Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FISIKA




PERCOBAAN X
PENENTUAN VOLUME MOLAL PARSIAL




NAMA : SARWINA HAFID
NIM : H311 11 278
KELOMPOK : VI (ENAM)
HARI / TANGGAL : SENIN / 15 APRIL 2013
ASISTEN : RAYMOND KWANGDINATA





















LABORATORIUM KIMIA FISIKA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam termodinamika dikenal adanya dua tipe peubah, yaitu peubah
ekstensif yang bergantung pada jumlah fase contohnya adalah volume (V), entropi
(S), energi dalam (U), entalpi (H), dan peubah intensif, yaitu peubah yang tidak
bergantung pada jumlah fase contohnya adalah tekanan (P) dan suhu (T). Volume
molal parsial merupakan salah satu atau termasuk di dalam besaran ekstensif.
Volume molal parsial dari suatu larutan didefinisikan sebagai penambahan
volume yang terjadi bila 1 mol komponen i ditambahkan pada larutan tersebut.
Dalam pengukuran volume molal parsial dari suatu larutan, maka densitasnya diukur
terlebih dahulu. Berdasarkan nilai densitas tersebut, maka dapat diperoleh nilai
volume molal parsial.
Volume molal parsial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya
konsetrasi dan suhu. Konsentrasi suatu larutan tertentu tidak memiliki nilai yang
sama pada dua temperatur yang berbeda karena kedua keadaan tersebut mengalami
perubahan kerapatan.
Berdasarkan pada teori di atas, maka dilakukanlah percobaan penentuan
volume molal suatu larutan, dalam hal ini adalah larutan NaCl. Dalam analisa ini,
berbagai informasi mengenai sifat larutan dapat diketahui. Sifat-sifat tersebut antara
lain massa larutan, densitas, molalitas, dan volume molal parsial larutan, yang
kemudian dapat dijelaskan hubungannya dengan peningkatan konsentrasi larutan.
Dengan menggunakan metode grafik, melalui percobaan ini dapat diketahui
nilai volume molal parsial larutan NaCl.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari metode
penentuan volume molal parsial suatu larutan.
1.2.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan volume molal parsial
larutan natrium klorida sebagai fungsi konsentrasi dengan mengukur densitas larutan
dengan menggunakan piknometer.
1.2.3 Prinsip Percobaan
Prinsip dari percobaan ini adalah menentukan volume molal parsial larutan
natrium klorida dengan menghitung densitas larutan natrium klorida dengan variasi
konsentrasi, yaitu 3 M, 1,5 M, 0,75 M, 0,375 M, dan 0,1875 M melalui penimbangan
bobot larutan natrium klorida dengan menggunakan piknometer.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Termodinamika sangat penting dalam kimia, sebab dengan menggunakan
termodinamika kita dapat menduga apakah suatu reaksi akan berlangsung atau tidak,
dan apabila reaksi itu berlangsung, dapat dicari kondisi yang bagaimana yang dapat
memaksimumkan produk. Tetapi, termodinamika mempunyai kelemahan, yaitu tidak
dapat digunakan untuk mengetahui kecepatan reaksi yang berlangsung (Bird, 1993).
Menentukan volume molal parsial, terlebih dahulu melihat bagaimana
menetapkan bagian volume larutan biner untuk masing-masing dua komponen. data
yang umumnya digunakan untuk mendapatkan informasi volume yang adalah
kerapatan larutan. Hal ini sering digunakan untuk larutan dengan berbagai jumlah
komponen minor yang disebut sebagai zat terlarut, dalam beberapa jumlah tetap dari
komponen utama, disebut pelarut. Densitas dapat digunakan untuk menghitung
volume larutan dengan jumlah tertentu jumlah pelarut dan berbagai zat terlarut.
Volume untuk larutan berbagai molalitas (m) didefinisikan sebagai jumlah mol zat
terlarut per 1000 g pelarut. Volume molal parsial dari kedua komponen dapat
diketahui dengan pengukuran yang tepat untuk menentukan data kerapatan larutan
(Gordon dan Barrow, 1988).
Salah satu kelemahan tentang molaritas adalah nilai larutannya bergantung
pada suhu. Jumlah liter larutan adalah volume yang akan sedikit berubah apabila
suhunya juga berubah. Oleh karena itu, 1 M larutan dipersiapkan pada suhu 30
o
C,
pada suhu 0
o
C konsentrasinya tidak lagi 1 M dan untuk mengatasi kekurangan ini
maka digunakan satuan molalitas (Bird, 1993).
Setiap komponen dari campuran dapat dianggap sebagai fungsi T, P, n
1
, dan
n
2
. Oleh karena itu, sesuai dengan salah komponen ekstensif U, V, S, H, A, G, ada
sebagian Sifat molar, Ui, Vi, Si, Hi, Ai, Gi. Jumlah molar parsial didefinisikan oleh
(Castellan, 1983):
Ui = (

