Anda di halaman 1dari 11

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Insektisida Nabati

Insektisida nabati atau insektisida botani adalah bahan alami yang berasal dari tumbuhan yang mempunyai kelompok metabolit sekunder yang mengandung beribu-ribu senyawa bioaktif seperti alkaloid, fenolik dan zat kimia sekunder lainnya. Senyawa bioaktif tersebut apabila diaplikasikan ke tanaman yang terinfeksi organisme pengganggu tidak berpengaruh terhadap fotosintesis, pertumbuhan atau aspek fisiologi tanaman lainnya, namun berpengaruh terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Sistem yang berpengaruh pada OPT adalah sistem saraf atau otot, keseimbangan hormon, reproduksi, perilaku, sistem pernafasan, dan lain-lain. Senyawa bioaktif ini juga dapat digunakan untuk mengendalikan serangga yang terdapat di lingkungan rumah (Naria, 2005).

Insektisida nabati seperti nikotin, piretrin dan ratenoid sudah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruhnya terhadap insekta. Tetapi sedikit yang mengetahui banyak tanaman lain yang bersifat toksik untuk kehidupan insekta. Pada tahun 1945 dilaporkan ada 1.180 spesies tumbuhan yang mengandung racun serangga, kebanyakan belum diinvestigasi. Toksisitas dari senyawa kimia tumbuhan bersifat relatif, tergantung dari dosis yang diberikan pada periode waktu tertentu, umur dan kondisi tubuh hewan, mekanisme absorbsi dan model ekskresi (Harborne, 1982).

Senyawa bioaktif yang terdapat pada tanaman dapat dimanfaatkan seperti layaknya insektisida sintetik. Perbedaannya adalah bahan aktif pada insektisida nabati disintesa oleh tumbuhan dan jenisnya dapat lebih dari satu macam (campuran). Bagian tumbuhan seperti daun, buah, bunga, biji, kulit, batang dan

Universitas Sumatera Utara

sebagainya dapat digunakan dalam bentuk utuh, bubuk ataupun ekstraksi (dengan air, ataupun senyawa pelarut organik). Insektisida nabati dapat dibuat secara sederhana dan kemampuan yang terbatas. Bila senyawa atau ekstrak ini digunakan di alam, maka tidak mengganggu organisme lain yang bukan sasaran (Naria, 2005). Insektisida nabati merupakan bahan alami, bersifat mudah terurai di alam (biodegradable) sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia karena residunya mudah hilang. Senyawa yang terkandung dalam tumbuhan dan diduga berfungsi sebagai insektisida diantaranya adalah golongan sianida, saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, minyak atsiri dan steroid (Kardinan, 2000).

Menurut Naria (2005), penggunaan insektisida nabati memiliki beberapa keunggulan, antara lain : a. Insektisida nabati tidak atau hanya sedikit meninggalkan residu pada komponen lingkungan dan bahan makanan sehingga dianggap lebih aman daripada insektisida sintesis/kimia. b. Zat pestisidik dalam insektisida nabati lebih cepat terurai di alam sehingga tidak menimbulkan resistensi pada sasaran. c. Dapat dibuat sendiri dengan cara yang sederhana. Teknik untuk menghasilkan penggerusan, bahan insektisida nabati dapat atau dilakukan pengepresan dengan untuk

penumbukan,

pembakaran,

menghasilkan produk berupa tepung, abu, atau pasta. Kemudian dilakukan perendaman untuk produk ekstrak, selanjutnya ekstraksi dengan menggunakan bahan kimia pelarut disertai perlakuan khusus. d. Secara ekonomi tentunya akan mengurangi biaya pembelian insektisida.

