Anda di halaman 1dari 14

HUKUM BENDA I. PENDAHULUAN 1. UUPA dan Buku II KUHPerdata 2. Hukum Waris Diatur Dalam Buku II KUHPerdata 3.

Sistem Hukum Benda Hukum Benda mempunyai sistem tertutup (dwingend recht), artinya seseorang tidak dapat mengadakan hak kebendaan yang lain selain yang diatur dalam Buku II KUHPerdata sehingga pasal-pasal di dalam hukum benda bersifat pemaksa Namun demikian praktik dan jurisprudensi, sekarang telah diatur dalam undangundang tersendiri, mengenal adanya lembaga hukum baru yang mempunyai ciri hak kebendaan seperti fidusia (UU No 42 Tahun 1999) dan lain-lain. 4. Hubungan Hukum Benda dan Hukum Perikatan Bidang hukum harta kekayaan dalam sistematika ilmu pengetahuan hukum ada yang bersifat absolut dan ada yang bersifat relatif. Hak atas harta kekayaan yang bersifat absolut diatur dalam Buku II KUHPerdata sedangkan hak atas harta kekayaan yang bersifat relatif diatur dalam Buku III KUH Perdata. Hukum Benda mengatur tentang hubungan antara subjek hukum dengan objek hukum (benda) yang melahirkan hak kebendaan, sedangkan Hukum Perikatan mengatur hubungan antara subjek hukum dengan subyek hukum yang melahirkan objek hukum berupa benda (melahirkan hak perseorangan) 5. Perbedaan Sistem Hukum Benda dan Sistem Hukum Perikatan No 1 2 Hukum Benda Termuat dalam Buku II BW Pasal 499 s/d 1232 BW Hukum yang mengatur hubungan hukum antara seseorang dengan Hukum Perikatan Termuat dalam Buku III BW Pasal 1233 s/d 1864 BW Hukum yang mengatur hubungan hukum antara seseorang satu dengan

benda Menimbulkan hak kebendaan yaitu hak yang dapat dipertahankan terhadap siapapun juga dan setiap orang siapapun juga harus menghormatinya, Hak kebendaan bersifat mutlak Jumlah hak kebendaan adalah terbatas yakni terbatas sebatas yang disebut dalam Buku II BW, karenanya pasal-pasal yang termuat dalam Buku II BW besifat memaksa (dwingend recht) artinya tidak dapat dikesampingkan SISTEM TERTUTUP

4 5

seseorang lain. Menimbulkan hak perseorangan yaitu hak yang memberikan kekuasaan kepada seseorang yang berhak untuk menuntut seseorang tertentu yang lain agar berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu. Hak perseorangan bersifat relatif. Hukum perikatan akan memberikan keleluasaan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk membuat perjanjian dengan macam atau isi apapun juga asal tidak bertentangan dengan UU, kesusilaan dan ketertiban umum (pasal-pasal dalam hukum perikatan bersifat mengatur/aanvulaend SISTEM TERBUKA

Antara hak kebendaan yang diatur dalam Buku II BW dan hak perseorangan yang diatur dalam Buku III BW mempunyai perbedaan pokok yang dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Hak kebendaan bersifat mutlak (absolut) sedangkan hak perseorangan besifat relatif (nisbi). b. Hak kebendaan umumnya berlangsung lama sebaliknya hak perseorangan umumnya ditujukan untuk pemenuhan prestasi dalam waktu yang tidak terlalu lama yaitu dengan dipenuhinya prestasi tersebut hak perseorang pun lenyap atau hak kebendaan jangka waktunya tidak terbatas sedangkan hak perseorangan jangka waktunya terbatas. c. Jumlah hak kebendaan terbatas pada apa yang hanya ditentukan undang-undang, sebaliknya hak perseorangan jumlahnya tidak terbatas pada apa yang ditentukan dalam undang-undang karena hak perseorangan timbul dari pelbagai macam

