Anda di halaman 1dari 4

PERAN SISTEM MANUFAKTUR DALAM MODERNISASI MANUFAKTUR DI INDONESIA

Rama Panji Renspandy


Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Manufaktur, sebuah kata yang berasal dari bahasa latin manus (tangan) dan factus (membuat). Manufaktur juga dapat diartikan sebagai serangkaian proses pengolahan raw material menjadi barang jadi dan siap digunakan. Kini manufaktur menjadi salah satu industri yang memegang bagian penting dalam kegiatan perekonomian suatu negara. Menurut Kementerian Perindustrian (Kemenperin) ekspor industri manufaktur nasional pada tahun ini bisa menembus US$ 92,26 miliar, mampu menyerap tenaga kerja kumulatif sebanyak 14,9 juta orang. Akan tetapi, terdapat kekhawatiran terhadap deindustrialisasi di Indonesia yang secara kebetulan mendapatkan dukungan dari kecenderungan deindustrialisasi di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Deindustrialisasi di AS ditandai dengan menurunnya sumbangan nilai tambah industri manufaktur AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari 15,3 persen pada tahun 1997 menjadi 11,1 persen pada tahun 2009 lalu. Pangsa ekspor produk industri manufaktur AS juga turun dari 82 persen pada 1997 menjadi 75 persen tahun 2009. Di Eropa, pangsa nilai tambah industri manufaktur terhadap PDB negara-negara Uni Eropa turun dari 21,1 persen tahun 1997 menjadi hanya 16,4 persen tahun 2009 [2]. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya deindustrialisasi di Indonesia, perlu dilakukannya modernisasi manufaktur dengan menggunakan pendekatan komponen-komponen penyusun sistem manufaktur. Sistem manufaktur (Wiratno, 2005) adalah kumpulan dari equipment (yang terdiri dari peralatan dan mesin produksi, pemindahan material dan sistem komputer) yang terintegrasi dan human resource (diperlukan untuk full time atau periodically untuk menjalankan sistem), yang mempunyai fungsi untuk melakukan satu atau beberapa proses operasi dan/atau assembly pada suatu bahan material awal, part atau set of parts. Adapun komponenkomponen pembentuk sistem manufaktur adalah, perencanaan, perancangan produk, material handling, inspeksi kualitas, identifikasi data, dan lini perakitan. Komponen-komponen dalam sistem manufaktur ini mampu menjawab beberapa permasalahan berkaitan dengan modernisasi manufaktur, antara lain: 1. Kurangnya optimalisasi proses di perusahaan manufaktur 2. Volume produksi kurang terkait dengan jumlah tenaga kerja produktif 3. Pendekatan tradisional dalam studi teknik produksi masih bersifat parsial (tidak banyak yang memahami sistem manufaktur dalam perspektif integrasi antara proses, sistem permesinan, operator, struktur organisasi, aliran informasi, sistem kendali, dan komputer) 4. Selama ini, sistem manufaktur hanya menjadi suatu unit yang kecil dan sangat fungsional yang terdapat dalam departemen produksi di suatu perusahaan Permasalahan pertama yang sering dialami oleh manufaktur tradisional adalah kurangnya optimalisasi proses manufakur. Hal ini terjadi disesbabkan oleh perusahaan sering mengabaikan integrasi antar peralatan produksi dengan fasilitas lainnya di dalam pabrik. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan pendekatan sistem manufaktur. Dalam sistem manufaktur, dikenal sebuah sistem produksi yang terdiri dari sistem penunjang manufaktur dan fasilitas lainnya. Manufaktur modern menjalankan sistem produksi secara terotomasi atau terkomputerisasi. Akan tetapi produksi tetap melibatkan orang (user). Secara umum, tenaga kerja langsung (blue collar workers)
Gambar 1 Sistem Produksi

