Anda di halaman 1dari 24

BAB II PEMBAHASAN

A.

PENGERTIAN

Kemoterapi adalah obat atau zat yang berasal dari bahan kimia yang dapat memberantas dan menyembuhkan penyakit atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri,virus,amoeba,fungi,protozoa,cacing dan sebagainya tanpa merusak jaringan tubuh manusia. Berdasarkan khasiatnya hama/bakteri,kemoterapi dibedakan atas: Bakterisida: yaitu obat yang pada dosis lazim berkhasiat mematikan hama. Bakteriostatika: yaitu obat yang pada dosis lazim berkhasiat menghentikan

pertumbuhan dan pembiakan bakteri,sedangkan pemusnahan selanjutnya dilakukan oleh tubuh secara fagositosis (kuman dilunakkan oleh leukosit/ sel darah putih atu sel-sel penagkis lainnya).

Bentuk atau macam kemoterapi Beberapa bentuk tindakan kemoterapi diantaranya adalah sebagai berikut:

Melalui tablet atau kapsul. Kemoterapi dengan cara ini paling praktis karean dapat

dilakukan penderita sendiri di rumah dengan mengikuti saran dari dokter.

Melalui suntikan atau injeksi. Pemberian kemoterapi ini hanya bisa dilakukan olehdokter

saja di klinik, rumah sakit, ruang praktek dokter atau jika dimungkinkan dokter bisa datang ke rumah.

Melalui infus. Pemberian kemoterapi melalui infus harus dilakukan oleh paramedis yang

berpengalaman. Pemberian kemoterapi ini harus dilakukan di rumah sakita atau klinik khusus. Frekuensi pemberian kemoterapi pada pasien sangat tergantung dari jenis, stadium dan tingkat kanker yang diderita. Oleh karena itu keputusan untuk kemoterapi tidak dapat langsung seketika dikeluarkan oleh dokter, meskipun anda mampu membayar untuk hal ini. Dokter harus tahu secara pasti penyakit yang anda derita tersebut. Ada yang bilang bahwa kemoterapi itu sakit, tentu saja itu benar. Namanya juga tubuh anda dimasukin racun, tentu saja akan bereaksi. Mulai demam, muntah-muntah dan lain-lain.

Efek samping kemoterapi Meskipun tampaknya menjanjikan, kemoterapi tentu saja tidak memiliki resiko. Ada beberapa efek samping yang dapat membuat banyak pasien membatalkan sesi kemoterapi berikutnya. Ada beberapa pasien yang mengeluhkan efek kemoterapi secara langsung, ada pula yang tidak mengeluhkan efek sampng kemoterapi ini. Ada efek samping yang bersifat ringan, ada pula efek samping yang dianggap berat oleh pasien. Semua efek samping itu akan bervariasi pada tiap pasien, bergantung pada kondisi tubuh, stadium kanker, jenis dan bentuk pemberian kemoterapi. Seorang pakar teknologi pangan dari Harvard bernama John Barron dalam sebuah article berjudul Chemoterapy, An Interisting Choice mengatakan bahwa kerugian utama yang diderita oleh pasien yang menggunakan kemoterapi adalah adalah terbunuhnya sel-sel sehat yang memiliki model pembelahan diri yang cepat dan unik. Efek samping ini merupakan hal yang utama dalam kemoterapi sehingga sel sehat yang memiliki karakteristik hampir sama dengan sel kanker ikut terbasmi sehingga berpengaruh terhadap kesehatan pasien. Sel yang memiliki karakteristik membelah diri secara cepat adalah sel yang terdapat di dalam sumsum tulang belakang yang merupakan penghasil utama sel darah merah. Sel lainnya adalah folikel rambut. Hal inilah yang membuat kita sering melihat pasien yang menjalani kemoterapi akan mengalami kerontokan rambut. Sel lainnya adalah sel yang terdapat dalam perut dan usus. Efek kemoterapi juga dapat meracuni darah, sehingga penderita kanker yang menjalani kemoterapi mengalami mual, muntah, shock perut, kram, lemas dan kurang memiliki nafsu makan. Beberapa efek kemoterapi juga tidak baik bagi dinding usus karena membuatnya terkelupas dan luka. Efek buruk lainnya adalah pada organ reproduksi sehingga dapat menyebabkan kemandulan atau infertil. Sel saraf dan sel otak mengalami kemunduran, menyebabkan penurunan daya ingat. Beberapa panca indera mengalami penurunan fungsi seperti berkurangnya daya dengar dan daya lihat. Bahkan ada pula pasien yang sampai mengalami kerusakan ginjal. Luka kecil pada tenggorokan dan mulut sangat sering terjadi. Kemungkinan lainnya adalah pendarahan dan memar-memar di sekujur tubuh karena ketidakmampuan tubuh melawan infeksi. Oleh karena itu banyak pasien yang mundur dari kemoterapi karena semua efek samping ini. Namun sebenarnya pasien tidak perlu khawatir karena dokter akan memberikan obat untuk meminimalisir efek samping kemoterapi hingga tubuh tidak akan mengalami efek buruk secara maksimal seperti yang diuraikan diatas. Lagipula efek samping kemoterapi bersifat sementara. Setelah kemoterapi selesai, maka tubuh anda akan kembali membaik dan berfungsi secara normal. Di lain pihak, lebih baik jika anda mempersiapkan hidup sehat anda sejak dini sebelum kanker menyerang. Kanker bukan penyakit yang instan. Kanker pada umumnya disebabkan pola hidup yang buruk sejak 10 hingga 15 tahun sebelum seseorang dikatakan positif terkena kanker. Oleh karena itu pencegahan dengan memulai hidup sehat dari sekarang dapat membuat kemungkinan anda terkena kanker di masa depan mengecil.

MACAM-MACAM KEMOTERAPI A. Antelmintik


1. PENGERTIAN Antelmintik atau obat cacing adalah obat yang digunakan untuk memberantas atau mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh. Sebagian besar obat cacing efektif terhadap satu macam kelompok cacing, sehingga diperlukan diagnosis yang tepat sebelum menggunakan obat tertentu. Diagnosis dilakukan dengan menemukan cacing, telur cacing dan larva dalam tinja, urin, sputum, darah atau jaringan lain penderita. Sebagian besar obat cacing diberikan secara oral yaitu pada saat makan atau sesudah makan dan beberapa obat cacing perlu diberikan bersama pencahar. Penularan penyakit cacing umumnya terjadi melalui mulut, meskipun ada juga yang melalui luka dikulit. Larva dan telur cacing ada di mana-mana di atas tanah, terutama bila sistim pembuangan kotoran belum memenuhi syarat-syarat hygiene. Gejala penyakit cacing sering kali tidak nyata. Umumnya merupakan gangguan lambung usus seperti mulas, kejangkejang kehilangan nafsu makanan pucat (anemia) dan lain lain. Pencegahannya sebenarnya mudah sekali yaitu : Menjaga kebersihan baik tubuh maupun makanan Mengkomsumsi makanan yang telah di masak dengan benar (daging, ikan) Mencuci tangan sebelum makanan. 2. PENGGOLONGAN Berdasarkan cara kerjanya, obat cacing dibedakan menjadi 5 kelompok yaitu 1) Benzimidazol (albendazol, fenbendazol, flubendazol, thiabendazol) 2) Imidathiazol (levamisol) dan tetrahydropyrimidine (pyrantel) 3) Avermectin (ivermectin) dan milbemycin (moxidectin) 4) Salicylanilide (niclosamid) dan nitrophenol 5) Diclorvos dan trichlorphon.

3. TERAPI ANTELMINTIK 1. Obat cacing kremi: mebendazol dan piperazin Mebendazol Indikasi Mebendazole obat pilihan untuk enterobius vermicularis (cacing kremi) pada anak sebagai dosis tunggal; jika infeksi ulangan sangat mungkin terjadi maka dosis kedua dapat diberikan setelah 2 minggu. Mebendazol juga digunakan untuk pengobatan penyakit kecacingan seperti di bawah ini: - Ascariasis (penyakit cacing gelang) - Trichuriasis (penyakit cacing cambuk) - Ancylostomiasis (penyakit cacing tambang) - Necatoriasis (penyakit cacing tambang) - Infeksi cacing campuran

Kontraindikasi Tidak boleh diberikan pada anak-anak usia balita dan wanita hamil.

