Anda di halaman 1dari 16

SATUAN ACARA PENYULUHAN REHABILITASI POST PJK (PENYAKIT JANTUNG KORONER) Di Ruang 5 CVCU RSU Dr.

Saiful Anwar Malang

Oleh : TIM PKRS

RSU Dr.Saiful Anwar Malang Januari, 2013

SATUAN ACARA PENYULUHAN REHABITASI POST PJK (PENYAKIT JANTUNG KORONER) Pokok Bahasan: Rehabilitasi Post PJK (PENYAKIT JANTUNG KORONER) Sasaran Hari/Tanggal Waktu Tempat Penyuluh : Keluarga Pasien di ruang 5 CVCU RSU Syaiful Anwar Malang : Jumat, 25 Januari 2013 : 30 menit : Ruang CVCU RSU Saiful Anwar Malang : Kelompok 2

A. Analisa Situasi 1. Peserta Penyuluhan Keluarga Pasien di ruang 5 CVCU RSU Syaiful Anwar Malang dengan latar belakang pendidikan SD, SMP, SMA dan peguruan tinggi Minat dan perhatian dalam menerima penyuluhan baik 2. Penyuluh Mahasiswa kelompok 2 yang praktek di ruang 5 CVCU RSU Dr.Saiful Anwar Malang Mampu menyampaikan materi tentang Rehabitasi Post PJK (PENYAKIT JANTUNG KORONER) Mampu menguasai peserta penyuluhan untuk memusatkan perhatian 3. Ruangan Tempat / ruang tunggu Penerangan dan ventilasi cukup baik untuk dilakukan penyuluhan B. Tujuan Intruksional 1. Tujuan Umum Setelah diberikan penyuluhan tentang imunisasi diharapkan pengunjung dapat memahami tentang Rehabitasi Post PJK (PENYAKIT JANTUNG KORONER). 2. Tujuan Khusus a. Pengunjung dapat menjelaskan definisi rehabilitasi jantung b. Pengunjung dapat menyebutkan manfaat rehabilitasi jantung c. Pengunjung dapat menyebutkan kriteria-kriteria untuk pasien rehabilitasi jantung

d. Pengunjung dapat menyebutkan tujuan rehabilitasi jantung e. Pengunjung dapat mengetahui waktu memulai rehabilitasi f. Pengunjung dapat mengetahui peringatan rehabilitasi jantung g. Pengunjung dapat menyebutkan program rehabilitasi PJK C. Materi Peyuluhan/Sub Pokok Bahasan a. Definisi rehabilitasi jantung b. Manfaat rehabilitasi jantung c. Kriteria-kriteria untuk pasien rehabilitasi jantung d. Tujuan rehabilitasi jantung e. Waktu memulai rehabilitasi f. Peringatan rehabilitasi jantung g. Program rehabilitasi PJK D. Kegiatan Penyuluhan Tahap Kegiatan Pembukaan Kegiatan penyuluhan 1. Memberikan salam 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan tujuan dan khusus dari penyuluhan 4. Melakukan kontrak waktu 5. Menyebutkan penyuluhan diberikan 6. Mengenali pengetahuan awal audiens Pelaksanaan a. Penyajian 1. Menjelaskan kepada audien 1. Mendengarkan tentang jantung 2. Menjelaskan kepada audien tentang manfaat rehabilitasi jantung definisi rehabilitasi 2. Memperhatian 3. Memahami Ceramah 10 menit yang materi akan Kegiatan audien 1. Menjawab salam 2. Mendengarkan umum 3. Menjawab pertanyaan 4. Mendengarkan Metode Ceramah Waktu 2,5 menit

3. Menjelaskan kepada audien tentang kriteria-kriteria untuk pasien rehabilitasi jantung 4. Menjelaskan kepada audien tentang jantung 5. Menjelaskan kepada audien tentang rehabilitasi 6. Menjelaskan kepada audien tentang peringatan rehabilitasi jantung 7. Menjelaskan kepada audien tentang program rehabilitasi PJK b. Diskusi Menjawab pertanyaan yang Menanyakan materi yang belum jelas Bertanyan tentang hal seputar rehabilitasi jantung c. Evaluasi Memberikan pertanyaan kepada Menjawab audien tentang apa yang sudah dijelaskan Mengobservasi tingkat antusias audien tentang penyuluhan Penutup 1. Menarik kesimpulan 2. Memberikan tindak lanjut 3. Memberikan ucapan terima kasih 4. Menutup penyuluhan (salam) E. Media 1. Mendengarkan 2. Menjawab salam Ceramah Tanya jawab 2,5 menit pertanyaan yang diberikan penyuluh Tanya jawab 5 menit Tanya jawab 10 menit waktu memulai tujuan rehabilitasi