perjanjian sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum. d. Hak kebendaan mempunyai droit de suite artinya mengikuti benda dimanapun benda itu berada.hak kebendaan juga mengenal asa prioritas artinya kekuatan hak itu ditentukan berdasarkan urutan terjadinya.Sedangkan pada hak persorangan mana lebih dulu terjadi tidak perlu dipersoalkan, karena sama saja kekuatannya (asas kesamaan). e. Hak kebendaan memberikan wewenang yang sangat luas kepada pemiliknya, sedangkan hak perseorangan memberikan wewenang yang terbatas. 6. Pengertian Benda Menurut Pasal 499 KUHperdata pengertian benda atau zaak adalah segala sesuatu yang dapat menjadi obyek hak milik. Yang dapat menjadi obek hak milik dapat beruapa barang atau hak. 7. Macam-macam Benda 1) Benda berwujud dan tidak berwujud (Pasal 503 BW) 2) Benda bergerak dan tidak bergerak (Pasal 504 BW) 3) Benda dapat dipakai habis dan tidak dapat dipakai habis (Pasal 505 BW). 4) Benda yang ada dan yang akan ada (Pasal 1334 BW). 5) Benda dalam perdagangan dan di luar perdagangan (Pasal 537 BW, Pasal 1444 dan Pasal 1445 BW). 6) Benda yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi (Pasal 1296 BW) 7) Benda terdaftar dan tidak terdaftar (UUHT dan UU Jaminan Fidusia) 8) Benda atas nama tidak atas nama Benda tidak bergerak dapat dibedakan atas :

1. Benda tidak bergerak menurut sifatnya : tanah dan segala sesuatu yang melekat diatasnya , misalnya pohon, tumbuh-tumbuhan dll (Pasal 502 BW) 2. Benda tidak bergerak karena tujuannya , misalnya mesin-mesin yang dipakai di pabrik (Pasal 507 BW). 3. Benda tidak bergerak menurut ketentuan undang-undang Benda bergerak dibedakan atas : 1. Benda bergerak karena sifatnya (Pasal 509 BW) 2. Benda bergerak karena ketentuan UU (Pasal 511 BW) Pentingnya membedakan benda bergerak dan benda tidak bergerak : a. Bezit b. Levering c. Verjaring d. Bezwaring Ad. a Berlaku asas yang terkandung dalam Pasal 1977 (1) KUHPerdata yaitu bezitter dari benda bergerak adalah pemilik dari benda bergerak tersebut kecuali dapat dibuktikan sebaliknya. Ad. b Lavering terhadap benda bergerak dilakukan dengan penyerahan nyata ( feitelijke levering) sedangkan untuk benda tidak bergerak dengan penyerahan secara yuridis (yurisdische levering) yaitu dengan balik nama atau mutasi. Ad. c. Benda bergerak tidak mengenal verjaring sebab bezit sama dengan eigendom atas bergerak itu sedangkan benda tidak bergerak mengenal verjaring Ad. d

Mengenai pembebanan/jaminan terhadap benda bergerak harus dilakukan dengan gadai (pand) sedangkan terhadap benda tidak bergerak menurut Pasal 616 KUHPerdata harus dilakukan dengan balik nama. Pembedaan Hak Kebendaan Hak kebendaan yang diatur dalam Buku II BW dapat dibedakan atas dua macam yaitu : 1. 2. Hak kebendaan yang bersifat memberi kenikmatan (zakelijk genotsrecht). Hak kebendaan yang bersifat memberi jaminan.

