Anda di halaman 1dari 3

Meningitis Tuberkulosa pada Pasien Laki-Laki dengan Penurunan Kesadaran ABSTRAK Meningitis merupakan suatu peradangan pada membran

meningens yang melindungi jar ingan otak dan medulla spinalis. Peradangan bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau mikroorganisme lainnya. Meningitis merupakan penyakit yang dapat m engancam jiwa karena letak peradangan yang berdekatan dengan otak dan medulla sp inalis, oleh karenanya digolongkan sebagai kegawatan medis. Gejala yang paling u mum dari meningitis yaitu nyeri kepala dan kaku leher yang berhubungan dengan de mam, penurunan kesadaran, fotofobia, dan fonofobia. Meningitis Tuberkulosa merupakan peradangan selaput meningens yang disebabkan ol eh Mycobacterium tuberculosis, dan merupakan bentuk yang paling umum dari Tuberk ulosis ekstrapulmoner yang menyerang sistem saraf pusat. Diagnosis ditentukan atas dasar gambaran klinis serta yang terpenting ialah gamb aran pemeriksaan cairan otak. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat bila ditemukan kuman tuberkulosis dalam cairan otak. Uji tuberkulin yang positif, kelainan radi ologis yang tampak pada foto thorak dan terdapatnya sumber infeksi dalam keluarg a hanya dapat menyokong diagnosis. Uji tuberkulin pada meningitis tuberkulosis s ering negatif karena anergi, terutama dalam stadium terminalis. Pengobatan sedini mungkin sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi. D iberikan pengobatan medikamentosa berupa kombinasi antara Obat Anti Tuberkulosis dengan kortikosteroid. Diberikan 4 macam obat selama 2 bulan, diteruskan dengan pemberian INH dan Rifampicin selama 10 bulan. Steroid diberikan untuk mencegah arteritis/ infark otak, komplikasi infeksi, perlekatan dan menghambat reaksi inf lamasi. ISI Pada kasus kali ini didapatkan seorang pasien dengan keluhan utama pasien mulai tidak sadar sejak 1 hari SMRS. Sebelumnya pasien sering mengeluh sakit kepala se jak 1 bulan SMRS. Pasien juga diceritakan sering menggigil dan berkeringat dingi n saat malam hari, kadang-kadang demam nglemeng, dirasakan sejak 1 bulan SMRS. B erat badan dirasa turun drastis sejak 3 bulan SMRS, dikatakan bahwa pasien nafsu makannya turun. Diceritakan oleh keluarga bahwa pasien pernah menjalani operasi karena obstipasi et causa TB usus 8 bulan SMRS. Setelah dioperasi, pasien tidak melanjutkan pengobatan TB karena tidak tersedianya obat TB di Puskesmas setempa t. Pada pemeriksaan fisik diperoleh keadaan umum pasien tampak kurus, vital sign TD 118/80 mmHg, Nadi 113 x/menit, Respirasi 30 x/menit, Temperatur 39,8C. Kesadaran pasien tampak Comatose, dengan nilai GCS E2V1M3. Diperoleh tanda-tanda meningea l seperti kaku kuduk, Brudzinsky I, Brudsinsky II, serta Kernig sign positif. Te rdapat pula penurunan reflek fisiologis pada ekstrimitas. Pada hasil pemeriksaan darah rutin, ditemukan leukositosis. Pemeriksaan Rontgen thorax menunjukkan proses TB paru duplex. Tidak dilakukan pemeriksaan sputum BTA ataupun tes tuberkulin. Tidak dilakukan pemeriksaan LCS maupun kultur LCS karen a keterbatasan fasilitas dan biaya. DIAGNOSIS Dx masuk : Obs penurunan kesadaran suspek Meningoencephalitis Dx akhir : Meningitis Tuberculosa TERAPI O2 2-3 lpm Inf. RL 20 tpm Inj. Piracetam 1 x 3 gr Inj. Citicolin 2 x 250 mg Inj. Ranitidin 2 x 1 amp Inj. Ampicillin 3 x 1 gr Inj. Colsancetine 3 x 1 gr Inj. MPS 3 x 1 amp PCT tab 3 x 500 mg INH tab 1 x 300 mg Rifampicin tab 1 x 450 mg Pirazinamid tab 2 x 500 mg Curcuma tab 3 x 1 Diit TKTP Konsul Rehab Medik Konsul Gizi

