Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PENDAHULUAN 1.

Definisi Penyakit

Tumor buli adalah tumor yang berbentuk papiler, noduler (infiltratif), atau campuran infiltratif dengan papiler yang ditemukan pada vesika urinaria atau buli- buli (Yuda,2010).

Tumor buli-buli

atau tumor vesika urinaria merupakan 2% dari

seluruh keganasan, dan merupakan kedua terbanyak pada sistem urogenital setelah karsinoma prostat. Tumor buli berkembang dari sel epitel transisional dari saluran kemih (Brunner & Suddarth, 2002).

2. Etiologi a. Pekerjaan Pekerja-pekerja di pabrik kimia (terutama pabrik cat), laboratorium, pabrik berupa korek api, tekstil, pabrik kulit, dan pekerja pada dan 4salon/pencukur rambut sering terpapar oleh bahan karsinogen senyawa amin aromatik (2-naftilamin, bensidin, aminobifamil). b. Perokok Resiko untuk mendapatkan karsinoma buli-buli pada perokok adalah 2-6 kali lebih besar dibandingkan dengan bukan perokok. Rokok mengandung bahan karsinogen berupa amin aromatik dan nitrosamin. Dari beberapa penelitian berhasil menemukan adanya hubungan antara merokok dengan terjadinya tumor dan kanker bulibuli. Hubungan tersebut terjadi secara dose respons yang berarti bertambahnya jumlah rokok yang diisap akan meningkatkan resiko terjadinya kanker buli-buli 2-5 kali lebih besar dibandingkan dengan bukan perokok. Pada perokok ditemukan adanya peningkatan metabolitmetabolit triptopan yang berada dalam urinnya yang

bersifat karsinogenik. Selain itu iritasi jangka panjang pada selaput lendir kandung kencing seperti yang terjadi pada infeksi kronis, pemakaian kateter yang menetap dan adanya batu pada buli-buli, juga diduga sebagai faktor penyebab.

c. Infeksi saluran kemih Telah diketahui bahwa kuman-kuman E.coli dan Proteus spp

menghasilkan nitrosamin yang merupakan zat karsinogen.

d. Kopi, pemanis buatan, dan obat-obatan Kebiasaan mengkonsumsi kopi, pemanis buatan yang mengandung sakarin dan siklamat.

e. Riwayat

keluarga, kanker gen

orang-orang ini. Peneliti yang

yang

keluarganya

ada

yang

menderita kanker kandung kemih memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita perubahan sedang mungkin mempelajari meningkatkan adanya resiko tertentu

terjadinya kanker ini.

3. Manifestasi Klinis Perlu diwaspadai jika seorang pasien datang dengan mengeluh hematuria yang bersifat: (1) tanpa disertai rasa nyeri (painless), (2) kekambuhan (intermittent), dan (3) terjadi pada seluruh proses miksi (hematuria total). Meskipun seringkali karsinoma buli-buli tanpa disertai gejala disuria, tetapi pada karsinoma in situ atau karsinoma yang sudah mengadakan infiltrasi luas tidak jarang menunjukkan gejala iritasi buli-buli.Hematuria dapat menimbulkan retensi bekuan darah sehingga pasien datang meminta pertolongan karena lidak dapat miksi. Keluhan akibat penyakit yang telah

lanjut berupa gejala obstruksi saluran kemih bagian atas atau edema tungkai. Edema tungkai ini disebabkan karena adanya penekanan aliran limfe oleh massa tumor atau oleh kelenjar limfe yang membesar di daerah pelvis. Secara umum, manifestasi klinis tumor buli buli adalah sebagai berikut : 1. Kencing campur darah yang intermitten 2. Merasa panas waktu kencing 3. Merasa ingin kencing 4. Sering kencing terutama malam hari dan pada fase selanjutnya sulit kencing 5. Nyeri suprapubik yang konstan 6. Panas badan dan merasa lemah 7. Nyeri pinggang karena tekanan saraf 8. Nyeri pada satu sisi karena hydronephrosis.

4. Deskripsi Patofisiologi Buli buli (vesika urinaria)

Faktor gen Pekerjaan Usia ISK Kopi, pemanis buatan

Tumor Buli - Buli

Ulserasi immobilisasi penyakit Infeksi sekunder : Panas saat kelemahan fisik kencing Merasa panas dan tubuh lemas darah Hematuria menurun 1.Nyeri suprapubik 2.Nyeri pinggang

Metastase Oklusi ureter/pelvic renal Karena

Invasi pada bladder

Refluks

Sirkulasi Retensio urine: sulit kencing Hidronefrosis :

Hipoksia jaringan perifer Nyeri AKut resiko

Ginjal membesar

Nyer i Akut struktur

perubahan Penatalaksanaan Kulit

akibat penekanan

Daerah menonjol

Penatalaksanaan Lesi kulit dan Diversi urin dengan perubahan Perubahan status kesehatan Kemoterapi Efek kemoterapi Iritasi GI ulkus

