Anda di halaman 1dari 24

I. II.

JUDUL PERCOBAAN :

PROSES PENANAMAN MEDIA DAN STERILISASI

TUJUAN PERCOBAAN 2.1 Penanaman Media : Untuk mengetahui cara pembuatan media yang sesuai dengan pertumbuhan mikroba dan untuk mengetahui cara penggoresan pada metode cawan gores serta untuk mengamati mikroba yang tumbuh pada media tersebut. 2.2 Sterilisasi : Membunuh mikroorganisme atau mensterilkan alat-alat (gelas ukur, kaca objek, dan tabung reaksi) yang akan digunakan dalam percobaan mikrobiologi. Selain itu agar kita mengetahui cara pensterilan secara fisika terutama pemanasan basah.

III.

TEORI DAN APLIKASI 3.1 Media dan Bahan Umum Pembuatannya Secara umum kultur media bakteri hares mengandung sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfat, vitamin atau bahan yang dapat mendorong pertumbuhan bakteri seperti ekstrak daging atau ragi. Ekstrak daging mengandung pepton dan asam asam amino. Pepton dipakai dalam kultur media sebagai sumber nitrogen, banyak senyawa nitrogen sederhana terkandung dalam pepton, sehingga mudah dilepas unsur nitrogennya. Selain itu bakteri juga ada yang membutuhkan penyubur seperti darah, serum serta logam dari garam - garam anorganik sebagai elemen mikro seperti Ca, Mn, Na, Mg, Zn, Co, Fe, Cu. Dari macam-macam media yang sudah dilihat, baik yang diramu maupun bentuk siap pakai untuk keperluan isolasi, identifikasi dan pemeliharaan bakteri diperlukan bahan bahan nutrisi sebagai berikut : 1. Energi Untuk keperluan pertumbuhan bakteri pada media diperlukan energi, yang diperoleh dari oksidasi senyawa organic yang terkandung dalam media tersebut seperti karbohidrat dan protein.

2.

Sumber karbon (C) Sumber C bisa diperoleh dari senyawa organik protein dan karbohidrat. Protein diperoleh misaluya dari ekstrak daging atau pepton, sedangkan karbohidrat mrsalnya glukosa, laktosa, sukrosa.

3. Nitrogen (N) Sumber N untuk kebutuhan nutrisi ada 2 yaitu : N berasal dari nitrogen anorganik dan N dari nitrogen organik. Kebutuhan N dari nitrogen anorganik biasanya dipakai amomumnitrat (NH4NO3) atau amoniumsulfat (NH4)2SO4, sedangkan N dari nitrogen organic diperoleh dari protein / pepton atau asam - asam amino. 4. Belerang (S) Sumber S untuk kebutuhan nutrisi ada 2, yaitu S yang berasal dan senyawa anorganik dan S dari senyawa organik. Kebutuhan S dari senyawa anorganik biasanya dipakai ammonium sulfat (NH4)2SO4, sedangkan kebutuhan S dan senyawa organik diperoleh dalam molekul protein / pepton atau asam - asam amino. 5. Fosfat Fosfat dipakai biasanya dalam bentuk garam seperti kalium Dihidrogen Fosfat (KH2PO4), Dikalium Hydrogen Fosfat (K2HPO4), Natrium Dihidrogen Fosfat (NaH2PO4) dan Dinatrium Hydrogen Fosfat (Na2HPO4). Beberapa spesies bakteri ada yang memerlukan unsure logam tertentu, unsurunsur diperlukan dan berguna untuk mengaktifkan enzim, supaya reaksi biokimiawi dalam sel berjalan lancar. Unsur logam ini pemakaiannya sedikit sekali, dan merupakan elemen mikro. Unsur - unsur logam itu diperoleh dari senyawaan garamnya, yaitu : 1. Vitamin Vitamin diperlukan untuk mengaktifkan enzim, banyak spesies bakteri yang dapat mensintesa sendiri vitamin yang dibutuhkannya. Beberapa vitamin yang biasa / sering digunakan adalah vitamin B, vitamin B6, vitamin C dan vitamin B komplek.

2.

Penyubur Untuk menumbuhkan bakteri yang revel, perlu ditambahkan penyubur ke dalam media. Penyubur yang biasa dipakai antara lain : darah domba / sapi, serum ayam / sapu kuda dan suplemen tertentu.

3.

