Anda di halaman 1dari 54

Bab I RODA GIGI LURUS

Kita mempelajari roda gigi karena pemindahan gerakan putar dari satu poros ke poros yang lain terjadi hampir di semua mesin yang dapat kita bayangkan. Roda gigi merupakan salah satu yang terbaik di antara berbagai sarana yang ada untuk memindahkan gerakan ini. Bila anda menyadari bahwa roda gigi di dalam, katakanlah, differensial mobil anda dapat dibuat bekerja 100.000 mil atau lebih sebelum memerlukan penggantian, dan bila anda menghitung jumlah mata gigi (mesh) atau putaran yang sebenarnya, anda mulai menghargai kenyataan bahwa perencanaan dan pembuatan roda-roda gigi ini adalah betul-betul suatu prestasi yang luar biasa. Orang pada umumnya tidak menyadari bagaimana tingginya pengembangan perencanaan, teknik, dan pembuatan roda gigi karena roda gigi hanyalah elemen mesin yang biasa. Banyak pelajaran yang harus dipelajari tentang teknik dan perencanaan yang umum melalui pelajaran tentang roda-gigi, karena baik ilmu pengetahuan maupun seni tentang teknik yang dipakai. Ini adalah alasan lain untuk pelajaran perencanaan dan analisa roda gigi. Mungkin pelajaran tersebut dapat dipakai pada bidang yang lain. Anda akan menemukan bahwa bab ini terdiri dari empat bagian utama: 1. Kinematika gigi roda gigi dan rangkaian roda gigi (gear train). Dalam bagian ini kita akan mempelajari sesuatu tentang bentuk gigigigi roda gigi itu sendiri, bersama-sama dengan persoalan yang disebabkan oleh bentuk ini dan apa yang harus dilakukan akan hal tersebut. Kita akan mempelajari tentang perbandingan kecepatan dari berbagai jenis rangkaian roda gigi. Mahasiswa yang telah mengambil pelajaran dalam mekanisme dan kinematika dari mesin-mesin perlu menggunakan bagian bab ini sebagai ulangan dan perkenalan kembali dengan tata-nama roda-gigi dan melanjutkannya ke bagian yang lain. 2. Analisa gaya pada roda gigi dan rangkaian roda gigi.

3. Perencanaan, yaitu, pencarian ukuran, dari roda gigi didasarkan pada kekuatan bahan yang dipakai. 4 perencanaan roda gigi didasarkan pada pertimbangan keausan.

1-1 TATA NAMA Roda gigi lurus (spur gear) dipakai untuk memindahkan gerakan putar antara poros-poros yang sejajar yang biasanya berbentuk silindris, dan gigi-giginya adalah lurus dan sejajar dengan sumbu putaran. Terminologi dari gigi roda gigi digambarkan pada Gambar 1-1. Lingkaran puncak (pitch circle) adalah suatu lingkaran teoritis terhadap mana semua perhitungan biasanya didasarkan. Lingkaran puncak dari sepasang roda gigi yang berpasangan adalah saling bersinggungan satu terhadap yang lain, Pinion adalah roda gigi yang terkecil diantara yang berpasangan. Yang lebih besar disebut roda gigi (gear) Jarak lengkung puncak (circular pitch) p, modul (module) m adalah perbandingan antara diameter puncak dengan jumlah gigi. Puncak diametral (diameter pitch) p adalah perbandingan antara jumlah gigi pada roda gigi dengan diameter pucak. Addendum a adalah jara k radial antara bidang atas (top line ) dengan lingkaran puncak. Dedendum b adalah jarak radial dari bidang bawah (bottom line) ke lingkaran puncak. Tinggi keseluruhan ( whole depth) ht adalah jumlah addemdum dan dedendum. Lingkaran kebebasan adalah lingkaran yang bersinggungan dengan lingkaran addendum dari pasangan roda gigi tersebut. Kebebasan adalah besarnya yang disediakan dedendum bagi addendum dari roda gigi pasangannya. Kibasan-punggung (block-lash) adalah besarnya yang diberikan oleh lebar antara dari satu roda gigi kepada tebal gigi dari roda gigi pasangannya diukur pada lingkaran puncak.

Gambar 1.1 Tata nama gigi roda gigi

P=

N d

(1-1)

dimana : P = Puncak diametral, gigi per inch N = Jumlah gigi d = diameter puncak

m=

d N

(1-2)

dimana : m = modul, mm d = diameter puncak, mm

p=

d
N

= m

(1-3)

dimana : p = jarak lengkung puncak

pP =

(1-4)

1-2 SIFAT-SIFAT INVOLUT Suatu lengkung involut bisa dibuat seperti terlihat pada Gambar 1-2a.

Suatu potongan flens B diikatkan pada silinder A, ke sekeliling mana dililitkan sebuah benang def yang dipegang dengan ketat. Titik b pada tali mewakili titik jiplakan, dan sementara dililitkan dan dilepas dari silinder, titik b akan membuat jiplakan dari kurva involut ac. Jari-jari kelengkungan dari involut berubah-ubah secara kontinu, berupa nol pada titik a dan maksimum pada titik c. Pada titik b jarijarinya adalah sama dengan jarak be, karena b berputar secara tiba-tiba terhadap titik e. Jadi garis pembentuk de adalah tegak lurus pada involut pada semua titik potong dan, pada waktu yang sama, selalu menyinggung silinder A. Lingkaran di mana involut terbentuk disebut lingkaran dasar (base circle)

Gambar 1.2 (a) Pembentukan suatu involut, (b) aksi involut Sekarang mari kita periksa profil involut tersebut untuk melihat bagaimana ia memenuhi kebutuhan akan pemindahan gerakan yang uniform. Pada Gambar 1-2b dua roda gigi kosong yang berpusat tetap di O1 dan O2 terlihat mempunyai lingkaran dasar yang masing-masing mempunyai jari-jari Ol a clan O2 a. Sekarang kita membayangkan bahwa sebuah tali digulungkan searah dengan jarum jam di sekeliling lingkaran dasar dari roda gigi 1, ditarik sampai tegang antara titik a dan b, dan digulungkan berlawanan sedemikian rupa mempertahankan tali tetap tegang, suatu titik g pada tali akan menggambarkan involut cd pada roda gigi 1 dan ef pada roda-gigi 2. Jadi involut tersebut sekaligus terbentuk oleh titik jiplakan tersebut. Titik jiplakan, karenanya, mewakili titik singgung, sementara bagian tali ab adalah garis pembentukan. Titik singgung tersebut bergerak sepanjang garis pembentukan, garis pembentukan tersebut tidak

mengalami perubahan posisi karena ia selalu merupakan garis singgung terhadap lingkaran dasar, dan karena garis pembentukan selalu tegak lurus pada involut pada titik singgung, maka kebutuhan akan gerakan yang uniform terpenuhi. 1-3 PENGETAHUAN DASAR (FUNDAMENTALS) Di antara hal-hal lain, adalah perlu bahwa anda betul-betul mampu untuk menggambar gigi pada sepasang roda gigi yang saling mendorong. Tetapi, anda harus mengerti, bahwa tidaklah perlu menggambar gigi roda-gigi untuk keperluan pembuatan atau bengkel. Lebih balk, kita membuat gambar gigi rodagigi untuk mendapatkan suatu pengertian atas persoalan yang terjadi dalam mendorong gigi yang berpasangan.
Pertama-tama, adalah perlu mempelajari bagaimana membentuk suatu lengkung involut. Seperti terlihat dalam Gambar 1-3, bagilah lingkaran dasar menjadi sejumlah bagian yang sama dan tariklah garis-garis radial OAO , OAI , OA2, dan seterusnya. Mulai pada A 1 , tariklah garis tegak lurus A 1 B 1 , A 2 B 2 , A 3 B 3 , dan seterusnya. Kemudian sepanjang A I B I jangkauan jarak A I AO , sepanjang A 2 B 2 , jangkakan dua kali A I A O , dan seterusnya, sehingga menghasilkan titik-titik melalui mana lengkung involut dapat digambarkan.

Gambar 1.3 Pembentukan suatu lengkung involut Untuk menyelidiki dasar dari aksi gigi-gigi tersebut mari kita teruskan selangkah demi selangkah melalui proses pembuatan gigi pada sepasang roda-gigi. Kalau dua roda gigi saling melibas, lingkaran puncaknya menggelinding satu terhadap yang lain tanpa slip. Nyatakan jari-jari lingkaran puncak sebagai r1 dan r2 dan kecepatan sudut sebagai 1 dan 2, secara berurutan. Maka kecepatan garis punggung adalah

V = r11 = r2 2

Jadi hubungan antara jari-jari dan kecepatan sudut adalah

1 r2 = 2 r1

(1-5)

Misalkan sekarang kita ingin merencanakan suatu penurun-kecepatan sedemikian rupa sehingga putaran masuk adalah 1800 rpm dan putaran keluar 1200 rpm. Ini adalah perbandingan 3 : 2; diameter puncak akan mempunyai perbandingan yang sama, misalnya, pinion 4 in menggerakkan roda gigi 6 in. Berbagai ukuran pada pemasangan roda gigi selalu didasarkan pada lingkaran puncak tersebut. Selanjutnya kita menetapkan bahwa sebuah pinion bergigi 18 perlu sepadan dengan roda gigi bergigi 30 dan bahwa diameter puncak dari pasangan roda-gigi tersebut haruslah 2 gigi per inch. Maka, dari Persamaan 1-1 diameter puncak dari pinion dan roda gigi, masing-masing, adalah :
d1 = N 1 18 = = 9 in P 2 d2 = N 2 30 = = 15 in P 2

Langkah pertama dalam menggambar gigi pada sepasang roda-gigi yang berpasangan diperlihatkan pada Gambar 1-5. Jarak pusatnya adalah jumlah dari jari-jari puncak, dalam hal ini 12 in. Maka letakkanlah pusat pinion dan roda gigi O1 dan O2, berjarak 12 in. Kemudian gambarkan lingkaran puncak dengan jarijari r1 dan r2. Lingkaran-lingkaran ini akan bersinggungan di P, yaitu titik puncak (pitch-point). Selanjutnya gambar garis ab, garis singgung bersama, melalui titik puncak. Sekarang kita menetapkan roda gigi 1 sebagai penggerak, dan karena ini berputar dengan arah melawan jarum jam, kita menggambar garis cd melalui P pada sudut terhadap garis singgung ab. Garis cd mempunyai tiga nama, dan semuanya dipakai secara umum. Ini disebut garis tekan (pressure line), garis pembentukan (generating line) dan garis aksi (line of action).

Gambar 1.4 Denah roda-gigi Ini menyatakan arah di mana gaya resultante bekerja antara kedua roda gigi. Sudut disebut sudut tekan (pressure angle), dan ini biasanya mempunyai harga 20 atau 25, walaupun sekali-sekali 141/20 dipakai. Selanjutnya, pada setiap roda gigi digambarkan sebuah lingkaran yang menyinggung garis tekan tersebut. Lingkaran ini disebut lingkaran dasar (base circles). Karena lingkaran ini menyinggung garis tekan, sudut tekan menentukan ukurannya. Seperti terlihat pada Gambr 1-5, jari-jari lingkaran dasar adalah rb = r cos di mana r adalah jari-jari puncak. Sekarang bentuklah suatu involut pada masing-masing lingkaran dasar seperti yang dijelaskan sebelumnya dan seperti yang terlihat pada Gambar 1-4. Involut ini akan dipakai untuk satu sisi dari sebuah gigi roda-gigi. Dalam hal ini tidak perlu menggambarkan lengkungan yang lain dalam arah yang berlawanan dari gigi-gigi tersebut karena kita akan menggunakan suatu mal yang dapat dibalik untuk mendapatkan lengkung dari sisi yang lain tersebut. Jarak addendum dan dedendum untuk gigi standar yang bisa saling bertukaran (in-terchangeable), seperti yang akan kita pelajari nanti, masingmasing, 1/P dan 1.25/P. Maka, untuk sepasang roda gigi kita menggambarkan: a= (1-6)

1 1 = = 0.500 in P 2

b=

1.25 1.25 = = 0.625 in P 2

Dengan menggunakan jarak-jarak ini, gambarkanlah lingkaran addendum dan

dedendum, pada pinion dan pada roda gigi seperti terlihat pada Gambar 1-4. Selanjutnya, dengan menggunakan kertas gambar yang tebal, atau sebaiknya, selembar plastik transparan 0.015 0.020 in, potonglah sebuah mal untuk masing-masing involut, dengan meletakkan pusat roda gigi secara hati-hati dan tepat sesuai dengan masing-masing involut. Gambar 1-6 adalah reproduksi dari mal yang dipakai beberapa contoh pada buku ini. Perhatikan bahwa hanya satu sisi dari profil gigi yang terbentuk pada mal. Untuk mendapatkan sisi yang lain, balikkanlah mal tersebut. Untuk beberapa persoalan anda mungkin ingin membuat sebuah mal untuk seluruh gigi.

