Anda di halaman 1dari 13

Portofolio (Kasus I) Nama Peserta: dr. R.

A Marissa Wreksoatmodjo Nama Wahana: RSUD KAUR, Bengkulu Topik: Eklampsia Tanggal (kasus): 30 April 2013 Nama Pasien: Ny. T Tanggal Presentasi: 24 Juni 2013 Nama Pendamping: dr. Naek S. Sinaga

Tempat Presentasi: RSUD KAUR Obyektif Presentasi: Keilmuan Diagnostik Neonatus Keterampilan Manajemen Bayi Penyegaran Tinjauan Pustaka Istimewa Lansia Remaja Dewasa Bumil

Masalah Anak

Deskripsi: Ibu hamil, 29 tahun, G3 P2 A0 hamil 32-33 minggu, riwayat kejang berulang Tujuan: mengatasi kejang, mengakhiri persalinan dengan trauma sekecil-kecilnya, melahirkan janin dengan kemungkinan hidup besar, mencegah komplikasi (sindroma HELLP, IUFD, dll).

Bahan bahasan:

Tinjauan Pustaka Diskusi

Riset

Kasus

Audit

Cara membahas: Data pasien: Nama RS: RSUD KAUR

Presentasi dan diskusi

Email

Pos

Ny. T, 29 thn, G3P2A0 hamil 32-33 Nomor Registrasi: mgg Telp: Terdaftar sejak:

Data utama untuk bahan diskusi: 1. Diagnosis: G3P2A0 Hamil 32-33 minggu dengan eklampsia,belum inpartu dengan Riwayat kejang berulang dan riwayat sc 1x.

2. Riwayat Pengobatan:

3.

Riwayat kesehatan/Penyakit:

Hipertensi sejak kelahiran anak 1. Kejang seperti ini juga pernah terjadi pada kehamilan sebelumnya yaitu kelahiran anak pertama dan kedua, dengan gejala yang mirip dengan kehamilan yang sekarang. Riwayat operasi caesar pada kehamilan 4. Riwayat keluarga: Ayah pasien menderita Hipertensi dan DM. 5. Riwayat pekerjaan: Ibu rumah tangga
2

6. Kondisi lingkungan sosial dan fisik (RUMAH, LINGKUNGAN, PEKERJAAN) : Tidak ada yang berhubungan. 7. Riwayat KB : KB suntik di puskesmas 8. Lain-lain: Pemeriksaan Fisik Status Generalis Ekstremitas : KU / Kes : SS / CM, TD : 170/100 mmHg, F. Nadi : 100 x/mnt, Suhu : Edema +/+, akral hangat : 36,7 C, RR : 20 x/mnt

Status Obstetri : Inspeksi : Simetris, membesar sesuai dengan kehamilan, striae gravidarum (+), scar / bekas operasi (+) Palpasi : Leopold I : TFU 29 cm, teraba satu bagian besar, bulat, lunak, tidak melenting. Kiri: teraba bagian keras seperti papan. Leopold III : teraba satu bagian besar, bulat, keras dan melenting Leopold IV : kepala belum masuk PAP TFU 29 cm, HIS (-), DJJ 134 dpm, teratur. VT : Portio kaku, tebal 2 cm, Pembukaan (-), Ketuban(+), Kepala Hodge I. Pemeriksaan Laboratorium: LED : 94 mm() , Leukosit : 12.100 /l, Hb : 14,3 gr/dl (), Ht : 43,2 %, Trombosit : 195.000 /l Leopold II : Kanan : teraba bagian-bagian kecil janin.

