P. 1
P R E S S R E A L E A S E FK THL TBPP NASIONAL 27 JUNI 2013

P R E S S R E A L E A S E FK THL TBPP NASIONAL 27 JUNI 2013

|Views: 13,568|Likes:
Dipublikasikan oleh admin.thl4all
P R E S S R E A L E A S E
PENGANGKATAN THL TBPP MENJADI PENYULUH PERTANIAN PNS, SOLUSI BAGI
REGENERASI PENYULUH PERTANIAN

P R E S S R E A L E A S E
PENGANGKATAN THL TBPP MENJADI PENYULUH PERTANIAN PNS, SOLUSI BAGI
REGENERASI PENYULUH PERTANIAN

More info:

Published by: admin.thl4all on Jun 20, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2013

pdf

text

original

PRESS REALEASE

PENGANGKATAN THL TBPP MENJADI PENYULUH PERTANIAN PNS, SOLUSI BAGI REGENERASI PENYULUH PERTANIAN Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL TBPP) adalah Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian yang direkrut secara nasional oleh Kementerian Pertanian selama kurun waktu tertentu dan melaksanakan tugas dan fungsinya dalam kegiatan penyuluhan pertanian. THL TBPP direkrut pertama kali pada akhir tahun 2006 sebanyak 6000 orang dan mulai bekerja pada Tahun Anggaran (TA) 2007 serta disebut THL TBPP Angkatan I (2007). Perekrutan kedua dilakukan pada akhir tahun 2007 sebanyak sekitar 10.000 orang dan mulai bekerja pada TA 2008 dan selanjutnnya disebut THL TBPP Angkatan II (2008). Perekrutan terakhir dilakukan pada akhir tahun 2008 sebanyak sekitar 10.000 orang dan mulai bekerja pada TA 2009 yang kemudian disebut sebagai THL TBPP Angkatan III (2009). Jumlah THL TBPP se-Indonesia berdasarkan catatan terakhir bulan Desember 2012 adalah sebanyak 21.585 orang. THL TBPP direkrut dalam rangka mengimplementasikan kebijakan pemenuhan komposisi 1 penyuluh satu desa. Sebagai catatan pada akhir dekade 1990-an jumlah penyuluh pertanian PNS mengalami stagnasi dan bahkan cenderung menurun.

Kecenderungan ini semakin nyata saat memasuki dekade 2000-an dan puncak penurunan jumlah penyuluh pertanian PNS terjadi pada tahun 2007 (lihat Bagan Alir dalam Lampiran). THL TBPP direkrut awalnya pada akhir 2006 untuk mendukung dan menguatkan program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Karena rekrutmen pertama dianggap sukses maka Pemerintah melakukan perekrutan berikutnya pada akhir 2007 dan akhir 2008. Pada tahun 2008 Pemerintah berhasil mencapai swasembada beras. THL TBPP merupakan Tenaga Kontrak Penyuluh Pertanian. Meskipun direkrut oleh Pemerintah Pusat, namun dalam menjalankan tupoksinya THL TBPP diperbantukan dan mendapatkan penugasan di wilayah kerja Pemerintah Kabupaten/Kota. THL TBPP bekerja dalam lingkup kegiatan yang sama dengan Penyuluh Pertanian PNS di bawah Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang membidangi penyuluhan pertanian. THL TBPP bekerja berdasarkan kontrak kerja dengan masa kerja 10 bulan tiap tahun anggaran. Pernah pada tahun tertentu masa kontrak hanya 8 bulan pada tahun anggaran tersebut. Karena pada umumnya THL TBPP tetap bekerja selama 12 bulan penuh, maka Pemerintah Pusat cq Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan

mengirimkan Surat Edaran yang berisi seruan kepada Pemerintah Daerah untuk mengupayakan dukungan pemenuhan honor selama bulan-bulan di luar masa kontrak pusat tersebut.