Dosis: Ascariasis :100 mg, 2 kali sehari selama 3 hari Trichuriasis :100 mg, 2 kali sehari selama 3 hari Enterobiasis :100 mg dalam dosis tunggal Ancylostomiasis/Necatoriasis :100 mg, 2 kali sehari selama 3 hari. Infeksi campuran: 100 mg, 2 kali sehari selama 3 hari atau 500 mg dalam dosis tunggal untuk semua jenis infeksi. Peringatan dan Perhatian : Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan. Ibu yang menyusui agar menghentikan pemberian ASI selama menggunakan obat ini. Mebendazol kadang-kadang dapat meningkatkan sekresi insulin dalam tubuh, sehingga pada penderita diabetes melitus harus hati-hati apabila diberikan bersama-sama dengan insulin atau obat anti diabetik oral lain. Pada pemakaian jangka panjang dan dosis besar kemungkinan dapat terjadi neutropenia (penurunan salah satu jenis sel-sel darah putih) yang akan kembali normal bila pengobatan dihentikan (reversible). Efek Samping : Sangat jarang : nyeri perut, diare; dilaporkan kejang (pada bayi), ruam (termasuk sindrom steven johnsosn dan epidermal nekrolisis toksik) Sediaan: Tablet 100 mg: suspense 100 mg/5ml Piperazin Efektif terhadap A. lumbricoides dan Enterobius vermicularis. Menyebabkan blokade respon otot cacing terhadap asetilkolin paralisis, dan cacing mudah dikeluarkan oleh peristaltik usus, cacing keluar 1-3 hari setelah pengobatan. Absorpsi melalui saluran cerna, ekskresi melalui urine. Dosis untuk ascariasis 75 mg/kg (max.3,5 g) oral satu kali sehari selama 2 hari. Untuk infeksi berat , pengobatan harus dilanjutkan selama 3 -4 hari atau diulang setelah 1 minggu Indikasi: Enterobiasis, askariasis Kontraindikasi: Kehamilan, gangguan hati, gangguan ginjal Dosis: Satu bungkus dicampur dengan satu gelas air atau susu )dewasa diminum malam hari sebelum tidur, anak-anak dimunim pagi hari), dapat diulangi setelah 14 hari. Bayi 3 bulan-1 tahun: 2,5 ml, pagi hari dapat dik ulangi setelah 14 hari

Anak 1-6 tahun: 5ml, pagi hari dapat diulangi setelah 14 hari.

Sediaan: Satu bungkus 4 gram piperazine pospat Efek samping: Mual, muntah, kolik diare, reaksi alergi, nyeri sendi, demam, gangguan koordinasi otot, mengantuk, nistagmus, vertigo, pandangan kabur, kejang klonik 2. Obat cacing gelang : levamizol Levamizol Dosis tunggal diigunakan unttuk Ascaris dan Triichosttrongyllus, efektiftas sedang untuk A. duodenale dan rendah untuk N.americanus. Meningkatkan aksi potensial dan menghambat transmisi neuromuskular cacing paralisis. Absorpsi oral cepat dan lengkap, 60% obat diekskresi bersama ureum. Indikasi: Untuk pemberantasan cacing gelang (Ascaris lumbriboides) dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale) pada anak-anak dan orang dewasa. Kontraindikasi: Penyakit ginjal atau hati tingkat lanjut, sebelumnya terdapat kelainan perdarahan. Efek samping: Gangguan pada saluran pencernaan, pusing, sakit kepala. Dosis Dewasa dan anak berusia lebih dari 15 tahun : 4-6 tablet. Anak berusia 12-15 tahun : 3-4 tablet. Anak berusia 8-12 tahun : 3 tablet. Anak berusia 6-8 tahun : 2 tablet. Anak berusia 3-6 tahun : 1 tablet. Anak berusia 1-3 tabun : 1 tablet. Diberikan sebagai dosis tunggal. Sediaan: Tablet 25 mg 3. Obat cacing pita : niklosamid dan prazikuantel Niklosamid Untuk cacing pita (Cestoda), E. granulosus dan E.vermicularis. Menghambat fosforilasi anaerobik ADP. Dosis untuk dewasa 2 g sekali, diberikan pada pagi hari pada saat perut kosong. 4. Obat cacing tambang : pirantel pamoat Pirantel pamoat Untuk cacing gelang, cacing kremi dan cacing tambang. Menimbulkan depolarisasi pada otot cacing dan meningkatkan frekuensi impuls, menghambat enzim kolinesterase. Absorpsi melalui usus tidak baik, ekskresi sebagian besar bersama tinja, <15% lewat urine.

Dosis standar 11 mg/kg (max.1 g) diberikan secara oral sekali dengan atau tanpa makanan. Untuk infeksi berat khususnya pada N. Americanus diberikan selama 3 hari dan dapat diulang selama 2 minggu Indikasi: Pirantel pamoat dapat membasmi berbagai jenis cacing di usus. Beberapa diantaranya adalah cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), cacing gelang (Ascaris lumbrocoides), dan cacing kremi (Enterobius vermicularis). Kontraindikasi : Penderita hipersensitif terhadap pirantel pamoat Dosis: 10 mg/kg BB, tetapi tidak lebih dari 1 gr (MIMS, 1998) Pemakaiannya berupa dosis tunggal, yaitu hanya satu kali diminum Peringatan dan Perhatian : Hati-hati penggunaan pada pasien dengan gangguan hati, anemia, malnutrisi, ibu hamil. Efek Samping : - Susunan syaraf pusat : Demam, sakit kepala, pusing - Kulit : Rash - Saluran cerna : Kram abdomen, diare, mual dan muntah, anoreksia dan tenesmus - Hepatik : Gangguan enzim hepar - Neuromuskuler : Letih dan lesu Sediaan: Tablet : 125 mg/tablet Sirup : 250 mg/ml Cara Kerja Obat: Cara kerja pirantel pamoat adalah dengan melumpuhkan cacing. Cacing yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan segera mati.

B. OBAT MALARIA
1. JENIS-JENIS MALARIA a. Malaria Tropika Plasmodium falciparum adalah penyebabnya,merusak eritrosit (sampai 50%) yg menyumbat otak. Malaria otak gawat sekali dengan cirri cepatnya hilang kesadaran,timbulnya kejangkejang,koma dan kematian. b. Malaria Tersiana Disebabkan oleh plasmodium vivax atau ovele. Tidak brsifat mematikan,meskipun tanpa pengobatan. c. Malaria Kwartana Plasmodium malariae penyebnya,mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali, dengan puncak demam setiap 72 jam. 2. PENGGOLONGAN

Berdasarkan titik kerjanya dalam tubuh (eritrosit atau hati ), obat malaria dapat dikelompokan sebagai berikut , a. Obat shcizontisid darah : kinin, kloroquin, halofantrin, mefloquin, pirametamin + sulfadoxin, dan artemeter Berkhasiat mematikan bentuk darah (schizont) dan digunakan pada serangan demam,juga untuk pencegahan (kecuali halorantrin ). Senyawa ini tidak menghalangi infeksi entrosit, namun menekan timbulnya gejala klinis (profilaksis supresif) b. Obat schizontizid hati : proguanil, primakuin, dan doksisiklin. Khusus digunakan sebagai profilaksis kausal karena memusnahkan bentuk EE (merozoit dan hipnozoit) dalam sel-sel parechyn hati. Obat ini meninggalkan penetrasi ke dalam eritrosit dan demikian menghalangi serangan. Pengolongan lain bertolak belakang dengan titik kerja pada siklus hidup parasit dan tujuan terapi yang di kehendaki, dan terdiri dari 4 kelompok berikut : a. Obat pencegah = profilaktika kasual : proguanin dan pirimethamin. Berkhasiat terhadap EE-primer dalam hati dari P.falciparum, P.vivax, dan P.malariae hanya peka untuk sebagian. Primaquin juga aktif terhadap bentuk ini tetapi terlalu toksis untuk digunakan dalam jangka waktu lama sebagai obat pencegah. b. Obat penyembuh/pencegah demam = kurativa /supressiva. Berkhasiat terhadap siklus darah, mematikan triposoid serta schizont (schisontizid), dan kloroquin bekerja kuat dan cepat, sedangkan kuinin lebih lambat. Proguanil dan pirimetamin juga sangat aktif, tetapi jauh lebih lambat kerjanya dan sering menimbulkan resistensi. Obat oabt ini tidak menyembuhkan secara radikal berhubung masi adanya bentuk EE-sekunder (hipnozoit) yang tidak peka untuknya. Pada tersebut jika obat digunakan terus menerus selama 4 sampai enam minggu setelah meninggalkan daerah malaria. Dengan demikian, bentuk hati yang masa hidupnya singkat tidak dapat berkembang lagi dan akan mati dengan sendirinya. c. Obat pencegah kambuh = penyembuh radikal : primaquin. Obat ini mematikan bentuk EE-sekunder dari malaria tertiana dan 7erinfe. Primaquin adalah satu-satunya obat yang paling efektif terapi jangka singkat. Tetapi, untuk rakyat setempat tidak cocok karena 7erinfeksi7 besar akan 7erinfeksi. Obat gametosid = pencegah tersebarnya penyakit: mematikan tersebarnya gametosit dalam darah pasien, yang mengakibatkan penularan dari manusia kenyamuk. Maka, obat-obat ini menghindarkan disebarkannya parasit setelah semua bentuk lainnya dimusnahkan.