Gambar 1.5

Gambar 1.6 Mal untuk menggambar gigi dari roda gigi Untuk menggambarkan sebuah gigi kita harus mengetahui tebal gigi. Dari persamaan (1-4) lingkaran puncak adalah p=

= 1.57 in

Maka tebal gigi adalah t= p 1.57 = = 0.785 in 2 2

yang diukur pada lingkaran puncak. Dengan menggunakan jarak ini untuk tebal gigi sebagaimana juga untuk jarak antara gigi, gambarlah gigi sebanyak yang anda

inginkan, dengan menggunakan mal, setelah titik-titik pada lingkaran puncak ditandai. Pada Gambar 1-7 hanya satu gigi yang digambarkan pada masing-masing roda gigi.

Gambar 1.7 Aksi gigi-gigi Anda bisa mengalami kesulitan dalam menggambar gigi-gigi ini kalau satu dari lingkaran dasar misalnya terlalu besar dari lingkaran dedendum. Alasan atas hal ini adalah bahwa involut mulai pada lingkaran dasar dan tidak boleh di bawah lingkaran ini. Maka, dalam menggambar gigi dari roda gigi, kita, biasanya menggambarkan garis radial untuk profil di bawah lingkaran dasar. Begitupun, bentuk sebenarnya, akan tergantung pada mesin perkakas yang dipakai untuk membentuk gigi tersebut dalam pembuatannya, yaitu, bagaimana profil tersebut dibentuk. Bagian dari gigi antara lingkaran kebebasan dan lingkaran dedendum adalah jari-jari pelengkung (fillet). Pada keadaan ini, kebebasan adalah c = b a = 0.625 0.500 = 0. 125 in Pembuatan ini selesai setelah fillet ini digambar. Kembali lagi ke Gambar 1-7, pinion dengan pusat pada 01 adalah penggerak dan berputar berlawanan dengan arah jarum jam. Garis tekan, atau pembentukan, sama seperti tali yang dipakai pada Gambar 1-2a untuk membentuk involut, dan titik singgung terjadi di sepanjang garis ini. Kontak awal akan terjadi bila,

sayap (flank) dari penggerak menyinggung ujung gigi yang digerakkan. Ini terjadi pada titik a pada Gambar 1-7, di mana lingkaran addendum dari roda gigi penggerak memotong garis tekan. Kalau, sekarang kita membuat profil gigi melalui titik a menggambar garis radial dari titik potong profil ini dengan lingkaran puncak, maka kita mendapatkan sudut masuk (angles of approach). Sementara gigi saling melibas, titik kontak akan bergeser naik pada sisi gigi penggerak sehingga ujung dari penggerak akan bersinggungan terus sampai kontak tersebut berakhir. Titik akhir dari persinggungan tersebut karenanya, akan berada pada di mana lingkaran addendum dari penggerak memotong garis tekan. Ini adalah titik b pada gambar 1-7. Dengan menggambar profil gigi yang lain melalui b, kita mendapatkan sudut keluar (angles of recess) untuk setiap roda gigi dengan cara yang sama dengan cara mencari sudut masuk. Jumlah sudut masuk dan sudut keluar dari masing-masing roda gigi disebut sudut kerja (angle of action). Garis ab disebut garis kerja (line of action). Kita bisa membayangkan sebuah rak (rack) sebagai roda gigi lurus yang mempunyai diameter puncak yang tak terhingga. Karenanya rak tersebut mempunyai jumlah gigi yang tak terhingga dan lingkaran dasarnya berada pada jarak yang tak terhingga dari titik puncak. Sisi dari gigi involut pada rak adalah garis-garis lurus yang membentuk sebuah sudut dengan garis pusat yang sama dengan sudut tekan. Gambar 1-8 menunjukkan sebuah rak tak terhingga yang melibas dengan sebuah pinion. Sisi yang berkaitan dari gigi involut adalah lengkung yang sejajar; jarak puncak dasar (base pitch) adalah konstan dan jarak dasar antara puncak tersebut di sepanjang garis normal seperti yang terlihat pada Gambar 1-8. Jarak puncak dasar adalah berhubungan dengan jarak puncak melingkar dengan persamaan: Pb = Pc cos Di mana Pb adalah jarak puncak dasar. (1-7)

10

Gambar 1.8 Pinion dan rak involut Gambar 1-9 menunjukkan sebuah pinion yang berhubungan dengan suatu roda gigi dalam (internal gear), atau roda gigi selubung (annular gear). Perhatikan bahwa kedua roda gigi sekarang mempunyai pusat rotasi yang berada di sebelah yang sama dari titik puncak. Jadi posisi dari lingkaran addendum dan dedendum terhadap lingkaran puncak adalah terbalik; lingkaran addendum dari roda gigi dalam berada di sebelah dalam (inside) lingkaran puncak. Perhatikan juga, dari Gambar 1-9, bahwa lingkaran dasar dari roda gigi dalam berada di sebelah dalam lingkaran puncak dekat lingkaran addendum. Pengamatan yang menarik lainnya tentang kenyataan bahwa diameter kerja dari lingkaran puncak dari sepasang roda gigi yang berpasangan tidak perlu sama seperti perencanaan yang berkaitan dengan diameterpuncak dari roda gigi, walaupun ini adalah cara bagaimana ia dibentuk pada Gambar 1-7. kalau kita menaikkan jarak pusat kita menciptakan dua lingkaran puncak operasi yang baru yang mempunyai diameter yang lebih besar karena mereka harus saling bersinggungan satu sama lain pada titik puncak. Jadi lingkaran puncak dari roda gigi sebetulnya tidak muncul sampai sepasang roda gigi betul-betul berpasangan atau saling melibas secara tepat.

11

Gambar 1.9 Roda gigi dalam dan pinion Merubah jarak pusat tak mempengaruhi lingkaran dasar karena ini dipakai untuk membentuk profil gigi. Jadi lingkaran dasar adalah merupakan dasar dari suatu roda gigi. Menaikkan jarak pusat akan menaikkan sudut tekan dan menurunkan panjang garis kerja tetapi gigi masih berkonjugasi, permintaan atas gerakan transmissi yang merata masih terpenuhi, dan perbandingan kecepatan sudut tidak berubah.

Contoh 1.1 Sepasang roda gigi terdiri dari sebuah pinion bergigi 16
menggerakkan sebuah roda gigi bergigi 40. Punggung diametral adalah 2, dan addendum dan dedendum adalah 1/P dan 1.25/P. Roda gigi dipotong dengan menggunakan sudut tekan 20. (a) Hitunglah lingkaran puncak, jarak pusat,dan jari-jari lingkaran dasar. (b) Dalam pemasangan roda gigi ini, jarak pusat ternyata tidak tepat menyebabkan 1/4 in lebih besar. Hitunglah harga-harga baru dari sudut tekan dan diameter lingkaran-puncak. Penyelesaian (a) p=

= 1.57 in

Jawab

Diameter puncak dari pinion dan roda gigi, masing-masing adalah dP =

16 = 8 in 2

dG =

40 = 20 in 2

Maka jarak pusatnya adalah

12

d P + d G 8 + 20 = = 14 in 2 2

Jawab

Karena giginya dipotong pada sudut tekan 20o , jari-jari lingkaran dasar didapat, dengan menggunakan rb = r cos , rb ( pinion) =

8 cos 20 = 3.76 in 2 20 cos 20 = 9.40 in 2

Jawab Jawab

rb (rodagigi ) =

' ' (b) Dengan menyatakan d P dan d G sebagai diameter lingkaran puncak

yang baru, kenaikan jarak pusat in memerlukan


d ' P + d 'G = 14.250 2

(1)

Juga, perbandingan kecepatan tidak berubah, dan karenanya


d ' P 16 = d ' G 40

(2)

Dengan menyelesaikan Persamaan (1) dan (2) sekaligus menghasilkan


d ' P = 8.142 in

d 'G = 20.357 in

Jawab

Karena rb = r cos , sudut tekan baru adalah

' = cos 1

rb ( pinion) 3.76 = cos 1 = 22.56 8.143 / 2 d 'P / 2

Jawab

1-4 PERBANDINGAN KONTAK Daerah kerja dari gigi roda gigi yang berpasangan terlihat pada Gambar 1-10. Kita mengingat kembali bahwa persinggungan gigi mulai dan berakhir pada perpotongan dua lingkaran addendum dengan garis tekan. Pada Gambar 1-10 persingungan awal terjadi pada a dan persinggungan akhir di b. Profil gigi yang digambar melalui titik-titik ini memotong lingkaran puncak pada A dan B, secara berurutan. Seperti terlihat, jarak AP di- sebut arkus sudut masuk (arc of approach) qa,, dan jarak PB, arkus sudut keluar (arc of recess) qr. Jumlahnya disebut arkus sudut kerja (arc of action) qt.. Sekarang, perhatikan suatu situasi di mana arkus sudut kerja persisi sama

13

dengan jarak lengkung puncak, yaitu q t = p. Ini berarti bahwa satu gigi dan ruang antaranya akan menempati semua arkus AB. Dengan perkataan lain, bila sebuah gigi baru mulai persinggungan pada a, gigi sebelumnya sekaligus mengakhiri persinggungannya di b. Karenanya, selama kerja gigi dari a ke b, di sana akan persis ada sepasang gigi yang bersinggungan. Selanjutnya, perhatikan suatu situasi di mana arkus sudut kerja lebih besar dari jarak lengkung puncak, tetapi tidak terlalu besar, katakanlah, q t 1.2 p . Ini berarti bahwa bila sepasang gigi baru memasuki persinggungan di a, pasangan yang lain, sudah bersinggungan, masih belum mencapai b. Jadi, pada suatu periode waktu yang singkat, ada dua pasan gigi yang bersinggungan, satu dekat pinggir A dan yang lain dekat B. Sementara pelibasan berlalu, pasangan dekat B harus mengakhiri persinggungan, meninggalkan hanya satu pasangan gigi yang bersinggungan, sampai prosedur tersebut berulang dengan sendirinya. Karena sifat dari kerja gigi-gigi tersebut, apakah satu atau dua pasangan gigi yang bersinggungan, adalah memudahkan bila ditetapkan istilah perbandingan kontak (contact ratio) mc, sebagai

mc =

qt p

(1-8)

jumlah yang menyatakan jumlah pasangan roda gigi rata--rata yang berkontak. Perhatikan bahwa perbandingan ini juga sama dengan panjang lintasan persinggungan dibagi dengan jarak puncak dasar. Roda gigi pada umumnya seharusnya tidak direncanakan dengan perbandingan kontak kurang dari 1.20 karena ketidak-telitian dalam pemasangan mungkin akan mengurangi akan perbandingan ini dan malah lebih lanjut, meningkatkan kemungkinan tumbukan antara gigi-gigi tersebut dan juga menaikkan tingkat suara yang timbul. Cara termudah untuk mendapatkan perbandingan kontak adalah mengukur garis kerja ab jadi bukan mengukur jarak arkus AB. Karena ab pada Gambar 1-10 adalah menyinggung lingkaran dasar kalau diperpanjang, jarak lengkung puncak Pb harus dipakai untuk menghitung mc, sebagai pengganti jarak.lengkung puncak pada Persamaan (1-8). Dengan menyatakan panjang garis kerja sebagai Lab, perbandingan kontak adalah

14

mc =

Lab p cos

(1-9)

Di mana Persamaan (1-7) dipakai sebagai jarak puncak dasar.