N dan CI Selain sebagai elemen mikro, peran NaCI diperlukan untuk menaikkan tekanan osmosa dan keseimbangan fisik okhemis sel bakteri yang tumbuh dalam media tersebut. (Sutarma, 2000)

3.2 Klasifikasi Media Medium pertumbuhan mikroorganisme adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran zat-zat makanan (nutrisi) yang diperlukan mikroorganisme untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme memanfaatkan nutrisi dalam medium untuk menyusun komponen sel dirinya. dilakukan hal-hal berikut : 1. Isolat mikroorganisme menjadi kultur murni 2. Memanipulasi komposisi media pertumbuhannya 3. Menumbuhkan mikroorganisme 4. Memperbanyak jumlah 5. Menguji sifat-sifat fisiologisnya 6. Menghitung jumlah mikroba. Dua jenis medium dapat dibedakan berdasarkan komponen dasar yang membentuknya yaitu : 1. Medium kompleks Medium ini terbuat dari bahan alami yang komposisinya tidak diketahui secara pasti. Komposisi medium ini terdiri atas hasil penguraian (ekstrak) berbagai jenis jaringan tumbuhan / daging / kasein / ragi yang kaya akan polipeptida, asam amino, vitamin dan mineral. 2. Medium tersusun dari bahan kimia tertentu. Medium ini dibuat dari beberapa jenis bahan kimia dengan konsentrasi tertentu. Bahan kimia yang digunakan berasal dari sumber C, N, P, vitamin dan mineral. Dengan medium pertumbuhan dapat

Sumber C : glukosa, dekstrosa, sukrosa dll Sumber N : NH4NO3, NH4Cl, urea Sumber P : KH2PO4 Sumber Vitamin Sumber Mineral : Fe, Mn, S dll

Jenis medium berdasarkan komposisi mediumnya dibagi menjadi 4 kelompok yaitu : 1. Medium Umum Semi sintetis, mengandung nutrisi umum bagi mikroorganisme 2. Medium Selektif Sintetis yang ditambahkan zat kimia tertentuyang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme tak diinginkan tanpa menghambat mikroorganisme target 3. Medium Diperkaya Sintetis mengandung komponen-komponen yang berasal dari makhluk hidup (darah, serum, ekstrak jaringan makhluk hidup). 3. Medium Differensial Mengandung senyawa kimia tertentu yang dapat membedakan sifat mikroorganisme tertentu dalam suatu kultur campuran dari jenis mikroorganisme senyawa kimia. Adapun jenis medium berdasarkan sifat fisiknya, yaitu : 1. Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat. 2. Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang tumbuh pada media NfB ( Nitrogen free B romthymol Blue ) semisolid akan membentuk cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media, jika media ini cair maka lainnya karena adanya perbedaan response terhadap Nutrient Broth (NB) dan Nutrient Agar (NA) = medium untuk bakteri

cincin ini dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi oksigen. 3. Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth ), LB ( Lactose Broth ) (Aulia, 2012) 3.3 Sterilisasi dan Metode Sterilisasi Sterilisasi adalah suatu proses mematikan mikroorganiseme yang mungkin ada pada suatu benda. Secara umum terdapat tiga tehnik yang biasa digunakan untuk sterilisasi. Pemilihan tehnik sterilisasi didasarkan pada sifat alat dan bahan yang akan disterilisasi. ketiga teknik tersebut adalah : 1. Sterilisasi Mekanik/Filtrasi Sterilisai secara mekanik (filtrasi) dikerjakan dalam suhu ruang menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. sterilisasi ini ditujukan untuk bahan yang peka panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. 2. Sterilisasi Fisik Sterilsasi fisik dapat digunakan dengan cara pemanasan atau penyinaran. Terdapat empat macam sterilisasi dengan pemanasan : 1. Pemijaran Api Membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll. 2. Panas Kering Sterilisasi kering yaitu sterilisasi dengan menggunakan udara panas. Karakteristik sterilisasi kering adalah menggunakan oven suhu tinggi (170-180C) dengan waktu yang lama (1-3 jam). Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll. Sebelum dimasukkan ke dalam oven alat/bahan teresbut dibungkus, disumbat atau dimasukkan dalam wadah tertutupuntuk mencegah kontaminasi ketika dikeluarkan dari oven.

3.

Uap Panas Konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggunakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.

4.

Uap Panas Bertekanan (Autoclaving) Alat yang digunakan adalah autoclave. Cara kerja alat ini adalah menggunakan uap panas dengan suhu 121oC selama 15 menit pada tekanan 1 atm.

