Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Batu ginjal merupakan batu saluran kemih (urolithiasis), sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan Mesir kuno dengan diketemukannya batu pada kandung kemih mummi. Batu saluran kemih dapat diketemukan sepanjang saluran kemih mulai dari sistem kaliks ginjal, pielum, ureter, buli-buli dan uretra. Batu ini mungkin terbentuk di di ginjal kemudian turun ke saluran kemih bagian bawah atau memang terbentuk di saluran kemih bagian bawah karena adanya stasis urine seperti pada batu buli-buli karena hiperplasia prostat atau batu uretra yang terbentu di dalam divertikel uretra. Batu ginjal adalah batu yang terbentuk di tubuli ginjal kemudian berada di kaliks, infundibulum, pelvis ginjal dan bahkan bisa mengisi pelvis serta seluruh kaliks ginjal dan merupakan batu slauran kemih yang paling sering terjadi. Penyakit batu saluran kemih menyebar di seluruh dunia dengan perbedaan di negara berkembang banyak ditemukan batu buli-buli sedangkan di negara maju lebih banyak dijumpai batu saluran kemih bagian atas (gunjal dan ureter), perbedaan ini dipengaruhi status gizi dan mobilitas aktivitas sehari-hari. Angka prevalensi rata-rata di seluruh dunia adalah 112 % penduduk menderita batu saluran kemih. Penyebab terbentuknya batu saluran kemih diduga berhubungan dengan gangguan aliran urine, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu saluran kemih yang dibedakan sebagai faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Apa yang dimaksud dengan Urolithiasis? Apa yang menyebabkan Urolithiasis? Bagaimana patofisisologi dan pathogenesis Urolithiasis? Bagaimana tanda dan gejala Urolithiasis? Bagaimana manifestasi klinik Urolithiasis? Bagaimana cara penatalaksanaan urolithiasis?

7.

Bagaimana cara pencegahan Urolithiasis?

Tujuan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Untuk mengetahui pengertian Urolithiasis. Untuk mengetahui penyebab penyakit Urolithiasis. Untuk mengetahui pathofisiologi dan pathogenesis penyakit Urolithiasis. Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit Urolithiasis. Untuk mengetahui manifestasi klinik penyakit Urolithiasis. Untuk mengetahui cara penatalaksanaan penyakit Urolithiasis. Untuk mengetahui cara pencegahan penyakit Urolithiasis.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Urolithiasis adalah suatu keadaan terjadinya penumpukan oksalat, calculi (batu ginjal) pada ureter atau pada daerah ginjal. Urolithiasis terjadi bila batu ada di dalam saluran perkemihan. Batu itu sendiri disebut calculi. Pembentukan batu mulai dengan kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan yang tumbuh sebagai pencetus larutan urin. Calculi bervariasi dalam ukuran dan dari fokus mikroskopik sampai beberapa centimeter dalam diameter cukup besar untuk masuk dalam velvis ginjal. Gejala rasa sakit yang berlebihan pada pinggang, nausea, muntah, demam, hematuria. Urine berwarna keruh seperti teh atau merah. B. Etiologi Faktor faktor yang mempengaruhi pembentukan batu a) Faktor Endogen : Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hiperkalsiuria dan hiperoksalouria. b) Faktor Eksogen : Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum. c) Faktor lain : 1. Infeksi Infeksi Saluran Kencing (ISK) dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan Batu Saluran Kencing (BSK) Infeksi bakteri akan memecah ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH Urine menjadi alkali. 2. Stasis dan Obstruksi Urine Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah Infeksi Saluran Kencing. 3. Jenis Kelamin Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita dengan perbandingan 3 : 1

4. Ras Batu Saluran Kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia. 5. Keturunan Anggota keluarga Batu Saluran Kencing lebih banyak mempunyai kesempatan 6. Air Minum Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan kurang minum menyebabkan kadar semua substansi dalam urine meningkat. 7. Pekerjaan Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya batu dari pada pekerja yang lebih banyak duduk. 8. Suhu Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringan. 9. Makanan Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditas Batu Saluran Kencing berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita Batu Saluran Kencing (buli-buli dan Urethra). C. Pathogenesis Sebagian besar Batu Saluran Kencing adalah idiopatik, bersifat simptomatik ataupun asimptomatik. Teori Terbentuknya Batu a) Teori Intimatriks Terbentuknya Batu Saluran Kencing memerlukan adanya substansi organik Sebagai inti. Substansi ini terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu. b) Teori Supersaturasi Terjadi kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu. c) Teori Presipitasi-Kristalisasi Perubahan pH urine akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urine. Urine yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin dan garam urat, urine alkali akan mengendap garam-garam fosfat. d) Teori Berkurangnya Faktor Penghambat

Berkurangnya Faktor Penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat magnesium, asam mukopolisakarida akan mempermudah terbentuknya Batu Saluran Kencing.

D. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya, besarnya dan morfologinya. Walaupun demikian penyakit ini mempunyai tanda umum yaitu a) Hematuria, baik hematuria terbuka atau mikroskopik b) Nyeri pinggang, sisi, atau sudut kostovertebral c) Pielonefritis dan atau sistitis d) Pernah mengeluarkan batu kecil ketika kencing e) Nyeri tekan kostovertebral f) Gangguan faal ginjal Selain itu bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan kelainan endapan urin bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain. E. Manifestasi klinik Manifestasi klinik adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai demam, menggigil dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus. Batu di piala ginjal berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus menerus di area kostovertebral. Hematuria dan piuria dapat dijumpai. Batu yang terjebak di ureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut dan kolik yang menyebar ke paha dan genitalia. Pasien sering merasa ingin berkemih namun hanya sedikit urin yang keluar dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasif batu. Batu yang terjebak dikandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria. Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih, akan terjadi retensi urin. Jika infeksi berhubungan dengan adanya batu, maka kondisi ini jauh lebih serius, disertai sepsis yang mengancam kehidupan pasien.

F. Penatalaksanaan a) Menghilangkan Obstruksi b) Mengobati Infeksi c) Menghilangkan rasa nyeri d) Mencegah terjadinya gagal ginjal dan mengurangi kemungkinan terjadinya rekurensi. 1. Pengurangan nyeri a. Tujuan segera dari penanganan kolik renal atau ureteral adalah untuk mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan; morfin atau meperidin diberikan untuk mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa. Mandi air hangat diarea panggul dapat bermanfaat. Cairan diberikan, kecuali pasien mengalami muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan pembatasan cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang di belakang batu sehingga mendorong pasase batu tersebut ke bawah. Masukan cairan sepanjang hari mengurangi konsentrasi kristaloid urin, mengencerkan urin dan menjamin haluaran urin yang besar. b. Pengangkatan batu

2. Pemeriksaan sitoskopik dan pasase kateter ureteral kecil untuk menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi (jika mungkin), akan segera mengurangi tekanan-belakang pada ginjal dan mengurangi nyeri. 3. Lithotripsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal (ESWL) Adalah prosedur noninvasive yang digunakan untuk menghancurkan batu di kaliks ginjal. Setelah batu tersebut pecah menjadi bagian yang kecil seperti pasir, sisa batu-batu tersebut dikeluarkan secara spontan. 4. Metode Endourologi Pengangkatan Batu Mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Nefrostomi perkutan (atau nefrolitotomi perkutan) dilakukan dan nefroskop dimasukkan ke traktus perkutan yang sudah dilebarkan ke dalam parenkim ginjal. 5. Ureteroskopi Mencakup visualisasi dan aksis ureter dengan memasukkan suatu alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan laser, lithotripsy elektrohidraulik atau ultrasound kemudian diangkat.

6. Pelarutan batu Infus cairan kemolitik (misal: agen pembuat asam dan basa) untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternative penanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap terapi lain dan menolak metode lain, atau mereka yang memiliki batu yang mudah larut (struvit). 7. Pengangkatan batu Jika batu terletak didalam ginjal, pembedahan dilakukan dengan nefrolitotomi (insisi pada ginjal untuk mengangkat batu) atau nefrektomi, jika ginjal tidak berfungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Batu dalam piala ginjal diangkat dengan pielolitotomi, sedangkan batu pada ureter diangkat dengan ureterolitotomi dan sistotomi jika batu berada dikandung kemih. Jika batu berada dikandung kemih; suatu alat dapat dimasukkan ke uretra ke dalam kandung kemih; batu kemudian dihancurkan oleh penjepit pada alat ini. prosedur ini disebut sistolitolapaksi.

