Anda di halaman 1dari 6

SURAT PERJANJIAN KONTRAK KERJA ANTARA CV. CAHAYA CAKRAWALA CEMERLANG dan PD.

NUQUA
NO : 012/SPKK/C-3- NUQUA/I/2013

Pada hari ini Senin Tanggal Dua Puluh Satu Bulan Januari Tahun Dua Ribu Tiga belas (21-01-2013), kami yang bertanda tangan dibawah ini : Nama Jabatan Alamat Kantor : Enricko Dzikri Fadilla. : Wakil Direktur CV. CAHAYA CAKRAWALA CEMERLANG : Jl. Arcamanik Endah No. 49 - Bandung Jawa Barat

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Pemilik Proyek / Owner, untuk selanjutnya dalam perjanjian ini di sebut sebagai PIHAK PERTAMA. Nama Jabatan Alamat : : :., Kab. Indramayu.

Dalam hal ini bertindak sebagai pemborong pekerjaan yang selanjutnya dalam perjanjian ini di sebut sebagai PIHAK KEDUA. Dengan ini kedua belah pihak menyatakan sepakat dan setuju untuk mengadakan Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Jaringan Pipa air bersih yang berlokasi di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat. Pasal 1 DASAR PELAKSANAAN PEKERJAAN 1. Yang menjadi dasar pelaksanaan Pekerjaan perjanjian Pemborongan ini adalah : 1.1 Dokumen dokumen serta persyaratan lain yang berlaku sah dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini, yaitu : a. Dokumen Kontrak, yang terdiri dari : 1. Rencana Kerja dan Syarat- syarat (RKS) 2. Gambar gambar pelaksanaan termasuk gambar detail dan gambargambar addenda. b. Scope pekerjaan terdiri : 1. Pekerjaan Reservoir (RAB terlampir)

2. Pekerjaan Penampung Sumber air (RAB terlampir) 3. Pekerjaan Jaringan Pemipaan & Water Meter (RAB terlampir) 4. Pekerjaan gedung kantor dan Sarana penunjang (RAB terlampir) c. 1.2 1.3 1.4 Pekerjaan lainnya adalah Pekerjaan tambah ( Addendum ) jika terjadi Peraturan peraturan / ketentuan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Pemerintah melaluai Instansi- Instansi yang berwenang. Peraturan Pemerintah Daerah / Setempat yang berlaku dalam masa penyelenggaraan Proyek jaringan pipa air bersih. Segala petunjuk dan perintah yang diberikan oleh PIHAK PERTAMA secara tertulis pada saat pelaksanaan pekerjaan proyek ini.

2. Apabila dalam ketentuan ketentuan dan peraturan peraturan administrasi teknis tersebut dalam ayat 1 diatas tercantum hal-hal yang menyimpang atau pun tidak sesuai dengan bunyi surat perjanjian ini, maka yang berlaku mutlak adalah ketentuanketentuan yang tercantum dalam Surat Perjanjian Pemborongan ini. Pasal 2 JANGKA WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN Jangka waktu untuk menyelesaikan pekerjaan sampai selesai 100% sebagaimana tersebut pada pasal 1 perjanjian ini adalah selama 240 hari kalender untuk Pekerjaan tahap 1, terhitung sejak lapangan diserahkan kepada PIHAK KEDUA, Waktu Penyelesaian tersebut diatas tidak dapat dirubah oleh PIHAK KEDUA, kecuali adanya keadaan memaksa (Force majeure) seperti yang disebut pada pasal 6, atau adanya perintah penambahan pekerjaan sebagaimana disebut pada pasal 8 perjanjian ini yang menyebabkan jangka waktu penyelesaian pekerjaan di perpanjang. Perpanjangan jangka waktu tersebut baru dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan tertulis dari PIHAK PERTAMA. Pasal 3 HARGA BORONGAN 1. Jumlah harga borongan untuk pekerjaan sebagai mana di maksud dalam Pasal 1 perjanjian ini adalah bersifat Unit Price dengan acuan harga tertuang dalam RAB. 2. Nilai Kontrak Pekerjaan disesuaikan dengan acuan harga material + Upah kerja, Jika terjadinya kenaikan harga, maka pihak KESATU dan pihak KEDUA akan melakukan perhitungan ulang dengan adanya Ekskalasi perubahan harga. 3. Nilai harga kontrak adalah sebesar Rp. 22.545.700.000,- ( Dua Puluh Dua Milyar Lima Ratus Empat Puluh Lima Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah ) dengan spesifikasi dan rincian terlampir dalam RAB, Harga kontrak tersebut adalah asumsi acuan untuk 10.000 sambungan pelanggan.