Daftar Pustaka: 1. Cunningham, FG et.al. Hypertensive Disorder in Pregnancy. Williams Obstetrics, 21st ed. Prentice Hall International Inc. Appleton and Lange. Connecticut. 2001. 653 - 694. 2. Wiknjosastro, H. Pre-eklampsi Berat. Ilmu Kandungan edisi ketiga. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 1999. 281-308. 3. Jenklus D. Pre-eclamptic Toxaemia, Interuniversity school for study of pathophysiology of pregnancy. Dubrovnik,1989. 4. SMF Kebidanan RSUP Fatmawati , Pre-eklampsi, Standard Operatif Pelaksanaan Medis 1998. 5. Jurnal penatalaksanaan Pre-eklampsi dan Eklampsi Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS. Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, April 1998. 6. Bagian Obstetri Ginekologi FK Unpad Pre-eklampsi, Obstetri Patologi, 1983. 7. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Preeklampsi berat dan Eklampsi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.Jakarta.2002. 8. Visser, W et.al. Temporising Management of Severe Pre-eclampsia With and Without the HELLP Syndrome. British Journal of Obstetrics and Gynecology. Volume 102. Number 2, February 1995. 111 117. 9. Martin, JN et.al. Early Risk Assessmentof Severe Pre-eclampsia: Admission Battery of Symptoms and Laboratory Test to Predict Likelihood of Subsequent Significant Maternal Morbidity. American Journal of Obstetrics and Gynecology. Part 1. Volume 180. Number 6. 1999. 1407 1414. 10.Anwar, AD et.al. Penggunaan Nifedipin Pada Penderita Preeklampsia Berat. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Volume 22. Nomor 1. Januari 1998. 8 13. 11.Liem, KH et.al. Preeclampsia. 2013. http://emedicine.medscape.com/article/1476919-overview 12.Ross, MG et.al. Eclampsia. 2012. http://emedicine.medscape.com/article/253960-overview Hasil Pembelajaran: 1. Penegakan diagnosa Eklampsia. 2. Penatalaksanaan wanita hamil dengan pre-eklampsia & eklampsia.

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. SUBYEKTIF: Keluhan Utama Keluhan Tambahan : Kejang hilang timbul sejak +1 minggu SMRS. : Sakit kepala, mual dan muntah sejak + 1 minggu SMRS.

Pasien datang dengan keluhan kejang hilang timbul sejak +1 minggu SMRS. Pasien mengatakan bahwa dirinya mengalami kejang pada saat 3 bulan yang lalu. Kejang seperti ini juga pernah terjadi pada kehamilan sebelumnya yaitu kelahiran anak pertama dan kedua, dengan gejala yang mirip dengan kehamilan yang sekarang. Pasien juga mengatakan dirinya saat ini sedang hamil 8 bulan. HPHT : 17 September 2012. TP : 24 Juni 2013. Pasien tidak mengetahui dirinya menderita darah tinggi, ia mengetahui dirinya menderita darah tinggi ketika pasien hamil anak pertama. Keluar air air disangkal. Keluar lendir darah disangkal. Adanya mules mules yang menjalar sampai ke pinggang disangkal. Adanya riwayat keluar darah secara tiba tiba dari kemaluan juga disangkal. Gerakan janin masih dirasakan pasien. Pasien saat ini mengeluhkan adanya sakit kepala, mual dan muntah sejak 1 minggu SMRS. Adanya pandangan kabur sejak hamil. Nyeri ulu hati. Riwayat operasi caesar pada kehamilan sebelumnya. 2. OBJEKTIF : Status Generalis Keadaan Umum : Kesadaran : Tanda-Tanda Vital Tekanan Darah : Nadi : Suhu : RR : Kepala : Mata : THT : Leher : Cor : Pulmo :

Tampak Sakit sedang Compos Mentis 160/100 mmHg 88x/menit 36,7 oC 20 x/mnt Normochepali, rambut hitam tebal, sukar dicabut. CA -/-, SI -/Faring Hiperemis (-), Tonsil T1 T1 tenang KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak membesar. S1-S2 reguler, murmur (-), gallop (-) Suara nafas vesikuler, Rh-/-, Wh-/5

Mammae Abdomen Ekstremitas Genitalia Status Obstetri Inspeksi Palpasi

: : : :

Simetris, hiperpigmentasi pada areola, benjolan (-), retraksi puting (-). Lihat status obstetrikus. Edema +/+, akral hangat Labia Mayor oedema -/-, Bloody Show ( - )

His Auskultasi

: Simetris, membesar sesuai dengan kehamilan, striae gravidarum (+), scar / bekas operasi (+) : Leopold I : TFU 29 cm, teraba satu bagian besar, bulat, lunak, tidak melenting. Leopold II : Kanan : teraba bagian-bagian kecil janin. Kiri: teraba bagian keras seperti papan. Leopold III : teraba satu bagian besar, bulat, keras dan melenting Leopold IV : kepala belum masuk PAP :: DJJ : 134 dpm