Teknik vesicostomi Kurang paparan informasi akurat pigmentasi kulit Seputar prosedur pembedahan Luka insisi dekubitus Takut, gelisah Terputusnya kontinuitas jaringan Port the entry mo Akumulasi mikroorganisme di area luka adekuat Perawatan area insisi yang kurang steril Resti Infeksi Nyer i Akut
Ansiet as

Rangsang vomiting center Kerusaka Rangsang ujung syaraf Bebas di hipotalamus Nausea, n Vomitus Integritas Pengeluaran zat = zat vasoaktif Kulit (prostaglandin, serotonin) Anoreksia persepsikan nyeri asupan makanan tidak

Rangsang cortex serebri untuk

BB menurun Ketidakseimba ngan nutrisis: kurang dari kebutuhan tubuh

Luka akibat pembedahan dan adanya vesicostomy Hiperalbumin akibat Kehilangan cairan tubuh melalui luka, lumen buatan, kerusakan filtrasi glomerulus ataupun selang drainage Asupan nutrisi dan cairan tidak adekuat osmotik terganggu Malnutrisi shift cairan (CES dan CIS) Perpindahan shift cairan intravaskuler Respon tubuh berupa konjungtiva anemis, pucat ke interstitial dehidrasi gangguan renal tekanan koloid

Volume cairan menurun

Akumulasi cairan Edema Resiko Ketidakseimba ngan Volume Cairan Kelebihan Volume Cairan

5. Bentuk Tumor Buli Tumor buli-buli dapat berbentuk papiler, tumor non invasif (insitu), noduler (infiltratif) atau campuran antara bentuk papiler dan infiltratif.

Bentuk tumor buli-buli

Sebagian besar (90%) tumor buli-buli adalah karsinoma sel transisional. Tumor ini bersifat multifokal yaitu dapat terjadi di saluran kemih yang epitelnya terdiri atas sel transisional yaitu di pielum, ureter, atau uretra posterior; sedangkan jenis yang lainnya adalah karsinoma sel skuamosa (10%) dan adenokarsinoma (2%)

a. Adenokarsinoma Terdapat 3 grup adenokarsinoma pada buli-buli, di antaranya adalah: (1) Primer terdapat di buli-buli, dan biasanya terdapat di dasar dan di fundus buli-buli. Pada beberapa kasus sistitis glandularis kronis dan ekstrofia vesika pada perjalannya lebih lanjut dapat mengalami degenerasi menjadi adenokarsinoma buli-buli; (2) Urakhus persisten (yaitu merupakan sisa duktus urakhus) yang

mengalami degenerasi maligna menjadi adenokarsinoma; (3) Tumor sekunder yang berasal dari fokus metastasis dari organ lain, diantaranya adalah: prostat, rektum, ovarium, lambung, mamma, dan endometrium. Prognosis adenokarsinoma bulu-buli ini sangat jelek.

b. Karsinoma sel skuamosa Karsinoma sel skuamosa terjadi karena rangsangan kronis pada bulibuli sehingga sel epitelnya mengalami metaplasia berubah menjadi ganas. Rangsangan kronis itu dapat terjadi karena infeksi saluran kemih kronis, batu buli-buli, kateter menetap yang dipasang dalam jangka waktu lama, infestasi cacing Schistosomiasis pada buli-buli, dan pemakaian obat-obatan sikiofosfamid secara intravesika.

6. Klasifikasi Tumor Buli Penentuan deiajat invasi tumor berdasarkan sistem atau berdasarkan penentuan stadium dari Marshall seperti terlihat pada gambar 2 :

Secara lengkap klasifikasi DUKE-MASINA, JEWTT dengan modifikasi STRONG-MARSHAL untuk menentukan operasi atau observasi : 1. T = pembesaran lokal tumor primer, ditentukan melalui : Pemeriksaan klinis, uroghrafy, cystoscopy, pemeriksaan bimanual di bawah anestesi umum dan biopsy atau transurethral reseksi. No Kode 1 Tis Keterangan Carcinoma insitu (pre invasive Ca)

2 3 4 5 6

Tx To T1 T2 T3

Cara pemeriksaan untuk menetapkan penyebaran tumor, tak dapat dilakukan Tanda-tanda tumor primer tidak ada Pada pemeriksaan bimanual didapatkan masa yang bergerak Pada pemeriksaan bimanual ada indurasi daripada dinding buli-buli. Pada pemeriksaan bimanual indurasi atau masa nodular yang bergerak bebeas dapat diraba di bulibuli.