Harga borongan di atas sudah termasuk pajak-pajak dan tidak termasuk biaya koordinasi dan biaya biaya lainnya yang tdk tercantum dalam rincian RAB terlampir. Harga borongan sebagaimana tersebut pada ayat 1, diatas adalah bersifat unit price (Harga berubah jika terjadi Pekerjaan Tambah kurang), pekerjaan tambah atau kurang tersebut dalam hal adanya : Pekerjaan tambah dan kurang berdasarkan persetujuan tertulis PIHAK PERTAMA. Pekerjaan tambah diluar dari volume (RAB + gambar) yang diterima oleh PIHAK KEDUA dari PIHAK PERTAMA. Peraturan Pemerintah di bidang moneter termasuk perubahan harga BBM. Kejadian force majeure. Pasal 4 CARA PEMBAYARAN 1. Pembayaran dari harga borongan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada pasal 3 perjanjian ini di bayarkan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA di lakukan cara bertahap / Termyn pembayaran berdasarkan sumber dana melalui Bank Mandiri Cabang Padalarang Bandung, Sesuai pembiayaan proyek atas kerjasama antara CV. CAHAYA CAKRAWALA CEMERLANG dengan PT. KUTAI TIMUR ENERGI Cabang Jakarta. 2. Tahapan Pembayaran dilakukan oleh Pihak PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA, Untuk pembayaran Pertama di bayarkan berupa Down Payment (DP) 15 % (Limabelas Persen) dibayarkan pada saat material didatangkan dan tenaga kerja lengkap serta aktifitas kerja dilakukan, Pembayaran selanjutnya di bayarkan setiap progress 15% Pembayaran terakhir 5% (Lima Persen) adalah pembayaran retensi setelah masa pemeliharaan. 3. Pembayaran / termyn yang dilakukan oleh PIHAK PERTAMA Kepada PIHAK KEDUA dilakukan dengan cara oknam bersama berdasarkan Progres lapangan dan Material On Site / material yang telah di datangkan, Material tersebut adalah terhitung dalam nilai progres. 4. Pembayaran dari PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA dilakukan melalui Stunding Instruction (SI) dari Bank Mandiri. Pasal 5 MASA PEMELIHARAAN 1. Masa pemeliharaan di tentukan selama 3 (Tiga) bulan atau 90 (Sembilan Puluh) hari kalender. 2. Selama masa pemeliharaan, PIHAK KEDUA berkewajiban memperbaiki pekerjaan yang kurang layak. 3. Perbaikan perbaikan pekerjaan akan di tuangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan yang di buat dan di setujui bersama oleh kedua belah pihak.

Pasal 6 KEADAAN MEMAKSA ( FORCE MAJEURE ) 1. Yang termasuk dalam keadaan memaksa (force majeure) adalah peristiwa peristiwa sebagai berikut : 1.1 Bencana alam (gempa bumi, tanah longsor dan banjir) 1.2 Kebakaran 1.3 Keadaan perang, huru hara, pemberontakan dan epidemic. 1.4 Peraturan Pemerintah di bidang moneter yang peklaksanaannya sesuai dengan keputusa Pemerintah. Yang secara keseluruhan ada hubungan langsung dengan penyelesaian pekerjaan pemborongan ini. 2. Apabila terjadi keadaan memaksa ( force majeure ) sebagaimana tersebut pada ayat 1 di atas, PIHAK KEDUA harus memberitahukan secara tertulis selambat lambatnya dalam waktu 7 (Tujuh) hari kalender sejak terjadinya keadaan memaksa (force majeure) tersebut , dengan melampirkan pernyataan tertulis dari penguasa setempat untuk dapat di pertimbangkan oleh PIHAK PERTAMA, demikian juga pada waktu keadaan memaksa ( force majeure ) berakhir. Pasal 7 PENGAMANAN TEMPAT KERJA DAN TENAGA KERJA 1. PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA bertanggug jawab atas keamanan tempat kerja, dalam pelaksanaan pekerjaan, sedangkan PIHAK KEDUA bertanggungjawab atas keamanan tenaga kerja, kerapihan dan ketertiban, alat-alat dan bahan-bahan bangunan selama pekerjaan berlangsung. 2. PIHAK KEDUA bertanggungjawab / wajib menyediakan sarana untuk menjaga keselamatan para tenaga kerja guna menghindarkan bahaya yang mungkin terjadi pada saat melaksanakan pekerjaan. 3. Jika terjadi kecelakaan pada saat pelaksanaan pekerjaan, maka PIHAK KEDUA di wajibkan memberikan pertolongan kepada korban korban dan segala biaya biaya yang di keluarkan sebagai akibatnya, menjadi tanggungjawab PIHAK KEDUA. Pasal 8 PEKERJAAN TAMBAH KURANG 1. Perubahan perubahan yang merupakan penambahan atau pengurangan pekerjaan bilamana ada akan di atur dalam perjanjian tambahan / addendum yang merupakan bagian yang tidak dapat di pisahkan dari perjanjian ini. 2. PIHAK KEDUA harus melaksanakan penambahan atau pengurangan pekerjaan sebagaimana tersebut di atas setelah mendapatkan perintah tertulis dari PIHAK PERTAMA melalui konsultan yang jelas menyebutkan jenis dan rincian pekerjaan. 3. Perhitungan biaya penambahan / pengurangan pekerjaan dan pembayaran biaya penambahan pekerjaan akan dilakukan, atas dasar :