bertanggung jawab pada beroperasinya fasilitas produksi sedangkan karyawan tak langsung (white collar workers) bertanggung jawab dalam memfungsikan sistem penunjang manufaktur [1]. Sebelum memulai seluruh aktivitas manufaktur, dalam sistem manufaktur sebuah perusahaan harus terlebih dahulu menentukan jenis sistem manufaktur beserta komponen-komponen pembentuknya yang akan digunakan. Salah satu faktor terpenting untuk menentukan hal tersebut adalah melalui pendekatan kuantitatif produk yang akan diproduksi. Perusahaan tergolong memproduksi rendah apabila jumlah produksi antara 1 hingga 1000 unit per tahun, produksi sedang apabila jumlah produksi antara 100 hingga 100.000 unit per tahun, dan produksi tingg apabila jumlah produksi antara 100.000 hingga jutaan unit per tahun [1]. Dengan klasifikasi tersebut akan menghasilkan sistem yang berbeda pula yang menghasilkan output yang lebih optimal. Sistem produksi yang berbeda akan membutuhkan jenis layout produksi yang berbeda serta jenis produksi yang berbeda pula. Penentuan jenis layout dan jenis produksi ini bertujuan untuk menyesuaikan kapabilitas perusahaan dalam memproduksi agar menghasilkan output produksi yang sesuai dengan harapan secara lebih efisien dan efektif. Masalah volume produksi pada manufaktur tradisional yang tidak terkait dengan ketersediaan jumlah tenaga kerja, dapat diatasi dengan perencanaan sistem manufaktur Perencanaan sistem manufaktur dilakukan dengan menganalisa seluruh komponen pembentuk. Analisa komponen ini akan menghasilkan output berupa jenis operasi manufaktur yang akan dijalankan, kapasitas produksi, utilitas/ketersediaan material dan mesin, varian produk, biaya operasi manufaktur dan sebagainya. Berikut adalah rumus perhitungan laju produksi pabrik untuk produksi dengan sistem batch: a. Tahap pertama adalah perhitungan waktu siklus untuk sebuah operasi produksi Tc = To + Th + Tth Keterangan : Tc = waktu siklus Th = waktu handling To = waktu proses untuk sebuah Tth = waktu tool handling (misal waktu operasi untuk mengganti tool/pahat) b. Tahap kedua adalah perhitungan laju produksi Produksi: Tb = Tsu + QTc Rata-rata waktu produksi per unit: Tp = Tb/Q Laju produksi: Rp = 1/Tp Dari output ini, perencanaan produksi menjadi lebih terarah dan rasional sehingga beberapa elemen operasional seperti volume produksi dapat berhubungan langsung dengan elemen jumlah tenaga kerja produktif. Kemudian, keberadaan sistem manufaktur juga membantu dalam permasalahan disintegrasi komponen manufaktur dalam pabrik. Salah satu contoh penerapan integrasi antar komponen pembentuk sistem manufktur, adalah integrasi antara material handling, inspeksi kualitas, dan pemindaian data otomatis. Inspeksi kualitas berperan untuk menjaga agar spesifikasi produk yang dihasilkan sudah memenuhi keinginan konsumen. Inspeksi dapat langsung dimasukkan sebagai aktivitas rutin (manufaktur diskrit dan repetitif atau kegiatan berkala). Proses inspeksi itu sendiri dapat menggunakan Statistical Process Control (SPC), yakni rekaman hasil inspeksi (proses) misalnya peta kendali dengan nilai rataan dan standar deviasi untuk karakteristik inspeksi. Output dari proses inspeksi dapat bermacam-macam, buakn hanya pemisahan produk cacat dan baik saja, namun inspeksi juga dapat membantu perusahaan menyeleksi produk-produk tertentu yang masuk ke dalam klasifikasi hierarkis (produk premium, produk normal, produk value). Setelah produk ini dipisahkan, maka akan membutuhkan proses pemindahan material yang berbeda pula sehingga yang dibutuhkan adalah integrasi proses inspeksi dan material handling.