7 8 9

T3a T3b T4

Invasi otot yang lebih dalam Perluasan lewat dinding buli-buli Tumor sudah melewati struktur sebelahnya Tumor mengadakan invasi ke dalam prostate, uterus vagina Tumor sudah melekat pada dinding pelvis atau infiltrasi ke dalam abdomen

10 T4a 11 T4b

2. N = Pembesaran secara klinis untuk pemebesaran kelenjar limfe pemeriksaan kinis, lympgraphy, urography, operative No Kod e 1 2 3 4 5 6 Nx No N1 N2 N3 N4 Minimal yang ditetapkan kel. Lymfe regional tidak dapat ditemukan Tanpa tanda-tanda pemebsaran kelenjar lymfe regional Pembesaran tunggal kelenjar lymfe regional yang homolateral Pembesaran kontralateral atau bilateral atau kelenjar lymfe regional yang multiple Masa yang melekat pada dinding pelvis dengan rongga yang bebeas antaranya dan tumor Pemebesaran kelenjar lymfe juxta regional 3. M = metastase jauh termasuk pemebesaran kelenjar limfe yang jauh. Pemeriksaan klinis, thorax foto, dan test biokimia No KOD KET Keterangan

E 1 Mx Kebutuhan cara pemeriksaan minimal untuk menetapkan adanya metastase jauh, tak dapat dilaksanakan 2 3 4 5 6 M1 Adanya metastase jauh biokimia M1b Metastase tunggal dalam satu organ yang tunggal M1c Metastase multiple dalam satu terdapat organ yang multiple M1d Metastase dalam organ yang multiple M1a Adanya metastase yang tersembunyi pada test-test

Sedangkan, tipe tumor didasarkan pada type selnya, tingkat anaplasia dan invasi. 1 Efidermoid Ca Kira-kira 5% neoplasma buli-buli squamosa cell, anaplastik, invasi yang dalam dan cepat metastasenya 2 3 Adeno Ca Rhabdomyo sarcoma 4 Sangat jarang dan sering muncul pada bekas urachus Sering terjadi pada anak-anak laki-laki (adolescent), infiltasi, metastase cepat dan biasanya fatal Primary Malignant Neurofibroma dan pheochromacytoma, lymphoma 5 dapat menimbulkan serangan hipertensi selama kencing Ca dari pada kulit, Mungkin mengadakan metastase ke buli-buli, melanoma, lambung, paru dan mammae invasi ke buli-buli oleh endometriosis dapat terjadi

7. Komplikasi 1) Hematuria yang terus menerus akan menyebabkan terjadinya anemia pada pasien

2) Apabila terjadi penyumbatan atau obstruksi,maka akan menyebabkan terjadinya refluks vesiko-ureter, hidronefrosis. 3) Jika terjadi infeksi, akan menyebabkan terjadinya kerusakan pada ginjal, yang lama kelamaan mengakibatkan gagal ginjal.

8. Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan Hb Hb menurun oleh karena kehilangan darah, infeksi, uremia, gros atau micros hematuria b. Pemeriksaan Leukosit - Leukositosis bila terjadi infeksi sekunder dan terdapat pus dan bakteri dalam urine - Acid phospatase meningkat; kanker prostat metastase, - Alkaline phosphatase meningkat; kanker tulang atau metastase ke tulang, kanker hati, lymphoma, leukemia. - Calsium meningkat; metastase tulang, kanker mamae, leukemia, lymphoma, multiple myeloma, kanker; paru, ginjal, bladder, hati, paratiroid. - LDH meningkat; kanker hati, metastase ke hati, lymphoma, leukemia - Testosteron meningkat; kanker adrenal, ovarium Selain pemeriksaan laboratorium rutin, diperiksa pula: (1) sitologi urine yaitu pemeriksaan sel-sel urotelium yang terlepas bersama urine, (2) antigen permukaan sel (cell surface antigen), dan flow cytometri yaitu mendeteksi adanya kelainan kromosom sel-sel urotelium. 9. Pemeriksaan Penunjang a. Radiologi excretory urogram biasanya normal, tapi mungkin dapat menunjukkan tumornya. - Fractionated cystogram adanya invasi tumor dalam dinding buli-buli akut - SGPT (AST), SGOT (ALT) meningkat; kanker metastase ke hati.

-Angography untuk mengetahui adanya metastase lewat pembuluh lymphe b. Cystocopy dan biopsy Cystoscopy hampir selalu menghasilkan tumor. Biopsi dari pada lesi selalu dikerjakan secara rutin. c. Cystologi Pengecatan pada sedimen urine terdapat transionil cel daripada tumor e. Ultrasonografi Untuk mendeteksi metastasis di luar kandung kemih, membedakan tumor dari kista. f. Arteriografi Pelvik Pemeriksaan untuk memastikan invasi tumor ke dalam dinding kandung kemih g. Urografi Ekskretori Untuk mengenali tumor stadium dini yang besar atau tumor yang sedang berinfiltrasi. h. Sistografi Retrograd Untuk mengetahui perubahan pada struktur kandung kemih dan keutuhan dindingnya i. Pencitraan Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan suatu pemeriksaan imaging yang cukup akurat dan non-invasif dalam mendiagnosis tumor buli, terutama dalam mengevaluasi perluasan tumor. MRI dapat mendeteksi tumor dengan ukuran 1,5 cm. Walaupun dikatakan bahwa MRI konvensional kurang akurat dalam mendeteksi suatu karsinoma insitu dan membedakan antara invasi mukosa, submukosa clan muskularis superfisial. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian kontras (gadolinium-enhanceddynamic MRI). Akurasi MRI dalam mengevaluasi staging dari karsinoma buli sekitar kurang lebih 85%. MRI dikatakan lebih unggul daripada CT-Scan dan Ultrasonografi (USG). MRI dapat memperlihatkan tumor intramural, meskipun buli tidak terdistensi maksimal. Hal ini tidak bisa dievaluasi dengan CT-Scan dan USG. Selain itu MRI dapat memperlihatkan adanya pembesaran kelenjar limfe.

