Anda di halaman 1dari 22

Blood Gases (Analisa Gas Darah)

Zulfikar Lubis dan Burhanuddin Nasution

Kegunaan/Tujuan: Untuk mengetahui, 1. Status keseimbangan asam-basa 2. Alveolar ventilasi 3. Oxigen status 4. Oxigen transport 5. Carboxy hemoglobin

Transport oxygen oleh haemoglobin

Kandungan oksigen didarah dipengaruhi oleh 1. Jumlah oksigen yang terlarut. 2. Kadar haemoglobin 3. Affinitas hemoglobin terhadap oksigen

Parameter yang diperiksa langsung melalui elektroda: pH, pO2, pCO2. Parameter yang dihitung melalui formula: Bicarbonat, BE, t CO2, Oxygen content dan oxygen saturasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi affinitas haem terhadap oksigen.

1. pH darah. Apabila pH turun maka affinitas terhadap oksigen juga menurun (Bohr Effect). Pada deoxygenated haemoglobin, affinitas pengikatan H jauh lebih kuat sehingga terjadi peningkatan kapasitas buffer haemoglobin didarah vena.

2. 2,3-Diphosphoglycerate. 2,3 DPG yang terbentuk selama proses glikolisis akan bertambah banyak di eritrosit (haem) sehingga oxygen yang dilepas semakin banyak.
Peningkatan H (pH) dan penurunan konsentrasi 2,3 DPG akan mengurangi tissue oxygenation. 2,3 DPG akan meningkat pada anemia dan hypoxia kronik.

Pertukaran gas di alveoli pada berbagai penyakit tidak selalu, penurunan pO2 disertai peningkatan pCO2.
Low pO2 dengan low atau normal pCO2 Pulmonary oedem(diffusion defect) Lobar pneumonia Pulmonary collapse Pulmonary fibrosis

Low pO2 dengan high pCO2 Gangguan Chest movement Chest injury Ankylosing spondylitis Gross obesity Airway obstruction COPD Severe Asthma Laryngeal spasm Bronchopneumonia Pulmonary collaps `Pulmonary fibrosis

Sample untuk blood gasses - Darah arteri - Anticoagulant heparin - Hindarkan tercemar udara - Sesegera mungkin diperiksa untuk meminimalkan anaerobic metabolism eritrosit

Gangguan keseimbangan asam basa Asidosis (pH < 7,36) Kelainan primer: - Respiratorik - Metabolik
Alkalosis (pH > 7,44) Kelainan primer: - Respiratorik - Metabolik

Karakteristik gangguan keseimbangan asam basa


Type gangguan Perobahan utama Respon sekunder Mek. Respon sekunder

Met. asidosis
Met. Alkalosis Resp. asidosis Resp. alkalosis

HCO3
HCO3 pCO2 pCO2

pCO2
pCO2 HCO3 HCO3

Hyperventilasi
Hypoventilasi acid titration of tissue buffer alkalin titration of tissue buffer

Status gangguan keseimbangan asam-basa

Kompensasi terhadap acidemia: alveolar hyperventilasi dan loss CO2 sehingga terjadi penurunan pCO2. Anion Gap: (Na + K ) CL + HCO3.

Penyebab met.asidosis, antara lain: Anion gap - gagal ginjal / insuffisiensi ginjal - diabetik ketoasidosis - Laktat asidosis Anion gap normal - Renal tubular asidosis - Diare

Metabolik alkalosis (pH, bicarbonat) Kompensasi terhadap alkalemia: Alveolar hypoventilation dan retensi CO2 agar terjadi peningkatan pCO2. Sering dijumpai pada, vomiting/gastric suction, penurunan kadar ion K atau ion Cl, sirosis hati dengan asites, Transfusi darah massive dan corticoid excess.

Respirasi asidosis Terjadi penurunan alveolar ventilation dan hypercapnea yang lama, sehingga terjadi retensi CO2. Kompensasi berupa peningkatan konsentrasi bicarbonat.

Respirasi alkalosis terjadi ketika ada peningkatan alveolar ventilation dan hypocapnea yang lama . Penurunan pCO2 (CO2 defisit) sebagai akibat sekunder dari penyakit sistem pernafasan atau penyakit sistemik. Berkurangnya reabsorbsi bicarbonat ginjal mengakibatkan berkurangnya Konsentrasi bicarbonat

Alveolar ventilasi dan pCO2 Ventilasi berbanding terbalik dengan hasil pCO2. Peningkatan ventilasi sebagai respon terhadap penurunan pH plasma dan CSF yang dideteksi oleh pusat pernafasaan di medula. Penurunan ventilasi dan peningkatan pCO2 direspons pada kondisi alkalosis yang sudah lama dan berat.

Oksigen status. Oksigen status berhubungan erat dengan pO2. pO2 terlarut diplsma dikenal denan istilah saturasi oksigen.

O2-Carrying capacity dan O2 content. 1 g/dL Hb dapat mengikat 1,34 mL O2 dengan tingkat saturated 100 %. O2-Carrying capacity pada Hb 16 g/dL: 1,34 x 16 =21,44. O2 content = O2 Carrying cap.x O2 sat. = 21,44 x0,88 (room air) = 18,87.

Terima kasih