Anda di halaman 1dari 55

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ atau kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal, yang fungsi utamanya adalah

menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk

mengkoordinasikan kegiatan berbagai organ tubuh. Terdapat juga peran kelenjar endokrin yakni mendapatkan lingkungan optimal bagi

kelangsungan proses biokimiawi suatu organisme (Djokomoeljanto, 1986). Hakekatnya sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ yang disebut juga sebagai kelenjar sekresi internal. Dimana fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung kedalam aliran darah. Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai organ tubuh (Warianto, 2011). Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalam darah bisa menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh. Salah satu contoh kelainan yang diakibatkan salah satu sistem endokrin adalah Kanker Tiroid. Kanker tiroid merupakan kanker yang paling sering ditemukan pada kelenjar endokrin insidensinya sekitar 1% dari seluruh keganasan. Sekitar 90% kanker tiroid adalah tipe well-differentiated (Hamdani, 2013). Banyak lagi kelainan-kelainan akibat sistem endokrin, kelainan lainnya yang cukup sering ditemukan hampir diseluruh dunia adalah gigantisme dan akromegali. Bahkan Kelainan-kelainan ini ada yang mempunyai kecenderungan menurun terhadap keluarga (Ismail, 2013). Oleh karena itu Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka pelepasan setiap hormon harus diatur dalam batas-batas yang tepat. Tubuh perlu merasakan dari waktu ke waktu apakah diperlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon.

B.

Tujuan 1. Mengetahui dan menjelaskan anatomi dan fisiologi sistem endokrin. 2. Mengetahui dan menjelaskan kelainan anatomis dan fisiologis organ maupun sistem endokrin. 3. Mengetahui contoh kasus terkait dengan kelainan sistem endokrin. 4. Menganalisis contoh kasus kelainan sistem endokrin dengan berbagai referensi terkait dengan sistem endokrin.

BAB II KASUS Penderita Gigantisme Pujon Terima Bantuan Dinsos Rabu, 6 Maret 2013 17:36 WIB

SURYA Online, MALANG-Dadang Kurniawan (14), penderita gigantisme warga Desa Madirejo, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang mendapat bantuan dana dari Dinas Sosial Kabupaten Malang, Rabu (5/3/2013). Sri Wahjuni Pudji Lestari, Kadinsos Kabupaten Malang menyerahkan uang tunai itu kepada Suyono di Ruang 19 RSSA Malang. Awalnya Suyono agak bingung ketika menerima bantuan uang itu. Bu, uang ini untuk apa?, tanya Suyono kepada Yayuk, panggilan akrab Kadinsos. Yayuk lalu menjelaskan bahwa uang tersebut dari Bupati Malang untuk Dadang.Mungkin uang itu bisa membantu biaya makan Dadang selama di RS, jelas Yayuk. Mantan Kabag Perekonomian Setda Kabupaten Malang itu bersedia tidak menyebutkan jumlah nominal bantuan.

Namun ia berharap uang itu bisa bermanfaat karena Dadang masih belum pulih dari perawatannya di RS milik Pemprov Jawa Timur itu. Dadang dirawat di RSSA sejak 14 Januari 2013 lalu. Sementara untuk bantuan bagi orang tuanya, Kadinsos sudah minta kepada Kades Madirejo, Naning Mufrofin untuk dibuatkan surat pengajuan.

Sehingga bantuan biaya makan untuk Dadang yang diserahkan itu, bisa dipakai untuk bungsu empat bersaudara pasangan Suyono-Etikini. Menurut Suyono, bantuan ini sangat berguna karena ia praktis tidak bisa bekerja mendapatkan

nafkah untuk keluarganya. Dadang tidak mau ditinggal. Jadi, setiap hari ya saya tunggu dia bersama ibunya, cerita Suyono.

Pekerjaan sehari-hari Suyono adalah petani di desanya. Menurutnya, Dadang pada Rabu pekan lalu menjalani operasi terkait penyakitnya. Setelah operasi, Dadang merasa mata kirinya bisa melihat sedikit meski masih samar. Padahal sejak lima bulan lalu, mata kirinya tidak bisa melihat, katanya. Ia mengatakan saat anaknya menjalani operasi, ia sudah pasrah.

Tapi ternyata Dadang bisa melewati masa kritisnya. Dengan kondisinya itu, sejak tahun ajaran baru 2012, lalu, siswa SMP swasta di Pujon itu tidak lagi sekolah ketika menginjak kelas 2. Karena ada masalah dengan matanya, saat di sekolah, cerita ayahnya, Dadang sempat disangka malas. Padahal ia tidak bisa melihat tapi takut menjelaskannya, kisahnya.

Menurut Kades Madirejo ketika bertemu Surya Online di Kantor Dinsos Kabupaten Malang, Dadang memiliki penyakit tumor kelenjar. Karena itu, pertumbuhan hormonnya tidak bisa dikendalikan.

Di usianya yang ke 14 tahun, Dadang memiliki tinggi sekitar 185 cm-an. Karena begitu tingginya, ranjang di Ruang 19 RSSA Malang juga tidak bisa menampung panjang kakinya. Saat penyerahan bantuan itu, Dadang sedang tidur nyenyak

Penulis : Sylvianita Widyawati Editor : Satwika Rumeksa http://surabaya.tribunnews.com/m/index.php/2013/03/06/penderita-gigantismepujon-terima-bantuan-dinsos

BAB III LITERATUR REVIEW

Organisme multiselular harus mampu mengoordinasi berbagai aktivitas selselnya,termasukyang jaraknya berjauhan. Pada hewan koordinasi ini dicapai oleh sistem saraf dan sistem endokrin, sistemsaraf mengontrol dengan tepat, cepat, tetapi singkat, sedangkan sistem endokrin umumnya mengontrol dnegan lebih lambat dan sinyalnya lebih lama. Dua sistem ini terintegrasi dengan baik dan pada beberapa tempat sulit dibedakan. Kontrol endokrin diperantarai oleh hormon, molekul-molekul sinyal biasanya disekresi dalam konsentrasi rendah ( ) dari kelenjar tanpa saluran langsung ke aliran darah, sehingga bisa mencapai ke seluruh tubuh. Jenis lain komunikasi hormonal diperantarai pada jarak yang lebih dekat. Sel paarkrin melepaskan hormonnya ke lingkungan sekitar sel sekretorik, sel autokrin melepaskan hormon untuk mengontrol fungsi sel itu sendiri, dan komunikasi jukstakrin membutuhkan kontak fisik langsung antara sinyal kimia pada permukaan sel tetangga. Beberapa hormon tidak disekresi oleh kelenjar tersendiri. Sistem endokrin meliputi suatu sistem dalam tubuh manusia yang terdiri dari sejumlah kelenjar penghasil zat yang dinamakan hormon. Kelenjar ini dinamakan 'endokrin' karena tidak mempunyai saluran keluar untuk zat yang dihasilkannya. Hormon yang dihasilkannya itu dalam jumlah sedikit pada saat dibutuhkan dan dialirkan ke organ sasaran melalui pembuluh darah bercampur dengan darah. Kelenjar yang produknya disalurkan melalui pembuluh khusus (seperti kelenjar ludah) dinamakan kelenjar eksokrin. Kelenjar endokrin (endocrine gland) terdiri dari (1) kelenjar hipofise atau pituitari (hypophysis/ pituitary gland) yang terletak di dalam rongga kepala dekat dasar otak; (2) kelenjar tiroid (thyroid gland) atau kelenjar gondok yang terletak di leher bagian depan; (3) kelenjar paratiroid (parathyroidglanrl) dekat kelenjar tiroid; (4) kelenjar suprarenal (suprarenal gland) yang terletak di kutub atas ginjal kirikanan; (5) pulau Langerhans (islets of langerhans) di dalam jaringan kelenjar pankreas; (6) kelenjar kelamin (gonad) laki di testis dan indung telur pada wanita.

Placenta dapat juga dikategorikan sebagai kelenjar endokrin karena menghasilkan hormon.

Kelenjar endokrin dapat dikontrol oleh sistem saraf, kelenjar endokrin lainnya, atau berespons langsung terhadap kadar metabolit di sekitar kelenjar, dan sebagian besar kelenjar dikontrol oleh keseluruhan mekanisme ini. Saat umum sistem kontrol hormonal adalah ketergantungan yang tinggi padakurva umpan balik negatif. Hampir semua hormon akan memberi umpan balik untuk menghambat pelepasannya, memberikan suatu metode langsung untuk

menstabilkan jumlah hormon yang dikeluarkan ke darah. Sifat sistem endokrin yang kurang umum, yang hanya terkait dengan proses reproduksi, ialah umpan balik positif, di mana pelepasan suatu hormon akan menyebabkan pelepasan lanjut yang lebih banyak. Sifat sinyal hormonal yang relatif lambat akan membatasi jenis proses fisiologis yang bisa dikontrol oleh hormon. Terdapat empat kategori umum : (i) homeostasis; (ii) reproduksi; (iii) tumbuh kembang; dan (iv) metabolisme. Semua sistem ini bekerja pada skala waktu yang berkisar dari beberapa menit sampai bertahun-tahun. (Ward, Clarke & Linden, 2009) Jaringan Penyekresi Hormon Utama Hormon adrenokortikopik (ACTH) Hormon pertumbuhan (GH) Hipofosis Anterior Hormon penstimulasi folikel (FSH) Hormon luteinisasi (LH) Prolaktin Hormon penstimulasi tiroid (TSH) Hipofisis Intermediet Jaringan Target Utama Korteks adrenal Hati, tulang, otot Gonad Gonad Kelenjar mamae Kelenjar tiroid

Hormon penstimulasi melanotropin Melanosit (MSH) Hormon antidiuretik (ADH) Ginjal Kelenjar mamae, uterus Hipotalamus

Hipofisis Posterior

Oksitoksin Melatonin

Pineal

Tiroksin Tiroid Tri-iodotironin Kalsitonin Paratiroid Pankreas Hormon paratiroid (PTH) Insulin Glukagon Kortikosteroid Aldosteron Adrenalin (epinefrin) Noradrenalin (norepinefrin) Testosteron Estradiol Progesteron Human chorionic gonadotropin Plasenta (hCG) Estradiol Progesteron

Sebagian besar jaringan Tulang, usus Tulang, usus Hati, otot, jaringan adiposa Multipel Ginjal Multipel Testis Ovarium, uterus Uterus

Korteks Adrenal

Medula Adrenal Gonad : laki-laki Gonad : perempuan

Ovarium, uterus

(Ward, Clarke & Linden, 2009)

A.

Kelenjar Hipotalamus

Gambar Hipotalamus
Sumber: http://endocrine101.wikispaces.com/Hypothalamus

Hipotalamus adalah bagian organ dari otak yang mempunyai fungsi yang sangat vital. Hipotalamus terletak di batang otak tepatnya di diencephalon. Hipotalamus berfungsi sebagai pengatur terpenting dari seluruh hormon-hormon endokrin. Hipotalamus juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem limfatik, dan merupakan konektor sinyal dari berbagai bagian otak menuju ke korteks otak besar. Akson dari berbagai sistem indera berakhir pada hipotalamus (kecuali sistem olfaction) sebelum informasi tersebut diteruskan ke korteks otak besar Hipotalamus berfungsi sebagai monitoring dan mengontrol berbagai aktivitas dari tubuh yang sangat banyak.