Gambar 1.10 Definisi perbandingan kontak 1-5 INTERFERENSI (INTERFERENCE) Bagian-bagian profil gigi yang berkontak yang tidak berkonjugasi disebut interferensi (interference). Perhatikan Gambar 1-11. Digambarkan dua roda gigi bergigi 16 yang sudah dipotong sehingga sekarang menggunakan sudut tekan 141/2o. Penggerak roda gigi 2, berputar searah dengan jarum jam. Titik kontak awal dan akhir, masingmasing, dinyatakan dengan A dan B, dan berada pada garis tekan. Sekarang pehatikan bahwa titik persinggungan dari garis tekan dengan lingkaran dasar, C dan D berada di sebelah dalam dari titik A dan B. Interferensi muncul. Interferensi dijelaskan sebagai berikut. Persinggungan mulai bila ujung gigi yang digerakkan menyinggung sayap dari gigi penggerak. Dalam hal ini sayap dari gigi penggerak pertama-tama melakukan persinggungan dengan gigi yang digerakkan pada titik A, dan ini terjadi sebelum bagian involut dari gigi yang digerakkan dicapai. Dengan perkataan lain, persinggungan sedang terjadi di bawah lingkaran dasar dari roda gigi 2 pada bagian sayap yang bukan involut. Pengaruh sebenarnya adalah bahwa ujung involut atau muka dari roda yang digerakkan cenderung masuk tidak terlalu dalam ke bagian sayap yang tidak involut dari penggerak. Dalam contoh ini pengaruh yang sama terjadi lagi sewaktu gigi meninggalkan persinggungan. Persinggungan harus berakhir di titik D atau sebelumnya. Karena hal ini tidak berakhir hingga titik B, pengaruhnya adalah pada ujung gigi

15

penggerak yang agak keluar, atau berinterferensi dengan, sayap dari gigi yang digerakkan.

Gambar 1-11 Interferensi pada kerja gigi roda gigi. Bila gigi-gigi roda gigi dihasilkan dengan suatu proses pembentukan (generation), interferensi secara otomatis terhindar karena mata pahat membuang bagian sayap yang berinterferensi ini. Pengaruh ini disebut kurang potong (undercutting); kalau kurang potong dilakukan, gigi yang kurang potong cukup memperlemah. Jadi pengaruh pengabaian interferensi oleh proses pembuatan hanyalah untuk mengganti persoalan lain atas persoalan awal yang ada. Seberapa penting persoalan gigi yang telah melemah karena kurang potong tak dapat dibesar-besarkan. Tentu saja, interferensi dapat ditiadakan dengan menggunakan jumlah gigi yang lebih banyak. Tetapi, kalau roda gigi diperlukan untuk memindahkan sejumlah daya tertentu, jumlah gigi yang lebih besar dapat dipakai hanya dengan menambah diameter puncak. Ini membuat roda gigi lebih besar, yang jarang diinginkan, dan ini juga menaikkan kecepatan pada garis puncak. Kenaikan kecepatan garis puncak ini membuat gigi

16

lebih berisik dan agak mengurangi daya, yang dipindahkan, walaupun tidak berbanding lurus. Begitupun pada umumnya, penggunaan gigi yang lebih banyak untuk menghindarkan interferensi atau kurang potong jarang dipakai sebagai suatu pemecahan. Interferensi dapat juga dikurangi dengan menggunakan sudut tekan yang lebih besar. Ini menghasilkan lingkaran dasar yang lebih kecil, sehingga lebih banyak profil gigi yang involut. Kebutuhan akan pinion yang lebih kecil dengan jumlah gigi yang sedikit memungkinkan pemakaian sudut tekan 25 o gaya gesekan dan beban bantalan bertambah dan perbandingan kontak menurun. 1-6 PEMBENTUKAN GIGI RODA GIGI Terdapat banyak cara pembentukan gigi dari roda gigi, seperti penuangan pasir (sand casting), pencetakan dalam rumah tipis (shell molding) penuangan tanam (investment casting), penuangan pada cetakan tetap (permanent mold casting), penuangan cetakan (die casting), dan penuangan centrifugal (centrifugal casting)., Gigi dapat dibentuk dengan menggunakan proses metalurgi tepung (poweder metallurgy process); atau, dengan menggunakan ekstrusi (extrusion), sebuah batang aluminium dibentuk dan kemudian dipotongkan ke roda gigi. Roda gigi yang menerima beban yang besar bila dibandingkan terhadap ukurannya biasanya terbuat dari baja dan dipotong dengan alat pemotong berbentuk (form cutter) atau alat pemotong pembentukan bertahap (generating cutter). Pada pemotong berbentuk, bentuk ruang antara gigi persis sama dengan bentuk alat potong tersebut. Pada pembentukan bertahap, suatu alat potong yang bentuknya berbeda dengan profil gigi digerakkan secara relatif terhadap benda kerja roda gigi yang masih kosong untuk mendapatkan bentuk gigi yang sesuai. Salah satu metoda pembentukan gigi yang terbaru dan yang paling memberi harapan adalah yang disebut pembentukan dingin (cold forming), atau pengerolan dingin (cold rolling), di mana pencetak dirolkan terhadap benda kerja baja yang kosong untuk membentuk gigi. Sifat mekanis dari logam tersebut meningkat secara luar biasa oleh proses pengerolan tersebut, dan suatu profil, yang bermutu tinggi sekaligus didapat. Gigi-gigi roda gigi bisa dibentuk dengan milling, shaping, atau hobbing.

17

Pengerjaan akhirnya bisa dengan shaving, burnishing, grinding, atau lapping. Milling Gigi roda-gigi bisa dipotong dengan suatu alat pemotong yang dibentuk sesuai dengna ruang antara roda gigi. Dengan metode ini secara teoritis hanya perlu menggunakan suatu alat pemotong yang berbeda untuk setiap roda gigi, sebab suatu roda gigi yang misalnya mempunyai 25 gigi akan mempunyai ruang antara roda gigi yang berbeda bentuknya dengan suatu roda gigi lain yang mempunyai, katakanlah, 24 gigi. Sebetulnya, perbedaan ruang antaranya tidaklah terlalu besar, dan telah ditemukan bahwa delapan alat potong bisa dipakai untuk memotong suatu roda gigi dengan ketelitian yang lumayan dalam batas daerah 12 gigi pada satu rak. Tentunya, satu kelompok alat potong yang berbeda, diperlukan untuk setiap jarak puncak. Shaping Gigi bisa dibentuk dengan alat potong pinion atau alat potong rak. Alat potong pinion (Gambar 1-12) bergerak bolak-balik sepanjang sumbu vertikal dan secara bertahap masuk ke dalam benda kerja sampai kedalaman yang diinginkan. Bila lingkaran puncak sudah tersinggung, kedua alat potong dan benda kerja diputar sedikit setelah setiap langkah pemotongan. Karena setiap gigi alat pemotong adalah merupakan alat potong, semua gigi akan terpotong setelah benda kerja menyelesaikan satu putaran. Sisi dari rak gigi involut adalah lurus. Karena itu, suatu alat pembentuk gigi berbentuk rak memerlukan suatu metoda pemotongan gigi yang teliti. Ini juga termasuk operasi pembentukan dan digambarkan oleh Gambar 1-13. Pada operasinya, alat potong bergerak bolak-balik dan pada mulanya dimasukkan ke dalam benda kerja secara bertahap sampai menyinggung lingkaran puncak. Kemudian, setelah setiap langkah pemotongan, benda kerja dan alat pemotong digelindingkan sedikit pada lingkaran puncak, alat pemotong kembali ke titik awalnya, dan proses tersebut diteruskan sampai semua gigi selesai dipotong.

18

Gambar 1-12 Pembentukan roda gigi lurus dengan suatu alat pemotong pinion. (Atas kebaikan Boston Gear Works, Inc).

Alat pemotong rak bergerak bolak-balik dalam arah tegak lurus terhadap bidang kertas

GAMBAR 1-13 Pembentukan gigi dengan suatu pemotong rak. Hobbing Proses hobbing digambarkan pada Gambar 1-14. Hob adalah suatu alat potong biasa Yang bentuknya seperti cacing. Giginya mempunyai sisi yang lurus, seperti

19

pada rak, tetapi sumbu hob harus diputar sejauh sudut penuntun untuk memotong gigi roda gigi lurus. Karena itu, gigi yang dibentuk oleh hob mempunyai sedikit perbedaan bentuk dibanding dengan hasil yang didapat dari pembentukan oleh pemotong rak. Kedua hob dan benda kerja harus berputar pada perbandingan kecepatan sudut yang tepat. Hob kemudian dimasukkan secara bertahap pada permukaan benda kerja sampai semua gigi selesai terpotong. Pengerjaan Akhir (finishing) Roda gigi yang bekerja pada putaran yang tinggi dan memindahkan gaya yang besar bisa menerima gaya dinamis tambahan karena penyimpangan pada profil gigi. Penyimpangan ini bisa sedikit ditiadakan dengan pengerjaan akhir alas profil gigi. Gigi bisa dikerjakan akhir, setelah pemotongan, baik dengan shaving atau burnishing. 1-7 SISTEM GIGI Sistem gigi (tooth system) adalah suatu standar yang menjelaskan hubungan addendum, dedendum, tinggi kerja, tebal gigi, dan sudut tekan yang terlibat, untuk tujuan mendapatkan sifat saling dapat bertukaran (interchangability) dari roda gigi untuk semua jumlah gigi tetapi dari sudut tekan dan jarak puncak yang sama. Anda perlu berhati-hati atas keuntungan dan kerugian dari berbagai sistem yang ada agr anda dapat memilih gigi yang optimum untuk suatu perencanaan tertentu dan agar anda mempunyai dasar perbandingan bila anda memulai perencanaan dengan menggunakan suatu standar profil gigi.

