hubungan korelasi linier positif dengan r = 62.2%).3%). 18 No.1%). Hal ini mengindikasikan setiap adanya kenaikan suhu maka di ikuti dengan kelembapan yang menurun. memperlihatkan hubungan yang erat antara suhu udara dan kelembapan dengan nilai korelasi linier negatif (r=95. namun tidak ada hubungan korelasi antar semua variabel terhadap intensitas matahari di posisi pinggir hutan (T1).5%. Hubungan yang sama juga ditunjukan pada posisi tengah hutan kota (T2).8%). Hubungan suhu dengan intensitas matahari juga bernilai negatif dan tidak memiliki hubungan korelasi (r=49. Sedangkan untuk variabel kelembapan dengan intensitas matahari memiliki hubungan korelasi linier positif dengan r = 27. Posisi jauh hutan kota (T3). Tidak terdapat hubungan korelasi antara suhu dengan intensitas matahari di posisi T3 (r=49. namun tidak memiliki hubungan korelasi linier antara suhu dan intensitas cahaya matahari (r=7. 0852-5426 adanya hubungan korelasi denngan variabel suhu udara (r=12. dimana terlihat variabel suhu udara dan kelembapan memiliki hubungan korelasi bernilai linier negatif (r=96.2) serta antara variabel kelembapan dan intensitas matahari (r=47. memperlihatkan hubungan yang erat antara suhu udara dan kelembapan dengan nilai korelasi linier negetaif (r=96.2%). Hubungan yang sama juga ditunjukan pada posisi tengah hutan kota (T2).4%. Uji korelasi di posisi pengukuran T1 hutan kota velodrome antar variabel suhu dan kelembapan memiliki korelasi sempurna dengan bentuk hubungan linier negatif (r=93.7%) dan antara kelembapan dengan intensitas cahaya matahari (r=5. Pengaruh Bentuk Hutan Kota Terhadap Kualitas Lingkungan dan Kenyamanan Pengelompokan Hutan Kota di Kota Malang Hutan kota yang terdapat di Malang secara umum memiliki 3 (tiga) bentuk dan satu struktur seperti tertera pada tabel 17 di bawah ini.1%).3%) dan variabel kelembapan (r=19. Hutan kota velodrome (SB) Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan bernilai linier negatif antara variabel suhu dan kelembapan. Bentuk dan Struktur Hutan Kota di Kota Malang No 1 2 3 4 5 6 7 Hutan Kota Jalan Jakarta Malabar Velodrome Pandanwangi Hamid Rusdi Indragiri Kediri Bentuk Menjalur Bergerombol Menyebar Bergerombol Menyebar Menjalur Bergerombol Struktur Strata Banyak Strata Banyak Strata Banyak Strata Banyak Strata Banyak Strata Banyak Strata Banyak 259 .6%). Posisi jauh hutan kota (T3).

Tingkat kerapatan vegetasi beberapa Hutan Kota di Malang. Bunga dapat memberikan nilai estetika. Hutan kota berbentuk menyebar adalah hutan kota dengan vegetasi yang tumbuh menyebar berkelompok maupun terpisah pada areal hutan kota.69 15. Sedangkan hutan kota berbentuk menjalur adalah hutan kota dimana vegetasinya tumbuh menjalur di sepanjang hutan kota.AGRITEK Vol.400 18. mengurangi kebisingan. hutan kota velodrome dan hamid rusdi adalah hutan kota dengan bentuk menyebar strata banyak.479 68.95 6. Batang dan daun mampu meredam bunyi. Daun dengan bulu-bulu serta stomata mampu memberikan kesejukan dan mengurangi debu melalui proses transpirasi serta penahan partikel di udara.500 1. mengontrol erosi dan air tanah.083 93 949 118 355 Luas hutan kota (m2) 11.19 260 .000 2. mengendalikan air limbah. 2 April 2010 ISSN. Akar tumbuhan dapat menahan laju erosi dan menyediakan cadangan air dalam tanah.00 15. No 1 2 3 4 5 6 Jalan Jakarta Malabar Velodrome Pandanwangi Hamid Rusdi Indragiri Nama Kerapatan (m2) 7. 