Hipotalamus mensekresikan berbagai hormon yang mempengaruhi otak, sistem saraf, dan kelenjar lainnya. Hormon dari hipotalamus mengatur berbagai fungsi tubuh. Beberapa fungsi denyut jantung, tekanan darah, tidur, nafsu makan, haus, dan mengatur cairan tubuh dan suhu tubuh. Hipotalamus berhenti di kelenjar hipofisis. Hipotalamus mengeluarkan hormon yang terlibat dalam siklus menstruasi. Hipotalamus adalah bagian yang sangat kecil, tetapi sangat penting dari diencephalon yang terlibat dalam mediasi endokrin, fungsi otonom dan perilaku. Hipotalamus adalah ventral-sebagian besar dari diencephalon. Seperti yang terlihat pada gambar, hipotalamus di kedua sisi dari ventrikel ketiga, dengan hipotalamus sulkus melukiskan perbatasan dorsal. Aspek ventral hipotalamus terkena pada dasar otak. Ia meluas dari batas rostral dari Chiasm optik ke batas caudal dari mammillary badan. Tiga rostral ke daerah ekor dibedakan di hipotalamus yang sesuai dengan tiga fitur yang menonjol di permukaan ventral nya: 1) Wilayah supraoptik atau anterior pada tingkat optik chiasme, 2) daerah

tuberal atau menengah di tingkat cinereum umbi (juga dikenal sebagai median eminence-tonjolan yang infundibulum meluas ke hipofisis), dan 3) yang mammillary atau wilayah posterior pada tingkat mammillary badan.

Komponen penting dari 3 rostral ke daerah ekor hipotalamus adalah sebagai berikut : Supraoptik Region. Di wilayah supraoptik (atas Chiasm optik) ada beberapa inti, yang paling menonjol menjadi supraoptik dan paraventrikular. Kedua intinya kecil, tetapi masing-masing mudah dikenali karena relatif sangat besar pada pewarnaan sel. Sel-sel di kedua inti mensekresi

vasopresin (ADH, antidiuretik hormon), oksitosin, dan CRH (corticotropin releasing hormone). ADH dan oksitosin yang diangkut menuruni akson dari sel-sel dalam inti supraoptik dan paraventrikular melalui infundibulum ke neurohypophysis (hipofisis posterior), di mana dilepaskan ke dalam darah aliran.

Jalur ini disebut sebagai saluran supraopticohypophysial. Kerusakan pada anterior hipotalamus blok produksi ADH, sehingga diabetes insipidus, yang ditandai dengan kehilangan air cepat dari ginjal. CRH dilepaskan oleh paraventricular dan diambil oleh sistem portal di mana ia memiliki aksinya pada lobus anterior hipofisisterakhir, perkembangan yang menarik adalah temuan dari proyeksi langsung dari mata ke suprachiasmatic nucleus dari daerah hipotalamus supraoptik. Hipotalamus adalah kelenjar yang mengandung "jam biologis" dengan fungsi sebagai mengatur fungsi tubuh tertentu yang bervariasi pada waktu yang berbeda dalam sehari (misalnya, suhu tubuh, sekresi hormon, kelaparan) atau mereka yang berbeda-beda selama beberapa hari (misalnya, siklus menstruasi). Proyeksi ini dari retina ke suprachiasmatic inti diperkirakan untuk memasok jam dengan informasi siang-malam

dibutuhkan untuk sinkronisasi diurnal (harian) irama (juga dikenal sebagai ritme sirkadian). Lesi hipotalamus sering mengganggu keadaan siklus tidurbangun (Tangient LLC, 2013). Fungsi (pemeliharaan hubungannya hipotalamus salah satunya ini yang adalah telah homeostasis dijelaskan alam dalam tersebut

keseimbangan). Beberapa dengan deskripsi inti

terlibat. Fungsi

memerlukan integrasi aktivitas dalam banyak sistem tubuh yang berbeda. Sebuah contoh yang baik adalah pengaturan suhu. Ketika suhu tubuh meningkat, neuron di bagian anterior giliran hipotalamus mekanisme untuk pembuangan panas yang mencakup berkeringat dan pelebaran pembuluh darah di kulit. Ketika suhu tubuh menurun, neuron di bagian posterior hipotalamus bertanggung jawab untuk produksi panas melalui menggigil, vasokonstriksi di kulit, dan penyumbatan keringat. Lesi pada bagian anterior dapat menyebabkan hipertermia (peningkatan suhu tubuh) dan lesi di bagian ekor dapat menyebabkan hipotermia ketika suhu lingkungan rendah (Tangient LLC, 2013). Aspek lain dari fungsi hipotalamus yang menarik untuk

dipertimbangkan adalah faktor emosional mempengaruhi fungsi tubuh. Hal ini juga diketahui bahwa banyak fungsi yang berada di bawah kontrol otonom atau hormon dipengaruhi untuk gelar besar oleh emosi. Misalnya, faktor emosional dapat mempengaruhi atau memblokir menstruasi, menyusui, atau fungsi seksual. Karena hipotalamus yang bersangkutan dengan kontrol emosi, dan regulasi dari kedua pelepasan hormon dan sistem saraf otonom, yang diduga terlibat dalammediasi efek seperti itu (Psycologymania, 2012).

B.

Kelenjar Pineal Kelenjar pineal adalah suatu bagian kecil di dalam otak yang bertanggung jawab atas efisiensi fungsi dari beberapa sistem metabolisme di dalam tubuh. Oleh sebagian orang kelenjar ini diberi tautan simbolik dengan apa yang disebut sebagai mata ketiga.

Sumber: http://endocrine101.wikispaces.com/Pineal

Kelenjar ini panjangnya hanya sekitar 7 milimeter dan terletak hampir di bagian tengah otak, di antara otak kanan da otak kiri. Kelenjar ini bertanggung jawab menghasilkan sebuah horman yaitu melatonin, yang berfungsi untuk mengatur ritme bagian tubuh. Ketika retina mata terstimulasi oleh cahaya, impuls dikirim ke saraf optik menuju bagian otak yang disebut hipotalamus. Dari hipotamus, saraf simpatetik berhubungan dengan kelenjar pineal dan memicu diproduksinya melatonin. Retina mata terstimulasi cahaya, impuls dikirim ke saraf optik menuju bagian otak yang disebut hipotalamus. Di sini, saraf simpatetik berhubungan dengan kelenjar pineal dan memicu diproduksinya melatonin. Hasilnya adalah ketika tidak adacahaya yang mencapai mata, misalnya pada malam hari, sinyal-sinyal initidaka lagi menghambat produksi melatonin dan kemudian memerintah tubuh untuk tidur. Melatonin pertama kali berhasil diisolasi pada tahun 1958 oleh seorang profesor dermatology bernama Aaron B. Lerner. Senyawa ini menjadi sangat populer sebagai suplemen dan disarankan sebagai penyembuh je lag dan kelainan tidur lainnya. Sementara berbagai kondidi seperti kondisi seperti kelainan yang berhubungan dengan musim, mungkin juga berhubungan dengan tingkat produksinya di otak. Seperti banyak aspek anatomi lainnya, deskripsi pertama mengenai kelenjar pineal diberikan oleh seorang doter dan filosuf Yunani bernama

Galen yang hidup pada tahun 130-210 M. Galen pula yang menjelaskan bahwa kelenjar itu mendapatkan namaya dari buah pinus yang berbentuk kerucut, yaitu Pinus pinea dalam bhasa latin, karena kemiripan penampilannya. Fungsi kelejar itu adalah mendukung pembuluh darah dan dia mengabikan pendapat lain jika kelenjar itu mengatur arus yang disebut sebgai pneuma psikis dalam otak. (Sherwood, 2005)

C.

Kelenjar Pituitary

Pituitary adalah kelenjar endokrin yang kira-kira sebesar kacang yang terletak di dasar tulang tengkorak dan di bawah otak. Kelenjar hipofisis mengeluarkan bermacam-macam hormon, termasuk hormon yang

mempengaruhi kelenjar lainnya, sehingga disebut kelenjar kepala bagi kelenjar endokrin lainnya. Hipofisis terdiri dari tiga bagian, yaitu lobus anterior, lobus anterior, lobus intermedia dan lobus posterior. Pituitary menggantung dari yang disebut Hypothalamus yang merupakan bagian dari otak yang dekat diatasnya.; diaerah sekitarnya banyak terdapat pembuluh darah dan syaraf-syaraf. Hormone yang diproduksi oleh Hypothalamus membwa sinyal atau pesan kepada kelenjar pituitary / hipofisis. Hypothalamus seperti lberfungsi sebagai switching atau pengatur terhadap sinyal yang berasal dari otak ke kelenjar hipofisis; yang mana akan menyalurkan sinyal atau pesan ke organ tubuh (Sherwood, 2005).

Pituitary terdiri dari anterior besar (adenohypophysis) dan posterior kecil (neurohyphysis). Terletak di kantung kecil dari tulang dasar otak yang disebut sella turcica yang berbentuk seperti sadel pada tulang sphenoid. Sella Turcica terletak didalam tengkorak didasar otak.Kelainan pituitary dapat menyebabkan beberapa gejala; bailk itu gangguna hormonal atau ganguan syaraf olehkarena letaknya dekat dengan otak, yang merupakan jalur dari syaraf dan pembuluh darah dan juga merupakan pengontrol dari hormone tubuh. Namun diagnosis dari kelainan pituitary seringkali sulit dilakukan dan lama untuk langsung diketahui karena seringkali gejalanya berkaitan dengan gejala gejala dengan penyakit lain; sehingga sangat tergantung terhadap gejala yang timbul; atau tanda tanda lainya, atau tindakan CT Scan / MRI terhadap posisi pituitary sangat diperlukan.

Berikut adalah tabel hormon-hormon yang dihasilkan oleh pituitary : No. 1. Hormon yang Dihasilkan Somatotrophic Hormone (STH) atau hormon pertumbuhan Fungsi Mengendalikan pertumbuhan tubuh, kelebihan hormon ini mengakibatkan pertumbuhan raksasa, sedangkan kekurangan hormon ini mengakibatkan kekerdilan. 2. Thyroid Stimulating Hormone (TSH) atau hormon perangsang tiroid 3. Adrenocorticotrophic Hormone (ACTH) Mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroksin. Mengendalikan kegiatan kelenjar adrenal dalam menghasilkan glukokortikoid. 4. Follicle Stimulating Hormone (FSH) atau hormon perangsang pembentuk folikel 5 Lutenizing Hormone (LH) Mengatur perkembangan ovarium (pemasak folikel). Pria: mengatur perkembangan testis dan spermatogenesis. Wanita : mempengaruhi ovulasi dan membentuk korpus luteum.