diajukan audien

1. Banner 2. Leaflet F. Metode 1. Ceramah 2. Tanya jawab G. Pengorganisasian Penyaji : Moderator : Fasilitator :

Observer : H. Evaluasi a. Apa pengertian dari rehabilitasi jantung? b. Apa saja manfaat rehabilitasi jantung? c. Apa saja kriteria-kriteria untuk pasien rehabilitasi jantung? d. Apa saja tujuan rehabilitasi jantung? e. f. Kapan waktu memulai rehabilitasi? Apa peringatan rehabilitasi jantung?

g. Apa saja program rehabilitasi PJK? I. Referensi Soeharto, Imam. 2004. Penyakit Jantung Dan Serangan Jantung. Jakarta : Gramedia Prof Dr. Peter Kabo. 2008. Mengungkap Penyakit Jantung Koroner. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama WHO. 1993. Rehabilitation after cardiovascular disease with special emphasis on developing countries. Geneva: WHO. Kusmana D. 2009. Rehabilitasi Jantung Komprehensif, Pengalaman Pengelolaan Selama 31 Tahun. In: Minicourse on Cardiac Prevention and Rehabilitation; 21st Weekend Course on Cardiology; 2009; Jakarta

Jolliffe, J. A., K. Rees, R. S. Taylor, D. Thompson, N. Oldridge and S. Ebrahim 2001. "Exercisebased rehabilitation for coronary heart disease ." Sports Medicine Journal 1: 87. Marchionni, N., F. Fattirolli, S. Fumagalli, N. Oldridge, F. Del Lungo, L. Morosi, C. Burgisser and G. Masotti 2003. "Improved exercise tolerance and quality of life with cardiac rehabilitation of older patients after myocardial infarction: results of a randomized, controlled trial." Circulation 107(17): 2201. Oldridge, N. B. 1988. "Cardiac rehabilitation exercise programme." Sports Medicine 6: 45

Materi Penyuluhan REHABILITASI POST PJK (PENYAKIT JANTUNG KORONER)

Definisi Rehabilitasi jantung serangkaian kegiatan diperlukan untuk mempengaruhi penyebab penyakit jantung dan mencapai kondisi fisik, mental dan sosial terbaik, sehingga mereka dapat mempertahankan atau mencapai kehidupan seoptimal mungkin dimasyarakat dengan usahanya sendiri (WHO 1993). Manfaat rehabilitasi jantung Pada pasien dengan penyakit jantung koroner, program-program exercise dan psikoedukasi membantu menurunkan mortalitas penyakit jantung dalam jangka waktu yang lama, mengurangi kambuhnya miokard infark, memperbaiki faktor-faktor resiko utama penyakit jantung. (Benson G, 2000). Latihan melindungi jantung dengan : Menurunkan tekanan darah, Menjaga agar berat badan tetap stabil, Menjaga kadar kolesterol yang sehat, Menurunkan kadar gula, Menurunkan stres, depresi dan anxietas, Meningkatkan sirkulasi, kekuatan otot; Meningkatkan semangat untuk tetap sehat. Kriteria-kriteria untuk Pasien Rehabilitasi jantung 1. Kriteria Inklusi : Paska miokard infark, Paska PTCA, Paska CABG, CHF Stabil, Pacu Jantung, Penyakit Katup Jantung, Transplantasi Jantung, Penyakit Jantung Bawaan, Penyakit gangguan vaskular. 2. Kriteria Eksklusi : Unstable Angina, Gagal jantung kelas 4, Tachyaritmia-Bradiaritmia tidak terkontrol, Severe Aortic-Mitral Stenosis, Hypertropic-obstructive cardiomyopathy, Severe pulmonary hypertension, Kondisi Lainnya Tujuan rehabilitasi jantung

1. Medical Goals : Meningkatkan fungsi jantung; Mengurangi resiko kematian mendadak dan
infark berulang; Meningkatkan kapasitas kerja; Mencegah progresivitas yang mendasari proses atheroskeloris; Menurunkan mortalitas dan morbiditas.