Tavqes NJ dkk (1990) melaporkan bahwa MRI dalam mendeteksi karsinoma buli yang invasif ke muskularis mempunyai sensitivitas 97%, spesifisitas 83% dan akurasi 94%. Penggunaan MRI untuk deteksi karsinoma buli yang ekstensi ke ekstravesikal didapatkan sensitivitas 95%, spesifisitas 100% dan akurasi 97%. USG transabdominal dengan menggunakan tranducer 3,5-5,O mHz dapat mengevaluasi dinding buli pada keadaan buli terisi penuh (distended). USG berguna dalam menentukan tumor buli dan dapat menunjukkan perluasan ke ruang perivesikal atau organ yang berdekatan. Pemeriksaan PIV dapat mendeteksi adanya tumor buli-buli berupa filling defect dan mendeteksi adanya tumor sel transisional yang berada di ureter atau pielum. Didapatkannya hidroureter atau hidroneftosis merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi tumor ke ureter atau muara ureter. CT scan atau MRI berguna untuk menentukan ekstensi tumor ke organ sekitarnya. 10. Penatalaksanaan Medis/Operatif

1. Diversi Urine Prosedur diversi urin dilakukan untuk mengalihkan aliran urin dari kandung kemih ke tempat keluar yang baru, biasanya melalui lubang yang dibuat lewat pembedahan pada kulit (stoma). kategori diversi urin yaitu : a) Diversi Ureteroenterokutaneus (bagian dari intestinum digunakan untuk membuat tempat penampungan urin yang baru) Saluran Konvensional Ureter dicangkok pada suatu bagian ileum terminalis yang diisolir (ileal conduit) dan kemudian salah satu ujung lintasan dihubungkan dengan dinding abdomen. Ureter juga dapat dicangkok pada kolon sigmoid yang melintang (colon conduit), atau pada jejenum pars proksimal (jejunal conduit). Terdapat dua

Continent Ileal Urinary Reservoir (Kock Pouch) Ureter dicangkokkan pada suatu segmen ileum yang sudah diisolir (katong ; pouch) dengan katup satu arah yang bentuknya menyerupai puting sus, urin dialirkan keluar melalui kateter.

Ureterosigmoidostomi Merupakan implantasi ureter ke dalam kolon sigmoid, dimana ureter dimasukkan ke dalam sigmoid dan dengan demikian urin dapat mengalir lewat kolon serta keluar dari rektum.

b) Diversi Kutaneus (urin dialirkan lewat sebuah lubang yang dibuat pada dinding abdomen serta kulit)

Ureterostomi Kutaneus Ureter yang dipotong didekatkan pada dinding abdomen dan dihubungkan dengan lubang pada kulit

Vesikostomi Tindakan ini dengan cara kandung kemih dijahit pada dinding abdomen dan dibuat lubang (stoma) lewat dinding abdomen serta kandung kemih untuk pengaliran ke luar (drainase) urin.

Nefrostomi Kateter disisipkan ke dalam pelvis renis lewat luka insisi pada pinggang atau dengan pemasangan kateter perkutan ke dalam ginjal.

2. Diversi urine Orthotopic Teknik membuat neobladder dan segmen usus yang kemudian dilakukan anastomosis dengan uretra. Teknik ini dirasa lebih fisiologis untuk pasien, karena berkemih melalui uretra dan tidak memakai stoma yang dipasang di abdomen. Teknik ini pertama kali dan diperkenalkan oleh Camey dengan berbagai kekurangannya

kemudian disempurnakan oleh Studer dan Hautmann.

11.

Penatalaksanaan Keperawatan a. Pengkajian

a) Identitas Yang paling sering dijangkiti kanker dari alat perkemihan adalah buli-buli. Kanker Buli-buli terjadi tiga kali lebih banyak pada pria dibandingkan pada wanita, dan tumor-tumor multipel juga lebih sering, kira-kira 25% klien mempunyai lebih dari satu lesi pada satu kali dibuat diagnosa. b) Riwayat keperawatan Keluhan penderita yang utama adalah mengeluh kencing darah yang intermitten, merasa panas waktu kening. Merasa ingin kencing, sering kencing terutama malam hari dan pada fase selanjutnya sukar kencing, nyeri suprapubik yang konstan, panas

badan dan merasa lemah, nyeri pinggang karena tekanan saraf, dan nyeri pada satu sisi karena hydronephrosis. c) Pengkajian Fokus 1. Aktivitas dan Istirahat Gejala : merasa lemah dan lelah Tanda : perubahan kesadaran 2. Sirkulasi Gejala : Perubahan tekanan darah atau normal Tanda : tekanan darah meningkat, bradikardia atau takikardia 3. Integritas Ego Gejala : Perubahan tingkah laku Tanda : cemas, mudah tersinggung 4. Eliminasi Gejala : Perubahan saat BAK Tanda : Nyeri saat BAK, hematuria 5. Makanan dan Cairan Gejala : Mual, muntah Tanda : mual 6. Nyeri/keamanan Gejala : Sakit pada area abdomen Tanda : wajah menyeringai, respon menarik diri dari stimulus nyeri 7. Interaksi sosial Gejala :Perubahan interaksi dengan orang lain

