Anda di halaman 1dari 4
Hemoroidektomi pada Pasien Laki-Laki Umur 32 Tahun dengan Hemoroid Interna Grade IV ABSTRAK Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen atau lebih vena-vena hemoroidales. Secara kasar hemoroid biasanya dibagi dalam 2 jenis, hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidales superior dan media. Sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidales inferior. Pasien ini dilakukan terapi hemoroidektomi berdasarkan indikasi atas hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, dimana didapatkan diagnosis hemoroid interna grade IV. Kata Kunci :hemoroid, hemoroid interna, hemoroidektomi KASUS Pasien datang dengan keluhan benjolan di anus yang menetap sejak 3 hari SMRS. Benjolan yang selalu keluar saat pasien buang air besar dirasakan sejak 6 tahun yang lalu, namun biasanya benjolan tersebut dapat masuk kembali secar spontan setelah pasien selesai buang air besar, kemudian sekitar 1 tahun yang lalu setiap klai benjolan keluar saat buang air besar tidak bisa langsung masuk kembali secara spontan, namun harus dibantu dengan cara didorong dengan menggunakan ibu jari pasien. Benjolan awalnya hanya keluar saat pasien buang air besar saja, namun sejak 3 hari SMRS benjolan tersebut menetap di anus pasien dan tidak dapat masuk kembali walaupun dengan bantuan ibu jari pasien. Pasien mengatakan buang air besar satu kali sehari pada pagi hari. Setiap kali buang air besar selalu disertai darah. Darah berwarna merah segar dan tidak bercampur dengan feses. Menurut pasien darah yang keluar sampai mewarnai air toilet pasien menjadi merah segar, namun pasien tidak mengetahui jumlah darah yang keluar setiap kali buang air besar. Sejak 3 hari, pasien mengatakan darah keluar terus-menerus sehingga terdapat darah pada pakaian dalam pasien, namun tidak terdapat mucus/lendir. Enam tahun yang lalu, pasien tidak lancar buang air besar. Pasien buang air besar 2 hari sekali. Saat buang air besar pasien merasa sangat kesulitan, sehingga untuk buang air besar pasien harus mengedan dan membutuhkan waktu sekitar 1 jam di WC untuk buang air besar. Selam enam tahun ini, pasien belum pernah memeriksakan keluhan benjolan pada anus dan buang air besar berdarah pada dokter. Pasien hanya mendiamkannya saja, karena pasien berpikir penyakit ini tidak membahayakan. Pasien tidak pernah mengalami perubahan pola buang air besar seperti buang air besar menjadi cair dan frekuensi menjadi semakin sering. Darah yang keluar saat buang air besar tidak disertai lendir. Pasien mampu menahan rasa ingin buang air besarnya. Pasien mengatakan sebelumnya pasien tidak suka mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Namun setelah mengetahui mempunyai wasir sejak 6 tahun yang lalu, pasien mulai gemar mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan. Setiap kali makan pasien selalu mengkonsumsi sayur dan buah. Pasien juga mengatakan jarang minum, sebelum megetahui pasien mempunyai wasir pasien hanya minum 1 hari sekitar 3 gelas air putih, namun sejak 6 tahun yang lalu pasien minum 1 haris sekitar 6-7 gelas air putih. Pasien mengatakan sangat jarang berolahraga karena pasien tidak suka olahraga. Aktivitas sehari-hari hanya duduk di dalam ruangan. Diagnosis Hemoroid interna grade IV Terapi Pada pasien ini mendapatkan terapi medikamentosa dan nonmedikamentosa. Terapi medikamentosa yang diberikan yaitu Transamin, Vit.K, Laxadin dan hemoroidektomi. Sedangkan terapi non medikamentosa yaitu memberi edukasi banyak makan-makanan berserat, banyak minumair putih,dan banyak olahraga. Diskusi Pasien laki-laki 32 tahun datang dengan keluhan benjolan yang menetap di anus sejak 3 hari SMRS. Pasien mengatakan bahwa terdapat benjolan bila buang air besar, keluar dari dubur, yang awlanya dapat masuk kembali secara spontan setelah buang air besar, yang akhirnya harus menggunakan jarinya untuk dimasukkan kembali, kemudian tidak bisa dimasukkan. Benjolan yang dikatakan psien harus dibedakan apakah itu dinding rektum yang berarti prolaps rektum atau prolaps mukosa yang berarti hemoroid interna. Anamnesis lainnya untuk memperjelas, apakah pasien masih dapat menahan rasa keinginan BABnya atau tidak, bila tidak itu menandakan adanya prolaps rektum. Pasien