20

Tabel 1-1 STANDAR SISTEM GIGI AGMA DAN ANSI UNTUK RODA GIGI LURUS Besaran Jarak puncak kasar (sampai 20P)* tinggi penuh Sudut tekan Addendum a Dedendum b Tinggi kerja hk Tinggi keseluruhan ht (min) Tabal melingkar gigi t Jari-jari kelengkungan pada rak dasar, 200 250 Jarak puncak halus (20P ke atas) tinggi penuh 200

1.000 P 1.250 P 2.000 P 2.25 P

1.000 P 1.250 P 2.000 P 2.25 P

1.000 P 1.250 + 0.002 in P 2.000 P 2.200 + 0.002 in P 1.5708 P


tidak dibakukan

2P 0.300 P 0.250 P
yang

2P 0.300 P 0.250 P 0.350 P


12 24

rf

Kebebasan dasar c (min) Kebebasan digosok) Jumlah gigi pinion umum Jumlah minimum Tabal minimum dari ujung gigi t o * Tidak termasuk 20P gigi c (gigi

0.200 + 0.002 in P 0.350 + 0.002 in P


18

0.350 P
18

roda-gigi 36

0.25 P

0.25 P

tidak dibakukan

21

1-8 RANGKAIAN RODA GIGI (GEAR TRAINS) Andaikan suatu pinion 2 menggerakkan sebuah roda gigi 3. Kecepatan dari roda gigi yang digerakkan adalah
n3 = N2 d n2 = 2 n2 N3 d3

(1-10)

Dimana n = rpm atau jumlah putaran N = jumlah gigi d = diameter puncak. Tabel 1-2 JARAK DIAMETRAL PUNCAK YANG UMUM DIPAKAI Jarak puncak yang 2 kasar Jarak puncak yang 20 halus Untuk roda gigi lurus arah putaran sesuai dengan hukum tangan kanan dan adalah positif atau negatif apabila berlawanan dengan jarum jam atau searah dengan putaran jarum jam. Rangkaian roda gigi yang terlihat pada Gambar 1-16 terbuat dari lima roda gigi. Kecepatan dari roda gigi 6 adalah
n6 = N 2 N3 N5 n2 N3 N4 N6

21 4
24

21 2
32

3 40

4 48

6 64

8 80

10 96

12

16

120 150 200

(a)

Disini kita perhatikan bahwa roda gigi 3 adalah sebuah penganggur (idler), yaitu yang jumlah giginya dapat ditiadakan pada Persamaan (a), dan karenanya hanya memberi pengaruh terhadap arah putaran dari roda gigi 6. Lebih lanjur, kita perhatikan, bahwa roda gigi 2, 3, dan 5 adalah penggerak, sementara 3, 4, dan 6 adalah anggota yang digerakkan. Kita tetapkan nilai-rangkaian (train-value) e sebagai :

e=

Perkalian jumlah gigi penggerak Perkalian jumlah gigi yang digerakkan

(1-11)

Perhatikan bahwa diameter puncak dapat juga dipakai pada Persamaan (1-11). Bila Persamaan (1-11) dipakai pada roda gigi lurus, e adalah positif bila roda gigi terakhir

22

berputar dalam arah yang sama dengan yang pertama, negatif bila berlawanan arah. Sekarang kita dapat menulis nL=enF kecepatan roda gigi pertama. (1-12) Dimana nL adalah kecepatan dari roda gigi terakhir dalam rangkaian dan nF adalah

Gambar 1.14

Gambar 1.15 Rangkaian roda gigi planet Efek yang tidak biasa bisa didapat dalam rangkaian roda gigi dengan memperkenankan beberapa sumbu roda gigi berputar terhadap sumbu roda gigi yang lain. Rangkaian seperti itu disebut rangkaian roda gigi planet (planetary gear train) atau rangkaian roda gigi beredar (epicyclic gear train). Rangkaian roda gigi planet selalu terdiri dari roda gigi matahari (sun gear), lengan (arm) atau pembawa planet (planet carrier), dan satu atau lebih roda gigi planet (planet gear), seperti terlihat pada Gambar 1-15. Rangkaian roda gigi planet adalah mekanisme yang tidak biasa karena mempunyai dua tingkat kebebasan (degree of freedom), yaitu untuk gerakan yang tertentu suatu rangkaian roda gigi planet harus mempunyai dua masukan. Misalnya, dalam Gambar 1-15 kedua masukan ini bisa berupa gerakan dari setiap dua elemen rangkaian. Kita mungkin menetapkan, pada Gambar 1-15, misalnya, bahwa roda gigi matahari berputar pada

23

100 rpm searah jarum jam dan bahwa roda gigi cincin berputar pada 50 rpm berlawanan dengan putaran jarum jam; sebagai masukan. Keluarannya (output) akan berupa gerakan dari lengan (arm). Pada kebanyakan rangkaian roda gigi planet salah satu di antara elemen tersebut dikaitkan dengan rangka mesin dan mempunyai gerakan masukan (input) yang sama dengan nol. Gambar 1-16 menunjukkan suatu rangkaian roda gigi planet yang terdiri dari roda gigi matahari 2, lengan atau pembawa 3, dan roda gigi planet 4 dan 5. Kecepatan sudutdari roda gigi 2 relatif terhadap lengan dalam rpm adalah

n23 = n2 n3 n53 = n5 n3
n53 n5 n3 = n 23 n 2 n3

(b)

Juga, kecepatan roda gigi 5 relatif terhadap lengan adalah (c)

Dengan membagi Persamaan (c) dengan (b) memberi (d)

Persamaan (d) mengungkapkan perbandingan kecepatan relatif dari roda gigi 5 terhadap roda gigi 2, dan kedua kecepatan diambil relatif terhadap lengan. Sekarang perbandingan ini sama dan berbanding lurus dengan jumlah gigi, lepas dari apakah lengan berputar atau tidak. Ini adalah nilai rangkaian.

Gambar 1-16 Karenanya kita bisa menulis.


e= n5 n3 n 2 n3

(e)

Persamaan ini dapat dipakai untuk mencari gerakan keluaran dari setiap rangkaian roda gigi planet. Persamaan ini lebih mudah ditulis dalam bentuk
e= nL n A nF n A

(1-13)

24

Dimana nF = rpm dari roda gigi pertama pada rangkaian planet


' nL = rpm dari roda gigi terakhir pada rangkaian planet

nA = rpm dari lengan.

Contoh 1-2

Pada gambar 1-15 roda gigi, matahari adalah masukan, dan ini

bergerak searah dengan jarum jam pada 100 rpm. Roda gigi cincin ditahan diam dengan mengikatkannya pada rangka. Carilah rpm dan arah dari putaran lengan.

Penyelesaian Nyatakan nF = n2 = - 100 rpm, dan nL = n5 = 0. Lepaskan roda gigi 5


dari ikatan dan tahan lengan dalam keadaan diam, dalam bayangan kita, kita mendapatkan

20 30 e = = 0.25 30 80
Masukkan ke dalam Persamaan (1-13)
0.25 = 0 nA (100) n A

Atau
n A = 20 rpm

Jawab

Untuk mendapatkan rpm dari roda gigi 4, kita mengikuti prosedur yang diutarakan oleh Persamaan (b), (c) dan (d). Jadi

n43 = n4 n3
Dan juga
n 43 n 4 n3 = n 23 n 2 n3

n23 = n2 n3

(1)

Tetapi
n 43 20 2 = = n 23 30 3

(2)

Dengan memasukkan harga-harga yang sudah diketahui ke dalam Persamaan (1) memberi

n4 ( 20) 2 = 3 ( 100) ( 20)

25

Penyelesaian, memberi

n4 = 33 1 3 rpm
1-9 ANALISA GAYA

Jawab

Sebelum memulai analisa gaya dari rangakaian roda gigi, mari kita sepakati dulu notasi yang akan dipakai. Mulai dengan angka 1 untuk angka mesin, kita akan menyatakan roda gigi masukan sebagai roda gigi 2, dan kemudian nomor roda-roda gigi berikutnya 3,4, dan seterusnya, sampai kita tiba pada roda gigi terakhir dari rangkaian. Berikutnya, mungkin terdapat beberapa poros yang terlihat, dan biasanya satu atau dua roda gigi terpasang pada setiap poros seperti juga elemen-elemen lainnya. Kita akan mengatakan poros, dengan menggunakan notasi bawah berupa abjad, a, b, c, dan seterusnya. Dengan notasi ini sekarang kita dapat mengatakan gaya yang dilakukan roda gigi 2 terhadap roda gigi 3 sebagai F23. gaya dari roda gigi 2 terhadap poros a adalah F2a. Kita juga dapat menulis Fa2 untuk menyatakan gaya poros a terhadapa roda gigi 2. Sayangnya, tidak perlu menggunakan notasi-atas untuk menyatakan arahnya. Arah koordinat biasanya akan dinyatakan dengan koordinat x, y, dan z, dan arah radial dan
t tangensial dinyatakan dengan notasi-atas r dan t. Dengan notasi ini F43 adalah

komponen tangensial dari gaya roda gigi 4 yang bekerja terhadap roda gigi 3.

Gambar 1-17 Diagram benda bebas dari gaya-gaya yang bekerja pada dua roda gigi.

26

Gambar 1-17a menunjukkan sebuah pinion yang dipasangkan pada poros a berputar searah jarum jam pada n2 rpm dan menggerakkan sebuah roda gigi pada poros b pada putaran n3 rpm. Reaksi antara gigi-gigi yang berpasangan terjadi sepanjang garis tekan. Pada gambar 1-17b pinion tersebut dipisahkan dari roda gigi dan dari poros, dan pengaruh-pengaruhnya digantikan oleh gaya. Fa2 dan Ta2 adalah gaya dan daya putar (torque), masing-masing, yang dihasilkan oleh poros a terhadap pinion 2. F32 adalah gaya yang diberikan oleh roda gigi 3 terhadap pinion. Dengan menggunakan cara pendekatan yang sama, kita mendapatkan diagram benda-bebas dari roda gigi seperti terlihat pada Gambar 1-17c.

Gambar 1-18 uraian dari gaya-gaya roda gigi Pada Gambar 1-18 diagram benda-bebas dari pinion digambar kembali dan gaya-gaya diuraikan ke dalam komponen tangensial dan radial. Sekarang kita menetapkan
t Wt = F32

(a)

sebagai beban yang dipindahkan (transmitted load). Beban yang dipindahkan adalah betulr betul merupakan komponen yang penting karena komponen radial F32 tidak

memberi arti yang penting. Komponen radial ini tidak memindahkan daya. Daya putar yang bekerja dan beban yang dipindahkan kelihatan dapat dihubungkan dengan persamaan

T=

d Wt 2

(1-14)

Dimana kita telah memakan T=Ta2 dan d=d2 untuk mendapatkan suatu persamaan

27

umum. Kalau selanjutnya kita menyatakan kecepatan pada garis puncak dengan V, di mana V = dn / 12 dan dalam feet per menit, beban tangensial bisa didapat dari persamaan
H= WtV 33000

(1-15)

Persamaan yang sejenis dalam sistem SI adalah

Wt =

60(10 ) H dn
3

(1-16)

Dimana Wt = beban yang dipindahkan H = daya d = diameter roda gigi, mm n = putaran, rpm.

Contoh 1-3

Pinion 2 paga Gambar 1-19a bekerja pada 1750 rpm dan

memindahkan 2.5 kW ke roda gigi menganggur 3. Gigi dipotong pada sistem ketinggian penuh 200 dan mempunyai modul m = 2.5 mm. Gambarlah diagram benda bebas dari roda gigi 3 dan tunjukkanlah gaya-gaya yang bekerja pada roda gigi tersebut.

Gambar 1-19

Penyelesaian Diameter puncak dari roda gigi 2 dan 3 adalah


d 2 = N 2 m = 20(2.5) = 50 mm

28

d 3 = N 3 m = 50(2.5) = 125 mm
Dari Persamaan (1-16) kita mendapatkan beban yang dipindahkan berupa

Wt =

60(10) 3 H 60(10) 3 (2.5) = = 0.546 kN d 2 n (50)(1750)

t Jadi, gaya tangensial dari roda gigi 2 pada roda gigi 3 adalah F23 = 0.546 kN seperti

yang diperlihatkan pada Gambar 1-19b. Karenanya


r t F23 = F23 tan 20 = (0.546) tan 20 = 0.199 kN

Dan juga

F23 =

t F23 0.546 = = 0.581 kN cos 20 cos 20

Karena roda gigi 3 adalah sebuah penganggur, roda gigi ini tidak memindahkan daya (daya putar/torque) pada porosnya, dan karenanya reaksi tangensial dari roda gigi 4 pada roda gigi 3 adalah sama dengan Wt. Maka
t F43 = 0.546 kN r F43 = 0.199 kN

F43 = 0.581 kN

Dan arahnya diperlihatkan pada Gambar 1-19b. Reaksi poros pada arah x dan y adalah
t r Fbx3 = ( F23 + F43 ) = (0.546 + 0.199) = 0.347 kN r t Fby 3 = ( F23 + F43 ) = (0.199 0.546) = 0.347 kN

Resultante dari reaksi poros ini adalah

Fb 3 = (0.347) 2 + (0.347) 2 = 0.491 kN


Besaran ini terlihat pada gambar. 1-10 TEGANGAN-TEGANGAN GIGI Pertimbangan berikut ini harus diperlakukan sebagai faktor pembatas perencanaan yang penting dalam menetapkan kapasitas dari setiap roda gigi penggerak.