Pria : mengatur sekresi dari hormon testosterone dan aldosteron pada testis. 6 Hormon prolaktin (PRL) Mempengaruhi pertumbuhan kelenjar air susu. 7 Melanocyte Stimulating Hormon 8 Antidiuretic Hormon (ADH) (Iskandar, 2007) Pituitari/Hipofisis Bagian Posterior Kelenjar pituitary bagian belakang (posterior) menghasilkan dua jenis hormon, yaitu :
a)

Menyintesis melamin (pigmen warna).

Mencegah urin terlalu banyak.

Hormon antidiuretik (ADH) berfungsi mengatur kadar air dalam tubuh melalui pembentukan urin dan mencegah pengeluaran urin yang terlalu banyak.

b)

Hormon oksitosin berfungsi untuk kontraksi otot dalam proses kelahiran.

Pituitari/Hipofisis bagian intermediet Kelenjar pituitari bagian tengah (intermediat) menghasilkan Melanosit Stimulating Hormon(MSH) yang berfungsi untuk menaikkan pigmentasi kulit (warna kulit). Hormon pituitary bagian intermediate ini juga banyak di jumpai pada beberapa jenis hewan.

Apa yang terjadi jika Pituitary memproduksi terlalu banyak atau sedikit? Suatu ketidak seimbangan terjadi, mendorong ke arah lebih dari selusin kelainan dari sistem endocrine itu. Kekurangan dari hormon gondok, hormon tentang ginjal berkenaan dengan selaput (cortisol) atau hormon yang antidiuretic (vasopressin) adalah yang segera memerlukan perawatan. Pasien dengan kelainan dari hormon yang lain, masih dapat dikompromikan (Psikologmania 2012).

Apa yang menyebabkan Pituitary mengalami gangguan? Tumor (umumnya jinak), radang infeksi/peradangan dan kecelakaan menyebabkan kelenjar mengalami gangguan, seperti halnya metastasis atau penyebaran dari tumor lain pada pituitary (jarang terjadi). Pengobatan radiasi [bagi/kepada] otak dapat juga menyebabkan gangguan sel pituitary normal. Suatu tumor pituitary adalah suatu pertumbuhan yang abnormal tentang sel pituitary. Pituitary tumor dapat nonfunctional (tidak

mengeluarkan hormon) atau menghasilkan hormon yang spesifik, seperti prolactin (menyebabkan ketidaksuburan/kemandulan, libido yang dikurangi, dan osteoporosis), hormon pertumbuhan (menyebabkan acromegaly), ACTH (menyebabkan Cushings), TSH (menyebabkan hypothyroidism), tumor ini bertindak menurut sel dari asal mereka dan dinamai untuk jenis sel yang spesifik di/terpengaruh, sebagai contoh, jika suatu tumor akibat suatu prolactin yang memproduksi sel, pasien dengan suatu prolactinoma-a prolactin mengeluarkan pituitary tumor yang adalah umum dan dapat diberi perawatan. Prolactin tinggi akan menekan produksi dari hormon pituitary dan merangsang produksi dari estrogen atau testosterone. Orang dengan tumor ini dapat kehilangan kemamampuan sexnya dan tingkatan testosteron rendah dapat menyebabkan kemandulan. Untuk wanita dapat menyebakan gangguan haid. Penting diingat bahwa kebanyakan tumor pituitary tergolong yang jinak. Jika dapat didiagnosa dini, dapat di sembuhkan engan sempurna jika tidak Tumor dapat menjadi Macroadenoma yang dapat menekan syaraf mata (menyebakan penglihatan menjadi kabur; melihat ganda) dan otak dan gangguan Pituitary (membatasi atau tidak dapat memperoduksi hormon produksi). Tumor yang besar dapat juga menyebar ke sinus yang penuh dengan cekungan, yang merpakan tempat nadi/jalan utama karotid, pembuluh darah untuk mengalirkan mata, dan mempengaruhi pergerakan mata. Tindakan di sekitar sinus yang penuh dengan cekungan adalah sulit dan harus dilakukan oleh suatu ahli bedah yang berpengalaman pituitari.

Tumor dapat juga mengeluarkan terlalu banyak dari suatu hormon, menyebabkan hipertensi, kencing manis, kelainan fungsi hati, kelainan fungsi tubuh seksual, ketidaksuburan/kemandulan, osteoporosis, radang sendi, kematian dan penyakit jantung yang dapat menyebabkan kematian. Gejala yang timbul oleh pituitary tumor tidak mudah untuk cepat dikenali dan sukar untuk didiagnosa awal oleh dokter; bagi pasien yang mempunyai gejala baik dari yang kekurangan hormonal disebabkan oleh tekanan dari pituitary atau nya tangkai) atau kelebihan hormon ( disebabkan oleh produksi hormon yang tak dapat dikontrol oleh tumor pituitary). Bahkan di abad 21 ini masih banyak terjadi keterlambatan deteksi dini Tumor ini hal ini disebabkan karena diagnosa pituitary memerlukan dokter ahli yang memang menanganinya dan banyak dokter yang tidak memaahami gejalagejala dari tumor tersebut. (Sherwood, 2005)

D.

Kelenjar Tiroid Kelenjar tiroid berjumlah sepasang (dua lobus) dan terletak di leher bagian depan dan di bawah jakun. Kelenjar gondok menghasilkan hormon tiroksin.Hormon tiroksin mengandung yodium.Funsgi hormon tiroksin adalah mengatur pertukaran zat (metabolisme) di dalam tubuh serta mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta mental. Kekurangan yodium dalam makanan akan mengakibatkan terganggunya pembentukan tiroksin. Bila kekurangan yodium berlangsung dalam waktu lama maka dapat mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok. Bila kelenjar tiroid memproduksi terlalu banyak tiroksin, akan mengakibatkan

metabolism tubuh berlangsung dengan cepat. Penderita umumnya menjadi gelisah, emosional, pernafasan cepat dan tidak teratur, terlalu aktif, dan berat badan menjadi menurun.Selain itu mata menjadi melebar, bola mata menonjol ke luar, dan kelenjar tiroid membengak. Sebaliknya, kekurangan hormon tiroksin akan menyebabkan menurunnya metabolisme,

melembeknya otot yang berlebihan, tubuh menjadi gemuk, dan lamban serta lambat berpikir. Pada masa kanak-kanak, kekurangan hormone tiroksin

mengakibatkan pertumbuhannya menjadi lambat dan mentalnya menjadi terbelakang.Kelainan ini disebut kretenisme. Biasanya penderita memiliki ciri ciri: lidahnya membesar, bibirnya tebal dan selalu terbuka (Mikrajuddin, 2007).

Tiroid merupakan kelenjar dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat dibawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus, sehingga bentuknya menyerupai huruf H atau dasi kupu-kupu. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila membesar, dokter dapat merabanya dengan mudah dan suatu benjolan bisa tampak dibawah atau di samping jakun. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid, yang mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh. Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh melalui 2 cara: 1. Merangsang hampir setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein 2. Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel. Jika sel-sel bekerja lebih keras, maka organ tubuh akan bekerja lebih cepat.Untuk menghasilkan hormon tiroid, kelenjar tiroid memerlukan yodium, yaitu suatu eleman yang terdapat di dalam makanan dan air.Kelenjar tiroid menangkap yodium dan mengolahnya menjadi hormon tiroid.Setelah hormon tiroid digunakan, beberapa yodium di dalam hormon kembali ke kelenjar tiroid dan didaur-ulang untuk kembali menghasilkan hormon tiroid (Waoli, 2013).

Tubuh memiliki mekanisme yang runit untuk menyesuaikan kadar hormon tiroid. Hipotalamus (terletak tepat di atas kelenjar hipofisa di otak) menghasilkan thyrotropin-releasing hormone, yang menyebabkan kelenjar hipofisa mengeluarkan thyroid-stimulating hormone (TSH). Sesuai dengan namanya, TSH ini merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid.Jika jumlah hormon tiroid dalam darah mencapai kadar tertentu, maka kelenjar hipofisa menghasilkan TSH dalam jumlah yang lebih sedikit; jika kadar hormon tiroid dalam darah berkurang, maka kelenjar hipofisa mengeluarkan lebih banyak TSH. Hal ini disebut mekanisme umpan balik. Hormon tiroid terdapat dalam 2 bentuk: 1. Tiroksin (T4), merupakan bentuk yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid, hanya memiliki efek yang ringan terhadap kecepatan metabolisme tubuh. 2. Tiroksin dirubah di dalam hati dan organ lainnya ke dalam bentuk aktif, yaitu tri-iodo-tironin (T3). Perubahan ini menghasilkan sekitar 80% bentuk hormon aktif, sedangkan 20% sisanya dihasilkan oleh kelenjar tiroid sendiri. Perubahan dari T4 menjadi T3 di dalam hati dan organ lainnya, dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya kebutuhan tubuh dari waktu ke waktu. Sebagian besar T4 dan T3 terikat erat pada protein tertentu di dalam darah dan hanya aktif jika tidak terikat pada protein ini. Dengan cara ini, tubuh mempertahankan jumlah hormon tiroid yang sesuai dengan kebutuhan agar kecepatan metabolisme tetap stabil. Agar kelenjar tiroid berfungsi secara normal, maka berbagai faktor harus bekerjasama secara benar : Hipotalamus Kelenjar Hipofisa Hormon Tiroid (ikatannya dengan protein dalam darah dan perubahan T4 menjadi T3 di dalam hati serta organ lainnya) (Waoli, 2013)

Untuk mengetahui fungsi kelenjar tiroid, bisa dilakukan beberapa pemeriksaan laboratorium. Salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan adalah pengukuran kadar TSH di dalam darah. Hormon ini

merangsang kelenjar tiroid, karena itu jika kelenjar tiroid kurang aktif maka kadar hormon ini tinggi; sedangkan jika kelenjar tiroid terlalu aktif, maka kadar hormon ini rendah. Biasanya pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah pengukuran kadar TSH dan kadar T4 yang bebas dalam darah. Tetapi bisa juga dilakukan pengukuran kadar protein globulin pengikat tiroksin, karena kadar protein yang Abnormal bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam menilai kadar hormon tiroid total. Penderita penyakit ginjal, beberapa penyakit keturunan atau pemakaian steroid anabolik memiliki kadar globulin pengikat tiroksin yang rendah. Sebaliknya, wanita hamil, pemakai pil KB atau estrogen lainnya, penderita Hepatitis stadium awal dan beberapa penyakit lainnya, memiliki kadar globulin pengikat tiroksin yang tinggi (Waoli, 2013). Beberapa pemeriksaan bisa dilakukan pada kelenjar tiroid. Jika diduga terdapat pertumbuhan di dalam kelenjar tiroid, dilakukan pemeriksaan USG, untuk menentukan apakah pertumbuhan ini berupa cairan atau padat. Skening kelenjar tiroid dengan yodium radioaktif atau teknetium, bisa menunjukkan kelainan fisik pada kelenjar tiroid. Skening tiroid juga bisa membantu menentukan apakah fungsi dari suatu daerah tiroid bersifat normal, terlalu aktif atau kurang aktif. Jika masih belum yakin apakah kelainannya terletak pada kelenjar tiroid atau kelenjar hipofisa, maka dilakukan pemeriksaan perangsangan fungsional. Pada salah satu dari pemeriksaan ini dilakukan penyuntikan thyrotropin-releasing hormone intravena dan pemeriksaan darah untuk mengukur respon dari kelenjar hipofisa (Waoli, 2013).