Sterilisasi uap tergantung pada : (1) Alat/bahan harus dapat ditembus uap panas secara merata tanpa mengalami kerusakan (2) Kondisi steril harus bebas udara (vacum) (3) Suhu yang terukur harus mencapai 121oC dan dipertahankan selama 15 menit. Bahan / alat yang tidak dapat disterilisasi dengan uap panas adalah serum, vitamin, antibiotik, dan enzim, pelarut organik, seperti fenol, buffer dengan kandungan detergen, seperti SDS. Erlenmeyer hanya boleh diisi media maksimum dari total volumenya (Sameer, 2011). 3.5 Aplikasi Sterilisasi dalam Industri STUDI PENCUCIAN PERALATAN DAN STERILISASI ALAT PRODUKSI SUSU KENTAL MANIS DI PT. INDOMILK. JAKARTA Setiap manusia membutuhkan bahan makanan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Salah satu pangan yang mempunyai peranan penting dalam proses pertumbuhan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat adalah susu. Saat ini susu tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk segar saja, tetapi juga dikonsumsi dalam bentuk olahannya. Produk-produk olahan susu antara lain susu kental manis, susu kental tidak manis/susu yang diuapkan, mentega, keju. es krim dan lain-lain. Untuk menghasilkan produk-produk susu yang baik dan aman dikonsumsi oleh konsumen perlu diperhatikan aspek sanitasi dan higienenya. Tujuan dari penelitian ini secara umum untuk mengetahui pengaruh pencucian peralatan dan sterilisasi alat produksi susu kental manis di PT. Indomilk. Informasi primer yang diperoleh adalah informasi proses produksi susu kental manis, prosedur pencucian alat produksi susu kental

manis, waktu pencucian dan bahan-bahan pembersih yang dipakai dalam pencucian. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan aman dikonsumsi oleh konsumen, PT. Indomilk mengupayakan penggunaan alat-alat produksi yang bersih dan bebas dari mikroorganisme yang membahayakan. Peralatan produksi dicuci secara harian dan mingguan. Pencucian harian menggunakan metode CIP ( Cleaning In Place), sedangkan pentucian mingguan (pencucian total) menggunakan metode CIP dan Dismantling (penanggalan alat satu per satu). Metode CIP diterapkan pada alat-alat yang sulit dibongkar pasang, yaitu dengan cara mensirkulasikan air dan bahan pembersih ke dalam alat yang akan dibersihkan. Bahan pembersih yang dipakai dalam metode CIP adalah larutan tembrite 1 %. Metode Dismantling diterapkan pada alat-alat yang mudah dibongkar - pasang, yaitu dengan cara dicuci dan disikat dengan bahan pembersih larutan divoluc (sejenis detergen berwarna merah). Setelah seluruh peralatan selesai dicuci dan dibilas kemudian disterilisasi dengan larutan klorin 125 ppm selama 15 menit. Khusus untuk tempat susu yang telah dipasteurisasi (Balance Tank 2 dan Vacuum Cooler), disterilisasi dengan uap panas sampai suhu 100C selama 1 jam. Sedangkan pasteurizer disterilisasi dengan air panas 90C selama 30 menit dan homogenizer disterilisasi dengan air panas selama 5 menit. Dari hasil uji mikroba yang dilakukan terhadap peralatan produksi yang telah dicuci, tidak ditemukan adanya Micrococci sesuai dengan standar indomilk bahwa Micrococci dalam peralatan harus sama dengan 0 koloni/ml (Susanti, 1999).

Mulai Dicuci dan disikat dengan bahan pembersih larutan divoluc (sejenis detergen berwarna merah). Dibilas kemudian disterilisasi dengan larutan klorin 125 ppm selama 15 menit Disterilisasi dengan uap panas sampai suhu 100C selama 1 jam Disterilisasi dengan air panas selama 5 menit.