G. Pencegahan 1. 2. 3. Makanan kaya vitamin D harus dihindari (vitamin D meningkatkan reabsorpsi kalsium). Garam meja dan makanan tinggi natrium harus dikurangi (Na bersaing dengan Ca dalam reabsorpsinya diginjal). Daftar makanan berikut harus dihindari : a) Produk susu: semua keju (kecuali keju yang lembut dan keju batangan); susu dan produk susu (lebih dari cangkir per hari); krim asam (yoghurt). b) Daging, ikan, unggas: otak, jantung, hati, ginjal, sardine, sweetbread, telur. c) Sayuran: bit hijau, lobak, mustard hijau, bayam, lobak cina, buncis kering, kedelai, seledri. d) Buah: kelembak, semua jenis beri, kismis, buah ara, anggur. e) Roti, sereal, pasta: roti murni, sereal, keripik, roti gandum, semua roti yang dicampur pengembang roti, oatmeal, beras merah, sekam, benih gandum, jagung giling, seluruh sereal kering (kecuali keripik nasi, com flakes).

f) Minuman: teh, coklat, minuman berkarbonat, bir, semua minuman yang dibuat dari susu atau produk susu. g) Lain-lain: kacang, mentega kacang, coklat, sup yang dicampur susu, semua krim, makanan pencuci mulut yang dicampur susu atau produk susu (kue basah, kue kering, pie). H. Pengkajian data dasar 1. Riwayat atau adanya faktor resiko a) Perubahan metabolik atau diet b) Imobilitas lama c) Masukan cairan tak adekuat d) Riwayat batu atau Infeksi Saluran Kencing sebelumnya e) Riwayat keluarga dengan pembentukan batu

2.

Pemeriksaan fisik berdasarka pada survei umum dapat menunjukkan : a) Nyeri. Batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan. Batu ureteral menyebabkan nyeri jenis kolik berat dan hilang timbul yang berkurang setelah batu lewat. b) Mual dan muntah serta kemungkinan diare c) Perubahan warna urine atau pola berkemih, Sebagai contoh, urine keruh dan bau menyengat bila infeksi terjadi, dorongan berkemih dengan nyeri dan penurunan haluaran urine bila masukan cairan tak adekuat atau bila terdapat obstruksi saluran perkemihan dan hematuri bila terdapat kerusakan jaringan ginjal

3.

Pemeriksaan Diagnostik a) Urinalisa : warna : normal kekuning-kuningan, abnormal merah menunjukkan hematuri (kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor,kegagalan ginjal). pH : normal 4,6 6,8 (rata-rata 6,0), asam (meningkatkan sistin dan batu asam urat), alkali (meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau batu kalsium fosfat), Urine 24 jam : Kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat, atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukkan Infeksi Saluran Kencing , BUN hasil normal 5 20 mg/dl tujuan untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. BUN menjelaskan secara kasar perkiraan Glomerular Filtration Rate. BUN dapat dipengaruhi oleh diet tinggi protein, darah dalam saluran pencernaan status katabolik (cedera, infeksi). Kreatinin serum hasil

normal laki-laki 0,85 sampai 15mg/dl perempuan 0,70 sampai 1,25 mg/dl tujuannya untuk memperlihatkan kemampuan ginjal untuk mengekskresi sisa yang bemitrogen. Abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis. b) Darah lengkap : Hb, Ht, abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia. c) Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal (PTH merangsang reabsorbsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine. d) Foto Rontgen : menunjukkan adanya calculi atau perubahan anatomik pada area ginjal dan sepanjang ureter. e) IVP : memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter). f) Sistoureteroskopi : visualisasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukkan batu atau efek ebstruksi. g) USG Ginjal : untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu. I. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul 1. 2. 3. 4. Gangguan rasa nyaman (nyeri pada daerah pinggang) berhubungan dengan cedera jaringan sekunder terhadap adanya batu pada ureter atau pada ginjal Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya obstruksi (calculi) pada renal atau pada uretra. Kecemasan berhubungan dengan kehilangan status kesehatan. Kurangnya informasi. J. Intervensi 1. Nyeri (akut) b/d peningkatan frekuensi kontraksi ureteral, taruma jaringan, edema dan iskemia seluler. pengetahuan tentang sifat penyakit, tujuan tindakan yang diprogramkan dan pemeriksaan diagnostik berhubungan dengan kurangnya

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL 1. Catat lokasi, lamanya/intensitas Membantu evaluasi tempat obstruksi dan nyeri (skala 1-10) dan kemajuan gerakan batu. Nyeri panggul sering

penyebarannya.