Abnormalitas Kelenjar Tiroid Gangguan fungsi dan morfologi kelenjar tiroid merupakan topik yang mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir ini. Penyebab gangguan tiroid memang belum bisa diketahui pasti, namun peran faktor lingkungan, polusi, perubahan nutrisi tidak dapat diabaikan. Faktor lain dari gangguan tiroid adalah tingkat kedasaran masyarakat yang semakin membaik, terutama di kota besar. Diperlukan penanganan diagnostik yang tepat untuk

mendapatkan diagnostik sedini mungkin, misalnya USG, FBAB (Fine needle aspiration biopsy), radionuklir, dan lainlain. Disamping

pemeriksaan hormon tiroid itu sendiri. Sekitar 3,7 % populasi di dunia mempunyai nodul tiroid jika dilakukan pemeriksaan dengan metode palpasi (perabaan), namun jika dilakukan pemeriksaan USG makan ditemukan 20% 70% populasi yang mempunyai nodul tiroid. Nilai ini tidak jauh berbeda dengan pemeriksaan saat autopsy. Maka saat ini USG hanya bisa menilai apakah sebuah benjolan di daerah tiroid adalah sebuah kista cair atau padat, menilai jumlahnya dan memperkirakan besarnya. Namun saat ini USG dapat menilai

kecenderungan nodul tiroid kea rah keganasan atau jinak, menilai apakah ada kemungkinan nodul tersebut membesar, mencari tahu underlying disease (penyakit yang mendasarinya) dan membantu penentuan terapi pilihan. Gangguan kelenjar tiroid kerap tidak disadari karena tak ada gejala khusus. Padahal, jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini, kelainan tiroid dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup. Karena itu, masyarakat perlu mewaspadai kelainan tiroid. Umumnya, kelainan tiroid ditandai dengan pembesaran kelenjar tiroid, yang dikenal awam dengan gondok. Gejala utama hipertiroid antara lain, turunnya berat badan meski banyak makan, keringat berlebihan, jantung berdebardebar, dan mata menonjol. Hipertiroid dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh, termasuk gangguan irama jantung, bahkan gagal jantung. Ranah ilmu kedokteran nuklir pun tak kalah berkembang seiring makin banyaknya kasus kasus kelainan tiroid yang bisa ditangani oleh para ahli di bidang ini. Aplikasi kodokteran nuklir dalam kelainan kelenjar tiroid bisa berupa alat diagnostik, terapi, dan penelitian. Dari segi diagnostic, pemeriksaan yang sering dilakukan misalnya uptake test, supresi tes, scintigrafi, menilai sisa jaringan tiroid setelah operasi pengangkatan tiroid dan mencari lesi metastatik (penyebaran sel kanker). Dari segi terapi, ilmu kedokteran nuklir sangat membantu penanganan kasus hipertiroid, beberapa jenis kanker tiroid, serta lesi metastatik kanker tiroid..

Gangguan tiroid (kelenjar gondok) 4 5 kali lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Sebagian besar terjadi pada saat wanita hamil karena adanya perubahan hormonal dan metabolism. Fungsi tiroid yang baik sangat penting untuk ibu dan janin yang dikandungnya. Khususnya selama 3 bulan pertama kehamilan, pada saat itu hanya ibu yang menjadi sumber hormon tiroid bagi janin. Gangguan tiroid pada ibu hamil yang paling sering terjadi adalah kekurangan hormon tiroid. Kekurangan tiroid pada ibu hamil umumnya ditandai dengan nilai TSH tinggi yang ditemukan pada sekitar 2,5 % kehamilan normal. 4 9 % wanita usia subur (18 45 tahun) diketahui memiliki kadar TSH yang meningkat. Kadar TSH yang tinggi mempengaruhi fungsi tiroid secara signifikan, khususnya terjadi selama kehamilan. Individu yang berisiko tinggi untuk mengalami kekurangan tiroid selama kehamilan adalah individu yang memiliki : Kecenderungan kekurangan tiroid sebelum hamil Riwayat penyakit tiroid autoimun dalam keluarga dan diri sendiri Diabetes mellitus tipe 1 Kelainan autoimun lain, seperti arthritis rheumatoid, sindrom sjogren Penurunan cadangan tiroid (kemungkinan disebabkan riwayat iradasi leher dan tiroidektomi sebagian)

Penyakit tiroid dan kehamilan memiliki gejala yang sama, sehingga sulit untuk mengetahui gejala apa yang muncul terlebih dahulu. Hal ini penting untuk dibedakan karena perubahan fungsi tiroid ibu hamil dapat menyebabkan komplikasi yang parah pada ibu dan anak, sehingga diperlukan evaluasi laboraturium untuk mengetahui status tiroid ibu hamil. Penyakit tiroid yang dialami ibu hamil selama dalam masa kehamilan

khususnya di trisemester pertama dan ketiga adalah: perasaan lelah, mual, penambahan berat badan, perubahan kulit, rambut, dan kuku, konstipasi, pusing, perubahaan mood (perasaan), dan sakit kepala. Pemeriksaan TPO dapat digunakan untuk : Membantu menegakkan diagnosis penyakit tiroid autoimun

Menentukan adanya faktor risiko seperti: penyakit tiroid autoimun, kekurangan tiroid selama terapi interferon alfa, interleukin 2 atau litium, disfungsi tiroid selama terapi amiodarone, kekurangan tiroid pada pasien sindrom down, disfungsi tiroid selama kehamilan dan tiroiditis post partum, keguguran kegagalan pembuahan di luar kandungan atau in vitro fertilization ( IVF).

Gambar abnormalitas kelenjar tiroid

E.

Kelenjar Paratiroid Kelenjar paratiroid berjumlah dua pasang dan menempel pada bagian belakang kelenjar tiroid. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon paratiroid (parathormon). Hormon paratiroid berfungsi mengatur

metabolism kalsium dalam darah, meningkatkan pelepasan kalsium dari tulang, meningkatkan penyerapan kalsium di usus. Kelebihan hormon paratiroid dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh dan mengakibatkan kadar kalsium dan membentuk batu ginjal. Kelebihan hormon paratiroid disebabkan hiperfungsi dari kelenjar tiroid.Keadaan demikian disebut hiperparatiroidisme.Sebaliknya, bila kekurangan hormone paratiroid dapat mengakibatkan gejala kekejangan otot.Keadaan yang demikian disebut hipoparatiroidisme (Mikrajuddin, 2007).

Kelenjar ini menghasilkan parathormon (PTH) yang berfungsi untuk mengatur konsentrasi ion kalsium dalam cairan ekstraseluler dengan cara mengatur : absorpsi kalsium dari usus, ekskresi kalsium oleh ginjal, dan pelepasan kalsium dari tulang. Hormon paratiroid meningkatkan kalsium darah dengan cara merangsang reabsorpsi kalsium di ginjal dan dengan cara penginduksian selsel tulang osteoklas untuk merombak matriks bermineral pada osteoklas untuk merombak matriks bermineral pada tulang sejati dan melepaskan kalsium ke dalam darah. Jika kelebihan hormon ini akan berakibat berakibat kadar kalsium dalam darah meningkat, hal ini akan mengakibatkan terjadinya endapan kapur pada ginjal.Jika kekurangan hormon menyebabkan kekejangan disebut tetanus.Kalsitonin mempunyai fungsi yang berlawanan dengan PTH, sehingga fungsinya menurunkan kalsium darah. Fungsi umum kelenjar paratiroid adalah: Mengatur metabilisme fosfor Mengatur kadar kalsium darah (Ardiansyah, 2010)

Paratiroid menempel pada tiroid. Hormonnya mengontrol tingkat kalsium dan fosfor dalam darah. Tingkat kalsium dalam darah sangat penting sebab berperan dalam dalam penggumpalan darah, kontraksi otot, dan aksi syarat. Kebanyakan fosfor dalam tubuh bergabung dengan kalsium dalam tulang dan keseimbangan asimilasi serta eksresinya berkaitan erat dengan kalsium. Fungsi paratiroid sebagai pengatur kadar kalsium. Tulang akan secara tetap mengalami penghancuran dan perbaruan. Kerja dari paratiroid adalah mengambil kalsium dari cadangan dan menambahkan ke dalam cairan tubuh bila dibutuhkan. Konsentrasi dari kalsium dalam cairan tubuh dapat bekerja dengan normal jika dijaga dalam batas-batas tertentu. Paratiroid yang bekerja dalam keadaan tidak normal dapat menyebabkan ganguan kesehatan seperti kejang. Kalsium dan fosfor sangat penting untuk kerja normal dari otot dan syaraf. Kegagalan paratiroid sering menyebabkan ketidakseimbangan dalam tingkat kalsium dan fosfor, di mana hal ini menghasilkan kontraksi otot berlebihan (Tri, 2011). Kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran

makroskopik lemak coklat kehitaman. Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferior.

Macam-macam kelenjar paratiroid Pembagian kelenjar paratiroid berdasarkan kadar kalsium yang dihasilkan: Hipoparatiroidisme Terjadinya kekurangan didalam darah atau Hipokalsemia mengakibatkan keadaan yang disebut telani. Dengan gejala khas kejang dan konvulsi, kususnya pada tangan dan kaki yang disebut karpopedal spasmus. Gejalaini dapat diringankan dengan pemberian kalsium.

Hiperparatiroidisme Biasanya ada sangkut pautnya dengan pembesaran (tumor) kelenjar. Keseimbangan distrusi kalium terganggu, kalsium

dikeluarkan lagi dari tulang dan dimasukan kembali keserum darah akibatnya terjadi penyakit tulang dengan tanda-tanda yang khas beberapa bagian kropos, yang dikenal sebagai otatis fibrosc stistika parens dan terbentuk kristal pada tulang, kalsiumnya diedarkan didalam ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal dan kegagalan ginjal hiperfungsi paratiroid terjadi memproduksi lebih banyak hormon paratiroksin dari biasanya. Tumor paratiroid menyebabkan kadar parathormon terlalu banyak di dalam darah. Hal ini mengakibatkan terambilnya fosfor dan kalsium dalam tulang, sehingga urin banyak mengandung kapur dan fosfor. Pada orang yang terserang penyakit ini tulang mudah sekali patah. Penyakit ini disebut von Recklinghousen.

Fungsi kelenjar paratiroid


Mengatur metabilisme fosfor. Memelihara kosentrasi ion kalsium yang tetap dalam plasma. Mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat melalui ginjal. Mempercepat absorsi kalsium di intestine.

Jika kalsium berkurang, hormone paratiroid menstimulasi reabsorsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah.

Menstimulasi dan mentransportasi kalsium dan fosfat melalui membran sel.