Golongan Obat Malaria a. Gol Kuinolin: Kuinine,kuinidin,primakuin Klorokuin,amodiakuin, Meflokuine,halofantrin b. Gol Antibakteri: Sulfonamid,tetrasiklin, Spiramisin,azitromisin, Klindamisin,rifampisin c. Gol Antifolat: Pirimetamin, Trimetropim, Proguanil, Klorprokuanil d. Gol Artemisin: Artemisin,Artemer, Artesunat

Malaria Tersiana biasanya d tanggualangi dengan Klorokuin yang kerjanya cepat selama 2-4 hari. Plasmodium yang resistensi terhadap Klorokuin perlu d ganti dengan Mefloquin single dose 500 mg p.c(4) (atau Kinin maksimum 3 dd 600mg selama 4-7 hari). Tetapi harus selalu dsusul oleh Primaquin (15 mg/hari selama 14 hari). Bila terdapat mual dan muntah perlu diberikan Kinin secara ibtra vena. Malaria tropika tak parah ditangani dengan Klorokuin. Perlu d berikan obat lain yakni Kinin + Doksisiklin (hari pertama 200mg,lalu 100mg selama 6 hari) atau mefloquin ( 2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/kg dengan interval 4-6 jam ) Malaria Tropika parah (atau berkomplikasi) harus dimulai dengan Kinin secara parenteral,kemudian disusul dengan pemberian obat oral sperti d atas. 1. Klorokuin dan derivatnya Klorokuin ( 7- kloro-4-( 4 dietilamino-1-metil-butilamino) kuinolin adalah turunan 4aminokuinolin. Amodiakuin dan hidroksiklorokuin merupakan turunan klorokuin yang sifatnya mirip klorokuin. Walaupun in vitro dan in vivo amodiakuin lebih aktif terhadap P. falciparum yang mulai resisten terhadap klorokuin, obat ini tidak digunakan rutin karena efek samping agranulositosis yang fatal dan toksik pada hati. Efek samping Dosis untuk malaria : headache, gangguan pencernaan, gangguan penglihatan, pruritus Pemakaian kronik : headache, gangguan penglihatan, erupsi kulit likenoid, rambut putih, kelainan gelombang EKG Dosis tinggi oral : ototoksik, retinopati menetap Dosis tinggi parenteral : kardiotoksik 2. Primakuin Indikasi Penyembuhan radikal P. vivax dan P. ovale Kontraindikasi Primakuin dikontraindikasikan pada pasien dengan penyakit sistemik yang berat yang cenderung mengalami granulositopenia misalnya arthritis rheumatoid dan lupus eritematosus. Primakuin juga tidak dianjurkan diberikan bersamaan dengan obat lain yang dapat menimbulkan hemolisis, dan obat yang dapat menyebabkan depresi sumsum tulang. Primakui sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil sebab fetus relatif mengalami defisiensi G6PD sehingga berisiko menimbulkan hemolisis. Efek samping Efek samping yang paling berat dari primakuin ialah anemia hemolitik akut pada pasien yang mengalami defisiensi enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD). Beratnya hemolisis beragam tergantung dari besarnya dosis dan beratnya defisiensi. Dengan dosis yang lebih tinggi dapat timbul spasme usus dan gangguan lambung. Dosis yang lebih tinggi lagi akan memperberat gangguan di perut dan menyebabkan methemoglobinemia dan sianosis. Gangguan saluran cerna dapat dikurangi dengan pemberian obat sewaktu makan 3. Kina dan alkaloid sinkona Indikasi

Malaria falciparum yang resisten klorokuin dalam bentuk kombinasi dengan doksisiklin/klindamisin/pirimetamin-sulfadoksin memperpendek waktu th dan mengurangi toksisitas. Efek samping Sinkonisme tinnitus, sakit kepala, gangguan pendengaran, pandangan kabur, diare dan mual. Keracunan yang lebih berat gangguan gastrointestinal, saraf, kardiovaskular, dan kulit. Lebih lanjut lagi terjadi perangsangan SSP, seperti bingung, gelisah, dan delirium. Pernapasan mula-mula dirangsang, lalu dihambat; suhu kulit dan tekanan darah menurun; akhirnya pasien meninggal karena henti napas. Keracunan yang berat ini biasanya disebabkan oleh takar lajak atau reaksi kepekaan. Dosis fatal kina per oral untuk orang dewasa berkisar 2-8 g. Black water fever dengan gejala hemolisis berat, hemoglobinemia dan hemoglobinuri merupakan suatu reaksi hipersensitivitas kina yang kadang terjadi pada pasien malaria yang hamil. Hipersensitivitas yang lebih ringan dapat terjadi pada pasien dengan defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase. Kina dan kuinidin merupakan perangsang kuat sel pankreas, sehingga terjadi hiperinsulinemia dan hipoglikemia berat. Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi yang fatal terutama pada wanita hamil dan pasien infeksi berat yang berkepanjangan. Kina juga dapat menyebabkan gangguan ginjal, hipoprotrombinemia, dan agranulositosis. Abortus dapat terjafi pada takar lajak, tetapi tampaknya bukan akibat efek oksitosiknya. 4. Golongan antifolat a. Pirimetamin Efek samping Dengan dosis besar dapat terjadi anemia makrositik yang serupa dengan yang terjadi pada defisiensi asam folat. Gejala ini akan hilang bila pengobatan dihentikan, atau dengan pemberian asam folinat (leukovorin). Untuk mencegah anemia, trombositopenia, dan leukopenia, leukovorin ini dapat pula diberikan bersamaan dengan pirimetamin. Indikasi profilaksis malaria b. Kombinasi pirimetamin-sulfadoksin Indikasi Obat ini juga digunakan sebagai terapi tambahan untuk kina dalam mengatasi serangan akut malaria, guna memperpendek masa pemberian kina serta mengurangi toksisitasnya Kontraindikasi Pada gangguan fungsi ginjal dan hati, diskrasia darah, riwayat alergi sulfonamid, ibu menyusui dan anak yang berusia kurang dari 2 tahun. Efek samping Penggunaan kombinasi sulfadoksin-pirimetamin jangka lama sebagai profilaksis malaria tidak dianjurkan, sebab sekitar 1 : 5000 pasien akan mengalami reaksi kulit yang hebat bahkan mematikanseperti eritema multiforme, sindroma Steven Johnson atau nekrolisis epidermal toksik.

c. Proguanil/ kloroguanid Indikasi Untuk profilaksis, saat ini proguanil masih dipakai dalam kombinasi dengan klorokuin sebagai regimen alternatif untuk meflokuin. Proguanil tersedia sebagai kombinasi tetap 100 mg dengan atovakuon 250 mg, yang efektif untuk profilaksis malaria, terutama malaria falciparum. Selain itu, kombinasi ini juga dicadangkan untuk mengobati serangan klinis malaria falciparum. Efek samping Hampir tidak ada, gangguan saraf ringan. 5. Meflokuin Indikasi Mencegah dan mengobati malaria yang resisten klorokuin dan P. falciparum yang resisten dengan banyak obat. Meflokuin tidak diindikasikan untuk mengobati malaria falciparum berat. Efek samping Mual, muntah, nyeri abdomen, diare, sakit kepala, dan pusing. Neurotoksisitas seperti disorientasi, kejang, enselopati, neurotic dan psikotik juga dapat terjadi, namun bersifat reversibel bila obat dihentikan. Kontraindikasi Wanita hamil, terutama kehamilan di bawah 3 bulan, anak yang berat badannya kurang dari 5 kg, pasien dengan riwayat kejang, gangguan neuropsikiatri berat, gangguan konduksi jantung dan adanya reaksi samping terhadap antimalaria kuinolin, misalnya kina, kuinidin dan klorokuin, dikontraindikasikan menggunakan obat ini. 6. Halofantrin Indikasi Sebagai pilihan selain kina dan meflokuin untuk mengobati serangan akut malaria yang resisten klorokuin dan P. falciparum yang resisten terhadap berbagai obat. Kontraindikasi Wanita hamil dan wanita menyusui, pasien dengan gangguan konduksi jantung serta pasien yang menggunakan meflokuin. Pada dosis tinggi, halofantrin dapat menimbulkan aritmia ventricular bahkan kematian. 7. Lumefantrin 8. Doksisiklin/Tetrasiklin Indikasi Digunakan untuk profilaksis bagi daerah-daerah endemik yang terjangkit P. falciparum yang resisten dengan berbagai obat. Dosis dewasa adalah 100 mg per oral per hari, diberikan 2 hari sebelum masuk daerah endemik sampai 4 minggu setelah meninggalkan daerah endemik. Pemberian tidak dianjurkan lebih dari 4 bulan. Dosis anak usia lebih dari 8 tahun ialah 2mb/kg BB per oral per hari. Doksisiklin juga digunakan sebagai terapi tambahan dalam pengobatan malaria falciparum yang resisten terhadap klorokuin tanpa komplikasi, dengan dosis 2 kali 100 mg/hari per oral selama 7 hari. Kontraindikasi

