Anda di halaman 1dari 20

BAB I KONSEP DASAR MEDIK OTITIS MEDIA CRONIK MASTOIDEKTOMI

A.

Pengertian Otitis media adalah peradangan pada telinga bagian tengah. Otitis Media dibedakan menjadi 2 : 1. 2. iutakius) Otitis media purulent adalah suatu peradangan pada mukosa yang menyebabkan bengkak dan iritasi pada tulang-tulang yang disusul munculnya radang eksudat yang disebut purulent. Otitis media akut adalah infeksi akut telinga tengah. Penyebabnya masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah yang normalnya steril. Serangan ini bersifat mendadak dan waktunya relative pendek (< 3 minggu). (Bare Brenda G dan Suzanne C. Smeltzer, buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth). Otitis media kronik adalah kondisi yang berhubungan dengan patologi jaringan irreversible dan biasanya disebabkan karena episode berulang otitis Purulen (terjadi karena infeksi) Otitis media akut Otitis media kronik Serusa (belum terjadi infeksi penyumbatan tuba

media akut. (Bare Brenda G dan Suzanne C. Smeltzer, buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth). B. Anatomi Sistem Pendengaran Telinga adalah organ pendengarandengan fungsi ganda dan komplek pendengaran dan keseimbangan. Dibagi 3 bagian : 1. gelombang suara. Meatus auditorius externa berfungsi Telinga luar Aurikel / pina untuk mengumpulkan

menghantarkan getaran suara menuju membran timpani 2. Telinga tengah Tersusun atas membrane timpani (gendang telinga) disebelah lateral dan kapsul otik disebelah medial dan celah telinga tengah terletak diantara keduanya. Membran timpani terletak pada akiran kanalis auditorius eksternus dan menandai batas lateral telinga tengah. Membrane ini sangat tipis diameternya 1 cm, normalnya berwarna kelabu mutiara dan tranluser. Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang merupakan rumah bagi osikuli dan dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring. Telinga tengah mengandung 3 tulang kecil : Malleus Inkus Stapes

Tuba eutachii lebarnya 1 mm dan panjangnya 35 mm menghubungkan telinga tengah ke nasofaring. Normalnya harus tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan maneuver

valsalva atau dengan menguap atau menelan. Tuba eustachius berfungsi mengatur tekanan. 3. Telinga dalam Rongga telinga dalam labirin yang dilapisi membran, mengandung cairan dan ujung akhir syaraf pendengaran dan keseimbangan. Terdiri dari 3 bagian : Vestibula Canal semi sirkularis Kokhlea

C. 1.

Proses Terjadinya Masalah Faktor-faktor yang mempengaruhi OMA menjadi OMK a) b) c) d) (gizi kurang) e) 2. Etiologi Kebersihan buruk Terapi yang terlambat Terapi yang tidak adequate Virulensi kuman tinggi Daya tahan tubuh pasien rendah

Perpindahan mikroorganisme terkontaminasi lewat eutachius dari nasofaring

Kuman yang umum adalah Streptococcus pneumoniae, Hamophylus influenzae dan Maraxella catharalis.

3.

Patofisiologi Otitis media paling sering terjadi disfungsi tuba eutchius seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran napas atas, inflamasi jaringan disekitarnya (missal sinusitis), atau reaksi alergi. Selain itu mikroorganisme terkontaminasi masuk melalui eutachius, mengakibatkan peradangan eutachius karena tersumbat mengakibatkan peningkatan tekanan dan rasa penuh dalam telinga. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah bila ada perforasi membrane timpani. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan kehilangan pendengaran konduktif. Kebanyakan kasus otitis media ini sekarang ditemukan pada pasien yang tidak mendapatkan perawatan menadai dan mengalami infeksi telinga yang tidak tertangani. Otitis media kronik lebih sering terjadi, para ahli menyatakan hal ini dapat menimbulkan kolesteatoma (tumor benigna telinga tengah / mastoid) yang merupakan pertumbuhan kulit ke dalam (epitel skudmosa) dari lapisan luar membrane timpani ke telinga tengah Kulit dari membrane timpani lateral membentuk kantong luar yang berisi kulit yang telah rusak dan bahan sebaseus. Kantong dapat melekat