Hak kebendaan yang bersifat memberi kenikmatan dalam Buku II BW mengenai tanah, dengan berlakunya UUPA dinyatakan tidak berlaku lagi. Hak-hak kebendaan atas tanah yang diatur dalam Buku II BW yang dinyatakan tidak belaku lagi adalah : a. hak bezit atas tanah; b. hak eigendom; c. hak servitut (pembebanan pekarangan); d. hak opstal (hak memiliki bangunan atau tanaman di atas tanah milik orang lain) ; e. hak erfpacht (hak untuk menarik penghasilan dari tanah milik orang lain dengan membayar sejumlah uang atau peghasilan setiap tahun) ; f. Hak pakai mengenai tanah. Hak-hak atas tanah sebagai penggantinya yang berlaku sekarang sebagaimana diatur dalam UUPA dan peraturan-peraturan pelaksanaannya adalah : a. hak milik ; b. hak guna usaha; c. hak guna bangunan; d. hak pakai; e. hak sewa untuk bangunan; f. hak membuka tanah dan memungut hasil hutan;

g. hak guna air, pemeliharaan dan penangkapan ikan; h. hak guna ruang angkasa; dan i. hak-hak tanah untuk keperluan suci dan sosial. Adapun hak kebendaan yang bersifat memberi jaminan ( zakelijk zakerheidsrehten) adalah : a. Pand b. Hypotik 1. Hak kebendaan yang bersifat memberi kenikmatan a. BEZIT Bezit adalah keadaan dimana seseorang menguasai sesuatu benda baik sendiri maupun dengan perantaraan orang lain, seolah-olah benda itu kepunyaannya sendiri. Orang yang menguasai benda itu, yang bertindak seolah-olah sebagai pemiliknya disebut bezitter. Untuk adanya bezit harus ada 2 unsur yaitu : 1) 2) unsur keadaan dimana seseorang menguasai suatu benda (corpus) unsur kemauan oang yang menguasai benda tersebut untuk memilikinya (animus)

BEZIT DETENTIE DEDEDETENTIE

Detentie adalah suatu keadaan dimana seseorang menguasai suatu benda berdasarkan suatu hubungan hukum antara yang bersangkutan (detentor) dengan (eigenar) benda itu. Pada seorang detentor/penyewa dianggap bahwa kemauan untuk memiliki benda yang dikuasainya itu tidak ada. Bilamana bezit berada pada pemilik benda itu sendiri maka orang itu dinamakan bezitter-eigenaar. Bezit mempunyai dua fungsi ;

1) Fungsi polisionil bezit 2) Fungsi zakenrechtelijk bezit Mengenai cara memperoleh bezit ada dua macam : 1) dengan bantuan orang lain yang membezit lebih dahulu yaitu dengan jalan traditio (penyerahan bendanya) dari bezitter yang lama kepada bezitter yang baru. Memperoleh bezit dengan jalan traditio memperoleh bezit bersifat derivatief. 2) Dengan tanpa bantuan orang lain yang membezit lebih dahulu yaitu dengan jalan occupatio (pengambilan bendanya) memperoleh bezit yag bersifat originair Bezitter yang beritikad baik (to goeder trouw) adalah bezitter yang memperoleh benda yang dikuasainya dengan salah satu cara memperoleh hak milik, dimana ia tidak mengetahui cacat yang terkandung di dalamnya (Pasal 531 BW). Dengan kata lain bezitter de goeder trouw adalah bezitter yang sungguh-sungguh mengira bahwa benda yang dikuasainya adalah miliknya sendiri. Bezitter yag beritikad tidak baik (to kwader trouw) adalah bezitter yang mengetahui bahwa benda yang dikuasainya adalah benda yang bukan miliknya (Pasal 532 ayat 1). Undang-undang memberikan perlindungan yang berbeda terhadap bezitter yang beritikad baik dengan bezitter yang beritikad tidak baik. Perbeaan ini berkaitan dengan fungsi zkenrechtelijk bezit dalam tiga hal : 1) kemungkinan untuk menjadi eigenaar 2) hak untuk memetik hasilnya dari bendanya itu 3) hak untuk mendapatkan penggantian kerugian berupa ongkos-ongkos yang dikeluarkan untuk benda yang bersangkutan. Bagi bezitter yang beritikad baik akan memperoleh ketiga hak tersebut diatas Bagi bezitter yang beritikad tidak baik hanya memperoleh hak yang kdua saja.

