Anda di halaman 1dari 9

Islamic Democracy

HOW ISLAM IMPLEMENT DEMOCRACY

Rama Renspandy
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER | 2010

KATA PENGANTAR Segala puji hanya milik Allah SWT, yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya, mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Tak lupa, sholawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan besar, Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan orang-orang yang setia meneladani Beliau. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam, serta dapat menjadi sumber referensi bagi pembaca mengenai Demokrasi dan Sistem Politik dalam Dunia Islam. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen Agama Islam, bapak Drs. Moh. Saifulloh M.Fil.I, yang menjadi sumber inspirasi sekaligus banyak membantu dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca, khususnya wawasan tentang Agama Islam. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima Kasih,

Penyusun

1|Makalah Agama

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, telah membawa kehidupan masyarakat menuju pola pikir dan kehidupan yang makin kompleks. Salah satunya dalah kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tatanan hidup yang dibangun manusia, banyak yang mulai menyimpang. Terbukti dengan carut-marutnya kondisi sosial politik di negara kita dan masalah demokrasi. Diperlukan sebuah perubahan dan pembaharu, yang sesuai dengan konsep Islam. Agama sendiri, khususnya agama Islam, hadir di dunia sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia. Segala aspek kehidupan manusia telah diatur oleh Islam, termasuk masalah demokrasi dan sistem politik. Hadirnya Islam seharusnya telah menjadi solusi atas permasalahan sosial politik di negeri ini. Namun, minimnya pemahaman mengenai ajaran Islam, membuat implementasi menjadi sangat sulit untuk diwujudkan. Jadi, perlu adanya sebuah pemahaman lebih lanjut mengenai demokrasi dan sistem politik dalam Islam, agar tercapainya kondisi sosial yang sesuai dengan ajaran Islam. 1.2 Identifikasi Masalah Bedasarkan latar belakang masalah tersebut, maka masalah yang dapat diidentifikasikan adalah sebagai berikut: a. Bagaimana demokrasi dalam pandangan islam? b. Bagaiman sistem politik, serta peranannya dalam pandangan islam? 1.3 Pembatasan Masalah Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka makalah yang dibahas dibatasi pada masalah: a. Demokrasi yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia b. Perbandingan sistem politik dan contoh penerapannya di Indonesia.

2|Makalah Agama

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Demokrasi dalam Islam Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani dimana berasal dari dua kata yaitu demos artinya rakyat dan cratein yang artinya pemerintah. Ibn Rusyd (Averroes) seorang filosof muslim Andalusia termasyur sekaligus pensyarah buku-buku Aristoletes menerjemahkan demokrasi dengan "politik kolektif" (as siyasah al jama'iyah). Sedang dalam ilmu sosiologi, demokrasi adalah sikap hidup yang berpijak pada sikap egaliter (mengakui persamaan derajat) dan kebebasan berpikir. Meski demokrasi merupakan kata kuno, namun demokrasi moderen merupakan istilah yang mengacu pada eksperimen orang-orang Barat dalam bernegara sebelum abad 20. Orangorang Islam mengenal kata demokrasi sejak jaman transliterasi buku-buku Yunani pada jaman Abbasiyah. Selanjutnya kata itu menjadi bahasan pokok para filosof muslim jaman pertengahan seperti Ibnu Sina (Avicenna), dan Ibn Rusyd ketika membahas karya-karya Aristoteles. Demokrasi islam dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan konsep-konsep Islami yang sudah lama berakar, yaitu musyawarah, konsensus (ijma) dan ijtihad. 2.1.1 Musyawarah Musyawarah adalah proses berembuk yang mempertimbangkan semua sisi dari sebuah isu. Musyawarah sudah jelas disebutkan dalam QS.42 : 28, yang berisi perintah kepada para pemimpin dalam kedudukan apapun untuk menyelesaikan urusan mereka yang dipimpinnya dengan cara bermusyawarah. Dengan demikian tidak akan terjadi kesewenang-wenangan dari seorang pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, perwakilan rakyat dalam sebuah negara Islam tercermin terutama dalam doktrin musyawarah (syura). 2.1.2 Konsensus (Ijma) Selain musyawarah, dalam islam juga dikenal istilah konsensus atau ijma. Dalam pengertian luas, konsensus dan musyawarah sering dipandang sebagai landasan yang efektif bagi demokrasi Islam modern. Konsep konsensus memberikan dasar bagi penerimaan sistem yang mengakui suara mayoritas. Beberapa cendekiawan kontemporer menyatakan bahwa karena tidak ada rumusan yang pasti mengenai struktur negara dalam Al-Quran, legitimasi negara bergantung kepada sejauh mana organisasi dan kekuasaaan negara mencerminkan kehendak umat, sebab legitimasi negara tidak berasal dari sumber tekstual, tetapi terutama didasarkan pada prinsip kondensus atau ijma. 2.1.3 Ijtihad Disamping musyawarah dan ijma, terdapat satu lagi komponen yang penting dalam demokrasi islam, yaitu ijtihad. Langkah ini merupakan sebuah langkap kunci menuju penerapan perintah Allah berkaitan dengan tempat dan waktu. Khursyi Ahmad
3|Makalah Agama