ke struktur telinga tengah dan mastoid. (Bare Brenda G. dan Suzanne C. Smelter. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bruner dan Suddarth). Bila tidak ditangani kolesteotoma dapat tumbuh terus dan menyebabkan paralisis nervus fasialis, kehilangan pendengaran

senserineuvral atau gangguan keseimbangan (akibat erosi telinga dalam) dan abses otak.

4. THT a) 1)

Manifestasi klinis menurut R. Pracy. Buku pelajaran

Tergantung dari stadium penyakit Stadium oklusi tuba eutachius Retraksi membran timpani akibat tekanan dalam telinga pucat purulent 2) Stadium Hiperemis melebar di menbran timpani dan odema Pembuluh darah Efusi tidak terdeteksi Sulit dibedakan antara otitis media serosa / Warna membran timpani normal / keruh

Secret

yang

telah

terbentuk mungkin bersifat eksudat serosa sukar dilihat 3) Stadium Supurasi Membrane timpani

menonjol kea rah telinga luar dan akibat odema mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial purulent di cavum timpani 4) Stadium Perforasi Rupture membran timpani dan nanah mengalir lewat meatus auditorius externa Terbentuk eksudat

5) Stadium Resolusi b) 1) 2) hiperemisis + odema 3) suhu meningkat 4) tidak berfungsi lagi Pendengaran menurun karena Demam, nada meningkat, Membran timpani normal kembali, secret mulai bersih Perporasi tertutup

Tanda gejala secara umum Otagia (nyeri pada telinga) Membrane timpani

5) peningkatan tekanan 6) 7) 8)

Rasa penuh di telinga karena

Vertigo, nausea, vomitus Sulit tidur Keluar cairan / purulen Yang paling khas dari otitis media kronik adlah membran timpani berwarna kehijauan

5 penunjang a) b) c) audimetri untuk menentukan derajat ketulian radiology kultur

Pemeriksaan

mengambil mikroresistensi kuman yang diambil dari secret telinga. d) pemeriksaan roentgen mastoid untuk melihat perluasan infeksi dari telinga tengah ke daerah tulang mastoid serta adanya gambaran kolesteatoma 6 aan a) Penatalaksanaan menurut stadium penyakit 1) Stadium oklasi Membuka kembali tuba eustachius Atasi infeksi local dengan tetes telinga Penatalaksan

2) 3) 4)

Stadium hiperemesis Antibiotic Mengingotomi Stadium supurasi Antibiotic Meringotomi Stadium perforasi Irigasi telinga dengan H2O2 Antibiotic

b) Penatalaksanaan untuk otitis media kronik secara operatif 1) Miringotomi Miringotomi adalah insisi pada membran timpani untuk tujuan ventilasi telinga tengah, drainase cairan telinga tengah atau untuk mengambil blukan. Prosedur ini dilakukan dibawah mikroskop operasi dengan anestesi local atau umum. Dibuat suatu insisi lurus melengkung sekitar 2 mm dari tepi membran timpani, dimulai dari bawah dan dilanjutkan ke atas depan atau belakang. Insisi pasterioinferios untuk menghindari trauma pada rangkaian osikula. Miringotomi dilakukan sebagai terapi komplikasi otitis media seperti mastoiditis atau paralysis saraf fasialis yang terjadi dalam perjalanan penyakit otitis media. Indikasi miringotomi pada otitis media akut :