Tanda :Rasa tak berdaya, menolak anak ini 8. Keamanan Gejala : Trauma baru Tanda : Terjadi kekambuhan baru

d) Pemeriksaan fisik dan klinis Inspeksi , tampak warna kencing campur darah, pembesaran suprapubic bila tumor sudah besar. Palpasi, teraba tumor masa suprapubic, pemeriksaan bimanual teraba tumor pada dasar bulibuli dengan bantuan general anestesi baik waktu VT atau RT

Lakukan inspeksiabdomen bagian bawah, kandung kemih adalah organ berongga yang mampu membesar u/ mengumpulkan dan mengeluarkan urin yang dibuat ginjal, selanjutnya perkusi dengan cara pasien dalam posisi terlentang, perkusi dilakukan dari arah depan, lakukan pengetukan pada daerah kandung kemih, daerah suprapubik. Kemudian lakukan palpasi kandung kemih pada daerah suprapubis dimana normalnya kandung kemih terletak di bawah simfibis pubis tetapi setelah membesar meregang ini dapat terlihat distensi pada area suprapubis. Bila kandung kemih penuh akan terdengar dullness atau redup. Pada kondisi yang berarti urin dapat dikeluarkan secara lengkap pada kandung kemih. Kandung kemih tidak teraba. Bila ada obstruksi urin normal maka urin tidak dapat dikeluarkan dari kandung kemih maka akan terkumpul. Hal ini mengakibatkan distensi kandung kemih yang bias di palpasi di daerah suprapubis e) Pemeriksaan pembantu

Tes buli-buli : dengan cara buli-buli dikosongkan dengan kateter, lalu dimasukkan 500 ml larutan garam faal yang sedikit melebihi kapasitas buli-buli, kemudian kateter di klem sebentar, lalu dibuka kembali, bila selisihnya cukup besar mungkin terdapat rupture buli-buli.

12.

Analisa Data a. Analisa Data Pre Operatif dan Post Operatif

Symptom DO : a. Berat badan meningkat pada waktu yang singkat b. Asupan berlebihan dibanding output c. Tekanan darah berubah, tekanan arteri pulmonalis berubah, peningkatan CVP d. Distensi vena jugularis e. Perubahan pada pola nafas, dyspnoe/sesak nafas, orthopnoe, suara nafas abnormal (Rales atau crakles), kongestikemacetan paru, pleural effusion f. Hb dan hematokrit menurun, perubahan elektrolit, khususnya perubahan berat jenis g. Suara jantung SIII h. Reflek hepatojugular positif i. Oliguria, azotemia Perubahan status mental, kegelisahan, kecemasan DO : 1. Laporan secara verbal atau non verbal 2. Fakta dari observasi 3. Gerakan melindungi 4. Tingkah laku berhati-hati 5. Muka topeng 6. Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai). 7. Terfokus pada diri sendiri . 8. Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir,

Etiologi PRE OPERATIF Hiperalbumin akibat kerusakan filtrasi glomerulus Tekanan koloid osmotik terganggu

Problem Kelebihan Volume Cairan

Gangguan shift cairan tubuh

Perpindahan shift cairan dari intravsakular ke interstitial Akumulasi cairan

Edema Kelebihan Volume Cairan

Tumor Buli

Nyeri Akut

Ulserasi Oklusi

Metastase

Infeksi sekunder : Refluks - Panas saat - kencing Merasa Hidronefrosis dan tubuh lemas - Hematuria

panas

Nyeri suprapubik dan nyeri

13.

Diagnosa Keperawatan Prioritas Pre - Operatif

a. Kelebihan

volume

cairan

berhubungan

dengan

terganggunya

mekanisme regulasi di renal b. Nyeri (akut) berhubungan dengan proses penyakit, penekanan atau kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem suplai syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi c. Ansietas berhubungan dengan situasi krisis (tumor), perubahan kesehatan, kurangnya paparan informasi akurat seputar rencana tindakan pembedahan.

Post - Operatif d. Nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat pembedahan e. Kerusakan integritas kulit b.d destruksi mekanis jaringan sekunder terhadap tekanan, gesekan dan fraksi akibat immobilisasi f. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan hipermetabolik yang berhubungan dengan tumor, efek kemoterapi, radiasi, pembedahan (anoreksia, iritasi lambung, kurangnya rasa pengecapan, nausea), emotional distress, fatigue, ketidakmampuan mengontrol nyeri . g. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya

pertahanan tubuh sekunder dan sistem imun (efek kemoterapi atau radiasi), malnutrisi, prosedur invasif, ketidakcukupan pengetahuan untuk menghindari paparan patogen, perawatan luka pasca pembedahan yang kurang tepat.

14.