Pemeriksaan Dalam : Inspeksi : v/u tenang. Inspekulo : tidak dilakukan Vaginal Toucher : Portio kaku, tebal 2 cm, Pembukaan (-), Ketuban(+), Kepala Hodge I. Pemeriksaan Laboratorium: LED : 94 mm() , Leukosit : 12.100 /l, Hb : 14,3 gr/dl (), Ht : 43,2 %, Trombosit : 195.000 /l

3. ASSESSMENT (Penalaran Klinis) : PRE-EKLAMPSIA Kriteria minimum untuk mendiagnosis preeclampsia-eklampsia adalah adanya hipertensi proteinuria dan kejang. Kriteria lebih lengkap digambarkan oleh Working Group of the NHBPEP ( 2000 ) seperti digambarkan dibawah ini: (1,8,9,11) Disebut preeklamsi ringan bila terdapat: 1. Tekanan darah >140 / 90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu. 2. Proteinuria kuantitatif (Esbach) 300 mg / 24 jam, atau dipstick +1.
6

Disebut preeklampsia berat bila terdapat: 1. Tekanan darah >160 / 110 mmHg. 2. Proteinuria kuantitatif (Esbach) 2 gr / 24 jam, atau dipstick +2. 3. Trombosit < 100.000 / mm3. 4. Hemolisis mikroangiopathi ( peningkatan LDH ) 5. Peningkatan SGOT / SGPT. 6. Adanya sakit kepala hebat atau gangguan serebral, gangguan penglihatan. 7. Nyeri di daerah epigastrium yang menetap.

Problem

Mild PreEclampsia >140/90 1+ (300 mg/24 hours) +/+/7

Severe PreEclampsia >160/110 2+ (1000 mg/24 hours) +/+ + + + +

Blood Pressure

Proteinuria

Edema Increased reflexes Upper abdominal pain Headache Visual Disturbance Decreased Urine

Output Elevation of Liver Enzymes Decreased Platelets Increased Bilirubin Elevated Creatinine

+ + +

PENATALAKSANAAN Pada preeklapmsia ringan pengobatan bersifat simtomatis dan istirahat yang cukup. Pemberian luminal 1-2 x 30 mg/hari dapat dilakukan bila tidak bisa tidur. Bila tekanan darah tidak turun dan ada tanda-tanda ke arah preeklamsi berat maka dapat diberikan obat antihipertensi serta dianjurkan untuk rawat inap. (1,4,5,6) Pada dasarnya penangan preeklampsia-eklampsia terdiri atas pengobatan medik dan penanganan obstetrik. Penanganan obsterik ditujukan untuk melahirkan bayi pada saat yang optimal, yaitu sebelum janin mati dalam kandungan, akan tetapi sudah cukup matur untuk hidup diluar uterus. Tujuan pengobatan PEB adalah : (1,2,5) 1. Mencegah terjadinya eklampsi. 2. Anak harus lahir dengan kemungkinan hidup besar. 3. Persalinan harus dengan trauma yang sedikit-sedikitnya. 4. Mencegah hipertensi yang menetap. Pada umumnya indikasi untuk merawat penderita preeklampsia di rumah sakit ialah: 1. Tekanan darah sistolik 140 mm Hg atau lebih. 2. Proteinuria 1+ atau lebih.
8
(1,2,4,5)

