ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN HIRSCHSPRUNG 1.

DEFENISI Penyakit hirschsprung (megakolon aganglionik kongenital) adalah suatu kelainan bawaan berupa aganglionosis usus, yaitu tidak terdapatnya sel ganglion parasimpatis auerbach dan meissner di kolon (Ngastiyah, 2005). Kelainan ini dapat terjadi mulai dari kolon sampai usus halus. Pembagian hirschsprung berdasarkan panjang segmen yang terkena: • Segmen pendek yaitu aganglionosis terjadi mulai dari anus sampai sigmoid. Ini merupakan 70% dari kasus hirschsprung dan sering ditemukan pada anak lakilaki. • • • Segmen panjang yaitu jika aganglionosis melebihi sigmoid. Ditemukan sama banyak antara laki-laki dan perempuan Hirschsprung total yaitu jika aganglionik mengenai seluruh kolon Hirschsprung universal yaitu jika aganglionik mengenai seluruh kolon dan hampir seluruh usus 2. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI Penyebab penyakit hirschsprung mungkin disebabkan karena adanya kegagalan sel-sel “nueral crest”embrional yang bermigrasi kedalam dinding usus atau kegagalan pleksus meissner dan submukosa untuk berkembang ke arah kraniokaudal di dalam dinding usus. Hal ini dapat terjadi diduga karena adanya factor genetic dan sering terjadi pada anak dengan Down syndrome. Sel ganglion parasimpatik dari pleksus aurbach dan meissner tidak ada dikolon. Keadaan ini menyebabkan bagian kolon yang terkena tidak dapat mengembang tetap menyempit, tidak ada peristaltic, sfingter rectum tidak dapat berelaksasi sehingga defekasi terganggu. Akibat ganguan defekasi ini kolon proksimal yang normal akan melebar oleh karena tinja yang tertimbun, sehingga terjadi megakolon, dan juga menyebabkan distensi abdomen. muntah dan penurunan nafsu makan Didaerah kolon yang berdilatasi, timbunan feses dapat menyebabkan compresi pembuluh darah sehingga terjadi iskemik dan nekrosis usus. Timbunan feses baik untuk pertumbuhan bakteri dan pertumbuhan bakteri yang berlebihan dapat Distensi abdomen dapat merangsang timbulnya

Prosedur soave. demam. • Pada anak usia 1-3 tahun dapat terjadi ketidakadekuatan penambahan BB. dilakukan pembilasan dengan air garam fisiologis secara teratur dan pembuatan kolostomi yang tujuannya mengatasi obstipasi dan mencegah enterokolitis. konstipasi. 6. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala utama hirschsprung yaitu gangguan defekasi. massa fekal dapat teraba. distensi abdomen. Untuk membuang segmen aganglionik dan mengembalikan kontinuitas usus dilakukan operasi defenitif. 3. kelelahan dan letargi berat. PENATALAKSANAAN Hanya dengan operasi.menyebabkan enterokolitis yang merupakan penyulit yang sering terjadi pada kasus hirschsprung ini. • Pada masa kanak-kanak dimana gejalanya lebih kronis yaitu konstipasi. Prosedur Swenson. bila belum memungkinkan untuk dioperasi (BB bayi < 9kg). WOC Terlampir DATA FOKUS • Wawancara . perut kembung/distensi abdomen dan muntah bewarna hijau (trias klasik) serta menolak untuk minum air dan malas makan. diare yang keluar seperti disemprot dan muntah serta adanya tanda-tanda ominous (menandakan adanya enterokolitis) yaitu diare berdarah. 5. biasanya (merupakan tindakan sementara) dipasang pipa rectum. Dengan pembedahan diharapkan tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan hipertropi dapat kembali normal dalam waktu 3-4 bulan. pergerakan usus yang dapat terlihat oleh mata (seperti gelombang) 4. • Periode bayi baru lahir terjadi obstipasi usus dengan gejala yang sering ditemukan yaitu gagal mengeluarkan mekonium dalam 24-48 jam setelah lahir. Bakteri yang berlebihan juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. Terdapat 3 prosedur pembedahan yaitu Prosedur Duhamel. distensi abdomen. nafsu makan dan pertumbuhan anak buruk (gejala kekurangan gizi dan anemia). feses berbau menyengat dan seperti karbon.