Perlindungan yang sama diberikan oleh undang-undang baik terhadap bezitter yang beritikad baik maupun terhadap bezitter yang tidak beritikad baik ialah yang disebutkan dalam Pasal 548 ayat (1) dan (4) BW untuk bezitter yag yang beritikad baik, dan dalam Pasal 549 ayat (1) dan (3) BW untuk bezitter yang beritikad tidak baik. Pasal-pasal BW ini menentukan : a. bahwa mereka selama tidak ada gugatan dianggap sebagai pemilik sejati; b. bahwa apabila mereka diganggu dalam hal menguasai bendanya, mereka harus dibebaskan dari gangguan itu, atau apabila mereka kehilangan daya untuk menguasai bendanya, mereka dipulihkan kembali dalam keadaan dapat menguasai benda itu. Khusus mengenai bezit terhadap benda bergerak berlaku asas yang tercantum dalam Pasal 1977 (1) BW yang menyatakan :terhadap benda bergerak yang tidak berupa bunga maupun piutang yang tidak harus dibayar kepada si pembawa maka barang siapa yang menguasainya dianggap sebagai pemiliknya. Terhadap perumusan Pasal 1977 ayat (1) BW kemudian timbul beberapa macam pendapat yang memberikan penafsiran tentang kedudukan bezit mengenai benda bergerak. Ada dua macam pendapat yaitu : 1) eigendoms-theorie (Meijers) menurut teori ini bezit terhadap benda bergerak berlaku sebagai alas hak yang sempurna sedangkan hak yang paling sempurna adalah eigendom bezit terhadap benda bergerak = eigendom atau bezitter = eigenaar kelemahan eigendomstheorie telah mengabaikan 2 syarat lavering (penyerahan) yaitu : harus ada titel yang sah harus dilakukan oleh orang yeng berwenang untuk menguasai benda itu. untuk sahnya

Jadi menurut teori ini syaratnya cukup bezitternya jujur 2) Legitimatie-theorie (Scholten) Bezit eigendom Menurut teori ini barangsiapa membezit benda bergerak dengan itikad yang baik/jujur maka ia dalam keadaan aman. Jadi keadaan bezit fungsinya mengesankan bezitter dari benda itu sebagai eigenaar. Jadi keadaan bezit itu fungsinya mengesankan bezitter dar benda itu sebagai eigenaar. Kalau teori ini dihubungkan dengan Pasal 584 BW maka yang diabaikan hanya satu syarat lavering yaitu tidak perlu dilakukan oleh orang yang menguasai benda itu cukup asal mengira bahwa berasal dari dari orang yang berwenang menguasai benda itu. b. HAK MILIK Menurut Pasal 570 BW, hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu benda dengan sepenuhnya dan untuk berbuat sebebas-bebasnya terhadap benda itu asal tidak bertentangan dengan undang-undang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh suatu kekuasaan yang berwenang menetapkannya dan tidak menimbulkan gangguan terhadap hak-hak orang lain dengan tidak mengurangi kemungkinan pencabutan hak itu untuk kepentingan umum berdasarkan atas ketentuan undang-undang dengan pembayaran ganti kerugian. Pada waktu dulu hak milik dipandang sebagai hak yang benar-benar mutlak yang tak dapat diganggu gugat (droit inviolable et sacre), namun dalam perkembangannya seratus tahun setelah BW dikodifikasikan tahun 1848, sifat hak milik yang mutlak itu tidak dapat dipertahankan lagi, karena dimana-mana timbul ajaran kemasyarakatan yang menginginkan setiap hak milik mempunyai fungsi sosial. Sementara itu timbul pelbagai macam peraturan hukum yang membatasi hak milik itu yaitu :

