Anda di halaman 1dari 12

1

LAPORAN PRAKTIKUM
RESISTIVITAS

Dosen Pembimbing : Yoga Satria Putra S.Si, M.Si

1. Yuzika Pausa

(H12109018)

2. Ezra Andwa Heradian (H12109028) 3. Pramushinta Arum P (H12109016)

4. Huswatun Hasanah Aya (H12109031)

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK 2012

1. Judul Penelitian : Turbidimeter Sederhana 2. Tujuan penelitian Adapun tujuan dari eksperimen ini adalah : 1. Membuat turbidimeter (alat pengukur kekeruhan air) dari bahan sederahana. 2. Menghitung tingkat kekeruhan air sekitar. 3. 3.1 Dasar Teori Turbiditas(Kekeruhan) Turbiditas merupakan suatu ukuran yang menyatakan sampai seberapa jauh cahaya mampu menembus air, dimana cahaya yang menembus air akan mengalami pemantulan oleh bahan-bahan tersuspensi dan bahan koloidal. Turbiditas dalam perairan mungkin terjadi karena material alamiah, atau akibat aktivitas proyek, pembuangan limbah, dan operasi pengerukan (Anonim, 2012 ). Turbiditas sering disebut juga dengan kekeruhan. Apabila di dalam media air terjadi kekeruhan yang tinggi maka kandungan oksigen akan menurun, hal ini disebabkan intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam perairan sangat terbatas sehingga tumbuhan atau phytoplankton tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk mengasilkan oksigen. Turbiditas merupakan sifat optik akibat dispersi sinar dan dapat dinyatakan sebagai perbandingan cahaya yang dipantulkan terhadap cahaya yang tiba. Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu suspensi adalah fungsi konsentrasi jika kondisi-kondisi lainnya konstan (Kristian H. Sugiyarto, 2004). 3.2. Pengukuran Turbiditas Metode pengukuran turbiditas dapat dikelompokkan dalam 2 golongan. yaitu pengukuran perbandingan intensitas cahaya yang dihamburkan terhadap intensitas yang datang dan pengukuran efek ekstingsi, yaitu kedalaman di mana cahaya yang mulai tidak tampak di dalam lapisan medium yang keruh. Nilai turbiditas suatu larutan dapat ditentukan dengan persamaan (Khopkar, 1984) : S = log (P0/P) dimana, S = turbiditas larutan
2

(2.1)

P0 = intensitas sinar yang datang P = intensitas sinar yang ditransmisikan k = konstanta turbiditas atau, S= k.b.N dengan b = tebal media(m) N = jumlah partikel/mm Satuan turbiditas dapat dinyatakan sebagai satuan kekeruhan (2.2)

Nephelometric (NTUs). NTUs menggambarkan jumlah cahaya yang terhambur oleh partikel yang tersuspensi dalam suatu sampel air. Semakin kecil nilai NTUs maka nilai kekeruhan air semakin kecil juga,artinya jarak tembus sinar tersebut terhadap larutan semakin besar sehingga jarak pandang di dalam larutan tersebut juga besar. Sebagai contoh, air dengan tingkat kekeruhan 10 NTUs memiliki jarak penglihatan yang besar jika kita meneropongnya, hingga mencapai 21.5 inchi atau 54.6 cm. Tingkat kekeruhan air yang sangat tinggi bisa memiliki nilai kekeruhan 240 NTUs dengan jarak pandang hanya 2.5 inchi (6.35 cm). Berikut tabel korelasi antara NTUs dan jarak pandang (Rukaesih Achmad, 2004 ) : Data Tabel Centimeter 6.7 7.3 8.9 11.5 17.9 20.4 25.5 33.1 35.7 NTU 240 200 150 100 50 40 30 20 19

38.2 40.7 43.4 45.8 48.3 50.9 53.4 85.4

17 15 14 13 12 11 10 5

Tabel 1. Konversi jarak pandang terhadap NTUs

3.3. Alat Ukur Turbiditas Sederhana Turbiditas suatu larutan dapat diukur menggunakan turbidimeter. prinsip kerjanya, turbidimeter akan memancarkan cahaya pada media atau sampel, dan cahaya tersebut akan diserap, dipantulkan atau menembus media tersebut. Cahaya yang menembus media akan diukur dan ditransfer kedalam bentuk angka.

Gambar 1. Turbiditas

Turbidimeter sederhana dapat dibuat secara manual. Dengan menggunakan tabung gelas, kita dapat membuat alat ini dengan fungsi yang sama. Jika sampel diuji dengan turbidimeter sederhana maka variabel yang terukur dapat berupa jarak pandang mata manusia normal di dalam media sampel. Nilai jarak pandang yang terbaca tersebut dapat dikonversikan langsung ke dalam satuan NTUs menggunakan tabel 1 (anonim, 2012 )

Gambar 2. Skema turbidimeter sederhana

4. Metodologi Penelitian
4.1. Alat dan Bahan 1. Botol kolektor. 2. Gunting. 3. Karet gelang. 4. Lem. 5. Notebook 6. Penggaris 1m. 7. Tabung gelas setinggi 1 m. 8. Tinta hitam permanen. 9. Tutup plastik berbentuk lingkaran. 4.2. Prosedur Eksperimen 4.2.1. Prosedur: Bagian A 1. Gunting tutup botol plastik 2. Bagilah tutup botol menjadi 4 bagian dengan cara mewarnainya dengan tinta hitam.