Tidak dianjurkan diberikan pada anak usia kurang 8 tahun, wanita hamil dan mereka yang hipersensitif terhadap tetrasiklin. 9. Artemisinin dan derivatnya 1. Artesunat 2. Artemeter 10. Atovakuon

C. Antiseptik & Disinfektan Syarat ideal


Persyaratan ideal antiseptika dan desinfektansia dapat di rumuskan sebagai berikut a. Antiseptika: Mulai kerjanya cepat dan bertahan lama (long-acting); Berkhasiat mikrobisida yang luas terhadap kuman,jamur dan spuranya,ragi,virus,serprotozoa (broad spectrum); Toksisitasnya rendah dan dayah absorsinya melalui kulit dan selaput lender yang rendah;dan Daya kerjanya tidak dikurangi oleh zat-zat organis,seperti nana dan darah. Berspektrum luas; Toksinnya rendah; Baunya tidak merangsang; Daya absorsinya rendah pada karet,zat-zat sintesis,dan bahan lain;dan Tidak korosif (beriaksi secara kimiawi) terhadap alat yang didedinfaktasi. b. Desinfektansia (benda):

Khasiatnya
Pada umunnya,antiseptika dan desinfektansia memiliki khasiat bakterisida,dengan spektrum-kerja lebar,yang meliputi bakteri gram-positif dan gram-negatif,virus,dan fungsi.Mycobakterial (basil tbc dan lepra) relative resisten terhadap banyak desinfektansia berkat diding selnya yang sangat lipoid.Zat-zat ini juga aktif terhadap spura (benih bakteri dan fungsi),tetapi pada konsentrasi yang lebih besar dan atau waktu yang lebih lama. Desinfektansia berkhasiat terhadap kuman gram-positif maupun gram-negatif,tetapi berbeda dalam kegiatanya.Spura kuman sukar dimatikan dan hanya beberapa jenis desinfektans memiliki sifat sporisida yang cukup kuat,misalnya senyawa klor dan iod,aldehida,dan asam per (misalnya asam preklorat). Spura jamur dan ragi peka bagi kebanyakan desinfektansia.

Mekanisme kerja
Cara kerja desinfektansia berdasarkan proses-prosesnyaadalah sebagai berikut: Dematurasi protein mikroorganisme,yakni perubahan strukturnya sehingga sifat -sifat khasnya hilang; Pegendapat protein dalam protoplasma (zat-zat halogen,fenol,alkohol,dan gram logam); Oksidasi protein (oksidansia); Menggangu logam);dan Modifikasi dinding sel dan/atau membrane sitoplasma (desinfektansia dengan aktifitas permukaan). system dan proses enzim (zat-zat,halogen,alkohol,dan gram-gram

Penggolongan
Desinfektansian dapat digolongkan dalam beberapa kolompok yakni: 1) Senyawa halogen: povidon-iod,iodo-form,Ca-hipoklorit,Na-hipoklorit (eusol,dakin), tosilkloramida,klorheksidin,kliokinol,heksaklorofen, triklosan; 2) Derivate fenol: fenol,kresol,resorsinol,dan timol; 3) Zat-zat dengan aktifitas permukaan: cetrimida,cetypiridinium, benzalkonium,dan dequalinium; 4) Senyawa alkohol,cldehida, dan asam: etanol dan isopropanol,fermaldehida dan glutaral,asam asetan dan borat; 5) Senyawa logam: merkuriklorida,fenil-merkurinitrat,dan membromin,peraknitrat dan silverdiazin,sengkosida; 6) Oksidansia: 7) Lainya: hydrogen hekseditin peroksida,sengperoksida,Na-perborat dan (bocasan), kaliumpermanganat, dan kaliumklorat;dan heksamidin,nitrofural,belerang,ichtammon, etilenoksida,oksikinolin (superol), dan acriflavin triklokarban, klorksilenol,dan

A. Zat-zat Tersendiri
1. Holagen dan senyawanya 1a.Iod (F.I.): iodium Elemen iod adalah salah satuh zat bakterisid terkuat (suda efektif pada kadar 2-4mcg/ml air =2-4 ppm), dengan kerja cepat.Hampir semua kuman pathogen,termasuk

D. Sitotastika
1. DEFINISI Sitostatika adalah salah satu jenis Kemoterapi. - Kemoterapi sitostatika adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan kimia yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Obat yang digunakan dalam kemotarapi dapat tunggalataukombinasi. - Sedangkan kemoterapi adjuvan adalah Kemoterapi yg diberikan sebagai pengobatan tambahan yang diberikan bila pengobatan yang utama dirasakan kurang adekuat yang bertujuan untuk membunuh sel kanker yang tertinggal atau yang dapat berkembang lagi . - kemoterapi neoajuvan. adalah kemoterapi yg diberikan dg tujuan memperkecil ukuran kanker sebelum operasi. 2. PENGGOLONGAN OBAT Berdasarkan mekanisme kerjanya obat-obat anti tumor pada umumnya dibagi dalam beberapa golongan sebagai berikut : Zat alkilasi Antimetabolit Antimitotika Antibiotika Imunomodulator Hormone dan antihormon Obat-obat lain a. Obat alkilasi Zat ini berkhasiat kuat terhadap sel-sel yang sedang membelah. Obat-obat terpenting dari golongan ini adalah klormetin (nitrogen-mustard) dan turunanya klorambusil,melfelan,siklofosfamida,dan ifosfamida.zat-zat ini dalam tubuh semuanya diubah menjadi senyawa etileminim, yang membentuk ion-karbonium dengan muatan positif yang mengalkilasi DNA. Selain itu juga busulfan dan thiotepa (ladertepa). Klormetin : mustin,nitrogen-mustard. Sitostatikum pertama ini (1946) terutama digunakan pada limfoma akut (penyakit Hodgkin) dengan efek cepat sekali. Kerjanya sangat singkat karena didalam darah akan terurai dalam beberapa menit. Efek samping umum: muntah-muntah hebat (sampai 8 jam lamanya), juga diare,pusing,nyeri kepala,dan produksi ludah berlebihan. Pada tempat injeksi dapat terjadi peradangan hebat dengan lepuh-lepuh,karena obat bersifat sangat merangsang. Penekanan sumsum tulang biasanya baru nyata setelah 2-3 minggu. Dosis: i.v. 0,1-0,4mg/kg bobot badan selama 4 hari (garam HCI) Klorambusil Klorambusil (leukeran ) adalah derivate aromatis dengan khasiat dan penggunaan yang sama, tetapi dapat digunakan peroral. Daya kerjanya lebih lambat dan efek sampingnya lebih