Kelenjar Paratiroid

Abnormalitas Kelenjar Paratiroid 1. Gangguan Paratiroid Meningkatkan Resiko Batu Ginjal Semua organ dalam tubuh memiliki keterkaitan satu sama lain, yang dapat meningkatkan risiko penyakit tertentu jika salah satu organ tidak dapat berfungsi dengan baik. Studi terbaru menyatakan bahwa gangguan pada kelenjar paratiroid terkait dengan batu ginjal.Peneliti dari University of California Los Angeles (UCLA), menetapkan bahwa hiperparatiroidisme bertanggungjawab adalah terhadap penyebab utama darah tinggi, yang dalam

meningkatnya

kadar

kalsium

tubuh.Tubuh yang kekurangan kalsium dapat menyebabkan osteoporosis dan patah tulang, tetapi ketika tubuh kelebihan kalsium dalam darah juga dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti batu ginjal dan disfungsi ginjal (Mayasari, 2013). Batu ginjal adalah kondisi dimana dalam ginjal terbentuk massa keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih dan dapat menyebabkan nyeri, pendarahan, penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Massa keras tersebut dapat terjadi akibat kadar tinggi mineral seperti kalsium dalam darah yang mengendap di ginjal.Kelenjar paratiroid yang terletak di leher, di sebelah kelenjar tiroid, berfungsi mengatur kadar

kalsium tubuh. Ketika kelenjar paratiroid ini tidak mampu berfungsi dengan baik, hal ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam kinerjanya, misalnya dengan melepaskan kalsium dari tulang ke dalam aliran darah.Peneliti menganalisa database 3,5 juta pasien yang pernah berobat di rumah sakit Kaiser Permanente Southern California. Dari data hasil laboratorium tersebut, peneliti mengidentifikasi 15.234 kasus dari pasien yang diketahui memiliki tingkat tinggi kalsium dalam darahnya. Dari kasus tersebut, sekitar 87 persen ditemukan memiliki

hiperparatiroidisme dan telah berada pada risiko mengembangkan batu ginjal.Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism, seperti ditulis Health India, Senin (25/2/2013) (Mayasari, 2013). "Temuan ini menunjukkan bahwa hiperparatiroidisme menjadi alasan mengapa kadar kalsium dalam darah seseorang meningkat. Sehingga, jika Anda menemukan bahwa kadar kalsium dalam darah Anda sangat tinggi saat melakukan pemeriksaan kesehatan, lakukan juga pemeriksaan tingkat hormon paratiroid," kata Michael W. Yeh, pemimpin studi (Mayasari, 2013).

Batu Ginjal 2. Primary hiperparathyroidism (hiperparatiroidisme primer) Kebanyakan pasien yang menderita hiperparatiroidisme primer mempunyai konsentrasi serum hormon paratiroid yang tinggi.

Kebanyakan juga mempunyai konsentrasi serum kalsium yang tinggi, dan bahkan juga konsentrasi serum ion kalsium yang juga tinggi. Tes

diagnostic

yang

paling

penting

untuk

kelainan

ini

adalah

menghitungserum hormone paratiroid dan ion kalsium (Stephen J. Marx, M.D, 2000, Volume 343:1863-1875). Penderita hiperparatiroid primer mengalami penigkatan resiko terjangkit batu ginjal sejak 10 tahun sebelum didiagnosis.Pengangkatan paratiroid mereduksi resiko batu ginjal hingga 8.3%, dan bahkan setelah 10 tahun sejak pengangkatan, resiko menjadi hilang (Charlotte L Mollerup, 2002, Volume 325:807). Kira-kira 85% dari kasus hiperparatiroid primer disebabkan oleh adenoma tunggal. Sedangkan 15% lainnya melibatkan berbagai kelenjar (contoh berbagai adenoma atau hyperplasia). Sedikit kasus

hiperparatiroidisme utama disebabkan oleh paratiroid karsinoma. Etiologi dari adenoma dan hyperplasia pada kebanyakan kasus tidak diketahui. Kasus keluarga dapat terjadi baik sebagai bagian dari berbagai sindrom endrokin neoplasia, syndrome hiperparatiroid tumor atau

hiperparatiroidisme turunan. Familial hypocalcuric dan hypercalcemia dan neonatal severe hyperparathyroidism juga termasuk ke dalam kategori ini (Lawrence Kim, MD, 2005, section 4). Adapun patologi hiperparatiroid primer adalah: Mungkin akibat dari hiperplasia paratiroid, adenoma atau karsinoma. Parathormon yang meningkat menyebabkan resorpsi tulang, ekskresi ginjal menurun dan absorpsi kalsium oleh usus meningkat. Perubahan pada tulang (osteitis fibrosa sistika), nefrokalsinosis atau nefrolitiasis, dan kalsifikasi kornea. Hiperparatiroidisme primer ditandai dengan peningkatan kadar hormon hiperparatiroid serum, peningkatan kalsium serum dan penurunan fosfat serum. Pada tahap awal, pasien asimtomatik, derajat peningkatan kadar kalsium serum biasanya tidak besar, yaitu antara 1112 mg/dl (normal, 9-11 mg/dl). Pada beberapa pasien kalsium serum berada didalam kisaran normal tinggal. Namun, bila kadar kalsium serum dan PTH diperhatikan bersamaan, kadar PTH tampaknya meningkat secara kurang proporsial. Pada beberapa pasien karsinoma paratiroid,

kadar kalsium serum bisa sangant tinggi (15-20mg/dl). Salah satu kelemahan diagnostik adalah terjadinya penurunan bersihan fragmen akhir karboksil PTH pada pasien gagal ginjal, menyebabkan peningkatan palsu kadar PTH serum total. Penetuan PTH amino akhir atau PTH utuh direkomendasikan untuk menilai fungsi paratiroid pasien gagal ginjal. (Clivge R. Taylor, 2005, 783)Hiperparatiroidisme didiagnosis ketika tes menunjukkan tingginya level kalsium dalam darah disebabkan tingginya kadar hormone paratiroid. Penyakit lain dapat menyebabkan tingginya kadar kalsium dalam darah, tapi hanya hiperparatiroidisme yang menaikkan kadar kalsium karena terlalu banyak hormon paratiroid. Tes darah mempermudah diagnosis hiperparatiroidisme karena menunjukkan penilaian yang akurat berapa jumlah hormon paratiroid. Sekali diagnosis didirikan, tes yang lain sebaiknya dilakukan untuk melihat adanya komplikasi. Karena tingginya kadar hormon paratiroid dapat

menyebabkan kerapuhan tulang karena kekurangan kalsium, dan pengukuran kepadatan tulang sebaiknya dilakukan untuk memastikan keadaan tulang dan resiko fraktura. Penggambaran dengan sinar X pada abdomen bisa mengungkapkan adanya batu ginjal dan jumlah urin selama 24 jam dapat menyediakan informasi kerusakan ginjal dan resiko batu ginjal. Sebaiknya dilakukan pengukuran jumlah kadar kalsium dan albumin atau kadar ion kasium. Hiperkalsemia sebaiknya ditandai dengan lebih dari satu penyebab sebelum didirikan diagnosis. Ujicoba kadar hormon paratiroid adalah inti penegakan diagnosis. Peningkatan kadar hormon paratiroid disertai dengan peningkatan kadar ion kalsium adalah diagnosis hiperparatiroidisme primer. Pengukuran kalsium dalam urin sangat diperlukan. Peningkatan kadar kalsium dengan jelas

mengindikasikan pengobatan dengan cara operasi. Operasi pengangkatan kelenjar yang semakain membesar adalah penyembuhan utama untuk 95% penderita hiperparatiroidisme. Apabila operasi tidak memungkinkan atau tidak diperlukan, berikut ini tindakan yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar kalsium : Memaksakan cairan.

Pembatasan memakan kalsium. Mendorong natrium dan kalsium diekskresikan melalui urin dengan menggunakan larutan garam normal, pemberiaan Lasix, atau Edrecin. Pemberian obat natrium, kalium fosfat, kalsitonin, Mihracin atau bifosfonat. Obati hiperkalsemia dengan cairan, kortikosteroid atau mithramycin). Operasi paratiroidektomi. Obati penyakit ginjal yang mendasarinya.

3. Secondary hyperparathyroidisme (hiperparatiroidisme sekunder) Hiperparatiroidisme sekunder adalah produksi hormon paratiroid yang berlebihan karena rangsangan produksi yang tidak normal.Secara khusus, kelainan ini berkitan dengan gagal ginjal akut. Penyebab umum lainnya karena kekurangan vitamin D. Hipersekresi hormon paratiroid pada hiperparatiroidisme sekunder sebagai respons terhadap penurunan kadar kalsium terionisasi didalam serum. Hiperparatiroidisme sekunder adalah hiperplasia kompensatorik keempat kelenjar yang bertujuan untuk mengoreksi penurunan kadar kalsium serum. Pada sebagian besar kasus, kadar kalsium serum dikoreksi ke nilai normal, tetapi tidak mengalami peningkatan. Kadang-kadang, terjadi overkoreksi dan kadar kalsium serum melebihi normal; pasien kemudian dapat mengalami gejala hiperkalsemia. Pada keadaan gagal ginjal, ada banyak factor yang merangsang produksi hormon paratiroid berlebih.Salah satu faktornya termasuk hipokalsemia, kekurangan produksi vitamin D karena penyakit ginjal, dan hiperpospatemia. Hiperpospatemia berperan penting dalam

perkembangan hyperplasia paratiroid yang akhirnya akan meningkatkan produksi hormon paratiroid. Produksi hormon paratiroid yang berlebih disertai dengan gagal ginjal dapat menyebabkan berbagai macam penyakit tulang, penyakit tulng yang sering terjadi adalah osteitis fibrosa cystica, suatu penyakit meningkatnya resorpsi tulang karena peningkatan kadar hormon

paratiroid. Penyakit tulang lainnya juga sering terjadi pada pasien, tapi tidak muncul secara langsung. Hiperparatiroidisme sekunder biasanya disertai dengan penurunan kadar kalsium serum yang normal atau sedikit menurun dengan kadar PTH tinggi dan fosfat serum rendah. Perubahan tulang disebabkan oleh konsentrasi PTH yang tinggi sama dengan pada hiperparatiroidisme primer. Beberapa pasien menunjukkan kadar kalsium serum tinggi dan dapat mengalami semua komplikasi ginjal, vaskular, neurologik yang disebabkan oleh hiperkalsemia. Semua pasien yang menderita gagal ginjal sebaiknya kadar kalsium, fosfor, dan level hormon paratiroidnya dimonitor secara reguler. Pasien hiperparatiroidisme biasanya mempunyai kadar kalsium yang dibawah normal dan peningkatan kadar hormon paratiroid. Penyembuhan Tidak seperti hiperparatiroidisme, manajemen medis adalah hal yang utama untuk perawatan hiperparatiroidisme sekunder. Penyembuhan dengan calcitriol dan kalsium dapat mencegah atau meminimalisir hiperparatiroidisme sekunder. Kontrol kadar cairan fosfat dengan diet rendah fosfat juga penting. Pasien yang mengalami predialysis renal failure, biasanya mengalami peningkatan kadar hormon paratiroid. Penekanan sekresi hormon paratiroid dengan low-dose calcitriol mungkin dapat mencegah hiperplasia kelenjar paratiroid dan hiperparatiroidisme sekunder. Pasien yang mengalami dialysis-dependent chronic failure membutuhkan calcitriol, suplemen kalsium, fosfat bebas aluminium, dan cinacalcet (sensipar) untuk memelihara level cairan kalsium dan fosfat. Karena pasien dialysis relatif rentan terhadap hormon paratiroid.Pasien yang mengalami nyilu tulang atau patah tulang, pruritus, dan calciphylaxis perlu perawatan dengan jalan operasi. Kegagalan pada terapi medis untuk mengontrol hiperparatiroidisme juga mengindikasikan untuk menjalani operasi. Umumnya, jika level hormon paratiroid lebih tinggi dari 400-500 pg/mL setelah pengoreksian kadar kalsium dan level fosfor dan tebukti adanya kelainan pada tulang, pengangkatan kelenjar paratiroid sebaiknya dipertimbangkan. Pengobatan hiperparatiroidisme sekunder pada kebanyakan pasien berhasil.Pasien yang menjalani

pengangkatan kelenjar paratiroid mempunyai kira-kira 10% resiko kumatnya penyakit. Hal ini mungkin berkaitan dengan fungsi yang berlebihan atau hilangya kelenjar dileher atau hiperplasia. Adakalanya pasien yang telah menjalani operasi tetap mengalami hiperparatiroidisme, jika jaringan telah dicangkkok, adakalanya membalikkan hipoparatiroidisme. pencagkokan dapat