Urgensi Regenerasi Penyuluh Pertanian PNS Penyuluhan Pertanian memiliki peran yang sangat strategis di dalam mendukung dan mengawal program utama pembangunan pertanian demi tercapainya Empat Sukses Pembangunan Pertanian, yakni (1) Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan, (2) Diversifikasi Pangan, (3) Peningkatan Nilai Tambah, Daya Saing dan Ekspor, dan (4) Peningkatan Kesejahteraan Petani (Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP – Kementan, 2013). Dalam kaitan peran penyuluhan tersebut di atas Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (UUSP3K) telah menggariskan arah kebijakan yang sangat jelas dan tegas tentang penyelenggaraan kegiatan penyuluhan, lembaga penyelenggara dan pelaksana penyuluhan serta batasan dan jenis penyuluh yang dapat terlibat dalam kegiatan penyuluhan. Berdasarkan amanat UUSP3K, terdapat tiga jenis lembaga penyelenggara kegiatan penyuluhan yakni kelembagaan penyuluhan pemerintah, kelembagaan penyuluhan swasta dan kelembagaan penyuluhan swadaya. Sejalan dengan ragam kelembagaan ini selanjutnya diatur batasan dan jenis penyuluh : (1) Penyuluh PNS, (2) Penyuluh Swasta, dan (3) Penyuluh Swadaya (Bab I. Ketentuan Umum, Pasal 1 butir 19 – 21 dan Pasal 20 ayat 1 UUSP3K). Kelembagaan penyuluhan pemerintah adalah pemegang tanggung jawab dan pengendali utama penyelenggaraan kegiatan penyuluhan dan pembiayaan seluruh kegiataannya dialokasikan dari APBN. Sementara peran kelembagaan penyuluhan swasta dan swadaya lebih bersifat partisipatif dan biaya penyelenggaraannya diusahakan secara mandiri. Sejak awal penugasannya hingga TA 2013 ini THL TBPP menjalankan tupoksi pada jalur kelembagaan penyuluhan pertanian pemerintah. Konkretnya THL TBPP menjalankan tupoksi yang sama dengan Penyuluh Pertanian PNS. Dengan kata lain selama menjalankan tugas dan fungsinya THL TBPP telah menempati formasi jabatan Penyuluh Pertanian PNS. UUSP3K juga mengatur pengangkatan Penyuluh (Pertanian) PNS seperti yang diuraikan dalam Pasal 20 ayat 2 : Pengangkatan dan penempatan penyuluh PNS disesuaikan dengan kebutuhan dan formasi yang tersedia berdasarkan peraturan perundang-undangan. Namun demikian pemenuhan amanat ini mendapatkan penekanan khusus. Penjelasan Pasal 20 ayat 2 menyebutkan bahwa pengangkatan penyuluh PNS harus mendapat prioritas oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk mencukupi kebutuhan penyuluh PNS.

Relevansi Prioritas Pengangkatan Penyuluh PNS dengan Keberadaan THL TBPP Undang-Undang Kepegawaian yang masih berlaku hingga saat ini yakni UndangUndang No. 43 Tahun 1999 salah satunya mengatur pengangkatan secara khusus menjadi PNS bagi tenaga-tenaga yang telah mengabdi pada tugas-tugas negara. Pasal 16 A ayat 1 UU No. 43 Tahun 1999 menyebutkan bahwa untuk memperlancar pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan, pemerintah dapat mengangkat langsung menjadi PNS bagi mereka yang telah bekerja pada instansi yang menunjang kepentingan nasional. Pasal 16 A ayat 2 memberikan batasan bahwa persyaratan, tata cara dan pengangkatan langsung menjadi PNS sebagaimana dimaksud dalam ayat 1, ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan Pasal 16 A ayat 2 inilah yang kemudian menjadi dasar bagi terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 48 Tahun 2005. PP ini kemudian mengalami dua kali perubahan yakni PP No. 43 Tahun 2007 (PP Perubahan Pertama) dan PP No. 56 Tahun 2012 (PP Perubahan Kedua). PP No. 56 Tahun 2012 yang masa pembahasannya berlangsung hingga akhir tahun 2009 ternyata juga tak mampu memberikan pengaturan penyelesaian pengangkatan yang tuntas dan berkeadilan bagi tenaga-tenaga tertentu yang memenuhi ketentuan Pasal 16 A ayat 1 UU No. 43 Tahun 1999. PP ini menetapkan 4 kategori tenaga tertentu yang mendapat pengaturan pengangkatan menjadi PNS melalui mekanisme khusus. Permenpan No. 233 Tahun 2012 sebagai peraturan lebih teknis dari PP No. 56 Tahun 2012 telah menetapkan mekanisme pengangkatan pada masing-masing kategori sebagai berikut : (1) Tenaga Honorer K I : Verifikasi dan Validasi data; (2) Tenaga Honorer K II : Test Tulis Kompetensi Dasar dan Kompetensi Bidang setelah lolos Uji Publik Daftar Nominatif K II; (3) Dokter Daerah Terpencil : Alokasi Formasi Khusus; dan (4) Tenaga Ahli Tertentu/Khusus : Kepres. Di antara ke-4 kategori tersebut THL TBPP paling dekat memenuhi ketentuan dasar Tenaga Ahli Tertentu/Khusus yakni dibutuhkan oleh Negara tapi tidak tersedia atau tidak cukup tersedia (masih kekurangan) di kalangan PNS. Hanya saja THL TBPP terhalang ketentuan batas usia dan masa kerja yakni berusia masimal 46 tahun dan telah mengabdi sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun pada 1 Januari 2006. Kriteria batas usia dan masa kerja inilah yang akan diminta kepada Pemerintah (KemenPAN-RB) untuk disesuaikan lebih lentur berdasarkan masa rekrutmen THL TBPP.