Rencana Asuhan Keperawatan Pre Operatif Perencanaan Intervensi (NIC) 1. Electrolit and acid base balance : Fluid Management 2. Fluid Monitoring

N o 1.

Diagnosa Keperawatan Kelebihan volume cairan berhubungan terganggunya mekanisme regulasi di renal ditandai dengan : DO : a. Berat badan meningkat pada waktu yang singkat b. Asupan berlebihan dibanding output c. Tekanan darah berubah, tekanan arteri pulmonalis berubah, peningkatan CVP d. Distensi vena jugularis e. Perubahan pada pola nafas, dyspnoe/sesak nafas, orthopnoe, suara nafas abnormal (Rales atau crakles), kongestikemacetan paru, pleural effusion dengan

Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Jangka Panjang : Kelebihan Volume cairan tidak terjadi Jangka Pendek : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 4 x 24 jam, keseimbangan cairan dapat tercapai dengan kriteria hasil : 1. Terbebas dari edema, efusi, anaskara 2. Bunyi nafas bersih, tidak ada dyspneu/ortopneu 3. Terbebas dari distensi vena jugularis, reflek hepatojugular (+) 4. Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output jantung dan vital sign dalam batas normal

Aktivitas (NIC) 1. Fluid management a. Timbang popok/pembalut jika diperlukan b. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat c. Pasang urin kateter jika diperlukan d. Monitor hasillAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN ,Hmt , osmolalitas urin ) e. Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP, PAP, dan PCWP f. Monitor vital sign g. Monitor indikasi retensi / kelebihan cairan (cracles, CVP ,edema, distensi vena leher, asites) h. Kaji lokasi dan luas edema i. Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian j. Monitor status nutrisi k. Berikan diuretik sesuai interuksi l. Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatrermi dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l m. Kolaborasi dokter jika tanda

f. Hb dan hematokrit menurun, perubahan elektrolit, khususnya perubahan berat jenis g. Suara jantung SIII h. Reflek hepatojugular positif i. Oliguria, azotemia j. Perubahan status mental, kegelisahan, kecemasan

5. Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau kebingungan

cairan berlebih muncul memburuk. 2. Fluid Monitoring a. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminaSi b. Tentukan kemungkinan faktor resiko dari ketidak seimbangan cairan (Hipertermia, terapi diuretik, kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati, dll ) c. Monitor berat badan d. Monitor serum dan elektrolit urine e. Monitor serum dan osmilalitas urine f. Monitor BP, HR, dan RR g. Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan irama jantung h. Monitor parameter hemodinamik infasif i. Catat secara akurat intake dan output j. Monitor adanya distensi leher, rinchi, eodem perifer dan penambahan BB k. Monitor tanda dan gejala dari edema

2.

Nyeri berhubungan proses

(akut) Jangka Panjang : Nyeri teratasi dengan

1. Pain Level 2. Pain control 3. Comfort level

penyakit, Jangka Pendek Setelah dilakukan penekanan atau tindakan keperawatan kerusakan jaringan 2x24 jam, nyeri dapat teratasi dengan kriteria syaraf, infiltrasi sistem hasil : suplai syaraf, obstruksi 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu jalur syaraf, inflamasi penyebab nyeri, ditandai dengan : mampu menggunakan tehnik DO : nonfarmakologi Laporan secara verbal untuk mengurangi atau non verbal nyeri, mencari Fakta dari observasi bantuan) Gerakan melindungi Tingkah laku berhati-hati 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang Muka topeng dengan Gangguan tidur (mata menggunakan sayu, tampak capek, manajemen nyeri sulit atau gerakan 3. Mampu mengenali kacau, menyeringai). nyeri (skala, Terfokus pada diri intensitas, frekuensi sendiri . dan tanda nyeri) Fokus menyempit 4. Menyatakan rasa (penurunan persepsi nyaman setelah waktu, kerusakan proses nyeri berkurang berpikir, penurunan 5. Tanda vital dalam interaksi dengan orang rentang normal dan lingkungan). Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan,

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien 4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri 5. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau 6. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau 7. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan 8. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan 9. Kurangi faktor presipitasi nyeri 10.Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal) 11.Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi 12.Ajarkan tentang teknik non farmakologi 13.Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 14.Evaluasi keefektifan kontrol nyeri

menemui orang lain dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang) Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil). Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku). Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah) . Perubahan dalam nafsu makan dan minum DS : Klien dirasakan mengatakan

15.Tingkatkan istirahat 16.Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil 17.Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri Analgesic Administration 18.Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat 19.Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi 20.Cek riwayat alergi 21.Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu 22.Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri 23.Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal 24.Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur 25.Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali 26.Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat 27. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

secara verbal nyeri yang

3.

Ansietas dengan (tumor),

berhubungan Jangka Panjang : Ansietas dapat teratasi situasi krisis

perubahan Jangka Pendek : Setelah dilakukan kesehatan, kurangnya asuhan keperawatan paparan informasi selama 1x24 jam, ansietas dapat diatasi akurat seputar rencana dengan kriteria hasil : tindakan pembedahan 1. Klien mampu mengidentifikasi ditandai dengan : dan mengungkapkan DO : gejala cemas Gelisah 2. Mengidentifikasi, Insomnia mengungkapkan Resah dan menunjukkan Ketakutan tehnik untuk Sedih mengontol cemas Fokus pada diri 3. Vital sign dalam Kekhawatiran batas normal Cemas 4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan

1. 2. 3. 4.