 Manometri anorektal: untuk mencatat respon refluks sfingter internal dan eksternal. Anak terlihat kurus. enterokolitis pada segmen yang melebar dan pada foto 24 jam kemudian terdapat retensi barium. anggota gerak kecil dan perut besar dan buncit.  Sampling reflex tidak berkembang.  Pemeriksaan aktivitas norepinefrin dari jaringan biopsy usus. • Pemeriksaan fisik  Perut bayi atau anak buncit seluruhnya  Pada colok dubur: jari merasakan jepitan dan pada waktu ditarik akan diikuti dengan keluarnya udara. fesesnya berbau menyengat dan seperti karbon. Pada manometri anorektal didapatkan:   Hiperaktivitas pada segmen yang dilatasi.  Biopsy isap rektum: untuk mencari tanda histology khas yaitu tidak adanya sel ganglion parasimpatik di lapisan muskularis mukosa dan adanya serabut saraf yang menebal. Tidak dijumpai relaksasi spontan  Aktivitas enzim asetilkolin esterase: diperiksa dari hasil biopsy isap. Dari pemeriksaan ini akan terlihat gambaran klasik seperti daerah transisi dari lumen sempit ke daerah yang melebar.Pada wawancara didapatkan bahwa bayi tidak defekasi dalam 24-48 jam setelah lahir. dilaporkan pola defekasi abnormal/jarang defekasi. Tidak dijumpai relaksasi spinkter interna setelah distensi rektum akibat desakan feces. Tidak dijumpai kontraksi peristaltik yang terkoordinasi pada segmen usus aganglionik. Pada anak yang lebih besar. . gambaran kontraksi usus yang tidak teratur dibagian yang menyempit. nafsu makan dan pertumbuhan anak juga buruk. perut buncit dan bayi mengalami muntah yang bewarna hijau. dan mekonium/tinja yang menyemprot  Pada perkusi adanya kembung  Pengukuran lingkar abdomen • Pemeriksaan penunjang  Radiologist dengan barium enema.dan terdapat peningkatan aktivitas enzim asetilkolin esterase. feses kecil-kecil.

colok merasakan waktu DS: . berbau busuk Penumpukan feses di kolon dan ada darah -ibu mengatakan anaknya bakteri↑↑ demam -ibu mengatakan kentut pbusukan enterokolitis iskemik.7.ibu mengatakan anaknya susah BAB . dan jadi keras BAB anaknya konstipasi obstruksi usus dubur jepitan ditarik jari kolon sempit dan tinja Peristaltic tdk ada Sfingter rectum tdk relaksasi Patofisiologi Kolon aganglionik Masalah konstipasi menyemprot keluar 2 Factor resiko: -ibu mengatakan feses obstruksi GI Resiko (injuri) cidera anaknya cair. n o 1 ANALISA DATA Prapembedahan : Data DO: .ibu mengatakan pencahar tidak berpengaruh pada Feses tertahan.perut bayi/anak buncit .nekrosis perforasi anaknya berbau busuk kompresi PD peritonitis→resti injuri 3 DO: -anak mengalami diare -kulit dan mukosa kering Distensi abdomen Obstruksi GI Kekurangan volume cairan .

ibu mengatakan anaknya sering mual muntah Begah mual muntah absorpsi nutrisi terganggu Distensi abdomen Peristaltic (-) Aganglionik Gangguan kurang nutrisi.muntah Begah K’ingin minum↓ kebutuhan tubuh .ibu mengatakan anaknya tidak nafsu makan .-produksi dan BJ urin↓ DS: -ibu mengatakan anaknya susah minum -ibu mengatakan pipis Elekrolit keluar Peristaltic (-) Bakteri ↑↑ Merusak vili usus Mensekresikan air. Na dari mukosa ke lumen usus pe↑ sekresi air dan elektrolit usus diare kekurangan volume cairan 4 DO: -BB anak tidak sesuai umur -anak terlihat kurus DS: . dari anaknya sedikit Mual.

ibu/ortu bertanya berulang ulang mengenai penyakit anaknya dan pengobatannya DS: .ibu/ortu mengatakan takut kalau anaknya dioperasi Pascapembedahan: no 1 Data Factor resiko: .ibu/ortu menanyakan kenapa anaknya sampai sakit seperti ini .ada kolostomi .ibu/ortu menanyakan apakah anaknya akan sembuh .tidak tahu cara merawat luka dan kolostomi Kerusakan integritas kulit Resiko infeksi Pembuatan kolostomi patofisiologi operasi defenitif Masalah Resiko infeksi kecemasan Kurang informasi tentang penyakit dan pengobatan kecemasan .ibu/ortu terlihat gelisah .Nafsu makan ↓ Ggn nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 5 DO: .luka insisi bedah .