n
)
T,P,nj ,
Hi = (

n
)
T,P,nj ,
Si = (

n
)
T,P,nj

Vi = (

n
)
T,P,nj ,
Ai = (

n
)
T,P,nj ,
Gi = (

n
)
T,P,nj

Volume molal larutan (V
1
) didefinisikan sebagai penambahan volume yang
terjadi bila 1 mol komponen i ditambahkan pada larutan. Volume total larutan yang
mengandung 1000 g (55,51 mol) air dan m mol zat terlarut diberikan oleh
persamaan (Taba, dkk., 2013).
V = N
1
V
1
+ N
2
V
2
= 55,51 V
1
+ m V
2

Andaikan V
1
adalah volume molal ar murn
1
= 18,016 / 0,997044 = 18,069 cm
3

pada 25 C, maka volume molal zat terlarut u) didefinisikan sebagai berikut
(Taba, dkk., 2013).
V = N
1
V
1
+ N
2
V
2
= 55,51V
1
+ mu
atau
( ) ( )
0
1
0
1 1
2
V 55,51 V
m
1
V N V
N
1
= =
diketahui
V =
d
N m 1000
2
+

dimana: d = densitas larutan
d
0
= densitas pelarut murni
M
2
= berat molekul zat terlarut
sehingga diperoleh:
(


=
do
do d
m
1000
M
d
1

2

|
.
|

\
|

=
We Wo
Wo W
m
1000
M
d
1

2

dimana: We = Berat piknometer kosong
Wo = Berat piknometer yang berisi air murni
W = Berat piknometer yang berisi larutan
Ada tiga sifat termodinamika molal parsial utama, yaitu volume molal parsial
dari komponen-komponen dalam larutan, entalpi molal parsial, dan energi bebas
molal parsial. Sifat-sifat ini dapat ditentukan dengan bantuan metode grafik, dengan
menggunakan hubungan analitik yang menunjukkan J dan n
i
, dan dengan
menggunakan suatu fungsi yang disebut besaran molal nyata
(Dogra dan Dogra, 2009).
Menurut Dogra dan Dogra (2009), perhitungan molal parsial dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu:
1. Metode Grafik
Metode ini, nilai J diplot sebagai suatu fungsi komposisi larutan dengan
menjaga semua kompisisi komponen lain tetap kecuali satu. Jika plot ini
linear, kemiringan garis tersebut akan menjadi besaran molal parsial dari
komponen itu. Ini juga memperlihatkan bahwa sifat-sifat molal parsial dari
komponen-komponen ini juga tidak bergantung pada konsentrasi. Jika plot J
dalam hal ini tidak linear, maka:
J
i
=
i
n P, T,
i
n
J
|
|
.
|

\
|
n 0
2. Metode Analitik
Jika harga ekstensif dapat dinyatakan sebagai suatu fungsi aljabar dari
komposisi tersebut, sifat molal parsial dapat dihitung secara analitik.
Sebuah metode densimetri digunakan untuk menentukan volume molal
parsial, V* (i), NaCl, KCl, CaC1
2
, MgCl
2
, Na
2
SO
4
, dan MgSO
4
dalam air laut dan
expansibilities termal V*(i) garam. Sebuah hubungan semiempiris diusulkan untuk
volume molal parsial garam, dalam kisaran suhu dan salinitas laut dunia. Parsial
molal volume ion ini busur diperkirakan pada asumsi bahwa volume molal parsial
pada pengenceran tak terbatas proton, V*
0
(H
+
), adalah tepat dan bahwa volume
transfer Cl
-
dari air murni air laut tidak berbeda dengan suhu. Persamaan volume
molal parsial ion dinyatakan sebagai fungsi suhu dan salinitas yang diberikan
(Poisson, 1976).

























BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan NaCl 3 M,
akuades, kertas label, sabun cair, kertas saring, dan tissue roll.

3.2 Alat Percobaan
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah piknometer 25 mL, labu
ukur 100 mL, termometer 100
o
C, neraca analitik, pipet volume 50 mL, bulb, gelas
kimia 250 mL, gelas kimia 600 mL, sikat tabung, labu semprot, batang pengaduk,
dan pipet tetes.

3.3 Prosedur Percobaan
Prosedur dari percobaan ini adalah larutan NaCl 3 M diencerkan sehingga
konsentrasinya menjadi 1,5 M, 0,75 M, 0,375 M, dan 0,1875 M. Piknometer yang
bersih dan kering ditimbang, lalu dicatat bobotnya. Piknometer diisi dengan akuades
kemudian ditutup rapat, dicatat suhunya, dan bagian luarnya dikeringkan dengan
menggunakan tissue roll, lalu ditimbang dan dicatat bobotnya. Piknometer ditimbang
dengan mengganti akuades dengan larutan NaCl mulai dari konsentrasi rendah, yaitu
berturut-turut 0,1875 M, 0,375 M, 0,75 M, 1,5 M, dan 3 M, lalu dicatat bobotnya.
Setiap pergantian larutan, piknometer harus dibilas beberapa kali dengan
menggunakan larutan yang akan dipakai. Suhu kamar dicatat.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
T
aq
= 30 C
We = Berat piknometer kosong (g) = 19,3234 gram
Wo = Berat piknometer + akuades (g) = 44,4150 gram
W = Berat piknometer + larutan (g)
d
o
= densitas air pada 30
o
C = 0,995646 g/cm
3


NaCl (M) Bobot Piknometer

+ Larutan (g)
3 46,7986
1,5 45,6368
0,75 45,0370
0,375 44,7138
0,1875 44,5610

4.2 Perhitungan
4.2.1 Tabel Pengamatan
NaCl
(M)
Berat Piknometer (g) W We
(g)
W Wo
(g)
Wo We
(g) We Wo W
3 19,3234 44,4150 46,7986 27,4752 2,3836 25,0916
1,5 19,3234 44,4150 45,6368 26,3134 1,2218 25,0916
0,75 19,3234 44,4150 45,0370 25,7136 0,6220 25,0916
0,375 19,3234 44,4150 44,7138 25,3904 0,2988 25,0916
0,1875 19,3234 44,4150 44,5610 25,2376 0,1460 25,0916


4.2.2 Penentuan Densitas Larutan (d)
d =
- e
o -e
d
o

d
1
=
46,7986 - 19,3234
44,4150 - 19,3234
0,995646 /cm
3


27,4752
25,0916
0,995646 /cm
3

1,0902 /cm
3

d
2
=
45,6368 - 19,3234
44,4150 - 19,3234
0,995646 /cm
3


26,3134
25,0916
0,995646 /cm
3

1,0441 /cm
3

d
3
=
45,0370 - 19,3234
44,4150 - 19,3234
0,995646 /cm
3


25,7136
25,0916
0,995646 /cm
3

1,0203 /cm
3
d
4
=
44,7138 - 19,3234
44,4150 - 19,3234
0,995646 /cm
3


25,3904
25,0916
0,995646 /cm
3

1,0075 /cm
3
d
5
=
44,5610 - 19,3234
44,4150 - 19,3234
0,995646 /cm
3


25,2376
25,0916
0,995646 /cm
3

1,0014 /cm
3

4.2.3 Penentuan Molalitas Larutan (m)
m =
1
(
d

) - (

1000
)

m
1
=
1
(
1,0902 /cm
3

3 mmol/cm
3 ) - (
58,5 /mol
1000
)
=
1
0,3049 /mmol
= 3,2798 mmol/
m
2
=
1
(
1,0441 /cm
3