4. Hyperparathyroidism tersier (hiperparatiroidisme tersier) Hiperparatiroidisme tersier adalah perkembangan dari

hiperparatiroidisme sekunder yang telah diderita lama. Penyakit hiperparatiroidisme tersier ini ditandai dengan perkembangan

hipersekresi hormon paratiroid karena hiperkalsemia. Penyebabnya masih belum diketahui. Perubahan mungkin terjadi pada titik pengatur mekanisme kalsium pada level hiperkalsemik. Hiperparatiroidisme tersier paling umum diamati pada pasien penderita hiperparatiroidisme sekunder yang kronis dan yang telah menjalani cangkok ginjal. Kelenjar hipertrophied paratiroid gagal kembali menjadi normal dan terus mengeluarkan hormon paratiroid berlebih, meskipun kadar cairan kalsium masih dalam level normal atau bahkan berada diatas normal. Pada kasus ini, kelenjar hipertropid menjadi autonomi dan menyebabkan hiperkalsemia, bahkan setelah penekanan kadar kalsium dan terapi kalsitriol. Penyakit tipe ketiga ini sangat berbahaya karena kadar phosfat sering naik.

6. Hipoparatiroid Hipoparatiroid adalah gabungan gejala dari produksi hormon paratiroid yang tidak adekuat. Keadaan ini jarang sekali ditemukan dan umumnya sering sering disebabkan oleh kerusakan atau pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi paratiroid atau tiroid, dan yang lebih jarang lagi ialah tidak adanya kelenjar paratiroid (secara congenital). Kadang-kadang penyebab spesifik tidak dapat diketahui. Di luar negeri, terutama di Amerika Serikat kasus ini agak jarang ditemukan.Kira-kira

1000 kasus setahun yang dapat ditemukan menderita penyakit ini.Di Indonesia, penyakit ini juga agak jarang ditemukan. Kira-kira 100 kasus dalam setahun yang dapat diketahui. Wanita mempunyai resiko untuk terkena hipoparatiroidisme lebih besar dari pria.Jarang sekali terjadi hipoparatiroidisme primer, dan jika ada biasanya terdapat pada anak-anak dibawah umur 16 tahun. Ada tiga kategori dari hipoparatiroidisme: 1) Defisiensi sekresi hormon paratiroid, ada dua penyebab utama: Post operasi pengangkatan kelenjar partiroid dan total tiroidektomi. Idiopatik, penyakit ini jarang dan dapat kongenital atau didapat (acquired). 2) Hipomagnesemia. 3) Sekresi hormon paratiroid yang tidak aktif. 4) Resistensi terhadap hormon paratiroid (pseudohipoparatiroidisme) Pada hipoparatiroidisme terdapat gangguan dari metabolisme kalsium dan fosfat, yakni kalsium serum menurun (bisa sampai 5 mgr%) dan fosfat serum meninggi (bisa sampai 9,5-12,5 mgr%).

Pada post operasi disebabkan tidak adekuat produksi hormon paratiroid karena pengangkatan kelenjar paratiroid pada saat operasi. Operasi yang pertama adalah untuk mengatasi keadaan hiperparatiroid dengan mengangkat kelenjar paratiroid. Tujuannya adalah untuk mengatasi sekresi hormon paratiroid yang berlebihan, tetapi biasanya terlalu banyak jaringan yang diangkat. Operasi kedua berhubungan dengan operasi total tiroidektomi. Hal ini disebabkan karena letak anatomi kelenjar tiroid dan paratiroid yang dekat (diperdarahi oleh pembuluh darah yang sama) sehingga kelenjar paratiroid dapat terkena sayatan atau terangkat. Hal ini sangat jarang dan biasanya kurang dari 1 % pada operasi tiroid. Pada banyak pasien tidak adekuatnya produksi sekresi hormon paratiroid bersifat sementara sesudah operasi kelenjar tiroid atau kelenjar paratiroid, jadi diagnosis tidak dapat dibuat segera sesudah operasi. Pada pseudohipoparatiroidisme timbul gejala dan tanda hipoparatiroidisme tetapi kadar PTH dalam darah normal atau meningkat. Karena jaringan tidak berespons terhadap hormon, maka penyakit ini adalah penyakit

reseptor. Terdapat dua bentuk: (1) pada bentuk yang lebih sering, terjadi pengurangan congenital aktivitas Gs sebesar 50 %, dan PTH tidak dapat meningkatkan secara normal konsentrasi AMP siklik, (2) pada bentuk yang lebih jarang, respons AMP siklik normal tetapi efek fosfaturik hormon terganggu. Gejala-gejala utama adalah reaksi-reaksi neuromuscular yang berlebihan yang disebabkan oleh kalsium serum yang sangat rendah. Keluhan-keluhan dari penderita (70 %) adalah tetani atau tetanic aequivalent. Tetani menjadi manifestasi sebagai spasmus corpopedal dimana tangan berada dalam keadaan fleksi sedangkan ibu jari dalam adduksi dan jari-jari lain dalam keadaan ekstensi. Juga sering didapatkan articulatio cubitti dalam keadaan fleksi dan tungkai bawah dan kaki dalam keadaan ekstensi. Dalam titanic aequivalent: a. Konvulsi-konvulsi yang tonis atau klonis b. Stridor laryngeal (spasme ) yang bisa menyebabkan kematian c. Parestesia d. Hipestesia e. Disfagia dan disartria f. Kelumpuhan otot-otot g. Aritmia jantung

Pada pemeriksaan kita bisa menemukan beberapa refleks patologis: a. Erbs sign Dengan stimulasi listrik kurang dari 5 milli-ampere sudah ada kontraksi dari otot (normal pada 6 milli-ampere). b. Chvosteks sign Ketokan ringan pada nervus fasialis (didepan telinga tempat keluarnya dari foramen sylomastoideus) menyebabkan kontraksi dari otot-otot muka.

c. Trousseaus sign Jika sirkulasi darah dilengan ditutup dengan manset (lebih dari tekanan sistolik) maka dalam tiga menit tangan mengambil posisi sebagaipada spasme carpopedal. d. Peroneal sign Dengan mengetok bagian lateral fibula di bawah kepalanya akan terjadi dorsofleksi dan adduksi dari kaki. Pada 40 % dari penderitapenderita kita mencurigai adanya hipoparatiroidisme karena ada kejang-kejang epileptik. Sering pula terdapat keadaan psikis yang berubah, diantaranya psikosis. Kadang-kadang terdapat pula

perubahan-perubahan trofik pada ectoderm: Rambut : tumbuhnya bisa jarang dan lekas putih. Kulit : kering dan permukaan kasar, mungkin terdapat pula vesikula dan bulla. Kuku : tipis dan kadang-kadang ada deformitas. Pada anak-anak badan tumbuh kurang sempurna, tumbuhnya gigi-gigi tidak baik dan keadaan mental bisa tidak sempurna. Juga agak sering terdapat katarak pada hipoparatiroidisme.

F.

Kelenjar Timus Kelenjar timus merupakan kelenjar yang bertanggungjawab dalam pertumbuhan manusia. Kelenjar timus bahkan sangat berpengaruh pada saat usia pertumbuhan. Kelenjar timus berfungsi untuk pertumbuhan. Bila kekurangan kelenjar timus akan menderita kretinisme (kekerdilan) dan bila kelebihan menimbulkan gigantisme (raksasa). Kelenjar timus terletak di dalam mediastinum di belakang os sternum, dan di dalam torak kira-kira setinggi bifurkasi trakea.Warnanya kemerah-merahan dan terdiri dari 2 lobus.Kelenjar timus hanya dijumpai pada anak dibawah 18 tahun.

Karakteristik Kelenjar Timus :


Terletak di sepanjang rongga trachea di rongga dada bagian atas. Timus membesar sewaktu pubertas dan mengacil setelah dewasa. Kelenjar ini merupakan kelenjar penimbunan hormon somatotrof atau hormon pertumbuhan dan setelah dewasa tidak berfungsi lagi.

Kelenjar timus berperan dalam sistem pertahanan tubuh dengan menghasilkan hormone Thymosin, Thymic humoral factor, Thymic factor dan Thymopoietin.

Fungsi kelenjar timus adalah :


Mengaktifkan pertumbuhan badan Mengurangi aktivitas kelenjar kelamin Menghasilkan timosin yang berfungsi untuk merangsang limfosit.

Kelainan pada kelenjar Timus 1. Kretinisme Kretinisme adalah suatu kelainan hormonal pada anak-anak.Ini terjadi akibat kurangnya hormon tiroid atau kekurangan kelenjar timus. Penderita kelainan ini mengalami kelambatan dalam perkembangan fisik maupun mentalnya. Kretinisme dapat diderita sejak lahir atau pada awal masa kanak-kanak. Ciri-ciri penderita kretinisme sangat khas. Cirinya antara lain bentuk tubuhnya pendek dengan proporsi yang tak normal. Ciri lainnya adalah lidahnya besar dan lebar, pangkal hidungnya datar,

rambutnya kasar dan kering, kulitnya kusam, serta otot-ototnya lembek. Anak-anak penderita kretin ini biasanya mengalami gangguan

pencernaan, pendengaran, dan kemampuan berbicara. Bila kelainan ini terjadi sebelum usia dua tahun, biasanya anak mengalami

keterbelakangan mental untuk selamanya. Bila munculnya kelainan ini pada umur setelah dua tahun, anak hanya mengalami kelambatan pertumbuhan dan perkembangan fisik. Kelainan ini diobati dengan pemberian hormon tiroid. Hormon diberikan tiap hari secara terus-menerus. Bila kelainan muncul sebelum usia dua tahun, pengobatan ini tak dapat memperbaiki keterbelakangan mental yang ditimbulkannya. Penyakit lain yang mirip dengan kretinisme adalah mongolisme dan kekurangan hormon tiroid akibat kurangnya hormon perangsang kelenjar tersebut (TSH-thyroid stimulating

hormone). TSH diproduksi oleh kelenjar hipofisis.Bedanya, pada mongolisme, ditemukan kelainan genetik yang menjadi penyebabnya. Hormon tiroid pada penderitanya tetap normal. Kekurangan hormon TSH dapat diketahui dari pemeriksaan kadar hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis. Selain itu, bila tulang diperiksa dengan rontgen, pada anak kretin ditemukan kelainan yang sangat khas, yaitu umur tulang lebih muda daripada umur yang seharusnya. Ditambah lagi, pertumbuhan tulang tungkai terganggu.