Rencana Aksi Penyampaian Aspirasi Kolektif di Istana Negara, 27 Juni 2013 Demi mengupayakan kejelasan status THL-TBPP dari tenaga penyuluh kontrak menjadi penyuluh pertanian berstatus pegawai tetap (PNS) maka THL-TBPP melalui organisasi komunitas bernama FORUM KOMUNIKASI THL-TBPP NASIONAL, PROVINSI dan KABUPATEN/KOTA telah melakukan serangkai upaya yang berkesinambungan. Pada posisi terkini berdasarkan perkembangan situasi dan kondisi mutakhir FK THL-TBPP telah mempersiapkan 3 (tiga) pendekatan gerakan aksi yang dijalankan secara simultan. Ketiga pendekatan tersebut adalah gerakan aksi yang meliputi pendekatan dari aspek pengawalan pembahasan RUU ASN, pendekatan dari aspek kajian dan langkah hukum serta aspek pendekatan aksi kebulatan tekad.

Aksi kebulatan tekad adalah pendekatan yang melibatkan partisipasi fisik dan kehadiran THL-TBPP serta kontribusi materil, semangat dan dukungan dalam bentuk lain dari seluruh anggota komunitas THL-TBPP. Dalam rangka merealisasikan konsep pendekatan dukungan kolektif dalam bentuk unjuk kebulatan tekad inilah maka FK THLTBPP telah menyiapkan agenda Aksi Kebulatan Tekad yang melibatkan 10.000 THL TBPP se-Indonesia.

Tujuan

Gerakan aksi kebulatan tekad THL-TBPP ini pada dasarnya merupakan corong penyampaian aspirasi THL-TBPP secara kolektif untuk memperjuangkan kejelasan status kepegawaian THL-TBPP menjadi Penyuluh Pertanian PNS dengan dasar pemikiran berbasis Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 (Ketentuan Jenis Penyuluh PNS dan Pasal 20) serta Undang-Undang No 43 Tahun 1999 (Pasal 16 A ayat 1).

Sasaran

Gerakan aksi kebulatan tekad THL-TBPP ini akan diselenggarakan untuk mendorong revisi terhadap ketentuan menyangkut tenaga tertentu yang memenuhi substansi Pasal 16 A seperti yang tercermin dalam Peraturan Pemerintah No 56 Tahun 2012 khususnya ketentuan Pasal 5 ayat 4.

Target

Gerakan aksi kebulatan tekad THL-TBPP ini diselenggarakan agar THL TBPP dapat masuk atau terakomodasi dalam pengaturan kategori tenaga ahli tertentu/khusus yang dibutuhkan oleh negara tapi tidak tersedia atau tidak cukup tersedia (masih kekurangan) di kalangan PNS untuk dapat diangkat secara langsung menjadi PNS melalui mekanisme Keputusan Presiden (Kepres).

Format Acara Aksi Kebulatan Tekad

Tempat dan Waktu

: Istana Negara, 27 Juni 2013

Peserta

: THL TBPP Seluruh Indonesia (10.000 Peserta)

Mata Acara

: Longmarch Apel Kebulatan Tekad Orasi Perwakilan THL TBPP Atraksi Kesenian Daerah Aksi Teatrikal Pembacaan Surat Terbuka Kepada Presiden (Tentatif) Pernyataan Sikap

Bingkai Hukum Kegiatan Aksi Kebulatan Tekad THL TBPP

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum :

1. Konsideran Menimbang huruf (a) bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang Undang Dasar 1945 dan Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia.