2.1.1 Deskripsi Annona muricata Linn.

Menurut Tjitrosoepomo (1991), sistematika dari sirsak (Annona muricata Linn.) adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae

Universitas Sumatera Utara

Divisi Sub Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Spermatopyta : Angiospermae : Dikotil : Dialypetalae : Ranales : Annonaceae : Annona : Annona muricata Linn.

a. Bunga

b. Daun

c. Buah

Gambar 2.1. Morfologi Bunga, Daun dan Buah Sirsak (A. muricata) (Http://images.google.co.id/imgres?imgurl) Nama sirsak berasal dari bahasa Belanda, Zuurzak yang berarti kantung yang asam. Sirsak dalam bahasa Indonesia disebut nangka sabrang, nangka landa atau nangka walanda (Jawa), sirsak (Sunda), nangka buris (Madura), srikaya jawa (Bali), deureuyen belanda (Aceh), durio ulondro (Nias), durian batawi (Minangkabau), jambu landa (Lampung), langelo walanda (Gorontalo), sirikaya balanda (Bugis dan Ujungpandang), wakano (Nusa Laut), naka walanda (Ternate), naka (Flores), Ai ata malai (Timor) (CoData, 2000).

Sirsak merupakan pohon yang tinggi dapat mencapai sekitar 3-8 meter. Daun memanjang, bentuk lanset atau bulat telur terbalik, ujung meruncing pendek, seperti kulit, panjang 6-18 cm, tepi rata. Bunga berdiri sendiri berhadapan dengan daun dan baunya tidak enak. Daun kelopak kecil. Daun mahkota berdaging, 3 yang terluar hijau, kemudian kuning, panjang 3.5-5 cm, 3 yang terdalam bulat telur, kuning muda. Daun kelopak dan daun mahkota yang terluar

Universitas Sumatera Utara

pada kuncup tersusun seperti katup, daun mahkota terdalam secara genting. Dasar bunga cekung sekali. Benang sari banyak penghubung ruas sari di atas ruang sari melebar, menutup ruangnya, putih. Bakal buah banyak, bakal biji 1. Tangkai putik langsing, berambut kepala silindris. Buah majemuk tidak beraturan, bentuk telur miring atau bengkok, 15-35 kali, diameter 10-15 cm. Biji hitam dan daging buah putih (Steenis, 2003). Akar tunggang, perbanyakan dengan biji. Daun dan biji bisa dibuat untuk ramuan insektisida nabati, tetapi daun dan biji sirsak perlu dihaluskan terlebih dahulu lalu dicampur dengan pelarut. Buah yang mentah, biji, daun, dan akarnya mengandung senyawa kimia annonain. Dengan cara kerja sebagai racun kontak dan racun perut, ekstrak daun srikaya dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi hama belalang dan hama lainnya (Kardinan, 2004).

Menurut Naria (2005), buah sirsak (Annona muricata Linn.) termasuk buah semu, daging buah lunak dan empuk, berwarna putih, berserat, berbiji hitam pipih. Kulitnya berduri, tangkai buah menggunting, aromanya harum, dan rasanya manis agak asam segar. Tanaman sirsak dapat digunakan sebagai bahan insektisida.

2.1.2 Annona muricata Linn. Sebagai Insektisida Nabati

Telaah fitokimia telah mengungkapkan bahwa tumbuhan yang tergolong Annonaceae mengandung bermacam-macam alkaloid, karbohidrat, lipid, asam amino, protein, polyphenol, minyak esensial, terpen, dan senyawa aromatik (Leboeuef et al., 1982 dalam Yus 1996). Salah satu tumbuhan yang tergolong famili Annonaceae adalah sirsak (A. muricata) yang merupakan salah satu tanaman penghasil insektisida. Daun sirsak mengandung bahan aktif annonain, saponin, flavonoid, tanin (Kardinan, 2004). Bahkan Naria (2005), menyatakan bahwa pada sirsak ditemukan senyawa bersifat bioaktif yang dikenal dengan nama acetogenin.

Universitas Sumatera Utara

Annonain merupakan senyawa golongan alkaloid yang terdapat pada daun sirsak. Aktifitas fisiologinya bersifat racun dan memiliki rasa yang pahit. Alkaloid memiliki sifat metabolit terhadap satu atau beberapa asam amino. Efek toksik lain bisa lebih kompleks dan berbahaya terhadap insekta, yaitu mengganggu aktifitas tirosin yang merupakan enzim esensial untuk pengerasan kutikula insekta (Harborne, 1982).

