Anda di halaman 1dari 2

PENGENALAN

Makanan segera ( fast food ) adalah sejenis produk makanan mudah (convenience food ) yang semakin mendapat perhatian masyarakat terutama di bandar-bandar yang sibuk. Makanan dikelaskan mengikut kemudahan penggunaannya terhadap pengguna makanan sedia dimakan (ready to eat), makanan sedia dipanaskan (ready to heat), makanan sedia dimasak (ready to end-cook) dan makan terproses minima (ready to cook). Merujuk kepada pengkelasan tersebut, dapat dikatakan bahawa makanan segera termasuk dalam kategori makanan sedia dimakan. Dekker et al.2001; Verlegh & Candel (1999) Makanan segera secara umumnya mengandungi kandungan karbohidrat dan lemak yang tinggi. Attribut rasa yang unik dan menonjol dalam makanan segera merangsang selera pengguna daripada pelbagai lapisan umur. Kategori makanan ini menjadi pilihan primer terutamanya kepada golongan muda rentetan olahan pelbagai ingredient terproses yang membangkitkan citarasa untuk memakan. Namun demikian, pengambilan yang kerap atau regular boleh menyumbang mudarat kepada kesihatan. Makanan-makanan ini kekurangan keandungan khasiat seperti vitamin, protein dan mineral tetapi tinggi dalam kandungan sodium dan bahan tambah lain yang tidak sihat. Perkara ini mendorong kepada penyakit seperti diabetes, obesiti dan banyak masalah kesihatan yang lain. Brown, 2005; Dunn et al., (2008) Pilihan pelanggan boleh dibahagikan kepada perilaku konsumen dan persepsi konsumen. Menurut Engel yang disitasi oleh Priyono (2006), perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. David dan Bitta (1988) lebih menekankan perilaku konsumen sebagai suatu proses pengambilan keputusan yang mensyaratkan aktivitas individu untuk mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau mengatur barang dan jasa. Dari berbagai definisi tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahawa perilaku konsumen menyoroti perilaku baik individu mahupun rumah tangga, perilaku konsumen menyangkut suatu proses pengambilan keputusan sebelum pembelian sampai dengan mengkonsumsi produk, dan tujuan mempelajari perilaku konsumen adalah untuk menyusun strategi pemasaran yang berhasil.

Persepsi menurut Rakhmat Jalaludin (1998), adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Proses persepsi bukan hanya proses psikologi semata, tetapi diawali dengan proses fisiologis yang dikenal sebagai sensasi. Menurut Schiffman dan Kanuk (2004) yang disitasi oleh Suryani (2008) mendefinisikan persepsi sebagi proses dimana dalam proses tersebut individu memilih, menorganisasikan dan menginterpretasikan stimuli menjadi sesuatu yang bermakna. Pasaraya AEON pula boleh dikategorikan sebagai hypermarket. Menurut Levy dan Weitz (1998), hypermarket adalah sebuah tempat perbelanjaan dengan luas sekitar 10.000m2 30.000m2 serta memilki kombinasi produk makanan sebesar 60% sampai dengan 70% dan barang dagangan umum sebesar 30% sampai dengan 40%. Sementara itu, menurut Berman dan Evans (2001), hypermarket adalah sebuah tempat yang berukuran sangat luas dan nyaman, dimana terdapat berbagai mcam kebutuhan konsumen mulai dari pakaian, ubat-ubatan, bahan makanan kebutuhan umum lainnya dengan harga yang murah, serta memberikan sebuah pengalaman berbelanja yang tidak didapatkan konsumen di tempat belanja lain. Dengan penyataan di atas, dapat dikatakan bahawa Pasaraya AEON yang dikategorikan sebagai hypermarket adalah sebuah tempat yang berukuran sangat luas dan nyaman, di mana di dalamnya merupakan tempat penjualan berbagai macam kebutuhan konsumen mulai dari pakaian, ubat-ubatan, bahan makanan dan kebutuhan umum lainnya dengan harga yang murah, serta memberikan sebuah pengalaman berbelanja yang tidak didapatkan konsumen di tempat belanja lain.