Selesai Gambar 3.1 Flowchart Percobaan Studi Pencucian Peralatan dan Sterilisasi Alat Produksi Susu Kental Manis di PT. Indomilk Jakarta (Susanti, 1999)

IV. BAHAN DAN ALAT 4.1 Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 1. Air bundaran bank mandiri Fungsi : sebagai sumber mikroba 2. Air parit pajak sore Fungsi : sebagai sumber mikroba 3. Air rendaman wortel Fungsi : sebagai sumber nutrisi 4. Air rebusan ikan Fungsi : sebagai sumber nutrisi 5. Agar Fungsi : sebagai pengental campuran. 6. Glukosa (C6H12O6) Fungsi : sebagai nutrisi untuk mikroba. 7. Aquadest (H2O) Fungsi : untuk menghasilkan steam yang digunakan dalam sterilisasi 4.2 Alat Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 1. Mikroskop Fungsi : sebagai alat untuk melihat jelas jenis mokroba. 2. Kaca objek Fungsi : sebagai tempat/wadah dari mikroba yang diamati. 3. Kawat inokulasi Fungsi : sebagai alat untuk memasukkan sumber mikroba kedalam media tusuk. 4. Cawan petri Fungsi : sebagai wadah pada media agar. 5. Pengaduk Fungsi : sebagai alat untuk mengaduk campuran.

6. Tabung reaksi Fungsi : sebagai wadah/media pertumbuhan mikroba. 7. Kompor Fungsi : sebagai alat pemanas. 8. Panci Fungsi : sebagai wadah campuran untuk dipanaskan. 9. Dandang Fungsi : sebagai tempat atau wadah pensterilan alat-alat yang digunakan 10.Kompor Fungsi : sebagai alat pemanas 11.Tisu gulung Fungsi : sebagai alat pembungkus peralatan yang akan disterilkan 12.Steril kabinet Fungsi : sebagai tempat penyimpanan alat yang telah disterilkan. 13.Penjepit tabung Fungsi : untuk menjepit alat-alat yang telah steril untuk dimasukkan ke dalam steril cabinet 14.Sabun cuci Fungsi : untuk mencuci alat-alat yang akan disterilkan 15.Steril kabinet Fungsi : sebagai tempat penyimpanan dan sterilisasi dan media

V. PROSEDUR PERCOBAAN 5.1. Prosedur Sterilisasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Alat-alat yang akan disterilkan dicuci terlebih dahulu lalu dikeringkan dengan cara dianginkan atau dibiarkan kering dengan udara. Kompor dihidupkan. Dandang yang telah diisi air diletakkan di atas kompor. Alat-alat yang sudah kering dibungkus dengan tisu lalu diletakkan di dalam dandang. Dandang dipanaskan hingga 100oC selama 10-15 menit. Kompor dimatikan dan alat-alat yang disterilkan dikeluarkan. Dilepaskan tisu pada alat yang akan dimasukkan ke steril kabinet.

5.2. Prosedur Pembuatan media 5.2.1. Prosedur Pembuatan Media Miring 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Ditimbang 5 gram glukosa. Air rendaman wortel, aquadest, air rebusan dan glukosa dicampur dan dimasak sambil diaduk. Setelah mendidih agar ditambahkan ke dalam campuran dan dimasak hingga tersuspensi ke dalam larutan. Campuran dimasukkan ke dalam tabung reaksi dalam keadaan miring. Agar yang telah terdispersi dibiarkan mendingin. Kemudian sumber mikroba yaitu masing-masing untuk air parit pajak sore dan air bundaran bank mandiri dimasukkan ke dalam media. Media ditutup dan diinkubasi 2 24 jam. Media diamati dan digambarkan bentuk koloninya.

5.2.2. Prosedur Pembuatan Media Tusukan 1. 2. 3. Ditimbang 5 gram glukosa. Air rendaman wartel, aquadest, air rebusan ikan dan glukosa dicampur dan dimasak sambil diaduk. Setelah mendidih agar bubuk ditambahkan ke dalam campuran dan dimasak hingga tersuspensi ke dalam larutan.

4. 5. 6.

Campuran dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Agar yang telah terdispersi dibiarkan mendingin. Kemudian sumber mikroba yaitu masing-masing untuk air bundaran bank mandiri dan air parit pajak sore ditusukan ke dalam media dengan menggunakan kawat inokulasi.

7. 8.

Media ditutup dan diinkubasi 2 24 jam. Media diamati dengan menggunakan mikroskop dan digambar bentuk koloninya.