3. Letakkan tabung gelas pada posisi vertikal dan pasangkan tutup botol yang telah dibuat sebagai alasnya. 4. Oleskan lem pada tutup botol agar menempel kuat denga tabung gelas.

5. Tempelkan penggaris di tabung gelas yang telah jadi, dan biarkan merekat kuat.

4.2.2. Prosedur : Bagian B 1. Masukkan sampel air ke dalam botol kolektor. 2. Posisikan diri di antara sinar matahari dan tabung sehingga terbentuk bayangan yang menutupi tabung turbidimeter. 3. Secara perlahan tuangkan air dari botol kolektor ke dalam turbidimeter. 4. Amati permukaan air sampai ke dasar kolom air dengan posisi mata tetap di atas mulut tabung. 5. Hentikan penuangan apabila dasar kolom sudak tidak tampak lagi. 6. Catat ketinggian kolom air yang terbaca pada meteran dan simpan datanya pada notebook. 7. Kosongkan turbidimeter dan ulangi langkah 1 sampai 6 dengan praktikan yang berbeda.

4.3.Bagan Alir Eksperimen

Studi Literatur

Merangkai Alat

Pengambilan Data

Hasil dan Analisa

Kesimpulan

Gambar 3.1 Bagan alir prosedur Eksperimen

5. HASIL DAN PEMBAHASAN


Penelitian pertama dilakukan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Pontianak, sampel air yang diambil berasal dari PDAM. Pada pengambilan sampel air yang pertama, sampel air tersebut dimasukan dalam tabung plastik, sampai dasar kolom tidak terlihat lagi pada ketinggian tertentu. Pada hasil pengukuran didapatkan ketinggian sampel air lebihdari 100 cm. Namun, sampel air tersebut tampak keruh, karena sampel air tersebut masih mengandung bahan-bahan tersuspensi dan bahan koloid seperti tawas dan telah mengalami proses penjernihan. Pada ketinggian tersebut membuktikan bahwa cahaya matahari dapat menembus air walaupun sedikit dipantulkan oleh partikel yang terdapat dalam sampel air tersebut. Sampel air yang kedua adalah air gambut yang diambil di parit jalan Ahmad Yani, Gang Sepakat II . Hasil pengukuran didapatkan air, pada ketinggian 27,6 cm dasar kolom sudah tidak terlihat. Sampel air yang ketiga adalah air hujan yang diambil di Gang Usaha, disalah satu rumah warga setempat. Pada saat pengukuran didapatkan air pada ketinggian lebihdari 100 cm. Hasil ini menunjukan bahwa air hujan masih murni jernih. Pengambilan sampel air keempat dilakukan di Sungai Kapuas, pada hasil pengukuran didapatkan air pada ketinggian 13,2 cm dasar kolom sudah tidak terlihat. Hal ini dikarenakan cahaya matahari tidak dapat menembus air tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa air sungai kapuas memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi. Sampel air yang kelima yaitu air lumpur, diambil di parit Jalan Imam Bonjol, pada hasil pengukuran didapatkan air, pada ketinggian 7,7 cm dasar kolom sudah tidak terlihat. Dari sampel air keempat, dan kelima yang diukur dapat disimpulkan bahwa cahaya matahari hanya dapat menembus air pada ketinggian 13,2 cm dan 7,7 cm sehingga kedua sampel air tersebut memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi. Hubungan Jarak pengamatan dengan NTUs, dapat dilihat pada tabel 3.1.

10

Tabel 3.1. Hubungan jarak pandang terhadap NTUs

No 1 2 3 4 5

Nama Sampel Air Air PDAM Air Gambut Air Hujan Air Sungai Kapuas Air Lumpur

Jarak Pengamatan (cm) > 100 27,6 >100 13,2 7,7

NTUs <5 > 30 <5 < 100 < 200

Hubungan jarak pandang terhadap NTUs bahwa Semakin kecil nilai NTUs maka nilai kekeruhan air semakin kecil juga,artinya jarak tembus sinar tersebut terhadap larutan semakin besar sehingga jarak pandang di dalam larutan tersebut juga besar dapat dilihat pada sampel air hujan dan PDAM. Dan sebaliknya Semakin besar nilai NTUs maka nilai kekeruhan air semakin besar juga, dimana jarak tembus sinar tersebut terhadap larutan semakin kecil sehingga jarak pandang di dalam larutan tersebut juga semain kecil.

10

11

6. Kesimpulan Dan Saran 6.2. Kesimpulan 1. Dapat membuat alat turbidimeter sederhana dengan menggunakan bahan-bahan sederhana. 2. Tingkat kekeruhan (NTUs) untuk air PDAM adalah < 5, air gambut adalah >30, air hujan adalah < 5, air sungai Kapuas < 100, air lumpur < 100. 6.3. Saran Untuk eksperimen selanjutnya tabung gelas yang digunakan terbuat dari kaca.

11

12

DAFTAR PUSTAKA
Khopkar S. M, 1984. Konsep Dasar Kimia Analitik. UIN Press:Jakartahalaman 245 Kristian H. Sugiyarto, 2004. Kimia Anorganik I, UNY Press: Yogyakarta halaman 148. Rukaesih Achmad, 2004.Kimia Lingkungan,UNY Press: Yogyakarta,halaman 91 Anonim.2012.http://faradillahchemistry09.blogspot.com/2012/04/laporanturbidita s.html. Tanggal 13 Mei 2012. Pukul 20.00 WIB Anonim.2012.http://www.hotfrog.co.id/Products/turbidimeter.html.Tanggal Mei 2012. Pukul 20.00 WIB 13

12