ringan. Obat ini juga digunakan pada kanker buah dada, ovarium, dan testis, sering kali dalam kombinasi dengan sitostatika lain. Dosis oral 5-20mg sehari selama 2-3 minggu dengan selang istirahat 4 minggu. Melfalan : (alkeran) adalah derivate fenilalanin yang kerjanya jauh lebih panjang, lebih kurang 6 jam. Obat ini banyak digunakan pada suatu jenis kanker sum-sum(mueloma, penyakit kahler), efek samping terpenting adalah penekanan sumsum dan banyak terjadinya leukemia akut. Dosis : oral 0,2-10mg/kg selama 4-6 hari, setelah 6 minggu kur diulang. Siklofosfamida : (endoxan) Adalah derivate dengan cincin-fosfat, yang baru menjadi aktif setelah dioksidasi didalam hati. Obat ini juga digunakan pada mycloma dan leukemia limfatis, biasanya dalam kombinasi dengan vinkristin dan prednisolon (kur COP) atau bersama adriamisin / MTX dan fluorurasil (kur CAF/CMF) pada kanker buah dada dan ovarium. Atau, dapat pula bersama cisplatin pada kanker ovarium. Efek mulai Nampak setelah bebrapa minggu. Siklofosfamida juga berkhasiat imunosupresif kuat, artinya dapat menekan system tangkis tubuh, antara lain pembentukan anti bodies. Oleh karena itu obat ini digunakan pula pada transplantasi organ untuk menghindarkan penolakannya dan pada penyakit auto imun. Efek samping selain menekan sumsum, obat ini hamper selalu mnimbulkan rontoknya rambut (reversible). Adakalanya terjadi radang mukosa kandung kemih dengan perdarahan (akibat metabolitnya). Guna menghindarkan hal ini, maka pasien perlu minum banyak air selama terapi dan obat diminum pada pagi hari agar metabolit nefrotoksis tersebut sudah diekskersi sebelum malam hari. DOSIS : oral 50-200 mg sehari setiap 7-14 hari, iv 10-15 mg/kg/hari setiap 3-7 hari. ifosfamida (holoxan) adalah analog dari siklofosfamida dengan hasiat dan penggunaan yang sama, tetapi bersifat kurang toksis. DOSIS : iv 50-60 mg/kg/hari selama 2-3 hari, kur diulanmg selama 3-4 minggu. Busulfan (myleran) senyawaalkil sulfonat ini berkhasiat myloselktif (terhadap sel sumsum tulang), sehingga merupakan obat pilihan pertama pada leukemia myolid kronis guna menekan roduksi likosit. Remisi dilaporkan dalam 80-90 % dari kasus. Efek sampingnya yang terpenting adalah supresi sumsum yang hebat dan lama. Dosis : oral 3-4mg/hari selama 12-20 minggu, pemeliharaan 0,5-2 mg sehari. b. Antimetabolit Obat-obat ini juga menganggu sintesa DNA tetapi dengan jalan antagonisme saingan. Rumus kimiawinya mirip sekali rumus beberapa metabolit tertentu yang penting bagi fisologis sel, yakni asam folat, purin, dan pirimidin. Obat menduduki tempat metabolit tersebut dalam sistem enzim tanpa mengambil alih fungsinya, sehingga sintesa DNA atau RNA gagal dan perbanyakan sel terhenti. Obat obatnya sendiri tidak bersifat sitotoksis yang banyak digunakan adalah antagonisfolat metoreksat, antagonis purin (merkaptopurin, thioguanin, dan azathioprin), serta antagonis pirimidin (fuluorourasil dan sitarabin). Obat obat ini juga berkhasiat imuno supresis, khususnya azathioprin yang banyak digunakan pada transplatasi organ (bersma sikloserin). Semua obat ini merupakan produgs, yang baru menjadi metabolic aktif setelah diubah dalam hati. Metotreksas : MTX farmitreksal, ledrtrexat, obat ini menghambat reduksi dari asam folat menjadi tetrahydrofolic acid (THFA) dengan jalan pengikatan pada enzim reduktase. THFA penting sekali bagi sintesa DNA dan pembelahan sel. Antagonis folat ini adalah

sitostatikum pertama yang efektif pada leukemia limfe akut dan kanker chorion yang sudah tersebar dengan sekitar 80% penyembuhan. Selain itu, metotreksat bnanyak digunakan pula pada berbagai jenis kanker lainnya dalam dosis tingggi sebagai terapi kombinmasi dengan asam folinat guna menghindarkan efek-efek sampingnya yang hebat. Disamping efek sitostatis, MTX juga memiliki kerja anti radang pada dosis rendah. Oleh karna itu, obat ini digunakan dalam terapi psoriasis (kulit bersisik) yang bercirikan pertumbuhan abnormal pesat dari sel-sel epidermis kulit. Adakalanya obat ini digunakan pula sebgai terapi pemeliharaan pada penyakit radang usus kronis, seperti colitis dan p.crohn. efek-efek samping utama adalah penekanan sumsum tulang (leucopenia, thrombocytopenia), terutama hebat pada dosis diatas 25-30 mg. selain itu juga kerusakan mukosa mulut (stomatitis) dan saluran pencernaan, tetapi jarang rasa lelah, rontok rambut, dan demam. DOSIS : pada kanker tergantung dari jenis dan keadaan pasien : oral 5-30mg sehari selama 5 hari. Setelah istirahat 2-3 kali. Tablet tak boleh diminum dengan susu. Psoriasi dan rema : oral,im atau iv 15-25mg seminggu. Pada dosis rendah ini imunosupresi adalah ringan, namun perlu dilakukan monitoring darah secara Merkaptopurin : puri-Nethol. Antagonis purin ini terutama digunakan pada leukimia akut pada anak-anak, juga bila MTXatau zat alkilasi tidak aktif (lagi). Efek sitostatisnya berdasarkan penghambatan sintesa purin dan DNA di sel-sel yang tumbuh pesat. Merkaptopurin untuk sebagian diuraikan oleh enzim xanthinoksidase menjadi thiourat. Penguraian ini diperlambat oleh perintangperintang enzim obat encok alopurinol dan dengan demikian kerjanya diperpanjang. Efek sampingnya sama dengan MTX, juga merusak hati(icterus). Monitoring darah juga perlu dilakukan. DOSIS : anak-anak oral 2,5mg/kg sehari *Azathioprin (Imuran) adalah derivat imidazolli dari purin yang dalam tubuh dirombak menjadi merkaptopurin. Obat ini banyak digunakan sebagai obat imunosupresif pada tranplantasi organ guna memperkecil risiko penolakan oleh sistem imun pada si penerima. Begitu pula pada penyakit auto-imun, dimana sistem imun kacau dan antibodi menyerang jaringan dan organ sendiri. Contoh penyakit ini antara lain rema, diabetes pada anak-anak, lupus erythematodes (LE), multiple sclerosis (MS), myasthenia gravis (MG), sindrom syogren, sclerodermia,colitis,dan M.crohn. DOSIS : oral 1-4 mg/kg sehari, pada rema 1-3mg/kg sehari. Fluorurasil: 5-FU, Efudix. Antagonis pirimidin ini, merintangi sintesa DNA melalui saingan dengan pirimidin. Obat ini banyak digunakan untuk tumor yang sudah menyebar dari buah dada, usus besar, dan poros usus (rectum), juga dari lambung, hati,pankreas, dan lain-lain. Efektivitasnya (20-30%) diperbesar dengan terapi kombinasi, misalnya dengan cyclofosfamide dan adriamisin dan mitomisisn (kur FAM). Secara dermal digunakan sebagai krem 5% pada kanker kulit dan pertandukan abnormal (keratosis, efudix). Efek sampingnya lebih kurang sama dengam MTX dan merkaptopurin. DOSIS : 10-15 mg/kg iontravena selama 4-6 hari. Cytarabin (cytosar-U, Alexan) adalah derivat obat virus indoksuridin yang berhasiat pula disamping efek sitostatisnya(1969). Obat terutama digunakan pada leukemia akut tertentu, kerjanya hanya singkat, lebih kurang 20 menit.