5.3 Flowchart Percobaan 5.3.1 Flowchart Sterilisasi Mulai Kompor dihidupkan dan dandang diletakkan di atasnya Alat-alat yang akan disterilkan dicuci Alat-alat dibungkus dengan tisu Alat-alat dipanaskan dalam dandang sampai 100 oC selama 15 menit Kompor dimatikan Alat-alat dimasukkan ke dalam steril kabinet Selesai Gambar 5.1 Flowchart Sterilisasi

5.3.2 Flowchart Proses Penanaman Media 5.3.2.1 Flowchart Pembuatan Media Lempengan Mulai Ditimbang 5 gram glukosa Air rendaman wortel, air rebusan ikan, aquadest dan glukosa dicampur dan dimasak sambil diaduk Setelah mendidih, agar ditambahkan Campuran di masukkan ke tabung reaksi dalam kondisi miring Agar yang telah terdispersi dibiarkan mendingin Sumber mikroba diteteskan ke tabung reaksi Media ditutup dan diinkubasi Media diamati mengunakan mikroskop dan digambar Selesai Gambar 5.2 Flowchart Pembuatan Media Lempengan

5.3.2.2 Flowchart Pembuatan Media Tusukan

Mulai Ditimbang 5 gram glukosa Air rendaman wortel, air rebusan ikan, aquadest dan glukosa dicampur dan dimasak sambil diaduk Setelah mendidih, ditambahkan agar Campuran di masukkan ke tabung reaksi Agar yang telah terdispersi dibiarkan mendingin Sumber mikroba ditusukkan ke tebung reaksi dalam keadaan tegak Media ditutup dan diinkubasi Media diamati mengunakan Mikroskop dan digambar

Selesai Gambar 5.3 Flowchart Pembuatan Media Tusukan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Hasil Percobaan Tabel 6.1 Hasil Percobaan No Nama Alat Gambar Alat Jumlah Keterangan

Tabung Reaksi

6 buah

Steril

Kaca Objek

6 buah

Steril

Gelas Ukur

1 buah

Steril

Tabel 6.2 Gambar Berbagai Media

Sumber Mikroba

Media

Gambar Media

Tusukan

1. Air Bundaran Bank Mandiri Miring

Tusukan

2. Air Parit Pajak Sore Miring

Tabel 6.3 Hasil Pengamatan Penanaman Media Sumber Mikroba Media Gambar Mikroba Nama Mikroba

Tusukan rendaman wortel

Rhodospirillum rubrum

Tusukan air rebusan ikan 1. Air Bundaran Bank Mandiri Miring air rendaman wortel

Rhodospirillum rubrum

Rhodospirillum rubrum

Miring air rebusan ikan

Rhodospirillum rubrum

2. Air Parit Pajak Sukaramai Tusukan rendaman wortel Escherichia coli

Diplococcus

Tusukan air rebusan ikan Escherichia coli

Diplococcus

Escherichia coli Miring air rendaman wortel Diplococcus

Escherichia coli Miring air rebusan ikan

Diplococcus

6.3 Pembahasan 6.3.1 Sterilisasi Pada percobaan sterilisasi, alat-alat yang sudah dibungkus dengan tisu dimasukkan ke dalam dandang dan dipanaskan hingga mendidih. Prosedur yang dilakukan ini sering disebut dengan pemanasan basah yang menggunakan air

mendidih. Hasilnya alat yang disterilkan dalam keadaan steril. Sterilisasi basah dapat digunakan untuk mensterilkan bahan apa saja yang dapat ditembus uap air dan tidak rusak bila dipanaskan dengan suhu yang berkisar antara 110 oC dan 121 oC. Bahan-bahan yang biasa disterilkan dengan cara ini antara lain medium biakan yang umum, air suling, peralatan laboratorium, biakan yang akan dibuang, medium tercemar, dan bahan-bahan dari karet. Ada 4 hal utama yang harus diingat bila melakukan sterilisasi basah : a. Sterilisasi bergantung pada uap, karena itu udara harus dikosongkan betulbetul dari ruang sterilisator. b. Semua bagian bahan yang disterilkan harus terkenai uap, karena itu tabung dan labu kosong harus diletakkan dalam posisi tidur agar udara tidak terperangkap di dasarnya. c. Bahan-bahan yang berpori atau berbentuk cair harus permeabel terhadap uap. d. Suhu sebagaimana yang terukur oleh termometer harus mencapai 121 oC dan dipertahankan setinggi itu 15 menit (Bohari, 2011)

6.3.2 Air Bundaran Bank Mandiri Air bundaran Bank Mandiri memiliki warna sedikit agak keabuan dan keruh. Dari hasil percobaan ini dan pengamatan pada air bundaran Bank Mandiri terdapat bakteri Rhodospirillum rubrum pada media tusukan air rendaman wortel dan rebusan ikan, sedangkan pada media miring air rendaman wortel dan rebusan ikan terdapat bakteri Rhodospirillum rubrum juga. Berikut ciri-ciri dari bakteri tersebut.

a.