jam terapi antibiotic

Nyeri yang menetap setelah 48

Kemungkinan komplikasi seperti mastoiditis akut atau paralysis saraf fasialis

Perkembangan otitis media akut sementara dalam pengobatan antibiotic

pasien imuno supresi 2) Berbagai prosedur

Perkembangan otitis media pada

Timpanoplasti pembedahan dapat dilakukan bila

penanganan dengan obat tidak efektif. Yang paling sering adalah timpanoplasti-rekontruktif bedah membran timpani dan osiulus. Tujuan timpanoplasti adalah mengembalikan fungsi telinga tengah, menutup lubang perforasi telinga tengah, mencegah infeksi berulang dan memperbaiki pendengaran. Ada 5 tipe timpanoplati yaitu : tipe I adalah miringoplasti yang dilakukan untuk menutup lubang perforasi pada membran timpani.tipe II V meliputi perbaikan yang lebih intensif struktur telinga tengah. Timpanoplasti dilakukan melalui kanalis autorius eksternus, baik secara transkanal atau melalui incise post aurikuler. Isi telinga tengah drinspeksi secara teliti dan hubungan antara osikulus dievaluasi. Terputusnya rantai osikulus adalah paling sering pada otitis media. Namun masalah rekrontruksi juga akan

muncul dengan adanya malformasi telinga tengah dan dislokasi osikuler akibat cidera kepala. Pembedahab biasanya dilakukan pada pasien dengan anestesi general. 3) Masteodektomi Mastoidektomi adalah pembedahan tulang mastoid untuk mengeluarkan jaringan yang infeksius, jaringan nekrotik, granulasi, kalesteatomi dan tulang yang sakit sampai terlihat jaringan tulang sehat (Bailey Hamilton, Ilmu Bedah Gawat Darurat, 1992). Menurut Nurbaiti Iskandar dalam buku THT mastoidektomi dibagi 3 yaitu : Masteodektomi sederhana Operasi ini dilakukan pada tipe jinak dengan pengobatan konserfatif tidak sembuh. Tindakan ini dilakukan pembersihan tulang mastoid dari jaringan patologi. Tujuannya supaya infeksi tenang dan tidak berair. Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. Masteodektomi radikal Operasi ini dilakukan pada tipe maligna / ganas dengan infeksi kaleostoma yang sudah meluas, rongga mastoid diberikan dari jaringan patologi dinding batas antara liang telinga luar dan tengah dengan rongga mastoid diturunkan sehingga ketiga daerah anatomi menjadi satu ruangan.

Tujuannya untuk membuang semua jaringan patologi dan mencegah komplikasi ke intra kranial, fungsi pendegaran diperbaiki. Kerugiannya pasien tidak boleh berenang seumur hidupnya. Pasien harus secara rutin kontrol supaya tidak terjadi infeksi kembali. Modifikasi operasi ini adalah dengan memasang tandur (graft) pada rongga operasi serta membuat meatal plasty yang lebar, sehingga rongga operasi kering permanent, tetapi terdapat cacat anatomi yaitu leatus luar liang telinga menjadi lebar. modifikasi (operasi bondy) Operasi ini dilakukan dengan kolesteatum di daerah atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga timpoid dibersihkan dan dinding posterios telinga direndahkan. Tujuan operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid dan mempertahankan Masteodektomi radikal dengan

pendengaran yang masih ada. Indikasi untuk dilakukan mastoidektomi : nostaurikular Abses bizoid sagging Abses subperiosteal / edema

Adanya komplikasi dari otitis media akut berupa miringitis. Abses otak parensem viltrom blasitotibitis dan fistula dibelakang telinga

berlebihan dan lama

Adanya tanda-tanda septikimia Supurasi telinga tengah yang

Teknik pembedahan mastoidektomi a. Alat Bor gigi Lampu kepala yang terang Pembedahan dilakukan anestesi umum dengan penderita terlentang Kulit kepala diukur sejauh 5 cm sekeliling pina dan tempat drinfiltrasi dengan 5 cm lignokan 2 % dengan adrenalin. b. Teknik pembedahan Dibuat irisan lengkung dibelakang aurikula dengan perluasan diatas ujung mastoid jika disini menonjol. Muskulus temporalis sebelah atasnya dihindari Periosteum diiris dan ditarik kedepan dan belakang dengan suatu rudin dan penarik mastoid yang menahan sendiri ditempatkan