Perhatiakn

tanda menyebar ke punggung, lipat paha, genitalia

non verbal seperti: peningkatan TD sehubungan dengan proksimitas pleksus saraf dan DN, gelisah, meringis, merintih, dan pembuluh darah yang menyuplai area menggelepar. lain. Nyeri tiba-tiba dan hebat dapat menimbulkan gelisah, takut/cemas.

Melaporkan nyeri secara dini memberikan 2. Jelaskan perawatan penyebab setiap nyeri dan kesempatan pemberian analgesi pada waktu pentingnya melaporkan kepada staf yang tepat dan membantu meningkatkan perubahan kemampuan koping klien dalam menurunkan ansietas. Meningkatkan relaksasi dan menurunkan 3. Lakukan tindakan yang mendukung ketegangan otot. kenyamanan ringan/kompres (seperti hangat masase pada Mengalihkan 4. Bantu/dorong terapeutik. Aktivitas fisik dan hidrasi yang adekuat 5. Bantu/dorong peningkatan aktivitas meningkatkan (ambulasi aktif) sesuai disertai asupan cairan sedikitnya 3-4 selanjutnya liter perhari dalam batas toleransi jantung. Obstruksi lengkap ureter dapat menyebabkan 6. Perhatikanpeningkatan/menetapnya keluhan nyeri abdomen. perforasi dan ekstravasasiurine ke dalam area perrenal, hal ini merupakan kedaruratan bedah akut. lewatnya batu, mencegah indikasi stasis urine dan mencegah pembentukan batu pernapasan dalam, relaksasi otot. bimbingan imajinasi dan aktivitas perhatian dan membantu karakteristik nyeri yang terjadi.

punggung, lingkungan yang tenang)

7. Kolaborasi pemberian obat sesuai

program terapi: Analgetik

Analgetik (gol. narkotik) biasanya diberikan selama episode akut untuk menurunkan kolik ureter dan meningkatkan relaksasi otot/mental. Menurunkan refleks spasme, dapat

Antispasmodik

menurunkan kolik dan nyeri. Mungkin digunakan untuk menurunkan

Kortikosteroid

edema jaringan untuk membantu gerakan batu.

2.

Perubahan eliminasi urine b/d stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal dan ureter, obstruksi mekanik dan peradangan.

INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL 1. Awasi asupan dan haluaran, Memberikan informasi tentang fungsi ginjal karakteristik urine, catat adanya dan adanya komplikasi. Penemuan batu keluaran batu. memungkinkan identifikasi tipe batu dan mempengaruhi pilihan terapi

2. Tentukan pola berkemih normal Batu saluran kemih dapat menyebabkan klien dan perhatikan variasi yang peningkatan terjadi. eksitabilitas saraf sehingga menimbulkan sensasi kebutuhan berkemih segera. Biasanya frekuensi dan urgensi meningkat bila batu mendekati pertemuan uretrovesikal. 3. Dorong peningkatan asupan cairan. Peningkatan hidrasi dapat membilas bakteri, darah, debris dan membantu lewatnya batu. Akumulasi sisa uremik dan

4. Observasi perubahan status mental, ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi perilaku atau tingkat kesadaran. toksik pada SSP. Peninggian BUN, kreatinin dan elektrolit 5. Pantau laboratorium kreatinin) 6. Berikan obat sesuai indikasi: a. Asetazolamid (Diamox), Alupurinol (Ziloprim) Mencegah stasis urine ddan menurunkan b. Hidroklorotiazid (Esidrix, Hidroiuril), Klortalidon (Higroton) Menurunkan pembentukan batu fosfat c. Amonium klorida, kalium atau natrium fosfat (Sal-Hepatika) Menurnkan produksi asam urat. d. Agen antigout mis: Alupurinol (Ziloprim) Mungkin diperlukan bila ada ISK e. Antibiotika Mengganti kehilangan yang tidak dapat f. Natrium bikarbonat teratasi selama pembuangan bikarbonat dan atau alkalinisasi urine, dapat mencegah pemebntukan batu. Mengasamkan g. Asam askorbat urine untuk mencegah pembentukan batu kalsium. Meningkatkan pH urine (alkalinitas) untuk menurnkan pembentukan batu asam. hasil pemeriksaan menjukkan disfungsi ginjal BUN, (elektrolit,

berulangnay pembentukan batu alkalin. Mungkin diperlukan untuk membantu

7. Pertahankan patensi kateter tak menetap (uereteral, uretral atau nefrostomi).

kelancaran aliran urine.