Saponin adalah glikosida triterpena dan sterol dan telah terdeteksi dalam lebih dari 90 suku tumbuhan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah merah. Sementara flavonoid termasuk kelas fenol. Kelompok flavonoid yang bersifat insektisida alam yang kuat adalah isoflavon. Isoflavon memiliki efek pada reproduksi yaitu antifertilitas (Harborne, 1987).

Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tidak larut dalam air. Dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim sitoplasma. Bila hewan memakannya, maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan hewan kita menganggap salah satu fungsi utama tanin dalam tumbuhan ialah sebagai penolak hewan termasuk serangga (Harborne, 1987). Gejala yag diperlihatkan dari hewan yang mengkonsumsi tanin yang banyak adalah menurunnya laju pertumbuhan, kehilangan berat badan dan gejala gangguan nutrisi (Howe & Westley, 1990 dalam Yus, 1996). Xu & Qin (1994, dalam Yus, 1996) juga telah membuktikan pengaruh hambatan tanin terhadap enzim protease yang dikorelasikan dengan mencerna larva Heliothis armigera.

Senyawa acetogein pada konsentrasi yang tinggi akan bersifat antifeedant bagi serangga, sehingga menyebabkan serangga tidak mau makan. Pada konsentrasi rendah dengan pemberian oral bersifat racun perut dan dapat menyebabkan kematian (Naria, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Dari hasil pengujian aktivitas biologi terungkap bahwa bahan aktif acetogenin yang berasal dari tumbuhan Annonaceae ini mempunyai kisaran pengaruh yang cukup luas, yaitu bersifat toksik terhadap sel, memiliki aktifitas anti tumor, anti mikroba, anti malaria, anti makan dan pestisida (Rupprecht et al., 1990 dalam Yus, 1996).

2.2 Deskripsi Aedes aegypti Linn.

Menurut Ross et al. (1982), sistematika Aedes aegypti yang dimodifikasi dari sistematika Henning (1969), Tuxen (1970), dan Lauterbach (1972) adalah sebagai berikut : Kingdom Filum Super Kelas Kelas Subkelas Infra Kelas Ordo Subordo Famili Genus Spesies : Animalia : Arthropoda : Hexapoda : Insecta : Pterygota : Neoptera : Diptera : Nematocera : Culicidae : Aedes : Aedes aegypti Linn. Gambar 2.2.1 Morfologi A. aegypti

Menurut Borror dkk (1996), A. aegypti memiliki probosis panjang, memanjang jauh di belakang klipeus, terdapat sisik-sisik pada rangka-rangka sayap dan batas sayap, biasanya juga pada tubuh. Tahapan-tahapan larva adalah akuatik, dan yang dewasa dapat dikenali oleh perangka sayapan yang menciri, sisik-sisiknya sepanjang rangka-rangka sayap dan probosis yang panjang. Tidak mempunyai rambut bulu spirakel. Ujung abdomen Aedes betina biasanya meruncing, dengan sersi yang menonjol, dan toraks seringkali mempunyai tanda-

Universitas Sumatera Utara

tanda putih atau keperak-perakan. Larva hanya mempunyai sepasang batang rambut pada saluran pernafasan. Saluran pernafasan relatif pendek dan gembung.

Betina

Jantan

a. Struktur kepala A. aegypti b. Bagian Mulut A. aegypti Gambar 2.2.2 Struktur kepala dan Mulut nyamuk A. aegypti Linn. (Keterangan :ant, sungut; mxp, palpus maksila; prb/bk, probosis;clp, klipeus; mata majemuk, dalam Borror dkk, 1996). Telur Aedes lonjong, tampak seperti anyaman kasar. Larva Aedes aegypti berbentuk sifon panjang dan bulunya satu pasang, segmen anal pelana tidak menutup segmen, gigi sisir tidak berduri, lateral. Sayap Aedes berupa sisik sempit panjang dengan ujung runcing. Perilaku Aedes sp pada siang hari saja dan habitat di air jernih dan air keruh. Cara pemberantasan dengan pengendalian vektor dan mencegah gigitan vektor. Peran medis dari Aedes aegypti sebagai vektor utama DHF, filariasis, penyakit chikungunya, demam kuning (Prianto dkk, 2006).