Material handling adalah pergerakan, penyimpanan, perlindungan, dan pengendalian material dalam keseluruhan proses manufaktur dan distribusi, termasuk penggunaannya/konsumsi dan pembuangan (disposal). Proses ini menjadi salah satu cost consuming component dalam sistem manufaktur. Penanganan produk yang telah diklasifikasi pada proses sebelumnya, membutuhkan tingkat ketelitian yang lebih tinggi. Sedangkan manusia memiliki keterbatasan kemampuan dalam bekerja statis yang pada akhirnya proses ini akan membutuhkan pengintegrasian komponen pembentuk sistem manufaktur lainnya yakni pemindaian data otomatis. Pemindaian data otomatis adalah sekumpulan teknologi yang menyediakan mekanisma input data secara langsung ke dalam komputer atau sistem lain yang dikendalikan mikroprosesor tanpa penggunaan keyboard atau panel/console lainnya. Teknologi ini dapat diintegrasikan dengan proses material handling seperti pengiriman dan penerimaan, sortir, pengambilan order, penanganan surat dan parcel, dan penelususran klasifikasi produk yang telah melaui proses inspeksi secara lebih mudah. Untuk integrasi secara lebih advance dari keseluruhan komponen, dapat terlihat pada aplikasi konsep CIM (Computer Integrated Manufacturing). Sistem manufaktur juga tidak hanya berkutat dalam permasalahan produksi. Salah satu komponen sistem manufaktur yakni perancangan produk, justru dilakukan di luar ranah produksi (pre-production). Perancangan produk adalah salah satu komponen pembentuk awal yang cukup penting. Komponen ini berguna sebagai pedoman awal untuk merancang suatu produk. Perancangan produk dapat dijabarkan ke dalam tiga tahapan penting yakni; a. Penentuan spesifikasi produk Spesifikasi produk diperoleh berdasarkan keinginan customer. Keinginan customer yang berupa spesifikasi awal akan sebuah produk kemudian diterjemahkan ke dalam spesifikasi teknik yang memiliki metric value dengan menggunakan tabel QFD (Quality Function Deployment). b. Desain menggunakan CAD/CAM/CAE CAD (Computer Aided Design) adalah teknologi yang terkait dengan penggunaan komputersebagai alat bantu pembuatan, modifikasi, analisa dan optimalisasi rancangan. Penerapa CAD telah banyak membantu pengurangan waktu desain produk CAM (Computer Aided Manufacturing) Teknologi yang terkait dengan penggunaan komputer untuk merencanakan, mengatur dan mengendalikan operasi manufaktur melalui interface langsung ataupun tidak langsung dari benda fisik. CAE (Computer Aided Engineering) Teknologi yang terkait dengan penggunaan komputer untuk menganalisa geometri dari hasil CAD Memungkinkan perancang untuk melakukan simulasi dan mempelajari bagaimana perilaku/karakter produk nantinya (hasil ini akan dipakai untuk melakukan perubahan dan perbaikan dari rancangan) c. Pengaplikasian Rapid Prototyping Rapid Prototyping adalah pengelompokan beberapa metode fabrikasi untuk membuat prototip yang menggunakan seminimal mungkin waktu tunggu dengan bantuan CAD [3]. Hal ini menjadi bukti bahwa komponen pembentuk sistem manufaktur tidak hanya bisa diaplikasikan pada departemen produksi saja, tetapi menyentuh ranah perancangan produk yang terintegrasi. Selain memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada di manufaktur jenis tradisional, penerapan sistem manufaktur harus tetap dievaluasi dan dijaga performanya. Untuk mencaga performa setiap komponen pembentuk sistem manufaktur bekerja secara maksimal, terdapat tool yang dinamakan Key Preformance Indicator (KPI). KPI berfungsi untuk memberikan penilaian performa dari sebuah kegiatan manufaktur. Ranah penilaian dari KPI sangat beragam. Misalnya KPI Produktivitas yang menganalisa performa produksi sebuah perusahaan. Masing-masing komponen pembentuk memiliki KPI yang sesuai dengan

jenis operasi manufaktur yang dijalankan. Komponen seperti perancangan produk, material handling, lini perakitan, dan inspeksi dapat dianalisa menggunakan KPI Produktivitas. Di samping menggunakan KPI, untuk megukur performa manufaktur, dapat menggunakan Overall Equipment Effectiveness (OEE). OEE adalah hirarki metrik yang mengevaluasi dan menunjukkan seberapa efektif suatu operasi manufaktur yang digunakan. Hasil dinyatakan dalam bentuk generik yang memungkinkan perbandingan antara unit manufaktur di industri yang berbeda [4]. Perhitungan menggunakan OEE membutuhkan data operasi manufaktur yang ada. Hal ini membuat proses perhitungan operasi manufaktur wajib dijalankan selama waktu produksi berjalan, yang bukan hanya digunakan sebagai informasi teknis, tetapi juga sebagai bahan perhitungan OEE maupun KPI. Nilai OEE yang tinggi, akan mencerminkan sebuah perusahaan yang sehat. Berdasarkan konsep lean manufacture, sebuah perusahaan manufaktur dikatakan sebagai world class manufaturer jika memperoleh nilai 85% [5]. Dari uraian di atas, terbukti bahawa penerapan pendekatan ilmu sistem manufaktur saat ini masih harus diterapkan di Indonesia. Modernisasi manufaktur akan menghasilkan perusahaan manufaktur dengan performa maksimal (nilai KPI dan OEE yang tinggi) dan membantu meningkatkan daya saing perusahaan ke level internasional. Referensi: [1] Groover, Mikell P., 2007. Computer Integrated Manufacturing, 2nd edition, Prentice Hall, New Jersey [2] SBM, Nugroho, 2010. Deindustrialisasi Indonesia 2011, http://nugrohosbm.blogspot.com/2010/12/deindustrialisasi-indonesia-2011.html, diakses tanggal 8 Juni 2011 [3] Groover, Mikell P., 2007. Fundamentals of Modern Manufacturing (Materials, Process, and System) 3rd Edition, John Wiley & Sons, New Jersey [4] Overall Equipment Effectiveness, http://en.wikipedia.org/wiki/Oee: viewed at 8 Juni 2011 [5] Lean Manufature: OEE, http://www.leanproduction.com/oee.html: viewed at 8 Juni 2011