DISKUSI Pada kasus kali ini didapatkan seorang pasien dengan keluhan utama pasien mulai tidak sadar sejak 1 hari SMRS. Sebelumnya pasien sering mengeluh sakit kepala se jak 1 bulan SMRS. Pasien juga diceritakan sering menggigil dan berkeringat dingi n saat malam hari, kadang-kadang demam nglemeng, dirasakan sejak 1 bulan SMRS. B erat badan dirasa turun drastis sejak 3 bulan SMRS, dikatakan bahwa pasien nafsu makannya turun. Diceritakan oleh keluarga bahwa pasien pernah menjalani operasi karena obstipasi et causa TB usus 8 bulan SMRS. Setelah dioperasi, pasien tidak melanjutkan pengobatan TB karena tidak tersedianya obat TB di Puskesmas setempa t. Diagnosis Meningitis TB ditentukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemer iksaan penunjang. Pada anamnesis biasanya ditemukan keluhan demam dan nyeri kepa la pada meningitis TB stadium I, sedangkan pada stadium lanjut didapatkan penuru nan kesadaran dan bisa dijumpai kekakuan leher ataupun kejang. Pada pemeriksaan didapatkan kaku kuduk, suhu badan naik turun, kadang-kadang suhu malah merendah, nadi sangat labil, lebih sering dijumpai nadi yang lambat, hiperestesi umum, ab domen tampak mencekung, afasia motorik atau sensoris, reflek pupil yang lambat d an reflek tendon yang lemah. Pemeriksaan cairan otak merupakan kunci diagnosis untuk meningitis tuberkulosis. Cairan serebrospinal pada meningitis tuberkulosis jernih, tidak berwarna, dan bila didiamkan akan membentuk cob web atau pellicle u sarang laba-laba. Tekanan sedikit meninggi dan jumlah sel kurang dari 500/ mm3 dengan dominan limfosit. Pada pemeriksaan foto thorax, hampir sebagian besar pe nderita meningitis tuberkulosis akan menunjukkan gambaran radiologik sesuai untu k suatu tuberkulosis. KESIMPULAN Meningitis Tuberkulosa merupakan peradangan selaput meningens yang disebabkan o leh Mycobacterium tuberculosis, dan merupakan bentuk yang paling umum dari Tuber kulosis ekstrapulmoner yang menyerang sistem saraf pusat. Diagnosis ditentukan atas dasar gambaran klinis serta yang terpenting ialah gamb aran pemeriksaan cairan otak. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat bila ditemukan kuman tuberkulosis dalam cairan otak. Uji tuberkulin yang positif, kelainan radi ologis yang tampak pada foto thorak dan terdapatnya sumber infeksi dalam keluarg a hanya dapat menyokong diagnosis. Uji tuberkulin pada meningitis tuberkulosis s ering negatif karena anergi, terutama dalam stadium terminalis. Pengobatan sedini mungkin sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi. D iberikan pengobatan medikamentosa berupa kombinasi antara Obat Anti Tuberkulosis dengan kortikosteroid. Diberikan 4 macam obat selama 2 bulan, diteruskan dengan pemberian INH dan Rifampicin selama 10 bulan. Steroid diberikan untuk mencegah arteritis/ infark otak, komplikasi infeksi, perlekatan dan menghambat reaksi inf lamasi. REFERENSI 1. Jain SK, Paul-Satyaseela M, Lamichhane G, et al. (May 2006). "Mycobacter ium tuberculosis invasion and traversal across an invitro human blood brain barrie r as a pathogenic mechanism for central nervous system tuberculosis". J. Infect. Dis. 193 (9): 1287 95. doi:10.1086/502631. PMID 1658636. 2. Simmons CP, Thwaites GE, Quyen NT, et al. (2006). "Pretreatment intracer ebral and peripheral blood immune responses in Vietnamese adults with tuberculou s meningitis: diagnostic value and relationship to disease severity and outcome" . J Immunol 176 (3): 2007 14. PMID 16424233. 3. Kim SH, Kim YS (2009). "The immunologic paradox in the diagnosis of tube rculous meningitis". Clin Vaccine Immunol 16 (12): 1847 9. doi:10.1128/CVI.00321-0 9. PMC 2786389. PMID 19846679. 4. Dinnes J, Deeks J, Kunst H, Gibson A, Cummins E, Waugh N, Drobniewski F, Lalvani A (2007). "A systematic review of rapid diagnostic tests for the detect ion of tuberculosis infection". Health Technol Assess 11 (3): 1 314. PMID 17266837 . 5. Thwaites GE, Nguyen DB, Nguyen HD, et al. (2004). "Dexamethasone for the treatment of tuberculous meningitis in adolescents and adults". N Engl J Med 35

ata

1 (17): 1741 1751. doi:10.1056/NEJMoa040573. PMID 15496623. 6. Misra, U.K.; Kalita, J.; Nair, P.P. (2010). "Role of aspirin in tubercul ous meningitis: a randomized open-label placebo-controlled trial". J Neutrol Sci 293 (1-2): 12 17. doi:10.1016/j.jns.2010.03.025 PENULIS Ragil Adi Sampurna, Bagian Ilmu Anestesi dan Reanimasi, RSUD Setjonegoro Kab Won osobo, Jawa Tengah