Dinding meatus posterior ditarik ke anterior untuk memperlihatkan sambungan dinding tulang meatus spina henle pada sambungan dinding tulang meatus posterios dan superior. Spina ini menunjukkan tempat antrum mastoid yang terletak 1 - 2 cm dibawah permukaan. Diatas spina henle adalah Krista tulang horizontal, yairu Krista supra meatus, yang merupakan pemanjangan kebelakang dari zigoma dan menandai batasterbawah durameter fosa mranialis media. Segitiga mece wea merupakan tanda permukaan berguna yang lain untuk antrum mastoid dan dibatasi oleh arkus dari meatus tulang posterior dan garis singgung yang diambil dari titik meatus tertinggi dan paling posterior. Ujung prosesus mastoid diidentifikasi Pengambilan kontrek mastoid dimulai dari belakang ke depan mengarag ke spina henle. Pemotongan selanjutnya dibuat dari ujung mastoid kea rah spina dan dari sedikit dibawah ketika supra mastoid ke spina. Potongan-potongan tulang dibuang dan ruangan diperdalam sampai antro mastoid dicapai prominensia keputih-putihan dri kanalin semi siskularis lateral harus terlihat auditus sampai antrum. Bila antrum telah dibuka lebar untuk mengamankan drainase yang cukup lebih lanjut sel-sel udara pada sinus

lateralis dan pada ujung mastoid harus diambil dan tinggal ruangan besar berdinding halus. Pipa mengalir yang berbelok-belok kecil ditempatkan dari antrum mastoid sampai ujung bawah irisan belakang aurikula dan irisan ditutup dengan jahitan simpul sutera 2/0. pipa mengalir dapat diambil pada 48 jam. c) Penatalaksanaan pasca operasi 1) Non pengobatan Meniup hidung (membuang ingus) harus dihindari selama beberapa minggu setelah pembedahan Bersin dan batuk harus

dilakukan dengan mulut terbuka selama beberapa minggu setelah pembedahan Pasien biasanya dapat

kembali bekerja dan sampai 3 hari setelah operasi. Angkat berat, mengejan dn membungkuk harus dihindari selama beberapa minggu setelah pembedahan. Aliran berupa darah atau serosanguinus dari telinga setelah pembedahan adalah normal. Memasukkan air kedalam

telinga harus dihindari selama 2 minggu setelah pembedahan. 2) Pengobatan

digunakan sesuai resep

Antibiotic dan obat harus

Ketidaknyamanan

minor

adalah normal dan penggunaan analgetik sesuai resep dapat menghilangkan nyeri yang berlebihan dan purulen harus dilaporkan kepada dokter bedah Jahitan post aurikoler

dibersihkan dengan hydrogen peroksida 2x sehari dan lapisan tipis salep antibiotic dioleskan sampai benang jahitan dilepas

7 a.

Komplikasi Cidera nervus fasalis ditandai mulut monyong atau wajah kea rah sisi yang dioperasi b. Gangguan sementara saraf timpani (cabang kecil nervus fasalis yang berjalan melalui telinga tengah) ditandai dengan adanya gangguan pengecapan dan mulut kering pada sisi operasi sampai saraf mengalami regenerasi

D. 1.

Diagnosa yang lazim muncul post operasi menurut Brunner dan Sud Ansietas berhubungan dengan prosedur

pembedahan, potensial kehilangan pendengaran Kriteria yang diharapkan :

istitahat / cukup tidur

Tampil

santai,

dapat

Melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang dapat diatasi

: Identifikasi tingkat rasa takut yang mengharuskan dilakukannya penundaan prosedur pembedahan