Panas yang timbul selama operasi Kegagalan gigi karena kepatahan Kegagalan lelah dari permukaan gigi Keausan permukaan gigi karena gosokan Kebisingan sebagat akibat dari kecepatan yang tinggi, beban yang besar,

29

atau ketidak-tepatan pemasangan. Di dalam buku ini kita akan mempelajari kekuatan gigi dari roda-gigi berdasarkan tiga jenis kemungkinan kegagalan. Yaitu kegagalan statis karena tegangan lentur, kegagalan lelah karena tegangan lentur, dan kegagalan lelah permukaan karena persinggungan atau karena tegangan Hertzian. Maksud khusus dari pasal ini adalah untuk mendapatkan hubungan untuk tegangan-tegangan lentur pada suatu gigi yang diberi beban. Wilfred Lewis pertama-tama menyajikan suatu rumus-untuk menghitung tegangan lentur pada gigi roda-gigi di mana bentuk gigi dimasukkan ke dalam persamaan. Rumus tersebut diumumkan pada tahun 1892 dan rumus ini masih tetap merupakan dasar perencanaan roda gigi yang paling penting masa ini. Untuk mendapatkan persamaan dasar Lewis, perhatikan Gambar 1-20a yang memperlihatkan suatu batang menganjur dengan dimensi penampang F dan t, yang mempunyai panjang l dan sebuah beban Wt yang terbagi rata sepanjang jarak F. Modulus pe-nampangnya adalah I/c = Ft2/6, dan karenanya tegangan lentur adalah

6Wt l M = I / c Ft 2

(a)

Gambar 1-20 Sekarang sesuai dengan Gambar 1-20b, kita andaikan bahwa tegangan minimum pada sebuah gigi terjadi pada titik a. Dengan kesebangunan segitiga, anda dapat menulis

30

t/2 l t2 = atau x = x t/2 4l


Dengan menyusun Persamaan (a),

(b)

6Wt l Wt 1 W 1 1 = = t 2 2 2 4 F t / 6l F t / 4l 6 Ft

(c)

Kalau sekarang kita memasukkan harga x dari Persamaan (b) ke dalam Persamaan (c) dan mengalikan pembilang dan penyebut dengan jarak lengkung puncak p, kita mendapatkan

Wt p ) F (2 3 xp

(d)

Dengan menyatakan y=2x/3p, kita menghasilkan

Wt Fpy

(1-17)

Ini melengkapi perkembangan dari persamaan Lewis yang asli. Faktor y disebut faktor bentuk dari Lewis (Lewis form factor), dan ini bisa didapat dengan cara menggambarkan denah gigi tersebut atau dengan perhitungan digital. Dalam menggunakan persamaan ini, banyak para sarjana teknik lebih suka menggunakan puncak diametral dalam mencari tegangan. Ini dilakukan dengan mengganti P = / p dan Y = y pada Persamaan (1-17). Ini memberi

=
Di mana

Wt P FY

(1-18)

Y=

2 xP 3

(1-19)

Pemakaian persamaan ini untuk mencari Y berarti bahwa hanya lenturan gigi yang dipertimbangkan dan bahwa tekanan karena komponen gaya radial diabaikan. Pemakaian Persamaan (1-19) secara tidak langsung juga menyatakan bahwa gigigigi yang ada tidak membagi beban tersebut dan bahwa gaya terbesar terjadi pada ujung gigi. Tetapi telah kita pelajari bahwa perbandingan kontak harus sedikit lebih besar dari satu, katakanlah kira-kira 1.5, untuk menghasilkan pasangan roda gigi yang bermutu. Kenyataannya, kalau roda gigi dipotong dengan

31

ketepatan yang baik, kondisi beban ujung tidaklah yang terburuk karena pasangan gigi yang lain akan bersinggungan pada saat kondisi ini tedadi. Pemeriksaan pada gigi-gigi yang dijalankan akan menunjukkan bahwa beban terbesar terjadi di dekat tengah-tengah gigi. Karenanya tegangan maksimum mungkin terjadi sementara satu pasang gigi membawa beban penuh tersebut, pada sebuah titik di mana pasangan gigi yang lain baru saja siap untuk mulai bersinggungan. Persamaan AGMA untuk faktor bentuk Lewis menjawab kedua keluhan tersebut.* Persamaan tersebut adalah
Y= 1 cos L 1.5 tan L cos x t

(1-20)

Di mana L adalah sudut antara vektor beban total W dan garis tegak lurus pada garis tengah gigi pada titik tertinggi dari persinggungan satu gigi. Cara mencari jejak x dan t diperlihatkan pada Gambar 1-21 dan 1-22. Perhatikan bahwa sudut beban

L berbeda dengan sudut tekan karena garis tengah gigi tidak berhimpit dengan
garis tengah roda gigi bila gigi berada pada posisi tertentu sehubungan dengan titik tertinggi dari persinggungan satu gigi. Pemusatan Tegangan Ketika Wilfred Lewis pertama kali mengusulkan rumus untuk tegangan lentur, faktor pemusatan tegangan belumlah dipakai. Tetapi sekarang kita ketahui bahwa terdapat banyak situasi di mana faktor ini harus dipakai. Bagci* belakangan ini telah mengembangkan teknik untuk mencari tegangan pada bagian-bagian pelengkungan (fillet) dari sebuah gigi roda gigi, walaupun masih banyak yang harus dilakukan sebelum hasilnya dapat dipakai sebagai bahan analisa dan perencanaan. Penyelidikan photoelastis oleh Dolan dan Broghamer dilakukan lebih dari 40 tahun yang lalu masih merupakan sumber informasi utama tentang pemusatan tegangan.

32

Gambar 1-21 Penggerak berputar searah jarum jam; titik A adalah titik persinggungan awal. Titik H adalah titik singgung tunggal terdiri dari gigi Mitchiner dan Mabie menterjemahkan hasil tersebut dalam istilah faktor pemusatan tegangan lelah Kf sebagai
t ) + ( tl ) K f = H + (r L M

(1-21)

Gambar 1-22 Denah grafis untuk mendapatkan x dan t bila bebean W bekerja pada titik singgung tunggal tertinggi dari gigi Di mana H = 0.34 0.458 366 2 L = 0.316 0.458 366 2 M = 0.290 + 0.458 366 2 (a) (b) (c)

33

r=

(d / 2) + b r f

r f + (b r f

(d)

Dalam persamaan ini I dan t didapat dari denah Gambar 1-20, adalah sudut tekan, rf jari-jari pelengkungan, b dedendum, dan d adalah diameter puncak. Faktor Geometri AGMA telah memapankan suatu faktor J, yang disebut faktor geometri (geometry factor), yang menggunakan faktor bentuk Y yang dimodifikasi dari Persamaan (120), faktor pemusatan tegangan lelah Kf dari persamaan (1-21), dan suatu angka pembanding pembagian beban (load sharing ratio) m N; angka pembanding pembagian beban di-dasarkan pada bagian beban, total yang diterima oleh gigi yang menerima beban terbesar. Persamaan AGMA adalah
J= Y K f mN

(1-22)

Karena harga Y pada Persamaan (1-22) didasarkan pada titik singgung tunggal tertinggi dari gigi, mN = 1, dan untuk roda gigi lurus, Persamaan (1-22) ditulis sebagai
J= Y Kf

(1-23)

di sini kita mempertegas bahwa Y pada persamaan (1-23) adalah harga yang diberikan oleh Persamaan (1-20). Dengan definisi faktor geometri ini, sekarang kita dapat menulis Persamaan (1-18) dalam bentuk

Wt P FJ

(1-24)

yang memberi tegangan normal yang berkaitan dengan beban total W yang bekerja pada titik singgung tunggal tertinggi dari gigi dan termasuk pengaruh dari pemusatan tegangan. Semua harga-harga ini diambil dari makalah Mitchiner dan Mabie; makalah ini juga mencantumkan data untuk geometri gigi yang lain.

34

1-11 PENGARUH DINAMIKA Bila sepasang roda gigi digerakkan pada kecepatan sedang atau tinggi dan terjadi kebisingan maka jelas bahwa ada terdapat pengaruh dinamika. Salah satu usaha paling awal untuk memperhitungkan kenaikan beban dinamis karena kecepatan menggunakan sejumlah roda gigi dengan ukuran, bahan, dan kekuatan yang sama. Beberapa di antara roda gigi ini diuji sampai rusak dengan melibaskan dan membebaninya pada kecepatan nol. Roda gigi yang lainnya diuji sampai rusak pada berbagai kecepatan garis punggung yang berbeda-beda. Maka, misalnya, bila sepasang roda gigi gagal pada 500 lb pada kecepatan nol, dan pada 250 lb pada suatu kecepatan V1 , maka suatu faktor kecepatan (velocity factor), yang dinyatakan sebagai K, sebesar 0.5 ditetapkan untuk roda-roda gigi pada kecepatan V1 . Jadi, pasangan roda gigi lainnya yang identik yang bergerak pada kecepatan garis puncak V1 dapat dianggap mempunyai suatu beban dinamis yang sama dengan dua kali beban yang dipindahkan. Carl G. Barth pada abad ke sembilan-belas yang mengungkapkan faktor kecepatan, yang disebut juga faktor dinamis (dynamic factor), dengan persamaan

Kv =

600 600 + V

(1-25)

di mana V adalah kecepatan pada garis puncak dalam feet per minute (fpm). Persamaan ini disebut persamaan Barth dan dikenal sebagai dasar pada pengujian roda gigi yang terbuat dari besi tuang dengan gigi yang dituang. Juga sangat mungkin bahwa percobaan ini dibuat pada gigi yang mempunyai profil cycloidal, jadi bukan involute; gigi cycloidal sangat umum dipakai pada masa itu karena lebih mudah dicor dibadingkan dengan gigi involute. Persamaan Barth sering dirubah menjadi

Kv =

1200 1200 + V

(1-26)

yang kemudian dipakai untuk gigi yang dipotong atau dimill atau untuk gigi yang dibentuk secara kasar.

35

Faktor dinamis AGMA dimaksudkan untuk memperhitungkan


Pengaruh kesalahan ruang antara gigi dan profil gigi Pengaruh kecepatan pada garis puncak dan rpm. Inersia dan kekakuan dari semua elemen yang berputar Beban yang dipindahkan per inch lebar muka gigi Kekakuan gigi.

Untuk roda gigi lurus yang giginya diperhalus dengan hobbing atau shaping, AGMA menyarankan rumus

Kv =

50 50 + V

(1-27)

Kalau roda gigi tersebut giginya diperhalus dengan ketelitian yang tinggi dan kalau beban dinamis yang tepat terjadi, maka faktor dinamis AGMA adalah

Kv =

78 78 + V

(1-28)

Pada kedua persamaan ini V adalah kecepatan pada garis puncak dalam inch per minute. Kalau roda gigi tersebut giginya diperhalus dengan ketelitian yang tinggi tetapi beban dinamis yang terjadi tidaklah sesuai, maka AGMA menyarankan faktor dinamis Kv = 1. Jadi, kalau perencanaan melibatkan roda gigi dengan ketelitian yang tinggi, maka anda harus memutuskan apakah beban dinamis yang timbul sesuai atau tidak. Untuk melakukan ini, periksalah mesin yang digerakkan dan mesin penggeraknya. Kalau roda gigi berada antara sebuah motor dan sebuah kipas angin, disangsikan apakah cukup besar beban dinamis yang timbul. Di pihak lain, kita bisa memperkirakan timbulnya beban dinamis yang lumayan, kalau roda gigi bekerja antara, katakanlah, suatu mesin satu silinder dan pisau dari mesin gergaji rantai.