DOSIS : infus intravena 100-200 mg setiap hari, biasanya terkombinasi dengan suatu antagonis-primidin lain, misalnya thioguanin (lenvis). C. Antimitotika Zat-zat ini menghindarkan pembelahan sel pada metafasa (tingkat kedua dari mitosis) jadi merintangi pembelahan inti, seperti obat encok colchicin. Berlainan dengan zat alkilasi yang juga merintangi pembelahan inti dengan jalan mengganggu pembelehan kromosom antimitotika mencegah masuknya belahan kromosom itu ke dalam anak inti. Obat-obat yang kini digunakan adalah hasil rumbuhan, yakni Alkaloida Vinca (vinbalastin, vinkristin, dan vinlesin), podofilin (serta derivatnya etoposida dan tenoposida) dan obat terbaru dari kelompok taxoida (paclitaxel, docetaxel). Vinblastin : Erbablas, velbe. Alkaloid ini, bersama derivatnya vinkristin, diperoleh dari vinca rosea (priwinkle, sejeniskembang saedadu) (1960). Obat ini banyak digunakan pada bermacam-macam limfoma (M. Hodgkin dna non-Hodgkin) dengan efektivitas tinggi (sampai 80%) dan tak jarang menghasilkan penyembuhan lengkap, biasanya sebagai terapi kombinasi dengan bleomisin dan cisplatin, atau dengan doksorubsin dan /atau prednisolon. Obat ini digunakan pula pada kanker testis,buah dada, dan lain-lain. Efek sampingnya terutama berdasarkan myeosupresi kuat , terutama leukopenia, yang biasanya hilang setelah satu minggu. Efek samping lainnya rasa lelah, mual, muntah-muntah, dan demam. Lebih jarang rontok rambut dan radang saraf (neuritis) dengan kesemutan jarijari tangan. Dosis : i.v. 0,1-0,2 mg/kg (sebagai sultat). Vinkristin (Krebin, oncovin) (1963) pada garis besarnya sama spektrum kerja dan penggunaanya dengan vinblastin, antara kedua obat tidak terdapat resistensi silang lengkap. Pada leukemia limfoblast, obat ini lebih ampuh, terutama terkombinasi dengan sitostatika lain. Obat ini juga banyak digunakan pada M.non-Hodgkin dan tumor anak-anak. Efek sampingnya sama dengan vinblastin, tetapi myelosupresi lebih ringan, sedangka neurotoksisitasnya lebih besar. Dosis: 1x seminggu 0,005-0,15 mg/kg (sulfat). Vindesin (eldisine) adalah derivat semisintetis dari vinblastin (1980) yang kurang myelosupresif dan neurotoksis dari vinkristin. Obat ini hanya digunakan dalam kombinasi dengan onkolitika lain. Dosis: infus i.v 3 mg/m2/hari stiap 7-10 hari. Podofilin Damar ini diperoleh dari akar tanaman Amerika Podophyllum peltatum yang antara lain mengandung zat antimitotis podofilotoksin dua glikosida semisintetisnya adalah etoposida dan teniposida (VM-26, vumon). Penggunaan podofilin sudah obsolet, tetai larutannya 25% dalam alkohol jarang-jarang masih dipakai pada kutil terbentuk kembang kol pada alat-alat kelamin (condyloma acuminata). Etoposida (VP-16-213, vepesid) (1981) terutama digunakan dalam kombinasi dengan bleomisin dan cisplatin pada kanker testis dan paru-paru,juga pada kanker buah dada dan non-Hodgkin. Efek samping utama adalah leukopenia (reversibel), lebih sering juga trombocytoipenia. Begitu pula gejala-gejala lambung usus dan rontok rambut.

DOSIS: iv 35-100mg/m2 sehari selama 4-5 hari,dapat pula per oral (kapsul) dengan dosis ganda. Kur diulang setelah 3-4 minggu. Paclitaxel: Taxol Obat baru dari kelompok laxan ini terdapat dalam jumlah kecil sekali (1:13.500) di kulit pohon cemara Taxusbrevifolia. Kini diperoleh secara semisintesis dari suatu zat pelopornya (bacca-tine) yang diperoleh dari jarum-jarum Taxus baccata yang terdapat lebih luas di EROPA dan AS. Berkhasiat sitotoksis dengan jalan menghambat mitosis dan mengikat pada suatu protein, yang menghalangi apoptosis. Obat ini digunakan khusus pada kanker ovarium dan kanker mamma yang tersebar setelah terapi dengan cisplatin gagal. Kini ternyata efektivitasnya tidak tinggi, lebih kurang 22%, dengan perpanjangan hidup dari hanya ca 3 bulan dibandingkan dengan terapi standar. Kombinasi dengan cisplatin ternyata lebih ampuh. Kombinasi dari kedua obat dengan cyclofosfamida adalah lebih efektif dan kini merupakan terapi pilihan pertama. Juga kombinasi dengan obat baru penghambat topo isomerase-1(topotecan) adalah efektif sebagai premedikasi, dianjurkan dexametason Efek samping utama adalah gejala-gejala myelosupresi hebat, terutama neutropenia (reversibel), juga alopecia total, neuropathie, reaksi-reaksi hipersensitivitas, demam, dan gejla-gejala umum lainnya. Mual dan muntah hanya ringan. DOSIS: infus iv 135mg/m2 sehari *Docetaxel (Taxotere) adalah derivat dengan efek dan mekanisme kerja yang sama dan lebih kurang 2x lebih aktif daripada paclitaxel. Kedua obat bersifat sangat lipofit dan tak larut dalam air. Plasma t1/2-nya ca 11 jam. Berhubung resiko retensi air, maka terapi diawali dengan premedikasi dexametason 16mg/hari selama 4-5 hari. DOSIS: infus iv 100mg/m2 permukaan badan dari larutan 0,3-0,9g/l setiap 3 minggu. D. Anti biotika Zat ini dapat mengikat DNA secara kompleks sehingga sintesanya terhenti. Imunomodulator Zat ini juga dinamakan biological response modifiers (BRM) berdaya mempengaruhi secara posituf reaksi biologis dari tubuh terhadap tumor. Fungsi sistem imun dapat distimulasi dengan baik (imunostimulator) maupun disupresi olehnya (imunosupresor). Imunostimulator sistem imun pada umumnya sudah sangat diperlemah oleh kanker sendiri serta penanganannya dengan sitotastika, radiasi atau pembedahan. Imunostimulator secara tak-langsung berkhasiat mereaktivasi sistem imun rendah itu dengan meningktkan responsimun tak spesifik terhadap sel tumor. Banyak reaksi imun dicetuskan prosesnya, seperti stimulasi perbanyakan limfo-T4, NK-cells, dan makrofag, sedangkan pelepasan interferon dan interleukin ditingkatkan. Sebagai efek akhir dari berbagai reaksi kompleks itu, sel-sel ganas dapat dikenali dan lalu ditanggulangi. Yang kini digunakan aadalah cytokin dan levamisol,serta dalam terapi alternatifpreparatpreparat thymus dan antioksidansia tertentu. *cytokin atau limfokin terbentuk oleh masing-masing sel (cytos) dan (limfosit) adalah protein yang bertanggung jawab atas efek berbagai reaksi imun seluler. B.imunosupresiva adalah zat-zat yang justru menekan aktivitas sistem imun seperti kebanyakan zat anti tumor (kecuali : asparaginase, bleomisin, dan hormon-hormon). Pada penyakit auto imun , fungsi sitem imun terganggu dengan adaanya auto-antibodies sedangkan limfo-T dan NK-cells menyerang jaringan organ sendiri.

*Siklosporin (sandimuun,Neoral) Polipeptida siklis inindiperoleh dari jamur Tolypocladium dan Cylindrocarpon. Obat ini berkhasiat menghambat perbanyakan T-helper dan T-killerscells yang tergntung dari IL-2 secara efektif dan produksi/pelepasan limfokin-limfokin olehnya. Efek sampingnya banyak, antara lain rasa terbakar dikaki tangan (selama minggu pertama), gangguan lambung-usus, hipertensi,sakit kepala, tremor, hipertichosis, parestesia, dan udema muka. Efek sampinya yang lebih serius adalah kalainan fungsi ginjal, hati, dan darah (reversibel), yang tergantung dari dosis. Pada penggunaan lama, resiko akan kanker kulit dan limfoa sangat menigkat. DOSIS: oral permulaan 10-15mg/kg selama 1-2 minggu,lalu berangsur-angsur diturunkan sampai 2-6mg/kg selama dalam 2 dosis. *Interferon-alfa: IFN-alfa 2, Referon-A(2a),Intron-A(2b) Interferon alfa,-beta, dan gama adalah limfokin alamiah yang lazimnya dibentuk sebagai reaksi terhadap infeksi viral. IFN-alfa terdiri dari 165 asam amino yang dengan teknik rekombinan DNA diperoleh dari kuman E.coli yang telah dimodifikasi (manipulated) secara genetis. Efek sampingnya sering kali mirip gejala influenza selama minggu pertama dengan saakit kepala dan otot, rasa letih, dan demam, juga gangguan lambung-usus dan jarangn gatalgatal, mulut kering,tremor dan rontok rambut. Begitu pula gangguan darah dan efek efeksentral (agitasi,mudah tersinggung,pikitran kacau). Akhir-akhir ini dilaporkan efek-efek psikiatris serius dengan depresi dan psikose, yang sembuh dengan sedirinya setelah pemberian IFN dihentikan DOSIS: i.m atau s.c 3 MUI sehari selama 16-24 minggu,infeksi hepatitis-B/C s.k 3x seminggu 10 MUI. *Interleukin-2 : IL-2, aldesleukin, Proleukin. Zat-zat interleukin dalam tubuh dibentuk oleh limfosit-T, monosit, makrofag, dan sel-sel endotel/epitel. Fungsinya sebagai molekul pesuruh (messenger) antara leukosit dan antara berbagai sistem sel dan organ. Obat ini juga memegang peran penting pada regulasi berbagai respons imun. Efek sampingnya yang sering terjadi adalah gejala influenza dan gangguan lambung usus. Adakalanya juga efek-efek sentral(pikiran kacau, halusinasi, desorientasi, termanggumangu,konvulsi) dan depresi sumsum tulang. DOSIS : infus iv 1ml = 18 juta UI/m2 sehari selama 5 hari. Kur diulang setelah 2-6 hari. *Tumor necrosis factor (TNF-alfa) Cytokin ini dibebaskan oleh berbagai sel dari sistemimun (makrofag,monosit,limfosit,dan NKC) sebagai reaksi terhadap antara lain infeksi kuman dan stimuli peradangan lain. Lalu, TNF sendiri menstimulasi pelepasan sejumlah besar zat perantara (mediator) lain, antara lain IL-1 dan IL-6 prostaglandin, leukotrien, dan kortikotrofin. Dengan demikian, TNF sebagai proinflammatory cytokin bertanggung jawab untuk banyak efek dari suatu infeksi atau peradangan. Misalnya, TNF merupakan mediator penting pada pato genesis rema, begitu pula pada penyakit crohn : pada penderitanya TNF dalam mukosa usus sangat meningkat. Zat anti TNF-ALFA : etanercept (enbrel), infliximab (remicade) dan transtuzumab. Obat-obat baru ini merupakan anti body monoclonal human yang dibuat dengan teknik DNA rekombinan. *Transtuzumab (herceptin, 1999) digunakan pada terapi paliatif dari kanker mama tersebar untuk memperpanjang hidup dan memperbaiki kualitasnya hanya efektif pada tipe tumor tertentu, dimana faktor pertumbuhan HER-2 berperan. Faktor ini adalah suatu peptide dari