3. Kenaikan berat badan 1,5 kg atau lebih dalam seminggu yang berulang. 4. Penambahan oedem berlebihan secara tiba-tiba. Pengobatan preeklampsia yang tepat ialah pengakhiran kehamilan karena tindakan tersebut menghilangkan sebabnya dan mencegah terjadinya eklampsia dengan bayi yang masih premature. Untuk preeklampsia yang berat, dapat ditangani secara aktif atau konservatif. Aktif berarti kehamilan diakhiri atau diterminasi bersamaan dengan terapi medikamentosa. Konservatif berarti kehamilan dipertahankan bersamaan dengan terapi medikmentosa. 1. Penanganan aktif Ditangani aktif bila terdapat satu atau lebih kriteria berikut: ada tanda-tanda impending eklampsia, HELLP syndrome, tanda-tanda gawat janin, usia janin 35 minggu atau lebih dan kegagalan penanganan konservatif. Yang dimaksud dengan impending eklampsia adalah preeklampsia berat dengan satu atau lebih gejala: nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntahmuntah, nyeri epigastrium dan kenaikan tekanan darah progresif. Terapi medikamentosa: (1,4,5) a. Diberikan anti kejang MgSo4 dalam infus 500 cc dextrose 5% tiap 6 jam. Cara pemberian: dosis awal 2 gr iv dalam 10 menit, dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan sebanyak 2 gram per jam drip infus. Syarat pemberian MgSO4: frekuensi nafas > 16x/menit, tidak ada tanda-tanda gawat nafas, diuresis >100 ml dalam 4 jam sebelumnya dan refleks patella positif. Siapkan juga antidotumnya, yaitu: Ca-glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc NACL 0,9% IV, dalam 3 menit). b. Antihipertensi: nifedipin dengan dosis 3-4 kali 10 mg oral. Bila dalam 2 jam belum turun, dapat diberikan 10 mg lagi. c. Siapkan juga oksigen dengan nasal kanul 4-6 L /menit. Terminasi kehamilan dapat dilakukan bila penderita belum inpartu, dilakukan induksi persalinan dengan amniotomi, oksitosin drip, kateter foley atau prostaglandin E2. Sectio cesarea dilakukan bila syarat induksi tidak terpenuhi atau ada kontraindikasi persalinan pervaginam. 2. Penanganan konservatif Pada kehamilan kurang dari 35 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan kondisi janin baik, dilakukan penanganan konservatif. (1,4,5,6) Medikamentosa sama dengan penanganan aktif. MgSO4 dihentikan bila tidak ada tanda-tanda preeklampsia berat, selambatnya dalam waktu 24 jam. Bila sesudah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini harus dianggap sebagai kegagalan pengobatan dan harus segera diterminasi. Jangan lupa diberikan oksigen dengan nasal kanul 4-6 L/menit. EKLAMPSIA
9

Preeklampsia yang dipersulit oleh kejang tonik-klonik generalisata disebut eklampsia. Koma fatal tanpa kejang juga pernah disebut eklampsia; namun, sebaiknya diagnosis dibatasi pada wanita dengan kejang dan menggolongkan kematian pada kasus non kejang sebagai kasus yang disebabkan oleh pre eklampsia berat. Eklampsia disebut antepartum, peripartum atau postpartum tergantung kapan kejangnya muncul. Serangan kejang biasanya dimulai disekitar mulut dalam bentuk kedut-kedutan (twitching). Kejang pertama biasanya menjadi pendahulu kejang-kejang berikutnya. Apabila kejangnya jarang wanita yang bersangkutan biasanya pulih kesadarannya setelah tiap serangan. Meski jarang, satu kali kejang dapat diikuti koma yang berkepanjangan walaupun umumnya kematian tidak terjadi sampai setelah kejang berulang-ulang. Pada preeklampsia antepartum, tanda-tanda persalinan dapat dimulai dengan segera setelah kejang dan berkembang dengan cepat, kadang-kadang sebelum petugas menyadari bahwa wanita yang tidak sadar ini mengalami his. Apabila kejang terjadi saat persalinan, frekuensi dan intensitas his dapat sangat meningkat, dan durasi persalinan dapat memendek. Karena ibu mengalami hipoksemia ada asidemia laktat akibat kejang janin dapat mengalami bradikardia setelah serangan kejang. Pada sebagian wanita dengan eklampsia kematian mendadak terjadi bersamaan dengan kejang atau segera sesudahnya akibat perdarahan otak massif. Perdarahan sub luteal dapat menyebabkan hemiplegia. PENATALAKSANAAN Sebagian regimen eklampsia yang digunakan mempunyai dasar fisiologi yang sama, prinsip-prinsipnya mencakup : 1. Pengendalian kejang dengan magnesium sulfat intravena dosis bolus. Terapi magnesium sulfat ini di lanjutkan dengan infuse kontinu atau dosis bolus intramuskular dan diikuti oleh suntikan intramuskular berkala 2. Pemberian obat antihipertensi oral atau intravena intermiten utnuk menurunkan tekanan darah apabila tekanan diastolik dianggap terlalu berbahaya. Sebagian dokter mulai mengobati pada saat tekanan diastolik mencapai 100 mmHg 3. Menghindari diuretik dan pembatasan cairan intravena kecuali apabila pengeluaran cairan berlebihan 4. Pelahiran. Magnesium Sulfat Untuk Mengendalikan Kejang Cara pemberian Magnesium Sulfat untuk Preeklampsia Berat dan Eklampsia Infus intravena kontinu 1. Berikan dosis bolus 4 C 6 gram MgSO 4 yang di encerkan dalam 100 ml cairan IV dan diberikan dalam 15-20 menit. 2. Mulai infuse rumatan dengan dosis 2 gram /jam dalam 100 ml cairan IV 3. Ukur kadar magnesium sulfat pada 4-6 jam setelahnya dan sesuaikan kecepatan infuse untuk mempertahan kadar antara 4 dan 7 mEq/l(4,8-8,4 mg/dl) 4. Magnesium sulfat dihentikan 24 jam setelah bayi lahir Injeksi intramuscular intermiten
10