Rhodospirillum rubrum

Rhodospirillum rubrum memiliki ciri-ciri:


1. Bakteri gram negatif 2. Sel berbentuk spiral 3. Mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh 4. Dapat tumbuh autotrof atau heterotrof 5. Mngandung klorofil b (Amirien, 2011)

Gambar 6.1 Bakteri Rhodospirillum rubrum 6.3.3 Air Parit Pajak Sore Air parit pajak sore memiliki warna coklat, berbau dan keruh. Dari hasil percobaan ini dan pengamatan pada air parit pajak sore terdapat bakteri Eschercia coli pada media tusukan air rendaman wortel dan rebusan ikan, sedangkan pada media miring air rendaman wortel dan rebusan ikan terdapat bakteri Eschercia coli juga. Berikut ciri-ciri dari bakteri tersebut. a. Eschercia coli

Gambar 6.2 Bakteri Eschercia coli Escherichia coli dapat dipindahsebarkan melalui air yang tercemar tinja atau air seni orang yang menderita infeksi pencernaan, sehingga dapat menular pada orang lain. Infeksi yang timbul pada pencernaan akibat dari serangan bakteri Escherichia coli pada dinding usus menimbulkan gerakan larutan dalam jumlah besar dan merusak kesetimbangan elektrolit dalam membran mucus. Hal ini dapat menyebabkan penyerapan air pada dinding usus berkurang dan terjadi diare.

Adapun ciri-ciri bakteri ini adalah : 1. 2. 3. 4. merupakan batang gram negatif terdapat tunggal, berpasangan, dan dalam rantai pendek biasanya tidak berkapsul tidak berspora

5. 6. 7.

motil atau tidak motil, peritrikus aerobik, anaerobik fakultatif penghuni normal usus, seringkali menyebabkan infeksi

(Shofyan, 2010) VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diperoleh dari percobaan adalah: 1. Suhu pemanasan yang digunakan adalah 100oC, semakin tinggi suhu maka semakin baik pensterilan alat. 2. Metode uap panas (pengukusan) merupakan metode sederhana dan baik dalam proses sterilisasi. 3. Sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi uap air panas, karena kondisi ini mengukus dengan air. 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi adalah hidrasi, pengaruh suhu dan konsentrasi. 5. Pada pemanasan basah, uap air akan masuk menembus permukaan pembungkus untuk mensterilkan alat. 6. Pada sampel air parit pajak sore terdapat jenis mikroba Escherichia Coli dan Diplococcus. 7. Pada sampel air bank mandiri terdapat jenis mikroba Rhodospirilum rubrum. 8. Pada percobaan ini menggunakan media miring dan media tusukan.

7.2 Saran Adapun saran yang dapat diberikan adalah: 1. Disarankan pada saat pengambilan sampel air, sampah atau kotoran tidak terikut.

2. Disarankan untuk menentukan perbandingan glukosa dan agar pada pembuatan media. 3. Pada saat pembuatan media, penambahan agar harus sedikit demi sedikit. 4. Sebaiknya setelah objek digoreskan pada kaca objek, ditutup lagi dengan menggunakan kaca yang lain agar objek terlihat jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Amirien, Ronye. 2011. Rhodospirillum rubrum. http://roniamirin.blogspot.com. Diakses pada tanggal 6 Mei 2013 Aulia. 2012. Medium Pertumbuhan Bakteri. Bapelkes Cikarang Bohari, Mega. 2011. Laporan Mikrobiologi (Sterilisasi). http://megabohari.blogspot.com. Diakses pada tanggal 6 Mei 2013 Sameer, Wahyu. 2011. Sterilisasi Alat / Bahan dan Pembuatan Media . Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh November Shofyan, Mohamad.2010. Escherichia Coli. http://forum.upi.edu. Diakses pada tanggal 6 Mei 2013 Susanti, Yuni. 1999. Studi Pencucian Peralatan dan Sterilisasi Alat Produksi Susu Kental Manis di PT.Indomilk, Jakarta. Institut Pertanian Bogor : Bogor Sutarma. 2000. Kultur Media Bakteri. Balai Penelitian dan Veteriner : Bogor

LAMPIRAN A FOTO PENGAMBILAN SAMPEL

L.A.1 Air Bundaran Bank Mandiri

Gambar LA-1 Foto Pengambilan Sampel Air Bundaran Bank Mandiri L.A.2 Air Parit Pajak Sore

Gambar LA-2 Foto Pengambilan Sampel Air Parit Pajak Sore