Anxiety control Anxiety Reduction Coping Impulse control

1. Gunakan pendekatan yang menenangkan 2. Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien 3. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur 4. Pahami perspektif pasien terhadap situasi stres 5. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut 6. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis 7. Dorong keluarga untuk menemani anak 8. Lakukan back / neck rub 9. Dengarkan dengan penuh perhatian 10.Identifikasi tingkat kecemasan 11.Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan 12.Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi 13.Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi 14.Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi kecemasan.

Post Operatif N o Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil 1. Nyeri (akut) berhubungan dengan terputusnya (NOC) Jangka Panjang : Nyeri teratasi 1.Pain Level 2.Pain control 3.Comfort level 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien. 4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri. 5. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau 6. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau. 7. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan 8. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan 9. Kurangi faktor presipitasi nyeri Perencanaan Intervensi (NIC)

Aktivitas (NIC)

kontinuitas jaringan akibat Jangka Pendek Setelah dilakukan pembedahan ditandai tindakan dengan : keperawatan 2x24 jam, nyeri dapat teratasi dengan DO : kriteria hasil : 1. Laporan secara verbal 1. Mampu atau non verbal mengontrol 2. Fakta dari observasi nyeri (tahu 3. Gerakan melindungi penyebab nyeri, 4. Tingkah laku berhatimampu hati menggunakan 5. Muka topeng tehnik 6. Gangguan tidur (mata nonfarmakologi sayu, tampak capek, untuk sulit atau gerakan mengurangi kacau, menyeringai). nyeri, mencari 7. Terfokus pada diri bantuan) sendiri . Melaporkan 8. Fokus menyempit 2. bahwa nyeri (penurunan persepsi berkurang waktu, kerusakan

proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan). 9. Tingkah laku distraksi, 3. contoh : jalan-jalan, menemui orang lain dan/atau aktivitas, aktivitas berulangulang) 10. Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil). 4. 11. Perubahan autonomik dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku). 12. Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah) . 13. Perubahan dalam nafsu makan dan minum DS : Klien mengatakan secara verbal nyeri

dengan menggunakan manajemen nyeri. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri).Menyatak an rasa nyaman setelah nyeri berkurang. Tanda vital dalam rentang normal

10.Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal). 11.Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi. 12.Ajarkan tentang teknik non farmakologi 13.Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 14.Evaluasi keefektifan kontrol nyeri 15.Tingkatkan istirahat 16.Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil 17.Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri Analgesic Administration 18.Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat 19.Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi 20.Cek riwayat alergi 21.Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu 22.Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri 23.Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal 24.Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur

25.Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali 26.Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat 27. Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

2.

Kerusakan integritas kulit Tujuan Jangka Panjang : b.d destruksi mekanis Kerusakan integritas jaringan sekunder terhadap kulit tidak terjadi tekanan, Jangka Pendek: fraksi akibat immobilisasi Setelah dilakukan asuhan keperawatan ditandai dengan : 3 x 24 jam gesekan dan

1. Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes Management

2. Wound Healing : Primer and Secunder

1. Kaji kondisi luka (lokasi, kedalaman, karakteristik, warna, cairan, granulasi, jaringan nekrotik, tanda tanda infeksi lokal) 2. Monitor kulit akan adanya kemerahan 3. Monitor status nutrisi pasien 4. Lakukan teknik perawatan luka dengan steril 5. Ajarkan pada keluarga tentang

DO : a. Gangguan pada bagian tubuh b. Perubahan kulit c. Kerusakan lapisan kulit (dermis) d. Gangguan permukaan kulit (epidermis) pigmentasi

kerusakan integritas kulit dapat diatasi dengan kriteria hasil : 1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) 2. Tidak ada luka/lesi pada kulit 3. Perfusi jaringan baik. 4. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang. 5. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami 6. Menunjukkan proses penyembuhan luka

3. Pressure Management

perawatan luka 6. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering 7. Berikan perawatan kulit untuk mencegah kerusakan kulit. 8. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar 9. Hindari kerutan pada tempat tidur 10. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali 11. Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan

3.