Penderita Kretinisme

2. Gigantisme Gigantisme adalah kondisi seseorang yang kelebihan pertumbuhan, dengan tinggi dan besar yang di atas normal. Gigantisme disebabkan oleh kelebihan jumlah hormon pertumbuhan. Tidak terdapat definisi tinggi yang merujukan orang sebagai "raksasa". Tinggi orang dewasa yang mengalami gigantisme dapat mencapai 2,25 - 2,40 meter. Ini merupakan pertumbuhan abnormal akibat kelebihan GH atau kelenjar timus pada anak sebelum fusi epifisis. Penyakit ini hampir selalu disebabkan oleh tumor hipofisis. Terapi yang dapat dilakukan mencakup pengangkatan tumor melalui pembedaan, okteotrid (analog hormone penghambatGH), atau radioterapi (Brooker, 2005).

Penderita gigantisme

G.

Kelenjar Adrenal Kelenjar adrenal atau suprarenalis terletak di atas kutub sebelah atas setiap ginjal. Kelenjar adrenal terdiri atas bagian luar yang berwarna kekuning-kuningan yang disebut korteks dan yang menghasilkan kortisol, dengan rumus yang mendekati kortison, dan atas bagian medula di sebelah dalam yang menghasilkan adrenalin dan noradrenalin.

Kelenjar adrenal adalah sepasang kelenjar yang mengeluarkan hormon langsung ke dalam aliran darah. Setiap kelenjar dapat dibagi menjadi dua organ yang berbeda. Luar daerah mengeluarkan hormon yang memiliki efek penting pada cara di mana energi disimpan dan makanan yang digunakan, pada bahan kimia dalam darah, dan pada karakteristik seperti keadaan berbulu dan bentuk tubuh. Daerah, yang lebih kecil batin adalah bagian dari sistem saraf sympathic dan merupakan garis pertama pertahanan tubuh dan respon terhadap stres fisik dan emosional. Zat-zat tadi disekresikan di bawah pengendalian sistema persarafan simpatis. Sekresinya bertambah dalam keadaan emosi seperti marah dan takut, dan dalam keadaan asfiksia dan kelaparan. Pengeluaran yang bertambah itu menaikkan tekanan darah guna melawan syok yang disebabkan kegentingan ini. Noradrenalin menaikkan tekanan darah dengan jalan merangsang serabut otot di dalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi. Adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati. Beberapa hormon terpenting yang dihasilkan oleh korteks adrenal adalah hidrokortison, aldosteron dan kortikosteron yang semuanya bertalian erat dengan metabolisme, pertumbuhan, fungsi ginjal dan ponus otot. Semua fungsi ini menentukan jalan hidup. Korteks adrenal menghasilkan beberapa hormon steroid, yang paling penting adalah kortisol, aldosteron dan androgen adrenal. Kelainan pada kelenjar adrenal menyebabkan endokrinopati yang klasik seperti sindroma Cushing, penyakit Addison, hiperaldosteronisme dan sindroma pada hiperplasia adrenal kongenital. Kemajuan dalam prosedur diagnosis telah memudahkan evaluasi kelainan adrenokortikal, terutama penentuan plasma glukokortikoid, androgen dan ACTH telah memungkinkan diagnosis yang lebih cepat dan tepat. Saat ini kemajuan pengobatan kedokteran telah dapat memperbaiki nasib sebagian besar penderita dengan kelainan ini. Kelenjar adrenal berfungsi sebagai bagian dari sistem saraf otonom, 90% hasil dari

sekresi medula adrenal adalah efinefrin/adrenalin dan sisanya ialah norefinefrin. Fungsi dari kelenjar adrenal adalah : Meningkatkan denyut jantung Menambah tekanan darah Mempercepat pernapasan Meningkatkan produksi gula darah di hati

Korteks adrenal terdiri dari daerah yang secara anatomi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu : 1) Zona Glomerulus Menghasilkan aldosteron (mineralokortikoid) yang berfungsi

merangsang penyerapan ion natrium dari tubulus ginjal dan menurunkan penyerapan ion kalium, sehingga mempertahankan tekanan osmotik darah. Efek primer terdapat pada metabolisme air dan mineral. 2) Zona Fasciulate Menghasilkan cortisol (glukokortikoid) yang berfungsi meningkatkan pembentukan glukosa dari asam amino, antialergi dan inflamasi, serta menghasilkan energi. Efek primer terdapat pada metabolisme protein, lemak dan karbohidrat. 3) Zona Retikularis Menghasilkan androgen (efek maskulinisasi) dan estrogen (tidak mempunyai efek feminisasi), efek primer terjadi untuk tanda-tanda sex sekunder.

Tidak terdapat perbedaan yang jelas secara anatomi antara korteks dan medula yang menghasilkan katekholamin oleh sel chromafin. Bukti terakhir hal ini memungkinkan adanya interaksi parakrin diantara keduanya :

Gambar potongan melintang kelenjar adrenal. zM = adrenal medulla zR = zona reticularis zF = zona fasciculata zG = zona glomerulosa Caps = kapsel adrenal

Glukokortikoid pada umumnya menghambat sintesis DNA. Pada sebagian besar jaringan menghambat sintesis RNA dan protein dan mempercepat katabolisme protein. Glukokortikoid yang berlebihan, keadaannya mula-mula glukokortikoid akan menyebabkan euforia; namun selanjutnya bila pajanan berlangsung lama, terjadilah sejumlah kelainan psikologis mencakup iritabilitas, labilitas emosi, dan depresi. Banyak pasien yang mengalami kegagalan fungsi kognitif, sebagian besar mengenai ingatan dan konsentrasi. Efekefek sentral lainnya adalah peningkatan nafsu makan, penurunan libido, dan insomnia. (Anwar, 2005) Kekurangan hormon adrenal menyebabkan sejumlah gejala,

tergantung kepada jenis hormon yang berkurang. Kekurangan aldosteron menyebabkan terlalu banyak natrium yang dibuang melalui air kemih

sehingga tekanan darah menjadi rendah dan kadar kalium dalam darah menjadi tinggi. Kekurangan kortisol yang sangat berat (terutama jika pembentukan aldosteron juga terhambat), bisa menyebabkan gagal adrenal yang dapat berakibat fatal dalam waktu beberapa hari atau beberapa minggu setelah bayi lahir, disertai dengan tekanan darah rendah, denyut jantung yang cepat dan kelainan fungsi berbagai organ. Kekurangan androgen ketika masih berada dalam kandungan bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan kelamin pada janin laki-laki yang disebut pseudohermafroditisme (lubang uretra abnormal, penis dan buah zakar kecil). Anak perempuan yang mengalami kekurangan hormon adrenal, ketika lahir tampak normal tetapi nantinya dia tidak akan mengalami masa puber atau menstruasi. Kelebihan hormon adrenal juga menyebabkan berbagai gejala. Pemaparan androgen kadar tinggi pada janin perempuan : pada awal kehamilan menyebabkan alat kelamin berkembang secara abnormal.

H.

Kelenjar Pankreas

Kelenjar Pankreas terletak di retroperitoneal rongga abdomen bagian atas dan terbentang horizontal dari duodenum ke lien. Pankreas membentuk organ endokrin yang menyekresikan insulin, yaitu sebuah hormon antidiabetika yang diberikan dalam pengobatan diabetes. Insulin adalah sebuah protein yang dapat turut dicernakan oleh enzim-enzim pencernaan protein dan karena itu tidak diberikan melalui mulut melainkan dengan suntikan subkutan. Insulin mengendalikan kadar glukosa dan bila digunakan

sebagai pengobatandalam hal kekurangan, seperti diabetes maka ia akan memperbaiki kemampuan sel tubuh untuk mengabsorpsi dan menggunakan glukosa dan lemak. Jaringan utama pankreas terdiri atas : 1. Acini yang berfungsi untuk mensekresikan getah pencernaan ke dalam duodenum. 2. Pulau Langerhans Pulau Langerhans tidak mengeluarkan sekretnya keluar tetapi langsung ke dalam darah. Pulau lagerhans terdiri dari beberapa sel : sel alfa/sel A, sel beta/sel B, sel C dan sel D. a. Sel alfa/sel A Menghasilkan glukagon yang berfungsi untuk meningkatkan kadar glukosa dalam darah dengan cara memobilisasi glukosa, asam lemak dan asam amino dari tempat cadangannya ke dalam darah. b. Sel beta/ sel B Mensekresi insulin yang berfungsi untuk menurunkan kadar glukosa darah dengan cara meningkatkan simpanan glukosa hati ke hati. c. Sel C Mensekresi somatotastin yang berpengaruh untu menekan Gh, dan menghambat saluran cerna (pengosongan lambung, sekresi asam lambung, kontraksi bladder). d. Sel D untuk mensekresi polipeptida (Gastrin).

Abnormalitas kelenjar pankreas yang merupakan kekurangan insulin mengakibatkan hiperglikemia yaitu kadar gula darah yang tinggi, turunnya berat badan, lelah dan poliuria (sering buang air kecil), disertai haus, lapar, kulit kering, mulut dan lidah kering. Akibatnya ketosis serta asidosis dan kecepatan bernapas bertambah. Keadaan sebaliknya ialah hipoglikemia atau kadar gula darah renadah dapat terjadi sebagai akibat kelebihan dosis insulin.

I.