2. Konsideran Menimbang huru (b) bbbahwa kemerdekaan setiap warga Negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum merupakan perwujudan demokrasi dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

3. Pasal 2 (1) setiap warga Negara, secara perorangan atau kelompok, bebas menyampaikan pendapat sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab

berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

4. Pasal 2 (2) penyampaian pendapat di muka umum dilaksanakan sesuai ketentuan Undang-Undang ini.

5. Pasal 7 : Dalam pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum oleh warga Negara, aparatur pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk : (a) melindungi hak asasi manusia; (b) menghargai asas legalitas; (c) menghargai prinsip praduga tidak bersalah; dan (d) menyelenggarakan pengamanan.

6. Pasal 9 (1) Bentuk penyanpaian pendapat di muka umum dapat dilaksanakan dengan : (a) unjuk rasa atau demonstrasi; (b) pawai; (c) rapat umum; dan atau (d) mimbar bebas.

7. Pasal 10 (1) Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 wajib diberitahukan secara tertulis kepada Polri.

8. Pasal 18 (1) barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan menghalanghalangi hak warga Negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum yang telah memenuhi ketentuan Undang-Undang ini dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun; (2) tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah kejahatan.

9. Panitia Aksi Kebulatan Tekad THL TBPP telah memenuhi semua ketentuan penyelenggaraan penyampaian pendapat di muka umum sesuai ketentuan UndangUndang ini sehingga telah mendapatkan ijin resmi dari Mabes POLRI (Lembar Disposisi – No. Agenda : 1058 Tanggal 12 Juni 2013)

SERUAN

Dengan ini disampaikan kepada seluruh kontingen THL TBPP Kabupaten/Kota pada tiap Provinsi yang telah menyiapkan diri untuk tidak terpengaruh upaya-upaya resistensi sistematis yang dilakukan pihak manapun utnyuk menggagalkan rencana agenda aksi kita. Langkah kita berada dalam jalur dan koridor yang benar. Jika ada larangan dalam bentuk

lisan maupun tertulis, apalagi disertai tindakan atau bahasa ancaman maka abaikan saja karena hal tersebut bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan terutama jelasjelas melanggar ketentuan Pasal 18 Undang-Undang No. 9 Tahun 1999 di mana sanksi pidananya sangat jelas.

Tetap semangat dan sampai bertemu di Jakarta. Salam Perjuangan.

Jakarta, 20 Mei 2013 FORUM KOMUNIKASI THL TBPP NASIONAL

Dedy Alfian Ketua Umum

(Dokumen Tim Kajian Hukum Status Kepegawaian THL TBPP – FK THL TBPP Nasional)

RENCANA AKSI KEBULATAN TEKAD THL TBPP SE-INDONESIA
TIGA PENDEKATAN GERAKAN

Pengawalan RUU ASN

Aksi Kebulatan Tekad THL TBPP se-Indonesia

Kajian Hukum Status Kepegawaian THL TBPP

Pemantauan Pembahasan RUU ASN

Konsepsi dan Format Gerakan

Langkah Hukum

Usulan Revisi Aturan (PP)

Pembahasan di Kabinet

Tema : Regenerasi Penyuluh Pertanian PNS KONSOLIDASI

UJI MATERI PP 56/2012

SOMASI atas PP 56/2012

Pembahasan di DPR RI

Mahkamah Agung

Pemerintah cq KemenPAN-RB

PENYAMPAIAN ASPIRASI

ISTANA NEGARA, 27 JUNI 2013

RESPON
PEMERINTAH

DIALOG
KEJELASAN STATUS KEPEGAWAIAN THL TBPP KEPRES PENGANGKATAN THL TBPP MENJADI PENYULUH PERTANIAN PNS

BAGAN ALIR KEBIJAKAN

DASAR HUKUM ASPIRASI

UUSP3K

BAB I. KETENTUAN UMUM - PASAL 1 : BUTIR 19 - 21

PASAL 20 AYAT 1

PASAL 20 AYAT 2
(Kebutuhan dan Formasi)