2. Psychological goals : Mengembalikan percaya diri; Mengurangi anxietas and depressi;


Meningkatkan managemen stres; Mengembalikan fungsi seksual yang baik.

3. Social Goals : Bekerja kembali; Dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari hari secara
mandiri.

4. Health Service Goals : Mengurangi biaya medis; Mobilisasi dini dan segera pasien bisa
pulang; Mengurangi pemakaian obat-obatan; Mengurangi kemungkinan dirawat kembali. Waktu memulai rehabilitasi jantung Pasien kondisi hemodinamik stabil : Tidak ada sakit dada berulang dalam 8 jam, Tidak ada tanda-tanda gagal jantung yang tidak terkompensasi ( sesak pada saat istirahat dengan ronki didasar paru bilateral), Tidak ada perubahan signifikan yang baru pada EKG dalam 8 jam terakhir. Peringatan rehabilitasi jantung Aktivitas/latihan harus dihentikan jika : HR level sebelum latihan > 100 bpm; Sistolik BP >200 mmHg; Diastolik BP > 110 mm Hg; Penurunan diastolik BP > 10 mmHg; Perubahan Signifikan pada Ventricular atau atrial aritmia; Blok jantung derajat 2 atau 3. Program rehabilitasi PJK 1. Program Fase I : Fase Rawat Inap (Inpatient) Fase I dilaksanakan selama pasien masih tinggal di rumah sakit, dan meliputi latihan rehabilitasi awal, yang menekankan pada pendidikan pasien, terdiri dari diskusi informal dengan dokter da juru rawat. Terapi latihan menyerupai aktivitas kehidupan sehari-hari seperti duduk, berdiri, dan berjalan. Tujuan dari rehabilitasi fase I dipusatkan pada uapaya untuk : Menhindari problem yang diakibatkan tinggan di tempat tidur (bedrest) terlalu lama. Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya perihal pola hidup yang benar. Pelaksanaan rehabilitasi fase I dimulai segera setelah kondisi pasien stabil : biasanya 24-48 jam sehabis serangan jantung atau CABG. Tujuan diatas dapat diperinci sebagai berikut : Memebatu pasien untuk dapat memulai gerakan fisik Mengurangi beban mental, emosional yang biasanya mengikuti seseorang setelah serangan jantung, CABG, dan mereka yang sudah mengidap tanda-tanda PJK. Mulai mengidentifikasi factor-faktor resiko dari PJK

Menumbuhkan sifat positif yang dapat memotivasi pasien untuk komitmen jangka panjang kea rah hidup normal.

Langkah-langkah melakukan fase I : Latihan melemaskan otot leher. Kepala ditundukkan perlahan-lahan dengan mendekatkan dagu ke dada. Muka lurus ke depan dan diteruskan dengan melihat ke atas. Kepala diputar ke kiri dan ke kanan. Kepala digelengkan ke kiri dank e kanan dengan mendekatkan telingan ke pundak yang bersangkutan Pundak ditarik ke atas dan ke bawah Letakkan tangan kanan ke paha kanan dan tangan kiri ke paha kiri. Angkat bergantian lurus ke depan Tangan dibelakang kepala dan siku mengarah ke depan. Perlahan-lahan siku dibuka dan ditutup Tangan bertolak pinggang. Putar tangan bertumpu pada persendian pundak/bahu. Demikian gerakan-gerakan di atas diulang berkali-kali Pada hari ke-3 pasien dilatih berdiri dan berjalan perlahan-lahan. Diukur nadi dan tensi setiap mulai dan selesai latihan, serta dicatat pada lembaran kertas (log) yang tersedia. Hari-hari berikutnya intensitas latihan ditingkatkan dengan berjalan kaki di koridor di antara kamar, selanjutnya diadakan latihan di ruang khusus untuk rehabilitasi. Ruang ini dilengkapi dengan peralatan seperti sepeda statis, dan berjalan, barbell, tongkat dan lain-lain. Pasien yang menjalani latihan fase I dilengkapi dengan monitor jarak jauh (telemeter) sehingga dapat dicatat EKG yang bersangkutan saat melakukan kegiatan latihan. Menjelang akhir fase rawat, pasien diharapkan sudah mampu berjalan sekitar 1 kilometer. Table : contoh aktivitas pada fase I (inpatient) Kelas gerakan Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV Kelas V Contoh aktivitas Duduk di tempat tidur dengan bantuan Duduk di kursi 15-30 menit, 2-3 kali sehari Duduk di tempat tidur tanpa bantuan Berjalan di dalam ruangan Duduk dan berdiri secara mandiri Berjalan dengan jarak 15-30 meter dengan bantuan 3 x sehari Melakukan perawatan diri secara mandiri Berjalan dengan jarak 50-70 meter dengan bantuan 3-4 x sehari Berjalan dengan jarak 80-150 meter mandiri 3-4 x sehari