2006) Nyeri b.anak terlihat gelisah.d obstruksi usus (Wong. 2006) .d intake yang tidak adekuat. rewel. DIAGNOSA KEPERAWATAN TEORITIS • Pra pembedahan  Konstipasi b.d insisi bedah (Hidayat. kurang dari kebutuhan tubuh b.ibu/ortu mengatakan anaknya sering rewel dan menangis Post operasi defenitif Kerusakan integritas kulit Nosiseptor teraktivasi Nyeri pada luka insisi Gangguan nyaman: nyeri rasa 8. mual muntah (Hidayat.d penurunan motilitas usus (Wong.d intake yang tidak adekuat output yang berlebihan.d kurangnya informasi tentang penyakit (Hidayat. 2006) • Pasca pembedahan   Resiko infeksi b. 2006)  Kecemasan b. menangis. 2003)  Kekurangan volume cairan dan elektrolit b. 2003)  Resiko cidera (injuri) b. wajah meringis DS: . mual muntah dan gangguan penyerapan nutrisi (Hidayat. 2006)  Gangguan kebutuhan nutrisi.2 DO: .d kerusakan kulit (Hidayat.

.

intake yang rendah serat cairan dan kurang dan feses memperparah Implementasi Rasional .klien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adapatasi .d obstruksi usus Tujuan Klien dapat melakukan eliminasi dengan beberapa adaptasi sampai fungsi eliminasi secara normal bisa dilakukan Perencanaan Intervensi . pengeluaran feses per rectal.Observasi intake yang mempengaruhi pola dan konsistensi feses .kolaborasi rencana .untuk mengosongkan usus dan mempercepat evakuasi isi usus Evaluasi .Ada peningkatan pola eliminasi yang lebih baik konstipasi menyebabkan keras .meningkatkan status nutrisi dan memperbaiki konsistensi feses .Melaksanaknan nya peristaltic usus intervensi yang dan tingkat keparahan telah direncanakan penyakit .Berikan bantuan enema dg cairan garam fisiologis bila tdk ada kontraindikasi . bentuk. jumlah .9.Monitor fungsi usus. n o 1 ASUHAN KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan Konstipasi b.untuk mengembalikan . konsistensi.mengetahui ada tidak.Anjurkan untuk menjalankan diet yang telah dianjurkan .

distensi progresif merupakan tanda yang serius kea rah perforasi usus .pembedahan 2 Resiko cidera (injuri) b.mengetahui adanya tanda-tanda infeksi Melaksanaknan intervensi yang .beri AB sistemik dan irigai kolon dengan AB sesuai indikasi fungsi eliminasi Melaksanaknan intervensi Klien dipersiapkan prosedur normal . ↑ nyeri tekan.d penurunan motilitas usus Resiko forasi kompli.menurunkan bakteri dalam usus kasi seperti perenterokolitis dan peritonitis dapat dihindari yang untuk telah direncanakan pembedahan 3 Resiko infeksi b.perforasi usus mrp keadaan serius yang dapat menyebabkan peritonitis dan perlu tindakan yang segera .tidak terdapat tanda-tanda pada luka insisi . ↑ distensi abdomen. .Pantau TTV tiap 2jam usus.mengetahui adanya tanda-tanda syok .Lakukan pengukuran lingkar abdomen tiap 4 jam untuk mengetahui adanya distensi abdomen ..Monitor tempat insisi . iritabilitas.d kerusakan kulit Resiko infeksi .Observasi tanda adanya perforasi usus spi muntah. sianosis .

mengurangi penyebamencuci tangan ran mikroorganisme sebelum dan setelah kontak dengan klien .mempercepat penyembuhan luka dan mencegah infeksi .tidak terjadi berikan luka pada luka insisi perawatan .panas.menghindari kering kontaminasi dari feses dan iritasi kulit .ortu/keluarga mampu melakukan perawatan kolostomi untuk melakukannya .untuk profilaksis AB terhadap infeksi .menjaga agar stoma kolostomi perianal ajarkan atau serta keluarga tetap bersih dan mencegah infeksi telah direncanakan infeksi: kemerahan.bengkak.dan nyeri .tekankan pentingnya .Lakukan perawatan .jaga agar popok tetap .Kolaborasi pemberian .

Marilynn E. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.askep. Aziz Alimul. 2005. 2005 Sjamsuhidajat. Rencana Asuhan Keperawatan. A. www.com . Wim de Jong (ed). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak: buku 2. Perawatan Anak Sakit. 2006.blogspot. Jakarta: EGC. Jakarta: EGC. Donna L.10. DAFTAR KEPUSTAKAAN Doenges. Wong. 1999 Hidayat. Ngastiyah. Jakarta: EGC. Salemba Medika: Jakarta. Buku Ajar Ilmu Bedah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful