Anda di halaman 1dari 41

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Perkosaan bukanlah kasus yang baru terjadi di masyarakat melainkan merupakan kasus yang sudah ada sejak lama dan tetap ada sampai saat ini. Bahkan perkosaan tidak hanya terjadi di satu negara tetapi di hampir semua negara diseluruh dunia termasuk Indonesia. Perkosaan dapat membawa dampak buruk bagi si korban baik dari segi fisik maupun psikis. Perkosaan juga membawa dampak peningkatan angka kejadian aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Pelecehan seksual dan kasus perkosaan di Indonesia masih sering terjadi. Bagi kaum perempuan hal ini tentu saja sangat meresahkan. Dalam catatan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, kasus perkosaan dari tahun 1998-2010 terdapat sebanyak 4.845 kasus perkosaan. 1 Pada pembuktian kasus kejahatan seksual bantuan dokter sangat diperlukan, namun harus disadari bahwa kemampuan dokter di dalam rangka membantu mengungkap kasus kejahatan seksual sangat terbatas sekali. Sehingga tidak mungkin dokter dapat membantu mengungkap adanya paksaan dan ancaman kekerasan mengingat kedua hal itu tidak meninggalkan bukti-bukti medik.2 Dokter hanya diminta bantuannya untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban, suspek dan barang bukti medik tindak perkosaaan, sehingga dalam pemeriksaan tersebut dokter diharap bisa memperjelas kasus tindak pidana. 2 Di daerah-daerah yang jauh dari Rumah Sakit dengan fasilitas kedokteran kehakiman tidak jarang dokter di Rumah Sakit atau instansi kesehatan terdekat diminta untuk terlibat dalam pemeriksaan korban ataupun pelaku untuk memberikan bukti telah terjadi suatu tindak perkosaan atau tidak. Tidak hanya itu, dokter juga harus mampu memberi penanganan medis yang tepat pada korban perkosaan. Oleh sebab itu, sebagai dokter nantinya harus mengerti lebih lanjut tentang perkosaan dan apa peran dokter dalam membantu penegak hukum yang terkait. 1.2 Tujuan

1.2.1

Tujuan Umum Menganalisa aspek hukum perkosaan Menganalisa dampak perkosaan Menganalisa peran dokter dalam kasus perkosaan

1.2.2

Tujuan Khusus Mengetahui definisi perkosaan Mengetahui penggolongan perkosaan TIDAK PERLU Mengetahui peraturan / hukum yang mengatur tentang perkosaan Mengetahui cara memeriksa korban perkosaan Mengetahui tanda-tanda pada korban perkosaan Mengetahui tanda-tanda pada pelaku perkosaan Mengetahui cara membuat visum et repertum pada korban perkosaan\ Memenuhi salah satu tugas Kepaniteraan Klinik di Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU Dr.Soetomo/FK Universitas Airlangga

1.3 Manfaat 1.3.1 Manfaat untuk dokter Melalui tinjauan pustaka ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dokter tentang perkosaan dan juga supaya dokter memahami perannya apabila terjadi tindak pidana perkosaan 1.3.2 Manfaat untuk masyarakat Masyarakat diharapkan dapat lebih memahami apa yang dimaksud dengan perkosaan dan tindakan apa yang seharunya diambil bila menjadi atau menemukan kasus perkosaan

serta diharapkan masyarakat menyadari pentingnya menjaga keamanan diri sendiri untuk mencegah menjadi korban perkosaan.

BAB II PERMASALAHAN Adapun permasalahan yang kami anggap perlu untuk dibahas pada tinjauan pustaka ini adalah seorang dokter harus mampu mengerti, memahami, menangani serta menyimpulkan hasil pemeriksaan pada kasus perkosaan.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Perkosaan 3.1.1 Definisi Perkosaan Sebelum membahas definisi perkosaan perlu diketahui terlebih dahulu apa yang disebut dengan persetubuhan dan persetubuhan yang seperti apa yang tidak melanggar hukum. Persetubuhan didefinisikan sebagai perpaduan antara dua alat kelamin yang berlainan jenis guna memenuhi kebutuhan biologis yaitu kebutuhan seksual. Penetrasi yang paling ringan, yaitu masuknya ujung penis diantara kedua labium major (bibir luar) sudah dapat dikategorikan sebagai senggama, baik diakhiri maupun tidak diakhiri dengan orgasme/ejakulasi.2 Persetubuhan yang lengkap diawali dengan penetrasi penis ke dalam vagina, lalu diikuti dengan gesekan-gesekan antara penis dengan vagina untuk menimbulkan stimulus (rangsangan taktil) dan kemudian diakhiri dengan ejakulasi.2 Persetubuhan yang legal (tidak melanggar hukum) adalah yang dilakukan dengan prinsipprinsip sebagai berikut :2 1. Wanita tersebut adalah istri sah (sesuai UU No 1/74 tentang perkawinan) dan ada izin (consent) dari wanita yang disetubuhi. 2. Wanita tersebut sudah cukup umur, sehat akalnya, tidak sedang dalam keadaan terikat perkawinan dengan orang lain dan bukan anggota keluarga dekat. Perkosaan adalah salah satu bentuk dari kejahatan seksual yang menurut Kitab Undangundang Hukum Pidana pasal 285 adalah Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Dari pasal 285 diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perkosaan adalah hubungan persetubuhan atau sexual intercourse yang dilakukan dua individu berlainan jenis antara pria dengan wanita sebagai coitus. Persetubuhan oral atau anal yang dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

tidak dapat diklasifikasikan sebagai perkosaan, melainkan perbuatan menyerang kehormatan kesusilaan ( pasal 289 KUHP). Tindak pidana pemerkosaan di Indonesia harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :3 1. Unsur pelaku , yaitu : Harus orang laki laki Mampu melakukan persetubuhan

2. Unsur korban : Harus orang perempuan Bukan istri dari pelaku

3. Unsur perbuatan , terdiri atas : Persetubuhan dengan paksa ( against her will ) Pemaksaan tersebut harus dilakukan dengan menggunakan kekerasan fisik atau ancaman kekerasan Di negara maju seperti Amerika Serikat, mendefinisikan perkosaan sebagai perbuatan bersenggama yang dilakukan dengan menggunakan kekerasan ( force ), menciptakan ketakutan ( fear) atau dengan cara memperdaya ( fraud ).bersenggama dengan wanita idiot atau embecil juga termasuk perkosaan ( statutory rape ), tidak mempersoalkan apakah wanita tersebut menyetujui atau menolak ajakan bersenggama sebab dengan kondisi mental seperti itu tidak mungkin yang bersangkutan mampu ( berkompeten ) memberikan konsen yang dapat dipertanggungjawabkan secara yuridis. 3.2 Akibat-akibat perkosaan Perlunya perlindungan terhadap korban tindak pidana perkosaan tidak lepas dari akibat yang dialami oleh korban setelah perkosaan yang dialaminya. Korban tidak saja mengalami penderitaan secara fisik tetapi juga penderitaan secara psikis.