1,5 mmol/cm
3) - (
58,5 /mol
1000
)
=
1
0,6376 /mmol
= 1,5685 mmol/
m
3
=
1
(
1,0203 /cm
3

0,75 mmol/cm
3) - (
58,5 /mol
1000
)
=
1
1,3019 /mmol
= 0,7681 mmol/
m
4
=
1
(
1,0075 /cm
3

0,375 mmol/cm
3) - (
58,5 /mol
1000
)
=
1
2,6282 /mmol
= 0,3805 mmol/
m
5
=
1
(
1,0014 /cm
3

0,1875 mmol/cm
3) - (
58,5 /mol
1000
)
=
1
5,2823 /mmol
= 0,1893 mmol/
4.2.4 Penentuan Volume Molal Parsial ()
=
1
d
( (
1000
m

-o
o e
))

1
=
1
1,0902 cm
3

(58,5

mol
(
1000 mmol/mol
3,2798 mmol/

46,7986 44,4150
44,4150 - 19,3234
))
= 0,9173 cm
3
/ (58,5

mol
(
1000 mmol/mol
3,2798 mmol/

2,3836
25,0916
))
= 0,9173 cm
3
/g (58,5 g/mol (304,8966 g/mol x 0,0950)
= 0,9173 cm
3
/g (58,5 g/mol 28,9652 g/mol)
= 27,0923 cm
3
/mol

2
=
1
1,0441 cm
3

( 58,5

mol
(
1000 mmol/mol
1,5684 mmol/

45,6368 - 44,4150
44,4150 - 19,3234
))
= 0,9578 cm
3
/ (58,5

mol
(
1000 mmol/mol
1,5684 mmol/

1,2218
25,0916
))
= 0,9578 cm
3
/g (58,5 g/mol (637,5925 g/mol x 0,0487)
= 0,9578cm
3
/g (58,5 g/mol 31,0508 g/mol)
= 26,2957 cm
3
/mol

3
=
1
1,0203 cm
3

( 58,5

mol
(
1000 mmol/mol
0,7681 mmol/

45,0370 - 44,4150
44,4150 - 19,3234
))
= 0,9801 cm
3
/ (58,5

mol
(
1000 mmol/mol
0,7681 mmol/

0,6220
25,0916
))
= 0,9801 cm
3
/g (58,5 g/mol 1301,9138 g/mol x 0,0248)
= 0,9801 cm
3
/g (58,5 g/mol 32,2875 g/mol)
= 25,7048 cm
3
/mol

4
=
1
1,0075 cm
3

( 58,5

mol
(
1000 mmol/mol
0,3805 mmol/

44,7138 - 44,4150
44,4150 - 19,3234
))
= 0,9926 cm
3
/ (58,5

mol
(
1000 mmol/mol
0,3805 mmol/

0,2988
25,0916
))
= 0,9926 cm
3
/g (58,5 g/mol 2628,1209 g/mol x 0,0120)
= 0,9926 cm
3
/g (58,5 g/mol 31,5375 g/mol)
= 27,0009 cm
3
/mol

5
=
1
1,0014 cm
3

( 58,5

mol
(
1000 mmol/mol
0,1893 mmol/

44,5610 - 44,4150
44,4150 19,3234
))
= 0,9986 cm
3
/ (58,5

mol
(
1000 mmol/mol
0,1893 mmol/

0,1460
25,0916
))
= 0,9986 cm
3
/g (58,5 g/mol 5282,6202 g/mol x 0,0058)
= 0,9986 cm
3
/g (58,5 g/mol 30,6392 g/mol)
= 27,7233 cm
3
/mol
4.2.5 Analisa Grafik
NaCl (M) m (mmol/g)
| (cm
3
/mol) |
regresi

3 3,2798 1,8110 27,0923 26,5244
1,5 1,5685 1,2524 26,2957 26,6887
0,75 0,7681 0,8764 25,7048 26,7992
0,375 0,3805 0,6168 27,0009 26,8756
0,1875 0,1893 0,4351 27,7233 26,9290