0852-5426 Hutan kota bentuk bergerombol adalah hutan kota dengan komunitas vegetasinya tumbuh terkosentrasi pada suatu tempat dengan jumlah minimal pohon 100 dengan jarak kurang dari 8 meter atau rapat tidak beraturan.05 14. pandanwangi dan kediri adalah hutan kota dengan bentuk bergerombol starata banyak.048 2. hutan kota jalan Jakarta dan Indragiri adalah hutan kota berbentuk menjalur strata banyak. Hal tersebut dikarenakan keberadaan bagian-bagian tumbuhan seperti daun batang dan akar yang sangat bermanfaat dalam mengendalikan berbagai ketidaknyamanan lingkungan akibat aktifitas manusia. Selain merekayasa estetika.895 16.718 12. Jumlah Vegetasi dan Luas hutan kota di wilayah Kota Malang No 1 2 3 4 5 6 7 Nama Jalan Jakarta Malabar Velodrome Pandanwangi Hamid Rusdi Indragiri Kediri Jumlah Jumlah vegetasi 1.546 1. mengontrol lalulintas dan cahaya yang menyilaukan. mengurangi pantulan cahaya. serta mengurangi bau. Tabel 6. Penataan hutan kota lebih mengutamakan estetika dibandingkan fungsi hidrologis dan iklim Vegetasi di hutan Kota Vegetasi sangat bermanfaat untuk merekayasa lingkungan di perkotaan.500 5.97 11. Dari hasil pengamatan langsung di lapangan terlihat bahwa hutan kota malabar.492 Tabel 7. 18 No.

Hutan kota juga sangat membantu menurunkan suhu sekitarnya sebesar 3. hutan kota dengan bentuk menyebar dan memiliki strata banyak akan lebih efektif memberikan efek bagi lingkungan sekitarnya dibandingkan bentuk bergerombol dan menjalur. Tanaman dalam kehidupannya pada siang hari melepaskan O2 dan menyerap CO2 dalam proses fotosintesinya. Luasan areal yang diperuntukan bagi hutan kota juga sangat mempenagruhi terciptanya kualitas lingkungan. D.70C pingir hutan kota 24. Hutan kota ternyata mampu menurunkan rata-rata suhu pinggir sebesar 2. Hasil uji t menunjukan adanya perbedaan suhu yang nyata antara posisi dalam hutan kota dan luar jauh hutan kota. Berbeda dengan bentuk hutan kota yang bergerombol. pengaruhnya terhadap lingkungan lebih cenderung pada sisi-sisi yang dekat dengan hutan kota.2 kg setiap harinya. Hal ini mengindikasikan begitu besar efek keberadaan vegetasi dalam menurunkan suhu. di sekitar Perbedaan suhu di tiap posisi hutan kota. Bentuk hutan kota yang menyebar strata banyak di hutan kota velodrome memungkinkan peranan vegetasi untuk menurunkan suhu sekitar sangat efektif dibanding hutan kota malabar dan jalan jakarta. 18 No. Semakin banyak pohon yang tumbuh di areal hutan kota maka kesejukan akibat ketersediaan oksigen yang melimpah di wilayah tersebut akan lebih baik dibandingkan daerah yang sedikit atau tanpa vegetasi pohon. 261 . Berdasarkan data yang dihimpun.I (2004) menyampaikan hal yang sama bahwa.24% dibanding daerah yang tidak bervegetasi. Hal tersebut disebabkan keberadaan vegetasi yang menyebar sehingga memberikan efek terhadap lingkungan dengan lebih merata dan tersebar. Bentuk hutan kota ternyata memegang peranan penting dalam menurunkan suhu. Luas hutan kota yang terdapat di kota Malang disajikan pada Tabel 6. menunjukan suhu paling rendah di posisi tengah hutan kota yaitu 23.46% di siang hari pada permulaan musim hujan. Hal ini menunjukan adanya sejumlah vegetasi di hutan kota mampu mengaleomerasi suhu menjadi rendah. Kualitas lingkungan hutan kota.43 Keberadaan hutan kota di Kota Malang juga didominasi berbagai vegetasi.AGRITEK Vol. Sebatang pohon dapat menyumbangkan O2 di udara sebanyak 1. Bentuk hutan kota menyebar memberikan kesempatan lebih banyak pohon untuk tumbuh dan berkembang. Hal ini dimungkinkan karena bentuk hutan kota SB memiliki vegetasi yang menyebar sehingga memungkinkan efek penurunan suhu yang menyebar pada lingkungan sekitar. Bentuk hutan kota SB (velodrome) lebih baik dalam mengameliorase iklim dibandingkan hutan kota bentuk GB (malabar) dan JB (jakarta). Hutan kota dengan bentuk bergerombol strata banyak (GB) hanya mampu menurunkan suhu sebesar 3. Zoeraini. Keberadaan mereka yang menyerupai hutan alam diharapkan dapat memberikan manfaat selayaknya bagi kenyamanan mahluk hidup lain di sekitarnya. tingkat kerapatan vegetasi pada tiap hutan kota di Malang adalah seperti terdapat pada Tabel 7.64% dan hutan kota bentuk menjalur (JB) mampu menurunkan suhu sebesar 5.26% dibandingkan daerah yang tidak bervegetasi. 