Dampak perkosaan berupa terjadinya gangguan jiwa, kehamilan atau timbulnya penyakit kelamin harus dapat dideteksi secara dini. Khusus untuk dua hal terakhir, pencegahan dengan memberikan pil kontrasepsi serta antibiotik lebih bijaksana dilakukan daripada menunggu sampai komplikasi tersebut muncul. sumber : https://sites.google.com/site/tanamansakti/visumtindakan-kekerasaan-pada-anak Adapun penderitaan yang diderita korban sebagai akibat / dampak dari perkosaan dapat dibedakan menjadi: 1. Dampak secara fisik 2. Dampak secara mental 3. Dampak dalam kehidupan pribadi dan sosial Markom dan Dolan menyebutkan, perkosaan adalah keadaan darurat baik secara psikologis maupun medis. Tujuan terapituk dari prosedur ini (penanganan medis korban kasus perkosaan) termasuk luka-luka fisik, intervensi krisis dengan dukungan emosional, propylaksis untuk penyakit kelamin dan pengobatan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Pendapat di atas secara lebih rinci antara lain sebagai berikut: 1. Penderitaan secara psikologis, seperti merasa tidak lagi berharga akibat kehilangan keperawanan (kesucian) dimata masyarakat, dimata suami, calon suami (tunangan) atau pihakpihak lain yang terkait dengannya. Penderitaan psikologis lainnya dapat berupa kegelisahan, kehilangan rasa percaya diri, tidak lagi ceria, sering menutup diri atau menjauhi kehidupan ramai, tumbuh rasa benci (antipati) terhadap lawan jenis dan curiga berlebihan terhadap pihakpihak lain yang bermaksud baik padanya. 2. Kehamilan yang dimungkinkan dapat terjadi. Hal ini dapat berakibat lebih fatal lagi bilamana janin yang ada tumbuh menjadi besar (tidak ada keinginan untuk diabortuskan). Artinya, anak yang dilahirkan akibat perkosaan tidak memiliki kejelasan statusnya secara yuridis dan norma keagamaan. 3. Penderitaan fisik, artinya akibat perkosaan itu akan menimbulkan luka pada diri korban. Luka bukan hanya terkait pada alat vital (kelamin perempuan) yang robek, namun tidak menutup kemungkinan ada organ tubuh lainnya yang luka bilamana korban lebih dulu melakukan perlawanan dengan keras yang sekaligus mendorong pelakunya untuk berbuat lebih kasar dan kejam guna menaklukkan perlawanan dari korban.

4.

Tumbuh rasa kekurang-percayaan pada penanganan aparat praktisi hukum, bilamana

kasus yang ditanganinya lebih banyak menyita perhatiannya, sedangkan penanganan kepada tersangka terkesan kurang sungguh-sungguh. Korban merasa diperlakukan secara diskriminasi dan dikondisikan makin menderita kejiwaannya atau lemah mentalnya akibat ditekan secara terus menerus oleh proses penyelesaian perkara yang tidak kunjung berakhir. 5. Korban yang dihadapkan pada situasi sulit seperti tidak lagi merasa berharga dimata masyarakat, keluarga, suami dan calon suami dapat saja terjerumus dalam dunia prostitusi. Artinya, tempat pelacuran dijadikan sebagai tempat pelampiasan diri untuk membalas dendam pada laki-laki dan mencari penghargaan.

Tidak hanya itu saja, apabila korban memutuskan untuk melaporkan perkosaan yang dialaminya kepada aparat penegak hukum, tidak menutup kemungkinan korban mengalami reviktimisasi dalam proses peradilan. Pentahapan penderitaan korban tindak pidana perkosaan dalam proses peradilan dapat dibagi sebagai berikut: 1. Sebelum Sidang Pengadilan Korban tindak pidana perkosaan menderita mental, fisik dan sosial karena ia berusaha melapor pada polisi dalam keadaan sakit dan terganggu jiwanya. Kemudian dalam rangka pengumpulan data untuk bukti adanya tindak pidana perkosaan, ia harus menceritakan peristiwa yang menimbulkan trauma kepada polisi. Korban juga merasa ketakutan dengan ancaman pelaku akibat melapor sehingga akan ada pembalasan terhadap dirinya. 2. Selama Sidang Pengadilan Korban tindak pidana perkosaan harus hadir dalam persidangan pengadilan atas ongkos sendiri untuk menjadi saksi. Korban dalam memberikan kesaksian harus mengulang cerita mengenai pengalaman pahitnya dan membuat rekonstruksi peristiwa perkosaan. Ia dihadapkan pada pelaku yang pernah memperkosanya sekaligus orang yang dibencinya. Selain itu ia harus menghadapi pembela atau pengacara dari pihak pelaku yang berusaha menghilangkan kesalahan pelaku. Jaksa dalam peradilan pidana, mewakili pihak korban. Tetapi dapat terjadi perwakilannya tidak menguntungkan pihak korban. 3. Setelah Sidang Pengadilan

Setelah selesai sidang pengadilan, korban tindak pidana perkosaan masih menghadapi berbagai macam kesulitan, terutama tidak mendapat ganti kerugian dari siapapun. Pemeliharaan kesehatannya tetap menjadi tanggungannya. Ia tetap dihinggapi rasa takut akan ancaman dari pelaku. Ada kemungkinan ia tidak diterima dalam keluarganya serta lingkungannya seperti semula, oleh karena ia telah cacat. Penderitaan mentalnya bertambah, pengetahuan bahwa pelaku tindak pidana perkosaan telah dihukum bukanlah penanggulangan permasalahan. Menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada korban (perkosaan) yang diimplementasikan dalam peraturan perundang-undangan sebagai produk hukum yang berpihak kepada korban (perkosaan). Sumber : Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual : Advokasi Atas Hak Asasi Perempuan, Bandung, Refika Aditama, 2001, hal 82-83 Adapun sebagai akibat kehamilan dari perkosaan, biasanya sang korban mengalami depresi karena malu untuk mempertahankan janin yang dikandung tanpa ada status yang jelas terhadap janin yang dikandung oleh sang korban ( ibu ). Maka dari itu, pihak dari sang korban sering kali untuk merencanakan menggugurkan ( aborsi ) janin yang dikandungnya. Berbagai pandangan terhadap aborsi di dasarkan pada berbagai hal, secara sederhana terdapat dua pandangan besar. Pandangan pertama didasarkan pada argumentasi bahwa rahim dan janin yang ada di dalamnya adalah bagian dari tubuh perempuan dan karenanya merupakan milik perempuan, sehingga perempuanlah yang berhak untuk menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap rahim dan janin yang ada di dalamnya, seperti halnya menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap bagian tubuh lainnya dalam diri perempuan, dalam hal ini termasuk untuk menghentikan atau meneruskan kandungannya. Pandangan ini disebut dengan kelompok pro choice. Pandangan kedua didasarkan pada argumentasi bahwa janin yang ada dalam tubuh perempuan bukan sepenuhnya miliki perempuan. Janin tersebut adalah subyek tersendiri yang berhak untuk hidup namun keberadaannya tergantung pada perempuan yang mengandungnya. Dengan demikian, kelompok ini menolak aborsi untuk membela kehidupan, termasuk kehidupan perempuan yang ada di dalam kandungan perempuan. Kelompok ini disebut dengan kelompok pro life.

Perdebatan mengenai aborsi memang sangat panjang. Dari berbagai referensi yang tersebar, kelompok-kelompok agamapun tidak sepenuhnya sepakat mengenai hal ini. Kelompok Islam memiliki dua pandangan besar. Pandangan pertama, pelarangan pengguguran kandungan dalam usia berapapun demi penyelamatan kehidupan. Pandangan kedua, menyetujui aborsi sebelum janin berumur pada usia tertentu karena dianggap pada usia tersebut janin belum bernyawa. Usia tertentu tersebut pun beragam ada yang mengatakan sebelum 40 hari, 80 hari atau 120 hari. Muhammad Ibn Abi Said, misalnya, memperbolehkan pengguguran kandungan sebelum umur 80 hari. Perbedaan pandangan juga terdapat pada kelompok Katolik. Pandangan pertama, pelarangan pengguguran kandungan dalam usia berapapun karena janin adalah kehidupan yang diberikan Tuhan, sehingga aborsi merupakan tindakan yang membunuh kehidupan dan karenanya dosa jika dilakukan. Pandangan kedua, memperbolehkan aborsi pada usia tertentu juga didasarkan bahwa pada usia tertentu janin baru bernyawa. St Augustine (354-430 AD) yang terkenal dengan larangan-larangannya akan kenikmatan seks, menyatakam aborsi dini tidak merupakan pembunuhan, karena saat tubuh belum terbentuk belum ada nyawa di dalamnya. Konstitusi Apostolik mengamini pendapat St. Augustine dengan menyetujui fetus yang berbentuk manusia saja yang mempunyai nyawa manusia. Pandangan kedua, mulai berkembang pada abad ke-17 beberapa pengikut Gereja Katolik mulai menentang aborsi Pada tahun 1869, Paus Pius IX mendeklarasikan hukum baru yang menyatakan peniadaan kandungan dalam umur berapa saja merupakan suatu dosa. Di lingkungan kedokteran juga terdapat pandangan serupa. Pertama, menolak aborsi pada usia berapapun karena peniadaan janin merupakan pembunuhan, kecuali untuk menyelamatkan nyawa Ibu. Kedua, membolehkan aborsi untuk janin yan berusia kurang dari 3 bulan karena embrio pada usia tersebut masih sangat primitive seperti hal nya katak atau ikan. Oleh beberapa Negara, pandangan tersebut diadopsi dalam pengaturan mengenai aborsi. Beberapa negara yang telah melegalkan aborsi, seperti di Belanda, Jerman, Kanada, dan Selandia Baru, diberikan beberapa pilihan bagi perempuan. Bagi yang menghendaki aborsi, disediakan klinik khusus untuk melakukan aborsi sedangkan yang ingin melanjutkan kehamilannya tersedia dua alternatif: menjadi single mother atau memberikan anak untuk diadopsi oleh pihak lain. Untuk pilihan kedua, sebagai single mother, pemerintah memberikan fasilitas bagi perempuan

dan bayinya berupa tunjangan makanan, kesehatan, biaya hidup bahkan sekolah bagi anak dari pemerintah. Sumber : http://bantuanhukum.or.id/index.php/en/dokumentasi/artikel-dan-opini/217-mencarisolusi-untuk-perlindungan-kehidupan-yang-sesungguhnya Inkonsistensi Negara Indonesia, aborsi pada prinsipnya dilarang dengan alasan menyelamatkan kehidupan. Dalam beberapa kebijakan aborsi dikategorikan sebagai tindakan yang merusak kesehatan, melanggar kesusilaan, kejahatan terhadap nyawa sebagaimana terlihat dalam tabel berikut: Tabel 1 Aturan mengenai Aborsi ATURAN KATEGORI HUKUM SUBYEK DIATUR Pasal 299 ayat KUHP Kejahatan kesusilaan (1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang diobati, wanita dengan atau menyuruh bahwa supaya atau karena diberitahukan terhadap Dokter, bidan atau dukun yang melakukan aborsi YANG

ditimbulkan

harapan

pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah.

(2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keu tungan, atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juruobat, pidmmya dapat ditambah

sepertiga

(3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencariannya, dapat dicabut haknya untuk menjalakukan pencarian itu.. Pasal 346 Kejahatan nyawa Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun Pasal 347 Kejahatan nyawa (1) Barang wanita siapa tanpa dengan sengaja terhadap Dokter, bidan atau dukun yang melakukan aborsi menggugurkan atau mematikan kandungan seorang persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. terhadap Perempuan mengandung yang

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 348 KUHP

Kejahatan nyawa

terhadap Dokter, bidan atau dukun yang melakukan aborsi

(1)

Barang wanita

siapa

dengan

sengaja

menggugurkan atau mematikan kandungan seorang dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 349 KUHP Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. Kejahatan nyawa terhadap Dokter, bidan yang melakukan aborsi

Pasal 15 UU Kesehatan (1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu. (2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan: a. berdasarkan indikasi medis yang

Kejahatan

terhadap Dokter atau bidan yang aborsi melakukan

kesehatan keluarga

mengharuskan diambilnya tindakan tersebut; b. oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli; c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya; d. pada sarana kesehatan tertentu. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 80 UU Kesehatan Kejahatan terhadap Dokter, bidan yang melakukan aborsi

kesehatan keluarga (1) Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil

yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Berdasarkan pasal di atas, maka yang dimaksud dengan aborsi adalah pengguguran kehamilan. Aborsi dilarang dilakukan terhadap janin pada usia berapapun, karena undangundanga tidak memberikan batasan usia janin yang dilarang diaborsi. Pengecualian pelarangan aborsi hanya untuk alas an keselamatan jiwa ibu, dalam hal ini persetujuan Ibu hanya menjadi salah satu syarat. Dalam praktek, sering terjadi kerancuan antar aborsi dengan pembunuhan bayi. Jika bayi sudah dilahirkan kemudian dibunuh baik dengan melakukan sesuatu perbuatan (by commission) atau dengan tidak melakukan sesuatu perbuatan (by omission) maka menurut KUHP hal tersebut bukan aborsi melainkan pembunuhan anak sebagaimana diatur dalam 341 dan 342 KUHP. Tabel 2 Aturan mengenai Pembunuhan Anak ATURAN KATEGORI HUKUM SUBYEK DIATUR Pasal 341 KUHP Kejahatan nyawa Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, terhadap Perempuan mengandung yang YANG

dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 342 KUHP Kejahatan nyawa Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama semhi- lan tahun. Pasal 343 KUHP Kejahatan nyawa Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan rencana. terhadap Perempuan melahirkan orang lain membujuk, membantu anak yang atau telah menyuruh membunuh dilahirkan yang atau yang terhadap Perempuan mengandung yang

SUMBER : http://bantuanhukum.or.id/index.php/en/dokumentasi/artikel-dan-opini/217-mencarisolusi-untuk-perlindungan-kehidupan-yang-sesungguhnya 3.3 Perkosaan ditinjau dari segi hukum Perkosaan ialah tindakan menyetubuhui seorang wanita yang bukan istrinya dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Bertolak dari pengertian ini seorang suami tidak dapat dipidana karena menyetubuhi istrinya dengan paksa.2

Pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 285 diatur : Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memekasa seseorang wanita bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Berdasarkan KUHP Pasal 286, "Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya, padahal diketahuinya bahwa perempuan itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun." Berdasarkan KUHP Pasal 287, "Barangsiapa bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya, padahal diketahuinya atau patut dapat disangkanya, bahwa umur perempuan itu belum cukup lima belas tahun atau, kalau tidak terang umurnya, bahwa perempuan itu belum pantas untuk dikawini, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun. Pasal 288 KUHP menyatakan :
(1) Barangsiapa bersetubuh dengan istrinya yang diketahuinya atau harus patut

disangkanya, bahwa perempuan itu belum masanya buat dikawinkan dihukum penjara selama-lamanya empat tahun kalau perbuatan itu berakibat badan perempuan itu mendapat luka.
(2) Kalau perbuatan itu menyebabkan perempuan mendapat luka berat dijatuhkan

hukuman penjara selama-lamanya delapan tahun.


(3) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian perempuan itu dijatuhkan hukuman

penjara selama-lamanya dua belas tahun. Dari kalimat di atas terdapat unsur-unsur yang dapat mendefinisikan apa yang dimaksud dengan pemerkosaan. Unsur-unsur tersebut ialah : 1)Bersetubuh, 2)Kekerasan/paksaan secara fisik, psikis, ataupun obat-obatan yang dapat membuat tidak berdaya, 3)Menyetubuhi bukan istri,

4) Menyetubuhi gadis di bawah umur (usia < 15 tahun dan belum datang haid pertama). Jadi yang dimaksud dengan perkosaan ialah pelanggaran hukum dalam hal menyetubuhi perempuan bukan istri ataupun perempuan di bawah umur dengan memaksa secara fisik, psikis, ataupun bantuan obat-obatan. Dalam bidang kedokteran forensik, yang dimaksud dengan pemerkosaan ialah identik dengan persetubuhan yang bersifat kriminal. Terdapat sedikit perbedaan antara KUHP dan Undang-Undang no 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam Undang-Undang no 23 tahun 2004 disebutkan : Pasa 1 ayat 1, Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Pasal 8 : Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf c meliputi: a. pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; b. pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalamlingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Pasal 46 : Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan seksual sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp36.000.000,00 (tiga puluh enam juta rupiah). Pasal 47 : Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling sedikit Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) atau denda paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Pasal 48 : Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dan Pasal 47 mengakibatkan korban mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali,

mengalami gangguan daya pikir atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama 4 (empat) minggu terus menerus atau 1 (satu) tahun tidak berturut-turut, gugur atau matinya janin dalam kandungan, atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun atau denda paling sedikit Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 53 : Tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 yang dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya merupakan delik aduan. 3.4 Peran dokter dalam menangani kasus perkosaan Tugas dokter dalam kasus perkosaan adalah pembuktian kejadian perkosaan dengan cara pemeriksaan TKP, pemeriksaan terhadap korban, pemeriksaan terhadap suspek, pemeriksaan terhadap barang bukti medik. Pemeriksaan di TKP2 1. Tanda-tanda pergumulan Tanda-tanda pergumulan dapat berupa ketidakrapian dan ketidakteraturan dari tempat perkosaan misalnya adalah sprei yang kusut, ranting yang patah, dan rumput bekas tekanan 2. Tanda-tanda kekerasan Beberapa tanda-tanda kekerasan berupa bercak darah yang berceceran, sisa obat tidur, obat bius, benda tumpul atau benda tajam. Dapat juga ditemukan tali yang digunakan untuk mengikat korban atau berbagai alat yang dapat membuat korban tidak berdaya. 3. Tanda-tanda persetubuhan Tanda persetubuhan pada TKP dapat berupa bercak cairan mani, bercak darah, yang berasal dari deflerasi dan benda lainnya seperti pakaian, sapu tangan, handuk, kertas yang dapat digunakan si pelaku untuk menghapus alat kelaminnya.

Jika pelaku memakai kondom maka perlu dicari kondom tersebut untuk mendapatkan sampel spermatozoa dari pelaku. 4. Mencari properti milik korban atau tersangka Benda-benda milik korban maupun tersangka yang tertinggal di tempat kejadian seperti puntung rokok, kotak rokok, korek api, rambut kepala, sidik jari, dan lainlain. Pemeriksaan Terhadap korban2,8 Pemeriksaan terhadap korban mempunyai dasar hukum menurut KUHAP 133 yaitu penyidik berwenang meminta bantuan dokter untuk memeriksa korban perkosaan. Hasil dari pemeriksaan digunakan untuk mengetahui apakah terjadi unsur tindakan pidana. Pemeriksaan dokter pada kasus perkosaan adalah ada atau tidaknya tanda-tanda persetubuhan dan kekerasan. Mustahil bagi dokter untuk menyimpulkan bahwa persetubuhan dilakukan dibawah paksaan, karena bukti medik antara dengan paksaan atau tanpa paksaan tidak menimbulkan perbedaan. Yang bisa dibuktikan adalah apakah ada unsur kekerasan dalam persetubuhan dan sebagian besar persetubuhan menggunakan kekerasan sebagai paksaan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai pemeriksaan terhadap korban yaitu: 1. Harus ada surat permintaan Visum et Repertum dari penyidik dan keterangan mengenai kejadiannya. Surat permintaan visum et repertum adalah perintah tertulis dimulainya pemeriksaan perkosaan terhadap korban. 2. Harus ada persetujuan secara tertulis dari korban atau orang tua / wali korban yang menyatakan tidak keberatan diperiksa oleh seorang dokter. Persetujuan juga harus disertai dengan edukasi yang cukup terutama pada sang korban agar pemeriksaan berjalan dengan lancar. Profesor Tedeschi pada bukunya Forensic Medicine menyatakan bahwa banyak korban terutama yang di bawah umur untuk menandatangani sendiri persetujuan tertulis tidak kooperatif dalam

pemeriksaan

sehingga

dapat

menimbulkan

cedera.

Profesor

Tedeschi

menambahkan bahwa untuk pemeriksaan yang membuat pasien merasa kesakitan seyogyanya pemeriksaan dilakukan dibawah anesthesi. 3. Harus ada seorang perawat wanita atau polisi wanita yang mendampingi dokter selama melaksanakan pemeriksaan. Pendamping dokter sangat diperlukan untuk menenagkan pasien dalam pemeriksaan. Ini terutama jika dokter yang memeriksa adalah seorang lelaki. Anamnesa Anamnesa merupakan yang tidak dilihat dan tidak ditemukan oleh dokter, jadi bukan hasil pemeriksaan yang obyektif. Oleh karena itu anamnesa tidak dimasukkan dalam visum et repertum. Anamnesa dibuat terpisah dan dilampirkan pada visum et repertum dibawah kalimat keterangan yang diperoleh dari korban. Tujuan dari anamnesa : 1. Mencari keterangan tentang korban a. Nama, umur, alamat, dan pekerjaan korban. b. Status marital c. Riwayat persetubuhan sebelum terjadinya perkosaan d. Tanggal menstruasi terakhir e. Kehamilan, riwayat persalinan atau keguguran f. Penyakit dan operasi yang pernah dialami korban g. Kebiasaan korban terhadap alkohol atau obat-obatan 2. Mencari keterangan tentang peristiwa perkosaan a. Tanggal, jam dan tempat terjadinya b. Keadaan korban saat sebelum kejadian

c. Posisi korban saat kejadian d. Persetubuhan yang dilakuka n si pelaku terhadap korban e. Cara perlawanan dari korban f. Hal- hal yang diperbuat korban setelah mengalami perkosaan g. Pelaporan peristiwa perkosaan kepada polisi oleh siapa, kapan, dimana, serta hubungan si pelapor dengan korban Selain mencari berbagai keterangan, pada anamnesa pemeriksa harus memperhatikan perilaku korban. Mencoba untuk sedikit memposisikan diri lebih dekat ke pasien untuk mencium nafas pasien apakah tercium bau minuman. Bagaimana korban bersikap dari kejadian perkosaan yang baru saja dialaminya bisa sangat menipu. Ada yang terkesan biasa tapi bisa mengalami depresi dan menangis sesampainya di rumah. Beberapa ada yang menanyakan apakah mereka dalam keadaan mental shock karena ketidak mampuan mereka dalam mengekspresikan emosi. Ada beberapa yang menampilkan suatu pertunjukkan dalam perilaku mereka dan ternyata setelah diusut mempunyai catatan prostitusi. Maka sebagai pemeriksa kita harus bisa merasakan mana yang benar-benar jujur dalam perilaku dalam anamnesa. Keterangan dari Anamnesa tidak dimasukkan dalam bagan pemeriksaan visum et repertum karena keterangan pasien tidak selalu benar. Ada kasus dimana korban perkosaan yang melapor ternyata berniat untuk memeras seseorang. Ia mengaku di perkosa oleh orang tersebut dan merasa sakit pada kemaluannya. Ibu dari korban melihat bercak darah pada celana dalam korban. Akan tetapi setelah diperiksa ternyata darah yang menempel pada celana dalam korban adalah sel darah merah berinti yang biasa didapatkan pada unggas. Pemeriksaan harus dilakukan dan dicatat sama persis dengan bahasa yang digunakan pasien saat pemeriksaan. Ini ditujukan untuk menggali keterangan tentang apa yang terjadi pada saat korban diperkosa. Kita juga harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh pasien. Sebagai contoh untuk mengetahui adanya kemungkinan dari sodomi diberikan pertanyaan apakah pelaku melakukannya lewat lubang belakang?. Pada korban pada dibawah umur bahasa juga disesuaikan pengertian korban dengan bahasa yang lebih halus.

Untuk pendahuluan dari pemeriksaan fisik korban perlu ditanyakan apakah korban mengetahui bahwa pelaku mengalami ejakulasi dan dimana pelaku mengeluarkan ejakulatnya. Hal ini sangat membantu dalam mencari noda sperma atau mencari spermatozoa itu sendiri dengan swab. Korban juga ditanya pakah dia melakukan douche, yaitu mengeluarkan sperma dari vaginanya dengan cara jongkok dan mengejan. (buku ajar, tedeschi, gradwohls, edward) Pemeriksaan Fisik Dalam pemeriksaan ini dokter untukdiharapkan untuk melaksanakan pemeriksaan secara teliti guna mendapatkan data-data seobyektif mungkin sehingga mendapatkan suatu kesimpulan yang akurat. Sehingga diharapkan adanya kerja sama yang baik antara dokter dan penyidik. Pemeriksaan fisik pada korban berbagai kejahatan seksual kurang lebih sama. Dalam pemeriksaan fisik meliputi pencarian adanya tanda kekerasan dan tanda persetubuhan. Tanda tanda atau kelainan yang ada pada tubuh korban perlu dicatat serapi-rapinya, apa yang tidak dicatat dalam status klinik berartid tidak pernah diperiksa atau dilaksanakan. Pemeriksaan fisik korban adalah 1. Pemeriksaan properti korban saat kejadian 2. Pemeriksaan tubuh korban a. Tanda-Tanda kekerasan b. Tanda-tanda persetubuhan 1. Pemeriksaan Properti korban saat kejadian Pemeriksaan properti dimulai dari memperhatikan baju pasien apakah ada yang hilang. Beberapa bagian dari baju korban bisa mengilang dikarenakan pergumulan yang terjadi antara korban dan pelaku. Paling sering hilang dari pakaian korban adalah kancing baju. Robekan pada pakaian korban juga salah satu indikasi terjadinya pergumulan. Pada kejadian perkosaan di tempat tertentu akan meninggalkan bekas pada pakaian korban. Sebagai contoh jika perkosaan terjadi di rerumputan maka akan ada bekas rerumputan pada pakaian korban.

Noda darah yang menempel pada pakaian korban merupakan indikasi kuat terjadi kekerasan atau persetubuhan. Jika noda darah terdapat pada baju korban dan ada luka yang mendukung pada pemeriksaan fisik dapat disimpulkan bahwa noda tersebut dari kekerasan fisik yang terjadi. Lain halnya jika terdapat noda darah pada celana dalamnya, hal itu mengindikasikan persetubuhan terutama jika korban masih mempunyai hymen yang utuh. Tapi hal ini dapat menipu, seperti contoh yang dikemukakan Professor Tedeschi, seorang anak dengan noda darah pada pakaian dalamnya datang ke kantor polisi untuk melapor perkosaan, setelah diperiksa ternyata itu adalah darah unggas dengan ciri eritrosit berinti. Setelah itu korban baru mengaku bahwa pelaporan bermotif untuk memeras seseorang. Noda sperma bisa mengindikasikan adanya persetubuhan. Hal ini terjadi jika pelaku mengalami ejakulasi di luar dari introitus vagina sehingga sperma dapat menempel pada pakaian korban. Sperma yang menempel pada pakaian korban sulit untuk dicari akan tetapi bisa dilakukan beberapa test dengan tujuan membuktikan ada tidaknya senyawa asam fosfatase pada pakaian. Asam fosfatase merupakan salah satu senyawa pada cairan semen. 2a. Pemeriksaan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban Yang dimaksudkan dengan tanda-tanda kekerasan adalah tanda kekerasan seperti luka ditempat selain genitalia. Untuk pemeriksaan ini pasien diharuskan untuk menanggalkan semua pakaiannya agar semua luka bisa terlihat. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah yang pertama untuk kesejahteraan pasien agar luka yang ditemukan bisa dirawat. Kedua adalah untuk digunakan sebagai bukti dalam tuntutan di pengadilan. Sebagai barang bukti dalam pengadilan setiap luka yang ditemukan harus dideskripsikan dan dicatat secara jelas dan rapi. Kita memerlukan kamera untuk mendokumentasikan luka secara lebih baik. Hal ini dikarenakan luka akan sembuh seiring berjalannya waktu. Pemeriksaan terhadap luka kadang memerlukan lebih dari sekali pemeriksaan karena memar yang dalam tidak muncul sampai sekitar 24 jam setelah kejadian. Ada banyak tanda-tanda kekerasan yang terjadi dalam kasus perkosaan. Beberapa yang sering terjadi pada perkosaan adalah

1. Luka pada kaki dan tangan saat korban diikat atau disergap sangat sering terjadi dimana korban melawan pelaku yang ingin membuatnya tidak berdaya. 2. Di daerah sekitar mulut korban ketika korban dibungkam. Selain dapat menimbulkan luka pembungkaman yang dilakukan pelaku dapat membuat korban menjadi asphyxia. Pada korban yang mengalami asphyxia akan ditemukan bintik ptechiae pada kelopak mata dan wajah. 3. Pada daerah leher juga sering ditemukan luka baik itu karena pelaku yang mencekik korban agar tidak melawan atau karena nafsu sang pelaku sehingga menimbulkan apa yang disebut love bite. 4. Pada payudara korban sering juga didapatkan cupang atau love bite karena nafsu dari pelaku yang sering berkonsentrasi pada payudara korban 5. Korban yang melawan pelaku dengan menutup vagina dengan kakinya biasanya mendapatkan luka pada bagian paha atas dekat dengan vulva. Banyak sekali yang bisa kita dapatkan dari pemeriksaan luka ini akan tetapi kita tidak boleh gegabah dalam menyimpulkan. Kita harus secara teliti melihat bentuk luka dan meanyakan apakah memang luka didapat karena kejadian perkosaan. Profesor Tedeschi memberi contoh kasus yang ia alami saat seorang wanita muda dengan banyak luka di tempat yang berbeda ternyata jatuh dari atap sebelum kejadian perkosaan. Selain pencarian luka terhadap korban, sebagai dokter kita juga harus mencari apakah ada tindakan pembiusan terhadap korban karena pembiusan termasuk dalam tindakan kekerasan. Oleh karena itu juga prosedur toksikologi rutin dikerjakan dalam pemeriksaan korban perkosaan. 2b. Tanda-tanda Persetubuhan Persetubuhan merupakan peristiwa dimana terjadi peneterasi penis kedalam introitus vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tak lengkap dengan atau tanpa disertai ejakulasi. Tanda-tanda langsung o Robeknya selaput dara akibat penetrasi penis

o Lecet atau memar akibat gesekan-gesekan penis o Adanya sperma akibat ejakulasi Tanda-tanda tidak langsung o Terjadinya kehamilan o Terjadinya penularan penyakit menular seksual Dalam pembuktian adanya persetubuhan dipengaruhi oleh faktor o Besar penis dan peneterasi o Bentuk dan elastisitas hymen o Ada tidaknya ejakulasi dan kualitas dari ejakulasi itu sendiri o Posisi persetubuhan o Keaslian barang bukti pada waktu pemeriksaan Pemeriksaan dapat menghasilkan temuan yang bervariasi menurut umur dari korban. Gradwohls mengelompokkan korban dari perkosaan menjadi 3 kelompok yaitu anak-anak, remaja atau dewasa yang tidak pernah melakukan coitus dan wanita yang sudah pernah dan tidak asing dengan coitus. Pada anak yang baru saja mengalami perkosaan akan terlihat abrasi atau iritasi di sekitar genitalia. Terlihat darah menggumpal dan laserasi hymen. Ruptur perineum juga sering terjadi pada korban perkosaan yang masih sangat muda. Perlu diingat bahwa warna vagina pada anakanak lebih merah daripada dewasa pada umunya, sehingga perlu kehati-hatian dalam memeriksa korban apakah merah tersebut dari trauma. Pada anak sulit diperiksa pemeriksaan dalam vagina karena sulitnya penggunaan dari inspiculo. Untuk remaja dan dewasa yang belum pernah melakukan hubungan seksual, trauma akan lebih baik daripada anak-anak. Penyembuhan juga jauh lebih cepat daripada anak-anak. Pada

remaja biasanya organ kelamin sudah matang sehingga ada kemungkinan untuk terjadinya kehamilan. Pada wanita yang sudah tidak asing dengan coitus trauma jarang terjadi kecuali jika pelaku memasukkan benda-benda asing pada kemaluan korban. Pada kasus dengan masuknya benda asing pada kemaluan akan terjadi trauma dan lacerasi pada vagina. Pada pemeriksaan dalam vagina tidak mengalami kesulitan atau ketidaknyamanan saat inspiculo dimasukkan. Tata laksana pemeriksaan genitalia dimuai dari pubis dan rambut pubis. Pada korban perkosaan yang tidak sempat memebersihkan diri perlu dicari apakah ada rambut asing pada rambut pubisnya. Jika ada, rambut tersebut diperiksa di laboratorium untuk pengecekan DNA. Beralih ke labia mayora dan labia minora untuk diperiksa apakah ada tanda-tanda laserasi memar, dan tanda-tanda penyakit seksual. Pemeriksa harus bisa membedakan antara varicose vena pada labia, edema angioeneurotik, folicullitis dan tanda kelainan yang lain dari genitalia wanita. Selanjutnya pemeriksaan dalam di intrioitus vagina. Hal pertama yang dilihat adalah hymen. Pada hymen yang baru saja ruptur sering terjadi apa yang disebut cauruncale hymenales. Sisa hymen setelah coitus akan berwarna merah, berdarah, bengkak dan tertarik ke arah cincin hymenal, bentukan inilah yang disebut cauruncale hymenales. Pada keadaan dimana coitus berjalan lebih dari satu dan teratur maka tanda ini akan hilang. Sekali hymen rusak maka tidak akan bisa kembali lagi. Bentuk dari hymen bermacam-macam. Pada bentukan hymen yang mempunyai lubang di tengah perlu dilakukan pemeriksaan yang teliti tentang apakah korban benar-benar diperkosa. diameter penis yang ereksi pada pria dewasa rata-rata 3-5 cm, jika korban mengaku diperkosa sedangkan pada pemeriksaan tidak didapatkan cauruncale hymenales dan hymen dengan lubang diameter 1 cm maka dapat disimpulkan dia berbohong. Cara mengukur diameter dari hymen bisa dilakukan dengan inspeksi dibawah penerang baik dengan posisi pasien lithotomy. Jika hymen tidak terlalu terlihat bisa dengan cara menggunakan tabung yang digunakan pada pemutar sentrifugal. Tabung tersebut mempunyai diameter yang semakin besar sehingga pada kedalaman tertentu di liang vagina akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada korban. Pada titik tersebut diberi tanda dan diukur diameternya. Ada cara lain dengan menggunakan bola-bola dengan diameter-diameter tertentu

menggunakan prinsip yang sama dengan tabung tadi hanya saja ukuran ditentukan ukuran bola yang mana paling mendekati. Hal ini juga sebagai solusi dari sifat hymen yang tidak kaku dan sering berubah bentuk. Setelah pemeriksaan hymen dilakukan pemeriksaan di dalam introitus vagina. Hal ini tidak dilakukan apabila dipastikan bawha hymen intact atau tidak dilalui penis yang ereksi. Beberapa hal yang dicari pada introitus vagina adalah cairan sprema, sekret dari penyakit menular seksual dan trauma atau bahkan sampai pendarahan. Untuk mencari tanda-tanda trauma dan pendarahan digunakan isnpiculo untuk memudah pemeriksa untuk melihat. Pada korban dengan pendarahan pemeriksa diharapkan untuk sekaligus mengatasi pendarahan tersebut dengan melakukan penjahitan. Cairan sperma pada introitus vagina sangat vital dalam membantu jalannya penyidikan, dengan menggunakan swab diperiksa secara mikroskopis di dalam laboratorium apakah terdapat spermatozoa. Jika ternyata pelaku azoospermia, maka hasil swab tadi diperiksa menggunakan metode yang dapat menguji keberadaan asam fosfatase dalam cairan semen. Hasil swab vagina juga dapat digunakan untuk mengetahui apakah terjadi proses infeksi. Hal ini digunakan jika kemungkinan pelaku mempunyai penyakit menular seksual sehingga dapat digunakan sebagai petunjuk walaupun tidak menjadi bukti kuat. Pemeriksaan Mikroskopis dan Laboratorium Pemeriksaan cairan spermatozoa Bahan pemeriksaan : cairan vagina. Metode : Sediaan basah, tanpa pewarnaan: satu tetes cairan vagina ditaruh pada objek glass dan ditutup, diperiksa pada mikroskop dengan pembesaran 500 kali. Hasil yang diharapkan : spermatozoa yang bergerak. Metode : sediaan kering dengan pewrnaan gram, giemza, atau methylene blue; atau dengan pengecatan. Tata cara pengecatan Menggunakan Malachite-Green pada hasil swab vagina

1. Taruh sediaan hapusan dari cairan vagina ke objek glass 2. Keringkan di udara 3. Fiksasi dengan api 4. Warnai dengan malachite green 1% dalam air 5. Tunggu 10-15 menit 6. Cuci dengan air 7. Warnai dengan eosin-yellowish 1% dalam air 8. Tunggu 1 menit 9. Cuci dengan air 10. Keringkan di udara 11. Lihat di mikroskop