Telur Aedes aegypti biasanya diletakkan di atas permukaan air. Larva nyamuk bernafas terutama pada permukaan air, melalui satu buluh pernafasan pada ujung posterior tubuh. Pupa nyamuk juga akuatik dan tidak seperti kebanyakan pupa serangga, sangat aktif dan seringkali disebut akrobat (tumbler). Pupa bernafas pada permukaan air melalui sepasang struktur seperti terompet yang kecil pada toraks. Kebanyakan nyamuk dewasa terbang tidak jauh dari tempat mereka hidup pada tahapan larva mereka. Jarang berada lebih dari beberapa meter dari tempat mereka muncul (Borror dkk., 1996).

Universitas Sumatera Utara

Menurut Nuijda (2005), nyamuk ini memiliki jarak terbang maksimal 100 meter dengan tempat perindukannya di genangan-genangan air jernih yang ditampung pada suatu wadah buatan maupun alamiah.

a b

d e

Gambar 2.2.3 Larva A. aegypti pada instar III (Keterangan :a.buluh pernafasan,b.spirakel posterior, c.abdomen d.spirakel anterior, e. kepala. Http://aaegypti.vectorbase.org/Images/OrganismImages) Aedes aegypti adalah transmiter yang paling penting dan vektor yang ditakuti (Little, 1963). Aedes aegypti mengalami metamorfosis (siklus hidup) yang sempurna mulai dari telur (1-3 hari), larva (4-6 hari), pupa (2 hari), dan nyamuk dewasa. Sekali bertelur nyamuk ini bisa menghasilkan sekitar 10 hingga 100 butir yang bentuknya bulat panjang seperti cerutu, dengan warna kehitamhitaman. Setelah telur ini menetas menjadi larva, pada ekornya akan tampak semacam cerobong udara dengan semacam rambut berduri. Ciri ini tidak dimiliki sekaligus membedakannya dengan larva-larva nyamuk lainnya, seperti filariasis (penyebar kaki gajah) dan malaria. Larva ini pada waktu istirahat akan membentuk sudut 450 (seperti tampak pada Gambar 2.2.3) dengan permukaan air dan bersifat antiphototropis (menghindari cahaya bila disorot dengan sinar lampu), untuk selanjutnya akan berubah untuk menjadi pupa yang gemuk, bulat dan tajam seperti koma. Setelah lewat dari 2 hari, pupa akan berwujud nyamuk

Universitas Sumatera Utara

dewasa, yang tubuhnya berwarna hitam ditandai gelang putih seprti perak di lehernya, berkepala hitam dengan garis putih di tengahnya. Pada dada nyamuk ini terdapat 2 garis sejajar dan pada kakinya terdapat gelang-gelang berwarna putih. Nyamuk ini beristirahat sejajar dengan permukaan tempat yang dihinggapinya, dan umumnya menggigit manusia pada waktu pagi atau sore hari. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan nyamuk ini menggigit di waktu malam hari bila terdapat sinar yang cukup terang (Nuijda, 2005).

Nyamuk A. aegypti mampu mengontrol tingkah lakunya pada suatu area yang luas. Larva A. aegypti berkembang dalam air. Pembersihan tempat perkembangbiakkan dengan pengurasan, menutup dan cara yang sejenisnya adalah hal yang utama. Spesies rumah (domestik), seperti nyamuk demam berdarah, mungkin dengan luas dikontrol dengan pembersihan wadah yang digenangi air seperti kaleng-kaleng, ember, tong, bak dan ban bekas. Air juga dapat dicegah menggenangi selokan, pipa saluran dan bagian yang dangkal. Permukaan air pada danau, reservoir dan sungai bebas dari vegetasi dan

tumpukan material sehingga mencegah perkembangan larva. Pembersihan ini diarahkan pada sumber makanan dan tempat perlindungan (Little, 1963).