0852-5426 7 Kediri Jumlah 15. Jumlah vegetasi pohon yang terdapat di hutan kota malang ditunjukan pada Tabel 6. Hal ini terbukti dari kemapuan hutan kota velodrome yang menyebar berkelompok (SB) mampu menurunkan suhu hingga 5. 2 April 2010 ISSN.83% dan suhu jauh hutan sebesar 4.60C dan suhu jauh hutan kota 25. Jumlah vegetasi di setiap hutan kota berbeda berdasarkan luas pemanfaatan ruang untuk hutan kota yang disediakan.00C.84%.

7% di daerah pinggir hutan kota. Ketersediaan lahan bagi hutan kota bentuk menjalur relatif sangat terbatas. Keberadaan vegetasi dalam menurunkan suhu memberikan efek pada penurunan suhu di lingkungan sekitar.929). T2. Intensitas matahari tidak berkorelasi positif dengan suhu dan kelembapan. dan begitu pula sebaliknya. Hasil uji t menunjukan adanya perbedaan yang sangat 262 . Keterbatasan vegetasi di suatu areal secara langsung akan mempengaruhi suhu pada wilayah tersebut. 1996).7% dibanding daerah tidak bervegetasi. Kondisi ini dapat memberikan efek yang baik bagi kondisi lingkungan sekitarnya baik dalam menjamin sistim hidrologi maupun bagi kesehatan udara di lingkungan sekitar. tengah dan jauh hutan kota.000**. T3). Hutan kota velodrome (SB) memberikan perbedaan yang nyata antara posisi T2 dengan T3 (p=0. kelembapan terbaik ditunjukan oleh hutan kota berbentuk menyebar (SB) pada posisi tengah hutan kota (83. 2 April 2010 ISSN. Kelembapan yang semakin meningkat memberikan efek bagi penurunan suhu menjadi lebih sejuk. 18 No. Perubahan suhu di sekitar hutan kota berkorelasi linier negatif dengan tingkat kelembapan relatif (RH). Hutan kota mampu mempengaruhi tingkat kelembapan rata-rata 9.02) hal ini menunjukan bahwa hutan kota dengan adanya beragam vegetasi yang tumbuh dan berkembang di situ akan memberikan peningkatan kelembapan yang lebih baik dibandingkan daerah tanpa adanya vegetasi.009**. Hal ini menunjukan bahwa faktor cahaya matahari sangat kecil pengaruhnya pada kondisi iklim hutan kota dan keberadaan vegetasi memungkinkan terciptanya iklim mikro disekitar hutan kota. dimana jika terjadi penurunan suhu. Dahlan (2005). Hasil uji korelasi menunjukan adanya keeratan hubungan yang nyata dengan grafik linier positif antara tiap posisi pengukuran suhu (lampiran 13). dan mampu menurunkan kelembapan hingga 4. Hal ini dikarenakan keberadaan bentuk hutan kota ini kebanyakan berada pada tengah jalan raya yang berfungsi ganda sebagai boulevard jalan. Hal tersebut dimungkinkan karena kondisi areal yang ditumbuhi banyak tanaman sangat efektif dalam meningkatkan kelembapan karena tidak lepas dari adanya proses evapotranspirasi dan respirasi yang terjadi pada permukaan yang bervegetasi. Kelembapan relatif secara statitik di setiap hutan kota menunjukan perbedaan yang nyata dan sangat nyata berdasarkan uji t pada setiap posisi pengukuran (T1. Hal ini menunjukan perubahan suhu di tengah hutan kota memberikan efek juga pada perubahan suhu di posisi pinggir dan jauh. Secara tabulasi. Keberadaan vegetasi dalam jumlah banyak sebaiknya ditempatkan pada daerah-daerah dengan iklim yang panas atau di daerah dengan tingkat kepadatan lalulintas yang tinggi agar dapat menurunkan suhu kingkungan sekitar. 