Pemeriksaan Noda Sperma pada pakaian Bahan Pemeriksaan : Pakaian Pemeriksaan Pendahuluan : noda sperma pada pakaian akan terlihat putih kelabu, kadangkadang menkilat seperti perak dan perabaan terasa kaku Pemeriksaan dengan Ultra Violet : noda sperma akan menunjukkan fluoresensi, yaitu warna putih kebiruan. Pemeriksaan ini tidak spesifik sebab nanah dan fluor albus juga menunjukkan tanda yang sama. Metode : Pakaian yang mengandung bercak diambil sedikit pada bagian tengahnya (konsentrasi sperma terutama di bagian tengah)

Bahan pewarnaan (Baecchi) : Acid Fuchsin 1% (1ml), Methylene Blue 1% (1ml), HCl 1% (40 ml)

Cara Kerja : 1. Ambil bagian tengah dari pakaian yang terkena sperma 2. Warnai dengan Baecchi selama 2-3 menit 3. Cuci dengan HCl 1% selama 5 detik 4. Dehidrasi dengan alkohol 70%, 85% dan absolut, bersihkan dengan xilol dan keringkan, letakkan pada kertas saring 5. Ambil dengan jarum, pakaian yang mengandung bercak diambil benangnya 1-2 helai, kemudian diuraikan sampai menjadi serabut-serabut pada gelas objek. 6. Teteskan canada balsem, tutup dengan penutup, lihat dibawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali

Hasil : kepala sperma merah, ekor berwarna biru muda, kepala sperma menempel pada serabut benang.

Pemeriksaan Semen. Bahan pemeriksaan : Cairan Vagina Metode : Cairan vagina ditaruh pada kertas saring (Whatman) yang sudah dibasahi dengan aquadest, diamkan sampai kering, semprot dengan reagensia, perhatikan warna un gu yang timbul dan catat dalam beberapa detik warna ungu muncul Hasil yang diharapkan : warna ungu timbul dalam waktu kurang dari 30 detik, berarti asam fosfatase berasal dari prostat dan termasuk dalam indikasi besar , warna ungu timbul kurang dari 65 detik, indikasi sedang. Warna ini timbul karena dalam reagensia mengandung alpha naphthyl fosfat yang bereaksi dengan asam fosfatase.

Penentuan : Kristal kholin Bahan pemeriksaan : cairan vagina Metode : Florence Test : Cairan vaginal ditetesi larutan yodium (larutan Florence), maka terbentuk kristal. Kristal yang terbentuk dilihat di mikroskop.

Hasil yang diharapkan : kristal-kristal kholin peryodida tampak berbentuk jarum-jarum yang berwarna coklat.

Penentuan adanya semen (air mani). Bahan pemeriksaan : pakaian Metode : Inhibisi asam fosfatase dengan L(+) asam tartrat. - Pakaian yang diduga mengandung bercak mani dipotong kecil dan diekstraksi dengan beberapa tetes aquades. - Pada dua helai kertas saring diteteskan masing-masing satu tetes ekstrak; kertas saring pertama disemprot dengan reagens 1, yang kedua disemprot dengan reagensia 2, - Bila pada kertas saring pertama timbul warna ungu dalam waktu menit sedangkan pada waktu kedua tidak terjadi warna ungu, maka dapat disimpulkan bahwa bercak pada pakaian yang diperiksa adalah bercak air mani. - Bila dalam jangka waktu tersebut warna ungu timbul pada keduanya, maka bercak pada pakaian bukan air mani, asam fosfatase yang terdapat berasal dari sumber lain. Pemeriksaan Penyakit Kelamin Dilakukan dengan pemeriksaan smear dari cairan vulva vagina, dan cervix yang kemudian dicat dengan pewarnaan Gram. Maka dicari adanya kuman Nasseria Gonorhea (G.O)

dengan membuat sediaan kemudian dilakukan pemeriksaan melalui dark field microscope kita cari adanya kuman Treponema Pallidum. Bahan pemeriksaan : secret urethra dan secret cervix uteri Metode : pewarnaan Gram Hasil yang diharapkan : Kuman N. Gonorrheae Pemeriksaan Kehamilan Untuk mengetahui adanya kehamilan dilakukan dengan memeriksa adanya HCG dalam urine. Setelah persetubuhan membutuhkan waktu yang lama agar kadar HCG dapat memberi hasil reaksi yang positif. Tujuannya adalah mengetahui apakah korban hamil sebelum/sesudah terjadi perkosaan. Bahan pemeriksaan : Urine Metode : - Hemagglutination inhibition test (Pregnoticon) - Agglutination inhibition test (Grav-index). Hasil yang diharapkan : Terjadi agglutinasi pada kehamilan.

Pemeriksaan bahan lain dari tubuh korban yang dapat dipakai sebagai petunjuk: a. Pemeriksaan Toksikologi Tujuan pemeriksaan toksikologi untuk mengetahui apakah korban sebelum terjadi perkosaan telah diberi obat-obatan yang dapat menurunkan kesadaran. Pada pemeriksaan ini diperlukan darah dan urine dari korban. Bahan pemeriksaan : darah dan urine

Metode : - TLC - Mikrodiffusi, dsbnya. Hasil yang diharapkan : adanya obat yang dapat menurunkan atau menghilangkan kesadaran b. Pemeriksaan substansi golongan darah dari cairan semen Penentuan golongan darah A,B,O dari cairan semen dengan menggunakan teknik absorbsi inhibisi atau absorbsi eliminasi. Untuk menentukan golongan darah pemerkosa dari cairan semen yang ditemukan di vagina kadang-kadang tidak sulit asal korban mempunyai golongan darah yang berbeda dengan pemerkosa tersebut. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk menyingkirkan seorang pria tertentu atau menunjang bukti lain yang melibatkan seorang pria. Bahan pemeriksaan : Cairan vaginal yang berisi air mani dan darah. Metode : Serologi (ABO grouping test) Hasil yang diharapkan : golongan darah dari air mani berbeda dengan golongan darah korban. Pemeriksaan ini hanya dapat dikerjakan bila tersangka pelaku kejahatan termasuk

golongan secretor. Penanganan korban tindak pidana perkosaan Beberapa hal yang dapat dilakukan dokter dalam menangani atau merawat korban perkosaan : Dukungan psikologis atau intervensi Profilaksis untuk PMS dan mungkin hepatitis B atau infeksi HIV

Mungkin kontrasepsi darurat Setelah evaluasi, pasien disediakan dengan fasilitas untuk mencuci, mengganti pakaian, menggunakan obat kumur, dan buang air kecil atau buang air besar jika diperlukan. Sebuah tim perkosaan lokal krisis dapat memberikan arahan untuk layanan dukungan medis, psikologis, dan hukum. Sebagian besar cedera ringan dan diperlakukan secara konservatif. Laserasi vagina mungkin memerlukan perbaikan bedah. Dukungan psikologis: Kadang-kadang pemeriksa dapat menggunakan langkah-langkah akal sehat (misalnya, jaminan, dukungan umum, sikap tidak menghakimi) untuk meredakan emosi yang kuat dari rasa bersalah atau kecemasan. Efek psikologis dan sosial yang mungkin dijelaskan, dan pasien diperkenalkan ke spesialis terlatih dalam intervensi krisis perkosaan. Karena efek psikologis penuh tidak selalu bisa dipastikan pada pemeriksaan pertama, tindak lanjut kunjungan yang dijadwalkan pada interval 2 minggu. Efek psikologis yang parah (misalnya, kilas balik terus-menerus, gangguan tidur yang signifikan, takut menyebabkan penghindaran signifikan) atau efek psikologis masih hadir di tindak lanjut kunjungan menjamin rujukan kejiwaan atau psikologis. Anggota keluarga dan teman-teman dapat memberikan dukungan penting, tetapi mereka mungkin membutuhkan bantuan dari spesialis krisis perkosaan dalam menangani reaksi negatif mereka sendiri. PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dapat diobati secara efektif psychosocially dan farmakologi. Pencegahan infeksi: Rutin empiris profilaksis untuk PMS terdiri dari : - Rocephin (ceftriaxone) 125 mg IM dalam dosis tunggal (untuk gonore) - Flagyl (metronidazol) 2 g po dalam dosis tunggal (untuk trikomoniasis dan vaginosis bakteri)