Ketidakseimbangan nutrisi, Jangka Panjang: 1. Nutritional Status : food Ketidakseimbangan and Fluid Intake kurang dari kebutuhan nutrisi teratasi 2. Nutrition Management tubuh b.d hipermetabolik Jangka Pendek : yang berhubungan dengan Setelah dilakukan tumor, efek kemoterapi, tindakan keperawatan 3x24 radiasi, pembedahan jam pola nutrisi (anoreksia, iritasi lambung, kembali normal dengan kriteria hasil kurangnya rasa : pengecapan, nausea), 1. Adanya peningkatan emotional distress, fatigue, berat badan ketidakmampuan sesuai dengan tujuan mengontrol nyeri ditandai 2. Berat badan ideal dengan: sesuai dengan tinggi badan 3. Mampu DO : mengidentifikasi kebutuhan nutrisi - Berat badan 20 % atau 4. Tidak ada tanda tanda malnutrisi lebih di bawah ideal 5. Tidak terjadi - Dilaporkan adanya penurunan berat intake makanan yang badan yang kurang dari RDA berarti (Recomended Daily Allowance) - Membran mukosa dan konjungtiva pucat - Kelemahan otot yang digunakan untuk menelan/mengunyah

1. Kaji adanya alergi makanan 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien. 3. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe 4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C 5. Berikan substansi gula 6. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi 7. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi) 8. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian. 9. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori 10. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi 11. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan Nutrition Monitoring 1. BB pasien dalam batas normal 2. Monitor adanya penurunan berat badan 3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan 4. Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan 5. Monitor lingkungan selama makan

Luka, inflamasi pada rongga mulut Mudah merasa kenyang, sesaat setelah mengunyah makanan Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan Miskonsepsi Kehilangan BB dengan makanan cukup Keengganan untuk makan Kram pada abdomen Tonus otot jelek Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi Kurang berminat terhadap makanan Pembuluh darah kapiler mulai rapuh Diare dan atau steatorrhea Kehilangan rambut yang cukup banyak (rontok) Suara usus hiperaktif Kurangnya informasi, misinformasi

6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan 7. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi 8. Monitor turgor kulit 9. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah 10.Monitor mual dan muntah 11.Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht 12.Monitor makanan kesukaan 13.Monitor pertumbuhan dan perkembangan 14.Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva 15.Monitor kalori dan intake nuntrisi 16.Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral. 17.Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

4.

Resiko

tinggi

infeksi Jangka Panjang : Infeksi tidak terjadi Jangka Pendek :

berhubungan dengan tidak adekuatnya imun (efek pertahanan tubuh sekunder dan sistem

1. Knowledge : Infection Control 2. Infection Protection 3. Risk Control

1.

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

kemoterapi Setelah dilakukan tindakan atau radiasi), malnutrisi, keperawatan 3 x 24 prosedur invasif, jam, resiko infeksi dapat teratasi ketidakcukupan dengan kriteria hasil pengetahuan untuk : menghindari patogen, 1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi pasca pembedahan yang 2. Mendeskripsikan kurang tepat ditandai proses penularan penyakit, factor dengan : yang mempengaruhi DO : penularan serta penatalaksanaann - Prosedur Infasif ya, - Ketidakcukupan 3. Menunjukkan kemampuan pengetahuan untuk untuk mencegah menghindari paparan timbulnya infeksi 4. Jumlah leukosit patogen dalam batas - Trauma normal - Kerusakan jaringan dan 5. Menunjukkan perilaku hidup peningkatan paparan sehat perawatan luka paparan

10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Kaji kondisi luka secara komprehensif (lokasi, derajat, kedalaman, karakteristik luka, penyebaran) Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase Kaji tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal Berikan perawatan kulit pada area yang luka dengan teknik steril Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain Monitor hitung granulosit, WBC Monitor kerentanan terhadap infeksi Batasi pengunjung bila perlu Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien Cuci tangan sebelum dan setelah kontak dan melakukan tindakan Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi Ajarkan klien cara menghindari infeksi dengan cuci tangan dengan teknik yang tepat. Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat Tingkatkan intake nutrisi Dorong intake nutrisi dan cairan yang adekuat Dorong istirahat yang adekuat

lingkungan Ruptur membran amnion Agen farmasi (imunosupresan) Malnutrisi Peningkatan paparan lingkungan patogen Imonusupresi Ketidakadekuatan imum buatan Tidak adekuat pertahanan sekunder (penurunan Hb, Leukopenia, penekanan respon inflamasi) Tidak adekuat pertahanan tubuh primer (kulit tidak utuh, trauma jaringan, penurunan kerja silia, cairan tubuh statis, perubahan sekresi pH, perubahan peristaltik)

6. Status imun, gastriintestinal, genitourinasria dalam batas normal.

17. Kolaborasi pemberian antibiotik dan antiinflamasi

Penyakit kronik

15.

Daftar Referensi

Anonim.2012. Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Tumor Vesika Urianaria. Diakses Pada 14 Februari 2013. www.ilmubedah.com. Brunner & Suddarth.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta : EGC Bulechet, Gloria et. Al. 2004. Nursing Interventions Clasification (NIC) Fouth Edition. Mosby, Inc Johnseon, Marion et al. 2000. Nursing Outcome Classification (NOC) second edition. Mosby, Inc Kowalak, J., et al. 2011. Buku Ajar Patofisiologi.Jakarta : EGC Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : FKUI

Nanda. 2005. Nursing Diagnosis : Definition dan Classification . Alih Bahasa Ani Haryani. Bandung: Akper Aisyiah. Rizki. 2003. Mengenal Penyakit Tumor Buli Buli. Diakses Pada 14 Februari 2013. http://www.nursingbegin.com Yuda. 2010. Penyakit Tumor Kandung Kemih . Diakses Pada 14 Februari 2013. http://dokterdabedah.com.