3.1 Untuk pekerjaan pekerjaan yang tercantum dalam perincian penawaran, harga satuannya harus mengikuti harga satuan dalam perincian harga penawaran, yang merupakan bagian dari dokumen kontrak. 3.2 Untuk pekerjaan pekerjaan yang tidak tercantum dalam perincian penawaran, harga satuan akan di tentukan berdasarkan persetujuan oleh kedua belah pihak. 3.3 Volume dari pekerjaan tambah / kurang, dihitung sesuai volume gambar atau volume terpasang / terlaksana. Pasal 9 PERSELISIHAN 1. Apabila terjadi perselisihan dalam menafsirkan dan melaksanakan Perjanjian pemborongan ini, maka kedua belah pihak sedapat mungkin akan menyelesaikan secara musyawarah. 2. Dalam hal tersebut dapat di selesaikan secara musyawarah, maka kedua belah pihak sepakat untuk menyerahkan penyelesaian perselisihan tersebut kepada Badan Arbitrase Nasional Indonesia ( BANI ), yang berfungsi sebagai juri wasit, di bentuk dan di angkat oleh kedua belah pihak, yang terdiri dari : Seorang wakil dari PIHAK PERTAMA sebagai anggota. Seorang wakil dari PIHAK KEDUA sebagai anggota. Seorang PIHAK KETIGA yang ahli, sebagai ketua yang dipilih dan di setujui oleh kedua anggota tersebut.

3. Keputusan Arbitrase ini mengikat kedua belah pihak dan biaya penyelesaian perselisihan yang di keluarkan akan di pikul bersama. 4. Eksekusi keputusan sebagaimana di maksud ayat 3 pasal ini dapat diminta pelaksanaanya melalui Pengadilan Negeri sebagaimana dimaksud pasal 12. 5. Selama proses penyelesaian perselisihan ini masih berlangsung, tidak dapat di jadika alasan untik menunda pelasanaan pekerjaan yang telah di tentukan dalam Perjanjian pemborongan ini. 6. Untuk perjanjian pemborongan ini dan segala akibatnya kedua belah pihak memilih tenpat kedudukan hokum ( Domisili ) yang tetap yaitu di Kantor Badan Arbitrase Nasional Indonesia ( BANI ) di Bandung. Pasal 10 TEMPAT KEDUDUKAN Segala akibat yang terjadi dari pelaksanaan perjanjian ini, kedua belah pihak telah memilih tempat kedudukan yang tetap ( Domisili ) Kantor Pengadilan Negeri Bandung. Pasal 11 LAIN - LAIN

Hal hal yang belum atau belum cukup di atur dalam perjanjian pemborongan ini, akan di atur kemudian atas dasar permufakatan bersama kedua belah pihak yang akan di tuangkan dalam bentuk surat atau Perjanjian Tambahan / Addendum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian pemborongan ini. Pasal 12 PENUTUP 1. Perjanjian pemborongan ini mulai berlaku dan mengikat kedua belah pihak sejak di tandatangani Surat Perjanjian pemborongan ini oleh kedua belah pihak. 2. Perjanjian pemborongan ini dibuat dalam rangkap 2 ( Dua ) sesuai dengan persyaratan pembuatan kontrak. Rangkap pertama di pegang oleh PIHAK PERTAMA dan Rangkap kedua di pegang oleh PIHAK KEDUA, Rangkap lain akan di serahkan pada pihak pihak yang ada kaitannya dengan pekerjaan ini.

Ditetapkan di, Bandung, Januari 2013

PIHAK PERTAMA CV. CAHAYA CAKRAWALA CEMERLANG

PIHAK KEDUA

Enricko Dzikri Fadilla Wakil direktur

.. Direktur