Mengubah

pH

urien

dapat

membantu

pelarutan batu dan mencegah pembentukan 8. Irigasi dengan larutan asam atau alkali sesuai indikasi. Berbagai 9. Siapkan klien dan bantu prosedur endoskopi. prosedur endo-urologi dapat batu selanjutnya.

dilakukan untuk mengeluarkan batu.

3.

Kekurangan volume cairan (resiko tinggi) b/d mual/muntah (iritasi saraf abdominal dan pelvis ginjal atau kolik ureter, diuresis pasca obstruksi.

INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Awasi asupan dan haluaran

RASIONAL Mengevaluasi adanya stasis urine/kerusakan ginjal.

2. Catat

insiden

dan

karakteristik Mual/muntah ganglion

dan

diare

secara

umum kedua

muntah, diare.

berhubungan dengan kolik ginjal karena saraf seliaka menghubungkan ginjal dengan lambung.

3. Tingkatkan liter/hari.

asupan

cairan

3-4 Mempertahankan keseimbangan cairan untuk homeostasis, juga dimaksudkan sebagai upaya membilas batu keluar.

4. Awasi tanda vital.

Indikator

hiddrasi/volume

sirkulasi

dan

kebutuhan intervensi. 5. Timbang berat badan setiap hari. Peningkatan BB yang cepat mungkin

berhubungan dengan retensi. 6. Kolaborasi pemeriksaan HB/Ht dan Mengkaji hidrasi dan efektiviatas intervensi. elektrolit. Mempertahankan terapi. Makanan mudah cerna menurunkan aktivitas 8. Kolaborasi pemberian diet sesuai saluran keadaan klien. cerna, mengurangi iritasi cairan dan dan membantu mempertahankan volume sirkulasi (bila 7. Berikan cairan infus sesuai program asupan per oral tidak cukup)

keseimbangan nutrisi. Antiemetik 9. Berikan terapi obat sesuai (antiemetik misalnya mungkin diperlukan untuk

program menurunkan mual/muntah.

Proklorperasin/ Campazin).

4.

Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada.

INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Tekankan pentingnya mempertahankan asupan hidrasi 3-4 liter/hari. 2. Kaji ulang program diet sesuai indikasi. a. Diet rendah purin b. Diet rendah kalsium c. Diet rendah oksalat d. Diet rendah kalsium/fosfat

RASIONAL Pembilasan sistem ginjal menurunkan kesemapatan stasis ginjal dan pembentukan batu. Jenis diet yang diberikan disesuaikan dengan tipe batu yang ditemukan.

3.

Diskusikan program obat-obatan, hindari obat yang dijual bebas.

Obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk mengoreksi asiditas atau alkalinitas urine tergantung penyebab dasar pembentukan batu.

4.

Jelaskan tentang tanda/gejala yang Pengenalan dini tanda/gejala berulangnya memerlukan evaluasi medik (nyeri pembentukan batu diperlukan untuk berulang, hematuria, oliguria) memperoleh intervensi yang cepat sebelum timbul komplikasi serius.

5.

Tunjukkan perawatan yang tepat ada.

Meningkatakan kemampuan rawat diri dan

terhadap luka insisi dan kateter bila kemandirian.

K. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Lakukanlah apa yang harus anda lakukan pada saat itu. Dan catat apa yang telah anda lakukan tidakan pada pasien.

L. EVALUASI KEPERAWATAN Evaluasi semua tindakan yang telah anda berikan pada pasien. Jika dengan tindakan yang diberikan pasien mengalami perubahan menjadi lebih baik. Maka tindakan dapat dihentikan. Jika sebaliknya keadaan pasien menjadi lebih buruk, kemungkinan besar tindakan harus mengalami perubahan atau perbaikan

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Urolithiasis adalah adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius. Urolithiasis merupakan penyakit yang salah satu tanda gejalanya adalah pembentukan batu di dalam saluran kemih. Factor-faktor yang mempengaruhi pembentukan batu: Idiopatik,gangguan saluran,kemih,gangguan metabolism,Infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membuat urease (Proteus mirabilis),dehidrasi,benda asin,multifaktor,jaringan mati (nekrosis papil). Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya, besarnya dan morfologinya. Manifestasi klinik adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai demam, menggigil dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Linda Jual. (1995). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Doenges, et al. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume I (terjemahan). PT EGC. Jakarta. Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan).Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung. Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.