0852-5426 Pertumbuhan vegetasi di hutan kota bentuk menjalur jalan jakarta yang menjalur sangat memungkinkan tipis bahkan tidak adanya perubahan yang nyata antara suhu pinggir. Hutan kota JB (jakarta) juga memberikan efek yang sangat nyata berbeda tingkat kelembapan antara hutan kota (T2) dengan daerah yang tidak bervegetasi (T3) dengan nilai p=0. Keberadaan vegetasi yang melimpah dalam hutan kota membantu terciptanya suhu lingkungan yang lebih baik akibat adanya proses evaporasi dan transpirasi yang dilakukan oleh vegetasi dalam hutan kota.AGRITEK Vol. maka kelembapan yang terjadi disekitar hutan kota akan menaik. Peruntukan lahan yang sempit/terbatas sangat mempengaruhi keberadaan jumlah vegetasi di hutan kota tersebut. Selain itu kelembapan yang tinggi memberikan efek kesehatan terutama dalam menekan perkembangan mikroorganisme yang merugikan disekitar wilayah tersebut (Amsyari Fuad. Bentuk hutan kota GB (malabar) mampu memberikan perbedaan yang sangat nyata antara posisi tengah hutan (T2) dibanding posisi jauh dari hutan (T3) dengan nilai p=0.

7 – 74. Indeks kenyamanan yang dihitung berdasarkan perhitungan yang dikeluarkan oleh Sani. Penilaian ketidaknyamanan di hutan kota diperoleh bahwa bentuk maupun posisi hutan kota di Kota Malang saat ini masih berada dalam kisaran cukup nyaman dengan nilai IK berkisar antara 71. Diatas 71 orang sudah merasa kurang nyaman. Kelompok (sociental) 3.004**). karakteristik fisik. usia dan kebudayaan juga sangat mempengaruhi (Robinete. 0852-5426 nyata antara intensitas matahari di posisi tengah hutan kota (T2) dengan posisi T1 dan T2. berlalu lalang. Hal ini tak lepas dari adanya keberadaan vegetasi yang menaungi areal sekitarnya dan menciptakan iklim mikro yang mampu menjaga kestabilan pemanasan di sekitar areal hutan kota.AGRITEK Vol. Kelembagaan (institusional) Ketiga kategori tersebut wajib dicermati secara holistik integratif (sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan).2(TG) + 0. yang tidak seiring dengan pertumbuhan penduduk.003**) dan T3 (p=0. Hasil pengamatan di hutan kota menunjukan bahwa hutan kota dengan bentuk bergerombol dan menyebar menunjukan pengaruh terbaik dalam mereduksi cahaya matahari ke permukaan tanah. termasuk jumlah pertumbuhannya. Penilaian kenyamanan di hutan kota pada penelitian ini menggunakan data suhu.002**). Masalah perkotaan di Indonesia akibat ketimpangan tingkat penyediaan pelayanan kota. Terkosentrasinya vegetasi dalam hutan kota memberikan efek naungan terhadap intensitas matahari secara langsung menjadi lebih baik.04*). rekreasi. di luar daerah yang dibangun atau pusat-pusat industri agar 263 . Perubahan dan kesinambungan yang terjadi berlangsung dalam tiga kategori. 18 No. berjalan kaki maupun berkendaraan. Zona rasa nyaman seseorang memang sangat bervariasi tergantung pada kesenangan seseorang. psikologi. Perorangan (individu) 2. Penapisan yang baik menyebabkan tidak terjadi peningkatan suhu akibat penyinaran langsung dari matahari pada daerah hutan kota. Intensitas matahari di hutan kota JB menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dengan T3 (p=0. (1986). Artikulasi ruang yang terbangun itu menjadi bermakna hanya apabila dikaitkan dengan manusia. indeks kenyamanan berada pada kisaran nilai 61 – 71. dan aktifitas seseorang.7(TB) + 0. misalnya kota Welwyn di Inggris. Uji t pada hutan kota SB menunjukan perbedaan yang sangat nyata di posisi T2 dengan T1 (p=0. dan posisi T2 dengan posisi T3 (p=0. dengan rumus : IK = 0. 