Nyamuk Aedes aegypti hidup dan berkembangbiak di lingkungan rumah, sekolah dan tempat umum lainnya. Virus Dengue demam berdarah hidup di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus selama masa hidup nyamuk tersebut, sedangkan pada tubuh manusia virus hanya hidup sekitar satu minggu. Nyamuk tersebut mendapat virus ketika menghisap darah seseorang yang mengandung demam berdarah. Virus dipindahkan oleh nyamuk kepada orang lain melalui air liurnya sewaktu menggigit. Nyamuk penyebar Virus Dengue ini memiliki kebiasaan menggigit pada waktu tertentu yaitu pada pagi hari pukul 09.00 sampai 10.00 sedangkan pada sore hari pukul 16.00 sampai pukul 17.00 (Wijayakusuma, 2004).

Menurut Noble & Noble (1989), nyamuk yang masih muda dapat dibasmi dengan menambahkan minyak ke dalam tempat hidupnya. Cara ini mencegah

Universitas Sumatera Utara

mereka memperoleh oksigen oleh karena mereka tidak dapat menempelkan corong pernafasannya pada lapisan minyak dipermukaan. Walaupun demikian, efek pemusnahan utama adalah karena bahan toksik volatil yang terdapat di dalam kebanyakan minyak yang dipergunakan, misalnya tembaga sulfat, hijau paris atau naftalena, dapat juga diberikan ke dalam air untuk membunuh larva dan pupa. Semprotan serangga yang berisi peritrum, lindan, atau beberapa bahan kimia lain juga efektif terhadap nyamuk dewasa dan yang masih muda.

Upaya memberantas larva dari nyamuk Aedes aegypti yang termudah dan termurah adalah dengan cara menguras, menutup, dan mengubur (3M). Beberapa upaya lainnya juga telah sering dilakukan, seperti pemberian abate pada air-air jernih yang tergenang, maupun penyemprotan menggunakan zat-zat kimia insektisida. Pemberantasan nyamuk Aedes aegypti dengan cara penyemprotan menggunakan bahan kimia insektisida sebenarnya dapat dikategorikan sebagai upaya terakhir, karena bagaimanapun cara ini tidak dapat memutus mata rantai atau siklus hidup nyamuk dari mulai bertelur hingga dewasa. Penyemprotan atau pengasapan ini lazim menggunakan alat yang diberi nama sing fog. Zat kimia yang digunakan umumnya adalah Malathion 96EC (emultion concentrate) dengan konsentrasi 4 sampai 5 persen, kemudian dicampur dengan solar. Biasa juga menggunakan bahan lainnya seperti Aexon atau Snops 40EC. Namun yang jelas, tujuannya adalah memberantas nyamuk dewasa, bukan memutus mata rantai siklus hidup Aedes aegypti, disamping tentu saja zat kimia yang digunakan sebagai pembunuh ini kemungkinan memiliki korelasi yang tinggi terhadap pencemaran udara maupun makanan. Apalagi bila dalam pelaksanaannya sering mengabaikan pemberitahuan penyemprotan yang sering tidak sampai ke masyarakat tidak atau belum siap, sehingga tidak seluruhnya bisa disemprot, disamping tentu saja nilai dosis tidak tepat atau cuaca yang tidak baik, maka kemungkinan besar nyamuk yang disemprot tidak akan mati seluruhnya yang akan dapat menimbulkan kekebalan atau resistensi perubahan perilaku serta perubahan faal nyamuk Aedes aegypti (Nuijda, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Menurut Sastrodoharjo (1979), insektisida dapat masuk melalui tubuh serangga melalui beberapa cara, yaitu : a. Dinding Tubuh Dinding tubuh merupakan bagian yang dapat menyerap insektisida dalam jumlah besar. Dinding tubuh ini memiliki lapisan membran dasar yang bersifat semipermeabel sehingga dapat memilih jenis senyawa yang dapat melewatinya. b. Saluran Pernafasan Saluran pernafasannya disebut trakea. Udara dan oksigen memasuki trakea secara difusi dibantu dengan pergerakan abdomen. Oksigen akan langsung berhubungan dengan jaringan. Insektisida memasuki sistem pernafasan dalam bentuk gas ataupun butir-butir halus yang dibawa ke jaringan hidup. c. Alat Pencernaan Alat pencernaan nyamuk memiliki struktur seperti dinding tubuhnya. Dengan demikian penyerapan insektisida pada alat pencernaan sama dengan penyerapan pada dinding tubuh.

Universitas Sumatera Utara