Kelenjar Gonad Gonad yang terdiri dari testis pada laki-laki dan indung telur (ovary) pada wanita menghasilkan hormon seks pria atau wanita. Pada setiap lakiIaki dan wanita sebenarnya terdapat hormon seks wanita dan pria bersamasama, dihasilkan oleh gonad dan kelenjar suprarenal. Pada wanita keseimbangannya terletak pada hormon wanita yang lebih banyak dan pada laki-Iaki pada hormon laki-laki. Pada laki-Iaki yang dikebiri sifat kejantanan pengaruh hormon seks laki-Iaki, akan hilang dan pengaruh hormon seks wanita akan menonjol. Salah satu akibat hormon seks laki-Iaki dan wanita, di luar pengaruh terhadap fungsi seksual itu sendiri, adalah dalam pertumbuhan lapisan lemak tubuh. Hormon testosteron membantu terbentuknya jaringan otot yang baik, sedangkan hormon estrogen pada wanita membantu tumbuhnya jaringan lemak. Pada pemberian pil KB formula lama, hal ini perlu diperhatikan karena ada pil yang cenderung bersifat maskulin (androgenic) dan ada yang feminin (estrogenic). Kepala botak pada pria (male pattern baldness) merupakan akibat hormon seks pria, seperti juga tumbuhnya jerawat. Fungsi hormon gonad memberikan pengaruh terhadap perilaku, pertumbuhan dan perkembangan organ-organ sex, merangsang pertumbuhan dan perkembangan sex serta merangsang birahi dan libido. Fungsi gonad dikendalikan oleh FSH dan LH dari hormon gonadotropin yang dihasilkan kelenjar hipofisis. Pada wanita, kelenjar gonad terdapat pada ovarium yang terletak di rongga pelvis kiri dan kanan. Fungsi dari ovarium ialah untuk mensekresi hormon estrogen, progesteron dan inhibin. Hormon Estrogen disekresikan oleh sel folikel ovarium yg dirangsang oleh FSH, kemudian estrogen membantu pematangan ovum di folikel ovarium dan merangsang petumbuhan pembuluh darah di lapisan endometrium uterus dalam mempersiapkan kemunkinan pembuahan. Hormon estrogen juga dapat menurunkan kadar kolesterol dan glukosa darah. Sedangkan progesteron berfungsi membantu penyimpanan glikogen saat pertumbuhan endometrium

yang nantinya menjadi plasenta. Korpus luteum mensekresi inhibin yang membantu menurunkan sekresi FSH.

Pada laki-laki kelenjar gonad terdapat dalam testis yang berada dalam skrotum, yang berfungsi mensekresi testosteron dan inhibin. Testosteron merupakan hormon steroid yg disekresi oleh sel-sel interstisial testis. Hormon testosteron mebantu pematangan sperma, sedangkan inhibin yang dihasilkan oleh sel sustentakular testis berfungsi menurunkan sekresi FSH.

Abnormalitas Kelenjar Gonad a. Pada Pria Kriptorkidismus Testis terbentuk didalam rongga abdomen dan secara normal bermigrasi ke skrotum selama perkembangan masa janin. Penurunan

testis kedaerah inguinal ke skrotum bergantung pada MIS dan penurunan dari daerah inguinal keskrotum bergantung pada faktorfaktor lain. Hipogonadisme Pria Gambaran klinis hipogonedisme pria bergantung pada apakah defisiensi testis terjadi sebelum atau seteleh pubertas. Tumor penghasil androgen b. Pada Wanita Kelainan Menstruasi Defek Genetik

BAB IV PEMBAHASAN

Akromegali dan gigantisme merupakan penyakit kronis dan progresif yang ditandai dengan disfungsi hormonal dan pertumbuhan skeletal yang mengejutkan. Akromegali terjadi setelah penutupan epifiseal, sehingga menyebabkan penebalan tulang, pertumbuhan dan viseromegali melintang. Gigantisme mulai terjadi sebelum penutupan epifiseal dan menyebabkan pertumbuhan proporsional berlebihan disemua jaringan tubuh. Perbedaan akromegali dan gigantisme yaitu jika akromegali berkembangnya perlahan-lahan, sebaliknya dengan gigantisme yang berkembang secara tiba-tiba dan sangat cepat (Kompas.com, 2011).

Gigantisme adalah kondisi medis yang ditandai dengan pertumbuhan berlebih pada anak-anak sebelum pertumbuhan tulang berhenti akibat produksi berlebihan growth hormon oleh kelenjar hipofise, yang biasanya merupakan akibat dari suatu tumor pada kelenjar hipofise. Kondisi ini sama dengan akromegali, yang juga ditandai dengan pertumbuhan berlebihan akibat produksi berlebihan dari growth hormone. Akan tetapi, akromegali terjadi pada orangorang yang sudah tertutup cakram tulangnya (pertumbuhan tulang telah berhenti) dan biasanya teradi pada orang dewasa. Anak-anak yang menderita gigantisme menunjukkan pertumbuhan tulang yang berlebihan, yang menyebabkan mereka tinggi secara abnormal untuk usia mereka dan memiliki tangan, jari-jari kaki, jarijari tangan dan kepala yang sangat besar. Pada penderita juga terjadi pembesaran organ-organ dalam, seperti ginjal, otak dan jantung. Penanganan dini diperlukan karena kondisi ini berpotensi menjadi kondisi yang mengancam jiwa, seperti gagal jantung dan diabetes (Persify, 2013).

Penyebab akromegali/gigantisme : 1. Lesi pituitari ekstrapiramidal atau tumor lain yang menyebabkan sekresi hormon pertumbuhan manusia (human growth hormone-hGh) yang berlebihan.

2. Sekresi hGh yang berlebihan yang membuat seluruh bagian tubuh berubah sehingga menyebabkan akromegali. Jika sekresi yang berlebihan ini terjadi sebelum masa pubertas, penderita mengalami gigantisme. 3. Kemungkinan juga ada pengaruh genetik (keturunan) 4. Adenoma somatotropik.

Tanda dan Gejala Gigantisme, meliputi : 1. Keabnormalan skeletal dan tanda-tanda intoleransi glukosa seperti yang terlihat pada penderita akromegali 2. Pembesaran tumor pituitari (yang menyebabkan hilangnya hormon trofik lain, misal hormon yang menstimulasi tiroid, hormon yang menstimulasi folikel dan kortikotropin). (Kompas.com, 2011) Tanda dan gejala lain Gigantisme yang mungkin timbul :

Haid yang tidak beraturan Kelemahan otot Keringat yang berlebihan Memiliki kesulitan dengan penglihatan periferal (samping) Menderita sakit kepala Pelepasan air susu ibu Penebalan fitur wajah Penglihatan ganda (diplopia) Perawakan tinggi Rahang yang menonjol Tangan dan kaki yang besar dengan jari tangan dan kaki yang tebal

Gigantisme dapat menyebabkan komplikasi sebagai berikut :


Dapat menyebabkan perkembangan Hipertensi Mungkin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk Gagal Jantung Kongestif Mungkin menderita Pubertas Tertunda (Persify, 2013)

Uji Diagnostik bagi Penderita Gigantisme : 1. Kadar serum hGh yang diukur dengan radioimmunoassay biasanya naik. 2. Uji supresi glukosa tidak bisa menekan kadar hormon sampai dibawah jumlah normal yang dapat diterima, yaitu 2 ng/ml. 3. Sinar X tengkorak, computed tromography (CT) Scan, arteriografi, dan magnetic resonance imaging menentukan keberadaan dan perluasan lesi pituitari. 4. Sinar X tulang menunjukkan penebalan kranium (terutama tulang frontal, oksipital dan parietal) dan penebalan tulang panjang, serta osteoartritis ditulang belakang.

Penanganan Gigantisme : 1. Hipofisektomi kranial atau transfenoidal atau terapi radiasi pituitari dilakukan untuk membuang tumor yang mendasar. 2. Penggantian hormon tiroid dan gonadal dan kortison dilakukan sesudah pembedahan. 3. Bromocriptine (parlodel) dan octreotide (sandostatin) digunakan untuk menghambat hGh. (Kompas.com, 2011)

BAB V KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Ruswana. 2005. Fungsi Kelenjar Adrenal dan Kelainannya. Bandung : SubBag Fertilitas dan Endokrinologi reproduksi.

Ardiansyah, Ryan, 2010. Kelenjar Paratiroid. http://humanhormone.blogspot.com/p/kelenjar-paratiroid.html. Diakses pada tanggal 16 Juni 2013.

Brooker, Chris. 2005. Ensiklopedia Keperawatan. Singapore : EGC Medical Publisher.

Djokomoeljanto, 1986. Peranan Endokrinologi dalam menunjang Pembangunan Kesehatan Nasional. Universitas Dipenogoro. Semarang.

Hamdani, William dan Daniel Sampepajung. 2013. Thyroid Cancer: The Diagnose and Management. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Iskandar, Japandi. 2007. Pituitary Info. http://pituitaryjkt.wordpress.com/pituitary-info/ Diakses Tanggal 15 Juni 2013.

Ismail, 2013. Pengkajian Ssitem Endokrin. Diakses Pada 15 Juni 2013.

Kompas.com, 2011. Mengenal Penyakit Akromegali dan Gigantisme. Kompas Forum.http://forum.kompas.com/kesehatan/34004-mengenal-penyakitakromegali-dan-gigantisme.html. Diakses pada tanggal 16 Juni 2103.

Mayasari, Linda. 2013. Gangguan pada Kelenjar Paratiroid Tingkatkan Risiko Batu Ginjal. http://health.detik.com/read/2013/02/25/183043/2179384/763/gangguan-

pada-kelenjar-paratiroid-tingkatkan-risiko-batu-ginjal?l771108bcj. Jakarta : detik.com. Diakses pada tanggal 16 Juni 2013.

Mikrajuddin, et al. 2007. IPA TERPADU SMP DAN MTS JILID 3A. Jakarta : Erlangga.

Persify.

2013.

Gigantisme.

http://www.persify.com/id/perspectives/medical-

conditions-diseases/gigantisme-_-951000103503. Diakses pada tanggal 16 Juni 2013.

Psikologmania. 2012. Kelenjar Pituitari. http://www.psychologymania.com/2012/05/kelenjar-pituitari-kelenjarhipofisis.html. Diakses tanggal 15 Juni 2013.

Risbi, Nicke Asviranda. 2010. Kelainan Paratiroid. http://nickeasvirandarisbi.blogspot.com/2010/02/kelainan-paratiroid.html. Diakses pada tanggal 16 Juni 2013.

Sherwood, Lauralle. 2005. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : Delta.

Tangient LLC. 2013. Hypothalamus. http://endocrine101.wikispaces.com/Hypothalamus. Diakses tanggal 15 Juni 2013

Tri. 2011. Fungsi Hormon Tiroid dan Paratiroid. http://triwulancaem.blogspot.com/p/ketika-bayi-menyusu-payudara.html. Diakses pada tanggal 16 Juni 2013.

Warianto, Chaidar. 2011. Sistem Endokrin dan Kerja Hormon pada Tubuh Manusia. Diakses pada 15 Juni 2013.

Ward, Jeremy P.T; Clarke, Robert W; Linden, Roger W.A. 2009. At a Glance Fisiologi. Jakarta : Erlangga.

Waoli, Lase. 2013. Kelenjar Tiroid. http://artikesehatan.wordpress.com/kelenjar tiroid/. Diakses pada tanggal 16 Juni 2013.

Diakses tanggal 15 Juni 2013 : http://www.neuroanatomy.wisc.edu/coursebook/neuro2(2).pdf. http://psikologi-artikel.blogspot.com/2009/09/kretinisme.html. http://penyakittiroid.com/ http://www.psychologymania.com/2012/05/kelenjar-paratiroid-kelenjaranak.html. http://www.psychologymania.com/2012/05/kelenjar-timus.html.