tipe tyrosinekinase dan bekerja melalui pendudkan reseptor HER-2 dipermukaan sel tumor, sehingga pertumbuhan sel tumor terganggu. Dosis : i.v 4 mg/kg bb, harganya amat mahal (ca $ 1200 - $ 600 sekalinya ). *Infliximab (Remicade,1988) adalah antibody monoklonal manusia-yikus yang digunakan untuk mengobati penyakit autoimun RA dan crohn. Berkhasiat anti radang dengan jalan menghindari penumpukan zat-zat peradang yang dibuat dibawah pengaruh TNF-alfa. Pada rema zat ini bersama MTX ternyata sangat efektif untuk mengurangi kerusakan sendi Efek sampingnya yang serius berupa timbulnya TBC dengan insidensi 3 per 10.000 *Etanercept (Enebrel,1998) kini banyak digunakan pada rema parah karena sangat efektif dalam menghentikan erosi sendi. Efek sampingnya yang terpenting berupa gangguan darah dan neurologis (demyelinisasi seperti terdapat pada MS) digunakan peroral dan subkutan. *vaksin BCG: Oncotice Vaksin ini dibuat dari hasil TBC sapi hidup Mycobacterium bovis (=Basillus Calmette -Guerin). Selain berkhasiat imunstimulasi spesifik terhadap TBC dan kusta juga menstimulasi sistem imun secara tak-spesifik. Oleh karena itu, digunakan sebagai terapi tambahan setelah pembedahan atau radiasi untuk memusnahkan micrometastase dan mediadakan imunosupresi yang disebabkan penanganan penyakit. Karena kebanyakan eksperimen terhadap penyakit jenis kanker tidak menghasilkan efek yang memuaskan, kini hanya digunakan pada kanker kandung kemih secara intravesikal. *vaksin BCG human yang dibuat dari TBC human (mycobacterium tuberculosis) digunakan dijepang sebagai obat tak resmi dengan efektivitas memperpanjanf hidup yang cukup baik pada sejumlah jenis tumor. Vaksin ini terkenal sebagai vaksin Prof.Maruyama *Levamisol : tetramisol, Ascaridil, Ergamisol, Ketrax Obat cacing ini berkhasiat menstimulasi sistem imun seluler, yakni menigkatkan perbanyakan dan migrasi limfo-T dan memperkuat fagocytosisi dan chemotaxis dari makrofag. Obat ini berguna pada terapi kanker dengan sitostatika dan prednison yang menekan sistem itu. Efek samping berupa gejala-gejala lambung dan neurologi. Jarang terjadfi gangguan darah. Dosis : bersama 5-FU oral 3 dd 50 mg selama 3 hari setiap 10 hari,total maksimal 52 minggu. *Talidomida (Synovir) adalah obat tidur dengan efek teratogen sangat kuat yang juag berkhasiat imunosupresif, antiangio-genesis, dan anti radang. Dewasa ini obat ini hanya digunakan antara lain untuk menekan reaksi lepra dan pada aphtae hebat dimulut pasien AIDS. Hormone dan anti hormone Obat ini sangat penting pada terapi limfoma dan leukemia akut pada anak-anak. Hormon kelamin berkhasiat menstimulasi perbanyakan tumor yang pertumbuhannya tergantung dari hormon kelamin. Sejumlah kanker ini yang bersifat estrogen/androgen dependent ternyata dapat dihambat ertumbuhannya oleh hormon lawannya. Khususnya kanker prostat dan buah dada, yang mengandung masing-masing reseptor testosteron dan estrogen. Zat-zat estrogen (etinilestradiol,fosfestrol) digunakan pada kanker prostat yang bermetastase. Progestativa (megestrol,dan medroksiprogesteron) dan zat-zat androgen (testosteron,nandrolon) dapat digunakan pada kanker mamma dan endometrium yang sudah tersebar. Antihormon kelamin adalah zat-zat yang menghambat hormon dijaringan tujuan dan dengan demikian melawan kerjanya. Yang digunakan adalah zat-zat anti estrogen dan zat-zat anti androgen.

Anti estrogen seperti tamoksifen (Nol-vadex) bekerja dengan jalan menempati reseptor estrogen pada tumor buah dada yang bersifat estrogen-dependent. Amino-glutetimida (orimeten) dan anastrozol (arimidex) adalah penghambat enzim sehingga sintesa estrogen dirintangi. Antihormon ini khusus digunakan pada kanker mamma yang tersebar pada wanita pasca monopause. Anti-androgen yang banyak digunakan adalah cyproteron (androcur), flutamida(fugerel), dan nilutamida (anandron) yang bekerja atas dasar blokade dari pengikatan DHT (= dihidrotestosteron kltif) pada reseptornya dalam sel-selprostat. Senyawa ini terutama digunakan pada kanker prostat yang bermetastasis. *Derivat LH-RH. LH-RH dibentuk oleh hipotalamus dan mengatur pelepasan hormon hipofisis PSH dan LH. Senyawa ini digunakan pada terapi palinaktif kanker prostat yang bermatastasis untuk melakukan kastrasi hormonal/kimiawi, yakni menghentikan produksi testosteron dan androsteron oleh testis. Mekanisme kerjanya adalah melalui stimulasi sementara dari hipofise dan testis, kemudian menghambatnya sehingga kadar testosteron darah menurun dengan ca 90%. Sisanya masih diproduksi oleh anak ginjal. Untuk merintangi produksi ini, sering kali dilakukan terapi kombinasi dengan zat-zat anti androgen, misalnya flutamida dan nilutamida. Derivat-derivat yang kini digunakan adalah goserelin (Zoladex), leuloprorelin (Tapros, Luclin,), buserelin (Suprefact), dan triptorelin (Decapeptyl). Obat-obat lainnya Sitostatika lainnya yang digunakan pada kangker adalah enzim asparaginase, senyawa senyawa platina cisplatis dan carboplatin, hidroksiurea, procabazin, serta topotecan dan ironotecan. l-Asparaginase: Leunase, Paronal Enzim ini yang diperoleh dari pembiakan bakteri E.coli mengkatalisasi perombakan hidrolitis levo-asparagin menjadi asparlat (aspartic acid) dan amoniak. Dengan demikian sel -sel tumor tidak mendapati lagi asam amino asparagin itu yang esensill bagi sintesa proteinya dan terhenti perkembangannya. Obat ini terutama digunakan pada leukimia limfe akut pada anak-anak bila obat lain tidak efektif lagi. Efek samping: sering kali gangguan-gangguan lambung usus dan gejala-gejala umum, juga reaksi-reaksi alergi dengan urticaria, bronchospasme, dan hipotensi Dosis : i.m 100-400 U/kg atau i.v 200-2000 U/kg sehari selama 2-4 minggu. Cisplatin: Platamine RTU, Platinol Senyawa diaminodiklor ini dari platina bekerja sitostatis dengan jalan penghambatan sintesis DNA dan RNA. Mirirp dengan zat-zat alkilasi, rantai-rantai DNA saling disambung dengan jembatan-jembatan platina (cross-linking). Obat ini terutama digunakan pada kanker testis dan ovarium yang sudah tersebar, biasanya terkombinasi dengan bleomisin dan vinblastin/etoposida. Efek samping yang sering terjadi adalah nausea dan muntah-muntah hebat, juga dapat merusak fungsi ginjal dan telinga (nefro-dan ototoksis). Oleh sebab itu, senyawa ini tidak dapat dikombinasi dengan aminogli-kosida. Dosis :infus i.v 50-200 mg/m2 setiap 3-4 minggu atau 15-20 mg/m2 selama 5 hari dengan istirahat 3-4 minggu. *Carboplatin (paraplatin) adalah derivat dengan cara kerja yang hampir sama penggunaannya terutama pada kanker ovarium yang bermatastasis. Efek sampingnya