mengatakan, ia masih dapat menahan keinginan BABnya. Pasien mengatakan adanya BAB berdarah. Kita harus cari tahu dulu, asal perdarahan. Apakah dari saluran cerna bagian atas atau bawah. Anamnesis selanjutnya, menanyakan warna darah yang terlihat apakah merah segar (hematoksezia) atau merah kehitaman (melena), pasien mengatakan warna darah merah segar. Berarti yang terpikirkan keadaan patologis apa saja yang menyebabkan perdarahan saluran cerna bagian bawah. Beberapa penyakit yang sering terkait dengan pasien yang berusia setengah baya adalah tumor kolon, polip kolon, hemoroid, fisura ani, dan infeksi (amebiasis). Dilanjutkan dengan pertanyaan, apakah darah yang keluar bercampur dengan feses atau tidak. Bila tidak, berarti berasal darai hemoroid atau fisura anus. Pasien megatakan saat BAB berdarah tidak menimbulkan rasa nyeri. Hal ini dapt menyingkirkan diagnosis fisura ani, yang tiap BAB timbul rasa nyeri. Dikonfirmasi pula dengan pemeriksaan fisik, pada inspeksi tidak ditemukannya fissura pada ani. Pasien mengatakan jarang makan sayur dan buah, jarang berolahraga dan melakukan aktivitas fisik. Pasien tidak pernah melakukan hubungan seks perianal. Pemeriksaan fisik didapatkan pada mata didapatkan konjungtiva anemis dan TD 110/70 mmHg. Pemeriksaan jantung, paru, abdomen, ekstremitas, dalam batas normal. Pada inspeksi region anus didapatkan pada posisi jam 3 terdapat benjolan berbentuk bulat berwarna kemerahan di sekitar anus dengan ukuran 2x2x2 cm. Palpasi tidak didapatkan nyeri tekan, konsistensi kenyal, dan mudah digerakkan. Pada pasien didapatkan conjungtiva anemis pada kedua mata dan tekanan darah 110/70 mmHg, dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan darah rutin untuk mengkonfirmasi jumlah Hb. Jika Hb di bawah 8 g/dL, direncanakan transfusi untuk memperbaiki keadaan umum pasien sebelum dilakukan tindakan hemoroidektomi. Tatalaksana pada pasien, diberikan obat untuk memperbaiki defekasinya, sebagai pencahar, yaitu Laxadine. Ardium diresepkan untuk pasien untuk memperbaiki inflamasi, perdarahan dan prolaps. Pasien juga diberikan Transamin dan Vit.K dengan tujuan untuk hemostatiknya. Tatalaksana selanjutnya adalah menghentikan perdarahan langsung dari sumber perdarahannya. Dalam hal ini dilakukan hemorodektomi. Hemoroidektomi adalah terapi bedah yang dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada penderita hemoroid derajat III atau IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan pada penderita dengan perdarahan berulang dan anemiayang tidak sembuh dengan cara terapi lainnya yang lebih sederhana. Penderita hemoroid derajat IV yang mengalami thrombosis dan kesakitan hebat dapat ditolong segera dengan hemoroidektomi. Prinsip yang harus diperhatikan pda hemoroidektomi adalah eksisi yang hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebihan. Eksisi sehemat mungkin dilakukan pada anoderm dan kulit yang normal dengan tidak mengganggu sfingter anus. Kesimpulan Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen atau lebih vena-vena hemoroidales. Secara kasar hemoroid biasanya dibagi dalam 2 jenis, hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidales superior dan media. Sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidales inferior. Pada pendiagnosisan hemoroid harus dapat membedakan dengan karsinoma kolorektum, penyakit divertikel, polip, colitis ulserosa dan penyakit lain yang begitu sering terdapat di kolorektum. Terapi pada pasien ini dilakukan hemoroidektomi, ini sesuai dengan keluhan pasien padayang masuk dalam hemoroid grade IV. Referensi 1. Simadibrata, M. Hemoroid. Dalam : Sudoyo AW dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam. Jilid 1. Edisi 5. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI;2009.hal 587-90. 2. Jong WD, Sjamsuhidayat R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:RRGC; 2005. Hal 67275. 3. Sylvia A.price. Gangguan Sistem Gastrointestinal. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakrta:Penerbit Buku kedokteran EGC:2005. 4. Juanidi P, Soemastoso AS, Amelz H. Perdarahan per anum. Dalam : kapita Selekta kedokteran. Media Aesculapius FKUI.1982. hal 362-4. Penulis Komala Dewi, Ilmu Bedah FKIK UMY RSUD Panembahan Senopati Bantul.