2004). Pengambilan model kota dunia Barat merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam masalah perkotaan berkaitan dengan perencanaan kota di Indonesia dengan penduduknya yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Selain itu. Jika merunut pada ketetapan di atas maka hutan kota di malang belum dapat mewujudkan rasa nyaman bagi masyarakat yang melakukan aktifitas di daerah sekitar lingkungan hutan kota.1(TK). Akan tetapi sebagian besar masyarakat yang beraktifitas di daerah tersebut menyatakan bahwa mereka sudah merasa nyaman dengan iklim mikro di sekitar lingkungan hutan kota. Dalam pengembangan kota pada umumnya yang menjadi acuan adalah konsep kota taman (garden city) yang pada dekade pertama abad ini sudah diterapkan di Eropa. Konsep kota taman yang dikembangkan oleh Ebenezer Howard.7.I.007**) dan berbeda nyata pada posisi T1 (p=0.1983 dalam Zoeraini D. Hal ini di duga juga mempengaruhi masyarakat dalam menyatakan rasa nyaman di daerah hutan kota. yaitu secara : 1.00**). Perencanaan kota sebagai bagian dari pemecahan masalah perkotaan perlu dikaitkan dengan pemahaman penduduk. Manusia tinggal dengan berdesakan atau leluasa dalam bekerja. Hutan kota GB juga menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dengan T1 (p=0. 2 April 2010 ISSN.

AGRITEK Vol. Buruham (1983) sebagai kontras terhadap kota industri yang hitam. (Sundari. Kemudian muncul konsep kota putih yang dikembangkan oleh Daniel H. Hutan Kota Malabar (GB) Jl. 18 No. 2. Konsep fisik ini harus diimbangi dengan perencanaan ekonomi dan sosial dalam hubungannya dengan lingkungan. Belum jelas bentuk hutan kota yang ada di Malang. sampai ke taraf pemeliharaan yang lebih intensif. Jakarta (JB) Velodrome (SB) Indeks Ketidaknyamanan Pinggir Tengah Jauh 72. Pengadaan jenis-jenis tanaman di hutan kota seyogyanya dipilih yang dapat mengundang keberadaan satwa. Bentuk hutan kota 264 .7 72. Belum terdapat persamaan persepsi dari pejabat pada masing-masing instansi yang dihubungi di Pemkot Malang. lebarnya tidak dibatasi.3 Hal ini menunjukan bahwa bentuk hutan kota yang efektif sebaiknya mengikuti bentuk hutan kota menyebar strata banyak (SB) karena dengan keberadaan vegetasi yang menyebar akan mempengaruhi iklim mikro yang akhirnya berdampak nanti pada tingkat kenyamanan lingkungan sekitar Peran-serta Pemerintah Daerah Terhadap Pengelolaan Hutan Kota Persepsi masyarakat terhadap keberadaan hutan kota sangat beragam. Hingga penelitian berlangsung. pemukiman. 8. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini masih banyak bersifat seremonial dan belum 4. Indeks ketidaknyamanan pada hutan kota GB. Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa : 1. 7. Keterlibatan perguruan tinggi dalam mensukseskan kegiatan-kegiatan penghijauan sangat diperlukan. 5.3 72. Kegiatan Malang Ijo Royo-royo adalah dalam rangka membangun RTH termasuk hutan kota. Pengadaan lahan untuk hutan kota semakin sulit karena persaingan dengan kepentingan pembangunan lainnya seperti jalan. Bentukan jalur mengikuti bentuk tertentu misalnya jalan. dan belum terpadu. 0852-5426 orang dapat kembali menyatu dengan alam. 2007) Tabel 8.0 74. sungai dan memiliki 1 (satu) atau lebih jalur. industri. 3. Hingga saat ini dukungan perguruan tinggi dirasakan masih sangat kurang. Bentuk jalur. baik instansi swasta maupun pemerintah. 6.5 71.6 72. Dari pengamatan di lapangan ternyata bentuk penghijauan hutan kota ada yang berbentuk : a.8 73. dan perdagangan. dan SB di kota Malang. pada umumnya setiap instansi yang terkait masih memperebutkan lahan untuk mengejar target masing-masing.7 73. Wawancara dilakukan dengan berbagai instansi yang relevan terhadap akses pemanfaatan dan pengelolaan hutan kota. masingmasing instansi yang terkait dengan hutan kota masih mempunyai tugas sendiri-sendiri.1 72. JB. 2 April 2010 ISSN.