2. Program fase II : out patient

Program out-patient dilakukan segera setelah kepulangan pasien dari rumah sakit. Tujuan utama dari program ini adalah untuk mengembalikan kemampuan fisik pasien pada keadaan sebelum sakit. Pasien yang pernah mengalami infark myocard dan atau operasi bypass arteri memiliki resiko yang lebih besar untuk mengalami dysritmia, dypnea dan angina. Pada pasien yang pernah menjalani operasi bypass sering terjadi rasa pusing dan diyrrhitmia supraventricular sedangkan pasien yang pernah mengalami infark myocard sering mengalami perubahan segmen ST pada EKG. Hal inilah yang mendorong perlunya pengawasan program latihan pada orang dengan riwayat gangguan jantung tersebut (Jolliffe et al., 2001:87). Seperti yang telah dikemukakan program rehabiliatasi sebaiknya diawali beberapa hari sebelum fase I berakhir. Biasanya fase II dimulai pada minggu kedua atau ketiga setelah serangan myocardial infark. Program ini diharapkan dapat memberi dukungan dan dapat membimbing penderita gangguan jantung untuk mengatasi masalah-masalah kesehatannya. Idealnya, program fase II dijalankan di fasiloitas kesehatan yang memiliki fasilitas EKG untuk pengawasan latihan, peralatan dan staf yang dapat mengatasi kondisi darurat. Apabila fase rehabilitasi ini terpaksa dijalankan di rumah ataupun di tempat dengan sarana minimal, seyogyanya tetap dilakukan pemeriksaan periodik pada pusat pusat kesehatan. Pada prinsipnya, tujuan dari fase ini adalah untuk memberi latihan rehabilitasi fisik seseorang penderita gangguan jantung agar dapat kembali melakukan aktivitas seharihari seperti sedia kala. Program ini sebaiknya dikepalai oleh dokter yang dapat melakukan kontak secara teratur dengan pasien, dapat melayani panggilan rumah atau dapat melakukan pengawasan pada program latihan (Marchionni et al., 2003:2201). Ades (2001:894) memberikan beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan secara mandiri terdapat pada gambar 2 sampai 10. Pada tiap latihan dilakukan pengulangan sebanyak 10 kali dan dilakukan dua kali sehari. Pada tiap latihan dilakukan pengaturan nafas yang baik karena apabila dilakukan penahanan nafas dapat terjadi peningkatan tekanan darah dan meningkatkan beban kerja jantung. Pada hari ke 4 dan ke 5 dapat ditambahkan beban sebesar 250 gram pada tangan. Pada hari ke 6 beban dapat ditingkatkan menjadi 500 gram. 1. Latihan I (Latihan Siku) Cara : Berdiri dengan siku menekuk dan dikatupkan pada dada Luruskan siku ke arah depan. Tekuk kembali siku.

Ulangi sampai dengan 10 kali

2. Latihan Elevasi Lengan Cara : Berdiri dengan siku menekuk di dada. Luruskan siku dan lengan ke arah atas Tekuk kembali ke posisi semula. Ulangi sampai dengan 10 kali

3. Latihan Ekstensi lengan Cara : Berdiri dengan siku menekuk ke arah dada. Lengan direntangkan ke arah disamping pinggang. Katupkan kembali lengan pada dada Ulangi sampai dengan 10 kali.

4. Latihan Elevasi Lengan II

Cara : Berdiri dengan kaki membuka selebar bahu dan lengan disamping badan. Dengan tetap meluruskan siku angkat lengan keatas kepala. Turunkan lengan kembali ke samping badan. Ulangi sampai dengan 10 kali.

5. Latihan Lengan Gerak Melingkar Cara : Berdiri dengan kaki membuka selebar bahu dan lengan disamping badan. Rentangkan tangan setinggi bahu. Gerakakan secara melingkar tangan dan lengan dengan arah depan dengan tetap meluruskan siku. Ulangi sampai dengan 10 kali Lakukan gerakan memutar kebelakang sampai dengan 10 kali

6. Latihan Jalan Di Tempat (Mulai hari ke-5) Cara: Berdiri dengan kaki membuka selebar bahu dengan lengan ditekuk ke depan

Angkat satu kaki dengan menekuk lutut seperti saat berbaris. Ayunkan lengan untuk membantu menjaga keseimbangan Ulangi sampai dengan 10 kali.

