Anda di halaman 1dari 2

1.

Rangkuman kasus Seorang laki-laki berumur 45 tahun datang ke Poliklinik Jiwa RS Daya dengan keluhan susah tidur sejak 2 hari yang lalu. Pasien merasa susah tertidur pada malam hari dan jika berusaha untuk tidur, pasien sering terbangun-bangun. Pasien juga merasa gelisah sejak satu bulan yang lalu. Bila gelisah, pasien sering jalan keluar masuk dari depan sampai ke belakang rumahnya berulang-ulang tanpa henti. Setelah itu, biasanya pasien jalan keluar rumah tanpa diketahui kemana tujuannya dengan alasan menenangkan diri. Pasien merasa jantungnya berdebar-debar, mual, dan mengalami keringat dingin. Pasien juga merasa takut jika berada di rumah karena ada permasalahan dengan tetangga akibat rasa curiga yang timbul pada diri pasien bahwa tetangganya yang mencuri ayam peliharaannya. Mengetahui hal itu, tetangga pasien yang dimaksud marah dan memaki-maki pasien di depan rumah pasien. Mendengar hal itu, pasien merasa tersinggung, malu, cemas, dan takut dikeroyok oleh tetangga-tetangga yang lain karena tetangga yang dituduh mencuri ayamnya sudah mengajak dan mempengaruhi tetangga yang lain bahwa pasien telah menuduhnya sembarangan. Sejak saat itu, pasien merasa takut dan susah tidur. Dari pemeriksaan status mental, didapatkan seorang laki-laki, wajah sesuai umur, perawakan tinggi besar, berkulit sawo matang, memakai kemeja coklat muda, dan celana kain panjang berwarna hitam, rambut hitam tampak berombak dan tebal. Perawatan diri pasien baik dan tampak rapi. Mood cemas, afek cemas, dan empati dapat dirabarasakan. Fungsi intelektual baik dan tidak ada gangguan persepsi. Arus berpikir dengan produktivitas cukup, kontinuitas relevan dan koheren, serta tidak ada hendaya berbahasa. Selain itu, tidak ditemukan gangguan isi pikir, pengendalian impuls baik, dan tilikan (insight) derajat 6, pasien merasa dirinya sakit dan butuh pengobatan. Taraf dapat dipercaya.

2. Perasaan terhadap pengalaman Pasien didiagnosis sebagai gangguan anxietas yang tak terinci dan mendapatkan pengobatan Alprazolam 0,5 mg 0-1-1. 3. Evaluasi Bagaimana penetapan kriteria diagnosis gangguan anxietas yang tak terinci pada pasien ini dan mengapa diberikan pengobtan tersebut. 4. Analisis Kecemasan dan rasa takut merupakan pengalaman yang sering dirasakan oleh manusia. Kecemasan merupakan emosi yang meningkatkan fungsi otonom sehingga badan lebih peka terhadap stimulus dari luar. Namun pada individu tertentu, terdapat rasa takut dan kecemasan yang berlebihan sehingga tubuh tidak mampu melakukan kompensasi karena fungsi tubuh yang terganggu. Gangguan anxietas berlaku apabila terjadinya hiperaktivitas dari fungsifungsi otonom, rasa seperti di ujung tanduk dan motorik yang tegang. Rasa kecemasan yang dialami pasien karena timbulnya kekhawatiran akibat permasalahan dengan tetangganya. Gejala-gejala gangguan anxietas yaitu hiperaktivitas otonom seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin, mual, dan susah tidur. Namun gejala ini tidak muncul setiap hari sehingga bisa disingkirkan dari gangguan cemas menyeluruh. Pasien juga tidak merasa cemas terhadap benda luar yang tidak membahayakan, maka bisa disingkirkan karena gejalanya yang tidak terlalu menonjol. Oleh karena itu, pasien didiagnosis sebagai gangguan anxietas ytt (F41.9). Pada pasien ini, terapi yang diberikan adalah aplrazolam karena selain efektif untuk anxietas dan mekanisme kerjanya yang lebih cepat, obat ini juga memiliki komponen efe antidepresi. merupakan obat anti ansietas dan anti panik yang efektif digunakan untuk mengurangi rangsangan abnormal pada otak, menghambat neurotransmitter

asam gama-aminobutirat (GABA) dalam otak sehingga menyebabkan efek penenang. Berikatan dengan reseptor benzodiasepin pada saraf post sinap GABA di beberapa tempat di SSP, termasuk sistem limbik dan formattio retikuler. Peningkatan efek inhibisi GABA menimbulkan peningkatan permiabilitas terhadap ion klorida yang menyebabkan terjadinya hiperpolarisasi dan stabilisasi. 5. Kesimpulan Pasien didagnosis sebagai gangguan anxietas yang tak terinci karena sesuai dengan kriteria diagnosis nya menurut ppdgj 3 dan diberikan pengobatan alprazolam sebagai salah satu pengobatan untuk anti cemas, namun perlu juga diberikan pengobatan lain yakni pengobatan non farmakologi seperti terapi suportif contohnya konseling.