dan hutan kota GB (Malabar) sebesar 3. pengaruhnya terhadap lingkungan lebih cenderung pada sisi-sisi yang dekat dengan hutan kota. Hasil uji t menunjukan adanya perbedaan yang sangat nyata antara intensitas matahari di posisi tengah hutan 265 . Hal ini dimungkinkan karena bentuk hutan kota SB memiliki vegetasi yang menyebar sehingga memmungkinkan efek penurunan suhu yang menyebar pada lingkungan sekitar.574b). T2.630a) dibanding GB (184. Bentuk hutan kota SB (velodrome) lebih baik dalam mengameliorase iklim dibandingkan hutan kota bentuk GB (malabar) dan JB (jakarta).66%.370b) dan hutan kota JB (186.26% dibanding hutan kota bentuk JB (jalan Jakarta) yang dapat menurunkan suhu sebesar 5. Bergerombol. Hasil uji t menunjukan adanya perbedaan suhu yang nyata antara posisi dalam hutan kota dan luar jauh hutan kota.AGRITEK Vol.24%. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. suatu areal yang ditumbuhi lebih dari 100 pohon besar dan kecil. Bentuk hutan kota GB (malabar) mampu memberikan perbedaan yang sangat nyata antara posisi tengah hutan (T2) dibanding posisi jauh dari hutan (T3) dengan nilai p=0. Hutan kota velodrome (SB) memberikan perbedaan yang nyata antara posisi T2 dengan T3 (p=0. Hutan kota JB (jakarta) juga memberikan efek yang sangat nyata berbeda tingkat kelembapan antara hutan kota (T2) dengan daerah yang tidak bervegetasi (T3) dengan nilai p=0.009**.93% dan hutan kota GB sebesar 13. 18 No. 2 April 2010 ISSN. Bentuk hutan kota yang ada selama ini ternyata secara kebetulan karena pengaturan vegetasi yang ada dalam hutan kota dengan tujuan estetika. Hutan kota GB yang bergerombol. b.64%. Kelembapan di hutan kota SB dapat ditingkatkan hingga 5. dan belum mempertimbangkan fungsi ekologi ataupun fungsional. 2. Hasil wawancara dengan berbagai instansi ternyata pembangunan hutan kota belum mempertimbangkan bentuk hutan kota. Hal ini mengindikasikan begitu besar efek keberadaan vegetasi dalam menurunkan suhu. T3). intensitas cahaya matahari serta kelembapan) dibanding hutan kota bentuk bergerombol strata banyak (GB) dan hutan kota bentuk menjalur strata banyak (JB). suatu areal yang ditumbuhi lebih dari 100 pohon besar dan kecil tetapi terpisah-pisah membentuk kelompok dalam suatu areal tertentu. Menyebar. 4. c. Bentuk hutan kota menyebar strata banyak (SB) lebih baik dalam mengameliorasi iklim mikro (suhu. Kelembapan relatif secara statitik di setiap hutan kota menunjukan perbedaan yang nyata dan sangat nyata berdasarkan uji t pada setiap posisi pengukuran (T1. Kelembapan yang semakin meningkat memberikan efek bagi penurunan suhu menjadi lebih sejuk. 3.02) hal ini menunjukan bahwa hutan kota dengan adanya beragam vegetasi yang tumbuh dan berkembang di suatu areal akan memberikan peningkatan kelembapan yang lebih baik dibandingkan daerah tanpa adanya vegetasi karena tidak lepas dari adanya proses evapotranspirasi dan respirasi yang terjadi pada permukaan yang bervegetasi. hutan kota bentuk JB sebesar 9. hutan kota. Hutan kota SB (velodrome) dapat menurunkan suhu hingga 5. 0852-5426 ini tidak dapat dimanfaatkan untuk sarana bermain karena tidak memiliki space yang cukup serta tidak dilengkapi sarana bermain/wisata.58%. Uji BNT pada skala kepercayaa 5% menunjukan bentuk hutan kota SB lebih baik dalam menapis intensitas cahaya (92. Perubahan kelembapan yang tidak terlalu besar ini menunjukan adanya kestabilan bentuk hutan kota SB dalam menjaga iklim mikro setempat.000**.

