Anda di halaman 1dari 7

Etika profesi gizi dalam pelayanan medis di klinik

Bakri, Bachyar. 2010. Etika dan Profesi Gizi. Yogyakarta : Graha Ilmu

PENGERTIAN DASAR ETIKA Kata etika secara etimologi berasal dari kata Yunani Ethos yang berarti watak atau sifat atau tingkah laku manusia, kebiasaan, cara berfikir dsb. Dalam bahasa Indonesia kata etika berarti kebiasaan baik atau norma norma yang baik. Selanjtunya, dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata etika mengandung 3 arti yaitu, 1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (ahlak) 2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dnegan ahlak 3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Sebagai suatu istilah, etika sekurang-kurangnya mengandung 2 arti, yaitu : 1. Sebagai pendoman baik buruknya perilaku manusia 2. Sebagai ilmu yang mengkaji pedoman baik buruknya perilaku manusia tersebut, yang menyangkut nilai-nilai, prinsip-prinsip dan norma-norma moral yang dipakai sebagai pegangan umum bagi penentuan benar salahnya tindakan seseorang sebagai manusia. Jadi etika adalah usaha untuk mengerti tata aturan sosial yang menentukan dan membatasi tingkah laku manusia.

PENGERTIAN PROFESI Kata profesi sudah sangat sering digunakan dalam berbagai bidang dan area, namun pengertiannya sering kali keliru dan berbeda diantara masing-masing orang. Untuk memperoleh pengertian yang sama, profesi dari ebberapa ahli. 1. Wolman, B. B., dalam Dictionary of Behavioral Science, Weighly, E.S, 1978; menyatakan bahwa profesi adalah pekerjaan/jabatan yang membutuhkan pendidikan umum dan khusus di tingkat tinggi, yang biasanya memiliki kode akan dibahas beberapa pengertian

etik guna menjelaskan peranan yang harus dimainkan oleh profesi tersebut dalam masyarakat. 2. Grace L. Stumpf, dalam Jurnal of American Dietetics Association, Vol.65 No:2, 1977. Profesi adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan percakapan, kemampuan dan keahlian serta menuntut latihan dan pendidikan tingkat tinggi, dan bekerja dengan menggunakan kecerdasan dan intelektual serta memerlukan sifat kerja yang beragam. 3. Howard Stephenson dalam Handbook of Public Relation, Suatu praktek seni dan pelayanan terampil yang didasarkan pada latihan, pengetahaun, dan berdedikasi sesuai dengan norma-norma etika. 4. Dalam kamus besar bahasa indonesia, Purwadarminta (1989) pada hal.702 menyatakan profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasiu pendidikan keahlian (keterampilan, kejujuran) tertentu.

GIZI SEBAGAI PROFESI Profesi Gizi dan Dietetik, disamping profesi kesehatan lain, dalam sejarahnya merupakan cabang dari profesi kedokteran. Di masa yang akan datang, profesi Gizi dituntut untuk mampu menunjukkan profesionalsime yang lebih tinggi bila ingin ditempatkan sejajar dengan profesi lain. Profesi gizi, sebagia profesi kesehatan, terdiri dari para anggotanya yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam : a. Melaksanakan asuhan gizi klinik b. Melaksanakan penyelenggaraan makanan institusi c. Melaksanakan pelayanan gizi masyarakat d. Melaksanakan penyuluhan gizi serta menyediakan pelatih sebagai konsultan gizi.

Sebagai profesi, gizi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. Mengembangkan pelayanan yang unik kepada masyarakat 2. Anggota-anggotanya dipersiapkan melalui suatu program pendidikan

3. Memiliki serangkaian pengetahuan ilmiah 4. Anggota-anggotanya menjalankan tugas profesinya sesuai kode etik yang berlaku 5. Anggota-anggotanya bebas mengambil keputusan dalam menjalankan profesinya 6. Anggota-anggotanya wajar menerima imbalan jasa atas pelayanan yang diberikan 7. Memiliki suatu organisasi profesi ayng senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat oleh para anggota 8. Pekerjaan tersebut adalah sumber utama sumur hidup 9. Berorientasi pada pelayanan dan kebutuhan objektif 10. Otonomi dalam melakukan tindakan 11. Melakukan ikatan profesi dan lisensi jalur karir 12. Mempunyai kekuatan dan status dalam pengetahuan spesifik 13. Altruism (memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi)