Grafik Hubungan dengan

y = ax + b
y = -0,2941x + 27,0570
lope = tan =


=
26,5244 - 26,9290
1,8110 - 0,4351
=
-0,4046
1,3759
= -0,2941 cm
3
/mol
27.0923
26.2957
25.7048
27.0009
27.7233
y = -0,2941x + 27,0570
R = 0,0429
25.5
26
26.5
27
27.5
28
0.0000 0.5000 1.0000 1.5000 2.0000



m
Grafik Hubungan Antara Vs m
Slope = volume molal parsial = -0,2941 cm
3
/mol
4.3 Pembahasan
Volume molal parsial didefinisikan sebagai penambahan volume yang terjadi
bila 1 mol komponen tertentu ditambahkan ke dalam larutan. Simbol dari volume
molal parsial adalah denan satuan cm
3
/mol. Molalitas volume merupakan satuan
konsentrasi yang jarang digunakan. Molalitas volume berarti konsentrasi dinyatakan
dalam jumlah mol zat terlarut yang dilarutkan dalam satu liter larutan. Volume molal
parsial komponen suatu campuran berubah-ubah bergantung pada komposisi, karena
lingkungan setiap jenis molekul berubah jika komposisinya berubah. Volume molal
parsial merupakan salah satu yang termasuk dalam besaran ekstensif. Dalam
mengetahui volume molal parsial dari suatu larutan, maka densitas dari larutan
tersebut diukur terlebih dahulu. Berdasarkan nilai densitas yang diperoleh, maka
volume molal zat terlarut dari larutan yang diukur dapat diketahui.
Dalam percobaan ini, digunakan piknometer untuk mengukur bobot jenis
akuades dan larutan NaCl. NaCl berfungsi sebagai zat terlarut dan akuades sebagai
pelarut. Tujuan digunakan akuades adalah sebagai bahan pembanding sehingga
bobot jenis dari larutan yang ingin kita tentukan dapat kita peroleh. Metode
pengukuran dengan menggunakan piknometer, yaitu sebelum digunakan harus
dibersihkan dan dikeringkan hingga tidak ada sedikit pun titik air di dalamnya. Hal
ini bertujuan untuk memperoleh bobot kosong dari alat. Jika masih terdapat titik air
di dalamnya, maka dapat mempengaruhi hasil penimbangan yang diperoleh. Pada
pengisiannya dengan sampel, harus diperhatikan dengan baik agar di dalam
piknometer tidak terdapat gelembung udara karena jika ada gelembung udara
di dalamnya, maka akan mengurangi bobot sampel yang akan diperoleh. Larutan
sampel kemudian diukur, dimulai dari akuades yang ditimbang menggunakan neraca
analitik kemudian diukur suhu larutan dalam piknometer. Setelah itu, piknometer
dibilas dengan larutan yang akan digunakan. Dalam hal ini, larutan yang digunakan
adalah larutan NaCl dengan menggunakan konsentrasi yang berbeda-beda.
Dalam pengerjaan, larutan NaCl 3 M diencerkan beberapa kali sehingga
diperoleh larutan NaCl yang lebih encer, yakni 1,5 M, 0,75 M, 0,375 M, dan
0,1875 M. Selanjutnya, keseluruhan NaCl dengan konsentrasi berbeda itu kemudian
dihitung volume molel parsialnya dengan menghitung bobot jenis masing-masing
larutan. Pengenceran dilakukan untuk mengamati seberapa besar penambahan
volume larutan yang terjadi pada berbagai variasi konsentrasi larutan. Dengan
demikian, akan diketahui seberapa besar pengaruh konsentrasi larutan terhadap
volume molal parsial larutan.
Penimbangan dimulai dari larutan yang memiliki konsentrasi terendah
ke konsentrasi tinggi agar larutan tidak terkontaminasi oleh larutan yang lebih pekat
karena dapat berpengaruh terhadap penentuan densitas. Dengan dimulai dari
konsentrasi rendah, maka larutan yang konsentrasi tinggi tidak akan mempengaruhi
bobot piknometer karena konsentrasinya lebih encer dari konsentrasi larutan yang