1. Berikan 4 g magnesium sulfat (MgSO 4.7H2O USP) sebagai larutan 20 % secara intravena dengan kecepatan tidak melebihi 1 gram/menit. 2. Lanjutkan segera dengan 10 gram larutan Magnesium sulfat 50 %, separuhnya (5 g) disuntikkan dalam-dalam di kuadran lateral atas bokong dengan jarum ukuran 20 dengan sepanjang 3 inci. Apabila kejang menetap setelah 15 menit, berikan magnesium sulfat sampai 2 gram dalam bentuk larutan 20 % secara intravena dengan kecepatan tidak melebihi 1 g/mnt. Apabila wanita tersebut bertubuh besar dapat diberikan sampai 4 g secara perlahan-lahan. 3. Setiap 4 jam sesudahnya berikan 5 gram larutan magnesium sulfat 50 % yang disuntikkan dalam-dalam ke kuadran lateral aras bokong bergantian kiri dan kanan, tetapi hanya setelah dipastikan : a. reflekS patella masih baik b. tidak terdapat depresi pernafasan c. pengeluaran urin selama 4 jam sebelumnya melebihi 100 ml 4. Magnesium sulfat di hentikan setelah 24 jam. Efektivitas klinis terapi magnesium sulfat Wanita yang mendapat terapi magnesium sulfat mengalami 50% kejang berulang dibandingkan dengan mereka yang mendapat diazepam. Pada perbandingan lain wanita yang mendapat terapi magnesium sulfat lebih kecil kemungkinan memerlukan ventilasi buatan, terjangkit pneumonia dan dirawat di ruang perawatan intensif daripada mereka yang mendapat fenitoin. Mencegah eklampsia Terapi magnesium sulfat lebih baik daripada fenitoin dalam mencegah kejang eklampsia. Masih terus terjadi silang pendapat mengenai apakah magnesium sulfat profilakis perlu diberikan secara rutin kepada semua wanita bersalin yang mengalami hipertensi. Perdebatan saat ini berpusat pada wanita preeklamptik mana yang perlu diberi profilaksis. Manfaat magnesium sulfat profilaktik bagi wanita dengan preeklampsia ringan masih diperdebatkan karena resiko eklampsia yang diperkirakan adalah 1 dalam 100 atau kurang. Witlin dan Sibai baru-baru ini mengulas bukti efektivitas magnesium sulfat untuk mengobati dan mencegah kejang akibat gangguan hipertensi pada kehamilan. Mereka menyimpulkan bahwa walaupun magnesium sulfat jelas bermanfaat bagi wanita preeklampsia berat dan eklampsia, perlu tidaknya pemberian profilaktik bagi wanita dengan penyakit ringan masih belum jelas. KOMPLIKASI Komplikasi terberat kematian pada ibu dan janin. Usaha utama ialah melahirkan bayi hidup dari ibu yang menderita preeklampsi. Komplikasi yang biasa terjadi : (1,2,5) 1. Solutio plasenta, terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut. 2. Hipofibrinogenemia, dianjurkan pemeriksaan fibrinogen secara berkala. 3. Nekrosis hati, akibat vasospasmus arteriol umum. 4. Sindroma HELLP, yaitu hemolisis,elevated liver enzymes dan low platelet. 5. Kelainan ginjal
11