Hutan kota GB juga menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dengan T1 (p=0. indeks kenyamanan berada pada kisaran nilai 61 – 71. Hal ini ditujukan untuk mengantisipasi dampak kerentanan daya dukung lingkungan yang saat ini mulai dirasakan di wilayah kota malang seperti erosi. mendistribusikan luasan RTH perwilayah sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang berkelanjutan. Hutan kota mampu mempengaruhi tingkat kelembapan ratarata 9. dan begitu pula sebaliknya.7% dibanding daerah tidak bervegetasi. Jika merunut pada ketetapan di atas maka hutan kota di malang belum dapat mewujudkan rasa nyaman bagi masyarakat yang melakukan aktifitas di daerah sekitar lingkungan hutan kota. Bentuk hutan kota yang bergerombol juga sangat di harapkan dapat di terapkan pada areal kampus yang masih kosong sehingga manfaatnya dapat dirasakan bagi masyarakat sekitarnya serta 266 . Intensitas matahari tidak berkorelasi positif dengan suhu dan kelembapan.04*). longsor. Keanekaragaman bentuk hutan berdasarkan peruntukannya dan fungsi yang berbeda dapat menjadi bahan acuan dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan kita.002**). 0852-5426 kota (T2) dengan posisi T1 dan T2. 2 April 2010 ISSN. Akan tetapi sebagian besar masyarakat yang beraktifitas di daerah tersebut menyatakan bahwa mereka sudah merasa nyaman dengan iklim mikro di sekitar lingkungan hutan kota. dan mengkaji peruntukan RTH saat ini yang tidak tepat sasaran atau terkesan tidak terawat dengan baik. banjir. maka kelembapan yang terjadi disekitar hutan kota akan menaik. Hasil pengamatan di hutan kota menunjukan bahwa hutan kota dengan bentuk bergerombol dan menyebar menunjukan pengaruh terbaik dalam mereduksi cahaya matahari. Uji t pada hutan kota SB menunjukan perbedaan yang sangat nyata di posisi T2 dengan T1 (p=0. pencemaran dan peningkatan suhu udara di kota. namun disarankan bagi stakeholder agar mencegah penurunan jumlah ketersediaan RTH. dimana jika terjadi penurunan suhu.7. dan mampu menurunkan kelembapan hingga 4.7% di daerah pinggir hutan kota. Terkosentrasinya vegetasi dalam hutan kota memberikan efek naungan terhadap intensitas matahari secara langsung menjadi lebih baik. Perubahan suhu di sekitar hutan kota berkorelasi linier negatif dengan tingkat kelembapan relatif (RH). Penapisan yang baik menyebabkan tidak terjadi peningkatan suhu akibat penyinaran langsung dari matahari pada daerah hutan kota.007**) dan berbeda nyata pada posisi T1 (p=0. Hal ini tak lepas dari adanya keberadaan vegetasi yang menaungi areal sekitarnya. Perhitungan kenyamanan di hutan kota diperoleh bahwa bentuk maupun posisi hutan kota di Kota Malang saat ini masih berada dalam kisaran cukup nyaman dengan nilai IK berkisar antara 71. Perencanaan hutan kota dengan bentuk menyebar dan berstrata banyak sebaiknya mulai digalakan di hutan kota yang tersedia saat ini sehingga pemanfaatannya dapat dirasakan dengan lebih baik lagi. Intensitas matahari di hutan kota JB menunjukan perbedaan yang sangat nyata antara posisi T2 dengan T3 (p=0. 6.00**). Hal ini menunjukan bahwa faktor cahaya matahari sangat kecil pengaruhnya pada kondisi iklim hutan kota dan keberadaan vegetasi memungkinkan terciptanya iklim mikro disekitar hutan kota. Koordinasi antar instansi pemerintah yang berkepentingan dalam mengelola hutan kota maupun RTH secara umum perlu dipertegas lagi agar tidak adanya saling lepas tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan RTH khususnya hutan kota di kota Malang.7 – 74. 5.004**). 18 No. Saran-saran Tingkat kenyamanan di wilayah kota malang relative masih nyaman. dan posisi T2 dengan posisi T3 (p=0.003**) dan T3 (p=0.AGRITEK Vol.