DASAR PEMIKIRAN KEMITRAAN DALAM KESEHATAN Kesehatan adalah hak asasi manusia yang merupakan investasi sekaligus menjadi kewajiban bagi semua pihak. Masalah kesehatan tidak dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, namun oleh semua pihak termasuk juga swasta. Masalah kesehatan saling berkaitan dan juga mempengaruhi sejumlah masalah lain, seperti : masalah pendidikan, ekonomi sosial, agama, politik, keamanan, ketenagakerjaan, pemerintahan dan lain-lain. Dengan peduli terhadap masalah kesehatan, diharapkan juga bisa diperoleh manfaat karena dengan peningkatan sumber daya manusia, produktivitas juga akan meningkat. Pentingnya kemitraan ini mulai digencarkan oleh WHO pada konferensi internasional promosi kesehatan yang ke empat di Jakarta tahun 1997. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dikembangkan upaya kerjasama yang saling memberikan manfaat. Hubungan kerjasama akaj lebih efektif dan efisien apabila juga didasari dengan kesetaraan. Komunikasi juga dilakukan dengan tenaga-tenaga lain non-profesi, namun kesemuanya bekerja dalam satu tim dengan profesi gizi.

KEMINTRAAN PROFESI GIZI Kewajiban ahli gizi kepada teman seprofesi dan mitra keja telah dijelaskan dalam kode etik profesi gizi, yaitu sebagai berikut : a. Ahli gizi dalam pekerjaannya, yaitu melakukan promosi gizi demi

meningkatkan dan memel;ihara status gizi optimal dari masyarakat, berkewajiban untuk senantiasa bekerja sama, melibatakan dan menghargai berbagai disiplin ilmu sebagai mitra kerja di masyarakat. b. Ahli gizi berkewajiban untuk senantiasa memelihara hubungan persahabatan ayng harmonis dengan organisasi atau disiplin ilmu/profesional sejenis atau bukan sejenis yang terkait dengan upaya dalam meningkatkan status gizi, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat. c. Ahli gizi berkewajiban untuk senantiasa menyebarkluaskan ilmu pengetahuan dan keterampilan terbaru kepada sesama profesi dan mitra kerjanya.

Dalam aplikasinya, para ahli gizi bisa menerapkan beberapa model pelayanan gizi, yang bisa diaplikasikan di rumah sakit maupun masyarakat, namun tidak semua model pelayanan tersebut sudah standar.minimal ada 3 model yang dipakai atau dikembangkan di institusi pelayan kesehatan, yait sebagai berikut : 1. Pertama, model yang sebenarnya tidak dianjurkan dimana setiap profesi (dokter, perawat, ahli gizi/dietetion) menangani pasienya masing-masing tanpa adanya hubungan dan koordinasi antar profesi. Ahli gizi menyiapkan makanan pasien sesuai pemahamannya tanpa ada informasi mengenai keadaan pasien yang akurat dari dokter, perawat maupun profesi lain yang terkait. 2. Kedua, model pelayanan gizi yang kurang lebih serupa dengan model pertama, tetapi bentuk pelayanan dilakukan oleh tim yang dikenal dengan Nutrition Support Team (NST), yang terdiri dari dokter, p[erawat, pharmacist dan dietetion. Pada model kedua ini juga belum ada koordinasi dari masingmasing profesi dalam satu pelayanan bagi pasien, namun mereka telah menerapkan pelayanan terstandar yang dikerjakan dalam satu tim. Salah satu kelemahan dari model kedua ini adalah banyaknya profesi yang harus terlibat