1) pembatasan oleh hukum tata usaha 2) pembatasan oleh ketentuan-ketentuan hukum tetangga 3) pembatasan dalam penggunaan hak milik yang tidak boleh menganggu hak-hak orang lain dan tidak boleh menyalahgunakan hak (misbruik van recht) Ada beberapa contoh arrest terkait dengan pembatasan penggunaan hak milik yaitu : SCHOORSTEEN ARREST DI PERANCIS TANGGAL 2 MEI 1855 Dalam perkara ini seseorang yang mendirikan cerobong (schoorteen) di atas atap rumahnya yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan tempat api tetapi hanya untuk mengganggu pemandangan tetangganya, digugat di muka pengadilan Tinggi di Cohmar Perancis. Dalam putusannya Pengadilan Tinggi Cohmar Perancis memerintahkan tergugat untuk membongkar cerobong asap itu karena merupakan misbruik van recht. KRUL ARREST TANGGAL 30 JANUARI 1914 DI BELANDA Dalam perkara ini seorang pengusaha roti bernama J.A.H Krul digugat di muka pengadilan oleh Joosten, karena pabriknya dengan suara-suara yang keras dan getaran-getaran yang hebat menimbulkan gangguan Joosten. Gugatan joosten dikabulkan oleh Hooge Raad, karena suara-suara yang keras dan getaran-getaran yang hebat sehingga pabrik krul dianggap menimbulkan gangguan terhadap penggunaan hak milik Joosten. Sebagai hak kebendaan yang paling sempurna hak milik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a. Hak milik merupakan hak induk terhadap hak-hak kebendaan yang lain, sedangkan hak-hak kebendaan yang lain merupakan hak anak terhadap hak milik; b. Hak milik ditinjau dari kualitasnya merupakan hak yang selengkaplengkapnya;

c. Hak milik bersifat tetap artinya tidak akan lenyap terhadap hak kebendaan yang lain sedangkan hak kebendaan yang lain dapat lenyap jika menghadapi hak milik d. Hak milik mengandung inti dari hak kebendaan yang lain. Setiap orang yang mempunyai hak milik atas sesuatu benda, berhak meminta kembali benda miliknya itu dari siapapun juga yang menguasainya berdasarkan hak milik itu (Pasal 574 BW). Permintaan kembali yang didasaran kepada hak milik dinamakan revindicatie. Sedangkan penyitaannya revindicatoir beslag yang dilakukan terhada benda bergerak milik pemohon yang berada di tangan orang lain. Mengenai cara memperoleh hak milik dalam BW diatur dalam Pasal 584 adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Pengambilan (toegening atau occupatio) Penarikan oleh benda lain ( natreking atau accessio); Lewat waktu/daluwarsa (verjaring); - Acquisitive verjaring adalah alat untuk memperoleh hak-hak kebendaan seperti hak milik.Syaratnya harus ada bezit yang terus-menerus dan tidak terganggu selama yang ditentukan itu, bezitnya harus diketahui umum, beziter harus te goeder trouw, beziter harus merasa sebagai pemilik yang sebenarnya, jangka waktu 20 tahun atau 30 tahun. - Extinctieve verjaring adalah alat untuk dibebaskan dari perutangan 4. 5. 1. 2. Perwarisan (erfopvolging); dan Penyerahan (levering atau overdracht). Pembentukan benda (zaaksvorming) Penarikan buahnya (vruchttrekking)

Cara memperoleh hak milik yang tidak disebutkan dalam Pasal 584 BW adalah :

3. 4. 5. dapat dibedakan atas dua macam : 1. Secara originair (asli)

Pencabutan hak (onteigening); Perampasan (verbeurdverklaring) Pembubaran suatu badan hukum