akan ditimbang berikutnya.
Perbedaan konsentrasi larutan NaCl menghasilkan densitas yang
berbeda-beda pula. Adapun dari hasil pengolahan data diperoleh densitas dari
NaCl 3 M, 1,5 M, 0,75 M, 0,375 M, dan 0,1875 M secara berturut-turut adalah
1,0902 g/cm
3
, 1,0441 g/cm
3
, 1,0203 g/cm
3
, 1,0075 g/cm
3
, dan 1,0014 g/cm
3
. Dari
data ini, tampak bahwa konsentrasi berbanding lurus dengan densitas larutan artinya
semakin besar konsentrasi larutan maka densitasnya juga semakin besar. Hal ini
disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi suatu larutan, menunjukkan jumlah
partikel dalam larutan tersebut semakin banyak dimana konsentrasi suatu larutan
berbanding lurus dengan densitas larutan. Dengan demikian, maka dapat dijelaskan
bahwa densitas dan molaritas adalah besaran yang berbanding lurus dengan jumlah
zat terlarut.
Dengan ditentukannya bobot jenis larutan, maka kita dapat menentukan
molalitas dari larutan tersebut. Adapun molalitas dari larutan NaCl dengan
konsentrasi NaCl 3 M, 1,5 M, 0,75 M, 0,375 M, dan 0,1875 M berturut-turut
adalah 3,2798 mmol/g, 1,5685 mmol/g, 0,7681 mmol/g, 0,3805 mmol/g, dan
0,1893 mmol/g. Nilai ini menunjukkan bahwa konsentrasi larutan dalam molalitas
berbanding lurus dengan molalitasnya, dimana semakin besar molaritas, maka
molalitasnya juga semakin besar.
Dari percobaan ini juga diperoleh volume molal parsial dari larutan NaCl
berturut-turut dari konsentrasi 3 M, 1,5 M, 0,75 M, 0,375 M, dan 0,1875 M adalah
27,0923 cm
3
/mol, 26,2957 cm
3
/mol, 25,7048 cm
3
/mol, 27,0009 cm
3
/mol, dan
27,7233 cm
3
/mol.
Molaritas didefinisikan sebagai suatu bagian volume dalam larutan. Volume
larutan dipengaruhi oleh temperatur sedangkan molalitas didefinisikan sebagai
jumlah mol zat terlarut per kilogram pelarut dalam larutan. Simbol untuk molalitas
adalah m dan satuannya adalah molal. Molalitas didefinisikan dalam bagian kilogram
sedangkan molaritas dalam liter. Molalitas didefinisikan sebagai bagian dalam
pelarut, bukan larutan.
Dari grafik hubungan | regresi dengan diperoleh volume molal parsial
dari larutan NaCl adalah -0,2941 cm
3
/mol. Nilai R
2
yang diperoleh dari grafik yaitu
0,0429. Nilai R
2
berfungsi untuk memastikan apakah hasil yang diperoleh telah
maksimal atau tidak. Dalam grafik tersebut, nilai dari R
2
menunjukkan bahwa hasil
yang diperoleh belum mendekati nilai sesungguhnya (R
2
= 1). Tanda minus berarti
setiap penambahan 1 mol NaCl terjadi penurunan volume molal parsial sebesar
0,2941 cm
3
/mol.











BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan nilai volume molal
parsial dari larutan NaCl adalah -0,2941 cm
3
/mol.
5.2 Saran
Sebaiknya digunakan berbagai jenis bahan lain dalam penentuan volume
molal parsial sehingga kita dapat membandingkan nilai volume molal parsial antara
bahan yang satu dengan yang lain.
Saran untuk laboratorium, sebaiknya saluran pembuangan di setiap meja
dapat diperbaiki agar praktikan tidak mengganggu kelompok lainnya ketika harus
membersihkan di meja lainnya.
Adapun saran dari praktikan untuk asisten adalah cukup dipertahankan cara
membimbingnya, karena sudah cukup baik. Adapun dalam pengarahan
menggunakan alat-alat laboratorium sebaiknya lebih ditingkatkan lagi karena
praktikan masih butuh bimbingan yang lebih dan soal respon dikurangi.