Anda di halaman 1dari 8

Tugas Tulis : 1.

Pelajari UUPK, SJSN, dan JAMKESNAS UUPK : Pemerintah telah melengkapi seluruh peraturan pelaksanaan berkaitan dengan pembentukan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) sebagaimana didelegasikan dalam UU PK Pasal 82 : Dr, Drg (SP/SIP) STR ( Penyesuaian 2 Th sejak KKI dibentuk, 6 Oktober 2005 29 April 2007) Dr, Drg yg tidak memiliki SP/SIP Fotokopi Ijazah (legalisir) Dr Sp, Drg Sp yang tidak memiliki Ijazah Surat Keterangan Kolegium / OP.

SJSN : Pemerintah telah menetapkan:dalam Pasal 10 UU No. 40 Tahun 2004 (UU SJSN) : 1. Susunan Organisasi dan Tata Kerja, Tata Cara Pengangkatan, Penggatian, dan Pemberhentian Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional dengan Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2008 pada tanggal 24 Juni 2008, 2. Pengangkatan Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional dengan Keputusan Presiden No. 110/M Tahun 2008 pada tanggal 24 September 2008, dan 3. Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Jaminan Sosial Nasional denganPeraturan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 36/PER/MENKO/KESRA/X/2008 tertanggal 20 Oktober 2008. Ketiga peraturan tersebut mengatur lebih lanjut ketentuan Pasal 6, 7, 8, dan 9 UU SJSN yang berkaitan dengan pembentukan, fungsi, tugas, wewenang, dan organisasi DJSN. DJSN dibentuk dengan UU (Pasal 6 UU SJSN) untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan SJSN (Pasal 7 ayat (1) UU SJSN), serta berfungsi perumusan kebijakan umum dan sinkronisasi penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional (Pasal 7 ayat (2) UU SJSN). DJSN bertugas dalam (Pasal 7 ayat (3) UU SJSN): 1. melakukan kajian dan penelitian yang berkaitan dengan penyelenggaraan jaminan sosial; 2. mengusulkan kebijakan investasi Dana Jaminan Sosial Nasional; dan 3. mengusulkan anggaran jaminan sosial bagi penerima bantuan iuran dan tersedianya anggaran operasional kepada Pemerintah.

DJSN berwenang melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program jaminan sosial (Pasal 7 ayat (4) UU SJSN). Sebagai salah satu organ SJSN, DJSN memikul tugas dan wewenang yang berat. DJSN sebagai pembantu Presiden dalam merumuskan kebijakan umum dihadapkan pada ketentuan Pasal 52 ayat (2) UU SJSN yang menyatakan bahwa Semua ketentuan yang mengatur mengenai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial sebagaimana pada ayat (1) disesuaikan dengan Undang-undang ini paling lambat 5 (lima) tahun sejak Undang-undang ini diundangkan. Secara etimologis, pengertian disesuaikan pada ayat ini menyatakan bahwa semua ketentuan yang mengatur PT. (Persero) Jamsostek, PT. (Persero) Taspen, PT. (Persero) Asabri, dan PT. (Persero) Askes harus cocok, serasi atau selaras dengan UU SJSN. Maka bila tidak cocok/tidak sejalan dengan UU SJSN harus diganti/diubah. Sedangkan frasa semua ketentuan karena tidak ada penjelasan dalam UU SJSN harus disimpulkan dengan penafsiran sistimatik (satu kesatuan dan tidak bertentangan secara vertical dan horizontal). Maka pengertian secara luas semua ketentuan tersebut mencakup perubahan bentuk Persero menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, serta ketentuan/peraturan perundangan-undangan lain yang mengatur segala hal yang terkait dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan SJSN. Lebih lanjut Pemerintah bekerjasama dengan DJSN juga harus segera menyiapkan peraturan perundang-undangan pelaksanaan UU SJSN secara utuh dan benar. Terdapat 9 peraturan perundang-undangan pelaksanaan yang diamanatkan UU SJSN, yaitu: 1) Undang-Undang tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (UU BPJS); (2) Peraturan Pemerintah tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Sosial (PP PBIJS); (3) Peraturan Presiden terkait Jaminan Kesehatan (PerPres JK); 4) Peraturan Pemerintah terkait Jaminan Kecelakaan Kerja (PP JKK); 5) Peraturan Pemerintah terkait Jaminan Hari Tua (PP JHT); 6) Peraturan Pemerintah terkait Jaminan Pensiun (PP JP); 7) Peraturan Presiden terkait Jaminan Pensiun (PerPres JP); 8) Peraturan Pemerintah tentang Jaminan Kematian (PP JKm); 9) Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan Dana Jaminan Sosial (RPP PDJS). Dalam waktu yang bersamaan DJSN dituntut untuk merumuskan kebijakan umum dan sinkronisasi penyelenggaraan SJSN, serta tugas, dan wewenangnya. JAMKESMAS : Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) adalah program pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin yang sebelumnya disebut Asuransi Kesehatan untuk Masyarakat Miskin (Askeskin). Program yang dimulai pada tahun 2008 ini dilanjutkan pada tahun 2009 karena (menurut

pemerintah) terbukti meningkatkan akses rakyat miskin terhadap layanan kesehatan gratis. Program itu nantinya terintegrasi atau menjadi bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional yang bertujuan memberi perlindungan sosial dan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Jika Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) efektif diterapkan di Indonesia, program Jamkesmas akan disesuaikan dengan sistem itu. Salah satunya, pengaturan proporsi iuran pemerintah pusat dan daerah untuk pembiayaan pemeliharaan kesehatan rakyat miskin. Di sela-sela rapat dwibulanan warga RT 02C/03 Desa Gumpang, Kec. Kartasura, Kab. Sukoharjo (11/10/2009), ada pertanyaan dari warga (miskin) mengenai keberadaan Jamkesmas. Tentu saja pertanyaan itu terlontar karena di RT 02C/03 Gumpang tidak ada satupun warga yang mendapat Kartu Jamkesmas, padahal ada beberapa warga yang sebetulnya berhak untuk mendapatkan Jamkesmas. Menanggapi pertanyaan dan keluhan tersebut, Ketua RT, Bapak Ichwan Susilo, SE MSi mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan kepada pak Lurah Gumpang. Namun, jawaban yang didapat adalah daftar penerima Jamkesmas itu terbit sesuai usulan dari masyarakat. Pertanyaan pak RT kepada pak Lurah ini dikarenakan pada Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) tingkat desa pada awal tahun 2009, Pak RT pernah mengajukan berbagai usulan antara lain pengajuan 5 (lima) warga RT 02C/03 Gumpang, Kartasura untuk mendapatkan Jamkesmas. Namun sampai saat ini, 5 (lima) warga yang diusulkan itu belum mendapatkan Jamkesmas. Padahal, dari beberapa kali rapat RT diketahui bahwa masih ada beberapa warga RT 02C/03 Gumpang, Kartasura yang sebetulnya berhak mendapatkan Jamkesmas. Bila usulan yang dulu saja belum terpenuhi, bagaimana untuk mengusulkan yang lain lagi? Barangkali ada di antara sedulur sekalian yang mengetahui prosedur pengusulan Jamkesmas, mohon informasinya untuk saya teruskan kepada pak RT.

Tujuan Penyelenggaraan JAMKESMAS Tujuan Umum : Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. Tujuan Khusus : a. Meningkatnya cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu yang mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas serta jaringannya dan di Rumah Sakit b. Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin

c. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel Sasaran Sasaran program adalah masyarakat miskin dan tidak mampu di seluruh Indonesia sejumlah 76,4 juta jiwa, tidak termasuk yang sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya.

2. Pasal-pasal pada sumber diatas yang terkait dengan Liabilitas Medik:


Pasal-Pasal Tentang Kompetensi dalam UUPK 1. Ketentuan Umum : Pasal 1, butir 4 Sertifikat kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kemampuan seorang dokter ataudokter gigi untuk menjalankan praktik kedokteran di seluruh Indonesia setelah lulus uji Kompetensi. Pasal 1, butir 5 : Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap dokter dan dokter gigi yang telah memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi tertentu lainnya serta diakui secara hukum untuk melakukan tindakan profesinya. Pasal 1, butir 1 : Profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah suatu pekerjaan kedokteran atau kedokteran gigi yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan, kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat. 2. Tentang Tugas KKI Pasal 8, huruf C : Dalam menjalan kan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Konsil Kedokteran Indonesia mempunyai wewenang : mengesahkan standar kompetensi dokter dan dokter gigi. 3. Pendidikan Berkelanjutan Pasal 27 : Pendidikan dan pelatihan kedokteran atau kedokteran gigi, untuk memberikan kompetensi kepada dokter atau dokter gigi, dilaksanakan sesuai dengan standar pendidikan profesi kedokteran atau kedokteran gigi. 4. Registrasi Dokter Pasal 29, ayat 3 huruf D :

Untuk memperoleh surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi harus memenuhi persyaratan : Memiliki Sertifikat Kompetensi. 5. Dokter lulusan luar negeri Pasal 30, ayat 2 huruf B : Tentang evaluasi terhadap dokter dan dokter gigi lulusan luar negeri yang akan melaksanakan praktik kedokteran di Indonesia, meliputi: kemampuan untuk melakukan praktik kedokteran yang dinyatakan dengan surat keterangan telah mengikuti program adaptasi dan sertifikat kompetensi. 6. Wewenang Dokter Pasal 35, ayat 1: Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai wewenang melakukan praktik kedokteran sesuai dengan pendidikan dan Kompetensi yang dimiliki, yang terdiri atas: a. mewawancarai pasien b. memeriksa fisik dan mental pasien c. menentukan pemeriksaan penunjang d. menegakkan diagnosis e. menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien f. melakukan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi g. menulis resep obat dan alat kesehatan h. menerbitkan surat keterangan dokter atau dokter gigi i. menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan j. meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah terpencil yang tidak ada apotek. Penjelasan Pasal-pasal UUPK Tentang Kompetensi : Penjelasan umum, alinea 3: Landasan utama bagi dokter dan dokter gigi untuk dapat melakukan tindakan medis terhadap orang lain adalah ilmu pengetahuan, teknologi, dan kompetensi yang dimiliki, yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Pengetahuan yang dimilikinya harus terus menerus dipertahankan dan ditingkatkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Pasal 8, huruf C : Standar kompetensi disusun oleh asosiasi institusi pendidikan kedokteran dan asosiasi institusi pendidikan kedokteran gigi serta kolegium kedokteran dan kolegium kedokteran gigi.

Pasal 29, ayat 3, huruf D : Sertifikat kompetensi dikeluarkan oleh kolegium yang bersangkutan.

Nomor Peraturan Perundangan


UU No. 11 Tahun 1969 UU No. 8 Tahun 1974 UU No. 43 1999 PP No. 28 Tahun 2003 UU No. 2 Tahun 1992 UU No. 3 Tahun 1992 PP No. 14 Tahun 1993 jo. PP No. 79 Tahun 1998 jo. PP No. 83 Tahun 2000 jo. PP No. 64 Tahun 2005 PP No. 36 Tahun 1995 PP No. 22 Tahun 2004 UU No. 11 Tahun 1992 UU No. 23 Tahun 1992 PP No. 39 Tahun 1995 PP No. 32 Tahun 1996 PP No. 72 Tahun 1998 UU No. 13 Tahun 2003 UU No. 32 Tahun 2004 Perkara No. 007/PUU/III/2005

Tentang
Pensiun pegawai dan pensiun Janda/Duda Pegawai Pokok-Pokok Kepegawaian (dengan Perubahannya)

Subsidi Iuran Pemerintah dalam Penyelenggaraan Asuransi Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil dan Penerima Persiun Usaha Perasuransian Jaminan Sosial Tenaga Kerja

Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (dengan perubahannya

Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Pengelolaan Investasi Dana Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Dana Pensiun Kesehatan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Tenaga Kesehatan Pengamanan Sediaan Fasilitas dan Alat Kesehatan Ketenagakerjaan Pemerintahan Daerah Putusan Mahkamah Konstitusi tentang Permohonan Pengujian Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Peraturan Perundang-Undangan Terkait Jaminan Sosial

Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional PerPres RI No. 44 Tahun 2008 KepPres RI No. 110/M Tahun 2008 Peraturan Menko Kesra No. 36/PER/MENKO/KESRA/2008

3. Macam-macam Perusahaan Asuransi Kesehatan di Indonesia :


a. PT Askes Indonesia (Persero) b. PT. Allianz Utama Indonesia c. PT. Bumi Putera Muda 1967 d. Asuransi ASTRA CMG e. Asuransi AXA f. Asuransi ING g. Asuransi MULTI ARTHA GUNA h. Asuransi TUGU MANDIRI i. Asuransi AIG Life j. Asuransi Adira Dinamika k. Zurich Insurance Indonesia l. Asuransi Jasaraharja Putera m. Asuransi Jaya Proteksi n. Asuransi Mitsui Sumitomo Indonesia o. Asuransi Wahana Tata p. Asuransi Central Asia q. Asuransi AIUIndonesia r. Asuransi Tokio Marine Indonesia s. Asuransi Ramayana t. Asuransi Tri Pakarta u. Asuransi Jasa Indonesia v. Asuransi Sinar Mas w. Asuransi Raksa Pra Tikara x. Tugu Pratama Indonesia y. Asuransi Dayin Mitra

4. Hadist dan Ayat Al Quran tentang Asuransi dan hukum : * Hadist tentang asuransi dan hukum, yaitu dari Jabir bin Abdullah berkata :
"Rasullulah pernah berhutang kepadaku lalu beliau mengenbalikannya dengan tambahan". (HR.Bukhori, Muslim dan Ahmad) Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya lima perkara: muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati. . (HR Muslim)

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam suatu masyarakat ibarat suatu bangunan, dimana tiap bangunan saling mengokohkan satu sama lain. (HR. Bukhari)

*Al Quran tentang asuransi dan hukum, yaitu :

()
Arti : Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.(Q.S. Al Baqarah : 188).

5. Pendapat saya tentang etik dokter muslim tentang terjadinya Liabilitas Medik :
Menurut saya, Liabilitas Medik tidak baik untuk masyarakat umumnya. Sebagai dokter muslim harus bertindak berdasarkan kemanusiaan dan keadilan. Dokter dan pihak rumah sakit juga harus bersikap professional yang sesuai dengan etik profesi dan standar pelayanan yang baik sesuai dengan indikasi dan kebutuhan layanan medis untuk penyakit yang diderita pasien.