Kalau dilihat dari segi sifatnya memperoleh hak milik maka memperoleh hak milik

2. Secara derivatif baik dengan alas hak umum maupun alas hak khusus Lazimnya hak milik atas suatu benda hanya dipunyai oleh orang seorang pemilik. Namun ada kalanya hak milik atas suatu benda dipunyai oleh beberapa orang yang bersama-sama menjadi pemiliki (eigenaar) sehingga terjadi hak milik bersama (medeeigendom). Dalam BW hak milik bersama diatur dalam Pasal 573, yang menentukan bahwa membagi sesuatu benda yang menjadi milik lebih dari seorang, harus dilakukan menurut aturan-aturan yang ditetapkan tentang pemisahan dan pembagian harta peninggalan. Milik bersama dibedakan dua macam yaitu : No 1 hak milik bersama yang bebas (vrije medeeigendom) hak milik bersama terikat (gebonden medeeigendom) Vrije medeeigendom Orang-orang yang mempunyai hak milik bersama itu tidak ada hubungan lain selain daripada mereka bersama menjadi pemilik, misalnya A,B,C bersama-sama membeli sebuah buku Gebonden medeeigendom Orang-orang yang bersama-sama menjadi pemilik atas suatu benda adalah akibat daripada hubungan satu sama lain yang telah ada sebelumnya, misalnya hak milik bersama suami istri terhadap harta perkawinan, hak milik bersama para ahli waris terhadap harta peninggalan, hak milik bersama para pemegang saham perseroan Ada kehendak beberapa orang yang Kehendak untuk bersama-sama menjadi

Perbedaan hak milik bersama yang bebas dan hak milik bersama yang terikat :

menjadi pemilik itu untuk bersama- pemilik tidak ada atau kecil sekali. sama memiliki suatu benda Pendapat para ahli mengenai perbedaan halk milik bersama yang bebas dan terikat adalah : No Vrije medeeigendom Gebonden medeeigendom 1 Para pemilik dapat meminta Para pemilik tidak dapat meminta pemisahan dan pembagian terhadap pemisahan dan pembagian terhadap benda yang merupakan milik bersama benda yang merupakan milik bersama 2 Masing-masing orang mempunyai Harus meminta ijin dari pemilik lain. bagian yang merupakan harta kekayaaan yang berdiri sendiri sehingga masing-masing dapat memiliki dan menguasai dan berbuat apa saja terhadap bendanya tanpa meminta ijin pemilik lain. 3 Tiap-tiap pemilik mempunyai bagian Tiap-tiap pemilik berhak atas seluruh atas benda milik bersama itu bendanya Sebab-sebab yang mengakibatkan hilangnya/hapusnya hak milik : a. karena orang lain memperoleh hak milik itu dengan salah satu cara untuk memperoleh hak milik seperti diuraikan di atas; b. karena musnahnya benda yang dimiliki; melepaskan hak miliknya b. HAK MEMUNGUT HASIL (VERUCHTGEBRUIK) Hak memungut hasil adalah ahak untuk menarik/memungut hasil dari benda orang lain, seolah-olah benda itu miliknya sendiri dengan kewajiban untuk menjaga benda tersebut tetap dalam keadaan seperti semula (Pasal 756 BW). Sebanarnya tidak hanya memungut hasil tetapi juga memakai benda itu. Beberapa ciri-ciri vrushtgebruik antara lain : vruchtgebruik akan hapus dengan meninggalnya orang yang mempunyai hak itu walaupun jangka waktunya belum habis. c. Karena pemilik melepaskan benda yang dimilikinya dengan maksud untuk

Benda yang dibebani vruchtgebruik harus benda yang tetap ada hak memungut hasil bisa karena adanya titel pejanjian,

Terjadinya

penghibahan,surat wasiat dan verjaring. Hapusnya hak memugut hasil : 1) meninggalnya pemegang hak tersebut 2) karena habisnya waktu yang diberikan untuk hak itu 3) karena pemegang hak berubah menjadi hak pemilik 4) karena pemegang hak melepaskan hak memungut hasil 5) verjaring 6) musnah d. HAK PAKAI hak pakai dan hak mendiami diatur dalam Buku II titel XI dari Pasal 818 s/d 829. Menurut Pasal 821 BW hak pakai hanya diperuntukkan buat diri si pemakai dan anggota keluarganya saja, pemakai tidak diperbolehkan menyerahkan atau menyewakan haknya kepada orang lain (Ps 823 BW). 2. Hak Kebendaan yang bersifat Memberi Jaminan