= =

Wt P K v FY Wt P K v FJ

(1-29) (1-30)

Sekarang anda perlu mengetahui kapan persamaan-persamaan ini

36

dipakai. Persamaan (1-29) pada umumnya dipakai bila kegagalan lelah dari gigi tidak merupakan masalah atau bila suatu penaksiran ukuran roda gigi yang cepat diperlukan untuk kemudian dianalisa kembali lagi secara lebih terperinci. Persamaan (1-30) harus dipakai untuk pemakaian yang penting dan di mana kemampuan terhadap kegagalan lelah harus dipertimbangkan. Mungkin akan lebih menolong bila kedua persamaan tersebut dibedakan, dengan menyebut Persamaan (1-29) persamaan Lewis (Lewis equation) untuk tegangan lentur, dan Persamaan (1-30) persamaan AGMA untuk tegangan lentur. 1-12 MENAKSIR UKURAN RODA GIGI Dalam rangka menganalisa susunan roda gigi untuk mengetahui keandalannya berkaitan dengan suatu umur tertentu, atau untuk mencari faktor keamanan terhadap beberapa jenis kegagalan, maka adalah perlu untuk mengetahui ukuran roda gigi tersebut dan dari bahan apa roda gigi tersebut dibuat. Pada pasal ini kita berurusan terutama dengan Cara mendapatkan taksiran awal dari ukuran roda gigi yang diperlukan untuk membawa suatu beban yang diketahui. Metoda ini juga dapat dipakai untuk merencanakan susunan roda gigi di mana umur dan keandalannya tidak merupakan pertimbangan perencanaan. Pendekatan perencanaan yang disajikan di sini didasarkan pada pemilihan lebar muka gigi di dalam daerah batas 3 p F 5 p . Susunan roda gigi yang mempunyai lebar yang lebih besar dari lima kali jarak lengkung puncaknya tampaknya agak mempunyai distribusi beban yang tidak merata di sepanjang muka gigi karena defleksi puntir dari roda gigi dan poros, karena ketidak-telitian pembubutan, dan karena perlunya pemeliharaan yang teliti dan pemasangan bantalan yang kaku/tepat. Jadi lebar muka gigi yang lima kah jarak lengkung puncak adalah kira-kira merupakan harga maksimum, kecuali perhatian-perhatian khusus dilakukan sehubungan dengan pembubutan, pemasangan, dan perhatian atas kekakuan dari seluruh kesatuan roda gigi. Bila lebar muka gigi kurang dari tiga kali jarak puncak, diperlukan roda gigi yang lebih besar untuk membawa beban per inci lebar muka yang lebih besar.

37

Roda gigi yang lebih besar memerlukan ruang yang lebih besar dalam rumah roda gigi dan membuat mesin yang lebih besar pembuatannya lebih mahal karena memerlukan mesin pembentuk gigi yang lebih besar, dan mesin-mesin ini biasanya mempunyai kecepatan produksi .yang lebih lambat. Karena alasan ini lebar muka gigi yang tiga kali dari jarak lengkung puncak adalah suatu batas terendah yang baik untuk lebar muka gigi. Begitupun, perlu diperhatikan, bahwa banyak pertimbangan yang timbul dalam perencanaan yang mungkin menentukan suatu lebar muka gigi di luar daerah yang disarankan. Ukuran roda gigi didapat dengan menggunakan iterasi karena beban yang dipindahkan dan kecepatan kedua-duanya tergantung pada, langsung atau tidak langsung, jarak puncak P. Informasi yang diketahui biasanya:

Daya H Kecepatan n dalam rpm dari roda gigi yang ukurannya akan ditentukan Jumlah gigi N dari roda gigi yang akan ditentukan Faktor bentuk Y dari Lewis Tegangan lentur yang diizinkan, p .

Bila menaksir ukuran roda gigi adalah suatu ide yang baik untuk memakai suatu faktor keamanan 3 atau lebih tergantung pada bahan dan pemakaiannya. Prosedur perhitungan adalah memilih suatu harga coba-coba untuk puncak diametral dan kemudian melakukan urut-urutan perhitungan berikut: 1 Diameter puncak d dalam inci dari persamaan

d=
2

N P

(a) Kecepatan garis puncak V dalam feet per minute dari persamaan

V =
3

dn
12

(b)

Beban yang dipindahkan Wt dalam pound dari Persamaan (1-15)

Wt =
4

33(10) 3 H V

(c)

Faktor kecepatan Kv dari Persamaan (1-26)

Kv =

1200 1200 + V

(d)

38

5
F=

Lebar muka gigi F dalam inch dari Persamaan (1-29)


Wt P K v Y P

(e)

Lebar muka gigi minimum dan maksimum, masing-masing 3p dan 5p.

Keenam langkah ini dapat diprogram bila diinginkan. 1-13 KEKUATAN LELAH Beberapa penyederhanaan tertentu mungkin dilakukan untuk roda gigi dan untuk memudahkan kita ulang kembali menulis Persamaan berikut
S e = k a k b k c k d k e k f S e'

(1-31)

di mana Se = batas ketahanan gigi dari roda gigi

S e'

= batas ketahanan benda percobaan gelagar

berputar ka = faktor permukaan kb = faktor ukuran kc, = faktor keandalan kd = faktor suhu ke = faktor modifikasi pemusatan tegangan k f = faktor atas pengaruh-pengaruh yang lain. Pengerjaan akhir Faktor permukaan ka harus selalu sesuai dengan pengerjaan mesin akhir, walaupun sayap gigi diperhalus. Alasan untuk ini adalah bahwa dasar bawah biasanya tidak diperhalus, tetapi dibiarkan sebagaimana dikerjakan mesin yang semula. Ukuran Faktor ukuran, dari Persamaan ini dalam satuan inch, adalah
k b = 0.869d 0.097 kb = 1 0.3in < d < 10in 0.3in d

(a)

Dalam persamaan ini ukuran d adalah diameter dari suatu benda kerja yang bulat. Untuk suatu penampang persegi empat rumus untuk diameter yang ekivalen adalah

39

d eq =

0.05hb 0.0766

(b)

di mana h adalah tinggi penampang dan b adalah lebarnya. Untuk gigi roda-gigi h adalah tebal gigi yang kira-kira sama dengan setengah jarak puncak. Dan b adalah lebar muka F Dengan memasukkan h = p/2 dan F = 3p ke dalam Persamaan (b) memberi
d eq = 0.05( p / 2)(3 p ) p 0.0766

(c )

Jadi serangkaian faktor ukuran bisa menyelesaikan berbagai jarak puncak dengan menggunakan Persamaan (a) dan p = / P . Bila ini dilakukan, kita mendapatkan

kb = 1

P > 12 gigi/in

(1-32)

Faktor ukuran yang sesuai dengan roda gigi yang mempunyai puncak diametral kurang dari 12 terdaftar pada Tabel 1-3. Karena banyak roda gigi yang mempunyai lebar muka lebih besar dari 3p maka harga-harga pada Tabel 1-3 ada pada sisi yang aman.
Tabel 1-3 FAKTOR UKURAN UNTUK GIGI DARI RODA GIGI LURUS

Jumlah Puncak P 2 2 3 4 5

Faktor kb 0,832 0,850 0,865 0,890 0,909

Jumlah puncak P 6 7 8 10 12

Faktor kb 0,925 0,939 0,951 0,972 0,990

Pemusatan Tegangan Faktor pemusatan-tegangan lelah kf telah digabungkan ke dalam faktor geometri J. Karena telah sepenuhnya diperhitungkan, pakailah ke = 1 untuk roda gigi. Pengaruh-pengaruh lain Roda gigi yang selalu berputar dalam arah yang sama dan bukan merupakan roda gigi yang menganggur menerima suatu gaya gigi yang selalu bekerja pada sisi yang sama dari gigi tersebut. Jadi beban lelah berulang tetapi tidak bolak-balik sehingga gigi ini disebut menerima lenturan searah. Untuk situasi ini komponen tegangan rata-rata dan bolak-balik adalah

40

a =m =

(d)

di mana adalah tegangan lentur gigi sebagaimana yang diberikan oleh Persamaan (1-30). Ini berarti bahwa kita dapat menggunakan faktor pengaruhpengaruh lain untuk menaikkan batas ketahanan gigi bila gigi menerima lenturan searah saja. Dengan memasukkan harga pada Persamaan (d) ke dalam Persamaan untuk garis Goodman yang dimodifikasi kita mendapatkan

2 S e S ut S ut + S e

(1-34)

kita pelajari bahwa S e' = 0.50 Sut bila S ut 200 kpsi. Dengan memasukkan

S ut = S e' / 0.5 dalam Persamaan (1-34) kita mendapatkan = 1.33S e' . Jadi faktor
pengaruh lain k f adalah 1.33 bila S ut 200 kpsi. Persamaan (1-34) bisa dipakai untuk mencari harga k f yang lain bila Sut lebih besar dari 200 kpsi. 1-14 FAKTOR KEAMANAN Rumus

nG = K o K m n

(1-35)

bisa dipakai untuk menghitung faktor keamanan nG untuk roda gigi. Dalam rumus ini K, adalah faktor kelebihan beban (overload factor). Harga yang disarankan oleh AGMA terdaftar pada Tabel 1-4. Faktor KM adalah faktor distribusi beban (load-distribution facto.) dari AGMA yang memperhitungkan kemungkinan bahwa gaya gigi mungkin terbagi secara tidak merata di sepanjang lebar muka penuh dari gigi. Pakailah Tabel 1-5 untuk Km. Faktor n pada Persamaan (1-35) adalah faktor keamanan yang biasa. Harga praktis AGMA menggunakan n 2 2 terhadap kegagalan lelah.

41

Tabel 1.4 FAKTOR KOREKSI BEBAN BERLEBIH K0

Mesin yang digerakkan Sumber daya Terbagi rata Benturan Ringan Benturan sedang 1.00 1.25 1.50 Benturan sedang 1.25 1.50 1.75 Benturan berat 1.75 2.00 2.25

Sumber : Darle W. Dudley (ed.) Gear handbook, McGrawhill New York, 1962, p.13-20 Tabel 1.5 FAKTOR DISTRIBUSI BEBAN Km UNTUK RODA GIGI LURUS

Sifat Tumpuan 0-2


Pemasangan yang teliti, kebebasan bantalan yang kecil, defleksi yang minimum, roda gigi presisi Pemasangan yang kurang kaku, roda gigi yang kurang teliti, persinggungan sepanjang muka penuh Ketelitian dan pemasangan yang sedimikian rupa sehingga terjadi persinggungan yang kurang penuh 1,3 1,6

Lebar muka, in 6
1,4 1,7 Over 2,2

9
1,5 1,8

16 keatas
1,8 2,2

Sumber : Darle W. Dudley (ed.) Gear handbook, McGrawhill New York, 1962, p.13-21

Contoh 1-4

Ukuran sepasang roda gigi reduksi 4 : 1 untuk sebuah

motor 100 hp 1120 rpm diperkirakan sebagai lebar muka 3 1 2 in untuk puncak diametral 4, dengan gigi 18 dan 72, masing-masing untuk pinion dan roda gigi. Roda gigi mempunyai tinggi penuh pada 20 dengan suatu jarak kebebasan 0.250/P dan terbuat dari baja UNS G10400 yang diberi perlakuan panas dan ditarik pada 1000F. Didasarkan pada kondisi pemasangan yang rata-rata, benturan ringan pada mesin yang digerakkan, dan suatu keandalan sebesar 95 persen, carilah faktor keamanan nG dan n terhadap suatu kegagalan lelah.