dalam satu pelayanan pasien. Pelayanan semacam ini umumnya diterapkan di rumah sakit yang memiliki sumber daya manusia cukup banyak. Model ini juga sudah menerapkan proses asuhan gizi secara tim yang dikenal dengan istilah NCP (Nutrition care process) 3. Ketiga, model yang banyak direkomendasikan dimana aplikasi pelayanan gizi dilaksanakan dalam satu tim, dengan melibatkan dokter, perawat, dan dietetion. Keterlibatan masing-masing profesi dalam model ini benar-benar maksimal dan terjadi koordinasi antar profesi, saehingga dalam memutuskan bentuk pelayanan yang akan diberikan kepada pasien memiliki tujuan yang sama. Dari model ketioga tersebut muncul pola kerjasama atau kolaborasi antara tenaga gizi, dokter, dan perawat dalam satu teamwork yang seharusnya diterapkan bagi pasien. Ciri kerjasama antar kelompok kerja ini dalam menyelsaikan masalah klien adalah : koordinasi, saling berbagi, kompromi, intrrelasi, saling ketergantungan atau interpendensi serta kebersamaan. Untuk bisa mencapai pelayanan kesehatan prima, kolaborasi, interpendensi serta interrelasi antara rekan kerja dalam menjalankan pelayanan kesehatan mutlak dibutuhkan. Dengan demikian, diantara semua profesi memiliki satu kesatuan komitmen dan kemampuan serta tanggung jawab dalam merespon masalah kesehatan. Perkembangan profesi gizi membutuhkan upaya penataan sistem pendidikan, sehingga menghasilkan profesional gizi yang mampu meningkatkan hubungan kemitraan antara doikter, perawat dan tenaga gizi dalam pengabdian kepada masyarakat di bidang kesehatan.

KODE ETIK AHLI GIZI Ahli gizi, yang melaksanakan profesi gizi, mengabdikan diri dalam upaya meningkatkan keadaan gizi, kesehatan, kecerdasan, dan kesejahteraan bangsa. Pengabdian profesi gizi dilaksanakan dalam bentuk upaya perbaikan gizi, pengembangan IPTEK gizi serta ilmu terkait dan pendidikan gizi. Ahli gizi harus senantiasa bertakwa kepada Tuhan YME, berlandaskan pada pancasila, UUD 1945, AD-ART dan kode etik profesi Gizi.

Kewajiban ahli gizi terhadap klien terdapat pada Kode Etik PERSAGI Bab 2, yang meliputi : 1. Ahli gizi berkewajiban sepanjang waktu untuk senantiasa berusaha memelihara dan meningkatkan status gizi klien, baik dalam lingkup institusi pelayanan gizi atau dalam masyarakat umum. 2. Ahli gizi berkewajiban untuk senantiasa menjaga kerahasiaan klien atau masyarakat yang dilayaninya, baik ketika klien masih atau sudah tidak berada dalam pelayanannya, bahkan juga setelah klien meninggal dunia. 3. Ahli gizi dalam menjalakan profesinya, senantiasa menghormati dan menghargai kebutuhan unik setiap klien yang dilayani dan peka terhadap perbedaan budaya, serta tidak melakukan diskriminasi dalam melakukan suku, agama, ras, ketidakmampuan, jenis kelamin, usia, dan tidak melakukan pelecehan seksual. 4. Ahli gizi berkewajiban senantiasa memberikan pelayanan gizi prima, cepat, akurat, terutama pada klien yang menunjukkan tanda-tanda ada masalah gizi/gizi kurang. 5. Ahli gizi berkewajiban untuk memberikan informasi kepada klien dengan tepat dan jelas, sehingga memungkingkan klien agar mengerti dan bersedia mengambil keputusan sendiri berdasarkan informasi tersebut. Dan apabila dalam melakukan tugasnya ada keraguan atau ketidakmampuan dalam memberikan pelayanan, maupun informasi yang tepat kepada klien, ia berkewajiban untuk senantiasa mengatakan tidak tahu dan berusaha berkonsultasi atau membuat rujukan dengan ahli gizi lain maupun ahli lain yang mempunyai kemampuan dalam masalah tersebut.