mengenai ginjal, telinga, dan lambung lebih ringan, tetapi menekan sumsum dengan resiko trombocytopenia. Dosis : infus i.v 300-400mg/m2 sehai setiap 4 minggu. Hidroksikarbamida : hidroksiurea, hydrea. Derivat urea ini bekerja sebagai antitumor dengan jalan merusak reduktase yang penting bagi sintesa DNA. Obat ini digunakan pada leukimia kronis dan kanker didaerah kepala. Efek sampingnya : terutama berupa myelosupresi dan gangguan neurologi yang sering terjadi, karena luas terapinya amat sempit pada dosis efektif. Dosis : oral 1 dd 80mg/kg setiap 3 hari. Procarbazin: Natulan, Derivat metilhidrazin ini berkhasiat sitostasis dengan mekanisme kerja yang mirip zat-zat alkilasi. Obat ini khusus digunakan ada limfoma Hodgkin bersama klormetin, vinkristin, dan prednison (kur MOPP). Efek sampingnya : yang terpenting adalah myelosupresi,hemolisa dan perdarahan juga gangguan lambung usus dan reaksi neurologis. Dosis : oral dalam skema MOPP: 100mg/m2 sehari selama 14 hari dengan istirahat 4 minggu. Topotecan : Hycamtin, Zat semisintesis ini adalah turunan dari camptothecine, suatu alkaloida pentasiklis yang dihasilkan dari kayu tanaman Camptotheca acuminata (Cina) dan Nothapodytes foetida (ibdia). Obat ini berkhasiat menghambat topoisomerase-1 (enzim yang terlibat pada perbanyakan sel dan replikasi DNA), yang berefek musnahnya sel-sel tumor yang sedang tumbuh. Efek sampingnya bersifat relatif tidak begitu berat dan yang tersering berupa mual dan muntah, juga rontok rambut akibat supresi fungsi sumsum tulang belakang. Dosis : i.v 1-1,5 mg/m2/hari selama 5 hari, diulang minimal 3x dengan selingan waktu 3 minggu. *Irinotecan (Campto) adalah derivat dengan khasiat dan cara kerja yang sama. Diregistrasi untuk kanker colorectal yang sudah menyebar, untuk mana fluorurasil tidak memberikan efek. Efek samping yang terpenting adalah diare (lambat) dan neutropenia. Dosis infus i.v 350mg/m2 setiap 3 minggu atau 100-125 mg/m2 setiap minggu. Obat obat anti angiogenesis Kini sedang dilakukan penelitian mengenai obat-obat dengan khasiat anti angiogenesis, yaitu mencegah pembentukan pembuluh daarah baru yang berfungsi memberikan zat gizi dan oksigen pada tumor. Talidomida berkhasiat demikian, tetapi terlampau toksis, sehingga dicoba sintesa derivat-derivatnya yang kurang toksis. Turahiu dan genistein dengan efek angiostutis banyak digunakan pada terapi alternatif kanker.

CARA KERJA DAN EFEK SAMPING SITOSTATIKA Efek samping Sitostatika Sitostatika selain membasmi kanker juga merusak sel-sel berbagai jaringan tubuh penderita . Jaringan yg paling banyak rusak adalah : traktus gastro intestinalis, sumsum tulang,folikel rambut SumsumTulang belakang : lekosit trombosit Hb Gastro Intestina : stomatitis,gastritis,diare,ulkus lambung, ileus. Jantung : Kardiomiopati,payah jantung,hypertensi, Paru : fibrosis Ginjal : nekrosis tubuli Kulit : Alopesia , hyperpigmentasi. Syaraf : paretensi,neuropati, tuli, letargi. Pankreas : pankreatitis Uterus : perdarahan Kandung kencing : sistitis hemoragis.

MEKANISME CARA KERJA KEMOTERAPI Kebanyakan obat anti neoplasma yang secara klinis bermanfaat, agaknya bekerja dengan menghambat sintesis enzim maupun bahan esensial untuk sintesis dan atau fungsi asam nukleat. Berdasarkan mekanisme cara kerja obat , zat yang berguna pada tumor kepala leher dibagi sebagai berikut : 1. Antimetabolit, Obat ini menghambat biosintesis purin atau pirimidin. Sebagai contoh MTX, menghambat pembentukan folat tereduksi, yang dibutuhkan untuk sintesis timidin. 2. Obat yang mengganggu struktur atau fungsi molekul DNA. Zat pengalkil seperti CTX ( Cyclophosphamide) mengubah struktur DNA, dengan demikian menahan replikasi sel. Di lain pihak, antibiotika seperti dactinomycin dan doxorubicin mengikat dan menyelip diantara rangkaian nukleotid molekul DNA dan dengan demikian menghambat produksi mRNA. 3. Inhibitor mitosis seperti alkaloid vinka contohnya vincristine dan vinblastine, menahan pembelahan sel dengan mengganggu filamen mikro pada kumparan mitosis.

Cara Pemberian Kemoterapi Secara umum kemoterapi bisa digunakan dengan 4 cara kerja yaitu : 1. Sebagai neoadjuvan yaitu pemberian kemoterapi mendahului pembedahan dan radiasi. 2. Sebagai terapi kombinasi yaitu kemoterapi diberikan bersamaan dengan radiasi pada kasus karsinoma stadium lanjut. 3. Sebagai terapi adjuvan yaitu sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan atau radiasi 4. Sebagai terapi utama yaitu digunakan tanpa radiasi dan pembedahan terutama pada kasus kasus stadium lanjut dan pada kasus kanker jenis hematologi (leukemia dan limfoma). Menurut prioritas indikasinya terapi terapi kanker dapat dibagi menjadi dua yaitu terapi utama dan terapi adjuvan (tambahan/ komplementer/ profilaksis). Terapi utama dapat diberikan secara mandiri, namun terapi adjuvan tidak dapat mandiri, artinya terapi adjuvan tersebut harus meyertai terapi utamanya. Tujuannya adalah membantu terapi utama agar hasilnya lebih sempurna. Terapi adjuvan tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki indikasi yaitu bila setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata : - kankernya masih ada, dimana biopsi masih positif - kemungkinan besar kankernya masih ada, meskipun tidak ada bukti secara makroskopis. - pada tumor dengan derajat keganasan tinggi ( oleh karena tingginya resiko kekambuhan dan metastasis jauh). Berdasarkan saat pemberiannya kemoterapi adjuvan pada tumor ganas dibagi menjadi : 1. neoadjuvant atau induction chemotherapy 2. concurrent, simultaneous atau concomitant chemoradiotherapy 3. post definitive chemotherapy. Skala status penampilan menurut ECOG ( Eastern Cooperative Oncology Group) adalah sbb : - Grade 0 : masih sepenuhnya aktif, tanpa hambatan untuk mengerjakan tugas kerja dan pekerjaan sehari-hari. - Grade 1 : hambatan pada perkerjaan berat, namun masih mampu bekerja kantor ataupun pekerjaan rumah yang ringan. - Grade 2 : hambatan melakukan banyak pekerjaan, 50 % waktunya untuk tiduran dan hanya bisa mengurus perawatan dirinya sendiri, tidak dapat

melakukan pekerjaan lain. - Grade 3 : Hanya mampu melakukan perawatan diri tertentu, lebih dari 50% waktunya untuk tiduran. - Grade 4 : Sepenuhnya tidak bisa melakukan aktifitas apapun, betul-betul hanya di kursi atau tiduran terus. Cara menghitung dosis Sitostatika Luas permukaan tubuh = Tinggi Badan X Berat Badan x Dosis lazim 60 Contoh : TB = 160 cm, BB = 60 Kg Mis : Dosis Doxorubicin = 500 mg/ m2 per hari = 1,60 x 60 = 1,60 x 500 mg = 800 mg / hari 60 Atau menurut tabel luas permukaan tubuh yang sudah ada pada literatur x Dosis lazim

Obat yang sering diberikan bersama Sitostatika NaCl 0,9% Dextrose 0,9% KaEN 1 B Ondansentron Nasea Lasix KCl MgSO4 Metoclopramide NaHCO3 Dexamethasone Dipenhydramin HCl inj Ranitidin