7. Latihan Menekuk Pinggang Cara : Berdiri dengan kaki membuka selebar bahu Tekuk lengan sehingga tangan menyentuh pinggang kanan Pertahankan kaki dan punggung tetap lurus. Ulangi sampai dengan 10 kali. Tekuk lengan sehingga tangan menyentuh pinggang kiri. Ulangi sampai 10 kali

8. Latihan Memutar Pinggang Cara: Berdiri dengan kaki membuka selebar bahu, tekuk lengan dan tempatkan tangan di pinggang Putar tubuh ke kanan dan kemudian kembali. Putar tubuh ke kiri dan kemudian kembali Ulangi sampai dengan 10 kali.

8. Latihan Menyentuh Lutut (Mulai hari ke 7) Cara: Berdiri dengan kaki membuka selebar bahu, lengan diangkat diatas kepala. Tekuk punggung sampai tangan menyentuh lutut. Angkat kembali lengan keatas kepala Putar tubuh ke kiri dan kemudian kembali Ulangi sampai dengan 10 kali.

9. Latihan Menekuk Lutut (Mulai Minggu ke-3) Cara: Berdiri dengan kaki membuka selebar bahu, tangan menyentuh pinggang. Tekuk punggung ke depan dengan lutut juga menekuk. Kembali luruskan punggung Ulangi sampai dengan 10 kali.

3. Program fase II : pemeliharaan Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk melanjutkan ke fase pemeliharaan adalah kapasitas fungsional pasien, status klinis serta tingkat pengetahuan pasien tentang gangguan jantung yang dialaminya. Kapasitas fungsional minimal yang dimiliki oleh pasien adalah sekitar 5 METs yang memungkinkan seseorang dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kesulitan yang berarti. Secara klinis, pasien harus sudah memiliki respon hemodinamik dan kardiovaskular yang stabil. Pasien juga diharapakn sudah memiliki pengetahuan dasar tentang gejala-gejala yang dialami, pilihan terapi yang dapat dilakukan, karakteristik perjalanan alamiah penyakit serta rentang aktivitas yang aman untuk dilakukan (Oldridge, 1988:45). Program latihan pada fase pemeliharaan pada dasarnya sama dengan individu normal dengan penekanan pada latihanb jenis aerobik. Pada pasien dengan kapasitas fungsional diatas 5 METS, pemrograman latihan dengan menggunakan frekuensi denyut jantung dan RPE (rating of perceived exertion) dapat dilakukan. Frekuensi latihan sebaiknay berkisar 3 sampai 4 kali dalam seminggu. Durasi latihan dapat dimuai dari 10 menit an kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap sampai dengan mencapai 60 menit. Pada saat terjadi peningkatan kapasitas fungsional dan status klinis (Jolliffe et al., 2001:87). Beberapa metode latihan yang dapat dijalankan pada penderita gangguan jantung adalah latihan interval, sirkuit, sirkuit-interval dan kontinyu: Latihan interval didefinisikan sebagai latihan yang kemudian diikuti oleh periode istirahat. Beberapa manfaat dari jenis latihan ini adalah (1) dapat dilakukannya latihan fisik dengan intensitas tinggi pada fase aktif dan (2) secara keseluruhan intensitas latihan rata-rata meningkat. Latihan sirkuit merupakan latihan dengan melakukan beberapa jenis aktivitas fisik tanpa istirahat. Latihan sirkuit biasanya meliputi latihan beban dengan sasaran otot tangan dan kaki. Manfaat dari latihan jenis ini adalah dapat melatih otot tangan dan kaki.

Latihan sirkuit interval merupakan latihan tipe sirkuit dimana seseorang menjalankan beberapa aktivitas akan tetapai diselingi oleh istirahat pada saat dilakukan peralihan aktivitas. Manfaat dari latihan jenis ini meliputi manfaat yang didapat dari altihan sirkit dan interval. Latihan kontinyu menekankan penggunaan energi submaksimal yang diajaga terus samapai dengan latihan berakhir. Manfaat dari latihan jenis ini adalah bahwa latihan ini lebih mudah untuk dijalankan.