Yuwono. Penerbit Alumni. Jakarta. Ekonomika Lingkungan (Ed. A. 1993. Penerbit Djambatan. Bandung. 211. pp. Sastrawijaya. 2 April 2010 ISSN. Yogyakarta. Yuwono. 2007. S. dan Pengelolaan Sumberdaya Hutan. 2006. DAFTAR PUSTAKA Amsyari F. Penerbit Yayasan Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan (IPPL) Jakarta. Lingkungan Hidup (The Living Environment) Pendidikan. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang (tidak diterbitkan) Sundari. D. 2005. 2006. A. Penerbit. Membangun Lingkungan Sehat (Menyambut 50 Tahun Indionesia Merdeka). Lorean Michael. 1995.R. Jakarta. Biodiversity and Ecosystem Functioning (Synthesis and perspectives) Oxford University Press. 267 . Penerbit Gadjah Mada University Press. Naem and Pablo Inchausti. Surabaya Bingru Huang. I. 2000. Departemen Kehutanan dan Perkebunan RI. Jurnal PWK Unisba Vol. A. Studi Untuk Menentukan Fungsi Huta Kota dalam Masalah Lingkungan Perkotaan. Fardiaz. Fardiaz..274 Siti Nurisjah. Ekologi. Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB Bekerjasama dengan Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Thesis Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor (tidak diterbitkan). 2004. 2004.227 Sumarni. 1999. Kota Berwawasan Lingkungan. O. S. 3). Pertama). pp. Nuansa dan Harapan Reformasi Kehutanan dan Perkebunan : Perjalanan 250 Hari Menuju Pengelolaan Sumberdaya Alam yang Berkelanjutan dan Berkeadilan. Lingkungan Hidup (The Living Environment) Pendidikan. 1986. Ekologi. Ekologisme. Bogor (tidak diterbitkan) Soemarno. S. 18 No. Environmental Management and Sustainable Development). 2000.T. 2001. Malang. Jawa Barat. Atur Diri Sendiri : Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup. D. Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Pemukiman di Kota Malang. 2006. Published by CRC Press Budihardjo E. Mohamad Soerjani. O. 0852-5426 sebagai penyumbang salah satu tridharma perguruan tinggi yaitu pengabdian pada masyarakat. Model Pengelolaan Sumberdaya Hutan Untuk Pengembangan Wilayah dan Pemberdayaan Masyarakat. Plant – Environment Interactions (Ed. Pengelolaan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan (Education. Lingkungan Hidup dan Pembangunan. E.. 1996. 2004. dan M.. Soemarwoto. Bogor Soerjani M. Gusmailina. Jogjakarta Soemarwoto. 7 Nomor 2. pp. Soerianegara. Penilaian Masyarakat Terhadap Ruang Terbuka Hijau. Jakarta. Tesis Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Jakarta. Soeparmoko. 2006. Pengelolaan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan. Pengukuran Kadar CO2 Udara di Dalam Tegakan Beberapa Jenis Hutan Tanaman di Cikole dan Ciwidey. Pencemaran Lingkungan. Airlangga University Press.AGRITEK Vol. Penerbit Yayasan Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan. 381 Soeparmoko M. pp. Penerbit Rineka Cipta. Hardjohubojo. Penerbit BPFE.

2 April 2010 ISSN.55 WIB. Diakses tanggal 18 Juli 2007 pukul : 14.F.comb.AGRITEK Vol. 18 No.coma. New York San Francisco. Diakses tanggal 18 Juli 2007 pukul : 13. www.tempointeraktif. Toronto. Mc.00 WIB.tempointeraktif. Ruang Terbuka Hijau Kota Malang tinggal 4 persen. K. Hutan Kota Malang tinggal 71.E. 0852-5426 Watt. 1973.6 ha. 268 . Principles of Environmental Science.Graw Hill www.