menyatakan bahwa Allah hanya mewahyukan prinsip-prinsip utama dan memberi manusia kebebasan untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dengan arah yang sesuai dengan semangat dan keadaan zamannya. 2.2 Sistem Politik Dalam Islam 2.2.1 Pengertian Politik dalam Islam Ada tiga pendapat yang berbeda mengenai pengertian politik dalam syariat islam, yaitu: a. Islam adalah satu agama yang serba lengkap yang di dalamnya terdapat antara lain sistem ketatanegaraan atau politik. Dalam kata lain, sistem politik atau fikih Siyasah merupakan bagian integral merupakan bagian integral dalam ajaran islam. b. Islam adalah agama dalam pengertian barat (sekuler), artinya agama tidak ada hubungannya dengan urusan kenegaraan atau sistem pemerintah. c. Islam bukan agama yang serba lengkap yang terdapat di dalamnya segala sistem ketatanegaraan, tetapi menolak juga pendapat bahwa islam itu sekuler. 2.2.2 Prinsip Dasar Politik Islam Politik islam dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mempengaruhi anggota masyarakat,agar berprilaku sesuai dengan ajaran Allah menurut sunnah rasulnya. Dalam konsep islam, kekuasaan tertinggi adalah Allah SWT. Ekspresi kekuasaan dan kehendak Allah tertuang dalam Al-Quran menurut sunah rasul. Penguasa tidak memiliki kekuasaan mutlak,ia hanya wakil (khalifah) Allah di muka bumi yang berfungsi untuk menegakkan ajaran Allah dalam kehidupan nyata. Prinsip dasar politik islam dapat dielaborasi sebagai berikut: a. b. c. d. Kekuasaan adalah amanah dari Allah Penguasa yang memahami persoalan Penguasa yang adil Tidak ada pemisah antara politik dan agama

Dalam islam agama dan Negara mempunyai pertalian yang erat. Hal ini didukung kenyataan yang ada dalam sejarah selam masa Rasulullah SAW dan masa khulafa alrasyidin dalam periode negara madinah. Prinsip dasar siyasah dalam islam meliputi, musyawarah, pembahasan bersama, tujuan bersama yakni untuk mencapai suatu keputusan, keputusan itu merupakan penyelaraian dari suatu masalah yang di hadapi bersama, keadilan, persamaan, kemerdekaan atau kebebasan,serta perlindungan jiwa raga dan harta masyarakat.