Penyelesaian Pinion 4.5 in, kecepatan garis puncak 1319 fpm, dan beban
yang dipindahkan 2501 1b. Dengan menggunakan Persamaan (1-27) kita mendapatkan faktor kecepatan sebesar

42

Kv =

50 50 + V

50 50 + 1319

= 0.579

Selanjutnya, sesuai dengan tabel, N2 = 18 gigi dan N3 = 72 gigi. Interpolasi antara 50 dan 85 memberi J=0.34810. Dengan memasukkan dan menyelesaikan Persamaan (1-30) memberi

Wt P 2501(4)(10) 3 = = 14.18 kpsi K v FJ 0.579(3.5)(0.34810)

Kita mendapat Sut =113 kpsi. Jadi Gambar 1-23 memberi faktor permukaan sebagai ka = 0.725.. Faktor ukuran kb = 0.890 dari Tabel 1-3. Memberi k.c = 0.868 untuk keandalan 95 persen. Kita misalkan kd =1, dan ke diketahui sama dengan satu. Juga kf= 1.33. Selanjutnya S e' = 0.50 Sut = 0.5(113) = 56.5 kpsi. Batas ketahanan sekarang didapat dari Persamaan (1-31) sebesar
S e = k a k b k c k d k e k f S e' = (0.725)(0.890)(0.868)(1)(1)(1.33)(56.5)
= 42.09 kpsi

Sekarang kita mendapat Ko = 1.25 untuk benturan sedang pada mesin yang digerakkan dan Km = 1.7 untuk pemasangan dan ketelitian roda gigi yang rata-rata. Jadi, dengan, menggunakan Persamaan (1-35), kita mendapatkan

nG = K o K m n = (1.25)(1.70)n = 2.125n
Faktor keamanan nG adalah
nG = Se

42.09 = 2.97 14.18

Jawab

Maka
n= nG 2.97 = = 1.40 2.125 2.125

Jawab

Harga dari Pasal 1-13 ("Penaksiran Ukuran Roda gigi") mestinya sekarang cukup jelas. Persoalan kebalikannya yang dimulai dengan faktor keamanan dan mencari jarak puncak dan lebar muka gigi sedikit lebih rumit bila kegagalan lelah juga harus diperhitungkan.

43

1-15 DAYA TAHAN PERMUKAAN Pasal-pasal sebelumnya menyangkut tegangan dan kekuatan dari gigi suatu roda gigi yang diberi beban lentur dan bagaimana menjaganya terhadap kemungkinan rusaknya gigi tersebut oleh beban lebih statis atau oleh beban lelah. Pada pasal ini kita tertarik pada kegagalan permukaan (failure of the surface) dari gigi roda gigi, yang pada umumnya disebut aus (wear). Sompelan (pitting), adalah suatu kegagalan lelah karena banyaknya pengulangan tegangan kontak yang tinggi. Kegagalan permukaan yang lain adalah goresan (scoring), yang merupakan suatu kegagalan pelumasan, atau gosokan (abrasion), yaitu keausan yang disebabkan oleh hadirnya benda-benda luar. Untuk menjamin suatu umur yang memuaskan, roda gigi harus direncanakan sedemikian agar tegangan permukaan yang dinamis tersebut terjadi dalam batas-batas ketahanan permukaan dari bahan. Dalam banyak hal bukti keausan pertama yang dapat dilihat oleh mata telanjang biasanya terlihat dekat garis puncak; ini nampaknya wajar karena beban dinamis maksimum terjadi dekat daerah ini. Untuk mendapatkan rumus bagi tegangan persinggungan permukaan, kita akan menggunakan teori Hertz. Terlihat bahwa tegangan persinggungan antara dua silinder bisa dihitung dari persamaan.

Pmax =

2F bl
= gaya yang menekan kedua silinder bersamaan, lb. = panjang silinder, in.

(1-36)

di mana Pmax = tekanan permukaan, psi F l

dan b didapat dari persamaan.

b=

2 2 / E1 + 1 2 / E2 2F 1 2 (1 / d1 ) + (1 / d 2 ) l

[(

) ] [(

(1-37)

di mana 1 , 2 , E1 dan E2 adalah konstanta elastis dan di dan d2 adalah masingmasing diameter dari kedua silinder. Untuk memakai persamaan ini dalam notasi yang dipakai dalam roda gigi, kita menggantikan F dengan Wt/cos , d dengan 2r, dan l dengan lebar muka F. Dengan

44

perubahan ini kita dapat memasukkan harga b dari Persamaan (1-37) ke dalam Persamaan (1-36). Dengan menggantikan Pmax dengan H, tegangan tekan permukaan (surface compressive stress (Hertzian Stress)) didapat sebesar
2 = H

Wt (1 / r1 ) + (1 / r2 ) 2 2 F cos 1 1 / E1 + 1 2 / E2

[(

) ] [(

(1-38)

di mana r, dan r2 adalah jari-jari kelengkungan sesaat pada titik persinggungan, masingmasing pada profil gigi pinion dan roda gigi. Dengan memperhitungkan pembagian beban dari harga Wt yang dipakai, Persamaan (1-38) dapat diselesaikan untuk mendapatkan tegangan Hertzian pada setiap atau semua titik dari permukaan sampai akhir persinggungan gigi. Tentu saja, pergelindingan yang murni hanya terjadi pada titik puncak. Selebihnya, gerakannya adalah campuran gelinding dan luncuran. Persamaan (1-38) tidak memperlihatkan gerakan meluncur di dalam evaluasi tegangan tersebut. Sebagai contoh dalam pemakaian persamaan ini mari kita coba mencari tegangan persinggungan dari sepasang gigi yang bersinggungan pada titik puncak. Jari-jari kelengkungan r1 dan r2 dari profil gigi, yang bila bersinggungan pada titik puncak, adalah
r1 = d P sin 2 r2 = d G sin 2

(a)

di mana adalah sudut tekan. Kemudian


1 1 2 1 1 + = + r1 r2 sin d P d G

(b)

Dengan menetapkan perbandingan kecepatan (speed ratio) mG sebagai


mG = NG dG = NP dP

(1-39)

maka kita dapat menulis Persamaan (b) sebagai


1 1 2 mG + 1 + = r1 r2 sin mG d P

(c)

Setelah penyusunan kembali dan dengan memakai Persamaan (c), Persamaan (1-18) menjadi

45

H =

Wt Fd P

1
2 2 1 P 1 G + E EG P

1 cos sin mG 2 mG + 1

(1-40)

Tanda negatif menunjukkan bahwa H adalah suatu tegangan tekan. Notasi P dan G pada Persamaan (1-40) yang dipakai pada menyatakan untuk pinion dan roda gigi. Bagian kedua yang terpisah dalam Persamaan (1-40) disebut koefisien elastic Cp. Jadi rumus untuk Cp adalah

dan E masing-masing

Cp =

1
2 1 1 G + EG EP 2 P

(1-41)

Harga C p telah dipecahkan untuk berbagai kombinasi bahan. Faktor geometri (geometry factor) I untuk roda gigi lurus adalah bagian ketiga di dalam akar Persamaan (1-40). Jadi
I= cos sin mG 2 mG + 1

(1-42)

yang berlaku hanya untuk roda gigi luar yang lurus. Untuk roda gigi dalam, faktor tersebut adalah
I= cos sin mG 2 mG 1

(1-43)

Sekarang ingat bahwa suatu faktor kecepatan Kv dipakai dalam persamaan tegangan lentur untuk memperhitungkan kenyataan bahwa gaya antara gigi-gigi sebetulnya lebih besar dari beban yang dipindahkan karena pengaruh dinamis. Faktor ini harus dipakai pada persamaan untuk tegangan tekan permukaan untuk maksud yang sama. Kalau dipakai di sini, faktor kecepatan dinyatakan sebagai Cv harganya adalah sama dan karenanya Cv = Kv; memakai rumus yang sama. Sesuai dengan Persamaan (1-41) sampai (1-43) dan menambahkan faktor kecepatan, Persarnaan. (1-40) bisa ditulis dalam bentuk yang lebih baik

H = C P

Wt C v Fd P I

(1-44)

46

1-16 KEKUATAN LELAH PERMUKAAN Metoda yang dipakai untuk mencari kekuatan permukaan dari gigi roda gigi yang bersinggungan. Walaupun gigi yang bersinggungan tersebut menerima tegangan tekan yang berulang, elemen tegangan kritis berada di bawah permukaan agaknya mirip seperti diberi tegangan ulang yang bolak balik. Kekuatan lelah permukaan untuk baja diberikan sebagai

S c = 0.4 H B 10

.kpsi

(1-45)

di mana HB adalah kekerasan Brinell dari permukaan terlunak di antara dua permukaan yang bersinggungan. Kita juga melihat bahwa harga yang diberikan oleh Persamaan (1-45) sesuai dengan umur pemakaian tegangan 10 8 kali. AGMA menyarankan bahwa kekuatan lelah persinggungan, ini dimodifikasi dalam Cara yang sama seperti untuk batas ketahanan lentur. Persamaannya adalah
SH = CLCH SC CT C R

(1-46)

di mana SH CL CH CT Siklus Hidup 10


4

kekuatan lelah yang telah dikoreksi, atau kekuatan Hertzian faktor umur faktor perbandingan kekerasan, pakai 1.0 untuk roda gigi lurus faktor suhu, pakai 1.0 untuk suhu di bawah 2500F Faktor Hidup CL 1,2 1,3 1,1 1,0 Keterandalan R Up to 0,99 0,99 to 0,999 0,99 up Faktor Keandalan CR 0,80 1,00 1,25 up

Tabel 1-6 FAKTOR MODIFIAKASI UMUR DAN KEANDALAN

105 106 108

Faktor modifikasi umur (Life modification factor) CL dipakai untuk menaikkan kekuatan bila roda gigi dipakai untuk periode waktu yang singkat; pakai Tabel

47

1-6. Faktor modifikasi keandalan (reliability modification factor) CR; seperti yang disajikan oleh AGMA, agak kabur. Dipercayai bahwa harga rata-rata CR dari AGMA adalah kira-kira seperti yang terdaftar pada Tabel 1-6. Faktor perbandingan kekerasan (hardness ratio factor), disertakan oleh AGMA untuk memperhitungkan perbedaan kekuatan terhadap kenyataan bahwa satu roda gigi yang berpasangan mungkin lebih lunak dari yang lain. Begitupun, untuk roda gigi lurus, dipakai CH =1. AGMA tidak membuat rekomendasi atas harga-harga yang dipakai untuk faktor suhu (temperature factor) CT bila suhu melampaui 250F, kecuali secara tidak langsung mengatakan bahwa suatu harga C T > 1.0 mungkin harus dipakai. Untuk pemakaian yang lebih luas ini akan tergantung pada batasan suhu dari pelumas yang dipakai, karena bahan dapat menahan suhu yang lebih besar. Untuk contoh, lihat Persamaan (1-33). Faktor keamanan terhadap kegagalan permukaan harus dipilih dengan menggunakan petunjuk yang diutarakan pada persamaan 1-15 dan persamaan (1-35). AGMA menggunakan Co dan Cm untuk menyatakan faktor pembebanan lebih dan distribusi-beban, tetapi harganya sama seperti harga Ko dan Km Faktor-faktor ini perlu dipakai pada-penyebut dari Persamaan 1-44) sebagai faktor perkalian beban. Dengan menyatakan beban yang diizinkan untuk dipindahkan Wt..p sebagai

Wt . p = nGWt nG = C o C m n

(a)

Di mana, dari Persamaan (1-35), (1-47)

Persamaan (1-44) dapat ditulis sebagai

S H = CP

Wt . p CV FDP I

(1-48)

Perhatikan bahwa langkah ini perlu karena H dan Wt pada Persamaan (1-44) tidak berhubungan secara linier. Seperti telah kita amati berkali-kali dalam buku ini, tidak ada pengganti yang memuaskan atas suatu program percobaan laboratorium yang menyeluruh untuk membenarkan hasil-hasil analitis. Ini khususnya betul dalam perencanaan roda gigi

48

untuk umur yang panjang.