R : Rasa takut yang berlebihan akan mengakibatkan reaksi stress yang berlebihan, resiko potensial dari pembalikan reaksi terhadap prosedur / zat-zat anestesi I : Kontrol stimuli eksternal

R : Suara gaduh dan keributan akan meningkatkan ansietas I : Berikan petunjuk / penjelasan yang sederhana pada pasien yang tenang. Tinjau lingkungan sesuai kebutuhan R : Ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang panjang dan berbelit-belit I : Informasikan pasien / orang terdekat tentang peran advokat perawat intra operasi R : Kembangkan rasa percaya / hubungan, turunkan rasa takut akan kehilangan control pada lingkungan

2. mastoid

Nyeri akut yang berhubungan dengan pembedahan

Kriteria yang diharapkan I : Kaji tanda-tanda vital Tampak santai Rasa sakit dapat terkontrol

R : Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan I : Kaji penyebab ketidaknyamanan yang mungkin selama dari operasi Ketidaknyamanan mungkin disebabkan, diperburuk dengan

R :

penekanan pada kateter indwelling yang tidak tepat I : Dorong dengan teknik relaksasi

R : Lepaskan tegangan emosional dan otot dapat meningkatkan komplikasi I : Observasi efek analgesic

R : Respirasi mungkin menurun pada pemberian narkotik dan mungkin menimbulkan efek-efek sinergistik dengan zat-zat anestesi

3. mastoidektomi

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan

Kriteria yang diharapkan aseptic yang aman Mengidentifikasi factorPertahanan lingkungan

faktor resiko individu dan intervensi untuk mengurangi potensi infeksi

: Tetap pada fasilitas control infeksi, sterilisasi dan prosedur kebijakan aseptic

R : Tetapkan mekanisme yang dirancang untuk mencegah infeksi I : Sediakan pembalut yang steril

R : Mencegah kontaminasi lingkungan pada luka yang baru I : Identifikasi gangguan pada teknik aseptic dan atasi dengan segera waktu terjadi R : Kontaminasi dengan daerah lingkungan / kontak personal akan menyebabkan daerah yang steril menjadi tidak steril sehingga dapat meningkatkan resiko infeksi I : Berikan antibiotic sesuai petunjuk

R : dapat diberikan secara profilaksis bila dicurigai terjadinya infeksi atau kontaminasi

4.

Perubahan

persepsi

sensori

auditorius

yang

berhubungan dengan kelainan telinga / penyumbatan telinga Kriteria yang diharapkan

5.

Kurang pengetahuan mengenai pemyakit mastoid berhubungan dengan pasca operasi dan harapan Kriteria yang diharapkan

pengobatan hidup I

Menuturkan

kondisi

dan

Memulai

perubahan

gaya

: Tinjau ulang penghindaran factor-faktor resiko

R : Mengurangi potensial untuk infeksi yang diperoleh I : Identifikasi keterbatasan aktivitas khusus

R : Mencegah regangan yang tidak diinginkan dilokasi operasi I : Libatkan orang terdekat dalam program pengajaran menyediakan intruksi tertulis / materi pengajaran R : Memberikan sumber-sumber tambahan untuk referensi setelah penghentian I : Diskusikan terapi obat-obatan meliputi penggunaan resep dan analgesic yang dijual bebas R : Meningkatkan kerjasama dengan regimen : mengurangi resiko reaksi merugikan / efek-efek yang tidak menguntungkan

DAFTAR PUSTAKA

AD, Tomson.,1994. Catatan Kuliah Patologi. Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Baugman, Diane C, Hackley, C Joann.,1996, Keperawatan Medikal Bedah. Kedokteran EGC. Jakarta. Cloong Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Yayasan IAPK. Bandung. Egram, Barbara., 1994. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Junadi, Purnawan; Atiek S. Suemasto; Husna Amelz., 1992. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi II. CV Indra Sari Utama. Jakarta.