- PERIOSTAT (doksisiklin ) - VIBRAMYCIN (doksisiklin) 100 mg po tawaran untuk 7 hari - Zithromax (azitromisin) 1 g po sekali (untuk infeksi klamidia) - Zithromax (azitromisin) 2 g po (yang mencakup gonore dan infeksi klamidia) dapat diberikan dengan metronidazol (Flagyl) 2 g po, baik sebagai dosis tunggal. Pengobatan empirik profilaksis hepatitis B dan HIV setelah perkosaan adalah kontroversial. Untuk hepatitis B, CDC merekomendasikan vaksinasi hepatitis B kecuali pasien sebelumnya telah divaksinasi dan telah mendokumentasikan kekebalan. Vaksin ini diulang 1 dan 6 bulan setelah dosis pertama. Hepatitis B immune globulin : HEPAGAM B HYPERHEP BS / D NABI-HB (HBIG) tidak diberikan. Untuk HIV, pihak yang paling merekomendasikan menawarkan profilaksis, namun, pasien harus diberitahu bahwa rata-rata, risiko setelah pemerkosaan dari penyerang yang tidak diketahui hanya sekitar 0,2%. Risiko mungkin lebih tinggi dengan salah satu dari berikut: o Anal penetrasi o Perdarahan (penyerang atau korban) o Pria-pria pemerkosaan o Perkosaan oleh para penyerang beberapa (misalnya, korban laki-laki di penjara)

o Perkosaan di daerah dengan prevalensi tinggi infeksi HIV

Pengobatan yang terbaik dimulai <4 jam setelah penetrasi dan tidak boleh diberikan setelah >72 jam. Biasanya, kombinasi dosis tetap : AZT AZT (ZDV) 300 mg Epivir (lamivudine) (3TC) 150 mg diberikan tawaran untuk 4 minggu jika paparan muncul risiko rendah. Jika risiko lebih tinggi, inhibitor protease ditambahkan. Pencegahan kehamilan: Meskipun kehamilan disebabkan oleh perkosaan jarang terjadi (kecuali dalam beberapa hari sebelum ovulasi), kontrasepsi darurat harus ditawarkan kepada semua wanita dengan tes kehamilan negatif. Biasanya, kontrasepsi oral yang digunakan, jika digunakan >72 jam setelah perkosaan, mereka jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi efektif. Sebuah antiemetik dapat membantu jika mual berkembang. Sebuah alat kontrasepsi mungkin efektif jika digunakan hingga 10 hari setelah perkosaan. Jika hasil kehamilan dari perkosaan, sikap pasien terhadap kehamilan dan aborsi harus ditentukan, dan jika sesuai, pilihan pemutusan elektif harus dibahas. Sumber : Feeny, NC. Kedokteran Pemeriksaan Korban Perkosaan. (online) Tersedia di :

http://www.merckmanuals.com/professional/gynecology_and_obstetrics/medical_examination_o f_the_rape_victim/medical_examination_of_the_rape_victim.html, diakses pada tanggal 18 Februari 2013, pukul 10.06 WIB.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN 4.1 Simpulan Pemerkosaan merupakan suatu tindakan kriminal dimana korban dipaksa melakukan persetubuhan dan korban adalah wanita yang bukan istri sah pelaku atau bukan wanita yang belum cukup umur untuk dikawini. Peraturan yang ada sekarang ini masih terbatas pada perkosaan atau pemaksaan persetubuhan yang dilakukan pria terhadap wanita. Sedangkan pemaksaan melakukan aktivitas seksual terhadap sesama jenis, pemaksaan yang dilakukan wanita terhadap pria diatur berbeda dengan tuntutan yang lebih ringan. Kekerasan seksual masih merupakan hal tabu dan memalukan ditengah masyarakat seperti di Indonesia. Oleh karena itu, perkosaan membawa dampak psikologis yang besar bagi korbannya, dan hal tersebut menyebabkan kasus perkosaan seringkali gagal diungkap dan sulit dalam pembuktiannya. Peran dokter dalam tindak pidana perkosaan adalah membantu membuktikan adanya tanda-tanda persetubuhan, tanda-tanda kekerasan kemudian membuatnya dalam sebuah laporan tertulis yaitu Visum et Repertum yang diserahkan kepada pihak berwenang sebagai pemohon untuk dilakukannya Visum et Repertum. Selain itu dokter juga harus melakukan penanganan akibat perkosaan yang terjadi pada korban baik yang berupa trauma fisik maupun psikis.

4.2 Saran

Kedepannya diharapkan pengungkapan kasus perkosaan dapat lebih baik, diantaranya dengan peningkatan kemampuan dokter dalam memeriksa atau mengerjakan visum et repertum pada korban maupun pelaku perkosaan sehingga tidak melewatkan pemeriksaan dan temuan yang penting. Selain itu, dokter juga harus segera menangani permasalahan yang diderita atau mungkin yang dapat diderita korban dikemudian hari, seperti penyakit menular seksual, gangguan kejiwaan karena beban psikis yang diderita si korban. Apabila korban dating ke dokter terlebih dahulu dokter wajib untuk melaporkan ke polisi atau menyuruh keluarga korban melapor ke polisi. Masyarakat juga perlu mengerti dan lebih terbuka bila terjadi tindak perkosaan atau menjadi korban perkosaan dengan cara segera melapor ke pihak berwajib dan terbuka ketika dilakukan pemeriksaan visum et repertum sehingga kasus perkosaan dapat terungkap dengan tepat. Selain itu masyarakat khususnya kaum wanita hendaknya berusaha untuk menjaga diri agar terhindar dari tindak pidana perkosaan.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://bangka.tribunnews.com/ tanggal 13 Februari 2013 pkl.08.00

2. Kusuma, SE &Yudianto A. 2010.Kejahatan Seksual, Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal edisi 7. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga: Surabaya.

3. Dahlan, S. 2000. Ilmu Kedokteran Forensik. Semarang: Universitas Diponegoro, hal.127128 4. Undang-Undang nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasa Dalam Rumah Tangga.Tersedia di http://www.komnasperempuan.or.id/wp-content/uploads/2009/07/uuno-23-2004-pkdrt-indonesia.pdf/ tanggal 26 februari2013 pukul 20.00 5. Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual : Advokasi Atas Hak Asasi Perempuan, Bandung, Refika Aditama, 2001, hal 8283 .https://sites.google.com/site/tanamansakti/visum-tindakan-kekerasaan-pada-anak 6. _______. 7. Gradwohl 8. Tedeschi, C.G and Eckert, William G; Tedeschi, Luke G (Ed). 1977. Forensic Medicine: Volume II, Philadelphia, W. B. Saunders, 1977, page 9. Edward 10. http://bantuanhukum.or.id/index.php/en/dokumentasi/artikel-dan-opini/217mencari-solusi-untuk-perlindungan-kehidupan-yang-sesungguhnya