Contoh 1-5

Carilah faktor keamanan n G dan Wt terhadap kegagalan lelah

permukaan untuk susunan roda gigi pada Contoh 1-4. Penyelesaian Bahan kedua roda gigi adalah baja UNS G10400, yang diberi

perlakuan panas dan ditarik pada 1000F. Tabel A-17 memberi kekuatan tarik sebesar S ut = 113 kpsi, yang sesuai dengan kekerasan Brinell sebesar 235. Jadi Persamaan (1-45) memberi kekuatan persinggungan sebagai

S C = 0.4H B 10 = 0.4(235) 10 = 84 kpsi


Dengan CL =1.10 untuk 106 siklus dan CR =0.80 untuk keandalan 95 persen, seperti yang ditetapkan pada Contoh 1-4. Kita juga memilih CT=CH = 1. Jadi kekuatan Hertzian, dari Persamaan (1-46),
SH = CLCH (1.10)(1) (84) = 115.5 SC = 91)(0.80) CT C R

kpsi

Selanjutnya, kita memakai C o =K O = 1.25 dan Cm = K m = 1.7 dari Contoh 1-5. Jadi

nG = (1.25)(1.7)n = 2.125n
Jumlah gigi adalah 18 dan 72, sudut tekan adalah 20, dan jumlah puncak adalah 4 gigi/in. Ini memberi diameter puncak dp = 18/4 = 4.5 in dan dG = 72/4 =18 in. Maka perbandingan kecepatan MG = dG/dP =18/4.5 = 4, yang, tentu saja, diberikan dalam contoh tersebut. Dengan menggunakan Persamaan (1-42) kita mendapatkan faktor geometri I sebesar
I=
cos sin mG cos 20 sin 20 4 = = 0.129 2 2 4 +1 mG + 1

Kita menggunakan Cv = Kv = 0.579 dari Contoh 1-4. Dari contoh yang sama Wt = 2501 lb. Memberi Cp = 2300 untuk baja dengan baja. Kita sekarang ingin sukkan langsung ke dalam. Persamaan (1-48) memberi

49

115.5(10) 3 = 2300

Wt . p
(0.579)(3.5)(4.5)(0.129)

Penyelesaian memberi WtP = 2967 lb. Karena. Wt = 2501 lb dari Contoh 14, faktor nG adalah

nG =

Wt . p Wt

2967 = 1.19 2501

Jawab

Persamaan (1-47) kemudian memberi


n= nG 1.19 = = 0.560 C o C m 2.125

Jawab

Jadi, tak ada keamanan terhadap kegagalan lelah permukaan, dan roda gigi bisa diharapkan mengalami umur keausan kira-kira di bawah 106 pemakaian tegangan. 1-17 BAHAN RODA GIGI Roda gigi biasanya terbuat dari baja, besi tuang, perunggu, atau bahan sintetis. Yang mutakhir nylon, Teflon, titanium, dan serbuk besi yang disinter telah dipakai dengan memuaskan. Banyak variasi bahan yang tersedia memberi kesempatan bagi perencana untuk mendapatkan bahan yang optimum untuk setiap keperluan tertentu, apakah itu berupa kekuatan yang tinggi, umur keausan yang panjang, ketidak-bisingan operasi, atau keandalan yang tinggi. Dalam kebanyakan pemakaian, baja adalah bahan yang paling mernuaskan karena ia menggabungkan kekuatan yang tinggi dan biaya yang rendah. Roda gigi dibuat baik dari baja karbon biasa maupun baja campuran, dan sebetulnya tak ada suatu bahan yang merupakan bahan terbaik. Dalam banyak hal, pemilihan tergantung pada kesuksesan relatif dari bagian perlakuan panas atas berbagai baja yang ada. Bila roda gigi harus dicelup cepat (quenched) atau disepuh (tempered), maka baja dengan karbon 0,40 s/d 0,60 digunakan. Bila harus diperkeras setempat (case hardened), baja yang dipakai adalah berkadar karbon 0,20 atau kurang. Sifat bagian inti dan bagian permukaan harus selalu dipertimbangkan. Besi tuang adalah suatu bahan yang sangat penting karena besi tuang mempunyai ketahanan aus yang baik. Bahan ini mudah dituang dan dibubut dan

50

memberi suara yang. tidak sebising baja. Kekuatan tarik dari besi tuang kelas AGMA adalah sama dengan kelas ASTM yang terdaftar pada Lampiran. Perunggu bisa dipakai untuk roda gigi bila karrosi adalah merupakan persoalan, dan bahan ini -cukup berguna dalam mengurangi gesekan dan keausan bila
kecepatan luncur tinggi, seperti pada pemakaian roda gigi cacing. AGMA mencatat lima jenis timah-perunggu yang mengandung sedikit nikel, timbal, atau seng yang ternyata sesuai untuk bahan roda. gigi. Kekerasannya berkisar antara 70 sampai 85 Bhn.

Roda gigi yang bukan-logam dipasangkan dengan baja atau besi tuang untuk mendapatkan kapasitas pembawaan beban yang paling tinggi. Untuk menjamin ketahanan aus yang baik, roda gigi logam harus mempunyai kekerasan yang paling tidak 300 Bhn. Suatu roda gigi yang bukan-logam akan membawa beban yang hampir sama seperti yang dapat dibawa oleh roda gigi besi tuang atau bajasedang yang baik, walaupun mungkin kekuatannya agak lebih rendah, karena rendahnya elastisitas modulusnya. Kerendahan modulus ini memungkinkan roda gigi yang bukan-logam untuk menyerap pengaruh-pengaruh kesalahan gigi sehingga beban dinamis tidak terjadi. Suatu roda gigi yang bukanlogam juga mempunyai keuntungan yang penting dalam operasinya terutama pada kelonggaran pelumasannya. Lapisan yang dibuat tahan panas (thermosetting laminate) banyak. dipakai untuk roda gigi. Bahan ini dibuat dari bahan lembaran yang terdiri dari bahan serat atau anyaman, bersama-sama dengan bahan pengikat atau pencetak. Kedua nylon dan Teflon, adalah bahan roda gigi, yang telah memberi hasil yang sangat memuaskan di dalam pemakaiannya. 1-18 PERENCANAAN BENDA KERJA RODA GIGI (GEAR BLANK) Benda kerja roda gigi (gear-blank) dibuat dengan pengecoran, penempaan, pembubutan dari suatu benda kosong, dan dibuat di pabrik secara massal. Beberapa metoda pembuatan di pabrik yang khas terlihat pada Gambar 1-23. Bila pinion yang dibuat adalah kecil, sering dibuat bersamaan dengan poros, jadi meniadakan kunci begitu pula alat penempatan aksialnya. Dalam merencanakan suatu benda kerja roda gigi, kekakuan hampir selalu merupakan pertimbangan yang utama. Nafnya harus cukup tebal untuk

51

menyiapkan keketatan yag pantas dengan poros dan untuk menyediakan logam yang cukup untuk alur kunci.

Gambar 1-23 Metoda pembuatan roda gigi sebagaimana pengelasan. (a) Benda kerja padu, di mana naf dilaskan. (b) Roda gigi mempunyai suatu jari-jari yang padu dengan penguat, memberi tambahan dukungan pada lingkar. (c) Konstruksi yang baik ntuk roda gigi berdiameter kecil dengan lebar muka yang pendek. (d) Benda kerja roda gigi yang dicetak bersama jerijinya. (Atas kebaikan Lincoln Electric Company).

Ketebalan ini juga harus cukup besar sedemikian agar daya putar bisa dipindahkan melalui naf ke jari-jari atau jerijinya tanpa pemusatan tegangan yang berarti. Naf harus mempunyai panjang yang sedemikian roda gigi tersebut dapat berputar pada satu bidang tanpa baling, lengan atau j ari-jari dan lingkarnya juga harus mempunyai kekakuan, tetapi jangan terlalu banyak, karena mempengaruhi beban dinamis. Tata aturan yang umum ntuk merencanakan naf. Kalau naf direncanakan dengan kekakuan yang cukup, tegangan biasanya agak rendah, khususnya bila dibandingkan dengan tegangan-tegangan gigi. Panjang naf harus paling tidak sama dengan lebar muka gigi, atau lebih besar bila hal ini tidak memberi panjang kunci yang cukup. Kadang-kadang dipakai dua kunci. Kalau kebebasan antara lubang naf dan poros besar, naf harus mempunyai panjang yang paling tidak dua kali diameter lubang, karena sedikit ketidaktelitian di sini berpengaruh besar pada lingkarnya. Banyak perencana cenderung menggunakan penggambaran roda gigi

52

dengan skala; ukuran naf kemudian bisa diatur dengan melihatnya untuk mendapatkan kekakuan yang diperlukan. Gambar 1-24 adalah sebuah gambar dari sepotong roda gigi besi tuang. Manik-manik (bead) naf dipakai untuk mengikat lengan dan mengurangi pemusatan tegangan yang disebabkan daya putar yang dipindahkan dari naf ke lengan. Lengan terlihat berbentuk penampang ellips, tetapi juga bisa direncanakan dengan penampang berbentuk H atau I, atau bentuk yang lain, tergantung pada kekakuan dan kekuatan yang diinginkan. Manik tersebut memberi kekakuan dan kekuatan yang diinginkan. Manik tersebut memberi tambahan kekakuan dan kekuatan pada lingkar.

Gambar 1-24 Sebuah roda gigi besi tuang yang menunjukkan bagaimana lenturan terjadi oleh gaya sentrifugal.

Kalau suatu roda gigi berputar pada suatu kecepatan garis puncak yang tinggi, berat dari lingkar dan gigi mungkin cukup untuk menyebabkan tegangan lentur yang besar pada bagian lingkar yang ada antara dua lengan. Bila roda gigi terbuat dari baja, tegangan-tegangan ini biasanya tidak serius, tetapi bila yang dipakai besi tuang, tegangan-tegangan ini harus diperiksa. Walaupun persoalannya rumit, suatu pendekatan bisa didapat dengan pengandaian bahwa lingkar yang dibebani secara merata tersebut adalah mati pada ujung-ujung jerijinya. Panjang

53

dari gelagar akan berupa panjang lengkungan diukur pada diameter rata-rata dari lingkar antara garis tengah jeruji-jeruji tersebut. Dengan pengandaian ini, beban lentur total W adalah
W =

l V 2
g r

(1-49)

Di mana = berat satuan dari lingkar dan gigi, lb per in2 V = kecepatan pada garis puncak, fps

g = percepatan gravitasi, fps2


Momen lentur maksimum terjadi pada lengan dan besarnya adalah

M max =

Wl 12

(1-50)

Tegangan kemudian bisa didapat dengan memasukkan momen maksimum dan modulus penampang ke dalam persamaan tegangan lentur, = Mc / I . Penyelesaian ini mengabaikan kelengkungan lingkar; gaya tarik, tekan, atau lentur di dalam lingkar karena pengalihan daya putar antara lengan dengan lingkar; dan pengaruh pemusatan tegangan di tempat pertemuan lengan dengan lingkar. Sebagai tambahan, kita tidak dapat memastikan ketelitian atas pengandaian yang menyatakan Ujung gelagar adalah mati.

54