4|Makalah Agama

2.2.3 Nasionalisme dalam Islam Islam menyeru seluruh manusia untuk menyembah kepada Sang Pencipta, dan mengikuti seluruh perintah-Nya. Seluruh manusia adalah sama, kecuali dikarenakan oleh keimanan. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sbg pemimpin-pemimpinmu maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(Qs. at-Taubah 9: 23) Rasulullah SAW. memberikan contoh dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dari Mekkah dengan kaum Anshar dari Madinah. Islam juga menghapus status kesukuan Aus dan Kharaj dalam kesatuan iman. Dari manapun asalnya, bagaimana warna kulitnya, dari keturunan apa, selama dia tunduk dalam Islam, maka hak dan kewajibannya menjadi sama. Bilal yang hitam, Salman yang dari tanah Persia, maupun Fatimah binti Rasulullah SAW., memiliki hak dan kewajiban yang sama; wajib untuk sholat 5 waktu sehari, wajib puasa di bulan Ramadhan, dan wajib dipotong tangannya apabila terbukti mencuri, sebagaimana disebutkan dalam salah satu sabda Rasulullah Saw., ... walaupun Fatimah binti Muhammad yang mencuri, maka aku sendiri lah yang akan memotong tangannya. Secara tegas, Islam melarang adanya ikatan yang menyatukan manusia selain atas ikatan keimanan. Hadits yang menyebutkan hal ini contohnya: Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ashobiyah (kelompok-isme, NASIONALISME, sukuisme), orang yang berperang karena ashobiyah, dan orang yang mati karena ashobiyah.(HR. Abu Dawud) Oleh karena itu, kedatangan Islam menyatukan bangsa-bangsa, menepis segala ikatan kekeluargaan, dan menghapus batas-batas wilayah. Aqidah Islam mengajarkan kesamaan hak dan kewajiban antara seluruh kaum muslimin, sementara pasukan jihad Islam menyatukan perbedaan wilayah hingga setiap muslim, baik hidup di Mekkah, Yaman, Palestina, Mesir, maupun Persia (Iran) memiliki hak dan kewajiban yang benarbenar sama dan memiliki pemimpin yang sama. Ketika khalifah menyerukan jihad untuk kaum muslimin, maka di manapun dia, selama tidak ada halangan yang dibenarkan secara syar'i memiliki kewajiban untuk menyambut seruan tersebut. Karenanya tak mengherankan, bagaimana Khalifah al-Mu'tashim di Baghdad memerintahkan pasukan muslim menaklukkan pasukan Romawi, hanya disebabkan seorang muslimah yang hidup di ujung tanah Mesir diganggu kehormatannya. 2.2.4 Kontribusi Islam dalam Peta Perpolitikan Indonesia Disamping partai yang berasaskan Islam, di Indonesia pada saat ini, ada juga partai yang bebasiskan massa Islam. Lahirnya partai berasaskan islam dan partai yang
5|Makalah Agama

berbasiskan massa islam, sejak tahun 1998, yaitu setelah tumbangnya Orde Baru adalah perkembangan yang menarik untuk dibicarakan. Setidaknya, ada dua hal yang menjadi pertimbangan. Pertama, pada masa sebelumnya baik pada masa Orde Lama maupun pada masa Orde Baru, tidak ada gejala pembedaan yang demikian. Pada masa Orde Lama partai-partai islam berasaskan islam bersatu padu memperjuangkan idiologi islam sebagai dasar negara. Pada masa Orde Baru yaitu yang dimulai pada pemilu tahun 1971 (pada saat itu ada 4 partai politk islam yaitu Partai NU, PSII, PARMUSI dan PERTI), serta Partai Persatuan Pembangunan untuk pemilu selanjutnya sampai dengan pemilu tahun 1997, tidak menunjukan pembedaan yang demikian. Kedua, artikulasi politik partai Islam pada era reformasi ini, menunjukkan perbedaan yang cukup tajam, terutama tentang sifat partai dan perjuangan idiologi dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat. Partai yang berasaskan islam lebih tertutup, terutama dalam kepemimpinan partai dibanding dengan partai yang berbasis massa islam. Walupun kedua partai yang berbasis massa islam mengklaim sebagai partai terbuka, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pemilih kedua partai tersebut adalah massa tradisional pendukung dan anggota ormas Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.

6|Makalah Agama

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Dari pembahasan yang telah kami lakukan, dapat ditarik simpulan sebagai berikut: a. Demokrasi dalam Islam dikenal melalui tiga hal, yakni Musyawarah, Konsensus (Ijma), dan Ijtihad. b. Ada tiga pendapat mengenai sistem politik dalam Islam, yakni bersumber langsung dari agama, terpisah dari agama (sekuler), dan pendapat bahwa Islam tidak memiliki sistem ketatanegaraan, hanya tata nilai etika saja. Kontribusi Islam dalam sistem perpolitikan Indonesia telah banyak dari zaman pra-kemerdekaan. Terbukti dengan didirikannya beberapa partai politik Islam. 3.2 Saran Diperlukan adanya pemahaman lebih lanjut serta implementasi dari demokrasi dan sistem politik sesuai dengan pandangan Islam, sebagai pemecahan permasalahan sosial politik di Indonesia.

7|Makalah Agama

DAFTAR PUSTAKA Wahyuddin, dkk, 2009. Pendidikan Agama Islam, Surabaya, Gramedia. Demokrasi Dalam Islam. http://www.mailarchive.com/filsafat@yahoogroups.com/msg02449.html (5 Oktober 2010)

8|Makalah Agama