6. DIC. 7. Prematuritas, dismaturitas, kematian janin intra uterine HELLP Syndrome Sindroma hemolisis, elevated liver enzymes and low platelet adalah suatu komplikasi pada preeklampsia eklampsia berat. Kehamilan yang dikomplikasikan dengan sindroma HELLP juga sering dikaitkan dengan keadaan keadaan yang mengancam terjadinya kematian ibu, termasuk DIC, oedema pulmonaris, ARF, dan berbagai komplikasi hemoragik. Insiden terjadinya sindroma ini sebanyak 9,7 % dari kehamilan yang mengalami komplikasi preeklampsia eklampsia. Sindroma ini dapat muncul pada masa antepartum (70 %) dan juga post partum (30 %). Ciri ciri dari HELLP syndrome adalah: (1,8) Nyeri ulu hati Mual dan muntah Sakit kepala Tekanan darah diastolik 110 mmHg Menampakkan adanya oedema HELLP syndrome dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian: 1. Mississippi, dibagi menjadi 3 kelas: Thrombositopenia - Kelas 1: 50.000 / l - Kelas 2: > 50.000 100.000 / l - Kelas 3: > 100.000 150.000 / l Disfungsi hemolisis - hepatis - LDH 600 IU / L - SGOT dan / atau SGPT 40 IU / L
(8,11,12)

- Ciri ciri tersebut harus semua terdapat 2. Tennessee, dibagi menjadi 2 kelas: Complete - Trombosit < 100.000 / l - LDH 600 IU / L - SGOT 70 IU / L Parsial - Hanya satu dari ciri ciri di atas yang muncul

Penanganan sindroma HELLP pada dasarnya sama dengan pengobatan pada preeklampsia eklampsia berat, ditambah dengan pemberian kortikosteroid dosis tinggi yang secara teoritis dapat berguna untuk : (12) 1. Dapat meningkatkan angka keberhasilan induksi persalinan dengan memberikan temporarisasi singkat dari status klinis maternal. 2. Dapat meningkatkan jumlah trombosit dan mempertahankannya secara konvensional agar dapat dilakukan anestesi regional untuk persalinan vaginal maupun abdominal. Dosis yang digunakan untuk antepartum adalah dexametasone 2 x 10 mg sampai persalinan. Sedangkan untuk post partum adalah 2 x 10 mg sebanyak 2 kali, dilanjutkan dengan 2 x 5 mg sebanyak 2 kali, setelah itu dihentikan. (12)
12

PROGNOSIS Kriteria yang dipakai untuk menentukan prognosis eklampsia adalah kriteria Eden: 1. Koma yang lama. 2. Nadi > 120x/menit. 3. Suhu > 40 C 4. TD sistolik > 200 mmHg. 5. Kejang > 10 kali. 6. Proteinuria > 10 gr/dl. 7. Tidak terdapat oedem. Dikatakan buruk bila memenuhi salah satu kriteria di atas. (1,2,6) 4. PLAN : Diagnosis : G3P2A0 Hamil 32-33 minggu dengan eklampsia,belum inpartu dengan Riwayat kejang berulang dan riwayat sc 1x. Pengobatan : Observasi TTV setiap jam, DJJ setiap 30 menit, HIS, dan tanda tanda perburukan PEB. MgSO4 40% 4 gr diencerkan dalam 20 cc cairan i.v dilanjutkan dengan MgSO 4 40% 1 gr/jam s/d 24 jam pasca persalinan, sebagai anti kejang. Nifedipine 4 x 10 mg oral, sebagai anti hipertensi. Vit C 2 x 400 mg i.v, sebagai anti oksidan. Dexamethasone 2 x 6 mg i.v (2 hari), untuk pematangan paru. Konsultasi : Konsul Spesialis Obsgyn -> Pro Sectio Caesarea (terminasi kehamilan)

13