PENJELASAN Pasal 20 Ayat 2

Jenis Penyuluh

PNS

SWASTA

SWADAYA
PENGANGKATAN DAN PENEMPATAN PENYULUH PNS HARUS MENJADI PRIORITAS PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN PENYULUH PNS

THL TBPP

UU NO 43 TAHUN 1999 – PASAL 16 A AYAT 1 Untuk memperlancar pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan, pemerintah dapat mengangkat langsung menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) bagi mereka yang telah bekerja pada instansi yang menunjang kepentingan Nasional

PP No 48/2005

Tenaga honorer yang telah lama bekerja dan atau tenaganya sangat dibutuhkan oleh Pemerintah dan memenuhi syarat yang ditentukan dalam PP ini dapat diangkat menjadi PNS (PP No 48

K I : Verifikasi dan Validasi Data K II : Test Tulis sesama K II setelah Uji Publik Dokter di Daerah Terpencil : Alokasi Formasi Khusus Tenaga Ahli Tertentu/Khusus : KEPRES

PP No 43/2007

Tahun 2005 – Konsideran Menimbang) Bahwa berdasarkan hasil evaluasi, beberapa ketentuan mengenai batas usia dengan masa kerja, proses seleksi dan ketentuan lain pada PP No. 48 Tahun 2005 belum dapat dapat menyelesaikan (secara tuntas) pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS (PP No 43 Tahun 2007 – Konsideran Menimbang) Bahwa batas waktu evaluasi untuk menyusun PP perubahan kedua adalah sampai tahun 2009 (PP No 56 Tahun 2012) – THL TBPP direkrut dalam rentang waktu antara tahun 2007 - 2009

Tenaga Ahli Tertentu/Khusus yang dibutuhkan oleh Negara tapi tidak tersedia atau tidak cukup tersedia (masih kekurangan) di kalangan PNS Usia paling tinggi 46 tahun Telah mengabdi sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun pada 1 Januari 2006

PP No 56/2012

PERMENPAN NO 233/2012

HUBUNGAN ANTARA KATEGORI KE-4 PP 56 TAHUN 2012 DENGAN KEBERADAAN THL-TBPP KATEGORI KE-4 TENAGA AHLI TERTENTU/KHUSUS PP NO 56 TAHUN 2012 – MEKANISME KEPRES

Dibutuhkan oleh Negara tapi tidak tersedia atau tidak cukup tersedia (masih kekurangan) di kalangan PNS

Usia paling tinggi 46 tahun Telah mengabdi sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun pada 1 Januari 2006

Dinamika Jumlah Penyuluh (Deptan 2007) : 1. 1999 : 37.636 Personil 2. 2001 : 33.659 Personil 3. 2005 : 25.708 Personil 4. 2007 : 24.908 Personil

Pemerintah Pusat (Kementan) merekrut THL TBPP sebagai Tenaga Kontrak Penyuluh Pertanian dengan batas usia paling tinggi 50 tahun

Jumlah Desa se-Indonesia Jumlah Penyuluh PNS Kekurangan Diisi Tenaga Honorer Diisi THL TBPP Masih Kekurangan (12-12)

: 72.143 Desa : 27.697 Personil : 44.446 Personil : 1.251 Personil : 21.585 Personil : 21.610 Personil

2007 6.000 THL TBPP

2008 10.000 THL TBPP

2009 10.000 THL TBPP

THL TBPP MENEMPATI POSISI, PERAN DAN FUNGSI PENYULUH PERTANIAN PNS SEBANYAK 21.585 FORMASI

Jumlah THL TBPP se-Indonesia saat ini 21.585 Personil (Desember 2012) Sumber Data : Pusluhtan 2013

PROBLEMATIKA BATASAN KATEGORI KE-4 PP NO 56 TAHUN 2012 BAGI THL TBPP
BATASAN USIA SESUAI SAAT PEREKRUTAN ATAU BERUSIA PALING TINGGI 45 TAHUN PADA SAAT THL TBPP DIREKRUT OLEH PEMERINTAH PUSAT (KEMENTAN) UNTUK BISA MASUK MEKANISME KEPRES PERMENPAN 233/12

KENAPA HARUS BER-USIA PALING TINGGI 46 TAHUN DAN MASA PENGABDIAN PALING SEDIKIT 1 (SATU) TAHUN PER 1 JANUARI 2006 ?

BUKA KERAN UNTUK THL TBPP

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->